Novel 'Noesa Penida' (Asmara, 1949) Part II Ch. VII

Below article is a rendering of a novel called 'Nusa Penida' by Andjar Asmara, published in 1949. Part 2 - Chapter 6. For reasons of readability, only the spelling has been adapted to modern Indonesian spelling (Ejaan Yang Disempurnakan).

asmara nusapenida 1949

BAHAGIAN II - BAB VII / PART II - CHAPTER VII (p.170-187)

SEBAGAI semut mengerumuni gula, demikianlah nampaknya manusia yang berkumpul pada petang itu di tepi laut, di dekat perahu yang sedang diperlengkapi dan sebentar lagi akan berangkat ke Nusa Penida. Segenap isi kampung Kosamba, malah dari kampung-kampung sekelilingnya orang datang, tua dan muda, laki-laki perempuan dan kanak-kanak amat banyaknya. Mereka sama-sama hendak mempersaksikan perahu itu berangkat ke pulau yang ditakuti itu.

Sesungguhnya nama Nusa Penida mendatangkan takut pada tiap-tiap yang mendengarnya, bahkan pada kanak-kanak. Sebenarnya mereka belum mengetahui benar apa yang ditakuti di pulau itu, tetapi karena telah menjadi sebutan di dalam kampung dan mereka mendengar bahwa orang-orang yang dihukum berat dan berdosa besar dibuang ke pulau itu, mereka sangat ingin melihat dan mempersaksikan bagaimanakah kejadian yang sebenarnya kalau orang dibuang itu.

Kanak-kanak mengerumuni perahu itu dan melihat-lihat ke dalam, mengintai-intai betapakah rupa perahu yang membawa orang buangan itu. Ombak membasahi kaki mereka. Mereka berpegang di tepi perahu, mengintai ke dalam, tetapi (p.171) tiadalah sesuatu yang aneh yang kelihatan. Perahu itu hanya perahu biasa sebagai yang dipakai untuk perjalanan agak jauh.

Di atas pasir duduk berpuluh-puluh laki-laki sedang bercakap-cakap perlahan-lahan. Mereka duduk sebagai menanti, menanti sesuatu yang akan datang. Sekali-sekali mereka melihat ke jalan kampung, tetapi belum juga nampak yang mereka nantikan itu.

Di dekat perahu itu duduk beberapa orang perajurit. Tombak mereka ditanamkan dipasir, sehingga di sana sini tampaklah ujung tombak yang tajam itu menonjol ke atas. Mereka diwajibkan menjaga keamanan, tetapi tiadalah perlu mereka bertindak atau berkeras, sebab keadaan pada waktu itu malah aman luar biasa, kalau dilihat pada kelakuan orang-orang yang duduk sedang menanti itu, seorangpun tak nampak berniat jahat. Dilihat pula di tepi tebing yang agak jauh dari perahu itu nampaklah berpuluh-puluh perempuan sedang duduk berjejer menanti pula. Ada yang menyusukan anak, ada yang menjunjung keranjang, dari pasar dikelokkan kemari.

Kalau yang akan berangkat ke tempat pembuangan itu bukan I Jaya, tetapi seorang penjahat besar, seorang yang kejam, pembunuh orang, yang sudah selayaknya menerima hukuman itu, boleh jadi orang-orang yang sedang menanti di tepi laut ini tak kan seaman itu, tetapi sampai kini orang kampung masih merasa heran, sebagai tak percaya akan kejadian itu. I Jaya membunuh orang...? Ia dibuang...?

Hal yang demikian tak disangka, hampir tak masuk di akal mereka, I Jaya yang mereka kenal sebagai seorang pemuda (p.172) yang berkelakuan amat baik, amat disayangi oleh kawan-kawannya, bahkan oleh orang-orang tua dalam kampung itu.

