Mass cremations (Septawan, 2009)

Below article is a synopsis of I Wayan Andra Septawan's thesis obtained at the Universitas Hindu Indonesia in Denpasar in 2009. It describes mass cremation ceremonies at Banjar Jurang Pahit, in the northeast of Nusa Penida, just north of Kutampi. His university thesis begins with an abstract of the main points in English (adapted by author GD), followed by Septawan's conclusions and a list of informants.

The main argument of his thesis is that mass cremations in Banjar Juran Pahit are held for reasons of social coherence and reduced cremation expenses. His conclusions, in Indonesian, follow below. Author Septawan, interviewed in 2009, was working as the Head of 'Seksi Penyajian' Development of the Arts, Pusat Kesenian (Art Centre), central Denpasar.

Abstract

septawan ngabenmassal image00'Soroh' (clan) refers to a group in Bali's social community rooted in the doctrine of family ties and ancestor (Bhisama) worship. The existence of clans often causes great polarization and tension among the clans, illustrated by Putra Agung (2001) during his research in North Bali. Ngaben Massal (mass cremation) in Bajar Jurangpahit, however, shows that good relationships between clans are possible. 'This is the interesting side of this research.'

Through a socio-cultural approach, supported by the practice (theory) of religion, structural funcionalism (?) and the theory of social change, this study focusses on trying to get an explanation from underlying factors of Ngaben Massal, good relationships between clans during the mass cremations and the implication of the ceremony for socio-religious communities in Banjar Jurang Pahit. Data were obtained by interviews, participatory observations and literature studies. Moreover, data were interpreted by searching for meaningful explanations, 'explanation design or category' and the search of 'characteristics among concepts'.

The result of the study shows that Ngaben Massal in Banjar Jurangpahit is based on a form of religious consciousness, the existence of agents of social change, tolerance amongst clans and reduced costs of Mass Cremation.

Ngaben Massal in Banjar Jurangpahit involved three clans: Tangkas Kori Agung, Tutuan and Pasek Gelgel. These cremations have fortified clan relationships, although principally every clan keeps its identity. They have implications on the changing ways of thinking and practice of religion, strengthen the integrity and social solidarity among them and reduce the financial burden of the cremation for the people.

Informants

1. I Nyoman Swasta (62), Br. Jurangpahit, Retired teacher (Panglingsir Tutuan Clan)
2. I Nengah Geria, A,MD (43), Br.Jurangpahit, SMP teacher (representative and prominent figure of the Pasek Gelgel Clan)
3. Drs. I Ketut Suartawan (57), Br.Jurangpahit, SMP teacher (representative and prominent figure of the Tutuan Clan)
4. Mangku Septarawan (54), Br.Jurangpahit, SD teacher (Pamangku Dadia Tutuan)
5. Dr. Ketut Apriantara (27), Br.Jurangpahit, PNS (Kelian Sekaa Taruna Eksala Dharma)
6. Drs. I Nyoman Purna (48), Br.Jurangpahit, SMA teacher (representative and prominent figure of the Pasek Gelgel Clan)
7. I Wayan Gede Sutarta, S.Ag (51), Br.Jurangpahit, SMP teacher (representative and prominent figure of the Tangkas Kori Agung Clan)
8. I Made Suryana, ST (37), Br.Jurangpahit, SMK teacher (representative and prominent figure of the Tangkas Kori Agung Clan)
9. Ketut Sweta, S.Ag, M.Ag (47), Br.Jurangpahit, SMA teacher (representative and prominent figure of the Pasek Gelgel Clan)
10. I Wayan Suadnya, S.Ag (49), Br.Jurangpahit, SMP teacher (Tutuan Clan)
11. I Nyoman Maranadi (35), Br.Jurangpahit, Dusun Head of Jurang Pahit (Kelian Dadia Tangkas Kori Agung)
12. I Nyoman Misnawan (51), Br.Jurangpahit, Kelian Br. Jurang Pahit (Kelian Dadia Pasek Gelgel)

Abstrak

septawan ngabenmassal image01Image right: Madeeng Ceremony procession (Septawan)

Soroh merupakan kelompok sosial masyarakat Bali yang didasarkan pada garis keturunan dan ikatan bhisama leluhur. Keberadaan soroh tidak jarang menyebabkan terjadinya polarisasi massa sehingga menyebabkan terjadinya ketegangan-ketegangan antarsoroh, sebagaimana ditunjukkan oleh Putra Agung (2001) dalam penelitiannya di daerah Bali Utara. Namun demikian fenomena ngaben massal di Banjar Jurang Pahit menunjukkan eratnya persaudaraaan antarsoroh. Inilah sisi menarik yang dikaji dalam penelitian ini.

