Bali Starling on the brink of extinction (TNBB-BirdLife, 1990)

The text below was published in 'Bali Barat National Park & Birdlife International, AZA&JWPT', a leaflet by the West Bali National Park (Taman Nasional Bali Barat, TNBB) and Birdlife International Indonesia Programme, probably in 1990. It outlines the dire predicament of the Bali Starling and plans for recovery up to 1990. The Indonesian version follows below.

balistarling tnbb birdlife-eng 01

Bali Starling on the brink of extinction - Saving the Bali Starling

The Bali Starling is one of the world's rarest birds and the remaining wild population is now confined to a small area in the Bali Barat National Park. The species is dependent on a dry forest type which is unique to North-west Bali, and which in previous times extended along the north coast to Singaraja. Conversion of this forest to agriculture has led to a major decline in the abundance and range of the Bali Starling. In 1982 the Bali Barat National Park was established to conserve this beautiful bird, and one of the last examples of Bali's natural wildernesses. Unfortunately, this alone was not sufficient to halt the species decline. Because of its stunning white plumage and attractive crest the Bali Starling has long been sought after by trappers. Illegal capture of the birds intensified as the species got rarer and almost caused the species to become extinct in the wild; in October 1990 there were just 18 left.

balistarling tnbb birdlife-eng 05

Protection

Guards now patrol the Prapat Agung peninsula on foot and by boat. In combination with strict new laws this action is putting a stop to poaching, and the population is now slowly recovering.

Research & monitoring

There may be other factors which contribute to the Bali Starling's rarity or which may limit its recovery. To understand these and to enable the development of species management techniques, project staff are conducting a variety of studies on the behaviour and ecology of the Bali Starling. Before and after each breeding season, the population is counted by a team of National Park and BirdLife staff. It is this survey which enables the project workers to judge the success of the year's activities.

Captive breeding & release

As the population of a species gets lower, it becomes increasingly vulnerable. A natural catastrophe such as a drought, fire or disease could wipe out the species at a single stroke, and inbreeding may limit population recovery. It is vital to get species out of this critical situation as soon as possible. To this end a captive breeding programme in Indonesia and the USA is producing birds for release. Prior to release the starlings are acclimatised to Bali Barat's environment in a pre-release training facility located within the National Park.

Awareness

Informing people of the plight of the species and generating support for its conservation is an important component of the project. Through posters, displays, school visits, sport events and press articles, the project is involving the local, national and world community in the challenge to save this remarkable species.

A profile of the Bali Starling

The Bali Starling is widely considered the most beautiful member of the starling family, which includes familiar species such as the Common Starling (Sturnus vulgaris) and Talking Myna (Gracula religiosa). Like other members of this family the Bali Starling is usually met with in flocks. It is primarily an insect feeder, favouring grasshoppers and caterpillars, but small fruits are also included in its diet when these are available. Breeding coincides with the wet season between November and May. During display the birds jerk up and down on a branch, and with drooping wings, bobbing head and raised crest, they show off their beautiful plumage to full advantage. The nest is in an old woodpecker hole or a crack high up in a forest tree. Two or sometimes three young are reared, with a second brood in years with extended rain.

"Bali is blessed with a unique and beautiful natural heritage. Let us all join in its conservation."

balistarling tnbb birdlife-eng 02balistarling tnbb birdlife-eng 04

Did you know?

- Bali Starling, Crested Myna and Rothschild's Grackle are all the same bird with the scientific name Leucopsar rothschildi.
· In the wild, the Bali Starling is found nowhere else in the world but Bali Barat National Park.
· The Bali Starling is Bali's faunal symbol.
· Illegal poaching almost caused the extinction of the species and in 1990 there were only 18 left.
· Conservation action by the Bali Barat National Park and Bali Starling Project has succeeded in reversing this decline, and by 1992 the population had recovered to around 50 birds.
· The Bali Starling is afforded special protection in Indonesia. Anybody caught in possession of an unregistered bird can face fines up to Rp 100,000,000 and 5 (five) years in jail.

For further information: Bali Barat National Park, Cekik, Gilimanuk, Bali 82253, Tel. 0365-40060; BirdLife International Indonesia Programme; Jl. Batutulis 1, Bogor, P.O. Box 310 Bogor 16003, Tel. 0251 - 314361

Bali-starling-sticker-1993

Image above: sticker provided by Birdlife International, issued on the occasion of the final match of 'Bali Starling Cup", a badminton match in Bali orgainsed by TNBB in Oktober/November 1993. This sticker was not only distributed during the badminton match, but also at bus stations around Bali, so these stickers could be attached to the front windows of angkots and bemos (personal correspondence with Bas van Balen, BirdLide International, Bogor, http://www.birdlife.org/asia (January, 2014)

Source

  • Anonymous (leaflet): 'Bali Starling on the brink of extinction', by Bali Barat National Park & Birdlife International, AZA&JWPT, 1990?

