Novel 'Noesa Penida' (Asmara, 1949) Part III Ch. I & II

Below article is a rendering of a novel called 'Nusa Penida' by Andjar Asmara, published in 1949. Part 3 - Chapter 1 & 2. For reasons of readability, only the spelling has been adapted to modern Indonesian spelling (Ejaan Yang Disempurnakan).

asmara nusapenida 1949

BAHAGIAN III - BAB I / PART III - CHAPTER I (p.188-198)

MAHARAjA SIANG yang seolah-olah menjelam ke dasar laut meninggalkan merah kekuningan di langit sebelah Barat. Angin bertiup perlahan-lahan menggerakkan daun-daun pohon kelapa sepanjang pantai yang nampaknya sepi pada waktu senja. Ombak memecah-mecah berbuih putih-putih, setiap hari setiap petang menunjukkan pekerjaan yang serupa, sebagai juga Pandan Sari yang tetap setia setiap petang duduk termenung di atas pasir di pinggir tebing, di hadapan pondok, melihat ke laut, sebagai ada yang dinantinya dari seberang, nun... jauh di tengah, dari pulau Nusa Penida...

Di sinilah tetap ia duduk setiap senja kalau pekerjaannya telah habis, kalau makanan telah siap, telah ditutupnya untuk dimakan malam bersama-sama. Dari sehari kesepekan, pekan menjadi bulan, hampir setahun ia berkelakuan demikian, tetap duduknya pada tempat itu juga. Kalau pasir yang didudukinya itu dapat berkata-kata, dapatlah mereka menerangkan banyaknya air mata gadis itu yang tertumpah setiap ia duduk pada tempat itu...

Keadaan dalam pondok I Murda telah jauh berobah.

Walaupun penghuninya masih serupa, tetapi semangat telah berlainan. Semangat yang dahulu girang seia sekata, sekarang telah patah karena suatu sebab yang sama-sama mereka rasakan. Mereka sama-sama merasakan kekurangan (p.189) yang tak dapat ditambah, kehilangan yang tak dapat disebut.

Perasaan yang demikian dahulu dirasakan pula oleh Pak Murda dan I Pageh, yaitu ketika Pandan Sari meninggalkan mereka, tetapi pada waktu itu mereka sama-sama merindukan seorang anggota yang biasa mereka manjakan sejak kecil, tetapi belum sampai mematahkan hati, Pandan Sari telah kembali, malah kembali dalam keadaan yang berlain dari pada dahulu. Sekarang mereka telah sederajat dan sebangsa dengan Pandan Sari sehingga pergaulan menjadi lebih leluasa dan merdeka, tidak lagi sebagai dahulu, ketika Pandan Sari harus disebut Gusti Ayu.

Tetapi kebebasan ini tiadalah dapat meliputi kehilangan mereka, tambah lagi karena rindu sekarang berlain dengan rindu dahulu. Telah berkali-kali Pak Murda mencoba menyabarkan hati Pandan Sari dengan bujukan dan nasehat supaya ia jangan terlalu memikirkan yang pergi, apalagi karena telah diberi harapan ia akan kembali, tetapi tiap-tiap percobaan Pak Murda itu hanya dibalas dengan air mata oleh Pandan Sari. Pun I Pageh tak putus-putusnya mencoba menghiburkan hati Pandan Sari, dibawanya adiknya ke tiaptiap keramaian, di hari galungan berbaju bagus, tiap-tiap ada tari di dalam kampung yang berdekatan mereka tak ketinggalan, namun keadaan Pandan Sari tak berobah, ia kelihatan semakin hari semakin diam, tak banyak berkata-kata. Diturutkannya kemauan I Pageh mengajak dia ke sana ke mari, tetapi kalau mereka telah pulang, hatinya remuk kembali kalau melihat pulau Nusa Penida, yang senantiasa mengingatkan dia pada kekasihnya.

Sedang mengapakah dia di sana...? Disiksakah ia...? Bilakah ia akan kembali...? Pelbagai (p.190) macam pertanyaan yang tak dapat dijawab dimajukannya seorang diri, setiap senja ia duduk di tebing di atas pasir, menghadap ke laut, ke Nusa Penida...

Kasih yang terputus dengan sekonyong-konyong adalah serupa luka yang tak kunjung sembuh, makin diobat makin berair. Pandan Sari adalah ibarat kembang yang tak jadi mekar, tinggal tertutup selama-lamanya...

Dalam keadaan yang demikian ia memandang kelaut, ke Nusa Penida, setiap senja, setiap matahari terbenam, sehingga siang berganti malam...

Entah karena hati menarik hati, karena semangat yang tertahan yang tak mendapat pelepasan, sebagai telah ada perjanjian antara kedua anak manusia yang berkasihkasihan. Pandan Sari setiap petang meninjau laut, melihat pohon-pohon yang nampaknya hitam dari tepi laut Kosamba, demikian pula I Jaya dari tempat pengasingannya acap kali duduk di atas sebuah batu, menghadap ke Kosamba, melihat, memandang tak putus-putusnya di waktu petang kalau pekerjaannya telah habis.

Ia duduk bertupang lutut memandang ke tempat pondok, di mana ia dibesarkan bersama I Pageh dan Pandan Sari, pondok buruk yang mengandung banyak kenang-kenangan baginya. Terkenang ia pada waktu yang silam, terkenang ia pada kejadian-kejadian yang tak mudah dilupakannya, kejadian-kejadian kecil antara ia dan Pandan Sari, sejak semula kasih berkobar menjadi cinta... Hancur luluh hatinya kalau diingatnya sekalian hal itu. Dahulu ia bebas, merdeka bergerak di hadapan pondok yang nampaknya sebagai titik putih dipinggir laut itu dan sekarang... (p.191) ia terasing, terikat di satu tempat yang tak boleh ditinggalkannya...

Seakan-akan hendak direnanginya lautan hendak mengecap kembali kemerdekaan itu, hendak bertemu dengan Pandan Sari, kekasihnya, hendak melihat ayah yang telah tua dan I Pageh...

Kejadian-kejadian hebat yang menimpa dirinya berturut-turut telah menjadikan I Jaya sabar, lebih sabar dari pada biasa. Ia sudah tak menyesali untungnya lagi, melainkan menerima dan menjalankan. Kesabaran ini berdasar pada suatu keinginan yang amat sangat dan pada pesan Pandan Sari ketika ia berangkat menuju ke pulau ini, bahwa harapannya untuk kembali telah dijanjikan oleh baginda.

I Jaya percaya dan yakin bahwa perjanjian itu benar akan ditepati, karena melihat buktinya pada Pandan Sari yang diizinkan pulang ke rumah ayahnya, suatu hal yang tadinya dianggapnya mustahil.

Bukti ini menumbuhkan harapan dalam hati I Jaya dan harapan yang diingatnya tiap-tiap malam ketika hendak tidur itu lama-lama menguatkan hatinya dan walaupun ia sebagai seorang buangan sudah hampir setahun menuntut penghidupan yang pahit di pulau yang kering dan berbatu itu, seorang diri, tak berkawan, harapan itu menjadi obat penguatkan hati yang amat dibutuhinya. Ia menjalankan hukuman itu dengan keyakinan bahwa pada suatu saat ia akan kembali ke kampung halamannya, di mana menanti seorang gadis, miliknya, yang akan dipunyainya selama-lamanya. Saat itu adalah sebagai suatu bintang yang bercahaya dalam penghidupannya, saat yang tentu akan datang...!

