Phonology (Madia, 1984)

Below article by I Made Madia is a rendering of his work called "Variations within the Phonology System of Balinese used in Nusa Penida, a Structural Dialectology Research. Madia published his findings with the Language Research (Department), Language Development Centre of the "Departemen Pendidikan dan Kebubadayaan", Singaraja, 1984. An full English translation is forthcoming.

Enggang

In personal correspondence with the author Godi Dijkman (May, 2013), and in addition (and an introduction) to his extensive phonological research below, I Made Madia adds the following comments on a curious phonological idiosyncracy in Lembongan:

Satu hal yang unik di desa Lembongan (...) adalah ketiadaan konsonan /p, b, m/ di akhir kata yang lazim untuk semua dialek bahasa Bali. Ketiga konsonan ini di dalam dialek bahasa Bali Lembongan secara berturut-turut direalisasikan menjadi /t, d, n/. Tidak ada penjelasan linguistis variasi realisasi ini. Mengapa variasi ini bisa terjadi? Semua penduduk Lembongan percaya, hal ini terjadi karena kutukan dari tokoh mitologi I Renggan. Orang Lembongan selalu enggang (bahasa Bali yang berarti 'mulut selalu terbuka'; mungkin ada hubungan dengan nama Renggan) ketika berbicara.

A unique (phonological) phenomenon, which occurs in Lembongan, is the absence of consonants /p, b, m/ at the end of words, utterly normal in Balinese. These three consonants in the Balinese spoken in Lembongan are realised (pronounced) as /t, d, n/. There is no linguistic explanation for this realisation. Why does this variation occur? The inhabitants of Lembongan believe that this phenomenon occurs because of a curse by the mythological I Renggan. The inhabitants of Lembongan as a rule are 'enggang' (Balinese for 'mouth always open'). Perhaps there is a connections with the name of Renggan, when they speak.

Variasi Sistem Fonologi Bahasa Bali di Nusa Penida, Sebuah Kajian Dialektologi Struktural by I Made Madia, Balai Penelitian Bahasa, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebubadayaan, Singaraja, 1984

Kata Pengantar

Kami selaku pimpinan Balai Penelitian Bahasa Singaraja, dalam suatu ceramah yang pernah kami adakan, ada mengatakan bahwa kami mempunyai program yang melakasakan penelitiannya tentang Daerah Tingkat II Kebupaten Klungkung. Hal ini penting dilakukan, mengingat kedudukan dan peranan Klungkung (dan Gelgel) pada zaman dahulu mempunyai arti sangat penting dalam kehidupan sejarah politik dan kebudaya Bali: Sehubungan dengan hal itu, maka salah satu kegiatan Balai Penelitian Bahasa tahun 1984-1895, diarahkan kepada kegiatan penerbitan. Dalam kesempatan ini diterbitkan tiga naskah yang merupakan hasil penelitian yang terdiri atats: 1) Kesusastraaan Bali pada Zaman Klungkung; 2) Variasi Sistem Fonologi Bahasa Bali di Nusa Penida (Sebuah Kajian Dialektologi Struktural); 3) Variasi Kosa `Kata Bahasa Bali di Nusa Penida (Sebuah Kajian Geografi Dialek). Karangan yang tersebut pertama (1) pada mulanya adalah hasil ceramah yang diadakan pada 27 Oktober 1983, dalam rangka pering[at}an hari Sumpah Pemuda yang ke-55 di Gedung Sasana Budaya Saingaraja. Sedangkan karangan yang kedua (2) dan ketiga (3) pada mulanya bersasal dari skripsi sarjana, yang dalam penerbitnanya telah diubah seperlunya di bawah bimbingan Dr. I Wayan Bawa. Dengan diterbitkan ketiga karangan ini, diharapkan kita dapat memperoleh informasi lebih luas mengenai daerah Klungkung. Balai Penelitian Bahasa, Kepala, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus, NIP. 130162922

Abstrak

Penelitian Bahasa Bali di Nusa Penida bertujuan mengetuahi adanya variasi sistyem folologi secara geografis, dan adanya dialek-dialek geografi berdasarkan geografi tersebut. Tujuan tersebut dilandasi oleh teori penelitian dialektologi struktural, yang bersifat diatopis-sinkronis. Penelitian ini dipusatkan di Kecamatan Nusa Penida dengan menggunakan tiga belas buah titik pengamatan (Observation Points, OP). Berdasarkan hasil analisis, ternyata Bahasa Bali di Nusa Penida menampakkan adanya variasi sistem fonologi. Variasi tersebut menyangkut realisasi fonetis fonem vokal dan konsonan, dan variasi distribusi fonem konsonan. Fonem vokal /i/ dan /u/ memiliki variasi realisasi di antara beberapa OP. Jika kedua fonem itu terdapat pada suku pertama terbuka, di beberapa OP direalisasikan [i] dan [u], di beberapa OP lainnya direalisasikan [ I] dan [U], dan ada juga PO's yang merealisasikan kedua fonem tersebut dengan [e] dan [o]. Jika fonem /i/ dan /u/ terdapat pada distribusi akhir, di beberapa OP direalisasikan [i] dan [u], dan beberapa OP lainnya merealisasikan dengan [I] dan [U]. Apabila fonem /i/ dan /u/ terdapat pada suku terbuka pada kedua suku kata bersangkutan, maka tidak dikenal adanya perbedaan realisasi seperti di atas.

Pendahuluan: latar belakang dan masalah

Latar belakang

Bahasa Bali murupakan salah satu bahasa daerah di kawasan Nusantara yang memiliki pendukung yang cukup banyak. Banyaknya pendukung Bahasa Bali merupakan salah satu sebab bahasa itu memiliki peranan yang amat penting di dalam tata kehidupan masyarakat Bali. Hal ini tampak dalam kedudukan Bahasa Bali di dalam dunia pendidikan, kehidupan rumah tangga, kebudayaan Bali, kesenian, media masa, dan dalam karangan ilmiah (Jendra dkk,. 1975/1976:114). Khususnya di bidang kesenian, terutama seni sastra, Bahasa Bali memiliki tradisi sastra yang amat kuat baik lisan paupun tulisan. Sastra tulis Bahasa Bali dapat dituangkan dalam bentuk tulisan Latin, dan dapat juga dalam bentuk aksara Bali (baca: aksare bali) (Jendra 1975/1976:23).

Memperhatikan peranan Bahasa Bali yang amat penting itu, dan jika dihubungkan dengan perbedaan asal penutur secara geografis, serta perbedaan penutur secara sosiologis, maka pemakaian Bahasa Bali akan tampak memiliki variasi. Kedua cara pengklasifikasian di atas akan memunculkan dialek (cf. Jendra 1975/1976:178, Trudgill, 1977:2-7; Ayatrohaedi, 1979:1-2, dan Fishman, 1977:30). Berdasarkan daerah geografi, akan memunculkan adanya dialek geografi, dan bedasarkan kelas social penutur akan memunculkan dialek sosial atau sosiolek. Agar pembicaraan tentang dialek secara umum tidak berkepanjangan, maka pembicaraan selanutnya sehubungan dengan karya tulis ini dipusatkan pada dialek geografi (selanjutnya disebut dialek saja).

Secara garis besar Bahasa Bali memiliki dua dialek, yaitu dialek Bahasa Bali daratan dan dialek Bahasa Bali pegunungan atau dialek Bahasa Bali Aga. Kedua pembagian dialek ini dapat diperinci lagi menjadi beberapa subdialek. Untuk sementara, berdasarkan batas memerintahan Propinsi Bali, Bahasa Bali daratan dapat dibedakan atas delapan dialek: Buleleng, Karangasem, Klungkung, Bangli, Gianyar, Badung, Tabanan dan Jembrana (Jendra dkk., 1975/1976:178-180). Sedangkan dialek Bahasa Bali Aga yang berlokasi di daerah-daerah pegunungan secara garis besar dapat dibedakan atas empat dialek Bahasa Bali: 1) dialek Bahasa Bali Aga yang berbeda di Daerah Tingkat II Kapubaten Karangasem, seperti: Seraya, Bugbug, Aasah, Timrah dan Tenganan Pengrisingan; 2) dialek Bahasa Bali di sekitar Danau batur Daerah Tingkat Ii Keabupaten Bangli; 3) dialek Bahasa Bali di Daerah Tingkat Ii Kabupaten Buleleng bagian timur; 4) dialek Bahasa Bali Aga yang berada di Daerah Tingkat II Kabupaten Klungkung, yaitu di Nusa Penida (Jendra dkk., 1975/1976:207-208).

Untuk melestarikan bahasa daerah sebagai langkah awal pembinaannya, maka salah satu usaha yang sangat dipandang perlu adalah menginventarisasikan bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia. Penginventarisasian tersebut hendaknya juga dilakukan pada tingkatan variasi yang dimiliki oleh bahasa daerah bersangkutan. Variasi itu dimaksudkan pada tingkatan dialek, bahkan jika mungkin pada tingkatan subdialek. Penginventarisasian bahasa daerah beserta variasinya mempunyai efek yang positif terhadap perkembangan bahasa nasional, karena telah dinyatakan bahwa bahasa daerah merupakan bahasa pendukung bagi bahasa Indonesia. Langkah seperti ini sangat relevan dengan penjelasan UUD 1945 pasal 36, bab XV, yang menyatakan bahwa bahasa-bahasa yang masih dipakai sebagai alat perhubungan yang hiudup dan dibina oleh masyarakat pemakainya dihargai dan dipelihara oleh negara, karena bahasa-bahasa itu adalah bagian dariapda kebudayaan Indonesia yang hidup (Halim (ed).), 1976:21).

Dengan menyadari hal tersebut di atas, maka penulis mencoba meneliti salah satu aspek kehasaan Bahasa Bali di Kecamatan Nusa Penida. Sesuai dengan judul tulisan ini, maka secara teoretis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang cukup berarti bagi bidang dialektologi khususnya, dan ilmu bahasa bandingan Nusantara umunya. Kecamatan Nusa Penida merupakan salah satu kecamatan dari empat buah kecamatan yang berada di lingkungan wilayah Daerah Tingkat II Kabupaten Klungkung. Dari empat kecamatan itu.

Kecamatan Nusa Penida merupakan kecamatan yang memiliki wilayah paling penting luas yang terdiri atas tiga buah pulau: Pulau Nusa Penida, Pulau Ceningan, dan Pulau Lembongan. Jadi, ketiga pulau itu termasuk dalam satu wilayah kecamatan, Kecamatan Nusa Penida. Batas-batas- wilayah Kecamatan Nusa Penida dari segala penjuru mata angin adalah berupa lautan dengan perincian sebagai berikut: 1) sebelah utara: lautan yang menghuhungkan antara pelabuhan Mentigi di Kecamatan Nusa Pendia dengan pelabuhan Kusamba di Tanah Bias di Klungkung; 2) sebelah timur: Selat Lombok; 3) sebelah selatan: Samudra Indonesia; 4) sebelah barat: Selat Badung. Batas-batas ini merupakan batas administratif yang sekaligus sebagai batas pemakai Bahasa Bali yang berada di wilayah Kecamatan Nusa Penida.

