Novel 'Noesa Penida' (Asmara, 1949) Part I Ch. I-II

Below article is a rendering of a novel called 'Nusa Penida' by Andjar Asmara, published in 1949, Part I Chapters I & II. For reasons of readability, only the spelling has been adapted to modern Indonesian spelling (Ejaan Yang Disempurnakan).

asmara nusapenida 1949

BAHAGIAN PERTAMA - BAB I / PART I - CHAPTER 1 (p.1-13)

SINAR MATAHARI pagi berkilau-kilauan di lautan yang tenang di dalam lingkungan Teluk Padang. Teluk yang indah permai ini kelihatan sebagai kolam yang lebar, yang sebahagian sebelah darat dilingkungi bukit-bukit kecil yang banyak terdapat di bahagian Selatan dari pesisir pulau Bali. Kalau dari tempat ini pandangan dilayangkan ke Utara, maka bukit-bukit ini nampaknya sebagai pengujung dari kaki gunung Batur yang puncaknya kelihatan jauh di sebelah Utara.

Ombak memecah di sepanjang pantai, meneruskan kemauan alam dari abad ke abad. Angin berhembus menggerakkan daun-daun pohon-pohon kelapa, bagai melambai melindungi rumah-rumah penangkap ikan yang terbuat dari pada tanah liat, bertudung daun ilalang, berjejer seperti kotak-kotak di sepanjang pantai.

Pantai panjang yang lurus membujur itu terputus ketika sampai di permulaan bundaran Teluk Padang, karena bertemu dengan sebuah sungai kecil yang tiba-tiba keluar dari dalam hutan. Sungai ini mencari jalan di antara pepohonan yang lebat, membelok sebelok, dan ketika sampai di tempat yang agak curam barulah ia mengalir lurus ke dalam laut, menjadi perbatasan sebuah kampung kecil yang terletak di sebuah dataran di atas tebing.

(p.4) Karena dibatasi oleh laut dan sungai tadi, kampung di atas tebing ini nampaknya sebagai suatu pulau kecil yang letaknya lebih tinggi dari pada yang Iain-lain. Di bahagian sebelah Barat, di tepi sungai itu, berjejer perahu-perahu penangkap ikan yang pada hari ini tidak ke laut. Tidak jauh dari perahu-perahu ini terbentang pukat yang dijemur, di sana sini duduk beberapa orang laki-laki sedang memperbaiki pukat itu sambil bernyanyi, dengan tidak mengacuhkan babi, ajam dan itik yang sedang berkeliaran di sekeliling mereka.

Sepanjang tebing yang agak ketinggian itu berleretlah rumah-rumah mereka yang sederhana. Turun temurun dari bapa kepada anak, mereka jadi penangkap ikan, hidup dalam kesederhanaan dan aman sentosa, tidak mengehendaki kemewahan atau keduniaan. Siang dan malam mereka bekerja untuk mencari sesuap nasi bagi anak dan isteri; kalau tak ke laut, mereka memperbaiki pukat dan kalau ke laut kerap kali mereka bersabung nyawa kalau mendapat angin yang kurang baik, atau berhadapan dengan taufan dan badai. Bahaya yang kerap kali mereka hadapi menjadikan tukang penangkap ikan ini segolongan manusia yang tawakkal dan jujur.

Mereka yang mendiami rumah-rumah tanah liat ini, mendirikan kampung kecil itu di atas tebing yang agak ketinggian, agaknya supaya terhindar dari bahaya air pasang; entah tahukah mereka bahwa ke mana mata memandang mereka senantiasa dikelilingi oleh keindahan alam yang akan menggetarkan jiwa tiap-tiap penyair. Di sebelah Barat kelihatan pantai panjang yang lurus yang kemudian berbelok ke arah Badung. Mereka yang hendak ke Badung banyak menggunakan jalan sepanjang pantai ini dan (p.5) kemudian tembus ke jalan kampung sebab lebih dekat dan oleh sebab pada waktu itu jalan raya belumlah teratur dan banyak pula berbatu-batu.

Sepanjang sungai kecil tadi nampaklah jalan kampong yang menuju ke Kosambi, yang termasuk ke dalam daerah Klungkung. Jalan ini dipergunakan oleh kaum penangkap ikan kalau mereka hendak ke pasar menjual ikannya atau hendak membeli keperluan makan sehari-hari.

Kalau berdiri di atas tebing itu melihat ke Selatan, nampaklah Nusa Penida, bagai panjang membujur dari Timur ke Barat. Pulau ini sangat ditakuti, karena pada waktu itu dipergunakan jadi tempat pembuangan bagi mereka yang berbuat kesalahan melanggar adat atau kesalahan berat. Nampaknya seakan-akan amat dekat ia dari tepi pantai ini, padahal kalau dicapai dengan perahu, mengehendaki waktu beberapa jam lamanya, atau kalau mendapat angina buruk boleh jadi setengah hari.

Beberapa layar-perahu kelihatan memutih diantara pantai dan Nusa Penida. Perahu-perahu itu kelihatan semakin lama semakin dekat, melancar sedang menuju pulang. Kedatangan perahu-perahu itu menerbitkan kegemparan di antara kanak-kanak dalam kampung itu. Mereka berlari ke tepi pantai hendak menyongsong mereka. Kanak-kanak ini masih terlalu muda untuk dibawa ke laut, tetapi perhatian mereka terhadap laut dan sekalian pekerjaan ayahnya sudah mulai kentara, walaupun dalam usia semuda itu perhatian itu lebih banyak ditujukan kepada kesenangan melihat layunya perahu layar kalau dihembus angin. Darah penangkap ikan yang mengalir dalam tubuh kanak-kanak ini mendatangkan cemburu terhadap saudara-saudara (p.7) mereka yang lebih tua, yang sudah dibolehkan membantu ayahnya ke laut. Pun sikap jejaka-jejaka yang telah mulai berlayar itu kelihatan berlainan, sebagai mereka hendak menunjukkan kepada adik-adiknya bahwa mereka sudah masuk dalam golongan dewasa, karena telah dibolehkan ikut mengail, walaupun ikut memukat mereka belum dibawa serta.

Ketika perahu I Murda mendekati pantai, I Jaya telah berdiri di bahagian depan perahu itu, bersedia hendak melompat ke bawah kalau perahunya telah mulai kandas ke pasir. Tegaknya lurus memandang kepada kawan-kawan yang berkumpul di tepi, dadanya dibusungkan, sebagai juga ia hendak menunjukkan kepada mereka: “Lihatlah aku ini!”

Sekalian kawan-kawan yang sedang menanti itu semua teman bermain sehari-hari. Mereka menganggap I Jaya sebagai jejaka, walaupun usianya belum sampai kepada dewasa, tetapi karena badan I Jaya yang tegap dan kelakuan, keberanian dan kejujurannya ia disegani dan ditakuti oleh kanak-kanak sekampung itu.

I Jaya berteriak-teriak memanggil-manggil beberapa temannya, sambil matanya mencari dan mengenali sekalian kanak-kanak yang sedang berkumpul menanti perahu-perahu itu. Semua kanak-kanak itu jelas dilihatnya, dikenalnya seorang demi seorang, tetapi matanya masih mencari, sebagai tak puas karena tak menemui yang dikehendakinya, yaitu I Pageh, adiknya dan Gusti Ayu Pandan Sari yang belum kelihatan. Biasanya, tiap-tiap ia kembali dengan ayahnya dari laut, mereka selalu ada di tepi pantai, tetapi apa sebab sekali ini mereka tak kelihatan ?