Mereka kenal pada I Jaya sejak kecil hingga dewasa, rasa-rasa nampak di mata yang tua-tua ia bermain-main, berlari-lari di seluruh kampung. I Jaya termasuk dalam kalangan kanak-kanak yang nakal juga tetapi belum pernah terdengar ia melakukan sesuatu kelakuan yang tak baik yang melanggar watas kesopanan dan peradaban. Kerap kali pula ia berkelahi, tetapi manalah kanak-kanak yang tak pernah berkelahi, tetapi sampai membunuh orang..., inilah yang tak masuk di akal. Mereka sama-sama mengetahui bahwa hal itu sebenarnya terjadi, orang Karangasem itu rubuh ke tanah tak berJiwa, mati jujung senjata I Jaya, tetapi apakah hal itu boleh dianggap suatu dosa besar, sebab ia berbuat demikian karena membela adiknya dan lain dari pada itu sudah sepantasnya pula Karangasem mendapat ganjaran ketika persabungan ayam itu, karena mereka berlaku curang. Inilah pula yang menjadikan seluruh kampung Kosamba memperhatikan perkara I Jaya ketika diperiksa, berdujun-dujun mereka menonton, berhari-hari hendak mengetahui putusannya, sebab kejadian pada gelanggang sabungan ayam itu dipandang sebagai suatu hal yang mengenai kehormatan seluruh kampung...

Seluruh kampung pada waktu itu menegaki I Jaya ketika perkaranya diperiksa, ketika ia mengaku terus terang bahwa ia berkelahi dan orang Karangasem itu terbunuh olehnya, tidak disengaja. Banyak di antara mereka yang mengerti banyak sedikit dari hal pengadilan rapat Kerta meramalkan bahwa I Jaya boleh mendapat hukuman enteng, tetapi alangkah terkejut mereka ketika mendengar hukuman (p.173) buang yang telah diputuskan oleh raja. Mereka yang agak mengerti itu heran apa sebab hukuman seberat itu dan mereka yang masuk golongan orang kampung biasa menggoyang-goyangkan kepala, walaupun tak dapat menimbang berat entengnya hukuman itu, tetapi pikiran mereka terutama ditujukan pada nasib I Jaya yang harus menderita bertahun-tahun di tempat pengasingan, I Jaya yang semuda itu...

Sesudah terdengar putusan pembuangan itu, nasib I Jaya yang malang ini menjadi pembicaraan di dalam kampung, teristimewa karena perkara I Jaya dianggap suatu kejadian yang mengenai seantero penduduk kampung, I Jaya dianggap sebagai pembela kehormatan kampung Kosamba, dan sekarang ia sendiri yang menjadi korban, yang harus menjalani hukuman bertahun-tahun di Nusa Penida...

Bagi orang-orang kampung terasa berat hukuman itu, terasa bahwa ada sesuatu yang tak adil, yang tak benar, tetapi perasaan mereka itu terasa ada terkatakan tidak...

Tidak pula mengherankan kalau pada petang ini, waktu I Jaya akan diantarkan dengan perahu ke Nusa Penida diiringkan oleh perajurit, penduduk Kosamba menghitam di tepi laut. Mereka akan sama-sama melepas seorang pemuda yang telah membela adik, membela kehormatan kampung menuju ke suatu tempat pengasingan di mana ia akan terpisah dari kaum kerabat, handai dan taulannya...

Mereka sama-sama merasa bahwa suatu putusan yang tak dapat mereka artikan, sedang dijalankan, sedang untuk membantah atau menghalangi mereka tak berkuasa. Banyak pula perkara perampokan pembunuhan yang lebih hebat, malah berterang-terang dengan maksud hendak mengambil (p.174) jiwa manusia tidak dihukum seberat ini, tetapi apa sebab I Jaya harus dibuang bertahun-tahun...

Entahlah...!

Tak seberapa jauhnya dari perajurit-perajurit tadi nampaklah sebuah lingkungan besar yang terdiri dari orang-orang tua yang duduk bersila di atas pasir. Golongan ini merupakan suatu golongan yang tersendiri, hampir tak bercampur dengan yang muda, terkecuali dari beberapa kanak-kanak yang masih terlalu kecil yang belum diizinkan mendekati perahu atau bermain-main ombak, tetapi berpangku pada ayah mereka masing-masing. Sambil mengunyah-ngunyah sirih dan merokok mereka bercakap-cakap dengan Pak Murda yang duduk di tengah-tengah mereka.

