Bali Starling Conservation (Sudaryanto, 2016)

Below article is a rendering of Sudaryanto’s dissertation ‘Conservation of the Bali Starling (Leucopsar rothschildi, Stresemann, 1912) in Nusa Penida’ to the Faculty of Biology at Gajah Mada University, Jogjakarta, Indonesia,1 December 2016.

sudar16 gambar 0English abstract (Sudaryanto)

Bali Starling (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) is endemic bird to the Bali Island. Since 1966, Bali Starling has been categorized as Critically Endangered by the IUCN Red List of Threatened Species, and the Indonesian Government Regulation No. 7 of 1999 on Preservation of Fauna and Flora. Conservation of Bali Starling has been done in the Bali Barat National Park, but has not succeeded yet. Therefore, starting in 2006 the conservation of the Bali Starling is also done in the Nusa Penida Islands, Klungkung Regency.

Nusa Penida Islands running customary law, called awig-awig, which requires people to protect the Bali Starling. Bali Starling released in Penataran Ped Temple, the biggest temple in Nusa Penida Islands that sacred for Bali society. Jalak Bali released with a religious ceremony, so that they believed to be the owned of temple (Duwe Pura).

To examine the successful of conservation of Bali Starling in Nusa Penida Islands, need the studies as follows: 1. How is the distribution of Bali Starling? 2. How to population fluctuations of Bali Starling? 3. What is the profile vegetation habitats of Bali Starling? 4. How does the behavior of Bali Starling? 5. How is the contribution of awig-awig to conserve Bali Starling? 6. How can habitat conservation of Bali Starling as a tourist attraction?

This research aims to study the success of habitat conservation of Bali Starling in Nusa Penida Island. Specifically, the purpose of this research were to study: 1. Distribution; 2. Fluctuations in population; 3. Profil and analysis of vegetation of habitats; 4. Behavior; 5. Contributions of awig-awig; 6. Bali Starling as a tourist attraction.

Materials and methods used in this research were: 1. Distribution of Bali Starling was known from questioned to the people in the area, and also conducted exploration. 2. Population of Bali Starling was counted directly on the feeding site by the concentrated method, from 2006 to 2015. 3. Analysis of vegetation use squares plot method, and vegetation profile with Oldeman method. 4. Daily behavior of the Bali Starling studied from December 2013 to December 2014, using the Scan Sampling Instantaneous. 5. Implementation of awig awig in society obtained by using AHP (Analytical Hierarchy Process). 6. Tourism data obtained through observation and interviews. Data was analyzed by using Likert method.

Results: 1. Distribution of Bali Starling in 2006 was only in three locations, and being expanded in 2015 there were at least in 12 locations. 2. Population of Bali Starling in Nusa Penida Islands in 2006 were 49 birds, and by 2015 was increased to 66 birds. 3. Species of vegetation in FNPF was the highest, that were 22 species dominated by Ficus glabella, and had the highest diversity index's (H ') = 2.69. 4. On the Nusa Penida Islands, the food was provided throughout the year, so Bali Starling can breed three times a year, namely in January, June and October, and Bali Starling drink nectar flower of ki acret (African tulip). 5. For habitat conservation of Bali Starling, awig-awig rated as the most important alternative that was 47.32%, and the formal law was only 3.62%. 6. 97.94% tourist came to the Nusa Penida Islands because there were Bali Starling. Conclusion: 1. The existence of Bali Starling in 2015 there were at least in 12 locations. 2. Population of Bali Starling in 2015 as many as 66 birds. 3. The vegetation on the islands of Nusa Penida was a suitable habitat for Bali Starling. 4. Bali Starling breeding three times a year. 5. Perception and participation of the people in Nusa Penida Islands was good against awig-awig that protect Bali Starling. 6. Bali Starling become an attraction for tourism.

Indonesian Abstract

Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) adalah burung endemik Pulau Bali. Sejak tahun 1966 Jalak Bali dimasukkan ke dalam kategori kritis (Critically endangered) IUCN Red List of Threatened Species, dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Konservasi Jalak Bali yang telah dilakukan di Taman Nasional Bali Barat ternyata belum berhasil. Oleh sebab itu, mulai tahun 2006 usaha konservasi Jalak Bali juga dilakukan di Kepulauan Nusa Penida. Untuk menelaah keberhasilan konservasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida, perlu dilakukan kajian-kajian 1. Bagaimana distribusi Jalak Bali? 2. Bagaimana fluktuasi populasi Jalak Bali? 3. Bagaimana profil vegetasi habitat Jalak Bali? 4. Bagaimana perilaku Jalak Bali? 5. Bagaimana kontribusi hukum adat atau awig-awig dalam konservasi Jalak Bali ? 6. Bagaimana konservasi Jalak Bali sebagai daya tarik ekowisata? Penelitian ini bertujuan mempelajari keberhasilan konservasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida. Secara spesifik, tujuan penelitian ini mempelajari: distribusi, fluktuasi populasi, profil dan analisis vegetasi habitat, perilaku, kontribusi awig-awig, dan Jalak Bali sebagai daya tarik ekowisata. Bahan dan metode yang digunakan 1. Untuk mengetahui distribusi Jalak Bali dilakukan penjelajahan. 2. Penghitungan populasi Jalak Bali secara langsung dengan metode terkonsentrasi. 3. Analisis vegetasi dengan metode kuadrat plot, dan profil vegetasi dengan metode Oldeman. 4. Penelitian perilaku harian Jalak Bali dilakukan dengan menggunakan metode Scan Sampling dengan Instataneous Sampling. 5. Pelaksanaan awig-awig di masyarakat diperoleh dengan menggunakan AHP {Analytical Hierarchy Process). 6. Data ekowisata dianalisis dengan menggunakan Metode Likert. Hasil penelitian 1. Keberadaan Jalak Bali pada 12 lokasi. 2. Cacah individu Jalak Bali sebanyak 66 ekor. 3. Jenis vegetasi di FNPF 22 jenis, didominasi Ficus glabella, dan Indeks keanekaragaman H' = 2,69. 4. Jalak Bali berkembang biak tiga kali dalam setahun, yaitu bulan Januari, Juni dan Oktober. 5. Awig-awig sebagai alternatif yang paling penting yaitu 47,32%. 6. Wisatawan 97,94% datang ke Pulau Nusa Penida karena ada Jalak Bali. Kesimpulan penelitian ini adalah 1. Keberadaan Jalak Bali pada 12 lokasi. 2. Cacah individu Jalak Bali 66 ekor. 3. Vegetasi di Kepulauan Nusa Penida sesuai untuk habitat Jalak Bali. 4. Jalak Bali berkembang biak tiga kali dalam satu tahun. 5. Masyarakat Kepulauan Nusa Penida mempunyai persepsi, dan partisipasi yang baik terhadap awig-awig yang melindungi Jalak Bali. 6. Jalak Bali menjadi daya tarik ekowisata.

PENDAHULUAN - A. Latar Belakang

(p.1) Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) adalah burung endemik Pulau Bali, dan distribusinya sampai tahun 2005 hanya ada di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Jalak Bali menghadapi risiko kepunahan yang sangat tinggi di TNBB, karena banyak terjadi pencurian. Menurut Van Balen dkk (2000), tahun 1960-1980 ratusan Jalak Bali banyak dijual di negara-negara Eropa.

Oleh karena itu, sejak tahun 1966 Jalak Bali dimasukkan ke dalam kategori kritis (Critically endangered) oleh IUCN Red List of Threatened Species. Selain itu, CITES memasukkan burung tersebut ke dalam Appendix I. Jalak Bali dilindungi Pemerintah Indonesia dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 421/Kpts/Um/8/1970, kemudian juga Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa (Anonymous, 1999; 2012a; 2012b; Van Balen dkk. 2000; Sodhi dkk. 2004; Jepson dan Ladle, 2005; Sodhi dan Smith, 2007; Jepson dkk. 2008; Widodo, 2014; Jepson, 2015).

Konservasi Jalak Bali di TNBB telah dilakukan oleh Kementerian Kehutanan, BirdLife International, dan American Association of Zoological Parks and Aquarias (AAZA), sejak tahun 1987-2000. Usaha yang dilakukan adalah peningkatan pengamanan di TNBB, penyuluhan pentingnya masyarakat mendukung pelestarian Jalak Bali dan pelepasliaran Jalak Bali di TNBB. Namun usaha tersebut tidak berhasil, dan pencurian Jalak Bali terus berlanjut (Indrawan dkk., 2007; Sudaryanto, 2007). Selanjutnya, konservasi Jalak Bali juga dilakukan antara TNBB dengan Asosiasi Pelestari Curik Bali (APCB). Usahanya dengan (p.2) melepasliarkan Jalak Bali di TNBB dari tahun 2001-2009, berjumlah lebih dari 95 ekor. Namun cacah individu Jalak Bali di TNBB pada tahun 2012 hanya ada empat ekor (Dirgayusa, 1995; Sudaryanto dkk. 2003; Sutito dkk. 2012).

Luas Kawasan TNBB dengan jumlah petugas yang tidak sebanding, menyebabkan kurangnya pengamanan dan memungkinkan terjadinya pencurian Jalak Bali. Di samping itu, hubungan antara masyarakat di sekitar kawasan dengan pengelola TNBB kurang harmonis, sehingga mereka tidak membantu pengamanan kawasan tersebut. Diduga pencurian Jalak Bali di TNBB sudah terjadi sejak tahun 1960an (Van Balen dkk., 2000; Butchart dkk., 2006; Indrawan dkk., 2007; Sudaryanto, 2007). Pencurian terjadi karena Jalak Bali merupakan burung peliharaan yang terkenal dan harganya mahal. Pada tahun 2004, harga Jalak Bali di pasar gelap Rp 40.000.000,00 (empat puluh juta rupiah) per ekor (Anonymous, 2004).

Konservasi Jalak Bali yang telah dilakukan di TNBB selama ini belum berhasil. Oleh karena itu, sejak tahun 2006 usaha konservasi Jalak Bali juga dilakukan oleh FNPF di Kepulauan Nusa Penida Kabupaten Klungkung Provinsi Bali. FNPF (Friends of the National Parks Foundation) adalah suatu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal di Bali. Konservasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida dilakukan FNPF, bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Bali dan Universitas Udayana. FNPF telah melakukan kajian sejak tahun 2004, yaitu inventarisasi vegetasi penghasil makanan Jalak Bali, dan sosialisasi kepada masyarakat. Sosialisasi kepada masyarakat Kepulauan Nusa Penida tentang pelepasliaran Jalak Bali, dan perlindungan burung khususnya Jalak Bali. Selain itu, FNPF bekerjasama dengan Lembaga Adat tingkat Kecamatan Nusa Penida, (p.3) Kabupaten Klungkung, dan Provinsi Bali. Tujuannya untuk memasukkan perlindungan burung, khususnya Jalak Bali, di dalam awig-awig (hukum adat) Desa Adat di seluruh Kepulauan Nusa Penida (Wirayudha, 2007; Sudaryanto dkk., 2016).

B. Permasalahan dan Pertanyaan Riset

Sejak tahun 1987-2005, telah dilakukan kerjasama antara Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA), TNBB, Birdlife International Indonesian Programme, American Association of Zoological Parks and Aquarias (AAZA), dan Asosiasi Pelestari Curik Bali (APCB) untuk melakukan konservasi Jalak Bali di TNBB. Usaha tersebut belum berhasil, sehingga FNPF melakukan konservasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida.

Untuk menelaah keberhasilan konservasi FNPF, perlu dilakukan kajian-kajian sebagai berikut: 1. Bagaimana distribusi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida?; 2. Bagaimana fluktuasi cacah individu Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida?; 3. Bagaimana kondisi vegetasi habitat Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida?; 4. Bagaimanakah perilaku burung tersebut baik perilaku harian maupun daerah jelajahnya?; 5. Bagaimana kontribusi awig-awig dalam konservasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida?; 6. Dapatkah Jalak Bali menjadi daya tarik ekowisata di Kepulauan Nusa Penida?

C. Tujuan Penelitian

(p.4) Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mempelajari konservasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida. Secara spesifik, tujuan penelitian ini untuk mempelajari: (1) distribusi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida, (2) cacah individu Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida, (3) kondisi vegetasi habitat Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida, (4) perilaku harian Jalak Bali meliputi: perilaku makan, perilaku interaksi dengan habitat, perilaku interaksi intraspesies dan interspesies, perilaku reproduksi, dan luas jelajah Jalak Bali, (5) kontribusi awig-awig yang dimiliki seluruh desa adat di Kepulauan Nusa Penida terhadap usaha konservasi habitat Jalak Bali, dan (6) Jalak Bali sebagai daya tarik ekowisata di Pulau Nusa Penida.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan untuk melakukan konservasi Jalak Bali, khususnya di TNBB. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat sebagai acuan untuk mengelola, dan mengkonservasi burung lain atau satwa langka lainnya di Indonesia, bahkan di dunia.

E. Keaslian Penelitian

Penelitian Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida yang pernah dilakukan adalah penelitian dalam jangka pendek, selama satu minggu, yaitu sensus burung tersebut (Sudaryanto, 2010; Riany dan Aunurohim, 2013; Jepson, 2015). Selanjutnya, penelitian Konservasi Jalak Bali ini dilakukan lebih komprehensip dan dalam waktu yang lebih panjang yaitu selama 10 tahun (tahun 2006 - 2015).

(p.5) Selain itu, penelitian Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida ini mempunyai lingkup yang lebih luas, dengan menitikberatkan kajiannya pada: (1) tentang distribusi burung tersebut dari tahun 2006-2015, (2) tentang cacah individu Jalak Bali dari tahun 2006-2015, (3) tentang vegetasi habitat Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida, (4) tentang perilaku harian burung tersebut selama tahun 2014, (5) tentang peranan awig-awig dalam melindungi burung tersebut, dan (6) tentang peranan burung tersebut sebagai daya tarik ekowisata.

F. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini membatasi pada: (1) distribusi Jalak Bali di Kepulauan Nusa
Penida dari tahun 2006-2015, (2) fluktuasi populasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida dari tahun 2006-2015, (3) analisis vegetasi habitat Jalak Bali di Kepulauan FNPF Desa Ped Pulau Nusa Penida (5 m dpi); di Sebunibus Pulau Nusa Penida (155 m dpi) dataran tertinggi pada tahun 2014 terdapat Jalak Bali; di Batumadeg Pulau Nusa Penida (239 m dpi) tahun 2006-2010 merupakan habitat Jalak Bali; dan di Pulau Nusa Ceningan (615 m dpi), (4) perilaku harian dan luas wilayah jelajah Jalak Bali, (5) persepsi masyarakat dalam melaksanakan awig-awig yang mendukung konservasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida, dan (6) Jalak Bali sebagai daya tarik wisatawan datang ke Kepulauan Nusa Penida.

II. TINJAUAN PUSTAKA - A. Ekologi Jalak Bali - 1. Distribusi Jalak Bali

(p.6) Jalak Bali pertama kali ditemukan oleh Erwin Stresemann pada tahun 1911 di Desa Bubunan, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali (Van Balen dkk., 2000; Sudaryanto dkk., 2015). Namun, burung - burung tersebut pada tahun 1950-an sudah tidak terlihat lagi di Bubunan Buleleng. Sementara itu tahun 1960-an Jalak Bali masih terdapat di Selemadeg Tabanan, pada tahun 1980-an di Melaya Jembrana, dan pada tahun 1990-an burung tersebut masih ditemukan di Pupuan Tabanan. Pada tahun 2000-an hanya terdapat di Pos Brumbun sampai Pos Lampu Merah TNBB, bahkan pada tahun 2014 Jalak Bali hanya terdapat di Pos Lampu Merah TNBB (Gambar 1) (Sudaryanto, 2001; Sudaryanto dkk., 2015). (p.7) Kemungkinan pada saat itu sudah mulai terjadi pencurian dan penjualan Jalak Bali. Selain itu, Schmidt (1983) menduga bahwa selain di Pulau Bali distribusi Jalak Bali juga terdapat di Pulau Nusa Penida.

sudar16 gambar 1

Gambar 1: Distribusi Jalak Bali di Pulau Bali, Sudaryanto dkk, 2015 (Skala 1:450.000)

2. Populasi Jalak Bali

Jalak Bali merupakan burung endemik Pulau Bali yang sampai tahun 2005 hanya ada di TNBB, populasinya kritis, dan cacah individunya sangat sedikit. Sensus Jalak Bali di TNBB dari tahun 1987-2012, paling banyak tahun 1992 ada 53 ekor, dan paling sedikit tahun 2012 ada empat ekor (Gambar 2) (Van Balen dkk., 2000; Sudaryanto, 2001; Sutito dkk., 2012). Penyebab sedikitnya cacah individu Jalak Bali di TNBB diduga karena adanya pencurian (Van Balen dkk., 2000; Sudaryanto, 2001; Butchart dkk., 2006; Indrawan dkk., 2007; Jepson, 2015). Pencurian Jalak Bali juga terjadi di Pusat Penangkaran Jalak Bali di Tegal Bunder TNBB (Sudaryanto, 2001), dan di Pos Kotal TNBB (Sutito dkk., 2012). Pada tanggal 22 Juni 2004, dapat ditangkap dua orang yang akan menjual dua ekor Jalak Bali (Sudaryanto, 2007) (Tabel 1). Sampai sekarang, itu adalah satu-satunya penangkapan pencuri Jalak Bali di TNBB. Pencurian Jalak Bali juga terjadi di Kebun Binatang Surabaya pada tanggal 9 Februari 2015 dan ada burung yang hilang dua ekor (Anonymous, 2015a).

Untuk meningkatkan populasi Jalak Bali, pihak TNBB telah melepasliarkan Jalak Bali hasil penangkaran. Pada tanggal 26 Desember 2001 pihak TNBB telah melepaskan lima pasang Jalak Bali di Pos Teluk Brumbun TNBB (Sudaryanto dkk., 2003). TNBB bersama dengan Asosiasi Pelestari Curik (p.9) Bali (APCB) dari tahun 2007-2011 juga telah melepaskan 85 ekor Jalak Bali di TNBB, yaitu di Pos Teluk Brumbun, Pos Kotal dan di Tanjung Gelap (Tabel 2) (Sutito dkk., 2012).

sudar16 gambar 2

Gambar 2. Populasi Jalak Bali di TNBB tahun 1987-2012 (Dirgayusa, 1995; Sutito dkk., 2012; Sudaryanto dkk., 2015)

sudar16 tabel 1

Tabel 1. Pencurian Jalak Bali di TNBB (Sudaryanto, 2007; Sutito dkk., 2012)

sudar16 tabel 2

Tabel 2. Pelepasliaran Jalak Bali di TNBB (Sudaryanto dkk., 2003; Sutito dkk., 2012)

3. Habitat Jalak Bali

TNBB merupakan habitat terakhir Jalak Bali di Pulau Bali. TNBB sebelumnya adalah Taman Pelindung Alam Bali yang ditetapkan oleh Keputusan Dewan Raja-raja di Bali. Keputusan tersebut berdasarkan surat No. E/I/4/5/47 pada tanggal 13 Agustus 1947 dengan luas 19.365,8 ha. Selanjutnya, Kepulauan tersebut ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa Bali Barat berdasarkan SK. No. 736/Mentan/X/1982 pada tanggal 14 Oktober 1982, dengan luas 19.546 ha. Selanjutnya ditetapkan sebagai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) berdasarkan SK. MentanNo. 096/Kpts/II/1984 pada tanggal 12 Mei 1984 (Dirgayusa, 1995).

Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 493/Kpts-II/1995 tanggal 15 September 1995, TNBB mempunyai luas kawasan 19.002,89 ha, terdiri dari 15.587,89 ha berupa wilayah daratan, dan 3.415 ha berupa perairan. Secara administratif TNBB terletak di Kabupaten Jembrana dan Kabupaten Buleleng.

(p.10) Sejak tahun 1947-2000, luas TNBB mengalami penyusutan, semula 19.000 ha sekarang tinggal 5.000-10.000 ha. Sebagian besar habitat Jalak Bali di TNBB telah dikonversi menjadi perkebunan kelapa, kapuk randu, pemukiman orang, dan fasilitas wisata seluas 9.000 ha. Kemudian, di luar Kepulauan berbatasan dengan TNBB sudah berkembang menjadi pemukiman yang sangat padat. Diduga berkurangnya luas habitat di TNBB juga menjadi salah satu penyebab penurunan populasi Jalak Bali (Cahyadin, 1993; Van Balen dkk., 2000; Suramenggala, 2013). Pada tahun 2000, keberadaan Jalak Bali di TNBB hanya meliputi Kepulauan Teluk Brumbun sampai Teluk Kelor seluas 287 ha. Padahal, tahun 1990 keberadaan habitat Jalak Bali di TNBB masih seluas 4.000 ha, meliputi daerah Batu Licin, Lampu Merah, Teluk Kelor, Teluk Brumbun, Klompang, dan Teluk Kotal (Dirgayusa, 1995; Sudaryanto dkk., 2003).

Menurut Noerdjito dkk. (2011) habitat Jalak Bali di TNBB ditinjau dari vegetasinya ada 146 jenis tumbuhan, sedangkan Roemantyo (2011) melaporkan di Labuanlalang TNBB terdapat 93 jenis. Sudaryanto dkk. (2003) melaporkan bahwa Jalak Bali di TNBB hanya ada di Pos Teluk Brumbun, yang didominasi tujuh jenis tumbuhan, yaitu pohon pilang (Acacia leucophloea), walikukun (Schoutenia ovata), talok (Muntingia calabura), tekik (Albizia lebbeckoides), kemloko (Phyllanthus emblica), kesambi (Schleira oleosa), dan Intaran (Azadirachta indica).

Untuk melakukan konservasi in-situ atau ex-situ suatu spesies, harus merehabilitasi atau menjaga habitatnya. Juga suatu populasi ex-situ tidak boleh mengancam populasi in-situ dan habitatnya. Diperlukan dukungan dan pelibatan penduduk setempat untuk mengembangkan dan melaksanakan konservasi (p.11) tersebut. Hal tersebut sesuai dengan hasil konvensi Rio de Jeniro, Brazil (Anonymous, 1994).

4. Perilaku Jalak Bali

Van Balen dkk. (2000) mengatakan Jalak Bali merupakan burung diurnal dan monogami. Jalak Bali yang muda hidupnya berkelompok supaya lebih mudah untuk mendapatkan makanan dan untuk menghindari predator. Kegiatan sehari-hari Jalak Bali adalah bergerak dan bertengger. Perilaku bergerak terdiri atas terbang, berjalan, dan meloncat. Perilaku bertengger meliputi: makan, menelisik bulu (preening), menegakkan jambul, mengangguk-anggukan kepala (bobbing), berkicau, minum, mandi, dan perilaku reproduksi. Perilaku makan dapat dibagi menjadi dua: makan buah dan makan serangga. Perilaku reproduksi terdiri dari membuat sarang, mengeram, dan mengasuh anak (Altman, 1974; Van Balen dkk. 2000; Sudaryanto dkk. 2015).

Daerah jelajah (home range) Jalak Bali di TNBB luasnya 23 ha. Pohon yang digunakan aktivitas Jalak Bali di TNBB adalah pohon pilang 48,1%, dan pohon walikukun 17% (Cahyadin, 1993; Sudaryanto dkk., 2003). Cahyadin (1993) melaporkan Jalak Bali bersarang pada pohon klumprit (Terminalia edulis). Kemudian, Noerdjito (2005) melaporkan Jalak Bali bersarang pada pohon walikukun (Schoutenia ovata), kaliombo (Terminalia microcarpa), kemloko (Phyllanthus emblica), dan talok (Muntingia calabura). Selain Jalak Bali, Jalak putih (Sturnus melanopterus) dan Kerak kerbau (Acridotheres javanicus), juga tidak bisa membuat sarang sendiri. Burung-burung tersebut bersarang pada lubang yang terdapat di pohon. Oleh sebab itu, Alikodra (1988) mengusulkan agar (p.12) dibuatkan sarang buatan untuk Jalak Bali di taman nasional tersebut. Untuk itulah, pada 1984-1986, dipasang 96 buah nest box (sarang buatan) untuk menambah kekurangan tempat bersarang alami Jalak Bali di TNBB. Namun, yang memanfaatkan sarang buatan tersebut justru Jalak putih, tokek (Gecko sp), semut, dan lebah liar (Collar dkk., 2001; Van Balen dkk., 2000).

