Prasasti Mrajan Aryya Kubon Tubuh (Arnita/Sidemen, 2003/2009)

Below text is the result of historian Ida Bagus Sidemen's critical research on various 'prasasti' (inscriptions) published in 2003 in a book called "Inventarisasi dan Transliterasi Prasasti di Nusa Penida, Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, Denpasar, 2003".

arnita-inventarisasi-prasasti-nusapenidaThis book deals with the following 'prasasti' from Nusa Penida: 1. Sekartaji, 2. Mrajan Pejenengan Aryya Kubontubuh, 3. Mrajan Dalem Miyukut; 4. Mrajan Bayuh Kidul; 5. Merajan Bhujangga Waisnawa & 6. Mrajan Aryya Kubon Tubuh. Introductory notes by Sidemen precede his research results. An English translation is forthcoming.

ANALISIS SUMBER PRASASTI YANG DITEMUKAN DI NUSA PENIDA

Sumber-sumber dalam bentuk kutipan naskah yang dibahas berikut ini, termuat dalam sebuah buku yang sudah diterbitkan. Photo copy buku itu diberikan oleh seorang peneliti berkebangsaan Belanda. Bernama Godi Dijkman Buku itu terdiri atas v + 181 halaman. Judul buku: Inventarisasi dan Transliterasi Prasasti di Nusa Penida. Diterbitkan di Denpasar oleh Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, tahun 2003. Tidak semua naskah yang ada dalam buku itu dibahas dalam tulisan ini, karena setelah dilakukan analisis internal, ternyata beberapa naskah memiliki isi yang sama atau identik. Selain itu masih muncul keraguan antara isi naskah dengan judul yang menggunakan kata 'prasasti' yang digunakan oleh para peneliti dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali itu.

1. Analisis eksternal

Buku itu merupakan laporan hasil proyek inventarisasi. Pada umumnya buku yang dipandu oleh sebuah proyek, isinya sering kali belum sempurna tetapi sudah diterbitkan, hanya sekedar selesai, karena harus mengikuti temporal proyek, biaya proyek, panitia proyek yang kadang-kadang bukan tenaga profesional dalam bidangnya. Kondisi ini tampak juga pada buku ini. Misalnya pada Bab I dan Bab II, hanya diungkakan klasifikasi prasasti dengan mengutip pendapat Goris. Akan tetapi belum ditemukan dengan jelas pengertian prasasti yang digunakan sebaga parameter kerja, antara yang kelas I, II, atau III. Di dalamnya bentuk-bentuk historiografi seperti piagem, pangeling-eling, panugrahan, langsung saja dimasukkan sebagai isi sebuah prasasti, pada hal dalam kenyataannya tidak selalu seperti itu. Ada satu kesalahan fatal tersurat dalam Bab II, tentang pengertian transliterasi disebutkan sebagai alih bahasa. Transliterasi itu alih aksara, dan terjemahan itu alih bahasa. Dalam buku nyaris tidak ditemukan terjemahan. Yang ada adalah isi singkat (abstrak) dari setiap naskah.

Nyaris tidak dilakukan analisis eksternal yang baik dan teliti terhadap bahan, antara bahan lontar dan tembaga, atau bahan lain. Misalnya temuan naskah lontar yang lebarnya 6 cm (p. 13. Prasasti Mrajan Bayuh Kidul). Sungguh luar biasa kalau ada naskah berbahan lontar dengan lebar 6 cm apalagi dengan ketebalan 1 mm. Ketebalan lontar yang pernah ditemukan (tertua ditemukan bertahun Saka 1556 ), lebarnya hanya 3,8 cm, dengan ketebalan hanya setebal kertas HVS 80 gram atau paling tebal setebal kertas manila. Jenis kertas yang tebalnya 1 mm itu sudah termasuk kertas karton. Kalau parameter ini disetujui berarti lontar prasasti itu tebalnya sama dengan tebal kertas karton. Hal ini merupakan sebuah temuan luar biasa.

Kondisi analisis eksternal yang kurang teliti seperti ini sering mempengaruhi para peneliti berikutnya menjadi ragu, sehingga harus melakukan penelitian uji ulang. Penelitian ulang pada umumnya akan membutuhkan biaya baru yang lebih besar, dan telah membuang waktu yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang lain. Justru disinilah gunanya sebuah lembaga inventarisasi, menghemat biaa dan waktu penelitian. Tujuan sebuah Lembaga Inventarisasi, apalagi milik pemerintah, pasti untuk meringankan beban peneliti dengan cara menyediakan sumber yang sudah valid kepada peneliti.

2. Analisis internal

Seperti yang telah ditengarai, buku ini tidak menampilkan terjemahan naskah. Kalau dalam tim terdapat anggota yang benar-benar profesional akademik, maka pada setiap naskah pasti disertakan terjemahannya yang per kata atau per kalimat, sehingga menghasilnya terjemahan dalam bahasa Indonesia yang isinya mudah dipahami dan dengan pengertian yang sedekat-dekatnya pada kandungan isi menurut bahasa aslinya. Pada bagian akhir buku hanya ditampilkan isi singkat (abstrak), yang kadang-kadang tidak mewakili satu keutuhan isi naskah. Pada pembahasan ini juga tidak disertakan terjemahan sesuai dengan persyaratan filologi, karena bidang itu tidfak termasuk dalam bidang disiplin yang dikuasai. Akan tetapi akan dicoba menampilkan isi singkat pada setiap halaman naskah, dengan berusaha berada sedekat-dekatnya dengan terjemahan yang bersifat filologis.

