Novel 'Noesa Penida' (Asmara, 1949) Part II Ch. III

Below article is a rendering of a novel called 'Nusa Penida' by Andjar Asmara, published in 1949. Part II - Chapter III. For reasons of readability, only the spelling has been adapted to modern Indonesian spelling (Ejaan Yang Disempurnakan).

asmara nusapenida 1949

BAHAGIAN II - BAB III / PART II - CHAPTER III (p.75-91)

MESKIPUN ia sebagai seorang anak raja dilahirkan dalam sebuah puri, selama ia berpikiran belumlah pernah Gusti Ayu menginjak puri. Ia pernah mendengarkan ceritera dari orang-orang tua dan dari I Murda, yang ketika menjadi pegawai negeri sering keluar masuk puri ayahnya. Waktu pada petang itu ia memasuki pintu gerbang puri Cokorde Gede Oka, diiringkan oleh bapa I Murda, ia tercengang melihat banyaknya prajurit yang menjaga bersenjatakan tombak, di luar dan di dalam pintu gerbang. Sesudah melalui pintu gerbang yang pertama, nampaklah pula sebuah pintu gerbang yang lebih besar dan lebih bagus ukirannya. Di kiri kanannya berdiri dua buah patung besar sebagai penjaga pintu itu.

(p.76) Gusti Ayu berjalan dekat sekali pada bapa I Murda karena setelah kejadian tadi pagi itu ia takut kalau dikasari pula oleh prajurit-prajurit yang menjaga itu. Tetapi karena I Murda di waktu mudanya menjadi pegawai negeri amat mudahlah ia bercakap-cakap dengan prajurit-prajurit itu, dikatakannya bahwa menurut titah raja ia disuruh menghadap pada petang itu. Seorang pegawai puri berpakaian kebesaran yang telah mengetahui kedatangan I Murda, karena kejadian tadi pagi telah menjadi pembicaraan ramai di dalam dan di luar puri, lalu berjalan di hadapan mereka, membawa I Murda dan Gusti Ayu.

Sesudah bertahun-tahun I Murda tidak pernah melekatkan pakaiannya lagi, sekarang agak ganjil kelihatannya; ia memakai keris kebesaran sebagai pegawai negeri yang lama, sedang dit angan kanannya ia memegang sebuah bungkusan panjang, yaitu keris pusaka Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai yang menjadi tanda keturunan Gusti Ayu. Keris ini perlu dibawanya, kalau-kalau raja nanti mengehendaki bukti, haruslah dapat ditunjukkannya.

Di sebelah kirinya Gusti Ayu berjalan, bertelanjang badan sebelah ke atas menurut adat memasuki puri. Sesampainya di bahagian sebelah dalam dari puri itu, mereka disuruh menunggu di sebuah balai di mana terbentang sebuah permadani yang permai. Balai itu tidak berdinding, tonggaknya berukir air mas dan atapnya merupakan suatu tutup berukir yang keempat ujungnya kelihatan lancip.

Pegawai yang berpakaian kebesaran itu lalu masuk ke dalam puri dan tidak lama kemudian ia keluar lagi dan mengatakan kepada I Murda bahwa Ratu akan keluar (p.77) sebentar lagi. Pegawai itu lalu mempersilakan Gusti Ayu duduk di atas permadani itu. Ketika ia naik ke atas balai hendak diajaknya I Murda bersama-sama, tetapi I Murda menolak dan menjuruh Gusti Ayu naik seorang diri. Pegawai itupun memberi isyarat kepada Gusti Ayu bahwa yang diizinkan duduk di atas balai itu ialah Gusti Ayu, artinya I Murda harus tinggal di bawah. I Murda sudah tak perlu diberi tahukan lagi, karena ia sudah mengenal adat di dalam puri. Ia sebagai seorang Sudra tak boleh duduk bersama-sama dengan raja. Tempatnya ialah dibawah.

Gusti Ayu mengerti bahwa adat kebiasaan di dalam puri tentu berlainan dengan penghidupan di luar, tetapi ketika ia duduk bersimpuh di atas balai itu dan melihat ke bawah, nampak olehnya suatu hal yang agak mengecilkan hatinya, yaitu I Murda yang dengan muka rela bersila di tanah menanti kedatangan baginda. Pemandangan sebagai ini belum biasa dilihatnya, karena selama ini ia dibesarkan oleh I Murda yang telah dipandangnya sebagai ayah kandungnya dan selalu dihormatinya. Didalam rumah, ayah itulah yang didahulukan dalam segala hal, kemudian baru I Jaya dan I Pageh, tetapi sekarang pegawai puri itu menunjukkan perbedaan yang amat besar antara ia dan I Murda. Entah apa sebabnya, kejadian ini memberi firasat yang tak baik bagi Gusti Ayu, walaupun dilihatnya air muka I Murda berseri-seri, yang tak dapat diartikannya.

