Dialect accommodation (Dhanawaty, 2004)

The article 'Theory on dialect accommodation' (Teori Akomodasi dalam Penelitian Dialektologi) by Ni Made Dhanawaty (Udayana University, 2004) dicusses the linguistic accommodation between transmigrant languages, amongst which Nusa Penida dialect speakers and their fellow-cohabitants in Banjar Lampung, Sumatra. The dialect of Nusa Penida is classified as an archaic and rather coarse Bali Aga dialect, and as such it is found to adapt rapidly to other dialects and languages, amongst others (Tabanan) Balinese and Javanese by fellow transmigrants. English translation forthcoming.

dhanawaty2004-akomodasi-coverAbstract

The present paper puts forward a case for accommodation theory to explain how and why language change in multilingual areas occurs. It draws on the findings of a dialectology study of the use of Balinese in the Lampung Tengah region. In particular, it is suggested that accommodation theory can play a clarifying role when difficulties arise in deciding whether a language variety should be defined as a sub-dialect, a dialect, or a language.

Pengantar

Dialektologi adalah salah satu cabang linguistik yang berobjekkan variasi bahasa. Penelitian dialektologi selama ini umumnya lebih mencurahkan perhatian pada variasi bahasa itu sendiri, seperti upaya pendeskripsian variasi, perbandingan variasi, dan pengelompokan variasi. Yang agak diabaikan dalam penelitian dialektologi adalah mengapa dan bagaimana variasi itu terjadi. Dengan kata lain penelitian dialektologi lebih memberikan perhatian pada keadaan daripada proses. Untuk memperoleh hasil penelitian yang lebih komprehensif, dialektologi hendaknya memberikan perhatian yang memadai tidak saja pada hal-hal yang berkaitan dengan variasi yang ada - yang umumnya telah dibahas secara mendalam - tetapi juga pada hal-hal yang menjadikan variasi itu ada. Untuk memperdalam pembahasan terhadap mengapa dan bagaimana variasi itu muncul nampaknya diperlukan adanya dukungan teori yang relevan dengan permasalahan ini.

Berangkat dari keinginan untuk melakukan penelitian dialektologi secara lebih komprehensif, yang mencakup tidak saja hal-hal yang berkaitan dengan variasi yang ada, tetapi juga hal-hal yang menjadikan variasi itu ada, maka dalam penelitian variasi lektal bahasa Bali di Lampung Tengah (BBLT) dicoba diterapkan teori akomodasi.

1 Teori akomodasi dan dialektologi

Setiap orang memiliki kecenderungan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Lingkungan di sini dapat berupa lingkungan alam, lingkungan ruang, lingkungan waktu, lingkungan sosial, dan berbagai lingkungan lainnya. Kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial telah menjadikan manusia tidak (p.2) saja sebagai seorang individu, tetapi juga mampu 'menyandang gelar' sebagai makhluk sosial atau menjadi bagian dari komunitas sosial. Di tengah-tengah kehidupan sosial mereka berinteraksi, bekerja sama, dan berkomunikasi satu sama lain.

Dalam komunikasi dua arah, khususnya komunikasi bersemuka, pewicara umumnya berusaha menyesuaikan diri ke arah mitra wicara, baik secara verbal maupun nonverbal. Penyesuaian diri secara verbal dilakukan oleh pewicara dengan jalan memodifikasi tuturan sehingga menjadi lebih mirip dengan tuturan yang dipakai oleh mitra wicara. Akan tetapi, dalam peristiwa wicara tertentu dapat juga terjadi proses yang sebaliknya yaitu pewicara memodifikasi tuturan sehingga menjadi semakin tidak mirip dengan tuturan mitra wicaranya. Kedua proses di atas masing-masing disebut dengan konvergensi dan divergensi linguistik (Giles, via Trudgill 1986).

Terjadinya pemodifikasian tutur melalui peristiwa konvergensi dan divergensi menyebabkan terjadinya perubahan dalam bahasa, namun perubahan yang dihasilkannya berbeda. Perbedaan perubahan juga terjadi karena tidak semua pelaku konvergensi dan divergensi memodifikasi fitur linguistik yang sama pada derajat yang sama. Di samping itu juga tidak semua penutur berkonvergensi atau berdivergensi pada situasi tutur tertentu. Perubahan yang berbeda inilah yang mengakibatkan terjadinya variasi bahasa (bandingkan dengan Francis 1983: 15) Dari sini dapat dilihat bahwa konvergensi dan divergensi linguistik merupakan sebagian akar penyebab munculnya variasi bahasa.

Lalu muncul pertanyaan mengapa terjadi konvergensi dan divergensi linguistik? Untuk menjawab persoalan tersebut, Giles dan rekan kerjanya mengembangkan sebuah teori yang disebut dengan teori akomodasi. Teori ini memusatkan perhatian pada tuturan dan berusaha menjelaskan mengapa pewicara cenderung memodifikasi tuturannya di tengah-tengah kehadiran orang lain (Trudgill 1986). Menurut Crystal (1997: 4), akomodasi adalah suatu teori dalam sosiolinguistik yang bertujuan untuk menjelaskan mengapa orang-orang memodifikasi gaya tuturannya menjadi lebih sama atau kurang sama dengan tuturan mitra wicaranya. Senada dengan hal ini, Asher dan Simpson (1994) mengemukakan bahwa teori akomodasi komunikasi adalah kerangka kerja yang dirancang untuk meneliti fenomena dan proses akomodatif yang pada tahun-tahun awalnya dikaitkan dengan hal-hal yang mendahului dan yang menjadi konsekuensi perubahan bahasa seseorang ke arah atau menjauh dari varietas orang lainnya, yang masing-masing disebut dengan konvergensi dan divergensi tutur.

