Bake, a sea monster from Suana (Weda Kusuma, 2002)

I Nyoman Weda Kusuma, in: 'Mitos Bake di Desa Suana, Nusa Penida', 2002, p.303-304, given the English title of 'Bake, the mythological monster at Suana', describes the mythological creature 'Bake' succinctly as an enormous being with black hair and terrifying face. According to the inhabitants of Suana, the monster lives in the sea east of their village and it is always on the lookout for victims around their village. He has a foul breath smelling of fish, which the inhabitants of the village are able to smell from a long distance.

wedakusuma-coverIn much more detail, the ceremonies are described following the arrival of the Bake season: the village head of Suana organises a village meeting (paruman) in order to perform a ngalabuh bhoga cecemony (pakelam, tawur) in the sea. The people performing this ritual organise it at the road junction of the village of Suana on the beach by building a platform. The 'tawur' ceremony is held at full moon (Purnama Kapat, ca. October). Various offerings are brought to the sea during this ceremony, such as water buffaloes, goats, geese, ducks, chickens, and other ritual offerings. The priest performing the ritual is brought in from the village of Kamasan or Cucukan in Klungkung, mainland Bali.

After the 'tawur' ceremony is over, every day the people take turns in offering 'banten labaan' to the platform, in order to beseech Bake to receive their offerings. Usually, after this ceremony rain falls down in the village of Suana, which the inhabitants perceive as a sign that Bake has received their offerings.

Then, the inhabitans of Suana start to plant rice (palawija) and the harvest from the sea is plentiful to satisfy the needs of the villagers. The villagers continue to supply ritual offerings until the palawija is ready to be harvested around Sasih Kepitu or Sasih Kewulu (ca. January or February).

At full moon (purnama Kepitu or Kewulu) they once more bring similar offerings to this platform. The offerings (pangelem) during this ceremony are to celebrate their palawija harvest such as corn, yams and various kinds of beans, which are then brought to the sea in a jukung (a small proa) made from keloping (dry stems of the coconut inflorescence).

During Purnama Kepitu or Kewulu the inhabitants of Suana attatch Sanggah Cucuk at the entrance gate of their family homes with various offerings for the ceremony. The following day, the Suana people celebrate Nyepi (berata penyepian) for half a day - as is the custom in mainland Bali -, until about noon.

Three days before the second Tawur ceremony (Tawur Sasih Kapat and Sasih Kepitu or Kewulu) is performed, the inhabitants of Suana do voluntary social work and clean up their village, the beach, the streets and smaller alleyways. The people from outside the village return to Suana to help perform these rituals. One day before these ceremonies, Mendak Tirtha is performed at the temples in Suana, at Pura Kahyangan Tiga (Pura Dalem, Pura Puseh and Pura Desa), and Pura Segara. Holy water (Tirtha) is sprinkled in each household, in the streets and agricultural land of the inhabitants so as not to attract Bake's attention.

The traditional 'Tawur' ceremony (ngelabuh bhoga) is considered an offering to Bake and continues until this day. Moreover, it is growing in importance as nowadays the livelihood of the village of Suana depends almost entirely on seaweed.

Below follws the original Indonesian text of this story. A full English translation is forthcoming.

Mitos 'Bake' di Desa Suana, Nusa Penida

Pendahuluan

(p.302) Cerita mitos dapat ditemukan hampir di setiap daerah di Tanah Air. Mitos merupakan salah satu jenis sastra lisan yang diungkapkan dengan bahasa daerah, hingga kini masih hidup di sebagian besar suku bangsa di Indonesia. Dalam kehidupan kita sastra lisan (mitos) mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat pendukungnya. Tidak jarang mitos di berbagai daerah atau suku bangsa tertentu di Indonesia digunakan sebagai sarana untuk melaksanakan upacara keagamaan. Kenyataan itu menunjukkan betapa pentingnya arti dan fungsi mitos bagi kehidupan masyarakatnya.

Mitos sebagai warisan budaya bangsa mengandung nilai-nilai luhur di antaranya ajaran moral dan etika, bahkan ada yang dijadikan pedoman masyarakat untuk melestarikan lingkungan hidupnya.

