Novel 'Noesa Penida' (Asmara, 1949) Part II Ch. I

Below article is a rendering of a novel called 'Nusa Penida' by Andjar Asmara, published in 1949. Part II - Chapter I. For reasons of readability, only the spelling has been adapted to modern Indonesian spelling (Ejaan Yang Disempurnakan).

asmara nusapenida 1949

BAHAGIAN KEDUA , BAB I / Part II, Chapter I (p.36-61)

SEPULUH tahun kemudian.

I Murda sedang duduk di hadapan pondoknya memperbaiki sebuah jala yang rusak. Sambil mengunyah sirih sebentar-sebentar ia melihat ke arah laut, matanya sebagai mencari sesuatu yang belum nampak.

Kalau melihat kepada keadaan lahir dalam pondok I Murda hampir tak nampak perobahan, tetapi kalau diselami keadaan bathin penduduknya banyaklah nampak perobahan-perobahan, yaitu pembawaan zaman yang sewajarnya. Terutama pada I Murda sendiri. Usianya yang semakin lanjut sudah tak mengizinkan ia sering ke laut, badannya sudah tak kuat berangin berhujan sebagai dahulu, karena dalam waktu yang akhir ini ia diserang penyakit batuk yang tak kunjung sembuh dan penyakit tulang yang lebih-lebih menghilangkan kekuatannya. Tetapi karena badan yang biasa bergerak dan melakukan pekerjaan berat sejak mudanya, dalam keadaan sebagai sekarang I Murda tak dapat duduk diam. Ada-ada Saya kerja yang dicarinya didalam atau sekeliling rumah. Kalau tidak membetulkan atap rumah, menyisip di mana yang berlobang, ia duduk di hadapan pintu memperbaiki jala atau bersila di tengah panas merapikan pukat yang rusak, sambil menantikan I Jaya dan I Pageh kembali dari laut.

Kedua pemuda ini dengan sendirinya telah menggantikan (p.37) ayah mereka, melanjutkan usaha I Murda yang bertahun-tahun. Ketika badan I Pageh agak besar ia telah mulai diajar ke laut dan kemudian setelah ia dewasa pula sebagai kakaknya, maka I Jaya mulai cemas melihatkan kesehatan badan ayahnya yang semakin mundur. Mulanya ia belum berani, melarang ayah kelaut karena orang tua ini sangat keras hati, tetapi ketika pada satu kali, dipaksanya juga dirinya walaupun dalam keadaan tidak sehat, di tengah laut ia jatuh sakit, sehingga mereka terpaksa pulang. Beberapa hari I Murda terletak di atas balai-balai dan setelah ia sembuh I Jaya berkata pada ayahnya:

- Saya rasa, mulai sekarang, ayah janganlah ke laut lagi, sebab badan ayah sudah mulai sakit-sakit. Biarlah saya dengan I Pageh ke laut setiap hari, ayah tinggallah di rumah.

I Murda merasa kebenaran ucapan I Jaya ini, walaupun pada permulaannya amat dirasanya berat tinggal di rumah itu, karena bertahun-tahun biasa dilamun ombak. Tetapi kemudian terpaksa ia menerima karena badan sudah tak kuat dan lambat laun dapatlah ia membiasakan dirinya tinggal di rumah.

Sebentar-sebentar I Murda melihat ke arah laut dan kemudian setelah nampak olehnya sebuah layar yang bertambal hitam di sebelah atas, barulah ia kelihatan senang, karena layar ini dikenalinya sebagai layar perahunya. I Jaya dan I Pageh sedang menuju pulang.

Ketika perahu telah dekat ke pantai, I Jaya yang duduk di belakang memeqang kemudi berteriak:

- Gulunglah layar, Pageh!

Boleh jadi karena angin yang keras I Pageh tak (p.38) mendengar teriakan I Jaya itu, atau boleh jadi juga karena sebab yang lain, karena pada waktu itu ia sedang bersender di tiang melihat ke darat, sebagai melamun. I Jaya mengulangi teriakannya lebih keras lagi. I Pageh terkejut, melihat ke belakang. Setelah dilihatnya isyarat yang diberikan oleh kakaknya dengan tangan menunjuk ke layar, ia mengerti, lalu berdiri.

I Jaya menggelengkan kepalanya. Sering benar dilihatnya I Pageh berdiam seorang diri, sebagai ada yang dipikirkannya. Kadang-kadang kalau ditegor ia sebagai tak mendengar, pikirannya entah ke mana. I Jaya memegang kemudi bukanlah cara kebetulan, bukan saja kemudi perahu yang ia pegang, tetapi dalam penghidupan mereka serumah tangga seakan-akan I Jayalah yang tertua memimpin mereka semuanya. Adiknya sejak kecil telah biasa dipimpin dibelanya, tetapi dalam waktu yang akhir ini ia sebagai tak mengerti kelakuan I Pageh, yang sebagai hidup sendiri, tak suka bercakap banyak. Setelah perahu rapat ke tepi, I Pageh melompat lebih dahulu ke bawah, lalu menarik perahu itu sampai kandas. Setelah itu I Pageh berlalu, menuju pulang, dengan tidak berkata suatu apa.

I Jaya yang masih duduk di atas perahu memegang kemudi heran melihat I Pageh berlalu itu, lalu menegor:

- Hai, Pageh, kemana engkau?

- Pulang.

I Pageh menyahut dengan ringkas dengan tidak memalingkan mukanya.

- Tidakkah engkau hendak menolong aku dahulu (p.39) menurunkan dayung dan ikan? I Jaya bertanya lagi, tetapi ia sudah tak mendapat jawaban atas pertanyaannya ini, karena I Pageh sudah jauh. Sambil turun dari perahu, ia mengomel:

- Tidak lain, aku jugalah yang harus membereskan sekalian pekerjaannya...

Sedang I Jaya menurun-nurunkan ikan dan dayung perhatiannya tertarik mendengarkan suara gong yang mendegung. Ia melihat ke darat ke arah suara gong itu terdengar dan melihat pula ke jurusan rumah, nampak olehnya I Pageh terburu-buru masuk ke dalam rumah. I Jaya lalu mengerti. Hari ini Gusti Ayu sedang menari, I Pageh terburu-buru pulang tentu... Datanglah suatu pikiran yang nakal dalam kalbu I Jaya hendak mengganggu adiknya.

