Latar belakang sosial budaya Bahasa Bali Nusa Penida (Bagus, 1981)

Laporan penelitian oleh Drs. I Gusti Ngurah Bagus dan kawan-kawannya agak sukar ditemukan. Penulis Godi Dijkman berterima kasih kepada Library of Congress in Washington (USA), khususnya kepada Margaret Kieckhefer (Senior Information and Reference Specialist), Michelle Wright (Customer Service Section), Kia Campbell (Duplication Services) & Lien Huong Fiedler (Southeast Asia Reference Librarian).

Obervasi tambahan dalam kurung [...] oleh penulis Godi Dijkman.

bagus latarbelakang 1981 coverKata Pengantar

Berkat rahmat Tuhan Yang Mahaesa maka kami tim peneliti Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar dalam hal ini ditanyakan oleh Juruan Bahasa dan Sastra Bali, dapat menyelesaikan serta menyajikan hasil penelitian Latar Belakang Sosial Budaya Bahasa Bali Nusa Penida. Dalam pelaksanaan penelitian ini banyak kami mengalami hambatan seperti kesukaran transport ke Nusa Penida karena waktu dan cuaca, mencari infrman yang tepat dan pergi ke lokasi yang ingin dijadikan sampel. Namun, atas ketekunan para fieldworkers maka kesukaran-kesukaran tersebut dapat teratasi. Dalam usaha penyelesaian tugas ini kami ucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Bapak Camat Nusa Penida beserta staf, Bapak Kepala Kantor P dan K Kecamatan Nusa Penida beserta staf, Bapak Perbekel Tanah Bias, Bapak Perbekel Toyo Pakeh dan Bapak para informan yang telah membantu kami dengan senang hati. Kami sadar bahwa hasil laporan ini masih banyak kekurangannya, maka itu bila saran-saran atau kritik para pembaca yang sifatnya menyempurnakan laporan kami ini, kami sangat gembira. Semoga laporan ini ada gunanya. Denpasar, 15 Juli 1981. Tim Peneliti

Bab I: Latar Belakang dan masalah - 1.1 Latar Belakang

(p.1) Pulau Nusa Penida termasuk daerah Tingkat II Kebupaten Klungkung dan untuk mencaainya harus mempergunakan alat penyeberangan seperti motor boat atau sampan layar. Ibu kota Nusa Penida ialah Sampalan. Pulau Nusa Penida terletak di sebelah Tenggara pulau Bali dengan luas ±414km. Dan dua buah pulau yang berada di luar Nusa Penida yaitu Lembongan dan Nusa Ceningan tetapi kedua pulau ini termasuk kecamatan Nusa Penida. Kecamatan Nusa Penida terdiri atas 13 perbekelan yaitu: Batununggul, Kutampi, Ped, Suana, Tanglad, Sekartaji, Batukandik, Batumadeg, Klumpu, Sakti, Toyopakeh, Lembongan dan Jungutbatu. Penduduk Nusa Penida 49102 orang (bedasarkan hasil statistik tahun 1971 di Camat Nusa Penida). Sebagian besar dari penduduk Nusa Penida menganut agama Hindu Dharma tersebar di 12 desa (Perbekelan) Nusa Penida, kecuali desa (Perbekelan) Toyopakeh yang penduduknya menganut agama Islam. Untuk menjalankan ibadah masing-masing umat di Nusa Penida tempat hanya di Toyapakeh terdapat sebuah bangunan suci yang disebut mesjid, sedangkan di tiap-tiap desa lainnya terdapat bangunan suci yang disebut Pura.

Nusa Penida merupakan suatu pulau yang belatar belakang sejarah berada di bawah lingkungan Klungkung dari jaman (p.2) dulu hingga tidak mengherankan hingga kini kebudayaan yang ada di sana adalah kebudahaan yang tak jauh bedanya dengan kebudayaan di Bali umumnya dalam hal ini termasuk bahasanya. Pulau Nusa Penida memiliki bahasa tersendiri artinya berbeda dengan bahasa yang dipakai oleh masyarakat Klungkung khususnya, Bali umumnya. Karena keadaan geografis pulau Nusa Penida itu maka pengaruh luar terutama pengaruh kebuadayaan Jawa tak banyak pengaruhnya di pulau Nusa Penida. Melihat kenyataan di atas Nusa Penida merupakan sebuah pulau yang memiliki bahasa yang dapat digolongkan bahasa Bali Mula dan penduduknya adalah penduduk pulau Nusa Penida, kecuali orang-orang di desa Toyopakeh yang beragama Islam. Melihat pendukung bahasa Bali Nusa Penida sangat dominan, yaitu orang Nusa Penida sendiri dengan mempergunakan bahasa dialek Nusa Penida, maka bahasa ini merupakan bahasa penduduk di sana, sebagai alat berkomunikasi dan mempunyai banyak arti dalam aspek kehidupan masyarakat Nusa Penida. Sampai sekarang penelitian bahasa Bali dialek Nusa Penida belum dilakukan dengan baik maka penelitian tentang dialek Nusa Penida ini perlu dilakukan.

1.2 Masalah

Mengingat latar belakang penelitian di atas, juga mengingat penyusunan pola kebijaksanaan kebahasaan, terutama yang menyangkut pembinaan den pengembangan bahasa dan sastra Indonesia dan Daerah serta memelihara sastra dan bahasa Daerah, maka timbullah beberapa masalah yang perlu mendapat jawaban, dalam bentuk rumusan pertanyaan sebagai berikut: (p.3) 1. bagaimana gambaran secara garis besar latar belakang budaya masyarakat Nusa Penida?; 2. bagaimana pula garis besar struktur bahasa dialek Nusa Penida yang ada di Nusa Penida. Kedua masalah tersebut amat perlu diselidiki dan dijawab untuk mendapat gambaran garis besar secara menyeluruh tentang informasi bahasa Bali dialek Nusa Penida tersebut. Penelitian ini mempunyai arti sangat penting bila dilihat dari berapa aspek pengetahuan secara interdisipliner, karena hasil penelitian ini akan membuka jalan yang lebh luas terhadap penelitian-penelitian yang lain sebagai penelitian lanjutan seperti: penelitian khusus dalam bidang kesenian, struktur bahasa dan lain sebagainya. Hal ini lebih penting lagi di mana penelitian ini akan berperan untuk memberi arti terhadap pengembangan dan pembinaan bahasa diteliti khususnya.

1.3 Tujuan

Penelitian bahasa di Nusa Penida ini mempunyai dua tujuan yaitu tuhuan praktis dan tujuan teoretis. Tujuan praktis. Yang dimaksudkan dengan tujuan praktis adalah tujuan yang langsung dapat dicapai dalam penelitian-penelitian ini: 1) bertujuan untuk memberikan latar belakang sosial budaya masyarakat Nusa Penida terutama yang berkaitan dengan masalah kebahasaan yang ada waktu sekarang ini; 2) bertujuan untuk mendapat suatu deskripsi bahasa Bali Nusa Penida tanpa dipengaruhi oleh faktor-faktor historisnya; (p.4) 3) bertujuan untuk mempraktekkan pengalaman-pengalaman praktis selama melakukan kerja lapangan. Tujuan Teoretis. Dari tujuan praktis tersebut, tergambar tujuan teroretis kebahasaan yang lain terutama untuk masa-masa yang akan datang: 1) penelitian struktur bahasa Bali Nusa Penida yang lebih mendalam dan lebih tuntas; 2) penelitian ilmu perbandingan bahasa terutama bahasa-bahasa Mula yang ada di Bali; 3) penelitian variasi dialek dan sub-dialek yang mungkin dapat dipisahkan dengan penlitian yang dilakukan sekarang ini. Di samping tujuan teoretis tersebut akan terdapat pula tujuan teoretis yang lain yaitu sebagai bahan pertimbangan bagi penelitian ilmu sosial yang berhubungan secara tak langsung. Dan juga bertujuan untuk membina dan kalau mungkin mengembabangkan bahasa tersebut untuk kepentingan pendidikan dan untuk alat komunikasi dalam masyarakat Nusa Penida secara baik dan juga sebagai pengungkapan aspek-aspek kebudayaan yang ada.

bagus latarbelakang 1981 map011.4 Teori penelitian

Sesuai dengan uraian dalam masalah dan lebih terperinci adalah termuat dalam batas tujuan penelitian yang hendak mengungkapkan secara garis besar latar belankang social budaya masyarakat Nusa Penida dan struktur kebahasaannya maka teori yang akan dipergunakan adalah teori dengan teknik pendekatan serta teknik wawancara yang tersebut dalam teori survey. Sedangkan untuk struktur bahasa dipergunakan teori bahasa (p.5) struktural. Sedangkan teori lain seperti teori kasus dan lain sebagainya tidak kami lakukan mengingat kesanggupan kami dalam teori tersebut sangat terbatas. Teori struktural yang dipergunakan dalam penelitian ini akan terasa bercampur dengan teori tradisional karena dilandasi oleh pemikiran bahwa sifat ilmu tidak dapat dilepaskan dengan rangkaian perkembangan yang terdahulu.

1.5 Ruang lingkup

Ruang lingkup pembahasan hasil penelitian sekarang ini hanyalah membicarakan garis-garis besarnya saja. Hal ini kami lalukan dengan kesadaran yang penuh mengingat tenaga, waktu dan biaya penelitian ini terbatas. Sedangkan analisis yang lebih mendalam dapat dilakukan pada penelitian waktu-waktu yang akan datang yang lebih mengkhusus di bidang kabahasaan. Ruang lingkup yang akan dicapai adalah hanya empat bab. 1.5.1 Bab I membicarakan Pendahuluan yang akan dibicarakan hal-hal berhubungan dengan 1) Latar Belakang. Dalam Latar Belakang ini akan membicarakan keadaan alam Nusa Penida, mata pencaharian, agama, kesenian, bahasa yang diteliti; 2) Masalah. Pada bagian ini diajukan masalah-masalah yang hendak dicapai. Masalah dirumuskan dalam bentuk pertanyaan secara sederhana; 3) Tujuan. Tujuan penelitian meliputi tujuan teoretis dan tujuan praktis yang hendak dicapai dalam penelitian ini; (p.6) 4) Teori, metode dan teknik; 5) Populasi dan Sampel; 6) lain-lain. 1.5.2 Bab II mengemukakan garis besar latar belakang sosial budaya bahasa Bali Nusa Penida meliputi: 1) jumlah bahasa yang ada dan dipakai di Nusa Penida; 2) jumlah pemakai yang memakai bahasa tersebut; 3) peranan dan kedudukan bahasa tersebut; 4) variasi dialektis; 5) tradisi sastra masyarakat Nusa Penida. 1.5.3. Bab III mengemukakan secara garis besar tentang struktur bahasa Bali Nusa Penida yang mencakup: 1) fonologinya; 2) morfologinya; 3) sintaksisnya. 1.5.4 Bab IV membicarakan kesimpulan dan saran.

1.6 Metode dan Teknik

Dalam penelitian ini dipergunakan metode survey dengan teknik: 1.6.1. Obervasi. Observasi dimaksudkan di sini mengadakan pengamatan lewat gejala penglihatan secara langsung dengan cara mendengarkan pembicaraan para pendukung bahasa. Segala yang didengar sehubungan dengan kebahasaan tersebut dicatat dengan sistematis. Metode ini melakukan pengecekan terhadap responden untuk meyakinkan kemantapannya atau keseluruhannya. Pencatatan ini (p.7) dibantu pleh perekaman untuk mengetahui reliabilitas dan validitasnya. 1.6.1 Daftar pertanyaan. Daftar pertanyaan ini dipergunakan untuk menggali data terutama tentang latar belakang sosial budaya penduduk Nusa Penida. Macam daftar pertanyaan ini dipilih adalah pertanyaan pangsung tipe mutiple choice. 1.6.3 Wawancara. Cara ini dilakukan terhadap informan yang tertentu, artinya dipilih dari orang yang dianggap dapat memberi informasi lengkap tentang penelitian yang sedang dilakukan. Wawancara dilakukan adlah wawancara bebas terpimpin. Dalam wawancara ini dilengkapi dengan perekaman untuk mengurangi kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi selama pencatatan dilakukan. 1.6.4 Sebagai pelengkap disertakan pula basic vocabulary yang teridir atas 200 kata-kata.

1.7 Populasi dan Sampel

Yang menjadi sasaran dari penelitian ini adalah Latar Belakang Sosial Budaya Bahasa Bali Nusa Penida di Nusa Penida. Dengan demikian maka sasaran yang ditujukan pada semua lapisan masyarakat di Nusa Penida yang memekai bahasa Bali Nusa Penida. Tetapi mengingat waktu dan biaya yang tersedia tak mungkin hal ini dapat dilakukan sepenuhnya terhadap masyarakat yang tersebar di 13 kecamatan di mana jarak satu kecamatan dengan kecamatan yang lain banyak di antaranya masih susah dicapai, maka itu akan dipakai teknik sampel. Walaupun demikian dari penelitian (p.8) berdasarkan sampel tersebut akan menjamin untuk menarik kesimpulan umum. Dalam penelitian ini akan diambil 10 orang sampel dari lima kecamatan yaitu: Batununggul, Lembongan, Jungutbatu, Klumpu dan Toyopakeh. Pengambilan sampel ini dilandasi pikiran bahwa desa Batununggul, Lembongan, Jungutbatu masyarakatnya beragama Hindu Dharma dan memekai bahasa Bali Nusa Penida sebagai bahasa sehari-hari. Dan juga ketiga daerah ini agak mudah dicapai dengan kendaraan. Bahasa yang dipakai di tiga desa ini akan dapat menggambarkan keadaanb bahasa di desa yang lain kecuali Toyopakeh. Toyopakeh adalah salah satu desa yang beragama Islam. Jadi faktor bahasa sehari-hari di sana banyak dipengaruhi oleh situasi agama yang dianutnya. Penyebaran daftar pertanyaan di daerah sampel sebankayk 30 orang masing-masing daerah sampel diambil 10 orang informan. Sedangkan wawancara dilakukan 4 orang dari masing-masing daerah sampel dengan memberi ketentuan kelamin, jabatan, dalam masyarakat.

1.8 Pengelolahan data

Data yang terkumpul dipilih dan diklasifikasikan sesuai dengan jenis datanya. Hasil jawaban daftar pertanyaan diadakan perhitunang secara statistik setelah ditabulasikan. Data hasil pengamatan dipakai sebagai bahan pelengkap dalam mencari kesimpulan. Masing-masing anggota tim diberi tuguas khusus menggarap bagian tertentu, kemudain didiskusikan bersama antara anggota tim. Hasil diskusi ini kemudian dirumuskan bersama untuk mencari kesimpulan penelitian.

Bab II (p.9): Latar Belakang Sosial Budaya - 2.1 Jumlah Bahasa

Geografi Nusa Penida terdiri atas tiga buah pulau yaitu Nusa Penida, Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan. Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan dipisahkan oleh sebuah selat pada yang tertentu airnya dangkal. Antara Nusa Penida dan Nusa Ceningan serta Nusa Lembongan dipisahkan oleh sebuah selat yang cukup dalam. Keadaan alam di Nusa Penida terutama pada musim panas yang panjang merupakan tanah tegalan kering dengan lapisan tanah yang tipis terletak pada batu-batu karang atau batu kapur yang keras. Memperhatikan keadaan pulau Nusa Penida, pulau bekas rawa-rawa dan tanda-tanda tentang bekas rawa-rawa itu masih tampak dimana sekarang di sepanjang Desa Ped, Toyopakeh. Pada musim kering tanah di Nusa Penida kelihatan kering dan tandus, hingga hanya pohon kelapa masih bisa bertahan hidup sedang pohon lain sudah mati. Bila datang bulan lembaba bulan November hingga bulan Maret banyak ditanam jagung, kacang-kacangan, kedele serta dapat tumbuh dengan subur.

