Novel 'Noesa Penida' (Asmara, 1949) Part II Ch. IV

Below article is a rendering of a novel called 'Nusa Penida' by Andjar Asmara, published in 1949. Part II - Chapter IV. For reasons of readability, only the spelling has been adapted to modern Indonesian spelling (Ejaan Yang Disempurnakan).

asmara nusapenida 1949

BAHAGIAN II - BAB IV - Part II Chapter IV (p.96-117)

I PAGEH berjalan gontai menuju kegelanggang tempat orang menyabung ayam. Nampaknya sebagai orang lesu, tak bertenaga. Ia menyabung ayam semata-mata hendak melengahkan pikiran yang sangsai dan tidaklah dengan tujuan hendak mencari kemenangan, tidaklah dengan nafsu hendak mengadu untung, semata-mata karena pikirannya yang kacau, yang tak dapat disatukannya, hiba, gemas bercampur perih, tak tentu kepada siapa hendak dilepaskan. Lebih-lebih lagi jatuh hatinya kalau melihat I Jaya yang sebagai orang bingung nampaknya. Mereka tak berkata-kata, sekejappun tidak, tetapi sama-sama merasakan pedih, sama-sama menderita suatu kemalangan yang tak dapat disebut, bencana yang tak dapat diberi nama…

(p.92) Sesungguhnya sejak beberapa hari, sejak jumlah anggota yang mendiami pondok I Murda berkurang satu, sejak Gusti Ayu tidak berada lagi di antara mereka, penghidupan di dalam pondok itu sekonyong-konyong berobah menjadi sepi sebagai kehilangan sarinya.

Ketika I Murda pulang dari mengantarkan Gusti Ayu ke dalam puri hatinya puas tak terhingga, karena telah memenuhi kewajibannya, rasanya sebagai seorang yang telah melayarkan perahu sampai ke pelabuhan dan mengantarkan muatan kepada yang berhak menerimanya. Suatu perasaan girang dan puas yang meliputi perasaannya yang lain-lain, ialah keyakinannya bahwa perobahan penghidupan itu akan membawa keuntungan bagi Gusti Ayu. Sekarang Gusti Ayu akan dapat mengecap penghidupan yang sepadan dengan derajatnya sebagai seorang anak raja, sedangkan kalau puteri itu terus menerus hidup dengan dia di dalam pondoknya, tak lain dari pada kemelaratan dan kemiskinan yang akan diderita. Ketika ia keluar dari pintu gerbang puri teringatlah ia kepada arwah Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai dan dalam hatinya ia berkata: “Pesan Ratu telah hamba penuhi sebaik-baiknya.”

Ketika ia pulang seorang diri melewati pasar, ia dipanggil oleh orang-orang kampung yang bertanyakan bagaimanakah kesudahan kunjungannya pada baginda. I Murda lalu duduk dan berceritera didengarkan oleh berpuluh-puluh orang yang mengerumuni dia. Ia berceritera itu dengan penuh semangat, dengan keyakinan bahwa apa yang telah diperbuatnya itu menurut jalan yang benar. Orang-orang yang mendengarkan kisah itupun tidak menyalahkan I Murda, mereka malah membenarkan dan memuji-muji kesetiaan (p.93) I Murda dan yang terlebih lagi mereka kagumi ialah upah dan pangkat yang akan diberikan kepada I Murda; tentulah I Murda akan mengecap kesenangan hidup dan tentulah ia akan disayangi oleh raja. Pada saat itu tumbuhlah segan dan hormat orang-orang kampung itu kepada I Murda, yang dengan sekonyong-konyong naik derajat, dari seorang penangkap ikan menjadi kepercayaan raja, akan diberi pula suatu jabatan yang terhormat…

Ketika ia meninggalkan orang-orang kampung itu menuju pulang, semangatnya masih saja penuh dengan kepuasan dan kegembiraan dan pada saat ia mendaki tebing mendekati pondoknya ia berjanji dalam hatinya akan menyampaikan khabar girang itu kepada I Pageh dan I Jaya, yang dilihatnya sedang duduk di hadapan rumah. Rupanya mereka sedang menantikan kedatangannya hendak mengetahui bagaimana putusan raja. Setelah ia dekat I Jaya bertanya:

- Mana Gusti Ayu, ayah?

I Murda gugup mendengar pertanyaan ini, yang diucapkan dengan perasaan cemas dan ketika dilihatnya pula muka I Pageh ia bertambah gugup, tak disangkanya mendapati kedua anaknya dalam keadaan demikian. Ia tak menjawab lalu duduk di ujung balai-balai. Tadinya ia bermaksud akan menceriterakan khabar girang itu dalam kegembiraan, tetapi ketika dilihatnya kedua anaknya sedang menantikan kedatangannya dalam kecemasan, iapun berhati-hati dan dengan suara yang sabar ia berkata:

- Adalah suatu khabar baik yang hendak aku sampaikan kepada kamu berdua, lalu diceriterakannya kunjungannya kedalam puri itu sejak mulai ia masuk sampai ia keluar kembali pulang, diulanginya ucapan-ucapannya terhadap (p.94) baginda, pun sabda baginda sekecap demi sekecap, penghargaan baginda dan pernyataan terima kasih baginda dan upah yang telah dijanjikan padanya itu. I Murda berceritera itu tidaklah sebagai dimaksud tadinya, tidak sebagai ia sedang berceritera di pasar tadi, sebab I Jaya dan I Pageh mendengarkan dengan berdiam diri.

Ia merasa udara yang berat antara kedua anaknya, mereka tidak gembira mendengarkan dan ketika ia sampai kepada akhir ceriteranya mereka tetap tinggal diam, seorangpun tak ada yang berkata-kata, atau menyatakan perasaannya. I Murda insyaf bahwa khabar itu tidak menggirangkan pada kedua anaknya; melihat sikap mereka ia insyaf bahwa hati mereka telah luka. Dengan berhati-hati lalu dicobanya mengobati, menyabarkan hati mereka dan menunjukkan bahwa kejadian itu berarti keuntungan bagi Gusti Ayu.