- Bukankah ada jalan yang lebih dekat ke tempat menari itu...?

Begitulah I Jaya berpikir sambil tersenyum. Dicepatkannya menurunkan ikan, lalu dipanggilnya seorang anak yang sedang berdiri di pantai, kepada siapa ia meminta tolong supaya diantarkan dayung dan pancingnya pulang. Setelah itu ia berjalan menuju ke darat menjinjing ikan di tangan kirinya. Dengan memotong jalan lekaslah ia sampai ke pekarangan pura tempat orang sedang menari.

Dilihatnya orang sedang ramai berkerumun memperhatikan Gusti Ayu Pandan Sari sedang menari. Laki-laki, tua dan muda berjongkok bersama-sama kanak-kanak yang bertelanjang. Di barisan belakang berdiri perempuan-perempuan, ada yang menggendong dan ada yang sedang menyusukan anak. Mereka sama-sama asyik memperhatikan langkah dan buang tangan Gusti Ayu Pandan Sari, yang pada (p.40) waktu itu tersebut sebagai penari yang terpandai dalam seluruh daerah Bali Selatan. Meskipun mereka telah melihat Gusti Ayu menari sejak kecil, sejak ia mulai diajar, tetapi mereka tak puas-puasnya melihat gesitnya Gusti Ayu, apalagi karena ia dibanggakan dan disohorkan.

Tiap-tiap penduduk kampung itu merasa ikut bangga, karena mempunyai seorang penari yang mengharumkan nama kampungnya.

Gusti Ayu Pandan Sari kerap kali dipanggil menari ke lain daerah, ia sudah pernah menari di hadapan raja-raja dan orang-orang besar. Dari jauh datang panggilan itu, karena namanya telah tersiar ke mana-mana, sehingga dalam kalangan guru-gurunya telah diakui, bahwa seumur hidup belum mereka melihat seorang penari yang dapat mengatasi kepandaian Gusti Ayu Pandan Sari.

Lain dari pada kelemasan tangan dan kegesitan badannya menarikan tari-tari yang bersemangat, sehingga menjadikan pemukul gamelan, gendang dan gong-pun ikut bersemangat pula kalau ia menari, adalah pula kecantikan Gusti Ayu yang menyadi penarik bagi siapa yang melihatnya. Teristimewa pemuda-pemuda yang sangat asyik kalau ia melayang dengan kipas di tangan dari sudut ke sudut. Dalam keadaan demikian Gusti Ayu sebagai tak mengindahkan orang yang mengaguminya, sedikitpun ia tak gentar, bahkan di hadapan orang-orang besar. Keberaniannya menari itu tambah mengagumkan. Kalau ia sedang asyik menari, rambutnya tergerai, tak diacuhkannya, dipipinya yang kuning langsep terbayang warna kemerah-merahan karena darah yang mengalir cepat. Matanya yang bundar kadang-kadang terbelalak, membayangkan semangat tarinya yang diiringi dengan geleng (p.41) kepalanya yang sangat cepat. Raut mukanya yang menandakan ia turunan Satrya kadang-kadang memperlihatkan ke angkuhan yang tak dapat dihampiri, walaupun orang yang mengenai dia, tahu, bahwa Gusti Ayu adalah seorang yang sangat sederhana dalam tabeat dan kelakuannya. Pergaulannya di antara kaum Sudra sejak kecil telah menyadikan ia orang Satrya karena darah, tetapi Sudra dalam semangatnya.

Sebagai perawan dewasa tubuhnya yang telanyang sebelah ke atas mendatangkan berahi pemuda-pemuda yang melihat ia menari, banyaklah yang melamun karenanya, tetapi seorangpun tak berani memikirkan akan meminang gadis Satrya ini, karena perbedaan derajat. Banyaklah pertanyaan yang dimajukan di antara kaum yang tua-tua, siapakah yang akan beruntung mempersunting Gusti Ayu sebagai isteri, tetapi seorangpun tak dapat menyawab pertanyaan itu. Melihat kepada derajat tak mungkin salah seorang dari kampung itu akan mendapatnya, tetapi kalau melihat pula kepada penghidupan I Murda, seorang tukang pancing yang miskin, tak mungkin pula seorang Satrya dari golongan orang besar-besar yang akan datang meminang Gusti Ayu, tetapi entahlah...

I Jaya berdiri di belakang perempuan-perempuan banyak yang sedang berkerumun itu, melihat ke dalam. Tak lama kemudian Gusti Ayu sampai ke dekat tempat ia berdiri dan ketika nampak I Jaya olehnya, ia seakan-akan tersenyum dengan sudut matanya. Isjarat itu adalah sekejap mata, yaitu ketika bertemu mata dengan mata dan sesudah itu Gusti Ayu meneruskan tarinya sebagai tak terjadi suatu apa. I Jayapun tak memperlihatkan kepada orang banyak bahwa (p.42) ialah yang menjadikan sebab penari itu kegirangan. Ia menanti di luar dengan sabar sampai habisnya tari itu.

Ketika selesai tari itu orangpun bubarlah dan Gusti Ayu buru-buru meletakkan kipasnya dan setelah mengatakan kepada gurunya bahwa ia akan pulang, ia menuju ke tempat I Jaya berdiri dan merekapun bersama-sama pulang.

- Gusti Ayu, marilah kita mengambil jalan rumpun bambu, I Jaya mengajak.

- Apa sebab ke rumpun bambu, bukankah lebih jauh, dan harus pula menyeberangi sungai...?

