Bali Bondan Belahbatu, Babad Ratu Nusa (Rinda, 1976)

This text is the transliteration of a lontar 'Sĕjarah Ratu Nusa' (The History of the King of Nusa), owned by I Ketut Rinda (Belahbatuh, Batalepang, Denpasar) dated 14 November 1976. 

It was transliterated at Puri Anom Jambé Mĕrik Pucangan by T.T.D./A.A. Ngurah Mangku and typed again on paper by Ida I Déwa Gdé Catra, at Amlapura (Karangasem, Bali). In November 2009, is was made available for the computer by transcriber Benyamin Poho Pabala, Jl.Waturenggong, Denpasar.

Below follows the original Balinese version and translation into Indonesian by Ida I Dewa Gde Catra, through his daughter I Dewa Ayu Puspita Padmi. This publication is part of a series of lontar transcriptions called 'Proyek Tik' intitiated by Dr. H.I.R. Hilnzler. An English translation is forthcoming.

Indonesian

(1b) Semoga tidak ada rintangan. Hormat kami kehadapan Paduka Batara junjungan kami, bahwa kami memohon restu serta ijin ke hadapan Paduka Batara, sehingga tidak terkena oleh anasir berbahaya dari Sang Hyang yang terdahulu, termasuk dari para leluhur yang telah menyatu dengan para Dewa, semoga kami diampuni, segalanya berkembang, panjang usia hingga keturunan selanjutnya, semoga aman damai dan sejahtera di atas dunia. Bila ada kata-kata yang menyimpang, mohon disempurnakan, kini kami ingin menceriterakan kisah lama, terlalu berani ingin menjelaskan ceritera terdahulu, seperti sangat tidak mungkin, sebab -/-

(2a) tidak dilarang untuk menirukan. Maka dengarkan kisah itu, dahulu kala ketika “Bali Bondan” pada masa dunia dikuasai oleh watak raksasa, dalam keadaan Batari Uma, beliau sedang dilepaskan oleh Sang Hyang Parama Guru. Mengapa terjadi demikian, sebab Batari Uma pernah murka pada anaknya yaitu Sang Hyang Kumara, beliau menjadi pohon enau, berselubung, serta menguraikan rambut, berdiri dengan satu kaki, keluar dari badannya susunya yang gemuk, maka itu diisap oleh anaknya yaitu Batara Kumara, sama rasanya dengan susu ibu. Dan ibu -/-

(2b) nya tidak melarang, bagaikan raksasa nafasnya deras, memerah kedua belah matanya, segera pula muncul taring, anaknya dibanting, hingga pecah kepala Batara Kumara, dibuang tulangnya, melalui ubun-ubunnya itu ditelan otaknya oleh Batari Uma. Ketika sedang menikmatinya, Sang Hyang Parama Gurupun tahu, saat (Batari Uma) berwujud raksasi, demikian halnya sehingga diperintahkan diam (berkedudukan) di dunia fana. Kini Batari Uma, menghadap Batari Rohini, dengan taring yang panjang, bagaikan Durga Bucari, sambil menangis dalam perjalanan, tak henti-hentinya bercucuran air susunya ke tanah, -/-

(3a) maka tumbuhlah pisang-saba (nama jenis pisang). Kemudian (pisang) itu boleh dijadikan santapan bayi, sebab pisang-saba itu tumbuh dari air susu. Dan beliau ketika demikian Batari Rohini, bermukim (berkahyangan) di pucak Bukit Mundi, menciptakan istana sama seperti di sorga, selanjutnya beliau mencipta, keluar banyak babutan (mahluk halus), semua itu yang mengawal, hal itu pula menyebabkan angker luar biasa. Serta ketika Batari Uma dipindahkan ke alam manusia, akhirnya ada yang benama ”Nusa” dalam keadaan Bali Bondan. Selanjutnya Batari Rohini, mengajarkan pada anaknya, ONG AH I, AH Aw Rohini itu. Ada bernama -/-

(3b) Ratu Sawang di Pucak Bukit Mundi, amat menakjubkan, setiap hari memangsa daging manusia (mengolah), serta sakti tan ada tandingnya, kini Ratu Sawang mengambil seorang istri (menikah). Berputera laki-laki dua orang, bernama Ratu Renggan, Ratu Renggin. Dijadikan kompiang (cicit) oleh Ki Dukuh Jumpungan, mengapa demikian, sebab ia asalnya adalah orang Indu, keturunan Brahmana, selanjutnya di Indu diberi nama Raden Jumpungan. Ketika ia berperahu tidak diperhatikan, membuatlah laut (lolwa) di Penida, disana ditambatkan perahunya, -/-

(4a) karena imannya kuat maka diberi nama Dukuh. Cucunya Dyah Renggini dinikahkan oleh Ratu Sawang, sekarang Sang Ratu Sawang menjadi raja (Dalem) di daratan Nusa, bergelar Sri Dalem Sawang, sebab beliau menguasai penduduk daratan Nusa, hentikan ceritera tentang Dalem. Diganti kisahnya tentang Ratu Rengga, Renggin, mereka dididik oleh cicitnya (kompiang), telah faham dengan ilmu menahan aliran air, tahu tentang ilmu membatalkan turunnya air hujan, tahu tentang ilmu menghancurkan bumi agar menjadi lautan, oleh karena itu ia diberi perahu, disuruh berlayar oleh cicit (kompiang) nya. Sekarang mereka berdua menjadi pengemudi perahu, dan Ratu Rengga Renggin juga menjadi patih (pembantu raja), berperilaku ganas, bagaikan Rawana, setiap hari berwujud kera. Juga Sang Aji Sawang, tetap juga berada di Bukit Mundi, berperilaku bagaikan raksasa, tetap memangsa olahan daging manusia. Entah berapa tahun lamanya, memangsa daging manusia, tidak dijelaskan. Diceriterakan kembali dua orang ratu (penguasa) itu, selalu mengemudikan perahu tidak menghiraukan sekalipun tak disenangi, disebabkan hati angkara murka seperti Rawana, timbul niatnya ingin tahu pada -/-

(4b) kesaktian Hyanging Gunung Ratu, maka mereka melepas wakutis (sejenis serangga), serta weci (kotoran-kotoran), berterbangan berhamburan di udara, demikian caranya mencobakan, sehingga terkejut para Dewata yang berada di gunung, berlari kesana kemari, kala itu murka Hyanging Gunung Ratu, serta menurunkan hujan api, membakar hangus beduda (kumbang tanah) menjadi abu, terbakar habis sampai dengan jurang dan lembah yang kering, muncul gunung berasap tak henti-hentinya, oleh karena itu dinamakan Bukit Pawon, juga diberi nama Laga, ketika daratan menyatu sebagai danau, serta api melintas seperti guruh, membakar segala yang tumbuh, -/-

(5a) itu menimbulkan nama Lembah Api, demikian awalnya seperti tersebut di depan. Lama-kelamaan entah kapan waktunya, juga mereka belum merasa kalah, timbul niatnya agar tahu dengan Hyanging Gunung Ratu, segera menujukan perahunya, juga tak diperhatikan, di sana di Padangbai, menggelar japa mantra, berakibat hancur daratan itu menjadi air, segera bumi bergetar (gempa), terperanjat seluruh Hyang Hyanging Gunung, semua berlari menuju Gurung Ratu, mempermaklumkan tentang perahu itu hendak menuju ke Gunung Ratu, maka Hyang pun seketika murka, -/-

(5b) sebab di Gunung Agung Dewa yang paling berkuasa di Bali, akhirnya ditekan perahu itu dengan kaki, segera mundur, air laut pasang bergelombang, pengemudi perahu berputar-putar serta muntah-muntah, lalu ditabrak gunung itu hingga putus perahu itu tenggelam akibat angin puyuh, perahu itu tenggelam sehingga ada anak gunung, serta dengan isinya, tenggelah dalam samudra, para pelaut tiba di pantai, berenang seperti penyu, terdampar di pantai Nusa orang Indu itu, menghadap pada Dalem Sawang, mempermaklumkan peristiwanya yang lalu, -/-

(6a) maka Dalem sangat marah, melihat perahunya rusak, maka tak henti-henti hatinya sentimen pada Hyanging Bali Tengah, agar ada yang mengamankan di Bali, sampai dikemudian hari, sebab dikutuk para juragan itu semua, “semoga agar menjadi Bala Samar” (orang halus / tak terlihat), hingga di kemudian hari, memangsa perut manusia setiap tahun, namun ada sebagai penyempurnaannya, maka disuruh Samar itu membangun pemondokan di tepi pura, dikawal oleh Ki Bala Samar, saat itu Sri Aji memuaskan nafsu angkaranya, tidak henti-hentinya mengolah daging manusia. Demikian awal mula daratan Nusa, -/-

(6b) menjadi angker tak ada yang berani mengunjungi. Hentikan ceritera itu. Setelah lama-kelamaan, ketika dunia terkena musibah, mohon ampun kami agar tak terkena kutukan, akhirnya sedih dan susah Batara di Gunung Ratu, melihat perbuatan Dalem di Nusa, bersantap memangsa daging manusia, serta penduduk Nusa tak sedikit yang mati, diolah perutnya oleh I Bala Samar, sebab telah diijinkan oleh Dalem di Nusa. Hal itu menyebabkan marah hati raja Bali, Batara di Gunung Ratu, langsung seketika beliau mencabut pohon Dukut Petak (rumput putih), yang disebut Padang-kasna, seraya dipuja diberi mentera-mentera, kini menjadi

(7a) sosok manusia yang tampan wajah mukanya, ia sangat pemberani, diberi nama Sang Aji Dukut, ia diadu oleh Paduka Batara (Gunung Ratu), agar membunuh Ki Dalem Nusa, dosanya memangsa manusia, iapun mati oleh sebilah keris Ratna-kencana, serta sarana tajamnya manuk dewata (keswari), itu dipuja dengan mentera-mentera. Adapun setelah meninggal Sang Aji ring Nusa, tempatnya mengolah mangsa, serta ada kasur tempat duduknya dari manik (permata), disana duduk Sang Aji Dalem Dukut, -/-

