Noesa Penida, film script (Sani 1988)

Below article presents the movie script ('skenario') by Asrul Sani of 'Noesa Penida, Penida Islands' (1988), a film production by Galeb Husin (1988), based upon the novel 'Nusa Penida' by Andjar Asmara (1949).

nusapenida-galebhusin1988

Image above: scene from the movie 'Noesa Penida', by Galeb Husin (1988) 

NUSA PENIDA (Judul sementara)

Didasarkan pada Novel NUSA PENIDA karangan ANJAR ASMARA

SUTRADARA - GALEB HUSIN / SKENARIO - ASRUL SANI (p.1) Scenario NUSA PENIDA, Asrul Sani

SEQUENCE 1: FADE IN 1. TRADE MARK / FADE OUT / FADE IN 2.

EXT. PURI ANAK AGUNG I GUSTI KETUT ALIT RAI - MALAM: Puri itu kelihatan sedang terbakar. (Gambar ini diambil dengan mempergunakan miniatur). Kedengaran bunyi Kul-Kul bertalu-talu.

3. EXT. Puri - MALAM: Puri itu terdiri dari berbagai anjungan yang letaknya tidak sama tinggi - ada yang dibangun di tanah yang lebih tinggi sehingga jika orang berjalan dari anjungan yang satu ke anjungan yang lainnya orang harus menuruni tangga. (Barangkali Pura Ubud bisa dipergunakan). Malam itu terjadi pertempuran di Puri tersebut antara pengawal dan orang-orang yang setia pada Anak Agung I Gusti. Alit Rai melawan kelompok yang ingin merebut kekuasaan. Kedengaran suara hiruk pikuk bunyi senjata dan teriakan orang yang bertempur.

PESURUH I: Bunuh semua pengikut Raja.

PESURUH II: Jangan biarkan ada yang hidup.

PESURUH III: Anaknya cari.

PESURUH IV: Mana Gusti Ayu Pandan Sari?

Mereka bertempur di depan sebuah kamar.

PESURUH I: Di sini, di sini.

(p.2) Mereka mencoba mendobrak pintu gerbang. Waktu itu Anak Agung dibantu I Murda dan I Kompyang berkelahi melawan perusuh itu. Pintu gerbang terbuka, tapi waktu itu I Murda melompat ke depan lalu menikam perusuh yang sudah siap masuk. Anak Agung melompat ke ruangan dalam sedangkan I Murda dan I Kompyang melindungi pintu ke ruangan dalam itu. Setelah Anak Agung masuk, I Murda menutup pintu.

4. INT. KAMAR - MALAM: Dalam kamar itu kelihatan beberapa orang perempuan. Mereka mengelilingi seorang perempuan yang sedang memangku seorang gadis kecil, seolah-olah mereka mau melindungi gadis kecil itu. Anak Agung mengambil gadis kecil itu dari tangan perempuan tersebut. Sementara itu pintu dicoba didobrak oleh perusuh-perusuh yang ada di luar.

I MURDA: Cepat, lewat sini Ratu.

Ketiga mereka berlari ke arah pintu samping. Kompyang membuka pintu dan membantu Anak Agung keluar. Kemudian mereka sendiri menyusul. Sementara itu pintu kamar dihantam terus. Begitu Anak Agung dan kedua orang itu keluar, perempuan-pererapuan yang ada di kamar itu mengeluarkan keris mereka lalu menekankan matanya kedada mereka. Mereka semua bunuh diri. Pada saat itu pintu pecah. Perusuh-perusuh itu masuk, tapi perempuan-perempuan itu sudah tergeletak dilantai.

PESURUH I: Mereka lari lewat pintu samping, Kejar.

Beberapa perusuh mendekati jendela. Salah seorang dari mereka membawa bedil. Mereka mencari-cari dalam gelap.

5. EXT. TAMAN HALAMAN PURI - MALAM: Anak Agung dengan diiringkan oleh I Murda dan Kompyang berlari menjauhi pintu. Beberapa perusuh kelihatan muncul di pintu. Yang kelihatan hanya siluet mereka. Salah seorang dari perusuh itu mengangkat bedil, lalu terdengar letusan. Anak Agung terhuyung-huyung. Dari jendela terdengar teriakan.

PESURUH II: Kena...!

(p.3) Mereka berbalik. Anak Agung roboh di balik semak-semak.

I Murda: Kuatkan diri Ratu.

Anak Agung masih memangku Gusti Ayu Pandan Sari. Murda mencoba mengangkatnya.

ANA AGUNG: Murda, cepat.

Ia memasukkan kerisnya ke dalam sarungnya, lalu memberikannya pada Murda

SUDUT LAIN HALAMAN PURI: Perusuh-perusuh sibuk mencari Anak Agung dan sudah dekat sekali ke tempat mereka sembunyi.

DI BALIK SEMAK-SEMAK: I Murda sedang memangku seorang bayi, disaksikan oleh I Rudita, dan I Kompyang. Anak Agung sudah mati.

I MURDA: Kompyang, selamatkan anak dan isteriku. Kita ketemu di Pura...

I RUDITA: Sebaiknya kita berpencar. Engkau menuju ke mana?

I MURDA: Entahlah.

Keduanya lalu pergi bersama beberapa orang prajurit. I Murda juga beranjak pergi. Begitu mereka pergi perusuh-perusuh itu datang ke semak-semak mendapatkan mayat Anak Agung. Mereka periksa sebentar lalu seorang perusuh berkata:

PESURUH II: Ratu telah mati. Mana anaknya? ... cari.

Mereka menyebar.

6. EXT. KAMPUNG MALAM: Orang-orang kelihatan berlarian sedangkan sekali-sekali kedengaran bunyi bedil. Kompyang datang berlari lalu memasuki sebuah rumah - rumah Murda.

7. INT. RUMNAH - MALAM: Seorang perempuan kelihatan terbaring di lantai. Dua orang anak laki-laki kelihatan duduk dekat perempuan itu. Yang seorang I Jaya yang tertua menangis memeluk ibunya. Sedangkan yang seorang lagi I Pageh terbingung-bingung. Kompyang masuk. Ia melihat perempuan yang berlumuran darah itu.

(p.4) KOMPYANG: Mari, kita tak bisa lagi menolong ibumu.

la menarik kedua anak itu. Mula-mula keduanya ia bawa menuju pintu, tapi begltu pintu ia renggangkan, pintu itu ia tutupkan kembali dan anak-anak itu ia bawa melalui tembok belakang. Waktu itu pintu terbuka dan seorang perusuh bersenjatakan bedil masuk. Ia mengankat bedil dan mengarahkannya ke ketiga mereka. Jaya langsung melindungi adiknya dengan berdiri di depan adiknya. Kompyang menyambar parang yang ada di dinding, tapi waktu itu bedil meletus. Sebutir peluru mengenai kaki Kompyang hingga celananya robek. Tapi pada saat yang sama ia menyambar parang dan melemparkannya ke arah perusuh itu tepat mengenai keningnya. Perusuh itu roboh. Dengan terpincang I Kompyang membawa anak itu pergi.

8. EXT. PINTU PURA - MALAM: I Murda sambil memboyong bayi Pandan Sari menunggu I Kompyang. Di punggungnya tersisip keris yang diberikan oleh Anak Agung. Kompyang muncul terpincang-pincang membawa I Pageh dan I Jaya.

FADE UP TITLE

NUSA PENIDA, Disusul dengan kredit title yang lain.

9. EXT. DINDING PURA – MALAM: I Murda dan rombongan, Kompyang, I Jaya dan I Pageh berjalan mengendap-endap. Di latarbelakang tampak kampong yang terbakar.

(Credit title berlanjut)

10. EXT. DALAM HUTAN - SANG: Murda, Kompyang, Jaya, Pageh dan bayi Pandan Sari serta beberapa orang wanita. Mereka semua naik sebuah gerobak kerbau.

(Credit title berlanjut)

11. EXT. JALAN DI ANTARA POHON-POHON BESAR - SORE: Murda dan kawan-kawan berjalan dengan gerobaknya orang-orang desa ada yang memisahkan diri. I Rudita bersama rombongannya juga memisahkan diri menuju ke Utara.

(Credit title berlanjut) 12. EXT. PINGGIR LAUT - MALAM: Di atas gerobak tinggal Murda, Kompyang, Jaya, Pageh dan Pandan Sari kecil. Tiba-tiba gerobak oleng, karena as gerobak patah dan gerobak itu roboh. Mereka semua turun. Murda lalu memandang ke laut. Suara ombak memukul pantai. CREDIT TITLE SELESAI, dengan latar belakang laut MALAM.

(p.5) DISSOLVE INTO: 12A. EXT. LAUT LEPAS - SIANG: Camera Pan Up dari air laut ke permukaan laut. Nampak sebuah perahu nelayan. Perahu nelayan itu adalah milik I Murda. I Jaya berdiri di haluan sedangkan I Murda duduk di buritan.

13. EXT. PINGGIR PANTAI - SIANG: Pantai nampak ramai oleh perahu-perahu nelayan yang kembali dari laut. Perahu I Murda makin mendekat. I Jaya Nampak berdiri di haluan dengan gagah. Ia mengangkat tangannya untuk menutupi matanya dari silau matahari dan memandang ke darat.

CU I JAYA: I Jaya melihat orang berkelahi. Waktu ia perhatikan maka jelas kelihatan yang berkelahi itu adalah adiknya melawan I Jiwa seorang anak laki-laki yang jauh lebih besar darinya. Tanpa berfikir panjang I Jaya melompat lalu berenang ke pantai. Bapaknya berteriak-teriak memanggil:

I MURDA: I Jaya,... I Jaya.

Tapi I Jaya tidak memperdulikan teriakan bapaknya. Bapaknya hanya menggeleng-geleng kepala. Sementara itu I Jaya sudah sampai di pantai. Ia berlari menuju ke tempat adiknya berkelahi. Nampaknya I Pageh akan kalah karena lawannya lebih besar darinya. Di sekeliling anak-anak kampung melingkari sedangkan di luar lingkaran Pandan Sari duduk sambil menangis. I Jaya datang dengan berlari.

ANAK I: I Jaya datang,... I Jaya datang.

I Pageh berada di bawah diduduki oleh I Jiwa. Ia hampir-hampir tak dapat bergerak walaupun melawan sekuat tenaga. Sewaktu mendengar nama I Jaya, I Jiwa berdiri tapi I Pageh memegang tangannya sehingga ia tidak dapat melarikan diri sebelum I Jaya sampai. Sewaktu ia berhasil melepaskan diri tapi I Jaya sudah ada di dekatnya. I Jaya memegang lehernya sambil berkata:

I Jaya: Berani sama yang kecil. Coba sekarang sama saya.

I Jiwa: Tidak, ampun...

I Jaya: Jangan kau ulangi lagi perbuatanmu ini.

I Pageh berdiri. Karena ada kakaknya, I Pageh jadi makin berani, Ia mengejek. I Jiwa lalu menendang pantatnya. I Jiwa berbalik. I Pageh menantang.

(p.6) I Pageh: Berani...?

Tapi ia segera berlindung di belakang I Jaya. Melihat I Jaya, I Jiwa jadi ketakutan lalu menjauhkan memelintir telinga adiknya sambil berkata:

I Pageh; Aduh, aduh...

I Jaya: Mengapa kau berkelahi lagi?

I Pageh: Bukan aku yang memulai kak. Dia mengganggu Sari sampai menangis.

J Jaya: Mana Sari?

I Pageh: Tadi di sini.

Anak-anak yang tadi menonton sudah meninggalkan tempat tinggal Pandan Sari. Ia menangis. I Jaya mendekatinya, lalu membujuk. Sambil membarut-barut rambut gadis itu.

I Jaya: Sudah, sudah ia tidak akan mengganggumu lagi.

Waktu itu datang I Kompyang. Ia berjalan terpincang-pincang. Rambutnya yang memutih menunjukan bahwa sudah lewat beberapa tahun.

I Kompyang: Ada apa Jaya?

I Jaya: I Pageh berkelahi.

Waktu itu datang I Murda membawa ikan.

I Murda: Ada apa?

I Kompyang: Pageh...

I Murda, Pada I Pageh: Kamu berkelahi lagi?

I Pageh mengangguk ketakutan.

(p.7) I Murda: Tak jera-jera kau rupanya.

Ia melihat sekelilingnya lalu terlihat olehnya pelepah kelapa. Ia ambil pelepah kelapa itu dan akan dipukulkannya pada I Pageh. Tapi belum sampal I Murda memukulkan pelepah itu, I Jaya sudah melindungi adiknya dengan berdiri di depan I Pageh.

I Jaya: Jangan Pak. Pageh tidak salah, Dia berkelahi karena membela Sari.

Pelepah yang sudah diacungkan oleh I Murda siap untuk dipukulkan pada I Pageh berhenti di udara. I Murda membuang pelepah itu.

I Murda: Ooh...

I Murda melihat ke Pandan Sari yang berdiri dekat Kompyang. Pandan Sari membalas pandangan itu dan menggangguk.

Pandan Sari: Dapat banyak Pak? Biar Sari yang bawa.

Tapi I Murda mengelak lalu berkata:

I Murda: Tidak usah, biar Pageh saja.

Ia memberikan ikan itu pada I Pageh.

Pandan Sari: Sari juga biasa.

I Murda: Sari tidak pantas bawa ikan.

Pandan Sari: Kenapa? Kawan-kawan Sari biasa melakukannya.

I Murda: Kalau bapak bilang tidak pantas, itu artinya tidak pantas.

Kompyang memandang-memandang pada I Murda dengan sudut matanya. I Murda berbuat seolah-olah ia tidak melihat pandangan I Kompyang yang penuh arti itu.

14. EXT. KAMPOHG NELAYAN DT KOSAMBA - SIANG: Murda, Kompyang dan anak-anaknya I Jaya, I Pageh dan Pandan Sari berjalan beriring-iringan.

(p.8) 14A. INT. RUMAH I MURDA - SIANG: Mereka tiba dirumah I Murda. Mereka, memasuki rumah I Murda, I Murda mengambil sebuah kendi berisi air, lalu ia duduk di bagian lantai yang berketinggian. Pandan Sari datang membawa sebuah nyiru berisi sayur-mayur. Ia hendak mempesiang sayur-mayur itu untuk direbus, la duduk di samping I Murda yang sedang minum air kendi, Serta merta I Murda berdiri lalu duduk di lantai yang lebih rendah.

DISSOLVE INTO:

15. INT. RUMAH I MURDA - SIANG: Makanan sudah tersedia di bale sekenam. Pandan Sari memperhatikan hasil pekerjaannya lalu berjalan keluar, ke Uma Meten.

16. INT. DI DALAM RUMAH I MURDA - SIANG: I murda sedang bercakap-cakap dengan I Kompyang di bale Ume Meten sedangkan tidak jauh dari tempat mereka duduk di bale Sikepat, nampak I Pageh membantu I Jaya menjerat jala.

I Murda: Kuatkan simpulnya Jaya.

I Jaya: Iya Pak.

Pandan Sari berkata pada bapaknya.

Pandan Sari: Makan Pak / Paman...

Lalu ia menghampiri I Jaya dan I Pageh.

Pandan Sari: Kak, makan...

I Murda berdiri menuju ke bale Sikenam diikuti oleh I Kompyang.

I Jaya: Kamu masak apa?

Pandan Sari: Lihat saja sendiri.

I Jaya: Enak?

Pandan Sari: Pasti enak.

I Jaya: Tak malu memuji diri sendiri.

(p.9) Pandan Sari: Kalau kakak tidak mau memuji siapa lagi yang mesti memuji?

Dari bale Sikenam I Murda memanggil.

I Murda: Jaya...

17. INT. RUANG BALE SIKENAM RUMAH I MURDA - SIANG: I Murda sudah menghadapi makanan. I Jaya datang diikuti oleh Pandan Sari dan I Pageh.

I Murda: Mengapa kalian.

Pandan Sari: Kak Jaya mengganggu saya saja.

I Murda: Makan1ah...

Ia menunjuk tempat yang lebih tinggi. Tempat itu adalah tempat yang sudah biasa untuk Pandan Sari.

Pandan Sari: Sekali-kali ingin duduk dekat kak Jaya.

I Murda: Tidak. Sari duduk di sana.

I Jaya: Kenapa tidak boleh.

I Murda sulit mencarikan alasan. Melihat ini I Kompyang turut bicara.

I Kompyang: Lain rumah, lain aturannya.

I Murda: Di rumah ini setiap orang sudah punya tempat masing-masing kan? Sari pindah nak...

Pandan pindah, I Jaya mengulurkan tangannya untuk menyendok nasi, tapi I Murda menahan tangannya. Pandangannya tajam pada I Jaya. I Jaya terkejut oleh pandangan itu, I Murda mengambil tempat nasi dan memberikannya pada Pandan Sari. I Kompyang melihat ini tapi pura-pura tidak melihat. Pandan memandang pada I Jaya. I Jaya menunduk mengelakkan pandangan ayahnya.

18. INT. BALE SEKENAM RUMAH I MURDA - SIANG: I Murda dan I Kompyang duduk di atas bale-bale yang ada di sana.

(P.10) I Kompyang: Murda, barangkali sudah waktunya kau jelaskan pada mereka.

1 Murda mengangguk pelan.

I Murda: Aku sedang menunggu saat yang tepat. Hubungan mereka bertiga begitu erat. Aku khawatir akan menggoncangkan jiwa mereka.

I Kompyang: Memang sulit untuk menyampaikan kebenaran.

I Murda memandang pada I Kompyang,

I Murda: Mereka masih anak-anak.

I Kompyang: Jadi apa yang akankau lakukan?

I Murda: Aku mau tunggu beberapa tahun lagi.

I Kompyang: Jangan sampai terlambat.

I Murda: Kenapa?

I Kompyang: Yah siapa tahu. Yang satu laki-laki yang lainnya perempuan. Segalanya bisa terjadi.

I Murda: Tidak, tidak mungkin...

I Kompyang: Mudah-mudahan tidak. Akibatnya bisa lebih sulit.

Dari bale Sipekat kedengaran bunyi gendang ditabuh.