Di sisi lain Matthews (1997: 5) mengemukakan bahwa akomodasi adalah cabang sosiolinguistik yang menelaah penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan pewicara dalam mengadaptasi atau mengakomodasi tuturannya dalam merespon mitra wicara, yang, misalnya, adalah penutur dialek lain. Pemakaian kata mengadaptasi di sini mencerminkan bahwa Matthews menyejajarkan akomodasi linguistis dengan konvergensi linguistis. Hal senada juga dikemukakan oleh Asher dan Simpson (1994), yang menyatakan bahwa akomodasi adalah penyesuaian tuturan (p.3) seseorang atau perilaku komunikatif bersemuka lainnya ke arah perilaku orang-orang dengan siapa dia berinteraksi atau ke arah mitra wicara.

Sebagai penggagas, Giles (1973) memang merancang teori akomodasi ini untuk menyingkap masalah konvergensi dan divergensi linguistis, namun di dalam pembahasannya ia lebih berfokus pada konvergensi linguistis. Hal ini mungkin dikarenakan kecenderungan berkonvergensi dalam komunikasi lebih tinggi daripada kecenderungan berdivergensi. Trudgill (1986) memakai kata akomodasi dan berakomodasi dengan makna yang sejajar dengan kata konvergensi dan berkonvergensi.

Tulisan ini sepakat bahwa teori akomodasi dapat dipakai untuk mengkaji baik fenomena konvergensi maupun divergensi linguistis. Akan tetapi, senada dengan Trudgill (1986) kata akomodasi dan berakomodasi dalam analisis dipakai juga sebagai padanan kata konvergensi dan berkonvergensi. Hal ini didasari oleh pertimbangan bahwa makna dasar kata akomodasi adalah penyesuaian atau pengurangan perbedaan. Para ilmuwan sosial menganggap akomodasi sebagai salah satu proses sosial yang bersifat asosiatif, sementara divergensi merupakan proses sosial bersifat disosiatif (Soekanto 1993: 82-83).

Teori akomodasi amat bermanfaat untuk membahas persoalan-persoalan yang berkaitan dengan mengapa penutur cenderung memodifikasi tuturannya dengan kehadiran orang lain, bagaimana cara mereka berakomodasi, dan sejauh mana mereka berakomodasi. Dalam akomodasi jangka pendek (short-term accommo-dation) permasalahan yang dikaji mencakup: siapa berakomodasi ke arah siapa, mengapa pewicara berakomodasi, sejauh mana mereka berakomodasi, dan bagai-mana ini dirasakan oleh orang lain. Dalam akomodasi jangka panjang (long-term accomodation) fokus permasalahan yang digarap adalah bagaimana pewicara berakomodasi, sejauh mana mereka berakomodasi, mengapa situasi dan pewicara tertentu menghasilkan lebih banyak tipe akomodasi daripada situasi dan pewicara lainnya (Trudgill 1986: 3). Jawaban atas permasalahan itu merupakan gambaran tentang mengapa dan bagaimana terjadinya variasi bahasa.

Dari uraian tentang batasan teori akomodasi dan cakupan permasalahan yang dapat dipecahkan oleh teori ini, dapat dilihat bahwa teori akomodasi dapat menunjang berbagai penelitian kebahasaan, seperti penelitian perubahan bahasa, pemerolehan bahasa, kontak bahasa atau kontak lek, dan penelitian lain yang berkaitan dengan variasi bahasa [bandingkan dengan Trudgill (1986) dan Hamers et al (1989)]. Holzknecht (1994) menggunakan teori akomodasi untuk menunjang kajian linguistik historisnya tentang mekanisme perubahan bahasa di Labu.

Penelitian dialektologi, sebagai salah satu studi linguistik yang berobjekkan variasi bahasa, sudah tentu memiliki kaitan yang erat dengan permasalahan konvergensi dan divergensi linguistik karena dari situlah objek yang digelutinya muncul. Itu berarti bahwa teori akomodasi sangat relevan bagi kajian dialektologi. Untuk melihat sejauh mana teori akomodasi berperan dalam penelitian dialektologi, maka dalam penelitian variasi lektal bahasa Bali di Lampung Tengah (BBLT) dicoba diterapkan teori akomodasi.

2 Teori akomodasi dalam penelitian dialektologi di Lampung Tengah

(p.4) Lampung Tengah merupakan daerah yang multietnis, multikultural, multi-lingual, dan multilektal. Berada di tengah-tengah masyarakat yang heterogen telah memacu penutur bahasa Bali di Lampung Tengah (BBTT) untuk menguasai bahasa-bahasa atau lek-lek lain. Kemampuan menguasai bahasa dan lek lain (entah secara total atau parsial) memudahkan mereka menyesuaikan diri secara verbal di tengah-tengah kehidupan yang heterogen. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam bahasa Bali di Lampung Tengah telah terjadi akomodasi antarbahasa maupun antarlek. Karena itu, dalam kajian dialektologis terhadap BBLT, dilibatkan teori akomodasi. Permasalahan akomodasi yang dibahas dalam penelitian tersebut meliputi (1) pihak mana berakomodasi ke arah pihak mana (2) tipe-tipe akomodasi, dan (3) faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya akomodasi. Hasil penelitiannya secara ringkas dapat dipaparkan berikut ini.

