Seaweed farming (Mika, 1990)

Below article on seaweed farming by anthropologist Gusti Anom Mika (Udayana University Thesis, 1990) 'Budidaya rumput laut, suatu proses adaptasi dan implikasinya dalam kehidupan sosial ekonomi dan ritual masyarakat desa Ped, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Propinsi Bali, suatu kajian antropologi', deals with the adaptations faced by the local population of the village of Ped, on the north coast of Nusa Penida regarding the shift from traditional to seaweed farming.

mika 172 bali nusapenidamapmika 171 nusapenidamap

In the eighties, traditional farming had to be adjusted (abandoned) - according to a government programme - to one where commercial interests prevailed in the growing and exploitation of seaweed Eucheuma spinosum & Eucheuma cottonii. This drastic change occurred for the first time in 1979. From 1980, it became common practice and the farmers in Ped owned an average of 3,75 are (375 m2, where an 'are' is 1/100th hectare) with an estimated yearly yield of IRP 235.280 per are. Mika investigates the implications of this change in the light of local culture, economy and the environment with specific focus on beach preservation around Ped.

This article would not have been possible without the invaluable help of librarian Putu Sukadana at Udayana University (Jurusan Sastra) Denpasar, July 2014. An English summarised translation is forthcoming.

Abstrak

Keberhasilan para petani rumput laut di Desa Ped di dalam meningkatkan hasil produksi budidaya rumput laut sebagai komoditas baru, beberapa tahun belakangan ini adalah hal yang sangat menarik untuk diadakan penelitian, selain disebabkan oleh keberhasilan mereka dalam meningkatkan produksinya. Hal yang lebih menarik lagi adalah untuk dapat mengetahui implikasi pengembangan budidaya rumput laut di Desa Ped. Keberhasilan mereka dalam mengelola budidaya rumput laut, berarti pula keberhasilan masyarakat Desa Ped itu sendiri dalam menerapkan program pemerintah yang sekaligus dapat menunjang pembangunan nasional.

Table 2.2 Agricultural yield on dry fields (source: Potensi Desa Ped, 1986)

Crops Luas Areal (ha) %
Coconut 3749 75,22
Corn 810 16,25
Cassava (Manihot esculenta) 211 4,24
Green beans 149 2,99
Peanuts 65 1,30

Berdasarkan keberhasilan yang mereka peroleh maka, penulisan karangan ini mempunyai tujuan sebagai berikut:

1) tujuan teoretisnya adalah untuk menerapkan teori-teori atau konsep-konsep antropologi yang mempunyai relevansi dengan permasalahan yang akan dipecahkan dalam tulisan ini. Melalui penelitian ini agar dapat dikatahui dan dipahami pola kehidupan masyrakat petani rumput laut dari proses produksi budidaya rumput laut sampai dengan pemasarannya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam hal ini diperoleh dan dipahami tentang adanya gejala-gejala dinamika dalam masyarakat petani rumput laut di Desa Ped baik dinamika sosial, ekonomi, dan budaya. Karangan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap ilmu pengetahuan khususnya ilmu antropologi;

2) tujuan yang kedua adalah lebih menekankan tujuan praktis, guna mendapatkan informasi mengenai kehidupan dan perubahan-perubahan bahkan beralihnya kehidupan yang substantif, menjadi kehidupan yang komersial, sebagai proses inovasi di daerah Nusa Penida dan di Desa Ped khususnya. Proses inovasi yang dimaksud adalah suatu proses pembaharuan dan penerapan maupun penggunaan unsur baru dalam bidang rumput laut, khususnya pengelolaan budidaya rumput laut sebagai mata pencaharian baru yang bersifat komersial. Keberhasilan proses pembaharuan dan penerapan unsur baru di Desa Ped mempunyai implikasi yang dapat merubah kehidupan petani ke tingkat yang lebih baik, maupun implikasinya terhadap pembangunan sangat positif;

3) tujuan yang ketiga adalahlebih bersifat akademis atau kelembagaan yaitu guna memenuhi persyaratan untuk dapat mengikuti ujian kesarjanaan jurusan antropologi di Fakultas Sastra Universitas Udayana.

mika 72 3.1 dasarmika 73 3.2 lepasdasar

Images above (left) 3.1: Budidaya rumput laut dengan metode dasar/off-bottom method (A: dasar pantai; B: karang tempat mengikat rumput laut; C: rumput laut; D: permukaan air laut); Image 3.2 (right): Budidaya rumput laut dengan metode lepas dasar/off-bottom method (A: dasar pantai; B: patok; C: tali ris; D: rumput laut; E: permukaan air laut)

Berdasarkan latar belakang serta tujuan yang telah diuraikan dalam penelitian ini akhirnya muncul suatu permasalahan pokok yang memerlukan pembahasan. Adapun permasalahan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1) bagaimana usaha perkembangan rumput laut dalam kehidupan masyarakat;
2) bagaimana adaptasi masyarakat terhadap pengembangan budidaya rumput laut;
3) bagaimana implikasinya terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan aspek kepercayaan masyarakat.

