Jelantik Bogol (Ratnasih, 1977)

I Gusti Ayu Ratnasih (1977), in a thesis to Udayana University Denpasar, discusses the story of Jelantik Bogol as the hero in the defeat of King Bungkut in Nusa Penida during the reigns of Kings Ngulesir and Di Made at Gelgel, mainland Bali. Below article presents the (Indonesian language) conclusions presented in chapter 5 of her thesis, and her list of references. Her thesis (pdf) can be obtained by sending a request to the author. English translation of below article is forthcoming.

ratnasih-silsilah-JelantikbogolImage right: Jelantik Bogol's family tree (Ratnasih 1977:30)

Chapter V: Kesimpulan (Conclusion)

(p.65) Penggunaan gelar Jelantik bagi keturunan Nyuh Aya selanjutnya adalah dimulai oleh I Gusti Peninggungan yang menjadi patih pada masa pemerintahan Dalem Ketut Ngulesir yang berkeraton di Gelgel. Gelar ini dipakai karena erat hubungannya dengan nama desa tempat istana kepatihan didirikan di desa Jelantik yaitu dekat Gelgel dan termasuk Kecamatan Klungkung. (? Babad Belah-batu, koleksi Gedong Kirtya, Singaraja - manuskrip, 1p. 1b).

Dari uraian yang telah kami paparkan dalam bab-bab terdahulu, dapatlah kami nyatakan bahwa tugas dan kewajiban serta peranan I Gusti Ngurah Jelantik Bogol dalam pengabdiannya terhadap Dalem di Gelgel, merupakan lanjutan dan perkembangan dari apa yang telah diperbuat oleh nenek moyang sebelumnya, yang telah dimulai oleh Jelantik I, yaitu I Gusti Peninggungan terhadap Dalem Ketut Ngulesir, dilanjutkan oleh putranya bernama I Gusti Ngurah Pengalasan Pasmipangan, yaitu Jelantik ke-II yang mengabdi kepada Dalem Baturenggong, diteruskan lagi oleh Jelantik ke-III, yaitu I Gusti Ngurah Made Tengahan yang mengabdi kepada Dalem Bekung dan kemudian diwariskan lagi kepada Jelantik ke-IV, yaitu I Gusti Ngurah Jelantik Bogol yang telah mengabdikan dirinya kepada dua orang raja, yakni Dalem Segening dan Dalem Di Made (Perhatikan silsilah Jelantik terlampir, Babad Belah-batu, koleksi puri Belah-batu - manuskrip, 1p, 1b; 7a; 14b)

Menonjolnya peranan keluarga Jelantik dalam wujud jasa dan pengabdian terutama nampak ketika I Gusti Ngurah Made Tengahan (Jelantik ke-III) gugur sebagai kesatriya dalam pertempuran ketika ia memimpin pasukan Gelgel untuk menyerang dan menaklukkan Blambangan. Gugurnya Jelantik ke-III dalam pertempuran di Blambangan, di samping menunjukkan adanya sifat kesatriya sejati, mengabdi kepada perintah Dalem Bekung bersama-sama hancurnya laskar Gelgel, juga adalah karena Jelantik ke-III dengan sengaja mengorbankan badan dan jiwanya untuk menebus segala dosa-dosa ajaran Putra Sesana, yaitu suatu kewajiban bagi seorang anak untuk berbakti kepada orang tua. (Ditinjau dari segi kepercayaannya bahwa segala perbuatan orang tua yang dianggap berdosa, berwajiblah dihapuskan oleh keturunannya dengan jalan mesatya agar di dalam penjelmaanya kembali bisa menemui kebaikan.)

Jelantik ke-III mengamuk musuh dalam pertempuran tanpa membawa senjata dan gugur sebagai kesatriya. Untuk mengenang jiwa kepahlawannya ini, kemudian Dalem Segening memberi nama Ki Bo0gol kepada putranya. Ki Bogol yang setelah dewasa bergelar I Gusti Ngurah Jelantik Bogol, mengambil nama sesuai dengan gelar ayahnya, ternyata (p.67) telah berhasil mengemban dan melanjutkan jiwa kesatriya serta kesetiaan pengabdian ayahnya, selama pengabdiannya terhadap Dalem Segening dan Dalem Di Made. Hal ini terbukti di mana Dalem Segening telah berkenan menghadiahkan seorang gunduknya sedang hamil yang bernama Ni Luh Pasek kepada I Gusti Ngurah Jelantik Bogol senbagai balas jasa pengorbanan ayahnya dan pengabdian Jelantik Bogl sendiri kepada Dalem. Jelantik Bogol telah menerima Ni Luh Pasek sebagai suatu kehormatan yang telah dilimpahkan Dalem Segening kepada dirinya (Babad Buleleng, koleksi Gedong Kirtya, Singaraja, manusrik, 1p. 2b). Kelak Ni Luh Pasek melahirkan seorang putra yang bergelar I Gusti Ngurah Panji Sakti yang berhasil dirajakan di Buleleng. Secara biologis, Panji Sakti adalah putra Daem Segening, tetapi menurut hukum ia adalah putra I Gusti Ngurah Jelantik Bogol.

