Morfologi Bahasa Bali Dialek Nusa Penida (Darma Laksana, 1977)

Guru Besar I Ketut Darma Laksana, Departemen Bahasa, Jurusan Sastra di Universitas Udayana, Denpasar-Bali (Agustus 2013), telah membagi dengan penulis tesisnya mengenai Dialek Nusa Penida, tertanggal 27 Mai 1977. Beliau membicarakan, antara lain, persamaan dan perbedaan Dialek Nusa Penida kalau dibandingkan dengan Bahasa Bali Baku. Peninjauan tambahan oleh penulis Godi Dijkman dimasukkan pada kurung 'square brackets'.

1.1 Permasalahan (p.1)

darmalaksana 1977 map 58

Nusa Penida merupakan sebuah pulau dengan daerah kecamatan sendiri yang memiliki dialek bahasa yang dapat digolongkan sebagai Dialek Bali Aga (Wayan Jendra dkk, 1976:230). Sampai saat ini perhatian orang (baik para linguis maupun para peminat bahasa) boleh dikatakan sangat kurang perhatianya terhadap dialek bahasa di pulau Nusa Penida itu. Beberapa penelitian maupun kegiatan yang menyangkut selain bidang bahasa, memang telah banyak dilakukan orang seperti: percobaan pembibitan sapi perah, penanaman sorgum, penelitian kesehatan dan lain-lainnya. Di dalam pertumbuhan dan perkembangannya, bahasa-bahasa daerah mempengaruhi dan pada waktu yang sama, dipengaruhi oleh bahasa nasional, bahasa-bahasa daerah lain dan bahasa-bahasa asing tertentu sebagai akibat meningkatnya penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia, bertambah lancarnya hubungan antar daerah, dan meningkatnya arus perpindahan penduduk serta jumlah perkawinan antar suku (Amran Halim, 1974:143). Mengingat hal-hal tersebut di atas, adalah suatu permasalahan yang mendesak, bahwasanya dialek bahasa di pulau Nusa Penida itu harus segera diselidiki dan didokumentasikan. Lebih jauh mengingat bahwa sikap dan loyalitas penutur Dialek Bali Aga kurang sekali terhadap bahasanya (Wayan Jendra dkk, 1976:204).

1.2 Latar Belakang Kebahasan (p.2)

Penutur Dialek Nusa Penida terdapat di Melaya (Jembrana), di beberapa daerah transmigrasi: di Sumatra Selatan, Kalimantan, Sulawesi Tengah dan Tenggara. Penutur Dialek Nusa Penida yang paling besar jumlahnya terdapat di pulau Nusa Penida. Pulau Nusa Penida terletak di sebelah tenggara pulau Bali, merupakan pulau yang terbesar yang ada di sekitar kawasan pulau Bali dengan luas 414 km2. Pulau Nusa Penida termasuk Daerah Tingkat II Klungkung. Perhubungan dari dan ke Nusa Penida kurang begitu lancar. Jarak yang terdekat dari pulau Bali ke Nusa Penida dapat ditempuh lewat pantai Kusamba dengan motor boat lebih kurang dua jam perjalanan. Perhubungan di dalam pulau sendiri antar beberapa desa memang telah dihubunbgkan dengan jalan raya, namun sebagian lagi belum dapat dilalui dengan mobil. Pulau Nusa Penida merupakan satu daerah kecamatan dengan ibu kotanya Sampalan. Dua buah pulau di sekitarnya yang termasuk kecamatan Nusa Penida yaitu: pulau Nusa Lembongan dan pulau Nusa Ceningan. Menurut sensus penduduk tahun 1971, kecamatan Nusa Penida yang terdiri atas 13 desa berpenduduk 49,102 jiwa, dengan perincian sebagai berikut:

No. Nama Perbekel KK

Umur 0-6

Umur 7-17

Umur 18-45

Umur 46 -

Jumlah

1. Batununggul 680 792 1625 1312 332 4041
2. Suana 712 825 2530 2833 862 7050
3. Tanglad 325 346 925 785 325 2389
4. Sekartadji 310 333 825 790 86 2025
5. Batukandik 695 751 2362 1450 460 5023
6. Batumadeg 330 655 675 962 91 2383
7. Klumpu 517 670 567 1655 693 3585
8. Ped 685 714 1708 1237 228 4098
9. Kutampi 501 775 2747 1222 422 5146
10. Sakti 692 732 2629 2615 710 6686
11. Lembongan 541 628 1702 1310 197 3837
12. Jungutbatu 313 595 912 910 162 2579
13. Toyapakeh 78 87 88 66 19 260
Jumlah   6739 7903 20,093 17,148 4347 49,102

(p.3) Image left: Number of inhabitants according to 1971 census (Source: Statistik 1971 at Subdistrict's Office (Sampalan?) Nusa Penida. Legenda: No. = number; KK (Kepala Keluarga) = family heads

Masyarakat kecamatan Nusa Penida sebagian besar penganut agama Hindu (Hindu Dharma). Agama lainnya yang ada hanya agama Islam dengan jumlah penganutnya lebih kurang 200 orang. Orang-orang beragama Islam ini mendiami desa (kampung) Toyapakeh yang letakjnya di pinggir pantai (pelabuhan). (p.4) Penduduk kecamatan Nusa Penida sebagian besar mempergunakan Dialek Nusa Penida. Kecuali pulau Nusa Lembongan dan pulau Nusa Ceningan (Lihat pembicaraan selanjutnya). Kemudian menyusul pemakaian Bahasa Bali Dialek Klungkung yang hanya dipergunakan oleh orang-orang Islam yang mendiami desa (kampung) Toyapakeh. Pemakaian Bahasa Bali Dialek Klungkung oleh orang-orang desa (kampung) Toyapakeh itu, kemungkinan besar disebabkan oleh pengaruh pergaulan yang datangnya dari desa (kampung) Islam Kusamba. Di samping memang orang-orang Islam Kusamba ini banyak yang menetap di desa (kampung) Islam Toyapakeh. Sedangkan pemakaian bahasa Indonesia, lebih-lebih bahasa asing boleh dikatakan jarang dipergunakan.

1.3 Metode

Dalam membicarakan tentang Morfologi Bahasa Bali Dialek Nusa Penida, dipergunakan methode deskripsi dan analisa dengan beberapa tehnik pengumpulan data sebagai berikut: 1. Menterjemahkan: Daftar leksikestatistik atau kata daftar swadesh serta kata-kata yang berasal dari nama alat-alat: rumah tangga, pertanian, pertukangan dan nelayan, penulis ajukan kepada informan untuk mencari arti kata yang bersangkutan; 2. Wawancara: selain pertanyaan lisan berupa kata dan kalimat-kalimat lepas, percakapan yang langsung dan leluasa dapat (p.5) membantu penulis dalam melengkapi data-data. Kadangkala, jawaban atas pertanyaan itu dapat diulangi beberapa kali; 3. Introspeksi: yang dimaksudkan yaitu melakukan penyelidikan serta mencocokkan data pada diri sendiri sebagai penutur asli Dialek Nusa Penida; 4. Pencatatan: Pelaksanaan pencatatan ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang lebih konkrit yang berhubngan dengan permasalahan. Dalam hal ini penerimaannya bukan saja sengaja menemui informan, malainkan secara kebetulan bertemu di pasar, ladang, pantai (pelabuhan) dan banyak tempat lainnya lagi. Demikian data yang telah diperoleh dengan beberapa tehnik pengumpulan data itu, dibuatkan deskripsi dan analisa berdasarkan teori linguistik strukturil.

1.4 Lokasi / Location

Perhubungan di dalam pulau Nusa Penida antar beberapa desa masih kurang lancar. Beberapa desa memang telah dihubungkan dengan jalan raya, namun sebagian lagi belum dapat dilalui dengan mobil. Perhubungan yang agak lancar hanya desa-desa yang terletak di pesisir pantai seperti: desa Batununggul, Kutampi, Suana, Ped dan Toyapakeh. Sedangkan perhubungan desa-desa yang terletak di daerah pegunungan masih kurang lancar, seperti: desa Sekartaji, Tanglad, Batukandik, Batumadeg, Sakti dan Klumpu. Jadi, (p.6) apabila orang-orang yang berada di daerah pegunungan hendak pergi ke kota kecamatan (Sampalan) atau ke pasar (Mentigi dan Toyapakeh), maka memerlukan waktu berjam-jam lamanya dengan berjalan kaki.

Berdasarkan situasi perhubungan yang telah disebutkan di atas, maka sampel yang diambil dalam penlitian ini untuk mewakili Dialek Nusa Penida adalah desa Ped, berdasarkan pertimbangan sebagai berikut: 1) Semua desa yang merupakan penutur Dialek Nusa Penida mempunyai perbendaharaan kata-kata yang sama, tetapi masing-masing berbeda dalam hal lagu kalimat; 2) Desa Ped tidak terlalu terpengaruh oleh penutur bahasa luar dibandingkan desa Batununggul yang merupakan pusat perdagangan dan lebih dekat dengan kota kecamatan serta lebih maju dalam bidang pendidikan; 3) Desa Ped mudah dijangkau, dengan demikian ada penghematan dalam faktor biaya, waktu dan tenaga. Tujuh kilometer dari kota Sampalan ke barat dengan melintasi desa Kutampi, berjumpalah dengan desa Ped, yaitu daerah bekas kerajaan Dalem Bungkut dan yang sekarang menjadi desa asal penulis. Desa Ped dengan luas 290,75ha tanah kering, berbataskan: di sebelah utara Selat Badung, di sebelah timur desa Kutampi, di sebelah selatan desa Klumpu dan di sebelah barat desa (kampung) Islam Toyapakeh. Dari sekian jumlah penduduk desa Ped, sebagian besar hidup bertani. Hanya beberapa orang saja yang berpenghidupan lain sperti: dagang, nelayan, tukang dan pegawai. Desa Ped yang terdiri atas 10 banjar, berpenduduk sebanyak 4098 jiwa dengan perincian sebagai berikut:

No. Nama Banjar KK

Umur 0-6

Umur 7-17

Umur 18-45

Umur 46 -

Jumlah

1. Adegan 98

55

97 240 33 415
2. Bisung 102 142 251 383 44 820
3. Pendem 71 90 201 111 15 417
4. Bodong 49 26 41 99 10 176
5. Seming 49 37 56 60 17 170
6. Serangen 59 41 136 71 27 275
7. Perapat 27 23 39 21 7 90
8. Tanahbias 38 45 48 35 10 138
9. Nyuh 59 65 39 25 21 150
10. Sental 133 290 800 197 59 1346
Jumlah   658 714 1708 1237 228 4098

(p.7) Image: Number of inhabitants in the 10 banjars of Ped, according to 1971 census (Source: Satistik 1971 at Subdistrict's Office (Sampalan?) Nusa Penida. Legenda: No. = number; KK (Kepala Keluarga) = family heads

1.5 Jangkauan

Pembicaraan tentang Morfologi bahasa Bali Dialek Nusa Penida ini berisi tiga bab. Bab I adalah Pendahuluan. Bab ini merupakan bab pertama yang berisi tentang: Permasalahan, Latar Belakang Kebahasan, Methode, Lokasi dan (p.8) Jangkauan. Dalam Bab II, berisi keseluruhan dari isi pembicaraan. Dalam bagian ini sisin ggung antara lain: Sistim Fonim Dualek Nusa Penida, Pengertian Morfologi, Pengertian Dialek dan Dialek Nusa Penida. Selanjutnya morfologi memberikan gambaran tentang bentuk-bentuk kata Dialek Nusa Penida, perulangan, pemajemukan dan sedikit tentang proses morfofonemik dalam Dialek Nusa Penida. Mengingat bahwa Dialek Nusa Penida bersumber kepada bahasa Bali, maka uraian disertai dengan beberapa persamaan dan perbedaan dalam bidang morfologi antara Dialek Nusa Penida dengan bahasa Bali Baku. Dalam Bab III, uraian ini disertai beberapa lemapiran, bibliografi, daftar informan dan indeks.