(p.7) I Jaya nampaknya agak kurang senang, maksudnya tak berhasil. Ia tegak di bahagian depan dari perahu itu sebenarnya hendak memanggil I Pageh dan Gusti Ayu, hendak mengabarkan kepada mereka bahwa ayah dapat memancing seekor ikan tongkol sebesar betisnya. Ikan ini yang hendak ditunjukkannya kepada mereka, tetapi I Pageh dan Gusti Ayu tak kelihatan. Setelah perahu dekat benar ketepi teranglah muka kanak-kanak itu dilihatnya seorang demi seorang, nyata sekarang bahwa I Pageh dan Gusti Ayu tak ada di antara mereka.

- Kalau belum rapat benar ke tepi janganlah kau turun dahulu, Jaya!, demikianlah terdengar suara I Murda yang sedang memegang kemudi di belakang. Ia memberi nasehat itu karena tahu akan keberanian anaknya, yang kadang-kadang berwatas kepada sia-sia, karena acap kali perbuatan I Jaya mencemaskannya.

- Sekarang sudah dekat, ayah, sebentar lagi saja terjun. Sekonyong-konyong perhatian I Jaya tertarik oleh tanda-tanda yang diberikan oleh I Parta dari tepi. Tangan I Parta dikepal-kepalkan sebagai tinju dan diadu-adunya, lalu ia menunjuk berkali-kali ke kampung, sambil menyebut-nyebut nama I Pageh. Apakah yang hendak dikatakan oleh sahabatnya I Parta itu dengan isyarat meninju-ninju sambil menyebut-nyebut nama I Pageh...? Sekonyong-konyong I Jaya mengerti isyarat itu: I Pageh bertinju, adiknya sedang berkelahi! Inilah yang dipanggilkan oleh I Parta. I Parta mengajak ia ke tempat perkelahian itu bersama-sama!

Meskipun pada saat itu perahunya belum kandas dan lautan masih agak dalam, I Jaya telah melompat ke dalam air lalu berenang ke tepi. Ia sudah tak mengindahkan (p.8) nasehat ayahnya, sebab ia tahu akan kewajibannya sebagai saudara tua tak boleh membiarkan adiknya berkelahi seorang diri! Siapakah yang berani menantang I Pageh? Hatinya menggelagak, kalau waktu itu ia bersayap, maulah ia terbang ke tempat itu supaya lekas sampai.

I Murda berteriak-teriak, menggerutu panjang pendek, memanggil nama I Jaya berkali-kali, tetapi sudah tidak didengarnya, sebab pada saat itu kedua kanak-kanak itu sudah menyeberangi sungai dan hampir sampai ke kampung. Di belakang mereka kanak-kanak yang lain berduyun-duyun mengikutkan mereka, karena hendak mengetahui bagaimana kesudahannya perkelahian itu kalau telah dicampuri pula oleh I Jaya. Mereka semua tahu keberanian dan kekuatan I Jaya. Sekarang perkelahian itu tentu akan tambah hebat!

Dengan seketika tepi laut yang tadinya penuh dengan kanak-kanak itu sekarang kelihatan kosong, rupa-rupanya perkelahian yang akan mereka tonton itu lebih penting dan lebih meriah dari pada kedatangan perahu-perahu ayah mereka.

I Jaya menaiki tebing sambil berlari cepat. Dengan seketika ia telah sampai di atas, lalu berdiri sebentar sebagai seorang pahlawan, melihat ke kiri dan ke kanan.

- Dimana, Parta?

Ia bertanya kepada kawannya yang dengan susah payah menaiki tebing itu karena kalah cepat dengan I Jaya.

- Di dekat tempat menyabung ayam! I Parta menyahut.

Mendengar jawaban I Parta itu I Jaya telah hilang pula, menuju ke tempat yang ditunjukkan itu. Badannya yang tegap sangat enteng kelihatannya kalau ia sedang berlari, seakan-akan melayang dari sebuah sudut rumah ke sudut (p.9) yang lain. Tak lama antaranya sampailah ia ke dekat tempat menyabung ayam itu. Dari jauh telah dilihatnya sekumpulan kanak-kanak berkerumun, bersorak-sorak, sebagai menonton suatu pertunjukan yang hebat.

I Pageh sedang bergulung-gulung di tanah dengan lawannya, yang badannya lebih besar dari ia sendiri. Sebentar I Pageh yang di bawah, tetapi dengan seluruh kekuatannya dapat ia membalik badannya sehingga musuhnya tertelentang, lalu dipegangnya sekeras-kerasnya supaya jangan dapat bergerak lagi. Ketika I Pageh hendak menduduki perutnya ia sangat heran, sebab musuhnya sudah tak melawan lagi, malah melepaskan dan melemaskan tangannya sambil melihat dengan ketakutan ke jurusan I Jaya yang kelihatan datang berlari.

- Jaya datang, Pageh! Lepaskan aku! Lepaskan...!

Mendengar nama I Jaya yang sangat ditakuti itu kanak-kanak yang sedang berkerumun di sekeliling lalu bertebaran kian kemari, menjauhkan diri, sebab kalau I Jaya telah campur tangan mereka tak berani mendekati.

I Pageh menoleh melihat kakaknya datang menolong. Waktu itu digunakan oleh musuhnya untuk melepaskan dirinya, lalu berdiri dan bersedia hendak lari, tetapi sedang ia berdiri sebagai orang mabuk itu, telah dirasanya tangan I Jaya dikuduknya, suatu pegangan yang keras yang tak dapat dilepaskannya. I Jaya mengocok kepala anak itu beberapa kali sambil bertanya:

- Engkau berani dengan yang lebih kecil? Kalau engkau berani jangan sama Pageh, tetapi dengan saja!

- Tidak, saja tidak berani...! Ampun! Lepaskanlah aku!

(p.10) Anak itu menjerit meminta ampun, sebab ia tahu bahwa I Jaya bukan lawannya. Ia takut kalau-kalau I Jaya memukulnya dan mengajak ia berkelahi, tentu ia tak tahan. Tetapi dugaannya itu meleset sebab bukanlah demikian sifat I Jaya. Ia marah, karena yang melawan I Pageh itu lebih besar badannya dari pada adiknya, tetapi ia tahu pula bahwa ia sendiri lebih besar lagi dari pada anak ini. Ditendangnya sekali tentu rebah.

Dikocoknya kepala anak itu sekali lagi lalu dilepaskannya tendangan yang tidak seberapa keras di bahagian belakangnya, yang hanya dimaksudkan sebagai hendak memberi pelajaran, sesudah itu anak itu dilepaskannya sambil berkata:

- Lekaslah lalu dari sini!

Anak itu mengambil langkah seribu, dilihatkan oleh I Jaya dengan bertolak pinggang. Sesudah itu ia menuju kepada I Pageh yang sedang membersihkan badannya dari pasir yang melekat di seluruh tubuhnya sampai kepada muka dan rambutnya.

- Mengapa engkau berkelahi Pageh ? tanya I Jaya, sambil menghampiri adiknya dan menolong membersihkan pasir yang melekat di bahagian punggungnya. I Jaya sangat sayang kepada adiknya. Bukan sekali dua kali ia melerai adiknya berkelahi, sudah acap kali. Dalam hatinya sebenarnya ia merasa bangga, karena I Pageh telah dapat mengalahkan seorang yang lebih besar badannya dari pada ia sendiri, tetapi yang menerbitkan amarahnya ialah adiknya ini tak boleh disinggung orang. Ia sering mengatakan kepada kawan-kawannya, kalau ada orang yang berani mengganggu (p.11) I Pageh, haruslah lebih dahulu berhadapan dengan dia sendiri. I Pageh diperlindunginya dalam segala hal.

