Darma Laksana - Dialek Lembongan (1984)

Darma Laksana - Perbendaharaan fonem dialek Lembongan (1984)

(p.79) I Ketut Darma Laksana lahir di Nusa Penida, Klungkung, pada tanggal 1 September 1952. Setelah menamatkan pelajaran di SMTA, melanjutkan ke Fakultas Sastra Universitas Udayana pada tahun ajaran 1973/1974 dan selesai tahun 1980. Tahun 1978, setelah Sarjana Muda, mulai mengabdikan diri mengajar Bahasa Indonesia di Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Sejak Maret 1981 diangkat sebagai tenaga pengajar tetap. Dalam kegiatan ilmiah, antara lain ikut membantu penelitian bidang bahasa dan sastra Indonesia dan Daerah, mengisi Ruang Pembinaan Bahasa Indonesia di Bali Post.

1. Pengantar

Karangan ini mengetengahkan masalah perbendaharaan fonem dialek bahasa yang ada di Pulau Nusa Lembongan. Tujuan mengetengahkan masalah ini adalah untuk memperkenalkan lebih luas dialek bahasa yang bersangkutan lewat perbendaharaan fonemnya.

Lembongan adalah sebuah desa yang ada di Pulau Nusa Lembongan. Pulau Nusa Lembongan terletak di sebelah barat Pulau Nusa Penida. Secara administratif Pulau Lembongan termasuk dalam Kecamatan Nusa Penida dengan jumlah penduduk 6.198 jiwa. Mata pencaharian penduduk pada umunya bertani. Pulau Nusa Lembongan, termasuk Nusa Ceningan, dibagi atas dua desa, yaitu desa Lembongan dengan jumlah penduduk 3.592 dan desa Jungutbatu dengan jumlah penduduk 2.606 jiwa (penduduk Nusa Ceningan termasuk desa Lembongan). Secara geografis desa Lembongan terletak pada daerah yang agak tinggi dengan tanah berbukit kapur, sedangkan desa Jungutbatu terletak pada daerah daratan (pesisir) bagian utara. Keadaan alam merupakan salah faktor penyebab adanya perbedaan dalam hal bunyi-bunyi suatu bahasa. Pernyatan ini membuktikan bahwa dialek bahsa di Pulau Nusa Lembongan masih dapat dibedakan oleh adanya variasi ucapan. Secara geografis pula, variasi ucapan itu dapat diberi batas yakni variasi pegunungan dan varias daratan. Dalam karangan ini hanya dibicarakan variasi pegunungan tersebut yang di sini disebut dialek Nusa Lembongan. Seperti akan tampak dalam uraian di bawah nanti, ciri-ciri bunyi yang dimiliki oleh dialek Lembongan akan menandai kekhasan dialek bahasa yang bersangkutan. Kekhasan itu tidak banyak terdapat pada variasi (sub-dialek?) Jungutbatu.

2. Pengertian Fonem

Analisis fonologi suatu data fonetik tertentu tidak selalu sama karena ini sangat bergantung pada teori (p.80) yang melandasi analisis itu. Para ahli fonologi tidak selalu sependapat menganai asumsi-asumsi dasar apa fonologi itu. Namun, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang ada, semua ahli fonologi sependapat mengenai perlunya mengenal dua satuan analisis fonologi, yaitu satuan fonetis (fon) dan satuan fonologis (fonem). Fonem biasannya dibatasi sebagai satuan bunyi minimal yang dapat membedakan kata dengan makna yang berbeda. Misalnya /b/ dan /k/ masing-masing merupakan fonem karena membedakan makna dalam /bapak/ dan /kapak/.

Pembatasan fonem berdasarkan faktor-faktor fonologis semata merupakan hal yang khas pada aliran Praha. Prosedur kerja dengan berdasarkan "oposisi" dalam sistem fonologi adalah hal yang penting karena berkaitan dengan "fungsi". Demikianlah, fonem merupakan satuan minimal yang dapat berfungsi sebagai pembeda makna. Kerangka teoretis yang diterangkan di atas, cukup relevan dengan pokok masalah dalam karangan ini. Oleh karena itu, prosedur kerja dalam teori itu sedapat-dapatnya diikuti untuk memperoleh hasil yang diharapkan.

