Marikultur (Mudana Budha, 2005)

January 2005, I Wayan Mudana Budha (originally from Nusa Penida) presented his Magister thesis to Udayana University (Denpasar, Bali), on marine activities (Marikultur) on the north coast of Nusa Penida, amongst many others seaweed production and fishery, and the effects these activities have on the local economy and the environment, in particular coastal abrasion.

mudana-budha-coverAbout the author

The information on the author's visiting card (July 2015) reads as follows: Bali Shanti International Consult; Perserikatan Wong Samar Dunia (World Syamar); Sekjen: Mangku Nusa (Nusa Penida), Drs. I.W. Mudana Budha, Msi; Konsultan: spiritual, alternative, yoga semadhi; seni rupa; politik. He lives in Jimbaran and Canggu, mainland Bali.

Mudana Budha kindly granted the original colour photographs contained in his Magister thesis, available in pdf.

Mythology - Matsya Awatara (The Awatara Fish)

This is the story of Matsya Awatara, the fish that was washed up on the Southwestern end of Suwal beach, that was found fossilised and turned into a very dry beach area, without trees or plants, as a result of which the area became known as 'Gurun'. This tale is connected to the story of the first 'Awatara', at the moment Dewa Wisnu gave his soul to a large fish (Matsya) to salvage Manu from being destructed and wiped out from this world.

Agni Purana, one of the holy Hindu books, tells that Vaivasvata is the son of Dewa Surya, who performed yoga meditation & prayers for 10,000 years at his place of meditation called Vadrik, on the shores of Krtamala river. It was then told that, one day, Manu appeared to perform a ritual at this river.

When he took water from the river with both his hands, suddenly there appeared a small fish in his hands. When this fish was released into the river, as if by magic, the fish spoke as if Manu were speaking, and he asked not to be returned into the river because he was afraid to be eaten by crocodiles and other large fish.

Then, Manu took him back and put him into a small bowl, but within minutes the fish became very big, so the bowl wasn't big enough any more. Manu put him in a larger water jar, but within a matter of minutes this water jar proved not spacious enough either, and the fish at last was put into a lake.

Soon afterwards, this lake was not able to provide sufficient room for the fish, so the fish was taken to (another) lake. However, this lake also proved not suitable for the fish, so Manu took the fish to the sea, and in the sea the fish became bigger until it became a fish with dimensions of a monster fish.

This magical event surprised Manu and he asked, "Who are you, really? For sure, you are a divine creature, you are surely Visnu?" Then, the fish answered: "I have come to destroy evil and uphold the truth. Seven days from now, the ocean will overflow and flood all nature and all living beings, and at that moment I will save you, because you have taken the effort to save me".

So, on the seventh day the ocean flooded the earth, the gigantic fish salvaged Manu and his seven followers (Rsi), looking after the proas that Manu and his seven followers were in (Bibek Debroy dan Dipavali Debroy dalam Sanjaya, 2001:10-11).

Original Indonesian text

Kembali kepada cerita ikan yang terdampar di ujung barat daya Suwal lama-kelamaan memfosil (membatu) menjadi daratan yang sangat gersang, tanpa adanya sampun pepohonan yang tumbuh sehingga disebut dengan 'Gurun'. Cerita ini kalau dihubungkan dengan cerita tentang awatara yang pertama yaitu Matsya Awatara yaitu ketika Dewa Wisnu masuk atau memberikan roh kepada ikan yang besar (matsya) untuk menyelamatkan Manu dari kehancuran dunia ini.

Agni Purana sebagai salah satu sastra agama Hindu menceritrakan bahwa Vaivasvata adalah putra dari Dewa Surya melakukan tapa dan doa selama sepuluh ribu tahun di pertapaan vadrika di pinggir sungai Krtamala. Selanjutaya diceritakan, pada suatu hari, Manu datang untuk melakukan ritual di sungai itu.

Pada saat Beliau mengambil air sungai itu dengan cakupan kedua tangannya, tiba-tiba ada seekor ikan kecil yang berenang di dalam air yang terdapat di cakupan tangannya. Ketika ikan itu akan dikembalikan ke sungai, dengan suatu keajaiban, ikan tersebut berbicara layaknya seperti Manu tersebut, dan meminta agar dirinya tidak dikembalikan ke sungai karena takut dimangsa oleh buaya dan ikan-ikan besar lainnya.

Manu kemudian membawanya pulang dan menaruhnya di dalam pot yang kecil, namun dalam waktu yang singkat ikan tersebut membesar, sehingga pot tersebut tidak cukup untuk menampungnya. Manu menaruhnya di sebuah tempayan yang agak besar, namun dalam waktu yang sangat singkat tidak muat juga, dan ikan tersebut akhirnya ditaruh di sebuah telaga.

Dalam waktu yang singkat telaga tersebut tidak bisa menampungnya, sehingga ikan tersebut dibawa ke sebuah danau. Danau tersebut juga tidak cukup untuk menampungnya maka Manu membawa ikan ajaib tersebut ke laut, dan di laut ikan itu membesar hingga menjadi seekor ikan raksasa.

Keajaiban yang muncul itu membuat Manu keheranan dan bertanya-tanya, serta kemudian ia berkata, "Siapakah Anda? Anda pastilah makhluk Ilahi, Anda pasti Visnu. Hamba bersujud kepada Anda. Katakanlah siapa Anda yang menguji hamba dalam wujud ikan ajaib ini?"

Akhirnya ikan tersebut menjawab, "Aku datang untuk menghancurkan kejahatan dan menegakkan kebenaran. Tujuh hari dari sekarang samudra akan meluap dan membanjiri seluruh alam dan semua makhluk yang ada maka saat itu Aku akan menyelamatkanmu, karena kamu telah memelihara Aku".

Maka pada hari yang ketujuh saat samudra meluap, maka ikan raksasa tersebut menyelamatkan Manu dan tujuh Rsi yang mengikutinya, dengan cara menarik perahu yang ditumpangi oleh Manu dan tujuh Rsi tersebut (Bibek Debroy dan Dipavali Debroy dalam Sanjaya, 2001:10-11).

Abstrak

(p. V) Marikultur penduduk pesisir utara Nusa Penida merupakan budaya di laut berupa berbagai aktivitas pertanian dalam arti luas yang menggunakan air laut sebagai medianya. Berbagai aktivitas marikultur dilakukan oleh penduduk secara berkesinambungan, bahkan beberapa di antaranya divvarisinya secara turun temurun sampai saat ini. Aktivitas yang dilakukan secara turun temurun telah menjadi mata pencaharian pokok yang sangat memungkinkan untuk terus dikembangkan dan dipertahankan. Hal ini disebabkan karena wilayah pesisir utara Nusa Penida memiliki wilayah pesisir dengan pantai yang tergolong panjang dan luas serta kaya akan keanekaragaman hayati laut yang dapat diperbaharui. Keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh wilayah pesisir utara Nusa Penida belumlah dimanfaatkan secara maksimal oleh penduduknya, mengingat adanya keterbatasan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya. Aktivitas nelayan dan pembudidayaan rumput laut telah mampu mendorong kegiatan pembangunan fisik secara umum di wilayah Nusa Penida.

