Novel 'Noesa Penida' (Asmara, 1949) Part II Ch. II

Below article is a rendering of a novel called 'Nusa Penida' by Andjar Asmara, published in 1949. Part II - Chapter II. For reasons of readability, only the spelling has been adapted to modern Indonesian spelling (Ejaan Yang Disempurnakan).

asmara nusapenida 1949

BAHAGIAN KEDUA , BAB II / Part II, Chapter II (p.62-75)

(p.62) ESOK HARInya ketika I Jaya mengumpulkan topi, dayung dan jala hendak turun ke laut, ia heran melihat I Pageh berdiam diri di atas balai-balai di hadapan rumah, sedang di tepi laut sudah kelihatan beberapa perahu yang sedang diturunkan.

- Ayohlah Pageh, hari sudah siang, kita sudah terlambat! kata I Jaya mengayak.

- Aku tidak ikut kak, sahut I Pageh dengan suara malas.

- Tidak ikut? Apa sebab?

- Badanku rasa kurang enak sejak tadi malam.

I Jaya tak berkata lagi, ia memperhatikan I Pageh yang sedang duduk bertekuk lutut, berselimut kain sarung, sebagai seorang yang kedinginan di atas balai-balai itu. Sebenarnya kelihatannya sebagai seorang sakit dan iapun tidak menolak alasan I Pageh yang mengatakan badannya kurang enak itu, tetapi dalam hatinya ia bertanya: adakah sebab yang lain yang menjadikan I Pageh kelihatan sebagai seorang yang malas dan lesu dalam beberapa hari ini Gusti Ayu keluar dari dalam pondok membawa dua bungkus nasi dan air dalam gendi. Nasi yang sebungkus diberikannya pada I Jaya, tetapi ketika ia hendak memberikan bagian I Pageh, I Jaya berkata:

- I Pageh tidak ikut, Gusti Ayu, sebab ia sakit perut…!

Mata I Pageh terbelalak karena dipermainkan oleh kakaknya, tetapi ia sudah tak sempat membalas, sebab I Jaya sudah berlalu sambil tertawa. Gusti Ayu mengikutinya sampai ke tepi laut.

(p.63) Dari tempat I Pageh duduk itu kelihatan I Jaya dan Gusti Ayu berjalan berdua, beriring-iringan. Sampai ke tepi laut I Jaya menurunkan perahunya dan Gusti Ayu menantikan sampai perahu itu berlayar, barulah ia pulang. Kejadian ini diikuti oleh I Pageh dengan matanya. Sebenarnya bukan kejadian luar biasa, sejak mereka mulai ke laut, bahkan dahulu, ketika masih bersama-sama dengan ayah, mereka telah biasa diantarkan oleh Gusti Ayu sampai ke tepi pantai dan selamanya Gusti Ayu berdiri di tepi pantai itu sampai perahu mereka berlayar, baru ia pulang, tetapi apa sebab pemandangan yang sekarang itu berlain dilihatnya dari pada dahulu…?

Gusti Ayu pulang sebagai tergesa-gesa. Ketika ia hendak masuk kedalam pondok I Pageh bertanya:

- Hendak kemana Gusti Ayu terburu-buru?

- Aku hendak ke pancuran, mandi dan mencuci, sesudah itu hendak ke pasar, kak!

Gusti Ayu lalu masuk ke dalam mengumpulkan kain-kain yang kotor dalam sebuah bakul.

- Ayah sudah ke pancuran, kak? ia bertanya.

- Sudah, baru saja.

I Pageh lalu berdiri, maju beberapa langkah sampai ke pintu. Ia tegak dipintu itu memperhatikan Gusti Ayu sedang mengumpulkan kain-kain kotor.

- Kalau Gusti Ayu hendak ke pancuran, marilah bersama-sama, dan nanti kalau ke pasar boleh aku antar.

- Bukankah kakak sakit?

- Ah, sakit hanya sedikit, sekarang sudah baik, karena sudah boleh bercakap-cakap dengan Gusti Ayu. Tak ada obat yang lebih mujarab…

(p.64) Gusti Ayu sebagai tak mendengar ucapan I Pageh itu, tangannya tambah cepat memasukkan beberapa helai kain ke dalam bakul. Ia berlari dari sebuah sudut ke sudut lain, sebagai mengelakkan percakapan lebih jauh.