Tentang keadaan geografi, Kecamatan Nusa Penida merupakan daerah pegunungan. Hubungan antara desa satu dengan desa lainnya pada umumnya kurang lancar. Hanya beberapa desa yang memliki komunikasi agak lancar, seperti Batununggul, Ped, Kutampi dan Toyapakeh. Sedangkan desa-desa- lainnya seperti Suana, Tanglad, Sekartaji, Batukandik, Batumadeg, Lembongan, Sakti, Klumpu dan Jungutbatu komunikasinya masih tergolong belum memadai.

Mengingat keadaan geografi seperti itu, maka dari sudut kebahasaan cenderung menunjukkan adanya variasi. Variasi tersebut dapat terjadi pada semua aspek kebahasaan: aspek fonologi, morfologi, sintaksis dan leksikal. Dari keempat apsek itu, dalam kaitannya dengan karya tulis ini penulis tertarik mengaji aspek fonologinya dari sudut dialektologi, khususnya dari pandangan dialektologi struktural.

Sebagai langkah ke arah pelestarian dan pengambangan bahasa daerah, Bahasa Bali telah banyak mendapat perhatian atau diteliti oleh para sarjana bahasa, baik yang berasal dari bangsa Indonesia sendiri maupun oleh para sarjana bahasa negara lain. Beberapa hasil penelitian tersebut, seperti: "Deskripsi Bahasa Bali (Jendra, 1976), "Sebuah Deskripsi tentang Latar Belakang Sosial Budaya Bahasa Bali" (Jendra dkk., 1975/1976), Kamus Bahasa Bali-Indonesia (Ananda Kusuma, 1956), Garis Besar Tatabahasa Bali Kersten, Tata Bahasa Bali (Kersten, 1970), "Sistem Morfologi Kata Kerja Bahasa bali" (Tim Peneliti Fakultas Sastra Universitas Udayana, 1979/1980. Masalah Pembakuan Bahasa Bali (Bagus (ed), 1975), "Perubahan Pemakaian Bentuk Hormat dalam Bahasa Bali" (Bagus, 1979), Bahasa Bali (Simpen, 1974), "Kedudukan dan Fungsi Bahasa Bali" (Tim Peneliti Fakultas Sastra Universitas Udayana, 1979/1980), "Morfologi Bahasa Bali Dialek Nusa Penida (Darma Laksana, 1977), "Latar Belakang Sosial Budaya Bahasa Nusa" (Bagus dkk., 1981/1982), "Sintaksis Bahasa Bahasa Bali" (Bawa dkk., 1977/1973), dan "Morfem Terikat Bahasa Bali" (Bawa, 1977).

Karya tulis seperti yang disebutkan di atas tidak dapat dogolongkan sebagain suatu kajian dalam studi geografi dialek. Sampai saat ini diketahui beberapa penelitian Bahasa Bali yang berdasarkan studi geografi dialek: "Dialek Sembiran dan Spaang di Bali" (Bagus, 1971), "Dialek Bugbug Karangasem" (Jendra & Denes, 1973), "Dialek Bangli" (Bawa, 1977), "Bahasa Bali di Daerah Propinsi Bali: Sebuah Pemerian Geografi Dialek" (Bawa, 1979/1980), "Bahasa Bali di Kabupaten Karangasem: Ditinjau dari sudut Geografi Diaslek" (Sudartha, 1980), "Bahasa Bali di Kabupaten Buleleng: Sebuah Analisis Geografi Dialek" (Riana, 1981), dan Bahasa Bali di Kabupaten Tabanan: Sebuah Telaah Geografi Dialek" (Dhanawaty, 1981).

Dari hasil karya tulis yang telah disebutkan di atas, hanya empat karya tulis yang menyinggung tentang Bahasa Bali di Nusa Penida. Karya tulis itu adalah "Sebuah deskripsi tentang Latar Belankang Sosial Budaya Bahasa Bali" (Jendra dkk., 1975/1976), " Bahasa Bali di Daerah Propinsi Bali: Sebuah Pemerian Geografi Dialek" (Bawa, 1979/1980), "Morfologi Bahasa Bali Dialek Nusa Penida (Darma Laksana, 1977), dan "Latar Belakang Sosial Budaya Bahasa Nusa" (Bagus dkk., 1981/1982). Keempat karya tulis ini tidak membicarakan Bahasa bali Nusa Penida dari sudut fonologi secara mendalam. Di samping itu, daerah atau desa yang digunakan sebagai sampel dapat dikatakan sebagian kecil saja, sehingga gambaran secara menyeluruh Bahasa Bali di Nusa Penida tidak lengkap, khususnya bidang fonologi. Dengan demikian menginventarisasikan salah satu aspek kebahasaan Bahasa Bali di Nusa Penida mutlak perlu dilakukan. Lebih-lebih lagi Bahasa Bali di Nusa Penida merupakan salah satu Bahasa Bali Aga yang memiliki pendukung sangat sedikit jika dibandingkan dengan pendukung Bahasa Bali daratan. Hal ini menyebebkan arah pengaruh Bahasa Bali daratan lebih dominan ke dalam Bahasa Bali di Nusa Penida.

Masalah

Memperhatikan latar belakang di atas, maka tampak berbagai masalah yang perlu mendapat perhatian bagi para sarjana bahasa terhadap Bahasa Bali di Nusa Penida. Berkaitan dengan judul karya tulis ini, maka yang menjadi masalah pokok penelitian dapat dikemukakan dengan pertanyaan berikut: 1) Bagaimana variasi struktur fonologi Bahasa Bali wilayah Kecamatan Nusa Penda, khususnya dalam bidang inventarisasi dan distribusi fonem segmental?; 2) Berapakah jumlah dialek-dialek geografi Bahasa Bali di Kecamatan Nusa Penida, jika diklasifikasikan berdasarkan variasi struktur fonologi yang disebutkan pada bagian 1?

Asumsi

Grijns mengatakan bahwa variasi adalah sifat hakiki dari setiap sistem linguistik (1976:2). Variasi dalam hal ini adalah dialek. Menurut Pierre Guiraud dalam bukunya Patois, et dialectes francaises yang pendapatan dikutip oleh Ayatrohaedi, dikatakan bahwa pertumbuhan dan perbembangan dialek ditentukan oleh faktor kebahasaan dan faktor luar bahasa. Faktor-faktor luar bahasa seperti keadaan alam, politik, ekonomi dan cara hudup yang tercermin dalam dialek bersangkutan. Sedangkan faktor yang erat hubungannya dengan kebahasaan, karena adanya faktor hugungan dan keunggulan bahasa-bahasa yang terbawa ketika terjadi perpindahan penduduk, penyerbuan atau mungkin terjadinya penjajahan (1979:6). Ini berarti variasi yang muncul dalam suatu bahasa, disebabkan karena pengaruh bahasa lain, dan karena faktor atau sistem bahasa itu sendiri.

Berpijak dari beberapa pendapat di atas, dan memperhatikan pemakaian Bahasa Bali di Nusa Penida, berdasarkan faktor bahasa dan luar bahasa, maka dapat diasumsikan bahwa Bahasa Bali di Kecamatan Nusa Penida memiliki beberapa variasi. Sebagaimana pernah disebutkan, variasi kebahasaan tersebut dapat menyangkut bidang fonologi, morfologi, sintaksis dan leksikal.

Penulis menyadari bahwa untuk menentukan batas dialek yang tegas sangatlah sulit. Hal itu disebabkan karena antara satu dialek dengan dialek lainnuya sering terjadi saling menyusupi, sehingga akan terdapat batas dialek yang kabur. Untuk kepentingan analisis selanjutnnya, serta dengan maksud memudahkan pemamahan, maka secara administratif dapat diasumsikan bahwa Bahasa Bali di Nusa Penida dapat dibagi menjadi tiga belas dialek sesuai dengan yang ada: dialek Batununggul, Suana, Tanglad, Sekartaji, Batukadik, Batumadeg, Sakti, Sakti , Klumpu, Toyepakeh, Lembongan, Jungutbatu, Ped dan Kutampi.

Hipotesis

Memperhatikan judul karya tulis ini, serta berdasarkan pada asumsi di atas, dapatlah dibuat rumusan hipotesis berikut: 1) beberapa fonem segmental - vokal dan konsonan - Bahasa Bali di Nusa Penida akan menunjukkan variasi; 2) Variasi-variasi tersebut akan dapat dilihat dalam bidang inventarisasi dan distribusi fonem.

Teori Penelitian

Teori penelitian landasan dalam bentuk penelitian apa pun, sebab teori merupakan pegangan pokok secara umum yang memberikan arti dan guna pada data yang telah terkumpul sehingga tersusun di dalam satu sistem pemikiran (Surakhmad, 1978:53). Kerenanya, teori dan penelitian harus bersama-sama berfungsi dalam menambah pengetahuan ilmih (Vredenbregt, 1978:2).

Dalam penelitian ilmiah ada berbagai teori yang dapat digunakan. Hal ini dengan sendirinya tergantung pada bidang ilmu yang diselidiki. Khususnya dalam bidang dialektologi, ada beberapa teori yang mewarnai perkembangan ilmu tersebut. Sampai saat ini baru dikenal tiga buah teori: dialektologi tradisioanl, dialektologi strukjtural dan dialektologi generatif (Chambers dan Peter Trudgill, 1980:38, 45). Dari tiga jenis teori ini, secara tegas telah dinyatakan dalam judul karya tulis ini bahwa karya tulis ini bertitik tolak dari teori dialektologi struktural.

Menurut Uriel Weinreich dalam artikelnya "Is a Structural Dialectology Possible?', yang mengatakan bahwa tugas dialektologi struktural adalah meneliti di dalam satu rangka sistem-sistem bahasa yang pada satu pihak merupakan sistem tersendiri dan pada pihak lain menunjukkan kesamaaan dalam bagian-bagian setiap sistem itu. Sistem tersendiri itu disebut diasistem atau supersistem (Grijns, 1976:8). Diasistem inin dapat dianggap sebagai alat penunjuk jalan bagi hubungan antara variasi-variasi tersebut (Chambers, J.K. dan Peter Trudgill, 1980:41).

Aspek kebahasaan yang dibicarakan dalam dialektologi struktural manyangkut bidang fonologi, morfologi, dan sintaksis (Goossens,m 1979:37). Ketika aspek ini tidak akan dibicarakan dalam karya tulis ini. Sesuai dengan masalah dan jangkauan karya tulis ini, maka jelas teori dialektologi struktural yang digunakan dalam karya tulis ini terbatas pada bidang fonologi. Bidang ini pun terbatas pada inventarisasi dan distribusi fonem (cf. Petyt, 1980:118 dan Chambers, J.K. dan Peter Trudgill, 1980:41). Dalam arti luas dialektologi berusaha memberikan dan menerangkan masalah kedialekan, baik secara diatopis maupun secara sintopis. Penelitian diatopis mancakup diferensiasi geografis. Sedangkan penelitian sintopis mencakup diferensiasi di satu tempat atau lokal (Grijns, 1976:1). Dari kedua sifat penelitian ini, penulis bertitik tolak dari penelitian yang bersifat diatopis.

