Mecaling’s genealogy (Shemara, 2008)

Below story is taken from (copies of) handwritten notes in beautifully clear 'grand' letters, written by Shemara on 2 January 2008. From the way the story is recounted, it is likely that these notes have been translated into Indonesian from a Balinese lontar.

shemara silsilahgedemecaling02

The paragraphs apparently follow the story in the original lontar (not seen by the author) as they are separated by a long vertical line each time another (side of) the lontar is recited. These vertical lines have been replaces by '//' by the author as it customary when transcribing lontars. Comments in square brackets are by the author Godi Dijkman when additional information was required, amongst other to indicate page numbers given by Shemara. An English translation is forthcoming.

Image left: Anak Agung Alit Parta Shemara, December 2009

Gede Mecaling's Genealogy (Nusa Penida) 

Indonesian English
[1] Dukuh Jumpungan dan Ni Puri adalah penjelmaannya Bhatara Siwa dan Dewi Uma. Turun ke bumi di sebuah gunung kini disebut Gunung Mundi. Juga turun ke bumi yaitu Tri Purusa, Catur Lokha Pala, Asta Gangga. Penjelmaannya Bhatara Siwa menjadi manusa Pandita sehingga tempat tersebut bernama Nusa Penida. Bhatara Siwa dan Dewi Uma turun ke bumi pada tahun Saka 50. Selain itu pada tahun Saka 60 turun pula Dewi Parwati di Tunjuk Pusuh. Karena Nusa Penida dikelingingi oleh lautan yang luas maka Dukuh Jumpungan berpikir untuk membuat perahu. Beryogalah Dukuh Jumpungan di puncak Gunung Mundi dan atas kekuatan adnyananya, muncullah sebuah perahu yang indah serta sangat besar. Perahu tersebut diturunkan dari puncak [2] Gunung Mundhi menuju ke utara sampai di laut di daerah Bodong. Selanjutnya pada tahun Saka 90 Ni Puri melahirkan seorang anak laki bernama //  
I Merja lahir pada tahun Saka 90. Ia tidak senang berlayar, lebih senang beryoga semadi di Batu Beya memohon keselamatan Bumi beserta isinya. Setelah dewasa kawin dengan Ni Luna yang berasal dari Indraloka dan turun ke bumi bersama saudaranya bernama Dewi Rohini diperistri oleh Empu Agni Jaya yang tinggal di Jungut Batu. I Merja pada tahun Saka 160 melakukan yoga semadi di Batu Beya dan moksa pada tahun Saka 250. Atas perkawinannya dengan I Merja dengan I Luna lahirlah seorang anak laki-laki pada tahun Saka 150.//  
[3] I Renggan lahir tahun Saka 150. Ia sangat senang melakukan yoga semadi di puncak Gunung Mundhi. Karena ketekunan dan kesungguhannya, Dukuh Jumpungan yang sudah kembali ke Siaw Lokha berke [... = nan?] turun ke bumi untuk menganugrahkan saktian kepada I Renggan. Semua kesaktiannya Dukuh Jumpungan diwariskan kepada cucunya sehingga tidak tertandingi oleh siapapun. Selain kesaktian ia mewarisi sebuah perahu yang indah dan besar. I Renggan mempunyai pengikut sebanyak 1500 orang yang diajak berlayar. Karena berasa sakti, dengan perahunya itu ingin menabrak Pulau Lombok maupun Gunung Agung. Sebelum rancananya itu dilaksanakan, lebih dahulu I Renggan membuat geger rakyat Bali. Ia menyebarkan serangga dan kutu terbang menyerang seinu tanaman yang ada di Bali sehingga rakyat menjadi panik.  
[4] Adanya hal demikian itu Hyang To Langkir di Gunung Agung menciptakan api sehingga serangga dan kutu terbang itu habis hangus terbakar dan karena banyaknya terbakar sehingga tumpukan abunya membentuk bukit yang disebut Bukit Paon. I Renggan tidak mau menyerah, ia bermaksud hndak [hendak?] membuat gempa. Betapa marahnya Hyang Tolangkir, lalu menciptakan angin ribut sehiunga perahunya tidak terkendali. Terombang ambing di tengah lautan yang akhirnya kampih dan tenggelam di Nusa Cenik. I Renggan akhirnya menetap di Nusa Cenik dan beryoga di Bakung, pada tahun Saka 300 moksa. I Renggan yang bergelar Gede Pengurah disetanekan di Pura Bakung. Dengan menetapnya I Rengga di Nusa [5] Cenik, maka 1500 orang pengikutnya berenang ke Nusa Gede dan kampih di Biyas Muntig. Demikian pula istrinya I Renggan bernama Ni Merahim malakukan yoga semadi di daerah Bodong Nusa Gede sejak berumur 90 tahun dan moksa pada tahun Saka 250 dan disetanekan di Pura Dhalem Bungkut. Demikian atas perkawinannya I Renggan dengan Ni Merahim lahirlah 2 orang anak, seorang laki dan seorang perempuan, yaitu://  

1. Gede Mecaling lahir pada tahun Saka 180. 2. Ni Tole lahir pada tahun Saka 185, diperistri oleh Dhalem Sawang.

 

