Bees & global warming (Gun, 2013)

The article below was published online May 2013 and deals with the relationship between bees and the effects of global climate change on Nusa Penida. Translation by Altaire Cambata, who has just finished her thesis on global warming after field research on Nusa Penida (see: Advisors). The original Indonesian text follows below.

Bee Problems Second in the World after Global Warming

Currently the world is scourged by various environmental issues, one of the most topical being global warming. But subconsciously, there is another issue that is no less crucial. Bees: small creatures with a million impressive roles but too often not considered. The existence of bees in the world has already begun to reduce drastically. The main cause is the world's climate, affecting the availability of bee food in the wild.

bees lebah 01bees warong 01

Images above: I Made Astra (50), beekeeper at Tanglad & beekeeping shed (nusapenidamedia.com, May 2013)

In some parts of the world, including in the American continent, the existence of bees, especially honey bees, has already become scarce. Many migrating bees are dead, presumably because of chemical contamination from pesticides. "Orange farmers in America become anxious with scarcity of bees there. How could they not? Since the existence of bees became reduced, the income from selling oranges in America is down drastically." (As reported by VOA.)

Bees will become a world problem second to global warming. Bees' large role in the pollination process for producing fruit could lead to crop failure and the subsequent food crises. Without the help of bees, plants cannot produce fruit therefore triggering crop failures and subsequent food crises. The existence of bees in a particular area is also an indicator of the balance of an ecosystem. Areas that have a lot of bees mean that the ecosystem balance is maintained. The opposite, an area that has a reduced number of bees, indicates an area already experiencing contamination or ecosystem damage.

One way to keep bees is to cultivate them. Bees develop well in areas rich in biodiversity, for example, the area of Nusa Penida. Nusa Penida is an area that is potentially significant for bee cultivation, especially honey bees. The existence of various plants that grow in this area constitute an ideal habitat. Ranging from mango, coconut, orange, avocado, various flowers and vegetables, even durian – all are there on Nusa Penida. Besides harvesting honey, bees exist to help guard a balance of the food chain. "It will be very beneficial to produce honey from bee cultivation" says Mr. Appleton, known as Mr. Organic from FNPF Nusa Penida.

In Tanglad village, bee honey has been cultivated for 15 years. One of the famers is I Made Astra (50), who has been a honey bee cultivator since 1998. The cultivation obsession started when he saw honey bees in bataran hole (red; oile of stone terracing) in the place where plowing. "Cultivating honey bees is indeed tricky. We have a routine to harvest the honey 3 months during when summer plants are flowering, when he will be buhu" (read; disappeared from the nest) he said, pointing to the honeycomb. Cultivation transactions are carried out using artificial nests called kungkungan. Kungkungan are made specially with a leather harness, utilizing coconut tree bark that is already weathered into a tube shape with a small place for bees to enter. In addition to manufacturing bark from the coconut, communities usually use board that is made such that they resemble wooden beams.

When it is the rainy season, honey bees are slothful, so the production of the honey is automatically reduced. The honey harvest lasts six months with results around 600 ml per artificial nest, and sometimes more depending on the season. Under normal conditions, one artificial honey beehive can make honey from around 400 ml to 600ml to be harvested every 4 months. For every 600 ml of honey, a farmer can earn up to Rp. 300,000 – Cultivators like Pak Made can cultivate as much as 30 kungkungan. Each time there is a harvest, he can collect profit of up to Rp. 12,000,000. Besides economic benefits, bee cultivation also helps guard the chain of life and the ecosystem.

Another possible way to save bees is to reduce the use of chemicals on crops. The disappearance of bees means environmental damage within the global web of life. Not just another trivial problem, the existence of bees is very significant for the sustainability of human beings on planet earth.

Source

* Teks asli bahasa Indonesia *

Lebah Permasalahan Dunia Kedua Setelah Global Warming

Saat ini dunia didera oleh berbagai isu lingkungan. Isu yang paling hangat adalah global warming. Namun secara tidak sadar, ada isu lain yang tidak kalah krusial. Lebah! Makhluk kecil dengan sejuta peran tetapi terkesan tidak dianggap. Keberadaan lebah di dunia sekarang ini sudah mulai berkurang secara drastis. Penyebab utama adalah iklim dunia yang relatif tidak tentu yang berpengaruh pada ketersediaan pakan lebah di alam liar.