I Pageh belum dapat menjawab karena nafasnya masih sesak.

- Apakah ia mengganggu kau? tanya I Jaya lagi.

- Bukan... bukan aku yang diganggunya,... tetapi Gusti Ayu, sampai Gusti Ayu menangis...

- Gusti Ayu...? Ia ganggu Gusti Ayu sampai menangis?

I Jaya berkata demikian sambil menunjukkan ke gusarannya. Giginya digertakkan, matanya menyala. Untunglah anak tadi sudah tak ada lagi pada tempat itu, kalau ia ada entah apalah yang akan terjadi.

Benar, I Jaya terkenal sebagai anak yang berani dan kuat dalam kampung itu, tak seorangpun yang berani melawan dia, tetapi keberaniannya itu teristimewa dipergunakannya untuk memperlindungi yang lemah, lebih-lebih lagi untuk menjaga keselamatan adiknyaI Pageh dan Gusti Ayu Pandan Sari. Sifat ini tidak seorangpun yang mengajarkan pada I Jaya, tetapi telah menjadi darah dagingnya. Tiap-tiap ada perselisihan dengan anak-anak kampung yang lain selalu I Jaya datang menyelesaikan. Ini pulalah yang menjadikan I Pageh dan Gusti Ayu Pandan Sari sangat manja pada I Jaya, walaupun usia mereka bertiga hanya berselisih beberapa tahun saja.

- Dimana Gusti Ayu, Pageh ? tanya I Jaya.

- Tadi ia di situ, sedang menangis, jawab I Pageh sambil menunjukkan sebuah rumah, yang tidak seberapa jauh dari tempat mereka berdiri.

(p.12) I Jaya lalu meninggalkan I Pageh dan membelok ke belakang rumah yang ditunjukkan oleh I Pageh itu. Didapatinya Gusti Ayu sedang berdiri menyembunyikan mukanya, sambil menangis bertekan dengan tangan kirinya pada dinding rumah itu. I Jaya menghampirinya sambil bertanya:

- I Jiwa tadi mengganggu Gusti Ayu?

Sebenamja ketika I Jaya sampai ke tempat itu tangis Gusti Ayu Pandan Sari telah reda, tetapi mendengar pertanyaan itu air matanya mencucur lagi. Ia menangis pula tersedu-sedu.

- Sudahlah, Gusti Ayu, janganlah diingat lagi. I Jiwa sudah mendapat hukumannya. Marilah pulang!

Sambil berkata demikian diletakkannya kedua tangannya di atas bahu Gusti Ayu. Gusti Ayu menelan tangisnya dengan tersedu-sedu, sambil menghapus matanya yang basah dengan kedua belah tangannya. Rambutnya yang kusut diselesaikannya.

Dalam keadaan demikian gadis tanggung ini kelihatan amat cantik, matanya yang basah, rambutnya yang tidak terurus sebagai menambah kecantikannya yang tidak dibuat-buat. Warna kulitnya yang sebagai sawo matang hampir tak berbeda dengan warna kulit I Jaya yang berdiri disisinya, karena hidup bertelanjang badan dan setiap hari ditimpa panas matahari. Tetapi walaupun demikian raut mukanya yang sebagai daun sirih, keningnya yang agak lebar, hidungnya yang hampir runcing dan kulitnya yang halus itu, menandakan bahwa ia tidak sebangsa dengan I Jaya, bahkan dengan anak-anak kampung yang lain.

(p.13) I Jaya menantikan Gusti Ayu menyelesaikan rambutnya dengan hormatnya. Walaupun belum jelas baginya seluk-beluk apa sebab gadis yang cantik ini dibesarkan bersama-sama dengan dia dan I Pageh, penangkap ikan, I Jaja sudah mulai mengerti bahwa orang yang diperbasakan dengan “Gusti Ayu" itu ialah orang turunan bangsawan yang harus dihormati. Sejak ia kecil Gusti Ayu sangat dibedakan oleh ayahnya. Meskipun mereka selalu bersama-sama, ke sana ke mari bermain-main, tetapi tentang makanan umpamanya, ayah sangat menjaga, supaja Gusti Ayu jangan termakan makanan lebihan dari dia atau I Pageh. Pun tentang tidurnya amat dijaga oleh ayah. Gusti Ayu tak boleh tidur di bawah, atau di tempat yang lebih rendah dari mereka. Dahulu, waktu kecil belum dapat ia menafsirkan perbedaan ini, tetapi sekarang sesudah ia hampir dewasa banyaklah ia mendengar dari orang-orang sekampung bahwa seseorang turunan Satrya haruslah diperlakukan demikian rupa. Walaupun sekali ia dibesarkan di kalangan Sudra, tetapi derajatnya tak boleh dihilangkan. Sekedar keterangan itu yang diketahui oleh I Jaja dan sejak waktu itu ia memperlakukan Gusti Ayu Pandan Sari dengan sangat hormat dan berhati-hati, meskipun dalam hatinya Gusti Ayu sudah tak berbeda sebagai adiknya, karena selalu bersama-sama sejak kecil.

Setelah selesai rambut Gusti Ayu dipimpinnya bahu gadis ini dengan kedua tangannya. Mereka lalu menuju pulang, diiringkan oleh I Pageh dari belakang.

BAHAGIAN I - BAB II / PART I - CHAPTER 2 (p.14-35)

KETIKA I Murda sampai ke rumah ia heran mendapati keadaan yang sepi dalam rumah itu. Seorangpun tak ada di rumah. Ia memanggil-manggil, tetapi seorangpun di antara anak-anaknya tak ada yang menyahut. Ia masuk ke dapur, dilihatnya makanan sudah tersedia dalam bakul, tetapi Gusti Ayu tak kelihatan. Dan I Jaya ke mana? Ia kira tadinya I Jaya berlari pulang ke rumah, ke mana dia...?

Sambil meletakkan dayung, topi dan pancingnya di atas sebuah balai-balai I Murda duduk sebentar melepaskan lelahnya. Ia mengeluh. Benar susah mengajar seorang anak yang masih suka bermain-main. I Jaya lebih mementingkan bermain-main dengan kawan-kawannya dari pada menolong ayahnya! Ia sengaja membawa I Jaya ke laut supaja ia mulai mempelajari pekerjaan di laut, karena usianya hampir dewasa, tetapi ikhtiarnya itu rupanya sia-sia. Belum sampai ke darat ia sudah melompat, meninggalkan perahu...!

I Murda menuju ke sebuah gendi di dapur hendak minum. Ketika ia menuangkan air terdengarlah anak-anaknya kembali. Pintu ditolakkan dari luar dan I Murda melihat Gusti Ayu masuk ke dalam diiringkan oleh I Jaya. Ia meletakkan gendi dan bersedia hendak memarahi I Jaya karena kelalaiannya, tetapi perhatiannya tertarik melihat mata Gusti Ayu yang merah karena menangis, rambutnya kusut dan ia berjalan menekur terus menuju ke dapur. Sebentar lagi I Pageh masuk pula, tetapi sebagai tak berani melihat muka ayahnya. Ia mencari dan memegang barang-barang yang dapat dipegangnia sebagai hendak bermain-main, (p.15) semata-mata hendak mengelakkan amarah ayahnya. Tentu ayah marah, kalau ayah tahu bahwa ia baru berkelahi!

- Mengapa Gusti Ayu menangis, Jaya? tanya ayahnya.

- Ia diganggu oleh I Jiwa ayah.

