Novel 'Noesa Penida' (Asmara, 1949) Part III Ch. III & IV

Below article is a rendering of a novel called 'Nusa Penida' by Andjar Asmara, published in 1949. Part 3 - Chapter 3 & 4. For reasons of readability, only the spelling has been adapted to modern Indonesian spelling (Ejaan Yang Disempurnakan).

asmara nusapenida 1949

BAHAGIAN III - BAB III & IV (p.221-297)

(p.221) BULAN PURNAMA sedang menerangi bumi raja. Cahayanya yang gilang-gemilang berkilau-kilauan, seakan-akan bermain-main di atas air danau yang kelihatan tenang, tak beriak. Keadaan di sekeliling kampung Kintamani sunyi senyap. Lain dari pada burung malam yang berkicau sekali-sekali, terbang mencari mangsa, tak suatupun suara yang terdengar dalam malam sunyi yang indah ini.

I Pageh duduk di atas sebuah batu di tepi jalan, menghadapi danau yang lebar yang terbentang di hadapannya. Di dalam air yang berkilat-kilat itu nampaklah sebahagian dari puncak gunung Batur yang membayang sebagai sebuah gunung yang terbalik. Karena kaki gunung itu mulai dari tepi danau itu di seberang, maka nampaknya gunung itu sebagai raksasa menonjol ke atas, mencakar langit.

Nun..., jauh di seberang danau nampak cahaya bersinar, yaitu cahaya lampu dari sebuah rumah yang berdiri di sebelah pura yang pada malam ini nampaknya berwarna abu-abu.

I Pageh duduk seorang diri, sebagai melepaskan niat, mengagumi keindahan alam. Sudah lama benar ia mengidam-idamkan Kintamani, Batur dari dekat, sebagai yang kerap kali didengarnya dari orang keorang, dipuji-puji dan dikagumi dan sekarang ia duduk berhadapan dengan danau dan gunung itu sebagai tercapailah niat yang sudah lama dikandungnya.

Hawa sejuk ditempat yang tinggi, pemandangan yang indah dalam malam istimewa ini tambah melarutkan pikiran I Pageh yang sedang hanyut dalam gelombang perasaan.

(p.222) Suatu minat yang akan menetapkan tujuan hidupnya, cita-cita tiap laki-laki yang terkandung dalam hatinya masih belum tercurahkan dan pada saat ini, saat ketika mereka menuju pulang ke Kosamba, sesudah tiga bulan dalam perjalanan, ia merasa bahwa niat itu akan disampaikannya, tak dapat dikandungnya lebih lama, sebab ingat pada pesan ayahnya sebelum berangkat.

Kewajibannya yang terutama menghiburkan hati Pandan Sari, membimbing gadis itu dalam penghidupan telah dijalankannya dengan seksama selama tiga bulan mereka berkeliling dengan kumpulan I Wario.

Banyak negeri yang telah mereka lihat, pun niat Pandan Sari hendak menjejak tanah tumpah darahnya, Tabanan, telah terkabul pula. Di Singaraja mereka mendapat sambutan yang sangat meriah, sehingga I Wario terpaksa tinggal lama di pantai Utara itu dengan kumpulannya, karena banyaknya panggilan dan undangan dari kaum bangsawan dari tempat-tempat sekeliling Buleleng. Sekalian undangan ini dipenuhi oleh anggota-anggota perkumpulan I Wario dengan gembira, karena benar-benar mereka telah dapat menunjukkan pada dunia luar bahwa kesenian Bali Selatan berderajat tinggi.

Sesudah lebih dari tiga bulan dalam perjalanan itu mereka menuju pulang ke Kosamba, sebab tak lama lagi hari galungan akan sampai pula. Walaupun perjalanan itu sangat menguntungkan dan banyak di antara anggota-anggota perkumpulan itu yang dapat mengumpulkan ringgit dan uang emas, tetapi dalam keadaan yang demikian I Wario tak kan dapat menahan orang-orangnya, sebab biarpun bagaimana senang dirantau, masing-masing anggota (p.223) perkumpulan itu menyatakan keinginan mereka hendak berada di kampung halamannya dihari galungan. Pun I Wario sendiri ingin berada bersama-sama dengan anak isterinya di hari yang mulia itu.

Perjalanan pulang ke Kosamba melalui Kintamani dan walaupun perkumpulan itu tidak mengadakan pertunjukan di tempat kecil itu, mereka bermalam semalam di sebuah lepau dan esok harinya barulah perjalanan pulang akan diteruskan.

Sekalian anggota perkumpulan itu beriang-riang, duduk beramai-ramai di atas sebuah balai-balai di hadapan lepau itu. Dalam perjalanan ini hampir setiap malam mereka mengadakan pertunjukan dan kalau sekali-sekali mereka dapat mengasoh dan tidak bekerja, masing-masing menceriterakan pengalaman dan keinginan kalau nanti telah sampai ke rumah. Tiap-tiap anggota perkumpulan itu membawa bungkusan yang berisi kain-kain dan barang-barang perhiasan yang mereka beli dalam perjalanan. Pun Pandan Sari sedang asyik dengan temannya seorang perempuan penari menyelesaikan bungkusannya yang berisi pelbagai macam oleh-oleh untuk ayah yang tua, untuk I Pageh dan beberapa kain sulaman dan barang perhiasan untuk dia sendiri.

Penghidupan dalam beberapa bulan ini jauh dari kampung halaman telah merobah Pandan Sari menjadi seorang yang girang, karena selamanya beramai-ramai dengan kawan-kawannya, sama-sama perempuan penari, bersamasama ke hilir ke mudik dirantau orang, yang tambah merapatkan perhubungan dan oleh karena pemandangan setiap hari bertukar pula, penghidupan yang senantiasa diburu oleh (p.224) pindah ke sana, berangkat ke mari itu tiada memberi kesempatan untuk bermenung atau mengenangkan untung yang malang. Hari telah habis dengan bermain, menari dan tertawa beramai-ramai, makan beramai-ramai, ke hilir ke mudik bersama-sama.

Sifatnya yang peramahpun telah menjadikan ia sebagai yang dituakan di antara perempuan-perempuan yang menari itu, ditambah pula karena fahamnya yang berlainan dari perempuan biasa, menjadikan ia amat disegani oleh kawan-kawannya.

Dalam keadaan yang demikian perhubungan antara Pandan Sari dan I Pageh menjadi semakin rapat, karena terutama dalam perjalanan itu Pandan Sari turut sebagai gadis dan yang melindunginya ialah I Pageh sebagai saudara tuanya. Dalam penghidupan sehari-hari I Pageh menjaga Pandan Sari dan tidak suatupun pekerjaan yang mereka berani lakukan sebelum berdamai lebih dahulu. Jurang yang seketika berada di antara mereka sekarang sudah tak ada lagi, tetapi meskipun demikian I Pageh masih belum mengucapkan kata yang tersimpan dalam hatinya, yang dianjurkan pula oleh ayahnya.

Sesudah selesai Pandan Sari memasukkan sekalian barang-barang ke dalam bungkusan yang baru diperbaikinya itu, diletakkannya bungkusan itu di sebelah bantal tempat ia tidur. Dengan perasaan puas ia menuju ke pintu hendak keluar, melihat kawan-kawannya yang sedang duduk beramai-ramai di atas balai-balai sama-sama mengecap kenikmatan terang bulan yang amat permai.

Baru ia berdiri di pintu melihat keluar, terharu ia melihat cuaca terang bulan, yang sejak tadi belum diketahuinya, sebab ia sibuk bekerja di dalam lepau. Mengertilah ia apa (p.225) sebab kawan-kawannya seorangpun tak ada yang di dalam lepau itu. Ia melihat ke kiri dan ke kanan memperhatikan kelakuan kawan-kawannya, ada yang tidur-tiduran di atas sebilah papan. Dua orang perempuan kawannya menari duduk agak jauh sedikit di atas sebuah tikar sedang berbisik-bisik. Ketika mereka melihat Pandan Sari, mereka memanggil dan mengajak Pandan Sari duduk bersama-sama.

Pandan Sari datang menghampiri, lalu duduk di ujung tikar, sambil berkata:

- Rupanya aku sendiri yang tinggal di dalam sejak tadi...

- Itupun kita sudah maklum, Pandan Sari, kau sedang memeriksa oleh-oleh untuk dibawa pulang, siapa tahu tak lama lagi barangkali akan ada gunanya pakaian bagus sebanyak itu...

Ni Seri berkata dengan gelak senyum, menandakan ada yang dimaksudnya dengan sindiran itu.

Pandan Sari lekas maklum sindiran kawannya, tetap hendak dihilangkannya dengan berkata:

- Ah, tidak apa-apa, Ni Seri, aku hanya membereskan bungkusan, supaya besok kalau hendak berangkat bungkusanku telah selesai.

- Itupun benar juga, Pandan Sari, hari itu terasa lama, malam terasa terlalu panjang kalau hendak pulang lekas-lekas, tetapi permintaan kami cuma jangan ketinggalan saja nanti kalau mengundang orang kampung...

- Ah, Ni Seri, janganlah kau berbicara begitu, kau tahu bahwa tak ada sesuatu yang kusembunyikan, aku tak bermaksud suatu apa kalau telah pulang, aku hanya ingin bertemu dengan ayah yang sudah tua.

(p.226) Pandan Sari memotong senda gurau Ni Seri yang agak melewati watas itu, walaupun ia sebagai perempuan merasa pula bahwa kawan-kawannya senantiasa memperhatikan dia, mengawasi pergaulannya dengan I Pageh. Perempuan lekas sekali merasa dan menghubungkan apa yang dilihat dengan kejadian yang mungkin terjadi... Mereka telah menganggap bahwa tak salah lagi jodoh Pandan Sari ialah I Pageh, walaupun dalam hati Pandan Sari belum ada kepastian itu.

Tetapi bahwa kemungkinan itu tak jauh lagi telah dirasanya pula. Diperhatikannya cara pergaulan I Pageh dengan dia selama dalam perjalanan ini amat berlainan dengan pergaulan dahulu. Benar, I Pageh tidak melupakan kedudukannya sebagai saudara angkat, tetapi dari suara ia berbicara kalau ia menanyakan sesuatu, dari telitinya menjaga Pandan Sari dalam penghidupan sehari-hari, Pandan Sari telah mendapat rasa pula ke mana I Pageh menuju, meskipun belum sepatah katanya yang terlompat.

Dalam keadaan itu Pandan Sari tidak pula membantah, sebab ia tahu I Pageh sejak dahulu mencintai dia. Cinta itu selama ini tak dapat dibalasnya karena I Jaya, tetapi sekarang rupanya I Pageh hendak mengulangi permintaannya yang dahulu. Ia tak dapat menyalahkan I Pageh kalau sampai ia mengucapkan kata itu, tetapi bayangan I Jaya masih selamanya berdiri antara dia dan I Pageh.

- Lihatlah Pandan Sari, tidakkah kasihan engkau melihat I Pageh duduk seorang diri bermenung...?

Pandan Sari melihat ke jurusan yang ditunjukkan oleh kawannya. Sejak tadi dilihatnya seorang laki-laki duduk termenung di tepi jalan melihat ke danau, tetapi karena agak (p.227) jauh tak dapat ia melihat muka orang itu, ia tak mengira bahwa orang itu I Pageh. Melihat keadaan itu datanglah hiba dalam hatinya. I Pageh duduk seorang diri meninjau ke danau...

Hati Pandan Sari tertarik hendak mendekati I Pageh, tetapi karena ia dan I Pageh sedang diperhatikan oleh kawan-kawannya dan mereka telah mulai menyindir-nyindir pula, ia tak berani bertindak setapakpun dari tempatnya duduk. Dalam hatinya ia merasa sangat terganggu karena perempuan-perempuan ini mencampuri halnya. Mereka biasa bercanda, bersenda gurau, tetapi apa yang dipersenda-guraukan oleh mereka sekarang mengenai suatu hal yang amat sulit, yang ia sendiri belum berani memikirkan...

Malam semakin larut, namun I Pageh tak bergerak dari tempat ia duduk. Kawan-kawannya telah mulai masuk ke dalam hendak tidur. Perempuan-perempuan kawan Pandan Sari telah berangsur pula masuk ke dalam, seorang demi seorang. Pandan Sari masih tinggal duduk di atas tikar, ia diajak masuk hendak tidur oleh kawannya, tetapi ia menolak. Ia ingin bersendiri dengan pikirannya yang rewang, ingin menjauhkan diri dari kawan-kawannya yang pada waktu sebagai ini hanya mengganggu perjalanan pikirannya.

Kemudian setelah semua kawan-kawannya masuk ke dalam tinggallah dua orang berjauhan, tetapi dekat... I Pageh di tepi jalan di atas batu, Pandan Sari di atas tikar di hadapan lepau... Mereka sama-sama tak bergerak, sama-sama dilamun perasaan, perasaan yang sebagai sama-sama mengunjungi mereka serentak pada saat itu juga. Badan mereka berjauhan, tetapi hati mereka berdekatan.

(p.228) I Pageh melihat seorang perempuan duduk ditikar dihadapan lepau. Demi diperhatikannya maka dikenalinya Pandan Sari duduk seorang diri.

- Pandan Sari, engkau belum tidur? demikianlah ia bertanya dari jauh.

- Belum kak, sahut Pandan Sari.

- Marilah ke mari melihat pemandangan yang bagus di atas danau.

Pandan Sari lalu berdiri menghampiri I Pageh. Setelah ia berdiri di samping I Pageh, ia kagum melihat pemandangan di bawah mereka.

Malam semakin larut, terangnya bulan semakin jernih, keadaan di sekeliling Kintamani semakin sepi, sunyi senyap. Pelbagai macam bunga yang hanya terdapat di tempat dingin menyebarkan baunya yang semerbak.

Dua anak manusia sedang dilamun gelombang perasaan yang hebat. Tak seorangpun di antara mereka yang dapat berkata-kata, mereka sama-sama membuang muka, melihat ke danau yang airnya berkilat-kilat karena cahaya bulan.

I Pageh melihat ke bawah, mengagumi tamasya yang hebat yang terbentang di hadapan matanya. Pemandangan yang indah, keadaan yang tenang dis ekeliling itu tambah melarutkan pikirannya, semangatnya tambah bergelora. Di hadapannya duduk seorang gadis yang telah lama diidam-idamkannya, hendak dipersuntingnya sebagai kawan hidup. Sekarang telah sampai waktunya ia akan mencurahkan isi hatinya.

- Pandan Sari, katanya dengan suara yang tetap, boleh jadi engkau telah menduga apa yang hendak kukatakan.

(p.229) Tak lain aku hendak mengulangi permintaauku yang dahulu
engkau tolak. Mungkinkah engkau mengabulkan Pandan Sari...?

Pandan Sari berdiam diri, melihat ke danau. Dadanya turun naik, nafasnya sesak mendengarkan suara I Pageh yang dimulai dengan ketetapan, tetapi kemudian agak gemetar, karena apa yang dikatakannya itu keluar dari hati sanubarinya. Ia telah menduga bahwa di suatu waktu I Pageh akan mengucapkan perkataan itu, tetapi setelah didengarnya semangatnya turut bergelora pula, karena ia tahu bahwa I Pageh sesungguhnya mencintai dia, walaupun perasaannya sendiri terhadap I Pageh tak serupa dengan perasaan yang pernah dirasakannya terhadap I Jaya. Inilah yang selama ini ditakutinya. Dalam hati kecilnya ia belum dapat melupakan kehilangan I Jaya itu, meskipun penghidupannya yang sekarang banyak memberi hiburan padanya, walaupun karena hendak mencari hiburan itu ia telah menjalankan suatu penghidupan baru.

Tetapi sebaliknya pula kalau dipikirkannya soal ini dari fihak I Pageh mengertilah ia, bahwa I Pageh senantiasa berharap-harap, lebih-lebih sekarang sesudah I Jaya tak ada lagi. Dahulu ketika I Jaya masih hidup I Pageh menarik dirinya dan mengorbankan cintanya. Pendirian sebagai saudara dan sebagai laki-laki ini sangat dihormati oleh Pandan Sari, walaupun ia tahu pula bahwa tak mudah hendak mematikan perasaan yang demikian. Sekarang pertanyaan itu diulanginya lagi, apakah yang hendak dijawabnya...?

Berat untuk Pandan Sari mempertimbangkan soal ini. Perasaan yang dirasanya terhadap I Pageh hanya perasaan persaudaraan dan perasaan kasihan, tetapi belum pernah (p.230) ia merasakan perasaan sebagai yang dirasanya terhadap I Jaya...

la berdiam diri, bimbang, tak tahu jalan. I Pageh melihat Pandan Sari berdiam diri itu telah menduga apa yang dibimbangkannya. Ia lalu berkata:

- Pandan Sari, sejak dahulu aku mencintai kau, tetapi halangannya telah kau katakan. Tetapi apakah halangannya bagimu sekarang? Bukan aku hendak berkhianat terhadap saudaraku, Pandan Sari, engkau tahu bahwa selama I Jaya masih hidup aku telah mengalah, karena aku tak mau berebut dengan saudara tuaku, tetapi apakah sekarang permintaanku itu tak dapat kau kabulkan...?