Sejak kecil suka melakukan tapa berata. Ia mempunyai seorang istri bergelar Sang Ayu Mas Rajeg Bumi. Selanjutnya pada tahun Saka 250, Ge [6] de Mecaling melalukan yoga semadi pada tahun Saka 250 di Ped yang pengastawaannya ditunjukan kepada Bhatara Siwa. Oleh ketekunan dan kesunguhannya, Bhatara Siwa berkenan turun dari Siwa Loka untuk menganugrahkan Kanda Sanga. Demikian memperoleh panugrahan Kanda Sanga, seketika badannya, Gede Mecaling mend[ja?]di besar wajahnya menyeramkan taringnya menjadi panjang, suaranya menggetarkan meraung siang malam. Dengan adanya peristiwa itu para dewa menjadi kebingungan tidak mampu menandingi kesaktiannya Gede Mecaling yang bersumber pada kedua taringnya yang panjang.

 

Dalam kebingungan itu, Bhatara Guru di Sorga Loka mengadakan paruman para dewa dan dalam paruman itu, Bhata [7] ra Indra ditugaskan turun ke bumi guna mengatasi hal tersebut. Berapa lama Bhatara Indra mencari daya upaya, akhirnya pada tahun Saka 290 Bhatara Indra berhasil memotong taringnya Gede Mecaling, sehingga keadaan menjadi reda serta Gede Mecaling tidak lagi meraung-raung. Setelah keadaan reda, Gede Mecaling kembali melakukan yoga semadi yang pengeredandannya ditunjukan kepada Bhatara Ludra yaitu mohon panugrahan Panca Taksu antara lain: 1. Taksu Kesaktian 2. Taksu Balian 3. Taksu Penggeger 4. Taksu penolak gerubug 5. Taksu mengadakan kemeranan.

 

Dhalem Sawang yang dilahirkan oleh Dewi Rohini dan menjadi penguasa di Nusa Gede sangat marah terhadap pengi

 

[8] kutnya. I Renggan tidak mau menetap di Nusa Lembongan. Karena itu Dhalem Sawang bersemadi pengeredanaannya kepada Durga Dewi, maka seketika pengikutnya I Renggan 1500 orang menjadi Wong Samar yang sangat menyeramkan. Dengan dipastunya menjadi Wong Samar, mereka ditugaskan menjadi pengabihnya Dhalem Sawang sehingga bertambahnya pasukan pengabih. Karena itu Dhalem Sawang menjadi lupa diri tidak memperhatikan ketentraman maupun kesejahteraan rakyat, dengan Wong Samarnya sering melakukan keributan-keributan, menyebarkan penyakit muntah mising sehingga banyak yang mati dan matinya dipesta oleh Dha

 

[9] lem Sawang bersama Wong Samarnya dan bebutan lainnya. Betapa biadabnya Dhalem Sawang. Terjadinya hal demikian, Hyang To Langkir di gunung sangat prihatin terhadap rakyak Nusa Penida. Hyang To Langkir lalu mencabut sebatang padang kasna dan Hyang To Langkir beryoga maka padang kasna itu muncul menjadi seorang laki-laki yang rupawan dan bersipat kesatria. Setelah dewasa ia dinamai Dhalem Dukut yang mendapat tugas membebaskan rakyak Nusa dari kesengsaraannya. Dengan berbekal sebilah keris I Ratna Kencana. Dengan selembar daun teep Dhalem Dukut menyeberang ke Nusa Penida dan mendarat di pesisir Biyas Muntig. Ini ter

 

[10] jadi pada tahn Saka 260. Kedatangan Dhalem Dukut disambut dan dijamu oleh rakyat dengan harapan nasib mereka akan mengalami perobahan. Selanjutnya Dhalem Dukut melanjutkan perjalanan ke Sukun menghadap Dhalem Sawang. Dengan sangat sopan Dhalem Dukut menyatakan dirinya adalah utusan dari Hyang To Langkir untuk mengadakan perang tanding, perbincangan tersebut disetujiu oleh Dhalem Sawang dengan ketentuan sebagai berikut: 1. perang tanding satu lawan satu 2. perang tanding hanya dilakukan di siang hari saja 3. disaksikan oleh rakyat Nusa 4. tanda dimulai dan selesai ditandai dengan gong Setelah terjadi kesepakatan, keesokan harinya perang

 

[11] tanding dimulai di tanah lapang di daerah Sukun. Perang tanding hari pertama belum ada kalah menangnya walaupun beberapa kali Dhalem Sawang terkena tusukan namun keris Ratna Kencana tidak mampu melukai atau menembus bandannya Dhalem Sawang karena tebal terhadap semua jenis senjata bikinan Pande, malahan ia tertawa terbahak-bahak. Pada hari kedua perang tanding diadakan di Mundhi dan keadaannya sama seperti keadaan hari kemarinnya. Dengan adanya demikian maka Hyang To Langkir mengetus istrinya Dhalem Dukut untuk membawa Kris Pencok Sahang yang berasal dari paruh manuk dewata. Setibanya di Nusa Penida, kris tersebut diterimakan kepada Dhalem Dukut seraya dibisikkan agar perang