Melihat keadaan geografis demikian ini, maka Nusa Penida dipakai daerah pembuangan berdasarkan perjanjian tujuh kerajaan di Bali dalam tahun Seka 1776 (1854M) natar kjerajaan Klungkung, Buleleng, Bangli, Payangan, Gianyar dan Mengwi. Alasan yang tegas tentang keputusan tersebut tidak ada. Sekelumit disebutkan triwangsa dibuang ke Nusa Penida bersalah berhubungan dengan hutang atau masalah denda. Di samping itu prinsip pembuangan (p.10) itu pengurisan dan pemisahan seseorang dari keluarganya. Dengan prinsip ini pembuangan di Nusa Penida tetap pada sasarannya. Alasan yang lain terpilihnya Nusa Penida sebagai daerah pembuangan, karena dengan harapan bahwa pembuangan itu betul-betul memberi hukuman seperti yang diharapkan oleh pangadilan. Dan juga situasi lingkungan Nusa Penida cocok sebagai daerah bunagan. Selain tiga alasan di atas, terpilihnya Nusa Penida sebagai daerah buangan dengan harapan para buangan ini akan dapat membuka perladangan dan dapat memperbanyak hasil bumi di sana.

Melihat situasi sejarah Nusa Penida demikian itu berdasarkan laporan Belanda abad XX (sekitar tahun 1920 hingga tahun 1930) berjumlah 26.000 jiwa terdiri dari orang Bali dan orang Nusa (disebut Baliaga). Di samping orang Bali di Nusa Penida diam pula orang Jawa, Cina dan orang Asing lainnya. Orang Bali di Nusa Penida terdiri atas dua golongan yaitu orang-orang Bali pendatang dan orang Bali yang menanggap dirinya penduduk asli. Dan goglongan ini (yang terakhir) disebut orang Nusa. Kehidupan orang Nusa Penida sebagian besar hidup sebegai petani di ladang kering dan untuk bercocok tanam amat tergantung pada musim hujan. Hasil ladang kering di sana berupa kelapa, jagung, kacang merah, kacang hijau dan ketela pohon. Di samping kehidupan mereka berladang, juga mereka hidup sebagai pelayan terutama penduduk yang diam di pesisir, di samping mereka sebagai petani.

Nusa Penida mempunyai susunan masyarakat bertingkat-tingkat (p.11) dan tampak adanya pengaruh susunan masyarakat di Bali. Lapisan sosial masyarakat di Nusa Penida dapat dibedakan atas empat kasta yaitu Brahmana, Ksatrya, Wesia dan Sudra. Ketiga kasta yang lebih tinggi yaitu Brahmana, Kesatrya dan Wesia mengelompokkan diri dengan sebutan triwangsa sedangkan kasat sudra disebut golongan jaba atau kawula. Tiap-tiap golongan dibedakan lagi atas bagian-bagian yang lebih kecil. Brahmana dibedakan atas Brahmana Siwa dan Brahmana Budha yang menjadi keturuanan dari pendeta Dwijendra (penganut ajaran Siwa) dan pendeta Astapada (penganut ajaran Budha). Golongan kesatrya digolongkan menjadi ksatrya Dalem keturunan dari Kresna Kepakisan, Ksatrya Arya Kula keturunan para Arya Jawa yang menyertai kedatangan Sri Kresna Kepakisan. Kasta Wesia merupakan turunan pengiring Sri Kepakisan yaitu Tan Kober, Tan Kahur dan Tan Mundur. Golongan Kawula merupakan golongan mayoritas di Nusa Penida. Golongan Kawula dibedakan pula atas Kawula Utama, Kawula Madia dan Kawula Mista. Dari kenyataan yang ada sekarang ini di Nusa Penida hanya terdapat tiga golongan belaka taitu golongan Ksatrya, Wesia dan Kawula. Sedangkan golongan Brahmana tak ada di Nusa Penida. Melihat keadaan geografis dan situasi masyarakat Nusa Penia maka bahasa sebagai alat komunikasi yang merupakan bahasa ibu di Nusa Penida ada dua macam: 1. Bahasa Bali; 2. Bahasa Nusa atau bahasa Bali dialek Nusa Penida.

2.1.1 & 2.1.2 Bahasa Bali & Bahasa Bali di Nusa Penida

Bahasa Bali adalah salah satu bahasa yang hidup di Nusa (p.12) Penida dan tersebar luas secara menyeluruh dipakai di daerah daratan. Hal ini agaknya kelihatan sama dengan situasi pemakaian bahasa Bali di Bali yang berbeda denga daerah pemakaian bahasa Bali Mula. Bahasa Bali di Nusa Penida adalah bahasa yang hidup di Nusa Penida. Bahasa ini dipergunakan dalam pergaulan akrab oleh penduduk Nusa Penida terutama penduduk yang diam di daerah pedalaman atau pegunungan Nusa Penida. Bahasa Bali Nusa Penida pemakaiannya berupa bahasa pergaulan intim dan umumnya orang Nusa Penida menganggap bahasa Nusa Penida sebagai bahasa kasar.

2.2 Peranan dan Kedudukan

Bahasa Bali Nusa Penida (BBN) mempunyai peranan yang penting untuk menyampaikan ide bagi orang Nusa Penida dan diasumsikan sabagai: 1. bahasa pergaulan anak-anak di sekolah; 2. bahasa komunikasi dalam hubungan dengan orang Nusa Penida di Nusa Penida. Dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah setempat, BBN dipakai dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam lingkungan keluarga. Sehubungan dengan kedudukannya dan peranannya dalam masyarakat Nusa Penida sering timbul perubahan pemakaian bahasa yang didasari semata-mata oleh adanya rasa prestise. Orang Nusa Penida dan mengharapkan bahwa BBN itu sebagai bahasa kasar bila dibandingkan dengan bahasa Bali (BB). Dalam keadaan yang resmi sering kedengaran perubahan pemakaian bahasa, mereka tidak lagi mempergunakan BBN tetapi telah berubah ke BB. Hal ini terlihat bila mereka (orang Nusa Penida) berhadapan dengan orang yang berpangkat ataupun kastanya lebih tinggi.

Khusus di kampung Toyopakeh yang penduduknya beragama Islam teridiri atas suku campuran. Suku Madura, Bugis, Kalimantan dan juga suku Bali. Umumnya saat mereka berkomunikasi antar keluarga mereka memperganakan bahasa suku mereka masing-masing. Tetapi dalam pergaulan di masyarakat luas tampak bahasa yang dipakai adalah BBN dan juga BB. Sehubungan dengan pembicaraan dan kedudukan BBN di Nusa Penida akan diuraikan terlebih dahulu peranan dan kedudukan dalam kebudayaan.

Untuk membicarakan BBN dalam kebudayaan, terlebih dahulu kita pegang pengertian kebudayaan itu sendiri. Dari sekian banyak definisi kebudayaan yang ada Dr. Ki Hajar Dewantara menyatakan, 'Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh yang kuat yaitu alam dan jaman dalam perjuangan mana terbukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai-bagai rintangan dan kesukaran di dalam hidup dan kehidupan guna mempunyai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan dami. Bertolak dari pikiran tersebut kiranya tak akan salah kebudayaan di Nusa Penida rapat kaitanya dengan unsur-unsur kebudayaan yang ada, di dalamnya seperti adat, agama, kesenian, bahasa, pendidikan kehidupan rumah tangga. Kebudayaan di Nusa Penida tidaklah merupakan kebetulan kebudayaan Nusa Penida, sebegaimana halnya dengan budayaan Bali yang merupakan kebetulan kebudayaan Bali. Semua ini disebabkan (p.14) karena Nusa Penida banyak dipengaruhi oleh kebudayaan luar terutana kebudayaan yang datang dari Bali. Di samping itu ada pula kebudayaan Jawa, Bugis, yang datang ke Nusa Penida dan memberi pengaruh kepada kebudayaan Nusa Penida walaupun pengaruh yang diterima dari Bugis, Jawa relatif sedikit.

2.2.1 Bahasa Bali Nusa Penida dalam Adat

Adat istiadat terdapat di Nusa Penida termasuk unsur kebuadayaan Nusa Penida serta menimbulkan nilai-nilai tradisional dan menjadi tata kehidupan masyarakat Nusa Penida. Adat di sini adalah adat tradisional bersumber pada nilai-nilai kuna yang bersifat klasik, dipelihara, dijunjung dan disesuaikan kebutuhan masyarakat di sana. Yang termasuk adat di Nusa Penida adalah perkawinan, yang membedakan atas kawin kamaran, kawin lari dan kawin paksa disebut melagandang. Adat yang lain kematian dan adat memotong padi. Di samping itu adat memohon hujan.

Unsur kebudayaan lain di Nusa Penida adalah agama dan kepercayaan. Bertolak dari kesadaran bahwa manusia sadar akan adanya suatu alam yang tak tampak dan berada di luar batas kemampuan panca indra manusia. Alam tersebut kita sebut alam gaib. Sehubungan dengan hal ini manusia sadar akan adanya kekuatan yang lebih besar dari kekuatan yang ada pada dirinya. Ini adalah suatu kepercayaan. Hal ini diperlihatkan dengan berbagai cara yang bertujuan mencari hubungan dengan kekuatan tersebut. Demikian pula kepercayaan terhadap adanya mahluk halus, dilandasi oleh adanya kepercayaan adanya jiwa yang tetap hidup abadi bila telah kepas dari jasanya. Jiwa-jiwa itu dapat bebas dan (p.15) memenuhi alam semesta ini, kemudian berubah menjadi mahluk halus (spirit). Mahluk halus dan kekuatan-kekuatan itu ada yang baik dan ada pula yang jahat. Dari sifat mahluk halus ini timbul adanya tanggapan ilmu hitam dan ilmu putih. Sistem kepercayaan ini adalah tentang wujud dunia gaib sebagai yang dinyatakan oleh Koencaraningrat. Konsep kepercayaan tersebut akan tergambar bagaimana sistem kepercayaan di Nusa Penida. Penduduk Nusa Penida menganggap dirinya memeluk agama tirta, sama seperti yang dianut oleh masyarakat Bali. Hal ini tempak pada sistem upacara pada saat penghormatan terhadap Tuhan, penghormatan terhadap leluhur, penguburan mayat. Demikian juga manusia yadnya, upacara dari baru lahir , kawin, upacara korban mempunyai persamaan dengan yang berlaku di Bali.

Di desa-desa terdapat pura. Di pura itu terdapat Pura Penataran seperti Pura Penataran Ped, Pura Batu Madeg, Pura Mundi, Pura Tunjuk Pusuh dan Pura Bakung. Juga terdapat Pura Paibon dan Dadia. Di Nusa Penida terdapat kepercayaan terhadap dewa-dewa atau cerita Mithos yang dikeramatkan seperti dewa di Pura Ped dan dewa di Pura Batumadeg, yang dianggap sebagai kekuatan bagi masyarakat di Nusa Penida. Dongeng sperti ini amat tebal melekat di hati masyarakat Nusa Penida. Seperti kepercayaan Ratu Gede Gede Mecaling dipuja sebagai raja makhluk nalus dan juga sebagai patih di Pura Dalem Penataran Ped. Kepercayaan terhadap Ratu Gede Mecaling ini menyebar pula sampai di Bali.

Pelaksanaan pemakaian bahasa dalam rangka melaksanakan (p.16) adat di Nusa Penida terlukis sebagai berikut: Dari suluruh resonden 45% menyatakan kadang-kadang memakai BBN, 3,3% yang menyatakan tak pernah memakai BBN. Ini berarti BBN sering dipakai melangsungkan pelaksanaan adat. Namun kedudukan BBN dalam hal ini tidak dominan sekali. Dari hasil obeservasi, kenyataan ini dibahas kasar. Sedangkan dalam pelaksanaan adat di Nusa Penida dituntut tata cara yang sopan, alus dan terhormat. Dari kenyataan ini beralasanlah bila BB banyak dipakai untuk melangsungkan masalah itu. Namun sepanjang penelitian yang dilakukan BB yang dipakai adalah tingkat bahasa Bali halus. Sedangkan dalam sitasi yang bukan formal bila mereka itu menyampaikan pikirannya pada orang lain, terutama bukan orang Nusa Penida bahasa yang dipakai adalah BB halus madia. Data lain menunjukkan bahwa pemakaian BBN menunjukkan frekwensi yang rendah bila diapaki dalam melangsungkan agama atau mengadakan penyampaian kepada Tuhan. Saat ini BB mempunyai kedudukan yang amat dominan. Untuk data ini hanya 10% responden memakai BBN, 75% yang memakai BB, 10% memakai BI dan 5% memakai bahasa campuran.

2.2.2 Bahasa Bali Nusa Penida dalam Kesenian

Kesenian Nusa Penida sebagai salah satu unsur kebudayaan di Nusa Penida berupa: wayang, legong, barong, joged, gandrung, drama. Jenis kesenian ini terdapat hanya beberapa desa saja di antaranya di Batununggul, desa Kutampi, Ped, Suana, Tanglad. Berdasarkan data yang ada di Nusa Penida yang lain belum terdapat jenis kesenian sebagai yang kita dapatkan di desa tersebut di atas. Di Batununggul tercatat (p.17) 5 buah wayang kulit, 5 buah sekehe legong, sebuah perkumpulan joged, dan sebuah drama gong. Di desa Kutampi tercatat dua perkumpulan barong, dan tiga buah perkumpulan drama gong. Di desa Ped kita cacat satu wayang kulit dan di desa Suana terdpaat satu perkumpulan barong, satu joged, satu gandrung dan satu drama gong. Wayang dalam lakon-lakonnya memakai bahasa Jawa Kuna seperti wayang yang terdapat di Bali. Dalam adegan yang tertentu kedengaran memakai BBN dan BB. Lain halnya dengan drama gong, di mana pelaku-pelakunya selalu memakai BB, pemakaian BBN amat sedikit. Selain daripada kesenian tersebut ada pula beberapa kesenian walaupun belum begitu terkenal di antaranya gambuh, topeng parwa dan sangyang. Dari hasil observasi, gambuh berasal dari Pejeng Gianyar dan dikembangkan oleh Cokorda Rai. Banggul serta berkembang di desa Batununggul. Pedanda Gede Puni dari Bangli memperkenalkan dan mengembangkan tarian sangyang terutama sangyang dedari, sangyang Jaran.

Kehidupan kesenian di Nusa Penida belum banyak mendapat perhatian masyarakat Nusa Penida umumnya. Sehubungan dengan pemakaian bahasa yang dipakai dalam pementasan terutama beberapa kesenian yang memakai ucapan, seperti drama, wayang, tampaknya pemakain BBN relatif kecil. Data menunjukkan bahwa informan menyatakan 80% kesenian, dinyatakan tidak memakai BBN, 13% menyatakan bahwa tak ada kesenian Nusa Penida yang memakai BB. Semua data tersebut menyatakan (p.18) bahwa sebagian besar kesenian yang mereka ketahui tidak memakai BBN. Dari kenyataan yang dijumpai bahwa kesenian di Nusa Penida memakai BB terutama pada drama, sebagian lagi memakai Jawa Kuna seperti dalam Wayang. Gambuh yang ada di Nusa Penida dalam dialohnya memakai Jawa Kuna sedangkan penakawan memakai BB dicampur pada bagian tertentu dengan BBN. Malahan mereka yang diam di Ibu Kota secara tandas menyatakan bahwa kata-kata dalam keseniana tidak memakai BBN. Di antara seluruh informan hanya beberapa orang melihat bahwa kesenian di Nusa Penida tidak memakai BB, yang jelas bukan dimaksudkan bahwa bahasa yang dipakai adalah BBN. Hal ini belum pasti. Bila dilihat frekwensi pemakaian BBN pada jenis-jenis kesenian yang ada di Nusa Penida dapat dilihat sebagai berikut: wayang memakai BBN sebanyak 3%; drama gong memakai BBN hanya 2,5%; kesenian lain memakai BBN 0%. Data di atas menyatakan bahwa pemakaian BBN dalam kesenian di Nusa Penida relatif kecil, berarti bahasa yang dipakai secara dominan adalah BB dan bukan BBN.