(p.192) Sesungguhnya keyakinan inilah yang menghindarkan I Jaja dari pada marabahaya di pulau itu, kalau tidak, niscaya ia akan terjerumus pula dalam lembah penghidupan kaum pembegal yang menjadi penghuni Nusa Penida.

Ketika I Jaya baru sampai ke Nusa Penida ia tercengang melihat penduduknya yang amat berlainan dari pada penduduk kampung yang biasa dikenalnya. Nusa Penida didiami oleh orang-orang buangan dari segenap penjuru. Mereka diasingkan ke mari karena berbuat bermacam-macam kesalahan di kampungnya, ada yang karena membunuh orang, merampok dan membegal. Pencuri yang di kampung berulang-ulang keluar masuk penjara dan tak dapat diperbaiki lagi, tidak dibolehkan hidup di kampung, lalu diasingkan ke pulau setan ini. Lama kelamaan maka terjadilah suatu kampung besar di Nusa Penida yang penduduknya terdiri dari berbagai-bagai macam penjahat.

Perasaan yang ganjil telah dirasakan oleh I Jaya ketika pada beberapa malam yang pertama ia berada di antara orang-orang buangan itu. Sebagai kebiasaan tiap-tiap orang yang baru datang ke pulau itu dikerumuni oleh orang-orang buangan yang telah lama di situ. Mereka bertanyakan apa sebabnya I Jaya dibuang. Setelah I Jaya memberi tahu bahwa sebabnya ialah karena ia berkelahi dan seorang mati terbunuh karena dia, mereka mengangguk-anggukkan kepala, sebagai mengakui bahwa orang buangan baru ini adalah ...kawan" mereka...

I Jaya merasa bahwa adalah sesuatu yang tak benar dalam angguk mereka itu. Diperhatikannya muka mereka yang kelihatan kasar dan berbeda bentuknya dari pada orang kampung biasa, ada yang bercacat mukanya, ada yang (p.193) matanya rusak sebelah, ada yang tangannya cengkok

Dan suatu perasaan ganjil dirasakan oleh I Jaya ketika duduk bersama-sama mereka itu. Perasaan itu tak dapat dikatakannya, tetapi ketika bersama-sama dengan orang-orang jahat itu ia merasa gelisah, ia sebagai kepanasan, seolah-olah udara dipengaruhi oleh pikiran jahat pula.

Sesungguhnya mereka itu salah terka.

Benar, I Jaya dibuang karena membunuh orang, tetapi ia bukan seorang jahat, ia membunuh tidak dengan sengaja, tidak dengan perkosa karena niat hendak memperkaya diri sendiri. Kesalahannya boleh jadi sama, tetapi derajatnya sebagai seorang kampung yang jujur berlainan dengan penjahat-penjahat ini.

Dalam beberapa hari pertama diperhatikannya pula penghidupan orang-orang buangan itu. I Jaya sebagai seorang yang biasa bekerja dan mencari untuk sesuap nasi heran melihatkan orang-orang hukuman itu tak nampak bekerja atau berusaha, terkecuali seorang dua yang berladang secara kecil-kecil, tetapi yang selebihnya nampaknya bermalas-malas diri dan kebanyakan di antara mereka berjudi siang dan malam...

Dari manakah mereka itu mendapat uang untuk penhidupan dan... untuk berjudi...?

Kemudian setelah diselidikinya seorang tua mengatakan padanya, bahwa kebanyakan di antara orang-orang buangan itu hidup dari pembajakan di laut. Barulah I Jaya mengerti apa yang menyebabkan pada satu malam sedang ia tidur orang-orang buangan itu terdengar ribut, hiruk pikuk, kemudian hening dan di waktu paginya mereka kembali beramai-ramai pula...

(p.194) Suatu perjoangan batin yang amat hebat diderita oleh anak muda ini beberapa hari lamanya. Kalau lama-lama ia di pulau ini di antara orang-orang jahat itu, tak berpencarian pula, maulah ia terseret ke dalam golongan mereka, sedangkan keadaan dirinya berlain dari mereka itu. Ia bukan penjahat dan mempunyai harapan pula akan kembali ke kampungnya, sedangkan kebanyakan dari orang-orang buangan itu dihukum seumur hidup, sudah tak mempunyai harapan lagi. Jadi bagi mereka rupa-rupanya tiadalah menjadi keberatan menjalankan pembegalan itu. I Jaya tambah merasa bahwa ia ibarat burung berlainan bulu dengan yang lain-lain itu.

Dari sehari kesehari I Jaya lalu memikirkan soal hidupnya di pulau itu. Orang-orang buangan dibolehkan bergerak dengan merdeka, menuntut penghidupan menurut sukanya masing-masing asal jangan meninggalkan pulau itu. Beberapa orang tua yang rupanya sehat pikiran berladang padi dan beberapa orang lagi memancing dan mengail. Sebagai seorang penangkap ikan I Jaya lalu mencari perhubungan dengan mereka itu dan tak lama kemudian mulailah ia ke laut sebagai sediakala, sehingga dapatlah ia memenuhi keperluannya sehari-hari. Tetapi walaupun demikian hidup di antara kaum penjahat yang berlainan fiil itu tiadalah dapat disertainya. Ia mencari jalan pula supaya perlahan-lahan dapat ia memisahkan diri dari mereka.

Dari penghasilannya dikumpulkannya uang berdikit-dikit sehingga ia dapat mendirikan sebuah pondok kecil di tepi laut dan dipilihnya pula sebuah tempat yang menghadap ke Kosamba, sehingga dari pondoknya dapatlah ia melihat pondok ayahnya yang dari jauh kelihatan sebagai titik putih.

(p.195) Orang tak dapat dilihatnya karena jauhnya, tetapi kadang-kadang nampaklah asap mengepul dari bubungan pondok itu dan I Jayapun mengerti bahwa pada waktu itu Pandan Sari sedang memasak...

Lama kelamaan tumbuhlah keinginan I Jaya hendak berkebun di sekeliling pondoknya itu. Ia mencari ikan hanya pagi, tengah hari ikan itu dijualnya dan petangnya biasanya tak ada pekerjaannya. Waktu petang ini sebenarnya dapat pula dipergunakannya untuk berkebun. Walaupun tanah di pulau Nusa Penida tak seberapa subur, malah banyak berbatu, tetapi di sekeliling pondoknya itu adalah sedikit tempat yang tanahnya agak baik. Ketika ia memajukan keinginan itu pada pendawa yang menjaga pulau itu, ia mendapat izin dan dipinjami pula beberapa perabot untuk mengerjakan tanah itu. I Jaya lalu memulai merambah dan menebang pohon-pohon. Pekerjaan itu diangsurnya berdikit dikit dan dikerjakannya seorang diri pada petang hari sekembalinya menjual ikan.

Demikianlah penghidupan I Jaya dari sehari ke sehari di pulau itu, perasaannya yang asing pada permulaan telah dapat dialahkannya, dilengah oleh kebiasaan bekerja, mencari ikan dan berkebun. Kegiatan bekerja itu dikuatkan oleh pengharapan akan kembali ke Kosamba. Kepercayaannya penuh bahwa pada suatu waktu ia akan dibolehkan kembali ke dalam masyarakat untuk meneruskan wujud dan tujuan penghidupannya: Pandan Sari yang sedang menanti...

Tetapi manusia hanya dibolehkan berangan-angan, sedangkan yang menetapkan apakah angan-angan itu akan tercapai atau tidak, ialah Tuhan jua. Sedang kepercayaan (p.196) dan keyakinan I Jaya penuh sepenuh-penuhnya bahwa saat ia akan kembali, saat ia akan memperoleh ampun dari baginda itu tak boleh tidak tentu akan datang, sehingga ia segera akan dapat bertemu dengan kekasihnya, terjadilah suatu kejadian yang tak terduga, yang membelokkan riwayat hidup I Jaya ke suatu bab yang tak disangka-sangka.