Sambil berkata demikian I Pageh meraba tangan Pandan Sari yang tergantung lemah di sampingnya. Pegangan tangan itu menjadikan darah Pandan Sari mendesir, tetapi ia tak berbuat sesuatu apa, tak menolak, malah membiarkan I Pageh memegangnya. I Pageh lalu semakin berani. Ia berkata:

- Apakah tak dapat kita hidup berdua, Pandan Sari...? Dan adalah pula pesan ayah yang hendak aku sampaikan padamu, sebelum kita berangkat tempoh hari...

Mendengar ucapan I Pageh itu Pandan Sari terkejut. Ia tak menduga bahwa soal ini sudah dibicarakan antara I Pageh dan ayah. Ia melihat dengan mata besar pada I Pageh.

- Pesan ayah...? tanyanya.

I Pageh agak menundukkan kepalanya, karena malu, ia khawatir kalau-kalau Pandan Sari mengira, bahwa ia akan bersandar pada pesan ayah itu.

- Jangan engkau salah mengerti, Pandan Sari. Sebenarnya ayah berpesan, tetapi walaupun ayah tidak berpesan dan (p.231) tidak menyatakan kehendaknya itu, hatiku telah bulat juga akan memajukan hal ini padamu, jadi janganlah kau mendapat perasaan, bahwa aku berkata ini semata-mata karena ayah saja...

- Apakah pesan ayah itu, kak Pageh...?

- Sebelum kita berangkat tempo hari, ketka kita kembali dari rumah I Wario, ayah berbicara dengan aku dan ia menyatakan keinginannya kalau dapat sebelum ia meninggalkan kita,.... dapat terkabul keinginannya... antara kau dan aku...

Pandan Sari terdiam mendengarkan keterangan itu. Ayah tak pernah membayangkan padanya apa yang dikatakannya pada I Pageh itu, walaupun ia melihat kelakuan ayah agak aneh ketika ia hendak berangkat. Sekarang ia mengerti apa yang menjadi pikiran orang tua itu, sesudah ia mendengar keterangan I Pageh.

Keterangan ini menjadikan pertimbangan itu semakin berat bagi Pandan Sari. Ayahpun telah menyatakan keinginannya, ia merasa bahwa saatnya telah sampai untuk dia mengalah dalam hal ini. Kalau ayah telah berkeinginan demikian pula, lebih berat lagi baginya akan membantah kehendak orang tua itu.

Seorang ayah yang bukan ayah sebenarnya, yang telah mendidik dia dari bayi sampai besar, kepada siapa ia berhutang budi, tentu tak dapat dihalanginya keinginannya, kalau sebenarnya orang tua itu ingin melihat ia menjadi isteri I Pageh sebelum meninggal...

- Aku tak menolak, kak Pageh, katanya perlahan-lahan. Suaranya terdengar sebagai tak bersemangat karena sangat (p.232) berat baginya akan mengatakan kata yang sebenarnya pada I Pageh.

I Pageh girang mendengarkan ucapan Pandan Sari itu. Ia tambah menghampiri gadis itu, seakan-akan hendak menarik lagi kata-kata dari mulutnya.

- ... tetapi kak Pageh, apakah tidak akan menjadi halangan bagi kak Pageh, sebab...

- ... sebab kau masih ingat pada I Jaya...?

Pandan Sari mengangguk.

- Kalau aku orang lain, Pandan Sari, boleh jadi hal ini akan menjadi halangan bagiku, tetapi karena I Jaya saudaraku dan aku mengetahui pula duduk perkaranya sejak semula dan akupun tak merasa berkhianat terhadap kak Jaya, hal itu tak menjadi keberatan bagiku. Aku tahu bahwa kau masih ingat pada kak Jaya, tetapi bukan kau sendiri yang ingat padanya, akupun demikian, Pandan Sari, bukan mudah bagiku akan melupakan dia, melupakan keluhuran budinya, aku kehilangan, Pandan Sari...

Ucapan yang penghabisan ini diucapkan dengan suara yang serak karena terharu.

- Kalau demikian, baiklah kak Pageh. Aku mengatakan itu supaya jangan menjadi penyesalan saja di kemudian hari...

Beberapa hari kemudian pondok Pak Murda dikunjungi oleh orang-orang kampung Kosamba. Sejak I Murda menjadi penduduk tepi laut itu belum pernah terjadi suatu peralatan dalam pondoknya dan sekarang ia mengawinkan Pandan Sari dengan I Pageh, nyatalah bahwa ia seorang (p.233) penduduk yang amat disukai orang. Bukan saja dari Kosamba, tetapi dari kampung-kampung sekitarnya orang datang berduyun-duyun membawa antaran.

I Wario menyumbang dengan gamelannya berhari bermalam. Seorang penarinya yang amat disukai menjadi penganten dan iapun merasa bangga, malah menjadi salah seorang kepala alat.

Di tepi laut berbunyi gamelan, gendang dan gong mendengung-dengung, sehingga kumandangnya terdengar jauh ke tengah laut, entah sampai pula ke Nusa Penida...

BAHAGIAN III - BAB IV

DUA tahun kemudian.

Pada suatu malam yang gelap gulita, tak berbulan, tak berbintang nampaklah sebuah perahu berlabuh di tepi pantai Kosamba. Karena gelapnya perahu nampaknya sebagai bayangan yang bergerak-gerak. Dua orang laki-laki turun dari perahu itu lalu berdiri di pantai. Yang seorang berbadan tegap, berkain dan berikat kepala hitam, bertelanjang badan, yang seorang lagi tak berbeda dengan bentuk seorang tukang perahu yang biasa.

Orang yang berbadan tegap itu melihat kedarat. Walaupun karena gelapnya orang tak dapat melihat sesuatu dengan terang, lain dari pada pohon-pohon kelapa yang berlapislapis menghitam dan disana-sini cahaya lampu minyak kelapa dari sela-sela rumah kampung. Lama orang itu berdiri, seakan-akan ia kenal tiap-tiap pelosok tempat yang gelap itu. Kemudian pandangannya ditujukan pada sebuah rumah di tepi tebing yang agak tinggi.

(p.234) Sesudah bercakap-cakap sebentar dengan kawannya yang sama-sama turun dari perahu tadi, iapun meneruskan perjalanannya menuju ke kampung penangkap ikan itu, diiringkan oleh kawannya dari belakang. Laki-laki yang berbadan tegap itu berjalan dengan langkah yang tetap, sebagai tahu apa yang ditujunya.

Sesampai mereka ketepi sungai kecil yang harus diseberangi sebelum sampai kekampung itu, kawan yang mengiringinya mengajak ia berhenti sebentar, sambil berkata:

- Biarlah aku sampai disini saja, aku hendak pulang dahulu ke rumahku.

- Baiklah, Parta, pulanglah engkau, tetapi aku harap engkau jangan ke mana-mana, siapa tahu aku perlu pertolonganmu malam ini, sebab maklumlah engkau, pekerjaan yang kulakukan ini pekerjaan yang berbahaya.

Itulah sebabnya aku minta kamu berhati-hati, janganlah berbuat sesuatu pekerjaan yang sia-sia. Aku akan terus pulang dan tidak akan meninggalkan rumah. Kalau engkau perlu pertolongan, teruslah ke rumahku.

- Baiklah, dan percayalah Parta, aku akan berhati-hati.

Sebentar ia melihatkan kawannya berbalik menuju pulang dan sesudah itu ia tegak lurus melihat rumah yang terletak di seberang tebing. Rupanya agak terharu ia melihat pondok itu, sebagai dikenalnya. Lama ia berdiri tak bergerak, kemudian diambilnya putusan lalu menyeberangi sungai kecil dan mendaki tebing itu. Kemudian sampailah ia kehadapan pondok itu, lalu mendekati pintu. Sebuah damar yang terpasang di dalam memancarkan cahayanya dari sela-sela pintu dan daun jerami yang menjadi dinding pondok itu.

(p.235) Tak banyak perobahan yang nampak olehnya dibahagian luar dari pondok ini. Ia berdiri diam sebentar, memasang telinganya, kalau-kalau ada suara yang terdengar dari dalam. Tetapi setelah seketika ia tak mendengar suatu suarapun ia mendekati pintu. Dicobanya menolakkan pintu, ternyata bahwa pintu itu tidak terkunci. Kalau begitu tentu ada orang di dalam. Perlahan-lahan ia masuk kedalam, setindak demi setindak dengan menghindarkan suara yang boleh mengejutkan orang.

Damar terpasang di atas balai-balai, tetapi di ruang depan tak ada orang yang kelihatan. Dari ruang dalam terdengar nafas orang sedang tidur. Dihampirinya pintu tengah mengintip ke dalam. Sebuah Ayunan yang terbuat dari kain panjang nampak olehnya tergantung. Ayunan itu kelihatan berat, rupanya ada seorang bayi sedang tidur di dalamnya. Anak siapakah itu...? Sesudah diperiksanya dengan teliti, nampaklah seorang perempuan sedang tidur di atas balai-balai. Di dekatinya perempuan itu perlahan-lahan, tetapi muka perempuan itu tak dikenalnya.

Iapun merasa khawatir lalu menghela surut dan berdiri sebentar di tengah ruang depan. Ia heran. Sesatkah ia ke rumah orang lain...? Tetapi tak mungkin, sekalian barang-barang dan perabot-perabot rumah itu masih sebagai dahulu, hampir tak ada perobahan, tetapi apa sebab tak ada seorang juga di dalam rumah itu yang diketemuinya, yang dikenalnya...?Sedangkan perempuan yang sedang tidur itu, rupanya ibu anak itu,tak dikenalnya. Apakah boleh jadi perempuan itu seorang lain yang menumpang di rumah ini...?

(p.236) Dalam bimbang ia menuju keluar, lalu berdiri di hadapan rumah. Ia berpikir. Ke manakah ia akan pergi...? Akan ditanyakannya pada orang sebelah menjebelah... amat berbahaya, kalau-kalau ia dikenali orang...

Sedang ia berpikir sambil melihat ke kiri dan ke kanan didengarnya suara orang berjalan mendatang dari sebalik rumah yang di sebelah pondok itu. Lekas ia bersembunyi di sudut pondok, sebagai seorang yang takut kelihatan. Dilihatnya seorang anak berjalan cepat melewati pondok itu hendak turun ke tebing. Dalam keadaan gelap ini orang tak kan mudah mengenali dia, apalagi seorang anak..., lalu dipangilnya:

- Hai! Ke marilah engkau sebentar!

Meskipun suaranya memanggil itu setengah berbisik, terdengar juga oleh anak itu. Ia berhenti. Orang yang memanggil itu lalu maju beberapa langkah.

- Hendak ke mana engkau?

- Aku hendak pulang.

- Dapatkah engkau menunjukkan pondok Pak Murda padaku?

- Inilah pondok Pak Murda.

- Siapa yang tinggal di sini sekarang?

- Yang tinggal di sini ialah anak Pak Murda, yaitu kak Pageh dengan isterinya.

- Ooh, I Pageh dengan isterinya...? Di mana ia sekarang?

- Tidakkah kakak tahu bahwa orang sedang menari sekarang di belakang pasar? Kak Pandan Sari dan kak Pageh di situ.

- Tidak, aku tidak tahu... Baiklah aku akan pergi ke sana saja.

- Kakak dari mana...?

- Aku dari jauh, aku ini sahabat lama dari I Pageh, tetapi aku belum tahu rumahnya.

- Kalau kakak hendak bertemu dengan dia, marilah aku antarkan...

- Jangan, tak usahlah kau antarkan, aku sudah biasa juga ke mari, pergilah engkau pulang!

Anak itu lalu meneruskan perjalanannya.

Orang yang berbadan tegap itu lalu memperhatikan ia turun dari tebing. Setelah anak itu hilang dari pemandangan iapun berjalan menuju ke tebing itu, menyeberangi sungai pula. Sesampainya di seberang ia berdiri sebentar, berpikir. Apakah akan disusulnya ke tempat orang menari itu...?

Ia takut kalau-kalau ia dikenali orang kelak. Tetapi kalau ia berhati-hati tak kan mengapa... Hatinya sangat keras melihat keadaan kampung itu selama ditinggalkannya. Ia akan melihat sekalian orang-orang kampung yang hampir semua dikenalinya itu...

Ia berjalan perlahan-lahan, melalui jalan kampung yang mendaki menuju ke pasar. Ia berjalan di dalam gelap, tetapi ia tahu jalan, ia tahu tiap-tiap kelok jalan itu, sedikitpun tak berobah. Sambil ia berjalan itu pelbagai macam pikiran yang menggodanya. Ia terharu memikirkan berapa lamanya ia tak menginjak jalan itu. Sebentar lagi datang pula pikiran gemasnya, karena ia teringat hal penting yang memaksa ia datang ke mari... Perempuan...! Tak ada perempuan yang setia di atas dunia ini...!

(p.238) Semakin jauh ia berjalan semakin dekat terdengar suara gong, kemudian suara gamelan semakin terang, sampai dapat ia mengenali lagu yang dimainkan. Setelah ia berbelok sebelok lagi nampaklah cahaya terang. Ia melihat orang banyak sedang berkumpul memperhatikan orang menari. Ia berdiri sebentar melihatkan keadaan itu. Meskipun di tempat ia berdiri itu tak ada orang, ia berhati-hati, melihat ke kiri dan ke kanan. Ia masih berdiri di tempat yang gelap.

Tempat orang menari itu diterangi oleh beberapa lampu minyak kelapa yang digantungkan dipohon-pohon kayu. Setelah dilihatnya sekeliling nampaklah olehnya sebahagian tempat orang berdiri sangat rapat, yang tidak seberapa terangnya. Kalau ia berhati-hati dapatlah ia berdiri di belakang orang banyak itu, orang tak kan mengenal dia sebab tempat itu agak gelap. Ia berjalan selangkah demi selangkah menuju ke tempat itu...

Tiga orang penari sebagai melayang-layang di tengah-tengah tempat keramaian itu, menarikan tari yang bersemangat menurut pukulan gamelan yang sedang ramai. Pandan Sari sebagai kepala penari seolah terbang dari sudut ke sudut.

Sebentar ia berdiri di tengah sebagai pemisah antara kedua penari yang lain, sebentar lagi ia menjauhkan diri pula dari yang lain. Suatu ceritera yang sangat mengasyikkan penonton sedang dimainkan mereka. Dalam keadaan tari sedang hebat itu Pandan Sari seolah-olah melupakan keadaan disekelilingnya. Ia tak melihat orang lagi, melainkan menari dan menari... dengan sangat cepat dan bersemangat.

Kemudian gamelan yang cepat itu berhenti menukar lagu. Lagu yang tadinya cepat sekarang terdengarnya (p.239) perlahan dan penari-penaripun yang lain itu meniarap di tanah, Pandan Sari melayang sebagai mengipaskan sayapnya perlahan-lahan.

Kalau sampai kepada bahagian-bahagian yang harus ditarikan dengan lemas itu kelihatannya badan Pandan Sari itu lemah lunglai, sekalian gerak gerik tangannya sebagai berkata-kata, kerling matanya sebagai mewakili semangat lakon ceritera yang ditarikannya.

Ia berputar dari tengah sampai ke tepi, di dekat orang berjejal amat padatnya. Di situ ia berdiri membuang tangan, menghadap kepada penonton. Beberapa kanak-kanak yang duduk di barisan depan agak mundur karena dekatnya penari itu.

Sekonyong-konyong terjadilah suatu keganjilan yang hanya dapat dilihat oleh beberapa orang yang di dekat tempat itu. Pandan Sari terhenti menari.

Orang heran. Meskipun lagu amat perlahan, dan tidak mestinya menari diperhentikan pada waktu itu, tangannya tak bergerak seketika, badannya hening, matanya terbelalak melihat ke satu jurusan yang gelap di belakang penonton. Apa yang dilihatnya di situ tak diketahui orang, karena tak ada sesuatu yang ganjil kelihatan.

Kegugupan itu hanya sebentar, Pandan Sari meneruskan tarinya sebagai tak ada sesuatu yang terjadi, tetapi kalau orang memperhatikan air mukanya, akan nampaklah bahwa ia kelihatan rusuh, perhatiannya terhadap tarinya sudah terganggu, seakan-akan hendak lekas-lekas tari itu dihabisinya.

Darahnya mengalir cepat, walaupun ia berbuat sedapat-dapatnya supaya jangan sampai kelihatan oleh orang banyak bahwa sebenarnya ia terkejut

... I Jaya!!

Salah lihatkah ia...?

(p.240) Mustahil! Ia lihat terang benar I Jaya berdiri di belakang orang banyak, memberi tanda dengan matanya, mengajak ia keluar dan sesudah itu ia menghilang.

Tetapi dipikirnya pula sebaliknya, mana boleh jadi: I Jaya telah mati, mana boleh ia nampak di antara orang banyak itu...? Atau hantunyakah...????

Darah Pandan Sari mengalir cepat. Langkahnya sudah tak tentu, sehingga mengherankan I Wario yang sangat tajam matanya, kalau ada seorang penari yang salah.

Dengan kekuatan batin yang luar biasa Pandan Sari menahan hatinya, menahan, agar supaya godaan yang sekonjong-konyong itu jangan sampai mendatangkan akibat padanya, sedang ia menari. Badannya basah karena peluh dingin yang mengalir, kakinya rasa tak kuat berdiri di atas tanah, tetapi dipaksa dikuatkannya menghabiskan lagu.

