Novel 'Noesa Penida' (Asmara, 1949) Part II Ch. V

Below article is a rendering of a novel called 'Nusa Penida' by Andjar Asmara, published in 1949. Part II - Chapter IV. For reasons of readability, only the spelling has been adapted to modern Indonesian spelling (Ejaan Yang Disempurnakan).

asmara nusapenida 1949

BAHAGIAN II - BAB V / PART II - Chapter V (p.117-144)

KEADAAN (p.117) di dalam puri bahagian puteri yang biasanya hiruk pikuk, pada waktu ini sedang sunyi senyap karena puteri-puteri yang lain sedang beramai-ramai ke tempat persiraman, diiringkan oleh sekalian dayang-dayang dan biti-biti perwara. Dalam waktu sebagai ini Gusti Ayu Pandan Sari merasakan dirinya sangat berbahagia, karena ia dapat berseorang diri dengan pikirannya yang larat, pahamnya yang tertumbuk dapat ditenangkan, diselesaikannya.

Gusti Ayu Pandan Sari tegak di jendela melihat keluar. Sinar matahari masuk ke dalam melalui sela-sela jendela, sehingga bayangannya di lantai nampaknya terbelah-belah. Keadaan di luar nampaknya aman tenteram. Kebun bunga yang terurus rapi, disekeliling kolam tempat biasanya puteri-puteri bermain-main, bersenda gurau, nampaknya kosong dan tertinggal. Tak seberapa jauh dari kolam itu berdiri beberapa buah patung yang berukir. Seorang hamba sedang menyapu jalan-jalan kecil yang diperbuat dari pada batu-batu kali yang bersusun amat rapinya. Suara sapu lidinya ialah satu-satunya suara yang terdengar pada waktu itu.

Gusti Ayu memandang ke luar, memandang tak bertujuan. Sekalian keindahan disekelilingnya itu tak nampak olehnya dan tidak pula pernah dikaguminya, bahkan kain tenun Bali asli yang halus yang menutup badannya tak pernah diindahkannya. Kalau melihat ia berdiri sebagai tak acuh memandang keluar itu, dengan rambut tergerai yang hanya dihiasi oleh sebuah kembang yang tersisip di dekat telinganya, badan yang dari pinggang ke atas bertelanjang, sehingga menunjukkan bentuk dada, bahu dan tangannya yang (p.118) sewajarnya, caranya ia berdiri lurus dengan muka yang kelihatan angkuh, tak salah lagi menandakan ia turunan raja-raja. Yang agak bersalahan dari pada puteri-puteri yang lain ialah kulitnya yang agak kekuningan karena ia biasa bekerja dan berpanas.

Sudah beberapa hari Gusti Ayu dicdalam puri ini, ia merasa dirinya sebagai seekor burung yang ditaruhkan dalam sangkar emas. Biarpun ia dikelilingi oleh keadaan yang gilang-gemilang, biarpun ia dipakaikan kain yang halus-halus dan mahal, tenun asli yang disulam dengan benang emas, biarpun ia dikelilingi oleh dayang, biti-biti perwara yang bersedia setiap detik memenuhi kehendaknya, yang kalau ia bersiram telah menanti dengan langir dan bau-bauan yang semerbak, kalau ia bersantap menyambut jari-jarinya yang halus dengan air cuci tangan, sebelum jarinya tercecah kepada nasi, yang kalau ia hendak berbaring di kasur yang empuk bertutup sutera, berlangit sulaman benang emas, telah bersedia dengan salin pakaian tidur, dengan cepat menjalin rambutnya, biarpun ia dikelilingi oleh keindahan, kemewahan semata-mata menuntut penghidupan sebagai seorang puteri sebagai yang selayaknya dijalaninya mengingat kepada darah dan turunan, namun hatinya tak menerima segala keadaan dan perlakuan yang dalam pandangannya berlebih-lebihan itu.

Gusti Ayu Pandan Sari sejak kecil sampai dewasa dibesarkan dalam kemiskinan, kemelaratan, sejak gadis tanggung sampai akil balig ia biasa dan terpaksa mempergunakan kedua tangannya untuk pekerjaan yang kasar-kasar. Maka tak masuk di akalnya apa sebab ia sekarang harus dibantu dan ditolong dengan cara yang berlebih-lebihan, apa sebab ia tak boleh berjerih barang sedikitpun. Kalau ia hendak mengambil pakaiannya sendiri, seorang dayang telah mendahuluinya, kalau ia hendak minum dayang berlari mengambilkan gendi dan bokor yang terbuat dari pada kuningan yang berukir. Tak masuk di akalnya apa sebab ia harus diperlakukan sebagai boneka yang dihiasi, laksana permainan... Permainan untuk siapa?

Perobahan penghidupan dengan tiba-tiba ini tak dapat memberi bahagia pada Gusti Ayu Pandan Sari, karena sekalian kemewahan dan keindahan, sekalian perlakuan itu hanya terjadi pada lahir yang tak dapat ditolaknya, tetapi dalam batinnya hatinya larat dan batin ini tak dapat diperkosa oleh siapapun juga. Seorangpun tak mengetahui apa yang diderita oleh gadis ini, apa yang menjadikan ia hening sebagai melamun dari hari ke hari. Pada lahirnya ia telah menjelma dari seorang gadis penangkap ikan menjadi seorang puteri yang jelita, tetapi bahwa pada batinnya gadis ini remuk hatinya, seorangpun tak dapat menjelami.

Gusti Ayu Pandan Sari menanggung seorang diri, apa yang dideritanya ialah rahasia dirinya yang tak dapat dipercajakannya kepada siapapun jua. Ia tahu pula bahwa dalam istana ini orang tak kan dapat merasakan apa yang dirasakannya, ia tak berani mengatakan kepada mereka bahwa hatinya sebenarnya remuk dari sehari ke sehari karena menaruh dendam yang tak lepas. Ia dilamun perasaan yang tak dapat diberi nama, tak dapat disebut, perasaan yang hanya dia sendiri yang dapat mengetahui. Ia sedang kehilangan, kehilangan perasaan kasih sayang dari orang-orang yang berada di sekelilingnya. Ia sekarang ditempatkan di dalam puri bahagian puteri, bersamasama dengan puteri-puteri (p.120) yang lain keturunan yang syah dari Cokorde Gde Oka. Caranya ia diperlakukan sedikitpun tak dibeda-bedakan, tetapi apa sebab orang-orang ini dilihatnya berlainan fiil dan tabeatnya dari keluarga penangkap ikan yang biasa dikenalnya...

