Polymorphism Bos sondaicus (Zakiatun, 2011)

Zakiatun Muhammad in 2011 presented his thesis to Udayana University (Denpasar, Bali) entitled 'Polimorfisme Lokus Mikrosatelit RM185 Sapi Bali di Nusa Penida'. He discusses polymorphism in Bali cattle (Bos sondaicus) in Nusa Penida.

zakiatun2011-polimorfisme-000coverRiwayat hidup / About the author

(p.iv) Penulis dilahirkan pada tanggal 15 Agustus 1984 di Jakarta. Penulis adalah putra kelima dari enam bersaudara pasangan Bapak Musa Ruchijat dan Ibu Siti Ma'onah. Penulis menyelesaikan sekolah dasar di SD Negeri 01 Pagi Jakarta Timur, lulus pada tahun 1997. Pendidikan lanjutan tingkat pertama di MTs. Tembarak-Temanggung, lulus pada tahun 2000. Pendidikan lanjutan tingkat atas di SMUI Negeri 6 Jakarta, lulus pada tahun 2003. Selanjutnya, mengikuti pendidikan kedokteran hewan di Program Studi Diploma III Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor dan mendapatkan gelar Ahli Madya (Amd.) pada tahun 2006. Penulis melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana pada tahun 2006. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan (SKH), penulis menyelesaikan skripsi dengan judul Polimorfisme Lokus Mikrosatelit RM185 Sapi Bali di Nusa Penida.

Ringkasan

(p.v) Polimorfisme pada suatu populasi sering kali digunakan sebagai salah satu indeks keragaman genetik. Sifat polimorfik ini ditentukan dengan mengidentifikasi jumlah alel pada suatu populasi. Dengan adanya identiflkasi jumlah alel maka akan dapat ditentukan frekuensi alel dan nilai heterozigositas suatu populasi.

Sampel berupa darah sapi dari populasi sapi bali (Bos Sondaicus) di Nusa Penida. Sebanyak 21 sampel darah sapi bali digunakan sebagai sumber DNA. Pengekstraksian sampel darah menggunakan QIAamp DNA Blood Mini Kit produk QIAGEN. Amplifikasi lokus mikrosatelit DRB3 menggunakan dengan teknik PCR dengan suhu annealing 58°C. Produk PCR yang merupakan suatu alel dipisahkan melalui elektroforesis pada gel acrilamid 7% dan dimuculkan dengan pewarnaan perak.

Hasil penelitian polimorfisme lokus mikrosatelit RM185 pada 21 ekor sapi Bali di Nusa Penida teridentifikasi 7 alel yaitu 76 pb, 84 pb, 86 pb, 90 pb, 98 pb, 100 pb dan 104 pb. Genotip pada setiap individu bersifat heterozigot. Alel 86 pb merupakan frekuensi alel tertinggi dengan nilai frekuensi 0,31. Sedangkan nilai frekuensi alel terendah adalah alel 76 pb dengan nilai frekuensi alel 0,02. Keragaman genetika populasi sapi bali di Nusa Penida dengan penanda molekuler lokus mikrosatelit RM185 memiliki nilai heterozigositas h = 0,804.

Bab I: Pendahuluan - 1.1 Latar Belakang

(p.1) Penyebaran sapi Bali saat ini hampir meliputi seluruh wilayah Indonesia. Empat provinsi yang memiliki jumlah sapi bali terbesar di Indonesia adalah Provinsi Sulawesi Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Provinsi Bali dan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mengingat jumlahnya yang cukup besar dan penyebarannya yang cukup luas maka sapi Bali merupakan bangsa ternak sapi yang cukup penting dalam penyediaan daging nasional.

