Cubang water reservoir (Muka, 1990)

Below 'research report' by I Dewa Putu Muka et al. (1990) gives a description of the (symbolical) meaning of "cubang" or water storage facilities at the village of Klumpu, Nusa Penida. The construction of such "Cubang" is not only useful for providing clean water, but is also a matter involving the help of a lay priest to determine the propitious day and suitable place according to the Balinese calendar. The English abstract has been adapted to enhance readability by the author; a full English translation is forthcoming. The original research document can be obtained from the author GD, and the original Indonesian text follows below.

muka cubangklumpu covermuka cubang klumpu

Images above: Research report cover by I dewa Putu Muka at al. (1990); drawing of a "cubang" (ibidem)

Research report: Meaning and symbolism of the Cubang to the people of Klumpu, Nusa Penida, by Drs. I Dewa Putu Muka, Drs. I Wayan Suwena, drs. I dewa Gede Windhu Sancaya, Faculty of Literature of the Universitas Udayana, Denpasar 1990 (National Library Jakarta, 2009); funded by Penunjang Pendidikan (DPP) UNUD with contract number 08/PT.17.H9/III/N.5/1989; 1 November 1989.

Foreword: Abstract

Water is one of the main necessities for all people. Without water, man cannot live for any length of time. Water can easily be found in the mountainous areas and agricultural areas. But in the chalky hills such as the village of Klumpu, Nusa Penida, Klungkung, finding water is not easy, as it is rather scarce, especially during the prolonged dry season. To fulfill the need for water, the inhabitants of Klumpu built "Cubang" (a kind of well) to store water during the rainy season. The water stored in the "cubang" will last all year round.

The "cubang" is not only used by the inhabitants as a water storage/supply, but also represents a social status symbol. Not all of the inhabitants of Klumpu have a quality "cubang". The "cubang" in possession of the rich people is bigger and more refined in form, whereas it is the reverse with the poorer inhabitants of Klumpu. The process of constructing a "cubang" needs the help of a lay priest (pemangku) to determine a propitious day, a suitable place and the necessary rituals. The propitious day falls on 'Menga', and the day the "cubang is constructed falls on 'Pepet'. 'Menga' and 'Pepet' are determined traditionally according to the Balinese calendar, i.e. the 'dwiwara' system. The appropriate place for a "cubang" is in the north or east, as these directions are considered to be holy directions.

This research is "descriptive-explorative" by using a "qualitative" approach. In collecting data, the methods of observation, interviews and the study of literature are applied. Next, the collected data are analysed by qualitative standards in an effort of understanding social phenomena by using the collected data through observation, interviews and case by a case study (Ariyono Suyono, 1985:23).

(...)

Conclusion

From above explanations, the following conclusions can be drawn: a) The inhabitants of the village of Klumpu are farmers living on a high limestone plateau; b) They adhere to special ordinances as a guide to building "cubang", their positioning, and the way to care of them; c) The "cubang" bear an especially important function to the lives of people of Klumpu; d) the "cubang" represent a symbol (of the relations of) the rich vis-à-vis the poor and can give reason for the wealthier to be more highly respected and those who own many quality and large "cubang".

Suggestions

The suggestions to above mentioned conclusions are: a) the values represented by the customs and manners of the "cubang" are considered important for its continuation and need to be safeguarded for future generations; b) the cleanliness of the water in the "cubang" needs constant and serious attention from the respective owners and from the health authorities at the village of Klumpu.

Bibliography (Muka)

  • Geriya, Wayan - Antropologi Budaya Seri 4. Teori Antropologi Diakronik (Sebuah Ikhtisar). Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana, 1982
  • Koentjaraningrat - "Teori-teori Struktural Fungsional di Inggris", dalam Diktat Teori Antropologi II, Jakarta: Universitas Indonesia, 1979
  • Koentjaraningrat - Sejarah Teori Antropologi 1, Universitas Indonesia, 1980
  • Koentjaraningrat - Pengantar Ilmu Antropologi, Akasara Baru, 1981
  • Setjoatmodjo, Prayoto - Seni sebagai Media Komunikasi Budaya, Jakarta Gramedia, 1982
  • Suparlan, Parsudi - "Manusia, Kebudayaan, dan Lingkungan Perspektif Antropologi Budaya", dalam Makalah Seminar Manusia dalam Keserasian Lingkungan, Jakarta, 1980
  • Suparlan, Parsudi - "Kebudayaan, Masyarakat, dan Agama: Agama sebagai Sasaran Penelitian Antropologi", dalam majalah Ilmu-ilmu Sastra indonesia, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1981
  • Suyono, Ariyono - Kamus Antropologi, Akademia Pressindo, 1985

Source

  • Muka, I Dewa Putu a.o. – Fungsi dan simbol yang terkandung dalam cubang pada masyarakat desa Klumpu Kecamatan Nusa Penida Klungkung: laporan penelitian/I Dewa Putu Muka, I Wayan Suwena, I Dewa Gede Windhu Sancaya; Denpasar: Fakultas Sastra, Universitas Udayana, 1990, 41p.