Mereka dari kaum Sudra yang dikenalnya semenjak kecil berkelakuan amat sederhana, mereka hidup dalam kemiskinan tetapi kemiskinan itu menjadikan mereka tahu menerima dalam segala hal, tiada mengehendaki yang bukan-bukan, tiada bertingkah, tiada merajuk, tetapi apa yang dilihatnya sejak beberapa hari setelah ia menjadi anggota dari istana ini berbeda sebagai siang dengan malam kalau dibandingkan dengan keadaan kaum Sudra itu.

Gusti Ayu dibesarkan di antara anak-anak penangkap ikan yang miskin, beberapa di antaranya berkain cabik-cabik karena miskinnya, mereka mandi tak bersih karena tak bersabun, rambut mereka berbugal-bugal, kadang-kadang keras bergumpal-gumpal karena tak ada yang mengurusnya, tetapi mereka tak bertingkah sebagai puteri-puteri ini. Di hari pertama Gusti Ayu masuk ke dalam puri ini terkejut ia melihatkan puteri-puteri yang manja pada dayang-dayang dan biti-biti perwara yang mereka perlakukan lebih dari pada binatang. Tersirap darahnya mendengar hardik, cerca dan makian terhadap orang-orang yang meladeni, kalau mereka agak terlambat sedikit saja. Heran ia melihatkan iri hati dan cemburu di antara puteri-puteri itu sesamanya. Sejak waktu itu Gusti Ayu mendapat rasa bahwa tak mungkin ia akan dapat memasukkan diri kedalam pergaulan yang demikian, walaupun kalau melihat kepada darah sedikitpun ia tak kurang dari pada puteri-puteri yang lain itu.

(p.121) Sekalian perbedaan ini menjadikan Gusti Ayu semakin hari semakin rindu kepada kampung di tepi laut, dimana ia dibesarkan di antara orang-orang yang tahu akan harga dirinya. Ia insyaf bahwa ketenteraman hati tak dapat diperoleh dengan bungkus kemewahan, keindahan dan kekayaan. Segala sesuatu yang bersangkut kepada kemewahan telah didapatnya sekarang, tetapi ketenteraman hati, itulah yang tak didapatnya. Mereka yang sekarang sebilik seketiduran dengan dia tak mengenal keinsyafan, tak tahu apa artinya hidup melarat dalam kemiskinan, tetapi diliputi kasih sayang,tak mengenal kasih mesra yang biasa dirasanya semenjak kecil. Mengingat hal inilah hati Gusti Ayu bertambah larat.

Ia rindu pada pak Murda, I Pageh dan... I Jaya!

Ia kehilangan kasih sayang mereka yang biasa dirasakannya setiap saat. Alangkah besar bedanya penghidupannya waktu itu dengan penghidupan yang sekarang... Waktu itu ia harus bekerja, mencuci, memasak, membersihkan rumah, keringatnya mengalir dalam kepanasan sehingga badannya berbau peluh, tetapi ia selamanya hidup dalam gembira dan bahagia. Ia tak pernah dimanjakan oleh I Murda, I Pageh atau I Jaya, tetapi mereka bertiga memperlindungi hidupnya sebagai anak dan saudara kandung; mereka melimpahkan kasih sayang kepadanya yang sewajarnya, tak berlebih-lebihan tetapi tak pula kekurangan, sebagai kasih yang biasa dilimpahkan kepada anak atau saudara, kasih karena pertalian darah. Ia telah menganggap dirinya sebagai anak kandung kepada pak Murda dan adik kandung kepada kak Pageh dan kak Jaya, perasaan lain tak pernah dikenalnya terhadap orang yang bertiga ini. Pada (p.122) hal mereka tak bersangkut paut sedikitpun dengan dia, bukan sanak bukan saudara, pertalian darah malah jauh, ia anak Satrya, mereka hanya Sudra...

Ia sekarang berada di antara kaum Satrya yang sederajat dengan dia. Cokorde Gede Oka bertali darah dengan ayahnya, puteri-puteri kandung itu semua kerabatnya, tetapi apa sebab ia merasa jauh sekali dari mereka, apa sebab ia tak merasa kerahiman, kasih sayang pada mereka sebagai yang biasa dirasakannya di rumah pak Murda...!

Gusti Ayu Pandan Sari masih saja berdiri tiada bergerak di hadapan jendela, melihat keluar. Ia melihat kepada dinding tembok yang tinggi yang mengelilingi puri, dinding tebal yang menjadi perantaraan antara dia dan dunia luar. Dinding itu sebagai memberi peringatan padanya, bahwa ia akan terkurung selama-lamanya dalam sangkar emas itu...

Ia teringat pada I Jaya...

Di manakah ia sekarang...? Mengapakah dia...? Sudah kembalikah ia ke laut...? Dipicingkannya matanya sebagai hendak dilihatnya dalam lamunannya bayangan kekasihnya itu sedang mengapa.

Dicobanya membayangkan I Jaya dan I Pageh turun dari perahu, I Pageh meloncat, I Jaya memegang kemudi, tetapi dilihatnya gelap dalam lamunannya, sebagai awan hitam menutup matanya...

Ia heran, apa sebab ia tak dapat membayangkan I Jaya dalam keadaan dan kebiasaannya sehari-hari...? Sakitkah ia, atau ia sedang mengembara agaknya... Ia yakin benar akan cinta I Jaya terhadap dia, cinta yang tulus ikhlas, kasih sayang yang tumbuh dengan sewajarnya, ibarat bunga semenjak putik sampai menjadi kembang (p.123) yang menyebarkan baunya yang semerbak, yaitu perbuatan alam yang tak dapat dihambat, demikianlah keteguhan percintaan mereka berdua yang sedikitpun tak mendatangkan perasaan sangsi baginya. Semenjak ia mengenal perasaan berahi pada laki-laki, semenjak itu pula ia merasa perasaannya berobah terhadap I Jaya dan kemudian segenap hati dan semangatnya dirasanya terikat, terkungkung oleh I Jaya; demikian pula I Jaya sepanjang pengetahuannya belum pernah mengincarkan matanya pada seorang perempuan lain dari pada dia, baikpun diantara teman sejawatnya, maupun di dalam kampung, bahkan sekarang, setelah mereka berpisah Gusti Ayu percaja I Jaya akan tetap setia pada cintanya, perasaan halusnya mengatakan yang demikian padanya dengan keyakinan yang tetap. Tetapi apakah dayanya sekarang, selama dinding tembok itu masih berdiri disekeliling puri, dinding yang akan selamanya menjadi perantaraan antara dia dan I Jaya... Alangkah kejam nasib itu...! Ia terkurung,I Jaya terlepas, tak suatu jalan yang nampak yang kiranya dapat mempertemukan mereka kembali. Akan beginikah selama-lamanya...? Sebagai suatu pengharapan yang tak mungkin terbitlah keinginannya, moga-moga di suatu waktu akan datang saatnya ia bertemu dengan kekasihnya untuk melepaskan rindunya, untuk memetik dan mengecap buah percintaan mereka dengan sewajarnya sebagai yang diperintahkan oleh alam...

