Dialects (Adhiti, 1984)

Below article is a summarised rendering of Adithi's thesis 'Variasi kosa kata bahasa Bali di Nusa Penida: sebuah kajian geografi dialek' published in 1984 (142pp.), a year after she finished her field work in Nusa Penida in 1983.

Summarising this thesis was done to enhance redability in Indonesian and to reduce redundancy. The 'abstrak' and conclusion are identical to Adhiti's version. Remarks and additional information are indicated in square brackets and explanatory notes in English by author Godi Dijkman are given in italics. 'titik pengamatan' in Adithi's thesis has been replaced with 'OP' (Observation Point). A summarised English translation is forthcoming.

'Variasi kosa kata bahasa Bali di Nusa Penida: sebuah kajian geografi dialek' (1984)

Abstrak

'Variasi kosa kata bahasa Bali di Nusa Penida' merupakan masalah yang penulis bahas. Kajian geografi dialek ini membicarakan variasi kosa kata bahasa Bali khusunya bagi penutur yang ada di Nusa Penida.

Penulis menggunakan teori dialektologi tradisonal, yakni teori yang membicarakan masalah sejarah kata baik bentuk maupun maknanya. Dengan teori ini sifat penelitian yang penulis lakukan adalah diatopik-sinkronik yakni penelitian yang dilakukan dengan mengambil sejumlah OP di wilayah penelitian dan mengambil data yang bersifat kekinian. Teori tersebut diterapkan dengan suatu metode untuk pengambilan data, yakni metode pupuan lapangan. Metode ini diterapkan dengan maksud agar penulis dapat secara langsung mewawancarai informan yang diperlukan.

Adapun beberapa tujuan yang penulis inginkan dalam tulisan ini antara lain: mencari kosa katanya, pengelompokan variasi kosa kata tersebut, prosentase kosa kata berdasarkan rumus yang ada, dialek-dialek yang ada, dan faktor yang menyebabkan adanya perbedaan dialek-dialek tersebut berdasarkan data secara non-linguistik.

Kosa kata yang bervariasi didapatkan sebanyak 135 kosa kata dari 300 kata dalam daftar pertanyaan. Variasi tersebut berupa berian berbeda dengan makna sama. Untuk melihat variasi kosa kata itu digunakan satu OP sebagai tolok ukur. OP tersebut adalah OP no.1 yang terletak di daratan dan merupakan pusat pemerintahan desa. Di samping itu OP memiliki latar belakang sosial budaya yang berbeda jika dibandingkan dengan OP lain.

Variasi kosa kata tersebut dapat dikelompokkan pula. Satu OP dapat mewakili OP dalam satu kelompok. Dengan demikian masing-masing kelompok tersebut diwakili oleh satu OP sehingga dapat dihitung perbedaan kosa katanya dengan kosa kata pada kelompok lain.

Prosentase kosa kata dapat dihitung berdasarkan rumus yang telah ada. Dari perhitungan tersebut didapatkan perbedaan dialek, subdialek dan perbedaan wicara. Kosa kata yang berupa perbedaan dialek ditemukan tiga belas pasang, yakni antara 51-80%. Selanjutnya kosa kata yang berupa perbedaan subdialek didapatkan sepuluh pasang, yakni antara 31-50%. Sedangkan kosa kata yang berupa perbedaan wicara didapatkan hanya satu pasang, yakni antara 21-30%. Perbedaan kosa kata di bawah 20% tidak didapatkan.

Dengan menarik isoglos, yakni garis yang dapat memisahkan antara titik pangamatan satu dengan OP lain maka didapatkan empat dialek. Dialek tersebut penulis namakan dialek A, B, C dan D. Dialek A terdiri atas OP no.1, 2, 3, dan 4. Dialek B terdiri atas OP no.5, 6, dan 7. Kemudian dialek C terdiri atas OP no.10, 11, 12, dan 13. Selanjutnya dialek D terdiri atas OP no. 8 dan 9.

Adanya dialek-dialek tersebut diakibatkan tiga faktor: geografis, migrasi, dan sejarah. Dengan adanya jarak yang terlalu jauh antara satu OP dengan OP lain maka akan menyulitkan bagi penduduk untuk mengadakan komunikasi secara lancar. Hal ini menimbulkan adanya perbedaan dialek dari setiap OP. Demikian pula asal penduduk yang berbeda-beda menimbulkan pula dialek penduduk setempat tidak sama. Dengan demikian masing-masing penduduk tersebut membawa pengaruh dialeknya sendiri yang digunakan secara turun-menurun sampai sekarang. kalau kita melihat sejarah desa dari masing-masing OP tersebut maka akan dapat diketahui mengapa wujud kosa kata yang ada sedemikian rupa wilayah penelitian yang telah dilakukan.

Latar belakang

Menurut Sensus Penduduk tahun 1981 (Kantor Statistik Propinsi Bali) Jumlah penduduk pulau Bali adalah 2.478.366 jiwa (laki-laki: 1.230.856 jiwa, perempuan: 1.256.513. Luas pulau Bali adalah 5.623,86 km2. Penduduk Bali, di samping suku Bali sendiri terdapat suku Jawa, Madura, Lombok, Bugis, Makasar dan suku lainnya. Mereka berada di Bali sebagai pengusaha, duduk dalam pemerintahan, pendidikan, dan ABRI. Di samping suku tersebut ada juga bangsa lain misalnya Tionghoa, Arab, dan Bombai yang hidup dalam bidang perniagaan, berjualan di toko-toko dan jumlah mereka tidak begitu besar. Di antara mereka ada yang dapat berbahasa Bali dan menggunakan lebih dari satu bahasa. Bahasa Indonesia sebagai bahasa suku mereka sendiri dan bahasa bangsa sendiri. Hal ini tergantung pada orang yang diajak berkomunikasi (Bawa dan Jendra, 1981:5).

Di kawasan Nusantara hidup bahasa daerah yang jumlahnya ratusan dan merupakan warisan budaya yang tinggi nilainya, karena dapat memberikan sumbangan besar bagi pembangunan nasional. Peningkatan dan pengembangannya dilakukan melalui kegiatan untuk mengetahui permasalahan yang terjadi dalam bahasa itu sendiri ditangah-tengah derasnya arus modernisasi pembangunan yang sedang giat-giatnya dilakukan oleh bangsa Indonesia. Begitu pula halnya bahwa kedudukan bahasa Bali sendiri sama saja dengan bahasa daerah lainnya di wilayah Nusantara antara lain bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan Bahasa Bugis. Fungsi bahasa itu sendiri tidak lain adalah sebagai bahasa pergaulan dalam kehidupan, sebagai bahasa pengantar dalam lembaga-lembaga pendidikan pada singkat-singkat tertentu dan juga sebagai penyakur aspirasi kebudayaan daerah, yang semuanya itu dapat dilihat dalam sastra lisan maupaun tulisan (Tim Peneliti FS, 1977/1978:2).

Bahasa Bali adalah salah satu bahasa daerah yang hidup di wilayah Indonesia yang merupakan bahasa ibu dan bahasa pergaulan atau alat komunikasi bagi masyarakat suku bangsa Bali serta merupakan alat untuk mempelajari dan menyelami kebudayaan Bali yang berguna bagi pembinaan, pemeliharaan dan perkembangan kebudayaan daerah dan nasional. Bahasa Bali digunakan sabagai bahasa pengantar dan bahasa yang diajarkan dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi (Bawa dan Jendra, 1981:1). Bahasa Bali juga merupakan wadah dan sekaligus sebagai media pengukapan beberapa cabang seni dan kebudayaan dalam arti yang seluas-luasnya (Jendra dkk., 1975/1976:192-193).

Di samping suku bangsa Bali sendiri yang berkewajiban moral terhadap kelanjutan bahasa Bali, sesuai dengan penjelasan Undang-undang Dasar 1945, sudah sewajarnyalah pemerintah melalui Pusat Bahasa mengadakan penelitian, pembinaan, dan pengembangan bahasa-bahasa daerah di Indonesia termasuk bahasa Bali, yang berguna bagi suburnya bahasa persatuan dan kebudayaan nasional demi kepentingan kemajuan nasional dan perkembangan ilmu pengetahuan (Bawa dan Jendra, 1981:1). Bahasa Bali sebagai bahasa terbesar dipakai di Bali memiliki dua dialek secara garis besar, yakni Dialek Bahasa Bali Daratan (DBD) dan Dialek Bahasa Bali Aga (DBA) (Jendra, 1975/1976:178). Ruang lingkup perkembangan pemakaiannya dapat dikatakan bahwa bahasa Bali yang menyebar di daratan merupakan bahasa Bali Baku sedangkan bahasa Bali yang menyebar di pegunungan terkenal dengan sebutan bahasa Bali Mula (dialek bahasa Bali Aga). Bahasa Bali dialek Bali Aga terdapat di Kabupaten Karangasem meliputi daerah Tenganan, Bugbug, Asak, Timrah dan Seraya. Di sekitar danau Batur meliputi Kedisan, Trunyan, Songan, Pinggan, Siakin, Kintamani, Kalanganyar dan Sukawana. Di kabupaten Buleleng meliputi Tajun, Sembiran, Satra, Julah dan Munti. Di kabupaten Badung meliputi Tihingan dan Seminyak. Di kabupaten Tabanan meliputi Blimbing, Bantiran, Sanda, Padangan, Pujungan, Batungsel dan Marga. Daerah yang lain di antaranya: Sepang, Tigawangsa, Ularan, Sidatapa dan Cempaga (Time Peneliti FS, 1979/1980:7). Dialak bahasa Bali yang berada di daerah tingkat II Kapubaten Klungkung adalah di Nusa Penida (Jendra dkk., 1975/1976:207-208). [GD: Apparently, some information is missing from pages 3-4] ... "Morfologi Bahasa Bali Dialek Nusa Penida" (Darma Laksana, 1977), "Latar Belakang Sosial Budaya Bahasa Nusa" (Bagus, 1981/1982) (...), dan "Variasi Ssitem Fonologi Bahasa Bali di Nusa Penida: Sebuah Kajian Dialektologi Struktural" (Madia, 1982). Karya-karya tulis yang digarap oleh I Made Madia adalah karya tulis yang khususnya membahas variasi sistem folologi di Nusa Penida, sedangkan penulis akan mencoba untuk menginventarisasi variasi kosa katanya.

