Noesa Penida, film script (Sani 1988)

Below article presents part of the movie script ('skenario') pages 1-5 by Asrul Sani of 'Noesa Penida, Penida Islands' (1988), a film production by Galeb Husin (1988), based upon the novel 'Nusa Penida' by Andjar Asmara (1949). The full script is available in pdf.

nusapenida-galebhusin1988

Image right: scene from the movie 'Noesa Penida', by Galeb Husin (1988) 

(p.1) Sequence 1: Fade in

1. Trade mark/fade out/fade in

2. Ext. Puri Anak AgungI Gusti Ketut Alit Rai - Malam: Puri itu kelihatan sedang terbakar. (Gambar ini diambil dengan mempergunakan miniatur). Kedengaran bunyi Kul-Kul bertalu-talu.

3. Ext. Puri - malam: Puri itu terdiri dari berbagai anjungan yang letaknya tidak sama tinggi - ada yang dibangun di tanah yang lebih tinggi sehingga jika orang berjalan dari anjungan yang satu ke anjungan yang lainnya orang harus menuruni tangga. (Barangkali Pura Ubud bisa dipergunakan). Malam itu terjadi pertempuran di Puri tersebut antara pengawal dan orang-orang yang setia pada Anak Agung I Gusti. Alit Rai melawan kelompok yang ingin merebut kekuasaan. Kedengaran suara hiruk pikuk bunyi senjata dan teriakan orang yang bertempur.

Perusuh I: Bunuh semua pengikut Raja.
Perusuh II: Jangan biarkan ada yang hidup.
Perusuh III: Anaknya cari.
Perusuh IV: Mana Gusti Ayu Pandan Sari?
Mereka bertempur di depan sebuah kamar.
Perusuh I: Di sini, di sini.

(p.2) Mereka mencoba mendobrak pintu gerbang. Waktu itu Anak Agung dibantu I Murda dan I Kompyang berkelahi melawan perusuh itu. Pintu gerbang terbuka, tapi waktu itu I Murda melompat ke depan lalu menikam perusuh yang sudah siap masuk. Anak Agung melompat ke ruangan dalam sedangkan I Murda dan I Kompyang melindungi pintu ke ruangan dalam itu. Setelah Anak Agung masuk, I Murda menutup pintu.

4. Int. Kamar - malam
Dalam kamar itu kelihatan beberapa orang perempuan. Mereka mengelilingi seorang perempuan yang sedang memangku seorang gadis kecil, seolah-olah mereka mau melindungi gadis kecil itu. Anak Agung mengambil gadis kecil itu dari tangan perempuan tersebut. Sementara itu pintu dicoba didobrak oleh perusuh-perusuh yang ada di luar.

I Murda: Cepat, lewat sini Ratu.

Ketiga mereka berlari ke arah pintu samping. Kompyang membuka pintu dan membantu Anak Agung keluar. Kemudian mereka sendiri menyusul. Sementara itu pintu kamar dihantam terus. Begitu Anak Agung dan kedua orang itu keluar, perempuan-pererapuan yang ada di kamar itu mengeluarkan keris mereka lalu menekankan matanya kedada mereka. Mereka semua bunuh diri. Pada saat itu pintu pecah. Perusuh-perusuh itu masuk, tapi perempuan-perempuan itu sudah tergeletak dilantai.

Perusuh I: Mereka lari lewat pintu samping, Kejar.

Beberapa perusuh mendekati jendela. Salah seorang dari mereka membawa bedil. Mereka mencari-cari dalam gelap.

5. Ext. Taman Halaman Puri - malam
Anak Agung dengan diiringkan oleh I Murda dan Kompyang berlari menjauhi pintu. Beberapa perusuh kelihatan muncul di pintu. Yang kelihatan hanya siluet mereka. Salah seorang dari perusuh itu mengangkat bedil, lalu terdengar letusan. Anak Agung terhuyung-huyung. Dari jendela terdengar teriakan.

Perusuh II: Kena...
Mereka berbalik. Anak Agung roboh di balik semak-semak. La masih memangku Gusti Ayu Pandan Sari. Murda mencoba mengangkatnya sambil berkata.

Sudut lain halaman puri

Perusuh II: Kena...

(p.3) Mereka berbalik. Anak Agung roboh di balik semak-semak.

I Murda: Kuatkan diri Ratu. Anak Agung masih memangku Gusti Ayu Pandan Sari. Murda mencoba mengangkatnya.

Anak Agung: Murda, cepat.

la memasukan kerisnya ke dalam sarungnya, lalu memberikannya pada Murda.

Sudut lain halam puri
Perusuh-perusuh sibuk mencari Anak Agung dan sudah dekat sekali ke tempat mereka sembunyi.

Di balik semak-semak
I Murda sedang memangku seorang bayi, disaksikan oleh I Rudita, dan I Kompyang. Anak Agung sudah mati.
I Murda: Kompyang, selamatkan anak dan isteriku. Kita ketemu di Pura....
I Rudita: Sebaiknya kita berpencar. Engkau menuju ke mana?
I Murda: Entahlah.

Keduanya lalu pergi bersama beberapa orang prajurit. I Murda juga beranjak pergi. Begitu mereka pergi perusuh-perusuh itu datang ke semak-semak mendapatkan mayat Anak Agung. Mereka periksa sebentar lalu seorang perusuh berkata:

Perusuh II: Ratu telah mati. Mana anaknya? ... cari.

Mereka menyebar.

6. Ext. Kampung - malam
Orang-orang kelihatan berlarian sedangkan sekali-sekali kedengaran bunyi bedil. Kompyang datang berlari lalu memasuki sebuah rumah rumah Murda.