Jalak Bali di TNBB memakan buah tembelekan (Lantana camara), ulat (Familia Geometridae dan Familia Pieridae), semut (Familia Formicidae), belalang (Ducetia thymifolia), dan rayap (Cahyadin, 1993; Sudaryanto dkk., 2015). Jalak Bali di TNBB berkembang-biak selama musim hujan bulan Desember-Januari. Terjadinya hujan memicu perkembangan tunas daun dan ulat pemakan dedaunan, yang merupakan makanan utama anak Jalak Bali (Cahyadin, 1993; Prana dkk., 2006). Pada waktu musim hujan bulan Maret 2002, di Teluk Brumbun TNBB ditemukan satu ekor anak Jalak Bali (Sudaryanto dkk., 2003).

Di TNBB pernah ditemukan seekor ular sanca kembang (Phyton reticulatus) yang memangsa dua ekor piyik Jalak Bali di sarangnya. Predator lainnya adalah biawak (Varanus salvator), tokek, dan monyet (Macaca fascicularis) (Van Balen dkk. 2000; Sudaryanto dkk., 2003).

Pada musim kemarau, Jalak Bali di TNBB sangat tergantung pada embun dan kadang-kadang mereka memanfaatkan air payau di hutan bakau. Distribusi Jalak Bali pada musim kemarau diduga dipengaruhi oleh distribusi sumber air yang tersedia. Daya tarik terhadap cubang (tempat air) membuat Jalak Bali rentan untuk ditangkap para pencuri. Hal ini dibuktikan dengan pernah ditemukan jerat burung dekat cubang. Oleh sebab itu, populasi burung tersebut pada musim kemarau biasanya menurun (Van Balen dkk., 2000; Collar dkk., 2001).

(p.13) Di sisi lain terjadi kompetisi interspesies antara Jalak Bali dengan Jalak putih (Sturnus melanopterus) yang masih berkerabat dekat, yaitu adanya persaingan untuk mendapatkan sumber makanan dan lubang sarang. Perilaku agresif terjadi antara dua jenis tersebut yang diamati pada waktu musim kawin, tetapi Jalak Bali mampu mengusir Jalak putih dari wilayah distribusinya. Jalak putih merupakan burung khas hutan terbuka dan dilaporkan sangat jarang terdapat di TNBB, pada waktu tutupan hutan masih luas dan Jalak Bali masih banyak. Pernah terjadi kedua jenis bertemu mencari makan buah Lantana camara. Hal tersebut terjadi karena semakin langkanya pohon buah-buahan makanannya akibat adanya kerusakan hutan. Sementara itu perubahan habitat di TNBB juga dibarengi dengan meningkatnya cacah individu Jalak putih (Van Balen dkk., 2000; Collar dkk., 2001).

B. Landasan Teori - 1. Taksonomi Jalak Bali

Jalak Bali termasuk anggota Genus Leucopsar, Familia Sturnidae, dan Ordo Passeriformes. Pada anggota Ordo Passeriformes susunan jari kakinya anisodactyl, tiga jari ke depan, dan satu jari kebelakang. Susunan jari semacam ini sangat membantu untuk bertengger, bahkan memungkinkan burung tersebut tidak terjatuh saat tidur pada percabangan pohon. Ciri inilah yang membuat anggota Ordo Passeriformes disebut burung petengger. Selain itu, organ suara (syrinx) yang khas memungkinkan anggota Ordo Passeriformes pandai berkicau. Di Indonesia terdapat 43 familia anggota Ordo Passeriformes, salah satunya Familia Sturnidae yang beranggotakan 26 jenis. Contoh anggota Familia Sturnidae adalah (p.14) Genus Leucopsar (Y: leucos=p\xtih, psar=jalak), yang hanya mempunyai satu jenis dan endemik di Pulau Bali yaitu Jalak Bali atau Leucopsar rothschildi atau Bali Mynah atau Rothschild Mynah. Jalak Bali mempunyai panjang total (dari ujung paruh sampai ujung ekor) 25 cm, bulu berwarna putih, kecuali ujung sayap dan ujung ekor berwarna hitam, kulit terbuka di sekitar mata berwarna biru terang, dan jambul sangat panjang. Perbedaannya dengan Jalak putih adalah warna hitam pada sayap Jalak Bali jauh lebih sempit, warna kulit disekitar mata berwarna biru, dan adanya jambul (Amadon, 1956; MacKinnon dkk., 2010). Jalak Bali pertama kali dideskripsi, ditempatkan dalam genus monotipik dan dipublikasikan oleh Stresemann pada tahun 1912, setahun setelah menemukannya di hutan dataran rendah di Desa Bubunan pantai barat laut Pulau Bali (Van Balen dan Gepak, 1994; Collar dkk., 2001; MacKinnon dkk., 2010).

Telur Jalak Bali mempunyai panjang sekitar tiga cm dan lebar 2,1 cm, berbentuk lonjong atau bulat telur, berat rata-rata 7,14 gram per butir, dan berwarna kebiruan. Jumlah 2-4 butir sekali masa bertelur. Telur dierami oleh induk jantan dan betina secara bergantian dan biasanya menetas setelah kurang lebih 14 hari. Anak burung (piyik) diberi makan kedua induknya selama tiga minggu. Pada umur sekitar 21 hari anak burung mulai keluar dari sarang, umur 24 hari mulai belajar terbang, dan umur 30 hari anak burung sudah bisa terbang dan makan sendiri (Prana dkk., 2006).

Berdasarkan perbandingan polimorfisme protein darah Jalak Bali di Kebun Binatang Surabaya, tidak ada polimorfisme genetik, dan tingkat homozigositas sangat tinggi antara Jalak Bali dari Amerika, Inggris, dan Indonesia (Thohari dkk., 1991). Sementara itu, berdasarkan analisis DNA darah dan kulit Jalak Bali dari (p.15) Amerika, Inggris, Jepang, TNBB dan Pulau Nusa Penida, juga tidak ada polimorfisme genetik setelah beberapa generasi (Watiniasih dkk., 2011). Hal ini diduga menyebabkan adanya inbreeding. Dengan demikian, keadaan genotip Jalak Bali yang diteliti membuktikan kritisnya keadaan populasi burung tersebut.

2. Populasi Efektif Jalak Bali di TNBB

Penyebab penurunan populasi Jalak Bali di TNBB, yaitu pencurian, perusakan habitat, dan ketidak pastian iklim, menyajikan faktor resiko tambahan yang harus diperhitungkan. Kekeringan panjang terkait dengan El Nino Southern Oscillations (ENSO) diketahui memiliki dampak merusak habitat burung. ENSO pada tahun 1982-1983 dan 1986-1987 bertepatan dengan matinya 50% Jalak Bali di TNBB. Terjadinya ENSO yang lama mempengaruhi periode kekeringan yang terjadi pada tahun 1989-1990, sehingga jumlah Jalak Bali sangat berkurang dari 24 ekor menjadi 14 ekor. Pada tahun-tahun tersebut hampir tidak ada perkembangbiakan yang berlangsung dan hanya dua Jalak Bali muda yang diamati pada kuartal pertama tahun 1989 (Van Balen dkk., 2000).

Populasi Jalak Bali di TNBB kecil, sehingga kemungkinan terjadinya inbreeding tidak bisa dihindari. Hal tersebut mempengaruhi tingkat kesuburan, kebugaran, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Selain itu, bencana alam, seperti kekeringan yang panjang, kebakaran, dan terjadinya wabah penyakit dapat dengan mudah menyebabkan punahnya populasi kecil tersebut (Indrawan dkk., 2007; Van Balen dkk., 2000).

Untuk mengatasi hal tersebut di atas, Population Viability Analysis (PVA) telah menjadi komponen utama upaya pemulihan jumlah individu Jalak Bali.

(p16) Apalagi populasi Jalak Bali di TNBB pada tahun 1990 tinggal 14 ekor. Lokakarya PVA Jalak Bali pada tahun 1990 mengkhawatirkan kemungkinan kepunahan 100% dalam waktu satu tahun jika tidak ada tindakan yang diambil. Untuk itu, perlu dilepaskan Jalak Bali hasil penangkaran, keamanan di TNBB ditingkatkan, dan kondisi iklim yang menguntungkan diharapkan menghasilkan pemulihan sementara dalam waktu dua tahun berikutnya (Van Balen dan Gepak, 1994).

Van Balen dkk. (2000) menyarankan ukuran populasi efektif (Ne) Jalak Bali di TNBB adalah 50 ekor dalam jangka pendek dan 500 ekor dalam jangka panjang. Kalau populasi di bawah 50 ekor, terjadinya inbreeding akan menjadi sangat tinggi. Sementara itu, untuk mencapai ukuran populasi efektif 500 akan membutuhkan populasi kira-kira 1.000 ekor, dengan asumsi 50% burung berkontribusi untuk pusat penangkaran. Jumlah ini jika didistribusikan pada beberapa subpopulasi di TNBB, diyakini cukup untuk memastikan kelangsungan hidup Jalak Bali. Karena habitat alami Jalak Bali di TNBB banyak mengalami kerusakan, maka reboisasi dan perlindungan hutan diperlukan untuk memberikan habitat yang cukup luas. Ada juga usulan untuk membangun populasi liar Jalak Bali di Kepulauan wisata yang cocok di tempat lain diluar TNBB.

3. Hukum Adat Bali A wig-awig

Tri Hita Karana (Tri = tiga, Hita = sejahtera, Karana = penyebab) adalah salah satu ajaran dalam agama Hindu, mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan dan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara: manusia dengan Tuhannya, manusia dengan alam lingkungannya dan manusia dengan sesamanya. Penjabaran Tri Hita Karana berupa awig-awig atau hukum adat, yaitu (p.17) perangkat aturan yang mengatur warga di tingkat Desa Adat dan Banjar Adat di Bali (Sutawan, 2004; Sudaryanto, 2007; Sudantra, 2008; Astiti dkk., 2011).

Awig-awig adalah patokan-patokan bertingkah laku, berdasarkan rasa keadilan dan kepatutan yang hidup didalam masyarakat adat Bali. Awig-awig mengatur parhyangan (sebagai pencerminan hubungan manusia dengan Tuhan), pawongan (sebagai encerminan hubungan manusia dengan manusia), dan palemahan (sebagai pencerminan hubungan manusia dengan lingkungannya). Sebagai patokan bertingkah laku, awig-awig dilengkapi dengan sanksi (pamindada) yang bersifat hukum sehingga awig-awig merupakan salah satu bentuk hukum adat Bali. Awig-awig bisa ditulis maupun tidak ditulis (lisan). Awig-awig dikukuhkan dalam suatu upacara yang disebut Pasopati, bersifat sakral, dan dilaksanakan oleh masyarakat Desa Adat (Sutawan, 2004; Astiti, 2007; Sudaryanto, 2007; Sudantra, 2008; Astiti dkk., 2011).

Awig-awig merupakan suatu produk hukum dari suatu organisasi tradisional di Bali. Bentuk organisasi tradisional yang bisa membuat awig-awig adalah Desa Adat (Pakraman), Subak (organisasi petani lahan sawah), Subak Abian (organisasi petani lahan tanah kering), Sekaa Teruna (organisasi pemuda), dan Sekaa Dadya (kelompok sosial). Jadi, isi awig-awig setiap organisasi tradisional berbeda-beda, tergantung kesepakatan anggota organisasi yang bersangkutan (Astiti, 2007; Sudantra, 2008).

Berdasarkan UUD 1945 pasal 18, UU No 5 tahun 1979, UU No 2 Tahun 1999, dan Peraturan Daerah Propinsi Bali Tahun 1986, di Bali ada dua macam Desa, yaitu Desa Adat dan Desa Dinas. Desa Adat tugasnya melaksanakan fungsi sosial religius dalam masyarakat, termasuk diantaranya membuat awig-awig. Desa (p.18) Dinas tugasnya melaksanakan fungsi administrasi pemerintahan negara di desa. Di Bali juga terdapat Banjar, yaitu pembagian wilayah administrasi di bawah kelurahan atau desa, jadi setingkat RW (Rukun Warga) di luar Bali (Astiti, 2007; Sudantra, 2008; Parwata dkk., 2013).

Sejak tahun 2004 FNPF telah melaksanakan sosialisasi program pelepasliaran dan perlindungan burung, khususnya Jalak Bali, di Kepulauan Nusa Penida. FNPF bersama-sama Lembaga Adat yaitu Majelis Utama (Desa Adat tingkat Provinsi Bali), Majelis Madya (Desa Adat tingkat Kabupaten Klungkung), Majelis Alit (Desa Adat tingkat Kecamatan Nusa Penida), Bendesa Adat (Kepala Desa Adat) se-Kepulauan Nusa Penida), dan Kelihan Banjar Adat (Kepala Banjar Adat) se Kepulauan Nusa Penida. FNPF bersama Lembaga Adat, sepakat membetuk awig-awig tentang pelepasliaran dan perlindungan burung khususnya Jalak Bali, di setiap Desa Adat di seluruh Kepulauan Nusa Penida. Selama ini seluruh Desa Adat di Kepulauan Nusa Penida telah mempunyai awig-awig, tetapi tidak ada hal tentang perlindungan burung (Sudaryanto, 2007; Wirayudha, 2007; Sudaryanto dkk., 2016).

Pada tahun 2006, sudah semua Desa Adat (46 Desa Adat) di Kepulauan Nusa Penida yang memiliki dan melaksanakan awig-awig tersebut. Salah satu sanksi dari awig-awig tersebut adalah orang yang menangkap, menjual, dan menembak burung dikenai sanksi harus membayar denda. Sanksi sosialnya yakni dikucilkan tidak boleh mengikuti upacara di pura, diberlakukan bagi yang kembali melanggar awig-awig tersebut. Meskipun di Pulau Nusa Penida terdapat satu Desa Dinas Islam, yaitu Desa Toyapakeh, yang tidak mempunyai awig-awig, warganya (p.19) mentaati awig-awig Desa Adat di sekitarnya (Sudaryanto, 2016; Sudaryanto dkk., 2016).

4. Proses Hirarki Analitik (PHA)

Proses Hirarki Analitik (PHA) atau Analytic Hierarchy Process (AHP) merupakan suatu model pendukung keputusan yang dikembangkan oleh Saaty (1993). Model pendukung keputusan ini akan menguraikan masalah multi factor atau multi kriteria yang kompleks menjadi suatu hirarki. Hirarki adalah suatu representasi dari sebuah permasalahan yang kompleks dalam suatu multilevel, dimana level pertama adalah tujuan, level kedua adalah faktor, dan level ketiga adalah kriteria. Suatu masalah yang kompleks dapat diuraikan ke dalam kelompok-kelompok, yang kemudian diatur menjadi suatu bentuk hirarki, sehingga permasalahan akan tampak lebih terstruktur dan sistematis (Saaty, 1993; 1999; 2008; Syaifullah, 2010; Pradharma dan Dwidasmara, 2012).

PHA merupakan pendekatan dasar dalam pengambilan atau membuat keputusan. Tujuan dari PHA ini adalah menyelesaikan masalah yang kompleks atau tidak berkerangka. Selain itu, data dan informasi statistik dari masalah yang dihadapi sangat sedikit. Setelah itu, memilih yang terbaik dari sejumlah alternative yang telah dievaluasi dengan memperhatikan beberapa kriteria.

Data diperoleh dari wawancara dengan indepth interview. Responden yang telah ditentukan, diminta pendapatnya untuk memberi nilai pada pertanyaan yang telah disiapkan. Jawaban tersebut untuk mengetahui pilihan masyarakat dalam melaksanakan awig-awig yang berkaitan dengan konservasi Jalak Bali, dengan menggunakan pendekatan teknik PHA. Pendekatan tersebut merupakan suatu (p20) model untuk menentukan skala prioritas, yang mempunyai kelebihan dalam menggabungkan unsur kualitatif dan kuantitatif. Kemudian data sosial tersebut dianalisis menggunakan program penentuan bobot prioritas dengan Software Expert Choise professional version V.11.0 dengan Incosistensi Ratio < 10% (Saaty, 1993; 1999; 2008; Pradharma dan Dwidasmara, 2012).

PHA merupakan prosedur pengambilan keputusan, yang dirancang untuk menangkap persepsi masyarakat yang berhubungan erat dengan permasalahan tertentu, melalui prosedur yang dibuat sampai pada skala preferensi. Melalui
metode PHA permasalahan yang tidak terstruktur dapat dimasukkan ke dalam sebuah urutan hirarki. Hirarki ini kemudian dibuat nilai dalam bentuk angka skala preferensi yang menunjukkan relatif pentingnya satu elemen terhadap elemen yang lain, kemudian disintesiskan untuk mendapat variabel prioritas tertinggi (Saaty, 1993; 2008; Pradharma dan Dwidasmara, 2012).

Data utama model PHA adalah persepsi masyarakat yang dianggap narasumber. Kriteria narasumber disini bukan berarti jenius, tetapi lebih mengacu pada orang yang mengerti benar permasalahan (Saaty, 1993). Dengan demikian, narasumber pada penelitian adalah anggota masyarakat, yang mengerti permasalahan yang ada di lokasi penelitian. Penelitian dengan analisis PHA tersebut dilakukan melalui tiga tahapan yaitu dekomposisi, perbandingan persepsi, dan sintesis prioritas.

Dekomposisi, yaitu membuat tujuan penelitian menjadi hirarki yang lebih sederhana yaitu kriteria, sasaran dan alternatif. Pada tahapan ini dibuat model hirarki Konservasi Jalak Bali, yang menentukan faktor-faktor preferensi masyarakat dalam melaksanakan Konservasi Jalak Bali. Jadi, persoalannya adalah (p21) memilih alternatif, yang dapat dimulai dari tingkat dasar dengan menderetkan semua alternatif, yaitu: awig-awig; hukum formal, kesejahteraan masyarakat, keanekaragaman hayati, dan ekowisata. Tingkat berikutnya terdiri atas kriteria untuk mempertimbangkan berbagai alternatif tersebut, yaitu: populasi Jalak Bali dan partisipasi masyarakat. Tingkat puncak adalah tujuannya, yaitu Konservasi Jalak Bali (Gambar 3).

Selanjutnya adalah perbandingan persepsi (Comparative Judgment). Prinsip ini berarti membuat penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen pada suatu tingkat tertentu. Hasil penilaian dimasukkan dalam bentuk matriks yang disebut pairwise comparison dengan skala ordinal PHA, pemilihan skala 1 sampai 9, dengan makna seperti pada Tabel 3. Sintesis prioritas merupakan proses penentuan prioritas elemen-elemen dalam suatu level. Setelah diperoleh skala perbandingan antara dua elemen melalui wawancara, kemudian dicari vector prioritas (eigen vector) dari suatu level hirarki.

sudar16 gambar 3

Gambar 3. Model Proses Hirarkhi Analitik (PHA) pada Konservasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida; Keterangan: ->: langkah pilihan berikutnya

sudar16 tabel 3

Tabel 3. Skala Perbandingan Persepsi (Comparative Judgment), terdapat 6 skala yang digunakan untuk membandingkan kepentingan melakukan konservasi (Saaty, 1993)

5. Ekowisata

(p.23) Konsep pariwisata yang dikembangkan di Bali mengedepankan faktor- faktor budaya, baik sebagai daya tarik wisata maupun sebagai pelaku usaha pariwisata. Hal ini memberi fungsi pada lembaga-lembaga kebudayaan Bali. Desa Dinas dan Desa Adat merupakan dua komponen yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dalam pengembangan pariwisata di Bali. Desa Adat berperan sebagai penghubung antara masyarakat dengan pemerintah, dan merupakan lembaga yang sangat potensial dalam menunjang pariwisata di Bali. Lembaga tersebut memiliki berbagai potensi sebagai aset pariwisata, sesuai corak kepariwisataan di Bali adalah pariwisata budaya (Santosa, 2003).

Di Kepulauan Nusa Penida, telah berkembang ekowisata bahari, yaitu wisata selam (diving), snorkeling, dan wisata pantai. Diperkirakan 200.000 wisatawan datang setiap tahun mengikuti ekowisata bahari. Hal tersebut terjadi karena Kepulauan Nusa Penida merupakan bagian dari Kepulauan segitiga terumbu karang dunia (the coral triangle). Sekarang di Pulau Nusa Penida sudah mulai diusahakan ekowisata, yaitu kegiatan wisata alam yang bertanggung jawab menjaga keaslian, kelestarian lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat. Wisatawan ke Kepulauan Nusa Penida tahun 2014 berjumlah 220.751 orang, terdiri dari wisatawan asing 93,53% dan wisatawan nusantara 6,47%. Jumlah wisatawan ke Kepulauan Nusa Penida pada tahun 2014, hanya 5,86% dari jumlah wisatawan yang berkunjung ke Pulau Bali (Tabel 4) (Agustina, 2013; Bato dkk., 2013; Kamil dkk., 2015).

sudar16 tabel 4

Tabel 4. Jumlah Wisatawan ke Kepulauan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung,

C. Hipotesis

Berdasarkan kajian dari penelitian sebelumnya, maka dalam penelitian ini dihipotesiskan bahwa: 1 Distribusi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida bertambah luas; 2 Populasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida bertambah banyak; 3 Kondisi vegetasi di Kepulauan Nusa Penida sesuai untuk habitat Jalak Bali; 4 Perilaku Jalak Bali dapat menyesuaikan diri di Kepulauan Nusa Penida; 5 Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida aman karena dilindungi awig-awig; 6 Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida dapat menjadi daya tarik ekowisata.

III. METODE PENELITIAN - A. Alat

(p25) Pengamatan burung menggunakan teropong binokuler (binocular telescope) merk Pegasus 8 x 42. Angka delapan merupakan angka pembesaran, semakin besar nilainya gambar yang dihasilkan juga semakin besar. Angka 42 merupakan garis efektif lensa obyektif, semakin besar garis tengahnya maka gambar yang dihasilkan semakin terang. Semakin besar angka hasil bagi 42:8, semakin jelas gambar yang dihasilkan, tetapi teropong binokulernya semakin berat (Dirgayusa, 1995; Lameed, 2012). Juga kamera Canon SX50HS dengan resolusi 12.IMP serta 50x optical zoom dan 24mm ultra wide angle. Untuk mendengarkan suara burung menggunakan Action Ear. Lokasi perjumpaan dengan Jalak Bali ditentukan dengan Global Positioning System (GPS) merk Garmin 60 CSx, kemudian lokasi tersebut ditandai dengan cat. Peta Pulau Bali skala 1:175.000 terbitan Badan Informasi Geospasial (Anonymous, 2015b). Untuk mengukur tinggi pohon menggunakan hagameter.

B. Deskripsi Lokasi Penelitian

Kepulauan Nusa Penida terletak 20 km ke arah tenggara dari Pulau Bali pada koordinat 8°38'58,04"-8°49'30,03" LS; 115o25'14,01"-115°38'22,32" BT. Kepulauan Nusa Penida terdiri dari tiga pulau yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan dan Pulau Nusa Ceningan, dan secara administratif termasuk Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Luas Pulau Nusa Penida 20.000 ha, yaitu hutan 1.000 ha, dan sisanya wanatani. Luas Pulau Nusa Lembongan 1.000 ha, yaitu hutan bakau luas 200 ha, sisanya wanatani. Selain itu, (p.26) Pulau Nusa Ceningan dengan luas 290 ha, dan semuanya berupa wanatani.