Dengan pentingnya fungsi dan arti mitos itu dalam kehidupan masyarakatnya, usaha melestarikannya sebagai kebudayaan bangsa perlu dilaksanakan secara terus menerus. Apabila kekayaan/keragaman sastra lisan itu dibiarkan dan tidak diadakan penelitian, niscaya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya akan punah pula. Oleh karena itu pada masa sekarang dan yang akan datang, isi yang terkandung dalam sastra lisan itu perlu digali agar bermanfaat bagi pembangunan bangsa. Sastra lisan itu dapat dikaji dari segi bentuk dan isinya untuk memperkaya khazanah kebudayaan bangsa Indonesia. Penelitian sastra lisan itu memiliki beberapa keuntungan yaitu selain dapat memperlihatkan keanekaragaman kekayaan budaya bangsa, dapat juga menimbulkan saling memahami antarsuku bangsa di Indonesia melalui nilai-nilai yang terpantul dari karya lisan itu sendiri. Finegan (1978:7) mengatakan bahwa untuk dapat menghargai sepenuhnya sastra lisan (mitos), tidak cukup hanya dipahami melalui interprestasi kata-katanya saja, namun konteks social tempat cerita itu perlu mendapat perhatian yang mendalam. Untuk itulah dalam (p.303) makalah ini berusaha disajikan pemahaman terhadap mitos Bake bagi masyarakat desa Suana di Nusa Penida Kabupaten Klungkung Bali.

Mitos Bake

Bake adalah makhluk besar berbulu hitam dengan muka yang menyeramkan, yang diyakini oleh masyarakat desa Suana bertempat tinggal di laut sebelah timur desa tersebut. Tanda-tanda yang menjadi ciri khas kedatangan makhluk Bake mencari mangsa di desa Suana adalah berhembusnya bau busuk, anyir (andih) yang dicium oleh penduduk di sana yang berasal dari arah lautan.

Pada saat itulah pemuka desa segera mengadakan pertemuan (paruman) untuk melaksanakan upacara ngalabuh bhoga (pakelam, tawur) ke tengah laut. Pelaksanaan upacara tawur itu dilakukan di perempatan desa Suana di tepai laut dengan membuat panggung tempat upacara. Upacara tawur itu diadakan pada hari Purnama Kapat (sekitar bulan Oktober). Sarana upacara tawur yang akan ditenggelamkan ke laut adalah kerbau, kambing, angsa, itik, ayam telor, dan sarana upacara lainnya. Pendeta yang muput upacara tawur didatangkan dari desa Kamasan atau desa Cucukan di daerah Klungkung.

Setelah pelaksanaan upacara tawur itu, setiap hari masyarakat di sana secara bergilran menghaturkan banten labaan pada panggung itu, memohon agar Bake menerima persembahan mereka. Biasanya setelah upacara tawur itu turunlah hujan di daerah desa Suana yang diyakini oleh masyarakatnya sebagai tanda bahwa persembahan mereka diterima oleh Bake.

Mulailah masyarakat desa Suana bercocok tanam (palawija) dan hasil laut pun berlimpah ruah untuk memenuhi kebutuhan penduduk di sana. Banten labaan tersebut terus dihaturkan masyarakat sampai tanaman palawija mereka berhasil dipanen sekitar Sasih Kepitu atau Sasih Kewulu (sekitar bulan Januari atau Februari).

Pada hari purnama Kepitu atau Kewulu itu masyarakat desa Suana lagi melaksanakan upacara serupa di panggung tersebut. Sarana upacara tawur (pangelem) pada saat upacara itu adalah hasil palawija mereka, seperti jagung, ketela dan kacang-kacangan yang dihanyutkan ke laut dengan jukung (sejenis perahu kecil) yang terbuat dari keloping (pelepeh bunga kelapa yang sudah kering). Pada upacara hari Purnama Kepitu atau Kewulu itu penduduk desa Suana membuat/memasang Sanggah Cucuk di pintu masuk pekarangan rumahnya lengkap dengan sarana upacaranya. Keesokan harinya masyarakat desa Suana melaksanakan Nyepi (berata penyepian) seperti umumnya di Bali selama setengah hari, kira-kira sampai pukul 12.00 siang.