2.1 Pelaku dan arah akomodasi

Penelitian variasi lektal bahasa Bali di Lampung Tengah mencakup tiga variabel, yaitu variabel lek, variabel usia, dan variabel daerah. Karena itu penguraian atas pelaku dan arah akomodasi dilihat dari ketiga sudut pandang ini.

Kecenderungan berakomodasi dalam BBLT terdapat pada semua lek, semua kelompok usia, dan semua titik pengamatan (TP) yang derajatnya berbeda-beda. Perbedaan derajat akomodasi ini dilihat dengan mengkuan-tifikasi fitur-fitur yang dimodifikasi dalam akomodasi. Sebelum dilakukan kuantifikasi terlebih dahulu dilakukan pemilahan atas fltur yang dianggap markah dan fitur yang dianggap indikator. Penentuan fitur markah dilihat dari dua hal, yaitu stigmatisasi dan jarak fonetis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fitur markah paling banyak ditemukan dalam lek Nusa Penida, menyusul kemudian lek Tabanan, dan yang terakhir adalah lek Karangasem.

Dilihat dari variabel lek, kecenderungan berakomodasi paling tinggi terdapat pada lek Nusa Penida, menyusul kemudian lek Tabanan, sementara lek Karangasem boleh dikatakan hampir tidak berakomodasi ke arah lek lain. Hal ini berkaitan dengan jumlah markah yang terdapat di antara lek-lek tersebut karena markah lebih menjadi sasaran modifikasi daripada variabel yang merupakan indikator. Lek Nusa Penida tergolong lek Bali Aga yang banyak memelihara bentuk-bentuk arkhaik dan bentuk-bentuk yang tergolong bahasa kasar. Di samping diidentikkan dengan keaslian, kearkhaikan dalam bahasa umumnya diidentikkan dengan keterbelakangan atau ketertinggalan, sedangkan kekasaran diidentikkan dengan ketaksantunan. Setiap orang cenderung berusaha menghapus atau membebaskan diri dari kesan ketertinggalan dan ketaksantunan, terutama jika berada di luar kelompoknya. Karena itu, tidak mengherankan jika yang paling banyak berakomodasi adalah penutur lek Nusa Penida. Segi kesantunan Lek Tabanan dianggap lebih tinggi daripada lek Nusa Penida, tetapi masih berada di (p.5) Linguistik Indonesia, Tahun ke 22, No. 1, Februari 2004 bawah lek Karangasem. Di samping paling tinggi derajat kesantunannya, Lek Karangasem merupakan lek yang paling tinggi derajat keformalannya dan paling dekat dengan bahasa Bali ragam baku.

Dilihat dari variabel usia, yang paling banyak berakomodasi adalah penutur kelompok usia muda, menyusul kemudian kelompok usia dewasa, dan yang paling sedikit berakomodasi adalah kelompok usia tua. Generasi muda merupakan generasi yang cenderung dinamik, maju, moderen, berusaha mengikuti mode, berusaha beradaptasi dengan teman sebayanya, termasuk dapat beradaptasi dalam pemakaian bahasa. Karena itulah dari segi usia, kelompok usia muda lebih banyak berakomodasi dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Mereka tidak ingin 'dicap' sebagai orang yang kuno dan ketinggalan zaman. Penutur lek Nusa Penida kelompok usia dewasa melakukan akomodasi pada derajat yang sedang karena di satu sisi mereka berusaha menghilangkan kesan ketertinggalan atau ketaksantunan tetapi di sisi lain mereka berusaha menunjukkan loyalitas terhadap leknya sendiri. Mereka umumnya menguasai varietas grupnya dan juga menguasai varietas grup lainnya. Kebi/kemultivariaetasan ini menyebabkan mereka dapat berakomodasi ke generasi pendahulunya, ke rekan sebayanya, dan ke generasi berikutnya. Kelompok usia tua kurang melakukan akomodasi, terutama akomodasi ke arah bahasa lain, karena mobilitas mereka yang rendah. Oleh sebab itu frekuensi komunikasi dengan penutur varietas lain relatif rendah dan penguasaan terhadap varietas lain juga relatif lebih rendah. Tabel 1 menunjukkan contoh perbandingan akomodasi berdasarkan usia dalam lek Nusa Penida. Nampak bahwa pada kelompok usia tua, perubahan baru dimulai, pada kelompok usia dewasa perubahan berada pada keadaan transisi, dan pada kelompok usia muda perubahan sudah lengkap.

Dilihat dari variabel titik pengamatan, akomodasi paling banyak terjadi di desa Rama Dewa. Desa ini merupakan desa transisi; lokasinya sangat dekat dengan pasar dan ibu kota kecamatan, dan berdekatan dengan desa-desa berbahasa Jawa. Desa Rama Dewa didominasi oleh penutur bahasa Bali lek Tabanan dan sebagian kecil penutur lek Nusa Penida. Kecenderungan berakomodasi yang tinggi terdapat di kalangan penutur lek Nusa Penida. Mereka berakomodasi ke arah lek Tabanan dan hampir tidak terjadi hal yang sebaliknya. Derajat akomodasi yang dilakukan oleh penutur lek Nusa Penida di desa ini sangat tinggi; dan pada penutur kelompok usia muda akomodasi bahkan telah mencapai tahap beralihnya penutur ke arah lek Tabanan dengan atau tanpa kehadiran penutur lek Tabanan. Hal ini menunjukkan bahwa akomodasi telah bersifat permanen, yaitu, terdesaknya lek Nusa Penida oleh lek Tabanan.