Sesungguhnya I Murda girang karena kejadian yang tiba-tiba ini. Tadi pagi I Pageh pulang dengan Gusti Ayu diikuti oleh orang-orang kampung sampai ke rumahnya. Mereka sama-sama ingin mengetahui akibat dari kejadian ini. I Pageh dan Gusti Ayu berjalan di depan sekali. Bakul yang (p.78) biasa dijunjung oleh Gusti Ayu sekarang dijinjing oleh I Pageh, bakul yang berisi cucian kotor dan tidak beratur. Mereka pulang tergesa-gesa. Hati I Murda tak senang melihat kedatangan ini; tentu ada sesuatu kejadian yang luarbiasa dan ketika I Pageh menceriterakan dengan panjang lebar apa yang telah terjadi dan ketika ia menyampaikan titah raja bahwa ayah dan Gusti Ayu harus menghadap ke dalam puri pada petang itu, I Murda berdiam diri, tak berkata suatu apa. Setelah orang-orang kampung itu pulang ke rumahnya masing-masing, I Murda duduk dibalai-balai di hadapan pondoknya seorang diri, mengisap rokok.

Ia tahu bahwa saatnya telah datang, ia akan bercerai dengan Gusti Ayu. Hatinya hiba. Sejak kecil anak ini dibesarkannya dan di hadapan matanya dilihatnya perobahan-perobahan yang terjadi pada gadis ini, dari bayi sampai kepada gadis dewasa, sehingga tak obahnya dari anaknya sendiri, I Jaya dan I Pageh. Tetapi Gusti Ayu dibesarkan itu bukan pada tempatnya. Tempatnya sebagai seorang anak raja ialah di dalam puri dan sekarang panggilan itu telah datang.

Tetapi kalau dipikirkannya pula bahwa panggilan ini akan mendatangkan kebaikan pada Gusti Ayu, dapatlah ia menyabarkan hatinya. Pesan junjungannya Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai telah dipenuhinya sedapat-dapatnya, sepanjang pengetahuannya caranya ia membesarkan Gusti Ayu Pandan Sari tiadalah kekurangan suatu apa. Tetapi lebih dari pada itu ia tak dapat berbuat: Kemiskinannya dan perbedaan derajat antara ia dan Gusti Ayu menjadi halangan yang tak dapat dijembatani, sehingga didikan yang dapat diberikannya hanya sehingga itulah. Sekarang datang panggilan dari raja dan inilah saat Gusti Ayu akan (p.79) mendapat tempat dan didikan yang sepadan dengan turunannya. Kalau nanti ia ditanya oleh baginda, akan diceriterakannya cara-caranya ia mendidik itu adalah sebagai dikehendaki oleh adat, sehingga sampai kepada saat ini Gusti Ayu masih berdarah Satrya.

Asap rokok I Murda mengepul-ngepul ketika hal ini dipikirkannya sedalam-dalamnya dan akhirnya datanglah suatu perasaan bangga yang melapangkan hatinya. Panggilan ini berarti keselamatan bagi Gusti Ayu dan keselamatan ini tak boleh dihalanginya dan dengan putusan ini ditekannya perasaan hiba di dalam hatinya, walaupun perasaan itu hanya berdasar firasat bahwa ia akan bercerai dengan seorang anak yang amat dikasihinya. Disuruhnya Gusti Ayu mengeluarkan kain yang sebaik-baiknya dan berpakaian rapi, dipanggilnya seorang perempuan dari kampung untuk menolong Gusti Ayu berdandan. Ia sendiri mencari kain yang telah lama tak dipakainya dan keris yang telah berabu, yang membangunkan kenang-kenangan kepada waktu yang silam pun dibersihkannya. Ketika ia berangkat dari rumah dengan Gusti Ayu, hatinya telah bulat bahwa ia sedang menjalankan bahagian penghabisan dari titah junjungannya Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai, yang mengehendaki keselamatan bagi anaknya yang sekian lama dipercayakan padanya.