Apa sebab godaan itu datangnya pada saat sebagai ini...? Setelah kembali ingatannya yang waras perlahan-lahan, maka dapatlah ia memutuskan dalam hatinya bahwa apa yang dilihatnya itu semata-mata bayangan I Jaya, mustahil I Jaya yang sudah mati akan hidup kembali... Hanya arwahnya yang datang menggoda padanya... tetapi apa sebab datangnya itu sedang ia menari...?

Kerap kali juga ia ingat pada I Jaya, tetapi dalam keadaan ia berdiam diri, di waktu ia hendak tidur, pernah juga ia berjam-jam tak dapat memicingkan mata, karena ingat, tetapi belum pernah arwah datang menggoda padanya sebagai sekarang ini...

Perlahan-lahan perjalanan pikirannya tenteram kembali dan perlahan-lahan dapatlah ia menurutkan lagu sebagai biasa dan dapatlah ia menyatukan pikirannya. Pandan Sari (p.241) melayang pula dari ujung ke ujung ketika lagu mulai cepat.

Kejadian hebat yang hanya ia sendiri dapat mengetahui itu, telah dapat dilupakannya. Tarinya telah bersemangat pula, tak lama kemudian sampai pulalah ia ke tempat di mana menurut keyakinannya ia melihat arwah tadi itu. Dengan tak disengajanya ia melihat sekali lagi ke tempat di mana ia melihat muka I Jaya sebagai mengancam menentang padanya dengan pandangan mata yang tajam. Tempat itu sekarang kosong, disebabkan menyebelah tempat itu dilihatnya dua orang kampung sedang memperhatikan tarinya. Mereka agak heran melihat pandangan Pandan Sari sebagai memeriksa itu.

Mata Pandan Sari sebagai mencari sesuatu, seseorang..., siapakah? Matanya mencari di sekeliling, agak lama ia menari pada tempat itu, ia cari pula di belakang dan apakah yang nampak olehnya di tempat yang gelap yang agak jauh dari orang banyak itu...?

Seorang laki-laki berbadan tegap sedang tagk berdiri sebagai menanti...! Diperhatikannya raut mukanya, caranya ia berdiri bertolak pinggang, tak salah lagi: I Jaya sedang menanti di luar! Jadi apa yang dilihatnya tadi bukanlah bayangan, bukanlah arwah, melainkan I Jaya! I Jaya kembali! I Jaya hidup! Sekarang ia tak salah lagi!

Berkali-kali dilihatnya dengan sudut matanya. Benar! Tak salah! I Jaya memberi isyarat padanya, menunjukkan ke jurusan rumahnya, lalu menghilang... Pandan Sari melihat dengan terang benar I Jaya melangkah dengan cepat menghilang di dalam gelap, turun ke jalan kampung yang menuju ke rumahnya.

Walaupun akibdtnya pada Pandan Sari sekali ini tiadalah sebagai ia terkejut tadi, tetapi dirasanya darahnya mengalir (p.242) tak tertahan, jantungnya berdebar seakan-akan hendak pecah, demikianlah hebatnya. Sekarang ia telah mendapat bukti: I Jaya hidup! I Jaya sedang menanti! Mengajak ia pulang...!

Tak lama sesudah itu lagu itupun habis. Dengan tak berkata suatu apa Pandan Sari lari keluar, mencari jalan di antara orang banyak. Ia berlari, berlari pulang di dalam gelap...!

I Pageh yang baru saja habis memukul gendang heran melihatkan keadaan itu. Ke manakah Pandan Sari keluar secepat itu? Pulang? Apa sebab ia pulang? Tak mungkin!

I Pageh berdiri melihat keluar. Benar saja Pandan Sari menghilang ke jalan yang menuju pulang, sakitkah ia? Tetapi heran, biasanya kalau ada sesuatu, kalau ada keperluannya sesudah menari selalu Pandan Sari berkata padanya dan tidaklah ia akan lari dengan tidak berkata suatu apa...

I Pageh keluar pula menuju ke jalan yang gelap itu. Ia hendak mengetahui apa yang menyebabkan isterinya pulang dengan sekonyong-konyong itu...

I Jaya telah berdiri kembali di dalam pondok itu, di ruangan tengah. Ia telah memberi isyarat pada Pandan Sari, jelas nampak olehnya bahwa Pandan Sari mengenali dia, tak lama kemudian ia tentu akan menyusul pulang.

I Jaya melihat ke kiri dan ke kanan, mengenali sekalian perabot yang terletak dalam ruangan itu. Hampir tak ada perobahan dalam pondok itu. Kedua balai-balai, dahulu tempat I Pageh dan tempat ia sendiri tidur dan sebuah lagi yang melintang tempat ayah... semua balai-balai itu masih berdiri pada tempat sebagai sediakala. Sekalian (p.243) barang-barang yang tergantung di dinding dikenalinya pula, pajenengan masih di situ tergantung, daun lontar ayah pun tak beralih, debunya semakin tebal...

Sampai kepada barang-barang yang kecil-kecil diperhatikannya dengan perasaan yang terharu... di dalam pondok inilah ia dibesarkan bertiga dengan I Pageh dan Pandan Sari, di sinilah mereka sama-sama mengecap waktu yang berbahagia yang tak mengenal malang atau rusuh, waktu kanak-kanak yang tak kan kembali lagi...

Alangkah besar bedanya: dahulu dan sekarang! Ruang pondok yang sempit ini, pondok yang berlantai tanah beratap lalang ini penuh kenang-kenangan, di sinilah ia mengecap senang dan susah, suka dan duka, mulanya sebagai anak, kemudian sebagai jejaka... Sebagai juga suatu tinjauan yang amat cepat waktu yang silam itu membayang dalam lamunannya. Sebentar ia terharu, ia terduduk di atas balai-balai, dahulu balai-balainya sendiri... Ia melihat ke sekelilingnya, bau dalam pondok itu yang dahulu setiap siang setiap malam diciumnya tambah mengingatkan ia pada waktu kanak-kanak... Di balai-balai yang sebuah lagi itu ayah biasa duduk kalau ia sedang berceritera atau bercakap-cakap dengan anak-anaknya. Mereka biasa beramai-ramai mendengarkan, berkumpul tiga beradik...

Tiada suatu yang kekal di atas dunia ini. Penghidupan mereka yang seia sekata dahulu, sekarang telah cerai berai, ayah telah dahulu, tinggal mereka bertiga dan itupun tidak pula senasib seperuntungan, mereka yang dahulu biasa sehilir semudik, sekarang menjalani penghidupan yang berlainan. Ia sebagai seorang buangan, jauh dari kampung dan halaman, I Pageh dan Pandan Sari... Benarkah (p.244) apa yang disampaikan padanya...? Benarkah I Pageh kawn dengan Pandan Sari...? Inilah yang hendak dibuktikannya kemari, inilah yang menyebabkan ia lari dari Nusa Penida... Benarkah Pandan Sari dan I Pageh telah berlaku curang terhadap dia...?

Darahnya mendidih ketika mengingat kemungkinan itu. Hatinya masih mengatakan mustahil, sebab ia tahu akan kesetiaan Pandan Sari, ia tahu Pandan Sari sedang menanii dia. Bukankah Pandan Sari sendiri yang memberi ia pengharapan bahwa di suatu waktu ia akan mendapat ampun dan kembali dari tempat pembuangan? Mustahil Pandan Sari tak kan sabar menantikan...! Tetapi mustahil pula khabar yang didengarnya itu khabar justa, sebab yang menyampaikan kepadanya seorang yang amat boleh dipercaya. I Made Otar seorang yang pernah ditolongnya dari bahaya maut, ketika sampannya terbalik di tengah laut, orang ini berhutang budi padanya. Tak ada suatu kemungkinan, apa sebab I Made Otar akan berjusta padanya...

Sedang ia melamun terdengarlah suara orang berlari dari luar dan sebentar lagi pintu yang ketika ia masuk ditutupkannya, berbunyi. I Jaya berdiri, takut kalau-kalau perajurit yang mencari dia. Ia berdiri memegang hulu kerisnya, yang sewaktu-waktu dapat dicabutnya bila perlu. Pintu ditolaknya, lalu terpentang lebar dan di hadapannya berdiri...

Pandan Sari!

Pandan Sari berdiri di ruangan pintu dalam pakaian tarinya. Ia tak masuk ke dalam, melainkan melihat, memandang pada I Jaya dengan mata besar, mulut ternganga. Tangannya yang sebelah memegang daun pintu, yang sebelah lagi (p.245) menutup mulutnya, hendak menahan supaya jangan ia memekik.

I Jaya berdiri di tengah ruang, berdiri sebagai menanti apa yang akan terjadi. Tangannya yang tadinya memegang hulu keris, sekarang diturunkan sesudah diketahuinya bahwa yang masuk itu ialah Pandan Sari. Ia melihat dengan pandangan yang tajam, tak berkata suatu apa.

Pandan Sari maju perlahan-lahan, melepaskan daun pintu lalu berdiri di hadapan I Jaya. Ia mengamat-amati I Jaya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, seolah-olah belum percaya ia bahwa yang berdiri di hadapannya itu ialah manusia yang sebenarnya. Setelah ia sampai dekat sekali ke hadapan I Jaya ia berkata perlahan-lahan, seolah-olah bertanya:

- Kak Jaya...?

- Pandan Sari...!

- Kakak kembali...?

I Jaya menjawab dengan suatu senyuman yang pahit, sebagai mengejek lalu berkata:

- Aku kembali Pandan Sari! Sebenarnya aku kembali, barangkali kau tak kan mengira bahwa di suatu waktu aku akan kembali...

Pandan Sari melihat senyuman yang pahit itu dan seketika itu ia mengerti apa yang dimaksudkan oleh I Jaya. Sudah tentu I Jaya menuduh ia tidak setia, karena ia telah kawin dengan I Pageh.

Dugaannya ini tak salah karena I Jaya berkata:

- Aku datang untuk membuktikan sampai di mana kesetiaanmu, Pandan Sari! Benarkah khabar yang disampaikan padaku itu, Pandan Sari...???

(p.246) Sambil berkata demikian ia melepaskan suatu pandangan yang seolah-olah menembus ulu hati Pandan Sari. Pandan Sari menentang mata I Jaya sejurus, sebab tak suatupun yang akan disembunyikannya dalam hal ini. Meskipun ia merasa menyesal, karena terlanjur, meskipun rasanya maulah dunia yang diinjaknya belah dengan seketika dan maulah ia tenggelam ke dalam bumi dari pada melihat I Jaya berdiri di hadapannya, sedang ia telah dipunyai orang lain, tetapi sedikitpun ia tak gentar menentang mata I Jaya yang sangat tajam itu. Ia tak pernah berbuat curang terhadap I Jaya, ia tetap setia terhadap I Jaya, bahkan sampai kepada saat ini!

Ia tak menjawab suatu apa, melainkan menentang mata I Jaya sebagai orang tak salah dipersalahkan. Melihat Pandan Sari tak menjawab, I Jaya merasa sebagai telah mendapat bukti dari apa yang dikhawatirkannya, yaitu Pandan Sari telah mencurangi dia. Gelak senyumnya tambah mencemoohkan Pandan Sari, sambil berkata:

- Sekaranglah aku tahu dalam dangkalnya hati perempuan, perempuan yang hampir pingsan ketika aku tinggalkan, melambai berteriak supaya aku kembali, tetapi... belum sampai berapa tahun aku hilang dari pelupuk mata, telah ada yang menggantikan... Dan yang menggantikan pun bukan orang lain, melainkan saudaraku sendiri, saudaraku, sedarah sedaging...!

Sambil berkata demikian I Jaya memegang hulu kerisnya, sambil menggertakkan gerahamnya. Romannya telah berobah, mukanya kelihatan garang, sebagai hendak menerkam.

Pandan Sari sedikitpun tak menduga bahwa pertemuan yang sekonyong-konyong ini akan dimulai dengan tuduh-tuduhan (p.247) yang demikian kerasnya, tuduhan yang tak beralasan. Dalam hatinya ia merasa kuat, ia tak merasa khawatir barang sedikitpun, tetapi sebelum ia mengatakan kata yang sebenarnya kepada I Jaya ia harus berlaku hati-hati, ia tak hendak mematahkan I Jaya sedang ia berangasan itu. Perlahan-lahan Pandan Sari maju beberapa langkah ke depan, lalu duduk di tepi balai-balai yang tadi diduduki oleh I Jaya.

I Jaya mendekati dia dari belakang sambil meneruskan tuduh-tuduhannya!

- Pandan Sari! Aku berangkat ke tempat pembuangan, aku menderita bertahun-tahun dengan rela, dengan hati yang lapang, sedikitpun aku tak menyesal, aku tak gentar, karena... kau, karena aku kira bahwa sebenarnya kau menepati janji, menantikan aku, tetapi... rupa-rupanya aku terlanjur, aku terdorong mempercayai mulut perempuan, perempuan yang kukira setia, tetapi rupanya tak melebihi derajat perempuan biasa..., perempuan jalang, yang biasa mempermainkan hati laki-laki. Dan lagi... kalau sebenarnya engkau sudah tak sabar menantikan aku, kalau apa yang kau janjikan dahulu itu dusta dan palsu belaka dan kau hendak menghiburjan hatimu dengan seorang laki-laki yang lain, apakah tak ada lagi laki-laki di dunia ini...? Apa sebab I Pageh yang nampak padamu...! I Pageh adikku sendiri...?!

Tidakkah cukup engkau mempermainkan hatiku, perlu pula kau mengganggu adikku... Pandan Sari! Hilang lenyap bayanganmu sebagai gadis yang biasa kupuja dahulu, aku terlanjur, aku terdorong...!

I Jaya melepaskan hatinya, mengata-ngatai Pandan Sari, tetapi walaupun demikian hatinya rasa tak puas, sebab (p.248) sejak tadi, sejak semula Pandan Sari masuk ke dalam ruangan ini belum sepatah kata ia berkata lain dari pada teriakannya yang pertama. Sesudah itu ia duduk di ujung balai-balai dengan muka yang tenang, sebagai tak mengacuhkan amarah I Jaya.

Ia mendekati Pandan Sari lalu duduk di dekatnya sambil berkata:

- Pandan Sari, apa sebab engkau berdiam diri? Ajoh jawablah, apakah tak berani kau membela diri, karena tadinya kau kira aku tak kan kembali?

Pandan Sari membalik badannya, menentang mata I Jaya dengan tenang.

- Sudahkah cukup kakak mengatai aku? Kalau sudah puas, marilah kuberi keterangan:

Kak Jaya, aku bersyukur dalam hatiku, bahwa aku belumlah sejahat, serendah yang kakak kirakan itu. Kak Jaya, kalau pasir di hadapan rumah, di tepi tebing itu dapat berbicara, merekalah yang akan menjadi saksi bagaimana aku menantikan kakak kembali, berhari bermalam, berbulan bertahun, kesabaran dan kesetiaanku tak berobah terhadap kakak, bahkan sampai kepada saat ini, walaupun sekali aku telah menjadi isterinya I Pageh...

Tetapi sebelum kakak melepaskan tuduhan-tuduhan yang bukan-bukan, sebelum kakak menyamakan aku dengan perempuan pasaran..., cobalah kakak bayangkan sebentar bagaimana aku hendak berbuat kalau kakak dikhabarkan mati di tempat pembuangan...

Mendengar ini I Jaya terkejut.

- Aku dikhabarkan mati...?

(p.249) - Sebenarnya kak... Khabar ini disampaikan orang banyak padaku, di tengah pasar.

- Siapa yang mengabarkan itu...?

I Jaya berdiri lalu mendekati Pandan Sari sikapnya nampak ia sebagai seorang yang hendak mengambil tindakan dengan seketika.

—Seorang tua yang kembali dari Nusa Penida, yang kenal betul pada kakak. Orang itu asal dari Ubut...

- I Swasta...!

- Benar, itulah namanya! I Swasta! Ia berceritera di pasar sebelum ia pulang ke kampungnya, dikatakannya bahwa kakak tertindis oleh pohon kayu besar dan ketika ia hendak pulang kemari kakak diangkat orang beramai-ramai, dikatakannya kakak telah meninggal...

I Jaya terdiam mendengarkan khabar itu.

Ia dikhabarkan mati...! Ia terduduk sambil mengeluh. Lemah sendi tulangnya dengan seketika, sebab sekarang ia mengerti bahwa tuduh-tuduhannya terhadap Pandan Sari tadi sedikitpun tak beralasan. Walaupun Pandan Sari belum memberi keterangan lebih jauh, tetapi ia telah merasa malu karena ia merasa bahwa ia terlanjur mengata-ngatai Pandan Sari dengan kekerasan, yang belum patut menjadi bagiannya.

- Sesudah kami mendengar khabar kakak meninggal, aku telah putus harapan, penghidupanku sudah tak berarti lagi. Tak lama kemudian aku ajak kak Pageh berkeliling dengan I Wario. Kami menari beberapa lamanya, di Tabanan, Buleleng dan tempat-tempat kecil dan besar, berbulan-bulan lamanya dan ketika kami kembali, pada waktu itulah aku kawin dengan I Pageh, sebahagian karena hendak (p.250) memenuhi permintaan ayah juga, sebelum ayah meninggal dunia...