Masalah

Berdasarkan latar belakang seperti tersebut di atas maka penulis akan mencoba untuk membahas permasalahan sebagai berukit: 1) Bagaimanakah variasi kosa kata bahasa Bali di Kecamatan Nusa Penida?; 2) Bagaimanakah gambaran umum pengelompokan variasi-variasi tersebut?; 3) Bagaimanakah prosentase variasi kosa kata tersebut?; 4) Dialek-dialek bahasa Bali yang bagaimanakah kita dapatkan berdasarkan variasi tersebut?; 5) Bagaimanakah pembahasan tentang dialek bahasa Bali yang ada di Nusa Penida dari sudut luar bahasa?

Berdasarkan faktor kebahasaan dan faktor luar bahasa, dapat diasumsikan bahwa bahasa Bali di Kecamatan Nusa Penida memiliki beberapa variasi. Variasi tersebut akan menyangkut bidang fonologi, morfologi, leksikologi dan sintaksis. Variasi itu akan kita dapatkan di semua desa yang ada. Menurut penelitian yang sudah dilakukan dikatakan bahwa dari ketigabelas desa yang dimiliki variasi (di daratan maupun di pegunungan) di antaranya ada dialek Batununggul, Suana, Tanglad, Sekartaji, Batukandik, Sakti, Klumpu, Toyapakeh, Lembongan, Jungutbatu, Ped dan Kutampi.

Hipotesis

Berdasarkan asumsi di atas, dengan didukung oleh pengamatan dan teori yang ada, maka variasi kosa kata bahasa Bali di Nusa Penida dapat dirumuskan sebagai berikut: 1) Variasi kosa kata yang ada di Nusa Penida berdasarkan penelitian yang dilakukan akan cukup banyak didapatkan; 2) Variasi tersebut akan dapat kikelompokkan berdasarkan ketigabelas OP yang ada; 3) Prosentase variasi kosa kata akan depat dihitung dari pengelopmpokkan variasi kosa kata tersebut; 4) Dialek-dialek bahsa Bali yang ada di Nusa Penida dapat pula diketahui berdasarkan perhitungan prosentase tersebut; 5) Perbedaan dialek bahasa bali di Nusa Penida di setiap OP dapat juga diketahui faktor-faktor yang menyebabkannya, terutama dari sudut luar bahasa.

Populasi

Kecamatan Nusa Penida terdiri atas 13 desa: Batununggul, Kutampi, Toyapakeh, Suana, Klumpu, Sakti, Lembongan, Jungutbatu, Batumadeg, Batukandek, Tanglad, dan Sekartaji (Kantor Kecamatan Nusa Penida dan Band. Madia, 1982:17). Luas wilayah Nusa Penida menurut sensus tahun 1982/1983 adalah 17966,587 km2. Jumlah penduduknya sebanyak 45772 jiwa (laki-laki: 22349 jiwa, perempuan: 23423). Dari jumlah penduduk tersebut terbagi atas 8779 kepala keluarga (Tabulasi Data Potensi Desa, 1982/1983:5). Populasi penelitian bahasa Bali di Kecamatan Nusa Penida adalah seluruh penutur bahasa Bali yang berdiam di wilayah Nusa Penida yang menggunakan bahasa Bali sebagai alat komunikasi masyarakat setempat.

Sampel

Satu persoalan penting yang dihadapi oleh seorang penylidik jika ia hendak mengadakan reasearch sampling adalah bagaimana ia dapat memperoleh sampel yang dapat "mewakili" populasi. Tentulah yang dimaksud dengan "mewakili" bukanlah merupakan duplikat atau "roplika" yang cermat, melainkan hanya sebabai "cermin" yang dapat dipandang menggambarkan secara maksimal keadaan populasi (Hadi, 1981:70). Mengingat pernyataan seperti di atas maka penulis mengambil 13 OP dari 13 desa: Batununggul, Suana, Sekartaji, Tanglad, Batukandik, Batumadeg, Klumpu, Sakti, Toyapakeh, Lembongan, Jungutbatu dan Kutampi. Setiap desa tersebut ada beberapa banjar, dan desa yang dijadikan OP itu akan diambil dari beberapa banjar sebagai sampel desa tersebut. Kemudian langkah berikutnya adalah menentukan beberapa informan yang mewakili banjar tersebut.

Peraturan informan

Pop mengatakan bahwa pembahan (informan) memegang peranan yang penting di dalam pupuan karena dialah yang memberikan keterangan yang diperlukan. Sehubungan dengan itu maka harus diusahakan agar pemupu (peneliti) dapat memperoleh pembahan yang baik berdasarkan peraturan tertentu (Ayatrohaedi, 1979:45). Dengan adanya pernyataan ini maka dalam penelitian kita perlu memilih informan dalam pengumpulan data atau penentuan informan tersebut harus mempunyai persyaratan tertentu agar data yang didapatkan dapat dipercaya. Ayatrohaedi juga mengatakan bahwa agar keterangan terkumpul dari seorang atau beberapa orang pembahan yang baik, seyogyanya terlebih dahulu ditentukan persyaratan bagi pembahan. Persyaratan tersebut menyangkut hal-hal yang berhubungan dengen usia, pendidikan, asal-usul, kemampuan, dan "kemurian" bahasa pembahan.

Syarat pembahan adalah, antara lain: 1) Usia yang dianggap sesuai bagi seorang pembahan adalah usia pertengahan (40-50) tahun, karena pada usia tersebut mereka telah menguasai bahasa atau dialeknya, tetapi belum sampai pada tarap pikun. Pembahan yang terlalu muda atau terlalu tua dianggap kurang sesuai; 2) Pendidikan pembahan bukan pendidikan yang terlalu tinggi karena dari seorang yang berpendidikan tinggi akan terjadi banyak pengaruh luar di dalam beriannya. Sebaiknya pembahan juga seyogyanya bukan mereka yang buta huruf, tentu saja syarat ini terutama berlaku di negara yang penduduknya suda hampir seluruhnya terbebas dari buta huruf; 3) Asal-usul pembahan harus diusahakan dari desa atau tempat yang diteliti. Jika mungkin, asal-usul ini harus ditelurusi sampai kepada dua angkatan sebelumnya (kakek/nenek) yang semuanya hendaklah lahir dan dibesarkan di tempat tersebut, serta sekali atau tidak pernah meninggalkan kampungnya; 4) Kemampuan pembahan berbahasa di dalam pupuan bahasa sendirinya merupakan faktor penentu. Pembahan harus menguasai bahasa dan dialeknya dengan baik, dan yang lebih baik lagi jika ia justru hanya mengenal dialeknya saja, sehingga dengan demikian kemungkinan adanya pengaruh dari luar sangat kecil; 5) "Kemurnian" bahasa pembahan erat hubungannya dengan kemampuan berbahasanya. Dengan "kemurnian" ini dimaksud pembahan sedikit terkena pengaruh dari dialek atau bahasa yang digunakan di daerah tetangganya (1979:47).

Di samping syarat di atas perlu pula diperhatikan beberapa persyaratan yang dianggap penting, seperti: 1) alat ucapan tidak cacat; 2) sehat jasmani dan rohani; 3) umur berhampiran antara satu informan dengen informan yang lain; 4) suka berbicara tetapi tidak suka membual; 5) pendengarannya normal. Dalam pengumpulan data bahasa sehubungan dengan tulisan ini, dari tiap-tiap OP diambil beberapa orang informan. Salah seorang informan dari tiap-tiap banjar dijadikan informan utama dan seorang lagi dianggap sebagai informan pendamping. Informan pendamping itu hanya mengecek kebenaran informan yang diberikan informan utama.

Penyusunan daftar pertanyaan

Daftar pertanyaan merupakan hal yang utama dalam penelitian. Hasil penelitian sebenarnya juga sudah dapat diramalkan dari daftar pertanyaan itu. Jaborg dan Jud mengatakan bahwa untuk memperoleh hasil yang memuaskan, daftar pertanyaan yang baik harus memenuhi tiga syarat sebagai berikut: 1) daftar pertanyaan memberikan kemungkinan dan dapat menampilkan ciri-ciri istimewa dari daerah yang diteliti; 2) daftar pertanyaan harus mengandung hal-hal yang berkenaan denga sifat dan keadaan budaya daerah penelitian; 3) daftar pertanyaan harus memberikan kemungkinan untuk dijawab dengan langsung dan spontan, karena pada dasarnya jawaban yang pertama kali diberikan itulah yang paling tepat (Ayatrohaedi, 1979:39). Kemudian daftar pertanyaan dapat disusun dengan dua cara yaitu: menurut abjad; menurut tautan arti atau makna. Susunan daftar pertanyaan menurit abjad digunakan oleh Gillieron Edmont untuk pengumpulan bahan ALF.

Pertanyaan yang disusun menurut abjad tanpa memperhatikan apakah pertanyaan itu berada pada bidang atau tidak. Susunan seperti ini dianggap sesuai pembuatan kamus, tetapi dianggap tidak sesuai untuk penelitian geografi dialek, karena dengan susunan seperti itu peneliti menghadapkan pembahan kepada keadaan yang melelahkan, karena pembahan setiap kali harus merubah pokok masalah (Ayatrohaedi, 1979:40). Susunan daftar pertanyaan menurut makna dimaksudkan agar pembahan berada pada susunan yang memungkinkan memberikan jawaban yang langsung dan spontan. Untuk keperluan tersebut, daftar pertanyaan disusun berdasarkan tautan arti sesuai dengan bidangnya masing-masing. Hal-hal yang mempunyai tautan arti tertentu dikelompokkan sesamanya seperti pertanyaan tentang tubuh, bagian alam, sistem kekerabatan, tanaman, pohon-pohonan dan pembagian waktu (Ayatrohaedi, 1979:40-41).

