Jalak Bali (Begawan Giri Foundation, 2006)

The article below is the leaflet text distributed by the Begawan Giri Foundation (Yayasan Begawan Giri), explaining their activities regarding the breeding and releasing into the wild of the Bali Starling (Leucopsar rothschildi) and the Bali Nuri (Trichoglossus haematodus mitchellii), probably published in 2006.

begawangiri balistarlingYayasan Begawan Giri

Yayasan Begawan Giri berdiri pada tanggal 28 Februari 2001 didirikan Bapak Bradley Gardner dan Deborah Gardner sebagai suatu upaya kontribusi dari para pendiri dalam kegiatan sosial yang terkait dengan bidang kesehatan, pendidikan dan lingkungan. Pada kegiatan yang terkait dengan bidang lingkungan, Yayasan Begawan Giri telah memulai cikal bakal kegiatannya secara signifikan telah dimulai sejak tahun 1999 dengan melakukan kegiatan penangkaran non komersial burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi).

Penangkaran non komersial burung Jalak Bali dimulai dengan mengimpor 2 pasang burung dari Inggris di bulan Juni 1999. Dengan perlakuan dan pengawasan yang cukup intensif kegiatan penangkaran ini telah membuahkan hasil untuk pertama kalinya pada bulan Desember 1999.

Hingga bulan Juni 2006 populasi burung Jalak Bali di fasilitas penangkaran Yayasan Begawan Giri sudah berjumlah 93 ekor. Hampir seluruh burung Jalak Bali hasil penangkaran di fasilitas penangkaran Yayasan Begawan Giri dibesarkan sendiri oleh induknya sehingga memiliki kualitas yang jauh lebih baik daripada burung yang dibesarkan oleh manusia. Hal ini dilakukan mengingat target akhir dari penangkaran non komersial burung Jalak Bali ini adalah untuk dilepasliarkan di bebas.

Seiring dengan bertambahnya jumlah burung hasil penangkaran ini, sejak dua tahun terkahir telah mengembangkan program kemitraan dalam bidang penangkaran dan pelepasan dengan pihak lainnya. Salah satu program yang telah dijalankan dengan pihak lain adalah program orangtua asuh dimana dengan program ini setiap orang yang mau dan mampu berperanserta dalam penangkaran dan pelepasliaran burung Jalak Bali dapat bergabung melakukan kegiatan serupa.

Perluasan kegiatan penangkaran melalui program orangtua asuh cukup mendapat respon positif dari beberapa pihak yang peduli dengan kegiatan ini, walaupun dengan program ini para peserta tidak berhak untuk memiliki burung - burung hasil tangkarannya. Seluruh hasil penangkaran akan diperuntukkan sebagai sumber burung dalam program pelepasliaran.

Dalam program pelepasliaran, Yayasan Begawan Giri bekerjasama dengan Yayasan Pecinta Taman Nasional yang bersama-sama dengan komunitas desa pekraman telah mempersiapkan kawasan Nusa Penida sebagai kawasan perlindungan burung / "Bird Sanctuary". Pilihan untuk melakukan kegiatan Pelepasliaran di Nusa Penida adalah karena kegiatan "Nusa Penida Bird Sanctuary" telah mendapat dukungan keamanan secara luas dari seluruh desa pekraman yang ada di Nusa Penida.

Sebagaimana yang telah diyakini oleh banyak pihak seperti pemerhati lingkungan dan peneliti bahwa faktor terbesar akan kepunahan burung Jalak Bali di habitatnya adalah akibat penangkapan liar yang terus menerus, Yayasan Begawan Giri meyakini dan ingin membuktikan bahwa penangkapan liar dapat dihentikan atau paling tidak diminimalkan maka populasi burung ini dapat kembali ke jumlah yang cukup untuk dapat hidup dan berkembangbiak secara alami.

begawangiri balistarling chicksbegawangiri balistarling cagesbegawangiri nuribali

Images above: Bali starling chicks; cages; Bali lory (Trochoglossus haematodus mitchellii), Begawan Giri Foundation, 2006

Selain menangkarkan burung Jalak Bali, Yayasan Begawan Giri juga telah berhasil menangkarkan Nuri Bali (Trichoglossus haematodus mitchellii) yang distribusinya terbatas hanya di Pulau Bali dan Lombok. Menurut salah satu pemerhati burung nuri Rosemary Low dan beberapa sumber lainnya burung ini telah punah dari pulau Bali sejak tahun 1984.

Walaupun status burung ini dilindungi oleh undang-undang, Yayasan Begawan Giri telah memulai penangkaran burung Nuri Bali pada tahun 2002. Dari 4 pasang burung yang merupakan hasil tangkapan hingga saat bulan Mei 2006 telah ada 35 ekor burung.

Seluruh burung hasil penangkaran ini dibesarkan oleh induknya. Bila jumlah generasi I / F1 sudah mencapai 30 ekor, kami bermaksud melepasliarkan induk hasil tangkapan alam dengan harapan akan dapat beradaptasi dengan baik mengingat burung-burung ini masih memperoleh pengalaman sebagai burung liar.

Kegiatan penangkaran non komersial dan pelepasliaran ini didukung oleh: Bapak Bradley Gardner, Ibu Deborah Gardner, Ibu Arie Hutagalung, Departemen Kehutanan, Charles Engelhard Foundation

Source

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24