Wanatani (agroforestry) adalah perkebunan yang memadukan kegiatan pengelolaan pohon kayu-kayuan dengan penanaman tanaman komoditas (Van Noordwijk dkk., 2004; Wulandari. 2009). Tanaman komoditas atau tanaman jangka pendek yang ditanam seperti: jagung, rosela, dan sayuran. Kepulauan Nusa Penida terdiri dari 46 Desa Adat, 18 Desa Dinas, dan 79 Banjar. Jumlah penduduk Pulau Nusa Penida 59.598 orang, Pulau Nusa Lembongan 5.169 orang, dan Pulau Nusa Ceningan 1.216 orang. Di Desa Ped Pulau Nusa Penida terdapat sebuah Pura Kahyangan Jagat yaitu Pura Penataran Ped, yang disakralkan oleh seluruh penduduk Pulau Bali (Anonymous, 2013).

Diduga distribusi Jalak Bali di Pulau Nusa Penida dan di Pulau Nusa Lembongan terdapat di 16 lokasi (Gambar 4).

sudar16 gambar 4

Gambar 4

C. Rancangan Penelitian- 1. Distribusi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida dan TNBB

(p.28) a. Penelitian distribusi Jalak Bali dilakukan dari tahun 2006-2015, di Kepulauan Nusa Penida yaitu di Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, dan Pulau Nusa Ceningan. Untuk mengetahui distribusi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida dilakukan penjelajahan dan wawancara dengan masyarakat di daerah tersebut (Alikodra, 1990). Penelitian terutama dilakukan di 16 tempat (Gambar 4). b. Penelitian distribusi Jalak Bali di TNBB dilakukan tanggal 1-20 Desember 2014 di Pos Prapat Agung, Pos Teluk Brumbun, Pos Lampu Merah, Pos Teluk Terima, dan Pos Cekik. Untuk mengetahui distribusi Jalak Bali di TNBB dilakukan penjelajahan (Alikodra, 1990), khususnya pada lima pos (Gambar 8).

2. Populasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida dan TNBB

a. Sensus cacah individu Jalak Bali dilakukan dari tahun 2006-2015 di Kepulauan Nusa Penida, yaitu di Pulau Nusa Penida dan Pulau Nusa Lembongan. Untuk menghitung populasi Jalak Bali digunakan penghitungan total dengan metode terkonsentrasi. Penghitungan total dengan metode terkonsentrasi adalah menghitung secara langsung semua cacah individu Jalak Bali yang ditemukan di pohon tempat tidur (roosting site) dan pada lokasi burung tersebut mencari makan (Van Balen, 1995; Ralph dkk. 1997; Bibby dkk. 2000; Per dan Aktas, 2008). Penghitungan populasi Jalak Bali dilakukan di 16 tempat (Gambar 4). Untuk mengantisipasi adanya distribusi (p.29) Jalak Bali, selain pada 16 tempat tersebut, juga dilakukan penjelajahan di Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, dan Pulau Nusa Ceningan.

Penghitungan populasi Jalak Bali menggunakan dua cara yaitu:
1) Di pohon Jalak Bali tempat tidur (roosting site), penghitungan menggunakan metode Van Balen (1995); 2) Penghitungan dilakukan pada waktu fajar pukul 05.00-06.00 WITA dan petang hari pukul 18.00-19.00 WITA, karena berdasarkan penelitian pendahuluan Jalak Bali aktif mulai pukul 05.15-05.45 WITA dan kembali ke pohon tempatnya tidur pukul 18.15-18.45 WITA.; 3) Penghitungan dilakukan pada 16 tempat tersebut (Gambar 4). Untuk ketepatan penghitungan, maka pada masing-masing tempat dilakukan oleh 3 orang. Jarak antara pengamat dan burung tersebut antara 10-50 m; 4) Penghitungan dilakukan setiap bulan. Pada tanggal 15 sore, tanggal 16 pagi dan sore, dan tanggal 17 pagi; 5) Angka-angka untuk penghitungan petang dihitung berdasarkan jumlah burung yang tercatat mendatangi pohon tempatnya tidur, sedangkan untuk penghitungan fajar berdasarkan burung yang tercatat meninggalkan pohon tempatnya tidur; 6) Cacah individu Jalak Bali pada suatu tempat didapat dari jumlah penghitungan terbanyak yang dilakukan di tempat tersebut; 7) Di daerah Jalak Bali mencari makan (feeding site). Penghitungan dilakukan di setiap bulan pada tanggal 15-17 pukul 10.00-14.00 WITA. Pada umumnya burung tersebut mencari makan tidak jauh dari sarangnya atau pohon tempatnya tidur. Jalak Bali adalah burung (p.30) berkelompok dan jika sudah berpasangan bersifat monogami, sehingga burung tersebut berada bersama-sama di daerah tempat mencari makan. Pada penelitian pendahuluan diketahui Jalak Bali mulai aktif di daerah mencari makan antara pukul 10.00-14.00 WITA.

b. Sensus cacah individu Jalak Bali di TNBB dilakukan dari tanggal 1-20 Desember 2014. Sensus dilakukan di Pos Prapat Agung, Pos Teluk Brumbun, Pos Lampu Merah, Pos Teluk Terima, dan Pos Cekik Pos Cekik). Penghitungan menggunakan metode Van Balen (1995), yaitu dilakukan secara langsung di pohon-pohon tempat tidur (roosting site) Jalak Bali

3. Analisis vegetasi habitat Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida dan TNBB

a. Analisis vegetasi dilakukan di: (1) Kepulauan Kantor FNPFdi Desa Ped 5 mdpl, yaitu daerah dataran rendah yang paling banyak cacah individu Jalak Bali, yang berdasarkan penelitian pendahuluan di daerah tersebut terdapat delapan ekor Jalak Bali; (2) Sebunibus 155 mdpl, pada tahun 2014 merupakan Kepulauan Jalak Bali yang paling tinggi; (3) Batumadeg 239 m dpi, tahun 2006-2010 merupakan Kepulauan Jalak Bali (Gambar 4 no. 1,3 dan 12); (4) Pulau Nusa Ceningan 185 m dpi.

b. Analisis vegetasi di TNBB dilakukan tanggal 1-20 Mei 2014. Analisis vegetasi dilakukan di Pos Prapat Agung, Pos Teluk Brumbun, Pos Lampu Merah, Pos Teluk Terima, dan di Pos Cekik.

Analisis vegetasi yang menyusun habitat Jalak Bali diteliti dengan menggunakan kuadrat plot 20m x 20m (Barbaour dkk., 1987). Pada setiap kuadrat dicatat dan diukur: cacah individu setiap jenis, tinggi pohon total, tinggi cabang (p.31) pertama, lebar tajuk, panjang tajuk, tebal tajuk, diameter setinggi dada (dbh) peneliti, posisi pohon (jarak ke sumbu x dan sumbu y). Pada setiap lokasi dibuat tiga plot, kemudian dibuat profil habitatnya.

4 Penelitian perilaku Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida

a. Penelitian perilaku harian Jalak Bali dengan menggunakan metode Scan Sampling dengan Instataneous Sampling (Altman, 1974), dengan interval waktu pencatatan adalah lima menit. Berdasarkan penelitian pendahuluan, rata-rata aktivitas burung tersebut pada suatu tempat selama lima menit, kemudian berganti dengan aktivitas atau tempat lainnya; b. Pengamatan dilakukan pukul 05.00 s.d.pukul 19.00 WITA karena berdasarkan penelitian pendahuluan burung tersebut aktif antara pukul 05.30-18.30 WITA; c. Perilaku harian Jalak Bali yang diamati meliputi perilaku makan, perilaku interaksi dengan habitat, perilaku interaksi intraspesies dan interspesies, perilaku reproduksi, yaitu mulai pasangan Jalak Bali mempersiapkan sarang sampai menyapih anaknya, perilaku distribusi, dan luas jelajah Jalak Bali; d. Secara detail, perilaku Jalak Bali yang diamati adalah perilaku bergerak meliputi terbang dan pindah lokasi dari satu pohon ke pohon yang lain; perilaku makan meliputi makan buah atau serangga. Perilaku menelisik bulu, yaitu membersihkan bulu dengan paruhnya; perilaku menegakkan jambul, yaitu menegakkan bulu di kepalanya untuk menarik pasangannya, perilaku bobbing, yaitu mengangguk-anggukan kepala untuk menarik pasangannya; perilaku vokalisasi atau berkicau, yaitu mengeluarkan suara atau bernyanyi untuk menarik pasangannya atau menunjukkan teritorialnya; perilaku minum, (p.32) yaitu memasukkan air ke dalam mulut dan meneguknya, perilaku mandi, yaitu membersihkan tubuh dengan air atau menyiramkan air ke badan atau berendam, perilaku meloncat, yaitu bergerak di atas tanah ataupun pohon untuk mencari makan; perilaku istirahat, yaitu berdiam diri atau tidur; perilaku reproduksi, yaitu membuat sarang, mengeram, dan mengasuh anaknya; e. Penelitian perilaku Jalak Bali dilakukan di FNPF (Gambar 4 no 1).

5. Penghitungan Luas Wilayah Jelajah Jalak Bali

Untuk mengetahui wilayah jelajah dilakukan dengan menghitung wilayah jelajah harian satu pasang Jalak Bali secara manual. Setelah terkumpul data sebanyak 700 titik pengamatan, selanjutnya titik-titik yang terluar dihubungkan. Titik-titik tersebut merupakan diurnal activity center (DAC), yaitu daerah yang secara rutin digunakan olehburung-burung di siang hari. Wilayah jelajah (home range) adalah total luas DAC yang digunakan oleh setiap burung. Luas wilayah jelajah dihitung dengan menggunakan convex polygon method. Luas wilayah jelajah juga bisa dibuat dengan Georeferencing dari daerah jelajah yang didapatkan pada peta dinding Pulau Bali skala 1:175.000 terbitan Badan Informasi Geospasial, dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) program Quantum GIS version 1.8.0.-Lisboa (Odum dan Kuenzler, 1955; Yamagishi dan Ueda, 1986; Yap dan Charlotte, 2003; Tobler dan Smith, 2004).

Untuk penelitian perilaku dan luas wilayah jelajah, diamati sepasang Jalak Bali. Burung tersebut diikuti mulai keluar dari pohon tempatnya tidur, kira-kira pukul 05.30, sampai kembali ke pohon tempatnya tidur kira-kira pukul 18.00. Pengamatan dilakukan pukul 05.30-09.00, 09.00-14.00, 14.00-18.00 dan setiap (p.33) pengamatan dilakukan oleh dua orang. Dicatat perilaku burung tersebut, yaitu terbang, meloncat, makan buah, makan serangga, minum nektar, menelisik bulu, menegakkan jambul, bobbing, vokalisasi, minum, dan mandi (Lampiran 10). Luas jelajah burung bisa diketahui dengan mencatat nama pohon tempat burung beraktivitas, koordinat, dan waktunya (Lampiran 20). Penelitian daerah jelajah Jalak Bali dilakukan di FNPF (Gambar 4 no 1).

6. Kearifan Awig-awig dalam Usaha Mendukung Konservasi Jalak Bali

Berikut adalah penelitian proses pelaksanaan awig-awig di masyarakat. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan indept interview. Pedoman wawancara terlampir (Lampiran 24). Di Kepulauan Nusa Penida terdapat 1200 orang kepala keluarga, kemudian ditentukan jumlah responden sebanyak 95 orang, terdiri atas 65 orang kepala keluarga dan 30 orang pelajar SMP dan SMA. 

Dipilihnya kepala keluarga dan pelajar sebagai nara sumber, karena orang-orang tersebut dianggap mengerti masalah awig-awig yang melindungi Jalak Bali. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Proses Hirarki Analitik (PHA) (Analitic Hirarchy Process) (Atmanti, 2008; Saaty,1993;1999; 2008). Analisis tersebut melalui beberapa tahap yaitu Decomposition (dekomposisi), Comparative Judgement (perbandingan persepsi), Synthesis of Priority (sintesis prioritas), dan Logical Consistency (konsistensi penilaian). Responden diambil dari Desa Adat Ped dan Desa Adat Jungut Batu (Gambar 4 no 1, 2, 5, 6, 7, 8, 10 dan 13).

7. Penelitian Jalak Bali sebagai Daya Tarik Ekowisata di Pulau Nusa Penida.

(p.34) Keberadaan Jalak Bali di Pulau Nusa Penida diharapkan menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan, dan menambah kehadiran wisatawan di pulau tersebut. Untuk itu, perlu diteliti persepsi wisatawan terhadap keanekaragaman hayati di Pulau Nusa Penida, khususnya Jalak Bali. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara. Penggunaan kuesioner sebagai pedoman wawancara (Lampiran 27). Analisis data dilakukan dengan menggunakan Metode Likert (Risnita, 2012). Responden dari wisatawan di FNPF (Gambar 4 no 1).

D. Bagan Alir Pelaksanaan Penelitian

Bagan alir pelaksanaan penelitian Konservasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida

sudar16 gambar 5

Gambar 5. Cara Kerja Konservasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN - A. Distribusi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida

Pelepasliaran Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida pertama kali dilakukan pada tanggal 13 Juni 2006 di Kantor Friends of National Park Foundation (FNPF) Banjar Bodong Desa Ped Pulau Nusa Penida sebanyak dua ekor. Kepulauan FNPF merupakan suatu hutan wanatani (agroforestry) dan kebun kelapa. Sebelum pelepasliaran tersebut, di Kepulauan Nusa Penida tidak ada Jalak Bali. Selanjutnya, perilaku mencari makan diamati, yaitu makan buah dan serangga. Setelah hasil pengamatan dievaluasi, Jalak Bali dianggap dapat beradaptasi dengan habitat di Pulau Nusa Penida. Oleh karena itu, dimulailah program pelepasliaran Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida (Tabel 5).

Pada tanggal 10 Juli 2006 Jalak Bali dilepasliarkan di Pura Penataran Ped 10 ekor, dan di Batumadeg 15 ekor. Desa Ped adalah daerah wanatani, penduduknya 500 orang/km2. Selain itu, Batumadeg (239 m dpi) juga daerah (p.38) wanatani, penduduknya 170 orang/km2 (Anonymous, 2013a). Pada tahun 2006, keberadaan Jalak Bali di Pulau Nusa Penida terdapat di tiga lokasi, yaitu FNPF (2 ekor), Pura Penataran Ped (10 ekor), dan Batumadeg (25 ekor) (Gambar 6a).

sudar16 tabel 5

Tabel 5. Pelepasliaran Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida; Keterangan (1): Pura Penataran Ped Pulau Nusa Penida, Kantor FNPF

sudar16 gambar 6

Gambar 6. Distribusi Jalak Bali di Kawasan Nusa Penida tahun 2006-2015; Keterangan: (a) tahun 2006, (b) tahun 2007, (c) tahun 2008-2011, (d) tahun 2012-2013, (e) tahun 2014, (f) tahun 2015. (1) FNPF, (2) Pura Penataran Ped, (3) Batumadeg, (4) Kutampi, (5) Pura Dalem Bungkut, (6) Pura Puseh, (7) Pura Tinggar, (8) Sental Kawan, (9) Lembongan, (10) Pura Puaji, (11) Biaung, (12) Sebunibus, (13) Sental Kangin, (14) Penida, (15) Sakti, (16) Klibun. ■ : lokasi Jalak Bali. Pura Ped - FNPF = 499,4 m; Sental Kawan - Kutampi = 500 m; Pura Ped - Pura Puseh = 556 m; Sental Kawan - Sental Kangin = 951 m; Pura Ped - Sental Kawan = 500 m; Pura Ped - Klibun = 478 m; Pura Puseh - Klibun = 126 m; Batumadeg - Sebunibus = 2.5022 m; FNPF - Pura Bungkut = 225,5 m; Pura Tinggar - Biaung = 979,5 m; Pura Bungkut - Pura Tinggar = 1.514 m; Biaung - Batumadeg = 1.648 m; Sebunibus - Sakti = 1.947 m; Sebunibus - Penida = 6.420 m; Pura Puaji - Lembongan = 1.551 m. Sumber peta: Badan Informasi Geospasial (Anonymous, 2015b).

Pada tahun 2007, Presiden Republik Indonesia melepasliarkan Jalak Bali di Pelabuhan Kutampi (5 m dpi). Pelabuhan Kutampi terletak satu kilometer di timur Pura Penataran Ped. Jalak Bali yang dilepasliarkan di Pelabuhan Kutampi sebanyak 6 pasang, tetapi 2 ekor burung tercebur ke laut dan mati. Beberapa Jalak Bali di Pura Penataran Ped berpindah ke FNPF karena vegetasi di FNPF lebih banyak tersedia makanan. Pada tahun 2007, keberadaan Jalak Bali menjadi empat lokasi, yaitu FNPF, Pura Penataran Ped, Batumadeg, dan Pelabuhan Kutampi (Gambar 6b).

Pada tahun 2008 seluruh Jalak Bali di Pelabuhan Kutampi berpindah ke Sental Kawan (17 m dpi) karena vegetasi di Sental Kawan lebih banyak tersedia makanan. Sental Kawan adalah daerah perbukitan berupa wanatani, dan terdapat banyak pohon bunut, sumber makanan Jalak Bali, terletak antara Pelabuhan Kutampi dengan Pura Penataran Ped, dengan jarak masing-masing 500 m. Beberapa Jalak Bali di Pura Penataran Ped berpindah ke Pura Puseh, karena vegetasinya lebih banyak tersedia makanan. Pura Puseh (68 m dpi) adalah perbukitan yang terletak 300 m di selatan Pura Penataran Ped, yang vegetasinya didominasi jati dan bunut. Jalak Bali di FNPF sebagian berpindah ke Pura Dalem Bungkut karena ada kompetisi intraspesies. Selanjutnya, sebagian Jalak Bali di Pura Dalem Bungkut berpindah ke Pura Tinggar karena juga ada kompetisi intraspesies. Pura Tinggar (68 m dpi) terletak 500 m sebelah tenggara Pura Dalem Bungkut. Sental Kawan, Pura Puseh, Pura Dalem Bungkut, dan Pura Tinggar (p.39) adalah daerah wanatani dan kebun kelapa. Pada umumnya Jalak Bali berpindah tempat dalam kelompok kecil, 2 sampai 4 ekor burung. Lokasi baru Jalak Bali berjarak 100-300 m dari lokasi lama. Kalau lokasi baru berjarak cukup jauh, maka perpindahan itu dilakukan selama beberapa tahap.

Pada tahun 2008-2011, keberadaan Jalak Bali bertambah empat lokasi (Sental Kawan, Pura Puseh, Pura Dalem Bungkut, dan Pura Tinggar) dan berkurang satu lokasi (Pelabuhan Kutampi). Jadi pada tahun 2008-2011, keberadaan Jalak Bali di Pulau Nusa Penida terdapat di tujuh lokasi, yaitu FNPF, Pura Penataran Ped, Batumadeg, Pura Dalem Bungkut, Pura Puseh, Pura Tinggar, dan Sental Kawan (Gambar 6c). Keberadaan Jalak Bali ini memperluas penyebaran, dibandingkan tahun 2007 yang hanya empat lokasi.

Pada tahun 2012-2013, Jalak Bali di Batumadeg berpindah ke Sebunibus (155 m dpi) dan Biaung (105 m dpi). Jarak Batumadeg-Sebunibus kira-kira 2.500 m, dan jarak Batumadeg-Biaung kira-kira 1.600 m (Gambar 6 d). Padahal vegetasi di Batumadeg, lebih banyak tersedia makanan, daripada di Sebunibus ataupun Biaung. Diduga perpindahan Jalak Bali dari Batumadeg karena lokasinya terlalu tinggi sehingga kurang sesuai.

Pada tanggal 14-15 Mei 2012, Tim FNPF melakukan inventarisasi di Pulau Nusa Ceningan dan Pulau Nusa Lembongan. Tim tersebut menemukan Jalak Bali di Desa Lembongan (Pulau Nusa Lembongan). Selanjutnya, pada tanggal 20 Desember 2012, FNPF melepasliarkan enam ekor Jalak Bali di Pura Puaji Desa Jungut Batu (Pulau Nusa Lembongan) (Wirayudha. FNPF. Kom. Pri).

Keberadaan Jalak Bali di Pulau Nusa Lembongan, diduga dibawa oleh seseorang dari Pulau Nusa Penida. Kemungkinan yang dibawa itu adalah piyik (p40) Jalak Bali. Tujuan orang tersebut adalah agar di Pulau Nusa Lembongan juga terdapat Jalak Bali, sehingga dapat menjadi daya tarik ekowisata (Made Bombom Widana. FNPF. Kom.Pri).

Pada tahun 2012-2013, keberadaan Jalak Bali bertambah 4 lokasi (Lembongan, Pura Puaji, Biaung, dan Sebunibus) tetapi di Batumadeg tidak ditemukan burung tersebut lagi. Pada tahun 2012-2013 keberadaan Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida terdapat pada 10 lokasi, yaitu FNPF, Pura Penataran Ped, Pura Dalem ungkut, Pura Puseh, Sental Kawan, Pura Tinggar, Lembongan, Pura Puaji, Biaung, dan Sebunibus (Gambar d). Dengan demikian pada tahun 2012-2013, keberadaan Jalak Bali lebih banyak dibandingkan tahun 2008-2011 yang hanya 7 lokasi.

Pada tahun 2014 keberadaan Jalak Bali bertambah 2 lokasi, yaitu Sental Kangin dan Penida. Sental Kangin (134 m dpi) terletak 300 m selatan Sental Kawan, dan 300 m tenggara Pura Puseh. Diduga Jalak Bali di daerah tersebut berasal Sental Kawan dan Pura Puseh. Selain itu, Penida (15 m dpi) terletak 1.000 m barat Sebunibus. Dua ekor Jalak Bali di daerah tersebut adalah burung pelepasliaran oleh Menteri Kehutanan Republik Indonesia pada tanggal 31 Desember 2013.

Keberadaan Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida pada tahun 2014 terdapat di FNPF, Pura Penataran Ped, Pura Dalem Bungkut, Pura Puseh, Pura Tinggar, Sental Kawan, Lembongan, Pura Puaji, Biaung, Sebunibus, Sental Kangin, dan Penida (Gambar 6e). Jadi pada tahun 2014, keberadaan Jalak Bali pada 12 lokasi lebih luas dibandingkan tahun 2012-2013 yang hanya 10 lokasi.

(p.41) Pada tahun 2015 terdapat dua lokasi baru Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida, yaitu di Klibun dan Sakti. Klibun terletak 200 m tenggara Pura Puseh. Diduga Jalak Bali di Klibun berasal dari Pura Puseh. Sementara itu, Sakti terletak 500 m ke arah barat dari Sebunibus. Diduga Jalak Bali di Sakti berasal dari Sebunibus dan Biaung. Pada bulan Januari 2014, piyik Jalak Bali di Biaung mati dimangsa biawak (Varanus salvator). Akibat gangguan biawak tersebut, Jalak Bali pindah dari Biaung dan diduga ke Sakti yang berjarak sekitar 500 m ke arah barat.

Pada tahun 2015 keberadaan Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida terdapat di 12 lokasi, yaitu FNPF, Pura Penataran Ped, Pura Dalem Bungkut, Pura Puseh, Pura Tinggar, Sental Kawan, Lembongan, Pura Puaji, Sental Kangin, Penida, Sakti, dan Klibun (Gambar 6f). Selain itu, masih ada beberapa ekor Jalak Bali di sekitar Pura Puseh dan Klibun yang belum diketahui lokasi tinggalnya.