Tak lama kemudian Cokorde Gede Oka keluarlah dari dalam purinya, diiringkan oleh beberapa gadis-gadis yang cantik yang membawa tempat sirih dan dulang yang berisi hidangan ke tempat peranginan itu. Ketika baginda naik ke atas balai itu, Gusti Ayu menyembah sebagai yang telah dipesan oleh pegawai puri tadi. Gadis-gadis itupun naik dan meletakkan tempat sirih dan dulang-dulang itu dihadapan (p.80) baginda. Mereka menyembah dan bagindapun memberi isyarat supaya mereka menarik diri.

- Murda! demikianlah terdengar titah baginda.

- Ke marilah duduk agak dekat sedikit, sebab aku hendak mendengar ceritamu.

I Murda lalu berpindah duduk ke dekat tangga dan menyembah sekali lagi.

- Tadi pagi aku mendengar berita, bahwa Gusti Ayu Pandan Sari adalah anak dari pamanku Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai. Benarkah demikian, Murda?

- Sebenarnya, Ratu.

- Murda, sebelumnya kamu berkata-kata lebih jauh aku hendak memperingatkan kepada kamu supaya engkau menerangkan yang sebenarnya, karena dalam hal ini tersangkut nama baik dari almarhum pamanku dan kaum kerabatku seluruhnya. Bilamana kemudian hari berbukti bahwa keteranganmu tidak benar, engkau akan kujatuhkan hukuman yang seberat-beratnya. Mengertikah engkau?

- Hamba mengerti, Ratu, jawab I Murda dengan tegas.

- Adakah suatu tanda atau bukti yang dapat kamu berikan untuk menguatkan keteranganmu itu? Atau adakah saksi-saksi yang boleh dipercaya yang mengetahui bahwa keteranganmu itu adalah yang sebenarnya?

- Ampun hamba, Ratu. Adapun sekalian yang Ratu kehendaki itu dapat hamba adakan. Bilamana Ratu mengehendaki saksi-saksi yang mengetahui dan menyaksikan ketika Gusti Ayu diberikan kepada hamba, hamba sanggup mengikhtiarkannya, karena adalah beberapa orang yang (p.81)hadir pada waktu itu, hanya tiadalah dapat hamba menetapkan apakah orang-orang itu masih hidup atau tidak. Bukti yang ada pada hamba tiada lain, melainkan keris inilah.

Sambil berkata demikian I Murda mengambil keris terbungkus yang terletak di sebelahnya. Dengan dua tangannya dipangkunya keris itu dan dengan sangat hormatnya dipersembahkannya kepada baginda. Cokorde Gede Oka lalu memberi isyarat kepada pegawai yang duduk di belakang I Murda, supaya keris itu disampaikan kepada beliau. Bungkusan itu lalu dibuka dan keris itupun dipersembahkan kepada baginda.

Beliau mencabut keris itu dari sarungnya dan memperhatikan senjata itu dengan teliti, sampai kepada ukurannya yang kecil-kecil. Setelah selesai beliau memeriksa, beliau memasukkan keris itu kembali ke dalam sarungnya, lalu meletakkan senjata itu di hadapan beliau. Dari air muka beliau nampaklah bahwa pemeriksaan itu memuaskan, karena tanda-tanda pada keris itu membuktikan bahwa tidak salah lagi keris itu berasal dari seorang bangsawan yang memegang kerajaan.

- Cobalah kamu terangkan sejelas-jelasnya Murda, bagaimanakah jalannya sehingga keris ini jatuh ke dalam tanganmu. Aku hendak mendengar ceriteramu sejak semulanya, pun hal-hal yang berhubung dengan Gusti Ayu.

I Murda menyembah sekali lagi, lalu memulai ceriteranya. Sebelum ia berangkat dari rumah ia telah menyangka bahwa pertanyaan ini akan dimajukan padanya dan iapun telah bersedia akan menceriterakan dari awal mulanya. Sedikitpun tak ada yang ketinggalan dalam ceriteranya, sampai (p.82) kepada hal yang kecil-kecil diterangkannya, sejak semula ia bekerja sebagai pegawai negeri, bagaimana Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai menyayangi dia, bagaimana beliau disayangi oleh rakjat, bagaimana timbulnya pemberontakan dan apa yang kejadian pada malam itu, sampai mereka melarikan diri ke dalam pura dan bertemu dengan Anak Agung yang luka parah, sampai beliau menghembuskan nafas penghabisan, sesudah meninggalkan pesan kepada I Murda…

Cokorde Gede Oka mendengarkan riwayat itu dengan perasaan terharu. Sambil mengunyah sirih sekali-sekali beliau meningkah, menyatakan perasaan kagum atau kasihan.