(7b) hingga tak ada alasan untuk bertempur. Adapun setelah meninggal Sang Aji Nusa, kembali ke alam baka, ibundanya sangat murka, yaitu Batari Rohini, lalu dibongkar danau itu airnya dialirkan ke laut, sehingga berdatangan penduduk Nusa untuk menambak, namun tak kuasa, sebab ada yang bernama Tegal Tamblir, serta air susu meresap ke batang pohon pisang saba, demikian penjelasannya, matinya tanpa jenazah, semua kembali ke sorga. Tak dilanjutkan. Lama-kelamaan entah berapa lama dunia ini, lalu dikisahkan ketika bertahta Batara Kresna Baturenggong, beristana di Sweca-linggarsa pura (Gelgel), -/-

(8a) benar-benar negeri amat sentosa, tumbuh-tumbuhan semua menjadi, segala macam hama menjauh, para petugas pejabat semuanya baik, tak ada yang bertengkar dengan sesamanya, disangga oleh para Patih (sejenis perdana mentri), serta para Arya seluruhnya, semua asal keturunan dari Majaphit, dan anak Kyai Paminggir, yang lahir dari Kyai Manguri. Kyai Paminggir asal Bali banyak anaknya, sangat baik dan bangsawan, pantas dikedepankan oleh Dalem, yang bertahta di Sweca-linggarsa pura, mereka mengitari istana Dalem, dan Kyai Paminggir merupakan cicit dari I Gusti A Manguri. -/-

(8b) Adapun Manguri berputera Kyai Popongo, Rakryan Popongo berputera Kyai Ngurah Alit Kawan, putera I Gusti Pamingir adiknya yang perempuan bernama Ni Gusti Ayu Kutri, dinikahkan oleh Kryan Mogol, menjelma menjadi lintah, dosanya memperistri anaknya. Ni Gusti Ayu Kutri pergi dari Gelgel, karena jijik melihat lintah. Tak dilanjutkan itu.- Kini ada ceritera lagi, tidak puas Dalem menghibur diri, bercengkerama di Panataran Padang, sambil berburu, da memikat burung -/-

(9a) diikuti oleh para bangsawan, sampai para pemburu, terutama Dalem yang menunggangi pedati, penyelenggaranya telah berpengalaman, ia yang menyelenggarakan, ke manapun Dalem pergi, tidak lain I Pengajaran yang menyelenggarakan, amatlah sempurnanya. Adapun ketika Dalem kembali dari Padang, dilihat orang dari Nusa sama-sama bermuram durja, semua menahan air mata, datang Pamekel dari Gulingan, juga berwajah sedih, laporannya sama, mengatakan perilaku Dalem Nusa, perbuatannya buruk, memperistri wanita bersuami. Karena Dalem amat sakti, maka kami tidak berani. Bersabda Dalem Bali, “Ya, bila benar demikian, -/-

(9b) silakan kamu kembali pulang.” Setelah lama, Dalem kembali ke istana. Lalu beliau mengirim Dulang-mangap (angkatan bersenjata jaman itu), seribu delapan ratus banyaknya, semua pemberani untuk membela Dalem. Ki Gusti Paminggir kepala pasukan penyerang, semua berangkat dengan sampan (jukung), berlayar dari Jumpahi bernama Cedokandoga. Dan setelah sampai di sana (Nusa) , sekaliannya mengikuti kehendak Dalem, maka semua bersemangat, berjalan sambil bersorak-sorak, serta melakukan pembakaran, juga menembaki. Sebab tak ada yang membalas, maka sementara tinggal menunggu. Tidak dilanjutkan ceriteranya. Diceriterakan pula Sri Dalem Dukut, memang benar memuaskan nafsu panca-indriya (lima kesenangan duniawi), niat melakukan penyamaran tak terkendali, memperisteri isterinya orang lain (wanita bersuami), berbuat kebencian penduduk, -/-

(10a) menimbulkan kekacauan di masarakat, demikian kesenangannya Dalem (Dukut). Setelah itu, maka terkejutlah Dalem Dukut, atas perbuatan orang-orang Bali, melakukan pembakaran, memaksa melakukan pengrusakan, tetapi tanpa ada perjanjian, maka sangat susah Dalem Dukut, kemudian dipanggil Bala-samar itu (pasukan orang halus), Bala Samarpun datang, semua membawa pedang api (menyala), serempak menyerang menikam, dicari perutnya dijadikan masakan (rumbah gile), orang-orang Bali semua tak berdaya, sempoyongan kehilangan tenaga, habis hingga sumsumnya, kesakitan, -/-

(10b) ada yang mati kedinginan, ada bersembunyi pada semak belukar, selain yang luka, semua kembali ke Bali, terus dikejar oleh Bala Samar, diserang denga pedang api. Dan setelah tiba di Bali, akhirnya mati semua, sampai dengan I Gusti Paminggir, juga meninggal dunia. Ki Gusti Kulon menghadap Dalem (Bali), melaporkan bahwa pasukannya mati semua, Dalempun berpikir, lama tak bersabda, sebab didengar bahwa Kyai Paminggir telah meninggal dunia. Selanjutnya Dalem berkata, memerintahkan agar membakar jenazah itu, ada pula yang disuruh menguburkan, karena sangat banya (1800) pasukannya, -/-

(11a) maka digabung-gabungkan ada berisi 50 jenazah, ada 100 jenazah, masing-masing liang lahat (liang yang digali untuk penguburan), hanya Ki Gusti Paminggir diupacarai sesuai upacara kesatria. Selanjutnya ada niat Dalem (Bali), menyuruh membangun sebuah pura, sebagai peringatan, perihal menguburkan jenazah para prajurit semua, ketika menyerang Nusa, bernama Dalem Prajurit, kewajiban prajurit, yang wajib dipelihara (sungsung) oleh keturunan Ngurah Paminggir, sebab Kyai Paminggir gugur ketika bertempur. Setelah meninggal Kyai Paminggir, meninggalkan -/-

(11b) istri sedang hamil, anaknya bernama seperti nama ayahnya, ada juga lahir Ki Gusti Wayahan, ibunya langsung meninggal, bayi itu menjadi abdi Indrabala, datang kakeknya bila hidup, bila melanggar bukan mustahil timbul pertengkaran, hentikan ceritera itu. Ampunilah saya agar tak terkena kutukan. Diceriterakan Sri Aji Gelgel, beliau masih marah (sentimen) pada Sri Aji Dukut. Maka mengirim pasukan kini Ki Gusti Tenganan diadu memimpin pasukan itu, gembira hatinya diadu oleh Dalem, sebab ia telah faham pada empat siasat (niti catur wiweka), pada waktu yang ditentukan iapun berangkat, dengan sebilah keris bernama I Malela Dawa, diperoleh ketika bersemedi pada percabangan sungai Unda, -/-

(12a) mengatur pasukan serta perbekalan, bersampan dengan layar (bidak), tak terkatakan bahwa telah tiba di daratan Nusa. Langsung menghadap ke istana Dalem (Dukut), “Ya mohon maaf, bahwa saya menghadap tuan, karena saya diutus oleh Sri Aji Bali.” Belum berlanjut kata-katanya, Dalem Nusa menjawab, “Hai kamu Jelantik, hal itu aku telah tahu atas kedatanganmu, kau diutus untuk membunuh aku, aku gembira untuk meninggalkan bumi ini, sebab aku hanya memuaskan nafsu (indriya / kesenangan). Karena anda (Ngurah) orang yang saleh (berbudi luhur), aku ijinkan. Tidak seperti Ngurah Paminggir -/-

(12b) dahulu, ia datang memaksa, tanpa rasa kasihan, dengan sombong membakar, itulah sebabnya mati semua. Anda Jelantik, bila aku telah kembali ke alam baka (cintya), itu ada Bala Samar, serta sekalian yang ada di Nusa, semua kupersembahkan kepada Raja Bali, agar beliau memberikan upacara (caru) setiap tahun. Bila tidak demikian halnya, akibatnya negeri akan mendapat wabah (grubug). “Setelah wejangan itu, lalu mengambil pensucian diri, beliau (raja Dukut) memusatkan pikiran melebur (mamralina) segala yang yang tak suci, serta sekalian perbuatan mengambil istri orang lain (dratikrama), semua telah berakhir (musnah) -/-

(13a) dari diri pribadi Dalem. Sesudah itu, maka beliau Dalem bersantap, bersama dengan Kryan Tenganan, dengan suguhan yang serba enak ditambah dengan minuman-minuman. Setelah bersantap bersama-sama, Dalem (Dukut) berkata kepada Kyai Jelantik, “Wahai engkau/kita Jelantik, akan terbalik bila kuserahkan cuma-cuma, menyimpang dari kewajiban seorang kesatria. Bila aku mau membunuh, masa kau akan hidup. Kini marilah menghunus keris. Maka masing-masing menghunus keris, berperang tanding sama-sama gagah berani, saling tikam, terasa masuk kerisnya Kyai Jelantik, tidak terasa oleh Dalem. Dalem berkata, Udhuh, wahai, yang lain saja, yang baru itu belum terasa.” Lalu teringat Kyai Jelantik, dihunus kerisnya, yang didapat dahulu. Dalem berkata, -/-

(13b) "Aku dahulu, ia keluar dari rahasia kesatiannya, serta asap menyelimuti, segera lenyap beliau tanpa jenazah.” Kagum Ki Gusti Jelantik menyaksikan, dan Sira Dalem Dukut moksah (tanpa jenazah) kembali ke alam baka. Ki Gusti Jelantik bersama pasukannya, diikuti oleh Bala Samar, Ki Gusti Tanwikan, ketika berlayar sedang di tengah lautan, jatuh kerisnya I Malela ke dalam laut, menyebabkan ikan-ikan di laut terpencar-pencar dari kumpulannya, langsung berlabuh di Cedokan, di pantai Jumpahi, langsung berjalan ke arah timur laut. Lalu setelah tiba di depan istana, maka -/-

