Nusa Penida (Ratna, 1991)

Below article discusses the novel 'Nusa Penida' (1949) by Andjar Asmara in an article by I Nyoman Kutha Ratna (1991) in relation to Balinese Society. Notes (catatan), in the original given at the end of the article, have been introduced immediately after the paragraph in question wherever possible. Additional remarks by the author G.Dijkman are given in square brackets. The original novel 'Nusa Penida' is available in pdf.

asmara-nusapenida-1949Image right: 'Nusa Penida' (cover), novel by Andjar Asmara (1949)

This introduction is partly based on Kutha Ratna's article. Andjar Asmara, pseudonym for Abisin Abas (Alahan Panjang, Central Sumatra, 26 February 1902 - 20 October 1961) wrote 'Nusa Penida' in 1949. It is a novel, which relates extensively on the life of the Balinese people. Issues discussed are feudalism, the conflict between castes, and love. The tale is set in the end of the 19th century where the island was used as an exile colony for the inhabitants of the Kingdom of Klungkung.

The spelling of the title is perhaps odd, as the spelling at that time, i.e. before the new spelling ('ejaan yang disempurnakan' introduced in 1972), may still have dictated 'Noesa Penida'. In fact, the film produced after this novel probably in 1988 retains the old spelling: 'Noesa Penida, Penida Islands'.

Although the novel is about the lives of the common Balinese people, it is not very well known amongst the Balinese themselves, let alone amongst academics, especially at the Faculty of Letters at Udayana University, Denpasar. This novel seems to have been labelled 'regional literature', and for this reason it may be lacking widespread (inter)national attention.

The novel discusses rather poignant conflicts. It is thought that the solutions for various kinds of conflicts proffered by the author are accompanied by sharp criticism on feudalism and upper caste class system and that this is the reason why this novel has not been received well. This is not strange, in the light of the subsequent ban on the film 'Noesa Penida, Penida Islands' taken from it, by Galeb Husin (1988?).

Balinese society is considered to be an open-minded one, especially given the rise of tourism in Bali. Hence, Balinese society is thought to be much more open-minded than areas elsewhere in Indonesia. Hence, it is considered to grasp differences between various aspects of life. However, it is thought that the basic principle of fantasy underpinning literature and its mission in its broadest sense as an instrument for writers to show their version of the truth is not widely understood by the Balinese. I Nyoman Kutha Ratna states that the Balinese do not understand the difference between fantasy and non-fantasy.

Below follows the original Indonesian article, a full English translation by G.Dijkman is forthcoming. 

1. Pendahuluan

Pulau Bali adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah timur pulau Jawa. Pulau dengan luas 5.550 km2 dengan jumlah penduduk sekitar tiga juta jiwa, pada akhir-akhir ini banyak dibicarakan sehubungan dengan usaha-usaha pelestarian aspek-aspek kebudayaannya. Hal ini terjadi mengingat bahwa pulau Bali merupakan salah satu wilayah yang cukup potensial sebagai pendukung sektor Industri pariwisata di Indonesia. Para ahli mengkhawatirkan bahwa aspek-aspek kebudayaan yang bernilai tinggi akan cepat punah apabila usaha-usaha penanggulangannya tidak dilakukan secara dini dan berkesinambungan.

Karya sastra pada umumnya dalam hubungan ini dapat menunjukkan peranannya, meskipun dalam batas yang tidak terlalu luas dan menentukan. Sebagai karya seni, sesuai dengan hakikatnya, karya sastra merupakan salah satu alat untuk mengabadikan aspek-aspek kebudayaan dan kemudian manjelaskannya kepada masyarakat yang lebih luas. Jelas dalam hal ini sastra daerah masing-masing lebih memegang peranan, tetapi dari segi penyebarannya yang dapat dicapai, maka sastra Indonesia mempunyai jangkauan yang lebih luas.

Tidak banyak karya sastra Indonesia modern yang membicarakan aspek-aspek kebudayaan Bali. Seperti juga daerah-daerah lain di Indonesia, aspek-aspek kebudayaannya lebih banyak ditulis dan dibicarakan dalam khazanah sastra daerah dengan bahasa daerahnya masing-masing. Di pulau khususnya, aspek-aspek kebudayaan (p.2) tersebut sebagian besar ditulis dengan aksara Bali dalam bahasa Bali dan Jawa Kuna. Lebih daripada itu, aksara dan bahasa tersebut masih hidup subur dalam masyarakat.