Dalam Bab II, telah kami uraikan struktur pemerintahan yang terdapat dalam masa raja-raja Bali yang berkraton di Gelgel. Pergantian tahta dari Dalem Seganing kepada Dalem Di Made, hampir tidak membawa perubahan dalam struktur susunan pemerintahan. Dalam struktur pemerintahan masa Dalem Seganing, I Gusti Ngurah Jelantik Bogol menduduki jabatan manca, yatitu jabatan yang termasuk satu departemen dalam kepatihan yang mempunyai hubungan vertikal. Di samping itu, Jelantik Bogol tetap memegang jabatan sebagai pimpinan laskar, terutama apabila ada tugas-tugas bertempur atau dalam masa perang. Begitu pula dalam struktur (p.68) pemerintahan Dalem Di Made, Jelantik Bogol tetap menduduki jabatannya semula, di samping juga terus sebagai pimpinan laskar Gelgel.

Menurut pendapat kami, berhasilnya Jelantik Bogol tetap menduduki jabatan-jabatannya baik dalam masa Dalem Segening maupun dalam masa Dalem Di Made, di samping karena kecakapan dan karisma pribadinya, juga karena karisma routine yang telah diperolehnya secara genealogis dari ayah dan nenek moyangnya. (Sartono Kartodirdjo, Kepemimpinan di dalam Sejarah Indonesia, buletin Yayasan Perpustakaan Nasional No. 1; Jakarta: Yayasan Perpustakaan Nasional, 1974, p.9).

Dalam masa pemerintahan Dalem Segening, peranan Jelantik Bogol tidak begitu kelihatan karena keadaan kerajaan aman dan damai. Masing-masing pejabat dalam lingkungan kraton menunaikan tugasnya dalam situasi aman dan damai. Peranan dan pengabdian Jelantik Bogol tampak menonjol dengan jelas adalah ketika tampuk pemerintahan berada dalam tangan Dalem Di Made untuk menggantikan tahta ayahnya yang telah wafat.

Dalam masa pemerintahan Dalem Di Made yang berkedudukan di Gelgel, maka di Nusa Penida memerintah pula Dalem Bungkut sebagai penguasa tunggal di daerah tersebut.

Dalam bab terdahulu telah kami paparkan tentang Dalem Bungkut sebaga raja Nusa Penida yang sakti dan kebal dan telah menancam keamanan kerajaan Bali. Dalem Di Made (p.69) merencanakan ingin megirim sebuah ekspedisi untuk menyerang daerah Nusa Penida dan ekspedisi ini dipercayakan kepada I Gusti Ngurah Jelantik Bogol. Dengan penuh kayakinan dan memperoleh kemenangan dengan keris pusaka pemberian Dalem Di Made, Jelantik Bogol bersama permaisurinya bernama I Gusti Ayu Kaler berangkat menyerang Nusa Penida. Di samping pusaka Dalem, I Gusti Ayu Kaler juga membawa keris pusaka yang bernama Ki Pencok Sahang.

Kekebalan Dalem Bungkut terbukti dengan patahnya keris pusaka pemberian Dalem di Gelgel ketika terjadi perang tanding antara I Gusti Ngurah Jelantik Bogol melawan Dalem Bungkut setelah mempergunakan pusaka istrinya, yaitu Ki Pencok Sahang. Dengan gugurnya Dalem Bungkut tahluklah daerah Nusa Penida dan itu berarti berhasillah ekspedisi penyerangan yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Jelantik Bogol. Kemenangan yang diperoleh laskar Gelgel di bawah pimpinan Jelantik Bogol telah menambah keharuman nama Jelantik Bogol sebagai pendekar perang yang gagah berani. Di sinilah letak puncak penonjolan pweranan I Gusti Ngurah Jelantik Bogol selama pengabdiannya terhadap Dalem Di Made. Dalem makin senang dan penuh kepercayaan terhadap kesetiaan I Gusti Ngurah Jelantik Bogol khususnya dan keluarga Jelantik pada umumnya.

Ketika Dalem Di Made harus menghadapi pemberontakan dalam negeri yang dilakukan oleh manca agung kepercayaannya (p.70), yaitu I Gusti Agung Maruti, I Gusti Ngurah Jelantik Bogol sendiri tidak sempat melanjutkan pengabdiannya karena beliau sudah wafat akibat lanjut usia semasa I Gusti Agung Maruti memangku jabatab patih di kerajaan Gelgel. Tetapi cucunya bernama I Gusti Ngurah Gede (Jelantik ke-IV) telah melanjutkan dan menunjukkan kesetiaannya kepada Dalem Di Made dengan bukti berhasil mengahalau pasukan Pasuruhan yang telah mendarat di pantai Kuta yang ingin menyerbu keraton Gelgel (Babad Belah-batu, diterjemahkan oleh I Wayan Surpa; Kabupaten Badung; Yayasan Parisada Hindu Dharma, 1974, 1p. 1b).