Pada hari itu I Jaya agak pagi pulang dari laut. Pendapatannya tak seberapa, karena ikan agak kurang memakan pancing. Beberapa ekor ikan yang dibawanya ke kampung lekas terjual dan iapun mengambil kapak, lalu meneruskan menebang kayu besar di belakang pondoknya. Selain dari pada kayu itu amat menghalangi bagi kebun yang sedang dirambahnya boleh pula kayu itu kelak dijadikan papan, dahan-dahannya boleh dijadikan tonggak dan yang selebihnya pun tak kan terbuang karena boleh pula menjadi kayu api. Demikianlah perhitungan I Jaya. Ia sudah dua hari mengangsur menebang kayu ini dan hari ini tentulah dapat pekerjaan itu selesai karena yang tinggal hanya sedikit.

Di panas matahari tepat I Jaya bekerja seorang diri mengayunkan kapaknya. Ia bekerja agak lesu dan tidak sebagai biasa, karena hari itu rupa-rupanya telah ditetapkan sebagai suatu hari sial baginya, di laut tak mendapat ikan banyak, nafsu bekerjanyapun dirasanya tak seberapa. Tetapi walaupun demikian lama-kelamaan berangsur jugalah tebangannya, tinggal sedikit lagi pohon itu tentu telah dapat dirubuhkan, atau dapat rubuh sendiri.

Hari sangat panasnya, I Jaya merasa dirinya amat lelah. Ia berhenti lalu duduk di bawah sebuah pohon kecil yang agak teduh, mengisap sebatang rokok. Sambil menghembushembuskan asap rokoknya ia melamun tentang kebunnya (p.197) di kemudian hari. Di sekeliling rumah itu akan dibersihkannya dan di situ akan ditanaminya sayur-sayuran untuk tanam-tanaman yang boleh dijual pada orang kampung. Karena sebahagian besar dari penduduk Nusa Penida itu tidak mengusahakan tanah adalah harapannya penghasilan kebun itu alan dapat menambah belanjanya.

Sekonyong-konyong angin berhembus sangat kerasnya dan menggerakkan sekalian pohon-pohon di sekeliling. I Jaya yang sedang kepanasan amat senang angin berhembus ini. Dirasanya badannya agak segar. Ia melamun dan melamun..., mengingat hari kemudian. Tiba-tiba datanglah suatu pikiran yang tidak disengaja, ia berpikir apakah ia akan sempat memungut hasil dari kebunnya kelak kalau sudah sempurna, ibarat menanam akan sempatkah ia memetik buah dari pohon itu...?

Angin berhembus semakin kencang, matahari sedang tepat. I Jaya melihat ke laut, nampaklah ombak bergulung-gulung semakin besar. Dalam hatinya ia bersyukur sudah pulang dari laut, kalau tidak tentu akan mengalami susah juga dengan sampan kecilnya... Sekonyong-konyong terdengarlah suara menderak yang keras dari belakangnya. Ia menoleh ke belakang, dilihatnya pohon yang ditebangnya itu rubuh dan rubuhnya.... ke jurusan ia duduk. Kejadian itu begitu cepatnya sehingga I Jaya sudah tak sempat lagi melarikan diri. Sedang ia berdiri pohon itu telah sampai ke bawah, menimpa bahunya. I Jaya jatuh tertelungkup, pohon itu telah menindisnya dari belakang...

Dicobanya hendak bergerak tetapi sudah tak dapat. Sejurus I Jaya hening, tinggal diam berpikir apakah yang (p.198) hendak diperbuatnya. Dibaliknya mukanya ke atas, dilihatnya pohon yang besar itu sampai kerumpunnya, tak ada harapan ia akan terlepas seorang diri.

I Jaya berteriak, mengharapkan kalau-kalau kebetulan ada seorang lewat pada tempat itu dan dapat mendengarnya, tetapi keadaan tetap tenteram dan hening, seorangpun tak ada yang datang. Ia berteriak terus-menerus, berulang-ulang, tetapi tak mendapat jawaban. Lama-kelamaan dirasanya tangan dan kakinya yang terhimpit amat penat. Peluh dinginnya keluar, tenaganya mulai habis.

Beberapa jam I Jaya tertelungkup daslam keadaan yang amat menyedihkan. Suaranya telah parau dan ia sudah tak berteriak lagi, hanya merintih kesakitan. Hari sudah mulai petang, matahari hampir terbenam, masih saja I Jaya belum terlepas... Akhir-akhirnya ia sudah tak bergerak lagi, ingatannya hilang...

BAHAGIAN KETIGA - BAB II (p.198 - 220)

SEBAGAI tiap-tiap orang buangan yang kembali dari Nusa Penida, demikian pulalah I Swasta dikerubungi orang kampung ketika ia sampai di pasar Kosamba.

Ia seorang tua yang berasal dari Ubut, yang baru menjalankan hukuman buangan sepuluh tahun di Nusa Penida berhubung dengan suatu kerusuhan. I Swasta sangat berpengaruh di kampungnya dan ia dituduh menyusun suatu pemberontakan terhadap rajanya. Walaupun orang tahu bahwa I Swasta hanya menjadi perkakas pada waktu itu dan yang sebenar-benarnya mengatur pergerakan itu ialah seorang bangsawan yang tak disebut namanya, akhirnya I Swasta yang disingkirkan ke (p.199) Nusa Penida sepuluh tahun lamanya, karena pada anggapan raja, selama orang yang berpengaruh itu masih saja di dalam negeri tentu sewaktu-waktu kerusuhan itu boleh terjadi.

Sesudah hukuman itu habis dijalaninya ia diantarkan dengan sebuah perahu, tetapi karena perahu itu sampainya di waktu petang, maka terpaksalah I Swasta bermalam semalam di Kosamba dan esok harinya baru meneruskan perjalanan ke Ubut.

Kedatangan I Swasta dari Nusa Penida itu lekas tersiarnya di sekeliling Kosamba dan iapun didatangi oleh laki-laki perempuan yang mempunyai kaum kerabat di Nusa Penida.

Khabar itu sampai pula ke pondok Pak Murda. Pandan Sari berlari ke pasar diiringkan oleh I Pageh. Sudah sekian lamanya I Jaya di tempat pembuangan barulah sekali ini datang seorang yang agaknya dapat memberi keterangan tentang keadaan kekasihnya.

Ketika ia sampai ke dekat pasar dilihatnya orang berkerumun di sekeliling I Swasta. Ada yang menanyakan suaminya, ada yang menanyakan anaknya. Sekalian pertanyaan itu dijawab oleh I Swasta karena boleh dikata tiap-tiap orang buangan itu mengenal seisi pulau itu, karena senasib dan jumlahnya pun tak seberapa banyak.

Pandan Sari mendorong maju ke tengah-tengah orang banyak itu, sebagai tak sabar ia hendak menanyai orang tua yang duduk di tengah-tengah itu. Sesampainya di hadapan I Swasta ia duduk bersimpuh. Walaupun I Swasta pada waktu itu sedang berceritera tentang keadaan di Nusa Penida, Pandan Sari menjela dengan nafas sesak karena berlari:

- Bapa, adakah bapa kenal pada I Jaya?

(p.200) - I Jaya...?