- Kita harus berterima kasih sebab Gusti Ayu sekarang telah senang, katanya. Penghidupannya didalam puri tentu berlainan dengan penghidupan di dalam pondok buruk kita ini. Ia akan dilajani dan dihormati sebagai seorang puteri dan Gust Ayu sebagai seorang anak raja berhak mendapat rawatan yang demikian.

Sambil berkata itu ia memandang dari I Jaya kepada I Pageh, tetapi air muka mereka tak berobah, kelihatannya sembab. Mereka tak berkata sepatah jua, menjetujui tidak, membantahpun tidak. I Murda turut berdiam seketika, turut merasakan udara yang berat di antara kedua anaknya. Sejak tadi ia diliputi kegirangan, kepuasan hati yang tak terhingga, tetapi dalam kegembiraan itu ia tak mengingat kedua anaknya, belum dipikirkannya bagaimana mereka akan menerima khabar baik itu. Pada persangkaannya mereka tentu akan (p.95)turut bergirang pula, tetapi apa yang didapatnya sekarang adalah berlainan dasri pada dugaannya. I Jaya dan I Pageh nampaknya sebagai kehilangan kawan sering. Sebagai seorang tua ia maklum akan perasaan mereka, sebab sejak kecil mereka bertiga dibesarkan bersama-sama, sepermainan, sehilir semudik tiga sejoli, sekarang seorang diantaranya telah meninggalkan mereka, tentulah akan menyedihkan hati mereka. Hal ini dimakluminya, tetapi ia tak mengira bahwa semangat kedua anaknya akan terpukul sedemikian rupa, seakan-akan patah hati I Jaya dan I Pageh, teristimewa karena mereka tak berkata sepatah jua.

Mulanya I Jaya berdiri, meninggalkan ayahnya. Kemudian I Pageh masuk ke dalam rumah, maka tinggallah I Murda seorang diri, memikirkan tingkah laku kedua anaknya yang tak dapat diartikannya itu…

I Jaya berjalan menuruni tebing, sendi tulangnya dirasanya lemas, ia berjalan tak tentu tujuan… Dalam saat yang sehebat ini ia hendak menjauhkan diri, bersendiri dengan untungnya yang malang.

Dengan langkah yang berat ia berjalan menyisi pantai, tak mengindahkan keadaan kiri kanannya, tak melihat sebuah perahu yang sedang turun ke laut, gelap di hadapan matanya, telinganya sudah tak mendengar ombak yang memecah di tepih pantai, membasahi kakinya… Ia berjalan kaki, semakin lama semakin jauh. Kemudian ia duduk di atas sebuah batu karang yang besar, menghadap ke laut. Kakinya berjuntai, ia duduk berputang dagu melihat ke laut yang luas, yang tambah menjauhkan pikirannya. Di hadapan matanya terletak pulau Nusa Penida, membujur dari Timur ke Barat. Perasaannya pada waktu itu (p.96) sebagai juga ia seorang buangan di pulau itu, seorang diri tak berkawan. Hatinya dirasanya penuh, penuh duka nestapa, tetapi kepada siapa ia hendak mengadu?

Baru kemarin ia duduk berdua dengan Gusti Ayu, diayunkan perasaan suci murni, mengecap cinta yang berbalas, yang nmendatangkan keberanian dan kenekatannyam sehinggha mereka berdua merancang hendak memaksa, merombak pagar yang menghalangi perkawinan mereka. Mereka berdua telah bulat perhatian, telah seia sekata: I Jaya berjanji akan menanyakan pada bapa I Jaladra, hati yang dua telah dirasa satu dan sekarang… dengan sekonyong-konyong Gusti Ayu telah terpisah jauh dari padanya, terasing di suatu tempat yang tak dapat dan tak mungkin didekatinya, di dalam puri yang terlarang, yang tak kan mudah dimasuki oleh seorang Sudra sebagai dia… Alangkah kejam nasib itu, alangkah malang rasa dirinya…! Apakah yang dapat diperbuatnya akan merebut kekasihnya kembali, apakah dayanya sebagai seorang yang hina dina…!

Pada sat itu dirasanya sekeliling matanya basah, air matanya tergenang, lalu mengalir tak dapat ditahan. I Jaya menangis sebagai kanak-kanak, rupanya perasaan penuh yang tertahan dari tadinya, sejak semula ayah berceritera, sekarang dilepaskannya, perasaan terpendam yang sejak tadi ditekannya sekarang terhambur keluar berupa air mata panas yang bercucuran… I Jaya menangis sejadi-jadinya dengan perasaan dendam yang tak lepas. Kemudian setelah reda, ia duduk termenung, tak berpikir, bingung bercampur hiba… Matahari yang telah tenggelam tak diketahuinya…

I Jaya duduk di dalam gelap, seorang diri…

(p.97) Setelah beberapa hari lamanya I Jaya dan I Pageh tak ke laut. Kalau I Murda bertanya mereka menerangkan bahwa udara agak buruk, angin kurang baik. Sesungguhnya sejak beberapa hari turun hujan kecil-kecil, tetapi menurut kebiasaan yang sudah-sudah, dalam keadaan yang demikian I Jaya dan I Pageh menantikan sampai hujan agak reda dan setelah terang mereka turun juga ke laut, walaupun hari sudah agak siang.

I Murda yang mengetahui keadaan kedua anaknya pun tak mau memaksa atau mengerasi, sebab ia tahu apa sebabnya yang sebenarnya dan ia tahu bahwa dalam keadaan demikian tak dapat dijalankan kekerasan. Lebih-lebih lagi I Murda merasa setelah melihat perobahan dalam pondoknya, perobahan yang mereka bertiga sama-sama merasakan. Mula-mulanya I Murda merasakan perobahan itu ketika bangun pagi, semalam sesudah Gusti Ayu meninggalkan mereka. Ia terbangun dalam keadaan sepi, sunyi senyap suatupun tak terdengar, pada hal menurut biasa kalau ia bangun sudah terdengar suara air sedang mendidih atau Gusti Ayu sedang menghidupkan api.