Dugaan Schmidt (1983) bahwa Jalak Bali pernah hidup di Pulau Nusa Penida adalah tidak benar. Berdasarkan wawancara dengan masyarakat di sekitar Pulau Nusa Penida, yaitu: Kotamadya Denpasar, Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar, Kabupaten Klungkung, dan Kabupaten Karangasem. Pada daerah-daerah tersebut tidak pernah ditemui Jalak Bali. Diduga distribusi Jalak Bali hanya di Kabupaten Buleleng, Tabanan, dan Jembrana. Sebelumnya di Kepulauan Nusa Penida tidak pernah ditemukan Jalak Bali, sampai FNPF melepasliarkan pada tahun 2006.

Di Kepulauan Nusa Penida, yang disebut Curik Nusa adalah Sturnus melanopterus (Jalak putih), bukan Jalak Bali. Jalak putih sekarang masih terdapat di Pura Puaji (Pulau Nusa Lembongan) dan Pura Dalem Bungkut (Pulau Nusa Penida). (p.42) Menurut Collar dkk. (2001), distribusi Jalak putih di Pulau Nusa Penida adalah di Pundukaja, Karang Jawa, Sekartaji, Tanglad, dan di Pulau Nusa Ceningan.

Pada tahun 2006, di Batumadeg dilepasliarkan Jalak Bali sebanyak 25 ekor. Berdasarkan pengamatan pada tahun 2006-2008 terdapat 10 pasang Jalak Bali di Batumadeg yang berkembang biak. Sebaliknya, pada tahun 2009 Jalak Bali di Batumadeg tinggal 11 ekor (Sudaryanto, 2010) dan pada tahun 2013 di Batumadeg sudah tidak terdapat Jalak Bali (Riany dan Aunurohim, 2013). Hal tersebut diduga karena lokasi Batumadeg yang berada di 239 m dpi terlalu tinggi bagi Jalak Bali, sehingga burung tersebut berpindah ke Biaung (105 m dpi), dan Sebunibus (155 m dpi).

Tercatat tahun 2012-2014, Jalak Bali di Sebunibus tidak berkembang biak. Bahkan, pada tahun 2015 Jalak Bali meninggalkan Sebunibus. Sebaliknya, Jalak Bali di Sental Kangin (134 m dpi), pada tahun 2014 berkembang biak sebanyak tiga kali. Oleh karena itu, diduga habitat yang sesuai untuk Jalak Bali adalah pada ketinggian 0-134 m dpi. Menurut Van Balen dkk. (2000) dan Prana dkk. (2006), Jalak Bali adalah burung dataran rendah, tetapi dapat hidup di ketinggian 150-250 m dpl.

Distribusi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida tahun 2006-2015 bertambah banyak. Pada tahun 2006 hanya pada 3 lokasi, tahun 2015 meluas paling sedikit menjadi 12 lokasi. Di samping itu ditemui kelompok baru Jalak Bali di sekitar Pura Puseh dan Klibun. Bertambahnya cacah individu Jalak Bali, menyebabkan terjadinya kompetisi dalam suatu kelompok (kompetisi intraspesies). Kelompok baru Jalak Bali dibentuk 2 sampai 4 ekor burung. Jarak (p.43) antara lokasi lama dengan lokasi baru antara 100-300 m. Jalak Bali mudah mendapatkan lokasi baru karena vegetasi penghasil makanan burung tersebar merata dan makanannya tersedia sepanjang tahun.

Jadi hipotesis terbukti bahwa di Kepulauan Nusa Penida lokasi Jalak Bali bertambah banyak. Masyarakatnya taat pada awig-awig sehingga keamanan burung terjamin dan vegetasi di Kepulauan Nusa Penida tersedia pakan sepanjang tahun.

B. Populasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida

Pada tahun 2014, keberadaan Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida terdapat 12 lokasi, yaitu di Sental Kawan, Sental Kangin, Pura Puseh, Pura Penataran Ped, FNPF, Pura Dalem Bungkut, Pura Tinggar, Biaung, Sebunibus, Lembongan, dan Pura Puaji (Gambar 7, Tabel 6).

Pada bulan Januari 2014, fluktuasi populasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida bertambah 15 ekor.Tiga belas ekor Jalak Bali menetas, yaitu di Pura Penataran Ped (2 ekor), Banjar Sental Kawan (2 ekor), Pura Puseh (2 ekor), FNPF (1 ekor), Pura Dalem Bungkut (4 ekor), dan Lembongan (2 ekor). Di Penida ditemukan 2 ekor Jalak Bali, yang dilepasliarkan oleh Menteri Kehutanan pada tanggal 31 Desember 2013. Jadi pada bulan Januari 2014, cacah individu Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida mencapai 48 ekor (Tabel 6).

Pada bulan Maret 2014, ditemukan lokasi baru Jalak Bali di Sental Kangin. Sental Kangin (134 m dpi) terletak 300 m selatan Sental Kawan, dan 300 m tenggara Pura Puseh. Di Sental Kangin ditemukan empat ekor Jalak Bali, diduga burung tersebut berasal dari Sental Kawan atau Pura Puseh. Pada bulan (p44) Maret 2014, cacah individu Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida mencapai 52 ekor (Tabel 6).

Pada bulan Oktober 2014, fluktuasi populasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida bertambah 8 ekor. Jalak Bali di FNPF menetas 2 ekor, dan di Pura Puaji menetas 2 ekor. Selain itu, pada tanggal 18 Oktober 2014 Bupati Klungkung dan wisatawan kapal pesiar The National Geographic Orion, melepasliarkan 4 ekor Jalak Bali di Pura Penataran Ped. Burung tersebut kemudian terbang berputar-putar di sekitar Pura Penataran Ped mencari habitat yang sesuai. Pada tanggal 19 Oktober 2014 burung-burung tersebut hinggap di Pura Puseh, dan bergabung dengan kelompok Jalak Bali yang ada di tempat tersebut. Jadi, pada bulan Oktober 2014, cacah individu Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida ada 60 ekor (Tabel 6).

Pada bulan Januari 2015, fluktuasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida bertambah 6 ekor.Yaitu di FNPF (2 ekor), Klibun (1 ekor), Sental Kangin (2 ekor), dan Sental Kawan (1 ekor). Pada bulan Januari 2015, cacah individu Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida ada 66 ekor (Tabel 6).

Pada bulan Juni-Juli 2014, Kepulauan Nusa Penida merupakan musim berbiak bagi Jalak Bali, tetapi gagal. Pada tanggal 6 Juli 2014, dari 2 sarang Jalak Bali di FNPF, ditemukan 1 ekor piyik mati dan 3 telur gagal menetas. Diagnosis dokter hewan, piyik burung tersebut tidak tahan dingin karena suhu lingkungan terlalu rendah. Hal ini terjadi sebagai dampak badai Rammasum di Filipina, suhu di Kepulauan Nusa Penida turun drastis menjadi 18°C, lebih rendah dari suhu terendah 23°C (Lampiran 1). Diduga empat pasang Jalak Bali juga gagal berkembangbiak, yaitu di Sental Kangin, Pura Puseh, dan Pura Puaji. Jalak Bali yang sebelumnya telah mengeram di sarang buatan, kemudian pergi meninggalkan sarang.

sudar16 tabel 6

Tabel 6. Cacah individu Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida Desember 2013-Januari 2015

(p.45) Cacah individu Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida dari tahun 2006-2015 berfluktuasi 19-84 ekor. Cacah individu Jalak Bali paling banyak tahun 2009, yaitu 84 ekor, diduga terdiri dari Jalak Bali induk 53 ekor dan burung anakan 31 ekor. Pada Januari 2015 Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida ada 66 ekor, dan merupakan burung generasi kedua atau ketiga (Gambar 7).

Jalak Bali yang dilepasliarkan di Kepulauan Nusa Penida antara tahun 2006-2014 sebanyak 61 ekor dan mati empat ekor (Tabel 5). Hal tersebut dapat diketahui karena pada kaki burung-burung tersebut dipasang cincin. Cacah individu Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida paling banyak tahun 2009 yaitu 84 ekor dan paling sedikit tahun 2010 hanya 19 ekor (Gambar 7). Umur Jalak Bali di alam kira-kira tujuh tahun (Anonymous, 2014b), sedangkan burung tersebut (p.46) ketika dilepasliarkan di Kepulauan Nusa Penida kira-kira berumur 1-2 tahun. Pada tahun 2009, diduga cacah individu induk Jalak Bali 57 ekor dan anakan 27 ekor. Pada tahun 2010, cacah individu Jalak Bali paling sedikit. Diduga induk Jalak Bali yang dilepasliarkan tahun 2006-2007 sudah mati atau ada kelompok burung tersebut yang tidak diketahui lokasinya. Pada bulan Januari 2015, cacah individu Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida menjadi 66 ekor. Burung-burung tersebut merupakan burung generasi kedua atau ketiga.

Selama ini, di Kepulauan Nusa Penida jika ditemukan piyik Jalak Bali yang jatuh dari sarangnya, segera dibawa ke FNPF. Selain itu, kadang-kadang masyarakat yang melihat piyik tersebut segera lapor ke FNPF (Nengah Sudipa. FNPF. Kom. Pri). Selama ini belum ada masyarakat yang melaporkan menemukan bangkai Jalak Bali, kecuali yang tewas pada waktu pelepasliaran, yaitu 2 ekor di Batumadeg (10 Juli 2006) dan 2 ekor di Pelabuhan Kutampi (27 April 2007).

sudar16 gambar 7

Gambar 7. Cacah individu Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida tahun 2006-2015

(p.47) Diduga bangkai Jalak Bali dimakan anjing atau biawak. Bisa juga bangkai Jalak Bali tersebut terdapat di wanatani sehingga tidak ditemukan, atau masyarakat yang menemukan bangkai tersebut takut melaporkan.

Dari tahun 2006-2015 cacah individu Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida, bertambah banyak. Pada pelepasliaran tahun 2006-2009 berjumlah 49 ekor dan pada bulan Januari 2015 bertambah menjadi 66 ekor, dan ini merupakan generasi kedua atau ketiga. Keberhasilan ini didukung adanya awig-awig yang melindungi Jalak Bali, dan ketersediaan makanan sehingga burung tersebut dapat berkembang biak tiga kali dalam satu tahun. Populasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida memenuhi batas minimal MVP dari Shaffer, dan Ne dari Franklin. yaitu 30 ekor (Van Balen dan Gepak, 1994). Namun sayang, keberadaan burung-burung tersebut tersebar di 12 lokasi, dan masing-masing lokasi tidak ada yang memenuhi batas minimal MVP dan Ne. Akibatnya, pada masing-masing lokasi dapat terjadi perkawinan sedarah (inbreeding). Perkawinan sedarah menyebabkan terjadinya pertukaran gen antara induk dengan keturunannya, atau persilangan antar kerabat dekat. Hal ini cenderung memunculkan tekanan silang-dalam, ditandai oleh tingginya angka kematian, sedikitnya jumlah keturunan, dan munculnya keturunan yang lemah, steril, serta memiliki keberhasilan reproduksi yang rendah (Shaffer, 1981; Indrawan dkk., 2007; Frankhan dkk., 2014). Dengan demikian, konservasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida tersebut masih kurang sempurna.

Populasi Jalak Bali di Pulau Nusa Penida menunjukkan pola metapopulasi yang rumit. Satu populasi inti yang besar di FNPF, dan enam populasi satelit yaitu Pura Penataran Ped, Klibun, Pura Puseh, Sental Kawan, Sental Kangin dan Pura (p.48) Dalem Bungkut. Populasi inti yang besar di FNPF, tetap berhubungan dengan populasi satelitnya, sehingga bisa terjadi migrasi Jalak Bali diantara populasi inti dengan satelitnya.

Jadi, hipotesis terbukti, bahwa di Kepulauan Nusa Penida cacah individu Jalak Bali bertambah banyak. Masyarakatnya taat pada awig-awig, sehingga keamanan burung terjamin. Sampai saat ini, tidak ada kasus pencurian ataupun gangguan terhadap Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida. Buah dan serangga makanan Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida juga tersedia sepanjang tahun sehingga burung tersebut mudah berkembang-biak.

Hasil penelitian di TNBB pada 1-20 Desember 2014 menyebutkan distribusi Jalak Bali hanya ditemukan di Pos Lampu Merah TNBB, sedangkan di Pos Prapat Agung, Pos Teluk Brumbun, Pos Teluk Terima, dan Pos Cekik tidak ditemukan (Gambar 8). Jadi, cacah individu Jalak Bali di TNBB tahun 2014 hanya ada 4 ekor (Tabel 7). Pada tahun 1992 cacah individu Jalak Bali di TNBB 53 ekor, tersebar di Pos Prapat Agung, Pos Teluk Brumbun, Pos Lampu Merah, Pos Teluk Terima, dan Pos Cekik. Setelah itu, pada tahun 2001 hanya ada enam ekor Jalak Bali, tiga ekor di pos Brumbun, dan tiga ekor di Pos Lampu Merah (Gambar 2). Padahal di TNBB dari tahun 2001-2007 telah dilepasliarkan 95 ekor burung (Tabel 2). Diduga keadaan tersebut karena tingginya pencurian Jalak Bali di TNBB meskipun selama ini belum pernah ada pencuri yang dapat ditangkap. Pencurian Jalak Bali terjadi juga di Pos Brumbun, Pos Kotal, dan di Penangkaran Tegal Bunder, dan jumlahnya mencapai 87 ekor. Selama ini hanya dapat ditangkap dua orang penjual dua ekor Jalak Bali, di Hutan Asem Kembar TNBB (Tabel 1) (Anonymous, 2004).

sudar16 gambar 8

Gambar 8. Lokasi penelitian distribusi Jalak Bali di TNBB (Sumber peta: Van Balen dkk. 2000) Keterangan: 1. Kantor TNBB Cekik, 2. Pos Prapat Agung, 3. Pos Lampu Merah, 4. Pos Teluk Brumbun, 5. Pos Teluk Terima

sudar16 tabel 7

Tabel 7. Hasil pengamatan distribusi dan cacah individu Jalak Bali. Catatan: Jumlah Jalak Bali di Pusat Penangkaran Tegal Bunder TNBB Tahun 2014 ada 114 ekor.

C. Analisis dan Profil Vegetasi Habitat Jalak Bali Di Kawasan Nusa Penida dan TNBB

Profil dan analisis vegetasi di Pulau Nusa Penida dilaksanakan di tiga lokasi, yaitu: (1) FNPF Ped (5 m dpi) yaitu daerah yang paling banyak cacah individu Jalak Bali di Kawasan Nusa Penida, (2) Sebunibus (155 m dpi) pada tahun 2014 (p.50) Profil dan analisis vegetasi di Pulau Nusa Penida dilaksanakan di tiga lokasi, yaitu: (1) FNPF Ped (5 m dpi) yaitu daerah yang paling banyak cacah individu Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida, (2) Sebunibus (155 m dpi) pada tahun 2014 merupakan lokasi tertinggi habitat Jalak Bali, (3) Batumadeg (239 m dpi) merupakan Kepulauan Jalak Bali pada tahun 2006-2010.

Studi profil vegetasi Jalak Bali di FNPF Ped meliputi: (a) vegetasi Jalak Bali bersarang dan mencari makan dan (b) vegetasi Jalak Bali tidur. Vegetasi Jalak Bali bersarang dan mencari makan, terdiri dari satu lapisan kanopi yang rapat dan tebal disusun oleh mangga (Mangifera indica), gamelina (Gmelina arborea), sengon (Albizia saman), bunut (Ficus glabella), nangka (Artocarpus heterophyllus), sandat (Cananga odorata), sirsat (Annona muricata), gamal (Glirisedia sepium), mengkudu (Morinda citrifolia). Vegetasi Jalak Bali tidur tersusun atas dua lapisan kanopi. Lapisan kanopi pertama disusun oleh jati (Tectona grandis), kelapa (Cocos nucifera), Ficus glabella, dan Mangifera indica; lapisan kanopi kedua disusun oleh talok (Muntingia calabura), dan Mangifera indica.

Studi profil vegetasi Jalak Bali bersarang dan mencari makan di FNPF (Gambar 8a). Tinggi pohon rata-rata 15,95 m, pohon tertinggi 20 m yaitu Mangifera indica dan Gmelina arborea. Tinggi cabang pertama rata-rata 4,3 m, lebar kanopi rata-rata 5,41 m, luas kanopi 28,19 m2, dan jeluk kanopi rata-rata 8,6 m (Gambar 17). Pohon yang rimbun, banyak kanopinya, yang rapat bersentuhan, bahkan saling tumpang tindih, yaitu Mangifera indica, Gmelina arborea, Albizia (p.51) saman, Ficus glabella, Artocarpus heterophyllus, Cananga odorata, Annona muricata, Glirisedia sepium, dan Morinda citrifolia. Jalak Bali mencari buah pada seluruh bagian kanopi. Selain itu, Jalak Bali juga mencari serangga dari puncak kanopi, seluruh bagian pohon, sampai ke serasah di lantai wanatani tersebut.

sudar16 gambar 9

Gambar 9. Profil habitat Jalak Bali di FNPF Desa Ped 5 m dpi. (a) vegetasi Jalak Bali bersarang dan mencari makan, (b) vegetasi Jalak Bali tidur. Vegetasi Jalak Bali bersarang dan mencari makan, merupakan satu lapisan kanopi yang disusun oleh: Mangifera indica, Gmelina arborea, Albizia saman, Ficus glabella, Artocarpus heterophyllus, Cananga odorata, Annona muricata, Glirisedia sepium, dan Morinda citrifolia. Susunan vegetasi Jalak Bali tidur, lapisan kanopi pertama disusun oleh: Tectona grandis, Cocos nucifera, Ficus glabella, dan Mangifera indica. Lapisan kanopi kedua disusun oleh: Mutingia calabura dan Mangifera indica. Sarang buatan Jalak Bali di pohon Artocarpus heterophyllus pada ketinggian 8 m, dan tidur di pohon Mangifera indica ketinggian 12 m.

sudar16 gambar 10

Gambar 10. Profil Habitat Jalak Bali bersarang, tidur, dan mencari makan. (a) Batumadeg (239m dpi), (b) Sebunibus (155m dpi). Vegetasi Jalak Bali mencari makan, tidur, dan bersarang di Batumadeg terdiri dari dua lapisan kanopi, lapisan kanopi pertama disusun oleh: Tectona grandis, Gliricidea sepium, Ficus glabella, Mangifera indica, Cocos nucifera, dan Tamarindus indica; lapisan kanopi kedua disusun oleh: Mangifera indica, dan Tamarindus indica. Vegetasi Jalak Bali mencari makan, dan tidur di Sebunibus terdiri dari dua lapisan kanopi, lapisan kanopi pertama disusun oleh: Ficus glabella, lapisan kanopi kedua disusun oleh Ficus glabella, Zizyphus mauritinia, Tectona grandis, Gliricidea sepium, Annona muricata. Jalak Bali bersarang dan tidur pada pohon Ficus glabella dengan ketinggian 12-18 m.

Studi profil vegetasi Jalak Bali tidur di FNPF (Gambar 8b) tinggi pohon rata-rata 8,7 m, tertinggi pohon jati (Tectona grandis) 19,6 m. Lebar kanopi rata-rata 3,9 m, panjang kanopi rata-rata 3,9 m, luas kanopi rata-rata 15,1 m2, dan jeluk kanopi rata-rata 8,6m. Pohon yang tidak begitu rimbun, kanopi bersentuhan, dan saling tumpang tindih, yaitu mangga (Mangifera indica), kelapa (Cocos nucifera), (p.53) dan Tectona grandis. Jalak Bali tidur pada pohon Mangifera indica, tinggi 12 m, panjang kanopi 6 m, lebar kanopi 5 m, jeluk kanopi 7 m, dan luas kanopi 30 m. Tectona grandis adalah pohon stagging free. Stagging free adalah pohon terakhir burung hinggap, sebelum terbang ke pohon tempatnya tidur. Selain itu, staging tree juga merupakan pohon pertama burung hinggap setelah terbang dari pohon tempatnya tidur. Pada pagi hari di pohon stagging tree Jalak Bali berkicau, berjemur, menelisik bulu, dan bobbing.

Profil vegetasi Jalak Bali mencari makan, tidur, dan bersarang di Batumadeg (239 m dpi) disusun oleh dua lapisan kanopi. Lapisan kanopi pertama disusun oleh Tectona grandis, Gliricidea sepium, Ficus glabella, Mangifera indica, Cocos nucifera, Tamarindus indica; lapisan kanopi kedua disusun oleh Mangifera indica, dan Tamarindus indica. Profil vegetasi Jalak Bali bersarang, tidur, dan mencari makan di Batumadeg (Gambar 9a): tinggi pohon rata-rata 15,65 m, pohon tertinggi 20 m yaitu Mangifera indica, dan Gmelina arborea. Tinggi cabang pertama rata-rata 4,5 m. Lebar kanopi rata-rata 5,11 m, panjang kanopi rata-rata 5,20 m, luas kanopi rata-rata 26,57 m, dan jeluk kanopi rata-rata 8,2 m (Gambar 12). Banyak pohon yang kanopinya rapat bersentuhan, bahkan saling tumpang tindih, yaitu Mangifera indica, Ficus glabella, Tectona grandis, dan Cocos nucifera. Jalak Bali mencari buah pada lapisan pertama, dan lapisan kedua. Selain itu, Jalak Bali mencari serangga dari lapisan pertama sampai ke serasah di lantai hutan pemukiman tersebut. Pohon yang dipakai Jalak Bali bersarang dan tidur adalah Ficus glabella dengan tinggi 17-19 m.

Profil vegetasi Jalak Bali mencari makan, dan tidur di Sebunibus 155 m dpi (Gambar 9b) terdiri atas dua lapisan kanopi. Lapisan kanopi pertama disusun (p.54) oleh Ficus glabella, dan Tectona grandis, lapisan kanopi kedua disusun oleh Ficus glabella, Zizyphus mauritinia, Tectona grandis, Gliricidia sepium, dan Annona muricata.Tinggi pohon rata-rata 10 m dan pohon tertinggi 18 m yaitu Ficus glabella.

sudar16 gambar 11

Gambar 11. Profil vegetasi di Pulau Nusa Ceningan (185 m dpi) lapisan kanopi pertama disusun oleh: Ficus glabella, Tectona grandis, dan Mangifera indica; lapisan kanopi kedua disusun oleh: Ficus glabella, Tectona grandis, dan Mangifera indica

Tinggi cabang pertama rata-rata 1,5 m, lebar kanopi rata-rata 2,73 m, panjang kanopi rata-rata 3,28 m, luas kanopi rata-rata 9,13 m2, dan jeluk kanopi rata-rata 2,13m (Gambar 12). Pohon-pohon yang kanopinya bersentuhan sedikit (p.55) atau yang kanopinya saling tumpang tindih hanya beberapa, yaitu Ficus glabella, dan bekul (Ziziphus mauritinia). Jalak Bali mencari buah pada lapisan kanopi pertama dan lapisan kanopi kedua. Selain itu, Jalak Bali mencari serangga dari lapisan kanopi pertama sampai ke serasah di lantai wanatani tersebut. Pohon yang dipakai Jalak Bali tidur adalah Ficus glabella pada ketinggian 14-18 m.