I Swasta mengangguk sambil memperhatikan gadis jelita yang tiba-tiba duduk di hadapannya itu. Sungguh menarik hati gadis ini, tak heran kalau I Jaya sangat merindukan dia... demikian ia berpikir dalam hatinya.

- Apakah engkau ini Pandan Sari...? tanya I Swasta dengan suara ramah, sebagai seorang bapa, yang menunjukkan pula bahwa ia seorang yang berpengaruh. Suaranya dalam dan sedap didengarkan.

Pandan Sari terkejut mendengar namanya disebut oleh orang tua yang belum dikenalnya ini, tetapi girang pula hatinya. Kalau demikian tentu orang tua ini kenal betul pada I Jaya dan namanya tentu didengarnya dari I Jaya...

- Sebenarnya bapa, inilah Pandan Sari, sahut I Pageh dari belakang Pandan Sari.

Sekali lagi I Swasta mengangguk-angguk kepalanya, sebagai berpikir.

- I Jaya seorang baik, aku heran bagaimana ia boleh dibuang ke Nusa Penida, bukan tempatnya di situ...

Aku kenal dia bukan sebagai seorang buangan, tetapi selama ia datang di situ, I Jaya sudah sebagai anak bagiku. Sejak semula ia datang kami bersahabat. Acap kali ia datang padaku bertanya dan bercakap-cakap. Ia membuat pondok di tepi laut dan kemudian merambah membuat kebun, semuanya atas anjuran dan nasehatku. Ia sangat rajin mencari ikan sehingga penghidupannya tiada tergantung pada orang lain. I Jaya rajin, baik hati, lurus, seorang yang boleh dicontoh.

I Swasta berhenti sebentar, sambil menggulung rokok, nampaknya sebagai juga seluruh perhatiannya ditujukan (p.201) pada rokok itu. Ia menekur sebagai ada sesuatu yang dipikirkannya.

Pandan Sari sebagai merasa tak puas dengan keterangan yang diberikan oleh orang tua itu. Tak lain dari pada puji-pujian yang diucapkannya tentang I Jaya dan meskipun puji-pujian itu benar belaka dan seorangpun di antara yang hadir pada waktu itu, tak kan ada yang membantah, ia merasa bahwa ada sesuatu yang disembunjikan oleh orang tua ini, nampaknya sebagai berat ia hendak berceritera.

- Bagaimanakah keadaannya sekarang bapa...? Pandan Sari mendesak.

I Swasta tinggal diam, ia tidak lantas menjawab pertanyaan itu. Dipasangnya rokoknya dan sambil menghembuskan asap ke udara ia berkata:

- Sudah lebih sepuluh hari I Jaya merambah di sekeliling rumhanya. Di waktu pagi ia ke laut mencari ikan, petangnya ia menebang pohon dan merambah semak-semak, memulai kebunnya. Malam hari kerap kali ia datang kerumah bapa bercakap-cakap dan hampir setiap malam tak lain yang disebut-sebutnya melainkan kau juga, Pandan Sari! Ia sangat ingin lekas kembali ke mari, karena katanya engkau berjanji bahwa baginda akan mengampunkan kesalahannya...

Semalam sebelum bapa berangkat I Jaya tak datang ke rumah bapa, bapa amat menyesal karena ia belum tahu bahwa bapa akan kembali. Khabar bahwa bapa akan kembali itu sekonyong-konyong saja bapa dengar dari pendawa di waktu petang dan besok paginya bapa harus berangkat, karena kebetulan ada sebuah perahu negeri yang (p.202) hendak berlajar ke mari. Besok paginya ketika bapa datang ke rumah pendawa hendak memberi selamat tinggal, datang orang membawa khabar yang tak baik itu...

Pandan Sari mendengarkan ceritera yang diucapkan terputus-putus itu dengan tak sabar.

- Khabar apakah itu, bapa?

- Orang datang mengabarkan bahwa... I Jaya mendapat kecelakaan sedang menebang kayu. Di waktu pagi ada orang yang lewat di pondoknya dan melihat I Jaya tertindis oleh kayu besar yang baru ditebangnya...

- Habis, bagaimanakah bapa...? Pandan Sari mendesak lagi.

I Swasta berdiam diri sejurus. Amat berat baginya mengatakan kata sebenarnya pada gadis ini, tetapi akhirnya ia berpendapat bahwa khabar itu harus disampaikannya juga, tak harus disembunyikannya.

- Rupanya sudah semalam ia bertindis oleh kayu itu. Ketika bapa hendak berangkat, diantarkan oleh orang banyak ke tepi laut, dapat juga bapa melihat sebentar kepondoknya. Waktu itu I Jaya diangkat beramai-ramai kerumah pendawa... Amat sayang orang semuda dan sebaik itu...

- Masih hidupkah ia bapa...?

I Swasta tak menjawab, hanya menekur. Kemudian diangkatnya mukanya yang kelihatan sangat terharu. Ia memandang pada Pandan Sari dengan suatu pandangan yang sangat berarti. Walaupun ia tak berkata-kata, Pandan Sari maklum apa artinya pandangan itu...! I Jaya sudah meninggal...!

(p.203)- Sabarkanlah dirimu nak, kuatkan hatimu...

Lain daripada itu tak dapat diucapkannya.

Sekalian ucapan I Swasta itu sudah tak terdengar oleh Pandan Sari. Sebagai sebuah gong besar yang dipalu, yang mendengung di telinganya: ...Mati...! I Jaya mati...!”

Matanya sebagai tak melihat lagi, ia berdiri sebagai orang linglung, mencari jalan di antara orang banyak yang hening sedang memperhatikan dia. Orang terharu, ada yang menggelengkan kepala, ada yang ternganga memikirkan nasib gadis ini yang bertimpa-timpa...

Seorang perempuan tua berdiri hendak menghiburkan hati Pandan Sari, tetapi tak diacuhkannya. Ia berjalan keluar pasar, diturutkan oleh I Pageh, yang tak dapat berkata-kata...

Pandan Sari berjalan sebagai tak berperasan lagi, dunia sebagai tak ada lagi baginya, harapannya telah habis, kekasihnya yang dinantinya siang dan malam sudah tak kan kembali lagi menepati janji, sekalian janji sudah tak berharga... Apalah gunanya ia hidup...?

Apa sebab bumi yang diinjaknya tak mau rekah supaya ia tenggelam ke dalamnya, rekah supaya ia hilang lenyap, agar lepas dari penderitaan ini...?

Penghidupan Pandan Sari sesudah itu memasuki babak yang ketiga, babak yang pahit, yang merobah penghidupannya. Penderitaan yang berturut-turut dalam waktu yang singkat telah menjadikan ia seorang lain, lain dari pada dahulu ketika ia masih menuntut penghidupan gembira di antara kedua saudara angkatnya, ketika ia melihat dunia hanya (p.204) gilang gemilangnya, dunia lebar yang nampaknya berkilaukilauan dalam penghidupan tiap-tiap anak muda atau gadis yang baru memasuki akil balig. Waktu itu ia tak tahu takut atau susah, hidupnya bersemangat senantiasa, tetapi sejak percobaan-percobaan atas dirinya itu datangnya bertimpa-timpa, semangatnya patah, penghidupannya kosong, ia sudah tak berani berharap lagi, sesudah pengharapannya yang penghabisan hilang lenyap pula...

Kadang-kadang ia bertanya dalam dirinya: Apalah salahku... apalah dosaku..., apa sebab aku tak putus-putusnya menderita... apakah aku dilahirkan semata-mata hendak mengalami kesusahan terus menerus... dan apa pulakah yang akan menjadi bagianku sesudah ini...?