Dalam hal ini diatopis-sinkronis. Sifat sinkronis berarti menganalisis bahasa tanpa memperhatikan perkembangan yang terjadi pada masa lampau, sehingga yang tampak dalam analisis sinkronis adalah struktur bahasa itu sendiri. (Verhaar, 1977:7). Dapat juga dikatakan bahwa penelitian bahasa secara sinkronis berarti meneliti bahasa pada waktu tertentu (Samsuri, 1980:70). Dengan demikian penelitian yang bersifat diatopis-sinkronis berarti meneliti stuktur bahasa berdasarkan diferensiasi geografis atau secara horisontal pada suatu [...] tertentu, dengan mengambil data yang bersifat kekinian (cf. Dhanawaty: 1981:7).

Tujuan penelitian umum

Secara umum penelitian ini memiliki beberapa tujuan seperti berikut: 1) untuk memperoleh gambaran secara umum bahasa yang diteliti; 2) ikut membina dan membengbangkan bahasa daerah sesuai dengan kedudukan dan fungsinya yang telah titetapkan di dalam garis kebijaksanaan nasional dan politik bahasa nasional, yang sesuai dengan UUD 1945 pasal 36, bab XV; 3) ikut melestarikan bahasa daerah, yang merupakan implikasi dari tujuan 2) di atas; 4) memperkenalkan salah satu aspek kebudayaan daerah, karena bahasa merupakan salah satu aspek kebudayaan itu sendiri (Masinambow, 1980:2)

Tujuan khusus

Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka secara khusus dalam waktu yang relatif singkat penelitian Bahasa Bali di Nusa Penida dimaksudkan untuk mengetahui variasi sistem fonologi berdaraskan pandangan dialektologi struktural. Variasi tersebut akan menyangkut bidang 1) variasi inventarisasi fonem segmental; 2) variasi distribusi fonem; 3) variasi realisasi fonem.

Metode dan teknik pendekatan

Secara garis besar penggunaan metode dan teknik pendekatan dapat dikelompokkan atas dua tahapan: pengumpulan dan analisis data. Kedua tahapan ini akan diuraikan sebagai berikut.

Pada tahapan pengumpulan data, penulis berpedoman pada metode yang pertama kali digunakan oleh Martin Sarmiento pada tahun 1730 di Sepanyol, yang kemudian digunakan juga oleh Jules-Louis Gilliéron dalam penelitian geografi dialek pada tahun 1880 di Swis (Ayatrohaedi, 1979:33). Metode ini oleh Ayatrohaedi disebut metode "pupuan lapangan" (1979:33). Dengan menggunakan methode ini, berarti penulis menyediakan beberapa kata sebagai daftar pertanyaan yang dijadikan pegangan di dalam suatu proses wawancara. Oleh Vredenbregt disebut teknik partisipasi terbatas (1978:78). Daftar pertanyaan tersebut disusun berdasarkan sejumlah hipotesis yang hendak dibuktikan kebenarannya. Oleh Sutrisno Hadi disebut teknik interviu terpimpin (1979:205). Metode dan teknik pendekatan di atas secara operasional dibantu dengan teknik rekaman, pencatatan dan pemancingan (solicitasi). Perlu deketahui bahwa daftar pertanyaan terlampir dalam karya tulis ini. Pada tahapan analisis, penulis bertitik tolak dari pendekatan dialektologi. Pemetaan merupakan salah satu ciri khas pendekatan ini.

Peta-peta analisis berkaitan erat dengan analisis itu sendiri, yaitu tentang inventarisasi dan distribusi fonem. Pada tahapan ini penulis menginventariasasikan fonem-fonem segmental - vokal dan konsonan - Bahasa Bali di Nusa Penida. Langkah ini dilanjutkan dengan menggambarkan distribusi dari tiap-tiap fonem tersebut. Jika di dalam analisis ditemukan adanya variasi sistem fonologi Bahasa Bali di Nusa Penida, maka variasi itu digambarkan dalam peta analisis.

Memperhatikan uraian di atas, maka tampak jelas peta-peta analisis tersebut bermaksud menggambarkan secara visual adanya variasi sistem fonologi Bahasa Bali di Nusa Penida. Adanya variasi tersebut dibantu dengan menggunakan isoglos. Jean Dubois dan kawan-kawan dalam bukunya yang berjudul Dictionnaire de linguistique (1973) yang pendapatnya kidutip oleh Ayatrohaedi dan Multamia, dikatakan bahwa isoglos adalah garis yang memisahkan dua lingkungan dialek atau bahasa berdasarkan wujud atau sistem kedua lingkungan itu yang berbeda di dalam peta bahasa (Ayaotrohaedi, 1979:5; Multamia, 1981:2). Pengertian ini oleh Kurath disebut heteroglos (Grijns, 1976:3). Bedasarkan struktur bahasa, adanya variasi yang bersifat fonologis seperti Bahasa Bali di Nusa Penida disebut isofon (Grijns, 1976:3). Perlu diketahui bahwa peta-peta analisis langsung disertakan pada bagian analisis.

Sebagai akhir analisis, secara ringkas disajikan kembali dalam bentuk kesimpulan sesuai dengan masalah yang dibicarakan (Senn, 1981:126). Kesimpulan itu bersifat induktif yang tidak komplit, yaitu kesimpulan yang didasarkan atas beberapa sampel (Dhanawaty, 1981:9).

Jangkauan

Sesuai dengan permasalahan yang dikemukakan di depan, maka pembicaraan ini terbatas pada bidang fonologi dengan tinjauan dialek geografi. Pembicaraan itu terbatas pula pada data yang diperoleh di wilayah Kecamatan Nusa Penida. Mengingat Bahasa Bali adalah bahasa yang mengenal unda-usuk, maka data yang dikumpulkan terbatas pada pemakaian Bahasa Bali sehari-hari atau Bahasa Bali umum di Nusa Penida.. Masalah yang menjadi jangkauan dalam karya tulis ini terbatas pada: 1) variasi fonologi Bahasa Bali di Nusa Penida, khususnya inventarisasi dan distibusi fonem-fonem segmental - vokal dan konsonan; 2) penentuan dialek-dialek geografi Bahasa Bali di Nusa Penida berdasarkan isoglos inventarisasi dan distibusi fonem segmental.

Populasi

Kecamatan Nusa Penida pada hakikatnya terdiri atas tiga pulau: Penida, Ceningan dan Lembongan. Secara administratif, ketiga pulau menjadi satu wilayah Kecamatan Nusa Penida yang membawahi tiga belas buah desa atau perbekelan: Batununggul, Suana, Tanglad, Batukandik, Batumadeg, Klumpu, Sakti, Toyepakeh, Lembongan - termasuk pulau Ceningan -, Jungutbatu, Ped, Sekartaji dan Kutampi. Berdasarkan informasi lisan yang diperoleh dari kantor Kecamatan Nusa Penida, bahwa luas keseluruhan wilayah itu adalah 202,8375 km2, dengan jumlah penduduk 44.592 jiwa yang dapat diperinci menjadi 21.561 jiwa laki-laki dan 23.031 wanita. Bedasarkan agama yang dianut masyarakat Kecamatan Nusa Penida diklasifikasikan menjadi dua, yaitu pemeluk agama Hindu sebanyak 44.308 jiwa dan pemeluk agama Islam sebanyak 280 jiwa. Ditinjau dari bahasa yang dipakai, baik pemeluk agama Hindu maupun pemeluk agama Islam - di kampung Toyepakeh - merupakan satu masyarakat bahasa yang sama-sama menggunakan Bahasa Bali sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Dengan demikian, populasi penelitian ini menyangkut seluruh penutur Bahahasa Bali di wilayah Kecamatan Nusa Penida tanpa melihat perbedaan agama.

Sampel

Mengingat penelitian ini tidak mungkin menjangkau seluruh populasi, maka untuk mengatasi hal tersebut dibantu dengan menggunakan teknik sampel. Penentuan sampel ini dapat dibedakan atas dua jenis: sampel wilayah yang menggunakan wilayah geografi sebagai titik tolak (Surakhmad, 1978:92), dan sampel informan. Desa-desa yang dijadikan OP dalam penelitian ini adalah seluruh desa yang ada: Batununggul, Suana, Sekartaji, Tanglad, Batukandik, Batumadeg, Klumpu, Sakti, Toyepakeh, Lembongan, Jungutbatu, Ped dan Kutampi. Mengingat tiap-tiap desa tersebut terdiri atas beberapa banjar - dinas dan adat -, maka untuk mengatasi hal itu akan digunakan teknik sampel. Setiap desa yang dijadikan OP akan berpusat pada sebuah wilayah banjar sebagai sampel desa bersangkutan. Langkah penentuan sampel berikutnya adalah menentukan beberapa informan sebagai wakil banjar tersebut. Penentuan sampel seperti ini disebut jenis sampel tata tingkat (stratified sample), karena penentuan sampel berdasarkan populasi yang terdiri atas kelompok-kelompok yang mempunyai susuan bertingkat (Hadi, 1979:82).

Penentuan informan

Untuk memperoleh data yang sahih, sangat tergantung pula pada penentuan pemilihan informan. Karenanya, penentuan informan didasarkan atas syarat-syarat yang dikemukakan oleh Ayatrohaedi (1979:47) sebagai berikut: 1) usia antara 40-50 tahun; 2) pendidikan tidak terlalu tinggi; 3) merupakan penduduk asli, bilamana perlu ditelusuri sampai dua generasi sebelumnya; 4) menguasai bahasa atau dialeknya dengan baik; 5) kemurnian dialek yang digunakan. Kelima syarat di atas menjadi lebih sempurna dengan memperhatikan syarat-syarat penting berikut: 1) alat-alat ucapnya normal; sehat rohani dan jasmani; 3) semua informan yang diwawancarai umumnya berhampiran; 4) suka berbicara, tetapi tidak suka berbohong; 5) tidak tuli; 6) giginya utuh. Selain informan utama, juga digunakan beberapa informan sampingan untuk menguji kesahihan data yang dikumpulkan.

Penyusunan daftar pertanyaan

Dalam penelitian ini, daftar pertanyaan yang disusun bersumber dari 200 kata dasar. Kata dasar tersebut dikutip dari Morris Swadesh yang pernah digunakan di dalam menentukan dejarat kekerabatan bahasa-bahasa suku Indian, Amerika Utara, dan suku bangsa Eskimo (Parera, 1981:9-10, 20-29). Mengingat penelitian ini tidak bertujuan mendapatkan data leksikal, maka dari 200 kata dasar itu dikembangkan menjadi 340 kata dasar. Dengan 340 kata dasar sebagai daftar pertanyaan ini, data yang diharapkan dapat terkumpul. Dalam hal ini penulis berusaha mendapatkan data yang memiliki pasangan minimal atau data yang termasuk dalam lingkungan mirip untuk mengetahui fonem-fonem Bahasa Bali dialek Nusa Penida beserta variasinya, serta untuk mendapatkan distribusi lengkap Bahasa Bali dialek Nusa Penida di beberapa OP.