- Bolehkah aku antar atau tidak, Gusti Ayu, I Pageh berkata dengan suara sebagai merayu, sambil ia masuk ke dalam, duduk di ujung balai-balai, dekat Gusti Ayu.

- Ah, boleh, apa salahnya…

- Eh, barangkali Gusti Ayu kurang senang kalau aku yang mengantarkan, sebab…

- Sebab apa, kak Pageh?

- Sebab aku bukan kak Jaya…

- Ah, kak Pageh, janganlah berkata begitu, janganlah membanding diri dengan saudara sendiri…

- Bagaimana tak kubanding, Sari, sebab memang berlainan… Jaya beruntung dan aku… beruntung aku beginilah…! Nasibku sungguh malang!

Gusti Ayu sudah tak dapat mengelak lagi. Sejak tadi ia hendak menghindarkan, jangan sampai I Pageh membelokkan percakapan ke arah yang tak diingininya. Inilah yang ia takutkan kalau ia tinggal berdua dengan I Pageh. Sejak beberapa hari dilihatnya kelakuan I Pageh agak berobah, sebenarnya dalam hatinya ia takut, kalau-kalau diulanginya lagi… hati takutnya itu dapat dilipurinya dengan soal-soal yang sedang dipikirkannya antara ia dan I Jaya, tetapi sekarang berbukti bahwa dugaannya itu benar: I Pageh memulai lagi…

Sebagai kecele Gusti Ayu terduduk di pinggir balai-balai. Tangannya berhenti bergerak, seluruh tubuhnya dirasanya lemas, tak bergaya, karena perasaan yang masygul.

(p.65) Kak Pageh! Janganlah kakak ulangi mermbicarakan soal itu. Kakak telah tahu bahwa berat bagiku menimbangnya. Kak Pageh…! Apa tidak dapat memandang aku sebagai saudara? Kalau kakak dapat merobah pandangan itu tentu akan menjadikan aku beruntung. Kak…!

Gusti Ayu berkata itu sebagai meminta dengan bersungguh-sungguh supaya dikabulkan.

- menjadikan kau beruntung Sari, tetapi nasibku tinggal malang. Yang beruntung ialah Jaya…!

- Bukankah kak Jaya saudaramu? Kalau kak Jaya beruntung, kakak harus merasa bergirang pula.

- Belum tentu, Sari…

- Janganlah mengambil sikap yang demikian, kak Pageh! Itu menandakan bahwa kakak hanya mengingat diri sendiri. Pendirian semacam ini janganlah kita pakaikan dalam hidup bersaudara. Ada waktunya untuk keselamatan saudara sendiri kita harus bisa mengalah.

- Benar katamu Sari, hidup bersaudara haruslah kalah-mengalah dan dalam banyak hal aku sudi mengalah, sudi berkorban untuk audara, tetapi… dalam hal yang satu ini tidak! Aku tidak akan mengalah…!

I Pageh yang tadinya kelihatan lesu dan tak bergaya, sekarang berkata-kata dengan penuh semangat dengan mata terbelalak dan tangan dikepalkan sebagai tinju, sebagai lupa akan dirinya. Wajah mukanya yang tadinya kelihatan sebagai orang sakit sekarang kelihatan merah padam, karena darah yang mengalir ke muka dan ke lehernya. Dalam keadaan demikian nampaknya ia sebagai buas, menaruh dendam yang tak lepas.

(p.66) Gusti Ayu Pandan Sari mengenal sifat I Pageh. Dalam hal keberanian I Pageh tidak melebihi I Jaya, tetapi kalau ia menghendaki barang sesuatu ia tak mengenal mundur, tak dapat ditahan, demikianlah sifatnya sejak kecil.