- Badanmu amat kotor kena pasir, Pageh! Sampai ke rambutmu melekat pasir. Dan... coba ke mari, apa sebab matamu yang sebelah kelihatan merah

Hati orang tua itu telah berkata. Tentu ada sesuatu hal yang terjadi yang hendak disembunyikan oleh anak-anak itu kepadanya. I Pageh berdiam diri, tidak menjawab. Ia mendekati ayahnya ketakut-takutan. Suara I Jaya lalu terdengar:

- I Pageh berkelahi, ayah!

- Hm, berkelahi, berkelahi lagi! Kalau aku tak di rumah tak lain kerjamu dari pada berkelahi.

- Bukan salah dia, ayah. I Pageh berkelahi karena membela Gusti Ayu. I Jiwa yang salah.

I Pageh sudah tak perlu lagi menjawab, sebab I Jaya telah membelanya. Ia lalu merebahkan dirinya disebuah tempat tidur kayu yang terletak di sudut. Tidak jauh dari tempat ia berbaring itu tergantung sebuah keris besar. Tangan I Pageh meraba-raba. Kalau ayah sedang marah baiklah mencari permainan supaya pikiran itu dapat dilengahkan... Keris itu diambilnya, lalu dicabutnya dari sarungnya. Sekonyong-konyong ia terkejut mendengar suara ayahnya dari belakang:

- Pageh! Jangan dipermainkan keris itu!

Ayah dengan cepat mendekati tempat tidur itu lalu mengambil keris itu dari tangan I Pageh. Dimasukkannya keris itu kembali ke dalam sarungnya, sambil berkata:

(p.16) - Keris ini adalah sebuah keris pusaka, yang mengandung riwayat penting. Dalam riwayat itu kamu sekalian tersangkut, oleh sebab itu kamu bertiga harus menghormatinya dan menjaga barang ini dengan berhati-hati.

Mendengar tegoran ayahnya itu I Pageh ketakutan, tetapi I Jaya yang sudah pandai berpikir lebih lanjut tertarik mendengarkan tegoran ayahnya itu. Ia tak menduga bahwa keris itu mengandung riwayat. Ia hanya mengira bahwa keris itu adalah sebuah keris tua yang dahulu kerap kali dipakai oleh ayahnya sewaktu mudanya. Ia telah mendengar bahwa dahulu ayahnya pernah menjabat pekerjaan negeri. Ia mengerjakan pekerjaan penangkap ikan ini ialah dalam beberapa tahun yang kemudian ini saja. Khabarnya dahulu di hari-hari besar ayahnya selalu berpakaian bagus, memakai kerisnya bersama dengan kawan-kawannya yang lain yang bekerja pada negeri. Ayahnya sendiri tidak pernah menceriterakan hal itu kepadanya, tetapi ia mendengar ceritera itu dari seorang tua, sahabat ayahnya. Orang tua ini tinggal di Kosamba dan ia mengetahui benar riwayat ayah waktu mudanya.

- Apakah keris ini yang sering ayah pakai dahulu kalau menghadap raja-raja, ayah? tanya I Jaya.

- Ayah memakai keris ini? Mana boleh jadi! Orang seperti ayah tak kan dapat memakai keris sebagus ini. Keris seperti ini hanya dipakai oleh orang-orang yang berbangsa dan berjabatan tinggi. Keris ini adalah sebuah keris peninggalan dari seorang Anak Agung, yang ayah kenal betul.

I Murda duduk dibalai-balai dan meletakkan keris itu di sebelahnya. Ia mengambil tempat sirih lalu mengisikan kapur dan gambir ke dalam sehelai sirih dengan tidak (p.17) berkata-kata. Ia sedang menimbang, apakah sudah sampai waktunya ia menceriterakan riwayat itu kepada anak-anaknya. Ia tahu bahwa lambat-laun harus diceriterakannya juga, untuk menjaga keselamatan mereka bertiga, teristimewa untuk melindungi Gusti Ayu Pandan Sari. Sampai sekarang belum diberitahukannya riwayat itu pada mereka, sebab pada hematnya mereka masih terlalu muda untuk memahamkannya, tetapi kalau ia pikir pula Gusti Ayu sudah gadis tanggung dan badan I Jaya sudah semakin besar, sedikit hari lagi ia akan dewasa. Ia harus mengetahui seluk-beluk perhubungan mereka dengan Gusti Ayu.

Sedang I Murda berpikir itu I Jaya menghampirinya. Semangat mudanya yang suka kepada riwayat-riwayat lama yang banyak mengandung tamsil, keberanian dan kegagahan sebagai yang kerap kali ia dengar dari orang-orang tua, telah berkobar. Ia sangat ingin mengetahui riwayat keris ini. Perkataan ayahnya itu mengandung arti yang dalam. Apa sebab ayahnya mengatakan bahwa keris ini mengandung riwayat dan apa sebab mereka harus menghormati keris ini?

I Jaya duduk di sebelah ayahnya, lalu bertanya:

- Apakah Anak Agung itu sahabat ayah?

I Murda tersenyum.

- Mana boleh aku bersahabat dengan seorang Anak Agung ? Ia itu junjunganku. Dalam pekerjaanku sering benar beliau bertemu dengan ayah dan dipanggilnya ke dalam puri dan ayah sangat bersetia kepadanya, sampai ia memberikan keris ini kepada ayah karena sayangnya. Dan... ada lagi suatu barang yang mulia yang ia berikan pada ayah.

(p.18) - Apakah barang itu ayah? tanya I Jaya, sebagai tak sabar.

- Sebenarnya bukan barang berupa barang mati seperti ini, tetapi suatu mestika yang ia pertaruhkan padaku.

- Mestika apa ayah?

Sekalian pertanyaan yang dimajukan oleh I Jaya dengan tidak sabar itu memberi alamat pada I Murda, bahwa sesungguhnya telah sampai saatnya ia menceriterakan riwayat itu pada anak-anaknya. Ia tak dapat berkata-kata terus-menerus dengan teka-teki pada mereka. Lebih baik diceriterakannya seanteronya, agar mereka mengetahui duduk perkara yang sebenarnya dan ia merasa pula bahwa riwayat keris ini akan menjadi pagar bagi penghidupan mereka di kemudian hari.

- Jaya, katanya. Cobalah ambil daun lontar yang terletak di atas itu.

I Murda menunjukkan sebuah cerana dari pada kayu yang terletak di atas sebuah papan yang agak tinggi, di dekat tempat tidurnya. Di atas cerana itu terletak daun lontar yang telah berabu. Dari tahun ketahun I Jaya mengetahui tempat daun lontar itu pada tempat itu juga, tak pernah dipindah-pindahkan. Pada suatu kali pernah cerana dan daun lontar itu terjatuh, yang menjebabkan ayahnya amat marah. Ia masih ingat akan hal itu.

Cerana itu diturunkan oleh I Jaya, diletakkannya di hadapan ayahnya.

- Cobalah bersihkan dahulu abunya dan kamu sekalian marilah duduk ke mari. Pageh! Gusti Ayu!

- Saya sedang menghidupkan api, ayah.

(p.19) - Tinggalkanlah dahulu, Gusti Ayu, kita belum hendak makan. Marilah ke mari.

Sesungguhnya keadaan itu amat ganjil. Gusti Ayu seorang turunan Ksatrya memperbahasakan I Murda, seorang Sudra, yaitu bangsa orang kebanyakan, dengan “ayah", tetapi sejak kecil ia tak pernah mengenal ibu bapanya. Ia dibesarkan dalam keluarga ini dan sejak ia menjadi gadis tanggung ini, dengan sendirinya Gusti Ayu Pandan Sari telah mulai menduduki tempat sebagai ibu dalam rumah yang kecil itu, sebab sepanjang pengetahuannya sejak kecil ia tak pernah melihat seorang perempuan dalam rumah itu.