Sekilas tentang fonem Bahasa Bali baku: pengertian

Ditinjau dari segi sifat, fungsi dan sikap pemakai bahasa, Bahasa Bali baku adalah Bahasa Bali yang memiliki sifat mantap, dinamis dan cendekia, berfungsi penyatu, penanda kepribadian, penambah wibawa, dan sebagai kerangka acuan, sehingga menumbuhkan sikap setia, bangga dan sadar terhadap kaidah-kaidah serta aturan-aturan yang berlaku dalam Bahasa Bali (Bawa 1982:3). Pengertian ini tidak jauh berbeda dengan pengertian yang telah dirumuskan dalam kongres Bahasa Bali (Pesamuhan Agung Bahasa Bali) yang diadakan pada tanggal 28-29 Oktober 1974 di Singaraja. Pada kongres ini ditetapkan, bahwa Bahasa Bali baku adalah varietas (tabuh, lagu, kesiur dalam Bahasa Bali) yang umum dipakai dalam komunikasi seperti yang digunakan dalam pendidikan, rapat, karya tulis, kesusastraan, radio/mas media, adat dan agama (Bagus, (ed), 1975:32). Pembakuan tersebut dari segi perangkat kebahasaan menyangkut tata bunyi (fonem), tata bentuk kata (morfem), tata kalimat [syntaxis] dan kosa kata [vocabulary]. Khusus dalam karya tulis ini akan disinggung fonem.

Banyak sarjana bahasa yang telah mengemukakan pengertian fonem. Pada hakikatnya satu dengan yang lainnya tidak memiliki perbedaan prinsip. Dalam karya tulis ini hanya dikemukakan sebuah pengertian yang dikutip dari H.A.Gleason dalam bukunya yang berjudul An Introduction to Discriptive Linguistics, yang mengatakan bahwa: "Phoneme as a minimum feature of the expression of the system of a spoken language by which one thing that may be said is distinguished from any other which might have been said" (1961:9). Secara harafiah definisi yang dikemukakan di atas dapat diartikan bahwa fonem adalah suatu ciri minimum dari sistem ekspresi bunyi bahasa yang membedakan sesuatu yanh diungkapkan dengan yang lainnya. Pengertian ini tidak jauh berbeda dengan pengertian yang menyatakan bahwa fonem adalah kesatuan bunyi bahasa terkecial yang membedakan arti (cf. Jendra, 1973:10, Keraf, 1978:30, Samsuri, 1980:125, dan Verhaar, 1977:36).

Pengertian fonem yang dikomunikasikan di atas akan tampak lebih jelas dengan memperhatikan contoh ini. Kata sambel [samb∂l] 'sambal' dan tambel [tamb∂l] 'tambal' dalam Bahasa Bali jelas merupakan ungkapan atau kata yang memiliki makna berbeda. Perbedaan tersebut timbul karena adanya dua bunyi yang berbeda: [s] dan [t]. Karena bunyi-bunyi ini berfungsi membedakan arti, maka bunyi-bunyi itu merupakan fonem tersendiri. Dengan demikian, pengertian fonem Bahasa Bali baku adalah fonem-fonem atau variasi fonologis yang umum dipakai dalam komunikasi seperti yang digunakan dalam pendidikan, rapat, karya tulis, kesusastraan, radio, adat dan agama. Pengertian ini jelas tidak dapat terlepas dari pengertian fonem dan pengertian Bahasa Bali baku itu sendiri.

Kiranya perlu diketahui bahwa pembicaraan sekilas tentang fonem Bahasa Bali baku sehubungan dengan karya tulis ini dimaksudkan untuk dijadikan acuan dalam menentukan adanya variasi fonologi Bahasa Bali di Nusa Penida. Pembicaraan ini terbatas pada masalah pokok yang dibicarakan dalam karya tulis ini, yaitu tentang inventarisasi dan distribusi fonem segmental.

Fonem Bahasa Bali baku

Untuk menghindari pembicaraan yang menyimpan dari bahasan pokok dalam karya tulis ini, maka pembicaraan mengenai fonem Bahasa Bali baku terbatas pada fonem-fonem segmental. Hal ini pun dibatasi pada bidang inventarisasi dan distribusi fonemnya. Sampai saat ini satu-satunya karya tulis yang penulis anggap paling lengkap membicarakan folnologi Bahasa Bali adalah karay tulis Drs. I Wayan Jendra. Karya ini pada mulanya berupa makalah yang dibawakan di dalam Konpres Bahasa Bali/Pesamuhan Agung Basa Bali yang diadakan pada tanggal 28-29 Oktober 1974 di Singaraja. Judul tulisan itu adalah "Fonologi Bahasa Bali", yang kemudian diterbitkan pada tahun 1976 dengan judul yang sama. Pada tahun 1980 dan 1981 tulisan itu diperbanyak lagi dengan judul Sebuah Ikhtisar Fonologi Bahasa Bali. Dengan demikian, sekilas tentang fonem Bahasa Bali baku dalam tesis ini berkiblat pada karya tulis tersebut. Seperti halnya bahasa-bahasa lain, Bahasa Bali juga memiliki 2 fonem segmental: fonem vokal dan fonem konsonan. Untuk itu, pembicaraan selanjutnya akan dipaparkan secara terperinci kedua fonem tersebut dengan tinjauan inventarisasi dan distribusinya.

Fonem vokal Bahasa Bali baku: pengertian

Fonem vokal adalah fonem-fonem yang pada waktu pembentukannya, udara yang keluar dari paruy-paru tidak mendapat halangan. Pengertian ini dapat diidentikan dengan pengertian (bunyi) vokal itu sendiri, yaitu bunyi-ujaran [sound utterance/pronouncement] yang terjadi, karena udara yang keluar dari paru-paru tidak mendapat halangan. Bunyi-nunyi dengan pembentukan seperti ini oleh Samsuri disebut vokoid, karena istilah vokal lebih sesuai digunakan di dalam ilmu fonem (cf. Keraf, 1978:34; Samsuri, 1980:95-160; Verhaar, 1977:17).

Inventarisasi fonem vokal Bahasa Bali baku

Di dalam Bahasa Bali terdapat enam buah fonem vokal, yaitu fonem /i, e, a, ə, u, o/. Dari keenam fonem ini, empat di antaranya dalam realisasinya memiliki variasi. Variasi itu disebut alofon: variasi wujud fonem non-fungsional dalam lingkungan bunyi tertentu, yang masih merupakan keanggotaan fonem (Jendra, 1980:12). Keempat fonem yang memiliki variasi itu adalah fonem /i,u,e, o/. Untuk menjelaskan pemahaman, contoh berikut kiranya dapat membantu. Contoh-contoh yang digunakan dalam uraian ini dikutip dari buku-buku yang pernah membicarakan hal yang serupa (cf. Dhanawaty, 1981, Sukartha, 1980 & Riana, 1981).

Fonem /i/ dalam realisasinya dapat berupa [i] dan [I]. Munculnya gejala ini dapat dijelaskan, bahwa jika fonem /i/ terdapat pada suku terbuka dalam realisasinya berupa [i], i.e. ibi [ibi] ('kemarin/yesterday'), biyu (biyu] 'pisang/banana'etc.]. Apabila fonem /i/ terdapat pada suku kata yang tertutup, realisasinya verupa bunyi yang lebig rendah sedikit dari [i], yaitu [I], i.e. beling [bəlIŋ] 'hamil/pregnant', mulih [mulIh] 'pulang/go back'. Fonem /u/ dalam realisasinya pada suku terbuka dapat berupa [u], i.e. buku [buku] 'buku/book', bulu [bulu], 'bulu/hair/feather', dan menjadi lebih rendah sedikit yaitu [U] jika terdapat pada suku tertutup, i.e. taluh [talUh] 'telor/egg', bungut [buŋUt] 'mulut/mouth', Fonem /e/ memiliki 3 realisasi: [ə] dalam suku terbuka yang diikuti oleh suku terbuka pula. e.g. gede [gəde] 'besar/big'; bale [bale] 'balai/hall'; menek [mənEk] 'naik/ascend, rise'; [ɛ] jika terdapat pada suku terbuka yang diikuti suku tertutup, e.g. mereng [mɛrEŋ] 'miring/slant'; epeh [ɛpEh] 'ramah/friendly', egar [ɛgar] 'bangga/proud'; [E] jika terdapat pada suku tertutup. Fonem /o/ juga memiliki 3 realisasi: [o] jika terdapat pada suku terbuka, e.g., sabo [sabo] 'sawo'; roko [roko] 'rokok/cigarette'; [O] pada suku tertutup: e.g. dadong [dadOŋ] 'nenek, grandma', raos [raOs] 'kata, word', sombong [sOmbOŋ] & [ɔ] pada suku terbuka yang diikuti suku tertutup, e.g. polos [pɔlOs] 'polos, pure'.

Dari uraian dan contoh-contoh yang telah dikemukakan di atas, maka dapatlah dirumuskan kesejajaran fonem-fonem dan realisasinya sebagai berikut: [i] sejajar dengan [u]; [I] sejajar dengan [U]; [e] sejajar dengan [o], [E] sejajar dengan [O] dan [ɛ] sejajar dengan [ɔ]. Fonem-fonem vokal Bahasa Bali yang telah disebutkan di atas dapat digolongkan berdasarkan 3 kriteria sebagai berikut: 1) bedasarkan naik turunnya lidah, dapat menghasilkan vokal atas yang terdiri atas vokal /i/ dan vokal /u/, vokal tengah yang terdiri atas vokal /e/, /ə/, dan /o/, dan vokal bawah yang terdiri atas vokal /a/ saja; 2) berdasarkan maju mundurnya lidah, dapat menghasilkan vokal depan yang terdiri atas vokal /i/, /e/ dan /a/, vokal pusat yang terdiri atas vokal /ə/ saja, dan vokal belakang yang terdiri atas vokal /u/ dan /o/; berdasarkan membundar tidaknya bibir, menghasilkan vokal bundar yang terdiri atas /u/ dan vokal /o/, dan vokal tak bundar yang terdiri atas vokal /i/, /e/, /ə/ dan /a/.

Memperhatikan inventarisasi dan penggolongan fonem vokal Bahasa Bali uraian di atas, kiranya skema berikut sangat membantu pemahaman tersebut (b = bundar, tb = tidak bundar).

  depan   pusat   belakang  
  tb b tb b tb b
atas i         u
bawah atas            
tengah atas ə         o
tengah     ə      
tengah bawah            
atas bawa            
bawa a          

Distribusi fonem vokal Bahasa Bali baku

Kecuali fonem /a/, fonem-fonem Bahasa Bali lainnya memiliki distribusi lengkap. Perlu ketahui bahwa huruf a dalam suku terakhir dan terbuka di dalam Bahasa tulis dibunyikan sebagai pepet [ə], tetapi jika dihubungakan akhiran bunyi pepet itu akan menjadi bunyi [a] (Kersten, 1970:12). Jadi, fonem /a/ hanya memiliki distribusi pada awal dan tengah kata. Distibusi itu akan tampak jelas dengan memperhatikan contoh-contoh berikut.

  posisi awal posisi tengah posisi akhir
/i/ [ilaŋ] 'hilang/disappear' [biyu] 'pisang/banana' [mati] 'mati'
  [idUp] 'hidup, live' [batIs] 'kaki/leg/foot' [bani] 'berani/dare'
/e/ [elah] 'longgar/loose' [bɛlEk] 'lembek/soft' [bale] 'balai/hall'
  [incEh] 'encer/liquid' [gEsgEs] 'garuk/scratch' [rame] 'ramai/crowded'
/a/ [alIh] 'cari/look for' [basə] 'bumbu/spices'  
  [añUd] 'hanyut/drift' [batu] 'batu/stone'  
/ə/ [əŋsap] 'lupa/forget' [bədIk] 'sedikit/little bit' [mejə] 'meja/table'
  [əntUd] 'lulut/knee' [səmal] 'tupai/squirrel' [matə] 'mata/eye'
/u/ [uyUt] 'ribut/noise' [buku] 'buku/book' [batu] 'batu/stone'
  [ulUŋ] 'jatuh' [buyUŋ] 'lalat/fly' [mantu] 'menantu/mother or father-in-law'
/o/ [oñe] 'semua/all' [bɔjOg] 'kera/monkey' [keto] 'begitu/like that'
  [OŋkOs] 'biaya/cost' [lobə] 'serakah/greedy' [sero] 'juling/cross-eyed'

Fonem konsonan Bahasa Bali baku: pengertian

Fonem konsonan adalah fonem-fonem yang pada waktu pembentukannya, udara yang keluar dari paru-paru mendapat halangan. Pengertian ini dapat disejajarkan dengan pengertian (bunyi) konsonan itu sendiri, yaitu bunyi-bunyi yang terjadi karena udara yang keluar dari paru-paru mendapat halangan. Bunyi-bunyi ini oleh Samsuri disebut dengan istilah kontoid, karena istilah konsonan cendrung mengarah pada ilmu fonem (cf. Keraf, 1978:36, Samsuri, 1980:95).