Gusti Ayu menekur sebagai tak dapat berkata-kata. Sikap I Pageh yang menantang itu, sebenarnya dimaksudkan sebagai menantang I Jaya, sikap ini mengiris jantung perawan ini. Sambil menekur dan mempermainmainkan tepi kainnya dirasanya air matanya jatuh ke atas tangannya. Perlahan-lahan ia berkata:

- Kalau kak Pageh hendak meneruskan sikap yang demikian, artinya kakak tidak mengenal kasihan padaku. Kak Pageh, aku seorang anak yatim, tak berayah tak beribu, bersaudarapun tidak. Aku merasa beruntung dibesarkan di antara kamu berdua dan ayahmu. Lain dari pada yang bertiga ini aku sudah tak mempunyai siapa-siapa lagi di atas dunia ini. Dari kecil kita bertiga dibesarkan sebagai saudara kandung, seibu sebapa, tetapi sekarang sampai waktunya aku harus memilih satu di antara kamu berdua…

Aku tetap sayang padamu kak Pageh, sayang itu tak kan berobah sebagai saudara. Sekarang aku hanya meminta janganlah berobah hatimu terhadap aku dan janganlah dirobah, biarlah tinggal tetap sebagai saudara. Kalau tidak demikian, kalau kak Pageh hendak menurutkan hawa nafsu juga tentulah kita bertiga akan menghadapi bencana yang sehebat-hebatnya, tentulah penghidupan kita bertiga akan cerai berai dan tak kan dapat beruntung dan… dengan berbuat demikian kak Pageh akan menhancurkan seroang anak yatim… Kalau sampai terjadi sesuatu bencana yang (p.67)kutaktkan tadi tentu aku tak kan tahan hidup di antara kamu berdua lagi, bersama dengan ayah, tentu aku akan terpaksa berlalu kak Pageh,… dan ke mana aku akan pergi…

Sampai kepada bahagian penghabisan ini, air mata yang tadinya setitik dua titik jatuh diatas tangannya, sekarang telah berturut-turut jatuh, tak dapat ditahannya lagi…

I Pageh duduk lurus tak bergerak mendengarkannya. Kekerasannya yang tadi telah hilang belaka, berganti dengan suatu kelemahan. Keras hati dan pendorong, inilah sifat I Pageh, tetapi sebaliknya ia dapat dilawan dengan kebenaran, karena dasar hatinya ialah sifat kejujuran sebagai I Jaya yang sedarah sedaging dengan dia.

Berhari-hari ia dilamun perasaan sunyi. Mulanya ia bimbang, ragu-ragu, karena dalam hal ini tersangkut I Jaya saudaranya. Ia merasa sebagai tak patut ia berebutan dengan I Jaya, yang disegani dan disayanginya pula. Sebenarnyalah sebagai apa yang dikatakan oleh Gusti Ayu ia harus mengalah, tetapi berkat lama dipikirkannya, ia tak kuat melawan nafsu yang semakin berkobar karena keinginan hendak memiliki gadis ini berjangkit semakin keras. Dalam hal yang demikian tidak suatupun yang memimpinnya atau yang membelokkan pikirannya kepada yang benar, karena semata-mata di kemudikan oleh hawa nafsu, yang kian hari kian berjangkit, akhirnya ia takluk kepada seruan Iblis itu lalu memutuskan bahwa ia tak kan mengalah, bahkan kepada saudara kandungnya. Hilanglah segala segan dan hormatnya terhadap saudaranya, pikiran dan tujuannya telah bulat bahwa ia akan berjuang mendapatkan gadis ini!

(p.68) Tetapi sekarang…!

Setelah didengarnya keluhan Gusti Ayu yang diiringi oleh air mata, yang tak disangkanya, hilang lenyap pengaruh Iblis yang tadinya bersimaharajalela dalam sanubarinya. Hatinya berbalik tenang, sebagai juga keterangan yang ia dengar dari Gusti Ayu itu yang menghela ia surut kepada jalan yang benar. Sedang nafsunya berkobar ia didorong oleh suatu keinginan hendak mempunyai gadis ini, tetapi ia hanya memikirkan soal ini sebagai kepentingan dirinya sendiri dengan tidak mengenangkan betapa akibatnya bagi Gusti Ayu…

Setelah Gusti Ayu mengingatkan kedudukannya sebagai anak yatim, hati I Pageh sebagai diiris mendengarkannya. Ia tak kan sekejam itu! Ia tak kan membiarkan gadis ini melarat karena dia yang sesat!

- Maafkan aku, Gusti Ayu, ia berkata dengan tegas sambil menghampiri Gusti Ayu dan memegang tangan perawan itu. Pikiranku tak sejauh itu. Karena aku terlalu memikirkan untungku, sampai aku lupa hal orang lain. Sudah tentu aku bersedia menjadikan engkau beruntung, beruntung dalam segala hal, pun dalam hal ini.