2.2.3 Bahasa Bali Nusa Penida dalam Pendidikan

Keadaan pendidikan di Nusa Penida belum maju maksudnya tingkat pendidikan di Nusa Penida baru sampai tingkat SITA. Namun secara jujur kita nyatakan bahwa tempat pendidikan (maksudnya sekolah) sudah tersebar di seluruh desa di Nusa Penida. Dari data yang dijumpai, sekolah yang ada tingkat Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Menengah Atas. Sehubungan dengan pengadaan kurikulum sekolah terutama pada Sekolah Dasar, masalah pengajaran bahasa daerah khususnya sama dengan (p.19) kurikulum Sekolah Dasar di Bali.

Kedudukan BBN di sekolah-sekolah baik sebagai bahasa pengantar maupun sebagai alat komunikasi antara guru dan murid atau sebaliknya belum berfungsi sebagai yang diharapkan. Dari data hasil observasi langsung, dalam pergaulan di sekolah antara kawan-kawan sendiri tampak BBN tetap dipergunakan. Tetapi dalam hubungan yang lain seperti pembicaraan dengan guru, pemakaian BBN tak pernah dipakai. Yang mereka pakai adalah BB. Malahan saat mereka bercakap-cakap dengan kawannya sendiri pemakaian BBN sering dicampur dengan BB. Semua kenyataan tampak dari hasil jawaban kwestioner yang telah dikumpulkan. Sebanyak 20% informan yang menyatakan selalu memakai BBN bila di sekolah, 37,5% yang menyatakan kadang-kadang memakai sedangkan 43,5% yang menyatakan tak pernah memakai BBN dalam pergaulan di sekolah. Dalam data ini dapat ditarik kesimpulan bahwa BBN tidak dipakai sebagai bahasa pengantar dalam pergaulan di sekolah secara menyeluruh. Tampaknya hanya pada sekolah yang tempatnya di pegunungan BBN dipakai secara dominan dalam pergaulan sekolah. Kenyataan ini dapat dimengerti karena BBN dipakai secara baik terutama pada masyarakat di pegungunan. Di samping itu pelajaran bahasa daerah yang diberikan di sekolah adalah BB dan tidak pernah diajarkan BBN. Sebagai bahasa pengantar pelajaran terutama murid di kelas satu sampai dengan kelas tiga di SD dipergunanakan BB. Hal ini terlihat dari jawaban murid-murid yang berasal dari daerah daratan. Tetapi murid yang berasal dari daerah pegunungan menyatakan bahwa bahasa pengantar dalam pendidikan di (p.20) samping memakai BB sering juga dicampur dengan BBN. Malahan pemakaian BBN ini terasa lebih intim antar murid dan guru. Dari kenyataan-kenyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa BBN dipakai hanya sebagai bahasa tambahan terutama di sekolah yang lokasinya di pegunungan. Sedangkan di kota (daratan, dan pantai) bahasa pengantar adalah BB dan mempunyai kedudkuan yang sangat dominan.

Untuk mendapat gambaran secara teoretis, kedudukan BBN tidak mengikuti garis kurikulum yang telah diterapkan di Nusa Penida secara menyeluruh. Dalam kurikulum SD disebutkan bahasa daerah sebagai salah satu mata pelajaran di SD dengan tujuan pokok yang sama dengan mata pelajaran bahasa Indonesia: a. memupuk dan mengembangkan kecakapan anak didik untuk memakai, mengucapkan dan menikmati keindahan bahasa; b. memupuk dan mengembangkan kecakapan berpikir dinamis rasional dan praktis; c. memupuk dan mengembangan kecakapan berbahasa lisan dan tulisan.

Kiranya pelaksanaan kurikulum 1986 tentang BBN di Nusa Penida tidak terlaksana sebagaimana diharapkan yang disebabkan oleh beberapa faktor . Dari hasil wawancara dengan guru-guru di Nusa Penida kesukaran itu berkisar pada faktor tenaga yang mengajarkannya, faktor tidak buku yang memakai BBN, BBN sendiri mempunyai ruang lingkup pemakaian yang sempit. Ruang lingkup yang sempit maksudnya, BBN hanya dipakai hanya dalam situasi yang amat terbatas. Keterbatasannya ini hany bila komunikasi itu berlangsung antara keluarga mereka saja. Sedangkan (p.21) bila berbicara dengan orang yang didanggap bukan orang Nusa Penida, orang besar (pemimpin) mereka malu bila memakai BBN itu. Jadi tanggapan mereka mempunyai rasa rendah diri terhadap pemakaian BBN itu sendiri. Dalam hal ini pemakaian BBN cepat berubah menjadi BB.

Selanjutnya diterapkan kurikulum 1975 secara konsekwen di seluruh Indonesia di mana dari SD kelas I hingga kelas VI bahasa Indonesia dipakai sebagain bahasa pengantar. Hal ini menyebabkan kedudukan bahasa daerah akan makin terdesak fungsunya sebagai bahasa pengantar. Tambahan lagi adanya penekanan terhadap tujuan kurikulum 1975 di bidang bahasa sabagai berikut: a. murid memiliki pengetahuan dasar yang dapat digunakan sebagai dasar untuk bercakap dalam Bahasa Indonesia (BI), mendengar BI dan menulis BI; b. murid memiliki pengetahuan yang dapat dipergunakan untuk membina BI menjadi BI sebagai bahasa Ilmu pengetahuan; c. murid memiliki pengetahuan untuk bercakap dalam BI, keterampilan mendengarkan BI, keterampilan menulis dengan BI, keterampilan menggunakan BI dengan baik, betul dan tepat; d. murid mempunyai daya kritik terhadap peggunaan BI; e. murid lebih menyukai BI yang baik.

Dengan adanya penekanan BI demikian itu maka di Indonesia, khusus di Nusa Penida, BBN tidak mendapat perhatian sama sekali sebagai bahasa pengantar maupun sebegai mata pelajaran. Di samping itu karena BBN tak berperanan sama sekali (p.22) dalam pendidikan. Kurikulum di tingkat lanjutan atas, merupakan lanjutan pendidikan di SMP. Rencana pelajaran ini memberi dasar keahlihan kepada anak didik hingga kemudian mereka dapat mengembangkan bakat mereka dalam masyarakat. Sehubungan dengan hal ini maka bahasa sebagai alat penghubung, alat menimbulkan daya cipta, rasa dan karsa oleh karena itu di SITA sebagian budaya di kelas II dan kelas III masing-masing diberikan pelajaran bahasa daerah dua jam sebagai kelompok pembinaan pengetahuan dasar. Dari data-data yang didapatkan di Nusa Penida kedudukan BBN sangat bertolak belakang dari asumsi yang kita bayangkan, terutama murid-murid tidak menaruh perhatian sama sekali, malahan dalam percakapan mereka, mereka mempergunakan BB atau malahan ada di antara mereka tak mengerti sama sekali tentang BBN. Jelas sarana yang berupa buku-buku yang ada di sana adalah buku yang berbahasa Indonesia dan buku pelajaran yang memakai BB.

Untuk mendapatkan gambaran pemakaian BBN sebagai alat komunikasi antara murid dan guru di dalam atau di luar sekolah terlihat pada keadaan berikut: 0% yang menyatakan selalu memkai [BBN]; 16% yang menyatakan jarang memakai [BBN]; 43,3% yang menyatakan tak pernah memakai [BBN]; 40% yang menyatakan bercampur [BBN] dengan bahasa lain. Gambaran data ini menunjukkan bahwa tak seorang murid pun yang selalu memakai BBN bila mereka berkata-kata dengan gurunya baik dalam situasi apapun. Kenyataan ini memang benar (p.23) mengingat guru SD di Nusa Penida hampir seluruhnya berasal dari Bali. Dan tak seorang dari guru yang kami jumpai berasal dari Nusa Penida. Keterangan lain kita jumpai beberapa responden menyatakan jarang memakai BBN (sebanyak 16%) ini berarti bahwa dalam keadaan tertentu terutama dalam keadaan yang amat intim beberapa orang murid memakai BBN bila mereka bercakap-cakap dengan gurunya. Hal ini kita jumpai terutama bila sekolah berada di pedesaan atau di pegunungan, walaupun kenyataan seperti tersebut di atas. Namun frekwensi tetap tinggi bagi mereka yang memekai bahasa campuran, terutama campuran antara BBN dan BB. Semua ini dapat disimpulkan bahwa pamai BBN dalam percakapan antara gurtu dan murid baik di luar maupun di dalam kelas tergantung pada lokasi tempat percakapan tersebut berlangsung. Pamakaian BBN sebagai bahasa komunikatif antara guru dan murid terlihat berfungsi walaupun relatif kecil bila lokasi sekolah jauh dari kota. Tetapi frekwensi bahasa campuran kelihatan amat dominan di mana-mana. Malahan bila sekolah berlokasi di kota BBN tak pernah dipergunakan sebagai alat komunikasi seperti ini.

Selain itu untuk mendapat gambaran BBN sebagai bahasa pengantar pelajaran terlihat pada data berikut: 13,3% yang menyatakan amat mengerti BBN; 33,3% yang menyatakan menjadi mengerti BBN; 53,3% yang menyatakan agak mengerti; 0% yang menyatakan tidak mengerti BBN. Data ini menunjukkan bahwa bila BBN dikapai sebagai (p.24) bahasa pengantar banyak murid yang menyatakan mengerti sekali terhadap pelajaran yang diterangkan gurunya. Mereka yang menyatakan mengerti dan agak mengerti cukup tinggi. Sedangkan tak ada seorang muridpun yang menyatakan tak mengerti bila guru memakai BBN saat menyampaikan pelajarannya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa BBN mempunyai arti cukup penting bila dipakai sebagai bahsa pengantar.

2.2.4 Bahasa Bali Nusa Penida dalam Kehidupan Rumah Tangga

Pembicaraan sehari-hari di rumah tangga merupakan suatu pergaulan intim antar keluarga yaitu anak, istri, suami. Dalam pembicaraan intim ini bahasa yang dipakai adalah bahasa intim pergaulan. Di Nusa Penida bahasa intim keluarga adalah sebagaian besar memakai BBN. Kelihatannya pemakaian BBN ini di Nusa Penida tidak terbatas pada golgongan masyarakat tertentu tetapi tampaknya pemakaian BBN dipakai antara satu golongan dengan gogolongan yang lain yang hidup di masyarakat Nusa Penida. Umpama antara golongan petani dengan masyarakat buruh dalam pergaulan itu tampaknya mereka sering memakai BBN. Semua kenyataan ini tampak pada dari hasil kwestioner berikut.

Saat percakapan antar keluarga ibu, bapak dan anak, 70% yang menyatakan memakai BBN; 6,6% yang menyatakan memakai BB; 5% yang menyatakan memakai BI; 8,4% yang menyatakan mamakai BC. Hasil ini menunjukkan bahwa bila orang Nusa Penida berkomunikasi antar keluarga mereka sebagian besar keluarga (p.25) Nusa Penid memakai BBN dibandingkan memakai bahasa yang lain. Jadi saat ini kedudukan BBN amat dominan. Kenyataan yang lain tampak ada pula keluarga dalam pergaulan sehari-hari mempergunakan BI, BB atau bahasa campuran (BC). Namun bahasa lain selain BBN tidak dominan di keluarga Nusa Penida. Pemakaian BBN tampaknya berubah bila percakapanya itu berlangsung antara satu keluarga dengan keluarga yang lain. Saat ini mereka yang menyatakan selalu memakai BBN sebanyak 70%, mereka yang menyatakan kadang-kadang memakai sebanyak 20%, mereka yang menyatakan tak pernah memakai sebanyak 10%. Kenyataan menunjukkan bahwa dalam sitasi yang dimikianpula BBN tetap menunjukkan frekwensti yang dominan. Walaupun beberapa keluarga ada yang menyatakan jarang atau tidak pernah sama sekali. Mereka yang menyatakan jarang memakai BBN atau yang menyatakan tak pernak memakainya adalah keluarga yang berasal dari luar Nusa Penida. Atau mereka yang karena agamanya tidak memakai BBN tetapi memakai bahasa lain seperti BI atau BB atau campuran keduanya ini.

Pemakaian BBN di Nusa Penida tidak didominir oleh satu golongan belaka melainkan pemakaiannya berada pada golongan masyarakat yang ada di Nusa Penida. Maksudnya, pemakaian BBN dipakai oleh masyarakat golongan petani, pedagang ataupun pada golgongan yang lain. Hanya frekwensi pemakaiannya tidaklah sama. Semua ini tampak pada data berikut: 26,6% tingkat buruh biasa memakai BBN; 0% tingkat pegawai memakai BBN; 70% tingkat petani memakai BBN; 3,3% tingkat pedagang memakai BBN; (p.26) 70% tingkat petani memakai BBN; 3,3% tingkat pedagang memakai BBN.

Semua data mununjukkan bahwa pada kaum petanilah pamakaian BBN paling dominan bila mereka berkomunikasi antara keluarga mereka. Kemudian menyusul buruh biasa dan kemudian pedagang. Sedangkan golongan pegawai tak ada yang memakai BBN bila mereka berkominikasi dengan keluarga mereka. Kenyataan ini dapat kita benarkan setelah diadakan observasi langsung. Umumnya kaum petani selalu memakai BBN dalam pergaulan mereka di rumah tangga. Sedangkan kaum buruh kebanyakan hidup di pantai dan di kota, tentang tata hidup mereka banyak dipengaruhi oleh bahasa lain diantaranya BI. Keadaan inilah yang menyebabkan maka percakapan mereka di rumah tangganya mereka mamakai BI. Pegawai dinyatakan 0% memakai BBN bila mereka berkomunikasi dengan keluarganya sendiri karena hampir sebagian besar pegawai di Nusa Penida teridir atas orang luar Nusa Penida dan mereka itu bahasa ibunya bukan BBN. Pada keluarga pedagang pemakaian BBN amat kecil. Semua ini disebabkan karena para pedagang itu umumnya kebanyakan kerkecimpung dengan orang di luar daerah. Hanya beberapa pedagang kecil yang pergaulannya jarang berhadapan dengan masyarakat di luar Nusa Penida akan memakai BBN. Untuk memberi gambaran yang lebih jelas begaimana fungsi BBN sebagai alat komunikasi di luar keluarga petani, buruh, pedagang dan pegawai: 86,6% dari kaum petani yang selalu memakai BBN di luar keluarganya; 43,3% dari kaum buruh yang selalu memakai BBN di luar keluarganya [...?]