(14a) tunggang-langgang kuda Dalem ketika baginda sedang dalam pedati, kudanya berlari kencang tak kuasa dihalangi, berapapun banyak orang menghentikan, berlari juga mendobrak, apa sebabnya demikian, karena Kyai Jelantik dibarengi oleh Bala Samar, semua berupa raksasa, bersenjata pedang api. Ada seorang anaknya I Gusti Jelantik, beribu dari Pamedilan, tidak dihiraukan oleh ayahnya, dulu bersalah di dalam perjudian, sekarang ia yang menghalang-halangi kuda itu, akhirnya kuda itu berhenti, langsung diikat, kuda itu diserahkan pada Dalem, amatlah senang hati Dalem di Gelgel, demikian keadaannya dahulu. -/-

(14b) Ketika bercengkrama di Gowalawah, terjadi lagi kerusakan pedati, maka dikumpulkan oleh Pangajaran, setelah itu, Ki Gusti Jelantik menyampaikan kepada Dalem, tentang pesan permintaan Dalem di Nusa, agar beliau memberikan upacara caru, untuk suguhan Bala Samar, setiap tahun. Kini penduduk (orang-orang) di Nusa, serta dengan wilayahnya semua, seluruhnya dipersembahkan kepada Dalem. Dan bilamana Dalem akan mengirim pasukan melawan musuh, agar menabuh kentongan (Tengeran), demikian laporan Kryan Jelantik, maka Dalem amat senang, sebab Nusa diserahkan kepada Dalem, bertambah pula keamanan negeri, selama bertahta -/-

(15a) Sri Dalem Baturenggong. Sesudah kejadian itu, sekarang timbul niat Dalem, memberikan anugrah (tanda jasa), pada putera yang mengabdikan diri pada Dalem, “Wahai kau Jelantik, kau menjadi Ngurah Agung. Anakmu yang beribu dari Pamedilan, yang berhasil menghalangi dan mengehentikan lari kuda itu, sekarang bernama Ngurah Pandenan, bila meninggal dunia kelak boleh menggunakan upakara kesatria. Demikian pula kau Pengajaran selalu sebagai penyelenggara, pedati yang rusak itu kau simpan seabagi kenang-kenangan, maka seketurunnya bernama I Ngurah Gde Pangoregan, upakara kematian boleh menggunakan upakara kesatria. Dan kau Kyai Gde Paminggir, -/-

(15b) agar selalu ingat seperti apa yang telah kukatakan dahulu. Dia Ki Gusti Ngurah Agung, diberikan tempat di Tojan, atau Tojaha. Hentikan uraiannya. Setelah lama kemudian, bertahta Sri Dalem Anom, negeri kacau balau. Kesombongan, jiwa rakus, curiga-mencurigai berkembang tak tertahan, menyebabkan timbul peperangan di Sweca-lingarsa pura, timbul keraguan pada Kriyan Pande, kekeliruannya tak mau turut dalam sumpah bersama, sehingga dikurung oleh orang-orang Badung, perang bersebelahan, di selatan kota diserang, di sebelah barat, Kryan Patih Kubontubuh, -/-

(16a) serta pasukannya bertahan, semua membela Anglurah Kanca, yang dari Badung Kuta, di sebelah utara Kryan Tabanan, Tegehkori, Buringkit, Kaba-kaba, semua membela Kryan Kanca, semua mempertahankan tempat masing-masing, berbelok ke timur, pasukannya tinggal sedikit, sekitar seratus orang. Ki Gusti Pande, sapih berperang tanding melawan Rakryan Panarungan, maka Kryan Pande meninggal berama anak-anaknya, hanya hidup anak menantunya (wanita sedang hamil). Tetapi I Gusti Nginte tak berhadapan dengan musuh, sebab ia bertahan di utara, sedangkan Kryan Kanca bermarkas di timur, serta pasukannya berjaga-jaga, bersama I Ngurah Pamedilan, -/-

(16b) seruannya, “Bila tidak hancur Kryan Pande, ia tak akan menghentikan.” Peperangan itu sangat dahsyat, jenazah berjejal seperti gunung, sawah-sawah dijadikan pemakaman, dijadikan satu liang lahat (bangbang). Lalu setelah gugur Kryan Pande, daerah Gelgel terasa sunyi senyap. Tak diceriterakan. Setelah lama kemudian, dikisahkan I Ngurah Kanca, serta I Ngurah Pamedilan, telah pasti dalam perjanjiannya, tetang persahabatan, ibarat batu asah dengan baja dalam besi yang diasah, ternyata sama-sama susutnya, itulah sebabnya si Kanca menetap di sana, membuat perumahan, berdampingan dengan Ngurah Pamedilan. Kryan Kanca menikah dengan seorang wanita -/-

(17a) perempuan yang disayangi oleh Kryan Pamedilan, itu diserahkan pada Ngurah Kanca, telah selesai berupacara pernikahan, kemudian Lurah Kanca memperoleh keturunan seorang laki-laki bernama I Ngurah Wayahan Pakenca, keturunan dari I Gusti Agung di Kuta. Juga ia Kryan Pakenca sekarang, menikah dengan anaknya Kyai Pamingir, bernama Ni Ayu Perang sebagai istri Ngurah Pakenca, dasarnya cinta sama cinta, maka ada perjanjian dengan Ki Gusti Paminggir, agar I Ngurah Pakenca, -/-

(17b) sampai keturunannya nanti, agar ikut menjadi anggota krama Pura Dalem Prajurit, demikian perjanjiannya dengan I Ngurah Kanca. Ki Gusti Kanca menjawab dengan singkat, dapat menerima seperti permintaan Ki Gusti Paminggir, mengapa demikian, sebab Kanca memperoleh tanah tempat tinggal dari Ki Gusti Paminggir, sampai dengan tanah Kutri. Karena itu, kini keturunan Ki Pakenca, diberi wasiat pemberitahuan yang tepat (benar), agar supaya tidak memungkiri seperti nasehat orang tuanya. “Kamu Ngurah Pakenca, sebab aku (bapa) telah berjanji, olehmu mengingatkan hingga kemudian, jang lupa, seperti nasehatku (bapa), jangan menolak menjadi anggota krama pura, menyungsung Dalem-/-

(18a) Prajurit, Dalem orang-orang yang ikut dalam pertempuran, terutama di Besakih, harus taat bersujud, sebagi pokok Pura Darma pada jalan yang sempit, di sebelah Timur tanggul besar (kreteg agung). Ini adalah peringatan Batara yang baru saja datang, yang bertahta tahun 1350 sampai dengan 1380, sebagai Dalem di Samprangan. Ketika bertahta Dalem Ktut Ngulesir, berkedudukan di Gelgel, lamanya dari tahun 1380 sampai dengan 1590. Bertahta Dalem Baturenggong, dari tahun 1591 sampai dengan 1619 (?), kemudan Dalem Bekung, 1550 sampai dengan 1580, -/-

(18b) bertahta Dalem Anom, dari tahun 1580 sampai dengan 1665. Bertahta Dalem Dimade, 1665 sampai dengan 1685 di Guliyang. Tidak diceriterakan. Selesai. Mulai dari Arya Belog, berputera Gusti Kabha-kabha, Ki Gusti Buringkit. Ki Gusti Kabha-kabha mohon putrotpadana (putera yang lahir atas hubungan kelamin Dalem dengan isteri Ki Gusti Kabha-kabha), pada Dalem Seganing, anaknya adalah I Gusti Teges beribu papadan (isteri yang juga bangsawan). Lain lagi yang panawing (ibu bukan bangsawan), anak kandung laki-laki lima orang, bernama I Gusti Kladian, Padangbulia, I Gusti Bakung, Abiantuwung, Tambang. Hentikan kisahnya.- /-

(19a) Diceriterakan sekarang Kryan Ngurah Pandenan, putera Kyai Ngurah Agung Jelantik, beribu I Gusti Ayu Pamedilan, bersaudara lain ibu dengan I Gusti Gde Ngurah Jelantik. I Gusti Ngurah Pande Pandenan, disuruh oleh ayahnya berburu memikat burung, dalam hutan, maka curiga I Gusti Ayu Kaler, tiba-tiba sampai di sebelah utara gunung di desa Pamujungan, diberi tempat tinggal oleh Jro Gde Bandea Liran pada tahun saka bhuta gajah rasa bumi, atau 1685 (Candrasengkala: bhuta=5; gajah=8; rasa=6; bumi=1). Demikian selesai. -/-

(19b) Beda dengan kisah I Gusti Sidemen, begini awalnya. Adapun kisah Brahma Kula Putera, Batara Brahma berputera Empu Bajrasatwa, pengikut mazab Buda. Beliau berputera Empu Panuhun; Empu Panuhun berputera Empu Pradah. Adapun Empu Pradah, ketika berdiam di Lemah Tulis, berputera tiga orang, perempuan seorang bernama Ni Medawati, yang laki-laki bernama Empu Siwagandu, beristerikan anak Empu Witaraga, berputera lima orang, seorang laki-laki, perempuan empat orang. Yang laki-laki bernama Empu Witaraga, yang perempuan bernama Ni Ratna Sumeru, Ni Ratna Girinata, Ni Dewi Patni, -/-