 

[12] hari ketiga tidak dilaksanakan, hal itupun disetujui oleh Dhalem Sawang. Dhalem Dukut bersama istrinya melakukan yoga semadi di puncak Gunung Mundhi mohon restu kepada Dukuh Jumpungan yang sudah berada di Siwa Loka. Pada hari keempat perang tanding dilaksanakan di Batu Megong. Demikian Dhalem Dukut menghunus kris Pencok Sahang, Dhalem Sawang menjadi terkejut, kakinya gemetar, matanya melolot karena ia tahu Kris Pencok Sahang yang akan mencabut nyawanya. Demikian Dhalem Sawang serta merta minta maaf serta menyakan kalah. Betapa gemuruhnya sorak rakyat yang menyaksikan kemenangan itu. Tidak sampai di sana saja, timbul niat jahatnya Dhalem Sawang, lalu malakukan penghancuran

 

[13] sumber mata air, tanaman-tanaman sehingga rakyat bertambah sengsara banyak yang mati. Melihat hal itu, Dhalem Dukut menjadi marah, diusirnya Dhalem Sawang beserta seluruh keluarganya meninggalkan Nusa Penida. Demikian Dhalem Sawang mendarat di Padang (Karangasem) kini disebut Penaran Agung. Setelah Dhalem Dukut pada tahun Saka 260, maka Gede Mecaling menjadi punguasa di Nusa Penida dangen 1500 orang Wong Samarnya serta bebutan lainnya untuk menjaga ketentraman dan kesucian Bumi Nusa Penida. Gede Mecaling menjadi penguasa bergelar Papak Poleng dan istrinya bergelar Papak Selem. Gede Mecaling kawin dengan Sang Ayu Mas Rajeg Bumi melahirkan 4 orang anak, 2 laki dan 2 perempuan antara

 

[14] lain: 1. I Gotra lahir pada tahun Saka 200 beristri Ni Lumi lahir pada tahun Saka 210. I Gotra dan Ni Lumi sama-sama melakukan yoga semadi di Ped umur 75 dan pada tahun [Saka] 275 I Gotra moksa sedangkan Ni Lumi melakukan yoga semadi pada umur 165 dan moksa pada tahun [Saka] 375. I Gotra dan Ni Lumi disetanekan di Pura Manik Mas atau disebut Pula Mas Gading. Perkawinan I Gotra dengan Ni Lumi lahir seorang laki bernama I Bangsul, pada umur 100 tahun melakukan yoga semadi di Lembongan yaitu di Bingin dan moksa pada tahun [Saka] 375 disentanekan di Pura Catuspata. 2. Anaknya Gede Mecaling yang kedua yaitu wanita bernama Ni Darmain tidak menikah dan pada umur 47 ta

 

[15] hun melakukan yoga semadi di Nusa Lembongan dan moksa pada tahun [Saka] 250. Lahir pada tahun [Saka] 203 dan disetanakan di Pura Sakenan. 3. Anaknya Gede Mecaling yang ketiga laki bernama I Undur lahir pada tahun Saka 205. I Undur beristri Ni Luh Nanda lahir pada tahun Saka 300 berasal dari Bali. I Undur pada umur 70 melakukan yoga semadi di Nusa Cenik de tempat Air Asta Gangga, moksa pada tahun [Saka] 275. Disetanekan di Pura Bebuwu. Ni Luh Nanda pada umur 100 melakukan yoga semadi di pinggir pantai Nusa Penida dan moksa pada tahun Saka 400, disentanekan di Pura Panida bergelar Manik Mas Maketel. Perkawinannya I Undur dengan Ni Luh Nanda melahirkan seorang anak perempuan bernama Ni Ratmaya, pada umur 75 melaku

 

[16] kan yoga semadi di Nusa Lembongan dan moksa pada tahun Saka 450 disentanekan di Pura Ancak Sari. 4. Anaknya Gede Mecaling yang keempat perempuan bernama Ni Diyah Ranggaeni, lahir pada tahun [Saka] 210 dan pada umur 50 melakukan yoga semadi di Nusa Lembongan, moksa pada tahun Saka 260, disentanekan di Pura Sakenan. Demikian Gede Mecaling moksa pada umur 220 tahun dan Sang Ayu Mas Rajeg Bumi moksa pada umur 245 tahun. Disentanekan di Pura Dalem Ped. Dan Sang Ayu Mas Rajeg Bumi disentanekan di Pura Biyas Muntik. Demikianlah kisahnya sehingga sampai kini Nusa Penida merupakan pulau yang keramat.

 

Bangli, 2 Januari 2008, A.A.Gede Alit Parta Shemara, Puri Semarabawa.

Source

  • Shemara, A.A. Gede Alit Parta – Col. Bangli: unpublished, photocopy of handwritten book with excerpts from Balinese Babads, in Indonesian; Puri Semarabawa, Jalan Waturenggong, Bangli, 704pp., p. 257, 258, 270. (collection Dr.H.I.R. Hinzler, Leiden)

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24