Biarpun putusan ini pahit bagiku, kau dan I Jaya harus beruntung! Aku minta, janganlah kau sebut lagi tentang dirimu sebagai anak yatim, karena sejak kecil kita dibesarkan sebagai saudara kandung. Ajohlah! Marilah aku antarkan kau ke pancuran!

Ucapan yang penghabisan ini diucapkannya dengan suara girang. I Pageh menarik tangan Gusti Ayu. Kelakuan mereka sudah berbalik sebagai kanak-kanak kembali. Gusti Ayu melihat kepada muka I Pageh yang kelihatan bercahaya itu, (p.69) lalu bangkit dan menurutkan tarikan I Pageh itu dengan sukarela, karena jelas baginya bahwa yang menarik itu ialah kak Pagehnya…

Sedang Gusti Ayu mencuci pakaian dipancuran beramai-ramai dengan teman-temannya sekampung, I Pageh duduk menantikan di bawah sebuah pohon, yang tidak berapa jauh letaknya dari pancuran itu. Iapun sedang asjik bercakap-cakap dengan dua orang kawan dari hal ayam sabungannya.

Dekat mereka duduk beberapa kanak-kanak yang bertelanjang, ada yang mendukung adiknya, ada pula yang merokok. Mereka belum mengerti rahasia-rahasia persabungan ayam, maka oleh sebab itu mereka selalu memperhatikan tiap-tiap percakapan tentang hal itu. Dari sedikit kesedikit pengetahuan mereka bertambah, diceriterakannya pula kepada kawan-kawannya; demikianlah dari tahun ke tahun kepandaian itu bertambah dan akhirnya kalau mereka telah dewasa mereka telah mengepit ayam dan seorangpun tak perlu yang mengayarnya lagi.

Sekonyong-konyong terbitlah kegemparan di antara kanak-kanak itu. Mereka melihat ke sebelah Utara, dari jurusan mana nampak orang berbanyak-banyak sedang menuju ke Selatan. Beberapa payung kuning kelihatan mengiringkan sebuah tandu keemasan yang dipikul oleh empat orang laki-laki.

- Ratu datang! Ratu datang! kanak-kanak itu berteriak.

Pemandangan sebagai ini tidaklah setiap hari, karena raja yang sekarang ini jarang sekali meninggalkan purinya dan kalau ia sekali-sekali keluar haruslah dengan kebesaran yang berpadanan dengan kedudukannya. Kanak-kanak itu mundur berdiri ke bawah pohon dan (p.70) memperhatikan rombongan itu yang semakin lama semakin dekat. I Pageh dan kawan-kawannya pun berdiri lalu duduk berjejer di bawah pohon itu. Pada saat itu nampak olehnya Gusti Ayu menjunjung bakul di atas kepalanya sedang tangannya memegang sebuah gendi yang telah berisi air.

Gusti Ayu sedang mendaki dari jalan kecil yang memperhubungkan pancuran dengan jalan besar dan setelah ia sampai ke tepi jalan besar ia melihat ke bawah pohon itu hendak mencari I Pageh. Ia heran melihat mereka duduk berbaris di bawah pohon itu, karena belum tahu apa sebabnya. Ketika Gusti Ayu menyeberang jalan hendak menemui I Pageh, I Pageh terburu-buru memberi isyarat padanya supaya mundur ke tepi jalan, tetapi isyarat itu sudah terlambat, sebab pada saat itu Gusti Ayu terkejut mendengar suara marah yang berteriak dari belakangnya. Rombongan itu telah dekat benar dan seorang prajurit marah-marah berteriak menjuruh ia menyingkir. Gusti Ayu menoleh ke belakang dan barulah nampak olehnya rombongan kebesaran itu yang telah sampai dekat benar dari tempat ia berdiri. Ia terkejut serta bingung. Ia berdiri di tengah-tengah jalan dan ia tahu hal itu terlarang. Kalau raja sedang lewat jalan haruslah bersih. Sekarang ia berdiri hanya beberapa langkah saja dari bahagian depan rombongan itu. Suara prajurit yang berteriak-teriak menyuruh ia menjingkir semakin ramai. Ia diusir dan disorak-sorakkan sebagai seekor binatang. Mereka marah-marah, karena kejadian sebagai itu sangat tidak disukai oleh raja.