I Jaya dan I Pageh sudah dianggapnya sebagai saudaranya yang sebenarnya, tetapi dari orang-orang kampung ia mendengar bahwa anak-anak ini turunan Sudra dan tidak bisa jadi saudaranya yang benar karena berlainan derajat. Hal ini didengarnya dari mulut ke mulut, tetapi ia belum mengerti benar bagaimana seluk-beluk yang sebenarnya.

Gusti Ayu menghapus tangannya yang kotor lalu duduk di sebelah I Murda.

Setelah selesai I Jaya membersihkan cerana dan daun lontar itu dari pada abu yang tebal yang melekat dari tahun ke tahun, maka diletakkannyalah cerana itu kembali dihadapan ayahnya, lalu ia duduk di dekat ayahnya, di sebelah I Pageh. Dengan dikelilingi oleh ketiga anak itu I Murda memperbaiki silanya sambil menarik cerana itu lebih dekat kepadanya. Sambil mengunyah sirih dibukanyalah ikatan daun lontar yang panjang-panjang itu, yang berangkai sebagai buku, diperhatikannya sehelai demi sehelai. Tulisan aksara Bali pada daun lontar itu walaupun telah berwarna kuning masih amat terang dibaca, meskipun usianya telah (p.20) bertahun-tahun, hanya mata I Murda yang sudah agak payah membacanya, karena pemandangannya sudah mulai kabur.

Karena sudah lama daun lontar ini tak pernah dibukanya, dicarinya tempat-tempat catatannya perlahan-lahan. Sambil membalik-balik ia berkata:

- Riwajat yang hendak ayah ceriterakan ini bukanlah suatu dongeng, tetapi kejadian yang sebenarnya. Kejadian ini amat penting bagi kamu bertiga, malah ayah harap riwayat ini akan menjadi sendi dari penghidupanmu bertiga di kemudian hari. Kalau kamu sekalian telah mengetahui asal usul dan pertalian batin yang sangat erat, maka keyakinan itu haruslah menjadi pagar yang kuat antara kamu bertiga supaya hidup dalam rukun dan bela-membela.

I Murda berkata itu sambil memperhatikan tulisan pada daun lontar itu. Kemudian setelah diketahuinya tempat-tempat yang hendak dibacakannya, dilepaskannya daun lontar itu, diperbaikinya duduknya, lalu memulai kisahnya:

- Kira-kira duabelas tahun yang lalu, ayah belum tinggal di tepi laut ini, sebab ayah bekerja sebagai pegawai negeri di daerah Tabanan, yang waktu itu berada dalam aman sentosa. Yang menjadi raja waktu itu ialah Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai, seorang Satrya, yang bukan saja berdarah Satrya, tetapi dalam segala sifat dan perbuatannya menunjukkan kesatryaan, keadilan dan kerahimannya terhadap rakjatnya, sehingga ia sangat dikasihi dan disayangi oleh segenap anak buahnya. Tetapi rupa-rupanya kebaikan Anak Agung itu terhadap rakyatnya mendatangkan celaka bagi dirinya, sebab ia mempunyai banyak musuh, bukan (p.21) saja dari luar kerajaannya, tetapi di antara kaum kerabatnya sifat-sifat Anak Agung itu sangat tidak disukai.

Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai ialah seorang alim yang karena kealimannya sangat disegani oleh rakjat. Dalam sekalian perbuatan dan tingkah lakunya ia memberi contoh kepada pegawai-pegawainya. Sebagai raja yang adil ia mengehendaki supaya sekalian pegawainya dari atas sampai ke bawah bersifat adil pula, mendengarkan keluhan rakyat, menolong sedapat-dapatnya dan janganlah menghisap atau menindas kepada orang kecil dan miskin. Pendiriannya yang sangat dihargai dan yang selalu dipesankannya kepada pegawai-pegawainya ialah: keselamatan negeri itu tergantung dari pada nasib rakyat, kalau rakyat hidup dalam aman sentosa dan tidak dalam kekurangan, kalau penghidupan rakyat itu tidak disiksa sehingga mereka masing-masing dapat memenuhi kewajibannya terhadap negeri, maka dapatlah diharapkan negeri itu akan mengalami kesejahteraan. Teristimewa kaum Sudra merasa amat berbahagia mempunyai raja yang memperhatikan nasibnya itu.

Salah satu dari pada kebiasaan beliau yang sampai sekarang belum dilupakan oleh golongan yang tua-tua, yang waktu itu pernah menjadi rakyat Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai, ialah ronda kampung yang sering dilakukannya. Dengan diiringi oleh pegawai-pegawai tinggi beliau keluar masuk kampung memperhatikan penghidupan rakjat. Kalau mengadakan ronda itu beliau tak mau duduk dalam tandu keemasan sebagai kebiasaan raja-raja yang lain, kalau keluar dari purinya, tetapi beliau berjalan kaki sebagai pegawai-pegawai yang lain. Sampai kepada kampung yang sekecil-kecilnya beliau masuki, di sana sini beliau (p.22) bercakap-cakap dengan orang-orang kampung menanyakan perihal penghidupan mereka dan kerap kali beliau memberi pertolongan kepada orang miskin atau orang sakit, baikpun dengan uang, maupun dengan barang atau obat. Kebaikan beliau itu tersiar dari negeri ke negeri, yang menyebabkan pula negeri beliau makin lama makin ramai, karena kedatangan penduduk-penduduk baru yang hendak mengecap pula keadilan yang waktu itu kami rasakan.

Tetapi sebanyak orang yang sayang, sebanyak itu pula orang yang tak bersenang hati pada Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai. Golongan yang merasa kurang senang terhadap beliau ialah dari kaum bangsawan dan teristimewa di antara kaum kerabat beliau sendiri, sebab keadilan dan kerahiman Anak Agung itu terhadap golongan rendah dan miskin tidaklah mendatangkan kekayaan bagi kaum bangsawan yang menurut kebiasaan pada waktu itu hidup dalam kemewahan yang mereka dapat dari titik peluh rakyat dengan tidak mengindahkan nasib rakyat jelata, tidak hendak mengetahui dengan cara bagaimana pahitnya rakjat mengadakan uang pajak yang menurut kehendak mereka dipungut seberat-beratnya. Berkali-kali mereka mencoba hendak mempengaruhi Anak Agung supaja memerintah menurut kehendak mereka, tetapi tidak berhasil. Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai tetap memegang kemudi beliau dengan keadilan.

Lama-kelamaan perasaan kurang senang di antara golongan kaum kerabat beliau itu semakin menjalar, karena mereka merasa semakin terhalang menjalankan penghidupan kemewahan menurut hawa nafsu, mereka tak dapat berbuat sekehendak hati terhadap anak-anak gadis dan tak dapat menghukum dan merampas sesuka-sukanya, sebab (p.23) sekalian perbuatan yang demikian amat dicela dan dihukum berat oleh Anak Agung.

Hal ini sudah mulai diperbincangkan di kalangan rakyat, ayah mendengarnya hampir setiap hari dan rakyat memuji keteguhan iman raja kita, yang menentang sekalian pengaruh yang tak baik dari kaum kerabat beliau itu, pendeknya hampir tak ada ayah mendengar orang yang tak memihak kepada beliau.