2.3 Tradisi Sastra: 2.3.1 Sastra Tulis - 1. Lontar (p.28)

Beberapa buah lontar yang penting telah dijumpai di Nusa Penida di antaranya Ramayana, Bratayudha, Cupak-Grantang. Semua lontar ini tertulis dengan huruf Bali. Jika dibandingkan dengan lontar keadaan di Bali, di Bali jumlah lontar jauh lebih banyak dari di Nusa Penida. Di Bali telah banyak dilakukan koleksi lontar-lontar baik oleh sekolah-sekolah maupun oleh lembaga-lembaga yang banyak sangkut pautnya dengan materi yang tertulis dalam lontar tersebut. Usaha untuk mengumpulkan lontar-lontar di Nusa Penida belum kita jumpai sampai saat ini. Situasi lontar di Nusa Penida dapat kita lihat sebagai pernyataan berikut ini: a) yang menyatakan adanya tradisi penulisan lontar sebanyak 90%; b) yang menyatakan tidak ada atau tidak tahu sebanyak 2%; c) yang menyatakan tidak tahu sebanyak 5%. Dengan data tersebut jelaslah di Nusa Penida masyarakat telah mengenal tradisi penulisan lontar. Sekaligus berarti bahwa masyarakat Nusa Penida tahu benar bahwa ada sastra-sastra yang ditulis dalam lontar. Tetapi bila dibandingkan dengan tradisi lontar di Bali keadaan amat jauh. Mereka yang menganggap tradisi lontar itu tidak ada atau tidak tahu dengan adanya penulisan lontar keadaanya amat kecil. (p.29) Ini berarti hanya sebagian kecil saja dari masyarakat Nusa Penida yang tak mengenal tradisi lontar. Setelah diobservasi mereka itu berasal bukan dari Nusa Penida atau bukan berasal dari Bali.

Pernyataan berikut timbul, tulisan apa yang dipakai lontar tersebut. Hampir 100% dari informan menyatakan bahwa lontar ditulis dengan huruf Bali. Dan tidak ada yang memakai huruf lain. Kenyataan ini dapat dibenarkan karena perkembangan lontar di Nusa Penida berasal dari Bali. Artinya lontar-lontar yang ada dan berkembang di Nusa Penida adalah penyebaran lontar-lontar dari Bali. Hal ini dapat dilihat dari data yang didapatkan bahwa para informan menjawab lontar-lontar di Nusa Penida berasal dari Bali. Kenyataan ini hanya baru merupakan perkiraan mengapa lontar bertulisan Bali berada di Nusa Penida. 1) Kemungkinan pertama lontar-lontar tersebut berasal dari Bali, ditulis di Bali lalu dibawa oleh orang Bali ke Nusa Penida; 2) Kemungkinan kedua lontar tersebut ditulis oleh orang-orang Bali di Nusa Penida.

Usaha mengumpulkan lontar-lontar yang ada di Nusa Penida terutama dilakuan oleh orang swasta secara perorangan. Belum ada kelihatan dari kalangan pemerintah yang berusaha mengumpulkan seluruh lintar yang tersebar di Nusa Penida terutama lontar yang tersebar di tangan masyarakat di Nusa Penida. Dari hasil wawancara yang dilakukan, usaha mengumpulkan (p.30) lontar ini mengalami kesukaran. Dari data yang terkumpul bahwa: a) lontar sukar didapat, 47%; b) lontar tidak ada biaya 25%; kurangnya perhatian 8%; d) kurangnya tenaga ahli 10%. Data ini menjelaskan, lontar amat sukar didapatkan. Hal ini memang benar sebab masyarakat di Nusa Penida terutama masyarakat di pedesaan menganggap lontar itu barang keramat. Untuk mendapatkan atau mengetahui atau membukanya harus dilakukan dengan peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan. Dari kenyataan ini masyarakat Nusa Penida amat sukar memperlihatkan lontarnya apalagi melepaskan kepada orang lain. Tentang biaya memang suatu masalah. Belum ada anggaran yang khusus dapat dipakai menangani perkerjaan ini. Di samping semua itu tenaga ahli yang akan mengungkapkan keadan lontar itu belum ada di Nusa Penida. Usaha pengungkapan lontar tersebut belum kelihatan sampai sekarang. Beberapa lontar sudah dicoba ditranskripsikannya atas usaha perorangan. Seperti lontar Ramayana, Kekawin, Arjunawiwaha.

2. Prosa

Prosa atau cerita rekaan di Nusa Penida lebih dikenal dengan cerita-cerita. Di sini bentuk cerita belum ada yang dibubuhkan. Jika kita lihat bentuk yang dimaksudkan cerita itu adalah cerita yang banyak didapatkan dalam lontar di Bali. Dari data yang didapatkan cerita yang terkenal di Nusa Penida di antaranya adalah Cupak-Gerantang, Cilinaya, Ceri [...] (p.31) cerita tentang kepercayaan dan cerita yang ada hubungannya dengan magi. Kalau kita lihat isi cerita yang banyak menyebar di Nusa Penida dapat kita sebutkan: masalah agama, adat, kepahlawanan, nasehat dan ada pula yang menceritakan tentang pendidikan.

3. Drama

Bentuk cipta sastra yang lain adalah sastra yang berbentuk drama. Pengertian drama di sini kami batasi adalah bentuk drama rakyat. Jenis kesenian ini kita jumpai di berbagai tempat di antaranya: di desa Batununggul terdapat wayang kulit dan wayang wong, joged, gandrung dan drama gong; di desa Ped terdapat wayang kulit. Di Suana terdapat joged, gandrung dan drama gong. Bila dilihat dari jenis cerita tersebut masyarakat Nusa Penida memberi pendangan bahwa cerita itu berasal dari Bali. Dan ada pula yang mengatakan bahwa cerita itu berasal dari Nusa Penida sendiri. Bila kita lihat cerita yang dibawakannya dan melihat pelatih yang memberi pengetahuan atau menuntun pelaksanaan kesenian itu dari Bali, kita lebih condong mengatakan bahwa cerita-cerita tersebut diambil dari Bali lalu disebarluaskan di Nusa Penida disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang ada di Nusa Penida. Cerita ini diambil dari: a) lontar 60%; b) cerita lisan 15%; c) buku 15%; tempat lain 10%.

Melihat data di atas sebanyak 60% dari jumlah informan mengatakan (p.32) bahwa cerita yang dimainkan atau dipakai dalam lakon tersebut berasal dari cerita yang tertulis dalam lontar. Selain itu beberapa orang (15%) informan menyatakan cerita yang dipakai dalam kesenian itu berasal dari cerita rakyat. Dan juga sebanyak 10% yang menyatakan asal pengambilan cerita itu dari tempat yang lain. Tempat yang lain di sini belum jelas kita ketahui. Yang lain sebanyak 10% menyatakan berasal dari buku. Buku di sini dimaksudkan adalah buku yang memuat cerita-cerita yang dimaksudkan itu. Dari hasil observasi bahwa cerita-cerita yang dipakai dalam kesenian tersebut memang kebanyakan diambil dari lontar yang sudah banyak kita ketahui di Bali. Atau dari cerita yang sudah terkenal di Bali. Bahasa yang dipakai 90% mempergunakan bahasa Bali baku. Artinya pemakaian bahasa Bali baku amat dominan. Hanya di sana-sini kedengaran memakai dialek Nusa Penida. Dalam beberapa hal kedengaran memakai bahasa Jawa Kuna. Terutama dalam wayang dan sedikit dalam drama gong pada pelaku-pelaku tertentu. Dilihat dari pemakaian bahasa ini pemakaian bahasa BBN tidaklah dominan, di sini hanya sebagai bahasa pembantu. Artinya hanya dipakai sebagai penjelas belaka. Pemakaian bahasa Jawa Kuna, kiranya menyontoh dari pemakaian bahasa Jawa Kuna di Bali umpama dalam lakon wayang.

2.3.2 Sastra Lisan

Sastra lisan di Nusa Penida banyak dalam bentuk prosa dan mengandung ini tentang dongeng, kepercayaan, magi dan cerita tentang dewa-dewa. Usaha membukukan cerita lisan ini sampai kini belum tampak ada usaha ke arah itu. Cerita lisan (p.33) yang ada di Nusa Penida di samping yang berbentuk prosa ada pula yang berbentuk sandiwara. Cerita lisan yang digemari terutama cerita tentang I Dukuh Jumpungan, seorang yang sakti, perahunya terbalik dan kelak menjadi pulau ceningan dan dipuja di pura Bakung. Selain itu terdapat cerita Ratu Gede Mecaling dianggap sebagai kekuatan sakti yang dapat mendatangkan bencana. Cerita ini menyebar luas umpama di desa Ped ada tanggapan di rawa-rawa sepanjang pantai ditempati oleh makhluk halus atau wong Gamang. Wong Gamang ini dipimpin oleh Ratu Gede Mecaling. Kepercayaan ini bukan saja menyebar di Nusa Penida tetapi meluas hingga di Bali. Maka itu di Bali ada tanggapan bahwa Nusa Penida itu merupakan pulau magis (pendapat jama dulu). Dan setiap lima tahun makhluk halus itu selalu minta korban manusia. Karena itulah masyarakat Bali harus selalu waspada dan mohon perlindungan kepada dewa di Besakih atau pura Dalem setempat agar jangan sampai menjadi korban Dalem Ped. Kepercayaan ini banyak hubungan mengapa Nusa Penida dipilih sebagai daerah jaman dahulu oleh Raja Klungkung. Orang Bali yang bersalah dan dijatuhi hukuman berat dikirimkan ke Nusa Penida dan diletakkannya di sekitar desa Ped. Bila hukuman ini tetap hidup itu menyatakan bahwa prang tersebut tuduhan yang dijatuhkan kepadanya tidak benar. Namun sebaliknya bila mereka mati arwah mereka itu akan bergabung dengan makhluk halus yang ada di Ped.

Selain itu ada kepercayaan asal mula desa Toyapakeh. Cerita desa Toyapakeh ini dihubungkan dengan kedatangan orang Jawa ke Nusa Penida (suatu tempat) bernama Raden Jumat. (p.34) Waktu itu tempat tersebut berupa hutan belantara dan di sana banyak terdapat banteng yang buas-buas. Raden Jumat dapat membunuh sapi tersebut. Tempat di mana Raden Jumat membunuh sapi disebut desa perbekelan Sakti. Daging sapi itu dijadikannya dendeng lalu dibawanya ke Jawa. Lama kelamaan sapi yang buas itu habis. Hutan tempat sapi itu kemudian dirabasnya dan ditanaminya kelapa. Raja Klungkung mendengar hal itu, lalu memanggil Jumat agar datang ke Klungkung. Di Klungkung Raden Jumat kesalahannya dimaafkan. Selanjutnya Raden Jumat diberi tanah oleh Raja Klungkung di Penida. Raden Jumat mempunyai putra bernama Raden Muhammad Mustafa. Setelah Mustafa meninggalkan dua orang putra yaitu: Hamzah dan Haji Ali. Untuk tempat ibadah maka di Penida dibuat sebuah masjid berada di komplek daerah perburuan tersebut. Pada suatu saat Haji Husin dari Banjar Masin datang ke Bali dan membawa intan yang dijualnya di Klungkung. Di samping itu Haji Husin mengajar bahasa Melayu di Klungkung. Di Klungkung ia kawin dengan ketut Dauh. Dari perkawinannya ini berhasil Hajij Abas, Haji Arif. Oleh Raja Klungkung Haji Husin diberi kebun di Penida. Kenyataannya tempat Haji Husin berada di desa tempat Hamzah dan Haji Ali. Haji Husin, pada suatu ketika, mencari air. Di mana mana air terasa asing akhirnya tempat tersebut disebut Toyapakeh. Dan ini pula yang menyebabkan Toyapakeh satu-satunya desa berpenduduk Islam, yang berasal dari Bugis, Jawa, Kalimantan.

3 Struktur Dialek Nusa Penida: 3.1 Fonologi

Fonem yang ada dalam DNP dapat diklasifikasikan atas dua kelompok saja, yakni fonem vokal dan fonem konsonan. Sedangkan fonem diftong tidak dikenal dalam DNP.

3.1.1 Fonem Vokal

Fonem vokal dalam DNP berjumpalah enam buah /i, e, a, u, c/. Distribusinya masing-masing adalah sebagai berikut (tabel halaman 35):

No. Vokal Posisi    
    awal tengah akhir
1 /i/ [iyə] 'ia' [hibi] 'kemarin' [kahi] 'tertinggal'
2 /e/ [edup] 'hidup' [periŋ] 'piring' [rame] 'ramai'
3 /a/ [abə] 'bawa' [dawə] 'panjang' -
4 /ə/ [əmpuh] 'roboh' [daləm] 'dalam' [namə] 'saudara'
5 /u/ [umpan] 'umpan' [bulu] 'bulu' [malu] 'depan'
6 /o/ [onuŋ] 'jatuh' [roko] 'rokok' [mako] 'tembakau'

Fonem vokal /a/ pada posisi akhir tidak ditemukan dalam DNP. Dengan demikian distribusinya tidak lengkap. Adapun vokal lainnya mempunyai distribusi yang lengkap, karena dapat menduduki posisi awal, tengah dan akhir.

3.1.2 Fonem Konsonan

Fonem konsonan dalam DNP berjumlah 18: /b, p, m, d, t, n, j, c, ñ, g, k, ŋ, h, w, y, l, r, s/. Distribusinya masing-masing seperti di bawa ini (tabel halam 36):

No. Konsonan Posisi    
    awal tengah akhir
1 /b/ [besə] 'bisa' [ambun] 'awan' [ɔŋkəh] 'panas'
2 /p/ [patuh] 'sama' [tepat] 'ketupat' [alap] 'petik'
3 /m/ [mosuh] 'musuh' [sampi] 'sapi' [kəlam] 'tenggelam'
4 /d/ [dakEn] 'dangkal'  [adə] 'ada' [ɔləd] 'ulat'
5 /t/ [tau] 'tahu' [batu] 'batu' [agət] 'bahagia'
6 /n/ [nu] 'masih' [tanəm] 'tanam' [tohun] 'turun'
7 /j/ [jelEk] 'buruk' [jajə] 'jajan' -
8 /c/ [carɔ] 'cara' [kacə] 'kaca'
9 /ñ/ [ñoño] 'susu' [hɔñə] 'habis'
10 /g/ [gulə] 'gula' [jagə] 'jaga' [tempug] 'lempar'
11 /k/ [kampih] 'terdampar' [kaki] 'kakek' [nɔŋkɔk] 'duduk'
12 /ŋ/ [ŋEdan] 'ngidan' [bɔŋə] 'bunga' [lantaŋ] 'panjang'
13 /h/ [habut] 'cabut' [behaŋ] 'beri' [taluh] 'telur' 
14 /w/ [wajə] 'baja' [sawat] 'jauh'
15 /y/ [yEh] 'air' [yuyu] 'ketan'
16 /l/ [ləsər] 'lurus' [belus] 'basah' [təŋal] 'nakal'
17 /r/ [rasə] 'rasa' [rarə] 'bayi' [səgər] 'sehat' 
18 /s/ [sEmEr] 'sumur' [dasə] 'sepuluh' [bəs] 'terlalu' 

Ternyata di antara delapan belas fonem konsonan DNP tersebut, ada yang berdistribusi lengkap dan ada pula yang berdistribusi tidak lengkap. Fonem konsonan /b, p, m, d, t, n, g, k, ŋ, h, l, r, s/ dapat mendudukui semua posisi, karena itu tergolong fonem yang berdistribusi lengkap. (p.37) Fonem konsonan /j, c, ñ, w, y/ hanya menduduki posisi awal dan tengah saja. Karena itu kelima fonem konsonan ini tergolgong berdistribusi tidak lengkap.

