Mangrove forest (Sugi Wahyuni, 2007)

During research undertaken between November 2005 and November 2006, I G.A. Sugi Wahyuni, N.M. Susun Parwanayoni & Joko Wiryatno from the Kelompok Studi Ekowisata, Jurusan Biologi (FMIPA) at Universitas Udayana Denpasar, in an article entitled: 'Jenis Tumbuhan dan Kondisi Hutan Mangrove di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung' concluded that the mangrove area at Nusa Lembongan and Ceningan (Nusa Penida, Bali) covered 212 ha, besides an area of mangrove forest outside this area of about 15 ha.

sugiwahyuni-2007-coverIn this mangrove system, thirteen true mangrove species were found, and nine so-called associates. Based on their field observations, it is concluded that good management is called for in order to preserve the mangrove forest in this area. The potential factors negatively influencing these mangrove forests are the increased numbers of fishing proas and mangrove tours for tourists.

Abstract

(p.146) This research was undertaken in Nusa Lembongan and Nusa Ceningan, District of Nusa Penida, Klungkung Regency, between 2005-2006. This research was aimed to find out the size of area and the status of mangrove forest, kind of species, as well as problems faced by the forest related to its conservation status. From this research it was revealed that the size of the area where the mangrove available in Nusa Lembongan was around 212 ha, and there was also mangrove forest in Nusa Ceningan about 15 ha. There were 13 species of flora available on mangrove ecosystem, which were classified as true mangroves, while 9 kinds were associated mangroves. From the field observation it was revealed that there is a possible threat to the mangrove forest if there is no good management strategy. Some activities which were available on the mangrove forest that were potentially provided impacts to sustainability of the forest, such as the use for anchoring boats and mangrove tour activities. Keywords: mangrove, sustainability, flora, mangrove zone

Pendahuluan

Bagi Provinsi Bali, sektor pariwisata telah lama menjadi primadona penghasil devisa andalan. Sumbangan sektor pariwisata terhadap pendapatan daerah Bali cenderung meningkat dari tahun - ke tahun mengungguli sektor-sektor lainnya. Diperkirakan pada tahun 1999 sektor pariwisata telah menyumbang terhadap pendapatan masyarakat Bali sebesar 51,6 persen (Erawan, 1999).

Salah satu produk ekowisata yang mulai popular di Bali adalah ekowisata mangrove tour. Hal ini antara lain berkembang di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Kedua pulau ini merupakan bagian dari kawasan pariwisata Nusa Penida, salah satu dari 15 kawasan pariwisata yang ada di Bali.

Untuk pengembangan ekowisata, maka diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang luas dan mendalam mengenai potensi keberadaan hutan mangrove sebagai daya tarik ekowisata di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Dengan pengembangan ekowisata ini diharapkan akan mampu memberikan manfaat positif bagi kesejahteraan (ekonomi) masyarakat dan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan budaya masyarakat setempat.

Manfaat penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan hutan mangrove sebagai potensi daya tarik ekowisata mangrove tour di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, serta menyediakan data dasar mengenai keberadaan potensi ekowisata mangrove tour di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, sebagai bahan masukan bagi penyusunan kebijakan pembangunan sektor kepariwisataan dan sector lainnya yang terkait.

sugiwahyuni-2007-illustration

Image 1: Sebaran Hutan Mangrove di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan (nampak berwarna gelap; sumber SLHD Bali, 2003)

Metode penelitian

Penelitian tentang mangrove ini telah dilaksanakan di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten (p.147) Klungkung, antara tanggal 2 Nopember 2005 dan 2 Nopember 2006. Pengambilan sampel dilakukan dengan menjelajahi ekosistem mangrove. Identifikasi species dilakukan semaksimal mungkin di lokasi dengan mengacu pada Kitamura et al. (1997). Jika ada species yang tidak teridentifikasi di lapangan, maka dilakukan pengambilan sampel dan dibawa ke laboratorium Taksonomi Tumbuhan, Jurusan Biologi, FMIPA UNUD untuk identifikasi lebih Ianjut. Untuk acuan identifikasi lain, antara lain dipergunakan pustaka Backer (1973), dan Dasuki (1993). Data ini dilengkapi dengan observasi keberadaan kondisi hutan mangrove serta studi pustaka sebagai data penunjang, antara lain mencakup luas wilayah hutan mangrove.

Hasil

Luas hutan mangrove di Nusa Lembongan berdasarkan laporan yang ada (SLHD Klungkung, 2004) tercatat seluas 202 Ha. Luas hutan mangrove tersebut, berdasarkan hasil analisis Inderaja dari Citra Landsat tahun 1995 ternyata hanya 187,1 ha (minus 14,9 ha). Di luar kawasan hutan, di Pulau Ceningan, masih ditemukan mangrove seluas 15 ha (SLHD Klungkung, 2004) (lihat Gambar 1). Sementara itu, jenis-jenis tumbuhan yang telah berhasil diidentifikasi di kawasan hutan mangrove dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2.