Di desa ini derajat akomodasi antarbahasa juga paling tinggi. Baik penutur lek Tabanan maupun penutur lek Nusa Penida banyak berakomodasi ke arah bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Akomodasi ke arah bahasa Jawa tidak terbatas pada pemodifikasian fitur-fitur tertentu saja, tetapi bahkan ditemukan juga akomodasi yang sudah sampai pada tahap puncak, yakni pewicara beralih ke bahasa Jawa atau bahasa Indonesia. Hal ini terjadi karena tingkat pendidikan orang Bali di desa ini lebih maju daripada di daerah lainnya. Pendidikan yang tinggi terkait dengan (p.6) mobilitas yang tinggi dan pergaulan yang lebih luas sehingga frekuensi interaksi dengan penutur bahasa lain pun lebih tinggi. Dalam pergaulan antaretnis, selain bahasa Indonesia pilihan juga jatuh pada bahasa Jawa, karena bahasa Jawa merupakan sarana komunikasi umum di Lampung Tengah. Di desa lainnya (desa Rama Nirwana, Swastika Buana, Wirata Agung dan Restu Buana) tingkat akomodasi berada pada derajat sedang.

Leksem Realisasi di Titik Acu Varian di Desa Restu Buana    
    tua dewasa muda
/mulih/ o o 0 u u
/putih/ 0 0 u o u u
/kuning/ o o o u u
/uluŋ/ o o u o u u
ə o o o u u
/cupit/ o o o u

Tabel 1 (above): Realisasi Fonem /u/ pada silabel penultima terbuka yang diikuti oleh silabel dengan vokal tinggi taktegang atau vokal sedang tegang dalam lek Nusa Penida

Arah akomodasi antar-lek paling banyak tertuju pada lek Karangasem, menyusul kemudian lek Tabanan, dan terakhir adalah lek Nusa Penida. Akomomodasi ke arah lek Nusa Penida umumnya dilakukan untuk membantu penutur lek Nusa Penida yang kurang menguasai lek Tabanan atau Karangasem. Kadang-kadang akomodasi ini dilakukan sebagai bahan 'olok-olok'. Di desa-desa yang di dalamnya terdapat penutur lek Karangasem, seperti Desa Wirata Agung dan desa Restu Buana, akomodasi mengarah ke lek Karangasem, dalam artian bahwa baik lek Tabanan maupun lek Nusa Penida cenderung berakomodasi ke arah lek Karangasem. Arah ini merupakan gejala yang wajar karena lek Karangasem merupakan lek yang paling dekat dengan ragam baku, yang umumnya dipandang memiliki gengsi yang lebih tinggi daripada ragam-ragam lainnya. Di desa yang di dalamnya hanya terdapat penutur lek bahasa Bali Tabanan dan Nusa Penida, arah akomodasi menuju ke lek Tabanan.

Dalam akomodasi antarbahasa, penutur bahasa Bali cenderung lebih berakomodasi ke arah bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Kendati bahasa Lampung merupakan bahasa daerah yang diajarkan melalui pendidikan formal, namun penguasaan penutur bahasa Bali terhadap bahasa Lampung jauh lebih rendah (p.7) dibandingkan dengan bahasa Jawa. Ini berarti kecenderungan berakomodasi ke arah bahasa Jawa jauh lebih tinggi daripada ke arah bahasa Lampung. Akomodasi ke arah bahasa Jawa ini bahkan sudah mencapai tahap puncak, yakni beralihnya penutur bahasa Bali ke bahasa Jawa di hadapan mitra wicara yang merupakan penutur bahasa Jawa. Sebaliknya upaya penutur bahasa Jawa dan penutur bahasa Lampung berakomodasi ke arah bahasa Bali sangat kecil.

2.2 Tipe-tipe akomodasi

Bagian ini akan membahas tipe akomodasi berdasarkan waktu, arah naik-turunnya (ke atas atau ke bawah), dan kelengkapannya

2.2.1 Tipe akomodasi berdasarkan waktu

Berdasarkan waktunya, akomodasi dapat dibedakan atas akomodasi jangka pendek (short term accommodation) dan akomodasi jangka panjang (long term accommodation). Akomodasi jangka pendek adalah akomodasi yang terjadi dalam kontak jangka pendek, seperti misalnya berakomodasinya seorang peneliti bahasa ke arah bahasa yang digunakan oleh informan pada saat wawancara (atau sebaliknya), atau berakomodasinya seorang penjaja produk tertentu ke arah bahasa atau ragam yang dikuasai oleh calon pembeli. Akomodasi jangka panjang adalah akomodasi yang terjadi dalam kontak jangka panjang yang memungkinkan terjadinya komunikasi bersemuka secara sering. Akomodasi linguistik di Lampung Tengah berawal dari akomodasi jangka pendek. Kebersamaan dalam waktu yang relatif lama menyebabkan terjadinya kontak jangka panjang di antara penutur varietas berbeda sehingga frekuensi interaksi antarpenutur varietas yang berbeda menjadi semakin tinggi. Akomodasi jangka panjanglah yang membawa bahasa kepada suatu perubahan dan dari akomodasi jangka panjanglah terlahir variasi bahasa sehingga masing-masing lek bahasa Bali di Lampung Tengah memiliki alolek-alolek.