Kalau kakak hendak menyalahkan aku, salahkanlah, aku terima, tetapi aku harap dapatlah kakak membayangkan bagaimana penghidupanku di waktu itu, suatu penghidupan yang kosong yang tak berarti, biarpun apa juga yang akan terjadi dengan diriku akan kuterima, sebab sudah tak ada bedanya lagi bagiku, sakit atau senang sudah serupa karena tujuan hidupku sudah tak ada.

Sejurus hening dalam pondok itu.

Sesudah Pandan Sari berkata-kata dengan lancar mengeluarkan apa yang terasa di hatinya sebagai pembelaan dari seorang tak merasa bersalah, sesudah ia mencurahkan isi hatinya dengan kata-kata yang sederhana dan sampai kepada bahagian permulaan perkawinannya dengan I Pageh, suaranya terdengar serak, sekeliling matanya dirasanya panas. Ia sekarang berhadapan dengan kekasihnya yang disangkanya mati dan kepada kekasih ini, kekasih yang tadinya diharapnya kembali siang dan malam akan diceriterakannya sebab-sebab yang menjadikan ia isteri orang, lain dari pada yang dikehendaki tadinya.

Dengan tak diketahuinya air matanya telah jatuh.

Seorangpun tak berbicara di antara mereka. Nafas perempuan yang tidur di ruang belakang terdengar lebih keras karena heningnya keadaan.

Dengan tidak mereka ketahui di luar pondok pun ada nafas yang ditahan pada saat itu, nafas dari sebuah jantung yang berdebar, tersembunyi dalam dada I Pageh yang turun naik dengan amat kerasnya.

I Pageh yang tadinya mengikuti isterinya dengan cemas (p.251) di dalam gelap, terhenti sejurus ketika berbicara di ruang tengah. Dari jauh belum dikenalnya suara laki-laki itu. Ia heran, laki-laki manakah yang berani masuk ke dalam rumahnya sedang ia tak ada di rumah...!

Setelah didekatinya pondok itu ia hampir tak percaya karena suara itu serupa benar dengan suara I Jaya! Jelas benar suara saudaranya yang telah meninggal, walaupun suara itu setengah berbisik.

I Jaya...!

Tak mungkin! I Jaya telah mati! Boleh jadi seorang laki-laki lain yang suaranya serupa dengan I Jaya...?! Ia hendak masuk melakukan pemeriksaan, tetapi diurungkannya maksud itu ketika didengarnya laki-laki itu memarah- marahi isterinya. Laki-laki mana yang berhak dan yang berani mengata-ngatai Pandan Sari demikian rupa, dengan perkataan sepedas-pedas itu. Mungkinkah Pandan Sari membuat perhubungan rahasia dengan seorang laki-laki lain...?

Tak masuk diakalnya. Lebih didekatinya dinding pondok itu hendak mendengarkan percakapan mereka lebih tegas, tetapi semakin didekatinya semakin jelas suara I Jaya yang terdengar... I Jaya hidup...?!

Seketika datanglah keinginannya hendak masuk ke dalam menubruk pada saudaranya yang disangka mati itu, hendak memeluk lehernya, tetapi waktu itu ia mendengar I Jaya sedang menyebut-nyebut namanya, maka terpaksalah ia mendengarkan seketika lagi, meskipun ia telah merasa dalam hal apa namanya dipersangkutkan oleh saudaranya. Sudah tentu I Jaya menuduh Pandan Sari berlaku curang terhadap dia, karena didapatinya telah menjadi isteri orang lain...

Didengarkannya sekalian sesalan I Jaya (p.252) sehabis-habisnya dengan hati yang pilu. Pada saat itu penuhlah rasa hatinya, ia tak dapat membiarkan Pandan Sari menerima tuduh-tuduhan yang bukan-bukan itu dari I Jaya. Ia tahu benar bahwa Pandan Sari tidaklah serenakh, sehina yang dikira oleh I Jaya itu, sampai disamakannya dengan seorang perempuan jalang. Sampailah waktunya hendak membela isterinya, hendak mengatakan pada I Jaya bahwa Pandan Sari tak bersalah, bahwa ia, I Pageh yang bersalah dalam hal ini. Ia hendak memikul sekalian dosa dan akibatnya di atas bahunya sendiri.

Tetapi... ketika ia hendak menyerbu ke dalam terdengarlah suara Pandan Sari membela dirinya. Pandan Sari menceriterakan duduk perkara yang sebenarnya dan mengatakan bahwa ia tetap setia terhadap I Jaya, bahkan sampai kepada saat ini, walaupun sekali ia telah menjadi isteri I Pageh...

Ucapan ini mendengung ditelinga I Pageh. Hancur luluh rasa hatinya mendengarkan pengakuan isterinya itu. Ia tahu bahwa isterinya kawin dengan dia bukan karena cinta, tetapi ketika ia mendengar pengakuan itu keluar dari mulutnya sendiri terhadap I Jaya, saudaranya, hatinya rasa diiris-iris, mempunyai seorang isteri yang tidak mencintainya... Lemah sendi I Pageh mendengarnya, ia tak bergerak, tinggal diam berdiri, bersembunyi di balik dinding...

Walaupun mereka bertiga pada saat itu sangat berdekatan, berantara hanya beberapa langkah saja, tetapi alangkdh jauh perantaraan batin mereka: I Jaya dan Pandan Sari yang sehaluan, seperhatian, seperasaan berada di dalam, terpisah oleh sebuah dinding dari daun ilalang dari I Pageh yang terpencil di luar seorang diri, sedang menderita (p.253) kepiluan hati yang amat sangat. Walaupun terpisah hanya beberapa langkah, tetapi alangkah jauhnya... , jauh ia terpencil...!

Air mata Pandan Sari yang bercucuran tak ditahannya, dengan terputus-putus ia meneruskan keluhannya yang tertahan sekian lamanya:

- Penghidupan yang kuderita sesudah itu, tak seorangpun yang mengetahui,... kak Jaya, ... hanya badanku yang hidup, tetapi hatiku telah mati, ... mati, semenjak aku mendengar khabar bahwa kakak telah meninggal... Ibarat sepotong kayu yang terdampar di atas karang, dipermainkan ombak kian kemari... demikianlah aku hidup tak merasa..., dalam hatiku aku menangis, tetapi keluar nampaknya aku tertawa, tertawa karena pedih, gelak karena tak ada obatnya... sakit kutanggung sendiri, kepada siapa aku hendak mengadu...!

Kemudian ayah meninggal pula, tinggallah kami berdua, tinggallah kak Pageh tempat aku menumpangkan diri...

Pandan Sari berpegang pada tonggak balai-balai di hadapannya, sebagai hendak mencari kekuatar: tempat bersandarkan dirinya yang malang. Disembunyikannya mukanya di antara dua tangannya, sambil menekur ia melepas air matanya yang mengalir tak berhenti.

I Jaya duduk diam sebagai patung, memandang ke hadapannya. Romannya yang tadi kelihatan tangkas sebagai hendak menjerang, sekarang kelihatan lemah tak bergaya.

Keluh kesah Pandan Sari membukakan tabir riwajat yang sebenarnya, yang tak disangkanya. Ia datang ke mari hendak mengatai Pandan Sari, hendak menunjukkan bahwa ia seorang perempuan yang tidak setia, seorang perempuan yang (p.254) palsu, tetapi duduk perkara yang sebenarnya menunjukkan
hal yang sebaliknya, Pandan Sari setia kepadanya, bahkan sampai kepada saat ini...!

Tetapi apa yang hendak dibuatnya...?!

Di hadapannya duduk seorang perempuan yang menjadi tujuan hidupnya sekian lamanya, tetapi nasib yang kejam telah menjadikan ia isteri dari orang lain. Seorangpun tak dapat disalahkannya, Pandan Sari maupun I Pageh...

Ia mengerti bahwa I Pageh berbuat demikian karena menyangka bahwa ia telah mati, ia mengerti bahwa Pandan Sari akan tetap menantikan dia kalau tak ada khabar celaka yang memutuskan sekalian harapannya...

Setelah dikumpulkannya sekalian keterangan ini dalam hatinya, maka dapatlah ia menetapkan bahwa ia sendiri yang bernasib malang. Karena kekeliruan yang sedikit, berasal dari I Swasta, sejarah telah berbelok ke suatu babak yang tak diingini. Bahkan I Swasta berbuat itu tidak pula dengan sengaja. I Swasta bukan musuhnya, I Swasta waktu itu sahabatnya satu-satunya di Nusa Penida...

- I Swasta melihat aku diangkat beramai-ramai, waktu ia pulang ke mari dan aku disangkanya mati... demikianlah I Jaya berkata pada dirinya sendiri, sebagai menyesali untungnya yang malang.

- Tak salah ia mengatakan yang demikian, sebab sesungguhnya aku telah disangka mati pada waktu itu, entah berapa lamanya aku tak mengenal orang, sesudah itu berbulan-bulan aku menderita sakit yang mahahebat, seorangpun tak mengira aku akan hidup... Kemudian sesudah penyakitku berangsur sembuh inqatanku hilang, aku tak mengenal orang, aku tak tahu apa yang terjadi (p.255) di sekelkilingku. Menurut kata orang yang memelihara padaku selama aku sakit, lebih setahun aku merana tak mengenal orang. Lebih setahun aku hidup di dalam gelap. Pandan Sari..., dan barulah beberapa bulan yang lalu kewarasanku dan ingatanku kembali. Aku mulai bekerja sebagai sediakala, bekerja dengan harapan akan lekas dapat kembali kemari, karena kau menjanjikan bahwa baginda akan mengampuni aku..., tetapi... bukan pesan, bukan perintah baginda yang kudengar melainkan... khabar bahwa engkau telah kawin dengan I Pageh...

Mulanya aku tak percaya khabar ini, tak mungkin, tak masuk di akalku kau akan sekejam itu, tetapi orang yang mengabarkan itu tahu duduk perkara yang sebenarnya. Aku masih khawatir dan untuk membuktikannya aku datang ke mari...

- Jadi kakak lari dari Nusa Penida? bertanya Pandan Sari.

- Sebenarnya! Aku lari, aku telah berbuat sesuatu pelanggaran karena hatiku tak tahan, karena aku hendak membuktikan... Dalam hatiku ada bedanya: tinggal lebih lama di Nusa Penida menantikan sesuatu yang tak kan datang, pada hal bertahun-tahun aku menanti supaya aku diampuni dan dibolehkan pulang untuk bertemu dengan kau, tetapi sekarang... aku pulang sudah tak berarti, kau telah dipunyai orang lain... telah dipunyai adikku sendiri...

I Jaya berkata itu dengan suara yang rendah, sebagai menyesali untung. Pandan Sari mendengarkan dengan kepala ditekurkan. Kedua-duanya sebagai tertumbuk faham, tak tahu apa yang akan diperbuat. Mereka bertemu, mereka (p.256) duduk berdekatan sesudah bertahun-tahun berpisah, tetapi
walaupun dekat alangkah jauhnya perantaraan di antara kedua...

Air mata Pandan Sari telah reda, ia duduk termenung sebagai orang bingung.

- Sudah nasib kita bedua kakak..., sekarang tak suatupun yang dapat kita perbuat. Aku rasa lebih baiklah kakak kembali saja ke Nusa Penida sebelum ketahuan bahwa kakak melarikan diri, sebab kalau nanti ketahuan kakak tentu akan mendapat hukuman berat, barangkali tak kan dapat kembali lagi... Tetapi kalau kakak kembali, nanti akan kucoba menghadap pada baginda mengingatkan baginda pada janji yang telah diberikannya. Sedemikian lama aku tak menghadap pada baginda karena kami semua telah percaya bahwa kakak telah meninggal, tetapi sekarang hendak kucoba.

Pandan Sari meletakkan tangannya diatas bahu I Jaya sebagai membujuk supaya I Jaya menurutkan anjurannya pulang ke Nusa Penida. Ia takut akan akibatnya kalau-kalau nanti ketahuan I Jaya melarikan diri. Ia tahu bahwa hukuman amat berat untuk kesalahan yang demikian. Biarpun ia telah menjadi isteri orang, tetapi keselamatan diri I Jaya masih dikehendakinya lebih dari pada dirinya sendiri. Ia menganjurkan I Jaya pulang itu karena ia tahu bahwa tak ada jalan yang lain lagi.

I Jaya merasa kebenaran anjuran Pandan Sari itu, ia tahu bahwa tak suatupun yang dapat diperbuat, ia akan kembali ke Nusa Penida menantikan hari tuanya. Putus harapan, putus pula dalam hatinya bahwa majatnya akan (p.257) dibakar dipulau itu. Bujukan Pandan Sari yang hendak memintakan ampun itu sudah tak berarti baginya.

Sambil menarik nafas panjang ia berdiri. Ia tegak lurus di tengah ruang itu lalu berkata:

- Aku rasa, itulah yang sebaik-baiknya, Pandan Sari, aku akan kembali ke Nusa Penida, disitulah seharusnya aku berada dan di situ aku akan tinggal, selama-lamanya. Dan kalau aku telah berangkat satu permintaanku yang penghabisan, yaitu: janganlah sekali-kali engkau menghadap pada baginda, meminta supaya aku diampuni, supaya aku dibolehkan kembali. Biarlah aku jauh, biarlah aku terpisah, sebab walaupun aku dibolehkan kembali, penghidupanku di sini tak kan berarti, sebagai juga aku hidup di atas ranjau...

I Jaya maju beberapa langkah, mendekati Pandan Sari, yang duduk dengan mulut ternganga, kecemasan mendengarkan perkataan I Jaya yang diucapkan dengan ketetapan hati itu. Pada air mukanya nampak khawatir perasaan kecewa... Ucapan I Jaya itu mengandung arti yang sangat dalam, I Jaya sekarang dengan sengaja hendak membuang diri...

- Jangan kakak salah mengertikan perkataanku itu. Dari pada kakak hidup di tempat pembuangan, bukankah lebih baik kakak kembali kemari. Walaupun penghidupan kakak di sini akan berlain dari pada yang kita kehendaki tadinya, walaupun karena nasib yang malang kita tak dapat hidup bersama, tetapi aku memikirkan penghidupan kakak untuk selanjutnya dan aku meminta pada kakak supaya kembali kemari...! Aku meminta itu karena aku mengehendaki keselamatan kakak, karena biarpun (p.258) bagaimana sebagai kukata tadi, hatiku tak berobah terhadap kakak, bahkan sampai pada saat ini, sampai aku mati, hanyalah kakak laki-laki yang pernah kucintai... tak ada lagi, kak, percayalah! Aku seorang perempuan, tak dapat mencintai dua laki-laki, kakak yang satu-satunya, kak...!

Pandan Sari berkata dengan bernafsu yang tak ditahan. Ia tunduk, berlutut di hadapan I Jaya sambil memegang kaki I Jaya. Ia berbuat itu mulanya hendak membujuk I Jaya supaya menurutkan kehendaknya supaya mau kembali, tetapi dalam nafsunya yang tak dapat ditahan terhamburlah perkataan-perkataan yang sejak tadi ditahannya.

Sebagai seorang perempuan ia mempertahankan pikiran warasnya sejak tadi, ia tahu kedudukannya sebagai isteri orang dan oleh sebab itu dicarinya jalan yang sebaik-baiknya menyuruh I Jaya kembali ke Nusa Penida, tetapi sekarang... ia telah terlanjur mengatakan rasa hatinya yang sebenarnya pada I Jaya, mengatakan bahwa ia masih cinta pada I Jaya sebagai sediakala...!

I Jaya yang tadinya telah mengambil putusan hendak berangkat, hendak meninggalkan pondok ini dengan selekas-lekasnya, pondok dan isinya yang tak kan dilihatnya lagi, sekarang berdiri, terpaku sebagai orang bingung. Gelora perkataan Pandan Sari yang tak disangkanya itu, menjadikan darahnya mendesir, mukanya merah, maianya terbelalak, sebagai nekat. Dirabanya kepala Pandan Sari yang sedang memegang lututnya dengan kedua tangannya, dibaliknya muka yang basah karena air mata itu ke atas, di tentangnya kedua mata yang basah itu, mata yang berkata beribu perkataan cinta dengan sejujurnya, cinta yang keluar dari (p.259)

hati suci bersih... Dipangdangnya wajah yang menyerah itu, sebagai hendak ditembusnya sampai ke ulu hatinya, sebagai ia hendak menanam cintanya, ditembuskannya ke dalam jantung kekasihnya yang dinantikannya bertahuntahun itu...

Mata I Jaya semakin besar, sebagai lupa akan dirinya, sebagai dikunjungi oleh suatu perasaan nekat, kedua tangannya memegang kepala Pandan Sari semakin keras sebagai tak mau dilepaskannya. Lama dipandangnya muka itu dengan tak berkata sepatah kata juapun. Kemudian kedua tangannya diturunkannya ke bahu Pandan Sari lalu diangkatnya. Pandan Sari menurut lalu berdiri lurus di hadapan I Jaya. Berhadapanlah muka dengan muka, dua muka yang berlainan nampaknya. Muka I Jaya kelihatan garang dan nekat, matanya memancarkan sinar yang keras, sebagai mengandung maksud, dadanya turun naik karena nafas yang panjang,... sementara itu muka Pandan Sari kelihatan lemah menyerah, matanya setengah tertutup, badannya lemah, tangannya terkulai, tergantung, tak bertenaga. Ia rela, menantikan apa yang akan diperbuat dengan dirinya...