Bertitik tolak dari uraian diatas maka penelitian ini diberi judul 'Marikultur dalam kaitan dengan kegiatan pembangunan wilayah pesisir utara pulau Nusa Penida di Kebupaten Klungkung, Propinsi Bali'. Sesungguhnya banyak masalah dapat muncul terkait dengan judul penelitian di atas, namun yang dibahas pada kesempatan ini adalah hanya tiga masalah yaitu (1) tentang bentuk-bentuk marikultur penduduk pesisir utara Nusa Penida, (2) mengenai pemungsian atau pemanfaatan produk marikultur tersebut oleh penduduk pesisir utara dan pihak-pihak terkait, dan (3) makna-makna yang muncul dari pemanfaatan atau pemungsian produk marikultur tersebut yang dirasakan oleh penduduk di wilayah itu dan pihak-pihak yang berkaitan erat dengan mereka. Untuk menguraikan dan membahas ketiga permasalahan di atas dibedah dengan menggunakan beberapa teori. Teori-teori yang digunakan adalah teori perubahan dan didukung oleh teori fungsional-struktural, serta teori semiotika yang berkaitan dengan tanda (sign). Penelitian ini bersifat kualitatif yang didukung oleh data yang cukup, baik data primer maupun sekunder. Data tersebut dikumpulkan dengan menggunakan beberapa teknik, yaitu teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan teknik penyajian hasil analisis adalah secara informal atau verbal menggunakan bahasa ragam ilmiah.

Penelitian tersebut berhasil mengidentifikasi mengenai bentuk, fungsi, dan makna dari marikultur dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan di wilayah pesisir utara Nusa Penida. Adapun bentuk-bentuk atau jenis-jenis marikultur penduduk pesisir utara Nusa Penida adalah (1) marikultur tepi pantai, (2) marikultur pesisir pantai, dan (3) marikultur perairan pantai (inshore). Jenis-jenis produk aktivitas marikultur tersebut adalah berbagai jenis ikan, gurita, bulung, keong, kerang- kerangan, dan rumput laut (sea weeds). Fungsi produk marikultur yang dilakukan oleh penduduk di sana dapat dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi langsung (direct- use value) dan fungsi tidak langsung (indirect-use value). Fungsi langsung meliputi (p. VI) fungsi konsumsi, fungsi komoditi, fungsi barter, fungsi sosial, fungsi keagamaan, dan fungsi estetika. Sedangkan fungsi tak langsung terdiri atas, fungsi keagamaan, fungsi pembangunan sarana dan prasarana rumah tangga, fungsi sosial, dan fungsi rekreasi. Selain fungsi dan bentuk juga terdapat makna yang terdiri atas makna kesehatan, makna kesejahteraan, makna relegius, makna solidaritas, makna peningkatan SDM (sumber daya manusia), makna keharmonisan, makna keamanan, dan makna kerukunan.

Perlu ditambahkan bahwa beberapa aktivitas marikultur dalam kaitannya dengan pambangunan di wilayah Nusa Penida secara umum, dalam beberapa hal kurang memperhatikan dampak-dampak yang ditimbulkannya. Dampak-dampak tersebut telah menyebabkan terjadinya abrasi akibat dari penambangan pasir laut secara besar-besaran oleh penduduknya. Penambangan pasir laut secara besar-besaran dilakukan oleh penduduk seiring dengan pesatnya pembangunan sarana dan prasarana fisik di wilayah ini. Bertitik tolak dari pengalaman di atas maka dikemudian hari perlu kiranya semua komponen yang berhubungan dengan wilayah pesisir hendaknya betul-betul memperhatikan dan menjaga kelestarian lingkungan wilayah pesisirnya.

Abstract

(p. VII) Mariculture of the people in north shore of Nusa Penida is a culture at seashore in the form of various farming activities in wide sense using seawater as medium. Various activities of mariculture done by the people sustainably, event some of the activities are inherited from their ancestors up to the present time. The activities done continuously from their ancestors have become their main means of livelihood, which are possibly developed and maintained. This is due to that the north coast of Nusa Penida has a long and wide seashore area and are very rich of biological resources which can be developed. These biological resources of north coast of Nusa Penida have not been optimally utilized by the local people. It is due to the shortage of knowledge and technology. The activities of fisherman and seaweeds plantation have been able to support physical activities in general for people in Nusa Penida.

Based on the above description, this research is entitled MARICULTURE IN RELATION TO DEVELOPMENT ACTIVITIES IN NORTH SHORE NUSA PENIDA, KLUNGKUNG REGENCY-BALI PROVINCE. In fact, there are many problems which may arise in relation to the above research, however, in this occasion, only three problems to be discussed, namely (1) the forms of mariculture of people in north shore of Nusa Penida, (2) the function or utilization of mariculture products by the people in north shore and related parties, (3) the meanings which may arise as the effects of the function or utilization of the mariculture enjoyed by the people and other parties having close relationship with them. To discuss and describe the three problems above, several theories will be applied. The theories applied are theory of change and supported by functional-structural theory, as well as semiotic theory related to signs. This research is qualitative in nature supported by sufficient data, both primary as well as secondary. The data are collected by using interview, observation, and documentation techniques. The data analysis technique applied is qualitative while the technique of presentation is informal or verbal by using scientific language.

This research has succeeded in identifying forms, function and meaning of mariculture in relation with development activities in north shore area of Nusa Penida. The forms of types of mariculture of the people in north shore Nusa Penida are (1) seabank mariculture, (2) seashore mariculture , and (3) inshore mariculture. Types of products of mariculture activities are various kinds of fish, octopus, bulung, shells, snails, and sea weeds. The function of mariculture products done by local people can be distinguished into two, namely direct use value and indirect use value. Direct use value includes consumption, commodity function, barter function, social function, religious function, and aesthetic function. While indirect use function consists of religious function, facility development function and household infrastructure, social function, and recreational function. In addition to functions and forms, there is also meaning which consists of health meaning, prosperous meaning, religious meaning, solidarity meaning, human resources improvement meaning, harmonious meaning, security meaning, and unity meaning.