- Sebab jalan di hilir itu banyak lumpur sesudah hujan. Gusti Ayu menerima saja keterangan ini dengan tidak memikirkan lebih jauh dan ia lupa pula bahwa tadi pagi ketika ia datang ke tempat ini jalan itu tidak penuh lumpur, tetapi karena perhatiannya telah dibulati oleh I Jaya, ia sebagai menurut dituntun ke mana pergi dengan tidak membantah, padahal kalau ia melihat ke jalan di hilir itu akan nampak olehnya I Pageh sedang mendaki, menuju ke pura. Ia tak menduga pula bahwa I Jaya sengaja mengajaknya mengambil jalan rumpun bambu, karena hendak menghindarkan I Pageh. I Jaya telah melihat Pageh lebih dahulu dari jauh. Benar taksirannya, I Pageh berpakaian baik sedang menuju ke pura, tentu akan menjemput Gusti Ayu. Inilah pula sebabnya ia sangat terburu-buru turun dari perahu tadi, akan bersalin pakaian, supaya kelihatan bersih, tetapi I Jaya telah mendahuluinya, memotong jalan I Pageh. Dalam hatinya I Jaya tertawa mengingatkan bagaimana sungut I Pageh kalau nanti didapatinya burung yang hendak ditangkapnya itu telah terbang...!

- Banyak dapat ikan, kak? Gusti Ayu bertanya.

- (p.43) Inilah semua yang dapat, sahut I Jaya sambil menunjukkan ikan yang dijinjing di tangan kiri.

- Itu akan dijual, kak?

- Benar, aku hendak ke pasar sebentar lagi.

- Bolehkah aku ikut, kak?

- Boleh kalau kau suka, tetapi tukarlah dulu pakaian tarimu.

Mereka menyeberangi sungai dan sesampainya di rumah nampaknya I Murda agak heran menanyakan apakah I Pageh tidak bertemu dengan mereka. I Jaya lekas menyahut:

- I Pageh, pak? Ke mana dia? Tadi dia pulang lebih dulu dari saya.

- Ia baru saja ke luar rumah lagi, sesudah bersalin pakaian.

Gusti Ayu sudah tak mendengarkan lagi percakapan ini, karena ia telah masuk ke dalam menukar pakayannya dengan cepat. Setelah selesai ia keluar lagi lalu berkata:

- Pak, saya ikut dengan kak Jaya ke pasar.

- Baiklah, belikan aku sirih Gusti Ayu.

- Baiklah pak.

Mereka berdua berjalan beriring-iringan. Gusti Ayu menjunjung sebuah bakul di atas kepalanya, I Jaya menjinjing ikan. I Murda melihat mereka berjalan itu mengeluh sambil menggelengkan kepalanya.

Mata I Murda sebagai mata seorang tua tak dapat ditipu. Melihat gerak-gerik anak-anak muda itu ia sudah arif. Bagaimanapun mereka hendak menyembunyikan di hadapan orang tuanya, tetapi mata tua itu dapat menangkap suara orang yang berisi, kerling mata yang dicuri-curi, sekalian (p.44 hereng dan gendeng kedua anak muda itu telah mendatangkan perasaan khawatir pada orang tua itu, kalau-kalau...

Bilamana Gusti Ayu, bukan Gusti Ayu, yaitu anak dari pada junjungannya, seorang Satrya, tidak akan mendatangkan khawatir bagi I Murda. Boleh jadi hal ini akan menggirangkan hatinya, seorang anak yang ia besarkan sedari bayi, dapat pula dipersunting oleh I Jaya sebagai isteri, tetapi... sampai ini hari ia sendri selalu mempertahankan dan menjunjung tinggi derajat Gusti Ayu, supaya jangan tercemar, sehingga orang kampung masih mengakuinya sebagai seorang Satrya, dan sebagai Satrya, tentulah tak mungkin ia akan menyadi isteri I Jaya...

Dahulu, ketika ia menerima “warisan" ini dari junjungannya, Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai, dan beberapa tahun selama ia membesarkan Gusti Ayu Pandan Sari tak pernah terlintas dalam hatinya betapa gerangan akibat dari pada membesarkan seorang anak perawan kalau ia telah memasuki akil balig. Selama ini ia hanya merasa bangga dapat memenuhi pesan penghabisan dari junjungannya, perasaan seorang Sudra terhadap kepada majikan, kepada siapa, bahkan sampai kepada saat ini ia masih bersetia, walaupun hanya kepada arwahnya, sehingga ia mengatakan bahwa Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai telah mempertaruhkan sebuah “mestika" padanya. Sesungguhnya suatu kepercayaan yang luar biasa yang pernah dilimpahkan kepada seorang hamba! Tetapi bahwa “mestika" ini, ibarat batu cincin yang mahal dan indah permai di suatu waktu mengehendaki ikatan yang setimpal dengan harga dan derajatnya, tak pernah dipikirkannya, sampai kepada saat ia melihat bahaya yang mengancam, yaitu I Jaya, anaknya, darah (p.45) dagingnya sendiri yang telah dewasa pula, kalau-kalau terpikat hatinya oleh perawan Satrya ini, apakah yang hendak ia perbuat...?!

I Murda belum pernah menyatakan kecewanya terhadap siapapun juga. Rahasia ini disimpannya seorang diri dan lagi lain dari pada tanda-tanda, belumlah suatu kejadian atau perkataan yang memaksa ia campur tangan, tetapi walaupun demikian ibarat seorang pelaut angin telah memberikan tanda-tanda badai akan datang, dan dalam keadaan demikian si pengai] haruslah memulai mengambil persediaan dengan layarnya, atau diputarnya kemudinya sebelum badai itu datang; tidaklah ia akan membiarkan, bahaya itu sampai, kalau masih dapat dielakkannya...!

Sebagai lebai malang datang terlambat, demikian I Pageh kembali dari pura dengan perasaan masygul yang tak terkatakan. Maksudnya hendak menjemput Gusti Ayu tak berhasil, karena ia terlambat sampai ke tempat menari itu. Ketika ia sampai ke pekarangan pura dilihatnya tempat itu sudah kosong, orang-orang sudah pulang. Dari seorang yang memikul gendang ia mendapat keterangan bahwa Gusti Ayu telah pulang. I Pageh berbalik surut, badannya lemas, hatinya hiba... Sungguh malang aku ini, terburu-buru ia pulang kerumah mengganti pakaiannya supaya kelihatan bersih, tetapi sekarang... ia pulang seorang diri, pakaian itu sudah tak berguna...!