Teristimewa pada saat ini ia merasa desakan keinginan hendak bertemu dengan I Jaya itu semakin keras, karena sejak beberapa hari ia telah merasa suatu bahaya yang mengancam dirinya. Ni Pogoh, seorang dayang yang setengah umur, yang kerap kali bercakap-cakap dengan dia telah (p.124) beberapa kali menyindir dan mengias tentang kedudukan selir-selir dalam puri itu. Mula-mulanya Gusti Ayu yang bertanya pada Ni Pogoh ketika ia melihat perempuan-perempuan muda yang cantik-cantik di bahagian belakang dari puri.

Heran ia melihat perempuan sebanyak itu, ada yang seumur dengan dia, ada yang lebih muda dan ada pula yang telah setengah umur. Mulanya ia mengira bahwa perempuan-perempuan itu termasuk ke dalam bahagian pelayan dalam puri, tetapi kemudian tak masuk di akalnya sebab nampaknya tidak seperti dayang, mereka berpakaian bagus, bersolek setiap hari dan tidak pernah ia melihat mereka bekerja.

Kemudian setelah ia bertanya pada Ni Pogoh apakah pekerjaan perempuan sebanyak itu, Ni Pogoh menerangkan bahwa mereka itu semuanya selir baginda Cokorde Gede Oka.

- Bukankah baginda mempunyai permaisuri? Gusti Ayu bertanya dengan heran.

- Sebenarnya Gusti Ayu, tetapi belum tahukah Gusti Ayu bahwa seorang raja boleh memelihara selir, lain dari pada permaisuri?

Sebagai gadis Gusti Ayu pernah mendengar ceritera-ceritera tentang keadaan dalam puri, di antara kawan-kawannya sekampung ada yang mengetahui bahwa raja itu mempunyai banyak isteri, tetapi pada waktu itu belum dapat ia membayangkan apa yang dimaksudkan dengan isteri banyak itu, ia belum tahu bahwa selir-selir itu berkeliaran di dalam puri sebagai kanak-kanak besar yang pekerjaannya hanya bermain-main, bersenda gurau, bersolek dan bernyanji-nyanji.

- Saya pernah mendengar hal itu, Ni Pogoh, tetapi apakah permaisuri tidak marah melihatkan hal itu?

(p.125) - Tentu saja, Gusti Ayu, tetapi di dalam puri ini, bahkan di dalam negeri tak ada yang lebih berkuasa dari pada baginda. Baginda berbuat sekehendaknya, dan bukan baginda saja, tetapi tiap-tiap raja memelihara selir. Permaisuri tak dapat dan tak berhak menghalangi.

- Dan di manakah tinggalnya permaisuri, sebab selama saya di sini belum pernah melihat beliau.

- Adapun permaisuri itu telah tua dan berpenyakitan, tidak pernah keluar. Beliau tinggal di bahagian puri, sebelah Barat yang terpisah itu, dengan dayang-dayang beliau.

Gusti Ayu melihat ke sebuah rumah yang ditunjukkan oleh Ni Pogoh. Selama ia di dalam puri belum pernah ia dapat melihat ke dalam, sebab rumah itu selamanya tertutup dengan anyaman bambu yang selamanya diturunkan.

- Penghidupan sebagai selir itu amat senang, Gusti Ayu, kata Ni Pogoh. Pekerjaan tidak ada, pakaian selamanya bagus, diberi pula dayang-dayang, sekalian kehendak diperlakukan karena baginda sangat baik hati. Dan tidak pula sembarang orang yang boleh menjadi selir, yang diambil hanya gadis-gadis dari golongan bangsawan dan yang bagus-bagus seperti Gusti Ayu ini...

Sambil berkata demikian Ni Pogoh melirikkan, matanya kepada Gusti Ayu. Tersirap darah Gusti Ayu melihat lirikan yang berarti itu. Apakah maksud perempuan ini...? Boleh jadikah dimaksudkannya bahwa ia sendiri akan dimasukkan pula ke dalam golongan perempuan-perempuan boneka itu...? Ia hanya bertanya pada Ni Pogoh karena ia ingin tahu keadaan dalam puri, karena hal-hal barulah yang belum diketahuinya, sebab seumur hidupnya barulah sekali ini ia menginjak istana seorang raja, tetapi (p.126) jawab perempuan itu tak disangkanya akan mengandung arti, sebagai menjanjikan penghargaan yang gilang gemilang padanya. Gusti Ayu lekas memutar haluan percakapan dan perasaan yang didapatnya tadi lekas pula ditekannya, tak diacuhkannya, tetapi beberapa hari kemudian pukul sindir Ni Pogoh semakin jelas sehingga menjadi bukti baginya, bahwa persangkaannya yang pertama itu tak salah. Ni Pogoh terus menerus merapati dia, tiap-tiap Gusti Ayu duduk seorang diri Ni Pogoh telah datang dengan ramah tamahnya yang dilebih-lebihkan mengajak Gusti Ayu bercakap-cakap.

Isi percakapan Ni Pogoh itu tiada lain dari pada memuji-muji kecantikan Gusti Ayu dan menceriterakan kesenangan penghidupan sebagai selir dan sekali-sekali sebagai tak disengajanya ia memuji-muji kebaikan hati baginda Cokorde Gede Oka. Menurut pendapat Ni Pogoh, orang yang terpilih menjadi selir baginda harus merasa dirinya amat beruntung, sebab nasibnya berlainan dari pada perempuan-perempuan lain. Semakin hari semakin keras Ni Pogoh mendesak, sehingga jelaslah bagi Gusti Ayu maksud perempuan ini yang sebenarnya.

Sejak semula Gusti Ayu masuk ke dalam puri ini ia mendapat firasat yang tak baik ketika melihat Ni Pogoh, tetapi karena perempuan ini ditentukan sebagai dayangnya dan lain dari pada Ni Pogoh tak ada pula yang akan dilawannya bercakap-cakap, terpaksalah ia mendengarkan ceritera-ceriteranya. Mulanya asyik ia mendengarkan keterangan-keterangan Ni Pogoh tentang hal-hal yang belum diketahuinya, tetapi kemudian setelah jelas maksud perempuan ini, datanglah perasaan bencinya yang tak terhingga.