19. INT. BALE SIPEKAT DALAM RUMAH I MURDA - SIANG: I Pageh sedang menabuh gendang. Ia kelihatan asyik sekali sehingga ia sama sekali tidak menyadari bahwa bapaknya sudah berada didepannya.

I Murda: Pageh...

Pageh asyik sekali memukul gendang. Seakan-akan orang yang lagi kerasukan dan sama sekali tenggelam dalam irama gendang itu.

(p.11) I Pageh: Ya,... pak.

I Murda: Jaya mana?

I Pegeh: Katanya mau ke pantai.
Kompyang memperhatikan percakapan antara anak dan bapak itu.

I Murda: Sari?

I Pageh: Ikut kak Jaya,

I Murdah: Berdua?

I Pageh: Ya.

I Murda: Kenapa kau tidak ikut? Susul mereka. Mulai sekarang kalau kemana-mana harus bertiga.

I Pageh: Kenapa Pak?

I Murda: Sudah jangan banyak tanya, susul mereka.

I Pageh: Ya... Pak.

I Pageh meletakan gendangnya lalu pergi. I Kompyang menggelengkan kepala.

20. INT. BALE SIKEPAT DALAM RUMAH I MURDA - SIANG: I Murda menuju ke tempat jala yang tergantung, yang tadi sedang dikerjakan oleh I Jaya, ia duduk di sana, dengan pikiran entah ke mana, ia mulai menyerat. I Kompyang lalu mengikuti duduk didekatnya.

21. EXT. JALANAN KAMPUNG: Seorang laki-laki seumur I Murda sedang berjalan menyelusuri jalan kampung, menuju kampung Kosamba. Ia membawa bungkusan yang dipukulkan pada sebuah tongkat. Kelihatannya ia sudah melakukan perjalanan yang cukup jauh. Ketika ia berpapasan dengan seorang laki-laki dari kampung Kosamba ia menegur:

Laki-laki Tsb-Rudita: Jro. Ini kan desa Kosambe.

(p.12) Orang kampung Kosambe: Betul Pak...

Rudita: Jro kenal dengan I Murda?

Orang kampung: Oh kenal. Rumahnya dekat pantai. Mau ke sana? Mari saya antarkan.

Orang Kosambe itu tidak jadi meneruskan perjalanannya tapi berbalik untuk mengantarkan Pak Rudite ke rumah I Murda.

Orang kampung: Bapak dari jauh rupanya?

Rudita: Ya, dari Kintaraani, sudah lama saya tidak bertemu dengan I Murda, waktu saya dengar dia di sini, saya segera kemari. Anaknya berapa?

Orang kampung: Tiga, 2 laki-laki, I Jaya dan I Pageh, satu perempuan, Pandan Sari cantik sekali.

Rudite tampak tersenyum. Nampak kelegaan pada wajahnya.

Rudite: Gusti Ayu Pandan Sari...

Nama itu seolah terlontar begitu saja dari mulutnya.

Orang Kampung: Apa Pak?

Rudita: Yang tiba-tiba tersadar.

Ah tidak. Saya teringat pada teman kami yang sangat baik.

Mereka kemudian diam sambil meneruskan perjalanan menuju ke rumah I Murda. Setelah tiba di sana orang kampung itu lalu berkata:

Orang Kampung: Pak ini rumahnya.

Rudita berjalan menuju kerumah I Murda.

22. EXT. DEPAN RUMAH I MURDA - SIANG: Sambil menunjuk ke rumah I Murda.

Orang Kampung: Nah, itu I Murda.

(p.13) Lalu ia berkata pada I Murda.

Pak Murde, ada tamu.

I Murda dan I Kompyang berpandangan sambil memperhatikan Rudita yang hanya berdiri saja seolah-olah minta ditebak siapa die sebenarnya. Sebenarnya mereka berpandangan seolah terpaku tidak berkata-kata. Sampai akhirnya I Murda bagai tersentak dan melompat mendekati Rudita.

I Murde: Oh Sang Hyang Widi. Rudite...

Kemudian dia berpaling pada Kompyang yang masih terperungah.

I Murde: Kompyang... Pak Rudite, Kompyang...

I Kompyang: Rudite Kebyar...

Kompyangpun bangun terpincang-pincang mendekat. I Murde dan Rudite berpelukan, kemudian giliran Kompyang memeluk Rudite. Orang kampung yang mengantarkan Rudite tadi hanya keheranan, memperhatikan adegan peluk-pelukan.

(p.13) INT. BALE SEKENAM DALAM RUMAH I MURDA - MALAM: Mereka duduk menghadap Pak Rudite yang menjadi pusat perhatian. I Jaya duduk di sebelah ayahnya, sedangkan I Pageh duduk dekat Kompyang. Mereka semua duduk di bagian bawah demikian juga pak Rudite. Sedangkan Pandan Sari duduk di tempat yang lebih tinggi, tempat biasa duduk.

Rudite: Jadi begitulah, menari itu kini sudah menjadi mata pencaharianku. Muridku cukup banyak. Salah seorang dari mereka pernah mengadakan pertunjukan di sini. Dan aku tahu dari dia kau berada di Kosambe ini.

Pandan Sari: Oh Ni Kusuma?

Rudite: Ya Ni Kesuma. Murde, aku ingin sekali menurunkan ke pandaianku pada anak-anakmu.

Mereka berpandang-pandangan. Pandan Sari berseri-seri wajahnya, mendengar pernyataan dari Rudite tersebut. Demikian juga I Pageh. Memang mereka berdua yang berminat dan kelihatannya berbakat dalam hal tari-menari. Hanya I Jaya yang biasa-biasa saja.

I Kompyang: Usui yang baik sekali, kau mau Sari?

(p.14) Pandan Sari: Oh tentu, tapi saya harus tinggal di Kintamani?

I Kompyang: Ah, Kintamani kan tidak jauh. Masih di Pulau Bali.

Mendengar kata-kata Kompyang, Murda batuk yang di buat-buat sambil memandang penuh arti pada I Kompyang.

Pandan Sari: Saya ingin sekali, tapi dengan bapak.

I Kompyang: Tidak bisa Sari, bapak kan musti ke laut. Di Kintamani tidak ada laut.

I Pageh: Saya juga ingin, Saya pandai nabuh gendang. Saya juga bisa menari, kalau diajari. Paman mengajarnya di sini saja. Ya paman ya.

Rudite: Tidak bisa Pageh. Murid-murid paman banyak tak bisa paman tinggalkan saja mereka.

I Pageh: Kalau begitu, suruh saja mereka ke mari.

Mereka semuanya tertawa mendengar apa yang dikatakan I Pageh. I Murde yang dari tadi hanya terdiam diri saja kini mulai bicara:

I Murde: Baiklah sudah larut malam, kalian tidur dulu biar bapak rundingkan dengan paman Rudite dan paman Kompyang.

24. EXT. JALANAN KAMPUNG MENUJU PANTAI - PAGI: Nelayan banyak yang baru tiba dari laut dan membongkar muatannya. Di pantai kelihatan I Jaya, Pageh dan Pandan Sari berlari-lari di lidah air. Rudite, Murde dan Kompyang duduk di dekat perahu I Murde yang tersadai.

I Murde: Usul pak Rudite itu memang baik. Sebagai anak Raja memang Pandan Sari harus mendapatkan pendidikan yang sepadan. Dan aku tidak mampu memberikannya di sini. Tapi jika aku melepaskan Pandan Sari untuk tinggal di Kintamani, apakah aku tidak melanggar amanat Ratu padaku.

Rudite: Kau sudah membesarkannya dan memberinya kasih sayang. Kau sudah menyelamatkan satu-satunya keturunan junjungan kita Anak Agung I Gusti Ketut (p.15) Rai. Sekarang ini sudah waktunya untuk memberinya pendidikan. Beri aku kesempatan untuk berbakti pada Ratu.

I Kompyang: Memang berat, baik bagi I Murde maupun Pandan Sari. Tapi kita harus mencari jalan.

Setelah mereka diam sejenak, Kompyang bicara lagi.

I Kompyang: I Rudite... Bagaimana kalau Murde ikut untuk beberapa bulan di Kintamani. Dan I Pageh juga biar menemani Pandan Sari di sana. Dia juga suka dan berbakat nampaknya, I Jaya biar aku yang urus.

I-Rudite: Aku setuju. Aku yakin Gusti Ayu akan jadi penari yang baik.

Ketika Rudite menyebut, Gusti Ayu, Murde dan Kompyang terperanjat. Dan Murde langsung menyahut.

I Murde: Kak tidak ada nama itu di sini dan di manapun di Bali ini sebelum keadaan benar-benar memungkinkan.

I Rudite menanggapi dengan tenang atas kekhawatiran kedua sahabat itu.

I Rudite: Kalian tidak usah terlalu khawatir. Keadaan sebenarnya sudah dapat dikatakan aman untuk Gusti Ayu Pandan Sari. Kalian belum dengar? Yang durhaka telah mati!

I Murde dan Kompyang terkejut mendengar itu. Serentak keduanya bertanya.

Murde/Kompyang: Kapan?

I Rudite: Setahun yang lalu. Pikiran warasnya hilang, kemudian mati dalam keadaan yang menyedihkan. Karena tidak punya keturunan, ia diganti oleh kemenakannya.

I Murde: Dewa-dewa telah mengutuknya. Walaupun begitu sebelum keadaan benar-benar aman buat Pandan Sari, kita harus tetap merahasiakannya.

(p.16) I Komyang: Murde... ada orang-orang yang perlu kita beritahu, Anak-anakmu!

I Murde: Tapi kalau Sari ke Kintamani, kita tidak perlu tergesa-gesa.

Dari jauh kelihatan I Pageh, Jaya dan Pandan Sari berlari-lari sepanjang pantai bermain dengan lidah gelombang yang menepi. I Murde tetap memandang pada anak-anaknya.

I Murde: Mereka telah menjadi anak-anak laut. Nasib telah membawa mereka ke mari.

I Rudite: Ya, masing-masing kita membawa sendiri nasibnya.

I Kompyang: Nasib tidak pernah berhenti di suatu tempat, ia berjalan ke mana dia kita bawa.

25. EXT. DEPAN RUMAH MURDE - PAGIH: Di depan rumah berdiri sebuah gerobak yang ditarik oleh seekor kuda. Gerobak ini akan merupakan alat pengangkutan yang akan membawa Rudite bersama Pandan Sari dan I Pageh ke Kintamani. Beberapa bungkusan sedang dinaikkan ke dalam gerobak, Banyak tamu-tamu di depan rumah I Murde. Hari ini Pegeh dan Pandan Sari akan berangkat ke Kintamani. Mereka datang untuk mengucapkan selamat jalan, kepada kedua anak yang akan pergi itu. Kelihatan I Murde, Rudite dan Kompyang dan beberapa nelayan sedang bercakap-cakap. Di antaranya anak-anak yang ada di situ kelihatan I Jiwa yang selalu nakal pada Pandan Sari dan selalu berkelahi dengan Pageh. I Jiwa hanya melihat I Pageh dan Pandan Sari dari jauh. Rupanya segan untuk mendekat. Salah seorang gadis kecil teman Pandan Sari, Ni Kerti mendekat.

Ni Kerti: Sari, perginya lama?

Pandan Sari: Entahlah, aku akan belajar menari sampai pandai.

Rudite telah siap-siap akan berangkat. Ia berjalan turun ke halaman diikuti oleh I Murde dan Kompyang serta yang lainnya. Ketika ia sampai ke dekat gerobak kuda Pandan Sari bertanya:

Pandan Sari: Sudah akan berangkat paman?

Rudite: Ya supaya kita dapat bermalara di Klungkung.

(p.17) Pandan Sari: Tunggu paman, saya belum bertemu dengan kak Jaya. Dari pagi ia tidak kelihatan.

I Pageh: Iya, mana kak Jaya? Kak Jaya, Kak Jaya...

I Pageh memanggil Kak Jaya, menerobos di antara orong-orang, dan mereka baru tersadar bahwa Jaya tidak ada di antara mereka. Semua sibuk mencari I Jaya. Kompyang pun ikut sibuk mencari. Tapi Jaya memang tidak ada di sana.

Perempuan Tua: Rasanya aku melihat I Jaya tadi, Ia berjalan ke arah tanjung,

Pandan Sari: Ke tanjung?

I Pageh dan Pandan Sari saling berpandangan lalu mereka menyeruak di antara orang-orang ramai itu dan berlari ke arah pantai, kemudian merabelok ke kanan ke arah tanjung, menyusuri pantai.

26. EXT. PINGGIR PANTAI - PAGI: Kelihatan I Jaya sedang berlari sepanjang pantai dari arah tanjung. Di tangannya tergenggam, sebuah suling dan di tangan kanannya tergenggam sebuah kerang yang cukup besar. Kerang itu apabila didekatkan ke telinga akan terdengar seperti mengeluarkan suara gaung yang indah. Ia berlari menyusuri pantai menuju ke sebuah batu besar, di dekat situ ada bangkai gerobak tua yang tersadai. Gerobak yang membawa mereka ketika lari dari kerajaan dulu. Jaya lalu duduk di sana, kelihatan ombak yang menghempas pantai, laut pasang. Suara ombak yang berdebur menghantam pantai. Meningkah degup jantung I Jaya. Sebentar lagi ia akan di tinggal pergi oleh kedua adiknya yang sangat disayangi.

27. EXT. PANTAI - PAGI: I Murde, Kompyang dan Iain-lain mengikuti kedua anaknya, Pageh dan Pandan Sari menuju pantai, Kompyang lari terseok-seok, jauh juga mereka mengikuti kedua anaknya, akhirnya mereka berhenti melihat I Jaya sedang duduk di atas batu, memandang ke laut lepas. Pandan Sari datang mendekati I Jaya, diikuti I Pageh.

Pandan Sari: Kak Jaya, kami mencari-cari kakak. Kami tidak mau berangkat sebelum bertemu kakak.

I Jaya melompat dari atas batu dan berjalan menuju pantai. Diikuti oleh Pandan Sari dan I Pageh. Sampai di lidah air ia berhenti, air laut bermain-main di kakinya.

I Jaya: Sekarang sudah bertemu, pergi1ah!

(p.18) I Pageh: Kami tidak mau pergi kalau kakak sedih. Kalau kami senang
kami senang kami juga ingin kakak senang.

I Jaya: Aku senang, aku gembira, aku tertawa...

Kemudian I Jaya tertawa, ketawanya dibuat-buat. Sumbang kedengarannya. Pandan Sari dan I Pageh memandang dengan perasaan sedih. I Murda dan I Kompyang hanya memperhatikan ketika anaknya itu dari jauh menyelesaikan persoalan mereka sendiri. Pandan Sari menahan tangisnya, air matanya meleleh di pipinya, demikian juga I Pageh. Akhirnya mereka bertiga berpelukan sambil menangis. I Murda dan I Kompyang menyaksikan dari jauh. Setelah I Jaya melepaskan pelukannya terhadap kedua adiknya itu, ia menyerahkan barang yang dipegangnya, suling kepada I Pageh dan kerang besar kepada Pandan Sari.

I Jaya: Simpanlah baik-baik.

28. EXT. JALANAN KAMPUNG - PAGI: Pemandangan ke arah jalan dari tempat yang agak tinggi. Sebuah kereta gerobak kuda sedang berjalan menjauh, dari kampung Kosambe menuju ke Timur. Di dalam gerobak duduk Pandan Sari, I Pageh, Paman Rudite, I Murde serta seorang kusir kereta tersebut. Di atas bukit berdiri I Jaya dan Kompyang meraandang ke kereta kuda yang berjalan makin jauh.

FADE OUT / FADE IN

29. INT. TEMPAT LATIHAN MENARI DI RUMAH RUDITE - PAGI: Tempat belajar menari di rumah I Rudite ini terletak di Kintamani. Pageh dan Pandan Sari masih berumur 10 dan 7 tahunan, I Pageh 3edang belajar menabuh gendang.

DISSOLVE INTO: A. Di pematang sawah tampak Pageh, Pandan Sari dan di belakangnya I Rudite, sawah sedang di bajak kerbau.

DISSOLVE INTO: B. Sawah sudah menguning, Pandan Sari dan Pageh sedang menuai padi beserta orang-orang kampung. Sari dan Pageh tampak sudah dewasa.

DISSOLVE INTO: C. I Pageh sedang belajar menabuh gendang. Sementara Pandan Sari dan beberapa teman-teman seumurnya 18 Lahunan, sedang belajar menari dengan pengajar-pengajar tari. Nampak juga (p.19) di sana I Rudite.

30. INT. PURA KINTAMANI - PAGI: I Pageh, Pandan Sari, I Rudite sedang di Pura. Mereka kelihatan sedang sembahyang. Seorang Pedande sedang merestui I Pageh dan Pandan Sari.

31. EXT. JALANAN PEGUNUNGAN DI KINTAMANI - PAGI: Gerobak yang ditumpangi I Rudite, I Pageh dan Pandan Sari. Berjalan melewati sebuah desa kecil yang sedang manyelenggarakan sebuah upacara adat. Mereka sedang akan pulang ke Kosambe. Kelihatan Pandan Sari dan I Pageh gembira.

Pandan Sani: Kakak bawa apa untuk kak Jaya.

I Pageh: Aku bawakan keris untuknya.
Pageh menunjukkan sebuah keris. Ia pasti senang. Kamu bawa apa?

Panda sari: Aku bawakan hatiku yang rindu. Bagaimana ya kak Jaya sekarang?

32. EXT. LAUT LEPAS DI ATAS PERAHU I JAYA - PAGI: I Jaya, sudah dewasa, sedang di atas perahu sendirian, dit engah laut. Ia sedang mengurus tali pancingnyu. Ia melihat sebuah pinisi sedang menuju ke arahnya. Ia memandang dengan penuh perhatian ke arah perahu itu. Kemudian ia segera memasang sebuah bendera yang diambilnya dari kotak. Bendera itu ia pasang pada sebatang kayu dan diikat di haluan perahunya. Ia tersenyum lebar ketika ia melihat perahu bugis semakin dekat. Di puncak tiang berkibar bendera yang serupa dengan bendera I Jaya.

32A. EXT. DI ATAS PERAHU BUGIS DAENG AZIZ - PAGI: Daeng Aziz berdiri dekat kemudi di atas anjungan. Di sebelahnya berdiri Serang. Ia tersenyum melihat perahu nelayan yang memasang bendera itu.