Inventarisasi fonem konsonan Bahasa Bali baku

Bahasa Bali memiliki 18 fonem konsonan: /p, b, m, t, d, n, s, r, l, c, j, ñ, y, k, w, g, ŋ, h/. Fonem-fonem konsonan ini dapat digolong-golongkan berdasarkan 4 kriteria. Pertama, berdasarkan daerah artikulasi, fonem-fonem konsonan Bahasa Bali baku dapat dibedakan lagi menjadi 8 kelompok: 1) fonem konsonan bilabial /p, b, m/; 2) fonem konsonan labiodental /w/; 3) fonem konsonan apiko alveolar /n,l/; 4) fonem konsonan apiko palatal (retrofleks) /t, d, r/; 5) fonem konsonan lamino alveolar /s/; 6) fonem konsonan medio laminal /c, j, ñ, y/; 7) fonem konsonan dorso velar /k, g, ŋ/; 8) fonem konsonan faringal - Keraf (1978) menyebut laringal: /h/. Kedua, berdasarkan jalur yang dilalui arus udara pada waktu keluar dari paru-paru, fonem-fonem konsonan Bahasa Bali baku dapat dikelompokkan menjadi dua bagian: 1) fonem konsonan oral: /p, b, w, t, d, s, r, l, c, j, y, k, g, h/; 2) fonem konsonan nasal: /ñ, m, n, ŋ/. Ketiga, bedasarkan hambatan yang terjadi dalam mulut ketika udara keluar dari paru-paru - dalam hal ini terutama konsonan oral - fonem-fonem konsonan Bahasa Bali baku dapat dikelompokkan menjadi 5: 1) konsonan hambat (plosives) /p,b,t,d,j,c,k,g/; 2) konsonan frikatif atau geser /y, w, h/; 3) konsonan spiran (fricative?) /s/; 4) konsonan lateral /l/; 5) konsonan getar (trill) /r/. Keempat, berdasarkan bergetar tidaknya selaput suara, fonem-fonem konsonan Bahasa Bali baku dapat dikelompokkan menjadi 2: 1) konsonan bersuara /b, m, n, d, w, y, l, r, ñ, j, g, ŋ/; 2) konsonan tak bersuara /p, t, s, c, k, h/.

Klasifikasi fonem-fonem konsonan Bahasa Bali baku berdasarkan 4 kriteria di atas lebih mudah dipahami dengan bantuan denah berikut:

Consonant   Bilabial Labial dental Apiko alveolar Apiko palatal Lamino alveolar Medio laminal Dorso velar Laringal
Nasal b n       ñ

ŋ

 
Nasal hambat b b     d   j g  
  tb p     t   c k  
Nasal frikatif b   w*       y*    
  tb               h
Oral Spiran tb         s      
Oral lateral b     l          
Oral getar b       r        

(Compare with: Dhanawaty, 1981:20; Keraf, 1978:39; Bagus, 1975:58 & Jendra 1980:18). Legenda: * = also called a semi-vowel; b (bersuara) = voiced; tb (tak bersuara) non-voiced; Bil. = bilabial, Lab.den - Labiodental; Ap.al. = Apiko alveolar; Lam.al. = Lamino alveolar; Med.lam. = Medio laminal; Dor. vel. = Dorso velar; Lar. = Laringal

Distribusi fonem konsonan Bahasa Bali baku

Dari 18 fonem konsonan Bahasa Bali baku, hanya 12 di antaranya yang memiliki distribusi lengkap yang terdiri atas fonem konsonan /p, b, m, t, d, n, s, l, r, k, g, ŋ/, sedangkan 6 di antaranya tidak memiliki distribusi yang lengkap: /c, j, ñ, y, w, h/. Dari 6 fonem konsonan ini, fonem konsonan /c, j, ñ, y, w/ tidak memiliki distribusi pada posisi akhir, sedangkan fonem konsonan /h/ tidak terdapat pada posisi awal. Keterangan tentang distribusi fonem konsonan Bahasa Bali baku yang dikemukakan di atas akan menjadi lebih jelas dan lengkap dengan memperhatikan contoh-contoh berikut ini (...)

Variasi sistem fonologi Bahasa Bali di Nusa Penida: sebuah kajian dialektologi struktural: pengertian

Mengingat pada bab-bab terdahulu belum dibahas pengertian judul karya tulis ini, dirasakan tidak mengganggu sistematika analisi jika hal tersebut dikemukakan pada bab ini. Uraian ini bermaksud mendapatkan pengertian pokok untuk dijadikan pegangan dalam analisis-analisis berikutnya. Judul di atas secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua bagian: Variasi sistem fonologi Bahasa Bali di Nusa Penida dan pengertian Kajian Dialektologi Struktural. Masing-masing akan dijelaskan pada uraian berikut. Pengertian Variasi sistem fonologi Bahasa Bali di Nusa Penida tidak bisa terlepas dari salah satu ciri hakiki suatu bahasa, bahwa setiap bahasa memiliki suatu sistem tata bahasa tersendiri yang berbeda dengan sistem-sistem bahasa lainnya (Pei, 1971:89, Jendra, 1973:1). Sistem-sistem itu menurut tata bahasa struktural menyangkut tata bunyi (fonology), tata bentuk kata (morphology) dan tata kalimat (syntax) (Keraf, 1978, 1978:27, Samsuri, 1980:10). Berkaitan dengan uraian di atas, maka jelas bahwa Bahasa Bali memiliki sistem fonologi tersendiri yang sudah barang tentu berbeda denagn sistem fonologi bahasa-bahasa lainnya. Sistem tersendiri tersebut juga tampak pada bidang morfologi dan sintaksis.

Sistem-sistem pada setiap bahasa, jika dikaitkan dengan asal-usul penutur secara geografis dan sosiologis akan menimbulkan adanya variasi. Variasi-variasi ini dapat terjadi pada bidang fonologi, morfologi, sintaksis dan leksikal. Dengan demikian, secara geografis pengertian yang dibahas dalam uraian ini menunjukkan adanya variasi sistem fonologi Bahasa Bali di Nusa Penida. Sedangkan pengertian Kajian Dialektologi Struktural, lebih mudah dipahami dengan mengetahui pengertiaan dialek itu sendiri. Ada berbagai batasan tentang dialek, tetapi pada hakikatnya tidak memiliki perbedaan yang prinsip. Dalam uraian ini hanya dikemukakan satu di antaranya. Menurut Labov yang pendapatnya dikutip oleh Grijns, dialek adalah a sub-variety of a language yang dapat diartikan 'variasi dari sebuah bahasa' (1976:2). Variasi-variasi ini dalam praktek bahasa setempat yang berbeda dalam hal ucapan, kosa kata (vocabulary), morfologi ataupun tata bahasa (grammar) (Bintarto, 1976:6). Dengan demilikan dapat dikatakan bahwa variasi yang mucul akibat adanya perbedaan sistem, tetapi perbedaan tersebut belum mengarah kepada adanya sistem baru dari suatu bahasa. Dengan kata lain, variasi yang mucul masih banyak memiliki persamaan sistem yang masih dalam jangkauan satu bahasa.

Pada bagian pendahuluan telah disinggung bahwa dialek dapat dibedakan atas dasar kelas sosial penutur dan asal penutur secara geografis. Kedua dasar pembeda ini masing-masing menimbulkan adanya dialek sosial dan dialek geografi. Masing-masing dialek ini oleh Ayatrohaedi disebut dengan istilah sabdawarga atau sosiolek dan sabdadesa atau dialek (1976:8). Dalam karya tulis ini pendekatan kedialekan beritik tolak dari dialek yang berdasarkan asal penutur secara geografis. Dengan kata lain bertitik tolak dari geografi yang merupakan bagian dialektologi. Dialektologi sampai saat ini dapat dibedakan atas tiga jenis: dialektologi tradisional, struktural dan generatif. Pada bagian pendahuluan telah ditegaskan bahwa karya penulis ini menggunakan pendekatan dialektologi strukutural. Dengan demikian pengertian Kajian Dialektologi Struktural akan tampak lebih jelas dengan memperhatikan kembali uraian di atas tentang teori penelitian.

Cara kerja 

madia op01

Image above: Observation Points (OP) or 'titiki pengamatan' according to Madia: 1. Batununggul; 2. Suana; 3. Tanglad; 4. Sekartaji; 5. Batukandik; 6. Batumadeg; 7. Klumpu; 8. Sakti; 9. Lembongan; 10. Jungutbatu; 11. Toyepakeh; 12. Ped; 13. Kutampi.)

Guna memudahkan pemahaman analisi, dirasakan sangat perlu disampaikan tentang cara kerja yang diterapkan dalam penyajian analisis. Cara kerja ini akan diuraikan di bawah ini. Mengingat Kecamatan Nusa Penida yang terdiri atas 13 desa yang semuanya dijadikan OP dalam penlitian ini, maka untuk memudahkan penerapan anailis - terutama analisis fonem vokal - Bahasa Bali di Nusa Penida terlebih dahulu dikelompokkan atas dua dialek. Pengelompokan ini sifatnya sangat sementara dan tidak mutlak, sebeb mungkin saja dalam satu kelompok antara satu OP dan OP lainnya terdapat variasi dalam bidang sistem fonologinya. Dasar untuk mengadakan pengelompokan itu adalah karena adanya beberapa ciri yang menonjol. Kedua dialek itu penulis sebutkan dengan istilah "Dialek Nusa Penida Pegunungan" yang teridir atas OP 2-7, dan "Dialek Nusa Penida Daratan" (OP 1, 8-13). Di samping perbedaan ini didasarkan atas faktor geografis, juga didukung oleh faktor adanya variasi sistem fonologi. Hal tersebut dapat dikemukakan pada uraian berikut ini.