Bab II: Morfologi Bahasa Bali Dialek Nusa Penida (p.9) - II. O. Sekilas tentang Sistem Fonim Dialek Nusa Penida (p.9)

Di samping memang yang menjadi sasaran utama karangan ini adalah dalam bidang morfologi, namun perlu juga di sini diungkapkan sekilas tentang sistem fonim Dialek Nusa Penida. Sistem fonim Dialek Nusa Penida sama dengan sistem fonim bahasa Bali (Lihat: Wayan Jendra "Fonologi Bahasa Bali" 1976, 9-23). Letak perbedaanya adalah: a. Dalam Bahasa Bali tidak ada fonim /h/ pada distribusi awal, tetapi dalam Dialek Nusa Penida fonim /h/ tersebut cukup banyak didapatkan pada distribusi awal; b. Beberapa kata dalam bahasa Bali yang dimulai dengan fonim vokal /i/ dan suku pertama terbuka /i/, tetapi dalam Dialek Nusa Penida dengan fonim vokal /e/; c. Beberapa kata dalam bahasa Bali yang dimulai dengan vokal /u/ dan suku pertama terbuka /u/, tetapi dalam Dialek Nusa Penida dengan fonim vokal /o/. Mengenai distribusi fonim-fonim: /h/, /e/ dan /o/ Dialek Nusa Penida tersebut, lihat Wayan Jendra dkk. "Sebuah Deskripsi tentang Latar Belakang Sosial Budaya Bahasa Bali, 1976, 231-234.

II.1. Pengertian Morfologi

Morfologi ialah cabang daripada Ilmu Bahasa yang (p.10) membicarakan seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap fungsi dan arti kata (M.Ramlan, 1976:1). Unit yang paling kecil yang menjadi bidang penelitiannya ialah morfim dan yang palng besar ialah kata (M.Ramlan, 1976:3). Sedangkan yang dimaksud dengan morfim ialah bentuk yang paling kecil, bentuk yang tidak mempunyai bentuk lain sebagai unsurnya. Dalam bahasa Indonesia misalnya bentuk-bentuk: rumah, sepeda, jalan, ber-, me-, di-, adalah morfim. Morfim, kadang-kadang memiliki pengertian yang sama dengan kata. Bentuk-bentuk seperti: rumah, jalan, tanah, yang terdri atas satu morfim masing-masing merupakan satu kata. Jadi yang dimaksud dengan kata ialah bentuk bebas paling sedikit atau setiap satu bentuk bebas merupakan satu kata (M.Ramlan, 1976:7).

Di samping pengertian yang telah diberikan di atas, morfologi sebagai obyek linguistik banyak didefenisikan pula oleh para sarjana dan ahli Ilmu Bahasa yang pada dasarnya tidak memenunjukkan perbedaan secara prinsipiil: 1. E.A. Nida memberikan definisi sebagai berikut: ilmu yang mempelajari tentang morfim serta aturan-aturannya dalam pembentukan kata disebut morfologi (E.A.Nida, 1962:1); 2.T.W.Kamil memberikan definisi sebagai berikut: hubungan antara morfim yang satu dengan morfim yang lain atau antara varian-varian morfim disebut morfologi (T.W.Kamil, 1961:60).

II.2 Pengertian Dialek (p.11)

Kalau diperhatikan pemakaian perorangan suatu bahasa, maka akan tampak bahwa setiap orang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang yang lain, walaupun mereka semua adalah anggota-anggota dari suatu masyarakat bahasa (Gorys Keraf, 1973:15). Dari pemakaian yang bersifat perorangan ini menimbulkan keistimewaan yang tertentu yang dinamakan idiolek, dan bila keistimewaan yang tertentu yang dinamakan idiolek, dan bila keistimewaan ini ternyata dimiliki olkeh sekelompok saja dari seluruh masyarakat bahasa itu, maka kelompok itu dinamakan dialek (Samsuri, 1971:19)

Bila keistimewaan yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat bahasa itu dihubungkan dengan tempat atau daerah (geografi), yang menggambarkan persebaran wilayah pemakai dan pemakaiannya secara garis besar disebut dialek geografi. Misalnya bahasa Bali secara garis besar mimiliki duah buah dialek yaitu: Dialek Bahasa Bali Daratan dan Dialek Bahasa Bali Pegunungan atau Dialek Bali Aga (Wayan Jendra dkk, 1976:178). Selanjutnya bila keistimewaan yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat bahasa itu dipergunakan dalam lingkungan atau kelas masyarakat tertentu disebut dialek sosial. Misalnya pemakaian bahasa oleh golongan pegawai berbeda dengan bahasa yang dipakai oleh golongan buruh dan berbeda pula dengan bahasa yang dipakai oleh golongan tani (Wayan Jendra dkk, 1976:252).

II.3 Dialek Nusa Penida

Nusa Penida merupakan sebuah pulau dengan daerah kecamatannya (p.12) sendiri yang memiliki dialek bahasa yang dapat digolongkan sebagai Dialek Bali Aga. Perbedaannya dengan ciri Dialek Bali Aga yang lain adalah mulai menghilangnya distribusi fonim /a/ pada distribusi akhir, namun ciri kebahasaan Dialek Bali Aga yang lain masih dapat dilihat pada ciri (Wayan Jendra dkk, 1976:230) sebagai berikut: 1. Masih produktifnya distribusi fonim /h/ pada distribusi awal dan tengah; 2. Masih produktifnya sufiks /-ñə/ dan /-cə/ yang merupakan alomorf dari sufiks {-ə}; 3. Intonasi pembicaraan dengan tempo yang cepat dan tekanan dinamik yang relatif lebih keras; 4. Kosa Kata dialektis yang mirip dengan kosa kata dari Dialek Bali Aga yang lain. Di bawah ini akan disajikan beberapa kosa kata Dialek Nusa Penida yang akan ditulis dengan 'ejaan fonemis' serta terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Cara semacam ini akan dipakai dalam uraian selanjutnya.

Di muka telah dikatakan bahwa pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan di dalam sistim komunikasinya tidak mempergunakan Dialek Nusa Penida, walaupun secara administratif termasuk dalam kecamatan Nusa Penida. Di dalam hubungan ini, ada baiknya diuraikan sedikit tentang dialek yang terdapat di pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan tersebut. Pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan tergolong juga sebagai penutur Dialek Bali Aga (Wayan Jendra dkk, 1976:196). Letak kedua pulau ini kurang lebih setengah jam perjalanan dengan motor boat dari pelabuhan Toyapakeh (Nusa Penida). Menurut pengamatan penulis, kedua pulau ini memiliki persamaan dalam bidang kebahasaan yang dalam uraian ini akan disebut "Dialek Nusa Lembongan" saja, di samping memang pulau Nusa Ceningan termasuk dalam desa Lembongan. Perbedaanya dengan Dialek Nusa Penida, tidak hanya dalam hal intonasi tetapi juga dalam hal pembendaharaan kata-katanya, sebagian besar berbeda. Namun demikian, masih juga dapat dimengerti jika penutur Dialek Nusa Penida mendengarkan percakapan penutur Dialek Nusa Lembongan. Demikian pulalah sebaliknya. Hal ini mungkin (p.16) disebabkan oleh perhubungan yang agak dekat, sehingga komunikasi pun akan sering terjadi. Di bawah ini akan disajikan beberapa kosa kata yang berasal dari Dialek Nusa Lembongan yang akan dijajari dengan dialek Nusa Penida.

Tabel di bawa: kosakata Dialek Lembongan & kosakata Dialek Nusa Penida (integrated tables (p.12, 16-17)

Dialek Nusa Penida Dialek Nusa Lembongan Bahasa Indonesia
/abəken/
/amotcen/ seberapa
/ahuban/ /əkəbaŋ/ sembunyikan
/akekit/ /abədik/ sedikit
/asebak/   sebelah
/awahi/ /awai/ sehari
/abañə/   dibawa
/babar/   tepat, kok
/baŋkag/   kenyang