Gusti Ayu gugup, ia serba salah, tak tahu apa yang akan diperbuatnya, karena sudah terlanjur. Mukanya pucat. Sebagai orang kehilangan akal ia melihat kepada (p.71) rombongan itu, melihat lagi ke tepi jalan. I Pageh dan kawan-kawannya sedang menyembah dengan dua tangan, kepala mereka ditundukkan hampir sampai ke tanah. Dengan mencuri-curi I Pageh masih saja memberi isyarat dengan matanya, supaya Gusti Ayu lekas berlalu dari tempat itu, lari ketepi jalan. Mata I Pageh membayangkan ketakutan yang amat sangat, karena ia tahu bahwa tiap-tiap pelanggaran dihukum amat berat.

Sekonyong-konyong Gusti Ayu berlari menuju ketepi jalan, hendak lekas-lekas menyingkirkan dirinya dari tempat yang berbahaja itu. Ia lari sudah tidak melihat jalan lagi, sehingga tak nampak olehnya sebuah batu besar di dekat kakinya. Gusti Ayu terjatuh. Gendinya pecah, isi bakulnya bertaburan kiri kanan. Pada saat itu rombongan itu telah sampai ke dekatnya; didengarnya suara berteriak-teriak, memaki-maki sangat ramai. Gusti Ayu hendak berdiri, tetapi tak sanggup dengan seketika, karena dirasanya kakinya sakit.

Rombongan itu lalu berhenti dan dirasanya sepak terjang pada badannya, seakan-akan ia seekor binatang yang tak ada harganya. Ia mengeluh kesakitan, mukanya tertelungkup ke tanah. Kemudian dirasanya dua tangan yang kuat memegang bahunya, menolong ia berdiri. Didengarnya suara I Pageh dan ketika dilihatnya bahwa orang yang mengangkat dia itu ialah I Pageh, barulah agak senang hatinya, lalu ia menurut.

Dari dalam tandu keemasan yang sedang dipikul itu terdengar suara bengis yang sedang marah amat sangat:

- Siapakah orang yang kurang ajar itu? Apakah tidak mengetahui aturan, kalau aku lewat tidak seorangpun yang (p.72) boleh berada di jalan? Siapa perempuan itu? Dari mana dia?

- Anak dari kampung ini, Ratu. Anak I Murda, seorang penangkap ikan, demikianlah seorang pegawai memberi keterangan.

- Bawa ia kemari!

Titah Cokorde Gede Oka itu dengan segera diturut. Gusti Ayu yang sedang dibimbing oleh I Pageh, ditarik, diseret ke hadapan raja. Ia terlepas dari tangan I Pageh dan dengan tidak memperdulikan gadis itu sedang kesakitan, ia dibawa menghadap dan dipaksa bersimpuh di atas tanah. Dengan air mata bercucuran Gusti Ayu menyembah dengan kedua tangannya.

- Turunkan tandu ini! demikian titah raja.

Cokorde Gede Oka lalu membongkok melihat kepada gadis itu yang hendak diberinya pelajaran dan hukuman menurut kehendaknya. Ia seorang yang selalu menghendaki hormnat dari rakjatnya dan sekarang perempuan ini telah berani melanggarnya.

- Siapakah engkau?

Gusti Ayu berdiam diri. Ia gugup.

- Ayoh, lekas jawab! Siapa namamu?

- Gusti Ayu Pandan Sari, Ratu!

- Gusti Ayu Pandan Sari…???? Sapa ayahmu?

- Bapa I Murda, Ratu!

Gusti Ayu menyawab sambil menyembah.

- Bapa I Murda? Seorang Sudra? Mana boleh? Engkau jangan membodohi aku, mana boleh seorang Satrya berbapa Sudra! Ayoh, lekas jawab! Siapa ayahmu yang sebenarnya?

(p.73) Gusti Ayu tambah bingung. Apakah akan diakuinya siapa ayahnya yang sebenarnya? Bahwa ayahnya seorang raja, sedangkan ia hidup dalam keadaan melarat…?

- Ayoh, lekas! Cokorde mendesak. Siapa ayahmu? Katakan terus terang!