Daeng Aziz: (Seperti pada dirinya sendiri)

I Jaya: I Jaya, Serang kita berlabuh di sini.

Serang: Baik Daeng.
Serang lalu memerintahkan pada anak buahnya.

(p.20) Serang: Turunkan layar, lempar sauh,

Anak buah Serang mengerjakan perintahnya dengan sigap. Tidak berapa lama perahu berhenti. Daeng Aziz menuju ke badan perahu menantikan perahu I Jaya merapat.

Daeng Aziz: Jaya...

I Jaya: Daeng...

Daeng Aziz: Bagaimana kau?

I Jaya: Paman juga baik. Lama Daeng baru kemball sekali ini.

Daeng Aziz: Ya hampir satu tahun. Aku berlayar ke Betawi.

I Jaya: Kawan-kawan dari Lombok sudah beberapa kali datang. Mereka sudah terdesak oleh Belanda. Harapan mereka hanya pada Daeng sekarang. Salah
seorang dari mereka masih di sini.

Daeng Aziz: Bagus. Mari aku akan menunjukkan sesuatu padamu.

Daeng Aziz membawa I Jaya ke ruang bawah dari perahunya diikuti oleh Serang. Kelihatan karung-karung dan peti-peti tersusun. Daeng membawa salah satu peti yang ditutupi karung. Kelihatan setumpuk senapan. Dibukanya lagi tutup yang lain. Demikian juga isinya. I Jaya tersenyum memandang itu semua.

I Jaya: Ini yang mereka tunggu-tunggu Daeng. Dengan senjata ini mereka tidak akan jadi bulan-bulanan Belanda.

Daeng Aziz: Kapal-kapal perang Belanda pasti masih mondar-mandir di selat Lombok seperti dulu.

I Jaya: Benar Daeng. Berbahaya kalau dibawa dengan perahu Daeng ini. Pasti dicegat mereka.

Serang: Seperti dulu saja.

(p.21) Daeng Aziz: Nanti malam kita turunkan di tempat biasa.

I Jaya: Tunggu isyarat dariku.

33. INT. BALE SIKENAM RUMAH I MURDA - MALAM: Duduk menghadapi penganan, nampak Rudite, Murda, Kompyang, Pageh, Perbekel, Pedande, Para Banjar serta Pandan Sari dan I Wario.

I Wario: Sudah lama saya ingin mengadakan perjalanan keliling memperkenalkan kumpulan kita. Dengan Pandan Sari dan I Pageh kumpulan akan hebat.

Perbekel: Banjar Kosambe bisa terkenal.

I Kompyang: Bagus...

Perbekel: I Jaya ke mana? Saya tidak melihat dia dari tadi.
Mereka berpandangan mencari jawaban.

Murda: Dia belum pulang dari kemarin. Entah ke mana anak itu. Adik-adiknya pulangpun dia belum tahu.

Pedande: Sebaiknya kita adakan upacara selamatan kembalinya Pageh dan Pandan Sari.

34. EXT. DI ATAS PERAHU DAENG AZIZ - MALAM: Kelihatan Daeng Aziz bersama Serang berdiri dekat anjungan, menatap ke pantai. Kelihatannya mereka gelisah. Sementara anak-anak perahu sedang duduk ngobrol, ada yang tiduran, ada yang berlatih melempar belati, ada yang berlatih silat, dan di sudut nampak peti-peti dan karung yang sudah siap akan diturunkan.

Serang: Daeng, bagaimana kalau kita suruh lihat.

Daeng Aziz: Kita tunggu sebentar lagi. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan anak itu.
Mereka diam lagi sambil menatap ke darat.

SCENE. 35 - Tidak ada

(p.22) 30. INT. UMA METEN RUMAH I MURDA - MALAM: Pandan Sari dan Pageh berdiri melihat ke halaman rumah. Di langit kelihatan bulan yang sudah mengambang.

Pandan Sari: Kak Pageh, kemana ya kak Jaya?

37. EXT. PANTAI BERKARAng - MALAM: I Jaya berdiri di atas batu dengan obor di tangannya, dia menggerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri lalu memutarnya.

38. EXT. DI ATAS PERAHU DAENG AZIZ - MALAM: Daeng Aziz dan Serang berdiri di anjungan, kemudian melihat obor Jaya, dengan segera Serang memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan senjata-senjata itu ke dalam perahu kecil, mereka mulai bekerja, dan perahu itupun mulai bergerak didayung ke darat, arah obor yang bergerak.

39. EXT. PINGGIR EAHTAI BERKARANG - MALAM: Perahu mendarat dan seorang anak buah Serang melompat ke darat, Serang juga turun, lalu bersiul dengan suara agak aneh, siulannya terbalas begitu juga. Lalu Serang mempersilahkan Daeng Aziz turun.

Dari balik semak-semak muncul I Jaya bersama orang Lombok, Abdullah namanya.

I Jaya: Daeng, ini kawan kita utusan dari Lombok.

Daeng Aziz: Siapa yang mengirim saudara kemari?

Abdullah: Pak Lalu Ali Bakar.

Daeng Aziz: Bagus, bagaimana dia?

Abdullah: Beliau terpaksa mundur ke Timur. Belanda mendesak terus.

Daeng Aziz: Patroli laut Belanda pasti di perketat. Senjata-senjata ini harus dibawa dengan perahu-perahu nelayan.

Abdullah: Ya Daeng.

Daeng Aziz memberi isyarat pada anak buahnya untuk menurunkan senjata-senjata itu. I Jaya berjalan masuk ke semak-semak, diikuti oleh Daeng dan anak buahnya, bawa peti-peti senjata.

(p.23) 40. EXT. TEBING-TEBING KARANG DENGAN GUA-GUA - MALAM: I Jaya berjalan bersama Daeng dan anak buahnya, menuju gua. Mereka masuk.

41. INT. GUA - MALAM: Anak kapal masuk ke dalam gua membawa peti-peti dan karung-karung berisi senjata.

Abdullah: Terima kasih untuk semua bantuan ini Daeng.

Daeng Aziz: Dengan bantuan saudara-saudara sebenarnya saya membantu diri saya sendiri. Saya terpaksa menyingkir dari Sulawesi karena negeri saya mereka kuasai. Saya tidak sudi hidup di bawah mereka. Kampung halaman saya kini ada di mana-mana, di laut lepas dan di seluruh kepulauan ini. Setiap orang yang melawan Belanda adalah saudara saya.

I Jaya: Serdadu Belanda sudah mulai banyak di sini.

Daeng Aziz: Apakau senang melihat itu.

I Jaya: Tidak. Tapi saya tidak bisa berbuat banyak.

Daeng Aziz: Behwa kau tidak senang, sudah besar artinya.

42. EXT. JALANAN MENUJU KE PANTAT - PAGI: I Pageh dan Kompyang sedang berjalan menuju pantai. Mereka berjalan tergesa-gesa, karena akan mencari Jaya. Tampaknya mereka juga bertanya-tanya pada setiap nelayan yang mereka temui. Dan nelayan-nelayan itu menggelengkan kepalanya, tidak tahu. Mereka meneruskan perjalanan menuju pantai. Tak lama, mereka berpapasan dengan serombongan serdadu Belanda dan prajurit kerajaan. Ada dua orang yang berkuda, sedang yang lainnya berjalan kaki. Ketika bertemu dengan I Kompyang dan Pageh, pimpinan mereka bertanya:

Pimpinan Punggawa: Jro, di mana rumah Perbekel?

I Kompyang: Terus saja pak, dekat balai banjar.

Mereka meneruskan perjalanan lagi. I Pageh terheran-heran melihat serdadu-serdadu itu.

(p.24) I Kompyang: Mereka sedang patroli. Sudah sering mereka datang ke mari.

I Pageh; Tapi buat apa?

I Kompyang: Kabarnya ada perahu penyelundup senjata yang sering singgah di sini.

I Pageh: Penyelundup senjata? Ke mana?

I Kompyang: Ke Lombok. Rakyat Lombok lagi berperang melawan Belanda.

Mereka terus berjalan, tidak lama kemudian mereka tiba di pantai. Mereka bertanya pada nelayan-nelayan yang berpapasan. Salah seorang dari mereka menunjuk ke arah gubug, kedai minuman dekat pantai.

43. INT. DALAM KEDAI MINUMAN - PAGI: Kedai itu sederhana sekali, tempat para nelayan duduk-duduk bila tidak ke laut. Mereka ngobrol sambil minum kopi. Sekali-kali ada perahu yang ke situ membeli ikan asin, hasil buatan nelayan Kosambe. Mereka juga membawa kain-kain murah untuk ditukar atau dijual pada nelayan-nelayan itu. Mereka juga membawa gula, tembakau dan lain-lain. Di sebuah meja yang terletak agak ke sudut duduk I Jaya, Daeng Aziz, Abdullah, dan orang-orang Lombok. Daeng Aziz setengah berbisik, berkata pada Abdullah.

Daeng Aziz: Nanti malam ketika pasang naik, di pantai berkarang.

Abdullah: Baik Daeng, Jaya, dan saya berangkat dulu.

Daeng Aziz: Baiklah...

Mereka bersalaman dan Abdullah berjalan keluar kedai. Jaya turut mengantar keluar, sampai di luar nampak I Kompyang dan I Pageh datang menuju tempat dia berdiri, dia bersalaman lagi dengan Abdullah. Kemudian dia mengalihkan pandangan pada I Kompyang. I Kompyang dan I Pageh mendekat.

I Kompyang: Jaya kemana saja kau? Kau lihat siapa yang bersamaku ini.

(p.25) Jaya terperangah ketika dia sadar yang berdiri di samping I Kompyang adalah adiknya I Pageh.

I Jaya: Pageh, kamu. Kapan tiba?

I Pageh: Kak Jaya...

Sambil maju melangkah untuk memeluk kakaknya I Jaya.

I Jaya: Kau sudah menjadi pemuda gagah sekarang, Di mana Sari? Datang juga dia?

I Pageh: Dia di rumah, kami tiba kemarin sore. Ke mana saja kakak?

I Jaya: Aku lagi ada pekerjaan. Oh kau benar-benar sudah menjadi pemuda gagah. Mari masuk ke dalam sebentar. Aku ingin perkenalkan kau dengan kawanku.

I Pageh: Itu tadi siapa?

I Jaya: Kawanku dari Lombok.

I Pageh: Orang Lombok?

Dia memandang pada Kompyang, namun Kompyang sedang melihat ke tempat lain, seolah tidak peduli.

I Jaya: Ya kenapa? Ayo.

Mereka lalu masuk ke dalam kedai. Mereka menuju ke meja Daeng Aziz. I Jaya bertanya pada I Kompyang.

I Jaya: Masih ingat paman?

Sambil menunjuk ke arah Daeng Aziz. Kompyang berpikir sejenak, mengingat-ingat.

I Kompyang: Oh Daeng. Sudah lama saya tidak jumpa dengan Daeng. Apa kabar?

Daeng Aziz: Baik Bapak. Memang sudah lama saya tidak singgah (p.26) ke mari, tidak ada yang di angkut.

I Jaya: Pageh, ini sahabat kakak, Daeng Aziz, Nahkoda kapal.

I Pageh mengangguk pada Daeng Aziz.

I Jaya: Daeng, ini adik saya I Pageh, seniman. Baru tiba dari Kintamani.

I Kompyang: Kebetulan Daeng ada di sini. Nanti sore kami akan mengadakan upacara sembahyang di Pura Banjar untuk kembalinya I Pageh dan adiknya Pandan Sari. Silahkan Daeng datang.

I Jaya: Paman... Daeng tidak sembahyang di pura beliau sembahyang di mesjid.

I Kompyang: Oh iya, paman lupa.

Mereka tersenyum.

Daeng Aziz: Jaya, kau punya adik rupanya.

I Jaya: Mereka berdua belajar menari di Kintamani pada guru yang pandai.

I Pageh: Paman Rudite.

Daeng hanya mengangguk mendengar nama itu.

I Kompyang: Jaya, tadi aku berpapasan dengan serombongan prajurit kerajaan dan beberapa orang serdadu Belanda. Sekarang mereka ke rumah Perbekel. Apa mereka sudah kemari?

I Jaya memandang pada Daeng Aziz, yang agak terkejut mendengar berita itu. Tapi cepat dia menguasai diri, dan dengan tenang dia berkata:

Daeng Aziz: Mau apa Belanda itu kemari?

I Jaya: Entahlah, mau beli ikan asin barangkali.

(p.27) Mereka tertawa mendengar kelakar I Jaya, hanya Pageh yang tidak ikut tertawa, tampaknya dia berpikir keras.

I Kompyang: Baiklah kami pergi dulu, Daeng.

Mereka lalu berdiri bersama, keluar warung juga diikuti Daeng Aziz sampai di luar, sambil berbisik pada Jaya.

Daeng Aziz: Kalau ketemu anak buahku suruh pulang ke perahu, cepat.

I Jaya: Baiklah.

Ketika Daeng berbisik pada Jaya, diperhatikan oleh Pageh dengan curiga. Setelah mereka berlalu Daeng Aziz kembali masuk kedai.

44. EXT. JALANAN KAMPUNG KOSAMBA - SORE: I Kompyang, I Jaya, I Pageh berjalan bertiga. Jaya memeluk adiknya Pageh, nampak akrab sekali. Tiba-tiba mereka berhenti.

I Jaya: Kalian pulang dulu, aku akan mengambil sesuatu untuk Sari. Nanti aku ke Pura.

Sambil bergerak mundur lalu berjalan kembali, Pageh dan Kompyang heran, lalu meneruskan jalannya.

45 EXT. JALANAN MENUJU KE PURA BANJAR - SORE: Pura itu terletak agak ke darat, pada sebuah lembah. Jalan menuju ke sana berkelok-kelok dan mendaki sedikit. Apalagi kita saksikan dari bukit, maka nampak serombongan orang yang membawa sesaji menuju ke Pura. Bagaikan badan badan seekor ular berwarna meliuk-liuk menuju ke sebuah Pura, dengan amat indahnya. Orang-orang desa Kosambe sedang menuju kesana. Ke Pura mereka akan sembahyang mengucapkan syukur. Di antaranya tampak Pandan Sari sekilas, tertutup oleh pepohonan, dan sesajen yang dibawanya. Nampak juga Pageh, I Murda dan I Kompyang, di Pure Pedande sudah siap tak lama kemudian acara sembahyang dimulai. Pemberian bekah dimulai, yang dipimpin oleh Pedande. Semua orang khusuk sekali. I Murda, I Kompyang dan Pageh, Pandan Sari resah menanti I Jaya.

46 EXT. JALANAN MENUJU KE PURA - SORE: Di jalanan tadi juga nampak I Jaya sedang berlari menuju Pura. Ia agak terlambat, di tangannya ia membawa sebuah bungkusan, hadiah untuk Pandan Sari. Ketika itu tiba-tiba muncul serombongan serdadu Belanda akan menuju pantai. I Jaya langsung berhenti, ragu akan meneruskan ke Pura. Dia seperti teringat pada Daeng Aziz dan kawan-kawannya. Lalu (p.26) I Jaya langsung balik dan lari menerobos jalanan akan menuju segera ke kedai di pantai.

47. EXT. KEDAI DI PANTAI - SORE: I Jaya muncul dari balik semak pepohonan, lari menuju ke kedai. Di dalam kedai masih terlihat Daeng Aziz duduk di pojok. Melihat I Jaya muncul, ia berdiri menghampiri mereka bersama berjalan keluar kedai. Beberapa anak buah Daeng turut serta.

48. EXT. DEPAN KEDAI PI PANTAI - SORE: I Jaya, Daeng Aziz dan anak buahnya menuju ke perahu kecil.

I Jaya: Serdadu dan prajurit menuju kemari. Sebaiknya kembali ke perahu.

Daeng Aziz: Ya. Sampai nanti malam.

Mereka bergegas menuju pantai, di mana perahu kecil mereka diikat, dan kembali ke perahu besar.

49. EXT. JALAN MENUJU PANTAI DEKAT KEDAI - SORE: Serdadu dan Prajurit tiba di pantai, mereka berhenti tidak jauh dari kedai. Dua orang Prajurit turun dan memasuki kedai. Di dalam kedai, tak banyak lagi orang yang sedang ngopi. Mereka adalah nelayan orang desa Kosambe. I Jaya duduk di sudut.

Pemimpin Praiurit: Ada yang melihat orang-orang bugis kemari.

Mereka yang di dalam kedai berpandangan satu sama lainnya.

Tamu Kedai I: Tidak ada.

Pemimpin Prajurit: Awas jangan bohong!

Tamu kedai I, kelihatan gugup dan pucat. Seorang tamu lain menyaut.

Tamu Kedai II: Dia tidak bohong.

Pemimpin Prajurit: Kalau ada yang lihat beritahu kami.

Kemudian ia keluar menuju ke pasukannya lalu bergerak ke pantai.

50 EXT. PURA BANJAR TEMPAT UPACARA - MALAM: Pertunjukan tari sudah dimulai. Pageh ada dideretan penabuh (p.29) gamelan, sedang menabuh kendang, I Jaya menyeruak dan mandapat tempat duduk di depan. Pandan Sari muncul dan mulai menari. Ia begitu mempesona sehingga penonton terdiam. I Rudita tampak tersenyum, I Kompyang juga, I Murda dengan mata berkaca-kaca karena air mata bangga melihat Pandan Sari. Pandan Sari menari terus dengan lincahnya dan tikaman-tikamn lirikan matanya membuat jantung yang melihatnya berhenti berdegup.

Di sudut lain I Jaya memandang terpesona. Dia seperti tak percaya yang sedang menari itu adalah Pandan Sari. Pandangannya tak berkedip. Ketika pada saat Pandan Sari tertangkap oleh pandangan I Jaya ia tersentak. Pandangan itu menghujam ke hatinya sehingga ia tergugup. Siapa pemuda itu. Pandan Sari tak mengira bahwa itu I Jaya. Lalu ia berputar dan mendekat ke I Jaya. Pandangan mereka bertemu lagi lebih lama, terpaku. Sehingga semestinya Pandan Sari harus melanjutkan gerak tari, ia tetap berdiri di sana. Terlihat oleh I Pageh dan pemain gamelan yang lain sehingga menjadi heran. Pandan Sari mengakhiri tariannya, ia masuk terduduk, diam, keringat mengucur ke keningnya. Hatinya bertanya:

Over voice Pandan Sari: Siapa dia.