Keberhasilan I Gusti Ngurah Jelantik Bogol dapat mengalahkan Dalem Bungkut sebagai raja daerah Nusa Penida dan I Gusti Ngurah Gede berhasil juga menghalau musuh dari Pasuruhan yang telah mendarat di pantai Kuta, dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa pada masa pemerintahan Dalem Di Made kerajaan Bali yang berpusat di Gelgel pernah mencapai jaman keemasannya. Tetapi, sayang setelah adanya pemberontakan yang dilakukan oleh I Gusti Agung Maruti, keraton Gelgel mengalami keruntuhan.

Menurut pendapat kami, berperanannya I gusti Ngurah Jelantik Bogol pada masa kerajaan Gelgel yang diperintah oleh Dalem Di Made, dengan bukti bahwa daerah Nusa Penida yang merupakan sumber kekacauan berhasil diamankan oleh Jelantik Bogol dengan jalan membunuh rajanya yang bernama (p.71) Dalem Bungkut. Hal yang menyebabkan I Gusti Ngurah Jelantik Bogol sampai bisa berperan penting di kerajaan Gelgel, si samping karena karisma routine yang telah diperolehnya secara genealogis dari ayahnya, juga karena kasaktian keris Ki Pencok Sahang yang berhasil dipergunakan untuk membunuh Dalem Bungkut.

Demikianlah berbagai faktor yang dapat kami kemukakan untuk menempatkan status I Gusti Ngurah Jelantik Bogol dalam berbagai peranan pada masa pemerintahan Dalem Di Made.

Bibliography I - Daftar pustaka I (Ratnasi)

  • Babad Belah-batu, Koleksi Gedong Kirtya, Singaraja
  • Babad Belah-batu, Koleksi Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar
  • Babad Belah-batu, Koleksi Puri Belah-Batu, Gianyar
  • Babad Belah-batu, Terjemahan I Wayan Surpa, Yayasan Perisada Hindu Darma, Kabupaten Badung
  • Babad Buleleng, Koleksi Gedong Kirtya, Singaraja
  • Babad Catus Yuga, Koleksi Gedong Kirtya, Singaraja
  • Babad Dalem, Koleksi Puri Keramas, Gianyar
  • Babad Jelantik, Koleksi Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar
  • Babad Pungakan Timbul, Koleksi Gedong Kirtya, Singaraja
  • Babad Rusak I Gusti Pande, Koleksi Gedong Kirtya, Singaraja
  • Kidung Pamancaqngah Dalem, Koleksi Puri Keramas, Gianyar
  • Nawa Sesana, Koleksi Gedong Kirtya, Singaraja

Bibliography II - Daftar pustaka II: sekunder (Ratnasi)

  • Berg, C.C. (1927) - De Middeljavaansche Historische Tradities; De Geschiedenis van het rijk Gelgel; Thesis. Leiden, tanpa penerbit
  • Berg, C.C. (1932) - Babad Blah-Batuh, Sanpoort, Uitgeverij C.A. Mees
  • Yamin, H. Moh (1962) - Tatanegara Madjapahit, parwa III, Djakarta; Yayasan Prapantja
  • Koentjaranignrat (1974) - Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Jakarta; Dian Rakyat
  • Kidung Pamancangah, diterjemahkan olah Goro Sirikan, Denpasar, Balimas 1957
  • Kartodirjo, A. Sartono (1969) - Struktur sosial dari masyarakat tradisional dan kolonial; Lembaran Sedjarah No. 4, Yogyakartal Seksi Penelitian Djurusan Sadjarah Fakultas Sastra dan kebudayaan Universitas Gadjah Mada
  • Kartodirjo, A. Sartono (1974) - Kepemimpianan di dalam Sejarah Indonesia; bulletin Yayasan Perpustakaan Nasional, no.1, Jakarta, Yayasan Perpustakaan Nasional
  • Putra (1976) - Putra sasana, Warta Hindu Dharma, Denpasar, Parisada Hindu Dharma
  • Rereg, Ida Anak Agung Made - Babad Bali Rajie, Klungkung, Pustaka Murni
  • Subaga, I Wayan (1971) - Babad Buleleng, Majalah Duta Warga no.3, Denpasar; Yayasan Ikatan Warga Sanak Pitu
  • Tuuk, van der D.H.N. (1912) - Kawi Balineesch Nederlands Woordenboek, Deel IV, Batavia, Landsdrukkerij
  • Utrecht, R. (1962) - Sedjarah Hukum Internasional di Bali dan Lombok, Sumur Bandung

Source

  • Ratnasih, I Gusti Ayu (1977) - Peranan I Gusti Ngurah Jelantik Bogol pada jama pemerintahan Dalem Di Made; skripsi diajukan kepada panitia ujian Fakultas Sastra Universitas Udayana di Denpasar, guna memnuhi salah satu syarat untuk memenuh ujian sarjana muda dalam Ilmu Sejarah; Denpasar, Maret 1977

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24