Mereka berhimpun mengelilingi Pak Murda itu sebenarnya hendak menghiburkan hati orang tua itu, hendak meringankan kemalangan yang menimpa dirinya, tetapi kalau melihat pada cara Pak Murda duduk dengan sabar, malah kadang-kadang ikut tertawa kalau ada salah seorang di antara sahabat-sahabatnya yang tua berolok-olok, tiadalah nampak suatu kesedihan yang membayang pada mukanya, kelakuannya nampak sebagai seorang sabar, malah luar biasa tenang dan sabar.

Walaupun, kalau dapat orang meninjau hatinya, akan terlihatlah hati yang remuk, karena hebat penderitaan yang dialaminya, namun yang membayang pada mukanya adalah kesabaran semata-mata. Duka nestapa yang diderita oleh I Murda yang bertimpa-timpa dalam beberapa pekan ini adalah sedemikian hebatnya sehingga orang tak dapat meninjaunya. Belum dapat ia melewatkan kehilangan Gusti Ayu dari penghidupannya tiga beranak, perkelahian di (p.175) gelanggang mengadu ayam itu terjadi dan... I Jaya membunuh orang! I Jaya ditangkap dan beberapa hari kemudian perkaranya diperiksa, lalu terdengarlah putusan yang dijatuhkan itu, yaitu hukuman buangan ke Nusa Penida...!

Sekalian hal ini terjadi berturut-turut, beberapa malam I Murda tak dapat memicingkan mata barang sekejappun. Membunuh orang dan dihukum pula ke Nusa Penida... dua kejadian yang terlalu hebat bagi seorang bapa yang telah mendidik anaknya dengan kejujuran sejak kecil sampai dewasa. Tak masuk di akalnya I Jaya akan berbuat demikian kalau tidak terpaksa, kalau tidak dalam keadaan gelap mata. Ia lebih mengetahui fiil anaknya dari pada seorang lain, I Jaya darah dagingnya sendiri, dibesarkan di hadapan matanya, ia telah memindahkan sifat-sifatnya yang baik pada anak ini, sekarang anak yang disayanginya menjadi pembunuh karena keadaan, sekarang anak ini akan bercerai dengan dia, akan menuntut penghidupan sebagai seorang buangan di tempat yang terasing...

Karena hebatnya kejadian-kejadian ini beberapa hari ia sebagai seorang yang linglung, tak tahu apa yang hendak dibuatnya, tak tahu apa yang akan dipikirkannya. Setelah beberapa kali dan beberapa hari dipikirkannya, dibulak-balikkannya pikirannya, ia tak mendapat suatu jalan akan mengatakan bahwa anaknya seorang jahat, lain dari pada penyesalan, apa sebab I Jaya tak dapat menahan hatinya, apa sebab ia tak sabar ketika perkelahian itu terjadi dan memikirkan akibat apa yang boleh terjadi kalau menurutkan darah panas... Tetapi kalau dimisalkannya pula ia sendiri pada waktu itu yang berkelahi dan bukan I Jaya dan ia menampak di hadapan matanya seorang musuh (p.176) hendak berbuat curang, hendak menikam adiknya dengan pisau dari belakang, entah apalah pula yang akan terjadi...

I Jaya itu anaknya, darah dagingnya, belahannya, ia telah menurunkan sifat baik, sifat sabar dari ayahnya, tetapi suatu sifat pula yang ditirunya dari ayahnya ialah sifat setia dan sifat pembela. Bukan sekali dua kali ia memperhatikan kejadian yang demikian, tetapi selama ini kejadian-kejadian yang membuktikan sifat-sifat itu pada I Jaya adalah kejadian-kejadian kecil saja, sejak mula ia menjadi kanak-kanak dan tidaklah pernah terjadi kejadian yang hebat sebagai sekarang, sampai suatu jiwa melayang...

Inilah yang ia sesalkan, tetapi penyesalan itu diikuti pula dengan suatu pengartian yang memuaskan. I Murda mengerti benar apa yang telah terjadi dan apa sebab I Jaya berbuat demikian, tiadalah disebabkan oleh sesuatu niat yang salah dan semata-mata karena membela dan ketetapan ini mendatangkan kepuasan bagi I Murda. Walaupun betapa hebatnya kejadian yang menimpa dirinya itu, kepuasan itu dapat memberi ketenangan pikirannya. Suatu hal yang tak dapat dielakkan, yaitu ia akan bercerai dengan anaknya, tetapi ia tahu bahwa anaknya bukan orang jahat, inilah yang menjadi obat bagi Pak Murda dan inilah pula yang menjadikan ia sabar dan tenang.