Suara itu telah biasa didengarnya dari tahun ketahun dan sekarang sekonyong-konyong sepi dalam pondoknya. Pada saat itulah untuk pertama kali I Murda merasakan suatu kesedihan, merasakan bahwa ada sesuatu yang kurang dalam rumah tangganya. Lama ia terletak dibalai-balainya, berhiba hati mengenangkan hal itu, tetapi kemudian dapatlah ia melawan kesedihan itu dengan mengobati hatinya sambil berkata kepada dirinya bahwa kemalangan itu berarti keuntungan bagi Gusti Ayu. Hatinya girang kembali, karena dibayangkannya bahwa anak yang disayanginya itu sekarang (p.98) telah bertukar penghidupan, ia tentu terbangun disatu tempat tidur yang berkasur empuk dan tidaklah dibalai-balai yang keras sebagai dalam pondoknya. Lalu kembali pikiran sehatnya dan memikirkan bagaimanakah keadaan dalam pondoknya itu harus diperbaiki. I Jaya atau I Pageh tentu tak mungkin mengurus rumah tangga, ia sendiripun telah tua dan berpenyakitan; tak lain jalan dari pada seorang perempuan yang harus menggantikan tempat Gusti Ayu. I Murda lalu teringat pada Ni Kerti, seorang gadis yang tinggal menumpang di rumah I jaladra. Gadis ini tak berayah tak beribu, ia bersahabat amat baik dengan Gusti Ayu dan sering pula datang bermain-main ke pondok ini. I jaladra pernah menawarkan pada I Murda supaya mengambil gadis ini untuk membantu dalam rumahnya sebagai kawan Gusti Ayu, tetapi pada waktu itu I Murda tak dapat mengabulkan permintaan itu karena ia memikirkan kemiskinannya. Sekarang keadaan sudah berlain, Gusti Ayu sudah tak ada, kalau Ni Kerti datang mengurus rumah tangganya tentulah tak menjadi keberatan lagi, karena sebenarnya ia sedang membutuhkan tenaga seorang perempuan.

Dari pancuran I Murda terus ke rumah I jaladra dan di situ pulalah ia mendapat semangkok kahwa, yang tentu tidak akan didapatnya kalau ia pulang ke pondoknya, sebab tungku di dapurnya masih saja tak berasap. Setelah dirundingkannya hal itu dengan I jaladra dapatlah permufakatan, I jaladra mengizinkan Ni Kerti pindah ke rumah I Murda, pada hari itu juga.

Demikianlah sudah beberapa hari Ni Kerti menggantikan Gusti Ayu dalam hal memasak, mencuci dan membersihkan rumah, tetapi walaupun dalam hal ini sudah tertolong, (p.99) belumlah dapat dikatakan bahwa semangat dalam pondok I Murda itu dapat dikembalikan sebagai sediakala. I Murda sendiri tambah hari tambah merasa kehilangan, walaupun ia sebagai seorang tua dapat menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya, tetapi kalau diperhatikannya keadaan kedua anaknya, datanglah rasa kasihan dalam hatinya dan kadang-kadang ia bertanya dalam hatinya sebagai suatu penyesalan: “Apakah putusan yang telah kuambil itu benar-benar mendatangkan kebaikan untuk kami bersama?"

Yang tambah merusuhkan hatinya ialah I Jaya dan I Pageh terus menerus berdiam diri dalam beberapa hari ini sesudah ditinggalkan Gusti Ayu. Mereka keluar rumah pagi hari dan pulang malam, tak berkata sepatah jua; sesudah makan, mereka tidur atau keluar lagi, ke kampung. Nama Gusti Ayu tak pernah disebut lagi dalam pondok itu, walaupun mereka sama-sama merasa bahwa Gusti Ayu yang menjadi pusat kesedihan mereka…

I Pageh telah hibuk dengan ayamnya dalam beberapa hari ini. Kadang-kadang ia kalah, kadang-kadang ia menang, lalu membeli pula seekor ayam baru. I Jaya tidak tentu ke mana perginya setiap hari, tetapi ia tak pernah di rumah. Ia selalu pulang malam hari, kalau sudah dekat waktu tidur, malah kadang-kadang ia tak pulang, entah di mana ia bermalam…!

Demikianlah penghidupan dalam pondok I Murda diliputi oleh awan yang gelap yang tak tentu dan tak memberi pengharapan bila akan terang kembali sebagai sediakala…

Keadaan digelanggang tempat mengadu ayam lebih ramai dari pada biasa, karena kedatangan beberapa orang juara (p.100)dari Karangasem. Juara-juara ini terkenal pandai memilih ayam. Ayam yang mereka bawa sudah pernah merobohkan musuh beberapa ekor. Ada yang mengatakan bahwa kemenangan-kemenangan yang mereka peroleh itu ialah karena mereka pandai mengikatkan taji dan ada pula yang mengatakan bahwa mereka itu orang berilmu, pandai memasukkan iblis ke dalam jiwa ayam yang sedang bertanding, sehingga pada batinnya bukanlah ayam yang bercakar-cakaran, melainkan iblis yang tak nampak yang sedang mengadu kekuatannya…

Ketika ayam mereka hendak diadu, pertaruhan sangat tinggi. Ringgit dan uang emas berdering-dering di gelanggang itu. Sudah tentu banyak yang meletakkan taruhnya pada ayam juara Karangasem. Sementara itu orang kampung memilih pula ayam siapa yang patut diadu dengan ayam dari Karangasem itu. Sesudah berkumpul sekalian juara-juara dari kampung Kosamba, maka mereka menetapkan bahwa ayam I Pagehlah yang patut bertanding dengan ayam musuh itu, sebab dalam daerah Kosamba ayam I Pagehlah yang disegani oleh ayam yang lain-lain, karena sudah pernah mengalahkan empat ekor ayam dalam kampung itu.