(p.127) Sudah ia sebagai tertipu terkurung dalam sangkar emas ini, sekarang bencana yang kedua yang akan dihadapinya, bencana yang tadinya tak terpikir dan tak terduga, karena dungunya dalam soal-soal penghidupan. Hatinya sebagai gadis remaja, gadis kampung yang suci bersih terkejut mendengarkan rayuan Ni Pogoh yang senantiasa menggambarkan hal-hal yang gilang-gemilang padanya, rayuan dan bujukan yang manis, tetapi berbisa dalam hakekatnya.

Hatinya berontak, tak menerima sekalian bujukan dan pujian itu. Ketika ia merasa bahaya yang mengancamnya itu, di dalam hatinya ia bersedia hendak mempertahankan kehormatan dirinya, ketinggian derajat dan kesucian sanubarinya yang belum bernoda. Perlawanan batin ini terjadi semata-mata karena perasaan, ia telah mulai insyaf bahwa perempuan yang senantiasa bermulut manis itu berbahaya bagi kehormatannya, dengan tipu muslihat ia hendak menjatuhkan Gusti Ayu, hendak menyeret ia ke dalam lembah perbudakan, perhambaan, mengabdi kepada kemewahan, tetapi semangatnya yang terdidik dalam kemiskinan tiada membutuhi sekalian keindahan di sekelilingnya itu, bahkan barang perhiasan yang melekat pada badannya tak kan dapat mempengaruhi batinnya yang suci. Walaupun badannya sekarang terbungkus dengan kain tenun asli yang hanya boleh dipakai oleh puteri turunan raja, walaupun pada jarinya yang tadinya bertelanjang, sekarang berkilat-kilat beberapa permata jambrut, mirah dan mutiara, dan pada telinganya yang tadinya tersumbat dengan gulungan daun lontar sekarang terpasang subang emas bertabur intan berlian dan pada tangan kirinya sebelah atas membelit sebuah gelang ular yang berukir, berat karena emas semata-mata... (p.128), tetapi sekalian ratna mutu manikam yang bersinar gemerlapah ini tak dapat merobohkan pendirian batin gadis yang hanya berdasar pada kesucian, kejujuran dan kesederhanaan, keteguhan yang merupakan suatu benteng yang tak dapat dimasuki...

Dari belakang puri terdengar suara beramai-ramai, gelak-gelak kecil yang berturut-turut, tanda puteri-puteri telah kembali dari tempat persiraman. Suara itu semakin lama semakin dekat dan sebagai terbangun dari pada lamunannya Gusti Ayu lalu bertindak keluar meninggalkan ruangan itu, karena, sedang pikirannya selarat ini gelak dan senda gurau puteri-puteri yang termanja-manja itu sebagai menusuk hulu hatinya. Perjuangan batin yang sedang dideritanya tiada menghendaki beramai-ramai, melainkan bersunyi diri.

Gusti Ayu Pandan Sari melangkah ke dalam taman, melalui jalan-jalan kecil yang kiri kanannya terapit oleh tanaman bunga yang berjejer. Sampai di bawah sebuah pohon ia duduk diatas sebuah bangku yang terbuat dari pada batu yang dipahat. Sudra yang tadinya menyapu sedang duduk di dekat bangku itu melepaskan lelahnya. Ketika dilihatnya seorang puteri mendekati bangku itu, ia lekas-lekas berdiri hendak berlalu, tetapi ia heran mendengarkan tegoran Gusti Ayu Pandan Sari:

- Tinggallah duduk di sana, jro! Janganlah engkau berdiri karena aku. Nama kakak siapa?

- Nama hamba I Jiwa, Ratu, demikianlah Sudra itu menyahut dengan gugupnya. Ia tak tahu apakah ia akan duduk atau tidak, serba salah dirasanya. Ia tahu bahwa kalau seorang puteri masuk ke dalam taman ia harus menjauhkan diri, tetapi apa sebab puteri ini amat berlainan (p.129) dengan puteri-puteriyang biasa...? Suaranya lemah lembut dan tidak sebagai puteri-puteri yang lain itu yang biasanya menghardik kalau menyatakan kemauannya.

- I Jiwa...? Duduklah, jangan segan-segan, Gusti Ayu berkata sambil memperhatikan Sudra yang sedang kecemasan itu. Ketika ia datang menuju kepada bangku itu ia tiada memperhatikan muka laki-laki itu, tetapi setelah ia mendengar nama I Jiwa itu ia terkejut. Lama dipandangnya tukang sapu yang menekur ketakutan itu.

- I Jiwa katamu?

- Sebenarnya, Ratu.

- Asalmu dari mana?

- Hamba berasal dari negeri ini juga, Ratu.

- Kampungmu di mana?

- Dahulu kampung hamba di tepi laut, Ratu, tetapi setelah ayah hamba meninggal dunia, hamba pindah ke Badung dengan seorang paman. Waktu itu hamba masih kecil dan sekarang baru sebulan hamba kembali ke mari.

Mendengar keterangan itu Gusti Ayu tersenyum. Tak salah lagi I Jiwa yang sedang duduk ketakutan itu ialah teman sepermainannya waktu kecil yang kerap kali mengganggunya. I Jiwa telah lama benar tak kelihatan, sebagai kanak-kanak ia menghilang dari Kosamba dan sekarang mereka berhadapan sebagai orang dewasa, di satu tempat yang tak disangka-sangka...

Gusti Ayu susah payah menahan gelaknya, karena melihat I Jiwa berkata-kata itu sambil menekur dan sedikitpun tak menyangka bahwa ia berhadapan dengan seorang sahabat lama, maka datanmglah pikiran nakal pada Gusti Ayu hendak mengganggu I Jiwa itu seketika.

(p.130) - Jadi kalau begitu engkau ini orang Kosamba dan rumahmu dahulu di tepi laut...?

- Hamba Ratu, I Jiwa menjawab.

- Aku kenal suatu ceritera yang terjadi di tepi laut itu. Sebenarnya ceritera ini hanya suatu dongeng dari hal kanak-kanak, tetapi sebenarnya terjadi. Aku ingat pada ceritera ini sebab yang menjadi lakonnya serupa namanya dengan kamu, yaitu I Jiwa. Barangkali kamu juga tahu lakon ini. Cobalah dengarkan:

Ada seorang anak raja, namanya Gusti Ayu Pandan Sari. Ia hidup dalam miskin, menjadi anak angkat dari seorang penangkap ikan yang bernama I Murda. Ketika raja itu meninggal dunia beliau memberikan puteri beliau kepada I Murda, maka oleh sebab itu orang sekampung tak mengetahui bahwa Gusti Ayu itu sebetulnya seorang anak raja. Tetapi meskipun ia dibesarkan dalam kemiskinan, ia hidup dalam bahagia dan selalu gembira.