/bətək/

/warəg/ kenyang
/bəhaŋ/   beri
/bəhat/ /baat/ berat
/betoə/
  digali
/betəh/   balik
/caŋkok/ /kau-kau/ tempurung, ke-
/ceciŋ/ /kuluk/ anjing
/cototoə/   dipatuk
/cəlekuh/   terus ikut
/dakəp/ /dakət/ tangkap
/copək/   sempit
/dento/ /ditu/ di situ
/daki/   kotor
/deŋəh/   dengar
/deŋin/   dingin
/dundunñ ə/   dibangunkan
/edə/ /cai/ engkau
/edup/ /idut/ hidup
/əndək/ /tusiŋ/ tidak
/ekuh/   ekor
/enəm/ /inən/ minum
/esəp/   isap
/gələŋ/ /cənik/ kecil
/gresik/   sekedar makan
/gaŋsuran/ /cacah/ ketela parut, cacah
/hanak/ /panak/ anak
/haninə/   lelakinya
/halə/   tetapi
/he/ /liu/ banyak
/həb/   potong
/həŋken/ /kenken/ bagaimana
/heman/   pagi-pagi
/həntə/   begitu
/hud/   kelapa muda
/jaən/   enak
/jədig/   kurang sopan
/jalikan/   perapian
/jam/ /jan/ arloji
/jahum/ /jaun/ jarum
/jəlap/ /jəlat/ sengaja
/kahətoə/   digigit
/kolə/   aku
/kenaŋ/   agar jangan
/lakun/   karena
/lancuh/   mencret
/lasyə/   sampai hati
/mampəh/   terbang
/masəh/   mencuci
/mataŋ/ /nəŋil/ diam
/mətahiŋ/ /məkəntə/ tidak makan-makan
/m ədəm/ /mədən/ tidur
/mempug/   melempar
/məsiŋ/ /misiŋ/ mencret
/nebot/   kiri
/neŋəh/ /niŋəh/ mendengar
/ñəpit/   menjepit
/ñətoə/   kemauannya
/ñano/   siapa gerangan
/orəg/   berkelahi
/osap/ /usat/ gosok
/oyah/   garam
/ojan/ /ujan/ hujan
/oluŋ/ /uluŋ/ jatuh
/pəhəs/ /pəəs/ ludah
/paon/ /poon/ dapur
/pedan/ /pidan/ kapan
/pəlancah/   pelayan
/pəcut/   cemeti
/səbak/   buka
/sabrut/   kacau
/serah/ /dur/ kepala
/tanəm/ /tanən/ tanam
/takəp/ /takət/ tutup
/tənəs/   lahap
/təhuŋ/   terung
/timpas/   parang
/tolaŋ/ /tulaŋ/ tulang
/toyuh/ /tuyuh/ lelah
/tundenñə/
  disuruh

Melihat kosa kata dari kedua dialek yang telah disebutkan di atas, betapa terlihat adanya perbedaan dalam kata-katanya, walaupun memiliki persamaan makna. Di samping itu terlihat juga perbedaan dalam fonim-fonimnya segabai berikut: (p.18) 1. Dalam Dialek Nusa Penida masih didapatkan fonim /h/ pada posisi awal dan tengah tetapi dalam Dialek Nusa Lembongan fonim /h/ pada posisi tersebut tidak ada; 2. Fonim /m/ pada akhir kata Dialek Nusa Penida ternyata dalam Dialek Nusa Lembongan dengan /n/; 3. Fonim /p/ pada akhir kata Dialek Nusa Penida dalam Dialek Nusa Lembongan dengan fonim /t/; 4. Beberapa kata Dialek Nusa Lembongan yang dimulai dengan fonim vokal /i/ dan suku pertama terbuka /i/ tetapi dalam Dialek Nusa Penida dengan fonim /e/; 5. Beberapa kata Dialek Nusa Lembongan yang dimulai dengan fonim vokal /u/ dan suku pertama terbuka /u/ tetapi dalam Dialek Nusda Penida dengan fonim /o/.

II.3.1. Macam-macam morfim Dialek Nusa Penida

II.3.1.1. Kata dasar

Untuk membicarakan kata dasar dalam Dialek Nusa Penida perlu terlebih dahulu diberikan beberapa pengertian yang akan dipergunakan. Kalau diperhatikan misalnya bentuk /məhanak/ (beranak); yang terdiri atas dua morfim, merupakan satu kata. Bentuk-bentuk seperti /homah/ (rumah), /margə/ (jalan), /təhiŋ/ (bambu), yang terdiri atas satu morfim masing-masing merupakan satu kata. Jadi yang dimaksud dengan kata ialah bentuk bebas yang paling sedikit, atau dengan kata lain, setiap satu bentuk bebas merupakan satu kata. Dan morfim ialah bentuk yang paling kecil, bentuk yang tidak mempunyai (p.19) bentuk lain sebagai unsurannya. Bentuk-bentuk seperti: /gonuŋ/ (gunung), /ebə/ (kita), /hoñə/ (habis), yaitu bentuk-bentuk yang dalam ucapan yang biasa dapat bebas berdiri sendiri disebut bentuk bebas. Sedangkan bentuk-bentuk seperti: /pə-/, /mə-/, /-an/,/-aŋ/, yaitu bentuk-bentuk yang dalam ucapan yang biasa tidak pernah berdiri sendiri, tetapi selalu terikat oleh bentuk-bentuk lain disebut bentuk terikat. Kata yang terdiri atas satu morfim disebut kata tunggal dan yang terdiri atas dua morfim atau lebih disebut kota komplek.

Kalau diperhatikan kata komplek /məpaəkan/ (berdekatan/adjacent) dan dianalisa atas unsur langsungnya, yaitu unsur yang secara langsung membentuk suatu bentuk yang lebih besar, maka akan didapatkan bentuk: /mə-/ dan /paəkan/; dan dari /paəkan/ didapatkan bentuk: /paək/ dan /-an/, Bentuk /paək/ yang menjadi asal dari bentuk yang lebih besar itu disebut bentuk asal. Selanjutnya dalam proses pembentukannya, dari bentuk asal /paək/ menjadi /paəkan/; dari /paəkan/ menjadi /məpaəkan/. Dalam hal ini /paək/ merupakan bentuk dasar dari /paəkan/ dan /paəkan/ bentuk dasar dari /məpaəkan/. Jadi dapat dikatakan bentuk dasar ialah bentuk linguistik, baik tunggal maupun komplek yang menjadi dasar bentukan bagi suatu bentuk yang lebih besar (M.Ramlan, 1976:7-14). Bertolak dari pengertian yang diberikan di atas, dapatlah dikatakan pengertian kata dasar sebagai berikut: (p.20) semua bentuk yang merupakan kata tunggal dapat dimasukkan ke dalam golongan kata dasar. Untuk itu perhatikanlah contoh di bawah ini:

Tabel di bawa (p.20): kata dasar sebagai morfim bebas

Root word Indonesian
/tohuh/ kering
/bahu/ tadi
/gətap/ penakut
/egar/ tenang
/bərag/ kurus
/dahət/ siang
/hud/ kelapa muda
/jədig/ kurang sopan
/lepəh/ lelah
/cəlaŋ/ cerdas
/pəcut/ cemeti

Semua kata dasar tersebut di atas, tanpa ragu-ragu lagi dapat dimasukkan ke dalam golongan morfim bebas, karena semua bentuk-bentuk tersebut dalam ucapan yang biasa dapat bebas berdiri sendiri tanpa terikat oleh bentuk lain.

II.3.1.2 Afiksasi

Yang dimaksud dengan afiksasi ialah pembentukan afiks pada suatu bentuk, baik bentuk itu bentuk tunggal maupun komplek, untuk membentuk kata baru. Sedangkan yang dimaksud dengan afiks ialah suatu bentuk yang di dalam suatu kata merupakan unsur langsung yang bukan bentuk bebas, yang memiliki kesanggupan melekat pada bentuk-bentuk (p.21) lain untuk membentuk kata baru. Afiks tersebut dapat melekat di depan bentuk dasar yang lazim disebut prefiks atauy awalan, dapat di belakang bentuk dasar yang lazim disebut sufiks atau akhiran dan dapat di tengan bentuk dasar yang lazim disebut infiks atau sisipan. Ada kalanya juga prefiks dan sufiks itu bersamaan datangnya pada satu bentuk dasar, yang biasa disebut konfiks (M.Ramlan, 1976:15-18). Bedasarkan pengertian tersebut di atas, pembubuhan afiks di tengah bentuk dasar tidak ada dijumpai dalam Dialek Nusa Penida. Dengan demikian pembicaraan afiksasi dalam Dialek Nusa Penida berturut-turut akan dibicarakan tentang: prefiks, sufiks dan konfiks.

II.3.1.2.1. Bentuk dan fungsi serta arti prefiks

Yang dimaksud dengan prefiks ialah bentuk terikat yang dibubuhkan di depan bentuk dasar. Dalam bahasa Indonesia misalnya ada prefiks me-, ber-, di-, ter- dan sebagainya (M. Ramlan, 1976:18). Demikian pula dalam dialek Nusa Penida, ada juga dijumpai prefiks dan banyak macamnya dapat dilihat pada uraian data di bawah ini:

A. Prefiks {pə-} / Prefix {pə-}

a. Bentuk. Menurut bentuknya prefiks {pə-} ini dapat dibedakan atas dua macam, yaitu: 1. prefiks {pə} yang beridir sendiri atau tetap {pə-}; 2. prefiks {pə-} yang bergabung dengan prefiks nasal. Pembentukan suatu kata dengan prefiks {pə-} macam pertama, bila berfungsi untuk membentuk kata keadaan. Contoh: /pəkəseh/ (berbisik-bisik); /pəgəlur/ (berseru-seru/call); /pəhemaŋ/ (bergegas-gegas); /pəslewar/ (simpang siur); /pəgroñuŋ/ (berkerumun); /pəslambah/ (berserakan).

Sejumlah kecil memang ada dijumpai prefiks {pə-} macam pertama berfungsi untuk membentuk kata benda. Contoh: /pəlancah/ (pelayan/servant); /pəweseh/ (pemberian/gift); /pəsaluk/ (pakaian, perhiasan/clothes, jewellery)

Sedangkan pembentukan suatu kata dengan prefiks {pə-} macam kedua adalah berfungsi untuk membentuk kata benda. Contoh: /pəŋancuh/ (alat yang dipakai membuang air yang masuk ke dalam jukung); /pəñukjuk/ (alat yang dipakai untuk bercocok tanam); /pəməlas/ (guna-guna); /pənapət/ (pewaris).