2.2.2 Tipe akomodasi berdasarkan Arah Naik-turunnya (adjustment up and down)

Sudaryanto (1990:24-31) menyebutkan bahwa salah satu fungsi bahasa adalah sebagai alat pemelihara kerja sama (bandingkan dengan Soekanto 1992). Lebih lanjut dikatakan bahwa kerja sama yang sesungguhnya hanya terjadi jika di antara orang-orang yang bekerja sama tercipta rasa kesederajatan dan kesamaan. Jika dikaitkan dengan pernyataan ini, akomodasi bahasa dapat dianggap sebagai salah satu upaya untuk menciptakan rasa kesederajatan di antara peserta wicara. Kesederajatan ini bisa dicapai melalui akomodasi ke bawah dan bisa juga dicapai melalui akomodasi ke atas.

Arah akomodasi digolongkan ke bawah (downward accommodation) jika pewicara memodifikasi tuturannya dengan menyerap fitur-fitur dari bahasa atau (p.8) lek mitra wicara yang dianggap lebih rendah daripada bahasa atau leknya sendiri atau pewicara menyederhanakan tuturan karena mitra wicara kurang atau tidak menguasai varietas yang digunakan oleh pewicara. Hal itu biasanya dilakukan untuk meningkatkan efisiensi komunikasi, mengurangi jarak sosial, atau menumbuhkan rasa kedekatan di antara pewicara dan mitra wicara. Contoh akomodasi ke bawah yang paling umum adalah manakala orang tua berbicara dengan anak-anak. Biasanya mereka berakomodasi ke arah variasi bahasa anak-anak; misalnya dengan ikut-ikutan cadel atau dengan menggunakan kalimat-kalimat yang sederhana. Penyederhanaan bahasa sering juga dilakukan oleh pewicara ketika bercakap-cakap dengan orang asing yang belum fasih berbicara dalam lek atau bahasa yang dia gunakan (Snow dan Ferguson 1977; Clyne 1981, via Hamers et al 1989). Contoh lainnya adalah pemasaran alat-alat elektronik. Dalam mempromosikan produknya, pewicara akan menyederhanakan beberapa peristilahan teknis dan menggantinya dengan kata-kata umum agar mudah dipahami oleh calon kon-sumen.

Dalam bahasa Bali di Lampung Tengah, akomodasi ke bawah dapat dilihat ketika seorang guru SD di desa Rama Nirwana, yang adalah penutur bahasa Bali lek Tabanan, berbicara dengan siswanya yang merupakan penutur lek Nusa Penida. Si guru berusaha memodifikasi tuturannya ke arah tuturan siswanya dengan jalan menyederhanakan tuturannya sendiri dan berusaha menggunakan fitur-fitur lek Nusa Penida. Di desa Restu Buana, penutur bahasa Bali lek bahasa Bali Dataran usia dewasa, dalam hal ini lek Tabanan, berusaha memodifikasi tuturannya dengan menyerap fitur-fitur fonetis lek Nusa Penida dan memakai beberapa kosakata lek Nusa Penida ketika bercakap-cakap dengan para penutur lek Nusa Penida yang berusia tua, yang umumnya kurang menguasai lek bahasa Bali Dataran. Peneliti sendiri dalam melakukan wawancara juga berakomodasi ke arah tuturan mereka. Akomodasi ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi komunikasi dan juga menumbuhkan rasa kedekatan di antara pewicara dan mitra wicara.

Masyarakat penutur bahasa Bali maupun penutur bahasa Jawa di Lampung Tengah, terutama yang tergolong pada generasi pertama, banyak yang kurang fasih berbahasa Indonesia. Bila penutur bahasa Bali dan penutur bahasa Jawa berinteraksi, kadang-kadang ditemukan peristiwa wicara yang menggunakan dua bahasa berbeda, yakni, penutur bahasa Bali menggunakan bahasa Bali yang disusupi beberapa kosakata bahasa Indonesia, dan penutur bahasa Jawa memakai bahasa Jawa yang juga disusupi dengan beberapa kosakata bahasa Indonesia. Namun dalam interaksinya mereka cukup mampu memahami isi tuturan satu sama lain (Dhanawaty 2001).

Para penutur bahasa Bali yang sudah dapat berbahasa Indonesia dengan baik sering memodifikasi tuturan bahasa Bali maupun bahasa Indonesianya dengan menggunakan kalimat-kalimat yang disusupi oleh kosakata bahasa Jawa, atau bahkan beralih ke bahasa Jawa, manakala mereka berkomunikasi dengan penutur bahasa Jawa yang tidak dapat berbahasa Bali maupun berbahasa Indonesia. Kendati di sisi lain bahasa Jawa secara fungsional merupakan bahasa yang lebih (p.9) bergengsi, upaya pemodifikasian tutur dalam konteks dianggap sebagai akomodasi ke bawah karena hal itu dilakukan untuk membantu mitra wicara memahami isi tuturan pewicara atau untuk meningkatkan efisiensi tutur.

Akomodasi digolongkan ke atas (upward accommodation) jika pembicara mengadaptasi bahasanya ke arah varietas yang digunakan mitra wicara, yang oleh pewicara dan/atau umum dirasakan lebih tinggi gengsinya atau lebih fungsional daripada bahasa yang digunakan oleh pewicara. Akomodasi ini dapat bertujuan praktis maupun strategis. Tujuan praktisnya adalah untuk mengefektifkan komuni-kasi, sedangkan tujuan strategisnya untuk meningkatkan gengsi.