Sastra Indonesia modern yang mula-mula yang membicarakan aspek-aspek kebudayaan masyarakat Bali ditulis secara agak luas oleh Anak Agung (I Gusti Nyoman) Panji Tisna (1), yang kemudian dilanjutkan oleh Rasta Sindu, Putu Wijaya, dan Putu Aryatirtawirya. Pengarang lain yang juga mangambil masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat Bali adalah Gerson Poyk, Faizal Baraas, Putu Setia, Imam Supardi, dan Nur Sutan Iskandar. Dalam penelitian ini akan secara singkat aspek-aspek kebudayaan Bali sesuai dengan imajinasi Anjar Asmara dalam novelnya yang berjudul Nusa Penida [1949].

Catatan 1. Novel-novel karangan Panji Tisna, antara lain: a) Ni Raw it Ceti Penjual Orang (Balai Pustaka, 1936); b) Sukreni Gadis Bali (Balai Pustaka, 1936); c) I Suasta Setahun di Bedahulu (Balai Pustaka, 1938); d) Dewi Karuna (Medan, 1938); e) I Made Widjadi (Kembali kepada Tuhan) (BPK, 1955)

2. Novel Nusa Penida, kerangka cerita dan permasalahannya

Seperti disebutkan di atas, novel Nusa Penida dikarang oleh Anjar Asmara. Pengarang ini sering menggunakan nama samaran Abisin Abas dan sesungguhnya merupkan salah seorang pelopor dalam dunia drama Indonesia modern, sutradara komedi stambul Dardanella. Anjar Asmara lahir 26 Februari 1902 di Alahan Panjang, Sumatra Tengah.

Cerita disusun berdasarkan alur lurus yang diperankan oleh Gusti Ayu Pandan Sari sebagai tokoh utama. Tokoh-tokoh penting yang lain adalah I Jaya, I Pageh, I Murda, dan sejumlah tokoh yang lain yang berfungsi sebagai tokoh-tokoh pelengkap. Latar ceritanya adalah pulau Bali (terutama daerah pemukiman nelayan di Kosamba) dan Nusa Penida. Data sejarah menunjukkan bahwa cerita yang dilukiskan diperkirakan terjadi di sekitar abad ke-19, yaitu ketika pulau Bali masih diperintah (p.3) oleh para raja. Kepulauan Nusa Penida pada waktu itu berada di bawah kekuasaan kerajaan Klungkung dan pulau tersebut digunakan sabagai tempat pembuangan bagi orang-orang hukuman.

Masalah-masalah yang dikemukakan dalam novel Nusa Penida dapat digolongkan ke dalam dua kelompok yaitu masalah-masalah yang positif dan negatlf. Masalah- masalah yang positif, antara lain: percintaan, kebebasan, harga diri, dan kejujuran. Di pihak lain, masalah-masalah yang negatif, antara lain: perbedaan kasta, feodalisme, kekuasaan, keserakahan dan poligami. Dikaitkan dengan keterlibatan tokoh utamanya, novel Nusa Penida mengemukakan dua masalah yang cukup kuat, yaitu percintaan sebagai masalah yang positif, dan perbedaan kasta sebagai masalah yang negatif. Apabila dikaitkan dengan biografi penulisnya sehubungan dengan keterlibatan pengarang sebagai sutradara komedi stambul. Di pihak lain, masalah perbedaan kasta seringkali muncul terhadap pengarang yang bukan orang Bali.

Kerangka penyusunan cerita yang juga perlu disebutkan adalah perbedaan yang cukup tajam dalam hampir keseluruhan novel antara masalah-masalah yang positif dan negatif di atas. Cara seperti ini pun sesungguhnya dapat dikembalikan kepada penulis yang terbiasa menyusun kerangka cerita untuk berbagai pertunjukan. Dalam Nusa Penida, sejak awal cerita pengarang telah mencoba memasukkan kedua masalah yang bertentangan tersebut secara jelas, yaitu pada tokoh raja I Gusti Ketut Alit Rai yang sangat jujur. Di pihak lain, betapa pun kejujuran seseorang masih ada juga yang membencinya, dan justru dalam hal ini kejujuran dikalahkan oleh keserakahan.