Tiga hari sebelum pelaksanaan kedua upacara tawur tersebut (Tawur Sasih Kapat dan Sasih Kepitu atau Kewulu), penduduk desa Suana melaksanakan kerja bakti (gotong royong) untuk membersihkan lingkungan desanya, baik di pesisir pantai, di jalan-jalan maupun di gang-gang. Penduduk Desa Suana yang (p.304) berdomisili di luar daerah akan pulang ke desa untuk bersama-sama menghadiri upacara itu. Sehari sebelum upacara-upacara itu dilaksanakan, diadakan upacara Mendak Tirtha ke Pura-Pura yang ada di desa Suana seperti Pura Kahyangan Tiga (Pura Dalem, Pura Puseh dan Pura Desa), dan Pura Segara. Tirtha itulah yang diperciki di pekarangan rumah, di jalan-jalan maupun tegalan (ladang) penduduk agar terhindar dari perhatian makhluk Bake tersebut.

Tradisi Upacara Tawur (ngelabuh bhoga) yang diyakini sebagai persembahan kepada Bake sampai sekarang terus dilaksanakan, bahkan ditingkatkan sebab pada masa sekarang mata pencaharian penduduk di desa Suana bertumpu pada pengembangan rumput laut.

Nilai-nilai dan fungsi mitos Bake

Untuk memahami nilai-nilai yang terkandung dalam mitos Bake itu, perlu dilakukan pendekatan secara ilmiah. Dalam makalah ini digunakan pendekatan sosiologi (sosiologi sastra) untuk mengungkap aspek-aspek nilai budaya dan fungsi mitos Bake bagi masyarakat desa Suana Nusa Penida. Pendekatan sosiologi itu menitikberatkan pada pembicaraan hubungan antara karya sastra masyarakat. Pendekatan tersebut berpandangan bahwa analisis sastra yang hanya melihat strukturnya, akan melepaskan karya sastra itu dari konteks sebenarnya dan fungsi sosialnya. Laurenson dan Swingewood (1971:91) mengatakan bahwa munculnya karya sastra mempunyai hubungan dengan faktor luar seperti kemasyarakatan dan budaya. Pada dasarnya ada tiga jenis masalah yang menyangkut sosiologi sastra, yakni (1) sosiologi pengarang, (2) sosiologi karya sastra, dan (3) pengaruh sastra terhadap masyarakat. Cara pemahaman dengan pendekatan sosiologi sastra dapat ditempuh dengan dua cara yakni (1) mulai dari karya sastra lalu menghubungkannya dengan masyarakat dan budaya, dan (2) mulai dari lingkungan (konteks) masyarakat lalu menghubungkan faktor-faktor luar itu dengan yang terdapat dalam karya sastra. Kedua cara ini dapat dilaksanakan secara bolak-balik. Namun, penerapannya dalam makalah ini lebih cendrung digunakan cara pertama. Pokok permasalahan yang dikaji dalam mitos Bake ini adalah fungsinya terhadap masyarakat dan pandangan masyarakat desa Suana mengenai pelestraian hidup di laut.

Berdasarkan uraian mitos Bake di atas dapat dikemukakan bahwa nilai-nilai yang tercermin di dalamnya berfungsi sebagai pelestarian kehidupan di laut, seperti (1) nilai bhakti yang diwujudkan dalam pelaksanaan upacara tawur, (2) nilai kebersamaan diwujudkan dalam aktivitas gotong-royong, baik dalam melaksanakan kebersihan lingkungan maupun dalam pelaksanaan upacara tawur, dan (3) nilai pelestarian terhadap kehidupan laut. Nilai-nilai yang (p.305) terungkap dalam mitologi Bake di desa Suana Nusa Penida dapat dilihat keterkaitannya dengan pembinaan dan pelestarian kelautan untuk pendidikan anak, pemuda, dan masyarakat. Pemahaman terhadap nilai-nilai itu dapat dijelaskan seperti di bawah ini.