Gusti Ayu terus berdiam diri. Sebenarnya ia menyesal karena telah terlanjur mengatakan bahwa ia seorang Gusti Ayu, anak Satrya, tetapi kalau tak diakuinya pula, serba salah, semua orang-orang ini kenal padanya. Ia menekur melihat ke tanah dan tak berani mengangkat mukanya. Sekonyong-konyong terdengarlah suara I Pageh di belakangnya:

- Ampun hamba, Ratu, adapun Gusti Ayu ini adalah anak dari pada Ratu Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai…

- Apa katamu? Anak dari Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai…? Engkau jangan bermain-main! Dan jangan mempermain-mainkan nama pamanku! Apa sebab engkau mengatakan demikian?

Sekalian orang-orang yang berhadir sekeliling itu, pengikut-pengikut Cokorde Gede Oka dan prajurit-prajuritnya sama terdiam mendengarkan keterangan itu. Mereka sama-sama memperhatikan, apalagi mereka mengetahui bahwa nama Anak Agung yang disebut oleh I Pageh itu ialah paman Cokorde, yang mati terbunuh dalam pemberontakan.

- Hamba mendengar keterangan ini dari ayah hamba, I Murda.

Sejurus Cokorde tak dapat berkata-kata. Benarkah keterangan pemuda ini? Dilihat kepada air mukanya tak mungkin ia berdusta. Dan sebenarnya dalam riwayat kaum kerabatnya ada tersebut bahwa ketika pamannya itu (.74) meninggal dunia, mati terbunuh, adalah seorang bayi yang tidak tentu ke mana perginya. Sekalian kaum kerabatnya, istrinya yang sama-sama mati terbunuh, didapati mayatnya, tetapi bayi itu tak diketahui ke mana perginya. Boleh jadikah…?

- Gusti Ayu I cobolah melihat padaku!

Suara Cokorde itu telah berobah, menjadi lemas dan ramah. Gusti Ayu lalu menengadah, dengan perasaan takut dan malu ia mengangkat kepalanya. Pada waktu itu, ketika Cokorde melihat raut muka perawan itu, hilanglah sangsinya karena raut muka Satrya yang ia lihat itu, mata bangsawan yang sedang memandang padanya itu, sudah tak salah lagi, dikenalinya mata kaum kerabatnya, mata turunan raja.

- Gusti Ayu, benarkah apa yang dikatakan oleh orang itu?

- Benar, Ratu.

- Apa sebab engkau dibesarkan di antara kaum Sudra, Gusti Ayu?

- Karena ayah hamba telah mempercayakan hamba kepada Bapa I Murda, Ratu.

Mendengar keterangan ini Cokorde berdiam diri. Lama ia tak berkata-kata. Sungguh suatu kejadian yang tak disangka-sangka. Ia bertemu dengan seorang turunan pamannya Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai, dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Dibesarkan sebagai seorang Sudra…! Kaum kerabatnya semua mengatahuiriwayat yang sedih itu, karena seorang pamannya yang dengki berkhianat kepada Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai. Seketika lamanya paman yang dengki itu memerintah, tetapi kemudian dengan cara yang amat kejam ia mendapat hukumannya, karena sekonyong-konyong diserang penyakit gila. Dalam keadaan (p.75) yang menyedihkan ia meninggal dunia beberapa tahun kemudian. Kedudukannya lalu digantikan oleh seorang kemenakan dari Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai, sehingga kerajaannya itu sampai sekarang masih tinggal dalam turunannya. Sekarang ia bertemu dengan anak pamannya yang sudah perawan besar. Cokorde lalu memutuskan bahwa hal ini akan diperiksanya.

- Katakanlah kepada I Murda bahwa petang ini ia harus datang kedalam puri bersama dengan Gusti Ayu.

- Baiklah Ratu.

Gusti Ayu menjawab sambil menyembah. Sesudah itu Cokorde Gede Oka lalu memberi perintah supaya perjalanan diteruskan. Sesudah menyembah sekali lagi Gusti Ayu lalu mundur ke tepi jalan, melihatkan rombongan itu bergerak lalu berangkat.

Source

  • Andjar Asmara - Nusa Penida; Balai Pustaka Djakarta, 1949

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24