(20a) Ni Dewi Sukerti. Empu Bahula anak Empu Pradah yang bungsu, berputera lima orang, yang laki-laki, Empu Wira Angsoka, Tantular nama lainnya. Yang perempuan: Dewi Dwaranika, Ni Dewi Adnyani, Ni Dewi Mretajiwa, Ni Dewi Mretanggali. Adapun Empu Angsokanata, berputra empat orang laki-laki, semua sempurna, mempunyai kekuatan batin yang tinggi, bernama Empu Panawasika, Empu Sidimantra, mempunyai ketinggian ilmu yang sama pada ketiga adiknya, Empu Smaranata, sampai yang keempat Empu Kapakisan, demikian keturunan Empu Pradah, dahulu kala, hentikan ceriteranya. Tak terhitung sedih Empu Sidimantra, mohon belas kasihan pada Hyang Naga Ba- -/-

(20b) sukih, tak terbilang hal itu Hyang Manik Angkeran, berkedudukan di Besakih. Diganti kisahnya, tersebutlah Ida Panataran, putera Tulusdewa, dua bersaudara, adiknya bernama Banyakwide, kembali lagi ke Daha (Jawa) Ida Panataran masih tetap di Bali, melanjutkan kegiatan kakeknya Ida Hyang Manik Angkeran, sangat gemar berjudi, berkelilng di pulau Bali, tidak menetap tinggal di suatu tempat. Pikirannya hanya satu yaitu berjudi. Suatu ketika ada sabungan ayam di Gelgel, yang diadakan oleh I Gusti Agung Bekung, di depan rumahnya, benar-benar amat ramai, banyak para penjudi, Ida Panataran juga hadir, pergi dari -/-

(21a) rumahnya di Besakih. Setibanya di dalam sabungan ayam, lalu ia masuk ke dalam arena, ketika itu telah ada tiga pasang ayam yang berlaga. Ada lagi yang menyusul, taruhannya cukupan. Ida Panataran bertaruhan kurang perhitungan, setiap tempat bertaruhan semua kalah, haripun menjelang petang, sabungan ayam itu dihentikan, suara kemong (bel penjurian di sabungan ayam, sejenis gong kecil), bersuara berturut-turut dipukul oleh petugasnya, para penjudi segera bubar. Ida Panataran menderita kekalahan, hatinya sangat lesu, ditambah lagi lapar dahaga, sebab tak sempat berbelanja, sebab uangnya telah habis kalah bertaruh, bila kembali pulang ke Besakih sangat jauh, juga gelap malam, -/-

(21b) maka pasrah lalu tidur disebuah tempat orang berjualan (penggak), tak ada orang memperhatikan, sebab di dalam keadaan gelap, sedangkan keadaan masih ramai, ada judian bernama contokan, kompiangan, pakusuan, maklesan, sampeyan, lintrikan, Ida Panataran tidurnya lelap, sebab sangat payah, serta tidak makan, sebab takdir Tuhan tak bisa dihindari, pada saat ia memperoleh kebahagiaan, pada ketika tengah malam, kebetulan I Gusti Agung Bekung gelisah di dalam kamar tidurnya, bangun keluar melihat di luar rumah ada cahaya terang, terasa hingga ke langit, tetapi orang-orang yang berjudi lintrik, keles, semua yang berjudi tak ada yang tahu, lalu ia (I Gusti Agung Bekung) memperhatikan di halaman rumah, cahaya itu semakin hebat, -/-

(22a) cahaya merambah. Maka tersendat pikiran I Gusti Agung, suatu tanda ada orang tidur di luar rumahnya demikian firasatnya, yang pantas dihandalkan. Iapun segera keluar ke depan rumah (bancingah), setibanya di bancingah, dilihat pada pondok di sebelah timur laut ada nyala bercahaya hebat, justru di tempat Ida Panataran tidur, iapun terkejut, sebab ia tahu, bahwa dia (Ida Panataran) keturunan Sang Hyang Manik Angkeran, langsung orang yang tidur itu dibangunkan. “Wahai sanghyang (panggilan kehormatan), mengapa Anda tidur di tempat-tempat begini, terlalu tidak sayang pada diri barang sedikit. Mana lebih baik melaksanakan darma untuk menuju kamoksan (pembebasan diri), melakukan kesucian, dibandingkan dengan kewibawaan di masarakat? Saya mohon mari ke rumah saya, anak saya anda mengambil -/-

(22b) Anda saya jadikan panutan (gusti). “Dengan demikian kata I Gusti Agung Bekung, termenung Ida Panataran, lama tak menjawab (berkata), masih menyadari diri melarat, bila berusaha mengejar kewibawaan, sedangkan masih senang terikat pada judian, suka berpoya-poya makan minum, bila mengejar kasunyatan (ilmu kesucian), jelas jarang dapat berjudi menyabung ayam, sebaiknya sekarang ikuti anjuran I Gusti Agung. I Gusti Agung berkata lagi: “Bagaimana pendapat anda? Kenapa lama tak menjawab, bagaimana? “ Lalu Ida Panataran menjawab, “Baiklah Gusti Agung, sangat baik hati Gusti Agung memperhatikan -/-

(23a) diri saya, saya sangat tak berguna. Baiklah karena ada niat I Gusti demikian, saya tidak berpanjang kata, saya mengikuti saja. Oleh karena demikian, diambillah tang Ida Panataran, “mari sanghyang ke rumah saya.“ Langsung bergandengan tangan berdua, setelah tiba di rumah I Gusti Agung, diserahkan puterinya yang bernama I Gusti Ayu Buringkit, dijadikan isteri oleh Ida Panataran. Kini masarakat mendua panggilan, sebab wangsa brahmana diangkat oleh para Arya (dalam arti ada memanggil Ida, ada yang memanggil Gusti). Tak terkatakan, telah lama di Gelgel, terasa agak sukar, maka ia Ida Panataran berdiam di Kacangdawa. Setelah lama berputera tiga orang, -/-

(23b) tertua I Gusti Panataran, lalu I Gusti Kacangdawa yang kedua, bungsu I Gusti Kaler. Lama-kelamaan berdiam di Kacangdawa, lalu diperintahkan oleh Ida Dalem, untuk menjadi penguasa di Sidemen, diberikan memerintah desa Tabola, Tangkup, Pahmeru, Manikasa, Bangbang-biawung, Muncan, Pejeng, Ahyangan, Susut, Balu, Pakel, Semseman, Sangkan Gunung. Dikisahkan lagi ketika Ida Panataran di Sidemen, lagi menikah dengan puteri I Gusti Agung Kaler Sanggingan, berputera I Gusti Yangtaluh, yang berputera I Gusti Gunung Agung. Tak terkatakan lama-kelamaan -/-

(24a) sama-sama banyak keurunannya. Adapun Ida Panataran, diperkenankan menjadi Pamangku di Besakih, mewilayahi Tegenan, di Batusesa, itu dijadikan wilayah di sebelah timur Sungai Telagawaja. Kemudian berputera dua orang, I Gusti Kabayan Lor, menjadi Pamangku di Panataran Agung, I Gusti Kabayan Kidul, menjadi Pamangku di Dalem Puri. I Gusti Kabayan Lor diam di desa Baledan, berputera enam orang, I Gusti Panataran, Gusti Selat, Gusti Singharsa, Gusti Manikan, Gusti Tabola, Gusti Teges. Demikian jumlah puteranya, sebab kurang berwibawa, maka banyak tersebar keluar desa, Gusti Selat pindah ke Badung, -/-

(24b) di tapeyan, langsung menetap di sana. Gusti Singharsa, pindah ke Jembrana, Gusti Manikan pindah ke Belahbatuh, banyak keturunannya. Gusti Tabola masih tetap di Tabola, Gusti Teges tinggal di Ulakan, Gusti Panataran pindah ke Sukawati. Kembali dikisahkan, dahulu ketika rusak Pura Padarman di Besakih, oleh si Mayadanawa, setelah lama kemudian, lai disucikan dengan upacara sajen (babanten), serta busana pura dan tabuh-tabuhan, Pamangkunya juga keturunan I Gusti Panataran, diperkenankan yang menjadi Pamangku di Dalem Puri, termasuk pada pura Dalem semua, itu tugas Kabayan Lor, Kabayan Kidul, sebabnya demikian, sebab sama-sama keturunan Manik Angkeran, brahmana dijadikan satriya di Beskih. Selesai. Diceriterakan lagi kembali yang dahulu, Empu Tantular berputera

(25b) Dhanghyang Panawasikan, Dhanghyang Sidimantra, Dhanghyang Smaranata, Dhanghyang Kapakisan. Dhanghyang Panawasikan berputera Dewi Sanghawati, menikah dengan Dhanhyang Nirartha, Empu Sidimantra, berputera Dhanghyang Manik Angkeran, Sira Wangbang berputera tiga orang, Ida Tohjiwa, beribu puteri Ki Dukuh Sakti, keturunan Sangkulputih, serta adik Ida Tohjiwa, bernama Ida Singharsa, Ida Sukaluwih. Dan puteranya yang sulung Ida Tulusdewa, beribu Cili Manik. Adapun Dhanghyang Smaranata, berputera Dhanghyang Angsoka, Dhanghyang Nirartha. Dan Dhanghyang Kapakisan, berputera Kresna Kapakisan. Hal itu jangan tidak diketahui. Demikian selesaikan. Tamat.

Sejarah Ratu Nusa, lontar milik I Ktut Rinda, Blahbatuh, Batalepang, Denpasar, 14 Nopember 1976. Disalin di Puri Anom Jambe Merik Pucangan. Yang menyalin, t.t.d. A. A. Ngurah Mangku.

Ini Bali Bondan (Babad Ratu Nusa), diketik ulang oleh Ida I Dewa Gde Catra, di Amlapura, selesai pada hari, tanggal 27 Juli 2007. Maafkan saya muda sangat kurang dalam bidang ilmu sastra.

Diterjemahkan oleh Ida I Dewa Gde Catra, ketika berada di Batubulan, Gang Pipit Permai, Gang IIIe, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, akibat meletusnya Gunung Agung. Selesai tanggal, 24 Januari 2018.