Beberapa orang perempuan datang meletakkan bungkusan yang berisi makanan di hadapan Pak Murda. Ada yang membawa buah-buahan, ada yang meletakkan bungkusan nasi yang ditarohkan di dekat beberapa bungkusan yang telah ada sejak tadi. Sumbangan-sumbangan ini dimaksudkan sebagai bekal I Jaya ke tempat pengasingannya. I Murda menerima dengan air muka yang menunjukkan terima (p.177) kasihnya. Terharu hatinya melihat orang-orang kampung turut merasakan kesedihannya yang ditunjukkan dengan cara sumbangan yang berbagai-bagai macam itu. Sumbangan-sumbangan itu menunjukkan pula bahwa I Jaya seorang pemuda yang dikasihi dan disayangi di dalam kampung itu. Makin lama sumbangan-sumbangan itu menjadi semakin banyak bertumpuk di hadapannya.

I Murda agak kepayahan menerima sekalian pemberian yang lama-lama bertumpuk merupakan sumbangan di sesuatu peralatan... Ia bangununtuk menerma dan menotoh bungkusan-bungkusan itu, sambil menggerutu:

-- Ke mana I Pageh tadi, tak kelihatan..., bukannya ia membantu aku...

I Pageh pada waktu itu duduk jauh terpisah dari orang-orang tua itu. Ia duduk seorang diri, menjauh, memisahkan diri dari orang-orang yang beramai-ramai itu, bersendiri dengan pikirannya yang larut, yang tak dapat dibulatkannya di antara orang sebanyak ini.

Pak Murda, sebagai seorang tua yang kerap kali berjoang dalam penghidupannya, yang bukan sekali dua kali menempuh gelombang yang hebat sebagai ini, telah dapat menerima, telah dapat menyabarkan hatinya, walaupun ia akan kehilangan seorang anak yang disayangi, tetapi bukan demikian halnya dengan I Pageh yang masih saja belum mendapat ketenteraman, yang belum dapat mengartikan sekalian kejadian-kejadian hebat yang sekarang akan berakhir dengan pembuangan saudaranya. Suatu penyesalan yang mengusutkan pikirannya ialah karena ia yang berkelahi, saudaranya yang menebus dosa...

Ia yang memulai perjoangan dengan orang Karangasem, ia yang menantang, (p.178) tetapi apa sebab seorang dari mereka harus mati di ujung senjata kakaknya I Jaya, sehingga I Jaya yang harus dibuang ke Nusa Penida, apa sebab bukan dia yang menjalankan penebusan dosa itu, apa sebab kesalahan itu harus diberatkan pada I Jaya...

Dalam hati I Pageh adalah perasaan malu yang tak dapat terkatakan, malu serta gemas. Malu ia pada kakaknya, sebab bukan sekali dua kali I Jaya membela ia dalam perjoangan, dalam perkelahian atau pertengkaran dengan orang lain. I Jaya sebagai dilahirkan untuk membela dia kalau ia dalam bahaya dan sekarang I Jaya akan berangkat ke tempat pengasingan untuk menderita bertahun-tahun, karena dia pula...

I Pageh merasa sebagai tak patut hukuman ini harus dijalani oleh I Jaya, walaupun terang bahwa orang Karangasem itu mati karena I Jaya, biarpun sekali dalam pemeriksaan bukan dia yang menjadi pesakitan, melainkan I Jaya. Dalam hati I Pageh masih tetap bahwa perkelahian itu terjadi karena dia dan oleh sebab itu harus dia pulalah yang memikul sekalian akibatnya...

Hari ini I Jaya akan berangkat ke Nusa Penida...