Para penutur lek Nusa Penida yang menguasai lek bahasa Bali Dataran, terutama kelompok usia dewasa dan muda, berusaha mengurangi bahkan menghilangkan ciri-ciri lek aslinya pada saat berkomunikasi dengan penutur lek bahasa Bali Dataran dan menyerap fitur-fitur yang ada dalam tuturan mitra wicara. Misalnya pewicara mengubah /h/ produktif pada posisi inisial dan posisi antarvokal menjadi [ø]; mengurangi atau bahkan menghilangkan varian [e], [ε] dan [o], [ɔ] sebagai realisasi fonem /i/ dan /u/, masing-masing menjadi varian [i] dan [u] seperti yang terdapat dalam lek bahasa Bali Dataran. Beberapa di antara mereka mengatakan malu menggunakan lek Nusa Penida pada saat berkomunikasi dengan penutur lek bahasa Bali Dataran, yang mereka sebut sebagai penutur bahasa Bali 1). Akomodasi ke atas juga dilakukan oleh penutur lek Tabanan di desa jika peserta wicaranya adalah lek Karangasem. Seperti diketahui, lek Karangasem merupakan lek bahasa Bali yang paling dekat dengan ragam bahasa Bali standar, ragam yang prestisenya lebih tinggi daripada ragam-ragam lainnya. Seorang penutur lek Tabanan usia muda di desa Wirata Agung mengaku malu menggunakan varian [ɔ] sebagai realisasi fonem /a/ pada posisi final, pada saat bercakap-cakap dengan penutur lek Karangasem dan sebagai gantinya dia memilih varian [ə].

Dipakainya bahasa Jawa sebagai sarana komunikasi umum di Lampung Tengah menunjukkan bahwa bahasa Jawa secara fungsional lebih tinggi daripada bahasa-bahasa daerah lainnya karena di samping dipakai sebagai bahasa daerah atau bahasa ibu oleh etnik Jawa, pada ranah-ranah tertentu, bahasa itu menggeser fungsi bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi antaretnik. Bagi orang Bali, mampu menggunakan sesuatu yang lebih merupakan sebuah prestasi. Kenyataan bahwa bahasa Jawa digunakan sebagai sarana komunikasi umum di Lampung Tengah membuat mereka berusaha menguasai bahasa Jawa dan menggunakannya manakala mereka bercakap-cakap dengan penutur bahasa Jawa atau setidak-tidaknya berusaha menyusup-kan kosa kata bahasa Jawa ke dalam tuturannya (periksa Dhanawaty 1993, 2001). Di sini dapat dilihat bahwa di samping karena adanya anggapan bahwa bahasa Jawa mempunyai prestise yang lebih tinggi, akomodasi juga dilakukan untuk meningkatkan prestasi diri atau sebuah pencapaian.

(p.10) Orang Bali memiliki semangat kompetitif yang tinggi dan dalam kompetisi mereka memiliki konsepsi jengah 2) (Artadi 1993: 9-11), yang memacu mereka untuk selalu berusaha mengejar prestasi, termasuk di antaranya dalam usaha pemerkayaan pengetahuan kebahasaan. Beralihnya pewicara secara total ke varietas yang digunakan oleh mitra wicara merupakan tingkat akomodasi yang paling puncak. Akomodasi pada tahap ini ada resikonya, seperti hilangnya identitas diri, identitas kelompok, atau integritas kelompok (Crystal 1987: 51).

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa akomodasi yang dilakukan oleh penutur bahasa Bali ke arah bahasa Jawa ada yang merupakan akomodasi ke bawah dan ada pula yang merupakan akomodasi ke atas. Pewicara berakomodasi ke bawah jika perilaku akomodasi dipicu oleh keinginan untuk membantu mitra wicara, yang adalah penutur bahasa Jawa yang tidak menguasai bahasa lainnya. Pewicara dianggap berakomodasi ke atas jika perilaku akomodasi secara psikologis dipicu oleh keinginan untuk meningkatkan gengsi karena bahasa Jawa secara fungsional dianggap lebih tinggi daripada bahasa Bali.

2.2.3 Tipe akomodasi berdasarkan kelengkapannya

Berdasarkan kelengkapannya, akomodasi dalam bahasa Bali Lampung Tengah dapat dibedakan atas (1) akomodasi total secara fonetis, (2) akomodasi parsial secara fonetis, dan (3) akomodasi parsial secara leksikal. Ketiga tipe akomodasi tersebut dapat dilihat secara lebih jelas dalam paparan berikut ini.

Akomodasi total secara fonetis berarti bahwa bunyi tertentu dimodifikasi menjadi persis sama dengan bunyi yang ada pada bahasa sasaran. Misalnya bunyi [h] produktif pada posisi awal dalam lek Nusa Penida diubah menjadi [ø] alveolar seperti yang terdapat dalam bahasa Indonesia dan bahasa lainnya, bunyi [ŋ] pada sufik {-aŋ} dalam lek Tabanan diubah menjadi [ŋ], seperti yang terdapat dalam lek Karangasem atau ragam baku.