Ia menurun dari jalan pura itu berjalan gontai, tak tentu tujuan. Hendak pulang ia malas, malu. Entah kepada siapa ia malu... Hendak ke pasar,apakah yang diperbuatnya di sana... Dahulu kerap kali ia ke pasar (p.46)menemui kawan-kawannya, bercakap-cakap sampai larut malam, tertawa beramai-ramai. Kadang-kadang mereka menyabung ajam kalau ada lawan yang mengajak, tetapi sekarang... entah apa sebabnya kawan-kawannya itu sudah tak menarik perhatiannya lagi, malah gelanggang tempat menyabung ajam sudah lama tak dikunjunginya, ayamnya sudah tak dipelihara lagi, padahal dahulu sangat rajin ia merawat ayam kesayangannya. Sekalian pekerjaan yang tadinya dilakukannya dengan rajin, sekarang sudah tak menarik perhatiannya lagi, ia malas, malah ke laut ia ras-rasan, kalau tidak karena terpaksa dan kalau tidak takut pada ayah, maulah ia membiarkan I Jaya sendiri yang menangkap ikan. Pikirannya kacau, hatinya hiba...

Dalam keadaan semacam ini ia tak suka beramai-ramai, ia lebih suka bersendiri, bersepi-sepi. Dalam hati sanubarinya adalah suatu perasaan yang timbul, perasaan sebagai gelora yang tak dapat dihambat, suatu keinginan yang tak dapat diartikannya, keinginan baru yang selama ini belum pernah dirasainya... Perasaan I Pageh sebagai takut-takut berani. Kadang-kadang ia berani menentang segala sesuatu, tetapi kadang-kadang ia ragu-ragu dan berhiba hati.

Ketika ia membelok di jalan yang menurun itu dan melihat ke bawah darahnya tersirap, jantungnya berdebar... Gusti Ayu sedang mendaki dan telah berada dekat sekali dari tempat ia berdiri. Gusti Ayu hendak ke pasar dengan I Jaya. Sudah tentu I Jaya yang mengiringkan Gusti Ayu, sebab ia tak ada di rumah dan I Jaya kemudian pulang ke rumah dari pada dia. Kejadian ini dianggapnya sudah sewajarnya dan ia tak menyesali I Jaya, hanya untungnya yang malang.

(p.47) I Pageh merasa malu bertemu dengan mereka, entah apa sebabnya. Ia tak bersalah, tetapi ia tak ingin mereka melihat air mukanya yang sedang masygul itu, tetapi hendak menghela surut sudah tak sempat. Ia sudah terlanjur melewati kelok itu dan mereka telah melihat dia. Kalau ia menghela surut tambah tak baik, maka terpaksalah ia meneruskan perjalannya sambil menekur.

- Kak Pageh hendak ke mana? Gusti Ayu bertanya setelah mereka berdekatan.

- Ah, tidak, saja hendak ke pasar.

- Kebetulan kak Pageh, kami juga hendak ke pasar menjual ikan, marilah bersama-sama.

- Jalanlah dahulu, Gusti Ayu, saya hendak pulang sebentar mengambil uang, demikianlah I Pageh mengelak diri sambil menekur dan berjalan semakin cepat. Tak lama kemudian ia sudah berada jauh dari mereka.

Gusti Ayu berdiri seketika melihatkan I Pageh berjalan cepat itu. Tak luput dari pandangannya kelakuan I Pageh yang ganjil itu, sebagai ia menjauh, sebagai ada sesuatu yang disembunyikannya, yang tak dapat diartikannya.

I Jaya tak berkata suatu apa. Iapun melihatkan adiknya yang sedang menuju pulang itu dan walaupun bertemu hanya sebentar, tapi jelas nampak olehnya air muka I Pageh yang kecewa dan masygul itu. Dalam hatinya I Jaya menyesal. Ia amat sayang pada I Pageh, ia tidak bermaksud hendak mengecilkan hati I Pageh demikian rupa. Ia memotong jalan I Pageh, semata-mata karena ilham yang datang dengan seketika, yaitu waktu ia mendengar bunyi gong tadi dan mengerti maksud I Pageh hendak ke mana, (p.48) tetapi ia tak mengira I Pageh akan kecele demikian rupa, sebagai rusak hatinya. Kalau diketahuinya dari tadi tentu ia tak kan mempermainkan adiknya itu.

I Jaya berdiri di belakang Gusti Ayu, sehingga gadis itu tak melihat air mukanya yang menyesal itu. Ia pun tak kan menduga perasaan apa yang dirasakan oleh I Jaya pada waktu itu. Ia hanya heran melihat kelakuan I Pageh, sesudah itu ia berjalan mendaki dan I Jayapun menurut di belakangnya perlahan-lahan.

Mereka sama-sama terdam, sedang heran dan pada saat itu suatu perasaan takut mengunjungi mereka kedua. Kalau-kalau I Pageh...! Ah,tetapi tidak. Karena dilamun oleh perasaan lain yang lebih gembira dan menyenangkan antara mereka kedua I Jaya menolak dugaannya itu. Begitupun Gusti Ayu, meskipun ia lebih khawatir melihat kelakuan I Pageh itu. Sebagai perempuan ia merasa bahwa kelakuan I Pageh itu boleh jadi ditujukan padanya, walaupun belum dapat diartikannya.

- Amat aneh kelakuan kak Pageh, Gusti Ayu berkata sebagai pada dirinya sendiri.

- Ah, itu tidak apa-apa. Sekarang ia begitu, besok ia sudah baik kembali, kau sudah tahu adatnya, I Jaya menyahut.

- Tetapi meskipun demikian, aku kasihan melihatnya.

- Padaku Gusti Ayu tak kasihan...? I Jaya menyindir.

- Tidak!

Gusti Ayu menjawab dengan cepat, jantungnya berdebar, darahnya naik ke muka dan ke lehernya. Pipinya kelihatan kemerah-merahan. I Jaya tahu bahwa jawab itu bukanlah (p.49) jawab yang sebenarnya, yang keluar dari hati sanubari Gusti Ayu. Ia telah mencukil tali yang halus dalam hati perawan itu, sehingga dengan seketika mereka telah melupakan I Pageh.