Bertitik tolak pada persyaratan dan susunan daftar pertanyaan seperti di atas maka bidang penelitian bahasa Bali di Kecamatan Nusa penida menggunakan cara yang kedua yaitu menurut tautan arti atau makna didasarkan atas pertimbangan bahwa informan tidak akan ragu sehingga jawaban yang didapatkan secara langsung dan spontan. Daftar kata-kata yang bersumber dari Swadesh yang dikembangkan menjadi 340 kata dasar oleh I Made Madia dalam tesisnya yang berjudul "Variasi Sistem Fonologi Bahasa Bali di Nusa Penida: Sebuah Kajian Struktural" (1983), penulis gunakan sebagai bahan banding untuk daftar pertanyaan pula. Penulis menggunakan daftar pertanyaan sebanyak 300 kata dan disesuaikan dengan kosa kata yang ada di tempat tersebut.

2. Monografi dan kosa kata desa Batununggul sebagai tolok ukur

Sejarah desa Batununggul

Sumber yang dipakai untuk mendapatkan monografi desa Batununggul adalah buku "Tabulasi Data Potensi Desa", yang diterbitkan oleh Departemen Dalam Negeri, Direktorat Pembangunan Desa (1982/1983). Buku tersebut diperoleh dari Kantor Bupati Bagian Pembangunan Desa (Bangdes) Kabupaten Klungkung, karena Nusa Penida merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kebupaten Klungkung. Sumber tersebut didapatkan pula dari buku "Monografi Desa Batununggul" (1976). Buku tersebut membahas tentang sejarah desa, batas-batasa wilayah, luas desa, jumlah penduduk, mata pencaharian, pemerintah desa, pendidikan, agama, kesenian, prasarana desa dan sebagainya. Mengenai jumlah penduduk, pendidikan, agama, dan mata pencaharian akan diambil dari sensus tahun terakhir yaitu tahun 1982/1983 yang dicatat dalam Tabulasi Data Potensi Desa. Sumber tersebut dianggap sebagai sumber primer tertulis.

Kalau kita lihat dari sejarahnya (menurut buku Monografi Desa Batununggul), kata 'batununggul' terdiri atas kata yakni batu dan nunggul. Batu adalah sila yang artinya dasar dan nunggul sama dengan unggul yang artinya jaya. Kejayaan ini dihubungkan dengan sejarahnya. Ketika I Dewa Dimadya (Raja Klungkung II) memerintah, Nusa Penida sangat kacau. Dengan kejadian ini lalu raja Bali mengutus beberapa orang kesatria untuk mengamankan Nusa Penida. Para kesatria yang diutus pada waktu itu menjalankan tugasnya secara bersungguh-sungguh. Dalam waktu singkat daerah tersebut bisa aman, setelah berjuang dengan penduduk asli yang amat kuat fisik maupun mentalnya. Kekacauan tersebut menjadi hilang dan keamanan desa dapat dijamin kembali. Para utusan raja Bali yang telah berhasil melakukan tugasnya dengan gemilang, di antara mereka ada yang kembali pulang ke Bali dan ada pula yang menetap di Batununggul sampai sekarang. Peninggalan seni budaya yang mencakup tata kehidupan religius dapat kita lihat kenyataannya. Ciri khas yang kita dapatkan mengenai utusan tersebut adalah dengan adanya peninggalan berupa pura. Di sebelah selatan desa ada bukit yang berpuncak tinggi terdapat batu besar bundar telor yang garis menengahnya ± 4m, tingginya 5m. Di sekitar tempat tersebut terdapat pura yang dinamakan pura "Batununggul".

Prasarana Desa

Desa Batununggul terletak di pesisir pantai dan merupakan desa yang amat strategis dibandingkan dengan desa yang lain. Desa tersebut memiliki pelabuhan yang ramai dan sebagian besar orang yang akan berlabuh ke Nusa Penida menuju pelabuhan Mentigi. Komunikasinya cukup lancar sehingga kemajuan desa terlihat dan cepat melaksanakan pembanguan desa. Di bidang prasarana desa sudah semakin meningkat pula. Prasarana perhubungan kita lihat dengan adanya jalan aspal sepanjang lima kilometer, jalan tanah tiga kilometer. Sedangkan jalan tanah tersebut lebih banyak kita temukan di daerah pegungunan. Di bidang prasarana produksi belum dijumpai. Prasarana di bidang ekonomi kita jumpai dengan adanya pasar umum, pasar ikan dan koperasi/perkreditan. Toko-toko juga tercatan sampai sekarang 50 buah toko dan warung 25 buah. Prasarana sosial yang berupa prasarana pemerintahan desa kita jumpai dengan adanya Puskesmas. Prasarana kesehatan dan rekreasi kita lihat dari adanya permandian umum. Prasarana pendidikan, kesenian dan olahraga didapatkan dengan adanya TK, SD dan Gedung olahraga maupun gedung kesenian. Tempat peribadatan yang berupa pura juga merupakan prasarana bagi masyarakat yang beragama Hindhu. Pada akhir-akhir ini (pertengahaan tahun 1983) pemerintah telah menyediakan fasilitas pendidikan seperti SMA Arjuna dari suatu Yayasan dan juga SMP yang telah ada, sehingga generasi muda di sana tidak merasa sulit untuk mengikuti perkembangan pendidikan. Prasarana perhubungan kita lihat pula dengan adanya sepeda, pedati, perahu, mesin tempel, sepeda motor, mobil (Colt), bemo, truk dan Jeep. Jumlah kendaraan tersebut tidak sedikit. Di bidang telekomunikasi banyak pula seperti: radio, dan televisi.

Geografi dan luas Wilayah

Kalau kita tinjau dari sudut geografi, desa Batununggul memiliki batas-batas sebagai berikut: laut di sebelah utara; des Suana di sebelah timur; desa Kutampi di sebelah barat; desa Kutampi di sebelah selatan. Jarak antara desa satu dengan desa yang lain cukup jauh sehingga tidak memungkinkan bagi penduduk berkomunikasi secara cepat dan lancar, kecuali dengan desa yang terletak di daratan. Desa Batununggul terletak di daratan, di pantai (pinggiran desa) banyak didapatkan ikan lautnya. Sepanjang jalan yang menjadi pusat pemerintahan (Sampalan) desa cukup ramai serta prasarana yang ada memungkinkan untuk melaksanakan pembangunan desa, dibandingkan dengan desa lain yang ada di pegunungan. Luas desa Batununggul adalah 644,970 ha. Luas penggunaan tahan untuk perkebunan belum diperhitungkan, naha [?] berupa tanah penggunaan lain didapatkan sebanyak 4,970 ha. Dengan demikian desa Batununggul menggunakan tanahnya sebagian besar untuk tegalan, karena yang tersedia masih kering sehingga terasa sulit untuk menyediakan tanah persawahan dan perkebunan.

Demografi

Menurut sensus tahun 1982/1983 jumlah penduduk Nusa Penida = 457.772 jiwa (laki-laki: 223.49 jiwa & perempuan: 23.423). Jumlah setiap kepala keluarga = 8779. Khusus desa Batununggul, jumlah penduduk = 3813 (laki-laki:1821, perempuan: 1992). Kemudian dari jumlah tersebut terbagi atas 726 kepala keluarga (kk). Dengan demikian jumlah penduduk antara laki-laki dengan perempuan tidak begitu banyak perbedaan. Yang jelas perlu kita lihat pendidikannya, mata pencahariannya atau lain untuk dapat mengetahui komunikasi mereka lewat bahasa yang digunakan.

Pendidikan

Dari jumlah penduduk yang relatif kecil itu mudah untuk melihat pendidikan penduduk setempat selama hidupnya. Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang amat penting bagi masyarakat yang sedang membangun, di bawah tanggung jawab antara masyarakat dengan pemerintah. Pendidikan yang mereka miliki menurut sensus tahun terkhir (1982/1983) adalah sebagai berikut: 1) Penduduk yang tidak/belum bersekolah: 1127; 2) Tidak tamat SD dan tidak sekolah lagi: 632; 3) tamat SLTP dan tidak sekolah lagi: 1602; 4) duduk di SLTP: 154; 5) tamat SLTP dan tidak sekolah lagi: 155; 6) di SLTA: 62; 7) di SLTA & tidak sekolah lagi: 33; 8) di akademi: 29; 9) Sarjana Muda & tidak kuliah lagi: 10; 10) Sarjana lengkap: 3. Dengan demikian penduduk desa tersebut cukup banyak yang sudah berpendidikan, dibandingkan dengan desa lain yang ada di pegunungan.

Mata pencaharian

Mata pencaharian desa Batununggul boleh dikatakan sebagian besar sebagai petani penggarap tanah, untuk penghidupan mereka. Di samping itu ada pula sebagai nelayan untuk diperjual belikan di pasar. Pegawai megeri tidak banyak didapatkan, di samping karena jumlah kantor yang ada di sana belum mencukupi. Peincian pencaharian mereka adalah sebagai berikut: 1) 410 petani penggarap tanah; 2) 91 buruh tani; 3) 435 nelayan; 4) 1 peternak; 5) 35 tukang; 6) 1 industri; 7) 43 pedagang; 8) 1 dokter; 9) 2 bidan; 10) 5 mantri kesehatan; 11) 62 pegawai negeri; 12) 7 ABRY; 13) 9 lain-lain.

Agama

Penduduk desa Batununggul 100% menganut agama Hindu. Dengan demikian penduduk dersa tersebut merupakan penduduk asli Bali, tidak ada penduduk dari desa lain sebagai pendatang.