(p. VIII) It is necessary to add that some activities of mariculture in relation with the development in Nusa Penida in general have less attention to the impacts which may arise. The impacts have cause abrasion due to the massive sea sand mining by the people. This massive sea sand mining is done by the people as a result of rapid facility and physical infrastructure development in this area. Based on the above experience, all components related with sea shore areas are necessary to pay attention and maintain the conservation of shore area.

Ringkasan

(p.IX) Kepulauan Nusa Penida terletak di sebelah tenggara Pulau Bali dengan luas daratannya sekitar 20.286 ha dan panjang garis pantainya sekitar 50 km yang dikelilingi oleh pasir dan terumbu karang. Wilayah kepulauan Nusa Penida merupakan satu wilayah kecamatan yang terdiri atas tiga pulau yaitu, Pulau Nusa Penida (yang terbesar), Pulau Lembongan, dan Pulau Ceningan. Sebagian besar penduduknya mendiami sepanjang wilayah pesisir kepulauan Nusa Penida, terutama yang paling padat adalah wilayah pesisir bagian utara. Wilayah pesisir bagian utara meliputi beberapa desa, di antaranya Desa Lembongan bagian utara, Desa Jungut Batu, Kampung Toya Pakeh, Desa Ped, Desa Klumpu, Desa Kutampi, Desa Kutampi Kaler, Desa Batununggul, dan Desa Suana.

Penduduk Nusa Penida sebagian besar menekuni aktivitas petani (lahan kering) dan nelayan tradisional sebagai mata pencaharian pokok Sebelum terjadinya transformasi sarana dan peralatan nelayan, serta sebelum diperkenalkannya pembudidayaan rumput laut pada tahun 1980-an, mata pencaharian pokok penduduk pesisir utara Nusa Penida adalah sebagai nelayan. Sedangkan pertanian lahan kering merupakan pekerjaan sambilan yang menghasilkan satu kali dalam setahun. Kedua mata pencaharian ini telah lama diwarisinya secara turun temurun. Hasil yang diperoleh dari aktivitas tersebut adalah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja.

Semenjak pesatnya perkembangan pembudidayaan rumput laut (sea weeds) dan berkembangnya sarana dan peralatan nelayan dari tradisional ke modem, maka penghasilan penduduknya menjadi meningkat. Meningkamya penghasilan yang diperoleh oleh penduduk telah mendorong akselerasi kegiatan pembangunan sarana dan parasarana fisik di daerah ini. Pesatnya perkembangan pembangunan tersebut menyebabkan penduduk dalam beberapa hal kurang memperhatikan dampak lingkungan, baik dalam mengembangkan berbagai aktivitasnya maupun kegiatan pembangunan fisik yang dilakukannya. Padahal lingkungan wilayah pesisir utara (p.X) Nusa Penida memiliki beranekaragam kckayaan alam hayati laut yang dapat diperbaharui dan telah terbukti mampu memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi penduduknya.

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi penelitian. Pertama. kepulauan Nusa Penida mempunyai wilayah pesisir yang sangat luas. Kedua, produk kegiatan marikultur terutama aktivitas budidaya rumput laut di Nusa Penida merupakan produk terbesar di seluruh Pali. Ketiga, Nusa Penida sebagai wilayah kepulauan yang terisolir dari wilayah Kabupaten Klungkung sehingga selalu tertinggal. Keempat, terjadinya transformasi di bidang teknologi perikanan. Kelima, marikultur di Nusa Penida berkaitan erat dengan kepercayaan penduduk terhadap dewa penguasa lautan (Dewa Baruna). Penelitian ini bersifat kualitatif, dan jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Pengumpulan data menggunakan beberapa teknik. Teknik-teknik tersebut adalah teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif, dan teknik penyajian analisis data adalah secara informal dengan menggunakan bahasa ragam ilmiah.

Berdasarkan apa yang telah disampaikan di atas dapat dirumuskan tiga masalah yang dikaji di dalam peneltian ini, yaitu (1) perihal bentuk-bentuk atau jenis-jenis marikultur penduduk pesisir utara Nusa Penida, (2) tentang fungsi produk marikultur bagi penduduk pesisir utara dan pihak-pihak terkait di Nusa Penida, dan (3) makna yang diperoleh penduduk pesisir utara dan pihak-pihak terkait lainnya di Nusa Penida sehubungan dengan pemungsian produk tersebut.

Untuk mengkaji atau menganalisis ketiga rumusan masalah tesebut digunakan tiga teori, yaitu teori perubahan, teori fungsional-struktural, dan teori semiotika mengenai tanda (sign).

Sebagai gambaran secara umum mengenai keberadaan wilayah Nusa Penida, maka digambarkan mitologi kepulauan Nusa Penida, keadaan alam, penduduk, mata pencaharian penduduk, serta kekerabatan dan sistem kemasyarakatan. Selanjutnya penelitian marikultur di wilayah pesisir utara Nusa Penida menemukan berbagai bentuk atau jenis, fungsi, dan makna marikultur dari berbagai aktivitas yang dilakukan oleh penduduknya. Bentuk-bentuk atau jenis-jenis marikultur yang (p. XI) dilakukan adalah (1) marikultur tepi pantai terdiri atas aktivitas meramu, aktivitas penangkapan, dan aktivitas pembudidayaan rumput laut (sea weeds), (2) marikultur pesisir pantai meliputi aktivitas memancing, aktivitas menyelam, dan aktivitas penangkapan dengan bubu, (3) marikultur perairan pantai mencakupi aktivitas melaut (luas) dan aktivitas mengungsi (mesarak).

Produk marikultur tersebut dimanfaatkan atau difungsikan oleh penduduk baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Fungsi atau manfaat langsung (direct-use value) meliputi fungsi konsumsi, fungsi komoditi, fungsi barter, fungsi sosial, fungsi keagamaan, dan fungsi estetika. Sedangkan fungsi atau manfaat tidak langsung (indirect-use value) terdiri atas fungsi keagamaan, fungsi pembangunan sarana dan prasarana rumah tangga, fungsi pendidikan dan kesehatan, fungsi sosial, dan fungsi rekreasi. Pemanfaatan atau pemungsian dari berbagai produk marikultur dari berbagai fungsi yang telah disebutkan di atas, melahirkan suatu makna yang di dalamnya terdapat nilai-nilai baik nilai-nilai budaya, maupun nilai-nilai kemasyarakatan. Adapun berbagai makna dari pemungsian produk marikultur yang diperoleh oleh penduduk pesisir utara dan pihak-pihak terkait lainnya di Nusa Penida adalah makna kesehatan, makna kesejahteraan, makna relegius, makna solidaritas, makna peningkatan SDM (sumber daya manusia), makna keharmonisan, makna keamanan, dan makna kerukunan yang diperoleh tidak saja oleh penduduk pesisir utara, akan tetapi diperoleh juga oleh penduduk Nusa Penida secara keseluruhan.