Balinese (original)

(lb) ONG Awighnamâstu. Pasangtabya ta nghulun ri Bhatâra Hyang mami, ikang kawula anuhun wara krĕttâ nugraha ri pâduka nira pukulun, larnakané tan kataman hila-hila ri sira Sang Hyang Hyanging karuhun, makadi ri sira sang huwus hamoring Hyang, dumadak ksama nghulun, sarwwa wrĕddhi, dirggha yusa katĕkéng santana pratisantana, namostu jagaddhita ri kéng jagat. Yan hana hanglimpading katha, wastu sâmpūrnna, mĕné ta hulun hamrĕkrĕtining katha karuhun, harĕp cumangkah hanambat katha karuhun, yayâ sambhawa dahat, déné -/- wĕnang mâtirwa- tirwa. Iki rungwakna ikang katha carita, ingūni duking "Boli bondan" duking

(2a) jagaté karâksasan, hanané sira Bhatâri Ummâ, tatkâlané sira tinédhah dé nira Sang Hyang Parama Guru, matangnya mangkana, saholihé Bhatârī Ummâ Déwi, magĕlĕng ring anakira Sang Hyang Kumara, sira andadi witting jaka, akabun-kabun, olih sira hanungsang roma. hanunggalang suku, tan sah humijil saké buh nikang santĕn, ya iku hinuyup olih anaké, sira Bhatâra Kumara, sama rasané lan susumng sang ibu. Mwah ibu- -/- nya tan kinrĕtan, Iwir Kala madrĕs huswaśanya, mamirah

(2b) netranya kalih, sâksana sira humijila syung salit, pinantigakĕn tang anakira, bĕntar ta śirahira Bhatâra Kumara, kabuñcang galih nira ring śiwadwara, yata hinĕlĕn hutĕknya déning ibunya. Wawu pwa sira akĕcap-kĕcap, wruh pwa sira Sang yang Paramaguru, kâlanya harūpa râksasi, kaya iku mimitanya tinuduh magĕnah ring mayapâda. Mangké sira Bhatârī Ummâ, mangarad ta sira Bhatârī Rohinī, hasawita syungnya, Iwir dūrgga bhucari, anangis maring dalan-dalan, tansah mrĕbĕs buh nyang santĕn nrepis ksiti, -/- ya ika doning mlĕtik gĕdhang-sabha. I wĕkasan ika

(3a) wĕnang maka sasanguning raré, apan gedhang-sabhane, wijil saking buh ning susu. Mwah sira duknya mangkana Bhatârī Rohinī, akahyangan sira ring pucukning Bukit Mundi, hangaji ta sira umah sama ring swargga, mwah sira hangaji, metu babhutan kabéh, ikâ padhâ ngĕmitin, ika dwaning tĕngĕt tan sapira, muwah ri kâlan Bhatârī tinédhah kamânusan. Ri wĕkasan ika hana ngaran ”Nusa” duking Bali Bondan. Mwah sira ta Bhatârī Rohinī, hangajñana sira putra, ONG AH I, AH A w Rohinī tu. Hana sira -/- Ratu Sawang ring pucuking Bukit Mundi, hantyanta

(3b) kabhinawa pwa sira, sabran rahina sira angolah-olah mânusa, mwah śakti sira tan papadha, mangké pwa sira Ratu Sawang, hangalap rabya pwa sira. Maputra pwa sira jalu-jalu rwa tunggal, apasajna Ratu Rĕnggan, Ratu Rĕnggin. Kahanggé kompyang olih sira Dukuh Jumpungan, matangnyan mangkana, wétning sira wittan wwang Indu, singgih ka-Brâhmanan, yata hingaranan sira Radén Jumpungan ring Indu. Sĕdĕk sira paprawonan anglinggihin tan késĕman, agawya lolwari ring Penidha, irika ta cinangcang, -/- wét ning pagĕh, hingaran Dukuh. Ikâ putuné Dyah

(4a) Rĕnggini, hinalap dé nira Ratu Sawang, mangké sira sang Ratu Sawang humadhĕg Dalĕm ring bhumi Nusa, abhiseka érl Dalĕm Sawang, apan sira mangwaśayang sang wwang bhumi Nusa, hĕnĕngakna katha Dalĕm. Gumantya ta Ratu Rĕngga Rĕnggin, yata hinguruk de kompyangé, huwus wruha ring ngandĕging wwé, wruh ring pañaranging wwé, wruh hamubur bhūtala atemahan sâgara, déning sahika, dadya ta winéh sira parahu, kinon ta sira hañalanang déning kompyangé. Mangké ta sira kalih hamandhéganin, mwah sira Ratu Rĕngga Rnggin pinaka hadĕg patih, tur hanghala-hala, hambĕkĕ Râwana tulya, sabran rahina matĕmah wré. Yadyapi sira sang Haji Sawang, malar pwa sira ring Bukit Mundi, abhairawa krama nira karâksasan, maksih sira hañeda rasa, hangolah janma. Yan pira lawasira kunang, amuktyâ naramangśa, nĕngakna. Mwah caritanen ta sira sang ratu kalih, sahitya sira paprawonan tar kewran tan kisésĕman, wét ning ta sira déning angkara kaya Râwana, wĕtu hyun nira wruh ring -/- kasiddhya nira Hyanging Gunung Ratu, hanglĕpasa ta sira wakutis, saha

(4b) wéci, gumariyung makebur ring gagana, mangkana dé nirâ mintonakĕn, matĕmahan kagyat watek dewatane ring gunung, hangadupung pating samburat, irika ta duka pwa sira Hyanging Gunung Ratu, hanghanani ta sira hudan apuy, ikâ nggĕsĕngit matĕmahan gĕsĕng bĕdudané andadi hawu, gĕsĕng katĕka tĕkĕng lĕbak galintung, hana gunung adumana tan papĕgatan, dwaning ika hingaranan Bukit Pawon, dwaning hingaranan Laga, duk gumine akumpul kadi danu, mwah genine lĕmĕntas, kaya guntur, hangĕsĕng sakawaran, -/- ikâ ngajarang Lĕmbah Apuy,

(5a) mangkana mimitanya kadi hajĕng. Ri wĕkasan yan apa kâla, malar durung sira masa kândapan, hana hyun nira wruha ring Hyanging Gunung Ratu, hagé ta sira hañujurang parahu, tan késĕman, irika ring Padhangbaé, hamasangana japa mantra, matĕmahan luduh ikang prathiwi atĕmah wwé, sâksana lindhu kang bhumi, kagyat watĕking Hyang Hyanging Gunung, samwa kapalajĕng mungsi ring Gunung Ratu, hanguningha tingkah ira parahuné haniñcap praya ka Gunung Ratu, déning sahika kamantyan duka nira Hyang, -/- apan ring Gunung Agung Déwaning Mahâ

(5b) Bali, yata tinapak kang parahuné déning panañjung, hakirig pwa ya, murub wwéning sagara mahocakan, juraganya padha paling mapusingan hangutah-utah, dadya ta kadumprat ikang gunung atĕmahan pĕgat karĕm kang parahu déning angin apusingan, parahuné matĕmahan karĕm dwaning hana gunung anak, mwah sadagingnya samwa, kumĕlĕm ring tĕngahing sagara, ikang juragan kabéh, haniba ring pasir, hanglalangi kadi pĕñu, kasampiring tĕpining Nusa, wonging Indu ika, humedek sira ring Dalĕm Sawang, hanguningha tingkahé suba-suba, -/- tumuli

(6a) bĕndu ta sira Dalĕm, hanon parahu nira rusak, dadya tan surud hyun nira, runtik, ri sira Hyanging Bali Tĕngah, didinĕ hana ngawighna, ring Jagat Bali, katĕka tĕkéng dlaha, dwaning kaśapa juragan ika kabéh, dumadak apanga dadi "Bala-samar" katĕkéng dlaha, babhuktyané basang-basanging wong, hangkĕn atahun, hana maka pañampurannya, dadya kinon ikang Samar padhâ mangun pakwan ri tĕpining pura, kakĕmit antuk Ki Bala Samar, kâla irika Śri Aji hangulurin kang angkaraning buddhi, tan surud pwa sirâ ngolah janma. Mangkana mirnitaning jagaté ring Nusa,-/-

(6b) dwaning tenget tan hana wani haclangapan, hĕnĕngakna ikang katha. Wus alawas-lawas, kala kang jagat katiñcaping sanghara, tabé ta nghulun tan kataman upadrawa, dadya ta manastapa pwa sira Bhatâra ring Gunung Ratu, tumona tingkahing Dalĕm ring Nusa, hamangan hanaramangśa, mwah wonging Nusa tan tuna hangĕmasi pati, hingolah waduké olihé I Bala-Samar, wus kalugra olih Dalĕm ring Nusa. Ika matĕmahan runtik hangĕn nira râja Bali, Bhatâra ring Gunung Ratu, raju pwa sira mangké yan hangĕtas pwa sira witing Dukut Pĕtak, hingaran Padhang -I- Kasna, tumuli hinastrén ta pwa ya, mangké dadya pwa sira

(7a) wwang apĕkik ring tata warnna nira, prawira pwa sira, akakasih sira Sang Aji Dukut, sira ta hingadu dé nira paduka Bhatâra, yata hamaténi sira Dalĕm Nusa, dosanya hamangan mânusa, pĕjah pwa sira olih kĕris Ratna-kañcana, hajajaton lungiding manuk dewata, iku hingastrenan déning japa mantra. Kunang salinané Sang Aji ring Nusa, kêla nira maolahan, mwah hana palungguha nira lungka-lungka manik, rikana Sang Aji Dalĕm Dukut alungguh, -/-

(7b) tanana dadalaning apĕrang. Muwah salĕbarira Sang Aji Nusa, humantuk ring taya, krodha ta ibu nira, Bhatârī Rohinī, yata kaborosang danuné, tumuli mahurusan ring samudra, dadya rantaban wong Nusa padhâ nambĕlin, norâna wĕnang, doning hana ngaran tĕgal Tamblir, mwah buh susu hasusupan ring witning gedhang sabha, mangkana pidârthanya, pĕjahnya tan pakaléwaran, padha mulih ring swargga, nĕngakna. Alawas-lawas pira kunang suwé nikang loka, caritanĕn pwa ri pangadĕga nira Bhatâra Krĕsna Baturĕnggong, akadhatwan ring Swéccha-linggarsa pur a, -/-

(8a) wyakti gĕmuh pwa nikang rât, maletik ikang sarwwa nadi, sasab marana padha wurung, pratandha mantri padha rahayu, nora hacĕngilan padha lâwan rowangnya, hingarĕmba déning Patih, mwang Sang Aryya samudaya, sama wit turunan Wilwatikta, mwah anak Kyayi Paminggir, wĕtuné saking Kyayi Manguri. Kyayi Paminggir mūlaning Bali rĕndah anak, hita luwih wangśa, sĕdhĕng hingarĕpakĕn olih Dalĕm, kang handiri ring Swéccha-linggarsa pura, ika hangidĕrin purining Dalĕm, mwah Kyayi Paminggir, kaprĕnah kompyang déning Ki Gusti -A Manguri.