3.1.3 Persukuan

Dalam DNP terdapat lima macam pola suku kata. Kelima pola persukuan tersebut dapat dilihat dalam tabel di bawah ini (tabel halaman 37):

No. Pola Contoh  
1 V [ati] 'hati' [abə] 'bawa'
2 VK [antəŋ] 'rajin' [umpan] 'umpan'
3 KV [kapah] 'jarang' [bəhog] 'bodoh'
4 KVK [habut] 'cabut' [jəmak] 'ambil'
5 KKVK [brandut] 'dibawa sekaligus' -
    [trɔntɔŋ] 'pukul'

Keterangan: V = Vokal, K = Konsonan

3.2 Morfologi - 3.2.1 Pembentuk kata

Di dalam bahasa Bali dialek Nusa Penida pembentukan kata dapat dilakukan dengan pembentukan afiks (afiksasi), perulangan (reduplikasi), dan pemajemukan (kompositum). Suatu kata baru dapat dibentuk dari morfem dasar/pangkal dengan membubuhkan imbuhan/afiks kepadanya. Imbuhan tersebut dapat di letakkan di depan morfem dasar/pangkal tetapi dapat juga di belakangnya. Misalnya morfem dasar taluh /taluh/ 'telur' dapat (p.38) dibentuk menjadi kata baru dengan membubuhkan imbuhan [mə-] di depannya menjadi /mətaluh/ 'bertelur'. Morfem dasar alih /alih/ 'cari' dapat dibentuk menjadi kata baru dengan melekatkan imbuhan ang [-aŋ] di belakangnya menjadi alihang /alihaŋ/ 'carikan'. Morfem dasar uruk /uruk/ 'ajar' dapat dibentuk menjadi kata baru dengan melekatkan imbuhan [N-] di depan dan imbuhan ang /-aŋ/ di belakangnya menjadi gnurukang 'ŋurukaŋ' 'mengajarkan'. Salah satu di antara kedua imbuhan ini dapat lebih dahulu datangnya pada morfem dasar uruk /uruk/ 'ajar'. Morfem dasar jaran /jaran/ 'kuda' dapat dibentuk menjadi kata baru dengan membubuhkan imbuhan me [mə] di depannya dan imbuhan an [-an] di belakangnya menjadi mejaranan /mejaranan/ 'menunggang kuda'. Kedua imbuhan ini harus bersamaan datangnya pada morfem dasar jaran /jaran/ 'kuda'.

Di samping suatu kata baru, dibentuk dengan jalan membubuhkan imbuhan pada morfem dasar/pangkal seperti terlihat pada contoh di atas, dapat pula dibentuk suatu kata baru dengan mengulang bentuk dasar (termasuk morfem dasar/pangkal) baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan perubahan fonem maupun tanpa perbubahan fonem. Misalnya morfem dasar nyambu /ñambu/ 'jambu' dapat diulang seluruhnya menjadi nyambu-nyambu /ñambu-ñambu/ 'jambu-jambu'. Bentuk dasar metebekan /mətəbəkan/ 'bertikaman' dapat diulang sebagiannya menjadi metebak-tebekan /mətəbək-təbəkan/ 'bertikam-tikaman'. Morfem dasar bading /badiŋ/ 'balik' dapat diulang seluruhnya dengan perubahan fonem menjadi bodang-beding /bodaŋ badiŋ/ (p.39) 'bolak-balik'.

Dua morfem dasar/pangkal atau lebih dapat digabungkan menjadi satu kata baru yang menimbulkan satu arti baru pula. Misalnya morfem dasar nanang /nanaŋ/ 'ayah' dan meme /meme/ 'ibu' dapat dibentuk menjadi suatu kata baru yaitu kata majemuk dengan menggabungaknnya menjadi nanang meme /nanaŋ meme/ 'ibu bapa. Ketika proses pembentukan kata: proses pembubuhan imbuhan (afiksasi), proses perulangan (reduplikasi) dan mejemukan (kompositum) akan diuraikan lebih lanjut dalam nomor-nomor berikutnya. Akan tetapi uraiannya masing-masing diberikan garis besarnya saja karena penelitian ini masih dalam taraf permulaan. Uraian sampai yang sekecil-kecilnya dapat dilakukan pada penlitian mendatang.

3.2.1.1 Afiksasi

Melihat posisinya, imbuhan (afiks) dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu awalan (prefiks), sisipan (infiks) dan akhiran (sufiks). Imbuhan yang dilekatkan di depan morfem dasar/pangkal disebut awalan. Kalau imbuhan tersebut disisipkan di tengah morfem dasar/pangkal maka disebut sisipan. Jika dilekatkan di akhir atau di belakang mofem dasar/pangkal maka namanya bukan awalan dan bukan sisipan melainkan akhiran. Selain itu terdapat pula gabungan awalan dan akhiran yang harus bersamaan datangnya pada morfem dasar/pangkal yang lazim disebut dengan istilah konfiks atau ambifiks atau simulfiks. Di antara sekian jenis imbuhan tersebut, yang ditemukan (p.40) dalam DNP adalah: A) awalan [N-, pe-, me-, ke-, se-]; B) akhiran [-an, -aŋ, -ə]; C) konfiks atau gabungan pemakaian afiks [mə-an, pə-an, kə-an].

A) Awalan (Prefiks) - 1) Awalan [N-]

Awalan [N-] ini direalisasikan dalam bentuk /m-, n-, ŋ-, ñ-, ŋə-, Ø/ tergantung pada fonem awal bentuk dasarnya. Perhatikan bentukan berikut ini.

[N-] + p, b menjadi /m-/, misalnya: /pəgat/ - /məgat/ 'memutuskan' - decide; /pasaŋ/ - /masaŋ/ 'memasang' - install, fasten, hang up; /bəli/ - /məli/ 'membeli' - buy; /bota?/ - /moka?/ 'membuka' - open/

[N-] + t, d menjadi /n-/, misalnya: /tampah/ - /nampah/ 'menyembelih' - slaughter; /tanəm/ - /nanəm/ 'menanam' - to plant; /taŋkəp/ - /naŋkəp/ 'menangkap' - catch; /dEŋəh/ - /nEŋəh/ 'mendengar' - listen; /dəsə?/ - /nəsəh/ - 'mendesak' - push, urge; /dada?/ - /nada?/ - 'mendadak' - sudden.

[N-] + k, g, vokal menjadi /ŋ/ misalnya: /kekih/ - /ŋekih/ 'memarut' - grind; /kambaŋ/ - /nambaŋ/ 'mengambang' - float; /koruŋ/ - /ŋoruŋ/ 'mengurung' - lessen; (p.41) /gorEŋ/ - /ŋoreŋ/ 'menggoreng' - fry; /ganti/ - /ŋanti/ 'mengganti' - substitute, change; /gəbug/ - /ŋəbug/ 'memukul' - hit, beat; /adəp/ - /ŋadəp/ 'menjual' - sell; /atur/ - /ŋatur/ 'mengatur' - arrange; /iri/ - /ŋiri/ 'mengiri' - be jealous of?; /intip/ - /ŋintip/ - 'mengintip' - spy on; /Orag/ - /ŋOrag/ 'rontok' - shed; /Olah/ - /ŋOlah/ 'mengusir' - expell; /ampug/ - /ŋampug/ 'membelah' - split in half; /Elag/ - /ŋElag/ 'memamah' -  

[N-] + s, c, j menjadi /ñ-/ misalnya: /soluh/ - /ñoluh/ 'menusuk' - ; /saŋih/ - /ñaŋih/ 'mengasah' - ; /sEkat/ - /ñEkat/ 'menyikat' - ; /sapih/- /ñapih/ 'pak pok' - ; /səloluŋ/ - /ñəloluh/ 'menyeruduk' - ; /cəku?/ - /ñəku?/ 'mencekik' -
/caŋkit/ - /ñaŋkit/ 'belas kata' - ; /jəpit/ - /ñəpit/ 'menjepit' - squeeze; /jəma?/ - /ñəma?/ -?

[N-] + r, l, w menjadi /ŋə/ misalnya: /roruh/ - /ŋəroruh/ 'mencari ke' - look for?; /rañab/ - /ŋərañab/ 'berkilauan' - luster, shine; /ləpOg/ - /ŋələpOg/ 'merebus' - boil; /lambət/ - /ŋəlambət/ 'memukul dengan tali' - hit with a rope; /wanEn/ - /ŋəwanEnan/ 'bertambah beranih' - encourage oneself; (p.42) /walE?/ - /ŋəwalE?/ 'belas kata' - ?; /wayaŋ/ - /ŋəwayaŋ/ 'mengadakan pertunjukan wayang'.

Bentuk dasar yang mulai dengan konsonan /p, b, t, d, k, g, s, c, j/ semuanya mengalami peluluhan. Memang disadari bahwa dalam DNP cendrung dipakai awalan nasal [N-] dalam pembentukan kata kerja aktifnya. Sedangkan bentuk dasar yang dimulai dengan konsonan nasal /m, n, ñ, ŋ/ tidak diberi sendiri sebagai kata kerja aktif. Fungsi dan arti awalan nasal [N] ini sama dengan awalan [me-] dalam bahasa Indonesia. Persamaan yang dimaksudkan dapat dilihat dalam uraian berikut ini.

1) Jika bentuk dasarnya kata kerja, maka fungsinya menjadikan kata kerja tersebut aktif transitif. Contoh: /jəmah?/ - /ñəmah?/ 'mengambil' - take; /gae/ - /ñae/ 'membuat' - do; /jOŋkra?/ - /ñOŋkra?/ 'membajak' - plough; 2) Jika bentuk dasarnya kata benda, maka fungsinya mentransposisikan kata benda itu menjadi kata kerja dan artinya antara lain sebagai berikut. a) Melakukan pekerjaan dengan alat yang disebut bentuk dasar, misalnya: /jariŋ/ - /ñariŋ/ 'menjala' - fish with casting net /arit/ - /ŋarit/ 'menyabit' - cut (grass, rice); (p.43) b) Membuat yang disebut bentuk dasar, misalnya: /ləmpOg/ - /ŋələmpOg/ 'merebus ubi kayu' - boil ubi kayu (dible tuber); /təpuŋ/ - /ŋəpuŋ/ 'membuat tepung' - make (rice) flour; /bolih/ - /molih/ 'semaian' - seedling; c) Memakan, meminum atau menghisap yang disebut bentuk dasar, misalnya: /kopi/ - /ŋopi/ 'minum kopi' - drink coffee; /roko/ - /ŋəroko/ 'mengisap rokok' - smoke; /hampo/ - /ŋampo/ 'makan tanah liat' - eat clay; d) Bekerja dengan memakai bahan yang disebut bentuk dasar, misalnya: /kərakad/ - /ŋərakad/ 'meratakan tanah' - level the soil; /jOŋkrak/ - /ŋOŋkrak/ 'membajak' - plough; /kañcuh/ - /ŋañcuh/ 'membuang air' - urinate; 3) Jika bentuk dasarnya kata keadaan maka artinya menjadi [...], misalnya: /kəbus/ - /ŋəbus/ 'mujur' - straight, luck; /iri/ - /ŋiri/ 'menjadi iri' - become jealous; /jOh/ - /ŋəjOh/ 'menjauh' - grow distant.

A) Awalan (Prefiks)

Bentuk awalan [pə-] ini dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: a) Prefiks [pə + N]; b) Prefiks [pə-] tanpa [N-]; c) Prefiks [pə + N]. Penggabungan bentuk dasar dengan prefiks [pə + N] berfungsi untuk membuat kata benda. Adapun macam sengauan (p.44) yang menyertai penembahan [pə + N] ini tergantung dari fonem awal bentuk dasarnya. Proses persengauannya sama saja dengan prefiks Nasal telah diuraikan di atas. Perhatikan beberapa bentukan di bawah ini: [pə+N] + p, b menjadi /pəm-/, misalnya: /patuh/ - /pəmatuh/ 'guna-guna' - witchcraft; /bakuh/ /pemakuh/ 'perakit' - assembler; [pə+N] + t, d menjadi /pən/, misalnya: /toluŋ/ - /pənoluŋ/ ' penolong' - helper, auxiliary; /dasar/ - /pənasar/ 'pundamen' - ?; [pə+N] + k, g, vokal menjadi /pəŋ/, misalnya: /kancuh/ - /pəŋancuh/ 'alat pembuang air' - ?; /gəliŋ/ - /pəŋaliŋ/ 'penggiling' - grinder. Sedangkan proses pembentukan prefiks [pə] tanpa nasal, umumnya berfungsi untuk membentuk kata keadaan. Perhatikan beberapa contoh di bawa ini: p + /kəsEh/ - /pəkəsEh/ 'berbitik-bitik' - ?; p + /gəlur/ - / pəgelur/ 'berteriak-teriak' - scream repetitiously; p + /slEwar/ - /pəslEwə/ 'mondar-mandir' - back and forth; p + /slambah/ - /pəslambah/ 'berserahkan' - surrender, transfer

Arti dan fungsi prefiks [pə-] adalah sebagai berikut: a) Pembentuk kata benda dengan arti yang didukungknya antara lain: a) Formation of nouns the meaning of which is supported by, amongst others: 1) Menyatakan alat, e.g.: /pəsaluk/ 'perhiasan' - jewelry; /pəŋeliŋ/ 'nama alat jukung' - name of a jukung instrument?; /pəŋancuh/ 'alat pembuang air' - instrument to urinate? (p.45) / pematuh/ 'guna-guna' - witchcraft; 2) Menyatakan orang yang melakukan pekerjaan seperti yang pada bentuk dasar, misalnya: /pəŋaŋon/ 'gembala' - shepherd, herdsman; /pənapət/ 'pewaris' - heir; /pəlañcah/ 'pelayan' - waiter, sales clerk, attendant; b) Pembentuk kata keadaan dan mengandung arti 'gerak atau bunyi'. Misalnya: /pəkəsEh/ 'berbisik-bisik' - whisper; /pəhEmaŋ/ 'bergegas-gegas' - be in a hurry /pəclubcub/ 'keluar-masuk' - go in an out.

3) Awalan [me-]

Peristiwa morfofonemis mungkin akan terjadi bila bentuk dasar yang diberi prefiks [me-] dimulai dengan fonem vokal. Misalnya: [me-]+ /Oləs/ - /mOləs/ 'berparas baik' - have good appearances; [me-]+ /ndəp/ - /madəp/ 'terjual' - sold; [me-]+ /oŋkab/ - /mOŋkab/ - terbuka' - open. Fungsi prefiks [me-] adalah untuk membentuk kata kerja dengan arti yang didudkungnya antara lain: a) Memiliki atau mempunyai, misalnya: /madan/ 'bernama' - named; /məboŋo/ ' berbunga' to flower, blossom; /məhanak/ 'beranak' - have children; /mədagaŋ/ - berjualan' - sell several goods, sell for a living; b) Mempergunakan atau memakai, misalnya: (p.46) /məbEdak/ 'berlayar' - sail; /məklambi/ 'berbaju' - wear clothes; /mərambəd/ 'berselendang' - wear a stole or shawl; /məhajan/ 'bertangga' - with steps; c) Memperoleh atau menghasilkan, misalnya: /mətaluh/ 'bertelur' - lay eggs; /məbati/ 'beruntung' - be lucky; /mopah/ 'berupah' - be paid a fee; /məbuah/ 'berbuah' - bear fruit; d) Menyatakan perbuatan mengenai diri sendiri atau refleksi, misalnya: /məpayas/ 'berhias' - be decorated, dress oneself; /məcokur/ 'bercukur, berkelana' - shave oneself, roam, wander; /məkəlid/ 'mengelak' - get out of the way, move to evade.