Pada berbagai lingkungan pemeliharaan di Indonesia, sapi Bali memperlihatkan kemampuan untuk berkembang biak dengan baik yang disebabkan beberapa keunggulan yang dimiliki sapi Bali. Keunggulan sapi Bali dibandingkan sapi lain yaitu memiliki daya adaptasi sangat tinggi terhadap lingkungan yang kurang baik (Masudana, 1990), seperti dapat memanfaatkan pakan dengan kualitas rendah (Sastradipradja, 1990), mempunyai fertilitas dan conception rate yang sangat baik (Oka dan Darmadja, 1996), persentase karkas yang tinggi yaitu 52-57,7% (Payne dan Rollinson, 1973), memiliki daging berkualitas baik dengan kadar lemak rendah (kurang lebih 4%) (Payne dan Hodges, 1997) dan tahan terhadap parasit internal dan eksternal (National Research Council, 1983). Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki tersebut dan mengingat Indonesia merupakan pusat sapi Bali di dunia maka sapi Bali merupakan aset nasional yang perlu dilestarikan.

Sapi Bali memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan yang kurang baik, namun demikian sapi Bali ternyata memiliki kerentanan yang sangat tinggi terhadap beberapa jenis penyakit. Sapi Bali sangat peka terhadap penyakit jembrana dan Malignant Catarrhal Fever (MCF). Tingkat insidens penyakit jembrana per tahun dilaporkan oleh Peranginangin (1990) sebesar 0,55% dengan persentase kematian dari hewan yang terserang mencapai 11,18%. Sapi Bali juga sangat rentan dengan penyakit Malignant Catarrhal Fever (MCF), kematian dapat mencapai 100% dari ternak yang sakit. Oleh karena itu, daerah (p.2) pengembangan sapi Bali menjadi agak terbatas dan harus dipilih daerah-daerah yang mempunyai populasi kambing dan domba yang rendah.

Salah satu faktor yang menentukan ketahanan individu terhadap penyakit adalah Mayor Histocompatibility Complex (MHC) yang pada sapi dikenal dengan sebutan Bovine Leukocyte Antigen (BoLA) (Untalan et al., 2007). Mayor Histocompatibility Complex (MHC) dibedakan menjadi tiga klas yaitu MHC klas I, MHC klas II dan MHC klas III (Bastos-Silveira et al., 2007). Fungsi keseluruhan dari Bovine Leukocyte Antigen (BoLA) ini adalah berperan dalam imunitas yang berhubungan dengan kerentanan atau ketahanan terhadap penyakit.

Gen Bovine Leukocyte Antigen (BoLA) berperan penting pada reaksi imun tubuh sapi terhadap berbagai penyakit. Keragaman Bovine Leukocyte Antigen (BoLA) berkorelasi dengan kekebalan serta ketahanan terhadap penyakit. Kulberg et al. (2007) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara keragaman kepekaan terhadap penyakit dengan gen Bovine Leukocyte Antigen (BoLA). Gen Bovine Leukocyte Antigen (BoLA) menciri dengan banyaknya alel dalam setiap lokus serta keragamam asam amino pada setiap alelnya. Sifat polimorfisme yang tinggi ini menimbulkan variasi ekspresi yang berbeda pada setiap individu. Sampai saat ini belum banyak penelitian yang mengungkap keragaman gen Bovine Leukocyte Antigen (BoLA) pada sapi Bali. Berdasarkan informasi di atas peneliti tertarik melakukan penelitian tentang polimorfisme lokus mikrosatelit RM185 pada sapi Bali di Nusa Penida.

1.2 Rumusan Masalah

1. Seberapa banyak alel yang dapat ditemukan pada marka mikrosatelit RM185 pada sapi Bali di Nusa Penida?; 2. Berapa frekuensi masing-masing alel lokus mikrosatelit RM185 pada sapi Bali di Nusa Penida?; 3. Berapa heterozigositas sapi Bali di Nusa Penida dengan marka mikrosatelit RM185?

zakiatun2011-polimorfisme-p4graphicGambar 1. Kerangka Konsep Penelitian

Bab II: Tinjauan Pustaka - 2.1 Sapi Bali

(p.5) Bangsa (breed) sapi, adalah sekumpulan ternak yang memiliki karakteristik tertentu yang sama. Atas dasar karakteristik tersebut, mereka dapat dibedakan dari ternak lainnya meskipun masih dalam species yang sama. Karakterisik yang dimiliki dapat diturunkan ke generasi berikutnya.