Pertaruhan naik dari seringgit ke-tiga ringgit, sampai ke-lima ringgit, nafsu perjudian semakin hebat; sementara itu juara-juara telah mulai memasang taji dengan sangat berhati-hati. Yang lebih dahulu sudah memasang taji, yang berupa pisau kecil yang amat tajam yang diikatkan di kaki ayam itu, ialah orang dari Karangasem. Juaranya lalu menggeli ayamnya dan dipermain-mainkannya, sembil mengacung-acungkan ayam itu menghadapi musuh yang hendak dilawannya yang masih saja belum dilepaskan oleh I Pageh (p.101) itu diperiksa dengan amat teliti oleh beberapa orang tua dari kampung Kosamba. Mereka tidak hendak melepaskan ayam itu kegelanggang sebelum diketahui bahwa ikatan taji itu tidak mengecewakan. Sementara itu ayam musuh sudah berkokok-kokok sebagai tak sabar, suaranya menentang, ingin lekas-lekas hendak bertemu dengan musuh.

Seorang Satrya lalu maju mendekati I Pageh. Diambilnya ayam itu dari tangan I Pageh, diperiksanya tajinya, lalu ditimang-timangnya. Dari caranya ia melakukan pemeriksaan itu nampaklah bahwa ia seorang yang telah biasa berjudi digelanggang mengadu ayam, diperiksanya sisik dan beberapa tanda-tanda ayam itu. Kemudian setelah selesai pemeriksaannya, dikembalikannya ayam itu pada I Pageh; ia berdiri lalu mengatakan kepada kawannya yang tegak di sebelahnya:

- Aku berani sepuluh ringgit!

- Duapuluh ringgit! demikianlah terdengar jawaban dari kalangan Karangasem.

Mendengar tentangan itu muka bangsawan tadi nampaknya merah padam. Dengan suara yang tetap ia lalu berteriak:

- Duapuluh lima!

Perlombaan itu menjadikan udara perjudian digelanggang itu semakin panas. Beberapa orang lalu berani pula memihak kepada ayam I Pageh. Kalau bangsawan itu berani bertaruh setinggi itu tentulah ia percaya benar ayam I Pageh akan menang; lain dari pada itu ia seorang yang sangat terkenal dalam kalangan mengadu ayam. Ia sering menang beratus-ratus ringgit.

I Pageh menantikan dengan sabar sampai semua orang ikut bertaruh. Sedang ia menimang-nimang ayamnya, datang (p.102) seorang kawan mendekati dia. Kawan itu bertanya sambil berbisik:

- Engkau tidak ikut bertaruh, Pageh?

- Tentu saja aku ikut, tetapi aku tidak mempunyai uang untuk bertaruh besar-besaran. Kalau sampai empat ringgit saja aku berani.

- Tidakkah engkau hendak meminjam uang? kawan itu bertanya.

- Kalau engkau mau meminjamkan, tentu aku suka,

- Marilah ke mari sebentar, kawan itu mengajak.

Mendengar ajakan itu I Pageh agak gugup, kepada siapa ayamnya akan dipercayakannya. Dilihatnya Komplang sudah tak ada didekatnya.

- Tinggalkan ayammu pada kawanku ini, Pageh! demikianlah kata orang yang mengajaknya itu.

I Pageh masih saja bingung, tetapi tangannya telah ditarik keluar.

Orang yang ditunjukkan oleh kawannya itu telah menerima ayam dari tangan I Pageh dan oleh karena segala sesuatu terjadi dalam tergesa-gesa apalagi pertandingan sudah dekat akan dimulai, maka I Pageh hampir tak sempat memikirkan bahwa perbuatannya itu boleh mendatangkan akibat yang tak baik dan merugikan. I Pageh keluar dari gelanggang, mengikutkan kawannya kesatu tempat yang agak jauh. Di bawah sebuah pohon mereka berhenti lalu duduk.

Pada waktu itu I Jaya sedang asyik mendengarkan orang banyak berkumpul-kumpul mempercakapkan pertandingan yang luar biasa itu. Ayam dari Karangasem itu belum pernah keok digelanggang, juaranya sudah menang beberapa ratus (p.103) ringgit dengan ayam bertuah itu dan sekarang ayam itu akan diadu dengan ayam I Pageh, adakah harapan ayam I Pageh akan menang…? Inilah yang menjadi soal penting dalam pembicaraan itu; ada setengah yang memberi harapan pada ayam I Pageh, malah berani bertaruh pula, karena sudah mengetahui ketangkasan ayam itu; tetapi beberapa orang di antaranya tidak pula percaya ayam Karangasem itu akan dapat dirubuhkan. I Jaya mengikutkan pembicaraan itu sebagai penonton saja, ia tak ikut berbicara dan tidak pula serta bertaruh; ia datang ke mari semata-mata hendak melengahkan pikiran, hanya karena tertarik oleh orang banyak sebab hampir segenap kampung Kosamba keluar menonton pertandingan yang menggemparkan ini. Hatinya yang luka masih saja belum berobat, sebagai orang lesu dan tak bertenaga ia mendengarkan dan membiarkan orang banyak itu bersoal jawab. Yang menarik perhatiannya ialah karena yang menjadi pokok pembicaraan yaitu ayam I Pageh. Ia tahu bahwa I Pageh telah banyak kalah dalam beberapa hari ini dan ketika dilihatnya I Pageh keluar dengan seorang kawan, kemudian duduk berdua di bawah sebatang pohon dan menerima uang dari kawan itu mengertilah ia bahwa I Pageh sedang meminjam uang untuk pokok bertaruh. Melihat kejadian ini I Jaya menghela nafas panjang. Ia tahu benar kelemahan hati I Pageh. Karena pikiran sedang tertumbuk I Pageh sekarang menghiburkan hatinya digelanggang mengadu ayam, ia berani berhabis-habisan, berani pula berhutang…!