BAB VIII - SIMPULAN DAN SARAN - 8.1 Simpulan

(p.211) Penelitian di wilayah pesisir utara Nusa Penida yang menjawab ketiga rumusan masalah telah menguraikan bentuk, fungsi, dan makna dari marikultur. Melalui deskripsi bentuk, fungsi, dan makna marikultur dalam kaitan dengan kegiatan pembangunan di wilayah pesisir utara Nusa Penida Kabupaten Klungkung pada bab-bab yang telah diuraikan di atas, dapat ditarik simpulan sebagai berikut.

1. Bentuk-bentuk atau jenis-jenis marikultur

Bentuk-bentuk atau jenis-jenis marikultur di wilayah pesisir utara Nusa Penida dikelompokkan ke dalam tiga jenis antara lain (1) marikultur tepi pantai, (2) marikultur pesisir pantai, dan (3) marikultur perairan pantai (inshore). Berbagai bentuk-bentuk marikultur tersebut dapat dibedakan dari berbagai jenis aktivitas yang dilakukan oleh penduduknya. Aktivitas tersebut adalah aktivitas meramu, aktivitas penangkapan, aktivitas menyelam, dan aktivitas pembudidayaan.

Aktivitas-aktivitas tersebut ada yang mempakan warisan secara turun temun dilakukan sebelum tahun 1980-an sampai sekarang, berlangsung di tengah-tengah penduduknya tanpa adanya perkembangan yang substansial. Aktivitas-aktivitas tersebut adalah aktivitas meramu, aktivitas menyelam, dan beberapa aktivitas penangkapan. Aktivitas penangkapan yang masih utuh dilaksanakan sampai sekarang adalah aktivitas nyelukin, meracun ikan ( nube be ), menyinari dengan (p.212) lampu (nyudih atau nyuluh), memancing (males), mebebeh, nyeser, mencar. nyaring daet, menjolok (nyucuk), ngedul, dan nyundih gurita.

Marikultur perairan pantai (inshore) telah mengalami suatu perubahan di bidang sarana dan peralatan yang digunakan dari tradisional ke modem. Perubahan sarana dan peralatan marikultur tesebut adalah aktivitas melaut (luas) dan aktivitas mengungsi (mesarak). Sarana yang mengalami perubahan yaitu dari perahu tradisional (jukung) berukuran kecil ke perahu yang agak besar dengan bentuk yang lebih modem. Sedangkan untuk mendorong perahu tidak lagi hanya mengandalkan layar dan dayung, akan tetapi sudah menggunakan mesin motor tempel.

Marikultur tepi pantai dalam kondisi air surut (nyat) mempakan aktivitas altematif yang sudah menjadi mata pencaharian pokok, yaitu pembudidayaan rumput laut (sea weeds). Aktivitas ini termasuk mata pencaharian baru yang berkembang semenjak tahun 1980-an, bersamaan dengan perubahan aktivitas marikultur perairan pantai (inshore), seperti yang telah diuraikan di atas.

2. Fungsi / manfaat berbagai hasil marikultur bagi penduduk pesisir utara dan pihak-pihak terkait

Pemanfaatan atau pemungsian berbagai hasil atau produk marikultur oleh penduduknya dan pihak-pihak berkompoten di Nusa Penida dibedakan ke dalam dua fungsi sebagai berikut.

(1). fungsi langsung (direct-use value), dimana produk marikultur tersebut dapat secara langsung dimanfaatkan atau difungsikan oleh penduduknya maupun (p.213) produk tersebut dapat diperdagangkan atau sebagai barang dagangan. Adapun fungsi langsung tersebut sebagai berikut. a) fungsi konsumsi untuk kebutuhan pangan, b) fungsi komoditi untuk diperdagangkan baik di dalam negeri atau keluar negeri, c) fungsi barter bertujuan untuk proses tukar menukar, d) fungsi sosial vang berhubungan dengan kekerabatan dan hubungan kemasyarakatan yang bertujuan untuk tolong menolong dan membina hubungan baik antar sesame penduduk. e) fungsi keagamaan sebagai bahan pelengkap upakara dalam suatu upacara keagamaan, dan f) fungsi estetika sebagai karya seni yang berfungsi untuk hiasan atau dekorasi rumah tangga.

(2). Fungsi / manfaat tak langsung (indirect-use value)

Fungsi atau manfaat tidak langsung berhubungan dengan hasil penjualan produk marikultur. Hasil dari penjualan produk marikultur diterima dalam bentuk uang dimanfaatkan secara tidak langsung untuk memenuhi kewajiban-kewajiban dan kebutuhan hidup penduduknya. Adapun fungsi tidak langsung sebagai berikut. a) Fungsi keagamaan untuk keperluan yang berhubungan dengan sarana dan prasarana fisik tempat suci serta upacara keagamaan. b) Fungsi pembangunan sarana dan prasarana rumah tangga berhubungan dengan keperluan rumah tangga, seperti tanah pekarangan dan rumah serta segala perlengkapannya. c) Fungsi pendidikan dan kesehatan berhubungan dengan intelektualitas, pemeliharaan dan perawatan dari jasmani dan rohani. d) Fungsi sosial berhubungan dengan kekerabatan dan kemasyarakatan secara langsung melalui pemberian sumbangan dalam bentuk uang dan barang. e) Fungsi rekreasi (hiburan) mempakan fungsi (p.214) tidak langsung yang berhubungan dengan kegiatan rekreasi atau bersantai-santai untuk menghibur diri.

3. Makna pemanfaatan produk marikultur bagi penduduknya dan pihak-pihak terkait

Pemungsian atau pemanfaatan setiap produk atau hasil dari berbagai aktivitas di laut atau marikultur secara langsung maupun tidak langsung mengandung suatu makna yang di dalamnya terdapat nilai-nilai budaya dan nilai-nilai sosial. Makna- makna tersebut antara lain, a) Makna kesehatan diperoleh dari mengkonsumsi produk marikultur yang menyebabkan jasmani dan rohani menjadi sehat dan kuat. b) Makna kesejahteraan berhubungan dengan terpenuhinya kebutuhan pangan, sandang, dan papan (kebutuhan primer, sekunder, dan tersier). c) Makna relegius merupakan makna yang berhubungan dengan upacara keagamaan menyangkut kepercayaan dan keyakinan. d) Makna solidaritas mengandung maksud peduli atau kepedulian terhadap sesama manusia melalui kegiatan saling bantu membantu dan tolong menolong. e) Makna peningkatan sumber daya. Manusiia adalah makna yang berhubungan dengan peningkatan sumber daya penduduk pesisir utara dan pihak terkait di Nusa Penida melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah dan pendidikan nonformal seperti pelatihan atau kursus-kursus. f) Makna keamanan berhubungan dengan rasa aman, tenang, dan damai diwujudkan melalui pelaksanaan upacara keagamaan untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan yang mengandung makna aman. g) Makna kerukunan berhubungan dengan kedamaian di dalam rumah tangga dan antar sesama penduduk. Makna kerukunan mengandung nilai-nilai damai, tentram, dan (p.215) adanya saling menghargai antara sesama penduduknya. h) Makna keharmonisan mempakan makna yang berhubungan dengan keseimbangan dan keselarasan antara penduduk dengan Tuhan melalui upacara keagamaan, keseimbangan antara penduduk dengan sesama penduduk melalui bantuan sosial, dan keseimbangan antara penduduk dengan lingkungan melalui menjaga kelestarian lingkungan yang diwujudkan melalui upacara keagamaan, seperti upacara mapekelem dan upacara jagad arnawa.