Pemerintahan desa

Desa Batununggul terdiri atas 14 benjar: Mentigi, Sampalan, Geria Tengah, Batununggul, Tain Basi, Kutapang Sebiah, Kutapang Gede, Kutapang Kubu, Kutapang Pangkung, Minggir, Batumelapan Kauh, Gede, Jepun dan Mayuh. Setiap banjar dipimpin seorang Kelian Banjar. Desa Batununggul terdiri atas 4 Kelihan Dinas, yang masing-masing dipimpin seorang Kelihan Dinas [?]. Kelihan Dinas Batununggul meliputi banjar Mentigi, Sampalan, Geria Tengah dan Batununggul. Kelihan Dinas Kutapang Kauh meliputi banjar Tain Besi, Kutapang Sebiah dan Kutapang Gede. Kelihan Dinas Kutapang Kangin meliputi banjar Kutapang Kubu, Kutapang Pangkung dan Minggir. Kelihan Dinas Batununggul meliputi banjar Batumelapan Kauh, Gede, Jepun dan Mayuh. Desa Batununggul dipimpin seorang kepala Desa/Perbekel. Dalam menjalankan tugas sehari-hari dibantu seorang Sekretaris/Juru tulis. Kepala Desa di samping Kelihan Dinas dalam pemilihannya dilakukan secara musyawarah dengan mengambil suara terbanyak, sesuai dengan ketentuan yang telah berlaku. Kantor Kepala Desa Batununggul terletak di Banjar Sampalan yang dilengkapi dengan ruang data dan alat-alat administrasi lainnya.

Kosa kata Desa Batununggul Sebagai Tolok Ukur

[...] Dengan melihat lokasi desa seperti ini maka akan didapatkan dialek yang berdeda-beda terutama antara desa yang terletak di daratan dengan desa yang ada di pegunungan. Komunikasi mereka belum begitu lancar. Kendaraan roda empat yang menuju ke pegunungan hanya mengangkut penduduk sampai setengah hari saja. Jalan-jalan masih banyak yang perlu diperbaiki. Komunikasi yang belum lancar merupakan salah satu faktor utama terjadinya perbedaan dialek yang mereka gunakan antara desa satu dengan desa lain. Dengan demikian dialek daratan dan dialek pegunungan sangat berbeda. Bahasa/dialek pegunungan belum kena pengaruh luar. Lain halnya dengan bahasa dari penduduk yang ada di daratan. Mereka terpengaruh bahasa lain karena pelabuhan di pinggir pantai dan terpengaruh penduduk dari pantai Kusamba Klungkung maka bahasanya berbeda. Perbedaan bahasa tersebut dapat kita lihat dari segi fonologi, morfologi, tata kalimat dan kosa katanya. Dengan demikian, bahasa mereka bervariasi.

Penulis menggunakan desa Batununggul sebagai tolok ukur karena melihat monografi seperti di atas: Batununggul adalah pusat pemerintahan & politik (berkat para utusan jaman dulu desa ini merupakan pusat pemerintahan dan pembangunan sampai sekarang), ekonomi (pusat perdagangan di pasar umum, satu-satunya pasar di Nusa Penida), sosial, (sekolah SD, SMP, SMA dan Akademia yang memungkinkan penduduk memiliki status social yang lebih tinggi daripada penduduk di pegunungan), budaya (pusat kesenian, terutama seni tari, gedung seni untuk pertunjukan; hiburan seperti film yang gedungnya dipusatkan di sini), letaknya pun strategis kalau dibandingkan dengan desa lainnya. Tolok ukur dalam membahas variasi kosa kata yang penulis maksudkan bukan sebagai bahasa yang sudah dianggap baku. Sebab Yus Badudu mengatakan bahwa standardisasi atau baku tidaknya suatu bahasa harus disertai adanya penerapan norma-norma atau aturan-aturan bahasa dan bahasa tersebut dipakai oleh pemakai bahasa, ditetapkan pola-pola yang berlaku pada bahasa itu (1982:24). Jadi kosa kata yang dipakai sebagai tolok ukur dimaksudkan sebagain kosa kata acuan untuk membandingkan dengan kosa kata di daerah lain.

Penulis menggunakan daftar pertanyaan sebanyak 300 kosa kata. Kosa kata ini ditanyakan di pusat desa seperti di banjar Batununngul, Geria Tengah dan Sampalan. kosa kata itu dibagi dalam tiga belas kelompok menurut makna sehingga informan kelihatannya tidak sulit untuk menjawab beberapa pertanyaan ini: 1) nama tubuh; 2) nama musim; 3) sistem kekerabatan; 4) nama benda; 5) kata tanya; 7) kata keadaan; 8) kata kerja; 9) nama binatang; 10) nama pakanan; 11) kata petunjuk; 12) kata ganti orang; 13) kata ingkar.

[Adithi dedicates pages 32-44 of her thesis to a word list on the basis of which she distinguishes isoglosses. These words are integrated into the glossary given on top of the dropdown menu 'language'.]

(p.45) Analisis variasi kosa kata Bahasa Bali di Nusa Penida

Variasi kosa kata

Bahasa pada penulisan ini bertitik tolak pada variasi kosa kata yang ada di Nusa Penida saja. Dari variasi tersebut akan dapat pula ditinjau prosentasenya sehingga dapat tergambarkan apakah penutur tersebut memakai bahasa, dialek, sub-dialek atau wicara.

F. de Saussure mengemukakan bahwa ketidaksesuaian yang mudah terbiasa muncul dalam kosa kata bahasa di setiap daerah pemakai bahasa adalah tidak adanya persesuaian antara unsur yang diartikan dengan unsur yang mengarikan. Kejadian semacam ini disebut signifio (yang diartikan) dan signifiant (yang mengartikan). Kedua unsur tersebut dinamakan loksom [?] (verhaar, 1977:127-128 dan band. Jendra, 1980:22). Dengan adanya kedua unsur tersebut maka akan muncul setiap kosa kata berupa berian berbeda dengan makna sama atau sebaliknya. Variasi kosa kata yang disamakan di dalam pembahasan ini adalah perbedaan-perbedaan kosa kata yang didapatkan di setiap OP yang diteliti dan perbedaan kosa kata tersebut tetap memiliki satu makna.

Dalam bab ini penulis akan membahas pula gejala pembahasan, atau penhilangan fonem dari bentuk-bentuk yang didapatkan. Gejala penambahan fonem dapat dibedakan menjadi tiga macam: penambahan fonem di depan desebut protesis, penambahan fonem di tengah disebut epentesis dan gejala penambahan fonem di akhir kata disebut paragog.

Kemudian penhilangan fonem di depan kata disebut afaresis, penghilangan fonem di tengah kata disebut sinkop, penghilangan fonem pada akhir kata disebut apokop (Baduhu, 1982:63). Kosa kata yang dianalisis dalam bab ini sebanyak 135 kata yang merupakan perwakilan dari 300 kosa kata yang ditanyakan dalam penelitian di tiga belas OP. Setiap OP yang diteliti deberikan penomoran. Penomoran OP-nya tersebut dilakukan di daerah daratan terlebih dahulu yang letaknya agak jauh (di pegunungan). Makin jauh letaknya OP maka makin besar pula penomorannya. Penomoran tersebut adalah sebagai berikut (desa): nr. 1) Batununggul; 2) Kutampi; 3) Ped; 4) Toyapakeh; 5) Klumpu; 6) Sakti; 7) Suana; 8) Lembongan; 9) Jungutbatu; 10) Batumadeg; 11) Batkandik; 12) Tanglad; 13) Sekartaji.

Selanutnya dari analisis ini timbul 13 kelompok, sesuai dengan kelompok daftar pertanyaan yang ada: I) nama tubuh manusia; II) nama musim; II) nama bilangan; IV) sistem kekerabatan; V) nama benda; VI) kata tanya; VI) kata keadaan; VII) kata kerja; IX) nama binatang; X) kata makanan; XI) kata petunjuk; XII) kata ganti orang; XIII) kata ingkar.

[GD] Each variation group (Variasi Kelompok) is subdivided into several items (butir). For instance, the variation group 'body names' (nama tubuh) contains 13 items (butir kata), and so on. These items will also be integrated into above mentioned glossary in order to enrich the list of Nusa Penidian Balinese - English words and its phonemic variations (isoglosses) on the island.

Variasi Kelompok Butir (Variation within the Item Groups)

[Pages 47-103 of Adithi's thesis give a description of all the words and varying words (items/butir) encountered during her research. These data are summarised into below table. Notes: there are quite anumber of mistakes in spelling, e.g. often, voiceless e-pepet has not been given in Adithi's original text, data get mixed up or are given twice for different items etc.. Adhiti uses phonetic spelling for words and variations. To enhance readability of below table, the phonetic sign /h/ for 'ng' is omited and 'ng' is used instead; Balinese 'e pepet' (voiceless 'schwah') and the phoneme 'e taleng' (/e/ or /e:/) have been rendered respectively as a simple 'e' and 'é'. Below table gives the words and their variations for all 13 item groups as stated above...]

Pengelompokan variasi kosa kata

[...] Tujuan pengelompokan tersebut tidak lain adalah untuk dapat melihat jumlah variasi yang ada berdasarkan data yang terkumpul di setiap OP. Dari pengelompokan variasi kosa kata diharapkan juga agar memperoleh gambaran tentang jumlah perbedaan pemakaian kosa kata, apakah kelompok penutur memakai bahasa, dialek, sub-dialek atau wicara (Band. Ardiana, 1982:95).