Akomodasi parsial secara fonetis berarti bahwa bunyi yang ada pada bahasa asal dimodifikasi, namun belum menjadi persis sama dengan yang ada pada bahasa sasaran. Misalnya, dari [t]? ingin beralih ke bunyi [t], namun perubahan yang terjadi baru mencapai tahap [t]? atau pada tahap pengenduran keretopleksan, sehingga muncul bunyi antara (phonetically intermediate). Akomodasi tipe ini sejajar dengan apa yang oleh McMahon (1995: 49) disebut dengan perubahan bunyi yang bersifat gradual secara fonetis (phonetically gradual). Kata / ŋinap/ 'menginap' dalam lek bahasa Bali Dataran direalisasikan dengan [ŋinap]?, sedangkan dalam lek Nusa Penida direalisasikan dengan [ŋεnɔm]. Dalam lek Nusa Penida pada kelompok usia tua di Desa Rama Dewa, misalnya, ditemukan bentuk [ŋinəp]. Di sini dapat dilihat bahwa perubahan menjadi [e] merupakan akomodasi parsial karena bunyi itu menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan dari bunyi lek asli, namun belum mencapai bunyi lek sasaran, bunyi [e] di sini dapat dianggap sebagai bunyi antara, bunyi di antara [i] dan [ε]. Perubahan dari [ɔ] menjadi [ə] menunjukkan (p.11) akomodasi total. Dengan demikian [ŋenəp]? merupakan bentuk antara atau apa yang oleh Trudgill (1986) disebut sebagai bentuk hibrid. Dalam bahasa Bali di Lampung Tengah banyak ditemukan bentuk hibrid.

Akomodasi ini tergolong parsial secara fonetis karena bentuknya sudah berubah dari bentuk asal. Akomodasi parsial secara leksikal berarti bahwa sebuah bunyi dalam lingkungan fonetis tertentu tidak berubah secara serentak pada semua leksem, misalnya [h] pada posisi antarvokal pada leksem tertentu masih wujud [kahuŋ] 'babi pejantan', sedangkan pada leksem lainnya lesap [duwi]? 'duri'. Wujud dan tidak wujudnya [h] /V_V bisa juga terjadi pada kata yang sama sehingga menyebabkan munculnya doublet, seperti terlihat pada lek Nusa Penida pada kelompok usia dewasa di TP 3. Di samping telah munculnya bentuk inovatif [paət], masih ditemukan juga bentuk asli [pahət]? 'pahat'. Akomodasi ini dapat disejajarkan dengan difusi leksikal, dalam hal ini penyebaran perubahan fonetis melalui kosakata. McMahon (1995: 49-50) menyebutnya dengan perubahan bunyi yang bersifat gradual secara leksikal (lexically gradual)

TB   Realisasi (%)        
Usia TP [h] [ø] [h, ø] LI ---
T 1 100,00        
  2 3,33 60,00 30,00   6,67
  3 70,00   23,33 6,67  
  6 63,33   33,33 3,33  
D 1 76,67 6,67 13,33   3,33
  2   75,00 15,00 6,67 3,33
  3     96,67 3,33  
  6 90,00 6,67   3,33  
M 1 63,33 13,33 16,66   6,67
  2   96,67 3,33    
  3 80,00 3,33 10,00 6,67  
  6 13,33 66,67 13,33 6,67  

Tabel 2 (above): Variasi distribusi fonem /h/ pada posisi tengah (posisi antarvokal)

Dalam bahasa Bali di Lampung Tengah yang paling banyak terjadi adalah akomodasi parsial secara leksikal. Hal ini sesuai dengan kecenderungan bahasa pada umumnya.

Tabel 2 di atas menampilkan akomodasi parsial secara leksikal di Lampung Tengah. Dari Tabel 2 ini dapat dilihat bahwa semua akomodasi yang berkaitan dengan fonem /h/ pada posisi antarvokal merupakan akomodasi parsial secara leksikal.

2.3 Sebab-sebab Terjadinya Akomodasi

(p.12) Akomodasi bahasa Bali di Lampung Tengah antara lain terjadi karena adanya keinginan pewicara untuk:

1) Meningkatkan kekomunikatifan percakapan atau keefektifan komunikasi. Misalnya, agar komunikasi menjadi efektif, seorang penutur lek Karangasem yang berkomunikasi dengan penutur lek Tabanan dan/atau lek Nusa Penida (umumnya mereka kurang menguasai bahasa Bali ragam Alus) berusaha menyederhanakan bahasa Bali ragam Alus yang mereka gunakan. Penutur bahasa Bali yang berusaha berakomodasi ke bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan mitra wicara yang hanya menguasai bahasa Jawa juga dimotivasi oleh keinginan untuk meningkatkan kekomunikatifan percakapan.

2) Mengurangi jarak sosial di antarapeserta wicara. Hal ini terutama terjadi pada akomodasi ke bawah. Untuk menciptakan suasana akrab, penutur lek Karangasem yang berkomunikasi dengan penutur lek Tabanan berakomodasi ke lek Tabanan yang derajat kesantunannya tidak terlalu tinggi.

3) Menciptakan hubungan kerja yang baik dan menumbuhkan rasa percaya pada mitra wicara. Mitra wicara menjadi lebih tinggi kepercayaannya pada orang yang berakomodasi ke arah dirinya. Karena itu, para petani Bali dan Jawa di Lampung Tengah berusaha saling menyesuaikan bahasanya satu sama lain - walaupun akomodasi penutur bahasa Jawa ke arah bahasa Bali tidak setinggi yang dilakukan oleh penutur bahasa Bali ke arah bahasa Jawa - dalam kegiatan-kegiatan kelompok tani, seperti pembagian air, urusan KUD, urusan bimas, dan sebagainya.