8.2 Saran-saran

Berbagai dampak negatif yang ditimbulkan dari aktivitas marikultur hendaknya menjadi pengalaman berharga yang perlu dibenahi secara bersama oleh penduduknya dan pemerintah sebagai pemegang kebijakan. Penduduk hendaknyp menjaga kelestarian lingkungan pesisirnya demi kesinambungan aktivitasnya di kemudian hari. Berbagai aktivitas marikultur yang dilakukan oleh penduduk pesisir utara Nusa Penida hendaknya terns dibenahi kelemahan-kelemahannya dengan memperkecil dampak negatif yang ditimbulkannya. Mengingat aktivitas marikultur mampu mendorong kegiatan pembangunan di Nusa Penida dan beberapa hasil-hasil produk tersebut mampu mensejahterakan para penduduknya serta telah menyumbang devisa bagi negara, maka pemerintah seharusnya lebih peduli untuk memberdayakannya. Pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah dalam realisasi bantuan pemberdayaan, penyuluhan dan pelatihan, serta membangun infrastruktur penunjang yang masih minim di wilayah Nusa Penida.

Glosarium

Agni Purana Nama salah satu dari ke-18 Maha Purana Sastra Agama Hindu
Anceng Watas Nama sumber air di pantai selatan Desa Sekartaji, Nusa Penida
Asubha karma Perbuatan tidak baik
Aus Arus air laut yang menuju ke arah barat
Awig-awig Aturan tertulis di Desa Pakraman
Ayah-ayahan Kewajiban yang mutlak harus dilaksanakan disertai dengan sanksi-sanksi
Bale agung Bangunan suci yang terpanjang di sebuah pura umum untuk tempat sidang para dewa
Bale pagongan Tempat menaruh alat musik tradisional Bali dan aktivitasnya
Bali Mula Penduduk asli Bali atau yang pertama mendiami Pulau Bali
Banjar adat / Banjar pakraman Organisasi kemasyarakatan tradisional Bali di bawah Desa Adat
Batu abah Satu buah bam besar sebagai peringatan yang ada di pesisir tenggara wilayah pesisir Nusa Penida
Batu mategen Dua buah batu yang berjejer sebagai peringatan di pesisir tenggara wilayah pesisir Nusa Penida
Batu sia Sembilan buah bam yang berjejer sebagai peringatan di selatan wilayah pesisir Nusa Penida.
Bendesa Adat Nama lain dari Bendesa Pakraman
Bendesa Pakraman Kepala atau ketua pengurus di Desa Pakraman
Benega / menega Sebutan para nelayan Nusa Penida
Bhatara Goa Lawah Sebutan Dewa Pelindung yang bersemayam di Pura Goa Lawah
Bhatara Gunung Agung Sebutan Dewa Pelindung atau Dewa Penguasa Gunung Agung
Bhatara Hyang Tohlangkir Nama lain dari Dewa Penguasa Gunung Agung
Bhuta yadnya Upacara atau kurban suci untuk para roh-roh halus dan lingkungannya
Cing Ning Wan Pemilik perahu Cina merupakan salah satu rombongan pertapa dari Kalingga India
Dahet Pesisir pantai
Dalem Dimade Raja Gelgel yang memerintah di Bali pada zaman Bali pertengahan setelah Dalem Sagening tahun 1665 M
Dalem Sagening Raja Gelgel yang memerintah di Bali pada zaman Bali pertengahan setelah Dalem Waturenggong sekitar tahun 1580 M
Dalem Waturenggong Raja Gelgel yang memerintah di Bali pada zaman Bali pertengahan atau zaman Bali madya sekitar tahun 1460 M
Dalem Samprangan Raja dari Wangsa Majapahit yang memerintah di Bali pada zaman Bali Madya sekitar tahun 1390 M
Dana punya Sumbangan berupa uang maupun barang yang tulus ikhlas
Danu Suta Nama Dalem Dukut sebelum dinobatkan menjadi raja di Nusa Penida
Desa pakraman Organisasi pemerintahan tradisional di Bali yang mempunyai kewenangan khusus / otonom
Dewa yadnya Upacara persembahan untuk para dewa
Dukut Istilah lain dari rumput
Dungki Tempat ikan yang terbuat dari bambu
Geguntangan Seni musik tradisional Bali yang diselingi dengan nyanyian tradisional
I Gusti Jelantik Bogol Utusan dari Raja Gelgel yang mengalahkan Raja Nusa Penida
Ida Dalem Nusa Nama lain dari Raja Nusa Penida
Ida Dalem Dukut (Bungkut) Sebutan atau gelar dari Raja di Nusa Penida
Ida Sang Hyang Widhi Tuhan Yang Maha Esa
Jagat arnawa Duma / alam lautan luas / samudra
Jukung Perahu tradisional nelayan di Nusa Penida
Kelian Banjar Kepala atau ketua banjar
Kerawitan Seni musik tradisional Bali
Krama Anggota organisasi tradisional masyarakat Bali
Ksatrya Nusa Sebutan lain dari ayah Raja Nusa Penida
Kulawarga Keluarga dari hubungan kekerabatan
Kyayi Bendesa Nusa Sebutan dari kepala masyarakat Nusa Penida zaman kerajaan
Luah Arus air laut yang menuju kearah timur
Makaad Kondisi air laut menjelang pasang naik
Makekawin Kegiatan menyanyi lagu-lagu sakral di Bali
Mamungkah Upacara tingkatan besar setelah selesai perbaikan pura
Manu Manusia pertama yang diciptakan oleh Tuhan pada zaman dahulu kala
Manusa yadnya Upacara keagamaan yang diperuntukkan kepada manusia
Mapekelem Upacara korban suci yang ditenggelamkan ke laut
Matsya Awatara Awatara Wisnu yang pertama
Maya pada Sebutan lain dari dunia nyata
Merajan Pura keluarga yang agak besar
Moksah Masuk sorga
Natah Gede Pekarangan keluarga besar
Ngenteg linggih Upacara  besar  yang  bertujuan  untuk memuliakan dan menstanakan para dewa
Nyaring dahet Aktivitas menjaring ikan di wilayah tepi pantai dengan jaring kecil dan pendek
Nyat gede Kondisi air surut yang paling kering