Menurut Williamson dan Payne (1993) bangsa sapi mempunyai klasifikasi taksonomi yang terdiri atas:

Phylum Chordata
Sub phylum Vertebrata
Class Mamalia
Ordo Artiodactyla
Sub ordo Ruminantia
Family Bovidae
Genus Bos
Spesies Bos Sondaicus

Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia dan merupakan hasil domestikasi dari banteng (Bibos banteng) (Hardjosubroto, 1994) dan merupakan sapi asli Pulau Bali (Sutan, 1988).

Hardjosubroto (1994) menyatakan bahwa ada tanda-tanda khusus yang harus dipenuhi sebagai sapi Bali murni, yaitu warna putih pada bagian belakang paha, pinggiran bibir atas dan pada paha kaki bawah mulai tarsus sampai batas pinggir atas kuku, bulu pada ujung ekor hitam, bulu pada bagian dalam telinga putih, terdapat garis belut (garis hitam) yang jelas pada bagian atas punggung, bentuk tanduk pada jantan yang paling ideal disebut bentuk tanduk silak congklok yaitu jalannya pertumbuhan tanduk mula-mula dan dasar sedikit keluar lalu membengkok ke atas, kemudian pada ujungnya membengkok sedikit keluar. Pada sapi betina bentuk tanduk yang ideal disebut manggul gangsa yaitu jalannya pertumbuhan tanduk satu garis dengan dahi arah ke belakang sedikit melengkung (p.6) ke bawah dan pada ujungnya sedikit mengarah ke bawah dan ke dalam, tanduk ini berwarna hitam.

Sapi Bali mempunyai banyak keunggulan. Selain daya reproduksi yang tinggi, sapi ini mampu berproduksi pada kondisi lingkungan buruk. Dengan ukuran tubuh sedang dan persentase karkas sekitar 56%, sapi Bali menjadi ternak pilihan bagi peternak di hamper semua wilayah di Indonesia (ISPI, 2003). Sapi Bali memperlihatkan kemampuannya untuk berkembang biak dengan baik yang disebabkan beberapa keunggulan yang dimiliki sapi Bali. Dibandingkan sapi lainnya, sapi Bali memiliki keunggulan yaitu memiliki daya adaptasi santag tinggi terhadap lingkungan yang kurang baik (Masudana, 1990), seperti dapat memanfaatkan pakan dengan kualitas rendah (Satradipradja, 1990), mempunyai fertilitas dan conception rate yang sangat baik (Oka dan Darmadja, 1996), persentase karkas yang tinggi yaitu 52-57,7% (Payne dan Rollinson, 1973) memiliki daging berkualitas baik dengan kadar lemak rendah (kurang lebih 4%) (Payne dan Hodges, 1997) dan tahan terhadap parasit internal dan eksternal (National Research Council, 1983).

Saat ini penyebaran sapi Bali telah meluas hampir keseluruh wiiayah Indonesia, konsentrasi sapi Bali terbesar adalah di Sulawesi Selatan, Pulau Timor, Bali dan Lombok. Pada tahun 1991 ditaksir jumlah sapi bali di Indonesia sekitar 3,2 juta, dengan jumlah terbanyak di daerah Sulawesi Selatan (1,8 juta ekor), Nusa Tenggara Timur (625 ekor) dan Pulau Bali (456 ekor) (Hardjosubroto, 1994).