Melalui pendekatan social budaya yang didukung dengan teori religi, teori fungsionalisme struktural, dan teori perubahan sosial, penelitian ini diarahkan untuk mendapatkan kejelasan tentang faktor-faktor yang melatarbelakangi terlaksanakannya upacara ngaben massal; eratnya persaudaraan antarsoroh dalam pelaksanaan upacara ngaben massal; dan implikasi dari upacara tersebut bagi kehidupan sosial religius masyarakat Banjar Jurang Pahit. Data diperoleh dengan menggunakan metode wawancara, observasi partisipasi, dan studi kepustakaan. Selanjutnya, data tersebut diinterpretasi dengan memberikan makna, menjelaskan pola atau kategori, dan juga mencari karakteristik antara berbagai konsep.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan ngaben massal di bajar Jurang Pahit dilatari oleh faktor adanya agen-agen perubahan sosial, kesadaran religius, toleransi antarsoroh, dan biaya ngaben yang lebih murah. Pelaksanaan ngaben massal di Banjar Jurang Pahit yang melibatkan tiga kelompok soroh, yaitu soroh Tangkas Kori Agung, Tutuan and Pasek Gelgel, mampu mempererat persaudaraan antarsoroh, meskipun pada hal-hal yang prinsip setiap soroh mempertahankan identitasnya masing-masing. Pelaksanaan ngaben massal di Banjar Jurang Pahit berimplikasi pada terjadinya perubahan pola pikir dalam pelaksanaan tata keagamaan, penguatan integrasi dan solidaritas sosial antarsoroh; dan meringankan beban warga dalam pembiayaan pengabenan.

Simpulan (p.110)

septawan ngabenmassal image02Image left: Madeeng Ceremony procession (Septawan)

Berdasarkan pemaparan pada bab-bab sebelumnya maka dapa sisimpulkan beberapa hal sebagai berikut.

Pelaksanaan ngaben massal di Banjar Jurang Pahit dilatari oleh beberapa faktor: a) adanya agen-agen yang membawa ide-ide perubahan berupa pelaksanaan ngaben massal; b) kesadaran religius bahwa melaksanakan nganben merupakan kewajiban terhadap anggota keluarga yang telah meninggal; c) toleransi antarsoroh bahwa salah satu soroh mau melaksanakan ngaben bersama-sama dengan soroh yang lain; d) biaya ngaben massal lebih murah daripada pelaksanaan ngaben secara sendiri-sendiri.

Pelaksanaan ngaben massal di Banjar Jurang Pahit mampu memperat persaudaraan antarsoroh. Hal ini dapat dilihat dalam proses pelaksanaan ngaben yang melibatkan tiga kelompok soroh yang ada di banjar ini, yaitu soroh Tangkas Kori Agung, Tutuan dan Pasek Gelgel, sebagai berikut: a) proses pelaksanaan ngaben dari tahap persiapan sampai tahap akhir sama halnya dengan pelaksanaan ngaben secara umum, yakni meliputi upacara sawa prateka dan atma wedana; b) keterlibatan para panglingsir dan tokoh-tokoh soroh, serta masyarakat antarsoroh yang berkerjasama dengan semangat kekeluargaan dan gotong-royongan menunjunkkan bahwa pelaksanaan ngaben massal ini mampu mempererat persaudaraan (p.111) antarsoroh; dan c) persaudaraan antarsoroh ini diwujudkan dalam pelaksanaan upacara ngaben massal tidak menghilangkan identitas soroh, terutama pada hal-hal prinsip.

septawan ngabenmasal thoughtsystem32Image right: Philosophy (Thought system, kerangka berpikir; Septawan2009:32)

Pelaksanaan ngaben massal di Banjar Jurang Pahit berimplikasi pada beberapa hal sebagai berikut: a) terjadinya perubahan pola pikir dalam pelaksanaan tata keagamaan bahwa komodifikasi upacara agama dapat dilakukan pada tataran praktis, tetapi inti ajaran atau nilainya tetap dipertahankan; b) pelaksanaan menguatkan dan mengintensifkan integrasi dan solidaritas sosial, yaitu persaudaraan antarsoroh; dan c) pelaksanaan ngaben massal meringankan beban warga dalam pembiayaan pengaben karena di samping lebih irit juga, warga dapat mempersiapkan biaya lebih awal sampai ngaben massal dilaksanakan.

Source

  • Septawan, I Wayan Andra - Upacara Ngaben Masal di Banjar Jurang Pahit, desa Kutampi, Kecamatan Nusa Penida, Kebupaten Klungkung: Strategi Mempererat Persaudaraan Antarsoroh, S2-thesis Ilmu Agama dan Kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia, Denpasar 2009, 115pp, + glossary/list of informants/photographs

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24