Studi profil vegetasi di Pulau Nusa Ceningan terdiri dari dua lapisan kanopi. Lapisan kanopi pertama disusun oleh Ficus glabella, Tectona grandis, Mangifera indica, lapisan kanopi kedua disusun oleh Ficus glabella, Tectona grandis, dan Mangifera indica. Profil vegetasi di Pulau Nusa Ceningan (Gambar 10) tinggi pohon rata-rata 15,6 m; pohon tertinggi 20 m, yaitu Tectona grandis. Tinggi cabang pertama rata-rata 3,84 m. Lebar kanopi rata-rata 2,56 m, panjang kanopi rata-rata 2,78 m, luas kanopi rata-rata 5,28 m, dan jeluk kanopi rata-rata 2,56 m (Gambar 12). Pohon berjauhan, sehingga kanopi jarang bersentuhan. Di Pulau Nusa Ceningan belum pernah ditemukan Jalak Bali.

Selanjutnya, studi profil vegetasi di pos Cekik TNBB terdiri atas dua lapisan kanopi. Lapisan kanopi pertama disusun oleh kemloko (Phyllanthus emblica), pilang (Acacia leucophloea), lontar (Borassus flabellifer), lapisan kanopi kedua disusun oleh Phyllanthus emblica, dan Acacia leucophloea. Profil vegetasi di pos cekik TNBB (Gambar 11a) tinggi pohon rata-rata 16,64 m, pohon tertinggi 20 m yaitu Azadirachta indica. Tinggi cabang pertama rata-rata 2,79 m. Lebar kanopi rata-rata 4 m, panjang kanopi rata-rata 4,71 m, luas kanopi rata-rata 18,9 m, dan jeluk kanopi rata-rata 12,07 m (Gambar 12). Banyak pohon yang kanopinya rapat, yaitu Phyllanthus emblica, Acacia leucophloea, dan Borassus flabellifer.

sudar16 gambar 12

Gambar 12. Profil vegetasi Jalak Bali di (a) Pos Cekik dan (b) Pos Lampu Merah TNBB. (a) Susunan vegetasi di Pos Cekik TNBB (20 m dpi) lapisan pertama Phyllanthus emblica, Acacia leucophloea, Borassus flabellifer; lapisan kedua Phyllanthus emblica, Acacia leucophloea. (b) Susunan vegetasi di Pos Lampu Merah TNBB (25 m dpi) lapisan pertama: Azadirachta indica, Acacia leucophloea; lapisan kedua Azadirachta indica, Acacia leucophloea; Ziziphus mauritinia, Acacia araria. Jalak Bali bersarang dan tidur di Pos Lampu Merah TNBB pada pohon Acacia leucophloea dengan tinggi 15-19 m. Di Pos Cekik TNBB saat ini tidak ada Jalak Bali, tetapi dulu ada. TNBB merencanakan pelepasliaran Jalak Bali yang akan datang di Pos Cekik TNBB.

sudar16 gambar 13

Gambar 13. Rata-rata tinggi total, tinggi cabang pertama, jeluk kanopi, lebar kanopi, luas kanopi. 1) FNPF, 2) Batumadeg, 3) Sebunibus, 4) Pulau Nusa Ceningan, 5) Pos Cekik TNBB, 6) Pos Lampu Merah TNBB

Selanjutnya, studi profil vegetasi Jalak Bali mencari makan, dan tidur di pos Lampu Merah TNBB (Gambar 1 lb) terdiri dari dua lapisan kanopi. Lapisan kanopi pertama disusun oleh: intaran (Azadirachta indica), pilang (Acacia leucophloea), dan suli (Acacia araria); lapisan kanopi kedua disusun oleh Azadirachta indica, Acacia leucophloea, Acacia araria, dan bekul (Ziziphus mauritinia). (p.58) Tinggi pohon rata-rata 14,6 m, pohon tertinggi 20 m yaitu Azadirachta indica, dan Acacia leucophloea. Tinggi cabang pertama rata-rata 2,54 m, panjang dan lebar kanopi rata-rata 4,23 m, luas kanopi 17,9 m2, dan jeluk kanopi rata-rata 8,07 m (Gambar 12). Kanopi pohon sedikit bersentuhan, yang tumpang tindih adalah Azadirachta indica dan Acacia leucophloea. Jalak Bali tidur pada pohon Acacia leucophloea dengan ketinggian 17-20 m.

Dengan demikian, studi profil vegetasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida menunjukkan bahwa lapisan kanopi di FNPF (Gambar 8) tersusun satu lapisan kanopi, saling tumpang tindih, dan sangat rapat. Studi profil vegetasi Jalak Bali di Batumadeg (Gambar 9a) tersusun dua lapisan kanopi. Lapisan pertama kanopi saling tumpang tindih dan rapat, sedangkan lapisan kanopi kedua tidak tumpang tindih, dan tidak rapat. Studi profil vegetasi Jalak Bali di Sebunibus (Gambar 9b), tersusun dua lapisan kanopi. Lapisan kanopi pertama dan lapisan kanopi kedua tidak tumpang tindih serta tidak rapat. Studi profil vegetasi di Pulau Nusa Ceningan (Gambar 10), tersusun dua lapisan kanopi. Lapisan kanopi pertama dan lapisan kanopi kedua saling berjauhan.

Rapat tidaknya kanopi mempengaruhi keberadaan Jalak Bali di tempat tersebut. FNPF adalah habitat Jalak Bali dari tahun 2006 sampai sekarang dan cacah individunya paling banyak. Selain itu, Batumadeg adalah habitat Jalak Bali dari tahun 2006-2012. Selanjutnya, Sebunibus adalah habitat Jalak Bali dari tahun 2012-2014. Sebaliknya, Pulau Nusa Ceningan tidak pernah terdapat Jalak Bali.

sudar16 gambar 14

Gambar 14. Analisis vegetasi habitat Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida dan TNBB. (a) Sebunibus didominasi Anona muricata, (b) Batumadeg didominasi Mangifera indica, (c) FNPF didominasi Ficus glabella, (d) Lampu Merah TNBB didominasi Muntingia calabura.

sudar16 gambar 15

Gambar 15. Jumlah vegetasi dan Index Keanekaragman di Kepulauan Nusa Penida dan TNBB. (a) cacah individu vegetasi per 1.600m2 FNPF 60 pohon, Sebunibus 56 pohon, Batumadeg 93 pohon, Nusa Ceningan 54 pohon, Cekik TNBB 98 pohon, Lampu Merah TNBB 124 pohon, (b) jumlah jenis vegetasi per lokasi FNPF 22 jenis, Sebunibus 3 jenis, Batumadeg 5 jenis, Nusa Ceningan 3 jenis, Cekik TNBB 13 jenis, Lampu Merah TNBB 16 jenis, (c) indeks keanekaragaman jenis (H') FNPF 2,69, Sebunibus 1,1, Batumadeg 1,68, Nusa Ceningan 0,84, Cekik TNBB 2,14, Lampu Merah TNBB 1,85

sudar16 tabel 9

Tabel 9. Dominansi jenis pada masing-masing lokasi. Keterangan: dR: densitas relatif; LkR: kerapatan relatif; LBAR: basal area relatif; fR: frekuensi relatif.; NP: nilai penting

(p.62) Keberadaan Jalak Bali di suatu lokasi juga dipengaruhi faktor keamanan. Contohnya di Pos Cekik TNBB (Gambar 11a), meskipun kanopi lebih rapat, dan sampai tahun 1980an masih terdapat Jalak Bali (Van Balen dkk., 2000). Akan tetapi, diduga Jalak Bali di Pos Cekik TNBB berpindah ke Pos Lampu Merah TNBB (Gambar lib). Hal ini terjadi karena Jalak Bali di Pos Lampu Merah kurang ada gangguan.

Di Pulau Nusa Penida, habitat Jalak Bali pada wanatani, yaitu pada 105 jenis tumbuhan (Ginantra dkk., 2009), terutama pada 27 jenis tumbuhan, antara lain bunut, ancak (Ficus rumphii), talok, jati, mangga, dan kelapa (Sudaryanto dkk., 2015). Pada pohon-pohon tersebutlah biasanya Jalak Bali mencari makan, tidur, dan bersarang.

Pohon bunut (Ficus glabella) dominan di FNPF, Sebunibus, dan Batumadeg. Pada musim buah, buah bunut adalah makanan utama Jalak Bali. Selain itu, pada pohon bunut terdapat banyak serangga makanan Jalak Bali. Pada pohon bunut terdapat lubang-lubang, yang digunakan Jalak Bali sebagai sarang alami. Di sisi lain, pohon bunut sangat penting bagi masyarakat Pulau Nusa Penida, karena daunnya dipakai sebagai makanan ternak. Ketika musim kemarau, pada saat daun-daun makanan ternak sudah habis, kemudian daun bunut yang dimanfaatkan. Oleh karena itu, masyarakat Pulau Nusa Penida sangat menjaga keberadaan pohon bunut.

Tingkat kesamaan jenis vegetasi (indeks similaritas Sorensen) antara FNPF dengan Batumadeg 41,38%, dengan Pulau Nusa Ceningan 24%, dan dengan Sebunibus 22,22% (Tabel 8). Sehingga dapat diketahui bahwa sebagian kombinasi stasiun pengamatan yang diperbandingkan mempunyai indeks (p.63) similaritas yang rendah, yaitu < 50%. FNPF dengan Batumadeg mempunyai indeks similaritas Sorensen yang tinggi dan memberikan indikasi bahwa komposisi spesies yang menyusun komunitas tersebut relatif sama meskipun nilai IS >50%. Dengan demikian, pelepasliaran Jalak Bali tahun 2006-2007 sudah betul dilaksanakan di FNPF dan Batumadeg. FNPF dengan Pulau Nusa Ceningan mempunyai indeks similaritas Sorensen24%, sedangkan FNPF dengan Sebunibus mempunyai indeks similaritas Sorensen 22,2%, tetapi di Pulau Nusa Ceningan tidak pernah terdapat Jalak Bali.

Pada tahun 2014, Pos Lampu Merah TNBB merupakan satu-satunya lokasi Jalak Bali di TNBB dan ditemukan 4 ekor. Di lokasi ini ditemukan 16 jenis pohon (Gambar 13b), dan didominasi pohon talok. Di Pos Cekik TNBB dulu merupakan lokasi Jalak Bali, dan rencananya menjadi lokasi pelepasliaran burung tersebut. Di lokasi ini ditemukan 13 jenis pohon (Gambar 13a), dan yang dominan pohon kemloko. Selain itu, di Pos Cekik TNBB dengan Pos Lampu Merah TNBB mempunyai indeks similaritas Sorensen 62,07% (Tabel 8). Jadi, Pos Lampu Merah TNBB dengan Pos Cekik TNBB memang sesuai untuk habitat Jalak Bali.

Kondisi vegetasi habitat Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida, terutama berupa wanatani (agroforestry), sesuai untuk tinggal, mencari makan, dan bersarang. Jadi, hipotesis yang ketiga terbukti bahwa vegetasi Kepulauan Nusa Penida sesuai untuk Jalak Bali. Adanya awig-awig yang melindungi burung di Kepulauan Nusa Penida membuat tidak ada yang berani mengganggu Jalak Bali di daerah tersebut.

Dengan demikian kondisi vegetasi habitat di TNBB sesuai untuk tinggal, mencari makan, dan bersarang Jalak Bali. Jadi, hipotesis terbukti bahwa (p.64) sebenarnya vegetasi TNBB sesuai untuk Jalak Bali, tetapi tidak ada awig-awig yang melindunginya. Hal tersebut diduga menjadi salah satu sebab banyaknya terjadi pencurian Jalak Bali di TNBB.

sudar16 gambar 16

Gambar 16. Perilaku Harian Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida. (a) bulan November-Januari, (b) bulan Februari-Juni, (c) bulan Juli-Oktober

sudar16 gambar 16a

Gambar 16a. Jalak Bali makan: (a) buah pepaya (Foto Nengah Sudipa FNPF, 17 Desember 2013, Lokasi FNPF); (b) buah sirsak (Foto Sudaryanto, 9 September 2014, Lokasi FNPF); (c) rayap di serasah (Foto Sudaryanto, 4 Agustus 2014, Lokasi FNPF); (d) rayap di pohon trembesi (Foto Sudaryanto, 4 Agustus 2014, Lokasi FNPF); (e) rayap di pohon waru (Foto Sudaryanto, 19 September 2014, Lokasi: FNPF); (f) rayap di pohon jati (Foto Sudaryanto, 19 September 2014, Lokasi: FNPF).

sudar16 gambar 17

Gambar 17. Jalak Bali makan dan minum: (a) makan belalang (Foto Nengah Cok FNPF, 14 September 2014, Lokasi FNPF); (b) makan lalat (Foto Made Damaianto FNPF, 21 Februari 2015, Lokasi Klibun); (c) Jalak Bali minum nektar (Foto Sudaryanto, 25 Oktober 2014, Lokasi FNPF); (d) Jalak putih minum nektar (Foto Sudaryanto, 25 Oktober 2014, Lokasi FNPF); (e) Jalak Bali minum (Foto Sudaryanto, 4 Juni 2014, Lokasi FNPF); (f) Jalak Bali dengan tekukur biasa berebut mandi (Foto Sudaryanto, 4 Juni 2014, Lokasi FNPF)

sudar16 gambar 18

Gambar 18. Sarang Jalak Bali: (a) Jalak Bali menyelipkan plastik di paruhnya untuk bahan membuat sarang (Foto Sudaryanto, 14 September 2014, Lokasi FNPF); (b) Jalak Bali di sarang buatan (nest box) (Foto Sudaryanto, 20 September 2014, Lokasi FNPF); (c) Sarang alami Jalak Bali pada pohon aren (Arenga pinnata) (Foto Sudaryanto, 19 Juni 2009, Lokasi Batumadeg); (d) Sarang alami Jalak Bali pada pohon angih (Ficus spj (Foto Nengah Sudipa, 21 Desember 2013, Lokasi Pura Puseh).

sudar16 gambar 20

Gambar 20. Penggunaan vegetasi oleh Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida

sudar16 gambar 25

Gambar 25. Daerah jelajah Jalak Bali di Kawasan Nusa Penida dengan luas 5,79 ha; Keterangan: (1) kantor FNPF, (2) pohon mangga (tempat Jalak Bali tidur) 8°40' 33,93"LS; 115°30' 46,61"BT 3 m dpi, (3). pohon jati 8°40' 34,31"LS; 115°44,01' 50"BT 7,4 m dpi, (4) kandangsapi 8°40' 36,17"LS; 115°30' 44,55"BT 12 m dpi, (5) pohon jati 8°40' 43.67"LS; 115°30' 49,38"BT 15 m dpl.,(6)pohon talok 8°40'43,39"LS; 115°30' 50,43"BT 13 m dpi, (7) pohon duwet 8°40' 37,81"LS; 115°30' 52,19"BT n7 m dpi, (8) pohon nangka (tempat Jalak Bali bersarang) 8°40' 36,2"LS; 115°30' 50,87"BT 4 m dpi.

1. Aktivitas Jalak Bali memakan buah

Pada bulan November-Januari 31%, Februari-Juni 16,45%, dan Juli- Oktober 3,9% (Gambar 15). Buah yang dimakan adalah pepaya (Carica papaya) (Gambar 16a), bunut (Ficus glabella), juwet (Syzygium cumini), talok (Muntingia calabura), mangga (Mangifera indica), sirsak (Annona muricata) (Gambar 16b), dan tembelekan (Lantana camara). Winter dkk., (2003) mengatakan, buah-buahan merupakan salah satu faktor penting bagi produktivitas berkembang biak burung.

Selanjutnya, perilaku Jalak Bali memakan serangga, pada bulan November-Januari 5,8%, Februari-Juni 17,8%, dan Juli-Oktober 14% (Gambar 15). Serangga yang dimakan adalah larva dan telur semut angkrang (Oecophylla smaragdina), rayap (Coptotermes curvignathus) (Gambar 16 c,d,e,f), belalang (Valanga nigricornis) (Gambar 17a), lalat sapi (Sarcophaga aurifrons), dan lalat rumah (Musca domestica) yang terdapat pada sapi (Gambar 17b). Serangga- serangga tersebut pada umumnya terdapat pada pohon (Gambar 24) jambu monyet (Anacardium occidentale), bamboo (Dendrocalamus asper), jambu air (Syzygium aqueum), jati (Tectona grandis), mangga, bunut, nangka, juwet, kelor (Moringa oleifera), kelapa (Cocos nucifera), asam (Tamarindus indica), bekul (Ziziphus muritiana), sirsak, asam kranji (Dialium indum), kayu santen (Lannea coromandelica), dan trembesi (Albizia zaman). Cueto dan De Casenavei (2002) menyatakan bahwa anggota Ordo Passeriformes, berdasarkan cara mencari makan dikelompokkan menjadi dua (1) aerial foragers, yaitu memakan mangsanya langsung di udara dan (2) non aerial foragers, yaitu mencari dan memakan mangsanya dengan meloncat di ranting dan cabang pohon. Perilaku Jalak Bali (p.72) memakan serangga termasuk non aerial foragers, yang menangkap serangga mulai dari puncak kanopi pohon sampai ke serasah di lantai wanatani.

Perilaku Jalak Bali minum nektar pada bulan November-Januari 0%, Februari-Juni 5,4%, dan Juli-Oktober 14% (Gambar 15). Jalak Bali minum nectar bunga ki acret (Spathodea campanulata) (Gambar 17c, 24), antara pukul 06.00 - 08.00. Selain itu, ada burung lain yang mencari nektar, yaitu Jalak putih (Sturnus melanopterus) (Gambar 17d), Kerak kerbau (Acridotheres javanicus), dan Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster). Dengan demikian, pernyataan Riany dan Aunurohim (2013), bahwa Jalak Bali minum air yang terdapat pada bunga ki acret adalah tidak benar.

Selanjutnya adalah perilaku menelisik bulu. Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida melakukan perilaku menelisik bulu (preening) sebanyak 7,8%-13,6% (Gambar 15). Perilaku preening bertujuan untuk membersihkan ektoparasit terutama pada bulu yang langsung terkena sinar matahari (Rozsa, 1993; Koop dkk., 2012). Namun, pada burung Wandering Albatross (Diomedea exulans) melakukan preening bertujuan untuk menarik lawan jenisnya (Pickering dan Berrow, 2001).

Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida melakukan perilaku menegakkan jambul sebanyak 7%-9% (Gambar 15). Menurut Graves (1990) dan Chaves (2006), perilaku menegakkan jambul adalah salah satu cara burung untuk menarik lawan jenisnya. Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida melakukan perilaku berkicau sebanyak 7%-9% (Gambar 15). Perilaku berkicau pada anggota Ordo Passeriformes adalah untuk menarik lawan jenisnya (Kroodsma dkk., 1987; Freeber, 1998; Pickering dan Berrow, 2001). Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida (p.73) melakukan perilaku head-bobbing atau bobbing sebanyak l,7%-7,5% (Gambar

15). Pada Jalak Bali dan Wandering Albatross, bobbing adalah untuk menarik lawan jenisnya (Pickering dan Berrow, 2001; Sudaryanto dkk,. 2015). Sebaliknya, perilaku bobbing pada beberapa burung yang lain adalah untuk menstabilkan gambar pada retina mata sehingga penglihatannya tidak kabur (Cronin dkk., 2005; Necker, 2007; Nyatakura dan Andrada, 2014).

Dapat disimpulkan bahwa perilaku preening, menegakkan jambul, berkicau, dan bobbing pada Jalak Bali bertujuan untuk menarik lawan jenisnya. Oleh karena itu, perilaku-perilaku tersebut terutama dilakukan menjelang musim reproduksi, yaitu bulan September, Mei, dan Desember. Perilaku-perilaku tersebut pada umumnya dilakukan Jalak Bali di stagging free, yaitu pohon jati. Pada waktu pagi hari setelah Jalak Bali terbang dari pohon mangga tempatnya tidur atau sore hari sebelum burung tersebut terbang ke pohon mangga tempatnya tidur.

Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida melakukan perilaku minum dan mandi antara pukul 15.00-16.00 sebanyak 0,3%-l,2%. Pada burung, minum berfungsi untuk metabolisme dan termoregulasi (Williams dan Koenig, 1979; Bizeray dkk., 2002). Perilaku mandi pada jenis-jenis burung bervariasi, tetapi fungsinya untuk termoregulasi dan membersihkan bulu dari ektoparasit (Verbeek, 1991; Negro dkk.,1999; Clayton dkk., 2010; Brooks, 2013).

Perilaku reproduksi burung terdiri atas perilaku membuat sarang, perilaku mengeram, dan perilaku mengasuh anak. Di Kepulauan Nusa Penida Jalak Bali membuat sarang bulan Januari, Juni, dan September sebanyak 2,4%-3,5% (Gambar 15), dengan cara menyelipkan ranting, daun kering, bahkan plastik di paruhnya dibawa masuk ke dalam sarang buatan (nest box) (Gambar 18a, b). (p.74). Selain menggunakan sarang buatan, Jalak Bali juga menggunakan sarang alami.

Sarang alami tersebut berupa lubang yang terdapat pada pohon aren (Arenga pinnata) (Gambar 18c), angih (Ficus sp) (Gambar 18d), pungak-pungak (Ficus sp), bunut (Ficus glabella), ancak (Ficus rumphii), asam (Tamarindus indica), api-api jambu (Avicennia marina), sukun (Artocarpus altilis), kampuak (Psidum sp), lamtara (Leucaena glauca), dan kelapa (Cocos nucifera).

Selanjutnya Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida melakukan perilaku mengeram, yaitu pada bulan Januari, Juni, dan September sebanyak 44,6%-52,3% (Gambar 15). Perilaku mengeram dilakukan bergantian antara Jalak Bali jantan dan betina. Jalak Bali yang tidak mengeram akan mencari makan atau menunggu di luar sarang. Perilaku mengeram dilakukan selama dua minggu. Setelah itu, Jalak Bali melakukan perilaku mengasuh anak pada bulan Januari dan September 2014 sebesar 11%-13% (Gambar 15). Pada bulan Juni 2014, di Kepulauan Nusa Penida ditemukan piyik Jalak Bali yang mati dan telur yang gagal menetas. Hal tersebut terjadi karena suhu yang sangat rendah yaitu 18° C, biasanya 23° C. Keadaan ini sebagai akibat adanya badai Rammasum di Filipina. Perilaku mengasuh anak berlangsung selama tiga minggu setelah anak burung menetas. Kedua induknya bergantian mencarikan makan. Setelah dua minggu, anak Jalak Bali baru keluar dari sarang, dan mulai belajar terbang, dan mencari makan.

Berdasarkan perilaku reproduksinya, perilaku Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida dapat dibagi menjadi tiga periode. Periode 1, bulan November-Januari, Periode 2, bulan Februari-Juni, dan Periode 3, bulan Juli-Oktober. Sementara itu, ditemukan sepasang Jalak Bali di FNPF melakukan kopulasi pada tanggal 10 Oktober 2016 pukul 17.44. Perilaku reproduksi ini juga berkaitan (p.75) dengan perilaku makan Jalak Bali. Pada periode pertama, Jalak Bali banyak memakan buah, periode kedua banyak memakan buah dan serangga, dan periode ketiga banyak makan serangga dan minum nektar. Dengan demikian, makanan Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida tersedia sepanjang tahun sehingga dapat bereproduksi tiga kali dalam satu tahun. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Winter dkk. (2003) bahwa produktivitas reproduksi burung adalah salah satu komponen paling penting dan sangat dipengaruhi oleh kualitas dan ketersediaan makanan. Di TNBB Jalak Bali hanya bereproduksi sekali dalam satu tahun, yaitu bulan Desember-Januari.

2. Daerah Jelajah Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida

Untuk mengetahui daerah jelajah Jalak Bali dilakukan dengan menghitung wilayah jelajah harian sepasang burung secara manual. Setelah terkumpul data 700 titik pengamatan, kemudian titik-titik yang terluar dihubungkan. Titik-titik tersebut merupakan diurnal activity center (DAC), yaitu daerah yang digunakan aktivitas oleh Jalak Bali pada siang hari. Wilayah jelajah (home range) adalah total luas DAC yang digunakan oleh burung tersebut (Odum dan Kuenzler, 1955; Yamagishi dan Ueda, 1986; Yap dan Charlotte, 2003; Tobler dan Smith, 2004).