2.2 Kondisi umum Nusa Penida

Berdasarkan data terbaru tahun 2011 dan Pemerintah Kabupaten Klungkung dinyatakan bahwa Kecamatan Nusa Penida terdiri dan tiga kepulauan yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Lembongan dan Pulau Ceningan. Kecamatan Nusa Penida terdri dari 16 desa dinas, dengan jumlah penduduk 46,749 jiwa (8.543 KK). Secara umum kondisi topografi, Nusa Penida tergolong landai sampai berbukit. Desa-desa pesisir di sepanjang pantai bagian utara berupa lahan datar dengan kemiringan 0-3 % dari ketinggian lahan 0-268 mdpl. Semakin ke selatan kemiringan 0-3% dari ketinggian lahan 0-268 mdpl. Semakin ke selatan kemiringan lerengnya semakin bergelombang. Demikian juga Pulau Lembongan (p.7) bagian utara merupakan lahan datar dengan kemiringan 0-3% den di bagian selatan kemiringannya 3-8%. Sedangkan Pulau Ceningan mempunyai kemiringan lereng bervariasi antara 8-5% dan 15-30% dengan kondisi tanah bergekombang dan berbukit (Pemerintah Kebupaten Klungkung, diakses 1 April 2011).

2.3 Keberadaan Sapi Bali di Nusa Penida

Sapi bali yang hidup di Pulau Bali merupakan sapi Bali murni. Kemurnian genetika sapi Bali telah dilindungi dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2004 dan Perda No 2/2003 yang melarang bibit sapi bali betina keluar dan wilayah provinsi ini (Ikawati, 2008).

Jumlah populasi sapi bali di Kabupaten Klungkung pada tahun 2005 tercatat 43.688 ekor dan mengalami peningkatan menjadi 43.943 ekor pada tahun 2006. Berarti peningkatan populasi sapi bali di Kabupaten Klungkung adalah 1%. Jumlah populasi sapi Bali di Nusa Penida pada tahun 2005 tercatat 23.500 ekor, dan 23.742 ekor pada tahun 2006. Ini berarti sapi Bali di Nusa Penida mengalami peningkatan 1,02% pada periode itu (Bisnisbali, 2007).

Rasio populasi sapi bali di Nusa Penida antara betina dan jantan tergolong ideal yaitu 2,4:1 pada tahun 2006 menurut data Dinas Peternakan Bali. Nusa Penida ditetapkan sebagai kawasan konservasi sapi Bali (Ikawati, 2008).

2.4 Keragaman genetik

Banyak sifat ternak yang secara ekonomis bernilai penting menunjukkan variasi morfologi (fenotip). Variasi fenotip ini dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Pada tingkat genetik, sifat-sifat tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh sebuah lokus gen tetapi oleh banyak lokus gen (Soller, 1994).

Diversitas genetik dapat terjadi karena adanya variasi genetik, baik inter maupun antar spesies pada suatu populasi (Sutarno, 1999). Adanya polimorfisme pada suatu spesies akan sangat bermanfaat dalam bidang genetika maupun untuk kepentingan seleksi. Variasi ini dapat digunakan untuk identifikasi dan mencari asal-usul suatu jenis hewan, mengetahui hubungan kekerabatan antar spesies sampai pada penyusunan peta gen. Informasi variasi genetik dapat dijadikan dasar (p.8) perkawinan silang (Soller, 1994) dan seleksi untuk meningkatkan produksi ternak, serta tujuan konservasi (Hall dan Bradley, 1995).

2.5 DNA Mikrosatelit

Faktor genetik ternak menentukan kemampuan yang dimiliki oleh seekor ternak sedangkan faktor lingkungan memberi kesempatan kepada ternak untuk menampilkan kemampuannya. Ditegaskan pula bahwa seekor ternak tidak akan menunjukkan penampilan yang baik apabila tidak didukung oleh lingkungan yang baik di mana ternak hidup atau dipelihara, sebaliknya lingkungan yang baik tidak menjamin penampilan apabila ternak tidak memiliki mutu genetik yang baik (Hardjosubroto, 1994).

Mikrosatelit banyak digunakan sebagai marka pembantu seleksi karena keberadaanya melimpah, bersifat kodominan dan sangat polimorfik (Bennett, 2000). Mikrosatelit merupakan marka genetik yang senng digunakan untuk mempelajari sistem perkawinan dan struktur populasi (Steffen et al., 1993), pautan (linkage), pemetaan kromoson, dan analisis populasi (Silva et al., 1999). Pemetaan QTL (quantitative trait loci) dengan menggunakan mikrosatelit untuk sifat pertumbuhan dan komposisi karkas pada sapi telah dilaporkan sejumlah peneliti seperti Casas et al. (2003) dan Curi et al. (2005).