- Demikianlah riwayat keris ini yang berhubung rapat sekali dengan Gusti Ayu. Sejak waktu itu hamba tinggal di tepi pantai ini, sudah 22 tahun lamanya.

Sejurus Cokorde Gede Oka tak berkata-kata. Beliau menggeleng-gelengkan kepala, mengenangkan nasib paman beliau yang malang. Kemudian beliau berkata:

- Sebenarnya, Murda, riwayat yang kamu ceriterakan itu boleh aku percaya, sebab bersetuju dengan apa yang aku ketahui dari kejadian itu. Tetapi yang aku ingin ketahui ialah pesan dari pada Ratu I Gusti Ketut Alit Rai tentang pendidikan Gusti Ayu ini, bagaimanakah kamu menyalankannya? Adakah kamu mengingat kepada derajatnya sebagai turunan seorang Satrya?

- Adapun pesan Ratu yang mulia itu, hamba junjung di atas batu kepala hamba, sebagai suatu mestika yang telah dipercayakan kepada hamba. Ratu I Gusti Ketut Alit Rai telah banyak benar menanam budi kepada hamba dan sebagai menghargai dan menghormati nama beliau yang (p.83) harum hamba telah berbuat sedapat-dapatnya, yaitu membesarkan puteri beliau menurut kelahirannya. Walaupun hamba seorang miskin, tetapi tidak pernah Gusti Ayu memakan makanan lebihan dari pada hamba atau anak-anak hamba, tidak pernah Gusti Ayu tidur di bawah, atau lebih rendah dari pada kami bertiga beranak, begitupun sekalian larangan-larangan yang lain tidak pernah hamba langgar karena mengingat derajat ke-Satryaan dari pada Gusti Ayu. Adapun sekalian hal ini dapatlah Gusti Ayu menerangkan sejelas-jelasnya.

Keterangan ini rupanya amat menyenangkan bagi Cokorde Gede Oka; beliau mengangguk-anggukkan kepala serta menekankan kedua bibir yang tebal dan nampaknya sebagai telah ada sesuatu putusan yang beliau ambil.

- Benarkah demikian, Gusti Ayu?

Pertanyaan ini dimajukan oleh baginda kepada Gusti Ayu yang sedang menekur duduk bersimpuh, berdiam diri. Mendengar namanya disebut darahnya tersirap. Ia sebagai dibangunkan dari pada lamunan, karena sejak tadi barulah sekali ini diajak berbicara dan selama ia duduk mendengar itu, pikirannya terbang entah ke mana. Riwayatnya yang diceriterakan oleh ayah itu hampir tak didengarkannya karena telah diketahuinya sampai kepada bahagian yang kecil-kecil, ketika ayah menceriterakan tempoh hari. Perasaannya penuh keheranan yang tak terhingga. Seumur hidupnya belum pernah ia memasuki sebuah puri, tempat kediaman raja, pengetahuanja tentang hal ini tiada melebihi dari pada pengetahuan kawan-kawannya sama-sama gadis yang sama-sama mendengarkan ceritera orang-orang kampung dari mulut kemulut. Ayahpun ada juga sekali-sekali (p.84) menceriterakan kepada mereka bagaimana rupanya sebuah puri dari dalam, bagaimana orang-orang harus berpakaian kalau masuk ke dalam dan bagaimana adat istiadat yang harus dipegang teguh di tempat yang dihormati itu. Sekarang dapatlah ia membuktikan sekalian ceritera yang pernah ia dengar itu dengan kedua matanya. Dengan sekonyong-konyong ia telah berada dalam sebuah puri dan duduk di hadapan seorang raja di atas sebuah balai yang indah permai.

Ketika gadis-gadis tadi naik mengantarkan tempat sirih dan dulang-dulang yang berisi santapan, ia terkejut melihat pakaian mereka yang bagus dan rapi, kulit mereka yang bersih dan rambut mereka yang teratur. Pemandangan ini sangat mengagumkan perasaan perempuan pada Gusti Ayu, karena ia sendiri tak pernah diajar bersolek demikian rapi, karena dibesarkan di antara kaum Sudra dan hidup dalam kemiskinan. Dengan ekor matanya diturutkannya gadis-gadis itu sampai turun dari tempat peranginan itu, menuju masuk ke dalam puri; hampir ia terlambat berdatang sembah pada baginda yang telah duduk di hadapannya.