4) Menghapuskan stigma, seperti berusaha menghilangkan bunyi [t]? retro-fleks yang menjadikan orang Bali sebagai bahan 'olok-olok' di tengah-tengah penutur bahasa lainya. Contoh lain, penutur Nusa Penida berusaha menghilangkan alofon [ɔ] sebagai realisasi fonem /ə/ pada silabel ultima tertutup dan menggantinya dengan [ə], seperti yang terdapat dalam lek bahasa Bali Dataran.

5) Meningkatkan prestasi dan prestise. Mampu menyesuaikan diri dalam kehidupan berbahasa merupakan sebuah prestise tersendiri bagi orang Bali. Berakomodasinya penutur bahasa Bali ke bahasa Jawa dan bahasa Indonesia bukan dilandasi oleh anggapan bahwa bahasa Bali sendiri kurang memiliki prestise, tetapi untuk menunjukkan prestasi diri. Makin tinggi prestasi yang dicapai, maka makin terangkatlah prestisenya.

6) Menurunkan formalitas tutur untuk menciptakan rasa santai. Transmigran Bali di Lampung Tengah sadar bahwa alat komunikasi antaretnis adalah bahasa Indonesia, namun dalam komunikasi sehari-hari dengan etnik Jawa (p.13) mereka lebih berakomodasi ke bahasa Jawa daripada bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari dianggap terlalu formal oleh penutur bahasa Bali maupun bahasa Jawa.

7) Meningkatkan formalitas tutur dalam ranah-ranah tertentu. Penutur lek Tabanan pada ranah formal keadatan cenderung memodifikasi bunyi [ɔ] sebagai realisasi fonem /a/ pada posisi final menjadi [ə] seperti yang terdapat dalam lek Karangasem agar sesuai dengan ragam standar.

8) Meningkatkan kesantunan tutur, hal ini berkaitan dengan no. 7. Dalam situasi tutur yang resmi kedaerahan, seperti upacara piodalan (semacam ulang tahun tempat suci) dan upacara perkawinan, penutur lek Tabanan dan Nusa Penida berusaha berakomodasi ke arah lek Karangasem yang lebih tinggi kesantunannya.

Catatan

1) Para penutur lek Nusa Penida menyebut varietas yang mereka pakai sebagai bahasa Nusa, sedangkan Bahasa Bali bagi mereka adalah bahasa Bali, yang ada di pulau Bali ada; 2) Jengah adalah semangat yang kuat untuk maju dan sedikit membakar, konsep yang memotivasi orang Bali untuk berusaha keras agar mampu menyejajarkan diri dengan orang lain, dan bila perlu pencapaiannya melampaui orang lain.

Daftar Pustaka

  • Artadi, I Ketut. 1993. Manusia Bali. Denpasar: PT Bali Post
  • Asher, R.E. (Ed.) dan J.M.Y. Simpson (Co-ed). 1994. The Encyclopedia of Language and Linguistics. Oxford: Pergamon Press
  • Crystal, David. 1987. The Cambridge Encyclopedia of Language. New York: Cambridge University Press
  • Crystal, David. 1997. A Dictionary of Linguistics and Phonetics. Oxford: Blackwell Publisher
  • Dhanawaty, N.M. 1993. "Interferensi Leksikal dalam Pemakaian Bahasa Bali di Lampung Tengah". Penelitian yang disponsori oleh The Toyota Foundation
  • Dhanawaty, N.M. 2001. "Bahasa Jawa bagi Transmigran Bali di Lampung Tengah Sebuah Fenomena yang Mengisyaratkan Pentingnya Pembinaan Bahasa Daerah Asal di Daerah Transmigrasi". Makalah yang disajikan dalam Kongres Bahasa Jawa III, Yogyakarta 2001
  • Hamers, Josiane F. dan Michel H.A. Blanc. 1989. Bilinguality and Bilingualism. Cambridge: Cambridge Universitry Press
  • Hoffmann, Chalotte. 1996. An Introduction to Bilingualisme. New York: Longman
  • Holtzknect, Susanne. 1994. "The Mechanisms of Language Change in Labu", dalam Tom Dutton dan Darrel T. Tryon (Eds.) Language Contact and Change in the Austronesian World: Trends in Linguistic Studies and Monographs 77. Berlin: Mouton de Gruyter, hal. 350-376
  • Francis, W. N. 1983. Dialectology: An Introduction. London: Longman
  • McMahon, April M.S. 1995. Understanding Language Change. Cambridge: Cambridge University Press
  • Matthews, P.H. 1997. The Concise Oxford Dictionary of Linguistics. Oxford: Oxford University Press
  • Soekanto, Soerjono. 1992. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers
  • Sudaryanto. 1990. Menguak Fungsi Hakiki Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press
  • Trudgill, P. 1986. Dialect in Contact. Oxford: Basil Blackwell

Source

  • Dhanawaty, Ni Made (2004) - Teori Akomodasi dalam Penelitian Dialektologi, in Linguistik Indonesia, Jurnal Ilmiah Masyarakat Linguistik Indonesia, Ferbuari 2004, ISSN 0215-4846, Tahun ke-22, Nomor 1, p.1-14 

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman www.godidijkman.nl social facebook box white 24