Prasasti Mrajan Aryya Kubon Tubuh: Analisis eksternal

Naskah berbahan lontar dengan panjang 26 cm, lebar 4 cm, tebal 1 mm, ditulisi empat baris pada setiap halaman, halaman depan dan belakang, ditulisi dengan hurup Bali berbahasa Bali. Naskah ini disimpan oleh Warga Arya Kubon Tubuh, Desa Kutampi, Nusa Penida. Tidak disebut dengan jelas nama orang atau nama tempat yang menyimpan naskah itu. Naskah dibaca dan dialih akasara oleh Tim Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, dan dapat diselesaikan pada tanggal 1 November 2003.

Walaupun dalam penemuan, tim menyebutkan naskah ini sebagai prasasti, tetapi setelah membaca isinya dengan baik, ternyata naskah itu sebuah surat pangeling eling (surat keterangan, surat tanda peringatan, atau akte). Oleh karena kondisi naskah secara phisik belum dijelaskan dengan rinci sesuai dengan persyaratan disiplin sejarah, maka masih ada keraguan untuk memasukkan naskah ini ke dalam kelompok prasasti kelas III, sebagai parameter dalam penelitian.

Prasasti Mrajan Aryya Kubon Tubuh: Teks dan terjemahan

[ 1a ] pangeling eling paican dalem ida dewa dewata di madya, daweg idane kari nyeneng, ida ica ring i mekel kutampi, icen ida alas sokanyar, matlajakan alas guwa, marganing ida iwang alas, kasengkler antuk ida tur pangandikayang ida, kbo songolas, bagak ipun sangolas, ngelingang duwen ida, manibakang paican imkel kasiman, mareng kang dane bon biu, pangalor ipun rawuh ring kakisik, magetan ipune sukuning ukir, pangidul

Surat tanda ingat, pemberian Dalem (Raja Klungkung) beliau Dewa Agung Di Madya yang sudah wafat, (memberikan) ketika beliau masih hidup, beliau berkenan memberikan kepada I Mekel Kutampi (Perbekel desa Kutampi), diberikan hutan bernama Soka Anyar, berbatasan dengan hutan bernama Guwa, sebabnya beliau salah membagikan hutan, beliau telah salah memberi batas-batas, lalu beliau memerintahkan pejabat bernana Kbo Songolas, Ki Kebo Songlas terlalu gegabah, mengingati milik beliau, ketika melimpahkan pemberian I Mekel Kasiman, begitu pula beliau (Mekel) Bon Biyu, di sebelah utara sampai ke pantai, di sebelah timur sampai di kaki bukit, di sebelah selatan-

[ 1b ] ipune mawasta alas karbale, pahulon ipune alas batu gaing, yan ana wicara, tan kedepa, kedepa (juga) sawirasaning pangeling eling ira, samalih mkel kutampi, manibatang ring i kombor, yan ana gae mkel kutampi, madaut alas punika, kne upadrawa, tebteb tihing abas paku, tur pada nanggap, saupa drawaning tmah, punika, duk anyurat, ring dina, ra, pa, sinta, titi tang, 2, sasih jyesta, rah, 4, tenggek, 2, anurat panyarikan dalem.

nya bernama hutan Karbale, di sebelah baratnya hutan Batu Gaing, kalau ada yang menggugat tidak sah, sah juga sesuai dengan isi pangeling eling ini, dan lagi Perbekel Kutampi, menggadaikannya kepada I Kombor, kalau ada perbuatan Mkel Kutampi, mengambil lagi hutan itu, kena sumpah, tebteb tihing abas paku (potong bambu rabas pakis = artinya terbunuh sampai habis seluruh keturunannya), sama-sama di sumpah, berlaku segala macam kutukan, pada waktu menulis itu, pada hari Radite (Minggu) Paing Sinta, tanggal 2 (hari ke-2 setelah bulan mati), bulan 11 (Mei), satuan 4, puluhan 2, yang menulis Penyarikan Dalem (sekretaris raja).

Prasasti Mrajan Aryya Kubon Tubuh: Pembahasan Internal

Berdasarkan atas sudut pandang disiplin sejarah, naskah itu termasuk jenis surat-surat, dan dalam hal ini jenis surat akte atau surat keterangan. Isinya tentang pemberian raja berupa tanah bukti kepada perbekel desa Kutampi Nusa Penida. Tanah bukti itu berupa hutan dengan batas-batas yang jelas. Penentuan batas yang lebih jelas ini disebabkan oleh kesalahan yang gegabah dari pejabat kerajaan bernama Kbo Songolas. Kesalahan itu terjadi bersamaan ketika raja memberikan tanah bukti terhadap Perbekel Kasiman dan Bon Biyu. Pemberian raja kepada Perbekel Desa Kutampi ini ternyata digadikan oleh perbekel Kutampi kepada I Kombor. Apabila Perbekel Kutampi mengambil paksa hutan ini tidak sesuai dengan isi surat pengeling eling itu, maka perbekel Kutampi kena kutuk terbunuh seluruh keluarganya sampai habis. Akte ini ditulis pada tahun Saka '24, yang ditulis oleh Sekretaris Raja (Klungkung).

Sekali lagi peneliti harus menebak angka ratusan dan ribuan tahun Saka itu. Dugaan cenderung menganggap ratusan dan ribuannya 1800, sehingga tahun itu menjadi tahun Saka 1824 (1902 M). Pada masa tahun itu yang memerintah kerajaan Klungkung bernama I Dewa Agung Jambe, yang gugur dalam Perang Puputan Klungkung 28 April 1908.

Source

  • Sidemen, Ida Bagus - Nusa Penida dalam Prasasti, "Analisis eksternal dan internal tentang Inventarisasi dan Transliterasi Prasasti di Nusa Penida, Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, Denpasar, 2003", (unpublished) Denpasar - Bali, Indonesia 2009, 34 pp.

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24