4) Awalan [kə-]

Seperti dalam prefiks [mə-], proses morfofonemis akan terjadi pula pada prefiks [kə-]. Misalnya: [kə-]+/opah/ - /kopah/ 'bayaran untuk tari-tarian' - fee paid for dancing; [kə-]+/adəp/ - /kadəp/ 'terjual' - sold; [kə-]+/opət/ - /kopət/ 'sibuk' - busy; [kə-]+/Esəp/ - /kEsəp/ 'terisap' - smoked; Fungsi dan arti prefiks [kə-] ini adalah sebagai: a) Menyatakan kata benda abstrak, misalnya: /kəpalu/ 'tergila-gila' - crazy about, infatuated; /kasor/ 'tersalahkan' - accused; (p.47) /kopət/ 'kesibukan' - occupation, hobby, something to keep oneself busy with; /kədituan/ 'akhirat' hereafter; b) Menyatakan kata kerja pasif, misalnya: /kətaŋəh/ 'diketahui' - known; /kopah/ 'dibayar' - paid; /kəbatək/ 'terpaksa' - forced; /kəsasar/ 'terdampar' - gone aground, cast ashore, dumped off at.

5) Awalan [sə-]

Arti yang dapat didukung oleh prefiks/awalan [sə-] adalah sebagai berikut: a) Menyatakan sama dengan, misalnya: /sətəgəh/ 'setinggih' - as tall as; /səgəge/ 'sebesar' as big as; /səsEtoŋ/ 'sekuat' - as strong as; /səsandag/ 'serakus' - as greedy as; b) Bertepatan waktu dengan, misalnya: /səkalah/ 'sepeninggal' - at the moment of dying; /sətəkə/ 'setiba' - at the moment of arrival; /səsobal/ 'seselesai' - at the moment it is finished; c) Menyatakan setiap, misalnya: /səwai/ 'sehari-hari' - daily; /səpətə/ 'setiap malam' - every night; /sədahət/ 'setiap siang' - every noon, daytime.

B) Akhiran - Akhiran atau sufiks [-an]

1) Arti dan fungsinya: a) Sebagai pembentuk kata benda, dengan arti sebagai berikut: (p.48) (1) Menyatakan alat, misalnya: /saŋihan/ 'pengasuh' - nurse, guardian; /apitan/ 'penjepit' - tweezers; /kikihan/ 'pemarut kelapa' - coconut grinder; /taŋkəban/ 'alat penangkap ketan' - ?; (2) Menyatakan tempat, misalnya: /tənəman/ 'kuburan' - grave; /joŋkOkan/ 'tempat duduk' - place to sit down; /pədəman/ 'tempat tidur' - sleeping place; /pədasan/ 'tempat mandi' - place to take a shower; (3) Menyatakan ukuran, misalnya: /wahian/ 'seharian' - daily; /tEbanan/ 'tahunan' - yearly; /bOlanan/ 'bulanan' - monthly; /siuan/ 'seribuan' - thousands; (4) Jika bentuk dasarnya reduplikasi, maka mengandung arti superlatif, misalnya: /puntul-puntulan/ 'setumpul-tumpulnya' - as blunt as possible; /bəcat- bəcatan/ 'secepat-cepatnya' - as quickly as possible; /waras-warasan/ 'segemuk-gemuknya' as fat as possible; (5) Menyatakan bentuk komparatif, misalnya: /təgəhan/ 'lebih tinggi' - taller; /jahanan/ 'lebih kemudian' - later; /babuanan/ 'lebih di atas' - higher up. b) Sebagai pembentuk kata kerja pasif. Contoh: /bəsəhan/ 'cuci' - wash; (p.49) /Oyahan/ 'garami' - salt something, worsen; /ajahan/ 'ajari' - teach; /kənəhan/ 'pikiri' - think.

2) Akhiran atau sufiks [-an]

Fungsi akhiran [-an] ini adalah untuk membentuk kata kjerja dengan arti sebagai berikut: a) Bertambah menjadi, misalnya: /ŋitikan/ 'makin sedikit' - less and less; /ñuhihan/ 'bertambah kaya' - increasingly rich; /ŋətədaŋ/ 'bertambah kental' - increasingly thick (of syrup); /ŋodEnaŋ/ 'bertambah besar' - bigger and bigger; b) Menuju atau bergerak ke arah..., misalnya: /ŋauhaŋ/ 'menuju ke barat' - go to the west; /ŋahəpaŋ/ 'bergerak ke depan' - move forward; /mənEkaŋ/ 'bergerak ke atas' - move upwards; /naŋahaŋ/ 'menujuh ke tengah' - move to the middle; c) Menyatakan arti 'untuk kepentingan orang lain', misalnya: /alihaŋ/ 'carikan' - look for something for someone else; /belihaŋ/ 'belikan' - to buy for someone else; /alapaŋ/ 'petikkan' - pick for someone else; /tomanaŋ/ 'sediakan' - make available for someone else; d) Menyatakan arti 'menjadikan', misalnya: /jalanaŋ/ 'menjadikan berjalan' - be made to go; /joŋkokaŋ/ 'menjadikan duduk' - be made to sit down; /jujukaŋ/ 'menjadikan berdiri' - be made to stand up; /lantaŋaŋ/ 'menjadikan panjang' - be made longer.

3) Akhiran atau sufiks [-ə] (p.50)

Akhiran [-ə] ini mempunyai bebrapa variasi bentuk (alomorf), seperti: [-ñə] dan [-cə]. Alomorf [-ñə] muncul, bila bentuk dasar yang dibubuhinya berakhir dengan fonem /n/ dan fonem vokal. Contoh: /tundEn/+[-ñə] - /tundEnñə/ 'disuruh' - ordered; /warin/+[-ñə] - /warinñə/ 'diberitahu' - notified; /abə/+[-ñə] - /abəñə/ 'dibawa' - brought; /bade/+[-ñə] - /badEñə/ 'diterka' - guessed. Alomorf /-cə/ muncul, bila bentuk dasarnya berakhir dengan fonem /t/. Contoh: /cocot/+[-cə] - /cototcə/ 'dipatuk' - pecked, bitten; /habut/+[-cə] - /habutcə/ 'dicabut' - withdrawn; /gutgut/+[-cə] - /gutgutcə/ 'digigit' - bitten; /ohut/+[-cə] - /ohutcə/ 'diurut' - massaged. Sedangkan bila bentuk dasarnya berakhir dengan selaian fonem /n, t/ dan vokal, maka akhiran [-ə] bentuknya tetap. Beberapa contoh: /sagrəp/+[-ə] - /sagepə/ 'diterkam' - gripped; /tigtig/ +[-ə] - /tigtigə/ 'dipukuli' - hit or beaten various times; /tanəm/+[-ə] - /tanemə/ 'ditanam' - planted; /tOgəl/+[-ə] - /togələ/ 'dipotong' - cut.

C) Konfiks

Yang dimaksud dengan konfiks ialah imbuhan-imbuhan yang berupa gabungan antara awalan (prefiks) dan akhiran (sufiks) (p.51) yang bersamaan munculnya dalam proses morfologi. Konfiks berbeda dengan gabungan awalan dan akhiran. Sebab, kalau pada gabungan awalan dan akhiran, salah satu afiksnya dapat saja lebih dulu melekat pada morfem dasar. Misalnya: [kə-/-an] dalam /kədapətan/ 'dipergoki' adalah konfiks karena harus bersamaan datang pada morfem /dapət/, dan hal ini terbukti dengan tidak adanya bentuk* /kədapət/ ataupun bentuk* /dapətan/. Berbeda dengan [kə-/-an] dalam /kəbEgalan/ 'dirampok' bukan konfiks karena ada bentuk /kəbEgal/ 'dirampok'. (Tanda bintang dipakai untuk menunjukkan bentuk yang tidak sering [?] dipakai.)

1) Konfiks [kə-/-an]

Proses konfiksasi atau pengimbuhan konfiks [kə-/-an] tidak menimbulkan perubahan bentuk. Contoh: [kə-/-an]+/toluŋ/ 'tolong' - help -- /kətuluŋan/ 'tertolong' - assisted; [kə-/-an]+/jəlEk/ 'buruk' - bad -- /kəjəlEkan/ 'keburukan' - badness; [kə-/-an]+/rauh/ 'datang' - come -- /kərauhan/ 'kemasukan roh' - possessed by a spirit; [kə-/-an]+/səŋit/ 'sengit' - stinging, sharp --/kəsəŋitan] 'sengit' - stinging, sharp. Fungsi konfiks [kə-/-an] adalah untuk membentuk kata kerja pasif dan membentuk kata benda, dengan bidang arti yang didukungnya antara lain: (1) berarti tidak sengaja, misalnya: /maliŋ/ 'mencuri' - steal -- /kəmaliŋan/ 'kecurian' - robbed; /dolop/ 'tipu' - cheat --; /kədolopan/ 'tertipu' - cheated; (p.52) /məməg/ 'diam' - silent -- /kəməgəgan/ 'terdiam' - silenced. (2) berarti 'yang di-', misalnya: /kədEk/ 'tertawa' - laugh -- /kəkədEkan/ 'yang ditertawai' - that which is laughed about; /sənəŋ/ 'senang' - happy, content -- /kəsənəŋan/ 'yang disenangi' - that which one is happy about.

2) Konfiks [pə-/-an]

Perubahan bentuk konfiks [pə-/-an] sama dengan perubahan bentuk awalan [pə] dan akhiran [an] (seperti tedapat dalam pembicaraan awalan [pə] dan akhiran [an] di depan. Contoh: [pə-/-an]+/añut/ 'hanyut' - drift, washed away -- /pengañutan/ 'pembuangan' - washing away of, exiling (?); [pə-/-an]+/joŋkrak/ 'bajak' - plough -- /peñoŋkrakan/ 'pembajakan' - ploughing; [pə-/-an]+/səkəb/ 'peram' - shut someone off from society -- /pəñəkəban/ 'pemeraman' - exile; [pə-/-an]+/daduwə/ 'dua' - two -- /pədaduwan/ 'berdua' - together with someone else; [pə-/-an]+/sahip/ 'saring' - sieve -- /pəñahipan/ 'penyaringan' - sieving. Fungsi konfiks [pə-/-an] untuk membentuk kata benda, dengan arti antara lain: (1) Menyatakan tempat, misalnya: /penaneman/ 'kuburan' - grave; /peñekeban/ 'pemeraman' - place of exile; /penomangan/ 'tempat pembuatan kapur' - place where lime is made; /pengañutan/ 'pembuangan' - place where things (people?) are thrown away, exiled (?). (2) Menyatakan alat, misalnya: /pəñoŋkrakan/ 'pembajakan' - plough; /pəŋoliŋan/ 'pemintalan tali' - spinning wheel; /pəñaŋihan/ 'pengasah' - sharpener, grinder, whetstone; /pəñahipan/ 'penyaringan' - sieve.

3) Konfiks [mə-/-an] (p.53)

Konfiks [mə-/-an] ini tidak mengalami perubahan bentuk sewaktu dibubuhkan pada morfem dasar. Sedangkan fungsinya untuk membentuk kata kerja. Arti yang didukungnya antara lain: (1) mengendarai atau berlayar, misalnya: [mə-/-an]+/səpedə/ 'sepeda' -- /məsəpedan/ 'bersepeda' - ride a bicycle; [mə-/-an]+/jaran/ 'kuda' - horse -- /məjaranan/ 'berkuda' - ride a horse; [mə-/-an]+/jukuŋ/ 'jukung' - jukung -- /məjukuŋan/ 'berlayar dengan jukung' - sail a jukung. (2) Menyatakan laku atau perbuatan, misalnya: [mə-/-an]+/gulur/ 'teriak' - scream -- /məgeluran/ 'berteriak-teriak' - scream repetitiously; [mə-/-an]+/sebet/ 'sedih' sad -- /məsəbətan/ 'bersedih-sedih' - feel very sad; [mə-/-an]+/socap/ 'kata' -- /məsocapan/ 'berkata-kata' - speak many words.

3.2.1.2 Perulangan (Reduplikasi)

Dalam DNP ada ditemukan perulangan. Macam-macamnya dapat dilihat di bawah ini: (1) Kata ulang utuh, misalnya: /gəleŋ/ 'kecil' - small -- / gəleŋ-gəleŋ/ 'kecil-kecil' - very small; /homah/ 'rumah' - house -- /homah-homah/ 'rumah-rumah' - houses; /gonuŋ/ 'gunung' - mountain -- / gonuŋ-gonuŋ/ 'gunung-gunung' - mountains; /badəŋ/ 'hitam' - black -- /badəŋ-badəŋ/ 'hitam-hitam' - pitch black; /bəhat/ 'berat' - heavy -- / bəhatəbəhat/ 'berat-berat' - very heavy; (2) Kata ulang berafiks, misalnya: /adEŋ/ 'pelan' - slow -- /məadEŋ-adEŋan/ 'pelan-pelan' - slowly; /bolan/ 'bulan' - moon -- /məbolan-bolanan/ 'berbulan-bulan' - months in a row; /ahub/ 'sembunyi' - hide -- /ahub-ahuban/ '...; (p.54) /hEmaŋ/ 'bergegas' - be in a hurry -- /məhEmaŋ- hEmaŋan/ 'bergegas-gegas' - be in a great hurry; (3) Kata ulang dengan variasi fonem, misalnya: /badiŋ/ 'balik' - return -- /bodaŋ-badiŋ/ 'bolak-balik' - go to and fro; /tolih/ 'lihat' - see -- /tolah-tolih/ 'melihat ke sana ke mari' - look here and there; /gəlur/ 'teriak' - scream -- /gelar-gelur/ 'berteriak-teriak' - scream repetitiously; /beluk/ 'belok' - turn -- /bElak-beluk/ 'berbelok-belok' - take many turns; Pada umumnya reduplikasi berfungsi untuk menunjukkan dan menyatakan intensitas prekwensi suatu kata kerja. Arti yang ditimbulkan oleh perulangan ini antara lain: (1) Menyatakan banyak, misalnya: /sampi/ 'sapi' - cow -- / sampi-sampi/ 'sapi-sapi' - cows; /gonuŋ/ 'gunung' - mountain -- / gonuŋ-gonuŋ/ 'gunung-gunung' - mountains; /don/ 'daun' - leaf -- /dOn-dOnan/ 'daun-daunan' - leaves; (2) Menyatakan intensitas, misalnya: /homad/ 'tarik' - pull -- /homad-homadan/ 'tarik-tarikan' - tug-of-war, pull on each other; /becat/ 'cepat' - quickly -- /becat-becatan/ 'cepat-cepatan' - very quickly; /tEban/ 'tahun' - year -- /metEban-tEbanan/ 'menahun' - chronic, lasting for years

3.2.1.3 Pemajemukan

Kata majemuk yang ditemukan dalam DNP adalah: 1) Kata majemuk tak setara, misalnya: /jəhuk ləŋis/ 'nama sejenis jeruk' - lime; /ñuh popuh/ 'nama sejenis kelapa' - a kind of coconut; /selə həbun/ 'ubi jalar' - yams; starchy root crops, cassava; /biyu krotuk/ 'pisang biji' - banana with seeds; /Oləd tEkəh/ 'nama sejenis ulat' - type of caterpillar; (p.55) 2) Kata majemuk setara, misalnya: /jəlEk malah/ 'baik buruk' - good and bad; /səbət kəndəl/ 'suka duka' - happiness and sorrow; /nanaŋ meme/ 'bapak ibu' - father and mother; /gəmuh landuh/ 'aman sentosa' - safe and quiet; 3) Kata majemuk dengan unsur unik, misalnya: /ñag ajur/ 'remuk redan' - crushed to bits; /potih bəlun/ 'putih bersih' - shining white; /pətəŋ kOdOt/ 'gelap gulita' - pitch black; /bərag kagkag/ 'kurus kering' - skinny as a rake; /bərak ñəŋah/ 'merah padan' - bright red. Pemajemukan dalam DNP tidak berfungsi, karena jenis kata mejemuk itu sama dengan jenis kata unsur-unsurnya (lihat contoh di atas). Adapun bidang arti, umumnya pemajemukan itu berarti mengeraskan (lihat contoh di atas).