Table 1. Daftar Jenis-Jenis Mangrove dan Asosiasinya di Pesisir Timur Pulau Lembongan (p.148)

Stasiun Pengamatan Nama Jenis / famili Nama lokal Keterangan
I. kawasan sekitar jembatan antara Lembongan dan Ceningan Rhizopora stylosa / Rhizophoraceae Bakau Major component
  Sonneratia alba / Sonneratiaceae Prapat Major component
  Excoecaria agallocha / Euphorbiaceae Madengan / Buta-buta Minor component
  Lumnitzera racemosa / Combretaceae Saman-sigi Minor component
  Ipomoea pes-caprae / convolvulaceae Katang-katang Asosiasi
  Hibiscus tiliaceus / Malvaceae Waru Asosiasi
  Ageratum conyzoides / Asteraceae Bandotan Asosiasi
  Leucaena leucocephala / mimosaceae Lamtoro Tumbuh di area mangrove
II. Kawasan sekitar perbatasan antara Lembongan Jungutbatu (Klatak) Rhizopora stylosa / Rhizophoraceae Bakau major component
  Xylocarpus granatum / meliaceae banang-banang Minor component
  Excoecaria agallocha / euphorbiaceae Madengan / Buta-buta Minor component
  Lumnitzera racemosa / combretaceae Saman-sigi Minor component
  Vitex ovata / verbenaceae Legundi Asosiasi
  Hibiscus tiliaceus / Malvaceae Waru Asosiasi
  Zyzipus mauritiana / rhamnaceae Bekul Tumbuh di lahan mangrove
  Leucaena leucocephala / mimosaceae Lamtoro Tumbuh di area mangrove
  Calatrophis gigantea / asclepiadaceae Biduri Asosiasi
III. Kawasan Jungutbatu di pertengahan antara Klatak dan Tanjung Ental / Tanjungan Rhizopora stylosa / Rhizophoraceae Bakau major component
  Avicennia officinalis / avicenniaceae Sia-sia putih Major component
  Avicennia lannata / avicenniaceae Sia-sia Major component
  Ceriops decandra / rhizophoraceae Kenyongnyong Major component
  Ceriops tagal / rhizophoraceae Tengah / mentigi Major component
  Sonneratia alba / Sonneratiaceae Prapat Major component
  Xylocarpus granatum / meliaceae banang-banang Minor component
  Bruquiera gymnorhiza / rhizoporaceae Lindur / Tanjang merah Major component
  Excoecaria agallocha / Euphorbiaceae Madengan / Buta-buta Minor component
  Lumnitzera racemosa / Combretaceae Saman-sigi Minor component
  Portulacca sp. / portulacaceae - Asosiasi
  Gliricidia sepium / fabaceae Gamal Tumbuh di lahan mangrove
  Leucaena leucocephala / mimosaceae Lamtoro Tumbuh di area mangrove
IV. Kawasan Jungutbatu di sekitar start sampan untuk wisatawan mangrove tour Rhizopora stylosa / Rhizophoraceae Bakau Major component
  Rhizopora apiculata / rhizophoraceae Bakau putih / Jangkah Major component
  Sonneratia alba / Sonneratiaceae Prapat Major component
  Xylocarpus granatum / meliaceae banang-banang Minor component
  Bruquiera gymnorhiza / rhizoporaceae Lindur / Tanjang merah Major component
  Pandanus tectorius / pandanaceae Pandan dui Asosiasi
  Thespesia populnea / malvaceae Waru laut Asosiasi
  Scaevola taccada / goodeniaceae Bakung-bakung Asosiasi
V. Kawasan Jungutbatu di sekitar pura Sakenan Rhizopora stylosa / rhizophoraceae Bakau Major component
  Rhizopora apiculata / rhizophoraceae Bakau putih / Jangkah Major component
  Avicennia marina / avicenniaceae Sia-sia putih Major component
  Avicennia officinalis / avicenniaceae Sia-sia putih Major component
  Xylocarpus granatum / meliaceae banang-banang Minor component
  Lumnitzera racemosa / Combretaceae Saman-sigi Minor component
  Pandanus tectorius / pandanaceae Pandan dui Asosiasi
  Thespesia populnea / malvaceae Waru laut Asosiasi
VI. Kawasan Jungutbatu di sekitar TPA Rhizopora stylosa / Rhizophoraceae Bakau Major component
  Ceriops tagal / rhizophoraceae Tengah / mentigi Major component
  Avicennia marina / avicenniaceae Sia-sia putih Major component
  Xylocarpus granatum / meliaceae banang-banang Minor component
  Lumnitzera racemosa / Combretaceae Saman-sigi Minor component
  Cyperus sp. / cyperaceae Teki Tumbuh di lahan mangrove
  Euphorbia tirucalli / euphorbiaceae Sambung tulang Tumbuh di lahan mangrove