Di beberapa belahan dunia, termasuk di Benua Amerika, keberadaan lebah, terutama lebah madu sudah mulai langka. Banyak lebah yang bermigrasi bahkan banyak yang mati, diperkirakan karena kontaminasi cairan kimia dari obat pembasmi hama. "Para petani jeruk di Amerika mulai cemas dengan kelangkaan lebah di sana. Betapa tidak, semenjak keberadaan lebah mulai berkurang penghasilan buah terutama buah jeruk di Amerika turun drastis." (Sebagaimana dilansir oleh VOA)

Lebah akan menjadi permasalahan dunia kedua setelah global warming. Lebah berperan besar pada proses penyerbukan untuk menghasilkan buah. Tanpa bantuan lebah, tanaman tidak bisa memproduksi buah yang rentan memicu gagal panen dan selanjutnya terjadilah krisis pangan. Bisa dibayangkan, penduduk dunia pun terancam tidak bisa menikmati buah dan sayur apabila tidak ada lebah yang membantu proses penyerbukan tersebut. Keberadan lebah di suatu tempat juga menjadi indikator terhadap keseimbangan sebuah ekosistem. Daerah yang memiliki banyak lebah berarti keseimbangan ekosistemnya terjaga. Sebaliknya, daerah yang jumlah lebahnya berkurang mengindikasikan daerah tersebut sudah mengalami pencemaran atau kerusakan ekosistem.

Sudah seharusnya masyarakat menjaga lebah-lebah tersebut salah satu caranya dengan budi daya lebah. Budidaya lebah baik dikembangkan pada daerah yang kaya akan keanekaragaman hayati, sebagai contoh daerah Nusa Penida. Secara spesifik, Nusa Penida adalah suatu daerah yang berpotensi besar untuk membudidayakan lebah, khususnya lebah madu. Keberadaan aneka tanaman yang tumbuh di daerah ini merupakan habitat ideal. Mulai dari mangga, kelapa, jeruk, apokat, aneka bunga dan sayur bahkan durian pun ada di Nusa Penida. Disamping pembudidaya bisa memanen madu, keberadaan lebah membantu menjaga keseimbangan rantai biologi. "Akan ada banyak manfaat yang dihasilkan dari budi daya lebah madu," ujar Mr. Appleton yang akrab dipanggil Pak Made Organik dari FNPF Nusa Penida (9/3).

Di Desa Tanglad, lebah madu sudah dibudidayakan sejak 15 tahun yang lalu. Salah satu pembudidaya adalah I Made Astra (50), sudah mulai membudidayakan lebah madu sejak tahun 1998. Budi daya ini berawal dari keisengan ketika ia melihat lebah madu di lubang bataran (red; tumpukan batu terasering) tempatnya membajak. "Untuk budi daya lebah madu memang gampang-gampang susah. Kita harus rutin mengambil madunya 3 bulan sekali ketika musim tumbuhan berbunga, kalau tidak begitu ia akan buhu," (red; musnah dari sarang) tuturnya sambil menunjuk sarang lebah madu. Budi daya dilakukan dengan menggunakan sarang buatan yang disebut kungkungan. Kungkungan dibuat khusus dengan memanfaatkan kulit batang pohon kelapa yang sudah lapuk sehingga berbentuk tabung yang kedua sisinya diberi lubang kecil tempat keluar masuk lebah. Selain memanfaatkan kulit pohon kelapa, masyarakat biasanya menggunakan papan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai balok kayu.

Ketika musim hujan, lebah madu akan malas keluar sehingga produksi madunya otomatis berkurang. Sehingga panen madu biasanya enam bulan sekali dengan hasil 600 ml per kungkungan (red; sarang buatan) dan terkadang lebih bergantung pada musim. Dalam kondisi normal, satu sarang lebah madu buatan bisa menghasilkan madu sekitar 400 ml sampai 600 ml untuk masa panen setiap 4 bulan sekali. Untuk setiap 600 ml lebah madu dihargai sebesar Rp. 300.000,-. Seorang pembudidaya seperti Pak Made bisa membudidayakan lebah madu sebanyak 30 kungkungan. Setiap kali panen, ia bisa meraup untung kisaran Rp. 12.000.000,-. Selain manfaat secara ekonomi, budi daya lebah juga membantu menjaga rantai kehidupan dan ekosistem.

Cara lain yang bisa dilakukan untuk menjaga keberadaan lebah adalah dengan mengurangi penggunaan bahan kimia pada tanaman. Lebah sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Hilangnya lebah berarti kerusakan lingkungan yang nyata pada salah satu jaring kehidupan secara global. Lebih bukan lagi masalah sepele, keberadaan lebah sangat berarti bagi keberlangsungan manusia di planet bumi.

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman www.godidijkman.nl social facebook box white 24