Ketika itu Gusti Ayu berani mengangkat kepalanya. Sambil menekur ia menyembah. Ia hanya melihat seorang yang berbadan gemuk naik ke atas balai itu dan duduk amat susah payah karena kegemukannya. Melihat itupun tak jelas, ia tak berani melihat muka baginda, ia hanya melihat sambil menekur. Dirasanya badannya menggigil, jantungnya berdebar, ia merasa takut, ia sekarang duduk di hadapan seorang raja… Tetapi kemudian setelah didengarnya baginda berkata-kata, tidak menegur dia, hanya memajukan beberapa pertanyaan terhadap ayahnya, agak tenang (p.85) pikirannya dan agak kembali semangatnya, walaupun rasa takut itu belum hilang.

Ketika ayah sedang berceritera baginda asyik mendengarkannya. Sekali-sekali beliau meningkah memajukan pertanyaan yang pendek-pendek yang lantas dijawab oleh I Murda. Waktu itu perasaan Gusti Ayu sudah tenang benar dan barulah ia memperhatikan suara baginda yang besar lagi pecah, suara dari seorang yang biasa memerintah dan tak pernah dibantah. Tak sedap terdengarnya suara itu ditelinga Gusti Ayu. Di antara orang kampung yang dikenalnya belum pernah ia mendengar suara semacam itu. Ketika baginda semakin asyik mendengar kisah ayah sambil bertupang dagu, nampaklah oleh Gusti Ayu jari-jari beliau sebelah kanan yang kasar-kasar, penuh dengan cincin bermata besar-besar. Pun pada tangan sebelah kiri, yang diletakkan di atas paha beliau, kelihatan banyak cincin pada jari-jari yang sedang mempermainkan ujung kain tenun yang bersulam benang emas.

Gusti Ayu masih saja menekur dan tak berani mengangkat kepalanya, karena takut dan malu dan karena dirasanya tak sopan melihat kepada raja dan lebih-lebih lagi karena beberapa kali ia merasa pandangan baginda yang ditujukan padanya. Tetapi ketika beliau asyik mendengarkan ceritera, tak dirasanya lagi pandangan itu. Beliau kerap kali menekur sampai tunduk dan pada ketika itu Gusti Ayu melihat muka baginda yang amat kasar rautnya. Pipinya bengkak, dagunya kelihatan dua, karena gemuknya, bibirnya tebal, matanya besar dan amat liar. Pemandangan ini amat mengecewakan Gusti Ayu. Pada persangkaannya seorang raja itu ialah seorang yang bagus dan cantik, ramah tamah (p.86) dan menarik hati, tetapi kalau orang yang duduk di hadapannya itu hendak disebut raja, romannya tidak melebihi dari pada orang kampung biasa, tambah lagi suara beliau yang tak sedap terdengarnya… Gusti Ayu sebagai terba ngun dari pada mimpi: jadi kalau begitu orang yang menjadi raja itu tidaklah lebih bagus dari pada manusia biasa. Dengan tidak disengayanya terbayang olehnya muka I Jaya yang sebagai tertawa senantiasa, menarik siapa yang melihatnya, raut mukanya yang rata, hidung, mulut, pipinya yang lebih halus dari pada raja ini, rambut I Jaya yang berombak yang menambah kecantikannya, matanya yang kelihatan jujur, badannya yang tegap, yang amat dikagumi oleh Gusti Ayu, adatnya yang sopan santun… Bagnda ini tiada melebihi I Jaya, pikirnya.

Sedang ia berpikir demikian terdengarlah olehnya namanya disebut oleh baginda, seakan-akan beliau bertanya sesuatu padanya. Tetapi apakah yang beliau tanyakan, ia tak tahu, karena ia sedang dilamun perasaan. Gusti Ayu gugup, ia menggigil, dirasanya badannya dingin, darahnya mengalir cepat, tak dapat diredakannya. Ia hendak menyawab, tetapi apa yang akan dijawabnya…? Matanya liar ke kiri dan ke kanan, sebagai hendak meminta tolong. Baginda mengulang pertanyaan beliau sekali lagi dengan suara sebagai membangunkan Gusti Ayu dari pada tidur, tetapi suara itu terdengarnya sebagai hendak merayu hati gadis itu. Benarkah atau ia yang salah dengar…?