* Indonesian version *

balistarling TNBB Birdlife 1990 01

Bali Jalak di ambang kepunahan - Selamatkan Jalak Bali

Jalak Bali adalah salah satu jenis burung paling langka di dunia, yang secara alami hanya dapat dijumpai di Taman Nasional Bali Barat. Untuk hidupnya, burung ini sangat bergantung pada hutan musim yang khas yang terdapat di bagian barat laut Bali. Pada masa lampau areal hutan ini terbentang di sepanjang pesisir utara ke daerah Singaraja. Perubahan areal hutan menjadi lahan pertanian merupakan peyebab utama merosotnya populasi dan menyempitnya penyebaran Jalak Bali. Untuk melestarikan burung yang cantik ini, pada tahun 1982 daerah hutan bagian barat laut Bali dikukuhkan sebagai Taman Nasional Bali Barat. Namun Iangkah ini ternyata belum memadai untuk mencegah menurunnya populasi burung ini. Paduan buluh putih dan jambul yang mempesona menjadi penyebab banyaknya kolektor menginginkan burung ini. Meningkatnya penangkapan liar mengakibatkan jenis burung ini semakin langka dan nyaris memusnahkan populasi alaminya. Pada Oktober 1990 populasi burung ini di alam hanya tersisa 18 ekor.

balistarling TNBB Birdlife 1990 04Perlindungan

Untuk melindungi Jalak Bali dan habitatnya di Semenanjung Prapat Agung, petugas jagawana aktif melakukan patroli, baik dengan berjalan kaki maupun menggunakan perahu. Didukung undang-undang yang ketat, kegiatan ini dapat membatasi pencurian dan lambat laun dapat
mendorong pulihnya populasi Jalak Bali.

Penelitian dan pemantauan

Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab langkanya Jalak Bali dan memahami kendala-kendala di dalam upaya pemulihan populasi burung ini di alam, staf Proyek Jalak Bali melaksanakan berbagai penelitian mengenai tingkah laku dan ekologi Jalak Bali. Sebelum dan sesudah musim berbiak, tim dari Taman Nasional dan Bird Life International melakukan perhitungan populasi. Hasil perhitungan ini dijadikan tolok ukur keberhasilan kegiatan tahunan Proyek Jalak Bali.

Penangkaran

Sejalan dengan menurunnya populasi, burung Jalak Bali semakin peka terhadap perubahan alam, seperti kemarau panjang, kebakaran hutan atau pun penyakit. Dengan mudah kondisi tersebut dapat memusnahkan burung ini. Di samping itu populasi yang kecil menyebabkan tingginya peluang kawin sedarah (inbreeding) yang akan membatasi pemulihan populasi. Hal itu penting untuk diperhatikan agar burung ini dapat pulih dari situasi kritis secepat mungkin. Untuk tujuan itulah program penangkaran telah dilaksanakan di Indonesia dan di Amerika yang telah menghasilkan burung yang siap dilepaskan kembali ke alam. Namun, sebelumnya burung-burung ini harus menyesuaikan diri dengan lingkungan Bali Barat melalui program latihan di Pusat Pra Penglepasan yang terletak di Taman Nasional Bali Barat.

Penyuluhan

Penyebaran informasi mengenai Jalak Bali dan dukungan untuk pelestarian burung ini merupakan komponen penting dalam Proyek Jalak Bali. Melalui poster, alat peraga, pemutaran film, kegiatan olah raga dan kesenian, kunjungan ke sekolah-sekolah, dan artikel di media massa, proyek ini melibatkan masyarakat setempat, dan masyarakat nasional maupun internasional untuk menyelamatkan burung yang mempesona ini.

Profil Jalak Bali

Jalak Bali adalah anggota paling cantik di antara keluarga jalak-jalakan, termasuk di dalamnya jenis-jenis yang umum dikenal seperti Beo (Gracula religiosa) dan Jalak Kerbau (Acridotheres javanicus). Jalak Bali umumnya hidup berkelompok. Makanan utama burung ini adalah serangga, terutama belalang dan ulat, juga buah-buahan kecil bila sedang musim berbuah. Musim berbiak berlangsung pada musim hujan antara bulan November sampai dengan Mei. Pada musim berbiak ini burung jantan memperagakan keindahan bulu-bulunya dengan menari dan bergerak naik-turun di antara ranting pohon, menurunkan kedua sayap dan menggerak-gerakkan jambul di kepalanya, serta mengangguk kepalanya, untuk menarik perhatian burung betina. Sepasang Jalak Bali mampu menghasilkan dua sampai tiga butir telur. Telur-telur tersebut diletakkan di dalam sarang berupa lubang pada batang pohon.

Keterangan dapat diperoleh: Taman Nasional Bali Barat, Cekik, Gilimanuk, Bali 82253, Telp. 0365-40060; Bird Life International - Program Indonesia, P.O. Box 310, Boo Bogor 16003, Telp. 0251-314361

"Bali dianugerahi warisam alam yang khas dan indah. Mari bersama bergabubng dalam upaya pelestarian warisan kita."

balistarling TNBB Birdlife 1990 02balistarling TNBB Birdlife 1990 03

Tahukah Anda?

- Jalak Bali, Curik Bali atau Jalak Putih adalah burung yang sama, dengan nama ilmiah Leucopsar rothschildi.
- Di alam Jalak Bali hanya terdapat di Taman Nasional Bali Barat.
- Jalak Bali adalah maskot Propinsi Bali.
· Penangkapan liar nyaris memusnahkan jenis burung ini, dan pada tahun 1990 populasinya
menurun tajam hingga hanya tinggal 18 ekor.
· Upaya pelestarian dalam Proyek Jalak Bali yang dilaksanakan oleh Taman Nasional Bali Barat dan Bird International telah berhasil meningkatkan kembali populasi burung ini, dan pada tahun 1992 populasi liar sudah mencapai 50 ekor.
· Di Indonesia Jalak Bali telah dilindungi undang-undang. Barangsiapa menangkap atau memiliki burung ini dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah).

Source

  • Anonymous - (leaflet) 'Bali Jalak di ambang kepunahan', by: Taman Nasional Bali Barat & Bird Life International, AZA & JWPT, 1990 (?)

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24