3. Perbendaharaan Fonem Dialek Lembongan

3.1 Jumlah Fonem Segmental

Berdasarkan data yang dikumpulkan, dialek Lembongan memiliki 24 buah fonem segmental: 6 fonem vokal dan 18 fonem konsonan. Enam fonem vokal dan 18 fonem konsonan tersebut dapat ditabelkan menurut daerah artikulasi, sebagai berikut:

Fonem Vokal

Depan Pusat Belakang  
i   u Atas
  ə   Tengah
ε a ɔ Bawah

Fonem Konsonan 

Labial Alveolar Palatal Velar Laringal  
b d j g   Hambat Bersuara
p t   k   Hambat Tak bersuara
m n ñ ŋ   Nasal
  l       Lateral
  r       Tril
  s     h Friktif, Spiran
w   j     Semi vokal

3.2 (p.81) Fonem Vokal

Enam vokal dialek Lembongan tersebut terdiri atas 2 buah vokal depan: /i/ dan /ε/; 2 vokal pusat: /ə/ dan /a/; dan 2 vokal belakang: /u/ dan /ɔ/.

3.2.1. Pengucapan Vokal

Semua vokal pada suku kata tertutup lebih pendek daripada suku kata terbuka. Sebagai contoh: /a/ pada suku kata pertama lebih panjang daripada /a/ pada suku kata kedua pada kata /abas/: [a.bas]. Hal yang sama, vokal /i/ dan /u/ pada kata /bibit/ dan /bubuk/, diucapkan sebagai [bi.bit] dan [bu.buk].

Perbedaan pengucapan dalam vokal-vokal tersebut bersifat alofonik daripada fonemik, karena pengaruh intonasi, semua vokal baik pada suku kata terbuka maupun suku kata tertutup diucapkan lebih panjang. Pemanjangan ini pun tidak fenomik. Akan tetapi, pemanjangan vokal pada suku kata terakhir pada kata-kata kerja, baik suku terbuka maupun suku tertutup, akan membawa perubahan makna. Perhatikan contoh berikut:

/jəmak/ ambil dengan /jəma:k/ diambil
/gətət/ potong dengan /gətə:t/ dipotong
/anu/

pukul

dengan /anu:/ dipukul

/bəli/

beli dengan /bəli:/ dibeli

Catatan: Simbol [/\] dipakai untuk melambangkan /ə/ yang diucapkan lebih rendah (lihat 3.2.5 di bawah). [* tanda fonetik ini kelihatannya tidak ada pada alfabet fonetik internasional (lihat referensi di bawa). Maka, [ã] digunakan untuk bentuk nasal '/\'. Demikian juga, [õ] ialah bentuk nasal daripada fonem /ɔ/. GD]

Pemanjangan vokal pada contoh-contoh di atas merupakan unsur suprasegmental yang bersifat morfemik. Jadi, dalam dialek Lembongan dikenal morfem suprasegmental. Morfem suprasegmental yang dimaksud ekivalen dengan prefiks di- dalam bahasa Indonesia. Apabila dibandingkan dengan Bahasa Bali, maka morfem suprasegmental dialek Lembongan itu ekivalen dengan sufiks -ə.

Selanjutnya, vokal yang didahulukan oleh konsonan /m/, /n/, /ŋ/ dan /ñ/ selalu dinasalisasikan, sedangkan pada posisi lainnya tidak dinasalisasikan, seperti: /nasi/ (nasi) diucapkan [nãsi]; /tanən/ (tanam) diucapkan [tanãn]; /namə/ (saudara) diucapkan [nãmɑ]; /aŋɔn/ (gembalakan) diucapkan [aŋõn].