Artinya mereka akan berpisah, ia akan kehilangan suadara..., saudara yang disayanginya,saudara yang dibutuhinya... Terkenanglah ia akan penghidupan mereka bertahun-tahun bersama-sama sejak kecil sampai dewasa, melarat sama melarat, senang sama senang, bertiga dengan Gusti Ayu... Alangkah kejam nasib yang menimpa mereka pada dewasa ini...! Mulanya Gusti Ayu yang menghilang dari pergaulan mereka, sekarang I Jaya akan pergi pula, tingallah ia seorang diri... Tengah mengecap penghidupan yang gembira, bertiga, (p.179) berempat dengan ayah, sekonyonyong-konyong nasib malang menimpa mereka sebagai angin badai yang sangat hebat memecahkan perahu mereka di panas matahari yang terang benderang, mereka terhempas mereka terhempas terbanting, bercerai berai, yang satu ke sana, yang lain ke mari..., pecahlah persatuan mereka sejak kecil, terputuslah penghidupan bersama yang sangat gembra, yang tak kan kembali lagi...

I Pageh tak habis tanya apa sebab nasib mereka sekejam itu. Ia menoleh ke belakang melihat orang berbanyak-banyak itu, yang hendak melepas I Jaya, tetapi dalam hatinya ia berkata: „Kamu sekalian tak kan dapat memulangkan kehilanganku, mengobati hatiku yang luka...!

Tiba-tiba dilihatnya orang banyak itu sama bergerak, bangun dari duduknya, semua melihat ke jalan kampung I Jaya telah sampai!Perempuan-perempuan bertebaran,laki-laki sama-sama menyingkir dan kanak-kanak berlarian menyongsong rombongan yang datang itu.

I Jaya berjalan di hadapan sekali dengan tangan terikat, diiringi oleh beberapa orang perajurit yang bersenjata tombak. Perajurit-perajurit ini berteriak-teriak menghalau kanak-kanak yang mendekat atau menghalangi jalan. Mereka berjalan turun dari jalan kampung sampai ke tepi pantai melalui pasir yang tebal menuju ke perahu. Semakin dekat mereka ke perahu itu rombongan yang mengiringkan semakin besar dan setelah sampai ke dekat perajurit-perajurit yang menjaga perahu itu mereka berhenti dan pada tempat itu pulalah I Jaya berdiri di hadapan ayahnya.

Kedatangan I Jaya tadinya tiadalah merupakan orang yang bersusah hati. Ia berjalan dengan langkah yang tetap, dengan dada dibusungkan, sedikitpun tak merupakan takut (p.180) atau khawatir, dengan hati berani ia menentang, menyongsong hukuman yang dijatuhkan padanya itu, tetapi ketika ia berdiri di hadapan ayahnya, badannya dirasanya lemas, tegaknya membungkuk, kepalanya ditekurkan.

I Murda lalu menuju pada perajurit yang sedang memberi perintah pada kawan-kawannya dan pada jurumudi supaya lekas bersiap hendak berangkat.

- Jro, bolehkah aku bercakap-cakap sebentar dengan I Jaya? tanya I Murda dengan hormat pada perajurit yang kelihatannya sebagai kepala dari rombongan itu.

- Siapa kamu?

- Aku I Murda, ayah I Jaya.

- Oh, boleh, tentu boleh, tetapi janganlah terlalu lama, sebab kami hendak berangkat sebelum matahari terbenam. Hai, kamu! demikian ia memerintah pada seorang perajurit, inilah orang tua I Jaya, ia hendak bertemu sebentar dengan anaknya, kamu harus menjaga!

Prajurit itu lalu mengiringkan I Murda ke tempat I Jaya yang sedang berdiri dikerubungi orang banyak. Orang banyak itu lalu diusir, disuruh jauh sehingga tertinggallah ayah dan anak berhadap-hadapan, dijaga oleh seorang perajurit yang berdiri di belakang I Jaya.

- Jaya..., kata I Murda dengan suara perlahan. Kamu sekarang akan berangkat 'nak,... ayah tak memberi suatu apa lain dari pada pesan supaya engkau berhati-hati...