Pandan Sari bangkit lagi dan mencoba mengintip ke penonton tapi di tempat I Jaya tadi telah kosong. Lalu Pandan Sari tetap berusaha mencari dengan matanya, namun tidak bertemu. Kelihatan ia kecewa.

1. I Kompyang dari tempatnya dia duduk melihat ke arah I Jaya duduk sedang memperhatikan Pandan Sari.

2. I Kompyang memperhatikan tempat I Jaya yang kosong. Lalu dia berdiri, keluar dari tempat para penonton.

1 & 2 = insert untuk Kompyang

51. EXT. DEKAT PURA BANJAR DI BELAKANG PENONTON - MALAM: I Jaya sedang berbicara dengan seseorang, rupanya utusan dari Abdullah. Di tangan I Jaya masih ada bungkusan yang dibawanya dari tadi.

Utusan (Abdullah): Jaya, Pak Abdullah sudah siap dengan perahu-perahu.

I Jaya: Di mana?

Utusan (Abdullah): Pantai berkarang.

I Jaya sedikit ragu, tapi segera ia memutuskan.

I Jaya: Ayu kita ke sana, kita harus hati-hati ada (p.30) patroli.

Mereka menghilang delam gelap.

INSERT: Kompyang muncul, agak jauh, memperhatikan mereka. Lalu mengikuti I Jaya.

52. EXT. PANTAI BERKARANG - MALAM: Sudah kelihatan tiga perahu di pantai. Jaya tiba, tapi sepi tidak ada siapa-siapa. Utusan (Abdullah) bersiul, kemudian terdengar balasan siulan dari Abdullah dan kawan-kawannya, keluar dari persembunyiannya.

I Jaya: Daeng Aziz belum datang?

Abdullah: Belum.

I Jaya: Mari, kita angkat senjata itu. Sebentar lagi pasti dia sampai.

Abdullah: Katab... Samad kalian di sini.

Katab & Samad: Baik Pak.

I Jaya (melihat Kompyang muncul): Paman.

Mereka berjalan menuju Gua.

53. EXT. PINGGIR PANTAI - MALAM: Ada beberapa tenda dan ada api unggun yang nyala. Beberapa serdadu sedang berjaga-jaga. Sebagian besar mereka sedang
patroli.

54. EXT. LAUT - MALAM: Perahu kecil di dalamnya Daeng Aziz dan tiga orang anak
buahnya, mereka sedang menuju ke pantai berkarang.

55. EXT. PURA BANJAR - MALAM: Pertunjukan tari masih berlangsung. Para penabuh gamelan sedang asyik.

56. INT. GUA TEMPAT SENJATA - MALAM: Senjata-senjata sedang diangkut keluar oleh anak buah Abdullah.

57. EXT. GUA / SEMAK BELUKAR - MALAM: Mereka sedang mengangkut senjata-senjata dalam gelap.

(p.31) 58. EXT. PANTAI BRKARANG - DEKAT 3 PERAHU - MALAM: Anak buah Abdullah telah sampai ke perahu dan menaikkan senjata ke atas perahu.

59. EXT. PANTAI BRKARANG - (AGAK JAUH) - MALAM: Tampak serombongan serdadu sedang menuju ke pantai berkarang. Mereka dapat melihat gerakan-gerakan da]am bayangan di pantai. Lalu serdadu-serdadu itu langsung mempercepat kudanya menuju ke pantai berkarang, tempat pemuatan senjata-senjata.

60. EXT. PANTAI BERKARANG, ANTARA ROMBONGAN SERDADU DENGAN DENGAN ROMBONGAN ABDULLAH - MALAM: Sementara itu Daeng Aziz telah sampai ke pantai bersama anak buahnya. Ia berada antara rombongan Abdullah dengan 3 perahunya dan prajurit/serdadu tersebut. Daeng Aziz Cs. menghambur ke pantai dan mengambil posisi. Kedengaran prajurit menghardik.

Prajurit: Siapa disitu. Awas jangan bergerak.

Tapi Daeng Aziz Cs. tetap bergerak maju, dipantai. Daeng Aziz melepaskan tembakan, seorang prajurit roboh. Prajurit lain membalas tembakan. Terjadilah tembak menembak yang cukup seru. Sementara anak buah Abdullah sibuk memuat senjata-senjata ke perahu kecil.

Abdullah: Cepat... ayo dorong...

Perahu mereka dorong kelaut cepat-cepat. I Jaya berdiri di pantai berkarang.

I Jaya: Selamat Abdullah.

Abdullah melompat ke perahu dan mereka mendayung cepat meninggalkan pantai. Beberapa prajurit menembak ke arah tiga perahu kecil itu, tapi mereka dihadang oleh Daeng Aziz dan kawannya. Seorang anak buah Daeng Aziz tertembak dan jatuh tersungkur. Tembakan dari serdadu tambah gencar. I Jaya dan I Kompyang merunduk mendekati Daeng Aziz. Tiba-tiba Daeng Aziz mengaduh, kena tembakan.

Daeng Aziz: Aduh, kena aku.

Ketika itu I Jaya dan I Kompyang tiba di dekatnya.

I Jaya: Daeng!

Daeng Aziz: Jaya aku kena, bahuku.

(p.32) I Kompyang menyambar senapan Daeng Aziz dan mulai menembaki serdadu, sementara I Jaya menyeret tubuh Daeng Aziz ke tempat yang aman. Anak buah Daeng Aziz masih terus bertahan, satu lagi roboh. Tapi Daeng dapat di bawa oleh nelayan dan bersembunyi di situ. Sementara itu ketiga anak buah Daeng Aziz telah roboh. Tembak menembak berhenti. Prajurit-prajurit maju perlahan-lahan dan menemukan anak-anak buah Daeng yang tertembak.

Pemimpin Prajurit: Mereka lolos, pasti dengan senjata-senjata. Bawa mayat ini ke kemah.

61 EXT PANTAI - MALAM: Parahu nelayan yang tersadai berjajar di pantai. Kelihatan Daeng Aziz, I Jaya dan I Kompyang bersembunyi di sana. Rombongan serdadu lewat dengan membawa mayat anak buah Daeng Aziz. Daeng Aziz masih sempat melihat mayat anak buahnya yang digotong.

Daeng Aziz: Mereka Syahid.

I Jaya: Paman, ayo kita antar Daeng ke perahu.

61A. INT. RUMAH MURDA - PAGI: Pandan Sari sedang membawa sesajen dan meletakkan di beberapa tempat yang perlu. Di depan pintu, di dekat paon dan di dekat tempat sembahyang keluarga. Tampak I Pageh keluar dari bale sikepat dan berdiri di depannya sambil memperhatikan Pandan Sari. Melihat I Pageh Pandan Sari bertanya:

Pandan Sari: Kak Jaya sudah pulang kak?

Pageh: Belum. Nanti aku cari dia.

Pandan Sari nampak kecewa di wajahnya. Ia meneruskan pekerjaannya menaruh sesajen.

61B. EXT. PANTAI KOSAMBE - PAGI: Nampak I Jaya dan I Kompyang sedang menarik perahu mereka ke darat. Kelihatan mereka cape sekali. Di tangan I Jaya kelihatan ada bekas luka dan berdarah.

I Jaya: Paman, pulanglah dan istirahat.

I Kompyang: Aku akan ke Tanjung sebentar. Mengambil hadiah untuk Sari. Aku simpan di sana semalam.

I Jaya: Hati-hati prajurit-prajurit itu mungkin masih di sini.

Jaya mengangguk dan pergi.

(p.33) INT. RUMAH MURDA - PAGI: Pandan Sari keluar dari kamarnya di Uma Meten. I Murda sudah duduk di balai-balai di Uma Meten. Pandan Sari sudah rapi. Melihat I Murda berkata.

Pandan Sari: Pak saya mau jalan-jalan sebentar ke pantai.

Murda: Masih ingat jalannya.

Pandan Sari: Aku tidak akan kesesar di Kosambe ini.

61D. EXT. PANTAI KOSAMBE - PAGI: I Jaya sedang berjalan di pinggir menyusuri pantai. Ia kelihatan hati-hati.

62 EXT. JALAN KAMPUNG MENUJU PANTAI - PAGI: Pandan Sari sudah sampai menuju pantai di tempat gerobak. Ia tertegun memperhatikan keadaan yang bersih dan terawat rapi. Ia memperhatikan satu demi satu bagian-bagian gerobak yang sudah patah dan dimakan usia itu. Tiba-tiba matanya melihat sesuatu yang tersembunyi di bawah pohon daun kelapa. Ternyata sebuah bungkusan yang dibungkus rapi. Ia mengambilnya. Sedang ia meneliti bungkusan itu ia terkejut oleh sebuah suara di belakangnya.

Suara off sound: Ya. Itu untukmu.

Pandan Sari berbalik dan berdiri di hadapannya seorang pemuda gagah yang memandang tersenyum padanya. Pandan Sari tersirap darahnya. Pemuda itu adalah yang dilihatnya tadi malam ketika ia menari. Ia masih terpaku mulutnya serasa terkunci.

I Jaya: Sari, aku Jaya.

Tersentak Sari dari pesonanya.

Sari: Kak Jaya.

Ia menghambur ke arah Jaya dan tenggelam dalam pelukan lengan-lengan tegap I Jaya. Kelihatannya seperti ia tidak mau lepas dari pelukan tangan Jaya. Di saat itu Pageh muncul di belakang memperhatikan pertemuan yang agak mengejutkan hatinya itu. Di wajahnya kelihatan ia tidak begitu senang.

DISSOLVE INTO:

63 EXT. SEBUAH BUKIT - SIANG: Pandan Sari sedang duduk memandang ke bawah, sebuah Pura tampak di kejauhan. I Jaya datang dari belakang. Ia menyisipkan kembang bunga raya merah ke rambut Sari. Sari memandang I Jaya.

DISSOLVE INTO:

(p.34) 64 EXT. PANTAI BERBATU - SENJA: Pandan Sari dan I Jaya berdiri memandang ke laut. Di latar belakang ombak menghempas ke batu karang. Mereka nampak LONG SHOT - ZOOM IN TO MEDIUM SHOT, mereka berpegangan tangan. Ombak menghempas ke batu karang.

DISSOLVE INTO:

65 EXT. PANTAI - PAGI: Para nelayan baru pulang dari laut, banyak orang sedang sibuk dengan hasil menangkap ikan, nampak juga perempuan dan anak-anak mereka menyambut bapaknya. Di antaranya nampak Pandan Sari mencari I Jaya dan Pageh. Sebuah perahu baru akan berlabuh, I Jaya nampak di atas perahu ini. I Pageh melambaikan tangannya pada Sari. Pandan Sari langsung menyerbu ke air menyambut merapatnya perahu kakaknya. Begitu sampai Pageh langsung lompat turun ke darat, tapi dipanggil Jaya.

I Jaya: Pageh jangan tinggalkan aku sendiri.

Pageh berbalik untuk kembali bersama-sama mendorong perahu ke daratan, dibantu Pandan Sari.

Pandan Sari: Biar saya yang bawa kak.

I Jaya memberikan ikan tersebut pada Pandan Sari. Tapi belum sempat diterima, Sari sudah disambar lebih dahulu oleh Pageh, sambil bicara.

I Pageh: Lupa pesan bapak. Pandan Sari tidak boleh bawa ini.

Pandan Sari: Ah itukan ketika masih kecil.

Sambil mencoba merampas ikan dari tangan Pageh, mereka berebut.

I Jaya: Biarlah Pageh. Masa bawa ikan saja tidak boleh. Sari kan bukan putri raja.

I Pageh langsung melepasken ikan itu pada Sari. Pandan Sari senang menerimanya, lalu berlari-lari mendahului akan pulang.

66 EXT. DEPAN RUMAH I MURDA - PAGI: Pandan Sari berlari-lari kecil meraasuki halaman rumah. Di depan rumah duduk Rudita dan Kompyang sedang bercakap-cakap I Murda baru dari belakang rumah, ia ke depan karena mendengar suara Pandan Sari memanggil paman Rudita.

(p.35) Pandan Sari: Paman, lihat ini hasil tangkapan kak Jaya.

Sementara ini Jaya dan Pageh sudah mendekati halaman rumah. I Murda langsung mendekati Pandan Sari, sekilas Murda memandang tajam pada Jaya dan Pageh yang baru sampai.

I Murda: Sari, kenapa kau yang bawa?

Pandan Sari: Masa bawa ikan saja tidak boleh. Saya kan bukan putri raja.

Sambil menoleh pada kakaknya Jaya. Namun bagi I Murda perkataan Sari ini seperti sengatan kalajengking, demikian juga I Kompyang dan I Rudita, mereka saling terperangah. I Pageh maju ke depan dan mengambil ikan dari tangan bapaknya.

67 INT. BALE UMA METEN RUMAH I MURDA - MALAM: I Jaya menemui Bapaknya, I Murda duduk menghadapi bungkusan sutera kuning yang agak panjang, keris. Duduk juga di situ I Rudita, dan I Kompyang. I Rudita sedang melihat-lihat tulisan di daun lontar.

I Murda: Sari.

Ia mempersilahkan Pandan Sari duduk dibagian lantai yang lebih tinggi. Setelah semuanya duduk. Begitu juga I Kompyang. I Jaya yang agak curiga bertanya,

I Jaya: Ada apa pak?

I Murda: Jangan ada yang bertanya dulu. Dengar baik-baik.

Semuanya diam.

I Murda: Saya akan mengungkapkan sesuatu yang sudah lama saya rahasiakan. Sesudah semuanya saya jelaskan, saya harap kita berbuat sesuai dengan tuntutan kebenaran yang saya ungkapkan.

I Murda membuka bungkusan sutera kuning itu lalu meletakkan keris yang terbungkus di dalamnya di atas sutera kuning pembungkus tadi.

I Pageh: Bagus sekali.

(p.36) I Murda: Keris ini dititipkan pada bapak untuk dipergunakan sebagai bukti.

I Jaya: Bukti apa pak?

I Murda: Ini yang bapak mau ceritakan... (Murda mengangkat keris yang ada dihadapanriya...)

DISSOLVE INTO:

Long Shot high angel, kelihatan semuanya yang duduk di sana diam tidak bergerak. Kemudian Cam. Cu ke I Jaya, I Pageh dan kemudian ke Pandan Sari. Di pipinya mengalir air mata.

Pandan Sari: Bapak... Saya tidak mau dibeda-bedakan.

I Murda: I Gusti... semua sudah ditentukan oleh Sang Hyang Widi. Kita manusia hanya mematuhi.

I Gusti Pandan Sari termenung. Air matanya menetes. Mereka semua diam.

68. EXT. BALE SIKEPA RUMAH I MURDA - MALAM: I Jaya duduk dekat keranjang ikannya. Ia memandang nanap ke depan. Kemudian ia berdiri lalu pergi. I Pageh berjalan ke Bale Sikepat, masuk.

69. INT. DALAM BALE SIKEPAT RUMAH I MURDA - MALAM: I Pageh masuk lalu mengambil gendangannya. Ia duduk lalu mulai memukul gendangannya. Mula-mula pelan dan lambat laun menjadi cepat dan keras.

70. INT. BALEUMA METEN RUMAH I MURDA - MALAM: I Rudita, I Kompyang dan I Murda memandang dari jauh, ke arah terdengarnya tetabuhan gendang I Pageh. Pandan Sari tetap duduk menunduk dan menangis. Tiba-tiba Pageh berhenti menabuh gendangnya.

70A. EXT. BALE SIKEPAT RUMAH I MURDA - MALAM: I Pageh muncul, berjalan menuju Bale Uma Meten, mendekati Pandan Sari.

I Pageh: Saya menunggu Gusti di tempat latihan menari.

Pandan Sari terkejut akan sebutan padanya, oleh Pageh. I Pageh lalu berlalu dari Bale Uma Meten, pergi.

(p.37) Pandan Sari: Kenapa tidak dari dulu semuanya ini Bapak ceritakan?

I Murda: Semuanya hanya bisa terjadi tepat pada waktunya, Gusti.

Pandan Sari: Lalu sekarang apa yang harus saya lakukan?

I Murda: Berbuatlah sesuai dengan martabat seorang yang berdarah kesatriya.

Pandan Sari makin gundah, menunduk menangis. I Kompyang, I Rudita, I Murda diam.

71, EXT. PINGGIR PANTAI BERKARANG - SIANG: I Jaya berjalan menuju tempat itu. Agak jauh dari tempat itu kelihatan I Kompyang mengikuti I Jaya sambil bersembunyi-sembunyi. Waktu I Jaya sampai ke tempat di mana ia selalu bertemu dengan Pandan Sari ia terkejut karena Pandan Sari sudah duduk di situ. Melihat Pandan Sari ia segera duduk merendah supaya tidak lebih tinggi dari Pandan Sari.

Pandan Sari: Kenapa kakak begitu?

I Jaya: Karena memang seharusnya begitu Gusti.

Pandan Sari: Kak...

I Jaya: Mengapa Gusti kemari.

Pandan Sari: di sini kakak terasa dekat padaku...

I Jaya: Sekarang semua itu sudah berakhir. Jalan sudah buntu.

Pandan Sari: Jalanku adalah jalan ke mana aku dibawa pergi.

I Jaya: Jalan yang tinggal hanya jalan ke dunia yang gelap, dari mana tidak ada manusia pernah kembali.

(p.38) Pandan Sari: Ke mana kakak pergi ke sana aku pergi.

I Jaya memandang pada Pandan Sari dengan penuh arti, I Jaya berdiri, Pandan Suri mendekat, I Jaya memeluk Pandan Sari lalu sambil berpegangan tangan mereka berjalan. Dari jauh I Kompyang memperhatikan kedua mereka. Dari tempatnya ia melihat I Jaya dan Pandan Sari berjalan menuju tebing curam. Ia bergegas mendaki tebing-tebing karang itu supaya bisa mendahului I Jaya dan Pandan Sari. Ia punya firasat buruk. Ia curiga kedua anak muda itu akan melakukan perbuatan nekat: bunuh diri.