Pak Murda itu mempunyai dua orang anak laki-laki, namanya I Jaya dan I Pageh. Mereka dibesarkan bersama-sama dengan Gusti Ayu itu, sebagai bersaudara. Mereka bermain bersama-sama dan kedua anak laki-laki itu selalu memperlindungi Gusti Ayu sebagai adik kandungnya. Kalau ada yang berani mengganggu gadis itu tentu berkelahi dengan salah seorang dari pada anak laki-laki tadi.

Demikianlah pada suatu hari ada seorang anak dari kampung itu juga, namanya I Jiwa, serupa benar dengan namamu, yang berani mengganggu Gusti Ayu sehingga Gusti Ayu menangis tersedu-sedu. Gusti Ayu itu sedang duduk di pasir beramai-ramai dengan kawan-kawannya. Mereka membuat rumah-rumah dari pada pasir. I Jiwa, yang memang (p.131) agak nakal, datang lalu menyepakkan rumah-rumah pasir yang telah dibuat dengan susah payah itu, sehingga habis remuk, hancur semuanya. Setelah itu ia tertawa kegirangan melihat gadis-gadis itu marah; mereka melempari dia dengan pasir dan Gusti Ayupun menangis karena sangat hiba hatinya, karena rumah-rumah yang diperbuatnya dengan teliti itu dihancurkan kawan dengan seketika.

Sekonyong-konyong datanglah I Pageh berlari-lari. Ia menanyakan apa sebab Gusti Ayu menangis dan setelah diceriterakan oleh Gusti Ayu bahwa I Jiwa yang menyepakkan permainannya, I Pageh lalu menuju I Jiwa, yang sedang tegak tertawa. Meskipun badan I Pageh jauh lebih kecil, ia berani menantang I Jiwa dan perkelahianpun terjadi.

Tidak lama kemudian datang pula I Jaya, yang sangat ditakuti oleh kanak-kanak sekampung itu. Perkelahian berhenti dan I Jiwa disepak, lalu diusir oleh I Jaya...

Gusti Ayu berceritera dengan bersungguh-sungguh, sebagai juga ia menceriterakan suatu dongeng. I Jiwa mendengarkan dengan hormat. Dalam hatinya ia masih heran apa sebab puteri ini seramah ini, mau bercakap-cakap dengan seorang tukang sapu sebagai dia. Tetapi setelah didengarkannya ceritera itu setengah jalan, datanglah curiganya. Apa sebab puteri ini mengetahui benar keadaan dalamkampungnya, ia menyebut beberapa nama dari orang-orang yang sebenarnya ada sebagai Pak Murda, I Jaya dan I Pageh dan namanya sendiripun disebut juga. Sebenarnya Gusti Ayu tadi telah mengatakan bahwa lakon ceritera ini senama dengan dia, tetapi mustahil semua orang yang dalam dongeng itu serupa namanya dengan orang-orang yang (p.132) dikenalnya dan Gusti Ayu Pandan Sari memang ada, tetapi ia tidak mengetahui bahwa ia anak raja.

Sejak tadi I Jiwa mendengarkan ceritera itu sambil menekur, tetapi setelah hatinya semakin curiga diberanikannya dirinya mengangkat kepalanya sedikit, lalu memperhatikan raut muka puteri yang jelita yang sedang asyik berceritera itu. Mula-mula ia melihat itu dengan mencuri-curi karena takut kalau-kalau ketahuan oleh puteri itu, ia sedang mengintip. Tetapi kemudian setelah ia melihat muka puteri itu hilanglah sangsinya dan iapun semakin berani. Ia tak salah sangka: puteri ini ialah Gusti Ayu Pandan Sari dan yang diceriterakannya itu ialah keadaan dirinya sendiri dan iapun maklum bahwa I Jiwa yang nakal yang menjadi kepala lakon itu bukan pula orang lain, melainkan ia sendiri.

Ketika ia merasa bahwa dongeng itu ditujukan pada dirinya sendiri ia merasa malu, tetapi malu itu lekas hilang, karena perasaan girang bertemu dengan seorang teman yang di waktu kecilnya sepermainan dengan dia.

Sambil tersenyum yang ditahan dibiarkannya Gusti Ayu menammatkan ceriteranya. Kalau menurutkan desakan hatinya maulah ia berteriak, memotong ceritera Gusti Ayu itu, sebab sudah jelas baginya siapa yang dituju. Tetapi ia tidak berani sebab, walaupun sudah jelas bahwa Gusti Ayu itu temannya waktu kecil, sekarang ia berhadapan dengan seorang puteri di alam istana. Keadaan itu berlain dan caranya Gusti Ayu duduk di atas bangku itu berpakaian gilang-gemilang dengan angkuhnya, sebenarnya mendatangkan segan pada I Jiwa.

Setelah habis Gusti Ayu berceritera ia memandang pada I Jiwa sambil bertanya:

(p.133) - Demikianlah dongeng kanak-kanak itu, Jiwa, tahukah engkau ceritera ini?

- Lebih dari pada tahu, Gusti Ayu, sebab hamba sendiri yang menjalankan lakonnya, sahut I Jiwa sambil tertawa.

Mereka berdua tertawa kegirangan, sejurus mereka merasa berbalik menjadi kanak-kanak, karena sudah lama tak bertemu dan dongeng itu mengingatkan mereka pada waktu dalam dunia kanak-kanak yang tak kan kembali lagi dalam penghidupan manusia. Seketika mereka diayunkan perasaan girang bercampur sedih terharu, karena terbayang waktu itu di hadapan mata.

Gusti Ayu lalu menceriterakan apa yang terjadi sampai sekarang, sampai ia menjadi penghuni istana itu, suatu kurnia yang tak dikehendakinya.

Ia menceriterakan itu dengan penuh semangat dan penuh perasaan sebab sejak semula ia menginjak puri sampai saat ini barulah sekali ini ia berhadapan dengan seorang sahabat seperhatian, seperasaan. Kepada I Jiwa dapatlah ia mencurahkan isi hatinya yang terpendam, yang penuh sesak selama ini. Alangkah anehnya: ia sebagai seorang puteri yang berdarah Satrya lebih merasa dirinya bersahabat dengan seorang Sudra yang sederhana ini dari pada yang sebangsa dengan dia.