Suara I Murda hilang-hilang timbul. Sejak tadi ia turut bercakap-cakap beramai-ramai dengan kawan-kawannya, tak kelihatan kesedihannya barang sedikitpun. Dalam hatinya telah dikarangnya apa yang hendak dikatakannya pada (p.181) anaknya, kalau telah sampai saatnya mereka akan berpisah, tetapi apa sebab sekarang ia tak dapat mengeluarkan perkataan, tak dapat berbicara... Mulut Pak Murda sebagai terkunci, ia tak dapat berkata-kata lagi, melainkan air matanya yang berhamburan. Ia maju dengan cepat ke hadapan, dipeluknya I Jaya sekeras-kerasnya, melepaskan tangisnya yang sudah tak tertahan. Berpuluh tahun sejak anak ini besar, barulah sekali ini ia memeluk I Jaya lagi dan ketika ia menepuk-nepuk punggung I Jaya terasalah olehnya air mata yang panas mengalir pula di punggungnya sendiri, yaitu air mata I Jaya...

- Ayah, ampuni aku ayah... kata I Jaya dengan tersedu-sedu.

- Mudah-mudahan engkau selamat, 'nak..., biarlah kita sama-sama menangung nasib yang malang ini...

Pada waktu itu terasalah oleh I Jaya dan I Murda ada yang memegang kaki mereka dengan sekuat-kuatnya. Maka terdengarlah suara I Pageh berteriak:

- Kak Jaya, kak Jaya...! Bawalah aku, aku jangan ditinggal...! Apa sebab kakak yang harus dihukum, aku, aku ini yang bersalah...!

I Pageh meraung, melulung sambil memegang kaki ayah dan kaki saudaranya. Ia menyesali I Jaya, menyesali untung, ia bersedia pula berkorban, tetapi apa sebab tak boleh... ini dirasanya tak adil...

Maka bertangis-tangisanlah ketiga laki-laki itu, sebagai tak mengenal malu lagi. Orang-orang kampung yang berdiri agak jauh dan tak dibolehkan dekat pada I Jaya melihatkan keadaan itu dengan terharu; golongan laki-laki tak berkata suatu apa, melainkan menggelengkan kepala, ada yang (p.182) menekur karena tak tahan melihat, ada yang menggigit bibir, tetapi kalau melihat di golongan perempuan banyak di antara mereka yang turut mengucurkan air mata.

Sesudah itu maka datanglah saat yang sangat kejam dalam sesuatu perpisahan, yaitu saat ketika orang lain menetapkan bahwa yang berangkat harus berangkat, menarik dia dari pada yang tinggal. Mereka sama-sama tahu bahwa saat ini akan datang, tetapi walaupun demikian, ketika kepala perajurit itu memegang bahu I Jaya dan menarik dia naik ke perahu, pada saat itu I Jaya merasa benar-benar apa yang ditinggalkannya. Karena tangannya terikat ia tak dapat berbuat apa-apa, tetapi seruan hatinya sebagai anak melemahkan kedua lututnya lalu bersujud di hadapan ayahnya. I Murda lalu memegang kepala I Jaya sekali lagi dan I Pageh memeluk mencium kakaknya untuk penghabisan kali...

Pada waktu itu terasa sekali lagi kepala perajurit itu menarik badan I Jaya, sambil berkata:

- Sudahlah Jaya, kita sudah siap hendak berangkat, jangan kita kemalaman...!

Perkataan ini diucapkan oleh kepala perajurit itu dengan lemah lembut karena ia mengetahui betapa rasa perpisahan dari ayah dan saudara itu, tetapi walaupun demikian suaranya terdengar sebagai tak boleh dibantah lagi.

I Jaya lalu berdiri, tegak lurus lalu memutar badannya dan berjalan dengan langkah yang tetap mengiringkan kepala perajurit itu menuju ke sebilah papan yang dijadikan tangga, lalu naik ke atas perahu. Kepala perajurit itu memberi perintah kepada jurumudi, jurumudi memerintahkan mengangkat papan itu kepada anak buahnya dan sebentar lagi terlepaslah perhubungan antara darat dan laut.

Jangkarpun diangkat dan beberapa anak perahu dengan sigap bertekan atas galar-galar yang panjang menjauhkan perahu itu dari daratan. Terbawa karena ombak tak lama kemudian perahu itu telah terapung diatas air.

I Jaya berdiri lurus melihat ke darat, kepalanya dibuangkan ke kuduk, dadanya dibusungkan. Sekarang ia memulai perjalanan yang dekat tetapi jauh itu: dekat letaknya pulau Nusa Penida dari Kosamba, tetapi ia akan jauh dari ayah, sanak saudaranya... di pulau yang kering dan berbatu itu ia akan memulai penghidupan baru, menuntut penghidupan seorang diri... jauh dari mereka yang dikasihinya...