Perasaan dan pertimbangan waras dari mereka kedua telah hilang, berganti dengan nafsu hendak mempunyai yang tertahan bertahun. Meraka sama-sama lupa akan kebenaran, lupa kepada keadaan sekelilingnya, lupa kepada orang lain, lupa kepada peradaban yang tadinya menghalangi...

Rupanya karena bertahun-tahun menderita nasib malang terus menerus nafsu mereka datangnya sebagai gelora yang hebat, meruntuhkan, menghanjutkan sekalian halangan...

Dengan suara berat tetapi tetap I Jaya berkata:

(p.260) - Pandan Sari...! Kau masih tetap cinta padaku...?! Kalau demikian aku tak kan melepaskan kau...! Biarpun apa yang terjadi akan tetapi aku tak kan membiarkan kau lepas lagi dari tanganku. Cukuplah Pandan Sari, kita menderita bertahun-tahun, menderita bermacam-macam halangan yang senantiasa memisahkan kita berdua. Selama ini aku mengalah, kau mengalah, kita berdua sabar menantikan hari yang beruntung yang tak kunjung datang, tetapi apakah kita dilahirkan semata-mata untuk menderita terus-menerus...? Pandan Sari, sesudah bibirmu mengatakan bahwa kau masih tetap setia dan cinta padaku, aku akan melepaskan sekalian kesabaran, aku akan mengambil kau sebagai hakku sendiri. Inilah jalan yang satu-satunya Pandan Sari, kalau jalan yang lurus yang selama ini selalu dihalang-halangi, aku akan mengambil jalanku sendiri dengan paksaan, dengan tak memperdulikan orang lain, bahkan saudaraku sendiri, sebab... Pandan Sari, kau ini hakku...! Malam ini juga kita berangkat dari sini, mencari dan memulai penghidupan baru untuk kita berdua, Pandan Sari!

Mendengarkan perkataan-perkataan I Jaya yang bersemangat itu Pandan Sari merebahkan badannya kedada I Jaya. Ia tak berkata, tetapi seluruh tubuh dan semangatnya sudah menjetujui tindakan apa juga yang akan diambil oleh I Jaya. Mukanya yang basah disembunyikannya di leher I Jaya. I Jaya memeluk kekasihnya sekeras-kerasnya, ditekankannya kedadanya.

Sekonyong-konyong Pandan Sari mengangkat kepalanya, matanya yang bundar sebagai berputar. Ia ingat pada kewajibannya sebagai ibu.... Sejak tadi ia dilamun (p.261) perasaan, hatinya bergelombang tak ditahannya karena pandangannya sudah gelap, sehingga ia lupa bahwa ia telah menjadi ibu dari seorang anak...

- Kak Jaya, bagaimana anakku...!?

- Anak...???!!!!

I Jaya melepaskan Pandan Sari dari pelukannya. Dipegangnya kedua bahu Pandan Sari, sambil berkata:

- Kau telah mempunyai anak, Pandan Sari...?

Pandan Sari tak menjawab, melainkan melepaskan badannya dari pegangan I Jaya lalu menuju ke pintu ruang belakang, sambil memberi isyarat pada I Jaya supaya mengikuti dia. Sesampainya di ruang pintu ia berdiri, I Jaya menghampirinya dari belakang. Dengan tangan kanannya ditunjukkannya buaian anaknya.

I Jaya tak dapat berkata suatu apa...

Pandan Sari telah mendapat turunan dari I Pageh. Anak yang tadi dilihatnya dalam buaian, ialah anak Pandan Sari dengan adiknya...

Sambil menekurkan kepala Pandan Sari surut beberapa langkah lalu duduk di pinggir balai-balai yang terletak didekat pintu itu.

Ia telah berdiri di hadapan pintu gerbang kenikmatan yang hendak dikecapnya bersama dengan I Jaya, tetapi akan dapatkah ia sebagai ibu meninggalkan anaknya dengan begitu saja...? Hati ibunya mengatakan tak dapat, tetapi... dipikirkanya pula betapakah penghidupannya kelak kalau ditinggalkan I Jaya, kembali ia akan merana, menanggung rindu tak berkeputusan, sebagai tahun-tahun yang lampau... Akan dialaminya pulakah waktu yang sebagai itu...?

(p.262) I Jaya maju setindak dengan setindak menghampiri Pandan Sari. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Pandan Sari, tetapi karena satu kali ia telah terlanjur, karena satu kali ia telah mengambil putusan tak kan mengacuhkan halangan apapun juga yang akan merintangi maksudnya, ia berkata:

- Anak kau tinggalkan ada ayahnya, Pandan Sari. Pada saat ini aku tak memikirkan orang lain, aku tak memikirkan siapapun juga. Aku hanya memikirkan kau sesudah rindu bertahun-tahun...

Sekonyong-konyong Pandan Sari berdiri dengan pikiran tetap, lalu berkata:

- Kak Jaya, bagaimanakah kita akan berangkat?

- Perahu menanti di tepi laut, Pandan Sari, setiap waktu kita boleh berangkat.

- Baiklah, pergilah kakak dahulu, sediakan perahu, aku segera akan menyusul!

- Baik, Pandan Sari, aku tunggu, jawab I Jaya sambil memegang dan menekan tangan Pandan Sari sebagai mensahkan perjanjian mereka, lalu menuju ke pintu keluar pondok dengan langkah yang panjang dan tetap.

Pandan Sari berdiri sejurus melihatkan I Jaya keluar pintu, kemudian setelah pintu itu tertutup di belakang I Jaya, ia masuk ke dalam mengumpulkan beberapa helai kain yang dijadikan satu dalam sebuah bungkusan.

Ketika I Jaya meninggalkan pondok itu I Pageh mundur setindak pada tempat ia bersembunji, supaya jangan kelihatan. Sambil menggigit bibir dan memicingkan mata ia (p.263) menahan hatinya dengan kekuatan batin yang luar biasa. Kalau diturutkannya kata hatinya maulah ia tampil ke muka di dalam gelap, menyerbu, menyerang I Jaya yang pada saat itu tak dipandangnya lagi sebagai saudaranya, tetapi hanya sebagai seorang laki-laki yang sedang berkhianat, hendak merampas haknya, isterinya yang hendak diceraikannya dari suami dan anaknya dengan jalan yang tidak sah. Tetapi dalam keadaan yang demikian gentingnya, sedang dua kekasih di dalam pondok tadi melupakan diri, bergelap mata menurutkan hawa nafsu, ia sebagai suami dicurangi dapat menenteramkan dan menahan hatinya. Ia akan membela diri sebagai seorang jantan, I Jaya tak kan dilepaskannya begitu saja dengan isterinya, tetapi pembelaannya itu akan diaturnya demikian rupa, sehingga keduanya akan mengakui haknya yang dilanggar...

Sungguh berat percobaan yang diderita oleh I Pageh seorang diri di luar, di dalam gelap. Hancur luluh rasa hatinya ketika mendengar pengakuan isterinya, yang berterus terang menyatakan cinta dan setianya terhadap I Jaya, saudaranya,... isterina yang telah menjadi ibu anaknya...

Meskipun ia tahu sejak dahulu bahwa mereka berkasih-kasihan, tetapi ketika pengakuan itu didengarnya keluar dari bibir isterinya sendiri, sebagai diperingatkan kepadanya bahwa ia mempunyai seorang isteri yang tak mencintainya, jantungnya rasa diiris-iris dengan sebilah pisau yang tajam dan kemudian setelah I Jaya mengajak Pandan Sari melarikan diri darahnya mendidih karena nafsu binatang dari saudaranya yang sedarah sedaging. Putus dalam hatinya bahwa di sinilah watas persaudaraan mereka, pengkhianatan yang demikian rupa hanya dapat diadili dengan suatu jalan (p.264) yang tentu, yaitu ujung senjata...! Tetapi sebelum ia melakukan pembalasan lebih dahulu ia akan membuat perhitungan dengan isterinya. Perhitungan ini akan dilakukannya dengan suatu jalan yang telah tetap...

I Pageh melihat I Jaya berjalan semakin lama semakin jauh menuju ke tepi pantai, kemudian nampaknya sebagai bayangan hitam yang bertambah jauh. I Pageh lalu masuk ke dalam pondok. Sejurus ia berdiri di tengah rumah hendak melihat keadaan. Pandan Sari masih sibuk membungkus pakaiannya di ruang dalam dan dalam asyiknya belum diketahuinya I Pageh telah masuk ke tengah rumah. Setindak demi setindak I Pageh masuk menuju ke pintu ruang dalam.

Ia tegak lurus di tengah pintu itu dan sebagai tak mengacuhkan Pandan Sari pandangnya ditujukan pada buaian anaknya, yang sedang tidur nyenyak, yang tak mengetahui masalah hebat yang sedang terjadi antara ayah dan ibunya.

Perlahan-lahan I Pageh menuju kepada buaian itu, dipegangnya tali yang menjadi ikatan selendang yang dijadikan buaian itu, lalu berlutut di hadapan anaknya. Sambil memegang tangan yang kecil dan jari-jari yang halus dari bayi yang tak berdosa itu ia berkata dengan suara serak:

- Sudah nasibmu anak, kau tak kan beribu lagi... Rupanya kau dilahirkan ke dnia dengan tidak selera hati ibumu... tetapi jangan kau khawatir 'nak, selama ayah ada di sampingmu, kita berdua akan menentang arus penghidupan, pahit manis kita tahankan, biarlah ibumu menurutkan kata hatinya, menurutkan cintanya...!

Sesudah itu diciumnya ujung jari yang kecil-kecil itu lalu berdiri, tegak lurus, matanya mencari suatu barang di dinding, yang di pandangnya seketika. Keris pusaka, peninggalan ayah, (p.265) keris yang membawa riwayat antara mereka bertiga tergantung di dinding dari tahun ketahun... Keris ini hampir seumur hidup mereka tergantung sebagai suatu mestika, yang selalu mereka hormati, tak pernah dipergunakan, bahkan dicabut dari gagangnya kalau bukan hendak membersihkan, tetapi sekarang... sampailah saatnya ia akan dipergunakan, untuk menyelesaikan kekusutan antara mereka bertiga...!

Dilepaskannya keris itu dari pada sangkutannya, lalu disisipkannya di belakangnya. Masih saja ia tak melihat pada isterinya yang sedang memperhatikan sekalian gerak geriknya dengan keheranan, isterinya yang sebagai disangkanya tak ada dalam ruangan itu.

I Pageh keluar dari pondok itu, berjalan di dalam gelap, mengikuti jejak I Jaya ke tepi laut...

Mungkinkah seorang ibu menu tup hatinya, melupakan anak yang dilahirkannya dari kandungannya dengan bersusah payah, anak yang masih membutuhkan air susunya... karena cinta? Mungkin! Boleh jadi ia akan lupa, yaitu selama ia gelap mata, selama pikirannya menyimpang dari pada kebenaran, tetapi lambat-laun hati ibu itu akan berkata, hati ibu itu akan memilih yaitu pada saat ia kembali kepada jalan yang benar, pada saat ia waras, kembali dari pada kesesatan yang semata-mata di kemudikan oleh iblis... pada saat itu ia memilih antara cinta hawa nafsu dan cinta rahim pada darah daging yang membutuhkan dia...

Inilah kebenaran undang-undang alam yang menembus jantung Pandan Sari sebagai sembilu yang tajam, ketika ia melihat I Pageh keluar dari pondok itu, sebagai tak (p.266) mengacuhkan dia. Ketika melihat I Pageh berdiri di ruangan pintu dengan sikap yang tetap yang menunjukkan bahwa I Pageh telah mengetahui rahasianya, Pandan Sari bertanya dalam hatinya: apakah yang akan diperbuat oleh I Pageh...?

Seorang laki-laki biasa akan merambul dengan garang, akan menghujani seorang isteri yang curang dengan sesalan yang pedas-pedas dalam keadaan segenting itu, entah akan dipukulnya... Dalam hati Pandan Sari telah tersedia sikap yang tentu bilamana sebenarnya I Pageh bersikap kasar demikian. Akan dikatakannya berterus terang bahwa semenjak saat ini ia akan keluar dari penghidupan suami yang tak dicintainya, bahwa ia akan menurutkan panggilan hatinya, yaitu I Jaya yang dirindukannya dari tahun ke tahun...

Tetapi bagaimanapun Pandan Sari menanti ucapan yang demikian tak keluar dari mulut I Pageh, mulutnya sebagai terkunci, ia berkata tidak, memandangpun tidak kepada isterinya yang telah bersedia... Sesudah itu didengarnya perkataan-perkataan yang diucapkan oleh suaminya terhadap anaknya dan iapun berjalan keluar...

Dilihatkannya I Pageh keluar dengan tak menoleh ke belakang, ia melihatkan dengan mulut ternganga dan mata yang menyatakan kecewanya, karena kejadian itu adalah di luar dugaannya. I Pageh yang dikiranya akan merambul dan melepaskan tuduh-tuduhan sekarang berjalan keluar dengan tak mengucapkan sepatah katapun...

Sedang ia berdiri itu masih mendengung di telinganya perkataan-perkataan I Pageh yang diucapkan I Pageh terhadap anaknya, perkataan-perkataan yang berupa sindiran halus terhadap dia sendiri, yang mengingatkan dia kepada kewajibannya sebagai ibu...

(p.267) Suatu perjuangan batin yang hebat sedang terjadi dalam hati seorang ibu yang berdiri di ruangan pintu dalam kebingungan. Tangannya yang sebelah sedang memegang bungkusan pakaian, tangan kanannya ditekankan pada keningnya, sebagai juga ia hendak mengumpulkan sekalian ingatan, hendak menetapkan apa yang hendak diperbuatnya...

Sekonyong-konyong ia mengambil putusan, karena ingat I Jaya yang sedang menantikan dia. Ia akan berangkat mengikutkan I Jaya, menurutkan kata hatinya. Ia melangkah dengan tetap menuji ke pintu lar, tetapi ketika ia memegang pintu itu, terdengarlah suara anaknya menangis. Ia tertegun mendengarkan tangis itu, tangis jantung hatinya yang terdengar merdu di telinga seorang ibu. Ia berbalik surut perlahan-lahan...

Sampai di pintu tengah ia berdiri melihat kebuaian. Anaknya telah bangun, menangis, sebagai menahan ibunya pada saat ia hendak keluar pintu. Kaki dan tangan baji itu diacungkan di awan-awang... Bayi sedang kehausan memanggil ibunya, minta disusukan...

Pandan Sari masih saja berdiri melihatkan. Dalam hatinya datanglah soal: Mungkinkah aku meninggalkan anak ini...? Alangkah bodohnya aku...!

Berbareng dengan pikiran itu terjatuhlah bungkusan dari tangannya dan ia berlari meniarap di hadapan buaian anaknya. Disembunyikannya kepalanya di atas dada anak itu, diciumnya seluruh mukanya sambil menangis: "Oh, anak, ampuni ibumu yang seketika telah melupakan kau, ibumu berdosa kalau sampai ia meninggalkan kau... Tidak anakku...! Tidak...! Biarpun apa juga yang akan terjadi, ibu akan tinggal tetap padamu...!

(p.268) Dengan tergopoh-gopoh diangkatnya anak itu dari buaian lalu disusukannya. Air matanya yang panas membasahi muka anaknya, disapunya dengan tangannya, tetapi alangkah besar perbedaan air mata itu dengan air mata yang tadi sebagai dicurahkan ketika ia merebahkan badannya pada dada I Jaya...

Air mata yang mengalir sekarang ialah air mata seorang ibu yang terbit karena hati yang puas, karena hati yang telah mendapat tempatnya kembali yaitu pada anak yang sedang kehausan menyusu dalam pangkuannya...

I Jaya mundar-mandir di atas perahu sebagai orang yang tak sabar. Sebentar-sebentar ia melihat ke darat, tetapi belum sesuatu yang nampak... Sudah agak lama juga disuruh oleh I Gamat dua orang anak perahu ke tepi dengan sebuah sampan untuk menjemput Pandan Sari, tetapi masih saja belum kelihatan... Tak mungkin pula Pandan Sari akan berputar haluan, kalau mengingat betapa tegasnya ia menyuruh menantikan di perahu. Hati Pandan Sari telah bulat hendak berangkat bersama-sama, tetapi janganlah hendaknya perjalanan mereka terhalang pula...

I Jaya cemas dan khawatir, ia belum senang sebelum perahu ini mengangkat jangkarnya. Supaya mereka dapat berlayar dengan segera segala sesuatu telah disedia - dan diperlengkapkan; anak-anak perahu yang sebenarnya tak mengerti apa sebab mereka harus berlajar di tengah malam, pada hal baru tadi senja sampai kemari sedang hibuk bekerja menurutkan perintah jurumudinya. Perahu sudah diketengahkan supaya segera dapat berangkat. Sebuah sampan telah dikirim ke tepi untuk menantikan seorang perempuan, dan kalau perempuan itu telah naik, mereka akan (p.269) mengangkat jangkar dengan seketika. Lain dari pada itu jurumudi berpesan bahwa tidak seorang juga yang boleh mengetahui rahasia ini. Kalau ada orang yang hendak mendekati atau hendak naik ke atas perahu itu haruslah lekas diberi tahu...