Nilai bakti dalam Mitos Bake

Dengan terungkapnya pelaksanaan upacara tawur (ngelabuh bhoga) yang dipersembahkan kepada Bake oleh masyarakat desa Suana menunjukkan bahwa masyarakat desa itu berkeyakinan atas dasar kepercayaan Hindu. Konsep upacara dalam ajaran Agama Hindu dikatakan ada 5 macam atau lazim disebut Panca Yadnya yaitu:

1) Dewa yadnya adalah kurban suci dengan tulus ikhlas ke hadapan Ida Sanghyang Widhi/Tuhan Yang Mahaesa dengan jalan memuja, bersujud serta mengikuti segala ajaran-ajaran sucinya; 2) Pitra yadnya adalah kurban suci dengan tulus ikhlas kepada leluhur dengan memujakan keselamatannya di akhirat serta memelihara keturunan dan menuruti segala tuntunannya; 3) Rsi yadnya adalah kurban suci dengan tulus akhlas untuk kesejahteraan para Rsi (pendeta) serta mengamalkan segala ajarannya; 4) Manusia yadnya adalah kurban suci dengan tulus ikhlas untuk keselamatan keturunan serta kesejahteraan manusia lain dengan berdana punia serta usaha kesejahteraan lainnya; dan 5) Bhuta yadnya adalah kurban suci dengan tulus ikhlas kepada sekalian makhluk bawahan yang kelihatan maupun tidak kelihatan serta untuk memelihara kesejahteraan alam semesta (Upadesa, 1981:52-53).

Dalam mitos Bake ini upacara yang dilakukan oleh masyarakat Suana adalah upacara Bhuta Yadnya sebagai wujud bhakti yang dilakukan dengan jalan mempersembahkan kurban terhadap makhluk yang tidak kelihatan serta kekuatan alam semesta. Demikian pula sehari sebelum acara itu masyarakat desa Suana melaksanakan nunas tirtha di Pura Kahyangan yang disungsung oleh masyarakat desa itu. Dengan demikian persembahan upacara tawur itu merupakan alat penolong untuk memudahkan manusia menghubungkan dirinya dengan yang dipersembahkan upacara. Demikian pula tirtha (air suci) yang dipercikkan pada pekarangan rumah, jalan-jalan dan tegalan (ladang) merupakan suatu sarana untuk penyucian daerah tersebut. Sedangkan perlengkapan upacara lainnya seperti Canang Sari dan berbagai jenis sesajian sebagai rasa ucapan terima kasih tulus kepada yang dipersembahkan upacara tersebut.

Nilai kebersamaan dan Mitos Bake

(p.306) Dalam kehidupan masyarakat desa, aktivitas untuk mengerjakan sesuatu secara bersama-sama sampai sekarang masih kita jumpai. Aktivitas seperti itu disebut gotong-royong yakni pengerahan tenaga tanpa bayaran untuk sesuatu yang bermanfaat secara umum atau berguna bagi masyarakat. Sistem ini telah dikenal dari zaman kerajaan-kerajaan dahulu sampai zaman pembangunan sekarang ini. Nilai kebersamaan (gotong rotong) itu merupakan latar belakang dari segala aktivitas tolong menolong antara warga sedesa, yang mencerminkan hubungan manusia dengan sesamanya. Dalam sistem nilai budaya orang Indonesia (Koentjaraningrat, 1984:62) disebutkan bahwa nilai kebersamaan (gotong-royong) mengandung 4 konsep:

1) manusia itu tidak hidup sendiri di dunia ini, ia dikelilingi oleh komunitasnya, masyarakatnya dan alam sekitarnya; 2) segala aspek kehidupan manusia pada hakikatnya tergantung kepada sesamanya; 3) manusia harus selalu berusaha sedapat mungkin memelihara hubungan baik dengan sesamanya; dan 4) manusia sedapat mungkin bersifat conform dalam komunitasnya terdorong oleh jiwa yang sama tinggi dan sama rendah.

Konsep pertama dan kedua mengungkap sifat ketergantungan manusia dengan manusia lainnya (kepada sesamanya), memberi kepada kita suatu rasa keamanan nurani yang amat dalam dan mantap. Konsep ketiga merupakan nilai budaya yang telah mendominasi kehidupan manusia. Nilai itu merupakan latar belakang dari sopan santun sesama manusia, seperti memberikan oleh-oleh kepada tetangga apabila kita baru pulang dari suatu perjalanan jauh. Kenyataan itulah terungkap dalam mitos Bake, yakni tradisi gotong royong tersebut yang dilaksanakan oleh masyarakat desa Suana tiga hari sebelum dilaksanakan upacara tawur itu. Demikian pula penduduk desa Suana yang berdomisili (bekerja) di luar (kebanyakan di pulau Bali) akan pulang sebelumnya untuk dapat ikut serta melaksanakan gotong royong membersihkan lingkungannya dan untuk ikut menghadiri upacara tawur itu bersama-sama dengan anggota masyarakat yang lain. Jelas dalam kepulangannya (mudik, kembali ke desa) penduduk desa Suana yang merantau tidak mungkin tidak membawa oleh-oleh buat tetangganya, sebagai perekat kekerabatan antaramereka.