72. EXT. PUNCAK BUKIT KARANG - SIANG: I Jaya dan Pandan Sari sudah sampai puncak bukit karang. Di bawah kelihatan laut penuh dengan karang-karang tajam hingga kalau ada yang jatuh ke situ maka tidaklah sulit dibayangkan apa akan jadinya dia. I Jaya dan Pandan Sari berjalan berpegangan tangan. Ia makin dekat ke bibir jurang. Kelihatannya jika tidak ada yang menghalangi mereka serta merta akan melompat ke bawah. Sebaliknya I Kompyang dengan terengah-engah menaiki bukit karang dan berusaha untuk mendahului mereka sampai ke bibir jurang itu. I Jaya dan Pandan Sari sama-sama menutup matanya namun ketika mereka membuka, mereka melihat I Kompyang sudah berdiri di depan mereka.

I Kompyang: Saya tahu apa yang mau kalian lakukan. Perbuatan itu adalah perbuatan orang-orang pengecut, orang-orang yang hanya memikirkan diri sendiri.

I Jaya: Biarkan kami Paman.

I Kompyang: Aku tidak bermaksud menghalangi kalian. Aku hanya mau menyampaikan pendapatku. Setelah itu terserah kalian.

I Kompyang: Kau adalah anak yang tidak tahu membalas guna. Aku masih ingat bagaimana Murda terseok-seok menggendong kau, mempertaruhkan nyawa agar kau tetap hidup. Kekuatan itu datang karena kesetiaannya pada ayah Gusti, jangan sia-siakan pengorbanannya.

Gusti Pandan Sari diam.

I Kompyang: Kalau Gusti mati orang tua itu akan menderita lalu mati. Bukan karena usia tapi karena hati yang luka karena kecewa.

(p.39) Tiba-tiba Gusti Pandan Sari seakan-akan dirasuki sesuatu, lalu sambil berteriak, lari meninggalkan tempat itu.

I Jaya: Sari...

Tapi Pandan Sari terua berlari.

I Jaya: Perempuan mudah sekali merobah pendapat.

I Kompyang memegang bahunya kuat-kuat lalu dengan suara marah.

I Kompyang: Bodoh. Apa kau tidak percaya lagi pada kehidupan. Kehidupan punya seribu pintu untuk cintamu maut tidak.

I Jaya tertunduk.

I Jaya: Apa yang harus saya lakukan?

I Kompyang: Jaya, jalan hidup ada seribu, kalau kau mau mencari, jalan itu akan kau temui. Gusti Ayu cinta padamu.

I Kompyang pergi. I Jaya memandang ke laut lepas. Di laut kelihatan sebuah perahu pinisi. Ia berdiri lalu mengangkat tangannya melindungi matanya dari silau matahari, kelihatan ia menemukan suatu pikiran yang terang.

73. EXT. PANTAI KOSAMBE, TEMPAT PERAHU 2 NELAYAN - SIANG: Nelayan-nelayan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing ada yang lagi menjahit layarnya, ada yang lagi mengecat perahunya dan sebagainya. I Jaya sedang menyambung tali perahunya yang putus dengan menganyamnya. Ia duduk di pasir sedangkan Pandan Sari berdiri bersandar pada perahu I Jaya. Masing-masing dengan pikirannya masing-masing. I Kompyang lewat didekat situ. Ia telah memperhatikan kedua orang ini dari jauh. Ketika di dekat mereka ia bersenandung:

I Kompyang: Jalan hidup ada seribu. Jalan hidup ada seribu.

Pandan Sari: Kak... Yang mana jalan untuk kita?

I Jaya: Ada, kita lari, jauh dari sini, ke seberang laut. Kalau kau mau?

Pandan Sari: Bapak bagaimana?

(p.40) I Jaya: Bapak tidak akan pernah setuju pada hubungan kita.

Pandan Sari: Kasihan bapak.

I Jaya: Kalau kau setuju, aku akan siapkan segalanya.

Pandan Sari mengangguk.

I Jaya: Pulanglah kau dulu. Berlakulah seperti biasa. Kalau kau harus menari, menari1ah. Kau akan kuberi tahu.

I Kompyang muncul lagi. Ia bersenandung. Ia berjalan melewati Jaya dan Pandan Sari tanpa menoleh pada mereka dan I Jaya melihat padanya.

I Kompyang: Setiap manusia punya jalannya sendiri.

I Jaya bangkit menyusul I Kompyang. Pandan Sari pergi meninggalkan tempat itu.

74. EXT. PANTAI KOSAMBE, TEMPAT PERAHU NELAYAN - SIANG: I Jaya mengejar I Kompyang, lalu bicara:

I Jaya: Kami sudah memutuskan untuk lari.

I Kompyang: Aku orang tua. Aku sahabat ayahmu. Aku tidak mendengar apa yang kau katakan. Aku tidak tahu apa-apa. Aku cuma berdoa. Supaya orang-orang yang bercinta akhirnya di persatukan juga.

Lalu ia pergi. I Jaya juga meninggalkan tempat itu.

75. EXT. PANTAI LUAS - SIANG: Pantai sunyi. Kelihatan dari jauh (high angle) I Jaya berjalan sendiri.

DISSOLVE INTO: 76. EXT. TEPI LANGIT - SENJA: Langit barat berwarna jingga.

76a. EXT. PANTAI KOSAMBE DEKAT GEROBAK - SENJA: Pandan Sari duduk. Pageh berdiri agak jauh memandang kelaut.

(p.41) I Pageh: Kosambe akan kehilangan penarinya yang terbaik. (Pandan Sari hanya diam saja mendengar kata-kata Pageh.)

Merasa kata-katanya tidak mendapat sambutan la meneruskan.

I Pageh: Bapak akan sedih sekali. (Pandan Sari tetap diam tidak menyahut.)

I Pageh: Sedangkan aku... (tampak kata yang meluncur dari mulutnya).

Pandan Sari mengangkat mukanya yang dari tadi tertunduk menatap pasir memandang pada I Pageh.

I Pageh: Semoga kalian bahagia.

Tanpa menoleh pada Pandan Sari ia meninggalkan Pandan Sari penuh tenda tanya.

77. EXT. PANTAI BERKARANG - MALAM: Tiba-tiba muncul sebuah pelita yang digerakkan ke kiri dan ke kanan.

78. EXT. PERAHU PINISI - MALAM: Di haluan berdiri Daeng Aziz dan Serang.

Serang: Sebentar lagi pasang naik, kita sudah bisa berangkat.

Tiba-tiba Serang melihat cahaya pelita yang bergerak-gerak di darat.

Serang: Ada tanda dari darat, Daeng.

Daeng Aziz memperhatikan cahaya pelita itu lalu berkata.

Daeng Aziz: Itu I Jaya. Barangkali dia dalam kesulitan. Suruh lihat Serang!

Serang: Baik Daeng.

Perahu kecil diseret dari belakang lalu orang turun ke perahu yang didayung oleh dua orang. Perahu itu langsung melaju arah ke darat.

79. EXT. HALAMAN TEMPAT MENARI - MALAM: Pageh menabuh gendang seperti orang kerasukan, sedangkan Pandan Sari menari. Editing di bagian ini dibuat sedemikian rupa sehingga memberikan kesan tegang, seolah-olah menunggu (p.42) sesuatu.

80. EXT. PERAHU PINISI - MALAM: Daeng Aziz dan I Jaya kelihatan duduk di geladak perahu sedang berunding, mereka menghadapi setabung kopi daun. Daeng Aziz kelihatan termenung.

Daeng Aziz: Ke mana aku pergi, aku menemukan hal yang sama. Di negeriku juga, seorang putri bangsawan tidak akan diizinkan untuk kawin dengan orang kebanyakan. Di Jawa demikian juga halnya. Di tanah Melayu, kudapati hal yang sama. Padahal Tuhan tidak membeda-bedakan mahluknya. Di mata Tuhan perbedaan manusia hanya yang baik dan yang jahat. Dan semua itu diukur menurut perbuatan kita, tidak berdasarkan keturunan. Aku tidak mengerti.

I Jaya: Tapi bagiku ini suatu kenyataan yang tidak bisa kutiadakan begitu saja. Aku tidak minta kau mengerti. Aku minta kau membantu.

Daeng Aziz: Apa yang engkau perlukan akan kusediakan. Kapan kalian slap.

I Jaya: Besok malam.

Baiklah: Besok malam kalian akan kujemput pada waktu yang sama.

Mereka berpelukan, untuk berpisah.

81. EXT. HALAMAN TEMPAT MENARI - MALAM: Pandan Sari masih menari. I Jaya kelihatan menyeruak antara orang banyak. Ia mengarahkan pandangannya pada Pandan Sari. Pandan Sari melihat kehadiran I Jaya. Ia menikam sorotan matanya ke arah I Jaya. I Pageh memukul gendang dengan garang. Suasana menggebu-gebu. Gerak dan bunyi bagai membakar segala. Tak jauh dari situ, ada I Kompyang melihat seluruh kejadian. Ia maklum akan kehadiran I Jaya di situ. Setelah Pandan Sari selesai menari, latihan selesai, dan semua mulai meninggalkan tempat latihan.

Long Shot, kelihatan I Jaya sedang bicara dengan Pandan Sari.

82. EXT. JALAN BESAR - SIANG: Dari jauh kelihatan rombongan Ratu Cokorde Gde Oke. Rombongan itu rombongan besar. Beberapa payung kuning kelihatan mengiringi sebuah tandu keemasan yang dipikul oleh empat orang laki-laki. Di atas tandu itu duduk Cakorde Gde (p.43) Oka. Orangnya bertubuh gemuk pendek. Kelihatan agak angkuh. Orang orang barada di tengah jalan bergegas menghindar ke pinggir lalu duduk menyembah. Dari jalan samping datang I Guati Ayu Pandan Sari menjunjung bakul berisi pakaian yang baru dicuci sedangkan di tangannyan kelihatan sebuah kendi berisi air. Ia memandang nanap ke depan sehingga ia tidak menyadari bahwa rombongan Cokorde Gde Oke sudah berada di belakangnya. Ia melihat orang-orang berjongkok di pinggir jalan sehingga ia agak heran. Waktu itu ia mendengar suara membentak di belakangnya.

Suara: Ayo pinggir!

Gusti Ayu bingung. Ia berdiri di tengah jalan sedangkan rombongan makin dekat hingga ia menghalangi jalan rombongan. Ia melihat I Kompyang berjongkok di seberang jalan. I Kompyang melambal-lambaikan tangannya memberi isyarat supaya Gusti Ayu cepat berlalu. Pandan Sari mau menghindarkan diri tapi waktu itu la tersandung lalu jatuh. Kendinya pecah dan bakul pakaiannya terbalik, waktu itu ia ditendang ke pinggir sehingga terguling. Cokorde Gde Oke menjulurkan kepalanya lalu bertanya.

Cokorde Gde Qke: Siapa perempuan kurang ajar itu.

Punggawa kepada siapa Cokorde bertanya, bertanya lagi kepada orang-orang yang berjongkok di pinggir jalan.

Punggawa: Siapa yang kenal perempuan itu?

Rakyat I: Dia anak kampung ini ratu. Bapaknya nelayan.

Cokorde Gde Oke: Bawa dia kemari.

Gusti Ayu Pandan Sari dibimbing oleh Punggawa dibawa ke depan Raja. Ia dipaksa bersimpuh di tanah. Cokorde Gde Oke memperhatikan wajah Pandan Sari.

Cokorde Gde Oke: Siapa kamu?

Pandan Sari: Aku...

Cokorde Gde Oke: Kamu tidak tahu adat dan lancang pada rajamu ya. Punggawa beri pelajaran dia.

Punggawa maju selangkah ke depan dan menyiapkan cambuknya, ketika itu I Kompyang maju.

(p.44) I Kompyang: Maafkan kami ratu. Namanya I Gusti Ayu Pandan Sari.

Cokorde Gde Oke: Ha, I Gusti? Mana bisa. Bapaknya nelayan kan. Mana bisa kesatria berbapakan Sudra? Beri pelajaran dia!

Ketika itu Dewa Putu, seorang penasehat dan Pedande Istana sudah mendekati raja.

Dewa Putu: Ratu, jangan terburu nafsu member! hukuman, periksa dulu dengan bijaksana.

I Kompyang: I Murda bukan bapak yang sebenarnya,

Cokorde Gde Oke: Kalau begitu siapa?

I Kompyang: Ampun hamba Ratu. Adapun ayah dari Gusti Ayu ini...

I Kompyang tidak berani meneruskan kata-katanya, diam.

Cokorde Gde Oke: Siapa, katakan!

I Kompyang: Almarhum Anak Agung I Gusti Ktut Alit Rai.

Cokorde Gde Oke: Itu pamanku. Kalau kamu berdusta kamu tahu hukuman apa yang akan ditimpakan keatas kepalamu?

I Kompyapg: Hamba mengerti Ratu.

Cokorde Gde Oke: Baik, suruh I Murda menghadap aku ke Puri sekarang.

I Kompyang: Baik Ratu.

Cokorde Gde Oke: Hei, perempuan, angkat kepalamu. (Pandan Sari mengangkat kepalanya. Cokorde terpesona melihat wajah Pandan Sari yang begitu cantik.) Heemm.

(p.45) (Ia memain-mainkan kumisnya dan melirik kepada Punggawa yang berdiri di dakatnya.) Kamu harus ikut aku sekarang.

Kemudian berkata kepada Punggawa: Tempatnya bukan di rumah tukang tangkap ikan.

83. EXT. LINGKUNGAN PURI - SIANG: I Murda duduk di bawah, beberapa prajurit kelihatan berjaga di halaman. Pandan Sari masuk ketika dilihatnya I Murda, ia langsung datang mendekatinya.

Pandan Sari: (Sambil terisak-isak) Bapak bawa saya kembali ke Kosambe.

I Murda: Gusti, bersabarlah...

Nampak keris pusaka ayah Pandan Sari di tangan I Murda.

Pegawai: Sebentar lagi Ratu akan datang. Gusti Ayu, silahkan duduk di tempat Gusti.

Cokorde Gde Oke keluar dari dalam purinya diiringi oleh beberapa gadis cantik yang menbawa tempat sirin dan dulang yang berisi hidangan ke tempat peranginon. Ketika Ratu naik ke atas balai, Guati Ayu menyembah. Gadis-gadis itu juga naik lalu meletakkan tempat sirih dan dulang-dulang itu di depan Ratu Cokorde Gde Oke, sesudah itu ratu memberi isyarat supaya mereka mengundurkan diri. Ratu mengarahkan pandangannya pada I Murda lalu berkata:

Cokorde Gde Oke: Murda, coba dekat sedikit. Aku mau dengar ceritamu.

I Murda bergeser duduk ke dekat tangga.

Cokorde Gde Qke: Aku mendengar Gusti Ayu Pandan Sari ini adalah anak pamanku, alrmarhum Anak Agung I Gusti Ktut Alit Rai. Betul, begitu Murda?

I Murda: Betul, ratu.

Cokorde Gde Oke: Murde, karena dalam hal ini tersangkut persoalan kehormatan almarhum pamanku dan kerabatku, jika nanti ternyata keteranganmu tidak benar, kamu akan dijatuhi hukuman yang seberat-beratnya.

(p.46) I Murda: Hamba mengerti Ratu.

Cokorde Gde Oke: Baiklah sekarang ceritakan.

FLASHBACK TO: A. SCENE-SCENE KERUSUHAN DI AWAL

B. SCENE KETIKA PANDAN SARI DISERAHKAN OLEH I GUSTI KETUT ALIT RAI, BESERTA KERIS PUSAKA

CUT BACK TO: Cokordo Gde Oke menanyakan Sesuatu:

Cokorde Gde Oke: Mana dia keris kerajaan itu?

I Murda: Ada Ratu.

I Murda meletakkan bungkusan sutera kuning yang sudah tua dan lusuh lalu membukanya di depannya. Dikeluarkannya sebilah keris emas. Cokorde Gde Oke memberi isyarat kepada Punggawa yang duduk di belakangnya supaya mengambil keris itu dari tangan I Murda dan menerahkan padanya, setelah diserahkan padanya maka Cokorde Gde Oke menghunus keris itu dan memperhatikannya dengan teliti, mulai dari hulu sampai ke ujungnya.

Cokorde Gde Oke: Ya. Keris ini kerisnya.

84. INT. BALE UMA METEN RUMAH I MURDA - SIANG: I Jaya, I Pageh dan I Kompyang lagi duduk di dalam.

I Jaya: Buat apa paman katakan bahwa Sari putri almarhum Anak Agung I Gusti Alit Rai?

I Kompvang: Saya takut dihukum, Kalau Gusti Ayu bukan kesatrya mungkin dia akan dicambuk.

I Murda masuk.

I Jaya: Mana Sari pak!

I Murda: Gusti Ayu tinggal di Puri.

(p.47) I Jaya: Bapak tinggalkan begitu saja?

I Murda: Memang tempatnya seharuanya di sana Jaya. Bukan dalam gubuk kita yang hina ini. Aku betul-betul lega kini. Kewajiban yang kupikul selama ini untuk menjaga Gusti Ayu sesuai dengan martabatnya hari ini berakhir sudah. Pengabdianku pada I Gusti Alit Rai dan amanatnya telah terlaksanakan.

I Jaya: Tapi dia tak perlu tinggal di sana.

I Murda: Ratu yang menetapkan begitu. Gusti Ayu seorang keaatrya. Gusti akan diperlakukan sebagai seorang puteri, lengkap dengan pelayan-pelayan.

I Jaya: Aku ingin ketemu Sari.

I Murda: Kau tida punya hak untuk ketemu dia lag!.

I Jaya: Kenapa tidak?

I Murda: Tempatmu ditakdirkan di gubuk ini. Orang tidak bisa masuk puri begitu saja.

I Jaya: Aku akan masuk.

Lalu ia berjalan ke pintu. Tapi I Murda sudah berdiri di tengah pintu. Ia mencabut keris yang lain yang tersisip di pinggangnya. Keris itu ia hunus.