Setelah selesai rundingan di bawah pohon itu, I Jaya dan kawannya tergesa-gesa masuk kembali ke dalam gelanggang, karena pertandingan sudah hendak dimulai. Orang (p.104) memanggil-manggil nama I Pageh. Ia meloncat ke dalam, duduk di tempat yang ditinggalkannya tadi. Ketika ia hendak menerima ayamnya kembali, tangannya ditarik oleh kawannya tadi yang bertanya:

- Kamu tidak akan bertaruh, I Pageh?

- Sudah tentu aku mau, sepuluh ringgit, katanya.

Ayam itu tak jadi dipegangnya karena tertarik pula oleh pertaruhan itu. Pada waktu gong berbunyi dan I Pageh tergesa-gesa masuk ke dalam gelanggang, ia melihat ayamnya telah dilepaskan oleh orang yang memegang tadi. Ayam Karangasempun telah dilepas pula dan dengan tangkas ia menyongsong musuhnya. Kedua ayam itu sama-sama berani dan bernafsu dan ketika mereka bertemu ditengah-tengah gelanggang, dengan segera mereka berlaga dengan sangat hebatnya.

Penonton berkumpul berdesak-desak. Teriakan amat riuhnya, golongan Kosamba memberanikan ayam I Pageh dan dari golongan Karangasem terdengar teriakan-teriakan yang sombong dan menghinakan ayam I Pageh.

Sekali dua kali ayam I Pageh melayang, melambung tinggi. Kosamba bersorak. Sungguh ayam ini berani, tak dihentikannya menubruk lawannya. Satrya yang bertaruh duapuluh lima ringgit itu melonjak-lonjak kegirangan, karena dilihatnya pilihannya tak salah. Terus menerus ayam I Pageh melejang, mempergunakan kaki dan patuknya, sehingga ayam Karangasem hampir tak mendapat kesempatan untuk menyerang. Tetapi meskipun demikian golongan Kosamba belum mendapat kepuasan karena sekalian serangan-serangan ayam I Pageh itu belum mendatangkan akibat pada ayam Karangasem.

(p.105) Ayam ini masih saja segar dan melawan dengan bersungguh-sungguh, setapak iapun tak mundur. Nyata benar bahwa ayam ini sudah biasa digelanggang, sudah biasa berhadapan dengan musuh yang tangkas. Rupanya ia menunggu saatnya dapat menyerang dan kemudian setelah didapatnya kesempatan itu, ia meleyang beberapa kali mempertubi-tubikan tajinya pada ayam I Pageh. Walaupun melihat kepada kekuatan kedua ayam itu masih sama-sama kuat, nampaklah darah mengalir dari leher ayam I Pageh; darah itu semakin banyak, dari perut, dari dadanya. Rupanya melihat darah itu ayam Karangasem semakin berani; sekarang ia menyerang berturut-turut, berulang-ulang tajinya mengenal tubuh musuhnya dan tiap-tiap kena mendatangkan hasil. Ayam I Pageh yang berwarna putih, sekarang kelihatan merah karena mandi darah, perlawanannya semakin kendor, ia kelihatan payah; sekali-sekali ia hendak lari, tetapi terus dikejar oleh musuhnya.

Sesungguhnya mengadu ayam sampai berlumuran darah itu ialah suatu pertunjukan kejam dan amat mengerikan bagi siapa yang belum pernah melihatnya, tetapi tidak demikian bagi mereka yang telah dipengaruhi iblis perjudian, yang turut bertaruh digelanggang mengadu ayam, mereka malah tambah gembira, tempik sorak semakin riuh, ketika ayam I Pageh yang berlumur darah, melarikan diri tanda keok…

Muka I Pageh kelihatan pucat. Sebagai juara ia telah berkali-kali mengalami kekalahan, malah yang lebih hebat dari pada ini telah pernah dirasanya. Uangnya telah banyak habis dalam beberapa hari ini selama ia dilamun perasaian, tetapi sekali ini hilang semangatnya, bukan karena kalah, (p.106) bukan karena uangnya hilang, tetapi karena suatu teka-teki yang belum dapat diartikannya. Dilihatnya dari bermula ayamnya menyerang dengan gagah, melejang menerkam musuhnya, tetapi apa sebab serang-serangannya yang berkali-kali itu tidak mendatangkan hasil barang sedikitpun, pada hal ia tahu benar bahwa taji yang diikatkannya tadi itu amat kuat, telah diperiksanya berkali-kali, pun beberapa orang tua dari Kosamba telah memeriksa dengan teliti dan mereka sama memuji ikatannya itu. Tetapi apakah sebabnya setetes darahpun tak kelihatan dari ayam Karangasem itu…? Dihitungnya sampai enam kali ayamnya mencakarkan tajinya, tetapi tak berhasil sekali juapun. Maka datanglah kepercayaannya bahwa benar-benar ayam Karangasem itu karena bertuahnya tak mempan taji, tak dapat dikalahkan dan bahwa sebenarnyalah juara-juara Karangasem itu mempergunakan ilmu sihirnya, dengan memasukkan semangat iblis kedalam tubuh ayamnya…!

I Pageh merasa mukanya tebal, ia merasa malu, hampir tak berani melihat muka orang di sekelilingnya. Sorak Karangasem semakin riuh, sebaliknya Kosamba nhening berdiam diri, pun Satrya yang bertaruh dua puluh lima ringgit itu sudah tak berkata-kata…

Sekonyong-konyong dirasanya tangannya dihela orang dari belakang. I Pageh menoleh, lalu nampak olehnya Komplang yang mengajak ia berahasia. Melihat muka Komplang nyatalah bahwa ada sesuatu rahasia yang penting yang hendak dibicarakannya. I Pageh lalu menurut keluar gelanggang. Setelah agak jauh dari orang banyak Komplang mengayak I Pageh duduk. Seketika lamanya mereka berbisik-bisik,(p.107) sambil melihat-lihat ke bahagian Karangasem, sebagai ada seseorang yang mereka cari. Muka I Pageh yang pucat sekarang kelihatan putih sebagai kain, setelah mendengar keterangan Komplang itu.