Mikrosatelit atau dikenal juga dengan short tandem repeats adalah urutan nukleotida pendek secara berurutan dalam genom eukariota. Pemberian nama ini didasarkan pada kandungan nukleotida yang biasanya terdiri dari 1 sampai 5 pasang. Mikrosatelit mempunyai motif urutan sederhana dan panjangnya tidak lebih dari 6 (enam) pasang motif. Motif urutan terulang yang terdiri dan 2 atau 3 nukleotida berurutan yang sering dijumpai pada genom eukariota, misal, (dC-dA)n atau (dC-dG-dA)n (Stalling et al, 1991). Mikrosatelit ini telah diketahui sangat polimorfik pada suatu populasi, karena keragaman jumlah nukleotida yang terulang (Litt dan Luty, 1989). Penyebarannya sangat acak di dalam genom (Luty et al., 1990) hal ini menyebabkan mikrosatelit sangat berguna untuk pemetaan genom. Saat ini mikrosatelit merupakan penanda genetik yang banyak dipilih untuk keperluan pemeriksaan molekuler. Beberapa pemeriksaan molekuler yang menggunakan mikrosatelit di antaranya untuk analisis struktur populasi (Arora dan Bhatia, 2004) (p.9) memperkirakan keragaman genetic dan inbreeding (Hedrick el al., 2001), catatan silsilah (Talbot et al., 1996), dan identitas individu (Maudet et al., 2004).

Mikrosatelit lebih dipilih untuk analisis keragaman genetic populasi karena berbagai alasan yaitu, (1) tersebar secara acak dalam genom, (2) memperlihatkan tingkat mutasi yang tinggi, (3) bersifat kodominan sehingga sangat mudah dihitung secara langsung, dan (4) sangat efisien karena diperlukan jumlah template DNA yang sangat sedikit (Weber dan Wong, 1993).

Mikrosatelit telah banyak digunakan dalam penelitian. Canon et al. (2001) menggunakan analisis mikrosatelit untuk mengetahui struktur genetik dan keragaman genetik pada 18 kelompok sapi lokal yang berasal dari Spanyol, Portugal dan Prancis. Lebih lanjut dilaporkan bahwa analisis ini mampu pula membedakan kelompok sapi tersebut. MacHugh et al. (1997) melakukan penelitian menggunakan 20 mikrosatelit untuk menganalisis perbedaan antara sapi taurin dengan sapi zebu yang berasal dari Afrika, Eropa dan Asia. Cervini et al. (2006) menggunakan 10 buah penanda mikrosatelit untuk karakterisasi Brazilian Nellore cattle (Bos indicus). Lebih lanjut dijelaskan, bahwa analisis ini memberikan hasil yang sangat baik untuk peningkatan mutu genetik dan program pembiakan serta penentuan silsilah. Kemp et al. (1993) melaporkan bahwa 6 buah penanda mikrosatelit yang berasal dari sapi mempunyai urutan (C-A)n. Penanda mikrosatelit ini sangat polimorfik karena itu sangat baik digunakan untuk pemetaan genom. Empat dari 6 penanda tersebut bersifat polimorfik pada domba dan kambing.

Maudet et al. (2004) meneliti 60 penanda mikrosatelit yang berasal dari sapi, domba dan kambing. Kira-kira 30 jenis penanda mikrosatelite teramplifikasi dengan baik pada ketiga hewan tersebut, dan dilaporkan pula bahwa kesemua dari lokus mikrosatelit tersebut adalah polimorfik.

