Acculturation Hindu-Buddha (Winata, 2015)

I Ketut Winata (2015) at the history department of Udayana University Denpasar, Bali, published a thesis called 'Akulturasi Hindu Buddha di Pura Goa Giri Putri Desa Pekraman Karangsari, Kecamatan Nusa Penida, Kebupaten Klungkung 2007-2014', loosely translated as 'Hindu Buddha Acculturation at Goa Giri Putri Cave, Karangsari, Nusa Penida, 2007-2014'. He discusses the acculturation of Hindu and Buddha religious elements as a harmonious process, initiated by the Hindu community at Karang Sari, Nusa Penida.

winata2015-akulturasi-coverAbstrak

(p.xxv) Masuknya budaya Hindu Buddha di Indonesia menyebabkan munculnya akulturasi. Akulturasi merupakan perpaduan dua budaya, di mana kedua unsur kebudayaan bertemu, dapat hidup berdampingan dan saling mengisi serta tidak menghilangkan unsur-unsur asli dari kedua kebudayaan tersebut. Keberadaan keperayaan Hindu-Buddha di Pura Goa Giri Putri, Desa Pekraman Karangsari, Kecamatan Nusa penida, Kabupaten Klungkung, ada dalam tatanan budaya Bali yang bernafaskan agama Hindu. Kedua unsur kepercayaan tersebut dapat berdampingan dan saling mengisi serta tidak menghilangkan unsur-unsur asli dari kedua kebudavan. Akulturasi Hindu-Buddha yang masuk di Pura Goa Giri Putri ini tidak diterima begitu saja, melainkan melalui proses pengolahan dan penyesuaian dengan kondisi kehidupan masyarakat Hindu asli dengan struktur kemasyarakatan yang diwarisi sampai sekarang.

Masalah penelitian dirumuskan: 1) Faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya akulturasi Hindu Buddha di Pura Goa Giri Putri, Desa Pekraman Karangsari, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung?, 2) Bagaimana bentuk akulturasi kepercayaan Hindu Buddha di Pura Goa Giri Putri, Desa Pekraman Karangsari, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung?, dan 3) Bagaimana implikasi akulturasi Hindu Buddha bagi masyarakat di Desa Pekraman Karangsari, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung ?. Tujuan penelitian ini yaitu: 1) Untuk memahami faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya akulturasi Hindu Buddha di Pura Goa Giri Putri Desa Pekraman Karangsari, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, 2) Untuk mendeskripsikan bentuk akulturasi kepercayaan Hindu Buddha di Pura Goa Giri Putri, Desa Pekraman Karangsari, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, dan 3) Untuk memahami implikasi akulturasi Hindu Buddha bagi masyarakat di Desa Pekraman Karangsari, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung.

Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodologi sejarah, sedangkan teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: teori interaksionalisme simbolik, teori fungsional struktural, teori perubahan sosial, dan teori interkasi sosial. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah: observasi, wawancara, kepustakaan dan dokumentasi. Dengan penyajian analisis data menggunakan metode deskriptif-kualitatif.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini dapat disajikan. Penyebab terjadinya akulturasi Hindu Buddha di Pura Goa Giri Putri, ialah: religi Hindu Buddha, pemujaan Hindu Buddha, dan sarana dan prasarana persembahyangan Hindu Buddha di Pura Goa Giri Putri. Bentuk akulturasi kepercayaan Hindu Buddha di Pura Goa Giri Putri, ialah: dalam struktur dan arsitektur Pura Goa Giri Putri, dalam pengemong dan pemedek Pura Goa Giri Putri, dan dalam upacara dan upakara di Pura Goa Giri Putri. Implikasi akulturasi Hindu Buddha bagi masyarakat di Desa Pekraman Karangsari: implikasi sosial, implikasi ekonomi, implikasi religius, implikasi magis, dan implikasi pengobatan (usada). Kata kunci: Akulturasi, kepercayaan Hindu Buddha, Pura Goa Giri Putri.

Source

  • Winata, I Ketut (2015) - Akulturasi Hindu Buddha di Pura Goa Giri Putri Desa Pekraman Karangsari, Kecamatan Nusa Penida, Kebupaten Klungkung 2007-2014; Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Udayana, Denpasar

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman www.godidijkman.nl social facebook box white 24