Mula-mula sebagai gadis remaja puteri ia dirampas, dimasukkan ke dalam istana. Ia menderita sebagai seekor burung dalam sangkar emas, tetapi rupanya masih ada suatu kekuasaan yang memperlindungi dia, apa yang tak diduganya telah terjadi: ia terlepas dari tawanan itu...

Tetapi pada saat ia dilepaskan itu ia mendengar bahwa I Jaya, tujuan penghidupannya satu-satunya, membunuh orang, dibuang pula ke Nusa Penida... Dikejarnya ke tepi laut, tetapi burung itu terlepas pula, terlepas di hapan matanya... Sesudah itu ia menanti, berpekan berbulan, ia menanti, dikuatkan oleh keyakinan, bahwa pada suatu waktu baginda akan menepati janji, mempertemukan ia dengan kekasihnya, tetapi sekarang..., belum sampai janji itu ditepati I Jaya telah meninggal pula...

Pengalaman-pengalaman ini akhirnya menjadikan Pandan Sari seorang yang tabah, kelakuannya berobah, ia (p.205) hampir tak memperdulikan hidupnya, hidup yang telah tak bertujuan, malah nampaknya mendekati kepada nekat.

Hanya beberapa hari sesudah menerima khabar I Jaya meninggal itu nampaknya Pandan Sari sebagai orang bingung dan sedih, tetapi kemudian hilanglah sikap itu berobah menjadi tenang, hampir nampaknya sebagai orang tak berperasaan lagi. Tiga hari sesudah itu nampaknya girang ia tertawa, malah kadang-kadang karena sesuatu hal yang tak harusnya menjadikan orang tertawa. Nampaknya sangat riang, gelaknya terbahak-bahak dan ia amat suka mengajak I Pageh bercakap-cakap. I Murda memperhatikan kelakuan Pandan Sari dengan rasa khawatir. Ia khawatir kalau-kalau Pandan Sari bertukar akal, tetapi demi diperhatikannya sehari ke sehari, tidaklah nampak sesuatu tanda bahwa otak gadis itu terganggu, walaupun kelakuannya lain dari pada biasa dan lain dari pada dugaan. Pak Murda mengira bahwa Pandan Sari akan terus menerus berhiba hati, tetapi sekarang nampaknya sebaliknya, ia sebagai telah melupakan sekalian kesedihan, meskipun cahaya matanya tak dapat meliputi rasa hatinya yang telah patah, yaitu ketika ia sekalisekali berdiam diri.

I Pageh agak bingung melihatkan tingkah Pandan Sari itu, apalagi ketika ia mengajak I Pageh memukul gendang kalau ia menari. Pandan Sari hendak menari lagi, menari sebagai sediakala, merebut kembali namanya yang harum...

Kalau permintaan itu dimajukan oleh Pandan Sari dalam keadaan biasa, sebenarnya I Pageh akan besar hati mendengarnya, sebab sudah lama benar Pandan Sari tak menari. Orang-orang kampung dan teman-teman sejawatnya dari (p.206) kumpulan tari senantiasa mengharap-harap Pandan Sari akan kembali ke dalam lingkungan mereka untuk menambah semarak perkumpulan itu sebagai sediakala, tetapi mereka tak berani memajukan permintaan itu, karena tahu bahwa Pandan Sari sedang dilamun kesusahan, tentulah dalam keadaan demikian tak akan ada harapan, tak kan ada hatinya hendak menari lagi, tetapi sekarang... kenginan itu keluar dari mulut gadis itu sendiri!

I Pageh tak tahu dengan perasaan apa hendak diterimanya permintaan yang diucapkan oleh Pandan Sari itu. Dalam hatinya ia girang, kalau benar-benar Pandan Sari hendak menari lagi, inilah suatu jalan baginya untuk melupakan kesusahan hatinya, hendak mengobat hatinya yang luka, tetapi perasaan girang itu bercampur pula dengan kekhawatiran kalau melihat tingkah Pandan Sari yang tak dapat diartikannya itu. Pandan Sari seorang yang berperasaan halus dan dalam; keteguhan pendiriannya sebagai seorang gadis harus dihormati. Sedemikian lama ia menderita, menderita dikuatkan oleh keyakinan dan keteguhan pendirian, tetapi sekarang sekonyong-konyong ia hendak menari...!

Tak masuk di akal I Pageh bahwa Pandan Sari akan dapat melupakan kematian I Jaya dalam beberapa hari saja dan apalah kelak kata orang kampung kalau ia muncul lagi di lapangan tari selekas itu...

Bagi I Pageh nyata bahwa sikap Pandan Sari sebagai melupakan itu adalah suatu sikap yang dipaksa, karena dalam beberapa hari ini tambah diperhatikannya kelakuan Pandan Sari, kerap kali pula diintipnya kalau Pandan Sari sedang seorang diri, memasak atau sedang bekerja di dapur. Dalam keadaan berseorang itu nampaklah sikap yang sebenarnya (p.207)dari gadis itu, yaitu pada waktu tak diduganya ada orang yang melihatnya. Pernah dilihatnya air mata Pandan Sari meleleh sedang ia menggoreng ikan. Pekerjaannya tak dihentikannya, tetapi air matanyapun tak ditahannya...

Pun di tengah malam pernah I Pageh terbangun mendengar tangis yang ditahan dari balai-balai Pandan Sari...

Walaupun bagaimana Pandan Sari hendak bermain kemidi, hendak menyembunyikan hatinya yang rusak, I Pageh yang senantiasa memperhatikannya mengetahui bahwa sikap Pandan Sari yang dipaksa itu ialah karena luka hatinya sekali ini sangat dalam, sangat susah mengobatnya, sehingga nampak sikap yang bertentangan dengan keadaan dirinya yang sebenarnya.

Niat hendak menari tadi adalah salah satu dari sikap yang dipaksa itu, ini telah nyata bagi I Pageh. Oleh sebab itu ia berkata:

- Maksudmu hendak menari itu baiklah kita pikirkan di kemudian hari, Pandan Sari dan jangan pulalah dibawa-bawa aku memukul gendang, sebab engkau jangan lupa, sekarang aku sendiri yang ke laut. Kalau sehari aku tak ke laut apa yang akan kita makan... Ayah sudah tua, tak boleh diharap lagi bekerja. Kalau hanya sekali-sekali engkau hendak menari cukuplah dengan Komplang saja memukul gendang.

- Bukan itu maksudku kak Pageh. Kalau sekali-sekali aku menari bolehlah dengan Komplang saja, tetapi...

Pandan Sari tak meneruskan pembicaraannya. I Pagen memperhatikan air muka gadis itu. Apakah yang dimaksudnya...?

- Tetapi apa...? ia mendesak.

(p.208) - Kak Pageh ingat I Wario dahulu selalu mendesak supaya kita masuk benar-benar dalam perkumpulannya dan tidak sebagai selama ini aku menari hanya sekali-sekali dan kalau ada panggilan dari orang-orang besar saja. Ia ingin membuat perjalanan dengan perkumpulannya, berjalan jauh... Waktu itu kita menolak,sebab kita tak ingin bercerai-cerai, tetapi tidakkah ingin kakak melihat Buleleng misalnya? Kita selalu mendengar orang menyebut-nyebut Buleleng yang sangat ramai itu. Akupun ingin pula sampai ke Tabanan, tempat tumpah darahku... Marilah kita berkeliling kak Pageh, kita berjalan jauh bersama-sama. Aku sangat ingin melihat negeri orang. Tetapi kalau aku ikut, tentu tak dapat seorang diri, haruslah kakak ikut pula... Marlah kak!