(8b) Apaning Manguri maputra Kyayi Popongo. Rarkryan Popongo pwa sira maputra Kyayi Ngurah Alit Kawan, putĕrané Ki Gusti Paminggir pwa sira harinya strī harané Ni Gusti Ayu Kutri, kalap denya Kryan Mogol, dadi lalintah, dosané harabi lan panaké. Ni Gusti Ayu Kutri luwar sakĕng Gélgél, wétning kagila-gila tumoning llntah. Nĕngakna ika. Muwah 'hana carita mangké, tan hyun nira Dalĕm hanamtami kâpti, yaitu cangkrama ring Panataran Padhang, sarwwi ta sira aburu, mwang apikat -/-

(9a) kahiring olih praménaké, katĕkaning juru boros, makadi ta sira Dalĕm mapadati, pangorĕgé wĕtuning pangajaran, ikâ ta mangorĕgin, salampah lakuning Dalĕm, tan liyan I Pangajaran mangorĕgin, hantyanta padha samâpta. Mwah ri ulihé sri aji sakĕng Padhang, tinon nira wong sakĕng Nusa, sama ta padhâ sĕdĕg, padhâ ngĕmbĕng waspa, rawuh ring pamekel sakĕng Gulingan, padhâ sĕdĕg, haturnya pateh, nguningang tingkahing Dalĕm Nusa, marggane nora, mangrabinin arabi, "Wetning sakti Dalĕm, kawula tan purun. Hangling Dalĕm Bali, "Nah yaning saja kéto, -/- lawutang suba siga mulih." Ri

(9b) wĕkasing alawas, mulih ta sira Dalĕm. Tumuli ta sira hangangkatang Dulangmanghap, sĕpâ kwéhnya, sama prawira atindih Dalĕm. Ki Gusti Paminggi tuwanya hingadu, tur padha hajujukungan, humunggah ring Jumpahi, ringĕ Cĕdokandoga, muwah saprâptané rika, sama satūt hingiring hyun nira Dalĕm, ika dwaning sama girĕt, amarggi sarwwi asasurakan, mwang atutuñjĕlan, lan abĕdilan. Déning nora hana hanimpalin, ika donmg kari hangĕgĕr. Nĕngakna muwah. Caritanĕn pwa sira Śri Dalĕm Dukut, wiyakti sira atingkahing pañca-wisaya, -/- hañamara dwéśa tan pinahrĕtan, hangrabinin wwang arabi, agawé kéliking jagait

(10a) agawé haro-haraning jagat, mangkana juga péñcĕp irang Dalĕm. Wus mangkana tumuli kagyat pwa sira Dalĕm, ri ulahing wong Bali, atutuñjñlan, mrakosa ngusak-asik, nânghing tan hana sangketanya, dadya ta sĕndu ta sira Dalĕm, tandwa hingundang tang Bala-samar, dhatĕng ta Bala-samaré, sama hangawa pĕdhang apuy, saha sapada hamrang amatrĕm, hamét waduké rinumbah gilé, wong Baliné sami rasa tan pabhayu, nglĕmayang-nglĕmayung, tan pajajah prasama, agĕrah -/- hana

(10b) padhĕm kadinginan, hana manghĕtnghĕtan ring sukĕt, mwah sajawaning kapranan, prasama tulak ka Bali, malar binuru déning Bala-samar, hinurug déning pĕdhang apuy. Mwah saprâpténg Bali, matĕmahan pĕjah kabéh, tumus katĕka tĕkeég I Gusti Paminggir, sira hangĕmasin hantu. Tumutur Ki Gusti Kulon ring Dalĕm, nguninga sapratingkahing bala tĕlas padhĕm, dadya mangĕn-angĕn ta sira Dalĕm, lama tan hangucap, apan karĕngö sira Kyayi Paminggir sira sampun hangemasi. Ri wĕkasan mangling ta sira Dalĕm, yat kinon kyayi hangĕsĕnga, rowanganya kinon mananĕmang, réh sĕpâ kwéhing rowang, -/- dwaning kabugbug

(11a) hana sékĕt hana satus, tan tuna atunggalan bangbang kabugbug, kéwala Ki Ngurah Paminggir kopacâra tingkahing ksatryan. Ri wĕkas hana hyun nira Dalĕm, yan manginonakna mamanguna pura, didiné hana pingĕt, satingkahing habugbug ikang wangkéning prajurité sami, pagĕbugé ka Nusa, haranya Dalĕm Prqjurit, dharmrnaning warĕk apĕrang, wĕnang kasiwi ring saturunan Ngurah Paminéir, réh Kyayi Paminggir pejah duking hajurit. Sapejah Kyayl Paminggir, haninggalang -/-

(11b) bobotan, tĕhĕr anâma kadi sang bapa, mwah hana wĕtuné Ki Gusti Wayahan, bibinya pĕjah, kang raré ika handulu suku ri kang Indra bala, wayahnya rawuh lamun mahuripa, yanya muruga kunang, tan wangdya matĕmah wyadi, nĕngakna punang katha.- Ampura ta hulun didiné tan kĕna râja-pinulah. Caritanĕn ta Śrī Aji Gélgīl, kantun runtik sira, lan sira Aji Dukut, hangangkatang pwa sira mangké Ki Gusti Tĕnganan pwa sira hingadu, jirnna pwa sira hingadu déning Dalĕm, réhé sira wus wruh ring niti catūr wiwéka, satĕkaning samâya, hamargga pwa sira, saha Kris I Maléla Dawa, olihé anambut ring siyakaning wwé Undha, -/- hangréñcangin lan

(12a) kurangĕn, hajajukungan tur masang bidak, tan kocapan kagét dhatĕnging bhumi Nusa. Raju sira humĕdhĕk ring palunggwaning Dalĕm, "Singgih pasang tabé kang kawula, humĕdĕk ring pangkaja pukulun, manira wétning kahutus dé Śrī Aji Bali." Durung tutug haturé, mangling sira Dalĕm Nusa, "Udhūh kita Jlantik, kayika hingsun wruh ri sadhatenge kita, kahutus hamĕjahana i ri ngong, ngong lega aninggala bhumi lĕmah, apan ingsun sakaréng buddhi ngulurana kama dwéśa, apan I Ngurah sadhu polahé, ngong awéh, tan kadi Ngurah Paminggir -/- nguni, tĕkâ

(12b) mrakosa, nora hana karunanya, sahasa manuñjelin, yéka matemahan mati kabéh. Kita Jlantik, yan ingsun wus mantuka, ring cintya, hana ikang Bala-samar, mwah sawatĕking Nusa kabéh, samâ kâtur ring râja Bali, lamakané sira mawéh caru nangkĕn ngatahun.Yan nora mangkana kayika, iku jalaranya manĕmu grubug ikang jagat." Wus mangkana, raju hinamét ikanang pabrĕsihan, apĕningan pwa sira amralīna salwiring lĕtuh, mwah sahananing handratikrama, -I- padha tan hana ri

(13a) śarīran Dalĕm, wus mangkana, tĕhĕr ta sirâ bhojana, kéring déning sira Kryan Tĕnganan, saha bĕcik-bĕcik sad-rasa mwang drawlna. Wus ning padha hamukti, mangandika sira Dalĕm, "Kita Jlantik, balik yan ingsun mañĕrahang, lémpas ksatryané, yan ingsun amĕjahang masâ huripa ya, mĕné hunusĕ ikang kadga. Tumuli hingunus ikang duhung, apĕrang padha silih tan halang, pindha mangĕñjĕk krisé Kryan Jlantik, nora marasa, ling Dalĕm, "Udhūh, salénana, né bawu durung marasa. "Dadya méngĕt pwa sira, tumuli konus kadgané, olihé nambut ri ngūni. Pangandkan Dalĕm, " Ingsun -/- wus wruh ika si Maléla. "Dadya ta ya bahni

(13b) mijil ring rahasya buddhi, saha dūnâ ngrorobi, sâksana muksah sira tan palaywan, matĕmahan kaścaryya ta sira Ki Gusti. Mwah ta sira Dalĕm Dukut moksah ta sira mantuk ring tâya. Ki Gusti Jlantik lawan rowangnya iku, kasarĕngin ring i Bala-samar, Ki Gusti Tanwikan, muwah mara sira tĕkéng madhyaning sagara, tiba kang kadga I Maléla ring madhyaning sagara, matĕmahan halulunan ika iwaking sagara pati samburat, hawanan tumurun pwa sira ring Cĕdokan, ring pasowaning Jumpahi, hangaghra ngalor lakune. Mwah saprâpténg watangan, dadya -/- rĕngas turangga sang prabhu,