Dengan jatuhnya kekuasaan raja I Gusti Ketut Alit Rai, yaitu yang sekaligus menandakan kekalahan terhadap (p.4) masalah kejujuran, maka terjadilah perubahan nasib terhadap tokoh utama Gusti Ayu Pandan Sari. Pandan Sari akhirnya dipelihara sebagai anak angkat oleh salah seorang patih yang setia yang bernama I Murda. Dengan kedua anak kandungnya yang bernama I Jaya dan I Pageh, I Murda memulai kehidupan baru sebagai nelayan di Kosamba. Dalam keluarga yang miskin dan sederhana inilah pengarang melukiskan kisah percintaan yang cukup baik, yaitu antara Gusti Ayu Pandan Sari dengan I Jaya di satu pihak, dan antara Ayu Pandan Sari dengan I Pageh di pihak lain.

Dikaitkan dengan tokoh utama Pandan Sari, maka masalah yang cukup menonjol dalam novel adalah percintaan. Sebagai seorang putri raja, Pandan Sari dibesarkan dengan cinta kasih yang sangat dalam oleh I Murda bersama-sama dengan kedua anak kandungnya. Kehidupannya sangat sederhana tetapi dipenuhi oleh kebahagiaan. Suasana rumah tangga yang damai ini menyebabkan bahwa dalam diri Pandan Sari tumbuh kasih sayang, baik terhadap I Jaya dan I Pageh maupun I Murda. Kasih sayang seperti di atas, secara alamiah berubah menjadi percintaan, terutama di antara Pandan Sari dengan I Jaya.

Sebagian besar peristiwa penting dalam novel merupakan sebab akibat dengan masalah percintaan antara Pandan Sari dengan I Jaya. Lukisan percintaan ini menjadi menarik dengan hadirnya I Pageh sebagai adik kandung I Jaya yang juga mencintai Pandan Sari. Dan justru para pelaku ini tinggal dalam satu rumah, yaitu rumah keluarga nelayan yang sangat sederhana. Mereka membina kasih sayang dalam suasana kemiskinan dan kekurangan, tetapi kasih yang dihasilkan benar-benar suci dan agung. Pandan Sari membuang seluruh kemewahannya yang ditawarkan oleh raja Ida Gde Oka semata-mata untuk (p.5) memenuhi janjinya terhadap I Jaya. Di pihak lain, I Jaya melarikan diri dari Nusa Penida dan menemui ajalnya juga semata-mata untuk merebut Pandan Sari.

Masalah percintaan seperti di atas menjadi menarik dengan adanya unsur feodalisme dan pertentangan kasta. Sebagai pencipta karya sastra dengan pesan tertentu sesuai dengan permasalah yang dikemukakan (2), pengarang mencoba untuk menceritakan sebagian kehidupan para raja dan pertentangan kasta yang ada di Bali. Sebagai orang luar dalam hubungan ini pengarang bercerita secara lebih objektif apabila dibandingkan dengan pengarang yang berasal dari pulau Bali. Kehidupan para selir dalam kerajaan, perbedaan yang cukup tajam antara triwangsa dengan kasta yang paling rendah, dan berbagai kehidupan sosial yang melatarbelakanginya diceritakan secara cukup rinci oleh pengarang.

Catatan 2: Sesuai dengan konsep pandangan dunia menurut Lucien Goldmann (1978, hlm, 160)

Pandan Sari sebagai tokoh utama benar-benar hidup dalam menyelesaikan permasalahan dan konflik-konflik cerita. Secara genetis Pandan Sari memang telah dipersiapkan, yaitu sebagai putri raja yang kemudian akan tumbuh menjadi gadis dewasa dengan kecerdasan yang berbeda di antara gadis-gadia lainnya, walaupun ia diasuh dan dibesarkan di dalam keluarga miskin. Perkawinannya dengan I Pageh bukan karena ia berkhianat kepada I Jaya, tetapi karena ia menyangka I Jaya telah meninggal di Nusa Penida. Pandan Sari sesungguhnya masih mencintai I Jaya walaupun ia telah menjadi istri I Pageh.

Pandan Sari menolak untuk hidup di istana selain karena terikat dengan I Jaya juga karena ia telah terbiasa hidup sebagai rakyat biasa. Tawaran raja untuk menjadikannya sebagai selir benar-benar ditentangnya. Dalam menyelesaikan konflik inilah pengarang cukup banyak mengeritik feodalisme dan perbedaan kasta.