3.2.2. Vokal /i/

Vokal depan atas /i/ kontras dengan vokal di dekatnya /ε/ hanya pada posisi akhir. Misalnya: /sari/ (sari) dengan /sarε/ (tidur); /gədi/ (pergi) dengan /gədε/ (besar). Pada posisi lain, /i/ kontras dalam pasangan minimal dengan vokal pusat /ə/, misalnya: /asi/ (cocok) dengan /asə/ (rasa); /dini/ (di sini) dengan /dinə/ (hari). Vokal /i/ diucapkan /I/ pada suku kata tertutup, seperti pada: /pait/ (pahit), /sakit/ (sakit), yang diucapkan [paIt] dan [sakIt]. Tetapi, pada posisi lain ia diucapkan [i] lebih tinggi daripada [I], seperti dalam [iri] (iri), [tipat] (ketupat), dan [sipah] (ketiak).

3.2.3 Vokal /ε/

Vokal /ε/ terdapat dalam kotras minimal dengan vokal di dekatnya, yakni vokal /a/, seperti contoh berikut: /bεdə/ (penghalang) dengan /badə/ (kandang); /dεsə/ (desa) dengan /dasə/ (sepuluh). (p.82) Pada posisi lain, kontras dalam pasangan minimal dapat dibuktikan dengan vokal /ə/. Misalnya: /basε/ (sirih) dengan /basə/ (bumbu); /rasε/ (musang) dengan /rasə/ (rasa). Bunyi [ε] dalam Bahasa Bali merupakan alofon dari fonem /e/. Tetapi, dalam dialek Lembongan [ε] merupakan fonem.

3.2.4 Vokal /a/

Vokal pusat-bawa /a/ terdapat dalam kontras minimal dengan vokal terdekat /ə/, seperti pada: /karə/ (sejenis kacang) dengan /kərə/ (ragu-ragu); /sakə/ (tiang) dengan /səkə/ (perkumpulan). Distribusi vokal /a/ tidak terdapat pada posisi akhir. Oleh karena itu, kontras minimal pada posisi itu tidak ada. Namun, pada posisi lain dalam suku kata tertutup masih dapat dijumpai, seperti: /asah/ (sama) dengan /asih/ (kasih); /alat/ (petik) dengan /ulat/ (anyam).

3.2.5 Vokal /ə/

Vokal pusat-tengah dalam kontras minimal dengan vokal terdekat /a/, seperti pada: /kə.par/ (mekar) dengan /kapar/ (talam); /bəsəh/ (bengkak) dengan /basəh/ (cuci) (Lihat juga 3.2.4 di atas). Vokal /ə/ pada suku terakhir, baik terbuka maupun tertutup, diucapkan lebih rendah sedikit yakni [/\]. Jadi: /matə/ (mata) diucapkan [mat/\]; /bisə/ (bisa) diucapkan [bis/\]; /pakəh/ (asin) diucapkan [pak/\h]; /sələŋ/ (hitam) diucapkan [səl/\ŋ].

3.2.6 Vokal /u/

Vokal belakang atas /u/ terdapat dalam kontras minimal dengan vokal /a/. Misalnya: /bulu/ (bulu / feather, hair) dengan /balu/ (duda, janda / widow); /sugi/ (cuci muka) dengan /sagi/ (hidangan); Vokal /u/ mempunyai dua ucapan yang merupakan distribusi komplementer. Pada suku kata terbuka /u/ diucapkan [u], sedangkan dalam suku kata tertutup diucapkan sebagai vokal bawah [U]. Misalnya: /saru/ (kabur) diucapkan [saru]; /ulig/ (gilas); tetapi /sikut/ (ukur) diucapkan [sikUt]; /jaguŋ/ (jagung) diucapkan [jagUŋ].

3.2.7 Vokal /ɔ/

Vokal belakang /ɔ/ dapat dikontraskan dengan vokal /a/, seperti pada: /pɔh/ (mangga) dengan /pah/ (bagi); /kapɔk/ (jera) dengan /kapak/ (kapak). Status fonem vokal /ɔ/ ini sama dengan vokal /ε/ (Lihat 3.2.3 di atas).