Mereka telah sampai di suatu tempat yang datar, di bawah sebuah pohon yang rimbun. Pada tempat itu jalan sangat sepi, seorangpun tak kelihatan berlalu lintas. Pada tempat ini mereka kerap kali bermain-main sewaktu kecil sehingga I Jaya mengetahui benar tiap-tiap batu dan urat kayu besar yang melintang jalan. I Jaya menuju ke sebuah batu besar lalu duduk.

- Marilah duduk sebentar, Gusti Ayu, ada yang hendak kukatakan.

- Ah, tidak! Marilah ke pasar. Nanti kalau kita terlambat, pasar lengang, Gusti Ayu membantah.

Ia membantah itu karena takut, karena telah menduga apa yang hendak dikatakan oleh I Jaya.

- Marilah sebentar! Aku berjanyi tidak akan lama.

I Jaya membujuk Gusti Ayu sambil berdiri menarik tangan gadis itu. Sebagai tak suka Gusti Ayu bertahan dengan kakinya, tetapi perlahan-lahan badannya menurutkan tarikan I Jaya yang tak seberapa kerasnya itu.

Akhirya ia duduk juga di sebelah I Jaya di atas batu besar itu. Diletakkannya bakulnya di sebelahnya, yaitu di antara I Jaya dan dia. Sesudah itu diperbaikinya selendang yang menutup kepalanya. Dibukanya rambutnya yang panjang sehingga terurai, lalu dibelitkannya selendang itu ke dalam gulungan rambut itu, diputar dan diaturnya kembali di atas kepalanya. Meskipun Gusti Ayu mengerjakan itu dengan tiada memakai cermin, duduk rambutnya amat (p.50) tepatnya dan kuncir yang sepotong yang terurai di sebelah kanan, di atas telinganya tambah menjadikan air mukanya berseri-seri. I Jaya melihatkan ia memperbaiki rambutnya itu nampaknya dengan sabar dan tenang; ini pulalah suatu sifat yang mendatangkan kepercajaan pada Sari, yang menjadikan hatinya telah dibulati oleh jejaka ini. Kalau ia berdekatan dengan I Jaya ia merasakan suatu perasaan tenang, hilang segala kekhawatiran. Ia tak merasa takut atau gentar, sebab bukantah sejak mereka kecil I Jaya selamanya menyadi pembela dia dan I Pageh...?

- Gusti Ayu, kata I Jaya setelah seketika mereka duduk berdiam diri - dari sehari ke sehari aku menantikan putusanmu...

- Bukankah kakak telah mengetahui halangannya...?

- Kakak tahu, Sari, tetapi apakah perbedaan derajat ini akan memisahkan kita untuk selama-lamanya?

Gusti Ayu tak menjawab. Sambil menunjukkan kepalanya ia mempermainkan ujung kainnya, sebagai hendak mencari pikiran, walaupun ia mengetahui bahwa tak ada suatu pikiran yang akan memberi penerangan dalam keadaan yang gelap gelita sebagai ini. Ia tahu bahwa mereka telah lama sampai kesuatu jalan yang buntu, tak tahu ke mana hendak menuju, hendak berbalik surutpun sudah tak dapat karena ia sudah terdorong mencurahkan hatinya pada pemuda yang cakap di sebelahnya itu. Dalam hatinya telah bulat bahwa ia tak kan mempersuamikan seorang lain dari pada I Jaya, tetapi... suatu jurang dalam,yaitu turunan darah yang memisahkan mereka berdua.

Malam hari, kalau ayah dan kedua “kakaknya" telah tidur kerap kali ia tertelentang berbuka mata memikirkan (p.51) nasibnya. Apa sebab ia dilahirkan sebagai seorang Satrya dan I Jaya sebagai Sudra...? Ia tak habis habis pikir, menyesali nasib yang kejam itu. Banyak di antara kawan-kawannya yang sepermainan, sebagai Ni Kerti, Ni Sulastri dan Ni Nogati telah kawin menurut pilihan mereka, menurut kesukaan mereka sama-sama bangsa Sudra, tetapi dia dan I Jaya... Mereka berdua berhanyut-hanyut dilamun pikiran, dimabuk cinta yang tak mendapat keputusan.

Yang ia tak habis pikir, ialah karena ia tak merasa bersalah, atau berdosa sedikitpun dalam hal ini. Bukanlah suatu dosa kalau seorang gadis mencintai seorang jejaka, sebagai yang telah dilihatnya di antara kawan-kawannya, tetapi hanya darah semata-mata, darah, darah Satrya-nya yang tak membolehkan ia mengecap untung yang diingini oleh seluruh tubuh dan semangatnya. Orang memperbasakan dia dengan “Gusti Ayu", bahkan ayah, yang bukan ayahnya, I Jaya dan I Pageh, orang kampung semuanya, belum pernah seorang yang merendahkan derajatnya, tetapi apakah hasilnya perbasaan ini bagi dia, kalau sejak kecil ia dibesarkan di antara kaum Sudra... Ia tak mengenal ibu pabaknya, tak mempunyai kaum kerabat yang sederajat dengan dia. Ia telah mengasih menyayangi orang-orang yang setiap hari berada di kelilingnya, yang telah membesarkan dia, tetapi orang-orang ini tidak sederajat dengan dia...! Alangkah kejamnya!

- Takutlah engkau dibuang Sari...? I Jaya bertanya sekonyong-konyong, sambil menoleh kepada Gusti Ayu dengan pandangan yang tajam, sebagai mengehendaki jawab.

(p.52) Rupanya inilah yang hendak dikatakan oleh I Jaya padanya. Gusti Ayu terkejut mendengarnya. Sekarang sesudah didengarnya pertanyaan itu diucapkan oleh I Jaya, ia insyaf bahwa jalan itu memang ada dalam adat. Seorang Sudra yang berani mengawini seorang Satrya dibuang menurut adat, tetapi sampai kepada saat ini belum pernah dipikirkannya akan mengambil jalan itu, lain dari pada menyesali untungnya. Sekarang I Jaya mengajak ia merombak pagar yang menyadi halangan di antara mereka, yaitu jalan yang satu-satunya yang dapat mereka tempuh untuk menyampaikan maksud. Pertanyaan ini datangnya dengan sekonyong-konyong pada Gusti Ayu, ia tak sempat memikirkan, hatinya berdebar bercampur takut. Ia takut akan akibatnya, ia tahu bahwa perbuatan yang demikian akan berakhir dengan kesedihan, tetapi ia tidak takut menurutkan kata hatinya kalau terpaksa.