(p.6) Sebagai seorang putri raja Pandan Sari bersedia untuk turun kasta menjadi sudra. Permintaan ini mendapat restu raja, suatu lukisan yang menunjukkan dalam kehidupan sehari-hari telah terjadi perubahan pandangan terhadap rakyat biasa.

3. Aspek-aspek historis dan sosiologis yang terpantui dalam novel Nusa Penida

Seperti diketahui, hakikat karya sastra adalah rekaan. Nilainya diukur melalui kemampuannya dalam membayangkan suatu kenyataan yang pernah terjadi. Makin kuat kemampuan tersebut, maka makin banyak kemungkinan yang ditimbulkannya, sehingga makin kayalah penafsirannya. Dalam hubungan ini sifat rekaan sebuah karya sastra menguasai seluruh kenyataan (sosial historis) yang ada di dalamnya.

Penelitian aspek-aspek sosial historis didasarkan atas anggapan bahwa rekaan tecipta dengan adanya sesuatu yang lain dalam bentuk yang konkret. Para ahli sering mengemukakannya dengan kalimat 'Tidak mungkin seseorang mencipta dari kekosongan', suatu pandangan yang akhirnya melahirkan cara kerja bahwa dalam usaha untuk memahami hakikat rekaan sebaiknya dilakukan bersama-sama dengan kenyataan yang direka. Kenikmatan membaca justru tersembunyi dalam proses menemukan hubungan antara keduanya (3).

Catatan 3: Bandingkan dengan pendapat A. Teeuw (1983, hlm. 31)

Penelitian aspek-aspek historis dan sosiologis oleh karenanya mempunyai tujuan untuk mengenall secara lebih mendalam bagian-bagian tertentu karya sastra yang diteliti yang ternyata diangkat dari peristiwa dan tokoh sejarah dan kemasyarakatannya. Sesuai dengan sifat aspek-aspek yang dimaksudkan, maka pengenalannya perlu didasarkan atas data yang mungkin pernah terjadi. Cara kerja seperti ini dapat diterima asalkan hakikat rekaan (p.7) dan totalitas karya sastra tetap dipelihara (4).

Catatan 4: Bandingkan dengan pendapat Sapardi Djoko Damono (1984, hlm. 4)

Dengan adanya unsur cerita, novel pada umumnya dan kenis novel yang digolongkan sebagai novel sejarah dan sosial pada khususnya, merupakan jenis karya sastra yang paling lengkap dalam menyajikan aspek-aspek historis dan sosiologis. Hal ini terjadi oleh karena novel malalui unsur peristiwa dan tokohnya memang dipersiapkan sedemikian rupa sehingga dapat menceritakan secara rinci aspek-aspek sejarah dan kemasyarakatannya. Sesuai dengan tujuan karya sastra, melalui penggunaan bahasa yang maksimal, sering penceritaan karya sastra lebih meyakinkan dengan penceritaan sejarah dan sosiologi itu sendiri.

Penelitian aspek-aspek historis dan sosiologis dalam sebuah karya sastra ternyata tidak mudah. Kesukaran pertama segera muncul diakibatkan dengan adanya hakikat rekaan karya sastra itu sendiri. Seluruh peristiwa dan tokoh, baik yang pernah dialami secara nyata maupun yang dialami hanya dalam khayalan ternyata sudah dicampuradukkan, sehingga tidak mungkin untuk mengenali dan memisahkan antara keduanya. Pemisahan seperti ini menjadi makin sulit dalam karya-karya yang diangap besar dan bernila, oleh karena dalam karya-karya tersebut peristiwa dan tokoh-tokoh telah diciptakan menjadi sesuatu yang baru.

Menyadari kesulitan seperti di atas, maka dalam meneliti aspek-aspek historis dan sosiologis sebuah novel perlu diperhatikan secara cermat unsur-unsur yang dapat menunjukkan peristiwa dan tokoh yang mungkin pernah terjadi dalam masyarakat. Dengan dicantumkannya suatu peristiwa atau tokoh tertentu maka secara langsung dapat dicari hubungannya denga peristiwa dan tokoh lain dalam kenyataan masyarakat, sehingga ada bayangan bahwa kerangka cerita oleh pengarangnya ditempatkan dalam (p.8) suatu semestaan tertentu. Peristiwa dan tokoh nyata seperti ini dianggap sebagai pengenalan awal, data konkret yang dapat diyakini bersama dan merupakan tempat berpijak bagi penulis untuk mengembangkan kreativitasnya. Sesuai dengan hakikat karya, maka dalam hal ini yang lebih penting dan menentukan jelas peristiwa dan tokoh yang sudah diimajinasikan.