Sungguhpun sekalian perintah ini ganjil terdengarnya, tetapi sekalian anak perahu itu menerimanya berdiam diri, karena mereka tahu bahwa majikannya seorang yang tak boleh dibantah. Bukan sekali dua mereka mendapat perintah yang ganjil dari nakhoda I Gamat yang berpenghidupan amat aneh itu. Pernah mereka dibangunkan di waktu pagi, sedang tidur njenyak, diperintahkan berangkat pada waktu itu juga, tetapi mereka tak membantah.

Siapakah yang berani membantah nakhoda I Gamat, yang namanya ditakuti di seluruh lautan itu dari pulau ke pulau. Tak seorangpun yang dapat menetapkan penghidupannya yang sebenarnya, ia menguasai lautan dengan keberanian yang luar biasa, ia ditakuti dan disegani oleh anak buahnya karena keberanian dan keadilannya.

Sebenarnya mereka tak mengetahui apa yang terjadi pada malam ini. Mereka tak tahu apa yang dirundingkan oleh I Gamat dan I Jaya. Berkali-kali kedua mereka kelihatan berbisik-bisik sebagai mengatur sesuatu rancangan. Yang mereka ketahui ialah I Gamat bersahabat amat rapat dengan I Jaya, sesudah pada suatu kali perahu mereka dikejar oleh perajurit yang bersenjata bedil dan tombak mencari I Gamat. Tetapi pada waktu itu I Gamat terjun ke laut dan ketika ia berenang I Jaya yang kebetulan berada di dekat perahu itu sedang mengail dengan sampannya telah memberi pertolongan pada I Gamat, dilarikannya I Gamat dengan (p.270) sampannya sehingga I Gamat terhindar dari bahaya. Sejak waktu itu nampaknya I Gamat sangat berterima kasih pada I Jaya, dua hari dua malam I Gamat disembunyikan di dalam pondok I Jaya di Nusa Penida dan pada hari yang ketiga ia diantarkan ke perahunya oleh I Jaya din waktu malam. Pada waktu mereka berpisah mereka mendengar I Gamat berkata pada I Jaya:

- I Jaya, kalau engkau belum berniat hendak pulang sekarang, barangkali di kemudian hari engkau membutuhkan pertolonganku, janganlah engkau segan mengatakannya, panggillah aku, katakanlah padaku kehendakmu, tak ada kehendakmu yang sulit yang tak kan dapat kupenuhi. Aku bersedia berkorban bagi seorang pada siapa aku berhutang budi...

Kejadian ini sudah agak lama terjadi, tetapi rupanya sekaranglah I Gamat hendak menepati janjinya. Anak-anak perahu pun mengetahui bahwa I Gamat seorang yang berani dan jujur, kalau sekali ia berjanji tentu akan ditepatinya.

I Gamat sedang melihat ke darat, sambil memperhatikan bunyi dayung yang semakin lama semakin dekat terdengar. I Jayapun mendengarkan suara dayung itu meskipun belum suatu apa yang nampak karena gelapnya. Ia mendekati I Gamat, hatinya girang, sampan yang dinantikan sejak tadi sudah terdengar... Pandan Sari menepati janjinya...!

- Kau dengar dayung itu, Gamat, mereka telah datang...

Sambil berkata demikian I Jaya berdiri amat rapat pada I Gamat. Mereka sama-sama mendengarkan bunyi sampan yang semakin dekat itu. I Gamat mendegarkan dengan penuh (p.271) perhatian, tetapi telinganya yang telah biasa mendengarkan dalam waktu berbahaya tak dapat ditipu. Ia menggelengkan kepalanya sambil berkata:

- Belum tentu, Jaya, aku hanya mendengar sebuah dayung, pada hal yang kita kirim dua orang...

I Jaya mendengarkan lebih hati-hati dan sebenarnyalah hanya sebuah dayung yang terdengar. Tak lama kemudian nampaklah ujung sampan itu mendekati perahu, diterangi oleh cahaya lentera. Di sampan itu nampak duduk seorang laki-laki. Mukanya belum jelas, tetapi I Gamat segera mengambil persediaan.

- Bersiap kamu sekalian, demikianlah ia memberi perintah pada anak perahunya yang sama-sama memperhatikan sampan yang datang itu.

- Jaya, pergilah kamu ke bawah menantikan di dalam bilik, aku belum tahu siapa yang datang ini entah kawan, entah lawan...

I Jaya tak bergerak, sebab dalam hatinya ia tak menerima apa sebab dalam bahaya ia akan disuruh pergi.

- Kalau ada bahaya sama-sama kita menentangnya, Gamat...!

Tetapi perkataan ini tak diacuhkan oleh I Camat. Ditolakkannya I Jaya masuk ke dalam sebuah pintu yang bertangga ke bawah. Dengan perasaan kesal I Jaya turun tangga itu dan duduk di sebuah bangku menantikan apa yang akan terjadi. Ia merasa dirinya sebagai kanak-kanak yang tak dibolehkan mencampuri hal orang tua-tua tak menerima karena kalau sebetulnya ada bahaya, I Gamat hendak menentang bahaya itu seorang diri, pada hal sekalian kejadian ini ialah karena dia, karena I Gamat hendak (p.272) menolong dia, tetapi ia tahu pula, bahwa I Gamat seorang yang tak boleh dibantah. Sifat I Gamat yang keras ini telah diketahuinya kalau melihat bagaimana ia bergaul dengan anak-anak perahunya yang semuanya menurut perintahnya.

Didengarkannya dari bilik palka itu dengan teliti. Sampan itu mendekati perahu lalu berhenti. Sejurus tak terdengar suatu apa, kemudian suara kaki yang menghantam-hantam pada badan perahu itu, sebagai suara kaki seorang yang naik dengan tali ke atas perahu.

Tak lama kemudian didengarnya suara orang berkata-kata, tetapi suara-suara itu tak dikenalnya dan tak dapat diketahuinya apa yang dipercakapkan oleh mereka. Sesudah itu suara-suara tadi semakin keras terdengar dan terdengar pula banyak kaki sebagai berlari-lari, menghantam-hantam. Demi diperhatikannya mengertilah ia bahwa orang sedang berkelahi di atas. Hati I Jaya sudah tak tahan, biarpun I Gamat tak membawa ia campur, tetapi tak patut I Gamat menghadapi bahaya karena dia... Dicabutnya kerisnya lalu naik tangga dan melihat ke kiri dan ke kanan. Di hadapan pintu palka itu nampaklah seorang laki-laki sedang dikerumuni oleh anak-anak perahu. Laki-laki itu rupanya melawan, tetapi karena satu lawan banyak ia sudah terguling di atas lantai perahu, dipegang beramai-ramai oleh anakanak perahu. I Gamat berdiri dengan keris di tangannya memberi perintah mengikat orang itu.

I Jaya heran melihatkan kejadian itu. Ia menghampiri I Gamat dan melihat kepada orang yang sedang menggeletak dipegang beramai-ramai itu. Setelah diperhatikannya muka orang itu yang disinari oleh cahaya lentera, alangkah terkejutnya ketika dikenalinya muka adiknya I Pageh...!

(p.273) I Jaya maju setindak lagi ke depan lalu berteriak:

- Kamu, Pageh...?!

Sekalian anak-anak perahu itu terkejut mendengar teriakan I Jaya. I Gamat melihat pada I Jaya sambil bertanya:

- Kau kenal orang ini, Jaya...?

- Ini adikku, Gamat, lepaskanlah ia...!

I Gamat memberi isyarat pada orang-orangnya. I Pageh lalu dilepaskan. Ia berdiri dengan cepat, menantang I Jaya. Nafasnya sesak, karena habis bergulat hendak melepaskan diri dari cengkeraman sekian banyak orang, nampaknya sebagai seekor harimau yang baru dilepas hendak menerkam mangsanya. Badannya basah karena peluh, rambutnya berbugau-bugau, sebahagian menutup keningnya, matanya besar, melotot, menentang kepada saudaranya. Pada tangan kanannya kelihatan keris pusaka berkilat-kilat...

- Jaya, aku datang buat kau...! Buat membikin perhitungan dengan seorang manusia yang berkhianat...!

I Gamat dan sekalian, anak-anak perahu yang tegak berdiam diri sama-saina menantikan apa yang akan terjadi. Mereka menanti apa yang akan diperbuat oleh I Jaya; ada yang mengharapkan supaya I Jaya memberi isyarat, mengeroyok lagi laki-laki yang sedang menentang itu, tetapi I Jaya kelihatan sabar dan tenang. Ia tak berkata sepatah jua, melainkan melihat I Pageh dengan pandangan yang sedikitpun tak menampakkan takut, atau terkejut. Saudaranya sedarah sedaging sedang berdiri di hadapannya, sedang berangasan dengan sebilah keris ditangannya, tetapi hal ini sedikitpun tak mengecewakan baginya, walaupun I Pageh sekarang telah menjadi musuhnya, tetapi dengan tak (p.274) disengajanya perasaan persaudaraan, panggilan darah menjadikan ia tenang dan tenteram.

Ia berjalan beberapa langkah menuju kepintu palka, lalu mengundang I Pageh:

- Masuklah, Pageh

Ia menantikan I Pageh yang masih belum bergerak. Mata I Pageh masih saja tidak terlepas dari saudaranya, ia masih menentang. Undangan I Jaya menjadikan ia berpikir seketika, ia melihat ke kiri dan ke kanan pada I Gamat dan anak-anak perahu, lalu mengambil putusan melangkah ke pintu palka yang ditunjukkan oleh I Jaya.

I Pageh turun ke bawah dan ketika I Jaya bergerak hendak menurutkan dia, I Gamat lalu maju ke depan bertanya:

- Jaya, apakah tidak berbahaya...?

- jangan khawatir, Gamat, I Pageh adik kandungku...

I Gamat masih kelihatan khawatir, tetapi I Jaya telah turun tangga menurutkan I Pageh.

Mereka sekarang berada dalam sebuah ruangan kecil yang hanya diterangi oleh sebuah lentera. I Pageh berdiri di sudut, dengan keris di tangan, bersedia sewaktu-waktu untuk membela dirinya sebagai laki-laki. Ketika I Jaya turun dari tangga ke bawah matanya tak lepas mengawasi gerak-geriknya, kalau sedikit saja I Jaya menunjukkan sikap menjerang ia akan menjerbu, tetapi... I Jaya belum memperlihatkan sikap menentang. Dengan tenang dan langkah yang tetap ia turun, menuju ke bangku lalu duduk memandang ke depan. Ia duduk menanti, bersedia menanti perhitungan yang dituntut oleh saudaranya dengan hati yang tetap. Ia sudah terlanjur, ia telah membulatkan hatinya hendak mempunyai, hendak merampas Pandan Sari, yaitu haknya (p.275) sejak semula, keadaan ini sudah tak dapat diperbaiki lagi, ia tak kan mundur barang setapak, walaupun ia berhadapan dengan saudara kandungnya...

I Pageh maju beberapa langkah, sehingga ia berdiri dekat sekali dengan I Jaya. Nafasnya panjang, gerahamnya ditekankan, ia melihat kepada I Jaya dengan pandangan yang menghina, merendahkan.

- Benar engkau seorang manusia binatang, Jaya, manusia pengecut! Engkau datang di malam hari hendak mencuri isteri orang, tetapi... engkau tidak akan berangkat dari sini, Jaya, selama suaminya masih dapat membela dirinya sebagai seorang laki-laki. Cabut kerismu, Jaya! Kalau kau seorang jantan...!

I Pageh menanti, tetapi I Jaya tak bergerak.

Suara I Pageh yang menentang itu menjadikan I Jaya berpikir. Suara adiknya, yang dikasihinya, yang biasa dibelanya, tak biasa ia mendengar suara I Pageh sekeras itu, suara yang biasa didengarnya dengan lemah lembut dan tenang sekarang terdengar menentang, memaki ia sebagai manusia binatang, sebagai seorang pengecut... I Pageh, adiknya sudah melepaskan segan dan hormatnya terhadap dia, saudara tua...!

Kalau seorang lain yang menyuruh ia mencabut kerisnya, membela kehormatannya sebagai laki-laki, entah apalah yang akan diperbuatnya, tetapi yang menentang itu ialah I Pageh, adakah patut ia mencabut senjata berhadapan dengan adik kandungnya...?

Perkara kehormatan yang hendak dibelanya...?

Kehormatan apa...? Adakah pekerjaan yang sedang dilakukannya itu suatu pekerjaan yang terhormat...?

(p.276) Melarikan isteri orang...? Mencemarkan nama seorang isteri terhadap suaminya, semata-mata karena ia hendak menurutkan hawa nafsunya, hendak merebut perempuan yang disangkanya haknya.

I Jaya tetap diam, tak bergerak.

I Pageh menanti semangkin tak sabar.

- Cabut kerismu, Jaya! diulangnya sekali lagi. Bela dirimu!

I Pageh memperbaiki kerisnya, tambah diperkuatnya di tangannya, ia mundur setindak memperbaiki tegaknya, bersedia kalau I Jaya bergerak..., ia hendak menyerang dengan seketika. Tetapi setelah dilihatnya I Jaya tak bergerak dan nampaknya tak bermaksud hendak membela dirinya, datanglah nekat I Pageh, nekat seorang suami yang sedang tertipu. Ia maju setindak mendekati I Jaya, mengayunkan kerisnya, diayunkannya, hendak ditekankannya ke leher I Jaya. Keris itu melayang ke atas, berkilat dan tiba dibawah di dekat leher I Jaya, tetapi... tertahan di sana, tak maju tak mundur...

Mata I Pageh sekarang ditijukan pada keris yang terhunus itu, hanya sedikit lagi, ia akan menghabiskan riwajat seorang laki-laki yang berkhianat yang duduk di hadapannya, tetapi... keris itu,keris yang ditangannya itu sebagai mengingatkan ia pada pesan ayahnya, sebagai terdengar suara ayahnya pada saat itu berkata:

- ... kalau darahmu sedang panas, dapatlah keris ini mendinginkannya... Bilamana ada sesuatu bencana atau perselisihan faham antara kamu bertiga, yang kiranya dapat memecahkan perhubunganmu, ingatlah pada keris ini...

(p.277) Keris pusaka ayah, peninggalan Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai, ayah Pandan Sari, yang sedang berkilat-kilat, terhunus di tangannya sebagai berkata-kata, menginsyafkan I Pageh kepada jalan yang benar. Pada waktu itu berobah air mukanya, mukanya yang tadinya garang sekarang ditundukkan sambil ia menghela nafas panjang, tubuhnya yang tadinya kencang karena sekalian urat tangan dan kakinya terpasang, sekarang menjadi lemah. Tangannya yang mengacungkan keris itu turun, terkulai... I Pageh berjalan beberapa tindak ke hadapan, menghampiri jendela perahu itu.

Diangkatnya tangannya yang memegang keris itu, dipandangnya keris itu sambil berkata:

- Arwah ayah mengingatkan aku kepada jalan yang benar... Keris pusaka peninggalan ayah, telah memadamkan hatiku yang panas...

Ia berbalik lalu melemparkan keris itu ke atas sebuah peti yang di dekatnya. Ia melihat kepada I Jaya yang masih saja tak bergerak, duduk diam sebagai patung. Dihampirinya I Jaya, lalu berkata dengan suara yang lemah lembut:

- Hampir aku berdosa, Jaya, terhadap arwah ayah yang sudah meninggal, tetapi kalau pada saat ini arwah itu berada di dekat kita, ia akan mengetahui juga bahwa aku berada di fihak yang benar. Kalau aku tak jadi membunuh kau adalah semata-mata karena aku ingat kepada janji kita di hadapan ayah, kepada pesan ayah yang menghendaki persatuan kita dengan perantaraan keris ini, tetapi arwah ayah akan mengetahui juga bahwa kaulah yang memecah persatuan itu, karena kau sebagai saudara yang tua di antara kita bertiga sedang menurutkan hawa nafsumu. Tetapi (p.278) karena aku tak berhak memberi hukuman padamu, biarlah aku serahkan pada yang lebih berkuasa...

Aku tahu, Jaya, Pandan Sari kawin dengan aku tidak karena cinta, aku tahu sejak dahulu bahwa ia mencintai kau, bahwa ia senantiasa merindukan kau dan kau tahu juga bahwa aku kawin dengan dia bukanlah karena aku berkhianat padamu, tetapi karena kau dikhabarkan mati.

Tetapi kalau dalam keadaan seperti ini kau masih menganggap dia sebagai hakmu, silakanlah, ambillah hak itu, buat akupun percuma hidup di samping seorang perempuan yang mencintai orang lain...

Sesudah berkata demikian I Pageh membalik badannya, menuju ke tangga dengan kepala ditundukkan, sebagai seorang yang patah hati, tetapi setelah dinaikinya dua anak tangga itu ia berbalik surut, turun kembali lalu menghadapi I Jaya lagi, sambil berkata:

- ... tetapi, Jaya, satu permintaanku: sebelum kau melakukan itu, sebelum kau mengambil hakmu itu, tammatkanlah dahulu riwayatku ini...