- Kalau benar demkian, Komplang…, ia berkata sambil mengepal tinjunya.

- Aku tak berjusta, Pageh. Kekalahanmu ini memberi malu kepada kita semua, sekampung Kosamba yang turut memikul aib ini. Aku biasa berjudi, biasa bertaruh, tetapi kalau orang mengalahkan kita dengan jalan tipu muslihat, aku tak menerima.

- Siapa yang melihat dan siapa yang mengatakan kepada kamu?

- Itulah budaknya yang mengatakan padaku, jawab Komplang sambil menunjukkan seorang anak laki-laki yang hampir dewasa yang sedang memperhatikan mereka sedang berbicara.

I Pageh lalu memanggil anak itu, lalu bertanya:

- Apakah sebenarnya kamu melihat kejadian itu tadi?

- Sebenarnya kak, aku melihat sendiri dengan kawan-kawanku.

Sementara itu beberapa kawan-kawan anak itu mendekati dan mereka semua mengangguk dan membenarkan kata anak itu beramai-ramai.

- Apa yang kamu lihat, cobalah ceriterakan! kata I Pageh.

- Begini kak: Bukankah kakak tadi ke luar sebentar dari gelanggang, duduk beromong-omong di bawah pohon kayu dengan seorang kawan? (p.108)

- Benar.

- Pada waktu itu aku bersama-sama kawan-kawanku duduk di dekat ayam kak Pageh. Kami sudah duduk lama di situ, sejak mula kakak mengikatkan taji itu kami sama-sama memperhatikan dan kami tahu betul bahwa kakak telah mengikatkan sekuat-kuatnya. Tetapi kemudian setelah orang itu memegang ayam kakak ketika kakak keluar, kami lihat ia memegang tali ikatan dan diputar-putarnya, sehingga ikatan itu menjadi longgar.

- Apa sebab tidak dari tadi kamu katakan kepada kami?

Komplang bertanya.

- Sudah tak sempat lagi, kak, sebab ketika kak Pageh datang kembali, gong telah dibunyikan dan ayam kak Pageh telah dilepaskan oleh orang itu. Kamipun telah didesak orang, disuruh mundur.

I Pageh sudah tak berkata-kata lagi, gerahamnya digertakkan, matanya terbelalak, nampaknya sebagai seekor macan yang hendak menerkam mangsanya. Ia berdiri, mengangkat kainnya, lalu digulungkannya ujung kain itu dipinggangnya. Dengan tangan yang dikepalkan sebagai tinju nampaknya amat tangkas.

- Mana dia, orangnya? ia bertanya sambil menggertakkan gerahamnya.

- Itu dia, kak, yang berkain merah, sahut anak-anak itu beramai-ramai, sambil menunjukkan seorang yang berbadan tegap yang sedang duduk menghitung uang.

I Pageh menuju pada orang itu dengan langkah yang tetap. Di belakangnya menurut kanak-kanak itu beramai-ramai. Pada saat sepenting itu mereka berduyun-duyun semakin lama semakin banyak. Mereka memanggil semua (p.109) kawan-kawan yang ada di situ supaya sama-sama menonton orang hendak berkelahi.

Melihat I Pageh datang berbondong-bondong dengan kanak-kanak yang banyak itu, salah seorang dari golongan Karangasem yang duduk di dekat orang yang berkain merah itu, lalu mengutik kawannya hendak memberi tahukan kedatangan I Pageh dengan sikap menantang itu. Orang yang berkain merah itu lalu menoleh, mukanya kelihatan takut, sebagai merasa bahwa rahasianya terbongkar. Pada waktu I Pageh telah sampai ke tempatnya ia lalu berdiri dengan gagah di hadapannya. Sambil bertolak pinggang ia berkata dengan suara menentang:

- Hai jro, orang semua mengatakan bahwa ayam dari Karangasem itu bertuah, orang semua menganggap bahwa juara-juaranya berilmu, tetapi sekarang aku tahu di mana terletaknya ilmunya itu!

- Apa yang engkau maksudkan? tanya orang itu dengan muka pucat.

- Anak-anak ini semua melihat engkau melonggarkan taji ayamku sebelum dilepas. Bukankah begitu anak-anak?

- Betul, betul, aku melihat sendiri!

Suara kanak-kanak itu terdengar amat ramai, karena mereka menyahut bersama-sama.

- Engkau tidak mengaku? I Pageh memajukan pertanyaan itu sambil maju setapak dengan tangan yang telah tersedia hendak dipukulkan.

- Tidak! Aku tidak berbuat apa-apa, sahut orang itu sambil meraba tali pinggangnya di bahagian belakang.

Mendengar pertengkaran itu orang banyak berkerumun, datang dari tiap pojok hendak mempersaksikan. Pun I Jaya (p.110) telah diberi tahu oleh Komplang dan datang terburu-buru hendak mencegah, tetapi sudah terlambat, karena pada saat ia sampai ke tempat orang banyak itu, tangan I Pageh telah turun dengan cepatnya. Setelah ia melihat gerak tangan musuhnya, meraba ke belakang mencari krisnya, ia tak memberi tempoh dan tak membiarkan orang itu bersenjata, karena ia sendiri datang menjerang dengan tinjunya semata-mata. Dengan tak berkata suatu apa ia lalu menyerang dan memukul beberapa kali.