I Jiwa mendengarkan kisah Gusti Ayu itu dengan penuh perhatian, ia mengangguk-angguk kalau membenarkan pendirian Gusti Ayu dan kalau sampai di bahagian yang sedih atau perih dinyatakannya perasaannya dengan lidah yang dibunyi-bunyikan. Meskipun ia masih tinggal hormat pada Gusti Ayu, karena ia mengakui derajat keputeriannya, tetapi takutnya yang tadi telah hilang, ia sekarang asyik (p.134) mendengarkan kisah seorang sahabat lama yang sedang menceriterakan riwayat hidupnya; yang lebih mangasyikkannya ialah rahasia-rahasia puri yang belum diketahuinya selama ini.

Gusti Ayu telah melupakan keadaan disekelilingnya, melupakan kesepian hatinya di dalam puri, melupakan puteri-puteri yang congkak dan manja itu, perasaan hatinya telah kembali sebagai semula karena berhadapan dengan I Jiwa, yaitu salah seorang dari kaum Sudra yang biasa bergaulan dengan dia, Sudra yang biasa direndahkan oleh kaum bangsawan, tetapi dengan siapa ia merasa sebau dan serasa.

- Kalau aku dapat berbuat sekehendak hati, Jiwa, maulah aku melemparkan sekalian kesenangan ini dan kembali kepada kamu sekalian. Apalah guna kesenangan dan kekayaan kalau dalam hati kurasa melarat, menderita setiap hari. Kalau aku seekor burung, maulah aku terbang kembali ke dalam pondok di tepi laut, hidup bersama-sama Pak Murda, I Jaya dan I Pageh..., biarlah hidup miskin tetapi kurasakan diriku lebih berbahagia dengan mereka bertiga...

Gusti Ayu berkata itu sambil menarik nafas panjang.

- Sebenarnyalah demikian, Ratu, I Jiwa menjawab sambil mengangguk, tetapi dalam ia mengangguk itu kepalanya ditekurkan, sehingga Gusti Ayu tak dapat melihat mata I Jiwa yang dibesarkan seakan-akan ia sedang memikirkan suatu hal yang sulit.

- Adakah engkau bertemu dengan I Jaya, Jiwa...? Gusti Ayu bertanya.

- Ada, Ratu, jawab I Jiwa perlahan-lahan.

- Bagaimanakah keadaannya?

I Jiwa tak menjawab. Ia hening, tak berbunyi, tak (p.135) bergerak. Ia sedang berpikir. Apakah yang hendak dijawabnya...? Mungkinkah Gusti Ayu belum mengatahui apa yang telah terjadi...?

- Jiwa! Apa sebab engkau tak menjawab? Sakitkah I Jaya...? tanya Gusti Ayu dengan tak sabar.

- Tidak, Ratu, ia tak sakit, tetapi...

I Jiwa tak meneruskan jawabnya, ia terhenti, ia bingung dan gugup. Matanya kelihatan liar sebagai hendak mencari akal untuk melepaskan diri. Kegugupannya itu tambah diperhatikan oleh Gusti Ayu dan menjadikan ia tambah khawatir.

- Aku merasa bahwa ada sesuatu yang kau sembunyikan, Jiwa!

- Bukan, Ratu, hamba tak hendak menyembunyikan, tetapi maaf hamba bertanya: sudah berapa lamakah Ratu di dalam istana ini?

- Kurang lebih dua pekan, sampai hari ini. Apa sebab engkau bertanya?

- Dua pekan... Apakah dalam dua pekan itu Ratu tak pernah mendapat khabar dari luar dari Pak Murda atau dari orang lain...?

- Tidak, tidak suatu apa yang kudengar. Bagaimana aku hendak mendengar khabar, engkau tahu bahwa pintu gerbang istana ini selalu terjaga, sedikitpun aku tak mempunyai perhubungan dengan dunia luar. Aku hidup dalam gelap semata-mata.

- Kalau begitu, teranglah bahwa Ratu belum tahu apa yang telah kejadian beberapa hari yang lalu

- Belum, aku belum tahu, apakah itu, Jiwa?

Gusti Ayu semakin rusuh. Dari sikap I Jiwa yang gugup (p.136) jelas baginya bahwa adalah sesuatu bencana hebat yang telah terjadi yang mengenai keluarga Pak Murda.

- Begini Ratu: Beberapa hari yang lalu terjadi suatu perkelahian yang hebat di gelanggang tempat mengadu ayam antara golongan Kosamba dan Karangasem. Mulanya I Pageh yang berkelahi dengan orang Karangasem, sebab orang Karangasem itu berlaku curang, dilonggarkannya tali taji ayam I Pageh. I Pageh marah, lalu berkelahi. Kemudian I Jaya ikut campur pula, karena orang Karangasem itu mencabut kerisnya. Orang Karangasem itu dapat dikalahkan oleh I Jaya, sebab I Jaya memang berani berkelahi, sejak kecil ia sangat berani. Kemudian seorang Karangasem yang lain hendak menikam I Pageh, tetapi sebelum tikamannya itu sampai, I Jaya sudah lebih dahulu menerjang sehingga musuh yang hendak menikam I Pageh itu tertelungkup. I Jaya berkelahi pula dengan orang itu dan apa yang kemudian terjadi tidaklah diketahui benar, sebab apa yang hamba ceriterakan ini hamba dengar pula dari orang lain, karena hamba sendiri tidak menyaksikan perkelahian itu, tetapi akhirnya...

Gusti Ayu mendengarkan dengan nafas sesak.

- Bagaimanakah akhirnya, Jiwa?

- Akhirnya orang Karangasem itu rebah... tertusuk, lalu mati.

- Mati????

I Jiwa mengangguk.

- I Jaya yang membunuhnya...??

I Jiwa tak menjawab, karena segan. Meskipun khabar itu hebat bagi Gusti Ayu, tetapi adalah suatu ke lapangan pula (p.137) yang dirasakannya, karena tadinya ia menyangka bahwa I Jaya yang mendapat bahaya...

- Sesudah itu bagaimana, Jiwa?

- Sesudah itu I Jaya dibawa oleh perajurit dan ditahan. Kemudian orang mengadakan rapat besar di bawah pohon beringin, sampai tiga hari lamanya memeriksa perkara itu. Bukan sedikit orang yang menonton, Ratu, dari Karangasem, dari Badung banyak yang datang menyaksikan.

- Dan sudahkah putus perkara itu?

- Sudah Ratu, kemarin sudah diputuskan.

- Bagaimanakah putusannya?

I Jiwa terdiam. Ia sebagai tak dapat menjawab. Sebagai tak sampai hatinya mengabarkan khabar duka itu pada Gusti Ayu.

- Katakanlah, Jiwa, aku ingin tahu, Gusti Ayu mendesak.

- Putusannya... malang bagi Jaya, Ratu! Ia dibuang sepuluh tahun ke Nusa Penida...