Ciri-ciri dialek Nusa Penida Daratan:

a) fonem konsonan /h/ hanya dapat menduduki distribusi pada akhir kata, e.g. [akah] 'akar/root' (1-13); b) fonem vokal /i/ memiliki realisasi [i] dan [I], e.g. [sisi] 'sisi/side' (1-13); [apI] 'api/fire' (1-8, 10, 12, 13); [bəlIg] 'licin/slippery' (1-13); fonem vokal /u/ memiliki realisasi [u] dan [U], e.g. [kuku] 'kuku/nail' (1-13); [jagUr] 'pukul/beat' (1,3,7-13); [kUkUr] 'burung tekukur/turtledove' (1, 8, 10, 12, 13).

Ciri-ciri dialek Nusa Penida Pegunungan:

a) fonem konsonan /h/ memiliki distribusi lengkap. Dapat menduduki distribusi pada awal, tengah dan akhir, e.g. [hana?] 'anak/child' (2-7), [bəhat] 'berat/heavy' (3-7); [əndih] 'nyala/burn' (1-13); b) fonem vokal /i/ memiliki realisasi [i], [I], dan [e], e.g. [gigi] 'gigi/tooth' (1-13); [edIh] 'minta (2-7); [api] 'api/fire' (1-8, 10, 12, 13); fonem vokal /u/ memiliki realisasi [u], [U], dan [o], e.g. [kuku] 'kuku/nail (1-13), [mosUh] 'musuh/enemy' (2-7); [dItU] 'di sini/here' (1-3, 5-8, 10, 12, 13).

Kiranya perlu diketahui bahwa dialek Nusa Penida Daratan antara satu OP dengan beberapa OP lainnya masih terdapat beberapa variasi sistem fonologi. Variasi tersebut terutama disebabkan adanya perbedaan realisasi fonem vokal dan konsonan serta adanya perbedaan distribusi fonem konsonan. Hal tersebut akan disajikan dalam analisi, yang secara visual dapat tergambar dalam peta-peta analisis. Seperti diketahui penelitian ini menggunakan 13 OP. Data yang disajikan dalam analisis menunjuk pada nomor OP. Apabila terdapat data [behas] 'bəras/rice' (2-7) berarti data tersebut terdapat pada OP 2-7.

Analisis inventariasi dan distribusi fonem vokal dan konsonan Bahasa Bali di Nusa Penida

Untuk menginventarisasikan fonem-fonem Bahasa Bali di Nusa Penida, langkah yang ditempuh adalah menemukan fonem-fonem itu sendiri. Untuk menemukan fonem-fonem ini, penulis mengikuti cara kerja yang telah diterapkan Samsuri (1980:130-137). Cara kerja itu seperti yang dipaparkan berikut ini. Sebagai langkah pertama untuk menemukan fonem-fonem suatu bahasa, dapat ditentukan dengan mencari pasangan minimal: seperangkat kata yang sama kecuali dalam hal bunyi saja (Verhaar, 1977:36). Perangkat kata tersebut masing-masing memiliki makna yang berbeda. Contoh berikut adalah sebuah contoh yang tergolong dalam pasangan minimal. Kata lupa dan rupa dalam bahasa Indonesia adalah seperangkat kata yang berbeda hanya pada bunyi saja: [l] dan [r]. Dengan demikian /l/ dan /r/ merupakan fonem-fonem yang berbeda di dalam Bahasa Indonesia.

Jika cara tersebut di atas tidak sepenuhnya dapat diterapkan karena keterbatasan data, maka untuk mengatasi hal itu dapat digunakan cara kedua, yaitu dengan mencari lingkungan mirip yang biasa juga disebut dengan pasangan mirip. Berpedoman dengan pengertian pasangan minimal di atas, maka dapatlah ditentukan bahwa yang dimaksud dengan lingkungan mirip adalah seperangkat kata yang sama kecuali dalam hal dua buah bunyi saja. Pengertian ini akan tampak jelas dengan memperhatikan contoh berikut. Kata sate dan sari dalam bahasa Indonesia merupakan sebuah contoh yang termasuk dalam lingkungan mirip. Dari contoh itu ditemukan bunyi-bunyi [t], [r], [e], dan [i]. Masing-masing bunyi tersebut berdasarkan teori di atas dapat dianggap sebagai fonem-fonem yang berbeda, yaitu fonem /t/, /r/, /e/, dan /i/.

Apabila ternyata kedua cara di atas belum mampu menemukan fonem-fonem suatu bahasa secara keseluruhan, maka dapat ditempuh dengan menggunakan cara yang ketiga, yaitu dengan jalan memperhatikan distribusi dari masing-masing bunyi tersebut. Jika bunyi-bunyi tersebut yang secara fonetis mirip terdapat dalam distribusi yang komplementer, maka bunyi-bunyi ini merupakan fonem yang sama. Dengan kata lain, salah satu di antaranya dapat dianggap sebagai variasi atau alofon. Melalui cara yang ketiga ini, maka untuk menemukan fonem-fonem suatu bahasa pada hakikatnya tidak dapat terlepas dari pembicaraan mengenai distribusi fonemnya.

Analisis inventarisasi dan distribusi fonem vokal Bahasa Bali di Nusa Penida

Mengingat pembicaraan tentang inventarisasi dan distribusi fonem vokal Bahasa Bali di Nusa Penida cukup kompleks, maka untuk memudahkan pemahaman, analisis akan disajikan dalam dua kelompok. Pengelompokan ini sesuai dengan pengelompokan sementara Bahasa Bali di Nusa Penida.

Inventarisasi dan distribusi fonem vokal Bahasa Bali "Dialek Nusa Penida Daratan"

Untuk menginventarisasikan fonem-fonem vokal Bahasa Bali "Dialek Nusa Penida Daratan", berikut ini disajikan data yang memiliki pasangan minimal dan sekaligus data yang termasuk dalam lingkungan mirip. Dengan memperhatikan data di atas, maka dapatlah ditemukakan vokoid atau bunyi-bunyi vokal seperti [i, I, e, ɛ, E, aɔ (?), a, e, aɔ, .., u, U, o, ə, O, a?]. Apakah semua vokoid ini dapat berfungsi sebegai fonem tersendiri? Hal ini masih memerlukan analisis lebih lanjut dengan memperhatikan distribusi fonem Bahasa Bali "Dialek Nusa Penida Daratan" seperti berikut. Berdasarkan data yang memiliki pasangan minimal dan lingkungan mirip, serta memperhatikan distribusi vokoid, maka dapatlah diketahui bahwa jumlah fonem vokal Bahasa Bali "Dialek Nusa Penida Daratan" ternyata sama dengan jumlah vokoid Bahasa Bali baku. Fonem-fonem tersebut adalah /i, e, a, ə, u, o/. Kalau dibandingkan dengan jumlah vokoid yang dihasilkan, maka terdapat vokoid yang merupakan variasi dari beberapa fonem tersebut. Dalam hal ini, hanya fonem /a/ tidak memiliki variasi. Memperhatikan distribusi fonem-fonem tersebut, ternyata semua fonem kecuali /a/ memiliki distribusi lengkap. Fonem /a/ hanya memiliki distribusi awal dan tengah. Berkaitan dengan distribusinya fonem-fonem tersebut menampakkan variasi. Variasi ini berbeda-beda antara OP.

Fonem /i/ dalam realisasinya [i] dan [I]. Timbulnya kedua realisasi ini bervariasi di dalam Bahasa Bali "Dialek Nusa Penida Daratan". Jika /i/ sebagai suku pertama terbuka, maka pada OP 9 & 11 realisasinya [i]. Sedangkan pada OP 1, 8, 10, 12, 13 realisasinya [I]. Demikian juga fonem tersebut menduduki distribusi akhir. Pada OP 9 & 11 realisasinya [i], sedangkan pada OP 1, 8, 10, 12, 13 realisasinya [I]. Fonem tersebut tidak menampakkan variasi realisasi di dalam Bahasa Bali "Dialek Nusa Penida Daratan" jika fonem /i/ terdapat pada suku terbuka pada kedua suku kata, yang realisasinya [i]. Demikian juga halnya apabila fonem /i/ terdapat pada suku tertutup, yang realisasinya [I]. Fonem /i/ realisasinya [i] pada OP 9 & 11, pada suku pertama terbuka dan suku terbuka pada kedua suku kata; [I] OP 1, 8, 10, 12, 13, , pada suku pertama terbuka, pada suku tertutup. Fonem /e/ memiliki realisasi [e] pada suku terbuka; [ɛ] pada suku terbuka yang diikuti suku tertutup; [E] pada suku tertutup; [aɛ] apabila suku terbuka itu sekaligus sebagai suku terakhir. Fonem /ə/ memiliki realisasi [ə] pada suku terbuka; [..] pada suku tertutup, hanya terdapat pada OP 9 dan tidak terdapat pada OP 10 karena realisasinya tetap [ə]; [a..] jika suku terbuka itu sekaligus sebagai suku terakhir. Fonem /u/ menimbulkan dua realisasi yang bervariasi di dalam Bahasa Bali "Dialek Nusa Penida Daratan": [u] pada OP 9 & 11 saja, jika pada suku pertama terbuka, dan tidak menampakkan variasi di dalam Bahasa Bali "Dialek Nusa Penida Daratan" apabila fonem /u/ terdapat pada suku terbuka pada kedua suku kata; [U] pada OP 1, 8, 10, 12, 13, yang tidak menampakkan variasi di dalam Bahasa Bali "Dialek Nusa Penida Daratan" jika fonem tersebut terdapat pada suku tertutup. Fonem /o/ memiliki realisasi [o] apabila fonem ini terdapat pada suku terbuka; [ɔ] hanya terdapat pada OP9, jika fonem ini terdapat pada suku terbuka yang diikuti suku tertutup; [O] apabila fonem /o/ terdapat pada suku tertutup; [aɔ] jika suku terbuka itu sekaligus sebagai suku terakhir.

Inventarisasi dan distribusi fonem vokal Bahasa Bali "Dialek Nusa Penida Pegunungan"

Fonem-fonem vokal Bahasa Bali "Dialek Nusa Penida Pegunungan" dapat ditemukan dengan memperhatikan terlebih dahulu data yang memiliki pasangan minimal dan data yang termasuk dalam lingkungan mirip seperti berikut ini. (integrated into table). Berdasarkan data yang memiliki pasangan minimal dan data yang termasuk dalam lingkungan mirip di atas, di dalam realisasinya ditemukan sebanyak 13 vokoid. Vokoid ini adalah [i, I, e, ɛ, E, a, ə, ɛ, u, U, o, ɔ, O]. Apakah 13 bunyi vokal seperti sebagai fonem tersendiri, hal ini memerlukan analisis lebih lanjut dengan memperhatikan distribusinya berikut ini. Berdasarkan data yang memiliki pasangan minimal dan data yang termasuk dalam lingkungan mirip, serta dilengkapi dengan memperhatikan distribusinya, dapatlah ditentukan Bahasa Bali "Dialek Nusa Penida Pegunungan" memilil jumlah vokal yang sama dengan jumlah fonem pada Bahasa Bali "Dialek Nusa Penida Daratan" dan Bahasa Bali baku. Fonem-fonem ini dalam inventarisasinya adalah /i,e,a, ə, u, o/. Memperhatikan distribusina, ternyata fonem /i, e, u, o/ memiliki distribusi lengkap. Fonem /a/ dapat berdistribusi awal dang tengah saja. Ini berarti fonem /a/ tidak memiliki distribusi akhir. Kenyataan ini memiliki persamaan dengan Bahasa Bali "Dialek Nusa Penida Daratan" dan Bahasa Bali baku. Berkaitan dengan distribusi dan posisinya di dalam suatu kata fonem /i,e, ə, u, o/ memiliki variasi. Variasi dari masing-masing fonem tersebut dapat diperhatikan dalam uraian berikut ini.