Titik-titik terluar tersebut adalah 1) pohon mangga (tempat Jalak Bali tidur) 8°40' 33,93"LS; 115°30' 46,61"BT 3 m dpi; 2) pohon jati 8°40' 34,31"LS; 115° 30' 44,01' 50"BT 7,4 m dpi; 3) kandang sapi 8°40' 36,17"LS; 115°30' 44,55"BT 12 m dpi; 4) pohon jati8°40' 43.67"LS; 115°30' 49,38"BT 15 m dpi; 5) pohon talok 8°40'43,39"LS; 115°30' 50,43"BT 13 m dpi; 6) pohon juwet 8°40' (p.76) 37,81"LS; 115°30' 52,19"BT 7 m dpi; 7) pohon nangka (tempat Jalak Bali bersarang) 8°40' 36,2"LS; 115°30' 50,87"BT 4 m dpi (Gambar 20).

Daerah jelajah Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida seluas 5,79 ha. Wilayah jelajah tersebut terdiri atas wanatani (agroforestry) 4,29 ha (74,09%), kebun kelapa 0,5 ha (8,64%), dan areal perhotelan, yang antara lain terdiri dari kolam renang dan pohon-pohon talok dengan luas satu ha (17,27%). Aktivitas Jalak Bali terutama terutama berada di wilayah wanatani 94%, kebun kelapa 3%, dan areal perhotelan terutama pada pohon talok dan kolam renangnya 3%.

Luas daerah jelajah Jalak Bali di Pulau Nusa Penida 5,79 ha, sedangkan di TNBB 23 ha (Cahyadin, 1993). Hal tersebut terjadi karena di wanatani Pulau Nusa Penida lebih banyak terdapat makanan, misalnya pepaya (Gambar 16a), talok, juwet, bunut, mangga, sirsak (16b), tembelekan, larva dan telur semut angkrang, rayap (Gambar 16c,d,e,f), belalang (Gambar 17a), lalat sapi dan lalat rumah pada sapi (17b), nektar bunga ki acret (Gambar 17c). Lain halnya di TNBB, Jalak Bali hanya makan buah tembelekan, talok, dan kemloko (Phyllanthus emblica) (Sudaryanto dkk., 2015). Di daerah jelajah di Kepulauan Nusa Penida tersebut, pada tahun 2014 hanya terdapat 10 ekor, sedangkan tahun 2009 terdapat 29 ekor Jalak Bali (Sudaryanto, 2010).

Sebagai perbandingan, pada tahun 1988, daerah jelajah kerak kerbau atau jalak kerbau (Acridotheres javanicus) di Singapore dengan luas 14±5 ha, tetapi tahun 2003 hanya 4±1 ha. Hal tersebut terjadi karena kerak kerbau kalah bersaing dengan gagak rumah (Corvus enca) (Yap dan Charlotte, 2003). Sementara itu, luas daerah jelajah Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida lebih sempit daripada di TNBB. Hal tersebut terjadi karena di Kepulauan Nusa Penida lebih banyak (p.77) sumber makanan daripada di TNBB. Oleh karena itu, Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida tidak membutuhkan daerah jelajah yang luas untuk memenuhi kebutuhan makannya.

3. Interaksi Jalak Bali dengan Hewan-hewan Lainnya

Hasil penelitian tahun 2014, di Pulau Nusa Penida terdapat 80 jenis burung (Lampiran 9), salah satunya adalah Elang bondol (Haliastur Indus) yang merupakan predator Jalak Bali. Selama penelitian, Elang bondol terlihat beberapa kali melintas di Pulau Nusa Penida. Kompetisi interspesies terjadi antara Jalak Bali dengan Jalak putih (Sturnus melanopterus) dan kerak kerbau atau Jalak kerbau (Acridotheres javanicus) yang masih berkerabat dekat, yaitu persaingan untuk mendapakan sumber makanan dan lubang sarang. Perilaku agresif terjadi antara ketiga jenis tersebut pada waktu musim kawin. Kalau jumlahnya sama, Jalak Bali mampu mengusir kedua jenis burung tersebut. Hal ini terjadi di Pura Dalem Bungkut, ketika 8 ekor Jalak Bali berkompetisi dengan 8 ekor Jalak putih. Burung-burung yang berkompetisi dalam hal mencari makan dengan Jalak Bali adalah Pergam hijau (Ducula aenea) dan Kepudang kuduk-hitam (Oriolus chinensis). Selain itu, Jalak Bali berkompetisi dengan Cucak kutilang dalam hal mencari makan, minum dan mandi. Selanjutnya, Tekukur biasa (Streptopelia chinensis) berkompetisi dengan Jalak Bali dalam minum dan mandi (Gambar 21b).

Di samping itu, di Pulau Nusa Penida banyak terdapat biawak (Varanus salvator), yang merupakan predator anak Jalak Bali. Di Biaung pada bulan Januari 2014, satu ekor piyik Jalak Bali dimangsa biawak. Pada tahun 2007, di (p.78) Batumadeg Jalak Bali dimangsa ular sanca kembang (Python reticulatus). Sekarang ular tersebut jarang ditemukan, tetapi masih ada adalah ular pucuk (Ahaetulla nasuta), tikus rumah (Rattus rattus), dan tokek (Gecko gecko), yang diduga sering memakan telor Jalak Bali.

Pola makan Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida dapat dibagi menjadi tiga: November-Januari paling banyak makan buah, Februari-Juni makan buah dan serangga, dan Juli-Oktober makan serangga dan nektar. Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida setahun bereproduksi tiga kali, yaitu Januari, Juni, dan Oktober, sedangkan di TNBB hanya sekali Desember-Januari. Luas jelajah Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida 5,79 ha, dan sebagian besar di daerah wanatani (74%). Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida dapat bereproduksi setahun tiga kali, dengan luas jelajah hanya 5,79 ha karena makanannya tersedia sepanjang tahun. Jadi, hipotesis yang keempat terbukti, bahwa perilaku Jalak Bali dapat menyesuaikan diri di Kepulauan Nusa Penida. Dengan adanya awig-awig yang melindungi burung di Kepulauan Nusa Penida, maka Jalak Bali dapat mencari buah, serangga atau bersarang di kebun wanatani masyarakat tanpa ada yang mengganggu.

E. Analisis Awig-Awig Mendukung Konservasi Jalak Bali dengan Proses Hirarki Analitik (PHA)

Hasil analisis preferensi gabungan dari 95 responden menunjukkan bahwa awig-awig 3 kali lebih penting daripada kriteria Kesra (kesejahteraan rakyat atau lapangan kerja), 4 kali lebih penting daripada kriteria Kehati (keanekaragaman hayati), 4 kali lebih penting daripada kriteria Ekowisata, dan 9 kali lebih penting dibandingkan dengan kriteria Hukum Formal (Peraturan Daerah). Selanjutnya, (p.79) kriteria Kesra 3 kali lebih penting dibandingkan dengan kriteria Kehati, 2 kali lebih penting daripada kriteria Ekowisata, dan 6 kali lebih penting dibandingkan dengan kriteria Hukum Formal. Setelah itu, Kehati 2 kali lebih penting daripada Ekowisata, dan 4 kali lebih penting daripada Hukum Formal. Kemudian, Ekowisata 5 kali lebih penting daripada Hukum Formal (Tabel 10, Lampiran 25).

Matriks faktor pembobotan hirarki tersebut disederhanakan (Lampiran 25). Dengan demikian, kriteria yang paling penting bagi Konservasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida adalah kriteria awig-awig dengan nilai bobot 47,32%,

Gambar 22. Pilihan alternatif untuk konservasi habitat Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida

(p.80) kriteria Kesra dengan nilai bobot 23,43%, kriteria Kehati dengan nilai bobot 13,74%, kriteria Ekowisata dengan nilai bobot 11,89%, dan kriteria Hukum Formal dengan nilai bobot 3,62% (Gambar 21). Harapan masyarakat dengan adanya Jalak Bali, dapat menjadi daya tarik wisatawan ke Pulau Nusa Penida.

Masyarakat Kepulauan Nusa Penida mempunyai persepsi, dan partisipasi yang baik terhadap konservasi Jalak Bali. Sejak tahun 1997, beberapa desa adat sudah melaksanakan awig-awig untuk melindungi semua jenis burung. Bahkan, saat ini seluruh desa adat di Kepulauan Nusa Penida, yang jumlahnya 46, sudah memiliki dan melaksanakan awig-awig tersebut.

Dasar untuk awig-awig desa adat di Kepulauan Nusa Penida adalah Awig-awig Desa Adat Kecamatan Nusa Penida. Pada pasal 6 ayat 25 butir 4 dan 5 isinya sebagai berikut Butir 4) Seluruh desa adat di wilayah Kepulauan Nusa Penida tidak dibenarkan melakukan kegiatan berburu segala hewan, seperti burung-burung dan hewan lainnya, terutama hewan yang dilindungi menurut undang-undang. Butir 5) Penangkapan hewan seperti burung hanya boleh dilakukan kalau ada kepentingan Upacara Agama dan untuk suatu pengobatan setelah mendapatkan izin dari ketua (prajuru) adat. Ketua Adat baru mengijinkan setelah mendapatkan pertimbangan seorang ahli yang membidangi (Anonymous, 2002; 2005).

Contoh Awig-awig Desa Pakraman Ped (Anonymous, 1987) pada Pasal 28 dalam Bahasa Bali, yaitu: ‘Sahanan krama desa mangda sampunang maburu, maubuan, Ian ma adolan sekancan paksi, napi buinpaksi Jalak Bali. Pamindada: Sape sire sane ngejuk paksi, paksi nape je, napi buin paksi jalak ball, patut keni denda I gantang beras, barang nike manut harga pasaran paksi, manut jenis paksi. Sapa sire sane ngeracunin utawi medilin sekancan paksi keni denda I karung beras. Sape sire sane numbas pembelil penadah paksi keni denda I karung beras. Sapa sire sane ngejuk Ian meubuanpaksi kena denda 1/2 karung beras.’

Artinya: ‘setiap warga dilarang menangkap, memelihara, ataupun menjual belikan burung, terutama burung Jalak Bali. Sanksinya barang siapa yang melakukan penangkapan burung (semua jenis burung) terlebih itu burung Jalak Bali dikenakan denda 1 (satu) karung beras dan sejumlah harga sesuai harga burung tersebut dipasaran dan sesuai jenisnya. Barang siapa yang meracuni atau menembak burung akan dikenakan denda 1 (satu) karung beras, bagi yang menjual/penjual burung akan didenda 1 (satu) karung beras, bagi siapapun yang membeli atau penadah/pengepul burung akan didenda 2 (dua) karung beras dan bagi yang menangkap burung untuk kemudian dipelihara akan dikenakan denda ½ (setengah) karung beras.’

Bila denda belum dilaksanakan, maka yang bersangkutan dilarang mengikuti upacara keagamaan di desa adat. Bila pelanggaran tersebut diulang lagi, maka yang bersangkutan dikucilkan atau bahkan dikeluarkan dari desa adat. Sanksi moral ini sangat ditakuti masyarakat, karena membuat malu keluarga, dan juga yang bersangkutan tidak bisa melaksanakan upacara di pura. Awig-awig juga berlaku bagi pendatang (tamiu), dengan sanksi yang lebih berat lagi, yakni juga dilaporkan kepada yang berwajib. Sanksi ini belum pernah dilaksanakan, karena sejak diberlakukan tahun 2006 sampai tahun 2015 belum ada anggota masyarakat yang melanggarnya.

Berkaitan dengan pelaksanaan awig-awig, maka Jalak Bali dilepasliarkan di Pura Penataran Ped Pulau Nusa Penida. Sebelum pelepasliaran Jalak Bali ada upacara yang harus dilakukan, yaitu upacara Atur Piuning untuk mohon izin akan melepasliarkan Jalak Bali di Pura Penataran Ped (Gambar 27a). Setelah itu, ada upacara bagi seluruh hadirin peserta pelepasliaran, dan Jalak Bali yang akan (p.82) dilepasliarkan (Gambar 27b).

sudar16 gambar 23

Gambar 23. Upacara pelepasliaran Jalak Bali di Pura Penataran Ped (a) Upacara Atur Piuning, minta izin akan melepasliarkan Jalak Bali (Foto Sudaryanto, 9 Oktober 2014, Lokasi Pura Penataran Ped); (b) Jalak Bali diupacarai sebelum dilepasliarkan (Foto Sudaryanto, 18 Oktober 2014, Lokasi Pura Penataran Ped).

Oleh masyarakat, Jalak Bali tersebut dianggap sebagai burung kepunyaan pura (Duwe Pura). Oleh karena itu masyarakat menaati awig-awig untuk menjaga keberadaan burung tersebut. Hal tersebut membuktikan bahwa konservasi suatu jenis satwa di habitatnya akan berhasil jika masyarakatnya juga ikut berpartisipasi menjaga jenis yang langka tersebut (Indrawan dkk., 2007).

Pada level alternatif masyarakat lebih percaya dan patuh terhadap awig-awig daripada kepada hukum formal seperti Perda (Peraturan Daerah) untuk melindungi Jalak Bali. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Kapolres Gianyar, bahwa masyarakat lebih takut kepada hukum adat dibanding hukum positif karena masyarakat masih sangat kuat memegang adat yang ada (Anonymous, 2014a). Hal itu terjadi karena awig-awig adalah patokan bertingkah laku, baik yang ditulis maupun tidak ditulis, yang dibuat masyarakat adat di Pulau Bali secara musyawarah, berdasarkan rasa keadilan dan kepatutan yang hidup didalam masyarakat yang bersangkutan (Sutawan, 2004; Sudaryanto, 2007; Astiti, 2007; Sudantra, 2008; Astiti dkk., 2011).

(p.83) Menurut Kepala Desa Adat Ped dan Kapolsek Nusa Penida, sampai saat ini tidak ada persoalan atau kasus yang menyangkut penangkapan dan perdagangan Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida. Jadi, pernyataan Kabeh dkk. (2004) dan Mattison (2016), bahwa di Kepulauan Nusa Penida terjadi penangkapan dan perdagangan Jalak Bali tidak terbukti, karena tidak seluruh masyarakat menerima dan mau melaksanakan awig-awig. Pada kenyataannya, konservasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida dapat berhasil karena seluruh desa adatnya mempunyai awig-awig yang antara lain berisi peraturan yang melindungi Jalak Bali. Masyarakat yang menganggap pentingnya awig-awig melindungi Jalak Bali sebesar 47,32%, sedangkan hukum formal hanya 3,62%. Persepsi masyarakat Kepulauan Nusa Penida terhadap awig-awig dalam melindungi Jalak Bali sangat positif. Persepsi positif dapat dilihat dari masyarakat Kepulauan Nusa Penida yang menganggap Jalak Bali sebagai burung Pura, mereka bangga dapat melindungi burung langka yang hampir punah, dan diharapkan menjadi daya tarik wisatawan.

Di Kepulauan Nusa Penida alternatif kesejahteraan masyarakat 23,43%. Hal itu berkaitan dengan keperluan lapangan pekerjaan yang dirasakan penduduk di sana. Namun di Kepulauan Nusa Penida perlu banyak lapangan kerja. Menurut Suwindra (2012), di Desa Suana penduduk yang berusia diatas 16 tahun yang sedang mengikuti pendidikan 18,71%, sedangkan 81,29% tidak melanjutkan sekolah. Banyak juga penduduknya yang bekerja di Pulau Bali, bahkan ada yang menjadi transmigran di Pulau Sulawesi dan Sumatra. Lapangan pekerjaan lain berkaitan dengan alternatif ekowisata sebanyak 11,89%. Besar harapan masyarakat, bahwa ekowisata dapat memberikan lapangan pekerjaan yang (p.84) dibutuhkan masyarakat. Presentase alternatif keanekaragaman hayati flora dan fauna sebanyak 13,74% karena banyak wisatawan yang datang ke Kepulauan Nusa Penida untuk menikmati hal tersebut. Ekowisata pengamatan Jalak Bali dengan flora dan fauna lainnya, menurut Agustina (2013) dapat mengembangkan ekowisata di Kepulauan Nusa Penida.

Dalam rangka sosialisasi konservasi Jalak Bali untuk pelajar SMP dan SMA, FNPF mengadakan lomba cerdas cermat. Lomba tersebut diikuti siswa-siswa SMP dan SMA di Kepulauan Nusa Penida. Materi lomba cerdas cermat adalah masalah lingkungan hidup, khususnya konservasi Jalak Bali. Lomba diadakan pada tanggal 17 Agustus setiap tahun. Selain itu, SMP Negeri Nusa Penida di Ped setiap tahun ajaran baru memberi tugas siswa barunya membuat karya tulis. Tema karya tulis tersebut adalah: konservasi Jalak Bali dan manfaatnya bagi masyarakat Kepulauan Nusa Penida.

Selain itu, di Pulau Nusa Penida terdapat satu desa Islam, yaitu Desa Dinas Toyapakeh. Desa tersebut tidak mempunyai awig-awig, tetapi warga Desa Dinas Toyapakeh mentaati awig-awig desa adat di sekitarnya.

Akan tetapi, pengamat dari luar Pulau Bali khawatir awig-awig tidak bisa menghadapi tantangan khususnya investor pariwisata (Setiyanto, 2012; Azhar, 2013). Selain itu, awig-awig juga dipakai masyarakat Nusa Tenggara Barat sejak abad 18. Pada umumnya, awig-awig tersebut mengatur masalah: lingkungan, kehutanan, danperikanan (Rasyidi, 2008; Hidayat, 2013; Susanto, 2014).

Desa-desa adat di sekitar Kepulauan TNBB juga mempunyai awig-awig, tetapi tidak mencantumkan Jalak Bali sebagai sebagai satwa yang dilindungi. Contohnya Awig-awig Desa Adat Sumber Klampok Kecamatan Gerokgak (p.85)

Kabupaten Buleleng (Suramenggala, 2013) dalam bahasa Bali: Pamindanda maboros buron ring wana Teluk Terima manut awig pawos 6 akehnya Rp. 200.000. Artinya adalah berburu binatang di hutan Teluk Terima untuk warga setempat didenda Rp. 200.000. Pada awig-awig tersebut tidak ada perlindungan terhadap Jalak Bali.

Jadi, hipotesis yang kelima terbukti, bahwa masyarakat mendukung pelepasliaran Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida. Persepsi masyarakat terhadap awig-awig dalam melindungi Jalak Bali sangat positif sehingga sampai sekarang belum ada masyarakat yang melanggar awig-awig. Sebaliknya, di desa adat sekitar TNBB karena dalam awig-awig-nya tidak ada perlindungan terhadap Jalak Bali, sehingga terjadi pencurian Jalak Bali di TNBB.

F. Analisis Kunjungan Wisatawan karena Keberadaan Jalak Bali di Pulau Nusa Penida

Data penelitian diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan wisatawan domestik dan asing, terutama adalah para sukarelawan (volunteer). Untuk mengetahui persepsi wisatawan, kuisioner dianalisis dengan Metode Likert (Risnita, 2012). Selama tahun 2014, ada 200 orang wisatawan asing dan empat orang wisatawan Indonesia yang menjadi sukarelawan di FNPF Pulau Nusa Penida. Selama itu, FNPF juga dikunjungi oleh kira-kira 400 wisatawan asing dan 50 wisatawan domestik. Wisatawan yang menjadi responden 119 orang, 51% dari Australia, 21% dari Eropa, 13% dari Indonesia, dan yang 15% dari Amerika Serikat dan Asia (Gambar 24).

sudar16 gambar 24 25 p86

Gambar 24. Wisatawan di Pulau Nusa Penida (n = 119); Gambar 25. Persepsi wisatawan datang ke Pulau Nusa Penida

Hasil wawancara menunjukkan wisatawan 97,94% datang ke Pulau Nusa Penida karena ada Jalak Bali, sedangkan 95,04% wisatawan mengagumi awig-awig yang melindungi dan membantu konservasi Jalak Bali. Kemudian, 94,01% wisatawan senang di Pulau Nusa Penida yang masih alami, dan 82% wisatawan mengetahui adanya Jalak Bali di Pulau Nusa Penida dari internet. Setelah itu, 80% wisatawan bersedia membantu Konservasi Jalak Bali (Gambar 25).

sudar16 gambar 30

Gambar 30. Ekowisata di Pulau Nusa Penida: (a) Wisata pengamatan burung (birdwatching) di Pura Puseh (Foto Sudaryanto, 17 Agustus 2014); (b) Wisata pengamatan burung (birdwatching) di FNPF (Foto Sudaryanto, 17 Agustus 2014); (c) Kapal pesiar National Geographic Orion di Pelabuhan Buyuk (Foto Sudaryanto, 18 Oktober 2014); (d) Wisatawan mendapat penjelasan tentang konservasi Jalak Bali di FNPF (Foto Sudaryanto, 18 Oktober 2014); (e) Wisatawan diberi Tirtha di Pura Penataran Ped (Foto: Sudaryanto, 18 Oktober 2014); (f) Pelepasliaran Jalak Bali di Pura Penataran Ped (Foto: Sudaryanto, 18 Oktober 2014).

(p.88) tempat yang pemandangannya indah, dan juga ke Pura Penataran Ped. Para wisatawan bersedia mempromosikan keindahan Pulau Nusa Penida, bahkan membantu mencarikan dana untuk konservasi Jalak Bali lebih lanjut.

Selain itu, daerah yang banyak dikunjungi wisatawan di Pulau Nusa Penida adalah: Pura Penataran Ped, Pura Giri Putri, Pantai Penida (Crystal Bay), Pantai Uug (Broken Beach), mata air Temeling, dan pantai Atuh. Sebagaian besar wisatawan tersebut tidak menginap di Pulau Nusa Penida. Namun, dengan adanya Jalak Bali diharapkan potensi ekowisata mulai berkembang (Welly dkk. 2011; Agustina, 2013). Pada saat ini mulai banyak wisatawan yang datang ke Pulau Nusa Penida khusus mengamati burung (birdwatching), khususnya Jalak Bali dan 80 jenis burung lainnya (Gambar 26, Lampiran 21). Wisatawan tersebut dating dari Amerika, Eropa, Australia, dan Asia.

Paling fenomenal adalah datangnya kapal pesiar pertama kali ke Kabupaten Klungkung dan khusus ke Pulau Nusa Penida. Pada tanggal 18 Oktober 2014, kapal pesiar National Geographic Orion membawa 100 orang wisatawan, datang ke Pulau Nusa Penida khusus melihat keberhasilan konservasi Jalak Bali (Gambar 25 c,d). Kedatangan wisatawan tersebut disambut Bupati Klungkung, dan diadakan pelepasliaran dua pasang Jalak Bali di Pura Penataran Ped dengan upacara Agama Hindu (Gambar 26). Jadi, hipotesis yang keenam terbukti bahwa pelepasliaran Jalak Bali di Pulau Nusa Penida dapat menjadi daya tarik ekowisata.