Untuk meneliti objek novel secara langsung, novel Nusa Penida khususnya, perlu dikemukakan salah satu kerangka yang menunjukkan pola hubungan antara karya sastra dengan lembaga yang lain, yaitu: penulis sebagai pencipta dan masyarakat pembaca yang dituju. Pola hubungan seperti ini dapat menjelaskan dinamika perkembangan karya sastra sebagai suatu sistem yang rumit, maka untuk memahami aspek-aspek historis dan sosiologisnya perlu diteliti melalui unsur-unsur yang membangunnya, yaitu: bahasa, sastra dan budayanya (6).

Catatan 6: Analisis menurut pandangan A. Teeuw (1983, hlm. 12-14)

4. Novel Nusa Penida di tengah-tengah perkembangan masyarakat Bali

Novel Nusa Penida belum banyak dibicarakan oleh para kritikus sastra. Kurangnya perhatian terhadap novel ini mungkin diakibatkan oleh beberapa hal, antara lain: 1) novel Nusa Penida dinilai kurang bermutu; 2) keterbatasan penyebaran novel sebagai akibat sedikitnya jumlah penerbitan; dan 3) permasalahan yang dikemukakan sangat khas. Di antara ketiganya, alasan pertama dapat dikatakan sebagai penyebab utama. Seperti diketahui, dalam peneltian karya sastra, mutu dan kebesarannya merupakan masalah pokok yang harus dipertimbangkan.

Terlepas dari mutu dan kebesaran novel, seperti disebutkan di atas, penelitian ini dilakukan sehubungan dengan niat untuk ikut secara sekilas membicarakan
aspek-aspek kebudayaan yang berhubungan dengan (p.9) masyarakat Bali. Sebagai putra Bali, niat ini secara implisit mengisyaratkan bahwa tanggung jawab untuk melestarikan kebudayaan daerah, Bali khususnya, ada pada setiap orang. Besar dan kecilnya peran serta yang dapat dilakukan sama sekali tergantung dari keterlibatannya dalam lembaga formal dan bidang ilmu yang menjadi tanggung jawabnya. Diharapkan penelitian terhadap novel Nusa Penida dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat ke arah itu.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa novel Nusa Penida cukup banyak mengemukakan aspek-aspek kebudayaan masyarakat Bali. Seperti disebutkan di atas, hal ini terlihat jelas melalui luasnya permasalahan yang dikemukakan, baik permasalahan yang dianggap dapat meningkatkan kehidupan masyarakat sehingga perlu dijadikan teladan, maupun permasalahan yang sebaliknya yaitu yang dapat menjadi kendala bahkan kehancuran bagi masyarakat itu sendiri. Permasalahan menjadi menarik dengan dimasukkannya latar istana dongan berbagai kemewahannya yang kemudian dipertentangkan dengan kehidupan para nelayan dengan segala kesederhanaannya. Dalam istana itu sendiri pun telah tampak juga pertentangan yang tajam, yaitu antara kejujuran dan keangkaramurkaan, suatu perbedaan pandangan yang sangat fundamental di antara keluarga raja, sehingga terjadi pertumpahan darah di antaranya.

Meskipun luasnya permasalahan yang dikemukakan belum menjamin bahwa sebuah karya sastra bernilai baik, tetapi dalam kaitannya dengan salah satu fungsi karya sastra dalam usaha ikut mengabadikan aspek-aspek kebudayaan setempat, maka usaha pengarang untuk menggali knazanah kehidupan masyarakat Bali pantas untuk dihargai. Usaha seperti ini bukan berarti mengurangi kehidupan sastra daerah, tetapi sebaliknya diharapkan (p.10) akan terjadi semacam persaingan yang sehat di antara keduanya. Dari segi penyebarannya jelas sastra Indonesia modern mempunyai jangkauan yang lebih luas yang memungkinkan aspek-aspek kebudayaan Bali dikenal di seluruh Indonesia.

Aspek sejarah dalam Nusa Penida yang dilukiskan oleh pengarang dan perlu disebarluaskan, juga cukup banyak. Seperti disebutkan di atas, pulau Bali pernah diperintah oleh para raja, bahkan istana dan keturunannya masih ada sampai sekarang. Sesuai dengan judul novel, kepulauan Nusa Penida pernah digunakan sebagai tempat pembuangan bagi penduduk yang melakukan suatu pelanggaran (7). Sampai sekarang juga masih dapat didengarkan berbagai cerita penduduk yang mengandung misteri sehubungan dengan kekejaman alam nyata dan gaib yang terdapat di kepulauan tersebut.