Orang itu mundur beberapa langkah. Kerisnya sudah tak sempat dicabutnya, ia sekarang terpaksa mempertahankan diri dengan tangan dan kakinya. Orang banyak bersebar, sama-sama mundur membiarkan kedua laki-laki itu berjoang. Gelanggang yang tadinya tempat mengadu ayam sekarang telah berobah menjadi tempat mengadu manusia. Beberapa orang tua-tua hendak melerai, mereka maju ke tengah memegang I Pageh yang sedang mempertubi-tubikan tinju dan kakinya pada musuhnya yang mundur terus menerus. Tetapi beberapa kali I Pageh hendak dipegang ia terlepas jua. I Pageh sudah tak melihat suatu apa lagi. Dengan mata gelap ia menyerbu ke jurusan musuhnya dan kalau ia merasa badannya dipegang orang, ia memukul ke kanan dan ke kiri. Ia menyerang sebagai seekor harimau yang buas yang baru terlepas dari kandangnya.

- Kerisnya! Ambillah kerisnya! demikianlah terdengar teriakan dari orang-orang dari tepi yaitu dari golongan yang tua-tua yang khawatir kalau-kalau perkelahian ini kelak menjadikan penumpahan darah.

Pada saat itu I Jaya dan Komplang sampai ke tengah gelanggang itu. Melihat I Pageh berhadapan dengan seorang (p.111) yang pantas menjadi lawannya dan ketika dilihatnya I Pageh berada difihak yang menang pula, ia merasa bahwa belum perlu ia campur tangan dalam perkelahian ini, tetapi mendengar teriakan orang tua-tua itu menjebut “keris" ia lalu memberi isyarat pada Komplang supaya Komplang mencabut keris lawan I Pageh. Sementara itu ia lalu mendekati I Pageh dan dengan suara keras ia berteriak:

- Pageh, berikanlah kerismu!

I Pageh tidak mengacuhkan kakaknya, tetapi tidak pula membantah atau memukul. I Jaya tidak menunggu lagi lalu merapati adiknya, mencabut keris yang tersisip di belakangnya. Setelah didapatnya keris itu ia mundur beberapa langkah, melihatkan Komplang sedang merampas keris musuh I Pageh itu. Pekerjaan itu agak susah dilakukan oleh Komplang, sebab musuh I Pageh itu terus menerus mundur tak dapat membalas, sedang I Pageh tidak pula memberi ampun pada lawannya, kaki dan tangannya dipertubi-tubikannya dengan kecepatan yang luar biasa. Semakin lama musuh itu nampaknya semakin payah. Meskipun ia masih melawan, pada mukanya kelihatan kekhawatiran. Komplang masih saja mendekati dia hendak mencabut kerisnya, tetapi tak berhasil. Tiap-tiap kali Komplang merapatinya, I Pageh mendorong lagi, sehingga musuh itu terpaksa mundur pula beberapa langkah. Komplang lalu mencari akal lain. Ia dekati I Pageh sambil berkata:

- Tunggu dulu, Pageh, biarkanlah aku mencabut kerisnya!

Komplang berkata demikian sambil memorongkan I Pageh supaya mundur, meskipun ia harus menerima beberapa sepakan yang tersasar. I Pageh masih saja bernafsu hendak menyerang, tetapi ketika dilihatnya Komplang ia (p.112) mengnentikan serangannya seketika. Tetapi sekonyong-konyong terdengar teriakan I Jaya yang maju merapati mereka:

- Ia mencabut kerisnya!

Rupanya waktu Komplang menyorong I Pageh supaya mundur, musuh itu mempergunakan kesempatan itu mencabut kerisnya yang telah kelihatan berkilat di dalam tangannya. I Jaya yang melihat ia mencabut keris itu lalu tampil ke muka dengan keris I Pageh di tangannya.

Ia sekarang berhadapan dengan musuh itu dengan tangkasnya.

Orang-orang yang menonton berteriak menyatakan kekhawatirannya melihat dua buah keris yang terhunus berkilat-kilat dalam tangan I Jaya dan dalam tangan musuhnya. I Jaya sejak tadi tidak hendak mencampuri perkelahian ini, sebab I Pageh berhadapan dengan musuh yang sepadan dan sama-sama tidak bersenjata, tetapi ketika ia melihat musuh itu hendak mempergunakan kerisnya, darahnya mendidih melihat perkelahian yang curang itu. Musuh ini merasa ia kalah cepat dan kalah kuat dari I Pageh dan ia akan menikam pada I Pageh yang sedang tak bersenjata. Tetapi ketika ia melihat I Jaya berdiri dengan gagah dengan keris terhunus di tangannya berdiri menentang di hadapannya, ia menjadi gugup, tetapi karena sudah terlanjur ia tak mundur pula. Ia mengacungkan kerisnya dan maju selangkah menyerang I Jaya yang berdiri menanti serangan musuhnya. Serangan itu ditangkis oleh I Jaya dengan cepatnya hingga meleset. Musuh mengatur serangan yang kedua. Ia mundur selangkah, memperbaiki tegaknya lalu meneryang hendak merubuhkan I Jaya, tetapi I Jaya sudah bersedia pula; (p.113) karena sudah melihat gerak musuhnya lebih dahulu, dengan tenang dielakkannya terjang itu.

I Jaya berkelahi dengan tenang, dengan mempergunakan pikirannya, sedang musuhnya menabrak, menyeruduk sebagai kerbau gila. Sebenarnya ia sudah payah karena pukulan I Pageh yang berturut-turut tadi, tetapi karena belum hendak mengalah ia melawan terus, walaupun dalam berkelahi dengan I Jaya ia merasa bahwa ia berhadapan dengan seorang musuh yang ulung.

Teriakan semakin ramai. Yang sangat meriah terdengarnya ialah dari golongan Kosamba, sebab dari mulut ke mulut mereka sekarang telah mengetahui apa sebabnya perkelahian itu, yaitu karena kecurangan orang Karangasem. Hal ini menaikkan darah orang Kosamba sehingga perkelahian I Jaya dengan orang Karangasem itu yang tadinya hanya dimaksudkan oleh I Jaya sebagai hendak membela adiknya supaya jangan mendapat tikaman dalam waktu terlengah, sekarang telah berobah menjadi suatu perkelahian antara Kosamba dan Karangasem. I Jaya dianggap sebagai seorang jago yang harus mempertahankan kehormatan Kosamba, menuntut balas atas kecurangan yang telah mereka lakukan.