Pada data di atas ini dapat dilihat bahwa prefiks {pə-} itu mesti bergabung dengan prefiks nasal. Misalnya pada: /pəŋancuh/. Kata dasar /pəŋancuh/ adalah /kancuh/. Kini (p.23) harus diteliti, apakah {pə-} mungkin bergabung begitu saja dengan /kancuh/? Jika mungkin, maka terbentuklah kata /pəkancuh/. Dalam ucapan yang biasa tidak ada dijumpai bentuk /pəkancuh/ ini. Oleh karena itu {pə-} harus bergabung dengan prefiks nasal, sehingga terbentuklah kata /pəŋancuh/. Yang mula-mula bergabung dengan bentuk /kancuh/ adalah prefiks nasal, sehingga menjadi /ŋancuh/. Dalam hal ini /kancuh/ menjadi bentuk dasar /ŋancuh/. Kemudian baru prefiks {pə-} bergabung dengan /ŋancuh/, sehingga menjadi /pəŋancuh/. Dalam hal ini /ŋancuh/ menjadi bentuk dasar /pəŋancuh/. Demikian pula /pəñukjuk/. Kata dasarnya adalah /jukjuk/. Yang mula-mula bergabung dengan /jukjuk/ adalah prefiks nasal, sehingga terbentuklah kata /ñukjuk/. Kemudian baru prefiks {pə-} bergabung pada kata /ñukjuk/, sehingga terbentuklah kata /pəñukjuk/. Dalam hal ini /jukjuk/ menjadi bentuk dasar /ñukjuk/, sedangkan /ñukjuk/ menjadi bentuk dasar /pəñukjuk/. Demikian seterusnya.

b. Fungsi: Fungsi prefiks {pə-} adalah untuk membentuk kata benda dan kata yang menyatakan sesuatu keadaan.

c. Arti: Arti dapat didukung oleh prefiks {pə-} adalah:
1. sebagai pembentuk kata benda dan mengandung arti: a. Menyatakan alat, misalnya: /pəsaluk/ (perhiasan); (p.24) /pəməlas/ (guna-guna); /pəmaji/ (pasak); /pəñukjuk/ (alat untuk bercocok tanam); b. Menyatakan 'orang yang melakukan pekerjaan' seperti tersebut pada kata dasar, misalnya: /pəlancah/ (pelayan); /pəŋaŋon/ (gembala); /pəŋrampas/ (perampas); /pənapət/ (pewaris); 2. Sebagai pembentuk kata keadaan dan mengandung arti 'gerak atau bunyi', misalnya: /pəkəseh/ (berbisik-bisik); /pəslewar/ (simpang siur); /pəhemaŋ/ (bergegas-gegas); /pəclublub/ (keluar masuk)

B. Prefiks {mə-}

a. Bentuk: Pada umumnya prefiks {mə-} dirangkaikan saja di depan sebuah kata dengan tidak mengalami perubahan bentuk. Contoh: /məkəseh/ (berbisik-bisik); /məkandə/ (memasak); /məklambi/ (berbaju); /məhomah/ (berdiam); /məhojan/ (berhujan).

Bila fonim awal dari kata yang dihubunginya mulai dengan (p.25) fonim vokal, maka akan terjadi asimilasi regresif, di mana fonim /ə/ dari prefiks {mə-} tersebut luluh. Contoh: /məoləs/ menjadi /moləs/ (berparas yang baik); /məndan/ menjadi /madan/ (bernama); /məedeŋ/ menjadi /medeŋ/ (diperlihatkan); /məoŋkab/ menjadi /moŋkab/ (terbuka).

b. Fungsi: fungsi prefiks {mə-} adalah untuk membentuk kata kerja.

c. Arti: Arti yang dapat didukung oleh prefiks {mə-} adalah: 1. Mempunyai atau memiliki, misalnya: /moləs/ (berparas yang baik/have a good apprearance); /madan/ (bernama/be called); /məboŋa/ (berbunga/flower, blossom); /məhanak/ (beranak); 2. Mempergunakan atau memakai, misalnya: /məbedak/ (berlayar/sail); /məklambi/ (berbaju/wear clothing); /mərambəd/ (berselendang/wear a shawl or stole over one's shoulders or diagonally across body); /məajan/ (bertangga/with steps); 3. Memperoleh atau menghasilkan, misalnya: /məbati/ (beruntung/be lucky); /mətaluh/ (bertelur/lay eggs); /məhojan/ (berhujan/rain); p.26 /mopah/ (berupa/take the form of, is or are); 4. Menyatakan perbuatan mengenai diri sendiri atau refleksi, misalnya: /məpayas/ (berhias/be decorated or adorned; dress oneself); /məbetəh/ (berbalik/turn around, return, go back); /məkəlid/ (mengelak/get out of the way, move to evade); /məraup/ (mencuci muka/ wash one's face).

C. Prefiks {kə-}

a. Bentuk: Pada umunya prefiks {kə-} dirangkaikan saja di depan sebuah kata dengan tidak mengalami perubahan bentuk. Contoh: /kəsələk/ (terpojok); /kəbatək/ (terpaksa); /kəpaŋgluŋ/ (tergila-gila); /kəlelih/ (teralahkan); /kəsrayə/ (suruhan); /kətaŋəh/ (diketahui).

Bila kata-kata yang dihubungkan mulai dengan fonim vokal, maka akan terjadi asimilasi regresif, di mana fonim /ə/ dari prefix {kə-} tersebut luluh. Contoh: /kəopah/ menjadi /kopah/ (bayaran untuk tari-tarian); /kəandəp/ menjadi /kandəp/ (anak perempuan yang kawin dan dijual); /kəopat/ menjadi /kopat/ (sibuk); p.27 /kəenəm/ menjadi /kenəm/ (meninumkan sapi).

b. Fungsi dan arti: Karena fungsi daripada prefiks {kə-} ini lebih dari satu dan sejajar pula dengan arti yang didudkunya, maka fungsi dan arti di sini dibicarakan bersama-sama; 1. Menyatakan kata benda abstrak, misalnya: /kəpaŋgluŋ/ (tergila-gila/be mad about, be infatuated); /kəlelih/ (teralahkan/defeated); /kəbatək/ (terpaksa/forced); /kopat/ (kesibukan/occupation, hobby, activity); 2. Menyatakan kata kerja pasif, misalnya: /kopah/ (bayaran untuk tari-tarian/payment for dances); /kandəp/ (anak perempuan yang kawin dan dijual/a young girl get married and sold off); /kəsələk/ (terpojok/cornered); /kətaŋəh/ (diketahui/be known).

D. Prefiks {sə-}

a. Bentuk: Prefiks {sə-} sebagai imbuhan tidak mengalami perubahan bentuk dalam penggabungannya dengan bentuk lain. Contoh: /səpətəŋ/ (semalam); /sətəgəh/ (setinggi); /səwaras/ (segemuk); /səjoh/ (sejauh); /səbəhat/ (seberat).

(p.28) b. Arti: Arti yang dapat didukung oleh prefiks {sə-} adalah: 1. /sətauləh/ (setahuku); /səbesaləh/ (sebisaku); /sətəgəhdə?/ (setinggimu); /səbakateə/ (sependapatnya); 2. Bertepatan waktu dengan, misalnya: /səkalahdə/ (sepergianmu); /sətəkalə/ (setibaku); /səsobalə/ (seselesainya); 3. Menyatakan setiap, misalnya: /səwahi/ (sehari-hari); /səpətəŋ/ (setiap malam); /sədahət/ (setiap siang); 4. Menyatakan ukuran setinggi-tingginya, misalnya: /səbəhət- bəhəteə/ (seberat-beratnya); /səhe-heñə/ (sebanyak-banyaknya); /sətegəh-təgəhə/ (setinggi-tingginya); /səjoh-johə/ (sejauh-jauhnya).

II.3.1.2.2. Bentuk dan fungsi serta arti sufiks / Suffix: form, function and meaning

Yang dimaksud dengan sufiks ialah bentuk terikat yang dibubuhkan di belakang bentuk dasar. Seperti halnya dalam bahasa Indonesia terdapat sufiks: -i, -kan, -an, -nya dan sebagainya (M. Ramlan, 1967:18). Demikian pula dalam Dialek Nusa Penida ada dijumpai bentuk terikat berupa (p.29) sufiks. Adapun banyak macamnya dapat dilihat pada uraian data di bawah ini:

A. Sufiks {-an}

a. Bentuk: Sufiks {-an} ini tidak mengalami perubahan bentuk dalam penggabungannya dengan bentuk lain. b. Fungsi: Fungsi dari sufiks {-an} adalah sebagai pembentuk kata benda. Di samping itu berfungsi pula sebagai pembentuk kata kerja pasif. c. Arti: Arti yang didukung oleh sufiks {-an} adalah sebagai berikut: a. Sebagai pembentuk kata benda, dengan arti: 1. menyatakan alat, misalnya: /saŋihan/ (pengasah); /apitan/ (penjepit); /kikihan/ (pemarut kelapa); /taŋkəban/ (alat penangkap ketam); 2. Menyatakan tempat, misalnya: /tanəman/ (kuburan), /joŋkokan/ (tempat duduk), /pədəman/ (tempat tidur), /padasan/ (tempat mandi); 3. Menyatakan ukuran, misalnya: /wahian/ (seharian); (p.30) /bolanan/ (bulanan); /tebanan/ (tahunan); /siuan/ (ribuan); 4. Bila sufiks {-an} dibubuhkan kepada kata sifat dalam bentuk ulang, maka mengandung arti superlatif, misalnya: /puntul-puntulan/ (setumpul-tumpulnya); /bəcat-bəcatan/ (secepat-cepatnya); /waras-warasan/ (segemuk-gemuknya); 5. Menyatakan bentuk komperatif, misalnya: /təgəhan/ (lebih tinggi); /jahanan/ (lebih kemudian); /babuanan/ (lebih di atas); /warasan/ (lebih gemuk). b. Sebagai pembentuk kata kerja pasif. Contoh: /basəhan/ (cuci); /oyahan/ (garami); /kənəhan/ (pikiri); /ajahan/ (ajari)

B. Sufiks {-aŋ}

a. Bentuk: Sufiks {-aŋ} tidak mengalami perubahan bentuk. b. Fungsi: Fungsi yang didikung oleh sufiks {-aŋ} adalah sebagai pembentuk kata kerja baik intransitif maupun transitif. (p.31) Di samping itu sufiks {-aŋ} juga berfungsi untuk membentuk kata kerja kausatif. c. Arti: Bidang arti yang dapat didukung oleh sufiks {-aŋ} dapat ditinjau dari tiga segi berdasarkan fungsi sufiks {-aŋ} itu: sebagai unsur pembentuk kata intransitif, transitif dan kausatif.

(a) Intransitif: 1. Bila sufiks {-aŋ} dibubuhkan kepada kata sifat, maka sufiks {-aŋ} mengadung arti 'bertambah menjadi', misalnya: /ŋitikaŋ/ (makin sedikit); /ñugihaŋ/ (makin kaya); /ŋəwahasaŋ/ (masik sembuh); /ŋətədaŋ/ (makin kental); 2. Bila sufiks {-aŋ} dibubuhkan kepada kata keterangan arah, maka sufiks {-aŋ} mengandung arti 'menuju atau bergerak ke arah -', misalnya: /ŋauhaŋ/ (menuju ke barat); /ŋəhəpaŋ/ (bergerak ke depan); /ŋətəŋahaŋ/ (bergerak ke tengah); /ŋəlodaŋ/ (menuju ke selatan).