- Dibuang...? Ke Nusa Penida...? Sepuluh tahun...???

Gusti Ayu tersandar, mukanya pucat tak berdarah, jantungnya seakan-akan berhenti...

Dibuang..., dibuang ke Nusa Penida...!

Demikianlah diulangnya beberapa kali perlahan-lahan. Badannya lemas, matanya terbelalak, ia memandang tak bertujuan ke hadapan, nampaknya sebagai seorang yang telah bertukar akal...

- Apa yang hendak dikata, Ratu, demikianlah I Jiwa mencoba mengobat hati Gusti Ayu. I Jaya seorang yang baik hati, kami di kampung semua merasakan kehilangan...

Tetapi, sesudah sepuluh tahun ia tentu akan kembali lagi(p.138) ke kampung kita. Menurut khabar yang hamba dengar, petang ini ia akan diantarkan dengan perahu ke Nusa Penida.

Mendengar khabar ini Gusti Ayu seakan-akan terbangun dari pada kesimanya.

- Jadi ia belum berangkat, Jiwa?

- Belum Ratu, tadi ketika hamba hendak masuk bekerja hamba mendengar orang memberi perintah menyediakan perahu untuk berangkat nanti petang, kalau angin baik.

Ni Pogoh bertanya kian ke mari, tetapi seorangpun tak menampak Gusti Ayu sejak tadi, kemudian setelah ia meninjau keluar jendela nampaklah olehnya Gusti Ayu sedang duduk di atas bangku. Ia lalu keluar tergopoh-gopoh menuju Gusti Ayu.

Gusti Ayu melihat kedatangan Ni Pogoh itu, lalu memberi isyarat pada I Jiwa supaya ia lekas berlalu dari tempat itu. Meskipun ia tiada berbuat suatu kesalahan, tetapi karena diketahuinya Ni Pogoh seorang perempuan yang berbahaya, maka menurut perasaannya lebih baiklah jangan kelihatan I Jiwa sedang bercakap-cakap dengan dia, kalau-kalau nanti kejadian ini dipergunakan oleh Ni Pogoh sebagai suatu senjata, karena ia tahu dari gerak-gerik perempuan ini, ia sedang diamat-amati, orang sedang berdaja hendak merobohkan pendirian dan kesuciannya.

- Jiwa, lekaslah engkau berlalu dari tempat ini, sebab aku melihat seorang dayang datang ke tempat ini, katanya dengan tidak melihat pada I Jiwa.

- Hamba, Ratu, jawab I Jiwa sambil menyembah, lalu menghilang kebalik pohon kayu.

Sesungguhnya kedatangan Ni Pogoh pada waktu itu sangat tak disukai oleh Gusti Ayu, tetapi karena sejak semula (p.139) dayang ini diwajibkan menjaganya, ia tak dapat berbuat suatu apa, meskipun kadang-kadang ia merasa dirinya sebagai kanak-kanak yang harus diturutkan kian kemari.

Dari jauh telah terdengar suara Ni Pogoh mendengking:

- Dari tadi hamba mencari Ratu ke mana-mana, sampai ke belakang hamba tanyakan, tak ada orang yang tahu, siapa kira Ratu ada di sini... Perlu benar hamba pada Ratu sebab ada suatu khabar girang yang hendak disampaikan...

Karena Gusti Ayu telah benci benar pada perempuan yang berkelakuan melebih-lebihi ini, maka tiap-tiap perkataan yang diucapkannya dengan cara merayu dan mengambil hati sebagai menyayat hati Gusti Ayu. Apalagi pada saat ia sedang dilamun pikiran yang hebat berhubung dengan khabar yang didengarnya dari I Jiwa tadi, ia tak memperhatikan Ni Pogoh yang duduk bersimpuh di hadapannya. Dengan gelak manis yang dibuat-buat dicobanya menarik perhatian Gusti Ayu, tetapi air muka gadis itu kelihatan pucat sebagai mayat, tak bergerak, tak bercahaya. Pikirannya bergelombang sangat hebat, ia tak dapat memikirkan atau mengacuhkan hal lain dari pada I Jaya, I Jaya yang dihukum buang ke Nusa Penida dan pada petang ini akan berangkat...

- Ratu, cobalah lihat, apa yang hamba bawa, aduh,... seumur hidup belum pernah hamba melihat cincin sebagus ini... dan sungguh berbahagia Ratu sebagai puteri, anak bangsawan, cantik molek, muda remaja... dikurniai pula cincin sebagus, semahal ini oleh baginda...

Sekalian perkataan Ni Pogoh yang merayu itu antara terdengar dengan tiada oleh Gusti Ayu, Ia tahu bahwa Ni Pogoh sedang membujuk, tetapi entah apa yang dikatakannya (p.140) tak dapat difahamkannya, semakin lama perempuan ini semakin mengganggu pikirannya yang sedang kacau memikirkan kekasihnya yang sedang menerima nasib yang malang

... Ia sedang duduk di siniberdiam diri dalam keadaan mewah, sedangkan kekasihnya tengah menderita, tengah menanti dijalankan putusan pembuangan, diasingkan dari pergaulan hidup, bercerai dari sanak saudara, ayahnya dan... tak kan bertemu lagi dengan dia. Kalau dibiarkannya I Jaya berangkat dengan begitu saja, apalah jadinya ia. Tadinya masih ada sedikit harapannya bahwa di satu waktu ia akan terlepas dari penjara ini dan bertemu, berkumpul lagi dengan I Jaya, tetapi sekarang... harapan itu hilang lenyap, I Jaya akan diasingkan sebelum ia mendapat keputusan tentang untungnya yang sekarang.

Andai kata terkabul kehendaknya, andai kata ia mendapat kemerdekaannya kembali, tetapi apalah artinya kemerdekaan itu bilamana I Jaya telah jauh, jauh di Nusa Penida, dalam pembuangannya...?

Sementara itu Ni Pogoh tak kunjung diam. Digosoknya cincin berlian yang telah dikeluarkannya dari bungkusan sapu tangan, sehingga permata yang sebesar mata ayam itu tambah gemerlapan, lalu dipegangnya tangan Gusti Ayu yang terjuntai. Sambil memasukkan cincin itu kejari manis Gusti Ayu ia berkata pula:

- Lihatlah, sesuai benar di jari Ratu... Ketika baginda tadi memberikan cincin ini hamba telah mengatakan tentu mesti sesuai dan sekarang..., berbukti bahwa hamba tak salah juga... Lihatlah betapa manisnya..., sebagai sengaja cincin ini dibuatkan untuk Ratu...