V. PEMBAHASAN UMUM

(p.89) Hasil penelitian Konservasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida dari tahun 2006-2015, menunjukkan bahwa faktor utama keberhasilan adalah adanya hukum adat atau awig-awig. Seluruh Desa Adat di Kepulauan Nusa Penida, yaitu 46 desa adat, mempunyai persepsi dan partisipasi yang baik terhadap konservasi Jalak Bali. Hal tersebut dibuktikan dengan dibuat dan dilaksanakannya awig-awig yang melindungi Jalak Bali. Masyarakat yang menganggap pentingnya awig-awig melindungi Jalak Bali sebesar 47,32%, sedangkan hukum formal hanya 3,62%. Kepala Desa Adat Kepulauan Nusa Penida dan Kapolsek Nusa Penida mengatakan bahwa sejak Jalak Bali dilepasliarkan tahun 2006 sampai sekarang, tidak pernah ada laporan masyarakat yang mengganggu Jalak Bali. Bahkan, Jalak Bali mencari makan, tidur dan bersarang di hutan pemukiman penduduk. Keberadaan awig-awig yang melindungi Jalak Bali, merupakan suatu kebaruan.

Hasil studi profil vegetasi dan analisis vegetasi di Kepulauan Nusa Penida, menunjukkan bahwa habitat yang dipilih Jalak Bali tidak ada yang khas, tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dan profilnya beragam. Adanya ketersediaan pakan secara kontinyu sepanjang tahun, baik buah-buahan maupun serangga. Bahkan, di Kepulauan Nusa Penida ditemukan Jalak Bali minum nektar bunga ki acret (Spathodea campanulata). Ditemukannya Jalak Bali minum nektar bunga ki acret juga merupakan suatu kebaruan.

Keberadaan awig-awig dan tersedianya pakan secara kontinyu sepanjang tahun di Kepulauan Nusa Penida menyebabkan Jalak Bali dapat berkembang biak tiga kali dalam satu tahun, sehingga cacah individu dan distribusinya di (p.90)

Kepulauan Nusa Penida bertambah banyak. Cacah individu Jalak Bali pada pelepasliaran tahun 2006-2007 sebanyak 49 ekor, sedangkan pada bulan Januari 2015 menjadi 66 ekor, dan ini merupakan generasi kedua atau ketiga. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa keberadaan lokasi Jalak Bali dari tahun 2006 sampai 2015 bertambah banyak. Pada tahun 2006 hanya ada tiga lokasi, sedangkan pada Januari 2015 paling sedikit terdapat 12 lokasi. Selain itu Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida bereproduksi pada bulan Januari, Juni, dan Oktober. Jadi, tiga kali dalam satu tahun, berbeda dengan di TNBB hanya satu kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Desember-Januari. Ditemukannya Jalak Bali yang bereproduksi tiga kali dalam satu tahun, merupakan satu kebaruan.

Salah satu faktor keberhasilan konservasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida, karena habitatnya dijaga. Juga dukungan dan pelibatan masyarakat Kepulauan Nusa Penida, yang mempunyai awig-awig untuk melindungi Jalak Bali. Hal ini sesuai dengan hasil Konvensi Rio de Janeiro, bahwa konservasi suatu spesies dapat berhasil bila habitatnya juga dikonservasi, dan melibatkan masyarakat setempat. Hal ini tidak terjadi di TNBB, sehingga konservasi Jalak Bali di sana tidak berhasil.

Namun demikian, meskipun ada awig-awig dan juga tersedia makanan sepanjang tahun, Jalak Bali meninggalkan lokasi di Batumadeg (239 m dpi) dan Sebunibus (155 m dpi). Di lokasi lain, di Sental Kangin (130 m dpi), Jalak Bali dapat bereproduksi 3 kali dalam satu tahun. Van Balen dkk. (2000) dan Prana dkk. (2006) mengatakan bahwa Jalak Bali adalah burung dataran rendah, tetapi dapat hidup di ketinggian 150-250 m dpi. Ketinggian habitat hidup Jalak Bali yang optimal pada 130 m dpi merupakan satu kebaruan.

(p.91) Selanjutnya, keberhasilan konservasi habitat Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida mengundang kehadiran wisatawan. Sebagian besar wisatawan yang dating ke Pulau Nusa Penida dari Australia (51%). Selain itu, untuk pertama kali ada kedatangan kapal pesiar ke Kabupaten Klungkung, yaitu kapal pesiar National Geographic Orion, khusus ke Pulau Nusa Penida, untuk melihat keberhasilan konservasi Jalak Bali.

Jadi hasil penelitian konservasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida didapat kebaruan sebagai berikut: 1. Adanya awig-awig untuk melindungi Jalak Bali, yang dilaksanakan oleh seluruh desa adat di Kepulauan Nusa Penida, menyebabkan burung tersebut aman dan cacah individunya bertambah banyak; 2. Tersedianya makanan sepanjang tahun di Kepulauan Nusa Penida menyebabkan Jalak Bali dapat berkembang biak tiga kali dalam satu tahun; 3. Di Kepulauan Nusa Penida ditemukan Jalak Bali minum nektar bunga ki acret (Spathodea campanulata); 4. Di Kepulauan Nusa Penida ditemukan distribusi Jalak Bali yang sesuai untuk berkembang biak adalah pada ketinggian 0 m dpi - 130 m dpi.

VI. SIMPULAN DAN SARAN - A. Simpulan

(p.92) Dari hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. Pertama, distribusi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida bertambah luas. Pada tahun 2006 hanya tiga lokasi, sedangkan tahun 2015 paling sedikit 12 lokasi. Kedua, cacah individu Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida bertambah banyak, tahun 2006 ada 49 ekor, dan tahun 2015 ada 66 ekor. Ketiga, vegetasi habitat di Kepulauan Nusa Penida mendukung tersedianya makanan Jalak Bali secara kontinyu sepanjang tahun. Keempat, Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida dapat bereproduksi tiga kali dalam satu tahun, dan minum nektar bunga ki acret (Spathodea campanulata). Kelima, Awig-awig Desa Adat Kepulauan Nusa Penida melindungi Jalak Bali. Keenam, keberadaan Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida mengundang kehadiran wisatawan.

B. Saran

Jalak Bali adalah burung endemik Pulau Bali yang termasuk kategori kritis, diduga dalam waktu 10 tahun memiliki risiko kepunahan lebih dari 50%. Agar konservasi habitat Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida tetap berhasil dan semakin bertambah baik, maka habitat burung tersebut harus dijaga dan dilestarikan dan awig-awig tetap melindunginya. Diharapkan kepada Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Tingkat Kabupaten dan Kota, DPRD Tingkat I dan II, dan Lembaga Desa Adat dari Tingkat Provinsi - Desa, secara konsisten memasukkan perlindungan Jalak Bali dalam awig-awig Desa Adat di seluruh Pulau Bali.

RINGKASAN - KONSERVASI JALAK BALI (Leucopsar rothschildi) DI KEPULAUAN NUSA PENIDA

(p.93) Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) adalah burung endemik Pulau Bali, dan distribusinya sampai tahun 2005 hanya ada di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Jalak Bali menghadapi risiko kepunahan yang sangat tinggi di TNBB, karena adanya pencurian dan berkurangnya luas habitat. Bahkan, sejak tahun 1966 Jalak Bali dimasukkan ke dalam kategori kritis (Critically endangered) oleh IUCN Red List of Threatened Species. Selain itu, CITES (Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora) memasukkan burung tersebut ke dalam Appendix I. Jalak Bali dilindungi Pemerintah Indonesia dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Pencurian terjadi karena Jalak Bali merupakan burung peliharaan yang terkenal dan harganya mahal. Pada tahun 2004 di pasar gelap harga Jalak Bali Rp 40.000.000,00 per ekor. Usaha konservasi Jalak Bali telah dilakukan oleh Kementerian Kehutanan, BirdLife Indonesia Programme dan Asosiasi Pelestari Curik Bali (APCB) dengan melepasliarkan burung tersebut di TNBB. Tahun 2001-2009 di TNBB telah dilepasliarkan lebih dari 95 ekorJalak Bali, akan tetapi cacah individu burung tersebut pada tahun 2012 tinggal 4 ekor.

(p.94) Konservasi Jalak Bali yang telah dilakukan di TNBB ternyata belum berhasil. Oleh sebab itu, mulai tahun 2006 usaha konservasi Jalak Bali juga dilakukan oleh Friends of the National Parks Foundation (FNPF). Konservasi Jalak Bali dilakukan di Pulau Nusa Penida Kabupaten Klungkung karena pulau tersebut mempunyai hukum adat atau awig-awig yang mewajibkan masyarakatnya melindungi burung tersebut. Awig-awig adalah hukum adat yang merupakan ajaran Agama Hindu dan sangat ditaati masyarakat Bali. Bahkan, Jalak Bali dilepasliarkan di Pura Penataran Ped Pulau Nusa Penida yang sangat terkenal di Pulau Bali dengan upacara agama, sehingga burung tersebut oleh masyarakat dianggap sebagai burung milik Pura (Duwe Pura) yang harus dijaga kehadirannya.

Jalak Bali merupakan burung diurnal dan monogami. Jalak Bali yang muda hidupnya berkelompok supaya lebih mudah untuk mendapatkan makanan dan untuk menghindari predator. Jalak Bali termasuk anggota Genus Leucopsar, Familia Sturnidae, dan Ordo Passeriformes. Di Indonesia terdapat 43 familia anggota Ordo Passeriformes, salah satunya Familia Sturnidae yang beranggotakan 26 jenis. Contoh anggota Famili Sturnidae adalah Genus Leucopsar (Y: leucos=putih, psar=jalak), yang hanya mempunyai satu jenis dan endemik di pulau Bali yaitu Jalak Bali (Leucopsar rothschildi). Jalak Bali atau Rothschild Mynah atau Bali Mynah mempunyai panjang total (dari ujung paruh sampai ujung ekor) 25 cm, bulu seluruhnya berwarna putih, kecuali ujung sayap dan ujung ekor berwarna hitam, kulit terbuka di sekitar mata berwarna biru terang dan jambul sangat panjang terutama pada Jalak Bali jantan.

(p.95) Population Viability Analysis (PVA) telah menjadi komponen utama dalam upaya pemulihan cacah individu Jalak Bali. Populasi Jalak Bali di TNBB pada tahun 1990 hanya 14 ekor. Oleh karena itu, lokakarya PVA Jalak Bali pada tahun 1990 mengkhawatirkanjika tidak ada tindakan yang diambil, kemungkinan dapat terjadi kepunahan 100% dalam waktu satu tahun. Pada lokakarya tersebut disepakati MVP (minimum viable population) Jalak Bali di TNBB adalah 30 ekor. Untuk itu perlu dilepasliarkan Jalak Bali hasil penangkaran, peningkatan keamanan di TNBB, dan tentunya diharapkan kondisi iklim yang menguntungkan. Diharapkan jika rekomendasi lokakarya tersebut dilaksanakan sehingga menghasilkan pemulihan sementara populasi Jalak Bali di TNBB dalam waktu dua tahun berikutnya.

Awig-awig adalah patokan-patokan bertingkah laku, baik yang ditulis maupun tidak ditulis, yang dibuat masyarakat adat di Pulau Bali berdasarkan rasa keadilan dan kepatutan yang hidup didalam masyarakat yang bersangkutan. Awig-awig mengatur tentang parhyangan (sebagai pencerminan hubungan manusia dengan Tuhan), pawongan (sebagai pencerminan hubungan manusia dengan manusia), dan palemahan (sebagai pencerminan hubungan manusia dengan lingkungannya). Sebagai patokan bertingkah laku, awig-awig dilengkapi dengan sanksi (pamindada) yang bersifat hukum, sehingga awig-awig merupakan salah satu bentuk hukum adat Bali, dan jugasalah satu ajaran dalam agama Hindu. Di Kepulauan Nusa Penida sejak tahun 1997 sudah melaksanakan awig-awig perlindungan semua jenis burung yang harus ditaati seluruh warga Kepulauan Nusa Penida dan pendatang.

(p.96) Penelitian yang dilakukan dari tahun 2006-2015 ini, meliputi distribusi, populasi, perilaku Jalak Bali, dan keanekaragaman burung di Kepulauan Nusa Penida. Untuk mengetahui distribusi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida diajukan pertanyaan kepada masyarakat keberadaan burung di daerah tersebut dan juga dilakukan penjelajahan.Untuk menghitung populasi Jalak Bali digunakan penghitungan total dengan metode terkonsentrasi pada lokasi burung tersebut mencari makan (feeding site). Penghitungan populasi Jalak Bali dilakukan pada 16 tempat Jalak Bali mencari makan (feeding site), dari pukul 10.00-14.00 WITA, dan dilakukan ulangan sebanyak tiga kali.

Analisis vegetasi dilakukan di (1) Kepulauan FNPF(5mdpl), yaitu daerah dataran rendah yang paling banyak cacah individu Jalak Bali, (2) Sebunibus (155 m dpi), tahun 2014 merupakan habitat Jalak Bali tertinggi, (3) Batumadeg (239mdpl), 2006-2010 merupakan Kepulauan Jalak Bali, (4) Pulau Nusa Ceningan (185 m dpi). Hal ini dilakukan untuk mempelajari penggunaan habitat dan ketinggian tempat oleh Jalak Bali. Analisis vegetasi penyusun habitat Jalak Bali menerapkan teknik sampling dengan menggunakan metode kuadrat plot 20m x 20m. Pada setiap lokasi dibuat tiga ulangan kuadrat plot, kemudian dibuat profil habitat.

Penelitian perilaku harianJalak Balidengan menggunakan metode Scan Sampling dengan Instataneous Sampling, dengan interval waktu pencatatan adalah 5 menit. Pengamatan dilakukan pukul 05.00 Wita s.d. 19.00 WITA. Perilaku harian Jalak Bali yang diamati meliputi perilaku makan, interaksi dengan habitat, interaksi intraspesies dan interspesies, perilaku reproduksi yaitu mulai pasangan burung tersebut mempersiapkan sarang sampai menyapih anaknya, dan luas (p.97) jelajah. Untuk mengetahui wilayah jelajah, dilakukan dengan menghitung wilayah jelajah harian satu pasang Jalak Bali secara manual. Setelah terkumpul dat sebanyak 700 titik pengamatan, kemudian titik-titik yang terluar dihubungkan Titik-titik tersebut merupakan diurnal activity center (DAC), yaitu daerah yang secara rutin digunakan oleh burung-burung di siang hari. Wilayah jelajah (home range) adalah total luas DAC yang digunakan oleh setiap burung.

Selanjutnya penelitian terhadap proses pelaksanaan awig-awig di masyarakat. Data diperoleh melalui observasi, dan wawancara. Jumlah responden 95 orang, terdiri atas 65 orang kepala keluarga dan 30 orang pelajar SMP dan SMA. Responden adalah masyarakat yang mengetahui permasalahan awig-awig dan konservasi Jalak Bali. Analisis data dengan menggunakan Proses Hirarki Analitik (PHA) (Analitic Hirarchy Process), yang melalui beberapa tahap yaitu Decomposition (dekomposisi), Comparative Judgement (perbandingan persepsi), Synthesis of Priority (sintesis prioritas), dan Logical Consistency (konsistensi penilaian).

Keberadaan Jalak Bali di Pulau Nusa Penida diharapkan menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan dan menambah jumlah kunjungan wisatawan di pulau tersebut. Untuk itu, diteliti persepsi wisatawan terhadap keanekaragaman hayati, khususnya Jalak Bali di Pulau Nusa Penida. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara. Analisis data dengan menggunakan Metode Likert.

Jika pada tahun 2006 hanya tiga lokasi Jalak Bali, sedang tahun 2015 paling sedikit sudah ada 12 lokasi. Pada tahun 2015 distribusi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida terdapat di FNPF, Pura Penataran Ped, Pura Dalem Bungkut, Pura Puseh, Pura Tinggar, Sental Kawan, Lembongan, Pura Puaji, (p.98) Sental Kangin, Penida, Sakti, dan Klibun. Selain itu, masih ada beberapa ekor

Jalak Bali di sekitar Pura Puseh dan Klibun yang belum diketahui lokasi tinggalnya. Bahkan, lokasi Batumadeg (239 m dpi) dan Sebunibus (155 m dpi) ditinggalkan Jalak Bali. Di Sebunibus selama tahun 2012-2014, Jalak Bali tidak pernah berkembang biak. Sementara itu, Jalak Bali di Sental Kangin (134 m dpi), pada tahun 2014 berkembang biak sebanyak tiga kali. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa habitat yang sesuai untuk Jalak Bali adalah pada ketinggian 0-134 mdpl.

Populasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida dari tahun 2006 sampai tahun 2015 berfluktuasi dari 19-84 ekor.Cacah individu Jalak Bali paling banyak adalah tahun 2009 yang berjumlah 84 ekor, diduga terdiri dari Jalak Bali induk sebanyak 53 ekor dan burung anakannya sebanyak 31 ekor. Pada tahun 2015 cacah individu Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida 66 ekor, adalah merupakan burung generasi ke dua atau ke tiga. Populasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida tersebut sudah memenuhi batas minimal MVP (Minimum Viable Population) dari Shaffer, dan Ne (populasi efektif) dari Franklin, yaitu 30 ekor. Namun, burung-burung tersebat tersebar di 12 lokasi, sehingga masing-masing lokasi tidak ada yang memenuhi batas minimal MVP, dan Ne. Akibatnya, pada masing-masing lokasi dapat terjadi perkawinan sedarah (inbreeding). Distribusi dan populasi Jalak Bali di TNBB pada bulan Desember 2014 hanya ditemukan di Pos Lampu Merah TNBB, dengan cacah individu empat ekor.

Analisis vegetasi di empat lokasi di Kepulauan Nusa Penida dan dua lokasi di TNBB menunjukkan adanya perbedaan. Empat lokasi di Kepulauan Nusa Penida yaitu Pertama, di FNPF ditemukan 22 jenis pohon, didominasi bunut (Ficusglabella) (p.99) dengan indeks nilai penting (INP) 80,33% (Tabel 7), dan indeks keanekaragaman tertinggi (H') 2,69. Kedua, di Sebunibus, di lokasi ini ditemukan lima jenis pohon, didominasi bunut dengan INP 213,58% (Tabel 7), dan H' 1,32. Ketiga, di Batumadeg ditemukan tujuh jenis pohon, didominasi manga (Mangifera indica) dengan INP 89,03%, dan H' 1,69. Keempat, di Pulau Nusa Ceningan ditemukan tiga jenis pohon, didominasi jati (Tectona grandis) dengan INP 210,7%, dan H'0,84.

Buah bunut (Ficus glabella) adalah makanan utama Jalak Bali. Selain itu, pohon bunut juga sering digunakan sebagai sarang alami Jalak Bali, karena pada pohon tersebut biasanya banyak terdapat lubang. Pohon bunut juga sangat penting bagi masyarakat Pulau Nusa Penida karena daunnya dipakai sebagai makanan ternak. Oleh karena itu, masyarakat Pulau Nusa Penida sangat menjaga keberadaan bunut. Dua lokasi di TNBB adalahPertama, Pos Lampu Merah TNBB (25 m dpi), yang di tahun 2014 merupakan satu-satunya lokasi Jalak Bali di TNBB. Di Pos Lampu Merah ditemukan empat ekor Jalak Bali. Di lokasi ini ditemukan 16 jenis pohon, didominasi talok (Muntingia calabura) dengan INP 120,1%, dan H' 2,14. Kedua, Pos Cekik TNBB (20 m dpi) yang merupakan rencana lokasi baru pelepasliaran Jalak Bali di TNBB. Di lokasi ini ditemukan 13 jenis pohon, didominasi kemloko (Phyllanthus emblica) dengan INP 115,1%, dan H'2.

Di Pulau Nusa Penida, habitat Jalak Bali terdapat di wanatani (agroforestry), yaitu pada 105 spesies tumbuhan (Ginantra dkk. 2009). Menurut Sudaryanto dkk. (2015) terutama pada 27 spesies tumbuhan, antara lain bunut (Ficus glabella), ancak (Ficus rumphii), talok (Muntingia calabura), jati (Tectona grandis), (p.100) mangga (Mangifera indica), dan kelapa (Cocos nucifera). Pada pohon-pohon tersebut Jalak Bali mencari makan, tidur, dan bersarang. Di Kepulauan Nusa Penida Jalak Bali dapat berkembang biak sebanyak tiga kali setahun, yaitu bulan Januari, Juni, dan Oktober. Sementara itu, di TNBB Jalak Bali berkembang biak hanya sekali yaitu bulan Desember-Januari.

Hasil penelitian tahun 2014, di Pulau Nusa Penida terdapat 80 jenis burung, salah satunya adalah Elang bondol (Haliastur Indus) yang merupakan predator Jalak Bali. Kompetisi interspesies terjadi antara Jalak Bali dengan Jalak putih (Sturnus melanopterus) dan Kerak kerbau (Acridotheres javanicus) yang masih berkerabat dekat. Burung-burung yang berkompetisi dengan Jalak Bali dalam hal mencari makan adalah Pergam hijau (Ducula aenea) dan Kepudang kuduk-hitam (Orioluschinensis). Selain itu, Jalak Bali berkompetisi dengan Cucak kutilang dalam hal mencari makan, minum dan mandi. Jalak Bali juga berkompetisi dengan Tekukur biasa (Streptopelia chinensis) dalam hal minum dan mandi. Selain itu di Pulau Nusa Penida banyak terdapat biawak (Varanus salvator), ular sanca kembang (Python reticulatus), yang merupakan predator anak Jalak Bali,ular pucuk (Ahaetulla nasuta), tikus rumah (Rattus rattus), dan tokek (Gecko gecko), yang diduga memakan telor Jalak Bali.

Pada level alternatif masyarakat lebih percaya dan patuh terhadap awig-awig, dibandingkan dengan hukum formal seperti Perda (Peraturan Daerah), untuk melindungi Jalak Bali. Kepercayaan terhadap awig-awig dengan nilai bobot 47,32 dan kriteria Hukum formal dengan nilai bobot 3,62%. Kapolres Gianyar menyatakan, bahwa masyarakat lebih takut kepada hukum adat dibanding hokum positif karena masyarakat masih sangat kuat memegang adat yang ada (p.101) (Anonymous, 2014). Menurut Kepala Desa Adat Ped dan Kapolsek Nusa Penida, sampai saat ini tidak ada persoalan atau kasus yang menyangkut penangkapan dan perdagangan Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida.

Selama tahun 2014 ada 200 orang wisatawan asing dan empat orang wisatawan Indonesia yang menjadi relawan di FNPF Pulau Nusa Penida. Di FNPF juga dikunjungi oleh 400 wisatawan asing dan 50 wisatawan Indonesia. Wisatawan yang menjadi responden sebanyak 119 orang dan semuanya adalah relawan, terdiri atas 51% dari Australia, 21% dari Eropa, 13% dari Indonesia, dan sisanya 15% dari Amerika dan Asia. Hasil wawancara menunjukkan wisatawan 97,94% datang ke Pulau Nusa Penida karena ada Jalak Bali, 80% wisatawan bersedia membantu konservasi Jalak Bali, 82,9% wisatawan mengetahui adanya Jalak Bali di Pulau Nusa Penida dari internet, 95,04% wisatawan mengagumi awig-awig yang melindungi dan membantu konservasi Jalak Bali, dan 94,01% wisatawan menyenangi Pulau Nusa Penida yang masih alami.

Dalam penelitian konservasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida didapatkan hal-hal baru sebagai berikut. Pertama, adanya awig-awigyang dimiliki dan dilaksanakan oleh seluruh desa adat di Kepulauan Nusa Penida melindungi Jalak Bali, menyebabkan burung tersebut aman, dan cacah individunya bertambah. Kedua, daya dukung habitat yang baik di Kepulauan Nusa Penida, menyebabkan Jalak Bali dapat berkembangbiak setahun tiga kali, di TNBB setahun hanya satu kali. Ketiga, di Kepulauan Nusa Penida ditemukan Jalak Bali minum nektar bunga ki acret (Spathodea campanulata). Keempat, di Kepulauan Nusa Penida ditemukan distribusi Jalak Bali yang sesuai untuk berkembang biak pada ketinggian 0 m dpi - 134m dpi.