I Murda: Seumur hidupku yang kujaga adalah amanat Raja yang diberikan padaku. Kini amanat itu sudah kuselesaikan. Kalau kau mau merusaknya, langkahi dulu mayat bapakmu!

I Jaya melompat mengambil arit untuk ia tebaskan ke leher ayahnya. I Pageh melompat ke depan ayahnya lalu berkata kepada I Jaya.

I Pageh: Kak, aku juga sedih atas kepergian adik kita. Kita bersaudara. Tapi sebelum kakak menyentuh bapak bunuh aku dulu!

Ia membentangkan dadanya supaya ditebas oleh I Jaya. I Jaya (p.48) mengayunkan aritnya tapi melihat ketenangan adiknya untuk mengorbankan diri untuk ayah mereka, ia tiba-tiba sadar. Arit itu ia lemparkan, lalu ia berlutut pada ayahnya.

I Jaya: Aku cinta pada Sari Pak.

I Murda: Aku tahu Jaya. Tapi masing-marsing kita punya tempat. Hari ini aku telah dapat menjauhkan anakku dari melakukan kesalahan, menjamah perempuan yang bukan untuknya.

I Jaya menangis sedangkan I Murda keluar. Kompyang mendekati I Jaya.

85. INT. ANJUNGAN TEMPAT GUSTI AYU PANDAN SARI - MALAM: Pandan Sari duduk layani oleh dayang-dayang. Ia sedang duduk menghadapi hidangan makan malam. Namun makanan kelihatan sedikit sekali yang disentuhnya, dia kelihatan murung. Dia mengenakan pakaian yang bagus. Setelah selesai makan Ni Pogoh yang selalu mengikuti Gusti Ayu, mengikuti Gusti Ayu pergi menyendiri.

Gusti Ayu: Saya tidak usah dilayani terus. Saya biasa mengurus diri sendiri.

Ni Pogoh: Oh, Ratu akan marah sekali. Dia sangat sayang pada Gusti Ayu. Dia tidak mau Gusti Ayu sedikitpun berkekurangan, baik dalam pakaian.

DISSOLVE INTO: 86. INT. RUMAH I MURDA - SIANG: I Murda di rumah kesunyian. Kelihatan I Murda berjalan dari Uma Meten menuju ke Paon mengambil centong, lalu menyenduk air dari gentong dan meminumnya. Lalu berjalan lagi ke Bale Sikepat, duduk di sana. Kelihatan bagai orang kebingungan dan kesepian. Di halaman rumah (Natar) banyak kurungan ayam aduan.

86A. INT. ANJUNGAN TEMPAT GUSTI AYU PANDAN SARI - MALAM: Gusti Ayu melihat ke sekelilingnya.

Gusti Ayu: Banyak sekali perempuan di sini?

Ni Pogoh: Mereka adalah selir-selir raja.

Gusti Ayu: Oh...

(p.49) Ni Pogoh: Apa Gusti Ayu tiduk tahu Raja diperbolehkan memiliki selir berapa saja!

Gusti Ayu: Apa permaisuri tidak keberatan?

Ni Pogoh: Biarpun keberatan tidak akan bisa menghalangi Raja memiliki selir. Hidup sebagai selir senang sekali Gusti Ayu. Tidak ada pekerjaan. Setiap hari bersenang-senang terus. Ratu senang sekali pada Gusti ayu. Setiap kali melihat saya beliau tidak pernah lupa menanyakan Gusti Ayu. Gusti Ayu tidak pernah hilang dari ingatannya.

Gusti Ayu: Saya belum pernah melihat permaisuri.

Ni Pogoh: Permaisuri menempati puri sebelah barat. Sekarang sudah sakit-sakitan. Ratu jarang ke sana.

Gusti Ayu: Kasihan...

DISSOLVE INTO: 86B. INT. BALE UMA METEN RUMAH I MURDA - PAGI: I Murda duduk di bale Uma Meten sambil makan sirih, dan memperhatikan I Pageh yang sedang mengurus ayam aduannya.

I JAYA DUDUK DI BALE SIKEMAN, melamun.

Kemudian ia melihat Pageh yang sedang mengurus ayam-ayamnya. I Jaya mengerti bahwa I Pageh tidak mau ia ajak bicara. Ia pergi ke balai Si Kepat di mana jalanya tergantung dan duduk di depannya seperti akan menyirat jalanya. I Murda dari bale Uma Meten hanya memperhatikan segala tingkah anak-anaknya ini.

DISSOLVE INTO: 86C. INT. DI ANJUNGAN TEMPAT GUSTI AYU PANDAN SARI - SIANG

Ni Pogoh: Tapi jadi selir itu sungguh senang Gusti Ayu. Apalagi buat orang seperti Gusti Ayu yang begitu cantik. Gusti Ayu akan jadi selir kesayangannya.

Gusti Ayu Pandan Sari lalu menangis.

Ni Portoh (p.50): Kenapa Gusti Ayu?

Gusti Ayu: Saya mau pulang ke kampung saya di Kosamba, Ni Pogoh. Saya gadis biasa, miskin, tapi bebas. Orang-orang yang saya cintai ada di sana.

Ni Pogoh: Gusti Ayu punya kekasih?

Gusti Ayu diam, tap! kemudian ia mengangguk pelan.

Ni Pogoh: Gusti Ayu tidak bisa meninggalkan puri. Tapi kalau Gusti ingin berkirim pesan saya bisa membantu. Tapi Ratu tidak boleh tahu. Hukuman berhubungan dengar orang luar berat.

Gusti Ayu: Saya sangat cinta padanya.

Ni Pogoh: Di mana dia?

Gusti Ayu: Di Kosambe.

Ni Pogoh: Namanya...?

Gusti Ayu bimbang sebentar.

Ni Pogoh: Bagaimana saya bisa menyampaikan pesan, kalau saya tidak tahu namanya, Pesannya apa?

Gusti Ayu: Katakan saya akan tetap setia...

Ni Pogoh: Namanya...?

Gusti Ayu: I Jaya... anak I Murda...

DISSOLVE INTO: 87. INT. PURA - SIANG: I Murda berhadapan dengan seorang Pedande. Seorang lelaki tua yang seumur dengan dia.

I Murda: Semenjak Pandan Sari pergi, rumahku sunyi seakan akan tidak punya run. I Pageh hanya sibuk dengen ayam aduannya. Ia tidak lagi bermain gendang. I (p.51) Jaya jarang pulang. Setiap kali saya tanyai ia selalu mengelak. Saya merasa mereka menyalahkan saya dengan diambilnya Gusti Ayu Pandan Sari kembali ke Puri kerajaan.

Pedande: Murda, semuanya sudah ditentukan oleh Sang Hyang Widi. Dan perbuatanmu itu perbuatan terpuji. Memang begitu mestinya seorang abdi yang setia. Aku mengerti kesunyian di rumahmu. Apalagi kalau anak-anakmu turun ke laut.

I Murda: Sudah lama mereka tidak ke laut?

88. EXT. GELANGANG TEMPAT MENGADU AYAM - SIANG: Orang-orang berkumpul mEnyaksikan adu ayam yang menarik perhatian. Dua ekor ayam jago sedang bersabung. Para penonton berteriAk-teriak menjagoi ayam masing-masing. Salah seekor ayam itu kena dan jatuh tergeletak, dan orang-orang bersorak.

Penonton I: Yang bisa melawan ayam juara-juara Karangasem ini cuma ayam I Pageh.

Penonton II: Itu juga belum tentu. Katu orang mereka punya ilmu memasukkan iblis ke dalam jiwa ayam-ayam mereka. Sehingga yang berlaga adalah ayam lawan iblis.

Penonton I: Ah itu cuma cerita burung. Rahasianya sederhana sekali. Mereka sangat pandai mengikatkan taji. Tapi I Pageh juga pandai.

Di tempat tidak jauh dari penonton-penonton itu kelihatan I Pageh sedang mengikatkan taji ke kaki ayamnya. Sementara itu ayam musuh sudah berkokok-kokok tidak sabar. Seorang satrya mendekati Pageh. Diambilnya ayam dari tangan Pageh ditimang-timangnya, sudah itu ia periksa tajinya. Rupanya ia puas lalu ia berkata:

Satrya: Aku berani dua puluh ringgit.

Tiba-tiba dari pihak Karangasem terdengar seruan.

Pihak Karangasem: Dua puluh lima ringgit.

Satrya itu memandang ke arah orang yang bicara itu dengan mengecilkan matanya lalu berkata:

(p.52) Satrya: Tiga puluh ringgit.

Seseorang mendekati Pageh lalu berkata:

Lelaki I: Tidak ikut bertaruh, Pageh?

I Pageh: Uangku tidak ada. Kalau terlalu besar taruhannya.

LaLaki I: Kalau kau mau aku bisa pinjamkan.

I Pageh: Aku mau.

Lelaki I: Mari kita bicarakan sebentar.

Ia menarik tangan I Pageh. Pageh bingung. Karena ia tidak tahu pada siapa ayam itu akan ia serahkan.

Lelaki I: Tolong pegangkan ayam I Pageh.

I Pageh menyerahkan ayamnya begitu saja. Ia memisahkan diri bersama orang itu. I Jaya datang menyeruak antara orang banyak. Ia mendekati I Kompyang yang juga berada di situ.

I Jaya: (Yang melihat adiknya): Ke mana dia?

I Kompyang: Meminjam uang.

I Jaya: Hutangnya sudah di mana-mana.

I Kompyang: Dari mana kau tahu.

I Jaya: Karena saya yang membayarnya.

I Pageh kembali lagi ke dekat gelanggang lalu menerima ayamnya dari tangan lelaki tadi. Adu ayam segera dimulai setelah dibuka dengan cara-cara yang lazim dan setelah orang diberi kesemapatan untuk mengumumkan taruhan yang sampai berjumlah seratus ringgit. Tanda diberikan dan adu ayam dimulai. Ayam I Pageh berkelahi dengan penuh semangat. Berkali-kali ia menerjang lawannya tapi lawannya tiak apa-apa. Orang bersorak riuh rendah. Peranan beralih.

(p.53) Sekarang ayam orang Karangsem yang mulai menyerang. Akhirnya ayam I Pageh kalah. Ia lari dan kemudian roboh berlumuran darah. Pihak Karangasem bersorak sorai sedangkan I Pageh tertunduk karena malu. Tiba ia digamit oleh I Kompyang yang mengajak dia bicara sebentar. I Pageh mengikuti I Kompyang. I Kompyang membisikkan sesuatu ke telinga I Pageh.

I Pageh: Betul paman.

I Kompyang: Aku tidak dusta. Ada yang lihat.

I Pageh: Siapa?

I Kompyang: Anak itu (ia memanggil anak itu). I Murnia kemari.

Anak itu datang.

I Pageh: Apa yang kau lihat?

I Murnia: Waktu kakak tadi sedang bicara di luar orang yang memegang ayam kakak memutar-mutar ikatan taji ayam kakak hingga longgar.

I Pageh: Kenapa tidak kau katakan tadi.

I Murnia: Tidak sempat lagi. Waktu kakak datang gong sudah berbunyi.

I Pageh: Mana dia orangnya?

I Murnia: Itu yang berkain merah.

I Pageh datang mendekati orang itu diikuti oleh orang ramai, orang berkain merah itu kelihatan takut. I Pageh berdiri menantang di depan lelaki itu.

I Pageh: Hai Jro, semua orang bilang ayam Karangasem bertuah. Berilmu. Itu semua bohong. Yang benar mereka penipu dan curang dalam bermain.

Lelaki Berkain Merah: Apa maksudmu?

(p.54) I Pageh: Anak ini melihat kau melonggarkan taji ayamku. Mengaku apa tidak?

Lelaki Berkain Merah: Tidak.

Serta merta lelaki itu mundur lalu meraba kerisnya yang tersisip di tali pinggangnya sebelah belakang. I Pageh tak memberi kesempatan pada lawannya untuk menyambut keris. Ia segera menendang lawannya dan perkelahian terjadi. I Jaya dan I Kompyang datang.

Orang banyak: Ambil kerisnya.

I Jaya mendekati I Pageh lalu berkata.

I Jaya: Berikan kerismu, Pageh.

I pageh berhenti memukul lawannya lalu memberikan kerisnya kepada I Jaya. I Kompyang berusaha mengambil keris lelaki berkain merah itu. Ia sempat mencabut kerisnya.

Orang banyak: Dia mencabut kerisnya.

Orang itu menyerang I Jaya. Sekarang dua orang lelaki yang bersenjatakan keris berhadapan. Lelaki itu menyerang membabi buta sedangkan I Jaya menghadapi dengan pikiran yang tenang. Sekarang perkelahian sudah berubah sifat. Bukan lagi antara I Jaya dengan lelaki berkain merah itu, tapi I Jaya yang mewakili Kosambe dan berkain merah mewakili Karangasem. Lelaki itu jatuh terlentang dan secepat kilat I Jaya melompat ke atasnya lalu mengangkat kerisnya slap untuk ditancapkan kepada lelaki berkain merah itu. I Pageh mendekati musuhnya.

I Pageh: Mengaku tidak?

Lelaki Berkain Merah: Ampun. Tapi bukan kemauanku sendiri.

I Pageh: Siapa yang suruh.

Waktu itu orang berteriak.

Orang Banyak: Awas di belakang.

Orang Karangasem yang tadi mengajak I Pageh bicara tiba-tiba (p.55) menyerang I Pageh dari belakang. Ia hampir saja berhasil menikamkan kerisnya ke punggung I Pageh. Tapi dengan sigap I Jaya mendorong I Pageh hingga I Pageh terjatuh dan luput dari tikaman orang Karangasem itu. Orang itu terjerumus ke depan tapi ia langsung bangkit menyerang I Jaya. Pergulatan terjadi. Sebelum orang tahu bagaimana jalan perkelahian itu orang Karangasem itu sudah roboh berlumuran darah. Orang bubar I Jaya duduk sambil memperhatikan kerisnya yang berdarah. Tiba-tiba ia merasa bahunya dipegang orang. Ia menengadah. Dia melihat dua orang prajurit bersenjatakan tombak berdiri di kiri kanannya sedangkan di belakang prajurit itu kelihatan I Pageh dan I Kompyang.

89. INI. TEMPAT PERAINGAN - SIANG: Gusti Ayu kelihatan duduk di taman. Kamera mundur lalu kelihatan Cokorde Gde Oka lagi duduk. Di sampingnya duduk Ni Pogoh membisikkan sesuatu ke telinga Cokorde.

Cokorde Gde Oka: Kekasih?

Ni Pogoh: Ya Ratu.

Cokorde Gde Oka: Usahakan supaya ia lupa kekasihnya.

90. INT. RUANG PENGADILAN (Kerta Gosa) - SIANG: Semua yang hadir berpakaian kebesaran. Juga I Jaya yang di hadapkan hakim atas ke depan hakim atas perabunuhan yang dilakukan.

Catatan/tambahan:

90A. EXT. HAL. LUAR PENGADILAN (Kerta Gosa) - SIANG: Kelihatan Murda, Kompyang, Pageh dan orang-orang desa Kosambe, ikut memperhatikan dan menunggu sidang pengadilan I Jaya.

91. EXT. KEBUN DALAM PURI - SIANG: Di kebun itu kelihatan seorang laki-laki sedang membersihkan kebun. Gusti Ayu duduk di depan jendela memperhatikan lelaki itu. Serasa ia kenali wajah lelaki itu lalu ia turun tangga dan berjalan arah ke kebun. Tukang kebun itu duduk di atas sebuah batu. Gusti Ayu datang mendekat. Waktu ia melihat seorang putri bangsawan datang ia berdiri hendak pergi, tapi Gusti Ayu berkata.

Gusti Ayu: Nama kakak siapa?

I Jiwa: Nama hamba I Jiwa, Ratu.

(p.56) Gusti Ayu: I Jiwa. Asal dari mana?

I Jiwa: Hamba dari Kosambe, Ratu.

Gusti Ayu: Kosambe? Kak Jiwa, aku Pandan Sari. Anak Pak Murda. Kau ingat... I Jaya, I Pageh?

Baru1ah I Jiwa berani mengangkat mukanya.

I Jiwa: Maafkan hamba Gusti. Memang hamba ada juga mendengar berita tentang Gusti Ayu. Senang di sini, Gusti?

Gusti Ayu: Keinginanku cuma satu. Pulang ke Kosambe. Ketemu, orang-orang yang kusayangi. Ketemu, bapak, I Pageh, 1 Jaya.

I Jiwa diam, dan menunduk lalu berkata;

I Jiwa: Kasihan I Jaya.

Guati Ayu: Ada apa, kenapa diam?

I Jiwa: Gusti Ayu tidak tahu apa yang terjadi?

Gusti Ayu: Apa?

I Jiwa: I Jaya berkelahi dengan orang Karangasem untuk membela I Pageh. Orang Karangasem itu mati terbunuh. I Jaya telah diadili oleh Kerta Gosa, tiga hari yang lalu.

Gusti Ayu: Lalu?

I Jiwa: Dia dijatuhi hukuman 10 tahun dan dibuang ke Nusa Penida.

Gusti Ayu: Dibuang ke Nusa Penida?

Ia berdiri kemudian terhuyung-huyung seakan-akan mau roboh.

I Jiwa (p.57): Gusti, Gusti.

Waktu itu kelihatan Ni Pogoh datang mendekati mereka. I Jiwa diam-diam menjauh.

Ni Pogoh: Gusti Ayu kelihatan pucat, kenapa?

Gusti Ayu: Tidak apa-apa. Cuma sedikit pusing.

Ni Pogoh: Saya dari tadi mencari Gusti Ayu. Saya membawa kabar baik.

Gusti Ayu: Kabar apa?

Ni Pogoh mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari ikat pinggangnya. Bungkusan itu ia buka lalu dari dalamnya ia keluarkan sebentuk cincin berlian yang berkilau-kilauan. Cincin itu ia pasangkan ke jari Gusti Ayu.

Ni Pogoh: Sesuai sekali. Ini hadiah dari Cokorde Gde Oke buat Gusti Ayu - tandu dia menaruh perhatian pada Gusti Ayu. Tidak sembarangan ia memberikan barang seperti ini. Setahu saya baru Gusti yang dia beri cincin sebagus ini.

Gusti Ayu memperhatikan cincin itu. Tiba-tiba ia mendapat fikiran.