Untuk dapat memahami permasalahan tersebut serta menjawabnya akan dikupas atau dicoba pemahamannya melalui pemakaian teori "eklektik". Adapun yang dimaksud dengan teori "eklektik: ini adalah gabungan dari beberapa teori menjadi satu secara integratif. Semua teori yang digabung itu ialah teori perubahan oleh R.Linton yang berintikan pendekatan modernisasi oleh J.W.Schoorl, teori adaptasi yang diajukan oleh Dr. Parsudi Suparlan, swerta teori fungsonial B.Malinowski, sedangkan pendekatan masalah ini dilakukan secara kualitatif yang ditunjang oleh penggunaan data kuantitatif. Sebagai alat penunjang lainnya diterapkan beberapa kosep yang relevan dengan permasalahan yang digarap.

Di dalam proses pemahaman masalah implikasi pengelolaan rumput laut dalam masyarakat di Desa Ped dilandasi dengan pemakaian teori-teori seperti tersebut di atas, maka karangan ini masih merupakan hipotesis yang dapat dikemukakan sebagai berikut: 1) Ada kecendrungan masyarakat petani di Desa Ped beralih ke tradisi baru dengan seolah-solah meninggalkan tradisi lama; 2) kehadiran unsur baru dengan keikutsertaan pemerintah dalam menggalakan budidaya rumput laut jenis Eucheuma spinosum dan jenis Eucheuma cottonii, masyarakat cendrung menerima karena ada beberapa faktor yang mendukungnya.

Table 2.4 Inhabitants Desa Ped (source: Statistik Desa Ped, 1986

Banjar Heads of family (KK) Men Women Total
Adegan Kangin 35 109 123 232
Adegan Kawan 36 108 123 231
Biaung 74 258 285 543
Bodog 35 123 133 256
Nyuh 65 176 199 375
Prapat 85 53 67 120
Pendem 55 122 136 258
Seming 90 261 291 552
Sental Kangin 55 149 162 311
Sental Kawan 55 147 161 308
Serangan 92 174 196 370
Tanah Bias 60 78 119 197
Total 737 1758 1995 3753

Berdasarkan tujuan penlitian ini seperti tersebut di atas maka penelitian ini dapat dikatakan penelitian yang bersifat deskriptif. Maksudnya adalah penelitian ini hanya menjelaskan data yang aktual masa kini serta yang terkait dengan ruang dan waktu.

Penggalian data dilakukan berdasarkan sumber primer dan sekunder. Data primer terutama didapat dari hasil observasi dan wawancara di lapangan, sedangkan data sekunder adalah hasl dari studi perpustakaan. Adapun data yang digunakan adalah yang bersifat kualitatif dan ditunjang dengan data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari hasil observasi dan wawancara kepada responden.

Berdasarkan analisis dari bab sebelumnya, maka di sini dapat ditarik suatu kesimpulan yang merupakan hasil akhir dari penelitian ini, yaitu:

1) Desa Ped sekarang dikenal karena keberhasilan dalam budidaya rumput laut , yang boleh dikatakan terbanyak di Daerah Bali. Hal ini didukung oleh keadaan pantainya yang datar dan berkarang serta keadaan air laut pada saat surut airnya tidak habis (masih memungkinkan untuk pertumbuhan rumput laut);

2) pembudidayaan rumput laut mulai dikembbangkan sejak 1979 secara coba-coba dengan hasil cukup baik. Selanjutnya sejak 1980 sampai sekarang budidaya rumput laut mendapat tanggapan yang baik dari masyarakat petani di Desa Ped, serta merupakan sumber pendapatan utama di daerah itu. Rata-rata luas lahan rumput laut yang dimiliki adalah 3,75 are dengan perkiraan penghasilan RP. 235.276,27 per are per tahun. Jenis rumput laut yang diusahakan adalah jenis Eucheuma spinosum dan jenis Euceuma cottonii;

mika 74 3.3 apungImage 3.3 (left): Budidaya rumput laut dengan metoda apung / Floating method (A: dasar pantai; B: patok/batu karang; C: tali rakit; D: rakit; E: permukaan air laut; F: tali ris; G: rumput laut)

3) dengan berkembangnya budidaya rumput laut, muncul/terbentuk kelompok-kelompok sosial. Kelompok-kelompok sosial tersebut dilandasi dengan kepentingan dan tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota kelompok, meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi rumput laut;