3.3 Sintaksis (p.56)

Sebagai penelitian pendahuluan, dalam bidang sintaksis akan dibicarakan masalah frasa atau kelompok kata dan masalah kalimat. Dalam bidang frasa akan dibicarakan tentang tipe-tipe konstruksinya saja, Sedangkan dalam bidang kalimat, uraian akan dibatasi pada pola kalimat dasar (kalimat tunggal).

3.3.1 Tipe-tipe Konstruksi Frasa

Setiap konstruksi baik yang pendek maupun yang panjang pada umumnya terdiri atas dua unsur yang secara langsung membentuknya. Karena itu, sebelum dibicarakan tipe-tipe konstruksi frase, terlebih dahulu akan disinggung sedikit tentang prinsip unsur langsung (UL).

(1) Ede nyagur nyamale //edə ñagur ñamalə// 'Engkau memukul saudaraku' - You hit my brother'. Kalimat di atas terdiri atas dua unsur yang secara langsung menbentuknya, yaitu /edə/ 'engkau' - you - dan //ñagur ñamalə// 'memukul saudaraku. Frase //ñagur ñamal// pun terdiri atas dua unsur yang secara langsung membentuknya yaitu /ñagur/ 'memukul' dan /ñamalə/ 'saudaraku' - my brother. Dari uraian di atas jelaslah bahwa UL itu ialah unsur yang secara langsung membentuk suatu bentuk yang lebih besar. Pada umunya setiap bentuk terdiri atas UL. Selanjutnya dalam uraian berikutnya ini akan dibagi tipe-tipe konstruksi frase menurut fungsinya di dalam kalimat yaitu dengan melihat apakah fungsi frasa tersebut dapat diganti oleh salah satu UL-nya atau oleh kedua UL-nya, ataukah tidak (p.57) dapat.

Untuk itu perhatikan data di bawah ini: (2) Ie meli kamben anyar dua bolan cepok //iyə meli kambən añar duwə bolan cəpok// 'Ia membeli sarung baru dua bulan sekali'. (3) Ape alihe kemo mahe //apə alihə kəmo mahə// 'Apa yang dicari ke sana ke mari'. Frase //kambən añar// 'sarung baru' di dalam kalimat (2) dapat diganti fungsinya oleh UL /kambən/ 'sarung', tetapi tidak dapat diganti oleh UL /añar/ 'baru'. Hal ini terbukti pada deretan di bawah ini: (2) Ie meli kamben anyar dua bolan cepok //iyə meli kambən añar duwə bəlan cəpok//; (4) Ie meli kamben - dua bolan cepok //iyə meli kambən - duwə bolan cəpok// 'Ia membeli sarung - dua bulan sekali' - He buys a sarong - twice a month; (5)* Ie meli - anyar due bolan cepok //iye meli - añar duwe bəlan cəpok// 'Ia membeli - baru dua dua bulan sekali' He buys - only twice a month. (tanda bintang dipakai untuk menyatakan bentuk yang tidak gramatikal.)

Adapun frase //kəmo mahe// 'ke sana kemari' dalam kalimat di atas dapat diganti fungsinyna baik oleh UL /kəmo/ maupun oleh UL /mahe/. Ini terbukti dengan adanya deretan sebagai berikut: (3) Ape alihe kemo mahə //apə alihə kəmo mahə// 'Apa yang dicari ke sana kemari' - What is he looking for here and there?; (6) Apə alihə kemo - //apə alih kəmo -// 'Apa yang dicari - ke sana' - What is he looking for there?; (7) Apə alihə - mahe //apə alih - mahe// 'Apa yang dicari - kemari' - What is he looking for here? Kedua frase di atas: //kamben añar// dan //kəmo mahe// dimasukkan ke dalam golongan tipe konstruksi endosentrik, yaitu frase yang fungsinya dapat diganti oleh salah satu UL-nya atau kedua UL-nya 

Di samping itu ada lagi tipe konstruksi yang lain, yang dapat dilihat dalam kalimat berikut ini: (8) Mamale ngejuk siap //mamale ŋəjuk siyap// 'Pemangku menangkap ayam' - The priest catches a chicken'. Frase //ŋəjuk siyap// 'menangkap ayam' - catches a chicken dalam kalimat (8) tidak dapat diganti fungsinya baik oleh UL /siyap/ 'ayam' - chicken maupun oleh UL //ŋəjuk// 'menangkap' - catches. Hal ini terbukti dari deretan di bawah ini. (8) Mamale ngejuk siap //mamale ŋəjuk siyap// 'Pemangku menangkap ayam' - The priest catches a chicken'; (9) Mamale - siap //mamale - siyap// 'Pemangku - ayam' - The priest - a chicken'; (p.59) (10) Mamale ngejuk -//mamale ŋəjuk -// 'Pemangku menangkap'- The priest catches'. Setiap frase yang sejenis dengan frase //ŋəjuk siyap// yang fungsinya tidak dapat diganti oleh salah satu UL-nya ataupun oleh kedua UL-nya, dimasukkan ke dalam golongan tipe konstruksi eksosentrik. Demikianlah jika dilihat dari fungsinya di dalam kalimat, frase tersebut dapat digolongkan menjadi dua tipe, yaitu endosentrik dan eksosentrik. Selanjutnya tiap-tiap tipe dapat dibagi-bagi lagi seperti tampak dalam uraian berikut ini.

3.3.1.1 Frase Endosentrik

a. Endosentrik yang atributif: (11) Ajin sampinde bes mael //ajin sampində bəs maəl// 'Knega sapimu terlalu mahal' - Your (?) cow is too expensive. Frase //bəs maəl// 'terlalu mahal' - too expensive (11) terdiri atas dua UL, yaitu: /bəs/ 'terlalu' - too, dan /maəl/ 'mahal' - expensive. Salah satu di antara kedua UL ini merupakan unsur pusat: /maəl/ dan yang satunya lagi merupakan unsur keterangan (atributif): /bəs/. Frase seperti ini (yang UL-nya terdiri atas satu pusat dan satu atribut) disebut frasa endosentrik yang atributif. Contoh lain: Sobe tue //sobə tuwə// 'sudah tua' - too old; (p.60) med sajan //məd sajan// 'lama sekali' - a very long time; jemak duang //jəmak duwaŋ// 'ambil saja' - please, take one; telah lodes //təlah lodəs// 'sangat hancur' - totally broken.

b. Endosentrik yang koordinatif: (12) Ie endek ngelah nanang meme jani //iyə əndək ŋəlah nanaŋ memə jani// 'Ia tidak punya ayah dan ibu semarang' - He does not have 'semarang' (?) parents. Frase //nanaŋ memə// 'ayah dan ibu' - father and mother dalam kalimat (12) terdiri atas dua UL, yaitu /nanaŋ/ dan /memə/ yang keduanya merupakan pusat. Frase semacam ini disebut endosentrik yang koordinatif. Contoh lain: tue nyem //tuwə ñem// 'tua muda' - young at heart (?); kacang komak //kacaŋ komak// 'kacang dan sejenisnya' - all sorts of beans; tegeh endep //tegeh endep// 'tinggi rendah' - [probably: tinggi diseluduki, rendah dilangkahi = segala sesuatu hendaknya diusahakan sekuat tenaga, everything has to be carried out according to one's strength (?)].

c. Endosentrik yang aposatif: (13) Mamale Poger labuh hibi //mamalə poger labuh hibi// 'Pemangku Poger jatuh kemarin' - Priest Poger fell yesterday. Frase //mamalə poger// 'pemangku yang bernama Poger' - The priest by the name of Poger' dan kalimat (13) terdiri atas dua UL, yaitu /mamalə/ dan /pogər/. Kedua UL ini merupakan pusat dan juga keduanya dapat (p.61) menjadi atribut frase tersebut. Frase semacam ini disebut endosentrik yang apositif. Contoh lain: Belile perbekel //balilə pərbəkəl// 'kakakku perbekel' - My brother is perbekel [village head]; ngotah mesing //ŋotah məsiŋ// 'muntak berak' - sick to the extent of vomiting; nyamanye lotung //nyamanye lotung// 'Saudaranya kera' - His brother [family member] is a monkey.

3.3.1.2 Frase Eksosentrik

a. Eksosentrik yang predikatif: (14) Kanti tengah lemang ie megae //kanti təŋah ləmaŋ iyə məgae// ' Sampai tengah malam ia bekerja' - He worked until late in the evening. Di dalam kalimat (14) ternyata frase //iyə məgae// 'ia bekerja' - he worked terdiri atas dua UL, yaitu /iyə/ dan /məgae/ yang masing-masing berupa subyek (s) dan predikat (p). Frase semacam ini disebut eksosentrik yang predikatif. Contoh lain: ie ngarit //iə ŋarit// 'ia menyabit' - He is cutting grass [etc.]; Sampite mehanak //sampitə məhanak// 'sapi itu beranak' - The cow is giving birth; We megae // Wə məgae// 'Ayah bekerja' - Father is working.

b. Eksosentrik yang obyektif: (15) Kaki ngalap nyuh (p.62) //kaki ŋalap ñuh// 'Kakek memetik kelapa' - Grandpa is picking a coconut. Di dalam kalimat (15) ditemukan frase //ŋalap ñuh// 'memetik kelapa' - pick a coconut' yang terdiri atas dua UL yaitu /ŋalap/ dan /ñuh/ yang masing-masing berupa kata kerja dan obyek. Tipe frase yang demikian disebut eksosentrik yang obyektif. Contoh lain: ngae hajan //ŋae hajan// 'membuat tangga' - make a ladder; ngelung lu //ngeluŋ lu// 'mematahkan alu' - break a rice pestle; ngebet bambang //ŋəbet bambang// 'menggali lubang' dig a hole.

c. Eksosentrik yang direktif: (16) Wannye luas ke Badung //wanñe luwas kə Baduŋ// 'Ayahnya pergi ke Badung' - Father goes to Badung. Di dalam kalimat (16) ditemukan frase //kə Baduŋ// 'ke Badung - to Badung, yang terdiri atas dua UL, yaitu /kə/ dan /Baduŋ/. Kedua UL tersebut masing-masing berupa kata penanda dan kata benda. Karena frase ini terdiri atas penanda dan diikuti oleh kata benda, maka disebut eksosentrik yang direktif. Contoh lain: oling Bali //oliŋ Bali// 'dari Bali' - from Bali; di homah //di homah// 'di rumah' - at home; (p.63) juh wale //juh walə// 'di tempat ayahku' - at my father's place.

3.3.2 Pola Kalimat Dasar

Mengingat betapa pentingnya peranan klas kata dalam penentuan struktur kalimat, maka sebelum sampai kepada pembicaraan pola kalimat dasar, hendaklah ditentukan dahulu klas kata. Di dalam penggolongan klas kata akan dipakai teori yang dikemukakan oleh Ramlah (1978:27-28) yang dapat diterapkan dalam DNP. Ramlah menggolongkan kata-kata dalam bahasa Indonesia (BI) berdasarkan sifat atau prilakunya di dalam frase dan kalimat. Kata-kata yang mempunyai sifat atau prilaku yang sama dalam satu golongan kata. Demikianlah dengan dasar tersebut, dia menggolongkan kata-kata BI menjadi tiga golongan besar, yaitu: 1) kata nominal (N) yang dapat dibedakan lagi atas: kata benda (Bd), kata ganti (Gt) dan kata bilangan (Bl); 2) kata adjektifal (A) yang dibagi lagi atas: kata sifat (Sf) dan kata kerja (Kr); 3) kata partikel (P) yang dibedakan lagi atas: kata penjelas (Ps), kata keterangan (Pr), kata tanya (Ya) dan kata seru (Sr). Kata-kata di dalam DNP dapat pula digolongkan secara frasiologis atau berdasarkan sifat atau prilakunya di dalam frase dan kalimat. Di dalam penggolongan kata-kata DNP berikut ini akan dijumpai beberapa singkatan kata yang berbeda dengan singkatan yang dipakai oleh Ramlan. Hali itu sengaja dibuat untuk (p.64) maksud tertentu.

(17) Ie ngalap poh //Iə ngalap poh// 'Ia memetik mangga' - He picks a mango; (18) Wale ngebuh sampi dadue //Wale ngebuh sampi dadue// 'Ayahku memelihara dua ekor sapi' - My father takes care of two cows; (19) Ebe ngelah habian tone //Ebə ŋəlah habiyan tone// 'Kita yang punya kebun itu' - We own that garden. Dalam kalimat (17, 18, dan 19) di atas berturut-turut ditemukan kata-kata: /poh/ 'mangga' - mango, /dauwə/ 'dua' - two dan /ebə/ 'kita' - we. Ketiga kata ini masing-masing disebut kata benda (Kbd), kata bilangan (Kbl) dan kata ganti (Kgt). Ketiga kata ini sama-sama menduduki jabatan sebagai obyek di dalam kalimat dan kalau akan dinegatifkan dipakai kata tre /trə/ 'bukan' - not kecuali untuk kata bilangan sering dinegatifkan kata endek /əndək/ 'bukan atau tidak' yang tidak dibedakan artinya dengan kata tre /trə/. Ternyata ketiga kata tersebut di atas mempunyai prilaku dan sifat yang sama dalam frase atau kalimat. Karenanya, dapat dimasukkan ke dalam golgongan kata nominal (N).

Di samping itu ada lagi kata-kata yang perilaku atau sifatnya berlainan dengan kata golongan N, yaitu tidak dapat menduduki jabatan sebagai obyek dalam kalimat dan kalau akan dinegatifkan dipakailah kata endek /əndək/ 'tidak' - not. Kata-kata yang demikian prilaku atau sifatnya itu dimasukkan ke dalam golongan kata ajektifal (A). Yang dimasukkan ke dalam (p.65) golongan kata A yaitu kata kerja (Kkr) dan kata sifat (Ksf). Misalnya:
(20) Klambinye sobe jahitce //klambiñə sobə jahitcə// 'Bajunya sudah dijahit' - The coat has already been sown; (21) Kakinye tewas //kakiñə tewas// 'Kakeknya miskin' - His grandfather is poor. Kata jahitce /jahitcə/ 'dijahit' - sown pada kalimat (20) adalah kata kerja, yaitu kata golongnya ajektifal yang dapat dinegatifkan dengan kata endek /əndək/ 'tidak' - no. Sedangkan kata tewas /tewas/ 'miskin' - poor pada kalimat (21) adalah kata sifat, yaitu kata golongan ajektifal yang dapat dinegatifkan dengan kata endek dan juga dapat diikuti oleh kata bes /bəs/ 'sangat' - very. Beberapa contoh kata kerja: nyebak /ñEbak/ 'membelah' - split; melahib /məlahIb/ 'berlari' - run; nyalan /ñalan/ 'berjalan' - walk, go; medagang /mədagaŋ/ 'berdagang' - trade, dan sebagainya. Beberapa contoh kata sifat: jaen /jaən/ 'enak' - tasty; belog /bəlog/ 'bodoh' - stupid; jelek /jəlEk/ 'jelek' - ugly; celang /cəlaŋ/ 'pintar' - clever, dan sebagainya.