(14a) kâla nira apadhati, kudanya mamĕtak tar wĕnang tinambakan, pira wong katahé hangandĕg, malar kari ya hanumprak, matangnya mangkana, wiréh Kyayi Jlantik kasarĕngin antuk I Bala-samar, sama dané harūpa danuja, magagawan pedhang apuy. Hana anak I Gusti Jlantik, abibi sakĕng Pamĕdilan, ajiné tar mangrungu, dosané ngūni ring pamlandhangan, né mangkin ika manambakin, matĕmahan mandĕg i haśwa, raju tinalénan, ikang kuda raju katur ring Dalĕm, hĕnti sukanya Dalĕm ing Gélgél, marmmaning mangkana ri ngūni -/- kâlanyĕ

(14b) cangkrama ring Gowalawah, muwah ya ta rusaking padhati, ya ta pinipila olihing Pangajaran, wus mangkana, dadya matur Ki Gusti siréng Dalĕm, manguningang kadi pangandhikan Dalĕm ring Nusa, lamakané sira awéha tadhah caru, tadhahaning Bala-samar, angkĕn atahun, mangké kang nara ring Nusa, katĕkaning pumpunanya kabéh, sama katur ring Dalĕm, mwah yan sira Dalĕm anĕmpuhang pĕrang ngarĕpin śatru, dén tabuhana tĕngĕran, mangkana sahaturé Kryan Jlantik, matangnyan suka ta Dalĕm, yan pawéha ikang Nusa katur ring Dalĕm, dadya ta wĕwĕh sukrĕtaning jagat, sapangadĕgan -/- Śri Dalĕm

(15a) Baturénggong. Wus mangkana, mangké hana hyun Ida Dalĕm, mawéhâ nugraha, ri kang sunu kang mangayahang ring Dalĕm, "Udhūh kita Jlantik, kita mangdadi Ngurali Agung. Anakta sang mabibi sakéng Pamĕdilan, anambakin kuda tur mangandĕgang, nda ya mangkin manâma Ngurah Pandenan, kapatyanya ri wĕkas wĕnang mahupakâra ksatryan. Mangkana kita Pangajaran, satatâ mangorĕgin, sarusaking padhati, sungsungĕn maka pakéling, matangnya sasantananta anâma I Ngurah Gdé Pangorĕgan, kapatyané wĕnang mopakâra ksatryan. Mangkana juga kita Kyayi Gdé Paminggir, -/- dén padha holinga kadi hujaring kunâ-kunâ. Sira Ki Gusti gurah

(15b) Agung, katuran gĕnah ring Tojan, wiyadin Tojaha.- Nĕngakna katha.- Ri wĕkasan wus alawas, humadĕg sira Śrī Dalĕm Anom, kaliyuga tang bhumi. Angkara alobha-lobhan, corok-cinorok, tan kawaśa tinahanan, hangĕndaning prang ramé, ring Swéccha-liggarsa pura, wĕtu para twas ira Kryan Pandhé, dosané tan harĕp ring pangrarata, mârmmaning kabuntĕh olihing wonging Badung, prang hinapitan, ring kiduling kuta rinangsang, ring kulwan, sira Kryan Patih Kubontubuh, -/- bala nira hangambĕngi, sama hawirang ring Anglurah Kañca, né

(16a) sakéng Badung Kuta, ring lor Kryan Tabanan, Tĕgĕhkori, Burmgkit, Kabhakabha, sama ngawirangang, sira Kryan Kañca, sama hangambĕngi, apégok sira mangétan, akidik kang kari, wilangnya, sasaring satus. Ki Gusti Pandhé sapih prangé, manglawan Rakryan Panarungan, sira Kryan Pandhé, paratra tumūt katĕkaning santana, kéwalya anak mantunya kari, sok I Gusti Nginté tan katĕmpuh hari, apan sir a atunggu lor, mwah sira Kryan Kañcaakukuwwan ring wétan, saha bala hangĕgĕr, sarĕng lan I Ngurah Pamĕdilan, -/- Pangucapé, ”Yan tana bhrasta

(16b) sira Kryan Pandhé, nora sira hañilirin." Mwah prangé ramé, agunung kunapa, sakwéhing sawah hinusungan ring bugbugan, atunggalan bangbang. Mwah sapĕjahéng Pandhé, tistis asamun kang nâgara ring Gélgél, nĕngakna.- Ri wĕkasan ta huwus alawas, caritanĕn I Ngurah Kañca, lawan Ngurah Pamĕdilan, huwus paścating pahubhaya, olihé akakasihan, Iwir pahuntu lawan wĕsi pinijĕh, tuwi padhâ pĕsnya, ya ika donira si Kañca jĕnĕk sira agĕnah i ngkâna, hamanguna kakubon, sumanding lawan Ngurah Pamĕdilan. Sira Kañca, hangalap ta sira -/- kanya, luh kasih sakĕng sira Kryan Pamĕdilan, yéku ta winéha lawan

(17a) Ngrurah Kañca, huwus akrab-krab, ri wĕkasan asantana I Lurah Kañca, pung sanunggal, haran I Ngurah Wayahan Pakĕñca, prĕnahé sakĕng I Gusti Agung ring Kuta. Mwah sira ya mangké, Kryan Pakĕnca, ngalap rabi, anaké Kyayi Minggir, akakasih Ni Ayu Pĕrang, yatéku strī I Ngurah Pakĕnca, padha harus padha suka, hawananya, hana panamayanya Ki Gusti Paminggir, didiné I Ngurah Pakĕñca -/-

(17b) katĕka tĕkéng santana, apang akrama pura ring Dalĕm Prajurit, mangkana sangkétané ring I Ngurah Kañca. Ki Gusti Kañca, sahurnya tanapañjang, tĕlas hangadyani kadi pamiidiné Ki Gusti Paminggir, matangnyan mangkana, réhnya Kañca hañéwa lĕmah sakĕng Ki Gusti Paminggir, rawuh ring lĕmah Kutri. Déning sahika, mangké anaké sira Pakĕnca winarahan, tutur, kang pĕnĕd, lamakané, tanalémpas, kadi warah râma tuwané, “Kita Ngurah Pakĕñca, réhning bapa tĕlasning sasat, dénta kéngĕtakna katĕkéng bésuk, haja lupa, kadi warahing bapa, haja wihang akrama pura, hañiwi Dalĕm -/- Prajurit, Dalĕming watek apĕrang, makadi

(18a) ring Basakih, wĕnang hasthiti bhakti, lingganing Pura Dharmma ring wétaning lurung harupit, ring pūrwwaning krĕtĕg agung. Iki pakéling Bhatâra kang wawu rawuh, maka lamané, 1350, jantos 1380; Dalĕm ring Samprangan. Sapamadeg Dalĕm Kĕtut Ngulĕsir, ñĕnĕng ring Gélgél, suwénya sakéng tahun 1380 jantos 1590; Sapamadĕg Dalĕm Baturénggong, sakéng tahun 1591 jantos 1é19; Sapamadĕg Dalĕm Bĕkung, 1550 jantos 1580. -/- Sapamadĕgan Dalĕm Anom, sakĕng tahun

(18b) 1580 jantos 1665. Sapamadegan Dalĕm Dimadhé, 1665 jantos 1685. Ring Guliyang, tan warnnanĕn.- Tĕlas.- Ngawit sakéng Aryya Bĕlog maputra Gusti Kabhakabha, Ki Gusti Buringkit Ki Gusti Kabhakabha, nunas putrotpadana ring Dalĕm Sĕganing, anak I Gusti Tĕgĕs biyang papadhan. Malih saking panawing, putra pakaryya, jalu-jalu, 5 diri, anâma I Gusti Kladiyan, Padhang Bulya, I Gusti Bakung, Abyantuwung, Tambang. Nĕngakna kang katha. -/ Tucapa mangké Kryan Ngurah Pandénan, anak Kyayi Ngurah Agung Jlantik,

(19a) mahibu I Gusti Ayu Pamĕdilan, asânak lén ibu ring I Gusti Gdé Ngurah Jlantik. I Gusti Ngurah Padhé Pandénan, sinuru dé sang yayah maburu mapikat, ring alas, sangśaya sira I Gusti Ayu Kalér, kañcit dhatĕng ring Lér Gunung déśa Pamujungan, kasayut dé Jro Gdé Bandhéśa Liran duk Iśaka bhuta gajah rasa bhumi. 1685. Samâpta. -/- Liyan pangadĕgan I Gusti Sidĕmĕn, méngkéné pūrwwanya, kunang pwa

(19b) tatwa Brahmâ-kula Putĕra, Bhatâra Brahmâputĕra sira Mpu Bajrasatwa, Jina mūrtti pwa sira, maputĕra sira Mpu Panuhun. Mpu Panuhun maputera Mpu Pradah. Kunang Mpu Pradah, duk hana ring Lĕmahtulis, aputĕra pwa sira tigang wiji, stri sawiji anama Ni Médhawatī, kang laki anâma Mpu Śiwagandhu, harabi lawan anak ira Mpu Witaraga, masuta limang siki, laki 1; strī 4 wiji. Kang laki apanelah Mpu Witaraga, kang strī Ni Ratna Suméru, Ni Ratna Girinâtha, Ni Déwi Patni, -/- Ni Déwi Sukerti. Mpu Bahula anak Mpu Pradah pinih alit, maputra 5 wiji,

(20a) kang laki, Mpu Wira Angśoka, Tantular nâmanya wanéh, kang strī Dewī Dwaranika, Ni Déwi Ajñanī, Ni Déwi Mrĕtajīwa, Ni Déwi Mrĕtanggali. Kunang Mpu Angśokanâtha, atmaja laki-laki 4 diri, padha paripūrnna, Iwih kasiddhyan ajñana nira, anâma Mpu Panawaśikan, Mpu Siddhimantra, amuhuna kasiddhyan sama sama lawan hari nira katiga, Mpu Smaranâtha, kapat katĕkaning Mpu Kapakisan, mangkana turunan Mpu Pradah ing kunâ, hĕnĕngakna ikang katha.-Tan kĕtung salarasira Mpu Siddhimantra, muhun kasihira Hyang Nâga Ba-/--śukih, tan kétung