(b) Transitif: 1. Bila kata dasar sudah merupakan kata kerja transitif, (p.32) sufiks {-aŋ} mungkin hanya pemperdalam arti kata kerja yang semula, misalnya: /ŋurukaŋ/ (mengajarkan); /ŋəlahaŋ/ (memiliki); /neŋəhaŋ/ (mendengar); /ŋisiaŋ/ (memegang); 2. Menyatakan arti 'untuk kepentingan orang lain, [benefaktif]', misalnya: /alihaŋ/ (cari untuk); /blihaŋ/ (beli untuk); /alapaŋ/ (petik untuk); /tomanaŋ/ (sediakan).

(c) Kausatif: 1. Menyatakan arti 'menjadikan' atau membuat sesuatu jadi', misalnya: /jalanaŋ/ (menjadikan berjalan); /joŋkokaŋ/ (make something or someone sit down); /jujukaŋ/ (membuat jadi berdiri); /lantaŋaŋ/ (membuat jadi panjang); 2. Menyatakan arti 'memanggil atau menanggap sebagai', misalnya: /edaaŋ/ (memanggil engkau); /memeaŋ/ (memanggil ibu); /dewaaŋ/ (menganggap sebagai dewa); /təŋətaŋ/ (menganggap sebagai keramat).

C. Sufiks {-ə} (p.33)

a. Bentuk: sufiks {-ə} Sukiks {-ə} sebagai imbuhan pembentuk kata kerja pasif akan mengalami variasi bentuk (alomorf) menjadi /-ñə/ dan /-cə/. Berbentuk /-ñə/, bila dibubuhkan di belankang kata-kata yang berakhir dengan fonim /n/ dan fonim vokal. Contoh: /tundenñə/ (disuruh); /warinñə/ (diberitahu); /abañə/ (dibawa); /pareñə/ (dibagi); /badeñə/ (diterka); Bentuk /-cə/, bila di bubuhkan di belakang kata yang berakhir dengan fonim /t/. Contoh: /cocotcə/ (dipatuk); /habucə/ (dicabut); /gutgutcə/ (digigit); /ohutcə/ (diurut); Sedangkan bentuknya tetap {-ə}, bila dibubuhkan di belakang kata yang berakhir dengan fonim /p/, /b/, /m/, /d/, /s/, /l/, /r/, /k/, /g/, /ŋ/, /h/. Contoh:

Tabel di bawa: (p.33-34)

Dialek Nusa Penida Bahasa Indonesia
/sañgrəpə/ disambar
/osapə/ dihapus
/oŋkabə/ dibuka
/atəbə/ dilempar
/tanəmə/ ditanam
/siamə/ disiram
/toludə/ didorong
/saŋidə/ disaring
/gagasanə/ digaruk
/kəbesə/ dirobek
/təgulə/ diikat
/saŋkilə/ dijinjing
/jagurə/ dipukul
/gunturə/ dilempar
/adukə/ diaduk
/gahukə/ diterkam
/ojogə/ dituju
/gəbəgə/ dihapus
/səmbuhə/ disembur
/amahə/ dimakan
/waraŋə/ diberitahukan
/olaŋə/ dicapatkan
 
b. Fungsi: Fungsi dari sufiks {-ə} adalah untuk membentuk kata kerja pasif. c) Arti. Arti yang didukung oleh sufiks {-ə} adalah menyatakan pasif, misalnya (p.35): /cootcə/ (dipatuk); /ojogə/ (dutuju); baksinñə/ (ditinggalkan); /osapə/ (dihapus).

II.3.1.2.3. Bentuk dan fungsi serta arti konfiks

Yang dimaksud dengan konfiks ialah afiks atau imbuhan yang terdiri atas dua unsur (prefiks dan sufiks) yang bersama-sama melekat pada satu bentuk dasar dan bersama-sama pula mendukung satu pengertian. Contoh dalam bahasa Indonesia: 'ke-an' dalam 'keadaan' merupakan konfiks, sebaba 'ke-an' itu harus bersama-sama melekat pada bentuk dasar 'ada' dan hal ini terbukti dengan tidak adanya bentuk 'keada' ataupun bentuk 'adaan' (M. Ramlan, 1967:19). Demikian pula dalam Dialek Nusa Penida ada juga dijumpai konfiks. Adapun contohnya dapat dilihat pada data berikut ini:

A. Konfiks {mə-an}

a. Bentuk: konfiks {mə-an} tidak mengalami perubahan bentuk dalam penggabungannya dengan bentuk lain; b. Fungsi konfiks {mə-an} adalah untuk membentuk kata kerja; c. Arti. Arti yang mungkin didukung oleh konfiks {mə-an} adalah (p.36): 1. /məsəpedaan/ (mengendarai sepeda); /məjaranan/ (mengendarai kuda); /məjukuŋan/ (berlayar dengan jukung); /məkolekan/ (sail a sampan); 2. menyatakan laku atau perbuatan, misalnya: /məklasahan/ (tidur-tiduran di atas lantai); /məsocapan/ (berkata-kata).

B. Konfiks {pə-an}

a. Bentuk: Konfiks {pə-an} tidak mengalami perubahan bentuk; b. Fungsi konfiks {pə-an} adalah untuk membentuk kata benda dan kata keadan; c. Arti konfik {pə-an} adalah sebagai berikut: (a) sebagai pembentuk kata benda dengan arti: 1. menyatakan tempat, misalnya: /pəñəkəban/ (pemeraman); /pənanəman/ (penanman); /pəŋañutan/ (pembuangan); /pənomaŋan/ (tempat pembuatan kapur); 2. menyatakan alat, misalnya: /pəñoŋkrakan/ (bajak); /pəñoliŋan/ (pemintalan); /pəñahipan/ (p.37) (penyaringan); /pəŋradakan/ (sejenis bakak); b. sebagai pembentuk kata keadaan dengan arti menyatakan kesatuan, misalnya: /pəpaduan/ (berdua); /pəñaman/ (persaudaraan), /pəkuŋsian/ (consortium, merchant's association).

C. Konfiks {kə-an}

a. Bentuk tidak mengalami perubahan; b. Fungsi konfiks {kə-an} berfungsi untuk membentuk kata benda dan kata keadaan. c. Arti yang didukung oleh konfiks {kə-an} adalah 1) Sebagai pembentuk kata benda, contoh: /kəmulan/ (pokok); /kəmoŋan/ (panik); /kərsuhan/ (kemasukan roh halus /kəsəŋitan/ (sengit); 2. Sebagai pembentuk kata keadaan, contoh: /kədapətan/ (tertangkap); /kətuluŋan/ (tertolong); /kəlalapan/ (terkejut); (p.38) /kəraranan/ (terpengaruh).

II.3.1.3. Kata Ulang

Yang dimaksud dengan kata ulang ialah kata yang terdiri atas perulangan bentuk dasar. Bila bentuk dasar tersebut diulang dengan tidak ada perubahan sedikit juapun, maka jenis kata ulang itu disebut kata ulang murni. Bila perulangan itu disertai dengan variasi fonim, disebut kata ulang mengalami perubahan. Bila perulangan itu berkombnasi dengan afiksasi, maka disebut kata ulang bersambungan. Di samping itu, ada pula jenis kata ulang yang tidak tentu asalnya dan tidak tentu pula artinya, yaitu semata-mata asalnya menjadi suatu kata. Jenis kata ulang itu disebut kata ulang semu. Bedasarkan pengertian tersebut di atas, dalam Dialek Nusa Penida ada juga dijumpai bentuk kata ulang. Untuk itu perhatikanlah uraian berikut ini.

II.3.1.3.1. Kata ulang murni

Yang dimaksud dengan kata ulang murni ialah perulangan bentuk dasar tanpa mengalami perubahan. Contoh: /gələŋ- gələŋ/ (kecil-kecil), bentuk dasarnya /gələŋ/; /sənik- sənik/ (anak-anak) bentuk dasarnya /sənik/; /homah-homah/ (rumah-rumah) bentuk dasarnya /homah/; /gonuŋ-gonuŋ/ (gunung-gunung) bentuk dasarnya /gonuŋ/; /bohəŋ-bohəŋ/ (ribut-ribut) bentuk dasarnya /bohəŋ/.

II.3.1.3.2. Kata ulang mengalami perubahan (p.39)

Yang dimaksud dengan kata ulang mengalami perubahan ialah perulangan bentuk dasar yang disertai dengan variasi fonim. Contoh: /bodəŋ-badiŋ/ (bolak-balik) bentuk dasarnya /badiŋ/; /gəlar-gəlur/ (berseru-seru) bentuk dasarnya /gəlur/; /todaŋ-todiŋ/ (tunjuk-menunjuk) bentuk dasarnya /todiŋ/; /tolah-tolih/ (melihat ke sana-ke mari) bentuk dasarnya /tolih/.

II.3.1.3.3. Kata ulang bersambungan

Yang dimaksud dengan kata ulang bersambungan ialah perulangan bentuk dasar yang disertai dengan proses afiksasi. Contoh: /don-donan/ (daun-daunan/leaves) bentuk dasarnya /don/; /sətəgəh-təgəh/ (setinggi-tingginya/as high or tall as possible) bentuk dasarnya /təgəh/; /sampi-sampian/ (sapi-sapian/toy cattle?) bentuk dasarnya /sampi/; /məholan-holanan/ (bercepat-cepatan/race, in a hurry) bentuk dasarnya /holan/.

II.3.1.3.4. Kata ulang semu

Yang dimaksud dengan kata ulang semu adalah perulangan yang tidak tentu asalnya dan tidak tentu pula artinya, yaitu semata-mata telah menjadi kata. (p.40). Contoh: /konaŋ-konaŋ/ (kunang-kunang); /galiŋ-galiŋ/ (nama sejenis rumput); /kataŋ-kataŋ/ (katang-katang); /ləŋan-ləŋan/ (nama sejenis ikan); /tabi-tabi/ (nama sejenis alat penangkap ikan).

Adapun arti yang dapat didukung oleh kata ulang adalah:

1. Kata ulang mengandung arti 'intensitas' baik tentang kwantitas maupun kwalitas. a. Tentang kwantitas, contoh: /sampi-sampi/ (banyak sapi); /ñambu-ñambu/ (banyak jambu); /kəjat-kəjut/ (banyak gerak); /don-donan/ (bermacam-macam daun); /ramban-rambanan/ (bermacam-macam sayur); b. Tentang kwalitas, contoh: /məwadih-wadihan/ (sampai bosan); /mətekil-tekilan/ (sampai habis betul); /sətegəh-təgəhə/ (setinggi-tingginya/); /məbəcat-bəcatan/ (secepat-cepatnya).