4) untuk mencapai tujuan kelompok-kelompok sosial yang terbentuk memiliki sasaran-sasaran pengembangan baik sasaran jangka pendek maupun janka panjang yang menyangkut kepentingan anggota/kelompok, hubungan antar kelompok, hubungan dengan lembaga-lembaga terkait, dan kelestarian lingkungan;

5) usaha budidaya rumput laut merupakan pembarahuan dalam aktivitas pertanian yang bertujunan untuk meningkatkan produktivitas serta pendapatan yang diinginkan. Para petani rumput laut di Desa Ped pada umumnya dapat beradaptasi dengan penerapan budidaya rumput laut;

6) adaptasi terhadap budidaya rumput laut (sebagai unsur baru) bukan terjadi secara spontan, akan tetapi sebagai suatu proses yang meliputi: pengetahuan, persuasi, keputusan, konfirmasi dan memiliki nilai budaya yang berorientasi ke depan. Denga demikian para petani rumput laut di Desa Ped memiliki tingkat adaptabilitas yang relatif tinggi, hal ini tampak dari keberhasilan yang telah dicapai;

7) diterapkannya budidaya rumput laut sebagai unsur baru dalam aktivitas pertanian oleh petani di Desa Ped membawa implikasi pada beberapa aspek kehidupan para petani secara positif, baik dilihat dari segi budaya, ekonomi, dan lingkungan, khususnya kelestarian pantai.

Table 5.4: Nama-nama kelompok petani rumput laut di Desa Ped dan jumlah anggotanya masing-masing (Source: Hasil peneilitan 1987)

Banjar Nama kelompok Ketua kelompok jumlah anggota
Nyuh Segara Merta Nadi Pan Suaci 62
Nyuh Bias Muntig Pan Luh Ariati 135
Tanah Bias Watu Gangge Made Sukarma 40
Bodog Puspa Segara Manik Pan Wendra 68
Adegan Kangin Segara Abadi Wayan Jasa 41
Pendem Celagi Kembar Made Game 40
Adegan Kawan Merta Terpadu Pan katos 59
Biaung Segara Merta Pan Luh Tabu 63
Sental Kangin Segara Puspa Wangi Made Arta 44
Sental Kawan Segara Murti Pan Murti 70
Total     622

List of informants 

  Name Age Education Occupation Location
1. Pan Luh Ariati 31 primary school (SD) farmer Ped
2. Made Pekir 31 primary school (SD) Dusun Head Ped
3. Made Mayor 31 primary school (SD) Village Head Ped
4. Pak Putu 31 senior highschool (SMA) teacher Ped
5. Ketut Sekara 32 senior highschool (SMA) farmer Ped
6. Wayan Pait 25 scholar (sarjana) farmer Ped
7. I Made Arta 21 junior highschool (SMP) Dusun Head Ped
8. Ketut Begeh 41 senior highschool (SMA) farmer Ped
9. Gurun Kerti 60 primary school (SD) farmer Ped
10 Wayan Regeh 65 primary school (SD) farmer Ped
11. Pak Luh Parwati 35 primary school (SD) farmer Ped
12. Pan Rikan 40 primary school (SD) farmer Ped
13. Wayan Jasa 32 primary school (SD) Kepala Adat Ped
14. Made Tatab 40 primary school (SD) Dusun Head -
15. Wayan Sura 43 Secapa, KPAA Policeman (POLRI) Sampalan
16. Made Tantra 30 primary school (SD) farmer Ped
17. Anom Rahmadi 32 SPMA Department of Agriculture Ped
18. Pan Suaci 35 primary school (SD) farmer Ped