(p.66) Kata-kata yang prilaku atau sifatnya lain dengan yang dimiliki oleh golongan nominal dan ajektifal, dimasukkan ke dalam kata golongan partikel yang dapat dibedakan lagi atas: 1) kata penjelas (Kps); 2) kata keterangan (Ket); 3) kata penanda (Kpn); 4) kata perangkai (Kpr); 5) kata tanya (Kta) dan 6) kata seru (Ksr).

Demikianlah secara garis besar penggolongan klas kata dalam DNP. Selanjutnya dapatlah ditentukan pula kalimat dasar tersebut seperti tampak pada uraian di bawah ini: (22) Sampi tone gelahle //sampi tonə gəlahlə// 'Sapi itu kepunyaanku' - That cow is mine; (23) Wannye sedagar //wanñə sədagar// 'Ayahnya saudagar' - His father is a large-scale merchant; (24) Anak lohehe abesik //anak lohəhə abəsIk// 'istrinya seorang' - someone's wife; (25) Hale ie sobe tewas //halə iyə sobə tEwas// 'tetapi ia sudah miskin' - but he is now poor; (26) Bangkiange ohut-ohutce //bangkiaŋə ohut-ohutcə// 'Pinggangnya diurut-urut' - His back is given a massage; (27) Ie ngarit padang //iyə ŋarIt padang// 'Ia menyabit rumput' - He is cutting weeds/grass; (p.67) (28) Memennya ngaenang wannye kelambi //mEmEnñə ŋaEnaŋ wanñə kəlambi// 'Ibunya membuatkan ayah baju' - Mother makes a jacket for father; (29) Nyamande lahib-lahib //ñamandə lahIb-lahIb// 'Adikmu berlari-lari' - Your brother is running around; (30) Epahe ke Badung //Epahə kə Baduŋ// 'Iparnya ke Badung' - His brother/sister-in-law is going to Badung.

Kalimat (22, 23, 24) pada data di atas, masing-masing terdiri atas satu subyek (s) dan satu predikat (p). Predikat kalimat (22, 23) keduanya berupa kata benda, yaitu: gelahle /gəlahlə/ 'kepunyaanku' - mine, dan sedagar /sədagar/ 'saudagar' - large-scale merchant. Kalimat (24) mempunyai predikat yang berupa kata bilangan: abesik /abəsIk/ 'satu' - one. Kalimat yang predikatnya adalah kata benda, kata bilangan seperti kalimat (22, 24) tersebut di atas disebut kalimat nominal. Kalimat (25) mempunyai predikat yang berupa kata sifat, yaitu soba tewas /sobə tEwas/' sudah miskin' - already poor. Kalimat (26) mempunyai satu predikat yang berupa kata kerja pasif yaitu ohut-ohutce /ohut-ohutcə/ ''diurut-urut'. Kalimat seperti ini biasa disebut kalimat pasif. Kalimat (27) predikatnya adalah kata kerja aktif diikuti oleh satu obyek (O) yaitu ngarit padang /ŋarIt padang/ 'menyabit rumput' - cutting weeds/grass. Kalimat (28) juga predikatnya berupa kata kerja aktif, hanya saja obyek yang mengikutnya lebih dari satu: ngaenang wannye kelambi //ŋaEnaŋ wanñə kəlambi// 'Ibunya membuatkan ayah baju' - a jacket is made for father. Kedua jenis kalimat ini (27, 28) biasa disebut kalimat aktif (p.68) transitif yang dapat dibagi lagi menjadi monotransitif (27) dan bitransitif (28). Kalimat (29) terdiri atas satu predikat berupa kata kerja aktif tanpa diikuti obyek. Karenanya disebut kalimat aktif tak transitif. Setiap kalimat yang predikatnya berupa kata kerja dan kata sifat seperti contoh (25, 29) tersebut di ataqs disebut kalimat ajektifal (KA). Terakhir ialah kalimat (30) terdiri atas dua UL dan UL yang kedua sebuah konstruksi eksosentrik yang direktif: ke Badung // kə Baduŋ// 'ke Badung' - to Badung. Kalimat semacam ini disebut kalimat dengan partikel penanda (KPpn).

Demikian dalam data di atas ditemukan: (1) kalimat nomial; 2) kalimat ajektifal dan (3) kalimat dengan predikat kata penanda. Kalimat nominal (KN) dapat dibagi menjadi (a) kalimat dengan predikat kata benda, dan (b) kalimat dengan predikat kata bilangan. Kalimat ajektifal (KA) dapat dibagi menjadi dua yaitu (a) kalimat dengan predikat kata kerja, dan (b) kalimat dengan predikat kata sifat. Kalimat dengan predikat kata kerja dapat dibagi lagi menjadi kalimat aktif dan kalimat pasif. Selanjutnya kalimat aktif dibagi lagi menjadi kalimat aktif transitif dan kalimat aktif intransitif. Terakhir kalimat transitif dapat dibagi menjadi dua pola yaitu monotransitif dan bitransitif.

Bab IV: Kesimpulan dan saran-saran (p.69)

Dari uraian bab-bab di atas disimpulkan pada Bab IV ini untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas.

A. Latar Belakang Sosial Budaya Bahasa Bali dialek Nusa Penida

1. Jumlah Bahasa: Di Nusa Penida terdapat dua jenis bahasa yaitu bahasa Bali dan bahasa Bali dialek Nusa Penida. Bahasa Bali dialek Nusa Penida merupakan bahasa yang terbesar luas di Pulau Nusa Penida terutama di daerah pegunungan; 2. Peranan dan Kedudukan bahasa Bali Nusa Penida dalam Kebudayaan. a) BBN mempunyai kedudukan yang penting untuk menyampaikan ide dan pikiran dalam segala aspek kebudayaan meliputi: tatacara kehidupan, dalam kehidupan keluarga demikian pula dalam beberapa cabang kesenian; b). BBN sebegai bahasa daerah mengemban fungsinya terutama dalam cabang kesenian dan adat terutama yang bersifat tradisional; 3. BBN dalam pendidikan: a) BBN dalam pendidikan di sekolah belum menduduki tempat yang baik sebagai bahasa pengantar atau sebegai mata pelajaran. Malahan ada kecendrungan bahasa Bali yang dipakai sebagai bahasa pengantar di sekolah maupun sebagai mata pelajaran; b) BBN dipakai sebagai bahasa pergaulan di sekolah antara tampak pada sekolah-sekolah yang agak jauh dari kota; c) BBN sebagai alat komunikasi antara guru dan murid tidak (p.70) tampak dengan baik, sebagai alat komunikasi dipakai bahasa Bali bila seorang murid ingin berhugungan dengan guru; 4. BBN dalam kehidupan rumah tangga: a) Di rumah tangga masyarakat Nusa Penida umumnya pempergunakan BBN sebagai alat konumikasi; b) Di luar rumah tangga BBN berkedudukan sebagai alat komunikasi pada kaum petani terutama mereka yang berada di luar kota. Sedangkan bila di kota pemakaian BBN sudah digantikan oleh BB sebagai alat komunikasi; 5. BBN dalam kesenian: BBN belum kelihatan fungsinya yang demikian dalam cabang-cabang kesenian yang ada di Nusa Penida. Pemakaian BBN dalam kesenian agaknya didesak oleh pemekaian BB hingga ada kecendrungan pemakaian BB yang tampak sangat dominan.

B. Struktur BBN

1. Dialek bahasa Bali (BBN) memiliki enam buah fonem vokal dan delapan belas buah fonem-konsonan. Fonem vokal tersebut adalah: i, e, ə [?], a, u dan o. Dan fonem konsonanya adalah: p, b, m, t, d, n, c, j, s, ñ, r, l, k, g, ŋ, h, w, y. Setiap fonem vokal berdistribusi langkap kecuali fonem vokal /a/ tidak pernah menempati posisi akhir. Semua fonem konsonan tersebut di atas berdistribusi lengkap kecuali fonem konsonan c, j, n, w, y, tidak pernah ditemukan pada posisi akhir.

2. Dialek BBN memiliki lima buah pola persukuan. Kelima pola persukuan tersebut adalah: V, VK, KV, KVK, dan KKVK.
(p.71) 3. Ada tiga proses morfologi yang ditemukan di dalam BBN yaitu afiksasi, reduplikasi, dan kompositum. Ketiganya memegang peranan penting dalam BBN. Dalam BBN kita jumpai lima buah awalan yaitu: N-, pe-, me-, ke-, se-; tiga buah akhiran yaitu: -an, -aŋ, dan -e; dan tiga buah konfiks: me-/-an, pe-/-an dan ke-/-an.

4) Awalan N- dapat berubah bentuknya menjadi m-, n-, ñ-, ŋ- [...]. Fungsinya dapat membentuk kata kerja aktif transitif dan kata kerja dasar; membentuk kata kerja dari kata benda dan membentuk kata kerja dari kata keadaan. Arti yang didukungnya: melakukan perkerjaan dengan alat yang tersebut pada kata dasar, membuat seperti yang tersebut pada kata dasar, menjadi. Awalan pe- ada dua macam yaitu pe- disertai N dan pe- tanpa disertai N-. Awalan pe- yang disertai N- dapat berubah bentknya menjadi pem-, pen- dan peŋ-. Fungsinya membentuk kata benda. Awalan pe- tanpa N- tidak mengalami perubahan bentuk dan berfungsi untuk membentuk kata keadaan. Arti yang didukungnya menyatakan alat, menyatakan orang yang melakukan pekerjaan, gerak atau bunyi. Awalan me- dapat berubah bentuknya menjadi m- fungsinya membentuk kata kerja. Dapat berarti: mempunyai, memakai, menghasilkan, dan refleksi. Awalan ke- dapat berubah bentuknya menjadi k-. Fungsinya membentuk kata benda dan kata kerja pasif. Artinya: menyatakan benda abstrak dan menyatakan kata kerja pasif. (p.72) Awalan se- tidak mengalami perubahan bentuk. Artinya sama... dengan, bertetapan waktu dengan, setiap.

5) Akhiran -an tidak mengalami perubahan bentuk. Fungsinya membentuk kata benda dan membentuk kata kerja pasif. Artinya: menyatakan alat, menyatakan tempat, menyatakan ukuran, menyatakan komparatif. Akhiran -aŋ tidak mengalami perubahan bentuk. Fungsinya membentuk kata kerja. Arti yang diddukungnya: bertambah menjadi, menuju arah, untuk kepentingan orang lain, menjadikan. Akhiran -e dapat berubah bentuknya menjadi -nə, fungsinya membentuk kata kerja pasip.

6) Konfiks ke-/-an tidak mengalami perubahan bentuk. Fungsinya yaitu membentuk kata kerja pasif dan membentuk kata benda. Arti yang didukungnya: tidak sengaja, yang di-. Konfiks ke-/-aŋ [?] tidak mengalami perubahan bentuk. Fungsinya yaitu membentuk kata kerja pasif dan membentuk kata benda. Arti yang didukungnya: tidak sengaja dan yang di-. Konfks pe-/-an dapat berubah bentuknya sesuai dengan perubahan pe- dengan N-. Fungsinya yaitu membentuk kata benda. Artinya menyatakan tempat, menyatakan alat. Konfiks me-/-an tidak mengalami perubahan bentuk. Fungsinya yaitu membentuk kata kerja. Arti yang didudkunya: mengendarai atau berlayar, menyatakan laku atau perbuatan.

7) Dalam BBN ditemukan kata utuh, kata ulang berafiks, kata ulang dengan variasi fonem. Pada umumnya perulangan (p.73) tersebut berfungsi untuk menjamakkan dan menyatakan intensitas frekwensi. Arti yang ditimbulkannya menyatakan banyak, intensitas; 8) Di samping itu dalam BBN ditemukan kata mejemuk setara, kata majemuk tak setara dan kata majemuk dengan unsur unik. Umumnya pemajemukan berarti mengeraskan; 9). Dalam BBN dijumpai dua tipe konstruksi frase yaitu endosentrik dan eksosentrik. Frase endosentrik apositif dan endosentrik koordinatif. Frase ekosentrik dapat dibagi menjadi eksosentrik yang direktif, eksosentrik yang predikatif, eksosentrik yang obyektif. 10) BBN memiliki dua pola kalimat dasar yaitu kalimat nominal dan kalimat ajektival.

C. Saran-saran

Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan tentang Latar Belakang Sosial Budaya Bahasa Nusa Penida dan hasil yang deskripsikan ini masih berupa garis besarnya saja. Penelitian terhadap BBN khususnya di bidang struktur Bahasa perlu dilakukan lebih mendalam karena strukur bahasa Bali Nusa Penida ini mempunyai strukutur agak unuk dibandingkan dengan struktur bahsa yang lain yang ada di Nusa Penida.

Daftar pustaka (Bagus)

  • Bloomfield, Leonard - Language, Henry Holt and Co. New York, 1956
  • Fokker, A.A. - Pengantar Sintaksis Indonesia, Terjemahan Johar, PN Pradnya Pramita, Jakarta, 1960
  • Harimurti Kridalaksana - Sosiolinguistics dalam Leksikografi (1974)
  • Pike, Kenneth, L. - Phonetics, Ann Aeber, Mich, University of Michigan Press, 1943
  • Ramlah, M. - Tipa-tipa Konstruksi Frasa dalam bahasa Indonesia, Fakultas Sastra dan Kebudayaan Gama, Lustrum III, Gama, 1964
  • Ramlah, M. - Ilmu Bahasa Indonesia, Morfolkogi, UP Indonesia, Jogja, 1967
  • Samsuri - Pengantar Morfo-Sintaksis, Edisi Penataran, 1974
  • Samsuri - Folologi II, Lembaga Penerbitan IKIP Malang, 1971
  • Slamet Mulyono - Kaidah Bahasa Indonesia, Percetakan Arnoldus Penerbitan Nusa Indah Ende, Flores, 1969

Daftar Informan

  • 1. I Wayan Murnaya; lahir 1951; pendidikan SPG; pekerjaan guru
  • 2. I Wayan Wira; 36 yahun; pendidikan SMA; pekerjaan Mantri/Kesehatan
  • 3. Ngakan Made Pejeng; umur 60 yahun; pendidikan SMP; pekerjaan guru/Kepala desa
  • 4. I Made Regog; umur 54 tahun; pendidikan SGA; pekerjaan Kepala Kantor P&K
  • 5. I Wayan Wirya; umur 8 tahun; pendidikan murid kelas 2; pekerjaan murid sekolah

Referensi

  • Echols, John M et al. - An English- Indonesian Dictionary, Jakarta 1993
  • Echols, John M et al. - An Indonesian-English Dictionary, Third Edition, Jakarta 1992
  • Salim, M.A. Drs. Peter et al. - Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Jakarta, 1991
  • Shadeg, Norbert - Balinese-English Dictionary, Tuttle Publishing, Singapore, 2007

Sumber

  • Bagus, I Gusti Ngurah – Latar belakang sosial budaya Bahasa Bali Nusa Penida / Tim peneliti, I Gst. Ngh. Bagus dan kawan-kawan. Denpasar: Jurusan Bahasa dan Sastra, Universitas Udayana, 1981, 73p

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman www.godidijkman.nl social facebook box white 24