- Gusti Ayu, benarkah apa yang diceriterakan oleh I Murda itu? I Murda mengatakan bahwa ia senantiasa mengindahkan dan menghormati Gusti Ayu sebagai seorang Satrya…

- (p.87) Benar, Ratu.

Gusti Ayu menjawab dengan sayup-sayup sampai. Ia sendiri mendengar suaranya itu sebagai dari jauh.

- Baiklah kalau begitu I Murda, sabda baginda. Atas nama kaum kerabatku, aku amat berterima kasih padamu dan atas nama arwah dari pamanku aku akan menghargai jasamu itu. Akan kuperintahkan supaya engkau diberi hadiah, bukan saja dengan uang, tetapi karena engkau sudah pernah juga menjadi pegawai negeri, engkau akan bekerja pula menduduki suatu jabatan yang setimpal dengan kecakapan dan usiamu. Caranya aku hendak membalas budimu itu haruslah kupikirkan dan kurundingkan dahulu dengan pegawai-pegawaiku. Percayalah bahwa seorang pegawai negeri yang bersetia kepada rajanya, yang memenuhi pesan pamanku, membesarkan seorang anak sampai gadis itu besar dengan mengindahkan keturunannya, akan diberi upah sepatutnya.

Baginda terhenti sebentar, mengambil sekepal sirih yang telah terisi kapur dan gambir yang tersedia di hadapan beliau dalam sebuah cerana. Sesudah beliau mengunyah sirih itu beberapa kali dan mengambil beberapa butir pinang yang telah terpotong, beliau meneruskan:

- Dan engkau mengerti pula Murda, bahwa mulai hari ini Gusti Ayu Pandan Sari akan mendapat didikan yang sepadan dengan derajatnya sebagai seorang Satrya. Sebagai anak seorang raja tempatnya haruslah di dalam puriku. Mulai hari ini Gusti Ayu akan mendapat rawatan sebagai seorang puteri, lengkap dengan pelajan-pelajan dalam satu tempat yang teristimewa di dalam puriku.

Sambil berkata demikian Cokorde Gede Oka melirik (p.88) kepada Gusti Ayu sebagai hendak memeriksa bagaimanakah Gusti Ayu menerima pengangkatan derajatnya yang gilang-gemilang itu. Tentulah ia akan bergirang menukar hidup di dalam puri sebagai seorang puteri yang tiap-tiap kecapnya akan diturut oleh pelajan-pelajan, demikianlah dugaan baginda.

Tetapi pada muka gadis yang ditekurkan itu tiadalah dapat beliau melihat sesuatu perasaan. Ia tinggal duduk diam tiada bergerak. Baginda lalu mencoba mengetahui perasaan gadis itu.

- Bagaimanakah pikiran Gusti Ayu? tanya baginda dengan ramah tamah.

Baginda berharap supaya Gusti Ayu mengangkat mukanya, tetapi tidak, ia tetap tinggal diam. Kemudian ia menoleh pada I Murda yang duduk di bawah tangga dan pada waktu itulah baginda melihat muka Gusti Ayu yang halus rautnya, tetapi kelihatan pucat tak berdarah.

Ucapan baginda yang tak disangkanya itu datangnya sebagai halilintar membelah bumi di waktu alam terang benderang. Ketika ia berangkat dari rumah dengan ayahnya, I Murda, sedikitpun ia tak menduga akan mendengar putusan yang demikian, putusan yang akan berarti perceraian antara dia dengan I Murda, I Pageh dan… I Jaya.

Tidak! Tidak mungkin, kata hatinya. Aku tak kan dipisahkan dari orang yang bertiga ini… Hatinya berontak. Tak masuk di akalnya bahwa ada suatu jalan yang akan memisahkan ia dari pada mereka bertiga yang membesarkan ia dengan penuh kasih sayang semenyak kecil. Lain dari orang yang bertiga ini ia tidak mengenal kaum kerabat di atas dunia ini. Sekarang, setelah ternyata bahwa baginda ini (p.89) seorang kemanakan dari ayah kandungannya, baginda menawarkan kedudukan sebagai seorang putri padanya, meletakkan derajat dan kehormatan di atas pangkuannya; ia akan dilayani oleh pelayan-pelayan yang terdiri dari pada gadis-gadis yang cantik yang boleh disuruh, dihardiknya, tangannya takkan kotor lagi karena abu dan arang, tak kan penat lagi mencuci beras dan kain, ia boleh bersenang diri, tetapi sekalian kemewahan ini tak dapat dibanding dengan kerahiman, kasih sayang dari pada orang yang bertiga yang membesarkan dia. Dan kalau dipikirkannya pula bahwa putusan itu akan berarti perceraian antara dia dengan I Jaya, tambah berontak hatinya. Tidak, ia tidak akan dapat dipisahkan dari kekasihnya. Belum sempat ia mengecap keberuntungan yang mereka ranyang berdua, sekarang ia akan dipisahkan… Tidak! Hatinya tetap tidak.