- Jalan lain sudah tak ada, Sari, telah kupikirkan berhari-hari, tetapi semakin kupikirkan semakin buntu pikiranku. Kemarin aku sedang beromong-omong dengan bapa I Jaladra dan ia menceriterakan tentang suatu kejadian yang seperti kita ini, yaitu seorang Sudra yang berani mengawini seorang turunan Satrya. Hukuman yang mereka terima ialah buangan dari kampung dan halaman untuk beberapa tahun. Bapa I Jaladra entah mengetahui hal kita ini, entah tidak, kakak tidak pula menanyakan, tetapi kakak lalu berpikir semalam-malaman dan akhirnya kakak memutuskan dalam hati kakak bahwa inilah jalan yang sebaik-baiknya, sebab dengan jalan lain tak dapat kita mengelakkan halangan itu. Bagaimana pikiranmu Sari? Engkau tahu pula bahwa kalau kita mengambil jalan ini derajatmu akan (p.53) ditanggalkan, engkau akan diturunkan kepada kaum Sudra. Takutkah engkau?

- Aku tidak takut kak, Gusti Ayu menyawab dengan tegas, sebab sesungguhnya derajat itu sudah tak berarti baginya. Barangkali sebagai Sudra ia akan merasa lebih beruntung dari pada sekarang.

- Kalau engkau tidak takut, apa lagi yang dipikirkan Sari...?

I Jaya berkata dengan cahaya mata yang bersinar, sebab dari tadi ia menghendaki pertanyaan itu dijawab dan sekarang Gusti Ayu telah memberikan jawabannya dengan cepat, tetapi walaupun demikian Gusti Ayu kelihatan sebagai memikirkan sesuatu hal yang belum dapat diduganya.

- Buat diriku tidak kupikirkan kak, tetapi aku kasihan memikirkan ayah. Kalau kita melakukan perbuatan itu tentu kita akan terpisah dari ayah dan I Pageh, sedangkan ayah sudah tua.

Hal ini belum pernah dipikirkan oleh I Jaya. Karena terdorong oleh perasaan cinta dan semangat muda ia hanya memikirkan kesenangan antara ia dan Sari, tetapi apakah akibatnya untuk ayahnya yang telah tua belum diingatnya. Alangkah cerdas gadis ini, lekas ia dapat mendahului pikirannya sebagai laki-laki. Ia tak takut hidup, tak takut melarat, asal dapai berdua dengan Sari, asal godaan yang ia derita sekarang dapat berakhir.

Semasa kecil ia merasakan sayang pada Gusti Ayu sebagai menyayangi adik kandungnya, bahkan ketika ayah menceriterakan riwayat Gusti Ayu dan sesudah terang dan jelas baginya bahwa Gusti Ayu ialah anak dari seorang Anak Agung, belumlah berobah perasaannya terhadap gadis ini.

(p.54) Dalam pandangannya Gusti Ayu waktu itu sama saja dengan I Pageh, tetapi... entah sebanya, lama-kelamaan perasaannya terhadap Gusti Ayu bertukar dengan suatu perasaan yang tadinya belum dikenalnya. Dari bulan kebulan sesudah itu ia tambah memperhatikan Gusti Ayu yang semakin besar, sehingga dewasa. Saat ketika ia mengetahui dan dapat mengartikan perobahan itu ialah ketika diperhatikannya Gusti Ayu seakan-akan malu dan agak menjauhi dia. Perobahan ini tambah mengiris jantungnya. Ada suatu waktu Gusti Ayu sehilir semudik dengan I Pageh, bersenda gurau sebagai biasa, tetapi dengan dia gadis ini sudah kurang bergirang-girangan, tetapi, kalau diperhatikannya pula dari segala perbuatannya Gusti Ayu dalam hal meladeni mereka berdua nampaklah perbedaan, yaitu Gusti Ayu dalam segala hal lebih memerlukan dia dari pada I Pageh, bahkan kadang-kadang lebih dari pada ayah. Misalnya kalau Gusti Ayu menjediakan makanan untuk ke laut, selamanya bungkusan dan gendi untuk I Jaya yang diperlukannya lebih dahulu.

Malam tak dapat dipicingkannya matanya, ia dipengaruhi oleh suatu perasaan yang ganjil. Apa sebab Gusti Ayu lebih dipikirkannya sekarang? Senantiasa terbayang-bayang olehnya badan Gusti Ayu yang semakin berisi, seakan-akan terdengar olehnya ge]ak perawan itu yang berderai-derai, kalau ia sedang bersenda gurau dengan I Pageh. Kalau ia berdiri dekat Gusti Ayu terbau olehnya rambut gadis itu, hatinya mulai tak senang, darahnya mengalir cepat. Pada suatu hari, ketika mereka sedang berdua di rumah dipegangnya tangan Gusti Ayu dan Gusti Ayu tidak membantah, melainkan menekurkan kepalanya, mukanya kelihatan kemerah-merahan.

(p.55) Pada saat itulah mereka sama mengetahui bahwa mereka telah dimabuk cinta. Semakin hari perasaan itu semakin berkobar.

Mulanya perasaan baru itu hanya mendatangkan kesenangan yang tak terhingga pada semangat mudanya, tetapi kemudian datanglah suatu keinginan dalam hatinya hendak memperisteri Gusti Ayu. Keinginan ini tumbuhnya karena kawan-kawannya. Tiap malam I Jaya berkumpul-kumpul dengan kawan-kawannya yang sebaya dengan dia. Hal yang mereka percakapkan tiada lain melainkan perempuan. Mereka sama-sama menceritakan pengalamannya dan keinginan hendak mempersunting perempuan yang disukainya sebagai isteri. Komplang, sahabatnya yang amat rapat sudah pernah beristeri dan kalau ia sedang berceritera mereka sangat asyik mendengarkan bersama-sama, kadang-kadang mereka tertawa beramai-ramai.