I Jaya melihat ke darat, melihat ayahnya dan I Pageh yang sekarang berdiri di tepi, sehingga kaki mereka dibasahi ombak. Orang-orang kampungpun telah rapat ke tepi, berdiri di belakang I Murda. Mereka melambai, ada yang berteriak selamat...!

Sebagai pemandangan penghabisan I Jaya melihat sekalian itu, sebagai hendak di pakukannya dalam kenang-kenangannya. Akan dapatkah ia melihat dan bertemu lagi dengan orang-orang ini...? Ia melihat teman-teman sejawatnya yang sepermainan sejak kecil. Siapa kira ia akan terpisah dari mereka dengan jalan sebagai sekarang...

Tiba-tiba I Jaya terkejut, apakah yang dilihatnya di daratan...?

Dari jalan kampung nampak seorang perempuan berlari-lari menuju ke tepi laut. Di belakangnya berlari pula beberapa orang laki-laki. Perempuan itu melambai-lambai, berteriak-teriak sambil berlari. Setelah dekat perempuan itu, jantung I Jaya sebagai terhenti berdebar.

(p.184) Gusti Ayu!!!

I Jaya berteriak, menjerit: "Gusti Ayu...!"

Orang-orang yang berkumpul di tepi pantai itu sama-sama terkejut lalu menoleh ke belakang. Sebenarnya Gusti Ayu Pandan Sari sedang berlari menuju ke tempat mereka berdiri, melambai-lambai seakan-akan hendak menahan perahu itu.

- Kak Jaya...! Kak Jaya...!

I Jaya gugup, ia menoleh ke kiri dan ke kanan sebagai meminta pertolongan. Kepala perajurit yang berdiri di dekatnya melihatkan keadaan itu dengan heran, tetapi dalam ia heran ia menggelengkan kepalanya dengan tetap, sebab ia mengerti apa yang diharapkan oleh I Jaya. I Jaya menoleh pula kepada jurumudi, tetapi jurumudi ini menunjukkan dengan isyarat bahwa ia tak berkuasa, terserah pada kepala perajurit. Dengan empu tangannya ditunjuknya kepala perajurit itu: kalau I Jaya berkehendak supaya perjalanan dihentikan ia harus meminta pada yang berkuasa itu. Ia sebagai jurumudi hanya menjalankan perintah saja.

I Jaya menoleh lagi kepada kepala perajurit sambil memohon dengan suara yang sayup-sayup sampai:

- Jro, jro, tolonglah hentikan dahulu perahu ini, adik saya datang hendak bertemu...! Tolonglah, tolong! Sebentar saja...!

Walaupun pada air mukanya kelihatan bahwa kepala perajurit itu ikut terharu, tetapi pada muka itu juga dapat dibaca bahwa ia menjalankan kewajiban sebagai mestinya. Ia tak berkata suatu apa, selain dari pada menggelengkan kepalanya. Gerakan kepala itu demikian tetapnya sehingga habislah harapan I Jaya... Ia menoleh ke (p.185) bawah melihat Gusti Ayu yang berdiri di tepi hanya beberapa langkah jaraknya dari tempat ia berdiri, tetapi tak dapat dipegangnya, tak dapat dipeluk, ditekankannya kepala gadis itu kedadanya... Dengan isyarat mata yang dijelaskannya kepada Gusti Ayu bahwa ia tak mendapat izin bertemu atau turun sebentar.

Gusti Ayu nampaknya sebagai orang kehilangan akal. Ia merancah, masuk ke dalam air, sebagai hendak berenang, memaksa naik ke atas perahu itu. Dengan sigap I Pageh tampil ke muka memegang bahunya dari belakang, sehingga Gusti Ayu tak dapat maju lagi. Ia mengacung-acungkan kedua tangannya ke jurusan I Jaya sambil berteriak-teriak:

- Kak Jaya, Kak Jaya, lekas kembali! Baginda telah mengatakan kakak ada harapan untuk diampuni selekasnya, jangan tidak kakak kembali.

- Baik, Gusti Ayu, baiklah, aku kembali, aku tentu kembali! Sabar sajalah!