Nyat Kondisi air surut
Omang-omang Sejenis keong yang hidup di darat
Padudusan agung Upacara memulyakan para dewa dan tempat sucinya dengan tingkatan besar
Palemahan Lingkungan, wilayah pesisir dan sekitarnya
Pales Sejenis stik dari  bambu kecil  untuk menangkap ikan dan gurita
Panca datu Lima sarana upakara yang di tanam terbuat dari emas, perak, besi, tembaga, dan permata (batu mulia)
Panca srada Lima kepercayaan umat Hindu
Panca yadnya Lima upacara keagamaan umat Hindu
Panyungsungan jagat Tempat memohon keselamatan bagi seluruh umat manusia di seluruh dunia
Parakhyangan Sebutan lain dari hubungan yang harmonis antara manusia dengan tuhan
Paruman Rapat utama Desa Pakraman
Paswitran Persaudaraan
Pawongan Sebutan lain dari keharmonisan antara hubungan manusia dengan sesamanya
Penataran Agung Sakti Dalem Ped Tempat suci terbesar di Desa Ped Nusa Penida
Pencar Jala lempar
Pencok Sahang Senjata yang dipergunakan untuk mengalahkan Raja Nusa Penida atau nama lain dari taring Naga Basuki
Penedehan Perahu tradisional yang paling kecil
Penyawangan Bhatara Goa Lawah Sebutan bentuk tempat suci yang sama atau duplikan untuk memuliakan Dewa Goa Lawah
Penyawangan Sebutan bentuk tempat suci yang sama yang dibuat di tempat lain atau duplikat
Penyuluhan Alat untuk membawa ikan dengan cara ditusuk, terbuat dari tali bambu atau tali plastik
Perarak Daun kelapa yang kering
Pesantian Kelompok menyanyi tradisional  untuk upacara keagamaan
Pitra yadnya Upacara keagamaan untuk orang yang sudah meninggal atau roh-rohnya
Prajuru Banjar Pengurus Banjar
Pura / kahyangan desa Tempat suci yang dimiliki oleh Desa Pakraman
Pura / kahyangan jagat Tempat suci untuk umum di seluruh dunia
Pura / kahyangan tiga Tiga tempat suci yang dimiliki oleh Desa Pakraman
Pura / kahyangan Tempat suci umat Hindu di Bali
Pura Bakung Tempat suci yang terbesar yang ada di Pulau Ceningan
Pura Banjar Tempat suci yang dimiliki oleh Banjar
Pura Batu Mas Kuning Tempat suci yang terbesar yang ada di Banjar Semaya Desa Suana
Pura Batu Medau Tempat suci terbesar di Desa Suana sebagai tempat suci peringatan Pulau Nusa Penida
Pura dadia Tempat suci keiuarga ukuran menengah
Pura Payogan Ida Bhatara Baruna Tempat suci untuk memuliakan Dewa Penguasa lautan / samudra
Pura Puser Sahab Tempat suci terbesar di Desa Batukandik
Pura Sakenan Tempat suci terbesar di Desa Jungutbatu
Pura Segara Penida Tempat suci terbesar di Desa Sakti, Banjar Penida
Pura Tunjuk Pusuh Tempat suci terbesar di Desa Tanglad
Purnamaning ketiga Bulan penuh pada bulan September
Purusa Laki-laki
Ratu Gede Sakti Dalem Ped Sebutan Dewa Pelindung pura terbesar di Desa Ped Nusa Penida
Sagilik Menjadi satu
Saguluk Bersatu dalam satu kesatuan
Saling sorog Saling Bantu membantu
Salunglung Bersama-sama dalam kesenangan
Sanggah Tempat suci keluarga paling kecil
Sasih kapat Sebutan bulan Bali alau sama dengan bulan Oktober
Sasih kaulu Sebutan bulan Bali atau sama dengan Bulan Pebruari
Sasih kesanga Sebutan bulan Bali atau sama dengan bulan Maret
Sayah Musim paceklik
Sebayantaka Bersama-sama di dalam kesusahan
Sesangi Kaul
Seser Alat untuk menangkap ikan yang agak kecil dengan tangkai dari kayu (Jala tangan)
Sraya kanti Sebutan lain dari teman
Stana Tempat
Subha karma Perbuatan baik
Suka duka Senang dan susah
Sundih Sejenis Obor
Swehan Nama sumber air terjun di Desa Sekartaji Pantai selatan
Tari Arja Drama tari tradisional Bali dengan cerita Malat dan Panji
Tari Baris Gede Tari prajurit jenis sakral yang membawa tombak
Tari Baris Pati Tari prajurit jenis sakral dengan peralatan tombak
Tari Barong Ketet Tari Barong dan Randa
Tari Gandrung Tari Joget Sakral
Tari Jangkang Pelilit Tari prajurit asli Nusa Penida
Tari pendet Tari untuk persembahan kepada dewa dengan membawa sesajen yang ditarikan oleh orang laki-laki di Nusa Penida
Tari Rejang Tari massal yang ditarikan oleh gadis remaja untuk mengiringi upacara Dewa Yadnya
Tari Sang Hyang Dedari Tari sakral seperti tari peri yang ditarikan oleh gadis belum remaja yang tidak sadarkan diri
Tari Sang Hyang Jaran Tari sakral seperti jaran yang ditarikan oleh laki-laki yang tidak sadarkan diri
Tari Sang Hyang Memedi Tari sakral seperti manusia halus yang ditarikan oleh laki-laki tanpa sadarkan diri
Tari Topeng Drama tari yang memakai topeng
Tari wali Tari untuk mengiringi upacara keagamaan
Taring Naga Basuki Taring ular raksasa prajurit Dewa Puncak Gunung Agung di Besakih
Temeling, Tembeling Sumber air di pantai selatan, di Desa Batumadeg
Tri Kaya Parisuda Tiga perbuatan yang baik dan suci
Tube / tuba Racun yang terbuat dari getah kayu
Tunggal Dadia Satu kesatuan keiuarga menengah
Tunggal Natah Satu kesatuan keiuarga kecil di dalam satu pekarangan
Turunan Silsilah dari leluhur
Wayang Kulit Kesenian wayang yang terbuat dari kulit
Weda Kitab suci agama Hindu
Widhi widana Upacara perkawinan yang memohon kesaksian dari Tuhan Yang Maha Kuasa
Wong Samar Orang-orang atau manusia gaib

