Bali Starling's New Home (Mongabay, 2014)

Below article is the story by Ridzki R. Sigit of the Bali Starling's new home of Nusa Penida, published online by mongabay.co.id on 19 September 2014, please refer to source below. English translation is forthcoming.

mongabay-balistarling1

Image left: Jalak Bali (Leucopsar rotschildi). Foto Nengah Sudipa/FNPF

Sesekali mulut Nengah Sudipa (23) bersiul menirukan suara burung jalak. Sambil berjalan perlahan ia menoleh ke kiri dan ke kanan, wajahnya menengadah. "Pagi biasanya jalak balinya keluar dari nest box buat cari makan," tuturnya. Tangannya menunjuk sarang buatan yang menempel pada batang pohon jambu mete. Pohon itu tepat berada di pelataran tempat ibadah desa, Pura Dalem Ped. Sarang buatan yang ada di pohon jambu mete dibuat oleh FNPF (Friend of National Parks Foundation), sebuah yayasan yang aktif dalam program pelepasliaran jalak bali (Leucopsar rotschildi) di Nusa Penida. Meskipun masih berusia muda, Nengah bukan orang sembarangan. Anak muda yang sekujur lengan kanan dan kakinya penuh tatto ini asli pemuda setempat. Dia sejak empat tahun terakhir bekerja di FNPF sebagai staf pemelihara dan pemantau burung. Dengan kemampuan dan kecintaanya terhadap burung, Nengah menjadi salah satu orang penting dalam pelestarian jalak bali, burung yang semakin langka di alamnya ini.

Bagi sebagian besar kalangan pecinta alam, jalak bali sendiri lekat sebagai ikon Taman Nasional Bali Barat (TNBB), habitat alami terakhirnya. Namun jauh sebelum terdesak ke kawasan konservasi yang berada di ujung barat utara pulau Bali itu, jalak bali umum dijumpai di bagian utara pulau. Seorang ornitolog, Stresemann, pada tahun 1911 melaporkan temuan adanya jalak bali di Desa Bubunan, Buleleng. Peneliti lain, Von Plessen yang melakukan penelitian lanjutan pada tahun 1925, menyatakan jalak bali hidup di wilayah sekitar 325 km persegi dari Bubunan hingga Gilimanuk.

Wacana untuk menciptakan habitat introduksi bagi jalak bali dimulai dengan rasa frustasi para peneliti dan kalangan aktivis melihat perburuan liar yang sangat marak terjadi di TNBB pada tahun 1980-1990-an. Di sisi lain, upaya untuk mengembalikan populasi jalak bali lewat program reintroduksi di TNBB tidaklah berjalan baik. Bahkan jumlah burung yang terdapat di kandang-kandang pembiakan lebih banyak jumlahnya daripada yang ada di TNBB. Saat itu, mulailah para pakar dan kalangan pecinta lingkungan memikirkan solusi untuk mencari jalan keluar bagi kelangsungan hidup alami "si cantik putih bercorak biru di sekitar mata" ini.

"Secara alami jalak bali tidak ada dimanapun di dunia ini, hanya ada di pulau Bali. Bahkan tidak dijumpai di pulau seperti Nusa Penida ini," tutur Sudaryanto (57), peneliti jalak bali yang sedang menyelesaikan studi doktoral bidang biologi, mengawali penjelasannya kepada Mongabay-Indonesia.

"Tentunya pemilihan lokasi pelepasliaran di habitat introduksi seperti di pulau Nusa Penida dan Nusa Ceningan sudah memperhitungkan berbagai aspek, termasuk ketersediaan pakan, persaingan dengan jenis burung lain dan yang juga amat penting adalah sosial budaya masyarakat."

Terisolasi dari daratan Bali, Nusa Penida dan pulau tetangganya Nusa Ceningan memiliki kelebihan dibanding dengan habitat aslinya di pulau Bali. Dari hasil evaluasi vegetasi dan kelimpahan pakan di pulau karst ini, Nusa Penida cukup berkelimpahan dengan berbagai jenis ragam buah, serangga dan berbagai pakan yang cocok untuk ruang hidup jalak bali.

mongabay-balistarling2Image right: Jalak bali dan nest box-nya. Foto: Nengah Sudipa/FNPF

"Kelimpahan pakan untuk burung di Nusa Penida lebih kaya dari Bali Barat, di sana daerah savana dan iklimnya panas," jelas Sudaryanto. "Di sini jalak memakan buah-buahan seperti ceri, juwed, bunut, pepaya. Kalau musim serangga, mereka makan kroto(larva semut), lalat, ulat, rayap dan serangga-serangga kecil. Dengan banyaknya pakan jalak bali di sini bisa memiliki siklus bertelur hingga 2-3 kali dalam setahun. Padahal di Bali Barat cuma sekali dalam setahun." Jalak bali sendiri dikenal sebagai burung yang monogamis, atau berpasangan tunggal, dalam masa menjaga telur induk jantan dan betina bergantian dalam menjaga sarang.