Cara kerja pengelompokan

Pengelompokan varias kosa kata dilakukan dengan melihat beberapa OP. Faktor geografis amat menentukan pengelompokan tersebut di samping sejarah desa, migrasi dan sebagainya, yang merupakan faktor penunjang pula. Pengambilan OP digunakan secara perwakilan, satu OP dapat mewakili OP dalam kelompok. Perwakilan dari OP: (Penutur Bahasa Bali): Kelompok I: nr. 1 Batununggul, nr. 2. Kutampi, nr. 3. Ped., nr. 4 Toyapakeh.; Kelompok II: nr. 5 Klumpu, 6 Sakti, 7 Suana; Kelompok III: 8 Lembongan, 9 Jungutbatu; Kelompok IV: Batununggul, 11 Batukandik, 12 Tanglad, 13 Sekartaji. Dari kelompok tersebut diambil satu desa sebagai wakil dari masing-masing kelompok. Desa yang ditunjuk sebagai wakil kelompok: Kelompok I: desa nr. 3 Ped; Kelompok II: desa nr. 5 Klumpu; Kelompok III: desa nr. 8 Lembongan; Kelompok IV: desa nr. 12 Tanglad. OP yang mewakili masing-masing kelompok akan diperbandingkan kosa katanya dengan OP yang dipakai sebagai tolok ukur. Desa Batununggul adalah desa no. satu yang dipakai sebagai tolok ukur, karena memiliki ciri tersendiri baik dari segi perbedaan kosa kata (linguisik) maupun latar belakang sosial budaya setempat (non-linguisitk) seperti telah diungkapkan sebelumnya. Bedasarkan cara kerja pengelompokan tersebut diharapkan dapat memperoleh gambaran tentang perbedaan kosa kata yang ada dari masing-masing kelompok. Dengan demikian variasi tersebut didasarkan pada jumlah kosa kata yang telah dihitung. Kosa kata yang diperbandingkan sebanyak 135, sesuai dengan data yang didapatkan.

adhiti dialek02

Analisis pengelompokan variasi kosa kata

Pengelompokan variasi kosa kata yang dianalisis berdasarkan perwakilan satu OP dari masing-masing kelompok, sesuai dengan yang telah diuraikan di atas. Diagram di bawah ini menggambargan jumlah variasi kosa kata dari masing-masing kelompok.

[From pages 106-111 Adhiti gives a list of words (butir), the occurrence of wich varies in each of the four groups or dialects (kelompok)].

Prosentase variasi kosa kata

Perbedaan antara kosa kata satu dengan kosa kata lain dari setiap OP dapat diketahui dengan menghitung sejumlah perbedaan kosa kata yang ada. Dari berian yang ada kita dapat menelusuri perbedaannya dengan makna yang tetap. Perbedaannya dengan berian yang ada, sesuai dengan beda kosa kata yang ada. Jumlah kosa kata tersebut diharapkan agar dapat memberikan jaminan tentang prosentase kosa kata yang ada berdasarkan OP yang dianalisis. Untuk mencari prosentase variasi kosa kata dapat dihitung dengan melihat beberapa berian yang berbeda dangen makna sinonim. Perhitungan perbedaan berian tersebut didasarkan pada ketentuan sebagai berikut: 1) Perbedaan fonetik yang terdapat dalam berian dari makna yang sama tidak diperhatikan; 2) Perbedaan dalam tingkat morfemik, khususnya dalam penambahan sufik tidak diperhatikan; 3) Kalau terdapat beberapa berian di satu OP sedangkan di OP lainnya tidak ada berian yang bersangkutan maka kedua OP itu dianggap berbeda; 4) Demikian pula jika pada satu OP ditemukan satu berian sedangkan pada OP lainnya tidak ada beriannya maka kedua OP itu dianggap berbeda; 5) OP yang diperbandingkan adalah OP yang berdekatan dalam bentuk segitiga; 6) Seandainya pada dua OP yang dibandingkan tidak terdapat beriannya maka kedua OP itu dianggap tidak berbeda; 7) OP yang berbeda atau yang diperbandingkan adalah OP yang berdekatan. Bentuk perbandingannya dalam wujud segitiga tersebut tidak boleh dipotong; 8) OP no.8 (Lembongan) dan no.9 (Jungutbatu) juga diperbandingkan walaupun letaknya di seberang lautan. Garis-garis antara OP itu akan menyeberangi lautan (Band. Bawa, 1980:308).

[Adithi here gives a list of differences of words encountered when two observation points (?) (OP) are compared.]

Hasil di atas menunjukkan jumlah beda kosa kata di setiap OP dalam wujud segitiga (sesuai dengan ketentuan di atas). Untuk mengukur perbedaan kosa kata antara OP kosa kata dengan OP lainnya maka digunakan dilektrometri. Revier mengatakan bahwa dialektrometri adalah ukuran secara statistik yang digunakan untuk melihat berapa jauh perbedaan dan persaman yang terdapat di tempat yang telah diteliti dengan membandingkan sejumlah bahan terkumpul dari tempat-tempat yang diteliti (Ayatrohaedi, 1979:31). (...). Prosentase jarak kosa kata antara OP tersebut berdasarkan rumus yang telah ditentukan (H.Guinter): jarak kosa kata = x/n x 100%, di mana 'x' adalah jumlah perbedaan kosa kata; 'n' adalah jumlah butir yang dibandingkan.

Berdasarkan rumus tersebut maka perbedaan kosa kata di atas 80% dianggap perbedaan bahasa. 51-80% dianggap perbedaan dialek, 31-50% dianggap perbedaan sub-dialek, 21-30% dianggap perbedaan wicara dan kurang dari 20% dianggap tidak ada (Ayatrohaedi, 1979:31 dan Guiter, 1973:96). Dari rumusan yang dikemukankan tertsebut di atas maka didapatkan prosentase yang berbeda di atas di setiap OP. Kosa kata yang berbeda di atas 80% tidak didapatkan. Kosa kata yang berbeda antara 51-80% didapatkan sebanyak 13 pasang; kosa kata yang bebeda antara 31-50% didapatkan sebanyak 10 pasang; kosa kata yang berbeda antara 21-30% didapatkan hanya 1 pasang, yakni OP no.3 dengan no.4 sebanyak 25%. Kemudian perbedaan kosa kata di bawah 20% ternyata tidak didapatkan.

Sesuai dengan ketentuan yang telah dirumuskan seperti di atas dapat dikatakan bahwa perbedaan kosa kata dengan prosentase 51-80% sebanyak 13 pasang dikatakan sebagai perbedaan dialek (garis tebal); 31-50% sebanyak 10 pasang = subdialek (garis putus-putus); 21-30% sebanyak 1 pasang adalah perbedaan wicara (tanda titik-titik). Jadi dapat dkatakan bahwa variasi kosa kata yang aa di Nusa Penida adalah perbedaan dialek. Kosa kata yang berbeda termasuk dalam kategori perbedaan dialek. Lihat peta PV. A II. 

adhiti dialek01

Dialek-dialek Bahasa Bali di Nusa Penida berdasarkan prosentase variasi kosa kata

Dialek sesungguhnya merupakan suatu variant dari sesuatu bahasa dan dalam praktek merupakan bahasa setempat yang berada dalam ucapan, kosa kata, morfologi atau tata bahasanya. Dialek dapat bertahan lama sehingga mempunyai sifat turun-menurun dari generasi ke generasi (Binarto, t.t:13). Dari pengertian tentang dialek tersebut, akan diuraikan pula dialek-dialek bahasa Bali yang ada di Nusa Penida berdasarkan prosentase variasi kosa kata yang didapatkan pada nomor di depan. Dialek yang ada di Nusa Penida berdasarkan variasi kosa kata tersebut akan dibagi menjadi empat kelompok I-IV. Dengan bantuan dialektrometri dapat diketahui jarak kosa kata bahasa Bali di Nusa Penida antara titik-OP seperti yang tergambar dalam peta. Untuk mengetahui jumlah dialek di satu pihak dengan pihak lainnya antara dialek satu dengan dialek lainnya (daratan dan pegunungan) maka diperlukan adanya perhitungan jarak kosa kata tambahan. Perhitungan jarak kosa kata tambahan dilakukan dengan jalan memperhitungkan jarak kosa kata antara OP yang memiliki prosentase kosa kata yang termasuk kelompok dialek daratan di satu pihak dan juga yang termasuk kelompok dialek pegunungan di pihak lain. Untuk mengetahui hal tersebut maka peru dilihat jarak kosa kata antara OP yang termasuk perbedaan dialek, subdialek dan wicara. Kalau dilihat masing-masing kelompok tersebut maka didapatkan hal sebagai berikut. Kelompok I: OP no.1 Batununggal memiliki perbedaan dialek dengan PO no.7 Suana; PO no.2 Kutampi memiliki perbedaan dialek dengan PO 5 Klumpu dan 7 Suana; PO no.3 Ped memiliki perbedaan dialek dengan PO 5 Klumpu dan 6 Sakti; PO no.4 Toyapakeh memiliki perbedaan dialek dengan PO 6 Sakti; Kelompok II: PO no.5 Klumpu memiliki perbedaan dialek dengan pengamatan no.2 Kutampi, 3 Ped dan 11 Batukandik; PO no.7 Suana memiliki perbedaan dialek dengan no.11 Batukandik, 12 Tanglad; PO no.6 Sakti memiliki perbedaan dialek dengan PO no.3 Ped,4 Toyapakeh, 7 Suana, 8 Lembongan dan 10 Batumadeg. Kelompok III; PO no.12 Tanglad memiliki perbedaan dialek dengan no.7 Suana; PO 11 Batukandik memiliki perbedaan dialek dengan PO no.5 Klumpu dan 7 Suana; PO no.10 Batumadeg memiliki perbedaan dialek dengan no.6 Sakti; Kelompok IV: PO no.8 Lembongan memiliki perbedaan dialek dengan no.6 Sakti; PO no.9 Jungutbatu memiliki perbedaan dialek dengan no.4 Toyapakeh dan 6 Sakti.

Sesuai dengan pembicaraan subjudul ini maka untuk dapat mengetahui dialek-dialek yang berbeda di setiap OP maka hanya deperinci OP mana yang mempunyai perbedaan dialek dengan OP lain. Perbedaan subdialek dan perbedaan wicara tidak dimasalahkan dan dialek-dialek tersebut dilihat dalam wujud segitiga. Dengan adanya perbedaan dialek-dialek tersebut maka dapat ditarik suatu isoglos. Dubois mengatakan bahwa isoglos menrupakan garis yang memisahkan dua linkungan dialek atau berdasarkan wujud atau sistem kedua lingkungan yang berbeda dan dinyatakan dalam peta bahasa (Ayatrohaedi, 1979:5).