Bab IV: Hasil dan pembahasan - 4.1 Hasil - 4.1.1 Identifikasi alel

Hasil visualisasi pada elektroforesis produk PCR dan 21 ekor sapi Bali di Nusa Penida dengan lokus mikrosatelit RM185 dalam gel acrilamid 7% menunjukkan jumlah pita DNA (alel) yang muncul terdiri atas 2 pita. Namun pita-pita DNA yang ditemukan memiliki jarak laju migrasi yang berbeda-beda sehingga dapat dibedakan menjadi 7 tipe pita (alel) dengan basis pasang basa. Ketujuh tipe alel tersebut yaitu 76 pb, 84 pb, 86 pb, 90 pb, 98 pb, 100 pb, dan 104 pb (Gambar 3).

zakiatun2011-polimorfisme-p17-gambar3Gambar 3. Hasil Elektroforesis Lokus Mikrosatelit RM185 Sapi Bali di Nusa Penida. Nomor 1-6 = nomor sampel. M = Marker (100 bp ladder).

Tabel 1. Genotip Sapi Bali di Nusa Penida dengan Lokus RM185

Genotip Jumlah Sapi (ekor)
76/104 1
84/100 4
86/98 5
86/100 8
90/100 1
90/104 2

4.1.2 Frekuensi alel

(p.18) Berdasarkan hasil elektroforesis lokus mikrosatelit RM185 sapi Bali di Nusa Penida menunjukkan alel 86 pb adalah alel yang memilik frekuensi kemunculan tertinggi dengan nilai frekuensi 0,31. Alel 76 pb memiliki frekuensi kemunculan terendah dengan nilai frekuensi 0,02.

Tabel 2. Frekuensi Alel Lokus Mikrosatelit RM185 Sapi Bali di Nusa Penida

Alel Frekuensi Alel (%)
76 0,02
84 0,09
86 0,31
90 0,07
98 0,12
100 0,28
104 0,09

4.1.3 Heterozigositas

Nilai heterozigositas (h) merupakan cara yang paling akurat untuk mengukur variasi genetik. Keragaman genetik populasi sapi Bali di Nusa Penida dengan menggunakan lokus mikrosatelit RM185 memiliki heterozigositas h = 0,804.

4.2 Pembahasan

Perkembangan yang terjadi pada teknik molekuler telah banyak membantu dalam menghasilkan data tentang variasi genetik pada tingkat DNA. Teknik PCR yang memanfaatkan amplifikasi DNA yang mampu mendeteksi adanya variasi genetic dalam waktu yang relatif singkat. Keuntungan menggunakan PCR dalam (p.19) mengamplifikasi DNA adalah dapat menghasilkan DNA dalam jumlah yang banyak meskipun hanya dari beberapa atau bahkan satu molekul DNA saja dalam waktu yang relative singkat (White, 1996).

Berdasarkan hasil analisis pada populasi sapi Bali di Nusa Penida dengan menggunakan penanda lokus mikrosatelit RM185 memiliki 7 alel. JUmlah alel ini lebih banyak dari jumlah alel yang diidentifikasi pada penilitan yang dilakukan oleh Untalan et al. (2007). Hasil penelitian Untalan et al. (2007) mengindentifikasi 6 alel dengan menggunakan penanda yang sama pada jenis populasi sapi yang berbeda (sapi persilangan Bos Taurus dan Bos Indicus).

Pasang basa alel yang terdeteksi berkisar antara 76 pb sampai 104 pb. Alel 86 pb merupakan frekuensi tertinggi (0,31). Sedangkan alel 76 pb terdeteksi menjadi alel terendah (0,02). Frekuensi alel terendah pada sapi Bali di Nusa Penida dengan menggunakan penanda lokus mikrosatelit RM185 perlu mendapat perhatian. Menurut Wandia (2001), rendahnya frekuensi sejumlah alel kemungkinan besar sebagai akibat random genetic drift. Kemungkinan lain bahwa alel tersebut produk mutasi terkini sehingga belum tersebar keseluruh anggota populasi.