2. Melemahkan arti, dalam hal ini dapat diartikan dengan 'agak'. (p.41) Contoh: /lək-ləkan/ (kemalu-maluan); /lepeh-lepehan/ (agak lelah); /borəŋ-borəŋan/ (agak marah); /mənik- mənikan/ (kekanak-kanakan).

3. Menyatakan arti saling atau pekerjaan berbalasan. Contoh: /mətimpug-timpugan/ (berlempar-lemparan); /mətəbək-təbəkan/ (tikam-menikam); /mətolud-tuludan/ (berdorong-dorongan); /məcərəŋ-cərəŋan/ (berpadang-pandangan).

4. Arti lain yang dapat diturunkan dari suatu kata ulang adalah 'menyerupai', contoh: /siap-siapan/ (menyerupai ayam); /sampi-sampian/ (menyerupai sapi); /jokuŋ-jokuŋan/ (menyerupai jukung); /bal-balan/ (menyerupai bola).

II.3.1.4. Pemajemukan

Yang dimaksud dengan pemajemukan ialah persenyawaan dua kata atau lebih yang sudah demikian eratnya dan menjelmakan satu pengertian baru pula. Contoh dalam Dialek Nusa Penida misalnya /jəhuk ləŋis/ (jeruk nipis/lime). Kata /jəhuk/ dan /ləŋis/ sudah bersenyawa sedemikian eratnya sehingga merupakan satu kata baru dan mengandung satu arti baru pula. Arti tiap-tiap kata itu terkebelakangkan dan arti keseluruhannyalah yang terkemuka (M. Ramlan, 1967: 28-29). Selanjutnya perhatikanlah contoh data di bawah ini: /ñuh pohuh/ (nama sejenis kelapa/name of a type of coconut); /poh həjo/ (nama sejenis mangga); /selə həbun/ (ubi jalar); /biyu kretuk/ (pisang yang berbiji); /siap cəmarə/ (ayam yang bulunya seperti daun cemera/); /oləd tekəh/ (nama sejenis ulat).

Semua data di atas ini merupakan contoh kata mejemuk, karena kedua kata yang menjadi unsurnya itu sudah bersenyawa menjadi satu kata baru yang mengandung satu pengertian baru pula. Misalnya pada /ñuh pohuh/. Kata /ñuh/ (kelapa/coconut) dan /pohuh/ (burung puyuh/quail) sudah bersenyawa sedemikian eratnya, sehingga setiap mendengar kata /ñuh pohuh/, maka yang dimaksudkan adalah nama sejenis 'pohon kelapa tertentu', bukan yang dimaksudkan arti tiap-tiap unsurnya yaitu 'kelapa' kemudian 'burung puyuh'. Demikian pula kalau mendengar kata /poh həjo/, maka yang dimaksudkan adalah bendanya yaitu sejenis mangga yang warnanya hijau. Jadi, sama sekali tidak dimaksudkan arti tiap-tiap unsurnya. Demikian seterusnya. Di samping itu, bila diperhatikan kembali semua contoh di atas, maka dapatlah dilihat bahwa masing-masing data tersebut terdiri atas bentuk bebas sebagai unsurnya. Dalam hubungan ini (p.43) sesuai pula dengan apa yang dikemukakan oleh Bloomfield tentang kensepsi kata mejemuk itu sendiri (Bloomfield, 1964:209). Ditinjau dari sifatnya kata mejemuk itu dapat dibagi atas dua yaitu: kata majemuk yang bersifat endosentris dan yang bersifat eksosentris.

1. Kata majemuk endosentris

Suatu kata majemuk dikatakan endocentris, apabila distribusinya sama dengan salah satu unsurnya atau semua unsurnya. Contohnya: /ñuh pohuh/ sama distribusinya dengan unsur pertama yaitu /ñuh/. Hal ini dapat dibuktikan dalam dua kalimat di bawah ini. a. //walə mulə ñuh popuh// (ayahku menanam kelapa puyuh); // walə mulə ñuh - // (ayahku menanam kelapa). Ternyata kedudukan /ñuh popuh/ dapat diganti dengan /ñuh/ saja. Kata majemuk /selə həbun/ (ubi jalar) distribusinya sama dengan kedua unsurnya. Terbukti dalam kalimat di bawah ini: a. //sampitə ŋamah don selə həbun// (sapi itu makan daun ubi jalar); b. //sampitə ŋamah don selə - // (sapi itu makan daun ubi); c. //sampitə ŋamah - həbun// (sapi itu makan - rumput). Ternyata kedudukan /selə həbun/ dapat diganti oleh unsur /selə/ maupun oleh /həbun/ saja. Beberapa contoh kata majemuk endosentris: /badəŋ kolot (hitam legam); /barak ñoŋah/ (merah padam); /poh həjo/ (nama sejenis mangga); /siap cəmara/ (nama sejenis ayam); /gədaŋ renteŋ/ (nama sejenis pepaya).

2. Kata majemuk eksosentris

Suatu kata mejemuk dikatakan bersifat eksosentris, apabila distribusinya berbeda dengan salah satu atau semua unsurnya. Contoh: /lowuh huwani/ (laki perempuan/man woman). Distribusinya tidak sama baik dengan unsur /lohuh/ maupun /huwani/. Terbukti dalam kalimat di bawah ini: a. //jahə iyə lohuh huwani// (ke mana mereka laki perempuan/where did they go, man woman); b. //jahə iyə lohuh - //; c. //jahə iyə - huwani// [the meaning of these sentences is unclear, GD]. Beberapa contoh kata mejemuk eksosentris: /kati wawal/ (buah nangka yang masih muda/a young jackfruit); /sandi kalə/ (hampir malam/almost night); /təŋahi təpət/ (tengah hari/noon); /nanaŋ meme/ (ibu bapa/mother and father?).

Dilihat dari strukturnya yaitu bagaimana hubungan antara unsur yang satu dengan unsur yang lainnya, apakah sederajat atau tidak, maka kata majemuk dapat dibagi atas: kata majemuk koordinatif dan kata majemuk atributif.

1. Kata majemuk koordinatif

Yang dimaksud dengan kata majemuk koordinatif ialah kata majemuk (p.45) yang semua unsurnya sederatjat atau sama kedudukannya. Dalam arti unsur yang satu tidak menerangkan unsur yang lain. Contoh: /pəlih patut/. Unsur /pəlih/ tidak menerangkan unsur /patut/, demikian pula sebaliknya unsur /patut/ tidak menerangkan unsur /pəlih/. Beberapa contoh yang lain: /jelek məlah/ (baik buruk); /səbət kəndəl/ (suka duka); /səgər ogər/ (sehat walafiat); /gəmuh landuh/ (aman dan sentosa).

2. Kata majemuk atributif

Kata majemuk atributif adalah kata majemuk yang salah satu unsurnya berfungsi untuk menerangkan unsur yang lain. Dalam hal ini unsur kedualah yang menerangkan unsur pertama (menurut hukum DM). Dan unsur yang kedua yang menerangkan itu dapat berupa kata sifat dan dapat pula berupa kata benda. Contohnya: /lipi gadaŋ/ (ular hijau) yang terdiri atas dua unsur yakni unsur pertama /lipi/ (ular) adalah kata benda dan unsur yang kedua /gadaŋ/ (hijau) adalah kata sifat. Dan jelasnya bahwa unsur /gadaŋ/ menerangkan unsur /lipi/. Contoh lain: /gulə batu/ (gula batu). Dalam contoh ini pun unsur kedua /batu/ menerangkan unsur pertama /gulə/, hanya bedanya dengan contoh di atas, bahwa unsur kedua dalam contoh ini berupa kata benda. Beberapa contoh kata majemuk atributif yang unsur keduanya berupa kata sifat: (p.46) /gədaŋ renteŋ/ (nama sejenis pepaya); /təhiŋ gadiŋ/ (bambu kuning); /yeh səmladə/ (air suam-suam kuku); /alas wayah/ (hutan rimba); /poh həjo/ (nama sejenis mangga). Beberapa contoh kata majemuk atributif yang unsur keduanya berupa kata benda: /gulə batu/ (gula batu); /enan lemə/ (ibu jari); /galaŋ tanah/ (pagi-pagi buta); /olad tekəh/ (nama sejenis ulat).

Ada pula satu jenis kata majemuk yang biasa disebut dengan isatilah kata majemuk dengan unique constituent, yaitu kata majemuk yang salah satu unsurnya merupakan unique constituent. Adapun yang dimaksud dengan unique constituent ialah unsur yang hanya dapat berkombinasi dengan satu morfim tertentu saja. Misalnya dalam bahasa Indonesia 'simpang siur'. Unsur 'siur' merupakan unique consituent karena hanya dapat berkombinasi dengan morfim 'simpang' saja (M. Ramlan, 1967:35). Dalam Dialek Nusa Penidapun terdapat juga kata majemuk dengan unique consituent itu. Perhatkanlah contoh data di bawah ini: /pətəŋ kodot/ (gelap gulita); /potih bəlun/ (putih bersih); ñag ajur/ (remuk redam); (p.47) /bərag kagkag/ (kurus kering); /barak ñoŋah/ (merah padam); /tohuh gariŋ/ (kering kerontang).

Unsur: /kodot/, /bəlun/, /ajur/, /kagkag/, /ñoŋah/ dan /gariŋ/, semuanya merupakan unique constituent karena hanya dapat berkombinasi dengan satu morfim tertentu saja, yaitu: /kodot/ hanya dapat berkombinasi dengan morfim /pətəŋ/, /bəlun/ hanya dapat berkombinasi dengan morfim /potih/, /ajur/ hanya dapat berkombinasi dengan morfim /ñag/, /ñoŋah/ hanya dapat berkombinasi dengan morfim /barak/ dan /gariŋ/ hanya dapat berkombinasi dengan morfim /tohuh/ saja.

Adapun arti yang dapat didukunag oleh pemajemukan itu adalah untuk mengeraskan arti (intensitas). Inipun hanya terdapat dalam kata majemuk dengan unique constituent yang berupa gabungan: kata sifat + unique constituent dan unique constituent + kata sifat. Misalnya gabungan kata sifat + unique constituent: /pətəŋ kodot/ (gelap gulita); /pakəh dəkak/ (sangat asin); /purək latək/ (sangat kotor); /tuwə cakluk/ (tua renta). Contoh gabungan unique constituent + kata sifat: /ñoñur manis/ (sangat manis) (hanya sebuah contoh yang diketemukan dari data yang terkumpul).