Dengan menarik isoglos antara OP satu dengan OP lain yang berbeda dialek maka didapatkan empat macam dialek di Nusa Penida. Keempat dialek ini penulis namakan A-D. Jadi berdasarkan isoglos tersebut maka dapat dikatakan bahwa dialek yang ada dikelompkkan menjadi empat macam. Untuk mengetahui secara nyata apakah kelompok tersebut termasuk dialek daratan maupun dialek pegunungan maka diperlukan adanya perhitungan jarak kosa kata tambahan (...) dengan mengitung prosentase kosa kata yang termasuk OP di daratan di satu pihak dan kosa kata yang termasuk OP di pegungungan di pihak lain. Untuk dapat membuktikan kenyataan tersebut maka perlu dihitung lagi OP no.1 Batununggul dan OP no.3 Ped yang terletak di daratan. Begitu pula OP no.11 Batukandik dan 12 Tanglad yang mempunyai perbedaan dialek dengan OP 1 Batununggul dan 3 Ped yang terletak jauh di pegunungan [??] dengan OP ini. Sementara OP no.10 Batumadeg, 11 Batukandik dan 12 Tabglad dianggap sama dan juga OP no.13 Sekartaji, yang letaknya di pegunungan.

Dari hasil perhitungan perbedaan kosa kata dalam wujud segitiga maka dari keempat OP tersebut didapatkan hal sebagai berikut: 1 Batununggul dan 11 Batukandik 96 bh perbedaan; 1 Batununggul dan 12 Tanglad 90 bh perbedaan; 3 Ped dan 11 Batukandik 99 bh perbedaan; 3 Ped dan 1 Batununggul 55 bh perbedaan; 11 Batukandik dan 12 Tanglad 59 bh perbedaan.

Berdasarkan perhitungan rumus seperti ini maka antara PO no.1 dengan PO no.11 terdapat perbedaan dialek 71%. PO no.1/12 = 66%; PO no.3/11 = 73%; PO no.3/1 perbedaan subdialek bukan dialek. Dengan demikian PO no.1 Batununggul, 2 Kutampi, 3 Ped, dan 4 Toyapakeh merupakan satu kelompok dialek yang terletak pada daratan dan berbeda dangen PO no.5 Klumpu, 6 Sakti dan 7 Suana. Kelompok dialek ini berbeda pula dengan PO no.10 Batumadeg, 11 Batukandik, 12 Tanglad dan 13 Sekartaji. Satu dialek lagi [yang] dapat kita temukan adalah dialek yang ada di seberang lautan yakni pada PO no.8 Lembongan dan 9 Jungutbatu. Kenyataan ini dapat kita lihat dengan menarik isoglos tersebut sehingga terletak satu kelompok dialek lagi. Untuk mendapatkan bukti yang jelas tentu dengan memakai perhitungan dalam wujud segitiga seperti di atas.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa empat dialek yang ada di Nusa Penida: A (PO 1 Batununggul, 2 Kutampi, 3 Ped dan 4 Toyapakeh), B (PO 5 Klumpu, 6 Sakti dan 7 Suana) yang terletak di pegunungan; Dialek C (PO no. 10 Batumadeg, 11 Batukandik, 12 Tanglad dan 13 Sekartaji), dan dialek D (8 Lembongan & 9 Jungutbatu) yang terletak di seberang lautan. Adanya dialek-dialek tersebut sudah tentu disebabkan baik faktor dalam bahasa maupun luar bahasa (Lihat peta P.V. A III).

adhiti dialek03

Analisis dialek bahasa Bali di Nusa Penida dari sudut luar bahasa

Dialek-dialek bahasa Bali yang ada di Nusa Penida telah diuraikan sebelumnya. Dialek tersebut dikelompokkan dalam beberapa kelompok baik yang termasuk kelompok dialek dataran maupun dialek pegunungan. Adanya perbedaan dialek yang ada di Nusa Penida tentu diakibatkan beberapa faktor baik dari segi kebahasaan maupun non-kebahasaan. Dari aspek kebahasaan telah diuraikan di depan yakni berdasarkan variasi kosa kata yang telah dianalisis. Pada sub-bab ini penulis akan membahas faktor yang menyebabkan adanya perbedaan dialek tersebut jika ditinjau dari sudut luar.

Binarto (t.t:13) mengemukakan bahwa perbedaan bahasa disebabkan beberapa faktor, yakni: 1. faktor geografis; 2. faktor dari suku bangsa (dinamis atau stabil); 4. aktifitas ekonomi; 4. tingkat budaya dan faktor politik. Kalau kita hubungkan dengan kenyataan yang ada di Nusa Penida akan didapatkan pula perbedaan dialek yang disebabkan beberapa faktor yang dikemukakan tersebut. Adanya perbedaan dialek-dialek yang di Nusa Penida sesunggunya diakibatkan tiga faktor (berdasarkan kenyataan yang ada): 1. faktor geografis, 2. faktor migrasi; 3. faktor sejarah.

Faktor Geografi

Jika ditinjau dari sudut geografis satu kelompok dialek, yakni dialek A yang terdiri atas PO no.1 Batununggul, 2 Kutampi, 3 Ped dan 4 Toyapakeh, memiliki jarak tidak jauh antara PO 1 dengan PO lain. Prasarana lalu lintas cukup lancar, dapat mengangkut penumpang (penduduk) hanya setiap saat dari sarana angutan yang ada, tetapi komunikasi mereka masih termasuk lancar. Dengan demikian dialek mereka tidak jauh berbeda dengan dialek yang ada pada keempat PO tersebut, tetapi akan berbeda dengan dialek yang di PO lain seperti pada dialek B, C dan D.

Kalau kita lihat dialek B yang terdiri atas PO no.5 Klumpu, 6 Sakti dan 7 Suana, ketiga PO ini letaknya tidak begitu jauh hanya saja termasuk kelompok dialek yang berbeda di pegunungan. Denga demikian dialek mereka tidak begitu jauh berbeda dalam satu kelompok yang ada dan hanya didapatkan berupa perbedaan subdialek saja. Dialek ini berbeda dengan dialek A, C dan D. Perbedaan dialek ini disebabkan antara PO yang ada di tempat lain cukup jauh sehingga penduduk mereka terasa sulit untuk berkomunikasi secara lancar.

Demikian pula dialek C yang terletak di pegunungan terdiri atas PO no.10 Batumadeg, 11 Batukandik, 12 Tanglad dan 13 Sekartaji. Keempat dialek ini tidak banyak menunjukkan perbedaan, hanya didapatkan berupa perbedaan subdialek juga. Dialek C jelas banyak menunjukkan perbedaan dialek yang ada di daratan, terbukti dari adanya perbedan kosa kata yang cukup banyak. Perbedaan ini juga disebabkan oleh adanya jarak yang cukup jauh dengan daerah yang ada di daratan sehingga sulit pula untuk mengadakan komunikasi secara lancar dan akan mempengaruhi penggunaan dialek mereka.

Selanjutnya dialek D yang terletak di seberang lautan memiliki dialek khas sehingga banyak kita dapat perbedaan kosa katanya (terutama segi pengucapannya). Dialek D terdiri atas PO no.8 Lembongan dan 9 Jungutbatu. Kedua PO ini tidak banyak menunjukkan perbedaan, hanya berupa perbedaan subdialek saja. Kelompok dialek ini tentu banyak menunjukkan perbedaan dengan dialek A, B dan C. Prasarana yang dimiliki pada dialek ini tidak sama dengan dialek-dialek di daerah lain. Untuk menuju daerah ini harus menyeberangi lautan dengan perahu yang ada di pesisir pantai tersebut dan tidak dapat menyeberangkan penduduk setiap saat tetapi hanya dengan waktu tertentu. Faktor kesulitan untuk berkomunikasi ini amat menyulitkan pula bagi penduduk untuk dapat mengadakan hubungan secara terus-menerus. Hal inilah yang menyebabkan adanya perbedaan dialek mereka yang amat menonjol kalau dibandingkan dengan dialek di daerah lain.

Faktor migrasi

Faktor migrasi juga merupakan salah satu faktor terjadinya perbedaan dialek di setiap PO. Migrasi yang penulis maksudkan adalah adanya perpindahan dari penduduk yang bersangkutan. kalau kita lihat dialek A (Batununggul - Kutampi - Ped - Toyapakeh) terutama pada PO no.1 Batununggul ternyata penduduk mereka sebagian besar berasal dari Klungkung (Sidemen, 1982). Kecamatan Nusa Penida yang digunakan sebagai daerah buangan itu sesunggunya penduduk yang dibuang berasal dari Klungkung. Dengan demikian pengaruh bahasa atau dialek yang dibawa tentu dari Klungkung. Kalau kita perhatikan secara saksama dapat dikatakan bahwa dialek mereka merupakan percampuran dari dialek yang ada di Kusamba (pesisir pantai, terutama dari segi intonasi yang mereka gunakan. Lancarnya komunikasi antara PO 1 dengan PO lain pada kelompok dialek ini mengakibatkan adanya banyak persamaan dialek yang mereka gunakan. Perbedaan kosa kata ini hanya berupa perbedaan subdialek dan perbedaan wicara saja.

Selanjutnya kalau kita lihat dialek B (Sakti - Klumpu - Suana) yang terletak di pegunungan, mereka menggunakan dialek yang berbeda dengan dialek lain. Perbedaan dialek mereka juga diakibatkan asal penduduk yang berbeda dengan dialek lain. Dengan demikian dialek mereka berbeda pula dan mempengaruhi dialek dari nenek moyang penduduk setempat.