3.2.8 Harmoni Vokal

Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap bunyi-bunyi dialek Lembongan, terdapat dua buah vokal yakni /ε/ dan /ɔ/ yang tidak seperti dalam bahasa Bali yang merupakan bahasa sumbernya. Dalam Bahasa Bali, kedua vokal itu dalam suku kata terbuka umumnya diucapkan: [e] dan [o], dan dianggap sebagai fonem. Sedangkan [ε] dan [ɔ] merupakan alofon. (p.83) Sebagai kesimpulan sementara, rupanya kedua vokal [ε] dan [ɔ] dalam dialek Lembongan tersebut dipengaruhi oleh bunyi vokal di sampingnya. Perhatikan contoh berikut:

Bahasa Bali Dialek Lembongan Bahasa Indonesia
/rare/ /rarε/ bayi
/bade/ /badε/ tebak
/base/ /basε/ sirih
/mako/ /makɔ tembakau
/paro/ /parɔ bagi
/sabo/ /sabɔ/ sawo

Bunyi vokal yang ada di sampingnya yang mempengaruhinya adalah vokal bawah /a/. Hal yang sama juga akan terjadi apabila bunyi vokal yang ada di sampingnya vokal yang sama. Misalnya:

Dialek Lembongan Bahasa Indonesia
/mεmε/ ibu
/sεε/ serai
/kεnε/ begini 
/lεlε/ ikan lele
/rɔkɔ/ rokok
/mɔm<ɔ/ manja
/tɔkɔ/ toko
/krɔsɔ/ sejenis bakul

Contoh distribusi /ε/ dan /ɔ/ pada suku kata tertutup tidak diberikan karena merupakan hal yang sudah umum.

3.3 Fonem konsonan

Fonem-fonem konsonan dalam dialek ini adalah: bilabial hambat /b/ dan /p/; alveolar hambat /d/ dan /t/; palatal /j/ dan /c/; velar /g/ dan /k/; nasal homorganik /m/, /n/, /ñ/ dan /ŋ/; alveolar frikatif /s/; alveolar lateral /l/; alveolar tril /r/; laringal frikatif /h/; dan bilabial dan palatal semivokal /w/ dan /y/ (Lihat tabel konsonan pada 3.1 di atas).

3.3.1 Pengucapan Konsonan

Konsonan /d/, /t/, /j/, /c/, /g/, /k/, nasal /n/, /ñ/ dan /ŋ/, frikatif /s/, tril /r/ dan lateral /l/, masing-masing diucapkan sedikit lebih ke depan atau ke belakang sesuai dengan bunyi-bunyi vokal di lingkungannya. Misalnya /t/ dalam /tagəl/ (tekuk / crumpled, bent up) diucapkan [t'agəl], tetapi dalam /tugəl/ (potong / cut) diucapkan [t'ugəl]. Perbedaan ucapan konsonan-konsonan tersebut dalam distribusi komplementer tidak direpresentasikan dan representasi fonetik. Konsonan-konsonan palatal /j/, /c/ dan /ñ/ dan semivokal /w/ dan /y/, seperti juga dalam bahasa Bali, tidak pernak terdapat pada posisi akhir kata. Hal yang sama, konsonan bilabial /p/, /b/, /m/ juga tidak terdapat dalam posisi akhir kata. Di samping itu, khususnya konsonan /m/ dan konsonan nasal lainnya seperti /ŋ/ dan /n/ tidak terdapat pada posisi terakhir pada suku kata kedua dari belakang. (untuk /n/ pada posisi ini bergantung pada bunyi di sampingnya (Lihat konsonan /n/ pada 3.3.7 di bawah)).

3.3.2 Konsonan /b/ 

Pada 3.3.1 telah dikatakan bahwa konsonan /b/ tidak terdapat pada posisi akhir kata. Kontras dalam pasangan minimal terdapat dalam posisi berikut: /batə/ (bata / brick) dan /patə/ (sumpah); /səbit/ (robek) dan /səpit/ (penjepit). Konsonan tersebut tidak diaspirasikan pada posisi yang bersangkutan dan tidak mempunyai variasi. Perhatikan contoh berikut: /abə/ (bawa) diucapkan [ab/\]; /bubu/ (bubu) diucapkan [bubu].