Sambil berkata demikian I Pageh menuju kepeti, mengambil keris yang terletak di atasnya, dipegangnya gagangnya lalu berlutut di hadapan I Jaya dan meneruskan dengan suara yang terputus-putus:

- Tammatkan riwayatku... dengan keris pusaka ini, tusukkan, tancapkan keris ini sedalam-dalamnya ke dalam dadaku, agar supaya aku tak menyaksikan kecurangan ini, kecurangan seorang saudara tua terhadap adiknya, kecurangan seorang isteri terhadap suami dan anaknya...

I Pageh memaksa, mendorongkan gagang keris itu ke dalam tangan I Jaya yang lemah, sebagai tak bertenaga itu.

(p.279) Sesudah itu ia berdiri, lalu menaiki tangga, dengan tak menoleh lagi...

Sejak tadi I Jaya tak bergerak, tak berkata sepatah juapun, bahkan pandangannya tak beralih. Walaupun telah tetap dalam hatinya akan mengambil haknya, biarpun dengan secara kekerasan dan paksaan, tetapi ia tahu bahwa ia berdiri di hadapan adiknya, yang amat disayanginya, yang biasa dibelanya. Dibiarkannya I Pageh berkata-kata, mencurahkan isi hatinya, amarahnya, mengancamnya, mengajak ia berkelahi, tetapi sebagai saudara tua ia tidak nanti akan mencabut senjatanya, ia tidak akan menodakan kerisnya terhadap I Pageh, walaupun sekali I Pageh berdiri di hadapannya sebagai seorang laki-laki, sebagai seorang suami yang tertipu...

Ia tahu, ia merasa bahwa perbuatannya tak kan disukai oleh I Pageh, tetapi seumur hidup barulah sekali ia ini menurutkan hawa nafsu semata-mata, barulah ia merasa berbuat suatu pekerjaan yang menyimpang dari pada jalan kebenaran, tetapi ia berbuat itu karena sudah terlalu menanggung rindu bertahun-tahun, karena senantiasa cintanya terhalang berkali-kali. Ia tahu perbuatannya itu perbuatan nekat, tetapi ia tidak pula berusaha mencari kebenaran, ia datang hanya untuk mengambil haknya.

Ketika I Pageh mengajak, menentang dia untuk berkelahi, mencabut kerisnya, dalam hatinya ia tertawa, mustahil ia akan mencabut keris hendak menusuk adiknya, itu tak mungkin. Waktu I Pageh mengata-ngatai dia, mengatakan dia seorang pengecut, seorang menusia binatang yang datang di malam hari hendak mencuri isteri orang, hatinya tetap (p.280) keras sebagai batu, telinganya sebagai tak mendengar sekalian tuduh-tuduhan yang diucapkan oleh I Pageh itu, selayaknya I Pageh mengucapkan perkataan-perkataan yang demikian, I Pageh sebagai seorang suami yang dilanggar kehormatannya sudah tentu akan mengambil sikap demikian.

Sebagai laki-laki tentulah I Pageh tak kan menerima perbuatan itu dengan begitu saja, tetapi sebaliknya, hati I Jaya tertutup, ia tak kan mendengarkan keluhan I Pageh, ia tahu kalau didengarkannya, Pandan Sari tentu akan terlepas lagi dari tangannya..., sesudah bertahun-tahun ia menanti. Sekarang telah datang saatnya ia akan merampas haknya, biar apapun yang akan terjadi...!

Tetapi kemudian, setelah I Pageh insyaf, ingat akan pesan ayah, ketika I Pageh tertegun hendak menusuk dia, ketika keris yang telah diayunkannya tertahan di udara, pada waktu itu I Jaya merasa sebagai mukanya ditampar didalam gaib, yang tak kelihatan. Pada saat itu dirasanya hatinya yang keras tadinya menjadi lemah, sebagai terpukul, pendiriannya yang tetap tadinya hendak menjalankan maksudnya dengan kekerasan, hilang lenyap, hancur lebur karena perasaan kewajiban yang datang dengan sekonyong-konyong.

Kemudian I Pageh memperingatkan ia pula kepada isteri dan anaknya. Sejak tadi tiadalah terpikir olehnya betapa gerangan nasib anak yang hendak diceraikannya dari ibunya, anak yang masih membutuhi ibunya, betapakah seorang ibu yang ditarik dari anaknya... dan anak ini anak yang syah dari I Pageh... Adakah patut ia menceraikan tiga jiwa, membinasakan penghidupan mereka, semata-mata karena ia yang hendak melepaskan hawa nafsunya?

Biarpun Pandan Sari bersedia hendak turut bagaimanakah (p.281) penghidupan mereka berdua kelak, kalau perempuan itu ingat kepada dosanya meninggalkan suami yang tak bersalah, kalau ibu itu di satu waktu ingat pada anaknya...?

Sekalian kemungkinan ini tadinya tak teringat olehnya, matanya buta, telinganya pekak, hatinya tertutup karena hawa nafsu, karena serakahnya, karena mengingat kesenangan dirinya sendiri. I Pageh telah mempunyai hak sepenuhnya atas Pandan Sari, ia telah kawin dengan Pandan Sari di hadapan ayah dan atas kemauan ayah, I Pageh telah mendapat turunan yang syah, menurut kehendak alam. Adakah ia akan membantah hak ini, semata-mata karena serakahnya...?

Karena ia merasa berhak atas Pandan Sari...? Sudah nasibnya yang malang, karena ia dikhabarkan mati, seorangpun tak ada yang bersalah dalam hal ini, Pandan Sari, ayah, baikpun I Pageh... Mereka telah berbuat suatu kesalahan, tidak dengan sengaja hendak merampas haknya, karena khabar yang salah disampaikan nasibnya yang malang telah ditentukan. Nasib ini adalah kemauan yang lebih berkuasa dari pada manusia, yang tak dapat dibantah...

Sekalian pikiran dan pertimbangan ini telah menjadikan I Jaya insyaf akan dirinya, insyaf akan terlanjurnya, tetapi menjadi kepuasan pula baginya karena ketelanjuran itu masih belum merusak, masih dapat diperbaiki. Perasaan ksatriannya hidup kembali, I Jaya kembali sebagai I Jaya yang dahulu, I Jaya yang senantiasa tegak pada kebenaran, keberanian dan kejujuran, I Jaya yang senantiasa berkorban untuk orang lain, teristimewa untuk kedua adik yang disayanginya.

Dengan datangnya keinsyafan itu dapatlah ia memutuskan (p.282) dengan seketika bahwa maksudnya yang semata-mata dipengaruhi oleh iblis itu tak kan boleh diteruskannya, ia sebagai saudara tua, sebagai ksatria tak layak mengganggu penghidupan I Pageh, Pandan Sari dan anaknya. Ia tak kan merusak penghidupan tiga jiwa karena serakahnya...

Tetapi berbareng dengan kedatangan keinsyafan itu dirasanya hatinya hiba, hidupnya kosong. Ia berdiri sebagai tak bertenaga, mendekati jendela perahu dan melihat keluar ke dalam gelap, gelap sebagai penghidupannya pula. Pada saat ini ia sedang mengorbankan citacita, tujuan hidupnya, berkorban selayaknya, tetapi alangkah beratnya korban itu...!

Selama ini ia hidup terasing, terbuang ke Nusa Penida dengan kekuatan hati memikul sekalian malapetaka, karena harapan di suatu waktu akan dapat kembali ke dalam masyarakat, memetik kembang yang diingininya sejak beberapa tahun. Sekarang didapatinya kembang itu telah dipetik orang dan perasaan kewajibannya memaksa ia membiarkan... Apalah lagi tujuannya ini...? Cahaya yang satu-satunya sekarang telah padam, akan dapatkah hatinya itu menyala lagi sebagai sediakala...?

Sedang ia melihat keluar nampaklah sebuah sampan menghampiri perahu itu. I Jaya melihat keluar untuk memperhatikan lebih tegas. Sesudah sampan itu disinari oleh cahaya lentera nampaklah olehnya bahwa yang berkayuh itu ialah dua orang yang tadi dikirim ke tepi pantai untuk menjemput Pandan Sari. Dilihatnya lebih jelas, Pandan Sari tak kelihatan dalam sampan itu. Hatinya dirasanya lapang, karena itulah yang diharapnya.

Anak perahu yang dalam sampan itu rupanya sangat terburu-buru. Setelah sampan itu rapat kepada perahu itu (p.283) didengarnya mereka berbicara pada I Gamat yang berdiri ditepi perahu:

- Gamat! Suruhlah I Jaya lekas pergi dari sini, sebab perajurit sedang mencari dia. Kami tinggalkan mereka berbanyak-banyak bersenjata, sedang mencari sampan hendak kemari. Sekarang masih dapat I Jaya melarikan diri. Suruhlah ia naik sampan ini, kalau tidak lekas tentu ia ditangkap dan kami dengar pula perintah dari kepalanya, katanya kalau I Jaya melawan atau terdapat sedang melarikan diri, ia akan ditembak saja...!

Tak lama sesudah itu didengarnya suara kaki turun tangga ke dalam palka dan dilihatnya I Pageh berdiri dihadapannya. Dengan sekelebat mata dilihatnya perbedaan air muka I Pageh sekarang dengan yang tadi, ketika ia meninggalkan palka itu. I Pageh yang tadi ialah musuhnya, tetapi I Pageh yang sekarang berdiri memegang bahunya dengan air muka ketakutan, ialah I Pageh adiknya yang disayanginya.

- Jaya, kau telah mendengar apa yang dikatakan oleh orang itu? Marilah lekas lari, aku akan mengantarkan kau. Kalau kau mati, aku mati, tetapi janganlah kau tinggal di sini sebagai orang bingung.

I Pageh berkata itu dengan tergesa-gesa, mengajak, menarik I Jaya, tetapi I Jaya tak bergerak. Ia sebagai tak mendengarkan bujukan adiknya yang dalam ketakutan itu, karena bukan anjuran hendak lari itu yang diperhatikannya, melainkan suara I Pageh yang membujuk terdengarnya amat merdu di telinganya. Adiknya, sedarah sedaging yang dalam kecemasan memikirkan keselamatan dirinya.

Bahaya ia sedang dikejar dan dicari perajurit, bahaya maut yang setiap detik boleh dihadapinya sudah tak (p.284) diacuhkannya, sebab jiwanya sekarang sudah tidak penting, sudah tak berarti untuk dipertahankan, tetapi yang lebih berharga baginya pada saat ini ialah adiknya I Pageh, hati I Pageh yang telah surut kembali sebagai sediakala, hati, darah saudara yang telah kembali sebagai asal, walaupun baru sebentar ini mereka bertentangan sebagai dua laki-laki yang bermusuhan. Sedang I Pageh berkata-kata dengan cepat dan kecemasan, mengajak I Jaya lari dengan seketika, I Jaya melihat muka adiknya dengan perasaan puas yang tak ternilai, dipandangnya muka itu dengan pandang yang bersinar. I Jaya yang tadinya merasa kehilangan, sekarang merasa mendapat kembali suatu mestika, yaitu kerahiman, rasa saudara dari adiknya.

I Pageh mengocok bahu I Jaya, memaksa supaya I Jaya mengambil putusan dengan lekas, karena dari sikap I Jaya tak kelihatan ia akan berlalu dengan cepat.

- Jaya, lekaslah, ikut aku... ia mendesak.

Tetapi I Jaya bukannya bertindak menurut yang dikehendaki oleh I Pageh itu, malah menepuk bahunya sambil berkata:

- Janganlah kau rusuhkan tentang diriku, Pageh. Aku minta kau pulanglah kepada isteri dan anakmu yang membutuhkan perlindungan kau sebagai suami dan ayah. Pulanglah engkau selekasnya!

Mata I Pageh terbelalak. Ia sebagai tak mengerti sikap I Jaya yang tenang tenteram itu, sebagai tak mengenal bahaja yang mengancam dirinya.

- Apakah kau tidak mengerti Jaya, bahwa kau dalam bahaya! Kau telah mendengar bahwa kau sedang dikejar, kalau kau didapatkan disini sudah tentu hukumanmu akan (p.285) menjadi lebih berat lagi dari apa yang sedang kau jalankan sekarang dan kalau kau lari tentu kau akan ditembak...!

- Aku mengerti Pageh, tetapi serahkan hal ini kepadaku untuk mengurusnya, kata I Jaya sambil tersenyum.

Pada waktu itu I Gamat tergopoh-gopoh turun tangga. Belum sampai kebawah ia telah berteriak:

- Lekaslah Jaya, aku sudah sediakan sampan, kita lari dari sini, aku juga ikut, sebab aku rasa bukan kau sendiri yang dicari. Kalau aku didapatkan di sini tentulah aku tak kan lepas pula!

- Pergola engkau Gamat dan tinggalkan aku di sini!

I Gamat tercengang mendengar jawaban I Jaya itu.

- Bukankah berbahaya kalau engkau tinggal disini, Jaya?

- Berbahaya atau tidak nantilah sama-sama kita lihat, tetapi aku minta supaya engkau lekas menyingkirkan diri dari sini dan... tolonglah engkau bawa I Pageh, adikku. Dia tentu akan dapat memberi pertolongan padamu, bila perlu.

Sambil berkata demikian I Jaya memandang I Pageh sebagai hendak mengatakan ucapan yang sama artinya pada I Pageh yang masih saja sebagai tak mengerti sikap I jaja itu.

- Tidak, Jaya, aku tidak akan pergi dari sini, katanya dengan suara tetap.

- Lekaslah Jaya, janganlah membuang tempoh, kau harus ikut dengan kami bersama-sama. Waktu hanya sedikit.

I Jaya tak menjawab melainkan menggelengkan kepalanya dengan suatu ketetapan hati yang tak dapat dibantah.

(p.286) - Kalau sudah tetap hatimu akan tinggal, apa boleh buat, Jaya, asal jangan kau menyesali aku di kemudian hari. Sambil berkata demikian I Gamat bergerak hendak naik tangga lagi.

Melihat tindakan I Gamat itu I Pageh tambah berkeras menarik tangan I Jaya, mengajak ia keluar sambil berkata dengan tetap:

- Tidak, Jaya, aku tidak akan meninggalkan kau dalam saat seperti ini! Aku tidak akan keluar dari ruangan ini, kalau kau tidak ikut!

Sejurus I Jaya terdiam tak berkata-kata. Ia kagum akan pembelaan, kesatriaan hati saudaranya, tetapi dalam hatinya putusannya sudah tetap, walaupun I Pageh belum dapat mengerti putusan ini. I Pageh menentang mata I Jaya dengan hati yang tetap pula. Nampak dari sikapnya bahwa ia tak kan berkisar seujung rambut dari ruang itu.

Kedua saudara sama-sama diam, sama-sama memandang, tetapi sekonyong-konyong... dengan tak terduga melayanglah suatu pukulan yang sangat hebat ke bagian geraham I Pageh. Tinju I Jaya itu datangnya sebagai pukulan besi, demikianlah hebatnya sehingga I Pageh rubuh seketika itu juga, terguling dihadapan saudaranya.

I Jaya membongkok memeriksa I Pageh sambil berkata:

- Menyesal aku Pageh, inilah jalan yang satu-satunya...

Ia melihat ke atas tangga di mana I Gamat sedang berdiri tercengang melihatkan kejadian itu.

- Gamat, aku minta bawalah adikku ini bersama-sama dengan kau.

Sambil berkata demikian I Jaya lalu mengangkat I Pageh yang sudah tak bertenaga, didukungnya atas kedua tangannya (p.287) menaiki tangga. I Gamat berjalan di hadapannya, kemudian turun ke sampan lalu menerima I Pageh dari tangan I Jaya. Badan I Pageh yang sudah lemah itu diletakkan di atas sampan dan sesudah I Gamat memandang sekali lagi pada I Jaya yang ditinggalkannya dengan perasaan menyesal itu, ia lalu memberi perintah kepada kedua anak buahnya yang sedang menanti dengan dayung di tangan, untuk berangkat dengan seketika.

Dengan cepat sampan itu bergerak dan menghilang di dalam gelap, menuju ke tepi pantai, mengambil jalan lain dari pada yang tadi...

I Jaya tegak lurus di tepi perahu melihat kedalam gelap, ke jurusan sampan itu menghilang, walaupun sampan itu sudah tak kelihatan lagi, bahkan dayungnya terdengar sayup-sayup sampai, semakin lama semakin jauh. Ia puas, karena keyakinan bahwa jalan yang telah diambilnya itu adalah jalan yang sebaik-baiknya untuk menyelesaikan kekusutan ini, kekusutan yang tadinya boleh jadi berakhir dengan penumpahan darah antara dua saudara. I Jaya puas karena hatinya lapang, karena dosa yang hampir diperbuatnya dapat dihindarkannya dengan jalan ini: I Pageh sekarang kembali kepada anak dan isterinya yang membutuhi dia...

Sedang I Jaya berdiri di tepi perahu terdengarlah suara dayung sedang mendekati perahu itu, semakin lama semakin dekat. I Jaya melihat kejurusan dayung itu terdengar. Ia mengerti bahwa saatnya telah dekat...