Daftar pustaka

  • Adiati Hanni (1996) - "Pengaruh Degradasi Ekosistem Mangrove Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Timur Lampung'', Program Passca Sarjana Institut Pertanian Bogor
  • Afrianto Liviawati (1999) - Budi Daya Rumput Laut dan Cara Pengolahannya. Jakarta: Bhratara
  • Agusinatih Andi (2002) - "Kajian Pengembangan Kawasan Wisata Dan Pengaruhnya pada Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir Teluk Palu Provinsi Sulawesi Tengah", (Thesis). Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor
  • Alfian, ed. (1985) - Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan; Jakarta: Gramedia
  • Andrain Charles F. (1992) - Kehidupan politik dan perubahan sosial, Yogyakarta: Tiara Wacana
  • Ardarini Fina (2002) - "Kajian Pengembangan Pariwisata Terhadap Kondisi Ekosistem Terumbu Karang di Nusa Penida", Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor
  • Ardhana, Suparta, LB (2002) - Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Indonesia, Surabaya: Paramita
  • Arif, Saiful (2001) - Menolak Pembangunanisme; Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Astra Semadi, I Gde, (Penyunting) 2003 - GURATAN BUDAYA Dalam Perspektif Multikultural, Diterbitkan atas prakarsa dan kerjasama Program Studi Magister dan Doktor Kajian Budaya, Linguistik, dan Jurusan Antropologi, Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana, dan CV. Bali Media
  • Badan Pusat Statistik Kabupaten Klungkung (1999) - Kecamatan Nusa Penida dalam angka 1998; Bappeda Tingkat II Klungkung, Bali
  • Bagus, I Gusti Ngurah, 1988. " Pola Ilmiah Pokok Kebudayaan Universitas Udayana dan Aplikasinya Bagi Pengembangan Keilmuan " Widya Pustaka, Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana
  • Bagus, I Gusti Ngurah (2002) – Masalah Budaya dan Pariwisata dalam Pembangunan, Denpasar : Program Study Magister Kajian Budaya Universitas Udayana
  • Bagus, I Gusti Ngurah (2002) – Menuju Terwujudnya Ilmu Pariwisata di Indonesia, Suntingan, Denpasar: Program Study Magister Kajian Budaya Universitas Udayana
  • Bakker Sj. (1984) - Filsafat Kebudayaan, Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Kanisius
  • Bappeda (2002) - "Rencana Pembangunan Tahunan Daerah" (Repetada 2003), Pemerintah Provinsi Bali
  • Berata Dewa (2003) - "Memori Gubernur Bali tahun 1998- 2003", pemerintah Provinsi Bali
  • Bibek Debroy dan Dipavali Debroy (2001) - Agni Purana, Surabaya: Paramita
  • Bibek Debroy dan Dipavali Debroy (2001) - Bhagavata Purana, Surabaya: Paramita
  • Budiharsono Sugeng (2001) - Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan; Jakarta: Pradnya Paramita
  • Cassirer Ernst (1990) - Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esei Tentang Manusia, Jakarta: PT Gramedia
  • Dahuri Rokhmin (2003) - Keanekagaraman Hayati Laut, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
  • Dahuri Rokhmin dkk (2001) – Pengeloaan Sumber Daya Pesisir Dan Lautan Secara Terpadu, Jakarta: Pradnya Paramita
  • Damsar (2002) - Sosiologi Ekonomi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
  • Drijarkara (2001) - Filsafat Manusia, Yogyakarta: Kanisius
  • Ewing (2003) - Persoalan-persoalan Mendasar Filsafat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Fakih, Mansour (2003) - Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, Yogyakarta: Insist Press
  • Handayani dan Hastuti (2002) - Budi Daya Perairan, Malang: Bayu Media dan UMM Press
  • Hasan Iqbal (2002) - Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Jakarta: Ghalia Indonesia
  • Hasibuan, Malayu S.P. (1987) - Ekonomi Pembangunan dan Perekonomiam Indonesia, Bandung: CV Armiko
  • Hettne, Bjorn (2001) - Teori Pembangunan dan Tiga Dunia, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
  • IPSK – LIPI (2003) - Indonesia menapak abad 21 (kajian ekonomi politik), Jakarta: Millennium Publisher dan PT. Dyatama Milenia
  • Jaffee, dalam Yustika, E.A, (2002) - Pembangunan dan Krisis, Jakarta: PT. Grasindo
  • John Rex (1985) - Analisa Sistem Sosial, Jakarta: PT. Bina Aksara
  • Jomo, Wiryanto, Frans (1986) - Membangun Masyarakat, Bandung: Alumni
  • Kantor dokumentasi budaya Bali (2000) - Babad Blahbatuh dan Babad Brahmana, Denpasar, Provinsi Bali
  • Kantor dokumentasi budaya Bali (1998) - Alih Aksara Lontar Dukuh Jumpungan Denpasar, Provinsi Bali
  • Kaplan, David dan Manners, Albert A. (2002) - Teori Budaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Kartasapoetra G. & Kreimers L.J.B. (1987) – Sosiologi Umum, Jakarta: PT Bina Aksara
  • Kattsoff, Louis O. (1992) - Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Tiara Wacana
  • Koentjaraninggrat (2002) - Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Yogyakarta: Djambatan
  • Koentjaraninggrat (1985) – Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Yogyakarta: Djambatan.
  • Koentjaraninggrat (1990) – Sejarah Teori Antropologi II, Jakarta: UI Press
  • Koentjaraninggrat (2000) – Kebudayaan dan Pembangunan, Jakarta: PT. Gramedia.
  • Kutha Ratna, Nyoman (2003) - "Konsep dan Aplikasi Bentuk, Fungsi dan Makna" Pemahaman Budaya di tengah Perubahan, Denpasar: Program S2 dan S3 Kajian Budaya Universitas Udayana
  • Kutha Ratna, Nyoman (2004) - Teori, Metode dan Teknik Penelitian sastra (dari strukturalisme hingga postrukturalisme, perspektif wacana naraif), Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Laeyen Decker, L, (1983) - Tata Perubahan dan Ketimpangan, Jakarta: Gramedia
  • Laver, Roberth (2001) – Perspektif tentang Perubahan Sosial, Jakarta: Rhineka Cipta
  • Leahy Louis (2003) - Siapakah Manusia? (Sintesis Filosofis tentang Manusia); Yogyakarta: Kanisius