Sebenarnya perkataan ini diucapkannya semata-mata hendak menjenangkan hati Gusti Ayu, tetapi hati kecilnya berkata: apalah gunanya aku kembali, kalau kau akan tetap di dalam istana...

- Kak Jaya, aku telah lepas dari istana...! Aku telah dibolehkan pulang dan aku... aku bukan Satrya lagi, aku telah masuk Sudra atas mauku sendiri... Lekas kembali kak Jaya...! Gusti Ayu berteriak dengan nafas sesak.

Pulang...? Lepas dari istana... dan telah masuk Sudra...? Keterangan-keterangan ini mendatangkan akibat yang terlalu hebat dalam kalbu I Jaya.

(p.186) Sekalian halang-halangan selama ini telah disingkirkan dengan sekejap mata. Gusti Ayu bukan Gusti Ayu lagi, melainkan Sari, Pandan Sari, sebangsa, sederajat dengan dia

Dan putusan ini datangnya pada saat layar telah terkemban,perahu sudah bergerak hendak membawa mengasingkan dia...! Alangkah kejamnya! Matanya terbelalak karena heran, karena girang, sesaat datang pikirannya hendak terjun, hendak menghambur ke bawah, tetapi dirasanya kepala perajurit yang berdiri di sebelahnya memasang telinga dan matanya dengan berhati-hati. Tak mungkin pekerjaan sia-sia itu dilakukannya. Kalau ia terjun, kalau ia lari tentulah tombak yang akan menjadi bahagiannya...!

Putus dalam hatinya bahwa sabarlah yang akan mendatangkan selamat dalam keadaan semacam ini.

- Baik Sari, aku akan kembali, aku lekas kembali! Sabarlah engkau menantikan!

- Aku akan menantikan kakak, aku nantikan sampai kembali, jangan lama kak...!

Selama mereka bercakap-cakap sebagai orang putus asa itu orang-orang di sekeliling mereka sebagai dalam bingung, terharu mendengarkan, sehingga anak-anak perahu, jurumudi, bahkan kepala perajurit itu turut berdiam diri, tak bergerak, tak berkata. Tetapi kemudian kepala perajurit itu ingat akan kewajibannya, lalu memberi isyarat pada jurumudi supaya lekas berangkat. Maka terdengarlah suara perintah jurumudi itu pada anak-anak perahunya. Semuanyapun bergerak dan perahu itu rengganglah, semakin lama semakin jauh dari tepi.

(p.187) Pada saat perahu itu renggang I Jaya dan Pandan Sari berpandangan mata terus-menerus, sebagai juga mereka tak hendak membiarkan saat yang penghabisan itu lewat dengan tak terisi. Saat yang penghabisan itu, saat kenang-kenangan mereka berpandangan mata menyatakan setia seumur hidup, setia sehingga mati. Tak suatu patah lagi yang diucapkan, mereka hanya mengadu perasaan, seorang dari tepi pantai, menengadah ke atas, yang seorang lagi dari tepi perahu melihat ke bawah...

Renggang perahu, renggang mata, orang-orang di darat nampaknya semakin kecil, layar yang telah terpasang ditiup angin, perahu berputar lalu bergerak...

Pandan Sari tak menampak I Jaya lagi karena perahu telah berputar. Dan pada saat kekasihnya itu hilang dari matanya, pada saat itu pula dirasanya tenaganya habis. Ingatannya hilang, matanya lemas tertutup...

Dengan sigap ia disambut oleh I Pageh, dipangku dan didukungnya dengan kedua tangannya. I Pageh memutar badannya menuju ke darat, menuju pulang, diiringkan oleh orang-orang kampung yang kecemasan dan terharu...

Perahu berlajar semakin jauh, menuju ke Nusa Penida membawa muatannya seorang muda belia, menuju ke Selatan dengan cepatnya, dan pada saat itu pula serombongan manusia berjalan ke Utara, mengikutkan gadis yang sudah tak kenal dirinya digendong diiringkan pulang, pulang hendak menanti, menanti dengan setia, setia sehingga mati!...

Source

  • Andjar Asmara - Nusa Penida; Balai Pustaka Djakarta, 1949 (p. 170-187)

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24