- Prajurit telah datang!!! demikianlah seorang anak perahu berteriak, memberi tahukan kepada kawan-kawannya.

Mendengar teriakan itu mereka sama-sama bergerak, sama-sama melihat ke jurusan pantai hendak memperhatikan (p.288) sampan yang mendatang itu. Demi diperhatikan suara dayung yang banyak itu nyatalah bahwa banyak sampan yang sedang mendatang. Tak lama kemudian nampaklah bentuk sampan-sampan itu, semakin lama semakin dekat. Anakanak perahu sama-sama memperhatikan I Jaya yang masih saja tegak lurus, tak berpindah dari tempatnya yang tadi.

Mereka melihat kepadanya dengan rupa ketakutan dan heran, apakah sebabnya I Jaya tidak mengambil sikap atau tindakan...? Apakah maksudnya menantikan kedatangan perajurit dalam keadaan semavcam itu...? Mereka tak dapat mengerti. Kalau maksudnya hendak menentang perajurit-perajurit itu, apa sebab ia tak mengambil persediaan, apa sebab tak diberinya perintah pada anak-anak perahu untuk bersiap dengan senjata...? Kalau ia hendak lari, apa sebab tidak dari tadi bersamasama dengan I Gamat, pada hal I Gamat telah mengajaknya...?

Apakah ia hendak menjerahkan dirinya...?

I Jaya tegak diam, sebagai tak mengacuhkan keheranan anak-anak perahu itu. Dalam keadaan sunyi senyap diatas perahu suara dayung yang mendatang itu semakin dekat dan kemudian nampaklah beberapa buah sampan mendekati dan rapat pada perahu. Beberapa orang perajurit yang bersenjata tombak dan bedil terbagi di atas sampan-sampan itu. Seorang dari padanya, rupanya kepala perajurit, berdiri di tengah sebuah sampan, memegang sebuah bedil. Ketika sampannya mulai rapat ia berteriak dari atas sampannya:

- Tinggallah kamu berdiri semua pada tempat masing-masing dan jangan bergerak! Barangsiapa yang bergerak akan ditembak!

(p.289) Ancaman itu diucapkan dengan ketetapan hati dan suara keras oleh kepala perajurit sambil ia memetik bedilnya yang diacungkannya ke atas perahu itu, Sekalian anak perahu duduk diam tak bergerak. Beberapa sampan telah dirapatkan dan beberapa di antara perajurit itu telah mulai naik dari beberapa fihak.

I Jaya tetap berdiri lurus, tak berkisar dari tempatnya. Ia sebagai tak mengacuhkan kedatangan perajurit-perajurit itu, bahkan sebagai tak melihat mereka sedang naik ke atas perahu, karena pandangnya sedang ditujukan ke pondok di tepi laut, di mana ia dibesarkan, di mana Pandan Sari barangkali sedang menyusukan anaknya...

Sambil menghela nafas panjang dan dengan air muka yang tetap membayangkan suatu putusan yang bulat ia barkata perlahan-lahan, sedang pandangannya tak beralih dari pondok itu:

- Selamat jalan Pandan Sari... I Pageh! Inilah jalan satu-satunya yang dapat kuambil...!

Sesudah mengucapkan itu diperhatikannya gerak-gerik sekalian perajurit di sekelilingnya dengan lirik matanya. Dirasanya bahwa beberapa orang telah naik perahu itu dan berada dekat sekali dari tempat ia berdiri. Inilah ketika yang baik, pikirnya, karena kepala perajurit itu telah memberi ancaman bahwa siapa yang bergerak akan ditembak...

Sekonyong-konyong I Jaya melompat ke bahagian yang kosong di sebelah kanan dari perahu itu dan sebelum anakanak perahu dan perajurit-perajurit itu mengetahui apa yang terjadi, terdengarlah suara orang terjun di bahagian kanan dari perahu itu.

I Jaya telah berenang di dalam air...

(p.290) Kepala perajurit berteriak. Beberapa perajurit yang memegang bedil dan tombak maju ke depan. Suara bedil berdentam beberapa kali, beberapa tombak melayang ke dalam air...

I Jaya sudah tak nampak...

Kenakah ia atau menyelam...?

Seorangpun tak dapat menetapkan di dalam gelap...

Ketika sampan I Gamat hampir sampai ke tepi, I Pageh tersedar dari pada pingsannya. Perasaannya yang pertama tak dapat diartikannya. Dimanakah ia...? Suara yang pertama didengarnya ialah suara dayung dan suara air yang beriak dan kemudian suara ombak yang memecah di tepi pantai. Ketika dibukanya matanya barulah ia tahu bahwa ia sedang menggeletak dalam sebuah sampan. Di bahagian gerahamnya dirasanya amat sakit, sebagai bekas ditimpa oleh sebuah barang berat. Dirabanya bahagian yang sakit itu dan pada saat ia meraba itu pulalah ia ingat apa yang terjadi: I Jaya telah memukul dia dengan sekonyong-konjong pada bahagian itu. Itulah kejadian yang paling akhir yang ia ingat, yaitu ketika ia memaksa I Jaya melarikan diri...

Kalau begitu I Jaya masih dalam bahaya...!

Pikirannya terang kembali, ia duduk dengan cepat hendak mengetahui keadaan sekelilingnya dan sekalian hal yang berhubung dengan I Jaya. Dilihatnya seorang yang berbadan tegap dan bermuka garang duduk di hadapannya. Orang ini dikenalnya sebagai kepala dari anak-anak perahu yang tadi mengeroyok dia dan kemudian datang ke dalam palka mengajak I Jaya lari.

(p.291) Di mamakah Jaya, jro? ia bertanya.

- I Jaya kukuh tinggal di dalam perahu dik, meskipun aku berkali-kali mengajak ia lari, jawab I Gamat.

Dari jauh nampak cahaya lentera dari perahu itu yang berayun-ayun. I Pageh memandang dengan rasa cemas. Ia masih tak mengerti apa sebab I Jaya tak mau meninggalkan perahu itu. Dan yang lebih lagi tak dapat diartikannya ialah apa sebab I Jaya memukul, meninju dia pada saat sepenting itu. I Jaya berbuat itu bukanlah dalam marah, sebab dapat dilihatnya dari air mukanya yang kelihatan amat ramah, ketika I Pageh mengajak lari itu, tetapi apa sebab ia memukul? Tak lain tentu karena I Jaya tak mendapat jalan lain untuk mengusir I Pageh... Tetapi apa sebab...? Apa sebab ia keras hendak tinggal...?

Mereka sama-sama memperhatikan perahu itu yang kelihatan bergoyang sangat hebat.

- Rupanya ada perkelahian di atas perahu, demikianlah salah seorang anak perahu yang sedang berdayung itu berkata.

- Aku rasa juga, jawab I Gamat dengan suara khawatir.

Pada saat itu terdengarlah bedil berdentam beberapa kali. Mereka yang di dalam sampan itu mendengarkan dengan ketakutan.

- Jangan-jangan I Jaya..., kata I Gamat.

I Pageh tak menjawab. Ia hanya mengangguk. Dalam keadaan hening sekelilingnya itu I Pageh berpikir dan keadaan itu mulai terang baginya. Bunyi bedil itu membukakan tabir yang tadinya tertutup baginya. Sebagai telah pasti ia merasa bahwa suara bedil itu ialah suara tembakan yang (p.292) dilepaskan pada I Jaya... Rupanya inilah sebab makanya ia tak mau melarikan diri. Rupa-rupanya I Jaya sengaja mencari mati di ujung senjata perajurit...! Ia bersengaja itu karena hendak menyingkirkan dirinya, sebagai juga: I Jaya membunuh diri...!

Kemungkinan ini menjadikan bulu badan I Pageh berdiri. Walaupun bukti dari dugaannya itu belum didapatnya, tetapi ia tak dapat mengerti sikap I Jaya itu dengan jalan lain. Tak mungkin I Jaya akan sengaja tinggal di perahu akan menentang perajurit itu...

Sampan itu telah sampai ke tepi dan berlabuh dekat sekali dari pondok I Pageh. I Gamat turun lalu berkata:

- Sampai di sini saja, dik, kita harus berpisah.

- Kakak hendak kemana?

- Bukan I Jaya saja yang harus melarikan diri, tetapi aku juga seorang yang telah lama dicari oleh perajurit, oleh sebab itu aku sekarang harus berlalu dari tempat ini.

- Marilah bersembunyi di pondokku, kak! Kakak seorang yang telah berjasa memperlindungi i Jaya, pondokku harus kakak anggap sebagai rumah sendiri, demikianlah I Pageh menawarkan.

- Jangan dik, adik jangan lupa bahwa perajurit itu boleh jadi nanti mencari keterangan di pondok adik... jawab I Gamat sambil mengacungkan tangannya pada I Pageh, lalu berjalan dengan cepat diiringkan oleh anak perahunya. Mereka menghilang dengan cepat di dalam gelap menuju ke jalan kampung...

I Pageh tak dapat berbuat suatu apa, karena dirasanya pula kebenaran perkataan I Gamat itu. Ia berdiri sebentar di tepi pantai melihat ke jurusan perahu itu. Keadaan di (p.293) perahu nampaknya sekarang tenang. Tak ada suatu suara yang terdengar lagi, lentera perahu itupun nampaknya tenang hampir tak bergerak, selain dari pada menurutkan ayunan ombak...

Ketenangan ini tambah menakutkan I Pageh. Kalau-kalau sebenarnya 1 Jaya telah kena tembak, maka keadaan di atas perahu itu sekarang kelihatan tenang...

Dengan langkah sebagai orang yang lemah I Pageh menuju ke pondoknya. Perasaan khawatir tak dapat dilepaskannya, kalau-kalau sebenarnya I Jaya telah mengambil jalan sebagai diduganya itu. Ketika ia hendak membuka pintu pondoknya barulah ia ingat akan isterinya, Pandan Sari yang tadinya ia tinggalkan sedang berkemas hendak mengikutkan I Jaya. Ia terhenti sebentar di hadapan pintu, berpikir. Ia ingin tahu apakah Pandan Sari telah tak ada dalam pondok itu...

Dibukanya pintu perlahan-lahan dan melihat ke dalam.

Keadaan di dalam pondok itu amat sepi, tetapi demi didengarkannya dengan teliti terdengarlah suara cepak anaknya sedang menjusu. Kalau begitu Pandan Sari tentu masih ada di dalam pondok. Ia berjalan beberapa langkah lagi, melihat ke ruangan dalam lalu nampaklah olehnya suatu pemandangan yang mengharukan hatinya. Pandan Sari sedang duduk di atas balai-balai menyusukan anaknya. Nampaknya sebagai tak ada sesuatu yang terjadi. I Pageh lalu bertanya:

- Kau tak jadi pergi, Pandan Sari...?

Pandan Sari tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya dan sebagai keterangan apa sebab ia tak jadi pergi diusap-usapnya kepala anaknya yang sedang menyusu (p.294) itu. Walaupun pada saat itu tak banyak perkataan yang diucapkan di antara mereka kedua, tetapi perasaan ibu telah bertemu kembali dengan perasaan bapa, setelah seketika berjauhan, seakan-akan hendak terputus...

Sekonyong-konyong terdengarlah suara anjing menggonggong di luar. I Pageh dan Pandan Sari memperhatikan suara itu, yang semakin lama semakin keras terdengar.

I Pageh menuju ke pintu luar, melihat ke dalam gelap. Gonggongan anjing itu amat menarik perhatiannya, gonggong yang tidak berhenti-henti, sebagai salak anjing yang menemui seseorang yang belum dikenal.

Pandan Sari meletakkan anaknya ke dalam buaian, lalu menyusul suaminya ke pintu.

Pada saat itu turunlah hujan rintik-rintik dihembus angin yang amat deras. Walaupun air hujan yang membasahi muka I Pageh rasanya pedih sebagai lecutan sapulidi, tetapi ia tak mengundurkan diri, karena hatinya sedang berkata.

Anjing itu menggonggong terus menerus, semakin lama semakin keras dan semakin dekat. Pun Pandan Sari melihat keluar dengan air muka yang cemas. Meskipun mereka sama-sama tak menyatakan apa yang diduganya, tetapi perhatian kedua pada saat itu ditujukan pada yang satu, yaitu: mungkin I Jaya...

Demi mereka memperhatikan suara anjing itu, maka terdengarlah sekali-sekali sebagai orang mengeluh kesakitan, sebagai suara seorang laki-laki yang dalam kepayahan. I Pageh membalik mukanya menghadap pada Pandan Sari yang sedang kecemasan. Pandan Sari pun mendengar keluhan itu dan ia mengerti apa yang hendak dikatakan oleh I Pageh itu.

(p.295) Akhirnya Pandan Sari tak dapat menahan sabarnya, lalu berkata:

- Cobalah kakak lihat sebentar...!

I Pageh lalu membulatkan hatinya. Dengan tidak memperdulikan hujan yang mulai keras turunnya ia berjalan
keluar menuju ke tempat anjing itu menggonggong.

Ia menuruni tebing sambil berlari dan menyeberangi sungai dengan cepat dan ketika sampai ke seberang dilihatnya anjing itu sedang menghadapi suatu barang yang terletak di tanah, di bawah pokok kelapa, sambil menggonggong tak berhenti. Dihampirinya barang itu dan ketika ia semakin dekat nyatalah bahwa yang berupa barang itu ialah seorang laki-laki yang sedang tengkurap, merintih kesakitan. Mukanya belum dapat dilihatnya. I Pageh membungkuk lalu berlutut di dekat orang itu, tetapi sebelum ia dapat melihat mukanya yang ditekurkan ke tanah, ia telah mengenali I Jaya dari badan dan kain yang dipakainya. I Jaya sedang mengeluh, tangannya yang sebelah bertekan di tanah, yang sebelah lagi di bagian dadanya, yaitu tempat yang dirasanya sakit.

- Kak Jaya...! I Pageh merintih.

Dibalikkannya badan I Jaya, lalu nampaklah darah yang berlumuran, menutupi badan I Jaya sebelah muka. Dengan cepat I Pageh memikul I Jaya lalu berjalan di dalam hujan menuju pulang.

Pandan Sari yang sedang menantikan di pintu, terkejut melihat I Jaya sedang dipikul oleh suaminya. Ia mengerti bahwa I Jaya sedang luka, lalu berlari ke dalam menjediakan tikar di atas balai-balai. Badan I Jaya yang sudah tak bertenaga itu lalu diletakkan oleh I Pageh di atas balai-balai, (p.296) sedang Pandan Sari masuk ke dalam mengambil lampu, yang diletakkannya di dekat balai-balai. Ia terkejut melihat darah yang meliputi badan I Jaya, darah hidup yang keluar dari bagian dada.

Dihampirinya balai-balai itu, sedang I Pageh duduk di pinggirnya. Maka nampaklah mata I Jaya terbuka, melihat dengan lemah kepada mereka berdua. Kemudian mulutnya bergerak sebagai hendak berkata-kata. Dengan susah payah dan terputus-putus terdengarlah:

- I Pageh..., Pandan Sari..., lebih..., lebih... baik begini... selamat..., selematlah... engkau berdua... dan jaga anakmu...

Mulut I Jaya sebagai hendak berbicara terus, tetapi rupanya sudah tak kuat.

- Pandan Sari, lekas ambil air!!! kata I Pageh.

Pandan Sari berlari ke dalam mengambil gendi. Ketika ia masih di dalam, terdengarlah keluhan yang dahsyat dari I Jaya dan I Pageh terdengar memanggil berkali-kali:

"Jaya! Jaya...!" dan ketika Pandan Sari keluar dengan gendi di tangan, dilihatnya I Pageh sudah berdiri di tepi balai-balai itu, memandang padanya dengan suatu pandangan yang berarti, sambil menahan tangisnya. Pandan Sari seakan-akan tak percaya, dari muka I Pageh berpaling pandangan kepada badan yang terbujur tak bergerak di atas balai-balai itu: I Jaya sudah tak ada lagi...!

Gendi terjatuh pecah dari tangan Pandan Sari, ia berteriak lalu menubruk badan I Jaya sambil meniarap, dipeluk dan diciumnya badan yang sudah ditinggalkan oleh rohnya itu

(p.297) Beberapa bulan kemudian. Di tepi pantai. Di Kosamba.

I Pageh dan Pandan Sari yang menggendong anaknya berdiri menghadap ke laut. Ombak bermain di kaki mereka, ketika matahari hampir menyelam. Sebuah sampan maju ke tengah membawa abu dari seorang ksatria, yang di waktu hidup senantiasa dalam sengsara, hidup menderita malapetaka, hidup untuk orang lain, berkorban terus menerus memberi bahagia pada orang dengan tak mengindahkan, bahkan tak menghargai hati dan jiwa sendiri...

Abu I Jaya dipercayakan kepada dasar laut, dikembalikan kepada yang membuatnya di tempat ia biasa bermain-main, tempatnya dahulu mencari nafkah. Laut yang selamanya menjadi sahabatnya, bahkan sesudah ia maut...

TAMMAT

Source

  • Andjar Asmara - Nusa Penida; Balai Pustaka Djakarta, 1949 (p.221-297)

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24