Gusti Ayu: Cincin ini bagus sekali. Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kasih saya kepada Ratu.

Ni Pogoh: Memang sudah sepatutnya. Ratu akan senang sekali. Tapi Gusti Ayu hanya bisa ketemu Ratu kalau dipanggil.

Gusti Avu: Di mana Ratu sekarang?

Ni Pogoh: Ada di balai peranginan bersama Dewa Putu.

Gusti Ayu berdiri lalu berjalan.

Ni Pogoh: Gusti, Gusti mau ke mana?

Gusti Avu: Mau ketemu Ratu...

(p.58) Ni Pogoh: Tidak bisa Gusti Ayu. Nanti saya dimarahi.

Gusti Ayu: Tadi Ni katakan, Ratu akan senang kalau saya mengucapkan terima kasih.

92. INT. BANSAL PERANGINAN - SIANG: Cokorde Gde Oka duduk bersarMa Putu Dewa seorang tua yang menjadi penasehat Ratu dan beberapa orang muridnya. Ia melihat Gusti Ayu datang bergegas diikuti oleh Ni Pogoh, Gusti Ayu duduk bersimpuh di depan Cokorde Gde Oka, lalu melakukan sembah. Cokorde Gde Oka melihat Gusti Ayu mengenakan cincin berlian yang baru la hadiahkan. Di belakang Gusti Ayu duduk Ni Pogoh. Cokorde Gde Oka member! isyarat pada Ni Pogoh, bahwa ia sudah melihat cincin di jari Gusti Ayu. Ia tersenyum.

Cokorde Gde Oka: Apa yang membuat Dinda tergopoh-gopoh datang kemari.

Gusti Ayu: Hamba datang untuk menyatakan rasa terima kasih yang tidak terhingga atas pemberian Ratu yang tak ternilai.

Cokorde Gde Oke tersenyum.

Cokorde Gde Oke: Itu pemberian yang tidak berarti. Tidak sebanding dengan kekayaan yang adinda miliki nanti. Anggaplah cincin itu sebagai tanda pengikat yang dibiasakan antara anak raja-raja.

la menatap muka Gusti Ayu lalu berkata lagi.

Cokorde Gde Oka: Bertahun-tahun adinda hidup di tengah kemelaratan akibat fitnah orang lain. Kakanda merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki yang selama ini. Karena itu segala keinginannya adinda akan kakanda penuhi. Mamanda Dewa Putu dan kakanda sedang berunding mencari hari baik untuk penobatan adinda.

Gusti Ayu: Terima kasih Ratu, karena Ratu telah memikirkan nasib hamba. Memang ada keinginan yang ingin hamba ajukan.

Cokorde Gde Oka: Katakan... dan semuanya akan kakanda laksanakan.

(p.59) Gusti Ayu: Ratu, tiga hari yang lalu pengadilan Kerta Gosa telah menjatuhkan hukuman pada seorang pemuda yang baik bernama I Jaya dari Kosambe.

Waktu mendengar noma I Jaya, Cokorde Gde Oka seperti disengat kala.

Cokorde Gde Oka: I Jaya? Dia seorang pembunuh...

Gusti Ayu: Hamba yakin dia membunuh tidak dengan sengaja. Mungkin karena terpaksa.

Cokorde Gde Oka memandang dengan mata berang pada Ni Pogoh. Ni Pogoh menundukkan muka karena takut.

Cokorde Gde Oka: Gusti Ayu, bagaimana Gusti bisa menaruh perhatian begitu besar pada seorang pembunuh.

Gusti Ayu: Dia kakak hamba, dia anak Murda.

Cokorde Gde Oka: I Murda, Oh... Dia seorang Sudra, dan seorang pembunuh, seorang hina.

Gusti Avu: Ampuni hamba, Ratu. Hamba belum pernah melihat bukti kehinaan kaum Sudra. Dari kecil hamba memperoleh kasih sayang hanya dari orang-orang Sudra. Belum pernah dari kaum kesatrya.

Cokorde Qde Oka: Pandan Sari! Engkau menentang aku?

Gusti Ayu: Ampun Ratu, hamba bodoh dan hamba hanya mengatakan apa yang hamba rasakan benar.

Cokorde Gde Oka: Benar. Yang benar adalah kau seorang yang berdarah kesatrya dan pembunuh itu, adalah sudra. Jika kau melibatkan diri dengannya kau akan ikut
hina. Sedangkan aku berusaha mengembalikan martabatmu demi hormatku pada ayahrau.

Gusti Ayu: Terima kasih Ratu atas maksud baik itu. Tapi dengan tak sengaja barangkali yang Ratu lakukan ialah menyakiti hatiku dan melakukan tekanan batin atas diriku.

(p.6O) Cokorde Gde Oka: Pandan Sari ingat dengan siapa kau berhadapan.

Gusti Ayu: Ampun Ratu. Hamba tahu hamba berhadapan dengan seorang raja. Kemenakan ayah hamba. Karena itu hamba ingin memohon agar keinginan hamba ini dapat dikabulkan.

Cokorde Gde Oka: Apa keinginanmu?

Gusti Ayu: Hamba mohonkan ampunan untuk kakak hamba I Wayan Jaya. Jasa dan budi I Made Murda sudah teramat besar pada hamba.

Cokorde Gde Oka: Itu bukan hakku. Kerta Gosa telah mengambil dan menjatuhkan hukuman, Yang berbuat harus bertanggung jawab.

Pandan Sari terdiam mendengar kata-kata itu. Lemas terasa seluruh badannya. Kemudian ia membuka seluruh perhiasaan yang ada lekat dibadannya.

Gusti Ayu: Kembalikan hamba ke tengah keluarga hamba. Perhiasaan ini tidak pantas melekat di tubuh hamba. Izinkanlah hamba kembali kepada kaum sudra.

Cokorde Gde Oka: Tidak, itu tidak bisa.

Putu Dewa mendekat dan berseru pada Ratu. Putu Dewa mendekat ke Ratu Cokorde Gde Oka lalu berkata:

Putu Dewa: Ananda, perkara yang begin! penting sebaiknya kita bicarakan dengan tenang dan penuh kebijaksanaan. Dan ananda Gusti Ayu, apakah sudah tetap hati ananda akan memasuki alam sudra. Menolak karunia yang dilimpahkan oleh Sang Hyang Widi pada ananda.

Pandan Sari: Pamanda, ananda menolak karunia yang satu untuk menerima karunia yang lain.

Putu Dewa terdiam mendengar jawaban Pandan Sari. Ia memandang kepada Cokorde Gde Oka yang juga sedang melihat padanya.

(p.61) Cokorde Gde Qka: Baiklah Gusti Ayu. Kembalilah ke kamarmu. Aku akan sampaikan keputusanku setolah kami berunding.

Pandan Sari mengangkat sembah lalu mundur diikuti oleh Ni Pogoh yang berjalan di belakang Pandan Sari, tapi jaraknya makin lama makin jauh. Ketika Pandan Sari tiba di kamarnya Ni Pogoh sudah tidak kelihatan lagi.

Cut to.

93. EXT. PINGGIR PANTAI KOSAMBE - SIANG: Orang banyak berkumpul. Sebuah kereta ditarik-tarik 2 ekor kuda datang. Di belakangnya ada beberapa orang prajurit berkuda yang mengiringi kereta tersebut. Di dalam kereta, duduk I Jaya dengan tangan diborgol. Orang-orang kampung Kosambe mendekat ke kereta yang mengangkut I Jaya. Mereka semua memperlihatkan rasa simpati pada I Jaya, orang-orang perempuan ada yang menangis terisak-isak.

94. EXT. JALANAN KAMPUNG - SIANG: Sebuah kereta kuda berlari dengan cepat. Di sebelah kusirnya duduk I Jiwa, sedangkan di sebelahnya duduk dengan gelisah, Pandan Sari.

Pandan Sari: I Jiwa, suruh lebih cepat.

I Jiwa: Tolong lebih cepat pak.

Kusir: Tak bisa, kudanya sudah capek.

95. EXT. PINGGIR PANTAI KOSAMBE - SIANG: Kereta kuda berhenti di tepi pantai. I Jaya lalu turun. Rakyat mendekat, di antaranya kelihatan I Murda, I Kompyang, I Pageh dan lain-lain. Mereka saling berpandangan... I Jaya berbicara dengan pengawai.

I Jaya: Boleh saya pamit dengan bapak saya?

Pengawal: Tidak ada waktu, kita akan segera berangkat.

I Jaya: Sebentar saja.

Pengawal: Tidak bisa.

Sementara itu datang Kepala Pengawal.

(p.62) Kepala Pengawal: Ada apa?

Pengawal: Dia mau istirahat.

Kepala Pengawal mengalihkan pandangan pada I Jaya.

I Jaya: Saya minta ijin pamit dengan bapak saya.

Kepala Pengawal: Ya silahkan.

Pengawal kelihatan kesal. I Jaya berjalan menuju ke tempat I Murda berdiri, rakyat memberikan jalan. I Jaya lalu berlutut memeluk kaki bapaknya. Bapaknya menarik I Jaya berdiri lalu memeluknya.

I Jaya: Ampuni saya pak.

I Murda: Kuatkan hatimu nak.

Sementara itu I Pageh berlutut dan memeluk kaki I Jaya sambil menangis.

I Pageh: Kakak dihukum karena aku. Ampuni aku kak.

I Jaya mernbungkuk mendekatkan mukanya pada Pageh.

I Jaya: Semuanya sudah ditentukan. Jaga kehormatan Pandan Sari.

I Jaya berdiri, dan di bibirnya kelihatan senyum.

96. EXT. JALANAN KAMPUNG - SIANG: Kereta yang ditumpangi Pandan Sari dan I Jiwa masih terseok-seok. Pandan Sari sudah hampir putus asa. Sampai akhirnya kereta terperosok ke dalam lubang dan tidak bisa bergerak, padahal pantai sudah kelihatan. Pandan Sari melompat turun, diikuti I Jiwa dan dia berlari menuju pantai.

97. EXT. PANTAI KOSAMBE - SIANG: I Jaya sudah menaiki perahu kecil yang akan membawanya ke perahu yang lebih besar, yang berlabuh di tengah. Dari jauh nampak Pandan Sari berlari menuju pantai. Dia turun ke air mengejar perahu yang dinaiki Jaya, sambil berteriak.

Pandan Sari: Kak Jaya... Kak...

(p.63) I Jaya: Sari...

Kemudian dia bicara pada pengawal yang tadi tak mengizinkan dia pamit pada ayahnya,

I Jaya: Adik saya... sebentar saja... Soya mohon...

Pengawal hanya tersenyum mengejek, sambil menggelengkan kepalanya. I Jaya masih berusaha bergerak, namun Si Pengawal sudah bersiap-siap dengan senapannya. Jaya terhenti, Pandan Sari terus mendekat.

Pandan Sari: Kak... aku tunggu kakak kembali, sampai kapanpun. Aku sudah bebas, bebas Kak.

Perahu yang membawa I Jaya makin menjauh, Pandan Sari masih di dalam air, bahkan dia maju hingga air sudah sampai ke pinggangnya. I Pageh lalu menyusulnya, berlari mendekati Pandan Sari yang pingsan, disambut oleh Pageh.

FADE OUT / FADE OUT

98. EXT, BUKIT BERBATU-BATU DI NUSA PENIDA - SIANG: Orang-orang hukuman sedang bekerja menggunakan martil besar. Nampak I Jaya sedang memecah batu. Badannya penuh keringat dan sudah menjadi hitam. Di dekatinya seseorang yang rupanya sudah menjadi kawan akrakbnya. Kelihatan juga para pengawal yang sedang berjaga-jaga. Di langit kelihatan burung-burung elang yang bebas beterbangan dan sesekali kedengaran seruannya. Bunyi palu-palu yang beradu dengan batu-batu besar itu.

Di - Overlapping - kan dengan dialog Pandan Sari:

OFF SOUND. Pandan-Sari: Aku sudah bebas, bebas kak! Aku tunggu kakak kembali sampai kapanpun!

99. EXT. PANTAI KOSAMBE - PAGI: Pandan Sari duduk di pasir memandang pulau Nusa Penida. Yang sudah nampak mulai kehitaman. Serombongan perempuan menjunjung bawaan mereka menyusuri pantai. Sehingga mereka bagaikan sosok hitam yang bergerak. Pandan Sari berdiri dan berjalan menuju ke lidah air laut, bermain-main di kakinya. Ia mengambil bunga kamboja putih yang terselip di rambutnya lalu melemparnya. Bunga itu dibawa kembali oleh gelombang ke pantai.

(p.64) 100. EXT. PANTAI NUSA PENIDA - PAGI: Kelihatan tempat penjagaan pengawal agak ke darat dan seorang penjaga ada di sana. I Jaya berjalan ke pantai, yang ditumbuhi oleh pohon kamboja merah. Lalu mengambil sekuntum dan menyelipkan ke telinganya. I Jaya berdiri mengarahkan pandangan ke pantai Kosambe. Sekuntum kamboja yang dibawa arus bermaln-main di kakinya. Ia mengambilnya, kamboja itu, dilihatnya. Ia mengambil kamboja yang terselip di telinganya dan dibuang. Lalu menggantinya dengan kamboja yang baru saja diambilnya dari air laut tadi.

101. EXT. TEMEAX-LATIHAN MENARI - MALAM: Pageh sedang menabuh gendang. Tapi tak bersemangat. Pandan Sari sedang menari, juga tidak bersemangat. Dari jauh I Wario melihat dengan perasaan sedih. Selesai Pandan Sari menari, ia langsung pulang ditemani Pageh, setelah pamit pada I Warlo.

Pandan Sari: Saya pikirkan dulu, usul kakak itu.

102. INT. RUMAH I MURDA - MALAM: I Kompyang dan I Murda sedang duduk di balai-balai.
Kompyang merokok, sedang I Murda sedang menumbuk sirih.

I Murda: Aku pikir ajakan I Wario itu bagus juga untuk Pandan Sari dan Pageh.

I Kompyang: Iya, dengan melihat tempat lain, mereka dapat terhibur hatinya.

Saat itu Pandan Sari dan Pageh masuk lalu Pageh menuju ke balai Sikepat sedangkan Pandan Sari menuju kamarnya. Melewati I Murda dan I Kompyang.

Pandan Sari: Sudah lama paman?

I Kompyang: Baru, cepat betul selesai latihannya.

Pandan Sari: Kurang enak badan paman.

I Murda: Sari, bapak ingin bicara sebentar.

Pandan Sari tidak jadi masuk ke kamarnya, lalu kembali ke dekat bapaknya.

I Murda (p.65): Tadi I wario kemari. Ia ingin nmngajak kau dan Pageh ikut rombongannya. Bapak pikir baik juga.

Pandan Sari: Dia juga sudah bicara dengan saya tadi. Biarlah kak Pageh saja yang ikut pak. Sari belum berminat.

Sambil bangkit dari duduknya. Sari ingin istirahat pak, paman.

I Murda: Begitulah dia sekarang Kompyang.

I Kompyang: Sudah dua Galungan I Jaya tidak borsama kita.

I Murda: Ya.

103. EXT. PANTAI NUSA PENIDA - PAGI: Hari ini ada beberapa orang yang dibebaskan dan dipulangkan. Salah seorang di antaranya, adalah sahabat I Jaya. Saat ini mereka sedang berjalan bersama menuju pantai. Kelihatan I Jaya berlari-lari mengejar temannya itu. Prajurit pengawal yang berjaga-jaga ada beberapa orang.

I Jaya: Wayan...

Wayan: Ada apa Jaya?

I Jaya: Aku titip ini untuk adikku Sari. Katakan aku sehat dan pasti kembali.

Pengawal yang sudah kita kenal pada waktu pemberangkatan dulu, muncul.

Penawal: Hey, Jaya apa itu?

I Jaya: Ini, cuma kerang untuk adikku.

Pengawal: Coba lihat. Sudah ada izin?

I Jaya: Izin apa?

Pengawal (p.66): Ya izin... goblok. Oh... ini untuk kekasihmu itu ya.

I Jaya diam saja.

Hey ... aku tanya, jawab!

I Jaya mengangguk pelan. Dan pengawal tadi malah ketawa. Dan teman-temannya yang lain juga ketawa. Sedangkan orang-orang tahanan hanya diam saja.

Pengawal: Tidak bisa, harus ada izin. Dan ini harus dikembalikan ke tempatnya.

Pengawal mulai mengayunkan kerang itu untuk dibuangnya. I Jaya segera merampas kerang dari tangan pengawal itu dan jadilah rebut-merebut. I Jaya ditendang hingga jatuh.

Pengawal: Kurang ajar kau. Ini lihat.

Pengawal itu membanting kerang di batu padas hingga pecah. I Jaya sudah tak bisa lagi menahan marahnya. Ia bangklt dan diserbunya pengawal itu. Terjadilah perkelahian. Orang-orang tahanan tak berani berbuat apa-apa. Pengawal-pengawal yang lain ikut mengeroyok, I Jaya terhuyung-huyung dihajar beramai-ramai. Salah seorang tahanan yang sudah tua, Putu Setia, tiba-tiba ia mendekat dan merampas kelewang pengawal dan ditusukkannya ke perut pengawal yang berbuat gara-gara pada I Jaya. Seorang pengawal yang lain langsung menembak, Putu Setia tersungkur. I Jaya maju akan menerkam penembaknya, dan sebuah peluru menembus badannya. I Jaya tersungkur lemas, semua diam. Pengawal-pengawal yang lain lalu memberi perintah.

Penawal lain: Yang akan berangkat jalan terus, yang lain kembali ke barak.

Wayan mengambil kerang yang pecah tadi dan membawanya pergi pulang, naik ke perahu.

104. INT. BALE UMA METEN RUMAH I MURDA - MALAM: I Murda kelihatan sudah tua sekali. Di sampingnya duduk Pandan Sari dan I Pageh. Pandan Sari tidak lagi duduk terpisah. Kedudukannya tidak lagi lebih tinggi dari I Murda. Sebuah kerang pecah diletakkan di depan Pandan Sari, oleh Wayan.

Wayan: Itu1ah pertemuan saya terakhir dengan I Jaya... maaf saya tidak membawa kabar yang lebih baik.