Catatan 7: Sebagai peristiwa sejarah ditulis oleh Ida Bagus Sidemen (1980)

Diperkirakan bahwa novel Nusa Penida sangat sedikit yang tersebar di pulau Bali. Perpustakaan Fakultas Sastra pun tidak memilikinya, sehingga dapat diduga bahwa mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia juga belum banyak membaca novel tersebut. Suatu kejadian yang sudah dimaklumi bersama, seperti juga khazanah sastra Indonesia yang lain, pada dasarnya belum mendapatkan tempat yang baik dalam masyarakat, bahkan juga belum dalam masyarakat akademik.

Hal lain yang menyebabkan novel Nusa Penida kurang dikenal dalam masyarakat Bali dapat dihubungkan dengan masalah yang dikemukakan. Beberapa masalah, seperti: perbedaan kasta, kehidupan raja dengan berbagai kemewahannya; masalah gundik, dan sebagainya diceritakan dengan cara yang cukup tajam oleh pengarang. Cara seperti ini jelas akan menimbulkan reaksi-reaksi yang tidak baik terhadap golongan tertentu, yaitu keturunan para raja dan para triwangsa (brahmana, ksatrya, dan waisya). (p.11) Kenyataan menunjukkan bahwa di Bali baik keturunan para raja maupun para triwanysa masih dihormati kedudukannya sampai sekarang.

Hakikat rekaan karya sastra seperti yang telah disebutkan di atas memegang peranan dalam menjelaskan hal ini. Seperti juga anggapan masyarakat pada umumnya, masyarakat Bali belum dapat membedakan antara cerita rekaan dengan cerita yang benar-benar terjadi. Bagi mereka hampir semua cerita termasuk jenis yang terakhir ini, tidak memperhitungkan pengaranynya dan kapan cerita yang dilukiskan dalam novel Nusa Penida adalah semata-mata kenyataan, tokoh-tokoh cerita dan berbagai dialognya memang pernah terjadi, dan oleh karena itu juga kritik tajam pengarang yang ditujukan terhadap dominasi kerajaan dan triwangsa terhadap masyarakat merupakan suatu kebenaran. Dikaitkan dengan anggapan ini, maka wajar apabila film yang diangkat melalui novel tersebut belum bisa beredar, sebab jelas akan menimbulkan keresahan masyarakat.

Sangat sulit untuk memecahkan kaitan antara hakikat rekaan dengan penerimaan masyarakat seperti di atas. Sejak diciptakannya novel Nusa Penida sampai sekarang, yaitu sekitar 40 tahun telah terjadi perubahan yang cukup besar di dalam kehidupan masyarakat Bali. Lebih-lebih apabila hal ini dikaitkan dengan pesatnya industri pariwisata, sehingga pulau Bali bukan saja berkenalan dengan perilaku kebudayaan dari seluruh Indonesia tetapi juga dari luar negeri, dalam masyarakat Bali sesungguhnya telah terjadi perubahan secara mendasar. Akan tetapi perubahan tersebut rupanya belum menyentuh pandangannya terhadap kehidupan sastra sebagagai salah satu aspek kebudayaan.

5. Kesimpulan

Novel Nusa Penida merupakan salah satu novel yang cukup banyak menceritakan kehidupan masyarakat Bali. Masalah yang dikemukakan adalah feodalisme, pertentangan kasta, dan percintaan. Sesuai dengan judulnya, novel Nusa Penida dimaksudkan untuk memberikan informasi bahwa pada masa tertentu (abad ke-19) kepulauan tersebut pernah digunakan sebagai tempat pembuangan bagi penduduk kerajaan Klungkung.

Walaupun isinya menceritakan kehidupan masyarakat Bali, novel Nusa Penida belum banyak dikenal oleh masyarakat Bali, bahkan juga oleh lingkungan akademik, khususnya Fakultas Sastra Universitas Udayana. Nilai novel Nusa Penida secara keseluruhan, terbatasnya penyebaran novel, dan dominasi kehidupan sastra daerah, diperkirakan merupakan alasan mengapa novel Nusa Penida belum banyak dibaca.