  • Liliweri Alo (2004) - Dasar-dasar Komunikasi antar Budaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Manheim, Karl, Alimandan Penerj. (1987) - Sosiologi Sistematis (Suatu Pengantar Studi tentang Masyarakat), Jakarta: PT. Bina Aksara
  • Mantra, Ida Bagoes, Prof. Dr. (1996) - Landasan Kebudayaan Bali, Denpasar: Yayasan Dharma Sastra
  • Mantra, Ida Bagoes, Prof. Phd. (2000) - Demografi Umum. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Moeljarto T. (1995) - Politik Pembangunan (Sebuah Analisis Konsep, Arah dan Strategi), Yogyakarta: PT. Tiara Wacana
  • Moleong, Lexy J. (2002) - Metodologi Penelitian Kualitas, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya
  • Mudana I Gede (2000) - "Industrialisasi Pariwisata Budaya di Bali", Denpasar: Study Kasus Biro Perjalanan Wisata di Kelurahan Kuta (Thesis) Program Study Magister Kajian Budaya Universitas Udayana
  • Mudana, I Wayan (1992) - "Petulangan di Tinjau dari Segi Seni Rupa", Denpasar: Skripsi: Program Study Seni Rupa dan Desain Universitas Udayana
  • Mukhdor Alpi (2001) - "Proses Perberdayaan Masyarakat Pesisir Melalui Proyek
  • Pengembangan Masyarakat dan Pengentasan Kemiskinan", Jakarta: Co-Fish Project (Study Kasus di Desa Meskom Kecamatan Bengkalis, Program Magister, Universitas Indonesia)
  • Muslimin (2004) - Hubungan Masyarakat dan Konsep Kepribadian, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Pemerintah Tingkat I Bali (1986) - Sejarah Bali, Proyek penyusunan sejarah Bali
  • Perda No 16 tahun 2001, Rencana Strategik (Renstra) Provinsi Bali 2002-2005, Pemerintah Provinsi Bali
  • Pitana I Gde (2002) - Apresiasi Krisis Terhadap Kepariwisataan Bali, Denpasar: PT The Works
  • Poedjawijatna (1987) - Manusia dengan Alamnya (Filsafat Ilmu), Jakarta: Bina Aksara
  • Poerwadarminta (1996) - Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka
  • Poerwanto, Hari (2000) - Kebudayaan dan Lingkungan Dalam Perspektif Antropologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, Nugroho (1990) - Sejarah Nasional Indonesia II, Jakarta: Balai Pustaka
  • Poespowardojo, Soerjanto (1993) - Strategi Kebudayaan (Suatu Pendekatan Filosofis), Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
  • Poloma, Margaret M. (2003) - Sosiologi Kontemporer, Jakarta: PT. Raja Grafindo, Persada
  • PROPEDA (2001) - "Program Pembanguanan Daerah" Provinsi Bali, Pemda Provinsi Bali
  • Relawati dalam Sugiarti, Dkk (2003) - Pembangunan Dalam Perspektif Gender, Malang: Universitas Muhammaddiyah Malang
  • Ridjal, Fauzie, M, Rush Karim (1991) - Dinamika Budaya dan Politik Dalam Pembangunan, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana
  • Rusli Karim dan Fuzie Ridjal (1991) - Dinamika Budaya dan Politik Dalam Pembangunan, Yogyakarta: Tiara Wacana
  • Sairin, Sjafri (2002) - Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia (Perspektif Antropologi), Yogyakarta : Pustaka Pelajar
  • Sanderson Stephen K. (2000) - Makro Sosiologi (Sebuah Pendekatan terhadap Realitas Sosial), Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada terhadap Realitas Sosial), Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
  • Siagian Sondang P. (2001) - Administrasi Pembangunan (Konsep, Dimensi dan Strateginya), Jakarta: PT. Bumi Aksara
  • Soebandi, Jro Mangku Gde Ketut (2003) - BABAD PASEK Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi, Denpasar: Manik Geni
  • Soekmono, R. DR. (1973) - Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, Yogyakarta:Kanisius
  • Soelaeman, Munandar, M. (2001) - Islam Sosial Pasar (Teori dan Konsefllmu Sosial), Bandung: PT. Refika Aditama
  • Soetrisno, Loekman (1997) - Kemiskinan, Perempuan, dan Pemberdayaan, Yogyakart: Kanisius
  • Sudikan, Setya Yuwana (2001) - Metode Penelitian kebudayaan, Surabaya: Unesa Unipress Bekerja Sama Dengan Citra Wacana
  • Susilo, Y. Eko Budi, (2003) - Menuju Keselarasan Lingkungan, Malang: Averroes Press
  • Suwarsono, Alfianyso (2000) - Perubahan Sosial dan Pembangunan, Jakarta; PT. Pustaka LP3ES
  • Syafril Muhamad (2002) - "Analisis Pola Kelembagaan Masyarakat Nelayan Dalam Pembangunan Wilayah Pesisir" (Study Kasus di Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Timur). Thesis: Program Passca Sarjana Institut Pertanian Bogor
  • Tamburaka, Rustam E. (1999) - Pengantar Ilmu Sejarah Teori Filsafat Sejarah Filsafat Iptek, Jakarta: Rineka Cipta
  • Tjokrowinoto Moeljarto (2001) - Pembangunan Dilema dan Tantangan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Todaro, P, Michael (2000) - Pembangunan Ekonomi (Edisi Kelima), Jakarta : PT. Bumi Aksara
  • Tom, R, Bum, S, Dkk, Harisoemarto, Perj. (1987) - Manusia Keputusan Masyarakat, Jakarta: PT. Pradnya Paramita
  • Van Peursens (1988) - Strategi Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisius
  • Wikarman, Singgih, I Nyoman (1998) - Leluhur Orang Bali, dari Dunia Babad dan Sejarah, Surabaya: Paramita
  • Windia, I Wayan (2000) - "Kesepekang Ditengah-tengah Transformasi Budaya" (Study Kasus di Desa Adat Tengkulak Kaja, Gianyar, Bali), Thesis: Denpasar
  • Yamiati Nuning (1997) - Dampak Pengembangan Pariwisata Pesisir Dan Lautan terhadap Perekonomian Wilayah, Kesejahteraan dan Kelembagaan Masyarakat sekitarnya di Pulau Nusa Penida, Program Passca Sarjana Institut Pertanian Bogor
  • Zeitlin, Iruing M, Memahami Kembali Sosiologi (kritik terhadap Teori Sosiologi Kontemporer), Yogyakarta: Gadjah Mada, University Press

Source

  • Mudana Budha, I Wayan (2005) – Marikultur dalam Kaitan dengan Kegiatan Pembangunan Wilayah Pesisir Utara Pulau Nusa Penida di Kebupaten Klungkung, Propinsi Bali; Tesis untuk memperoleh Gelar Magister pada Program Magister Kajian Budayan, Program Pasca Sarjana Universitas Udayana Denpasar, 24 Januari 2005, 252 pp.

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman www.godidijkman.nl social facebook box white 24