Pandan Sari membujuk I Pageh yang sedang hening mendengarkan itu, dengan bersungguh-sungguh. Ditariknya tangan I Pageh sebagai juga ia mengajak hendak berangkat pada waktu itu juga.

I Pageh belum menjawab bujukan Pandan Sari. Ia tak mengira pikiran gadis ini sejauh itu. Sebenarnya apa yang diucapkan oleh Pandan Sari telah lama pula dalam angan-angannya. I Wario telah berkali-kali mendesak, mengajak Pandan Sari berkeliling, tetapi selalu ditolak, walaupun I Wario menjanjikan pembayaran yang besar untuk Pandan Sari, karena I Wario tahu pula perkumpulannya akan bersemarak dan akan mendapat penghargaan dan pembayaran besar dengan Pandan Sari sebagai penarinya.

Lain dari pada itu apa yang dilukiskan dengan bayangan oleh Pandan Sari, Buleleng, Tabanan, Kintamani... telah lama pula dalam lamunannya, tetapi tak pernah ia (p.209) memikirkan mungkin atau tidaknya ia melihat negeri-negeri itu. Dan kalau ia ikut pula sebagai tukang gendang tentu mereka berdua akan mendapat penghasilan yang cukup dari I Wario, tetapi...

- Tetapi..., bagaimana ayah kita tinggalkan, Pandan Sari...?

- Ayah? Bukankah itu sama saja, kak? Biar kakak tinggal di sini saban hari ke laut mencari makan untuk kita bersama-sama, sama saja dengan kita berjalan mencari uang, malah kita mencari berdua, kak Pageh. Kita boleh tetap mengirim uang belanja untuk ayah dan pendapatan kita berdua tentu lebih banyak lagi dari pada pendapatan kakak sendiri sekarang mencari ikan. Sekali-sekali di waktu galungan kita pulang, kita belikan kain untuk ayah. Sekarang, cobalah kakak lihat ayah hampir tak dapat berganti kain, dari mana uang untuk pembeli...? Janganlah itu menjadi keberatan bagi kakak, aku rasa ayah tentu akan setuju pula, karena penghidupan kita akan lebih baik.

Ajohlah kak Pageh!

Pandan Sari tambah menarik tangan I Pageh, karena ia telah melihat pancingannya telah termakan. I Pageh tak membantah maksudnya hendak berkeliling itu, tandanya: ia hanya memikirkan soal ayah yang akan tinggal.

- Cobalah nanti aku bicarakan dengan ayah, sahut I Pageh.

Mendengar jawaban itu mata Pandan Sari kelihatan bercahaya, maksudnya telah hampir berhasil. Tinggal ayah yang harus memberi izin. Kalau izin itu telah dapat, dapatlah ia hidup, hidup tak bertujuan, hidup menurut suka, menurut nasib...

(p.210) Ketika pada malam itu I Pageh melihat ayahnya sedang duduk di balai-balai dan pikirannya nampaknya agak lapang, iapun memajukan soal itu. Mulanya agak takut-takut, ia khawatir kalau-kalau orang tua itu akan berhiba hati mendengar ia akan ditinggalkan, tetapi kemudian, setelah dilihatnya ayahnya mendengarkan dengan tenang sambil mengangguk-angguk dan sekali-sekali melirik pada Pandan Sari yang berdiri di pintu dengan penuh pengharapan supaya permintaan itu dikabulkan, I Pageh semakin berani berkata-kata. Ia lalu membayangkan penghidupan yang lebih baik bagi mereka bersama, kalau ia dan Pandan Sari turut dengan I Wario.

I Pageh tak menduga bahwa ayahnya akan lantas menyetujui maksud itu. Sebagai seorang tua I Murda memberi nasehat dan memperingatkan jua pada akibat yang mungkin terjadi:

- Aku tak kan melarang kamu berdua menjalankan sesuatu maksud yang baik, apalagi kalau maksud itu memberi pengharapan untuk memperbaiki penghidupan, tetapi adalah suatu hal yang harus engkau pikirkan, Pageh: penghidupan berkeliling dengan gamelan dan membawa tari itu tiada tetap, pencarianpun tidak tetap pula. Lihatlah pada I Wario, kalau rezekinya sedang baik, kalau bintangnya kebetulan sedang terang, uang datang sebagai air mengaliri bandar yang kering, banjir, sehingga melimpah-limpah... tetapi kalau bandar itu kering, I Wario sebagai cacing kepanasan, menghempas ke sana, membanting ke mari, menjual dan menggadai barang-barang perhiasan isterinya yang didapat dengan bersusah payah... Inilah yang tak kusukai dari penghidupan yang demikian.

(p.211) - Benar ayah, sahut I Pageh, tetapi apakah kejadian-kejadian yang demikian bukan karena I Wario tak pandai menjaga uang? Ia sangat boros ayah, digelanggang mengadu ayam atau di tempat perjudian taruhnya selalu hendak tinggi saja...

- Pageh, engkau berpikiran sesehat itu karena engkau miskin, karena belum pernah memegang uang banyak, tetapi dalam hal ini laki-laki itu serupa saja, amat mudah digoda iblis, pikiran laki-laki, apalagi yang muda-muda, sehat dan waras ketika miskin, tetapi kalau sudah dilanggar rezeki, lalu lupa daratan..., mabuk! Contoh yang demikian telah banyak kulihat...

- Tetapi dalam hal ini ayah tak usah khawatir, kata Pandan Sari, biarlah aku yang memegang uang, ayah.

- Itulah yang sebaik-baiknya, sahut I Murda. Kalau Pandan Sari yang memegang uang aku lebih percaya, tetapi jangan pula engkau lemah kalau I Pageh membujuk meminta uang buat hal yang bukan-bukan...

- Jangan khawatir, ayah, aku tak kan dapat dibujuk, kalau ia meminta uang buat diboroskan kak Pageh akan kuberi ini saja, ayah...!

Sambil berkata demikian Pandan Sari menunjukkan tinjunya yang dikepalkan dihadapkan pada I Pageh. Mereka tertawa-tawa beramai-ramai. Sama-sama terasa bahwa pada hakekatnya ayah telah setuju dengan maksud mereka berdua, tetapi walaupun demikian orang tua itu nampaknya sebagai masih kurang puas.

-- Lain dari pada itu adalah pula yang hendak kuperingatkan padamu, Pageh, katanya. Pencarianmu sekarang, biarpun sepeser dua peser, tetapi tetap, tetapi kalau engkau (p.212) kelak telah menjalankan penghidupan sebagai tukang gendang, engkau akan menjalani penghidupan baru yang amat berlainan dengan penghidupanmu sekarang... Apalagi kalau telah biasa memegang uang banyak..., uang yang sedikit sebagai yang kaudapat sekarang setiap hari akan dapatkah kau hargai juga sebagai selama ini...?

I Pageh rupanya telah menyediakan jawab untuk pertanyaan yang demikian. Dengan suara tetap ia berkata:

- Hal itu sudah kupikirkan ayah. Aku tidak akan berbuat sebagai tukang-tukang gamelan yang lain itu. Kalau tak ada. panggilan, kalau gamelan harus menganggur aku akan tetap ke laut, aku tak kan tinggal diam dan bermalas-malas sebagai yang lain-lain itu.