3.3.3 Konsonan /p/

Konsonan bilabial hambat tak bersuara /p/ diucapkan tanpa variasi dalam semua posisinya, kecuali pada posisi akhir (penutup suku) pada suku kata kedua dari belakang diucapkan agak ke belakang. Contoh: /patuh/ (sama) diucapkan [patuh]; /kapas/ (kapas) diucapkan [kapas], (p.84) tetapi /kappid/ (sayap) diucapkan [kap.pid], /tapih/ (lipat) diucapkan [tap.pih].

3.3.4 Konsonan /m/

Konsonan nasal /m/ homorganik dengan /b/ dan /p/ seperti tampak dalam kontras minimal pada posisi berikut ini: /səməŋ/ (pagi) dan /səbəŋ/ (wajah); /aməs/ (lahap) dan /apəs/ (jepit); /məsu/ (bocor) dan /pəsu/ (ke luar). Konsonan nasal /m/ itu diucapkan tanpa variasi dalam dekua posisinya.

3.3.5 Konsonan /d/

Alveolar hambat bersuara /d/ muncul pada semua posisi. Kontras minimal konsonan /d/ dengan konsonan lainnya misalnya terdapat pada: /dasə/ (sepuluh) dan /basə/ (bumbu); /adə/ (ada) dan /abə/ (bawa); /adah/ (aduh) dan /akah/ (akar); /dadah/ (panasi) dan /kakah/ (kasar). Catatan kecil perlu diberikan sehubungan dengan pengucapannya. Bunyi hambat bersuara /d/ tidak homorganik dengan konsonan dekatnya /t/. Konsonan /d/ diucapkan lebih ke belakang daripada /t/. Artikulasi /d/ adalah alveopalatal, sedangkan /t/ alveolar. Jadi: /andih/ (bau amis, ikan) diucapkan [andih], sedangkan /kantih/ (katir) diucapkan [kantih].

3.3.6 Konsonan /t/

Alveolar hambat tak bersuara /t/ terdapat dalam kontras minimal dengan konsonan terdekatnya /d/. Misalnya: /tətəh/ (tindih) dan /dədəh/ (halau); /atət/ (berimpit) dan /adət/ (jual). Konsonan /t/ tersebut diucapkan tanpa variasi, kecuali pada posisi akhir (penutup suku) pada suku kata kedua dari belekang diucapkan agak ke belakang. Contoh: /patcər/ (kemudi jukung) diucapkan [pat.cər]; /batcut/ (cabut) diucapkan [bat.cut]. (Lihat juga /p/ pada 3.3.3 di atas).

3.3.7 Konsonan /n/

Konsonan nasal /n/ tampak dalam kontras minimal sebagai berikut: /anu/ (pukul) dan /adu/ (adu); /inə/ (induk) dan /ilə/ (berbahaya). Konsonan nasal /n/ mempunyai dua alofon. Dalam lingkungan alveopalatal hambat tak bersuara diucapkan [n]. sedangkan dalam lingkungan lain diucapkan sebagai alveolar nasal, seperti contoh berikut: /tandaŋ/ (gaya) diucapkan [tandaŋ], sedangkan /nanah/ (nanah) diucapkan [nanah] (Lihat juga konsonan /d/ pada 3.3.5 di atas).

3.3.8 Konsonan /j/ dan /c/

Telah dikatakan di atas pada 3.3.1, palatal hambat /j/ dan /c/ tidak terdapat pada posisi akhir kata. Kedua konsonan ini masing-masing merupakan fonem tersendiri, dapat dilihat dalam kontras minimal di bawah ini: /kajaŋ/ (bawa, kumpulkan) dan /kacaŋ/ (kacang); /jujuk/ (berdiri) dan /cucuk/ (paruh).

3.3.9 Konsonan /ñ/

Konsonan nasal frikatif /ñ/ tidak terdapat pada possi akhir kata. Kontras minimal konsonan itu misalnya terdapat dengan konsonan /b/. Contoh: /ñət/ (kemauan / willingness) dan /bət/ (semak / bushes); (p.85) /ñug/ (campur / mix) dan /bug/ (lumpur / mud).