(20b) ika Hyang Manik Angkĕran, agriya ring Basakih. Gĕntyaning carita, tucapa Ida Panataran, wetu sakéng Tulusdéwa, asânak karwa, hariné anâma Ida Bañakwidé, humantuk ring Jawi Dveha, Ida Panataran kantun ring Bali, ngambil pamarggan kakyangé Ida Hyang Manik Angkĕran, babotoh tan pira, ngulĕsir ring jagat Bali, sing jalan-jalan magĕnah, asiki kayuné abobotohan juga. Mwah kâlaning wéntĕn tatajén ring Gélgél, I Gusti Agung Bĕkung ngawéntĕnang tatajén, ring bañcingah dané, wiyakti ramé pisan, kang babotohan, Ida Panataran talĕr ngalunganin, sah saking -/- griya Basakih, sarawuhé ring tatajén, tumuli ida

(21a) ngatĕngahang, patarungé sarnpun wĕntĕn tigang sĕhĕt, wéntĕn malih ayam durus, pĕtoh ipun dados. Ida Panataran pabwaté ñuluk mukpuk, bilang kabwatin kawon, kagétan jagaté wĕngi, mararyyan tatajéné, kĕtoké sampun tinarik antuk jurun ipun, maluwaran kang babotoh. Ida Panataran tulus ida kawon, pakayun idané lĕsu, turing lapâ wlvekang, nora matatukwan, déning gĕlaré sampun tĕlas kawon, yaning mantuk ka Basakih, kaliwat sawat, pĕtĕngé limbak, ma- -/- wanan

(21b) ngalalu dipĕnggaké ida mĕrĕm, tan hana ngarunguwang, wiyakti ring wĕnginé pisan, raméné tan kodag, wéntĕn contokan, kompyangan, pakusuwan, mang kĕlĕsan, sampéyan, lingtrikan, Ida Panataran bĕ pisan sirĕpé, lĕsuné kalintang, tur twara mangajĕngang, sawiréh pangĕndaning Widhiné nora wĕnang lémpasang, ring pajantosan ida mangguh kasobhagyan, kâlaning tĕngah wĕngi, katujunĕn I Gusti Agung Bĕkung huyang ring pakolĕman, matangi tur ñingak galang ngĕndi di jaba, rasa ngantĕg ka langite, nânghing anaké malintrik, makĕlĕs, sané maplaliyan makĕjang twara nawang, raris dané jumĕlĕ natar, hĕndihé sayan kabhinawa, -/-

(22a) murub makalangan. Dadi kanggĕk kayuné Ki Gusti Agung Bĕkung, kapinĕh ring pakayunan, ciri wéntĕn anak mĕrĕn dijaba kabawos ring pakantĕnan, twah sĕdhĕng hadĕgang. Mañca agung gĕlis dané mĕdal ka bañcingah, sarawuhé ring bañcingah, kacingak ring pĕnggaké kaja kangin ngĕndih murub, ring gĕnah Ida Panatarané mĕrĕm, tumuli kagyat dané, déning dané huning, wantah ida turun saking Sanghyang Manik Angkĕran, tumuli katanginin ida sang amrĕm. "Singgih sanghyang, sapunapi dados sanghyang ring dalan-dalan mrĕ, bas twara ñayangang raga hangan akidik. Ñcén hadénan, ñujur kasunya ring kamoksan, kasunyatan, tanding ring kabhinawan? Nunas mantuka jumah manira, pyanak manirané nambil -/- sanghyang hanggon manira gusti." Déning sahika hatur I Gusti Agung Bĕkung,

(22b) nanar Ida Panataran, suwé nora wĕdal wacana, kari minĕh ring raga lacur, dados kayun ida ngalih kawibhawan, hantukané sĕnĕng mamotoh, ngulurin salwiring pangan kinum, yan kasunyatané lakar alih, kapah matatajén, mĕlah jani hiring kadi haturé I Gusti Agung. Malih I Gusti Agung ngawawanin hatur, "Sapunapi mangkin pakayun Ida? Dadi suwé tan pasawur ring manira, kénkén?" Anuli matur Ida Panataran, "Singgih I Gusti Agung, kalintang kadharmman I Gustine swéccha -/-

(23a) tĕken manira, manira liwat nirguna. Inggih wenten pakayun I Gusti sapunika, manira tan pañjang, ñadya ngiring pisan. "Déning sahika, raris kahambil tangané Ida Panataran, "Nunas sanghyang mantuk kumah tityang." Raris madandan tangan sarĕng kalih, sarawuhé ring purin dane I Gusti Agung raris katurang okané, sané mapĕséngan I Gusti Ayu Bĕringkit, maka rabin Ida Panataran. Né mangkin wadwané dadi ngaro bhâsa, wiréh sang brâhmana kaduduk olih wésya. Tan hucapan, lawas sampun ring Gélgél, kalintang kosĕkan, dwaning ida mapuri ring Kacamgdawa. Kasuwén maputĕra tatiga -/- I Gusti Panataran pinih duwur, I Gusti Kacangdawa

(23b) pamadhĕ, I Gusti Kalér pamuruju. Tan hinucap lawas apuri ring Kacangdawa, raris kapandikayang ring Ida Dalĕm, amacĕkin ring Sidĕmĕn, tur kahicchén nitah gumi ring Tabola, Tangkup, Pahmĕtu, Manikasa, Bangbangbyawung, Muñcan, Péjéng, Ahyangan, Susut, Balu, Pakél, Sĕmsĕman, Sangkan Gunung. Malih hucapĕn pamadĕgan I Gusti Panataran ring Sidĕmĕn, malih ngalap rabi, putĕran 1 Gusti Agung Kalér Sanggingan, maputĕra I Gusti Yangtaluh, maputera I Gusti Gunung Agung. Tan hucapĕn sampun lawas -/- padha rendah santana, kocapan I Gusti

(24a) Panataran, kalugra mangkunin ring Basakih, ngamĕl Tĕgĕnan ring Watusésa, ika karéñcang sawétaning Talagawaja, kasuwén dané maputĕra kakalih, I Gusti Kabayan Lor, mangku manggĕh ring Nataran Agung, I Gusti Kabayan Kidul, ngamangkunin ring Dalĕm Puri. I Gusti Kabayan Lor malinggih ring Balĕdan, masantana nĕm diri, I Gusti Panataran, Gusti Sĕlat, Gusti Singharsa, Gusti Manikan, Gusti Tabola, Gusti Tĕgĕs. Mangkana kwéhing putĕranya, réhing tuna kawibhawan, mawanan sumusup ring dūra déśa, Gusti Sĕlat sah ka Badung -/- ring

(24b) Tapéyan, raju jumĕnĕk irika. Gusti Singharsa sah ka Jambrana, Gusti Manikan sah ka Blahbatuh, rĕndah santana. Gusti Tabola, kari ring Tabola, Gusti Tĕgĕs ñĕnĕng ring Ulakan, Gusti Panataran sah ka Sukawati. Mwah walinin kang carita, ring kuna duk rusak pura Dharmmane ring Basakih, olih I Mayadanawa, wus alawas, malih pinahayu déning sarwwa babantĕn, mwah abah-abah kalih tatabuhan, pamangkuné talĕr katurunan I Gusti Panataran, kalugraha sané ngamangkunin ring Dalĕm Puri, maka miwah ring palinggih Dalĕm sami, punika pamOngan Kabayan Lor, Kabayan Kidul, krananya mangkana, rĕh wite saking Manik Angkĕran, brâhmana satriya ring Basakih. - Tĕlas. -/- Mwah warnnanĕn walikang carita ring kuna, Mpu Tantular maputĕra

(25b) Dhanghyang Panawaśikan, Dhanghyang Siddhimantra, Dhanghyang Smaranâtha, Dhanghyang Kapakisan. Sira Dhanghyang Panawaśikan, maputra Déwī Sanghawatī, matĕmu tangan ring Dhanghyang Nirârtha. Mpu Siddhimantra, maputĕra Dhanghyang Manik Angkĕran, sira Wângbâng maputĕra tiga, Ida Tohjiwa, maibu putĕran I Dukuh Śakti, turunan sakéng Sangkulputih; mwah harin Ida Tohjiwa, aparab Ida Singharsa, Ida Sukaluwih. Mwah putĕrané pinih duhur, Ida Tulusdéwa, maibu Cili Manik. Mwah Dhanghyang Smaranâtha, maputera Dhanghyang Angśoka, Dhanghyang Nirârtha. Sira Dhanghyang Kapakisan, maputĕra Krĕsna Kapakisan. Ika haja tan wruha, lah pomâkna. Tĕlas.Sĕjarah Ratu Nusa, lontar I Ketut Rinda, Belahbatuh, Batalepang. Denpasar, 14 Nopember 1976. Disalin ring Puri Anom Jambé Mĕrik Pucangan Sané mĕñalin, T.T.D., A.A. NGURAH MANGKU.

ITI BALI BONDAN (BABAD RATU NUSA); kawalinin ngĕtik olih Ida I Déwa Gdé Catra, ring Amlapura, puput kâla dina, tanggal 27 Juli 2007. Ksamâkna ngwang mūdhâlpha śâstra.

Source

  • Anonymous – Bali Bondan, Belahbatu / Babad Ratu Nusa, Gianyar; original lontar text owned by I Ketut Rinda, Belahbatu, Gianyar; transcribed by A.A. Ngurah Mangku (T.T.D.) in Puri Anom Jambé Merik Pucangan; copied on computer by Ida I Dewa Gde Catra, Amlapura, Karangasem, 25 July 2007; 12pp.; translated into Indonesian by Ida I Dewa Gde Catra (personal communication by his daughter I Dewa Ayu Puspita Padmi, April 2018)

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24