II.3.2. Proses morfofonemik dalam Dialek Nusa Penida

Yang dimaksud dengan proses morfofonemik ialah proses perubahan fonim yang disebabkan oleh hubungan dua morfim atau lebih. Dalam bahasa Indonesia misalnya proses morfofonemik tersebut terjadi karena perubahan-perbuahan fonim nasal yang berwujud /m/ di depan fonim /p/, /b/; /n/ di depan fonim /t/, /d/; /ñ/ di depan fonim /c/, /j/, /s/ dan /ŋ/ di depan fonim /k/. /g/, /h/ dan vokal. Ada kalanya terjadi pembalikan daripada susunan atau urutan fonim-fonim suatu morfim. Misalnya bentuk-bentuk 'merah' dan 'padma. Kedua bentuk atau morfim itu bila diucapkan yang satu mengikuti yang lain, maka terjadilah bentuk 'merah padam'. Ada kalanya terjadi penambahan fonim. Misalnya bentuk /ñamə/ (saudara) yang setelah berhubungan dengan afiks /edə/ (engkau) menjadi /ñamandə/ (saudaramu); di mana terjadi penambahan fonim /n/ antara /ñamə/ dan /edə/. Hal yang sebaliknya bisa terjadi pula, yaitu pengguguran fonim. Misalnya bentuk /patuh/, setelah digabungkan dengan morfim /ke+an/ menjadi /kəpatuan/, di mana fonim /h/ gugur (Samsuri, 1975:59-60).

Berdasarkan pengertian yang telah diberikan di atas, dalam Dialek Nusa Penida hanya ada dijumpai proses morfofonemik yang terjadi karena penambahan fonim. Untuk itu perhatikanlah contoh data di bawah ini: /sampində/ (sapimu); /memendə/ (ibumu); (p.49) /nasində/ (nasimu); /makondə/ (tembakaumu); /ñambundə/ (jambumu). Pada contoh data di atas ini dapat dilihat adanya penambahan fonim /n/. Untuk mengetahui bahwa penambahan fonim tersebut adalah fonim /n/, haruslah konstruksi dari data-data tersebut di atas ini dipisahkan dahulu atas unsur-unsurnya sehingga menjadi: /sampi+edə/ (sapi+engkau); /meme+edə/ (ibu+engkau); /nasi+edə/ (nasi+engkau); /makə+edə/ (tembakau+engkau); /ñambu+edə/ (jambu+engkau).

Unsur pertama masing-masing konstruksi tersebut di atas berupa morfim bebas, semuanya berakhir dengan fonim vokal. Unsur yang kedua juga merupakan morfim bebas adalah bentuk kata ganti orang II tunggal. Dalam fungsinya sebagai pemilik, maka kata ganti orang II tunggal /ədə/ akan mengambil bentuk ringkas /də/ dan dirangkaikan di belakang kata yang yang diterangkannya (Bandingkan: Gorys Keraf, 1973: 74). Demikanlah bentuk ringkas /də/ ini kemudian melekat pada bentuk: /sampi/, /məmə/, /nasi/, mako/ dan /ñambu/ sehingga menjadi bentuk: /sampində/, /memendə/, /nasində/, /makondə/ dan/ñambundə/, di mana terdapat penambahan fonim /n/. Akan berbeda halnya, jika unsur yang pertama konstruksi (p.50) tersebut berakhir dengan konsonan. Dalam hal ini tidak akan terjadi suatu proses apapun. Misalnya data: /təhidə/ (bambu); /jaguŋdə/ (jagungmu); /oyahdə/ (garammu); /panoiŋdə/ (kailmu).

II.4. Beberapa persamaan dan perbedaan dalam bidang morfogi Dialek Nusa Penida dengan bahsa Bali Baku (Data tentang bahasa Bali Baku disarikan dari buku: P.J. Kersten 'Tata Bahasa Bali', 1970:34-73). Dalam membicarakan persamaan dan perbedaan kedua bahasa tersebut, perlu terlebih dahulu dikemukakan sedikit tentang pengertian bahasa Bali Baku. Yang dimaksud dengan bahasa Bali Baku ialah varieta yang resmi dipergunakan di dalam: sekolah-sekolah, pertemuan-pertemuan, surat-menyurat, radio, adat dan agama. Sedangkan varieta itu ialah bentuk yang ada persamaan ucapan, struktur dan makna kata (Bagus ed., 1975: 46).

II.4.1. Persamaan

Persamaan dalam bidang morfologi dimaksudkan persamaan (p.51) dalam imbuhan (afiks), yaitu:

a. Dalam bahasa Bali Baku dikenal awalan atau prefiks {mə-}, demikian pula dalam Dialek Nusa Penida awalan {mə-} tersebut dikenal adanya. Contoh, tabel hal.51:

Dialek Nusa Penida Bahasa Bali Baku Bahasa Indonesia
/məkeseh/ /məkisih/ berbisik
/məhojan/ /məujan/ berhujan
/mərsup/ /məsugi/ cuci muka
/məhanak/ /məpanak/ beranak
 
b. Dalam bahasa Bali Baku dikenal adanya awalan atau prefiks {pə-} baik yang berarti sendiri maupun yang bergabung dengan prefiks nasal. Demikian pula dalam Dialek Nusa Penida ada juga jijumpai awalan {pə-} tersebut. Contoh:
 
Dialek Nusa Penida Bahasa Bali Baku Bahasa Indonesia
/pəbəhaŋ/ /pəbəaŋ/ pemberian
/pəselih/ /pəsilih/ pinjaman
/pəməlas/ /pəməlas/ guna-guna
/pəŋaŋon/ /pəŋaŋon/ gembala

c. Dalam bahasa Bali Baku dikenal akhiran atau sufiks {-aŋ} sebagai pembentuk kata kerja yang berarti 'mengerjakan (p.52) pekerjaan untuk kepentingan orang lain'. Demikian pula dalam Dialek Nusa Penida, akhiran {-aŋ} tersebut ada juga dijumpai. Contoh, tabel hal.52:

Dialek Nusa Penida Bahasa Bali Baku Bahasa Indonesia
/jəmakaŋ/ /jəmakaŋ/ ambilkan
/alihaŋ/ /alihaŋ/ carikan
/joŋkokaŋ/ /tegakaŋ/ dudukkan
/pesuaŋ/ /pesuaŋ/ keluarkan

d. Dalam bahasa Bali Baku dikenal akhiran atau sufiks {-an} yang menyatakan 'bentuk komperatif'. Demikian pula dalam Dialek Nusa Penida, akhiran {-aŋ} tersebut dikenal adanya. Contoh:

Dialek Nusa Penida Bahasa Bali Baku Bahasa Indonesia
/babuanan/ /bəduuran/ lebih di atas
/təgəhan/ /təgəhan/ lebih tinggi
/warasan/ /mokohan/ lebih gemuk
/gələŋan/ /cənikan/ lebih kecil

II.4.2. Perbedaannya

Perbedaan bidang morfologi juga dimaksudkan perbedaan dalam imbuhan (afiks) yaitu:

a. Dalam bahasa Bali Baku dikenal akhiran atau sufiks {-ñə}, tetapi dalam Dialek Nusa Penida sufiks tersebut dikenal adanya yang merupakan alomorf dari sufiks {-ə} sebagai fungsi pembentuk pasif. Alomorf /-ñə/ diwujudkan bila bentuk dasar yang dibubuhinya berakhir dengan fonim vokal dan fonim konsonan /n/. Contoh, tabel hal.53:

Dialek Nusa Penida Bahasa Bali Baku Bahasa Indonesia
/dəpinñə/ /dəpinə/ dibiarkan
/anoñə/ /anunə/ dipukul
/abañə/ /abanə/ dibawa
/tondeə/ /tundenə/ disuruh
/boruñə/ /burunə/ diburu

b. Dalam bahasa Bali Baku tidak dikenal adanya sufiks /-cə/, tetapi dalam Dialek Nusa Penida sufiks tersebut dikenal adanya yang merupakan alomorf dari sufiks {-ə} sebagai pembentuk pasif. Alomorf /-cə/ diwujudkan bila bentuk dasar yang dibubuhinya berakhir dengan fonim /t/. Contoh:

Dialek Nusa Penida Bahasa Bali Baku Bahasa Indonesia
/cototcə/ /cototə/ dipatuk
/habutcə/ /abutə/ dicabut
/aritcə/ /aritə/ disabit
/catcə/ /cet ə/ dicet
/həbutcə/ /əbutə/ dikerumuni

c. Dalam bahasa Bali Baku dikenal sufiks {-in} sebagai pembentuk kata kerja pasif, tetapi dalam Dialek Nusa Penida dijumpai dalam bentuk {-an}. Contoh, tabel hal.54:

Dialek Nusa Penida Bahasa Bali Baku Bahasa Indonesia
/oŋkaban/ /uŋkabin/ buka
/ajahan/ /ajahin/ ajari
/kalahan/ /kalahin/ tinggalkan
/bəsahan/ /bəsahin/ cuci

Kesimpulan (p.55)

Pada bab ini akan disajikan beberapa kesimpulan agar terdapat gambaran yang lebih jelas dari uraian yang telah diberikan terdahulu.

1. Pengertian morfologi ialah cabang daripada Ilmu Bahasa yang membicarakan seluk-beluk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap fungsi dan arti kata; 2. Pengertian dialek ialah keistimewaan pemakaian bahasa yang dimiliki oleh sekelompok mesyarakat; 3. Dialek bahasa yang terdapat di Pulau Nusa Penida dapat digolongkan sebagai Dialek Bali Aga.

3.1 Macam-macam morfim Dialek Nusa Penida. Dalam Dialek Nusa Penida terdapat dua macam morfim yaitu morfim bebas dan morfim terikat. Yang termasuk ke dalam golongan morfim bebas adalah semua kata dasar. Sedangkan yang termasuk ke dalam golongan morfim terikat adalah semua afiks atau imbuhan seperti: prefiks, sufiks, konfiks dan infiks (tetapi dalam Dialek Nusa Penida tidak ada morfim terikat berupa infiks). Di samping itu terdapat pula morfim berupa kata ulang dan kata majemuk.