I Murda mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi dari senyumnya nampak bahwa orang tua itu belum percaya. Ia tahu bahwa ia berhadapan dengan seorang anak muda yang masih mentah dalam soal penghidupan dan menggambarkan sesuatu rancangan untuk hari kemudian itu semata-mata berdasarkan cita-cita dan bukan didasarkan atas apa yang telah dirasa dan dialami. Ia percaya dalam hatinya bahwa apa yang dikatakan oleh I Pageh itu tak kan bersua di kemudian hari, telah banyak contoh yang dilihatnya dari orang-orang tukang gamelan yang merasa asin garamnya ...mengamen", hidup berkeliling dengan tari, gamelan atau tandak, akhir-akhirnya tak terpakai untuk pekerjaan berat yang hanya menghasilkan sedikit uang...

Tetapi walaupun demikian ia akan membiarkan I Pageh mendapat pengalaman itu. Perkataan dan nasehat saja tak kan mingkin pula memutar haluan anak muda, sebelum dirasanya...

(p.213) Pertimbangan I Murda ini bukanlah karena ia hendak menjerumuskan anaknya ke dalam lembah penghidupan, tetapi adalah suatu keinginan yang lain yang sedang dipikirkannya, yang menguatkan hatinya, suatu keinginan yang belum diucapkannya. Tentang tari-menari itu sebenarnya tak seberapa dihiraukannya, tetapi kalau I Pageh dan Pandan Sari dapat sejalan dan sehaluan... Inilah yang lebih penting baginya...

- Baiklah kalau begitu, cobalah rundingkan dengan I Wario, kalau-kalau ia setuju dengan maksudmu berdua itu.

I Pageh dan Pandan Sari girang mendengarkan putusan ayah.

- Sebenarnya hal ini tergantung pada kami berdua, ayah, kata Pandan Sari. Sudah acap kali benar ia mengajakku tetapi selalu kutolak dan kalau sekarang kita menganjurkan padanya sudah tentu ia akan menerima dengan senang hati, sebab inilah yang dinanti-nantinya. Cuma bagaimanakah ayah kalau tinggal...?

Pandan Sari berkata dengan suara yang tertahan, karena hatinya sebagai perempuan sebenarnya tak sampai pula meninggalkan orang tua itu, sesudah I Murda memberi putusan yang dikehendakinya itu, walaupun tadi pagi ia sendiri yang mengusulkan pada I Pageh, biarlah ayah tinggal asal tetap dikirimi belanja. Tetapi sekarang, datanglah sedihnya memikirkan nasib orang tua itu seorang diri...

Perkara aku janganlah kau hiraukan. Aku sudah tua, cukuplah Ni Kerti menjagaku. Pergilah kamu berdua, asal berhati-hati, pandai menjaga diri.

I Murda berkata itu sambil menghembuskan asap rokoknya bergulung-gulung di udara. Nampaknya ia sebagai (p.214) berpikir. I Pageh dan Pandan Sari sebagai merasa pula bahwa ada suatu hal yang lain yang sedang dipikirkan oleh ayah, tetapi apa yang dikatakannya bukanlah buah dari apa yang sedang menjadi pikirannya. Mereka berdua sama-sama menanti, tetapi ayah tetap berdiam diri sebagai memikirkan suatu hal yang sulit, tetapi mulutnya tetap tertutup.

Ia tak berkata sepatah jua...

Esok harinya I Pageh dan Pandan Sari mengunjungi I Wario, dengan penuh pengharapan hendak memulai penghidupan baru.

Sesungguhnya sebagai yang telah mereka duga tadinya, kedatangan mereka adalah seperti pucuk dicinta ulam tiba bagi I Wario. Kebetulan pula ia baru menerima undangan untuk bermain dari Karangasem. I Wario lalu mengumpulkan sekalian kawan-kawannya, penari-penari dan tukang-tukang gamelan. Ketika khabar itu disampaikan pada mereka, semuanya berbesar hati, karena dengan masuknya Pandan Sari kembali ke dalam perkumpulan mereka sebagai tenaga yang tetap pula, berarti suatu kemenangan yang mereka harap-harap selama ini. Mereka berkumpul di rumah I Wario sampai petang membicarakan hari kemudian dan I Wario membayangkan pada mereka bagaimana harumnya nama perkumpulan itu kelak dengan penari yang dianggap yang paling baik di seluruh Bali Selatan. Mereka hendak memperlihatkan pada orang-orang di Buleleng, bahwa Bali Selatan tak mau kalah dalam kesenian tari...

I Pageh dan Pandan Sari mendengarkan bual I Wario itu dengan hati yang riang dan ketika hari sudah petang mereka (p.215) pulang hendak menyampaikan khabar girang itu kepada ayah.

I Murda mendengarkan dengan suatu senyuman yang agak tawar. Ia sudah menduga khabar itu akan menggirangkan, tetapi air mukanya lekas berobah lagi, sebagai ada sesuatu yang belum memuaskan hatinya.

Pandan Sari masuk ke dalam menukar pakaian dan mengambil gendi, hendak ke pancuran. I Pageh pun telah bersedia pula hendak ke pancuran, tetapi ayah menahan:

- Pageh...

- Saya, ayah...

- Biarlah Pandan Sari ke pancuran, kamu tinggallah sebentar, ada yang hendak kurundingkan.

I Pageh tak menjawab. Ia mengerti bahwa sekaranglah ia akan mendapat keterangan dari sikap yang kelihatan ganjil pada beberapa hari ini. Setelah Pandan Sari meninggalkan rumah, I Murda mengundang I Pageh duduk di dekatnya, di atas balai-balai di hadapan pondok.

Lama I Murda tak berkata-kata. Sambil bertekuk lutut ia memandang ke laut, sebagai mencari perkataan yang akan diucapkannya. Akhirnya ia berkata:

- Pageh, sejak semula kamu berdua menyatakan niat hendak ikut dengan I Wario, aku tak pernah menghalang-halangi. Sekedar nasehat telah kuberikan, sebagai ayah aku tak boleh ikut bergirang saja dengan kamu, kewajibanku ialah menunjukkan bahagian-bahagian yang buruk dari pekerjaan ini agar supaya kau perhatikan. Tetapi sebenarnya aku menyukai maksud itu, apalagi untuk Pandan Sari. Penghidupan baru itu tentu akan dapat menghiburkan hatinya...

(p.216) I Murda berhenti sebentar. Ia menarik tempat sirih ke dekatnya, lalu mengambil sehelai daun sirih, yang dikapuri dan digambirinya. I Pageh melihatkan pekerjaan itu dilakukan dengan sabar. Ia sedang menanti isi pembicaraan itu. Ia tahu bahwa apa yang telah diucapkan oleh ayah itu hanya sebagai pembuka jalan, tetapi isinya yang sebenarnya belum diucapkan oleh orang tua itu.

- Inilah yang hendak kubicarakan dengan kamu, Pageh, yaitu tentang Pandan Sari..., demikianlah I Murda meneruskan pembicaraannya sambil memasukkan sirih ke dalam mulutnya. Sejak khabar yang disampaikan oleh I Swasta itu aku memperhatikan dia dan nampaknya hatinya rusak benar. Sekalian tertawa riangnya itu tak dapat kupercaya, karena kelakuan itu hanya untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.

- Sebenarnyalah sebagai yang ayah katakan itu, akupun turut memperhatikan dia dan beberapa kali kulihat ia menangis seorang diri...

- Itulah yang menyusahkan aku. Ia tak boleh dibiarkan dalam keadaan begini. Haruslah diusahakan seboleh-bolehnya supaya ia dapat melupakan sekalian keajadian-kejadian yang sudah tak dapat diperbaiki itu.

- Itu sudah tentu ayah. Aku akan berdaja sedapat-dapatnya.