Fonem /i/ Bahasa Bali "Dialek Nusa Penida Pegunungan" memiliki realisasi [i] pada suku terbuka pada kedua suku tersebut, e.g. [gigi]; [I] jika fonem /i/ terdapat pada suku tertutup dan suku terakhir terbuka, e.g.[cIcIŋ]; [e] apabila fonem /i/ terdapat pada suku pertama terbuka. Fonem /e/ memiliki realisasi [e] apabila terdapat pada suku terbuka, e.g. [be] [ɛ] jika terdapat pada suku terbuka yang diikuti oleh suku tertutup; [E] bila terdapat pada suku tertutup, e.g. [bEt]. Fonem /ə/ memiliki relisasi [ə] jika jika fonem ini terdapat pada suku terbuka, e.g. [apə]; [...] apabila fonem ini pada suku tertutup, e.g. [b...n...h]. Kenyataan ini memiliki persamaan dengan Bahasa Bali "Dialek Nusa Penida Daratan", kecuali pada OP 9 & 10. Fonem /u/ memiliki realisasi [u] pada suku terbuka pada kedua suku ini, e.g. [kuku]; [U] pada terakhir terbuka dan pada suku tertutup, e.g. [abU], [mosUh]; [ɔ] pada suku terbuka pertama. Fonem /o/ memiliki realisasi [o] pada suku terbuka, e.g. [bo]; [ɔ] pada suku terbuka yang diikuti suku tertutup, e.g. [kɔkEr]; [O] pada suku tertutup, e.g. [cɔlO?]. Kenyataan ini memiliki persamaan dengan Bahasa Bali "Dialek Nusa Penida Daratan" dan Bahasa Bali baku, kecuali pada OP 9. Memperhatikan kedua kelompok analisis inventarisasi dan distribusi fonem vokal Bahasa Bali di Nusa Penida, ternyata dari sudut inventarisasi tidak terdapat perbedaan, demikian juga dalam hal distribusinya. Berkaitan dengan distribusi dan posisi fonem vokal di dalam kata, ternyata fonem-fonem tersebut - kecuali fonem /a/ - memiliki variasi realisasi. variasi realisasi fonem-fonem itu akan disajikan dalam sub-bab berikut, yang sekaligus akan dibuatkan berkas-berkas isoglosnya di dalam peta analisi.

Variasi realisasi fonem vokal Bahasa Bali di Nusa Penida

Fonem /i/ dan /u/ jika posisinya dalam kata sebagai pertama terbuka, maka pada OP 9&11 masing-masing realisasinya [i] dan [u], pada OP 1, 8, 10, 12, 13 realisasinya [I] dan [U] dan pada OP 2-7 [e] dan [o]. Berdasarkan realisasi kedua fonem ini Bahasa Bali di Nusa Penida dapat dikelompokkan atas tiga dialek (kelompok I, II, III). Apabila fonem /i/ dan /u/ terdapat pada distribusi akhir, maka pada OP 9&11 realisasinya [i] dan [u]. Sedangkan pada OP 1-8, 10, 12, 13 [I] dan [U]. Bedasarkan realisasi ini Bahasa Bali di Nusa Penida dapat dikelompokkan I dan II. Fonem /e/, /ə/ dan /o/ jika posisinya dalam kata sebagai suku terakhir terbuka, maka pada OP 9 masing-masing realisasinya [aɛ], [a...] dan [a]. sedangkan pada OP 1-8, 10-13 masing-masing fonem tersebut direalisasikan [e], [ə] dan [o]. Berdasarkan realisasi fonem-fonem ini Bahasa Bali di Nusa Penida dapat dibeddakan atas dua dialek. Dalam peta analisis dibedakan atas tipe I dan II. Fonem /ə/ jika posisinya dalam kata sebagai suku tertutup, maka pada OP10 realisasinya [ə]. Sedangkan pada OP 1-9, 11-13 realisasinya lebih rendah dari [ə]. Realisasi fonetis adalah [...]. Bedasarkan realisasi fonem ini Bahasa Bali di Nusa Penida dapat dibedakan atas dua dialek. Dalam peta analisis dibedakan atas tipe I dan II.

4 images

Analisis inventarisasi dan distribusi fonem konsonan Bahasa Bali di Nusa Penida

Untuk menginventarisasikan fonem-fonem konsonan Bahasa Bali di Nusa Penda, cara-cara yang telah dikemukakan di depan tetap dijadikan pegangan dalam analisis ini. Ini berarti teori yang dikemukakan Samsuri tetap dipegang teguh. Berdasarkan pengamatan sepintas, fonem-fonem konsonan Bahasa Bali dialek Nusa Pendia dalam hali inventarisasi dapat dikatakan tidak memiliki varias, dan dalam hal distribusi dapat dikatakan variasi amat kecil. Dengan demikian analisis ini tidak membedakan Bahasa Bali di Nusa Penida atas dialek pegunungan dan dialek daratan. Hal ini berarti analisis inventariasi dan distribusi fonem konsonan dijadikan satu.

Analisis inventarisasi fonem konsonan Bahasa Bali di Nusa Penida

Untuk menginventarisasikan fonem-fonem konsonan Bahasa Bali di Nusa Penida, berikut ini disajikan data yang memiliki pasangan minimal. Mengingat hanya dengan pasangan minimal tidak memungkinkan untuk menginventarisasikan bunyi konsonan tersebut, maka dalam analisis ini disajikan pula data yang memiliki lingkungan mirip*. Dari data di atasa dapatlah diinventarisasikan kontoid (bunyi-bunyi konsonan) [b, c, d, j, g, h, k, l, m, n, ñ, ŋ?, p, r, s, t, y, w,]. Apakah 19 kontoid ini terdapat berdiri sendiri sebagai fonem tersendiri, maka perlu diperhatikan distribusinya.

Analisis distribusi fonem konsonan Bahasa Bali di Nusa Penida

Berdasarkan data yang memiliki pasangan minimal dan mirip, serta memperhatikan distribusinya, maka dapat ditentukan bahaw Bahasa Bali di Nusa Penida memiliki fonem konsonan yang sama dengan jumlah fonem konsonan Bahsa Bali baku. Fonem-fonem tersebut adalah /b, c, d, j, g, h, k, l, m, n, ñ, ŋ, p, r, s, t, y, w,/. Sedangkan kontoid atau bunyi konsonan [?] hany merupakan variasi dari fonem /k/. Munculnya variasi itu apabila fonem konsonan /k/ menduduki distribusi akhir. Fonem-fonem konsonan Bahasa Bali di Nusa Penida ternyata tidak semuanya memiliki distribusi yang lengkap. Fonem konsonsn /c, j, ñ, y, w/ pada semua OP Bahasa Bali dialek Nusa Penida ternyata tidak dapat mendudki posisi akhir. Kenyataan ini sama dengan Bahasa Bali baku (Bagus, 1975:75 & Jendra, 1979:20). Sedangkan fonem-fonem lainnya dapat menduduki posisi terakhir, kecuali khusus pada OP 9 fonem konsonan bilabial /p, b, m/ secara fonetis tidak pernah menduduki posisi terakhir. Fonem-fonem tersebut dalam realisasinya kedudukan masing-masing diganti oleh kontoid [t, d, n]. Untuk memperkuat pernyataan ini, berikut disajikan contoh-contoh yang mempunyai relevansi dengan uraian tersebut. Perlu diketahui bahwa beberapa contoh ini dapat dilihat dalam peta acuan, dan selebihnya merupakan data yang belum didapatkan, e.g. [alap/alat], [raab/daad], [gul...m/gul...n]. Fonem konsonan /h/ yang dalam Bahasa Bali baku hampir dapat dikatakan tidak memiliki distribusai awal dan tenhag. Ternayata dalam Bahasa Bali di Nusa Nusa Penida hal tersebut hanya terdapat pada OP 1, 8-13. Sedangkan pada OP 2-7 fonem konsonak /h/ ternyata memiliki distribusi langkap. Dapat menduduki distribusi awal, tengah dan akhir. Pernyataan ini dapat diperkuat dengan memperhatikan contoh-contoh berikut.

OP 1. 8-13 OP 2-7 Indonesian
[pana?] [hana?] anak
[kEŋkEn] [hEŋkEn] bagaimana
[ənto] [hento] itu
[UyUt] [hoyUt] ribut
[baas] [bəhas] beras
[baaŋ] [bəhaŋ] beri
[baat] [bəhat] berat
[tUh] [tohUh] kering

Fonem-fonem lainnya, kecuali fonem konsonan nasal /ñ, m, n, ŋ/ pada OP9 (Lembongan) memiliki distribusi di tengah kata. Pada OP9 fonem nasal (sengau) ini apabila menduduki posisi di tengah kata sebagai suku kata pertama, kemunculannya sangat dipengaruhi suku kata berikutnya. Hal tersebut dapat dijelaskan pada alenia-alenia berikut ini. Pada OP9 munculnya fonem nasal tersebut di tengah kata apabila suku kata berikutnya diawali konsonan bersuara - lihat pembagian konsonan berdasarkan bergetar tidaknya selaput suara (Jendra, 1980:17) - yang seartikulasinya dengan masing-masing fonem nasal tersebut. Dengan demikian rumusannya adalah sebagai berikut: a) munculnya fonem nasal /ñ/ di tengah kata sebagai suku pertama tertutup, apabila suku kata berikutnya adalah fonem konsonan bersuara /j/, e.g. [pEñjOr] 'penjor', [tañjUŋ] 'tendang/kick', [sañja...] 'senja/dusk'; b) munculnya fonem nasal /m/ di tengah kata sebagai suku pertama tertutup, apabila suku kata berikutnya adalah fonem konsonak bersuara /b/, e.g. [tEmbEl] 'tambal/repair', [sambUŋ] 'menyambung/continue', [tImba...] 'timba/pail'; c) munculnya fonem nasal /n/ di tengah kata sebagai suku pertama tertutup, apabila suku kata berikutnya adalah fonem konsonan bersuara /d/, e.g.[təndas] 'kepala/head', [məsanda] 'bermain/play', [tUndu] 'punggung/back'; d) munculnya fonem nasal /ŋ/ di tengah kata sebagai suku pertama tertutup, apabila suku kata berikutnya adalah fonem konsonan bersuara /g/, e.g. [bOŋga...] 'bangga/proud', [jEŋgOt] 'jenggot/beard', [saŋgah] 'tempat suci keluarga/family shrine'.