Nilai pelestarian kehidupan laut dalam Mitos Bake

(p.307) Taatnya masyarakat desa Suana melaksanakan upacara tawur (ngelabuh bhoga) ke laut menunjukkan kecintaannya terhadap kehidupan di laut. Dengan antusiasnya penduduk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum upacara tawur itu, seperti melaksanakan gotong royong, melaksanakan upacara nunas tirtha di Pura Kahyangan, demikian juga sesudah upacara tawur itu masyarakat secara bergiliran mempersembahkan upacara labaan di tempat/panggung upacara yang dilakukan setiap tahun, membuktikan masyarakat desa Suana telah melestarikan tradisi budayanya yang diyakini sebagai usaha melestarikan kehidupan di laut yang merupakan sumber kehidupan masyarakat. Adanya agenda tetap setiap tahun pada bulan Purnama Kapat, Kepitu atau Kewulu, pastilah terjadi suatu pertemuan antarpenduduk yang masih tetap tinggal di desa dengan mereka yang keluar dari mencari penghidupan di daerah lain. Pada waktu itu dapat dipastikan penduduk yang pulang akan membawa bekal yang tidak sedikit untuk dibelanjakan di desanya selama pelaksanaan upacara tawur itu berlangsung. Dampak dari masuknya uang ke desa itu setiap tahun (yang dibawa pulang oleh penduduk) pasti akan berpengaruh pada perekonomian di desa itu. Sehingga upaya melestarikan upacara tawur (ngelabuh bhoga) sebagai wujud terima kasih penduduk desa Suana terhadap makhluk Bake terus dipertahankan untuk menjaga lingkungan kehidupan di laut. Lebih-lebih pada saat ini, kebanyakan penduduk desa Suana menggantungkan kehidupannya pada pengembangan rumput laut.

Berdasarkan uraian nilai-nilai yang terungkap dalam Bake di desa Suana dapat dikatakan bahwa fungsi mitos tersebut sebagai pelestarian lingkungan hidup di desa pesisir pantai, yang iazim dikenal sebagai wujud pelaksanaan konsep Trihita Karana dalam kehidupan di desa yaitu tiga hal penyebab keharmonisan (1) hubungan manusia dengan Tuhan (penciptanya), (2) hubungan manusia dengan sesamanya, dan (3) hubungan manusia dengan lingkungannya, baik lingkungan darat maupun laut.

Informan: I Wayan Suthama; Umur: 57 tahun; Pekerjaan: Bendesa Adat Desa Suana; Alamat: Desa Suana Nusa Penida Klungkung

Pustaka Acuan (p.308)

  • Dananjaya, James (1984) - Folklor Indonesia. Jakarta: Grafiitipers
  • Dananjaya, James (1988) - Antrropologi Psikologi, Jakarta: Rajawali Press
  • Finnegan, Ruth. 1978. Oral Literature in Africa. Nairobi, London: Oxford University Press
  • Koentjaraningrat (1984) - Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia
  • Laurenson, Diana T & Alan Swingewood (1971.) - The Sociology of Literature. London: Mac Gibbon & Kee
  • Parisadha Hindu Dharma (1981) - Upadesa. Denpasar
  • Teeuw, A. (1984) - Sastra dan lmu Sastra, Jakarta: Pustaka Jaya
  • Tuloli, Nani (1990) - Tanggomo Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo; Jakarta: Intermasa

Source

  • Weda Kusuma, I Nyoman (2002) - Mitos Bake di Desa Suana, Nusa Penida, in: 'Austronesia: Bahasa, Budaya dan Sastra', Universitas Udayana, 1st Edition, ISBN 979-95407-0-5, p.302-308

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24