Ia menoleh ke bawah, sebagai hendak meminta tolong kepada ayahnya. Pertanyaan baginda sudah tak diacuhkannya, ia mengehendaki ayahnya, I Murda yang akan menjawab, yang akan membantah, yang akan membela dia, supaya jangan berlaku kehendak baginda itu. Tetapi alangkah kecewa hatinya ketika dilihatnya air muka I Murda berseri-seri. Ayah kelihatan sebagai girang; ketika bertemu matanya dengan mata I Murda nampaknya sebagai I Murda menganjurkan dengan isyarat supaya Gusti Ayu menerima tawaran itu. Inilah yang tak disangkanya! Ayah rupanya senang dengan putusan itu, apakah sebabnya? Tidakkah hiba hatinya akan bercerai dengan dia…? I tak mengerti… Bukannya pertolongan yang didapatnya dari ayah, mala anjuran… Gelap pemandangan Gusti Ayu, (p.90) hatinya rusuh, terjantum di kiri dan di kanan, tersepit sebagai binatang yang diburu…, tak dapat mengelak lagi.

- Terimalah Gusti Ayu, itulah yang sebaik-baiknya, kata I Murda.

Hati Gusti Ayu sebagai disayat-sayat mendengar ucapan ayahnya itu. Benar dugaannya, sekarang telah dibuktikan oleh I Murda bahwa ia sendiripun menyukai putusan itu. Badan Gusti Ayu lemas karena penjelasan itu.

- Benarlah katamu itu, Murda, sabda baginda.

- Kewajiban hamba telah sampai, Ratu. Amanat Ratu I Gusti Ketut Alit Rai telah hamba junjung sampai kepada hari ini, tetapi hamba seorang miskin, Sudra pula, tentu hamba tak kan dapat memberikan kesenangan, kecukupan pada seorang puteri, turunan asli dari seorang raja, junjungan hamba.

Tiap-tiap perkataan I Murda sebagai menembus jantung Gusti Ayu. jelaslah sudah bahwa ia tak dapat berlepas diri lagi.

- Sudahlah Murda, sabda baginda pula. Aku mengerti bahwa pada permulaan Gusti Ayu tentu agak bingung, ia harus membiasakan dirinya dahulu bergaul di dalam puri. Sekarang pulanglah engkau, kemudian akan kuberitahukan putusanku tentang dirimu, sebagai yang kukatakan tadi. Gusti Ayu akan tinggal di dalam puri dan mulai hari ini ia akan mendapat didikan dan rawatan yang sepadan dengan derajatnya sebagai seorang puteri.

Putusan itu dijatuhkan atas diri Gusti Ayu yang sudah tak bergerak. Air matanya yang panas membasahi permadani yang tebal, pandangannya telah gelap, telinganya sudah tak (p.91) mendengar, pikirannya telah buntu, sudah tak kuat berpikir lagi…

I Murda menyembah beberapa kali sambil berdiri surut.

I Murda berjalan, sebagai keluar dari penghidupan Gusti Ayu, meninggalkan ia seorang diri, di suatu tempat yang belum dikenalnya, di antara orang-orang yang belum tentu akan mengasihi dia.

Gusti Ayu tak melihat lagi, tetapi dirasanya I Murda semakin jauh, semakin renggang dari penghidupannya, penghidupan manis yang telah dirasanya sejak bayi sampai dewasa. Penghidupan itu sekarang telah tertutup, ia memulai penghidupan baru dalam satu dunia baru… Dapatkah ia mengecap keberuntungan sebagai dahulu di dalam puri ini…? Sebagai di dalam pondok I Murda, di tepi laut…?

Source

  • Andjar Asmara - Nusa Penida; Balai Pustaka Djakarta, 1949

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24