Sedangkan ketidakmunculan fonem nasal /ñ, m, n, ŋ/ di tengah kata pada OP9 (Lembongan), apabila suku kata berikutnya diawali fonem konsonak tak bersuara yang seartikulasi dengan masing-masing fonem nasal tersebut. Dengan demikian dpaat dirumuskan spserti berikut ini: a) tidak munculnya fonem nasa /ñ/ di tengah kata sebagai suku pertama tertutup, apabila suku kata berikutnya diawali fonem konsonan tak bersuara /c/, e.g. [pañcIŋ] 'pancing/angle Op 1-8, 10-13; [pacIŋ] di Lembongan; [kañcIŋ] 'kancing/button' Op 1-8, 10-13; [kacIŋ] di Lembongan; [bañcIh] 'banci/effeminate' di Op 1-8, 10-13; [bacIh] di Lembongan; b) tidak munculnya fonem nasal /n/ di tengah kata sebagai suku pertama tertutup, apabila suku kata berikutnya diawali fonem konsonan tak bersuara /t/, e.g. [sampi] 'sapi/cow' di OP1-8, 10-13, [sapi] di Lembongan;[tImpas] 'sejenis golok untuk meluruskan kayu/ short machete to straighten out wood' di OP1-8, 10-13, [tipas] di Lembongan; [kampId] 'sayap/wing' di OP1-8, 10-13, [kapId] di Lembongan; c) tidak munculnya fonem nasa /n/ di tengah kata sebagai suku pertama tertutup, apabila suku kata berikutnya diawali fonem konsonan tak bersuara /t/, e.g. [tantaŋ] 'menantang/challenge' di PO 1-8, 10-13 dan [tataŋ] di Lembongan; [lantaŋ] 'panjang/long' di PO 1-8, 10-13 dan [lataŋ] di Lembongan; [gantUŋ] 'gantung/hang' di PO 1-8, 10-13 dan [gatUŋ] di Lembongan; d) tidak munculnya fonem nasa /ŋ/ di tengah kata sebagai suku pertama tertutup, apabila suku kata berikutnya diawali fonem konsonan tak bersuara /k/, e.g. [tuŋke?d] 'tongkat/stick' di PO 1-8, 10-13 dan [tuke?d] di Lembongan; [kEŋkEn] 'bagaimana/how' di PO 1-8, 10-13 dan [kɛkEn] di Lembongan; [baŋkUŋ] 'induk babi/sow' di PO 1-8, 10-13 dan [baŋkUŋ] di Lembongan.

Semua fonem konsonan kecuali fonem /h/ pada OP2-7 dan fonem /c/ di Lembongan dapat menduduki distribusi awal. Fonem /h/ pada PO2-7 telah diuriaikan di atas. Sedangkan fonem /c/ pada posisi awal di Lembongan memiliki ciri khas. Kekhasan tersebut dapat diperhatikan dalam uraian berikut ini. Fonem /c/ pada posisi awal di Lembongan hanya dapat muncul apabila kedua kata atau suku pertama dan suku kedua kata tersebut dimulai fonem /c/, e.g. [cucu] 'nenek/granny', [cəc...] 'cecak/spot or house lizard?', [cicIŋ] 'anjing/dog'. Sedangkan bila fonem /c/ pada posisi awal tidak diikuti suku yang diawali konsonan /c/, maka realisasi fonem /c/ tersebut akan diganti kedudukannya kontoid /s/, e.g. [cɔlO?] 'korek api/lighter' di TP1-8, 10-13, [sɔlO?] di Lembongan; [cUŋUh] 'hidung/nose' di OP 1-8, 10-13, dan [sUŋUh] di Lembongan; [cɛlEŋ] 'celeng/wild boar' di OP 1-8, 10-13, dan [sɛlEŋ] di Lembongan; [cɛdO?] 'alat untuk mengambil air/scoop' di OP 1-8, 10-13, dan [sɛdO?] di Lembongan; [capUŋ] 'capung/dragonfly' di OP 1-8, 10-13, dan [sapUŋ] di Lembongan.

Memperhatikan analisis tentang inventarisasi dan distribusi fonem konsonan Bahasa Bali di Nusa Penida, ternyata dari (page 74 is missing...). Dengan demikian, variasi yang diuraikan di atas dapat gigambarkan dalam dua peta analisis. Sebuah peta berupa variasi realisasi, dan sebuah lagi berupa variasi distribusi fonetisnya. Dalam peta analisis di bawah ini, variasi tersebut dibedakan atas tipe I & II.

Berdasarkan realisasi fonem /c/ pada distribusi awal, Bahasa Bali di Nusa Penida dapat dibedakan atas dua bagian dialek. 1) Pada OP 9 fonem /c/ direalisasikan [s]. Realisasi ini hanya muncul apabila suku kedua tidak diawali konsonan /c/. Jika kedua suku kata diawali fonem konsonan /c/, maka realisasi fonem konsonan /c/ pada distribusinya tetap [c]; 2) Pada Op 1-8, 10-13 fonem konsonan /c/ tetap muncul pada distribusi awal, tanpa dipengaruhi suku kata kedua. Perhatikan peta analisis di bawah ini yang dibedakan atas tipe I & II.

Bedasarkan distribusi fonem konsonan nasal /ñ, m, n, ŋ/ pada distribusi tengah, Bahasa Bali di Nusa Penida dapat dibedakan atas dua bagian dialek. 1) Di Lembongan fonem nasal /ñ, m, n, ŋ/ kemunculannya sangat dipengaruhi suku kata berikutnya. Fonem-fonem tersebut hanya bisa muncul pada distribusi tengah sebagai bagian suku pertama, apabila suku kata berikutnya diawali fonem konsonan bersuara yang artikulasinya dengan masing-masing fonem konsonan nasal tersebut. Jika suku kata berikutnya adalah fonem konsonan tak bersuara yang seartikulasi dengan masing-masing fonem konsonan nasal tersebut, maka fonem-fonem nasal itu haus; 2) Pada Op 1-8, 10-13 fonem konsonan nasal /ñ, m, n, ŋ/ sebagai bagian suku pertama tetap muncul tanpa dipengaruhi suku kata berikutnya, Perhatikan peta analisis di bawah ini yang dibedakan atas tipe I & II.

Berdasarkan distribusi fonem konsonan /h/, Bahasa Bali di Nusa Penida dapat dibedakan atas dua kelompok (dialek): 1) Pada OP1, 8-13 fonem konsonan /h/ hanya dapat menduduki distribusi akhir; 2) Pada OP2-7 fonem konsonan /h/ memiliki distribusi lengkap. Dapat menduduki distribusi awal, tengah dan akhir. Perhatikan peta analisis di bawah ini yang dibedakan atas kelompok I & II.

Kesimpulan

Seluruh uraian yang panjang lebar pada bagian analisis dapat dirangkum kembali bentuk kesimpulan. Kesimpulan ini disajikan untuk memahami bagian-bagian penting yang menonjol tentang Bahasa Bali di Nusa Penida. Sesuai dengan jangkauan karya tulis dan hasil analisis, uraian berikut akan menyajikan kesimpulan tentang inventarisasi fonem, variasi realisasi fonem dan variasi distribusi fonem Bahasa Bali di Nusa Penida.

Inventarisasi fonem

Bahasa Bali di Nusa Penida pada semua titik pengamatan ternyata memiliki jumlah fonem vokal dan konsonan yang sama dengan jumlah fonem vokal dan konsonan Bahasa Bali baku. Fonem vokalnya /p, b, m, t, d, n, r, s, l, c, j, ñ, y, w, k, h, g, ng/. Dengan demikian, dari sudut inventarisasi fonem, Bahasas Bali di Nusa Penida tidak menempakkan adanya variasi. Kendatipun tidak terdapat variasi dalam bidang inventarisasi fonem, berdasarkan realisasi fonem dan distribusi fonemnya, Bahasa Bali di Nusa Penida menunjukkan adanya beberapa variasi. Variasi-variasi tersebut akan disajikan dalam kesimpulan (subbab) berikut.

Variasi realisasi fonem vokal

1) Berdasarkan realisasi fonem vokal /i/ dan /u/ yang terdapat pada suku pertama terbuka, Bahasa Bali di Nusa Penida dapat dikelompokkan atas tiga bagian: a) pada OP 9 & 11 realisasi kedua fonem tersebut, masing-masing [i] dan [u]; b) pada OP 1, 8, 10, 12, 13 realisasi kedua fonem tersebut, masing-masing [I] dan [U]; c) pada OP 2-7 realisasi kedua fonem tersebut, masing-masing [e] dan [o]. 2) Berdasarkan realisasi fonem vokal /i/ dan /u/ bila terdapat pada distribusi akhir, Bahasa Bali di Nusa Penida dapat dikelompokkan atas dua bagian: a) pada OP 9 dan 11 realisasi kedua fonem tersebut, masing-masing [i] dan [U]; b) pada OP 1-8, 10, 12, 13 realisasi kedua fonem tersebut, masing-masing [I] dan [U]. Catatan: kesimpulan (1) pada butir (b) dan (c), dan kesimpulan (2) pada butir (b) tidak berlaku apabila fonem /i/ dan /u/ terdapat pada suku terbuka pada kedua suku kata bersangkutan. 3) Berdasarkan realisasi fonem vokal /e/, /∂/, dan /o/ pada distribusi akhir, Bahasa Bali di Nusa Penida dapat dibedakan atas dua bagian: a) pada OP 9 realisasi fonem-fonem tersebut, masing-masing adalah [a??], [a?], dan [aO]; b) pada OP 1-8, 10-13 realisasi fonem-fonem tersebut, masing-masing [e], [∂] dan [o]. 4) Bedasarkan realisasi fonem vokal /∂/ pada suku kata tertutup, Bahasa Bali di Nusa Penida dapat dibedakan atas dua bagian: a) pada OP 10 realisasinya [∂]; b) pada PO 1-9, 11-13 realisasinya lebih rendah, yaitu [g?].

Variasi realisasi fonem konsonan

1) Berdasarkan realisasi fonem konsonan /p, b, m/ pada distribusi akhir, Bahasa Bali di Nusa Penida dapat dibedakan atas dua bagian: a) pada OP 9 fonem-fonem tersebut, masing-masing realisasinya adalah [t, d, n]; b) pada OP 1-8, 10-13 fonem-fonem tersebut, masing-masing realisasinya adalah [p, b, m]. 2) Akibat dari kesimpulan di atas (1), Basaha Bali di Nusa Penida dapat dibedakan atas dua bagian: a) pada OP 9, fonem konsonan /p, b, m/ secara fonetis [p, b, m] tidak pernah menduduki distribusi akhir; b) pada OP 1-8, 10-13, fonem konsonan /p, b. m/ pada distribusi akhir secara fonetis tetap [p, b, m]. 3) Bedasarkan kdistribusi fonem konsonan nasal /ñ, m, n, ng/ di tengah kata sebagai suku pertama tertutup, yang suku kata berikutnya diawali oleh konsonan tak bersuara seartikulasi dengan masing-masing fonem konsonan nasal tersebut, Bahasa Bali di Nusa Penida dapat dibedakan atas dua bagian: a) pada OP 9, fonem-fonem konsonan nasal tersebut haus; b) pada OP 1-8, 10-13, fonem-fonem konsonan nasal tersebut utuh.

Source

  • Madia, I Made – Variasi sistem fonologi bahasa Bali di Nusa Penida: sebuah kajian dialektologi struktural; 1984; Balai Penelitian Bahasa, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Singaraja; 9 pp.

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24