Bibliography

  • Anonymous (1988) - Rumput laut sebagai komoditi ekspor non-migas. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi No.3/Th.1, indonesia, Jakarta
  • Bagus, i Gusti Ngurah (1987) - Seminar Jubileum Perak Universitas Udayana. Tentang Budaya Pembangunan Dan Ketahanannya Menuju Tinggal Landas. Panitia Jubileum Perak Universitas Udayana Denpasar Bali
  • Covarrubias, Miguel (1956) - The island of Bali. New York, Knopf
  • Dinas Perikanan Propinsi Bali (1980) - Budidaya Rumput Laut.
  • Departemen Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kantor Wilayah Direktorat Jendral Transmigrasi Bali (1980) - Penelitian Sosial Ekonomi Di Daerah Kritis Kecamatan Nusa Penida, Propinsi Bali.
  • Departmen Pertanian Propinsi Bali (1986) - Budidaya Rumput Laut
  • Erawan (1989) - "Sejumlah Kendala Pengembangan Ekspor Non-Migas dari Bali" Penerbit Denpasar, Bali Pos 29 Juni
  • Geertz, Clifford (1959) - "Form and Variation in Balinese village Structure", American Anthropologist, Vol.61
  • Geria, Wayan (1982) - Teori Antrolpologi Diakronik, Denpasar: Jurusan Antropologi, Fakultas Sastra Universitas Udayana
  • Geria, Wayan (1985) - Pola Kehidupan Petani Subak Rejasa di Tabanan. Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi) Direktorat Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  • Koentjaraningrat (1964) - Tokoh-tokoh Antropologi, Jakarta: Universitas Indonesia
  • Koentjaraningrat (1974) - Kebudayaan Mentalitet Pembangunan, Jakarta: PT Gramedia
  • Koentjaraningrat (1979) - Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Aksara Baru
  • Koentjaraningrat (1980) - Sejarah Teori Antropologi I, Seri Teori-teori Antropologi Sosiologi No.1 Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta
  • Koentjaraningrat (1980) - Beberapa pokok Antropologi Sosial, Jakarta: PT Dian Rakyat
  • Koentjaraningrat (1981) - Metoda-metoda Penelitian Masyarakat (Koentjaraningrat Redaksi), Jakarta: PT Gramedia
  • Mubarak, H. (1982) - Teknik Budidaya Rumput Laut, Makalah yang disampaikan pada pertemuan Teknis Budidaya Rumput Laut di Anyer Beach Hotel
  • Mubyarto (1984) - Pengantar Ekonomi Pertanian, Jakarta: LP3 Es
  • Nontji, Anugrah (1987) - Laut Nusantara, Jambatan, Jakarta
  • Parisada Hindu Dharma (1967) - Upadeca: Tentang Ajaran-ajaran Agama Hindhu; Denpasar, Parisada Hindhu Dharma
  • Panitia Kerja Tetap Pengembangan Ekspor Daerah Tingkat I Bali (1988) - Program Pengembangan Ekspor Komodoti Di Luar Migas Daerah Tingkat I Bali
  • Raka, I Gusti Gde (1955) - Monografi Pulau Bali, Pusat Jawatan Pertanian Rakyat Bali
  • Resosoedarmo, R.S.; Kuswata Kartawinata & Aprilani Soegiarto (1984) - Pengantar Ekologi, Bandung: CV Remaja Karya
  • Swellengrebel, J.L. (1960) - Bali: Studies in life, thought and ritual, The Hague and Bandung; Van Hoeve
  • Soekanto, Soejono (1970) - Sosiologi Suatu Pengantar, Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta
  • Sadjad, Sjamsoe, oed (1976) - Bahan Kuliah Agronomi Umum, Departemen Agronomi Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
  • Sutrisno Hadi (1976) - Metodologi Research, Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
  • Scott, James C. (1976) - Moral Ekonomi Petani, Jakarta: PT Inermassa
  • Sunarto Ndaru Mursita (1979) - "Sumber Daya Manusia di Pedesaan dalam Pembangunan Ekonomi" dalam majalah Analisa
  • Sunarto Ndaru Mursita (1981) - "Gambaran umum tentang pembangunan pedesaan di Indonesia" dalam majalah Analisa No.3
  • Suparlan, Parsudi (1980) - "Manusia Kebudayaan dan Lingkungan, Perspektif Antropologi Budaya" dalam Majalah Ilmu-ilmu Sstra Indonesia, Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia
  • Suparlan, Parsudi (1980) - Lapangan Kerja Bagi Penduduk Penghasilan Rendah di Kota, Widya Pura No.6 Tahun II
  • Suparlan, Parsudi (1981) - "Adaptasi: Perspektif Kebudayaan" Kertas kerja dalam Penataran Tenaga Peneliti Daerah dalam rangka proyek IDKD Direktorat Sejarah dan nilai Trasisional, Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta
  • Schoor, J.W. (1982) - Modernisasi Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-negara Sedang Berkembang, Jakarta: PT Gramedia
  • Sukadana, A. Adi (1984) - Ekologi Manusia, Kursus dasar-dasar Analisis mengenai Dampak Lingkungan KLH-PPKL, Unair, Surabaya
  • Sjam Mahyudia, M. Ismunadji & Adi Widjono (1988) - Penelitian Tanaman Pangan, Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor
  • Vredenbregt, J. (1980) - Metode dan Teknik Penelitian Masyarakat, Jakarta: PT Gamedia

Source

  • Mika, Gusti Anom (1990) - Budidaya rumput laut, suatu proses adaptasi dan implikasinya dalam kehidupan sosial ekonomi dan ritual masyarakat desa Ped, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Propinsi Bali, suatu kajian antropologi; Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar, 216pp.

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman www.godidijkman.nl social facebook box white 24