105. EXT. PANTAI - PAGI (p.67): Pandan Sari terisak-isak, wajahnya sembab karena menangis semalaman. Dia berada di tempat pertemua terakhir dengan I Jaya.

106. EXT. TEMPAT LATIHAN TARI - SIANG: Kelihatan seorang laki-laki lagi bicara dengan I Pageh. Orang itu adalah I Wario.

I Wario: Kau tukang gendang terbaik dan Pandan Sari penari yang tidak ada tandingannya, Pageh. Jangan biarkan dia tenggelam dalam kesedihannya. Marilah ikut kami berkeliling.

I Pageh: Aku akan bujuk lagi dia,

107. EXT. PINGGIR PANTAI - SORE: Tempat ini adalah tempat di mana dulu Pandan Sari dan I Jaya sering-sering bertemu. I Pageh berdiri agak jauh dari pantai memperhatikan Pandan Sari. Tampak Pandan Sari membawa sesajen, yang biasanya di hanyutkan kelaut untuk orang yang telah mati. Ia menaburkan sesajen. Beberapa orang-orang kampung juga melakukan hal yang sama. Setelah itu ia meninggalkan pantai dan pulang. Ia menuju ke tempat Pageh.

Pandan Sari: Kapan kita berangkat?

108: EXT. TEMPAT PERTUNJUKAN TARI- MALAM: I Pageh menabuh gendang (CU) disusul dengan lirikan Pandan Sari waktu menari. Di dalam Flashes ini kelihatan perhatian I Pageh pada Pandan Sari kian bertambah terpesona, demikian juga Pandan Sari.

a. Adegan kumpulan ini mengadakan pertunjukan tari di tempat lain.
b. Rombongan berjalan beriringan, gamelan dimuat di atas gerobak yang ditarik kuda.
c. Pertunjukkan tari di tempat lain.
d. Pertunjukkan tari di desa lain lagi.
e. Montage - shot yang lain.

109. EXT. JALANAN PESA - SIANG: I Kompyang sedang bertanya-tanya kesana-kemari. Lalu orang yang ditanyai itu menunjukkan ke arah Balai Desa. I Kompyang menuju ke sana.

110. EXT. BALAI DESA - SIANG: Pandan Sari dan I Pageh sedang duduk dengan teman-teman di kumpulannya. I Pageh melihat kedatangan I Kompyang. Begitu juga Pandan Sari.

I Pageh: Paman Kompyang.

(p.68) I Kopyang: Pageh, Sari, saya kemari untuk menjemput kalian.

Pandan Sari: Ada apa?

I Kompyang: Bapakmu sakit keras.

111. INT. BALE UMA METEN, RUMAH I MURD - MALAM: I Murda terbaring. Ia kelihatan tidak berdaya lagi, Duduk di dekatnya I Pageh, Pandan Sari, dan I Kompyang.

I Murda: Sari, Pageh rasanya ajalku sudah dekat.

Pandan Sari: Tidak ayah... jangan tinggalkan Sari.

I Murda: Itulah yang aku risaukan, Siapa yang akan menjaga dan melindungimu,

I Kompyang dan I Pageh sallng berpandangan.

I Pageh: Saya sudah berjanji pada Kak Jaya untuk menjaga Sari, ayah.

I Murda: Ya, janjimu sudah kau laksanakan. Sari, Jaya sudah tidak ada. Kawiniah dengan Pageh. Itu permlntaanku.

Pandan Sari hanya tertunduk, demikian juga I Pageh. I Murda memegang tangan I Pageh dan Pandan Sari, lalu dipertemukan tangan itu. Dan I Murda meninggal.

112. INT. PURA BANJAR, UPACARA PERKAWINAN - SIANG: I Pageh dan Pandan Sari dinikahkan, dalam upacara perkawinan adat. Nampak di sana I Kompyang, I Rudite, I Wario, dan orang-orang desa Kosambe, yang turut memeriahkan pesta perkawinan.

113. EXT. SUATU TEMPAT MENUJU TEMPAT NGABEN - SIANG: Arak-arakan orang membakar mayat I Murda. Bentuk upacara ngaben ini tidak mewah, sederhana saja. Sebab I Murda bukan orang kaya. Kelihatan I Rudite, I Kompyang, I Pageh, dan Pandan Sari sedang menggendong anak kecil berumur satu tahun.

114. EXT. NUSA PENIDA - SIANG: Ada seorang sedang diikat kedua tangannya ke atas. Orang-orang hukuman yang lain berdiri tidak jauh berdiri dari (p.69) orang yang terikat tadi. Seorang prajurit memegang sebuah cambuk berdiri di dekat siru.

Kepala prajurit: Hai kamu semua. Saksikan ini ganjaran orang yang berani mencoba untuk melarikan diri.

Ia berpaling kepada prajurit yang memegang cambuk. Beri dia seratus kali. Pencambuk mulai mencambuk. Orang hukuman itu mulai berteriak-teriak. I Jaya berdiri di antara orang-orang hukuman, yang lain menyaksikan hukuman itu. Sementara itu serombongan orang hukuman yang baru tiba sudah ke tempat hukuman yang sedang dilaksanakan. Seorang di antaranya I Lontar yang pernah kita lihat di tempat adu ayam. Ia ini orang Kosambe. Ketika I Jaya melihat I Lontar ia menyapa.

I Jaya: I Made Lontar.

I Made Lontar: Wayan Jaya.

Seorang pengawal berteriak.

Pengawal: Terus jalan.

Jaya dan Lontar terus berpandangan.

115. INT. BARAK-BARAK TAHANAN DI NUSA PENIDA - MALAM:I Jaya sedang berhadapan dengan I Lontar, bicara.

I Jaya: Jadi bapakku sudah meningeal dan Pandan Sari sudah kawin dengan adikku.

I Lontar: Ya.

I Jaya kelihatan geram giginya sampai gemeletuk. Ia bangkit, berdiri, dan berjalan ke jendela, memandang keluar, GELAP. Tiba-tiba Jaya berteriak histeris, keras sekali, sehingga terdengar oleh semua orang, para tahanan, penjara tahanan hingga menggema ke ujung-ujung pulau Nusa Penida.

116. EXT. NUSA PENIDA TEMPAT PENDARATAN PERAHU - PAGI: Kelihatan beberapa orang pengawal berjalan dengan cepat dari arah darat menuju ke tempat pendaratan. Setiba mereka di sana seseorang menunjukkan tali perahu yang putus dengan pisau kepada pimpinan.

Pimpinan: Bangsat. Siapa ?

(p.70) Seorang prajurit datang dengan berlari-lari. Ia melapor pada pimpinan.

Prajurit: I Wayan Jaya yang lari Gusti.

Pimpinan: Siapkan pengejaran. Pasti ke Kosambe.

Prajurit-prajurit mulai bersiap-siap. Pimpinan kembali lagi ke darat.

117. EXT. LAUT JUAS - SIANG: Kelihatan sebuah perahu kecil di tengah laut. I Jaya yang sedang mendayung dengan sekuat tenaga. Badannya bersimbah peluh.

DISSOLVE

117A. EXT. LAUT LUAS - SIANG: I Jaya sedang mendayung, tapi tenaganya sudah habis kelihatannya, sehingga kayunya tidak begitu kuat lagi. Kelihatan ia sudah lelah sekali. Ia masih mendayung dengan sisa-sisa tenaganya. Namun akhirnya ia jatuh juga tertelungkup karena cape.

117B. EXT. LAUT LUAS - SIANG: Kapal pengawal Nusa Penida sedang berlayar. Kapal ini tidak besar. Sama seperti yang dipakai ketika membawa I Jaya ke Nusa Penida. Beberapa mil lagi ia sudah sampai ke tempat perahu I Jaya.

117C. EXT. LAUT LUAS - SIANG: I Jaya yang tersadar pingsannya melihat ke belakang. Kelihatan sebuah layar perahu yang menuju ke arahnya. Cepat ia mengambil pendayungnya dan mulai mendayung lagi. Ia sudah hampir putus asa ketika ia melihat sebuah perahu bugis besar sedang melaju ke arahnya. Hampir tidak percaya ketika ia melihat bendera yang berkibar di atas tiang utama perahu bugis itu.

I Jaya: Daeng Aziz.

118. INT. BALAI UMA METEN RUMAH I MURPA - MALAM: Seorang anak kecil berumur satu tahun dalam buaian. Di samping buaian itu tidur seorang perempuan. Muncul seorang laki-laki berkerudung kain hingga mukanya tak begitu kelihatan, ia mendekati buaian itu, lalu memperhatikan perempuan yang terbaring di balai-balai. Di sebuah meja kecil rendah, di mana ada kaca kecil untuk berhias, kelihatan sebuah suling dan dua buah kerang, yang satu utuh dan yang satu pecah. I Jaya mengambil kerang yang pecah dan menelitinya, ia teringat, lalu meletakkan kembali dan (p.71) keluar.

119. EXT. DEPAN RUMAH I MURDA - HALAM: I Jaya keluar dari rumah. Ia mendengar suara gong dan gamelan di kejauhan. Ia memastikan Pandan Sari dan I Pageh sedang mengadakan pertunjukkan, lalu menuju ke arah suara
gamelan.

120. INT. TEMPAT MENARI - MALAM: Pandan Sari menari sedang I Pageh menabuh gendang. Kelihatan I Jaya menyeruak antara penonton supaya dapat berdiri agak di depan. I Jaya membuka kerudungnya sehingga kelihatan mukanya. Waktu kerlingan Pandan Sari sampai kepada I Jaya, Pandan Sari tiba-tiba membeku karena kaget. I Jaya memandang kepadanya lalu ia pergi. Tapi Pandan Sari meneruskan tariannya, I Pageh tidak sadar akan kehadiran
I Jaya. Begitu selesai tariannya, Pandan Sari tanpa ganti baju tari langsung lari keluar. I Kompyang melihat Pandan Sari berlari pulang ke rumahnya sendirian. Tergerak ia untuk menyusul.

121. INT. BAlE UMA METEN RUMAH I MURDA - MALAM: I Jaya sudah berada lagi di rumah I Murda. Perempuan yang tadi menjaga anak Pandan Sari sudah berdiri.

I Jaya: Jadi itu anak Pandan Sari dan I Pageh?

Perempuan: Ya.

I Jaya memperhatikan anak yang tidur dalam buaian itu.

I Jaya: Pergilah. Sebentar lagi ibunya akan pulang.

Waktu itu tiba-tiba pintu terbuka. Dan Pandan Sari kelihatan berdiri di ambang pintu.

Pandan Sari: (Pada perempuan) Rawit. Pulanglah kau.

Perempuan itu pergi. I Jaya memandang pada Pandan Sari dengan mata menyala-nyala.

Pandan Sari: Kak Jaya...

I Jaya: Jadi benar rupanya engkau sudah menikah dengan I Pageh.

Pandan Sari: Kak...

(p.72) I Jaya: Ya aku kembali untuk melihat sampai di mana kesetiaanmu. Alangkah dangkalnya hati perempuan. Perempuan yang berteriak dan berjanji akan menunggu sampai kapanpun, rupanya kau tunggu aku dari adikku sendiri. Bertahun-tahun... semua penderitaan kupikul hanya dengan harapan suatu hari aku akan bersama engkau. Dan ini... yang kau herikan padaku Sari.

I Jaya meraba keris yang terselip di pinggangnya,

Pandan Sari: Bunuhlah aku. Tapi sebelum kau bunuh izinkan aku memberi keterangan. Kak Jaya, Aku tidak seburuk yang kakak kira. Kalau pasir di depan rumah, di tebing itu dapat berbicara, merekalah yang akan menjadi saksi bagaimana aku menantikan kakak kembali. Kesetiaanku tidak berubah terhadap kakak.

Pandan Sari: Tapi apa yang harus aku lakukan kalau kakak
dikabarkan mati...

J Jaya: Aku dikabarkan mati?

Pandan Sara: Wayan yang menyampaikan kemari, di hadapan ayah waktu ayah masih hidup.

I Jaya: Wayan...

122. EXT. JALANAN KAMPUNG - MALAM: I Pageh kelihatan bergegas pulang.

123. EXT. BALE UMA METEN RUMAH I MURDA - MALAM: I Jaya dan Pandan Sari.

Pandan Sari: Tapi bagaimanapun juga cintaku tidak berubah pada kakak.

I Jaya: Kalau begitu kau hakku. Aku lari dari Nusa Penida karena kau. Kau harus ikut aku. Kau masih cinta padaku?

Pandan Sari mengangguk.

I Jaya: Kalau begitu ikut aku.

(p.73) Pandan Sari: Kak. Aku sudah isteri kak Pageh.

I Jaya: Tapi kau cinta padaku.

Pandan Sari: Sebagai iuteri aku harus setia dan menjaga kehormatan suami.

124. EXT. DI LUAR RUMAH I MURDA - MALAM: I Pageh berdiri dekat dengan dinding. Ia mendengar percakapan antara I Jaya dan Pandan Sari.

I Jaya: (off sound) Kau kutunggu di pantai!

Terdengar anak Pandan Sari menangis. I Pageh segera masuk.

125. INT. BALE UMA METEN RUMAH I MURDA - MALAM: I Pageh masuk lalu berdiri di depan Pandan Sari,

I Pageh: Pandan Sari adalah isteriku.

I Jaya: Pandan Sari mencintai aku. Bukan kau!

I Pageh: Biarpun begitu... sekarang ia masih isteriku. Selama aku ada, dia tidak akan ikut siapa-siapa.

I Jaya menghunus kerisnya. Pandan Sari terpekik. Lalu ia menggendong anaknya dari buaian.

I Pageh: Aku berjanji pada kakakku I Jaya untuk menjaga kehormatan Pandan Sari. Kehormatan Pandan Sari kini adalah kehormatan wanita bersuami.

Tangan I Jaya yang sudah memegang hulu kerisnya jatuh terkulai mendengar ucapan I Pageh. DARI PINTU DEPAN (aling-aling), Daeng Aziz masuk menuju ke Bale Uma Meten. Memperlihatkan keadaan dan melihat I Jaya terduduk.

Daeng Aziz: Jaya, ada sepasukan prajurit menuju kemari. Kita harus pergi!

I Jaya seperti membatu. Daeng Aziz memandang pada I Pageh. Kalau dia tertangkap dia akan disiksa. Pageh membungkuk mendekati Jaya sambil memohon.

(p.74) I Pageh: Kak, cepat lari. Aku akan tahan mereka.

I Jaya: Kau akan mereka tembak.

I Pageh: Biar, tak apa. Asal kakak bisa lolos.

I Jaya: Kau jangan ikut campur. Kau tinggal di sini. Jaga adikku Pandan Sari dan kemenakanku.

126. EXT. JALANAn menuju rumah i murda - MALAM: Prajurit-prajurit sudah berada di luar tidak jauh dari rumah. Berbondong-bondong akan menyerbu. DARI ARAH LAIN nampak I Kompyang datang terpincang-pincang.

127. INT. BALE UMA METEN RUMAH I MURDA - MALAM: I Jaya dan Daeng Aziz bergerak akan pergi. Pandan Sari sudah was-was.

I Pageh: Lewat tembok belakang.

I Jaya dan Daeng Aziz menuju tembok belakang. Ketika akan melompat tembok ia bertanya pada Pageh.

I Jaya: Siapa namanya?

Pandan Sari: I Jaya...

I Jaya tersenyum mendengar kata-kata Pandan Sari. Daeng Aziz sudah melompat tembok.

I Jaya: Jaga dia baik-baik.

Lalu I jaya melompat tembok, turun. I Pageh dan Pandan Sari dan anaknya menuju halaman tengah. Di sana bertemu dengan para prajurit DI PINTU DEPAN - LAWANG (ALING-ALING). Waktu itu Daeng Aziz membunyikan pistolnya, terdengar oleh prajurit-prajurit sehingga tidak jadi masuk. Mereka keluar memburu Daeng Aziz dan I Jaya.

128. EXT. BELAKANG RUMAH I MURDA - MALAM: Daeng Aziz, I Jaya bertemu dengan I Kompyang. I Kompyang terbelalak melihat I Jaya.

(p.75) I Kompyang: Jaya.

I Jaya: Paman.

Mereka bertiga lari ke pantai, dikejar oleh prajurit-prajurit.

129. EXT. DI PANTAI - MALAM: Setelah Daeng, Jaya dan Kompyang tiba di pantai. Kompyang mengambil senjata yang ada di tangan Daeng Aziz. Dan mulai menembak menahan para prajurit yang mengejar.

I Kompyang: Kalian naik ke perahu cepat aku tahan mereka.

Daeng Aziz dan I Jaya melompat ke atas perahu yang sudah menunggu.

I Jaya: Ayo paman cepat.

Kompyang terus menembak. Prajurit-prajurit tertahan, oleh Kompyang. Tapi sebuah peluru melanggar dadanya, ia tersungkur. I Jaya akan membantu, tapi ditahan Daeng. Perahu segera di dayung menjauh.

130. EXT. PERAHU PENISI - MALAM: Daeng Aziz sudah mendekat ke perahu Pinisinya. Dari pantai kedengaran tembak-menembak yang ditujukan ke arah mereka. Daeng Aziz dan I Jaya naik. Layar dikembangkan dan pinisi itu mulai bergerak. I Jaya dan Daeng Aziz berdiri di haluan melihat ke pantai.

Daeng Aziz: Kompyang mengorbankan dirinya untuk kita.

DISSOLVE INTO: 131. EXT. PERAHU PINISI - PAGI: Matahari terbit di ufuk Timur.

Daeng Aziz: Ke mana sekarang I Jaya?

I Jaya: Ke kampung halamanku yang baru, laut lepas.

Perahu pinisi makin menjauh.

CREDIT TITLE (p.76) FADE OUT - Jakarta, Februari [19]88; Catatan: Nama-nama para pelaku beserta gelar panggilannya akan disesuaikan dan diubah on the spot sesuai dengan hasil konsultasi dengan penasehat ahli.

Source

  • Sani Asrul (1988) - Nusa Penida, Skenario Film 'Noesa Penida' oleh Galeb Husin (1988), didasarkan pada Novel: Nusa Penida, karangan Anjar Asmara (1949)

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24