Percakapan itu kerap kali dilakukan di pasar, di waktu senja, kalau pasar sudah sepi. Komplang duduk ditengah-tengah, dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya, ada yang bersila, ada yang berlunjur dan ada pula yang mendengarkan sedang tidur-tiduran. A sap rokok mengepul-ngepul, sedangkan kalau berceritera demikian itu biasanya Komplang mengunyah sirih. Pengalaman Komplang dalam hal perempuan banyak benar. Ia sudah pernah tinggal di Badung beberapa tahun, di situlah ia berkenalan dengan perempuan-perempuan yang bagus dan cantik. Mereka itu sangat berlain dengan perempuan kampung.

Komplang amat pandai menarik hati kawan-kawannya, kalau ia berceritera, sekali-sekali diucapkannya selingan yang agak pedas sebagai bumbu yang menerbitkan tertawa (p.56)di antara pendengar-pendengarnya, tetapi kalau ia sedang menerangkan hal ihwalnya berumah tangga, kebaikan dan keburukannya hidup berdua, bersuami isteri, mereka mendengarkan dengan penuh perhatian. Sekali-sekali mereka memajukan pertanyaan, lalu diberi keterangan panjang lebar oleh Komplang.

Percakapan-percakapan yang demikian telah menjadikan pemuda I Jaya melamun berhari-hari. Sedang ia dimabuk cinta, datanglah pertanyaan dalam dirinya: apakah ia akan tinggal mengasihi Gusti Ayu dalam keadaan ini dengan tak berkesudahan? Dalam tubuhnya dirasanya jawab bahwa hal ini tak kan dapat dibiarkan. Cinta itu mengehendaki pelepasan, kepuasan, inilah kekurangan yang ia rasakan.

Bagaimanakah gerangan kalau ia memperisteri Gusti Ayu? Demikianlah pertanyaan yang pertama yang mengunjungi kalbunya. Alangkah manisnya penghidupan demikian, berdua, kata Komplang... Dan kalau dilihatnya pula keadaan kawan-kawannya yang kawin amat berbeda dengan penhidupnya yang sekarang ini. Ia akan mendapat hak atas Gusti, sabagai haknya sendiri. Ia boleh berjalan dengan dia, ke mana ia suka dan ia boleh mengasih menyayangi padanya tidak bersembunyi sebagai sekarang ini.

Kemudian datanglah awan gelap dalam lamunannya, yaitu derajat Gusti Ayu yang berbeda dengan dia. Beberapa hari pula ia memikirkan hal ini dengan tak mendapat keputusan. Gusti Aju telah menyatakan padanya bahwa hal ini menjadi halangan di antara mereka. Artinya: kalau halangan ini tak ada tentulah Gusti Ayu sudi menjadi isterinya. Benar, Gusti (p.57) Ayu tidak memberikan jawaban itu dengan perkataan yang terang, tetapi ketika ia mengatakan bahwa hal turunan itu menjadi halangan iapun arif, bahwa Gusti Ayu sedang memikirkan soal itu. Sementara itu cinta mereka semakin berkobar.

Setelah didengarnya ceritera Bapa I Jaladra tentang seorang pemuda dari kaum Sudra yang berani mengawini seorang gadis Satrya, yang kemudian dibuang menurut adat, datanglah suatu pikiran nekat dalam hati I Jaya: ia akan mengambil jalan itu, walaupun sulit, walaupun akan dibuang, asal Gusti Ayu sama-sama berani melakukannya.

Hanya dengan jalan ini ia akan mendapat Gusti Ayu sebagai isteri, jalan lain sudah tak ada.

Pikiran I Jaya yang tadinya gelap, sekarang berbalik menjadi terang. Tetapi lebih dahulu ia hendak mengetahui pendirian Gusti Ayu, beranikah ia? Ketika pertanyaan itu dimajukannya, dengan cepat Gusti Ayu menjawab bahwa ia tidak takut. Ini menyadi bukti untuk kesekian kali, bahwa benar-benar cintanya berbalas. Kalau seorang gadis menyatakan tidak mengenal takut, sikap ini tambah menyadikan berani pada seorang pemuda, tetapi... jawabnya disambungnya dengan suatu hal yang belum pernah dipikirkan oleh I Jaya, yaitu: bagaimana ayah yang telah tua, kalau ditinggalkan...

Sampai kepada saat ini I Jaya hanya memikirkan kesenangan hidup berdua dengan Gusti Ayu, walaupun dalam pembuangan, walaupun jauh dari sahabat kenalan dan orang-orang kampung, tetapi belum pernah ia insyaf bahwa dalam keadaan yang demikian mereka akan terpisah dari orang tua yang dikasihinya. Dan ayah sangat membutuhkan (p.58) Gusti Ayu! Malam kalau ayah masuk tidur, Gusti Ayu yang memijit, karena kerap kali ia diserang penyakit tulang, apalagi kalau hari agak dingin. Obat ayah siapakah yang akan membuatkan? Siapakah yang akan memasak? I Pageh tak kan mungkin mengerjakan sekalian pekerjaan Gusti Ayu.

I Jaya terdiam, karena dalam hatinya mengakui kebenaran kata yang telah diucapkan oleh Gusti Ayu: bagaimana ayah kalau ditingalkan... Jawab dari pertanyaan ini sebenarnya amat mudah, sebab ayah dan I Pageh sudah tentu tak boleh ditinggalkan, demikianlah ia berpikir.

- Ayah tentu kita ajak, malah I Pageh juga.

- Apa boleh kita ajak, kak?

Gusti Ayu memajukan pertanyaan ini sebagai acuh tak acuh. Ia, bahkan I Jaya belum mengetahui benar seluk-beluk adat itu dan bagaimana caranya orang kalau dibuang, tetapi perasaan dan kecerdasannya sebagai perempuan mengatakan bahwa adalah sesuatu yang tak sempurna dalam ucapan I Jaya itu.