Novel Nusa Penida sesungguhnya menyajikan aspek cerita yang cukup menarik. Di samping kekayaan masalah seperti disebutkan di atas, juga menyajikan konflik-konflik yang cukup tajam, baik yang berhubungan dengan tokoh-tokohnya maupun pemecahan permasalahannya. Diperkirakan bahwa justru usaha pengarang dalam mamecahkan permasalahannya disertai dengan kritik yang tajam terhadap feodalisme dan kasta golongan atas merupakan alasan mengapa novel tersebut kurang diminati. Lebih-lebih apabila dikaitkan dengan pelarangan peredaran film yang diangkat dari novel tersebut.

Dikaitkan dan dibandingkan dengan masyarakat lain di Indonesia, masyarakat Bali bukan masyarakat yang tertutup. Dalam hubungannya dengan industri pariwisata, bahkan masyarakat Bali telah berkembang jauh yang meliputi kehidupan dalam berbagai aspeknya. Diperkirakan bahwa hal ini berkaitan erat dengan pengertian hakikat (p.13) rekaan dalam sastra dan misi sastra dalam arti seluas-luasnya sebagai salah satu alat bagi pengarang untuk menunjukkan suatu kebenaran, belum banyak dipahami oleh masyarakat Bali pada khususnya. Mereka belum dapat membedakan antara yang rekaan dengan yang bukan rekaan.

Catatan [yang kurang jelas tempatnya]

5. Cara kerja yang disarankan oleh Rene Wellek dan Austin Warren (1989, hlm. 111)
8. Bandingkan dengan pendapat Steblin Kamenskij yang dikutip oleh A. Teeuw (1983a) yang menyatakan bahwa kebenaran ada dua, yaitu: a) kebenaran sejarah, dan 2) kebenaran seni. Hanya manusia modern yang dapat membedakan kebenaran ini secara jelas

Daftar Pustaka

  • Abdullah, Taufik (1983) - 'Sastra dan Sejarah: Pantulan Historis dan Novel', dalam Horison XVIII/11-12: Jakarta
  • Ardana, I Gusti Gde & Cok Rai Sudharta (1991) - 'Keserasian Transformasi Nilai dan Pembangunan Berwawasan Budaya dalam Masyarakat Bali', dalam Widya Pustaka, VIII/4: Denpasar
  • Asmara, Anjar (1949) - Nusa Penida; Balai Pustaka: Jakarta
  • Damono, Sapardi Djoko (1984) – 'Sosiologi Sastra Indonesia Modern', makalah dalam Seminar Nasional Sastra Indonesia Modern; Yogyakarta
  • Goldmann, Lucien (1978) - Towards a Sociology of the Novel. Tavistock Publication: London
  • Gottschalk, Louis (1975) - Mengerti Sejarah Pengantar Metode Sejarah (terj. Nugroho Notosusanto). Yayasan Penerbit Universitas Indonesia: Jakarta
  • Oemaryati, Boen Sri (1971) - Bentuk Lakon dalam Sastra Indonesia; Gunung Agung: Jakarta
  • Sideman, Ida Bagus (1980) - 'Masalah Pembuangan dalam Abad ke-19 di Nusa Penida (skripsi Fak. Sas. UNUD: Denpasar)
  • Sukada, Made (1982) – 'Perkembangan Sastra Nasional di Bali', dalam Catatan Kebudayaan dari Bali; Lesiba: Denpasar
  • Suriasumantri, Yuyun S. ed. (1981) - Ilmu dalam Perspektif; Gramedia: Jakarta
  • Teeuw, A. (1983) - Membaca dan Menilai Sastra: Kumpulan Karangan; Gramedia: Jakarta
  • Teeuw, A. (1983a) - 'Puitika Eropa Abad Pertengahan dan Sastra Indonesia', dalam Basis, XXXII/10: Yogyakarta
  • Wellek, Rene & Austin Warren (1989) - Teori Kesusastraan (terj. Melani Budianta). Gramedia: Jakarta

Reference

Source

  • Ratna, I Nyoman Kutha (1991) - Penelitian singkat novel Nusa Penida dalam kaitannya dengan perkembangan masyarakat Bali; Pertemuan Ilmiah Nasional IV HISKI; Himpunan Sarjana – Kesusastraan Indonesia (HISKI) Bekerja Sama Dengan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Bandung, 12-24 Desember 1991

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman www.godidijkman.nl social facebook box white 24