Dalam persaingan mencari pakan, menurut Sudaryanto, kadang-kadang jalak bali bersaing dengan jalak lokal dan dengan kutilang. Namun demikian persaingan tersebut tidak sampai mengganggu karena banyaknya kelimpahan pakan yang ada. Melanjutkan penuturannya, saat bertelur merupakan saat yang rawan, karena berbagai predator telur dan anak burung banyak mengintai, diantaranya tikus, ular hingga biawak. Keunikan lain dari jalak bali adalah burung ini memiliki ritual membersihkan diri dari kotoran. Itulah yang membuat burung ini selalu mencari air untuk memandikan dirinya.

Pada tahun 2006, FNPF melepaskan 25 ekor burung jalak bali di desa Ped. Secara bertahap hingga saat ini tidak kurang 84 ekor burung jalak bali telah dilepaskan di sini. Berdasarkan survey yang dilakukan FNPF pada tahun 2011, jumlah populasi jalak bali di Nusa Penida adalah 135 ekor, yang terindikasi telah terdapat anakan jalak bali generasi kedua yang telah berhasil lahir di alam.

"Idealnya untuk mempertahankan keragaman genetik populasi adalah sekitar 500 – 5.000 ekor," jelas Sudaryanto ketika ditanya bagaimana tentang masalah keragaman genetik untuk mempertahankan jalak bali di alam. "Memang banyak pertanyaan diajukan tentang hal ini, juga ada kontradiksi yang menyatakan jalak bali harusnya hidup di alam jauh dari manusia. Tetapi menurut saya yang terpenting sekarang adalah bagaimana menyelamatkan jalak bali agar dapat hidup bebas liar di alam, bukan di kandang."

Nusa Penida memiliki berbagai jenis burung. Hasil pemantauan yang dilakukan Universitas Udayana pada tahun 2006, tidak kurang 60 jenis burung dapat dijumpai di pulau ini, diantaranya adalah elang, jalak putih, tekukur, kutilang, serta jenis-jenis burung berkicau lainnya. Selain faktor kelimpahan pakan yang menyebabkan tingginya jumlah spesies burung di Nusa Penida, maka sosial budaya masyarakat dalam turut menjaga alam menjadi konsideran penting.

"Awalnya selama dua tahun kami lakukan penjajagan terlebih dahulu kepada masyarakat tentang niat kami untuk melepaskan jalak bali di Nusa Penida ini. Termasuk kepada pemuka agama dan pemuka desa. Hasilnya masyarakat setuju. Hingga tersusunlahawig-awig (aturan lokal) untuk menjaga kelestarian alam, termasuk jalak bali yang dilepasliarkan di area ini," jelas Kadek Merta, manajer FNPF di Nusa Penida.

Sama seperti di Desa Ped, di Nusa Ceningan, pulau tetangga Nusa Penida, inisiatif untuk melepaskan beberapa pasang jalak bali pun telah dilakukan di area pura di Jungud Batu. Hingga sekarang burung-burung itu tampak hidup bebas dan bersarang di pepohonan besar yang berada di sekitar wilayah pura.

mongabay-balistarling3Image left: Jalak bali di kandang introduksi di Desa Ped, Nusa Penida. Foto: Ridzki R. Sigit

"Jalak bali bukanlah burung yang bisa terbang jauh, homerange-nya sekitar 5 hektar, dengan jarak terbang langsung hanya sekitar 56 meter," lanjut Sudaryanto. "Untuk itu perlu kesadaran masyarakat untuk turut menjaganya. Ternyata di sini, jalak bali bisa hidup berdampingan dengan manusia, tinggal dan bermain di kebun, bersarang di pohon bersebelahan rumah warga."

Dengan keyakinan akan kesadaran masyarakat tersebut, FNPF pun tidak ragu membuatnest box yang berada di pohon-pohon sekitar desa. Hingga sekarang FNPF telah meletakkan 33 nest box menempel di pohon. Nest box umumnya berketinggian antara 5-10 meter dari atas permukaan tanah.

"Kalau ada masalah gangguan di nest box, bukan dari warga tetapi malah dari lebah," tutur Nengah. Lebah biasanya menggunakan nest box burung untuk bersarang. Ketika lebah sudah bersarang, biasanya burung enggan untuk masuk kembali ke sarang buatan tersebut.

Sebaliknya, beberapa kali warga melaporkan jika terdapat anak burung yang terjatuh dari nest box. "Kalau ada burung yang jatuh dari nest box, biasanya mereka hubungi saya. Tak apa-apa saya jadi sibuk kalau ada laporan dari warga tentang burung," lanjutnya sambil tersenyum. Dengan kesadaran masyarakat tidaklah heran, di Desa Ped pada waktu sore atau pagi berbagai jenis burung berterbangan dan berkicauan di antara sela pepohonan dan atap-atap rumah warga. Bahkan tidak jarang, sepasang jalak bali bermain di atas jalan beralas karang di antara kebun penduduk maupun jalan desa beraspal. Konservasi membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk peran serta masyarakat. Semoga jalak bali dapat hidup dan berkembang di rumah barunya di Nusa Penida.

Source

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman www.godidijkman.nl social facebook box white 24