- Apakah halangannya Sari?

- Janganlah kakak lupa bahwa buangan itu sebenarnya hukuman dan apakah dibolehkan orang membawa orang tua dan kaum kerabatnya dalam pembuangan...?

Benar juga kata Gusti Ayu itu.

I Jaya seorang yang berani dan jujur, tetapi perawan itu rupanya melebihi dia dalam hal kecerdasan. Keberanian I Jaya sebagai seorang pelaut yang biasa berjuang dalam alam yang terbuka, biasa menyabung nyawa menentang taufan dan badai, ialah suatu keberanian yang tiada mengenal batas dan berdasar atas kejujuran. Kejujuran (p.59)menjadi dasar dari penghidupannya, tetapi tentang seluk beluk hidup bersama dan hukum-hukum yang mengatur penghidupan senegeri ia belum mengerti. Sejak kecil ia hidup beraja di hati, mengambil apa yang ia suka dan sangat membenci sesuatu perbuatan yang tidak jujur atau yang bertentangan dengan fiilnya. Dalam hal yang demikian ia sendiri yang memutuskan. Kalau I Pageh berkelahi dengan seorang lawan yang sepadan dibiarkannya, tetapi kalau lawan itu lebih besar, lalu dipukulnya. Hal sebagai ini telah berkali-kali terjadi dan hukumnya selamanya benar menurut undang-undangnya sendiri, tetapi sekarang setelah dewasa penghidupannya dirasanya sangat terganggu karena harus takluk ke bawah peraturan negeri dan bangsa yang belum diketahuinya. Banyak hal-hal yang dirasanya tidak adil dalam fiilnya yang biasa terdidik dalam alam yang terbuka, misalnya dalam soal perkawinan ini apalah perlunya orang mencampuri.

- Aku tak mengerti Sari, apa sebab soal kita ini harus tergantung kepada orang lain. Soal ini soal kita berdua, kita yang harus memutuskan, tak perlu dicampuri orang, kata I Jaya sambil mengeluh.

- Tentu ada perlunya kak! Kalau tidak begitu tentu negeri ini akan kacau, jawab Gusti Ayu.

- Menurut pendapatanku, tidak mestinya negeri kacau kalau tiap-tiap orang berlaku jujur kepada sesamanya, hormat-menghormati hak seseorang.

- Benar kata kakak itu, kalau tiap-tiap orang jujur seperti kakak.

- Aku rasa kejujuran itu tidak berapa susah. Aku sendiri tak pernah mengambil hak orang lain, aku tak ingin (p.60) dan tidak cemburu pada orang lain, tetapi apa sebab aku tak boleh mengambil hak yang teruntuk buat aku sendiri dan apa sebab derajat kita ini harus dibeda-bedakan. Apa sebab Gusti Ayu turunan Satrya dan aku hanya bangsa Sudra? Apa sebab aku tak dibolehkan mengawini Gusti Ayu? Apakah itu adil?

I Jaya mengucapkan perkataan-perkataan itu dengan bernafsu. Mukanya kelihatan merah padam.

- Segala sesuata telah diatur oleh orang-orang tua, tentu ada maksudnya kak! Maksudnya tentulah mengehendaki kebaikan antara kita bersama, oleh sebab itu kita harus takluk kepada peraturan itu.

Gusti Ayu tak dapat memberi keterangan atas pertanyaan-pertanyaan I Jaya itu, tetapi semangatnya sebagai gadis yang telah biasa tunduk kepada orang tua sejak kecil, lebih biasa menyesuaikan dirinya kepada peraturan. Ia tiada mempunyai kemauan sendiri, sebagai I Jaya yang biasa hidup terlepas dikolong langit, di atas air, tetapi perasaan dan kecerdasannya mengatakan bahwa segala sesuatu yang berasal dari orang-orang tua itu tentu baik.

- Apakah tak baik kalau kakak tanyakan dahulu pada orang-orang tua, bagaimana yang sebaik-baiknya kita harus berlaku?

- Kepada siapa aku akan bertanya?

- Kepada Bapa I Jaladra, misalnya.

Benar juga kata Gusti Ayu itu. Walaupun semangatnya belum hendak menyerah kalah dengan begitu saja, tetapi ia rasakan bahwa jalan yang ditunjukkan oleh Gusti Ayu itu ialah jalan yang sebenarnya. Semangatnya yang sedang (p.61) memberontak dapat dipadamkan oleh gadis ini dengan petunjuk yang dirasanya benar.

- Baiklah, nanti petang aku pergi ke rumah Bapa I Jaladra, tetapi... Bapa I Jaladra bersahabat amat baik dengan ayah...

- Apakah salahnya kak?

- Kalau-kalau Bapa I jaladra nanti...

- Kakak khawatir kalau Bapa I Jaladra nanti menyampaikan hal ini pada ayah?

- Sebenarnya, Gusti Ayu, itulah yang aku khawatirkan.

- Aku rasa, kalau terjadi yang sedemikian tambah membaikkan kak, kalau ayah mengetahui benar keadaan kita ini.

Untuk kesekian kalinya I Jaya mengakui gadis ini lebih cerdik dari dia sendiri. Ia takut hal ini disampaikan pada ayah, bukan karena serong atau karena niat yang salah, tetapi semata-mata karena ia tak mempunyai keberanian memperbincangkan dengan ayah. Ia berani karena jujur, menghadapi siapapun, tetapi sampai ia sebesar ini belum pernah ia mempercakapkan soal-soal sebagai ini dengan ayah. Ia merasakan semacam ketakutan yang berlainan dari pada takut berjuang, takut itu hanya takut segan, rasa berat kalau ia memperbincangkan soal perkawinan dengan ayahnya. Tetapi kalau sekarang Gusti Ayu telah menunjukkan jalan yang sebaik-baiknya, kalau dengan perantaraan Bapa I Jaladra ayah sampai mengetahui, agak ringan rasanya.

- Baiklah, Gusti Ayu, nanti petang aku pergi ke rumah Bapa I Jaladra.

Source

  • Andjar Asmara - Nusa Penida; Balai Pustaka Djakarta, 1949

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24