- Itulah yang kuharap. Sekarang ia menyatakan niat hendak menari. Ia mengajak pula kamu supaya ikut dengan dia. Hatiku sedikitpun tak kecewa karena kamu akan berada di dampingnya selamanya. Apalagi ia sebagai seorang anak perawan harus dijaga.

- Sebenarnya ayah.

(p.217) - Aku tak kecewa melepas kamu berdua, moga-moga terkabul pulalah permintaanku, dapatlah hendaknya kamu berdua untuk selama-lamanya...

I Murda berhenti lagi dan karena ia berhenti itu perkataan yang diucapkannya penghabisan itu mengandung arti yang lebih dalam bagi I Pageh. Ia terkejut. Matanya nyalang.

Apakah yang dimaksudkan oleh ayah...?

- Aku ini sudah tua, Pageh, entah besok entah lusa tetapi sebelum aku menutup mata, dapatlah kiranya aku melihat Pandan Sari mendapat pasangan... Sejak kecil ia kubesarkan bersama-sama dengan kamu dan I jaja. Sakit senang sudah sama-sama kita rasakan, tetapi kalau melihat kepada waktu yang silam itu lebih banyak kita menderita sakit dari pada senang, terutama dalam beberapa tahun yang penghabisan ini. Dan sekarang yang kuingat siang dan malam tak lain tentang Pandan Sari dan... kamu. Dapatkah terkabul keinginanku ini, sebelum aku mati...?

I Pageh terdiam.

Sedikitpun ia tak mengira bahwa inilah rahasia yang telah disimpan oleh ayahnya beberapa hari. Ia terkejut mendengarkan soal Pandan Sari itu dihubungkan dengan dirinya.

Dalam hati kecilnya sebenarnya sudah ada bibit yang hendak tumbuh, karena walaupun dengan susah payah ia membunuh cintanya terhadap Pandan Sari karena tak mau berkhianat pada I Jaya, saudaranya, namun perasaan dalam hati kecilnya terhadap gadis ini tak pernah berobah dan sesudah mendengar khabar I Jaya meninggal seakan-akan bibit yang tersembunyi dalam hati sanubarinya itu hendak tumbuh lagi, tetapi karena kematian I Jaya baru saja terjadi dan ia (p.218) sendiripun sebagai saudara merasa kehilangan pula, belumlah berani ia memikirkan hal itu, ditekannya sekuat-kuatnya, hendak diserahkannya kepada waktu. Kalau ada untungnya... Pandan Sari... tak kan ke mana...

Apalagi dalam waktu yang sedang hebat sebagai sekarang amat janggalnya kalau hal itu dimajukannya pada Pandan Sari, sebagai juga ia seorang yang tak berperasaan nampaknya...

Tetapi sekarang...!

Dengan tak terduga, ayah telah memulai membuka simpanan hatinya itu. Inilah yang mengejutkan dia. Ia tak tahu apa yang hendak dijawabnya.

- Sebenarnya hal ini belum hendak kubicarakan, waktunya yang sebenarnya belum sampai, Pageh, tetapi karena kamu berdua sudah hendak berangkat, terpaksalah aku membukanya. Maklumlah dalam perjalanan sejauh itu kamu berdua akan menghadapi banyak godaan. Bukannya aku hendak meminta jawabanmu sekarang, tetapi aku minta kau pikirkanlah dan berilah aku keputusannya kelak, kalau engkau kembali.

Bolehlah kau pandang permintaanku ini sebagai permintaan yang penghabisan. Kalau dapat kau mengabulkannya Pageh, dengan rela dan senang hati aku menutup mata kelak...

Kedua laki-laki itu sama-sama diam sesudah itu. I Murda sudah membuka puranya, apa yang terasa di hati kecilnya sudah dibentangkannya, sekarang ia ingin mendapat jawaban I Pageh. Ia menanti dengan sabar.

Tetapi I Pageh belum dapat menyatakan sesuatu jawaban yang tetap, karena soal ini sangat tiba-tiba, belum dapat (p.219) dipikirkannya. Sekedar rasa hatinya terhadap Pandan Sari, rasa hati yang terpendam sejak ia berjanji dengan Pandan Sari tempoh hari, tak dapat dibentangkannya di hadapan ayahnya. Tetapi sebagai hendak menyenangkan hati ayahnya ia berkata:

- Mudah-mudahan tercapailah sebagai yang ayah ingini itu, tetapi ayahpun mengetahui pula bahwa bukan akulah yang akan memutuskan. Putusan tentu tergantung pada Pandan Sari, kalau ia setuju...

- Tadi telah kukatakan bahwa sebenarnya waktunya belum sampai aku harus membicarakan hal ini, belum patut aku membukakan soal ini pada Pandan Sari, sedang keadaan masih kusut sebagai sekarang, tetapi karena kamu berdua akan berangkat harus kamu mengetahui hal ini. Sebab kau akan dapat meninjau hati Pandan Sari, kalau telah kau lihat bahwa ia dapat melupakan kejadian. yang sudah-sudah. Hal ini ayah serahkan padamu, Pageh.

- Baikiah ayah, mudah-mudahan

Percakapan antara kedua laki-laki itu menjadi suatu soal baru bagi I Pageh. Dengan tidak disengaja ayah telah mencungkil suatu luka yang lama, yang dengan susah payah ditutupnya selama ini, sehingga luka itu sekarang terasa kembali, lebih perih dari pada biasa. Yang menjadikan luka
itu lebih sakit dirasanya ialah karena kematian I Jaya masih belum dapat dilupakannya. Ia sebagai saudara muda yang selalu hidup rukun dengan I Jaya, I Jaya senantiasa membimbing dan menuntunnya dalam sekalian soal penghidupan.

I Jaya yang senantiasa berkorban buat dia, sejak kecil, (p.220) sampai dewasa, sampai ia dibuang berhubung pula dengan hal yang mengenai dia, dan sekarang I Jaya telah meninggal pula dalam pembuangan...,soal-soal ini amat berat menindih perasaan I Pageh.

Karena sifat ksatrya dari I Jaya itu, I Pageh segan pada saudaranya dan karena sedarah pula, iapun membalas dengan ksatryaan, ia mengalah karena I Jaya... Karena ia tahu bagaimana I Jaya dan Pandan Sari berkasih-kasihan ia menghela surut, ia berkorban dengan tidak setahu I Jaya, sampai I Jaya mati, belum diketahuinya pengorbanan adiknya yang seberat itu...

Hal ini hanya diketahui oleh I Pageh dan Pandan Sari...

Sekarang, I Jaya sudah tak ada, kesempatan seolah-olah terbuka bagi I Pageh, jalan yang tadinya tertutup sekarang sudah tak berhalangan lagi, tambah pula ayah berkehendak yang demikian. Sebahagian dari soal ini sebenarnya sudah dapat diputuskan yaitu: I Pageh dapat melangsungkan keinginan hatinya dengan tidak berkhianat pada I Jaya dan karena ia tahu pula bahwa cintanya terhadap Pandan Sari adalah cinta yang suci.

Tetapi betapakah dari fihak Pandan Sari...?

Ini belum diketahuinya. Adakah Pandan Sari berperasaan sebagai dia pula...? Dapatkah seorang gadis yang telah mencintai seorang pemuda, merobah haluannya, memindahkan cintanya pada seorang laki-laki lain, walaupun sekali laki-laki yang dicintainya itu sudah tak ada lagi...?

Ia tahu benar bagaimana Pandan Sari mencintai I Jaya.

Akan dapatkah Pandan Sari mencintai dia sebagai itu pula...?

Source

  • Andjar Asmara - Nusa Penida; Balai Pustaka Djakarta, 1949 (p.188-220)

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24