Dialek C (Batumadeg - Baukandik - Tanglad - Sekartaji) yang terletak jauh di pegunungan juga memiliki dialek yang berbeda dengan dialek lain. Menurut informasi yang diberikan nenek moyang mereka berasal dari Karangasem (Batumadeg). Penduduk setempat jelas mempengaruhi dialek dari nenek moyangnya. Kenyataan ini dapat kita lihat juga dari beberapa kosa kata yang digunakan banyak memiliki persamaan dengan asal penduduk mereka. Dengan demikian dialek mereka sebagian besar berasal dari Karangasem dan digunakan secara turun-menurun sampai sekarang.

Dialek D (Lembongan - Jungutbatu) di seberang lautan memiliki asal nenek moyang yang berbeda dengan daerah lain. Menurut informasi yang didapatkan dan dengan adanya penelitian yang telah dilakukan (Sidemen, 1982) dikatakan bahwa penduduk pada dialek kelompok ini berasal dari Gianyar (Sukawati) dan Bangli, karena nenek moyang telah dibuang pada zaman dulu berasal dari daerah tersebut. Antara kedua PO itu didapatkan hanya perbedaan subdialek saja, tetapi dengan PO pada kelompok dialek lain didapatkan perbedaan dialek. Hal ini juga disebabkan asal penduduk mereka berbeda-beda.

Faktor sejarah

Kalau kita lihat dari segi sejarahnya dikatakan bahwa Nusa Penida merupakan daerah pembuangan pada zaman kerajaan Gelgel dan disepakati sebagian daerah pembungan oleh tujuh kerajaan di Bali: 1. Klungkung; 2. Karangasem; 3. Buleleng; 4. Bangli; 5. Payangan; 6. Gianyar; 7. Mengwi (Sidemen, 1980:90 dan Bagus dkk., 1981:9).

Nenek moyang penduduk Nusa Penida yang dibuang apabila mengadakan pemberontakan, hutang (denda) dan melakukan ilmu hitam (kejahatan). Nusa Penida digunakan sebagai dearah pembuangan karena tempatnya dianggap cukup jauh, berbahaya dan sukar diketahui bagi keluarga orang yang dibuang. Di samping itu pula daerah tersebut dianggap betul-betul memberikan hukuman yang diharapkan oleh pengadilan dan akan dapat membuka perladangan sehingga dapat memperbanyak hasil bumi bagi penduduk (Bagus, 1981:10). Dikatakan pula penduduk setempat bahwa makin jauh jarak pembuangan, makin sulit untuk berkomunikasi bagi orang yang dibuang (informasi).

Dengan demikian penduduk Nusa Penida pada umumnya terdiri atas orang-orang pendatang yang membawa dialeknya masing-masing pada setiap OP. Penduduk tersebut pada umumnya berasal dari Klungkung (Gelgel, Akah, Tusan, Tojan dan Kusamba), Gianyar (Sukawati, Keramas, Tegal, Medahan dan Pejeng) dan Bangli. Kenyataan ini kita lihat dengan adanya orang-orang yang dibuang. Penduduk yang dibuang dari Klungkung ke desa Ped dan Batununggul adalah: 1. Dadong Luwih; 2. Nini Taman; 3. Nang Gejor; 4. Ni Lengeh; 5. Ni Sekar Tulung; 6. Men Atub; 7. Made Lagas dan 8. Jero Wayan Bali. Penduduk yang dibyang dari Gianyar adalah: 1. I Gede Pasek; 2. I Ketut Sekar; 3. I Ketut Pasek; 4. I Wayan Ancag; 5. I Made Rebut; 6. I Made Regah; 7. I Gelang; 8. I Cubung; 9. Cok. Putu Binter; 10. Cok. Rai Bangul dan istri; 11. A.A. Sangsi bersama 20 pengikutnya yang dibuang ke Lembongan (Sidemen, 1980: 101-104). Kemudian penduduk yang dibuang dari Bangli adalah Ida Pendanda Gede Punia yang dibuang ke Jungutbatu bersama seorang istri dan empat orang anak (Sidemen, 1980:108). Dari kenyataan sejarah tersebut dapat dikatakan bahwa faktor sejarah juga merupakan salah satu faktor yang menimbulkan adanya perbedaan dialek-dialek yang ada. Latar belakang sosial budaya dari masing-masing OP tersebut tentu berbeda sehingga memiliki bahasa atau dialek yang berbeda. Dengan demikian struktur dialek-dialek yang ada timbul dari sejarah daerah itu sendiri (Goosens, 1979:77).

Dapat disimpulkan bahwa dialek-dialek yang ada di Kecamatan Nusa Penida baik dialek A, B, C dan D merupakan dialek yang berasal dari beberapa daerah dan dibawa oleh nenek moyang mereka pada zaman dulu. Dialek-dialek tersebut digunakan secara turun-menurun sampai sekarang dan mengakibatkan adanya variasi kosa kata dalam kategori perbedaan dialek. Jadi dengan mengetahui sejarah penduduk setempat akan didapatakan sekelumit gambaran tentang asal mula bahasa atau dialek mereka.

Kesimpulan

Variasi kosa kata bahasa Bali di Nusa Penida dapat dibagi menjadi 13 Kelompok: Variasi Kelompok Butir (VKB) = 13 Lexis Variation Groups, sesuai dengan daftar pertanyaan. Variasi tersebut adalah sebagai berikut: VKB I) nama tubuh manusia; II) nama musim; II) nama bilangan; IV) sistem kekerabatan; V) nama benda; VI) kata tanya; VI) kata keadaan; VII) kata kerja; IX) nama binatang; X) kata makanan; XI) kata petunjuk; XII) kata ganti orang; XIII) kata ingkar.

Pengelompokan variasi kosa kata bahasa Bali di Nusa Penida dapat dibagi menjadi empat kelompok. Setiap kelompok diwakili oleh satu OP. Kelompok I diwakili oleh OP no.3 (Ped); Kelompok II diwakili oleh OP no.5 (Klumpu); Kelompok III diwakili oleh OP no.8 (Lembongan); Kelompok IV diwakili oleh OP no.12 (Tanglad). Dari hasil pengelompokan ini dapat dihitung jumlah perbedaan kosa kata dari masing-masing kelompok baik kelompok I, II, III, dan IV.

Prosentase variasi kosa kata bahasa Bali di Nusa Penida berdasarkan rumus yang dikemukakan oleh H.Guiter dan beberapa ketentuan yang ada didapatkan hasil sebagai berikut: a. perbedaan kosa kata di atas 80% tidak didapatkan; b. perbedaan kosa kata antara 51-80%: 13 pasang:

7 Suana / 11 Batukandik = 73%

1 Batununggul / 7 Suana = 70%

2 Kutampi / 7 Suana = 73%

4 Toyapakeh / 9 Jungutbatu = 70%

6 Sakti /10 Batumadeg = 69%

9. Jungutbatu / 6 Sakti = 68%

11 Batukandik / 5 Klumpu = 67%

7 Suana / 12 Tanglad = 66%

4 Toyapakeh / 6 Sakti = 64%

2 Kutampi / 5 Klumpu = 62%

3 Ped / 5 Klumpu = 62%

6 Sakti / 8 Lembongan = 60% 3 Ped / 6 Sakti = 59%;

c. perbedaan kosa kata antara 31-50%: 9 pasang [GD: Adithi mentions 10 pairs]:

5 Klumpu / 7 Suana = 49%

10 Batumadeg /5 Klumpu = 48%

6 Sakti / 5 Klumpu = 45%

10 Batumadeg / 11 Batukandik = 44%

11 Batukandik / 12 Tanglad = 44%

2 Kutampi / 3 Ped = 43%

1 Batununggul / 2 Kutampi = 36%

11 Batukandik / 13 Sekartaji = 36%

9 Lembongan / 8 Jungutbatu = 30%

d. perbedaan kosa kata antara 21-30%: 1 pasang: 3 Ped / 4 Toyapakeh = 25%;

e. perbedaan kosa kata di bawah 20% tidak didapatkan.

[Adithi does not mention Batumadeg in her analysis. This is, according to author GD, an oversight on the part of Adithi as she assigns both numbers 1 and 10 to Batununggul. Given the conclusion according to which there are four dialects in Nusa Penida (see image by R.Giambelli 1995, redesigned by author GD), it is presumed that Adithi would have prefered to assign numer 10 to Batumadeg instead of Batununggul.]

adithi dialek04

[A tentative rearrangement by geographic region of Adhiti's data regarding the isoglosses that divide and unite the various dialect regions within Nusa Penida, offers author GD the following overview. In below table, the basis of the division of Nusa Penida into four specific dialects becomes clear if the division line based on the (phonemic) differences of lexes is supposedly 50%. There seems to be, however, one exception to this presupposed rule of a distinctive isoglos between dialects B and C of 50%, as the following compared couple of 5 Klumpu / 10 Batumadeg gives lexes differences of 48%.]

Integrative isoglosses dialect A

1 Batununggul / 2 Kutampi = 36%

3 Ped / 2 Kutampi = 43%

3 Ped / 4 Toyapakeh = 25%

Integrative isoglosses dialect B

5 Klumpu/ 6 Sakti = 45%

5 Klumpu / 7 Suana = 49%

Integrative isoglosses dialect C

11 Batukandik / 12 Tanglad = 44%

11 Batukandik / 10 Batumadeg = 44%

11 Batukandik / 13 Sekartaji = 36%

Integrative isoglosses dialect Dialect D

9 Lembongan / 8 Jungutbatu = 30%

Distinctive isoglosses dialect A versus B

2 Kutampi / 7 Suana = 73%

1 Batununggul / 7 Suana = 70%

4 Toyapakeh / 6 Sakti = 64%

3 Ped / 5 Klumpu = 62%

2 Kutampi / 5 Klumpu = 62%

3 Ped / 6 Sakti = 59%

Distinctive isoglosses dialect A versus D

4 Toyapakeh / 9 Jungutbatu = 70%

6 Sakti / 8 Lembongan = 60%

Distinctive isoglosses dialect B versus C

11 Suana / 7 Batukandik = 73% 6 Sakti / 10 Batumadeg = 69% 6 Sakti / 8 Jungutbatu = 68% 11 Batukandik / 5 Klumpu = 67% 7 Suana / 12 Tanglad = 66% 5 Klumpu / 10 Batumadeg = 48% (exception?)