Nilai heterozigositas pada populasi sapi Bali di Nusa Penida dengan penanda lokus mikrosatelit RM185 h = 0,804. Nilai ini lebih besar bila dibandingkan dengan yang dilakukan Abdullah dkk. (2008) dengan menggunakan 16 lokus mikrosatelit. Abdullah dkk. (2008) mendapatkan nilai rataan heterozigositas h = 0,491 ± 0,299. Perbandingan ini mungkin berkaitan dengan beberapa hal, diantaranya 1) sampel yang dilakukan Abdullah dkk (2008) diambil ruang lingkup lebih kecil (P3 Bali) dibanding dengan penelitian ini, 2) rataan heterozigositas yang didapatkan pada penelitian Abdullah (2008) berasal dari rataan polimorfik dan monomorfik, 3) perbedaan pada penanda molekuler mikrosatelit yang digunakan.

Studi tentang variasi genetik pada suatu organisme terutama pada hewan ternak baik inter maupun antar jenis organisme adalah sangat penting karena berhubungan dengan variasi pada variasi fenotip. Menurut Mittler dan Greeg (1969) variasi fenotip yang terjadi bisa disebabkan karena adanya variasi genetic atau variasi lingkungan atau karena variasi lingkungan dan genetic. Pengetahuan (p.20) tentang variasi genetik mempunyai sejumlah aplikasi yang bermanfaat. Aplikasi dari variasi genetik ini misalnya untuk mengidentifikasikan hewan dan mencari asal usulnya, mengetahui hubungan kekerabatan dan pemetaan gen. Variasi genetic juga dapat dijadikan dasar untuk konservasi jenis. Pelestarian terhadap jenis-jenis hewan sangat penting dilakukan karena banyak jenis-jenis hewan yang sekarang ini terancam kepunahan dan gen-gen yang mereka bawa mungkin bermanfaat di waktu mendatang.

Bab V: Simpulan dan saran - 5.1 Simpulan

(p.21) Berdasarkan hasil penelitian terdapat 7 buah alel yang ditunjukan dengan munculnya pita-pita (alel) dalam gel acrilamid 7%. Jenis alel yang teridentifikasi adalah 76 pb, 84 pb, 86 pb, 90 pb, 98 pb, 100 pb dan 104 pb. Alel dengan menggunakan penanda lokus mikrosatelit RM185 bersifat polimorfik dalam populasi sapi Bali di Nusa Penida. Nilai frekuensi alel tertinggi pada populasi sapi Bali di Nusa Penida yaitu alel 86 dengan nilai frekuensi alel 0,31. Sedangkan alel 76 pb adalah alel terendah dengan nilai frekuensi 0,02. Nilai heterozigositas pada populasi sapi Bali dengan penanda lokus mikrosatelit RM185 h = 0,804.

5.2 Saran

Adanya polimorfisme pada suatu spesies akan sangat bermanfaat dalam bidang genetika maupun untuk kepentingan seleksi. Keragaman genetik mempengaruhi fenotip pada setiap spesies. Semakin tinggi tingkat keragaman genetik pada suatu populasi dalam hal ini khususnya populasi sapi Bali di Nusa Penida dirasa cukup aman untuk masa itu. Untuk menjaga keragaman genetika khususnya pada sapi Bali di Nusa Penida perlu ada tindakan yang bersifat preventif sebagai usaha pencegahan erosi suatu populasi sapi Bali di Nusa Penida. Penelitian-penelitian yang mengarah pada bidang genetika perlu terus dilakukan sehingga keragaman genetika pada populasi sapi Bali dapat dimonitoring dari zaman ke zaman guna kelestarian sapi Bali.

Reference: polymorphism

https://en.wikipedia.org/wiki/Polymorphism_(biology)

Source

  • Zakiatun Muhammad (2011) - Polimorfisme Lokus Mikrosatelit RM185 Sapi Bali di Nusa Penida; skripsi diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi persyaratan untuk mencapai Gelar Sarjana Kedokteran Hewan; Fakultas Kedoktoran Hewan, Universitas Udayana, Denpasar (Bali - Indonesia) 

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24