- Penipu! Curang! Bunuh saja orang Karangasem itu…!

Demikianlah terdengar sorak dari golongan Kosamba. Mereka memberanikan I Jaya, darah I Jayapun naik pula mendengar teriakan itu. Tetapi walaupun demikian ia masih tenang; ia menjaga gerak-gerik musuhnya, jangan sampai ia terkena atau tertipu. Orang Karangasem itu kelihatan (p.114) semakin payah; ia berkelahi nampaknya sebagai orang mabok, pukulannya sudah tak tentu tujuannya, kebanyakan terlepas di awang-awang, berdirinyapun sudah tak kuat. I Jaya merasa bahwa sekarang datanglah waktunya ia menjerang untuk merubuhkan lawan ini.

Pada suatu ketika orang Karangasem itu sedang memperbaiki tegaknya, I Jaya menyerbu melepaskan terjangannya berturut-turut, sehingga musuh itu terpaksa mundur terus menerus. Sepakan I Jaya itu terus menerus mengenai bagian perut lawan itu dan kemudian setelah dilepaskannya terjangnya yang sehebat-hebatnya, musuh itu sempojongan lalu jatuh sebagai pohon pisang yang ditebang. I Jaya lekas mendekati musuh yang jatuh itu, ditekankannya tangan kanan orang itu yang memegang keris, sehingga tak bergerak, lalu ia duduk di atas perutnya mengacungkan kerisnya ke atas sebagai mengancam.

Melihat keadaan itu orang-orang yang menonton itupun rapat mendekati, ada yang khawatir kalau-kalau I Jaya sampai menancapkan kerisnya ke dada musuhnya. Tetapi melihat kepada gelagatnya I Jaya tidaklah mengandung maksud itu. Musuhnya telah rubuh, telah dapat dikangkanginya sehingga tak dapat melawan lagi; kemenangan itu sudah cukup baginya.

Kerisnya masih saja diacungkan di udara, tetapi tidak ditancapkan ke dada musuhnya. Pada ketika itu ia tak dapat berbicara karena kepayahan, hanya nafasnya yang sesak terdengar. Badannya yang bertelanjang sebelah ke atas, menunjukkan bahunya yang padat dan pangkal lengannya yang terisi oleh urat-urat yang besar, basah karena peluh yang mengalir.

I Pageh melihat musuh itu telah rubuh, lalu tampil ke muka sambil berkata: (p.115)

- Apakah engkau sekarang tidak mengaku telah berbuat curang pada ayamku? Mengaku apa tidak?

Orang Karangasem itu yang sudah tak dapat bergerak karena perutnya masih saja diduduki oleh I Jaya dan tangan kanannya yang memegang keris itu masih saja ditekankan ke tanah, nampaknya amat menyedihkan. Nafasnya sengal-sengul, ia merasa bahwa sekarang sudah tak dapat memungkiri lagi kesalahannya. Kepalanya yang terletak di tanah lalu dianggukkannya sambil berkata terputus-putus:

- Betul…, betul…, aku mengaku sekarang.

Ampun! Tetapi aku berbuat itu bukan atas kemauanku sendiri…

I Pageh lalu mendekati muka orang itu dan bertanya:

- Katakanlah siapa yang menyuruh kamu berbuat begitu!

- Tidak, tidak! Aku takut…!

- Kurang ajar benar kamu orang Karangasem! Sudah mengadu ayam kamu curang, sekarang pengecut lagi!

Bah…!

Pada waktu itu terjadilah suatu hal dengan sangat cepatnya. I Pageh merasa kuduknya dipegang dari belakang dan hampir saja ujung sebuah keris ditancapkan di belakangnya kalau tidak I Jaya berdiri dengan cepat, melepaskan musuhnya yang tertelentang dan menyerang musuh baru itu, yaitu salah seorang dari juara Karangasem yang hendak menusuk I Pageh dari belakang. Cepat sebagai kilat ia menerjang orang itu sehingga tertelungkup dan apa yang terjadi sesudah itu I Jaya sendiri sudah tak tahu karena pandangannya telah gelap.

(p.116) Pada saat itu pikirannya berhenti, ia hanya berbuat menurutkan gerak tangan dan kaki yang dikemudikan oleh iblis semata-mata, karena hendak membela I Pageh yang hendak dibunuh orang. Ketika ia mendengar teriak orang yang riuh disekelilingnya, barulah ia insyaf, dilihatnya ujung kerisnya telah berlumuran darah, musuhnya tertelungkup di tanah, tak bergerak lagi. Teriakan orang semakin ramai, orang banyak yang melarikan diri setelah melihat darah mengalir. I Jaya tegak bingung, melihatkan mangsanya yang telah tak bergerak mengucurkan darah tak berhenti…

Ia telah membunuh orang…!

Orang banyak yang tadinya berkumpul rapat pada tempat perkelahian itu telah bubar. I Jaya merasa bahunya dipegang, kerisnya diambil; ia diiringkan oleh dua orang yang bersenjata tombak. Ia tahu mereka itu prajurit, ia merasa bahwa ia sekarang dalam tangan pegawai negeri yang akan menjalankan undang-undang. I Jaya menurut dengan tidak membantah sedikitpun, pikirannya belum dapat ditenangkannya, ia hanya mengikut, ia insyaf bahwa ia telah menjadi seorang pembunuh,… Didengarnya perempuan-perempaun dan kanak-kanak berteriak… Didengarnya keluhan I Pageh, tetapi ia sudah tak melhat di mana I Pageh waktu itu.

Ia menurut, berjalan diiringkan oleh prajurit sebagai domba yang diikat dengan tali. Ia berjalan hendak menebus dosa yang tak diingininya…

Source

  • Andjar Asmara - Nusa Penida; Balai Pustaka Djakarta, 1949

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24