Dialek-dialek bahasa Bali di Nusa Penida dapat diketahui berdasarkan prosentase yang didapatkan pada no.3) di atas. Dengan menarik isoglos diperoleh empat dialek yang penulis namakan: Dialek A (1. Batununggul 2. Kutampi; 3. Ped; 4. Toyapakeh), Dialek B (5. Klumpu; 6. Sakti; 7. Suana), Dialek C (10. Batumadeg, 11. Batukandik; 12. Tanglad; 13. Sekartaji) and Dialek D (8. Lembongan; 9. Jungutbatu). Faktor yang menyebabkan adanya perbedaan dialek yang ada di Nusa Penida, jika ditinjau dari sudut luar bahasa ada tiga macam sesuai dengan kata yang ada di lapangan.

Faktor ini adalah geografis, migrasi dan sejarah. Faktor geografi merupakan faktor utama adanya perbedaan dialek di satu tempat dengen dialek yang lain. Dengan adanya jarak yang terlalu jauh antara OP satu dengan OP lain maka akan tidak memungkinkan bagi penduduk setempat untuk berkomunikasi secara lancar. Dengan demikian dialek mereka satu sama lain akan berbeda. Faktor migrasi menentukan pula adanya perbedaan dialek. Penduduk yang berasal dari daerah lain akan membawa pengaruh dialeknya sendiri dan titurunkan dari nenek moyangnya yang digunakan secara turun-menurun sampai sekarang. Kemudian kalau dilihat pada OP lain yang asal penduduknya berbeda, maka akan menimbulkan dialek yang berbeda pula kalau dibandingkan dengan dialek OP lainnya. Faktor sejarah merupakan slah satu faktor yang tidak bisa dilepaskan pula. Dengan mengetahui sejarah desa penduduk setempat kita dapat mengetahui latar belakang social budayanya. Jadi akan kita jumpai dari mana pengaruh dialek mereka bawa dan asal nenek moyang pada zaman dulu yang dapat menurunkan dialek sampai sekarang.

Bibliography (Adhiti)

  • Ayatrohaedi. 1978. "Bahasa Sunda di Cirebon: Kajian Loka Bahasa". Jakarta: Disertasi untunk Universitas Indonesia.
  • Ayatrohaedi. 1979. "Ilmu Sabdapraja: Sebuah Ikhtisar". Tugu-Bogor" Pengantaran Dialektologi Tahap I Juli-Agustus yang dilaksanakan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Ayatrohaedi. 1979. Dialektologi: Sebuah Pengantar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Ardiana, I Ketut. 1982. "Bahasa Bali di Kabupaten Badung: Sebuah Bahasa Geografi Dialek". Tesis sarjana untuk Fakultas Sastra Universitas Udayana.
  • Bintarto, R. 1976. "Geografi Bahasa". Tugu-Bogor: Penataran Dialektologi Tahap I Juli-Agustus.
  • Bawa, I Wayan. 1976/1977. "Dialek Bangli". Laporan Penelitian untuk Proyek Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Bawa, I Wayan. 1979/1980. "Bahasa Bali di Daerah Propinsi Bali: Sebuah Pem[b]erian Geografi Dialek". Denpasar: Laporan untuk Proyek Penelitian ILDEP melalui Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Bawa, I Wayan. 1983. "Bahasa Bali di Daerah Propinsi Bali: Sebuah Analisis Geografi Dialek". Disertasi untuk Universitas Indonesia.
  • Bawa, I Wayan dan I Wayan Jendra, 1981. "Struktur Bahasa Bali". Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Bagus, I Gusti Ngurah. 1971. Catatan Singkat Mengenai Dialek Sembiaran dan S[e]pang di Bali: Singaraja: Lembaga Bahasa Nasional Cabang I
  • Bagus, I Gusti Ngurah. 1975. Masalah Pembakuan Bahasa Bali. Singaraja: Balai Penelitian Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Bagus, I Gusti Ngurah. 1979. "Perubahan Pemakaian Bentuk Hormat dalam Masyarakat Bali: Sebuah Pendekatan Etnografi Berbahasa. Disertasi untuk Universitas Indonesia.
  • Bagus, I Gusti Ngurah dkk. 1981. "Latar Belakang Sosial Budaya Bahasa Bali Nusa Penida". Denpasar: Jurusan Bahasa dan Sastra Daerah Bali Fakultas Sastra Universitas Udayana.
  • Badudu, J.S. 1982. Pelik-Pelik Bahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Prima.
  • Chambers, J.K. dan Peter Trudgill. 1980. Dialectology. Cambridge: Textbooks in Linguistics.
  • Denes, I Made dan I Wayan Jendra. 1973. Dialek Bugbug Sebuah Laporan Singkat dan Sementara. Singaraja: Lembaga Bahasa Nasional Cabang I Singaraja.
  • Dhanawaty, Ni Made. 1981. Bahasa Bali di Kabupaten Tabanan: "Sebuah Telaah Geografi Dialek". Tesis sarjana untuk Fakultas Sastra Universitas Udayana.
  • Guiter, Henri. 1973. "Atlas et frontiere linguistique" Or. F: 61-109.
  • Grinjs, C.D. 1976. "Beberapa Segi Dialektologi Umum". Tugu-Bogor: Penataran Tahapan I Juli-Agustus.
  • Goosens, J. 1979. Inleiding tot de Nederlandse Dialectologie. Wolters-Noordhoff Groningen.
  • Halim, Amran. 1976. "Masalah Kedudukan, Fungsi dan Politik Bahasa Nasional". Denpasar: Diperbanyak khusus untruk Fakultas Sastra Universitas Udayana.
  • Hadi, Sutrisno, 1981. Metodologi Research 1. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.
  • Ivic, Pav. 1962. "On the Structure of Dialectal Differentiation". Woord 18,33-53.
  • Jendra, I Wayan dkk. 1976. "Sebuah Deskripsi Tentang Latar Belakang Sosial Budaya Bahasa Bali. Jakarta: Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Bali. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Jendra, I Wayan dkk. 1977/1978. "Morfologi Bahasa Bali". Denpasar: Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Bali Pusat Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Jendra, I Wayan. 1980. "Fonologi Bahasa Bali: Sebuah Ikhtisar". Denpasar: Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Kuna Fakultas Sastra Universitas Udayana.
  • Jendra, I Wayan. 1980. "Sosiolinguisitk: Pengantar Ringkas". Denpasar: Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Kuna Fakultas Sastra Universitas Udayana
  • Jendra, I Wayan. 1980. "Kedwibahasaan dan Perencanaan Bahasa". Denpasar: Lembaga Penelitian Dokumentasi dan Publikasi Fakultas Sastra Universitas Udayana.
  • Jendra, I Wayan. 1981. "Korespondensi Bunyi Bahasa Bali". Denpasar: Penelitian Dokumentasi dan Publikasi Fakultas Sastra Universitas Udayana.
  • Kersten, J.SVD. 1970. Tata Bahasa Bali. Ende-Flores: Nusa Indah.
  • Kantor Kepala Desa Batununggul. 1976. "Monografi Desa Batununggul Kecamatan Nusa Penida Klungkung".
  • Kantor Bupati Kabupaten Klungkung. 1982/1983. "Potensi Desa Kecamatan Nusa Penida Klungkung".
  • Kantor Statistik Kecamatan Nusa Penida Klungkung. 1983. "Laporan Data Statistik".
  • Madia, I Made. 1982. "Variasi Sistem Fonologi Bahasa Bali di Nusa Penida: Sebuah Kajian Dialektologi Struktural". Tesis sarjana untuk Fakultas Sastra Universitas Udayana.
  • Panitia Penyusun kamus Bali-Indonesia. 1978. Kamus Bahasa Bali-Indonesia. Denpasar: Dinas Pengajaran Propinsi Daerah Tingkat I Bali.
  • Riana, I Ketut. 1981. Bahasa Bali di Kabupaten Buleleng: Sebuah Analisis Geografi Dialek". Skripsi sarjana untuk Fakultas Sastra Universitas Udayana.
  • Sukarta, I Nengah. 1980. "Bahasa Bali di Kabupaten Karangasem ditinjau dari Geografi Dialek". Skripsi sarjana untuk Fakultas Sastra Universitas Udayana.
  • Sidemen, Ida Bagus, 1980. "Masalah Pembuangan dalam Abad 19 di Nusa Penida: Sebuah Studi Pendahuluan. Skripsi sarjana untuk Fakultas Sastra Universitas Udayana.
  • Trudgill, Peter. 1977. "Sociolinguistik: Sebuah Pengantar". Terjemahan Yohannes Mangoting. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendididikan dan Kebudayaan.
  • Tim Peneliti Fakultas Sastra Universitas Udayana. 1977/1978. "Sintaksis Bahasa Bali". Denpasar: Proyek Penelitian Bahasa dan sastra Indonesia dan Daerah bali Departemen Pendidikan dan Kebuayaan.
  • Tim Peneliti Fakultas Sastra Universitas Udayana. 1978/79. "Sistem Morfologi Kata Kerja Bahasa Bali. Denpasar: Proyek Penlitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Bali Departemen Pendidikan dan Kebuayaan.
  • Tim Peneliti Fakultas Sastra Universitas Udayana. 1978/1979. "Unda Usuk Bahasa Bali". Jakarta: Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Propinsi Bali. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
  • Tim Peneliti Fakultas Sastra Universitas Udayana. 1979/1980. "Kedudukan dan Fungsi Bahasa Bali". Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
  • Verhaar, J.W.M. 1977. Pengantar Linguisitk (I). Gajah Mada University Press.

Source

  • Adhiti, Ida Ayu Iran – Variasi kosa kata bahasa Bali di Nusa Penida: sebuah kajian geografi dialek; Singaraja, Balai Penelitian Bahasa , Pusat Pembinaan dan; Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24