Tetapi pada suatu hari seorang pegawai memberi tahukan pada ayah bahwa ia mendengar orang berbisik-bisik di tempat menyabung ayam. Hati ayah kurang senang sebab menurut katanya yang berkumpul-kumpul itu ialah mereka yang berkelakuan tidak baik didalam kampung, beberapa orang di antaranya sudah pernah menjalankan hukuman karena mencuri atau kejahatan yang lain. Ayah sangka mereka sedang berembuk pula hendak menjalankan sesuatu kejahatan, mencuri atau merampok sebagai yang biasa mereka lakukan. Ayah lalu menjuruh pegawai itu memperhatikan kelakuan dan perjalanan mereka sebab pada hemat ayah tentu tak lama lagi mereka akan melakukan kejahatan. Persangkaan ayah itu tidak salah, karena pada malam itu juga pegawai itu menyampaikan pada ayah bahwa penjahat-penjahat itu sedang mengumpulkan kawan-kawannya, tetapi alangkah terkejutnya ayah ketika pegawai itu mengabarkan bahwa maksud penjahat-penjahat itu ialah hendak merampok ke dalam puri pada malam itu dan hendak membunuh Anak Agung dan seantero keluarganya.

Mendengar kabar ini ayah lalu buru-buru hendak memberi tahukan hal ini pada pegawai-pegawai negeri yang lain, supaya dapat mengambil tindakan menghalangi maksud itu, (p.24) tetapi rupa-rupanya sudah tak dapat dicegah lagi. Belum jauh ayah meninggalkan rumah dengan pegawai yang memberitahukan kepada ayah tadi, ayah mendengar orang bersorak-sorak dan tidak berapa lama kemudian terdengarlah suara bedil meletus. Kemudian, setelah keributan itu selesai ayah mendapat keterangan, bahwa serangan itu sudah lama dirancang di luar kota di sebuah ladang, di kaki gunung, dengan dikepalai oleh seorang Satrya, yang sakit hati pada raja, itulah sebabnya kami tidak mengetahui suatu apa, karena pandainya mereka menutup rahasia. Dengan berdiam-diam mereka menyediakan senjata dengan dibelanjai oleh Satrya tadi, yang bermaksud hendak melenyapkan kekuasaan Anak Agung.

Mendengar letusan bedil itu ayah kawatir, sebab terdengarnya di dekat rumah kita. Yang ayah kawatirkan ialah ibumu yang tinggal di rumah sendiri dengan dua anak yang masih kecil, yaitu kamu berdua, I Jaya dan I Pageh. Ayah menyuruh pegawai teman ayah itu buru-buru memberi tahukan ke dalam puri, sementara itu ayah hendak balik sebentar ke rumah, melihat keadaan ibumu dengan anak-anaknya. Ketika ayah sampai di dekat rumah, benar saja penjahat-penjahat itu keluar dari rumah kita, bersenjatakan tombak, parang dan bedil. Dengan cepat ayah sempat bersembunyi di balik sebuah pagar menantikan penjahat-penjahat itu lewat. Mereka keluar dengan bersorak-sorak mengancam pada orang-orang kampung dan mengatakan bahwa siapa yang melawan, atau siapa-siapa yang masih bersetia kepada raja akan dibunuh. Dari percakapan mereka ayah mengerti bahwa mereka masih mencari ayah dan ayahpun maklum (p.25) apa sebab ayah dicari, karena mereka tahu ayah seorang pegawai yang bersetia kepada raja.

Setelah penjahat-penjahat itu agak jauh dari rumah kita, ayah melihat ke kiri ke kanan, seorangpun tak ada yang kelihatan. Semua rumah-rumah yang berkelilingan ditutup, karena orang takut penjahat-penjahat itu akan menjerbu ke dalam rumah.

Tetapi rupa-rupanya rumah-rumah sekeliling rumah kita tidak dimasuki oleh kaum penjahat itu, mereka hanya mencari rumah-rumah pegawai negeri yang menurut pada adatnya berpihak kepada Anak Agung. Persangkaan ini dapat ayah tetapkan kalau memperhatikan arah penjahat-penjahat itu berjalan, yaitu ke sebuah rumah kawan ayah, yang tidak seberapa jauhnya. Benar saja, tidak lama kemudian ayah mendengar teriakan perempuan dan anak-anak dari jurusan itu dan ketika ayah hendak lari ke dalam rumah, ayah melihat asap dan api bergumpal-gumpal naik ke atas dari jurusan puri Anak Agung. Rupa-rupanya kaum penjahat yang kejam itu tidak saja membunuh, tetapi pun membakar rumah-rumah orang yang ditujunya. Hal ini tambah mengkawatirkan ayah. Buru-buru ayah naik ke atas rumah dengan maksud hendak membawa lari ibumu dan kamu berdua.

Ayah dapati pintu terbuka, sesudah ditinggalkan oleh kaum penjahat tadi belum ditutup lagi. Lampu mati dan dalam keadaan gelap gelita itu ayah mendengar tangis dua orang anak, jaitu kamu, I Jaya dan I Pageh. Ayah memanggil-manggil nama ibumu, tetapi tidak mendapat jawaban, sedang tangismu berdua semakin keras memanggil ayah. Lekas ayah memasang lampu dan menanyakan dimana (p.26) ibumu. Pertanyaan ayah itu sudah tak usah berjawab lagi, karena jawabnya telah dapat ayah saksikan dengan mata sendiri. Ibumu menggeletak di tengah rumah diraungi oleh kamu berdua. Ayah terkejut lalu mendekati dan memeriksa ibumu yang terletak tidak bergerak, berlumuran darah itu. Ayah memanggil-manggil dan membangunkan ibumu, tetapi ia tak menyahut dan tak kan bangun lagi, karena... nyawanya telah meningalkan badannya...

I Murda terhenti sebentar berceritera. Ia batuk beberapa kali sebagai hendak menyembunyikan perasaannya yang terharu. Kemudian dengan suara yang serak diteruskannya:

Demikianlah ibumu yang tak berdosa telah mendapat kematian dalam ke adaan yang sangat menyedihkan di ujung senjata golongan penjahat yang sedang membuas kian ke mari mencari mangsanya.

Sedang ayah menimbang apa yang hendak diperbuat, di antara dua orang anak yang sedang meraung dan melulung ketakutan, terdengarlah pula sorak kaum penjahat itu sebagai orang yang telah mendapat kemenangan. Mereka berteriak-teriak. Sepanjang jalan: “Nyahkanlah mereka yang bersetia kepada Raja!!!!" Teriakan mereka itu semakin lama semakin dekat rumah kita.

Mendengar sorak mereka itu darah ayah mendidih. Ayah sudah tak ingat suatu apa lagi, pandangan ayah telah gelap. Dengan segera ayah mencabut keris hendak membalaskan kematian ibumu, lalu melangkah hendak keluar menemui kaum penjahat itu. Yang ayah ingat ialah ayah hendak membuat perhitungan dengan mereka dengan tidak memperdulikan bahwa ayah hanya seorang diri, sedang musuh itu banyak. Teriakan kamu berdua sudah tak terdengar oleh (p.27) ayah, tetapi pada waktu ayah hendak melangkahkan kaki keluar pintu ayah merasa kaki ayah dipegang dan ditarik. Demi ayah melihat, nampaklah kamu berdua I Jaya dan I Pageh, sedang bergantung pada kakiku, hingga ayah tak dapat melangkah. Inilah suatu petunjuk bagi ayah, bahwa ayah tak boleh melakukan pekerjaan itu. Boleh jadi kamu berdua menahan ayah keluar itu sambil melulung, semata-mata karena ketakutan dan karena perasaanmu mengatakan bawa akan terjadi bahaja yang lebih besar lagi, tetapi bagi ayah perbuatanmu kedua menginsyafkan dan menahan ayah dari pada melakukan suatu pekerjaan yang akibatnya sudah dapat diduga. Kalau ayah teruskan menyerbu ke barisan penjahat yang jumlahnya lebih banyak itu, seorang diri, amat tipis harapan ayah akan menang dan kalau ayah tewas bagaimanakah gerangan nasibmu sekarang, tak tahulah ayah...