***

Teks asli Bahasa Indonesia

Kata Pengantar

Atas asung kerthawaranugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa maka penelitian yang berjudul 'Fungsi dan simbol yang terkandung dalam Cubang pada Masyarakat Desa Klumpu Kecamatan Nusa Penida Klungkung' ini dapat diselesaikan sesuai dengan yang diharapkan. Kami menyadari tentu masih banyak terdapat kekurangan dalam penelitian ini, oleh sebab itu kritik mengbangun dari sidang pembaca yang terhormat sangat diharapkan untuk penyempurnaannya. Terlaksananya penelitian ini tentu atas bantuan berbagai pihak, oleh sebab itu sudah selayaknya kami mengucapkan terima kasih banyak kepada: 1) Bapak Dr. Ir. I Gde Suyatna, Kepala Pusat Penelitian Universitas Udayana; 2) Bapak Dekan fakultas Sastra Universitas Udayana; 3) Bapak Camat Kecamatan Nusa Penida; 4) Bapak Kepala Desa Klumpu Nusa Penida berserta aparat desa yang lain, serta seluruh masyarakat desa Klumpu yang telah banyak memberikan bantuan demi terwujudnya penelitian ini. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa membalas budi baik Bapak-bapak dan saudara-saudara semua.

Abstrak

Air merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia atau makhluk hidup. Tanpa air manusia atau makhluk itu tidak akan bisa bertahan untuk hidup lebih lama. Air bisa dengan mudah diperoleh di daerah pegunungan dan di daerah pertanian yang subur. Akan tetapi di daerah yang berbukit kapur seperti di desa Klumpu Kecamatan Nusa Penida Klungkung mendapatkan air bukanlah perkara yang mudah, karena di daerah seperti itu air memang sangat sukar diperoleh, apalagi pada musim kemarau panjang. Untuk memenuhi kebutuhan akan air maka masyarakat desa Klumpu membuat "cubang-cubang" (sejenis sumur) untuk menampung air pada saat musim penghujan. Air di dalam "cubang" tersebut akan dimanfaatkan sepanjang waktu.

"Cubang" bagi masyarakat desa Klumpu tidak hanya berfungsi sebagai tempat penampungan air biasa, akan tetapi keberadaan "cubang" pada masyarakat tersebut terkait dengan suatu simbol status sosial. Tidak semua anggota masyarakat desa Klumpu mempunyai "cubang" yang bagus. "Cubang" milik anggota masyarakat yang kaya berbetuknya lebih besar dan buatannya lebih halus. Pada masyarakat miskin sebaliknya. Di samping itu "cubang" tidak dibuat sengan sembarangan. Dalam pembuatannya diperlukan bantuan seorang pemangku untuk menentukan hari baik dan tempat yang baik di samping suatu rangkaian upacara. Hari yang dianggap baik adalah pada saat Menga, dan pembuatan upacara setelah "cubang" selesai dilakukan pada saat Pepet. Menga dan Pepet adalah perhitungan hari secara tradisional di Bali yang disebut dengan perhitungan dwiwara. Sedangkan tempat yang dianggap baik adalah kaja (utara) atau kangin (timur) karena kedua arah tersebut dipandang suci.

Penelitian ini masih bersifat deskriptif-eksploratif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Di dalam pengumpulan datanya digunakan metode observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif, yakni usaha mencapai pengertian tentang suatu gejala sosial dengan menggunakan data yang telah dikumpulkan memalui pengamatan, wawancara dan kasus (Ariyono Suyono, 1985:23).

Kesimpulan

(p.24) Dari uraian di atas dapat dikemukanan beberapa kesimpulan sebagai berikut: a) Masyarakat desa Klumpu tergolong kategori masyarakat agraris yang daerahnya termasuk daratan tinggi yang berbatu karang; b) Mereka mempunyai pranata khusus sebagai pedoman dalam proses pembuatan "cubang", peletakannya, dan memeliharanya; c) Eksistensi "cubang" mempunyai fungsi yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat desa Klumpu; d) Dalam "cubang" tersebut terkandung suatu simbol antara orang kaya dan orang miskin dan dapat menyebabkan orang berlaku lebih hormat kepada mereka yang memiliki banyak "cubang" yang baik dan besar.

Saran-saran

Sesuai dengan kesimpulan yang tersebut di atas dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut: a) Nilai-nilai yang terkandung dalam tatacara pembuatan "cubang" dan esksistensinya perlu dilestarikan dan disosialisasikan kepada generasi muda; b) Kebersihan air yang tertampung dalam "cubang" yang lamanya berbulan-bulan perlu mendapat perhatian yang cukup serius dari pemiliknya masing-masing maupun dari petugas kesehatan yang ada di desa Klumpu.

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman www.godidijkman.nl social facebook box white 24