3.2. Proses morfofonemik dalam Dialek Nusa Penida dapat berupa menambahan fonim /n/.

4. Beberapa persamaan dan perbedan dalam bidang morfologi Dialek Nusa Penida dengan bahasa Bali Baku.

4.1 Persamaanya: a. Dalam Bahasa Bali Baku dikenal prefiks {mə-}, {pə-}. Demikian pula dalam Dialek Nusa Penida dedapatkan prefiks tersebut dalam bentuk {mə-}, {pə-}; b. Dalam bahasa Bali Baku dikenal sufiks {-an}, {-aŋ}. Demikian pula dalam Dialek Nusa Penida sufiks tersebut dijumpai dalam bentuk yang sama.

4.2 Perbedaanya: a. Dalam bahasa Bali Baku tidak terdapat sufiks {-ñə}, tetapi dalam Dialek Nusa Penida sufiks tersebut didapatkan sebagai pembentuk pasif; b. Dalam bahasa Bali Baku tidak terdapat sufiks {-cə}, tetapi dalam Dialek Nusa Penida sufiks tersebut dijumpai; c. Dalam Bahasa Bali Baku terdapat sufiks {-in} sebagai pembentuk kata kerja pasif, tetapi dalam Dialek Nusa Penida dijumpai sufiks tersebut dalam bentuk {-an}.

Bibliografi (Darma Laksana)

  • Bagus, I Gusti Ngurah: Masalah Pembakuan Bahasa Bali, Balai Penelitian Bahsa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Singaraja, 1975
  • Bloomfield, Leonard - Language, Henry Holt and Company, New York, 1964
  • Halim, Amran - Fungsi Politik Bahasa Nasional, kertas kerja pada Praseminar Politik Bahasa Nasional, in: Majalah Budaya Jaya, Penerbit Dewan Kesenian Jakarta, Maret, no.82, 1975
  • Jendra, Wayan - Sebuah ikhtisar Fonologi Bahasa Bali, diterbitkan oleh Jurusan Sastra Jawa Kuna Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar, 1976
  • Jendra, Wayan; Wayan Bawa dkk. - Sebuah Deskripsi tentang Latar Belakang Social Budaya Bahasa Bali, Proyek Penelitian Bahsas dan Sastra Indonesia dan Daerah, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahsas, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Denpasar, 1976
  • Keraf, Garys - Tata Bahasa Indonesia, cetakan II, Penerbit Nusa Indah, Percetakan Arnoldus Ende - Flores, 1973
  • Kamil, T.W. - Beberapa morfim yang produktif dalam bahasa Indonesia, Majalah Bahasa dan Budaya no.1/2, 1961
  • Kersten, P.J. - Tata Bahasa Bali, Nusa Indah Flores, 1970
  • Nida, E.A. - Morphology, The Descriptive Analysis of Words, Second Edition, Ann Arbor: The University of Michigan Press, 1962
  • Ramlan, M. - Ilmu Bahasa Indonesia, Morfologi, U.P. Indonesia, Yogya, 1967
  • Samsuri - Bahasa dan Ilmu Bahasa, Ikhtisar Analisis Bahasa Pengantar Kepada Linguistik, Jilid I, Lembaga Penerbitan IKIP - Malang, 1971
  • Samsuri - Pengantar Morfo-Sintaksis, Edisi Penataran, 1975

Lamiran II: 200 kata daftar swadesh (p.59-62): dilanjutkan

Lampiran III (hal.63-66): /rəraosan naŋ asri ajak naŋ rəmi unduk gumi arig/; Reraosan Nang Asri ajak Nang Remi unduk gumi arig; Percakapan Pak Asri dan Pak Remi tentang musim paceklik

Bahasa Bali Nusa Penida Bahasa Bali Bahasa Indonesia
/naŋ asri: həŋken naŋ remi, kolə əndək ŋelah kənəh babarə jani. to, pulan-pulanətə: jaguŋ, selə, kacaŋ dadi əndək ñak mupu carə sobə-sobətə. ŋasan ŋewəhan duaŋ jani eduptə. Nang Asri: Hengken nang Remi, kola endek ngelah keneh babara jani. To, pulan-pulaneta: jagung, sela, kacang dadi endek nyak mupu cara soba-sobeta. Ngasan ngewehang duang jani edupta. Pak Asri: Bagaimana pak Reni, saya kok tidak mengerti sekarang. Itu, tanam-tanamannya: jagung, ketela, kacang tidak ada hasilnya seperti yang sudah-sudah. Memang bertambah sukar hidup kita sekarang. 
naŋ rami: həŋken abət, bəs əndək adə ojane. ñak, əndək mati pula-pulanətə, ebə sobə jehə məgae duaŋ. Nang Remi: Hengkenan abet, bas endek ada ojane. Nyak endek matinya pulan-pulaneta. Eda soba jeha megae duang. Pak Remi: Apa boleh buat, karena hujan sangat kurang. Oleh karenanya, tanam-tanaman mati kekurangan air. Yang penting kita kan sudah bekerja.
naŋ asri: əndañə həntə, apə amah. trə awak mati mətahiŋ jani. sajə jehə awak ŋəlah puñan ñuh, kapah-kapahə ŋalap buahə, bəs kene ajiñə modah. bəblanjantə seŋ maələne. masih əndək gənəp adəne banñə. Nang Asri: Endanya henta, apa amah. Tre awak mati metahing jani. Saja jeha awak ngelah punyan nyuh, kapah-kapahene ngalap buaha, bes kene ajinya modah. Beblanjante aeng maelene. Masih endek genep adene bannya. Pak Asri: Kalau demikian, apa yang dimakan. Matilah kita karena tidak makan-makan. Walaupun kita punya pohon kelapa, sekali-sekali kita petik buahnya, tetapi harganya sangat murah. Sedangkan barang-barang keperluan sehari-hari sangat mahal. Juga tidak mencukupi.
naŋ remi: əndək həntə adəne, lan məlarat kə sumatrə sanñə bandiŋan dini awak, ŋəlah ñuhtə əndək akodətə masih paliŋ banñə. Nang Remi: Endek hente adene, lan melarat ke Sumatra sannya. Bandingan dini awak, ngelah nyuhta endek akodeta masih paling bannya. Pak Remi: Tidak aja jalan lain, lebih baik transmigrasi ke Sumatra saja. Bandingkan di sini kita hidup serba kekurangan saja.
naŋ asri: edə lakar məlarat kə sumatrə? kolə əndək cumpu adəne. edə əndək nəpuk timpal-timpul danə he məlipatətə. ŋalih apə edə kəmo bin. adelə kə sulawəsi sanñə kaneŋ sumatrə. Nang Asri: Eda lakar melarat ke Sumatra? Kola endek cumpu adene. Eda endek nepuk timpal-timpadane he melipeteta. Ngalih apa eda keno bin. Adela ke Sulawesi sannya kaneng Sumatra. Pak Asri: Engkau akan transmigrasi ke Sumatra? Saya tidak setuju kalau demikian. Engkau tidak melihat kawan-kawanmu banyak yang kembali. Mencari apa lagi ke sana. Lebih baik ke Sulawesi dibandingkan ke Sumatra.
naŋ remi: əndañə kə sulawəsi, bəkələne masih həntə. he ŋoñaŋ. Nang Remi: Endanya ke Sulawesi, bekelene masih hente. He ngonyang. Pak Remi: Kalau ke Sulawesi, biayanya kan banyak juga. Banyak menghabiskan bekal.
naŋ asri: ŋodə həntə, anak pəmərentah naŋguŋe. sobə kəd kəmone jehə ebənu haŋə jaminan. Nang Asri: Ngoda hente, anak pemerentah nanggunge. Soba ked kemone jeha eba nu hange jaminan. Pak Asri: Mengapa demikian, pemerintah yang membiayai kita. Sesampainya di sanapun kita masih diberikan jaminan oleh pemerintah.
naŋ remi: leh! lamun həntə gel awak. bin pedan to, takonan malu apaŋ məkən. malah awak gel, əncotcə əndək adə apə. lesat awak. Nang Remi: Leh! Lamun hente gel awak. Bin pedan to, takonan malu apang seken. Malah awak gel, encotoa endek ada apa. Lenat awak! Pak Remi: Oh! Kalau demikian senanglah kita. Kapan berangkatnya, tanyakan dahulu supaya jelas. Supaya jangan kita terlalu senang, tahu-tahu tidak ada apa-apa. Malu kita!
naŋ asri: ne, kayaŋ sohud galuŋəne lakar ñalan. prəbəkəltə həntə/. Nang Asri: Ne, kayang sohud Galungane lakar nyalan. Prebekelte hente. Pak Asri: Habis Galungan ini akan berangkat, Pak Perbekel yang membilangnya.

Daftar Informan (p.67- 70)

  • 1. Gurun Kardi, berumur 42, laki-laki, tani, alamat di Banjar Tanahbias
  • 2. Men Kardi, berumur 37, perempuan, tani, alamat di Banjar Tanahbias
  • 3. I Nyoman Paing, berumur 25, laki-laki, berpendidikan SD, tani, alamat di Banjar Biaung
  • 4. Namg Mara, berumur 60, laki-laki, tani, alamat di Banjar Adegan
  • 5. Wayan Rai, berumur 28, laki-laki, berpendidikan SD, tani, alamat di Banjar Adegan
  • 6. Wayan Moreg, berumur 29, laki-laki, berpendidikan SD, tani, alamat di Banmjar Bodong
  • 7. Nang Kasni, berumur 50, laki-laki, tani, alamat di Banjar Bodong
  • 8. Nang Sendem, berumur 55, laki-laki, dagang, alamat di Banjar Sental
  • 9. Made Mergig, berumur 32, laki-laki, berpendidikan SD, dagang, alamat di Banjar Sental
  • 10. Nang Kesir, berumur 50, laki-laki, tani, alamat di Br. Pendem
  • 11. Made Tari, berumur 30, perempuan, dagang, alamat di Perapat
  • 12. Nang Gama, berumur 30, laki-laki, nelayan, alamat di Banjar Nyuh
  • 13. Men Putri, berumur 50, perempuan, tani, alamat di Banjar Sental
  • 14. I Gede Lingga, berumur 28, laki-laki, berpendidikan SPG, guru SD, alamat di Banjar Serangen
  • 15. I Wayan Jambul, berumur 27, laki-laki, berpendidikan SPG, guru SD, alamat di Banjar Serangen
  • 16. Ni Wayan Narwi, berumur 25, perempuan, tani, alamat di Banjar Bodong

Referensi

http://ms.wikipedia.org/wiki/Hukum_D-M

Sumber

  • Darma Laksana, I Ketut, Professor - Morfologi Bahasa Bali Dialek Nusa Penida, Udayana University thesis, Denpasar-Bali, 1977, 71pp

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman www.godidijkman.nl social facebook box white 24