7. Int. Rumah - malam
Seorang perempuan kelihatan terbaring di lantai. Dua orang anak laki-laki kelihatan duduk dekat perempuan itu. Yang seorang I Jaya yang tertua menangis memeluk ibunya. Sedangkan yang seorang lagi I Pageh terbingung-bingung. Kompyang masuk. Ia melihat perempuan yang berlumuran darah itu.

(p.4) Kompyang: Mari, kita tak bisa lagi menolong ibumu.

la menarik kedua anak itu. Mula-mula keduanya ia bawa menuju pintu, tapi begltu pintu ia renggangkan, pintu itu ia tutupkan kembali dan anak-anak itu ia bawa melalui tembok belakang. Waktu itu pintu terbuka dan seorang perusuh bersenjatakan bedil masuk. Ia mengankat bedil dan mengarahkannya ke ketiga mereka. Jaya langsung melindungi adiknya dengan berdiri di depan adiknya. Kompyang menyambar parang yang ada di dinding, tapi waktu itu bedil meletus. Sebutir peluru mengenai kaki Kompyang hingga celananya robek. Tapi pada saat yang sama ia menyambar parang dan melemparkannya ke arah perusuh itu tepat mengenai keningnya. Perusuh itu roboh. Dengan terpincang I Kompyang membawa anak itu pergi.

8. Ext. Pintu Pura - malam
I Murda sambil memboyong bayi Pandan Sari menunggu I Kompyang. Di punggungnya tersisip keris yang diberikan oleh Anak Agung. Kompyang muncul terpincang-pincang membawa I Pageh dan I Jaya.

Fade up title, NUSA PENIDA, Disusul dengan kredit title yang lain.

9. Ext. Dinding Pura – malam
I Murda dan rombongan, Kompyang, I Jaya dan I Pageh berjalan mengendap-endap. Di latarbelakang tampak kampong yang terbakar.

(Credit title berlanjut)

10. Ext. Dalam Hutan- siang
Murda, Kompyang, Jaya, Pageh dan bayi Pandan Sari serta beberapa orang wanita. Mereka semua naik sebuah gerobak kerbau.

(Credit title berlanjut)

11. Ext. Jalan di antara pohon-pohon besar - sore
Murda dan kawan-kawan berjalan dengan gerobaknya orang-orang desa ada yang memisahkan diri. I Rudita bersama rombongannya juga memisahkan diri menuju ke Utara.

(Credit title berlanjut)

12. Ext. Pinggir laut - malam
Di atas gerobak tinggal Murda, Kompyang, Jaya, Pageh dan Pandan Sari kecil. Tiba-tiba gerobak oleng, karena as gerobak patah dan gerobak itu roboh. Mereka semua turun. Murda lalu memandang ke laut. Suara ombak memukul pantai.

CREDIT TITLE SELESAI, dengan latar belakang laut malam.

(p.5) Dissolve into:

12A. Ext. laut lepas - siang
Camera Pan Up dari air laut ke permukaan laut. Nampak sebuah perahu nelayan. Perahu nelayan itu adalah milik I Murda. I Jaya berdiri di haluan sedangkan I Murda duduk di buritan.

13. Ext pinggir pantai - siang
Pantai nampak ramai oleh perahu-perahu nelayan yang kembali dari laut. Perahu I Murda makin mendekat. I Jaya Nampak berdiri di haluan dengan gagah. Ia mengangkat tangannya untuk menutupi matanya dari silau matahari dan memandang ke darat.

CU I JAYA
I Jaya melihat orang berkelahi. Waktu ia perhatikan maka jelas kelihatan yang berkelahi itu adalah adiknya melawan I Jiwa seorang anak laki-laki yang jauh lebih besar darinya. Tanpa berfikir panjang I Jaya melompat lalu berenang ke pantai. Bapaknya berteriak-teriak memanggil:

I Murda: I Jaya,... I Jaya

Tapi I Jaya tidak memperdulikan teriakan bapaknya. Bapaknya hanya menggeleng-geleng kepala. Sementara itu I Jaya sudah sampai di pantai. Ia berlari menuju ke tempat adiknya berkelahi. Nampaknya I Pageh akan kalah karena lawannya lebih besar darinya. Di sekeliling anak-anak kampung melingkari sedangkan di luar lingkaran Pandan Sari duduk sambil menangis. I Jaya datang dengan berlari.

Anak I: I Jaya datang,... I Jaya datang.

I Pageh berada di bawah diduduki oleh I Jiwa. Ia hampir-hampir tak dapat bergerak walaupun melawan sekuat tenaga. Sewaktu mendengar nama I Jaya, I Jiwa berdiri tapi I Pageh memegang tangannya sehingga ia tidak dapat melarikan diri sebelum I Jaya sampai. Sewaktu ia berhasil melepaskan diri tapi I Jaya sudah ada di dekatnya. I Jaya memegang lehernya sambil berkata:

I Jaya: Berani sama yang kecil. Coba sekarang sama saya.
I Jiwa: Tidak, ampun....
I Jaya: Jangan kau ulangi lagi perbuatanmu ini.

I Pageh berdiri. Karena ada kakaknya, I Pageh jadi makin berani, Ia mengejek. I Jiwa lalu menendang pantatnya. I Jiwa berbalik. I Pageh menantang.

(...)

Source

  • Sani Asrul (1988) - Nusa Penida, Skenario Film 'Noesa Penida' oleh Galeb Husin (1988), didasarkan pada Novel: Nusa Penida, karangan Anjar Asmara (1949)

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24