Dalam sekejap mata ayah insyaf, lalu mendukung kamu berdua, menuju pintu belakang. Sebelum keluar pintu ayah melihat lagi sekali kepada mayat ibumu yang terbujur di tengah rumah itu, bermandi darah. Ayah tak dapat merawati mayat ibumu lagi, tetapi ayah percaya arwahnya akan membenarkan perbuatan ayah pada waktu itu, yaitu mencari keselamatan bagi kedua anaknya walaupun ayah terpaksa membiarkan mayatnya tergelimpang...

Musuh telah sampai dekat rumah, ayah meloncat ke bawah, melalui pintu belakang dan pada waktu mereka menaiki rumah, ayah telah bersembunyi di bawah rumpun bambu, di dalam ladang di belakang rumah. Dengan berdiam diri pada tempat itu bertiga beranak, ayah menyekap mulutmu (p.28) kedua supaya jangan bersuara. Hendak lari sudah tak sempat, tentu nampak dan dikejar oleh musuh.

Beramai-ramai mereka menaiki rumah kita sambil bersorak-sorak. Rupanya belum puas hati mereka belum menemui ayah, oleh sebab itu mereka kembali lagi. Rumah itu sebagai hendak runtuh karena sikap mereka yang sebagai binatang buas itu. Bermacam-macam teriakan dan makian yang ayah dengar dari tempat bersembunyi itu. Kemudian datanglah seorang yang berbadan tegap berteriak-teriak dari bawah. Ayah kenali orang ini sebagai penjahat yang sangat ditakuti dan telah berkali-kali menjalankan hukuman. Rupa-rupanya ia salah seorang pemimpin pemberontakan itu. Ia berteriak mengatakan: “Kalau tidak bertemu orangnya, bakar saja rumahnya!"

Penjahat-penjahat itu lalu turun ke bawah dan tidak lama kemudian rumah kita dimakan api; jerih payah ayah yang bertahun-tahun habis dalam sekejap mata dan ibumupun turut terbakar...

Ayah melihatkan kejadian ini dari tempat kita bersembunyi dengan tidak dapat berbuat suatu apa...

Setelah seketika lamanya ayah melihatkan lautan api itu dengan hati yang remuk dan perasaan yang bercampur gemas, karena tak dapat membalas, ayah rasakan panas yang amat sangat disekeliling kita. Ayah lihat orang-orang yang tinggal sebelah menyebelah kita sedang sibuk menurun-nurunkan perkakas rumahnya, perempuan dan kanak-kanak meraung-raung ketakutan. Setelah semua kaum penjahat itu meninggalkan tempat itu, keluarlah ayah perlahanlahan dari tempat ayah bersembunyi. I Pageh ayah dukung (p.29) dan kamu, Jaya, ayah bimbing di tangan kiri, sedang di tangan kanan ayah masih terpegang keris yang terhunus.

Ayah keluar dari tempat itu melalui jalan kecil yang menuju ke hutan. Ayah berjalan dengan tak bertujuan; yang ayah ingat pada saat itu hanya hendak menjauhkan diri kita bertiga dari tempat yang berbahaya itu. Pada waktu itu bulan tertutup oleh sekumpulan awan hujan yang tidak seberapa tebalnya, dalam keadaan terang-terang laras dapatlah ayah mencari dan menurut jalan kecil yang berkelok-kelok di antara semak-semak yang tebal itu.

Setelah agak jauh dari rumah kita yang terbakar itu bertemulah ayah dengan seorang yang sebagai ayah pun menjadi pegawai negeri. Teman ini sedang melarikan diri pula dengan isterinya, jadi berkumpullah kami yang senasib di dalam hutan kecil itu. Dari jauh dapatlah kami mendengar letusan bedil dan sorak kaum penjahat dan teriakan perempuan-perempuan dan kanak-kanak, ada yang melulung minta tolong, ada yang meraung sebagai orang gila... Pada beberapa tempat kelihatanlah asap dan api mengepul ke atas, rupanya kaum penjahat itu telah bertambah ganas dan membakar rumah-rumah pegawai-pegawai negeri. Api yang sangat besar kelihatan dari jurusan puri Anak Agung kita, rupanya benarlah puri ini telah menjadi korban kaum penjahat pula. Cemas kami memikirkan nasib Anak Agung dan keluarganya, tetapi apakah yang dapat kami perbuat dalam keadaan semacam ini...!? Masing-masing hanya dapat menyelamatkan diri dan anak bini, kalau tidak hendak menjadi korban senjata kaum penjahat yang buas itu, karena mereka (p.30) bersenjata lebih lengkap dengan tombak dan bedil, sedangkan kami hanya bersenjatakan sebuah keris...

Ayah merancang dengan teman ayah itu ke manakah kita hendak lari. Mulanya ayah pikir sebaik-baiknyalah kita mencoba melarikan diri dengan perahu, sebab ayah ada mempunyai sebuah perahu, yang kerap kali ayah pakai untuk memancing ikan. Pikiran ayah ini disetujui pula oleh teman ayah itu, tetapi setelah kami berjalan beberapa langkah nampaklah pula api mengepul dari tepi laut. Rupanya di sanapun sedang terjadi pengamukan, pembunuhan dan pembakaran. Kamu lalu berbalik surut. Hendak ke mana sekarang?

Sedang kami menimbang-nimbang itu datanglah beberapa orang perempuan dan kanak-kanak yang sedang melarikan diri pula. Rombongan ini dikepalai oleh seorang pendawa yang mengajak kita beramai-ramai bersembunyi di dalam pura. Bagaimanakah kalau kaum penjahat mencari kita di sana, demikianlah teman ayah bertanya.

- Jangan kawatir kamu sekalian, ujar pendawa itu, sejahat-jahat mereka, tiadalah mereka akan mencemarkan suatu tempat suci. Aku kenal pada semua orang yang menjalankan kejahatan ini dan aku tahu bahwa mereka tidak kan berani memperkosa kesucian pura kita. Serahkanlah hal ini padaku, marilah kita beramai-ramai berlindung ke dalam pura.

Ayah merasa kebenaran ucapan pendawa ini dan kamipun ikut beramai-ramai menuju ke pura, dipimpin oleh pendawa itu yang berjalan di depan sekali. Belum sampai kami ke dalam pura, ketika baru saja menginjak pekarangannya yang luas, di situlah kami melihat (p.31) suatu kejadian yang ngeri dan sedih yang sampai sekarang tak dapat ayah lupakan.

Seorang tua yang sedang menggendong seorang baji di atas kedua tangannya, sedang merangkak mendekati tangga pura itu. Dicobanya berdiri berkali-kali, tetapi ia terjatuh lagi, rupanya ia telah luka. Ditariknya dan diseretnya badannya mendekati tangga itu, sambil merintih kesakitan. Kami semua terhenti melihat kejadian ini. Demi ayah perhatikan pakaian orang tua itu, sekonyong-konyong ayah mengenali Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai, junjungan kita. Sambil berteriak: ”Ratu...!” ayah melepaskan kamu berdua dan ayah serahkan kamu kepada teman ayah dan isterinya. Ayah lalu berlari menuju ke dekat tangga itu, di mana Anak Agung itu sudah terguling, karena rupanya sudah tak kuat lagi. Lekas ayah dukung badannya yang berlumuran darah itu, menaiki tangga itu dan masuk ke dalam pura, diikuti oleh kawan-kawan yang lain itu.