3.3.10 Konsonan /g/

Konsonan hambat bersuara /g/ terdapat pada semua posisi. Konsonan /g/ terdapat dalam kontras minimal misalnya dengan konsonan homorganik /k/. Contoh: /gugu/ (percaya / believe) dan /kuku/ (kuku / nail); /tugəl/ (potong / cut) dan /tukəl/ (tukal / a variable measurement of length for thread equivalent to 16 rian).

3.3.11 Konsonan /k/

Konsonan velar hambat tak bersuara /k/ kontras dengan selain dengan konsonan homorganik /g/ (lihat 3.3.10 di atas) juga dengan konsonan lainnya, seperti /l/. Contoh: /kukuh/ (bersikeras / persist, insist) dan /luluh/ (luluh / crushed, assimilated); /kalah/ (kalah / loose) dan /lalah/ (pedas / hot, highly seasoned and spiced; severe, biting).

3.3.12 Konsonan /ŋ/

Konsonan velar /ŋ/ berkontras dengan konsonan homorganik /k/, seperti pada: /sədəŋ/ (sedang) dan /sədək/ (saat); /ŋɔn/ (kagum) dan /kɔn/ (partikel penegas).

3.3.13 Konsonan /s/

Konsonan frikatif tak bersuara /s/ berkontras dengan /l/. Misalnya: /səməŋ/ (pagi) dan /ləməŋ/ (tengah malam); /məs/ (lembek) dan /məl/ (semak).

3.3.14 Konsonan /l/ dan /r/

Konsonan /l/ dan /r/, masing-masing sebagai konsonan alveolar lateral dan alveolar tril terdapat dalam kontras minimal berikut: /səluh/ (cungkil) dan /səruh/ (tumbuk); /kalə/ (saat) dan /karə/ (sejenis kacang).

3.3.15 Semivokal /w/ dan /y/

Semivokal /w/ (bilabial) dan semivokal /y/ (palatal) terdapat dalam kontras berikut ini: /wə/ (bapak) dan /yə/ (dia); /wuh/ (dipakai) dan /yuh) (sukar untuk menyahut).

3.3.16 Konsonan /h/

Konsonan laringal frikatif /h/ terdapat dalam kontras berikut ini: /tɔguh/ (teguh) dan /tɔgul/ (ikat). Konsonan /h/ pada posisi awal tidak banyak dijumpai; pemunculannya pada posisi awal hanya dijumpai pada nama-nama dewa (sama seperti dalam bahasa Bali).

4. Penutup

Dialek Lembongan, khususnya bidang fonologinya, amat menarik untuk diteliti. Jika dibandingkan dengan bahasa Bali sebagai sumbernya, ternyata terdapat perbedaan. Bunyi-nunyi tertentu sangat dipengaruhi oleh bunyi-bunyi di sampingnya atau di lingkungannya. Uraian ini masih jauh dari lengkap karena itu perlu penelitian yang lebih teliti.

Daftar Pustaka (Darma Laksana)

  • Gleason, H.A. - An Introduction to Descriptive Linguistics, revixsed edition, New York: Holt, Rinehart and Winston, 1961
  • Muhajir - "Morphology of Jakarta Dialect, Affixation and Reduplication" dalam seri Nusa volume 11. (translated by Kay ikranagara), 1981
  • Pike, Kenneth L. - Phonemics, A Technique for Reducing Languages to Wrtiting, An Arbor The University of Michigan Press, 1976
  • Samsuri - Analisa Bahasa, Jakarta: Erlangga, 1978
  • Trubetzkoy, N.S. - Introduction fo the Principles of Phonological Description, The Hague: Martinus Nijhoff, 1968
  • Verhaar, J.W.M. - Pengantar Linguistik, jilid I. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. 1977

Reference (Godi Dijkman)

http://en.wikipedia.org/wiki/International_Phonetic_Alphabet#Vowels_2

Sumber

  • Darma Laksana, I Ketut - Perbendaharaan Fonem Dialek Lembongan, in: "Majalah Widya Pustaka", Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar, August 1984, p.79-86 

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24