Sumber: Data hasil survey 2005-2006 & Laporan RIPP Bali, 2005

Tabel 2. Jenis-Jenis Tumbuhan Mangrove di Pesisir Utara Nusa Ceningan

No. Nama jenis Nama local Keterangan
1. Rhizopora stylosa / rhizophoraceae Bakau Major component, dominan
2. Rhizopora apiculata / rhizophoraceae Bakau putih / Jangkah Major component
3. Rhizopora mucronata / rhizophoraceae Bakau Major component
4. Avicennia marina / avicenniaceae Sia-sia putih, sie-sie Major component
5. Sonneratia sp. / sonneratiaceae Prapat Major component
6. Lumnitzera racemosa / Combretaceae Saman-sigi Minor component
7. Vitex ovata / verbenaceae Legundi Asosiasi
8. Ipomoea pes-caprae / convolvulaceae Katang-katang Asosiasi
9. Cyperus sp. / cyperaceae Teki Tumbuh di lahan mangrove
10. Excoecaria agallocha / Euphorbiaceae Madengan / Buta-buta Minor component
11. Casuarina sp. / casuarinaceae Cemara laut Tumbuh di lahan mangrove
12. Hibiscus tiliaceus / Malvaceae Waru Asosiasi

Sumber: Data hasil survey 2005-2006 & Laporan RIPP Bali, 2005

Pembahasan

(p.150) Sebaran hutan mangrove di wilayah pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan sebenarnya sebagian besar terdapat di sekitar Nusa Lembongan; hanya sebagian kecil di sekitar Nusa Ceningan (lebih kurang 15 ha). Perbedaan luasan hutan mangrove antara yang disebutkan dalam pustaka dengan hasil analisis Inderaja dari Citra Landsat tahun 1995 yaitu minus 14,9 ha, kemungkinan berhubungan dengan pemanfaatan sebagian wilayah mangrove untuk penambatan perahu nelayan, yang mana ini nampak ada pada beberapa lokasi baik itu di bagian timur Nusa Lembongan maupun di bagian barat Nusa Ceningan. Untuk menambah luasan hutan mangrove ini, maka sebenarnya dapat dilakukan penanaman kembali di bagian timur dari Nusa Lembongan agak ke tengah, di bagian utara jembatan penghubung Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.

Dilihat dari jenis tumbuhan pada kawasan hutan, mangrove, maka secara umum di wilayah ini ada Nampak jenis asli mangrove, baik itu berupa major komponen, atau minor komponen, dan ada juga mangrove asosiasi. Mangrove asosiasi ini sebenarnya adalah tumbuhan daratan (terestrial plants) yang berasosiasi dengan hutan mengrove. Jenis mangrove major komponen yang ditemukan di wilayah ini ada 10 jenis yaitu: Rhizopora stylosa, R. Apiculata, R. Mucronata, Sonneratia alba, Sonneratia sp., Avicennia officinalis, Avicennia marina, A. Lannata, Ceriops decandra, Ceriops tagal, sedangkan jenis minor komponennya ada 3 jenis, yaitu: Lumnitzera racemosa, Excoecaria agallocha, Xylocarpus granatum. Sementara itu, untuk asosiasi mangrove ada 9 jenis, yaitu Pandanus tectorius, Thespesia populnea, Vitex ovata, Ageratum conyzoides, Hibiscus tiliaceus, Ipomoea pes-caprae, Scaevola taccada, Calatrophis gigantea, serta Portulacca sp.

Hutan mangrove merupakan sumberdaya hayati yang penting. Di samping berbagai jenis tumbuhan, di kawasan hutan sini juga hidup berbagai jenis fauna yang khas, yang mampu beradaptasi pada ekosistem mangrove. Fauna ini antara lain berbagai jenis ikan, kepiting, reptil seperti ular, dan Iain-lain. Salah satu jenis kepiting yang terkenal di ekosistem ini adalah Uca spp. yang juga dikenal sebagai kepiting biola, yang mempunyai capit yang dapat lebih besar dari ukuran tubuhnya. Ikan dan kepiting ini ada yang mencari makan, bahkan berbiak dan berlindung di sekitar hutan mangrove.

Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem yang berperan dalam mengurangi terjadinya abrasi pantai. Hutan mangrove di wilayah Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan paling tidak dapat diharapkan mengurangi peluang terjadinya abrasi wilayah pantai timur Nusa Lembongan dan barat / utara Nusa Ceningan di mana hutan mangrove tersebut berada. Namun tantangannya yang timbul adalah bagaimana mencegah penebangan kawasan hutan, misalnya untuk penambatan perahu nelayan. Di samping itu, berkembanganya usaha pariwisata mangrove tour, seperti naik kano berkeliling dan masuk di kawasan hutan mangrove perlu dikelola dan dipantau dampaknya dengan baik. Hal ini nampak ada di sekitar wilayah Timur Laut pulau Nusa Lembongan di mana mangrove tour-nya yang dikelola masyarakat sudah mulai berkembang, serta di antara Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan di mana ada aktivitas sejenis yang dikembangkan oleh perusahaan Ekajaya. Tanpa manajemen yang baik, maka ada kemungkinan menyebabkan kerusakan pada ekosistem mangrove di wilayah ini.

Simpulan

Dari hasil studi berhasil diketahui bahwa luasan hutan mangrove di wilayah Nusa Lembongan sekitar 212 ha, dan ada juga sejumlah mangrove di luar kawasan hutan di Nusa Ceningan sekitar 15 ha. Jenis-jenis flora di ekosistem mangrove di sini ada 13 jenis yang merupakan mangrove yang sebenarnya (true mangrove), sedangkan 9 jenis merupakan Asosiasi mangrove. Berdasarkan observasi lapangan diketahui adanya peluang ancaman kelestarian hutan mangrove jika tidak dilakukan manajemen yang baik. Beberapa kegiatan yang ada di wilayah hutan mangrove yang potensial berdampak terhadap kelestarian hutan ini antara lain pemanfaatan sebagai penambatan perahu nelayan, serta usaha wisata mangrove tour.

Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang dampak berbagai aktivitas di sekitar kawasan hutan mangrove dengan kelestarian ekosistem hutan mangrove di wilayah Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dibuat manajemen hutan mangrove yang tepat untuk wilayah ini.

Ucapan terima kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Puslitbudpar Unud serta Kelompok Studi Ekowisata FMIPA-Biologi atas segala dukungan pembiayaan dalam pelaksanaan penelitian ini. Juga terima kasih kami sampaikan kepada Ketut Ginantra, S. K. Sudirga serta A. A. Gde Raka Dalem dari Kelompok Studi Ekowisata, FMIPA-Biologi Unud yang juga ikut melaksanakan penelitian ini.

About the authors

IG. A. Sugi Wahyuni, N. M. Susun Parwanayoni, dan Joko Wiryatno, Kelompok Studi Ekowisata, Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Udayana, Denpasar; e-mail: sustainablebali [at] yahoo.com.

Daftar pustaka

  • Backer, C A. (1973) - Atlas of 220 Weeds of Sugar Cane Fields in Java. Indonesian Sugar Experiment Station, Pasuruan, Indonesia
  • Dasuki, U. (1993) -Sistematik Tumbuhan Tinggi. PAU Ilmu Hayati, ITB
  • Departemen Kehutanan, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no 7 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, Jakarta
  • Heyne K. (1987) - Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid II dan III; Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan; Penerbit: Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta
  • Kitmura, S., C. Anwar, A. Chaniago, S. Baba (1997) - Handbook of Mangroves in Indonesia (Bali & Lombok); Medit, Tokyo Japan
  • Puslit Kebudayaan dan Kepariwisataan UNUD (2005) - Laporan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP) Bali, Denpasar
  • Bapedalda Bali (2003) - Status Lingkungan Hidup dan Basisdata Provinsi Bali.: Denpasar
  • DKLH Klungkung (2004) - Status Lingkungan Hidup dan Basisdata Kabupaten Klungkung, Klungkung
  • Soerjani, M., A.J.G.H. Kosterman, dan G.Tjitrosoepomo (1987) - Weeds of Rice in Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta
  • Wahyuni, I G. A. S., N. L. Arpiwi dan A. A. G. Raka Dalem (2007) - Luas Sebaran, Jenis dan Pemanfaatan Mangrove di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Submitted; Jurnal Dinamika Kebudayaan, Lemlit, UNUD, Denpasar

Source

  • Sugi Wahyuni, I G.A. et. al. (2007) - Jenis Tumbuhan dan Kondisi Hutan Mangrove di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, in: Bumi Lestari, Jurnal Lingkungan Hidup (Journal of Environment), Vol.7, No. 2., Agustus 2007, ISSN 1411-9668; Jurnal Terakreditasi Dirjen Dikti Depdiknas, Nomor: 108/DIKTI/Kep./2007; Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Lembaga Penelitian Universitas Udayana, p.146-151 

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman www.godidijkman.nl social facebook box white 24