Setelah sampai ke dalam pura lalu ayah letakkan Anak Agung yang sudah tak berdaya itu di hadapan sebuah pejenengan (pujaan tempat sembahyang) dan mengambil bayi perempuan tadi. Rupanya kaum keluarga Anak Agung telah menjadi korban kaum penjahat dan beliau dapat melarikan diri dengan bayi ini, meskipun dalam keadaan payah, karena mendapat tusukan sebuah senjata tajam.

Ayah melihat disekeliling ayah telah banyak orang berkumpul, sama-sama mencari perlindungan dalam tempat suci ini. Orang-orang tua sedang bersembahyang, meminta pertolongan kepada dewa-dewa, perempuan-perempuan (p.32) dan kanak-kanak melulung, bertangisan. Hiruk pikuk kedengaran suara mereka yang sedang dalam ketakutan itu.

Anak Agung terbaring di hadapan pejenengan itu sambil mengeluh kesakitan. Muka beliau menengadah kelangit sebagai hendak berkata-kata. Dengan susah payah beliau memanggil nama ayah:

- Murda, tolonglah!

Beliau berkata itu sambil mengacungkan tangan kanan beliau. Mulanya ayah mengira bahwa beliau hendak berdiri, tetapi setelah ayah pegang tangan beliau yang diacungkan itu, beliau menyeret diri beliau lebih dekat kepada pejenengan, hingga sampai ketangganya.

Seketika beliau bersembahyang memuji-muji kepada dewa-dewa dan kemudian lalu memanggil lagi pada ayah dengan isyarat supaya ayah mendekati beliau. Ayah berlutut di sisi Anak Agung, menantikan perintah beliau yang penghabisan. Dalam pangkuan ayah terletak seorang bayi perempuan yang belum mengetahui dunia, yang tak mengerti kekejaman apakah yang sedang terjadi di sekelilingnya dan di kiri kanan ayah berdiri kamu berdua, Jaya dan Pageh.

- Murda...! ujar Anak Agung sayup-sayup sampai.

- Hamba, Ratu, ayah menjawab sambil menekurkan kepala.

- Murda,... kamu seorang pegawai yang sangat setia... yang boleh aku percaya. Kamu mengerti bahwa apa yang terjadi pada malam ini bukanlah yang kukehendaki. Aku selamanya mengiktiarkan keselamatan rakyat, keselamatan kita bersama, tetapi rupanya iktiarku yang suci ini tidak pula disetujui oleh semua orang, adalah gerangan kekuasaan yang lebih dari pada aku, yang tak dapat (p.33) kuhindarkan. Tetapi biarpun demikian kalau aku mati, aku harap kamu sekalian akan hidup dalam kesejahteraan yang kuingini...

- Tidak Ratu, janganlah Ratu meninggalkan kami...

- Kehendak yang lebih berkuasa, Murda, kita tak dapat membantah. Aku hanya menerima perintah. Dan sebelum aku meninggalkan kamu sekalian adalah pesanku padamu, Murda. Anakku Gusti Ayu Pandan Sari ini janganlah jatuh ke tangan musuh kita. Ibunya sudah lebih dahulu dari pada aku, akupun akan menyusul. Aku serahkan anak ini padamu Murda, jagalah baik-baik, meskipun ia berdarah Satrya. Dengan tulus iklas kupercajakan anak ini padamu, karena aku tahu kamu seorang yang jujur lagi setia; kepada seorang sebagai kamu boleh kupercayakan nasib anakku, dari pada ia jatuh ke tangan kaum kerabatku yang telah berkianat padaku. Pergilah kamu jauh dari sini, ke satu tempat, di mana engkau tak dikenal orang, besarkanlah anakku ini bersama-sama dengan kedua anakmu. Akan kamu pelihara darah Satryanya, atau akan kamu masukkan dia ke golongan Sudra aku serahkan pada pertimbanganmu, Murda. Yang kuminta hanya keselamatannya, sebagai juga engkau mengehendaki keselamatan bagi anak-anakmu dan terimalah ini sebagai pusaka...

Sambil berkata demikian Anak Agung melepaskan keris ini dari pinggangnya yang ia letakkan di atas batu kepala ayah.

- Keris ini keris pusaka, Murda, jagalah baik-baik. Orang tak akan mengenal ibu bapa Gusti Ayu Pandan Sari, tetapi keris inilah yang akan menjadi tanda bahwa ia turunanku.

(p.34) Sesudah memberikan keris itu Anak Agung menghembuskan nafas yang penghabisan, diraungi oleh serombongan rakyatnya yang sampai kepada akhirnya masih bersetia kepada beliau. Mereka berlutut di sekeliling mayat raja yang disayangi itu.

Setelah pada malam itu keadaan agak tentram, ayah mengambil putusan akan berangkat pada malam itu juga, sebab sudah tak ada kepentingan ayah tinggal lebih lama di sana dan mengingat pula pesan Anak Agung yang penghabisan yang menyuruh ayah pergi jauh, ke satu tempat di mana ayah tak dikenal orang. Ayahpun khawatir, kalau ayah nantikan sampai siang, boleh jadi kaum pemberontak nanti akan dapat menghalangi perjalanan ayah.

Sambil menggendong Gusti Ayu Pandan Sari dalam sebuah selendang dan membimbing kamu berdua ayahpun berjalan di tengah malam, masuk hutan keluar hutan dan sesudah beberapa hari menanggung sengsara dalam perjalanan sampailah ayah ke tempat ini. Oleh karena ayah dari tadinya suka sekali memancing ikan, ayahpun menukar penghidupan dan tinggallah ayah di sini memulai suatu penghidupan baru dengan kamu bertiga, sampai sekarang...

I Murda melayangkan pandangnya kepada ketiga anak-anak yang disekelilingnya itu. Gusti Ayu Pandan Sari menekur, menyembunyikan matanya yang basah, I Jaya dan I Pageh sama-sama terdiam, terharu mendengarkan kisah ayahnya itu.

I Murda mengangkat keris pusaka tadi diletakkannya di atas cerana, lalu berkata: (p.35)

- Sekarang setelah ayah ceriterakan riwayat keris ini, mengertilah kamu apa sebab ayah menyuruh kamu sangat berhati-hati dengan barang pusaka ini. Bukan saja sekarang, tetapi kemudian, kalau ayah sudah tak ada, keris ini haruslah menjadi setawar sedingin antaro kamu bertiga. Bilamana ada sesuatu bencana atau perselisihan paham antara kamu bertiga, yang kiranya dapat memecahkan perhubunganmu, ingatlah kepada keris ini dan insyaflah akan pertalian kamu bertiga yang erat. Kalau darahmu sedang panas, dapatlah keris ini mendinginkannya dan teristimewa terhadap Gusti Ayu Pandan Sari kamu berdua harus jangan melupakan kewajibanmu. Kewajiban ayah sebenarnya menjadi kewajiban kamu berdua pula. Gusti Ayu telah dipercayakan oleh Anak Agung kepada ayah. Selama ayah hidup ayah akan menjalankan dan menjunjung perintah ini di atas batu kepala ayah, tetapi kalau ayah sudah tak ada, tak lain dari pada kamu berdua yang akan menjalankannya.

Source

  • Andjar Asmara - Nusa Penida; Balai Pustaka Djakarta, 1949 (pp. 1 - 35)

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24