Sambil berkata demikian Ni Pogoh memegang ujung (p.141) jari Gusti Ayu dan memandang-mandang cincin yang terlekat pada jari gadis itu, sebagai ia sangat puas dengan pekerjaan yang telah dilakukannya.

- Dantahukah Gusti Ayu bahwa di antara puteri-puteri yang lain, seorangpun tak ada yang diberi cincin sebagus, semahal ini? Cincin ini diperbuat oleh seorang pandai yang sengaja didatangkan oleh baginda dari Tabanan, demikianlah sayangnya baginda pada Ratu... Dan itupun sudah sepatutnya sebab... baginda hendak mempersunting setangkai bunga yang jarang didapat...

Sindiran yang penghabisan ini diucapkan oleh Ni Pogoh perlahan-lahan, hampir berbisik, diikuti oleh senjum manisnya yang dibuat-buat, sedang matanya memancarkan pandangan yang mengandung rahasia dan dalam artinya.

Sejak tadi Gusti Ayu duduk berdiam diri. Dibiarkannya Ni Pogoh mengoceh sebagai seekor burung beo yang biarpun tak ditegor tetapi bercakap terus-menerus. Ketika tangannya dipegang dan cincin itu dimasukkan ke dalam jarinya ia antara merasa dengan tiada, melihatpun ia tidak betapa bentuk cincin itu, nampaknya sebagai boneka sedang dipakaikan... Apakah artinya perhiasan, cincin berlian bahkan sebesar empu tangan baginya, sedang pikirannya selarat ini... Kata-kata rayuan Ni Pogoh tak didengarnya pada permulaannya, melihatpun ia tidak pada perempuan yang dibencinya itu, tetapi ketika Ni Pogoh membisikkan sindiran yang mengandung arti itu, ia terkejut, tangannya yang sedang dipegang Ni Pogoh itu ditariknya, ia melihat kepada Ni Pogoh dengan mata yang terbelalak. Sekonyong-konyong pikirannya yang tadi melayang pada I Jaya, sekarang dibulatkan pada percakapan dayang itu. Apa (p.142) maksudnya menyindir demikian...? Baginda hendak mempersunting setangkai bunga yang jarang didapat...?

Dan kata-kata itu dihubungkan dengan pemberian cincin ini...? Jadi kalau begitu cincin ini sebagai tanda, sebagai permulaan dari pada nasib kejam yang hendak dialaminya pula...?

Selama ini adalah suatu perasaan khawatir, perasaan takut dalam hati kecilnya, suatu perasaan yang ia sendiri dapat merasakan setelah melihat nasib perempuan-perempuan muda yang dilihatnya di bahagian belakang dari puri itu.

Setelah mendengar rayuan dan sindiran Ni Pogoh ia takut kalau-kalau ia akan mengalami nasib yang demikian pula. Dari sehari kesehari perasaan takut itu tumbuh dalam sanubarinya, ia merasa sebagai seorang hukuman yang telah dijatuhkan hukuman mati, yang hanya menantikan pabila hukuman itu akan dijalankan, sedang sementara ia terkurung dalam penjara yang terjaga rapi, tak dapat bergerak atau berbuat sekehendak hati... Sesungguhnya kalau hal yang ditakutinya itu terjadi samalah sebagai hukuman mati baginya, walaupun badannya hidup akan dirasakannya semangatnya mati... Habislah cita-cita gadisnya, tammatlah riwajatnya kalau sebenarnya terjadi...

Dari sehari ke sehari ia sebagai berharap janganlah datang saat itu, janganlah datang nasib yang kejam itu. Dalam hatinya ia berdoa, tetapi harapannya amat tipis, melihat rapinya penjagaan dalam istana itu, mendengar rayuan Ni Pogoh yang semakin hari semakin mendesak, semakin terang hendak menjerumuskan ia ke dalam jurang, setindak demi setindak... Dan sekarang perempuan yang tak bermalu ini membawakan sebentuk cincin berlian, yang (p.143) katanya sebuah hadiah dari baginda, diperbuat seorang pandai yang sengaja didatangkan, dan patut pula demikian kata jahanam ini, karena baginda hendak mempersunting setangkai bunga yang jarang didapat... Sudah tak salah lagi sindiran ini berarti bahwa putusan yang ditakutinya itu telah dijatuhkan atas dirinya, saat itu telah datang, saat yang akan menentukan nasib perbudakan yang akan dijalaninya di kemudian hari...

Alangkah kejam nasibnya...

Putusan atas dirinya itu hampir serentak didengarnya dengan putusan atas diri I Jaya. Ia akan dikuburkan hidup-hidup dalam sangkar emas ini dan I Jaya akan terbuang jauh... Mereka berdua akan sama-sama mengalami nasib yang hebat, akan terpisah selama-lamanya...

Lalu dirasanya hatinya berontak: Tidak! Tidak...! kata hatinya, tetapi apa yang dapat ia perbuat, hendak keluar, hendak lari...?! Jauh dari pada itu.Ia tak kan dapat meninggalkan pintu gerbang yang tertutup rapat, dijaga oleh perajurit itu. Nasibnya telah ditentukan, mau tak mau ia tentu harus menurut...! Harapan pertolongan sudah tak ada lagi!

Sekonyong-konyong datanglah suatu pikiran nekat dalam hatinya. Sudah tak ada jalan lain lagi...! Kalu hal ini dibiarkannya mereka berdua akan tenggelam, terbenam dalam lembah kehidupan, merana seumur hidup. Kalau benar nasibnya sudah tak dapat diperbaiki lagi, tidakkah dapat ia berbuat suatu apa untuk I Jaya...?!

Ia tegak berdiri lurus lalu bertanya pada Ni Pogoh dengan suara tetap:

- Dimana baginda sekarang, Ni Pogoh?

(p.144) Ni Pogoh terkejut, iapun ikut bangun.

- Baginda sedang di peranginan, Ratu, Apakah sebabnya Ratu bertanya...?

Ni Pogoh mulai takut karena melihat sikap Gusti Ayu sebagai seorang yang hendak menyerang. Ia khawatir kalau-kalau terjadi suatu hal yang tak diingini oleh baginda.

- Aku hendak bertemu dengan baginda, Ni Pogoh, marilah ikut!

Sambil berkata demikian Gusti Ayu telah melangkah, tak dapat dicegah lagi oleh Ni Pogoh. Perempuan itu menurutkan Gusti Ayu yang berjalan cepat sambil merintih:

- Jangan, Ratu, jangan...

Tetapi Gusti Ayu tak mengacuhkan keluhan dayang itu. Ia berjalan dengan langkah yang tetap menuju ke dalam istana.

Source

  • Andjar Asmara - Nusa Penida; Balai Pustaka Djakarta, 1949

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24