(p.102) Dari hasil penelitian tersebut di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. Pertama, distribusi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida bertambah luas, pada tahun 2006 hanya tiga lokasi, sedang tahun 2015 paling sedikit ada 12 lokasi, karena ada beberapa Jalak Bali di sekitar Pura Puseh dan Klibun yang belum diketahui lokasi tinggalnya. Kedua, cacah individu Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida bertambah banyak, tahun 2006 sebanyak 49 ekor dan tahun 2015 menjadi 66 ekor. Ketiga, habitat di Kepulauan Nusa Penida terutama vegetasinya, mendukung keberadaan Jalak Bali. Keempat, Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida minum nektar bunga ki acret (Spathodea campanulata) dan berkembang biak tiga kali dalam satu tahun. Kelima adanya awig-awig (hukum adat) yang dimiliki dan dilaksanakan oleh seluruh desa adat di Kepulauan Nusa Penida melindungi Jalak Bali menyebabkan burung tersebut aman dan cacah individunya bertambah banyak. Keenam, keberadaan Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida mengundang kunjungan wisatawan.

DAFTAR PUSTAKA (Sudaryanto)

• Agustina, R. 2013. Strategi pengembangan ekowisata Jalak Bali (Bali Starling) berbasis masyarakat di Pulau Nusa Penida Kabupaten Klungkung. TesisProgram Studi Ekowisata. Program Pasca Sarjana Universitas Udayana. Denpasar.
• Alikodra, H. S. 1988. Masalah Pelestarian Jalak Bali.Media Konservasi. 1(4): 21-28.
• Alikodra, H. S.. 1990. PengelolaanSatwaliar. Antar Universitas Institut Pertanian Bogor. Bogor.
• Altman, J. 1974. Observational Study of Behavior: Sampling Methods. Behavior. 49: 227-267.
• Amadon, D. 1956. Remarks on the Starlings, Family Sturnidae .American Museum Novitates. 1803: 1-41.
• Anonymous. 1987. Awig-awig Desa Adat Ped. Kecamatan Nusa Penida. Kabupaten Klungkung.
• Anonymous. 1994. Undang-UndangRepublik Indonesia. Tahun Tentang Pengesahan United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati). Kepala Biro Hukum dan Perundang-undangan Sekretariat Kabinet RI. Jakarta.
• Anonymous. 1999. Peraturan PemerintahRepublik Indonesia Tahun Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan Dan Satwa. Presiden Republik Indonesia
http://www.dephut.go.id/INFORMASI/pp/7_99.htm
Diakses tanggal 1 Juni 2009.
• Anonymous. 2002. Pararem Awig-Awig Adat Lembongan. Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung.
• Anonymous.2004. PencuriJalak putih TNBB Orang Dalam.BaliPost.30Juni
• Anonymous. 2005. Awig-awig Pakraman Kecamatan Penida. Nusa Penida, KabupatenKlungkung.
• Anonymous. 2012a. Leucopsar rotschildi. The List http://www.iucnredlist.Org/details/106006822/0; Diakses tanggal 1 Desember 2012.

• Anonymous. 2012b. Convention International Endangered Wild Fauna and Flora.Appendices I, II and III

http://www.cites.org
Diaksestanggal 1 Desember 2012.
• Anonymous. 2013 Klungkung Angka2012 Keadaan
http://www.klungkungkab.go.id/asset/file_bank/Klungkung%20Dalam%20Angka%202012_Kondisi%20Geografis.pdf
Diakses tanggal 16 Maret 2014.
• Anonymous. 2013b. KonservasiKepulauan Jenis Ikan. Kelautan, Pesisir Dan Pulau-pulau Kecil
• Anonymous. 2014a. Awig-AwigHukumAdat Lebih DitakutiWargaBali Hukum Positif.
http://www.tribunnews.com/nasional/2014/03/06/hukum-adat-lebih-ditakuti-warga-bali-dibanding-hukum-positif
Diakses tanggal 18 Desember 2014.
• Anonymous. 2014b.Bali Myna Life Expectancy years. San zooanimals). Diakses tanggal 20 Desember 2014.
• Anonymous. 2015a.JalakBaliKBS Hilang,Polisi Lakukan
http://news.detik.com/read/2015/02/08/181008/2826893/475/ialak-bali-kbs-hilang-polisi-lakukan-penyelidikan
Diakses tanggal 10 Februari 2015.
• Anonymous 2015b.Badan Informasi Geospasial:Pulau http://www.bakosurtanal.go.id/urgensi-pulau-pulau-terluar-indonesia/SearchForm?Search=Pulau+Bali&locale=id_ID&action_results=Cari, Diakses tanggal 1 Desember 2015.
• Astiti, T. I. P. 2007. Awig-awig sebagai sarana pelestarian lingkungan hidup. Dalam: Kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan hidup. Editor: Raka Dalem, dkk.UPT Penerbit Universitas Udayana. Denpasar.
• Astiti, T. I. P., Windia, W., Sudantra, I K., Wijaatmaja, I G. M., Dewi. A.A.I.A.A.2011. Implementasi Ajaran Tri Hita Karana Dalam Awig-awig. Excellence Research Universitas Udayana 2011. Denpasar.
• Atmanti, H. D. 2008. Analytical hierarchy process sebagai model yang luwes. Prosiding INSAHPS. Semarang.
• Azhar, M.A. 2013. Marginalisasi Masyarakat di Daerah Pariwisata./wraaZ Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan. 4(2): 166-176.
• Barbour, M. G, Burk, J. H., Pitts, W. D. 1987. Terrestrial Plant Ecology.Thc Benjamin/Cumming Publising Company, Inc. California.
• Bato, M., Yulianda, F., Fahruddin, A. 2013. Kajian Manfaat Konservasi Perairan Bagi Pengembangan Ekowisata Bahari: Studi Kasus Di Kepulauan Konservasi Perairan Nusa Penida, Bali. Depik.Jurnal Ilmu-ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan. 2(2): 104-113.
• Bibby, C, Jones, M., Marsden, S. 2000. Teknik-teknik Ekspedisi Lapangan. Survei Burung .BirdLife International Indonesia Programme. Bogor.
• Bizeray, D, Estavez I, Leterrier C, Faure JM. 2002. Effect of increasing environmental complexity on the physical activity of broiler chickens. Applied Animal Behavior Science. 79: 27-41.
• Brooks, D.M. 2013.Ecology, behavior, and reproduction of an introduced population of Red-vented Bulbuls (Pycnonotus cafer) in Houston, Texas.The Wilson Journal of Ornithology. 125(4):800-808.
• Butchart, S. H. M., Stattersfield, A. J. and Collar, N. J. 2006. How many birdextinctions have we prevented? Oryx. 40(3):266-278.
• Cahyadin, Y. 1993. Study Beberapa Aspek Ekologi Burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) Pada Musim Berkembang Biak Di Teluk Kelor Taman Nasional Bali Barat. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Padjadjaran. Bandung. Skripsi-Sl.
• Chaves, L. 2006. Crest display and copulation in the royal flycatcher (Onychorhynchus coronatus). Ornithologia Neotropical. 17: 439-440.
• Clayton, D.H., Koop, J.A.H.,Harbison, C.W., Moyer, B.R., Bush, S.E. 2010. How Birds Combat Ectoparasites.The Open Ornithology Journal. 5:41-71.
• Collar, N.J., (Editor-in-chief), Andreev, A.V., Chan, S. Crosby, M.J., Subramanya, S.and Tobias, J. A. Maps by Rudyanto and Crosby, M. J. 2001. Threatened Birds of Asia: The BirdLife International Red Data Book. BirdLife International, Cambridge. 2369-2391.
• Cronin, T.W., Kinloch, M.R., Olsen, G.H. 2005. Head-bobbing behavior in Foraging whooping cranes favor visual fixation. Current Biology. 15(7): R243-R244.
• Cueto, V.R., De Casenavei, J. L. 2002. Foraging behavior and microhabitat use of birds inhabiting coastal woodlands in Eastcentral Argentina. Wilson Bull. 114(3): 342-348.
• Dellacasa, M.V.A., Figneroa, R.R.A., Alvarado, O.S.A., Schlatter, R.P. 2011. Flight behavior of the Red-backed hawk (Buteo polyosoma) during summer in the Nevados de Chilian Chile. Hornero. 26(2): 171-175.
• Dirgayusa, I W. 1995. Jalak Bali Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912: Tinjauan Status, Pengetahuan dan Konservasi. Workshop Important Bird Area.BirdLife International Indonesia Programme.Bogor.
• Frankhan, R., Bradshaw, C.J.A., Brook, BW. 2014. Perspective Genetics in Conservation management: Revised recommendations for the 50/500 rules, Red List criteria and population viability analyses. Biological Conservation. 170: 56-63.
• Freeber, T.M. 1998. The cultural transmission of courtship patterns in cowbirds, Molothrus ater.Animal Behavior. 56: 1063-1073.
• Graves, G.R. 1990. Function of crest displays in royal flycatchers (Onychorhynchus). The Condor. 92: 522-524.
• Ginantra, I K., Dalem, A. A. G. R., Sudirga, S. K., Wirayudha, I G. N. B. 2009. Jenis-jenis Tumbuhan Sebagai Sumber Pakan Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) Di Desa Ped Nusa Penida lungkung Bali. Jurnal Bumi Lestari. 9(1):97-102.
• Hidayat. 2013. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Nelayan. Jurnal Sejarah Citra Lekha. 17(1): 43-57.
• Indrawan, M., Primack, R. B., Supriatna, J. 2007.Biologi Konservasi. Yayasan Obor. Jakarta.
• Indrawati, M. 1999. Desa Sumberklampok Dan Kepulauan Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Prosiding Seminar Peran Serta Masyarakat Dalam Pelestarian Hutan TNBB. Sumberklampok-Cekik. Jepson, P. 2015. Saving a species threatened by trade: a network study of Bali Starling Leucopsar rothschildi conservation. Oryx. 49(2): 1-9.
• Jepson, P., Ladle, R.J. 2005. Bird-keeping in Indonesia: conservation impact and the potential for substitution-based conservation responses. Oryx.39(4): 1-6.
• Jepson. P. 2008. Developing policy instruments regulate of birds: socio-demographic characteristics of bird-keeping in Java and Bali. Oryx in press. Jepson, P., Prana, M., Amama, F. 2008. Developing a certification system for captive-bred birds in Indonesia. TRAFFIC Bulletin. 22(1): 7-9.
• Kabeh, IK., Sunu, IG.K.A., Sanjaya, D.B. 2014. Implementasi Awig-awig Desa Pakraman Dalam Perlindungan Burung Jalak Bali Di desa Pakraman Ped, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Jurnal Jurusan Pendidikan PKn Undiksha. 2(l):18-23.
• Kamil, M.H.I., Kastolani, W., Rahmaffitria, F. 2015.Perencanaan Ekowisata Di Desa Sakti Pulau Nusa Penida Provinsi Bali.Jurnal Manajemen Resort Dan Leisure. 12(1): 31-42
• Kroodsma, D.A., Ingalls, V.A., Sherry, T.W., Werner, T.K. 1987. Song of the Cocos Flycatcher: vocal behavior of a suboscine on an isolated oceanic island. The Condor. 89: 75-84
• Koop, J.A.H., Huber, S.K., Clayton, D.H. 2012. Does sunlight enhance the effectiveness of avian preening for ectoparasite control? J. Parasitol. 98(1): 1-3
• Lameed, G. 2012. Species diversity and richness of wild birds in Dagona- waterfowl Sanctuary, Nigeria. African Journal of Food Agriculture, Nutrition and Development. 12(5): 6461 - 6478.
• Mattison, C.K. 2016. Conversations on Conservation. The Ethics and Issues of Bali Starling Rehabilitation on Nusa Penida. The Flyer. 23(4): 6-10
• MacKinnon, J., Phillipps, K., Van Balen, B. 2010. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Burung Indonesia. Bogor
• McLaughl, R.L. and Montgomerie, R.D. 1990. Flight speeds of parent birds feeding nestlings: maximization of foraging efficiency or food delivery rate? Can. J.Zool.6%: 2269-2274
• Necker, R. 2007. Head-bobbing of walking birds./ Comp Physiol A. 193: 1177- 1183
• Negro, J.J., Margalida, A., Hiraldo, F., Heredia, R. 1999. The function of the Cosmetic coloration of bearded vultures: when art imitates life. Animal Behavior.58: F14-F17
• Noerdjito, M. 2005. Pola Persarangan Bali Starling (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) Dan Kerabatnya Di Taman Nasional. Bali Baxat.Berita Biologi. 7 (4): 215-222
• Noerdjito, M., Roemantyo, Sumampau,T. 2011. Merekonstruksi Habitat Curik Bali (Leucopsar rothschildi Stremann, 1912) di Bali Bagian Baxat.Jurnal Biologi Indonesia. 7(2): 341-359
• Nyatakura, J.A., Andrada, E. 2014. On vision in birds: coordination of head- bobbing and gait stabilizes vertical head position in quail. Frontiers in Zoology. 11: 27-37'
• Odum, E. P. and Kuenzler, E. J. 1955. Measurement of territory and home range size in birds. Auk.72:128-137
• Parwata, A.A.G.O., Griadhi, K.W., Wita, IN., Jayantiari, IG.A. 2013. Konsultasi dan Pembinaan Awig-awig di Desa Pakraman Junjunan Kecamatan Ubud Gianyar. Udayana Mengabdi. 12(1): 20-22
• Pickering, S.P.C. and Berrow, S.D. 2001. Courtship behavior of the Wandering Albatross Diomedea exulans at bird island, South Georgia.Marme Ornithology. 29: 29-37
• Per, E. and Aktas, M. 2008. Breeding birds of the Inozu Valley in central Turkey. Bird Census News. 21(2): 44-53
• Pradharma, P.A., Dwidasmara.I.B.G. 2012. Penerapan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk penentuan lokasi optimal cabang baru bisnis otomotif dalam sistem informasi geografis area marketing. Jeliku 1(1): 1-10
• Prana, M. S., Oetoyo, S., Utami, E. B. 2006. Sukses menangkar Jalak Bali (Leucopsar rothschildi).P. D. Maju Terus Bandung
• Ralph, C. J. R., Droege, S., Sauer, J. R. 1997. Managing and Monitoring Birds Using Point Counts: Standards and Applications. USDA Forest Service Gen. Tech. Rep.PSW-GTR. 149: 161-181
• Rasyidi, M. 2008. Studi Nilai Budaya Pada Lembaga Adat Suku Sasak Sebagai Kekuatan Dalam Membangun Nilai Luhur Budaya Bangsa. Agroteksos. 18(1-3): 70-81
• Roemantyo. 2011. Struktur dan Komposisi Vegetasi hutan Semusim Habitat Curik Bali Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemannl912) di Kepulauan Bali Barat. Jurnal Biologi Indonesia. 7 (2): 361-374.
• Rozsa, L. 1993. An experimental test of the site specificity of preening to control lice in feral Pigeons. J. Parasitol. 79(6): 968-970
• Riany, C.F., Aunurohim. 2013. Populasi Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912 Hasil Pelepasliaran Di Desa Ped Dan Hutan Tembeling Pulau Nusa Penida Bali. Jurnal Sains dan Seni. POM. ITS. 2 (2): 2337-3520
• Risnita.2012. Pengembangan Skala Model Likert. Edu-Bio. 3:86-99
• Saaty, T. L. 1993. Pengambilan keputusan bagi para pemimpin. Proses Hirarki Analitik untukpangambilan keputusan dalam situasi yang kompleks. Penterjemah: L. Setiono. PT. Gramedia. Jakarta
• Saaty, T. L.. 1999.The seven pillars the analytic hierarchy Procedings. Kobe
• Saaty, T. L.. 2008. Decisionmakingwiththe analytic hierarchyprocess.J. Sciences. 1(1): 83-98
• Santosa, E.Y.N. 2003. Peran Desa AdatDalam Pengembangan Pariwisata Di Bali. Aplikasi. Jurnal Aplikasi Ilmu-ilmu Agama. IV(2): 202-217
• Schmidt, C. R. 1983. Jalak Bali (Leucopsar rothschildi). (http://www.cites.org/-eng/resources/ID/fauna/Volume2/A227.051.013.001 %20Leucopsar%20rothschildi_E.pdf). Diakses tanggal 20 Agustus 2010
• Setiyanto, M.A.C. 2012. Peranan Awig-awig Subak dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Ar Risalah. 10(26): 29-36
• Shaffer, M.L. 1981. Minimum Population Sizes for Species Conservation. BioScience. 31(2): 131-134
• Sodhi, N. S., Koh, L. P., Brook, B. W., Ng, P. K. L. 2004. Southeast Asian biodiversity: an impending disaster. TRENDS in Ecology and Evolution. 19(12): 654-660
• Sodhi, N.S., Smith, K.G. 2007. Conservation of tropical birds: mission possible? J. Ornithol. 148:305-309
• Sudantra, I K. 2008. Pengaturan Penduduk Pendatang Dalam Awig-awig Desa Pekraman. Jurnal Unud. 4(1): 1-17
• Sudaryanto. 2001. Populasi, Sebaran dan Habitat Burung Jalak Bali Di Taman Nasional Bali Barat Serta Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Seminar Nasional Jalak Bali. Kantor Meneg LH. Denpasar 19-20 Juli 2001
• Sudaryanto 2007. Hita Karana MenyelamatkanBali. Nasional Penyelamatan Curik Bali dan Habitatnya. Denpasar 15-16 Februari 2007
• Sudaryanto 2010. PopulasiJalakBali (Leucopsar rothschildi Pulau Nusa Penida Propinsi Bali. Prosiding Seminar Nasional Biologi 2010 Fakultas Biologi UGM. Yogyakarta 24-25 September 2010
• Sudaryanto 2016. PelaksanaanAwig-awigFaktor Keberhasilan Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) Di Kepulauan Nusa Penida. Jurnal Biologi in press.
• Sudaryanto, Yuni, L.P.E.K., Imansyah, M.J., Suryakusumah, A. 2003.Konservasi Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) Di Taman Nasional Bali Barat. Prosiding Seminar Nasional Potensi Keanekaragaman Hayati Dan Prospeknya Di Masa Depan. Program Studi Biologi FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya
• Sudaryanto, Djohan, T.S., Pudyatmoko, S., Subagja, J. 2015. Behaviour Bali starling at Bali Barat National Park and Nusa Penida Island. Journal Veteriner. 16(3): 364-370
• Sudaryanto, Djohan. 2016. KonservasiJalakBali (Leucopsar rothschildi) Penida. Dan Kearifan Awig-awig Journal Veteriner. in press
• Suramenggala, I. 2013. Pengembangan desainpengelolaan Kepulauan konservasi dengan menggunakan analisis sistem dinamis di Taman Nasional Bali Barat. Desertasi. Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta
• Susanto, R. 2014. Hambatan Implementasi Program Aforestation/Reforestation Clean Development Mechanism (A/R CDM) Di Sekaroh, Jerowaru, Nusa Tenggara Barat. Journal Ilmu Hubungan Internasional. 2(2): 575-588
• Sutawan, N. 2004. Tri Hita Karana And Subak. In Search for Alternative Concept of Sustainable Irrigated Rice Culture. Proceeding Symposium International Network for Water and Ecosystem in Paddy Fields. Tokyo
• Sutito, A. D., Sumampau, T., Prana, M. S. ,Susilo, H. D., Sudarwati, R., Atmaja, I K., Wirayuda, IG. N. B., Kasmono, A., Sultan, K., Febrian, M., Candra, I., Bayu, V., Siran. 2012. Laporan Hasil Monitoring Dan Evaluasi Program Konservasi Curik Bali / Jalak 5a/z (Leucopsar rothschildi) Di Taman Nasional Bali Barat dan Desa Sumber Klampok. Asosiasi Pelestari Curik Bali. Bogor
• Suwindra, IN.P., Suma, IK., Suardana, IK., Yoga, K., Widnyana. 2012. IPTEKS Bagi Wilayah Nusa Penida. (http://lemlit.undiksha.ac.id/media/1227._i_nyoman_putu_suwindra,_m). Diakses tanggal 18 Desember 2014
• Syaifullah. 2010. Pengenalan Metode AHP (Analytical Hierarchy Process). (http://syaifullah08.files.wordpress.com ). Diakses 18 Desember 2014
• Symes, C.T. and Perrin, M.R. 2003. Daily flight activity and flocking behavior patterns of the Greyheaded Parrot Poice phalusfuscicollis suahelicus Reicnow 1898 in Northern Province South Africa. Tropical Zoology. 16: 47-62
• Thohari, M., Masyud, B., Mansoer, S. S., Soemantri, C, Muntasib, E. K. S. H., Hikmat, A. 1991. Studi Perbandingan Polimorfisme Protein Darah Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) Hasil Penangkaran Dari Indonesia, Amerika Dan Inggris. Media Konsenasi Vol. 111(3) : 1-10
• Tobler, M., Smith, H. G. 2004. Specific floater home ranges and prospective behavior in the European starling, Sturnus vulgaris. Naturwissenschaften. 91:85-89
• Van Balen, S. 1995. Metodologi sensus populasi Jalak Bali Leucopsar rothschildi di Taman Nasional Bali Barat. PHPA/BirdLife-Indonesia Programme. Bogor
• Van Balen, S., Gepak, V. H. 1994. Captive breeding and the conservation programme of the Bali Starling Leucopsar rothschildi. In Creative Conservation (eds G. Mace, P. Olney and A. Feistner). Chapman and Hall, London
• Van Balen, B., Dirgayusa, I W. A., Putra, I M. W. A., Prins, H. H. T. 2000. Status and distribution of the endemic Bali starling (Leucopsar rothschildi). Oryx. 34(3): 188-197
• Van Noordwijk, M., Agus, F., Suprayogo, D., Hiriah, K., Pasya, G, Verbist, B., Farida. 2004. Peranan agroforestri dalam mempertahankan fungsi hidrologi daerah aliran sungai. Agrivita. 26(1): 1-8
• Verbeek NAM. 1991. Comparative bathing behavior in some Australian birds. J. Field Ornithol. 62(3): 386-389
• Watiniasih, N. L., Junitha, I K., Sudaryanto, Wandia, I W. 2011. Genetic Diversity of an Indigenous Balinese Bird (Leucopsar rotschildi) from Bali and Overseas Breeding Sites. ICBS Proceedings. Faculty of Biology Gadjah Mada University
• Welly, M., Sanjaya, W., Primaoktasa, D.,Putra, I. P., Tatas, M. J. 2011. Profil Wisata Bahari Nusa Penida. Coral Triangle Center. Denpasar
• Widodo, W. 2014. Komposisi Index Nilai Penting Burung dalam kaitan studi Curik Bali (Leucopsar rothschildi) di Taman Nasional Bali Barat. Zoo Indonesia. 23(1): 21-34
• Williams, P.L. and Koenig, W.D. 1979. Water dependence of birds in a temperate Oak woodland.Auk. 97: 339-350
• Winter, M., Hawks, SE., Shaffer, JA., Johnson, D.H. 2003. Guidelines for finding nest of passerine birds in Tallgrass Praire. The Prairie Naturalist. 35(3):197-211
• Wirayudha, N. B. 2007. Pelepasliaran Dan Perlindungan Burung Jalak Bali Di Nusa Penida. FNPF. Nusa Penida
• Wulandari, C. 2009. Identifikasi pola agroforestri yang diimplementasikan masyarakat pada lahan marjinal di Lampung Utara. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 14(3): 158-162
• Yamagishi, S., Ueda, K. 1986. Simultaneous territory mapping of male fan-tailed warblers (Cisticola juncidis). J. Field Ornithol., 57(3): 193-199
• Yap, C. and Charlotte, A. 2003. A study of the changes in the range sizes of white-vented mynas in Singapore. The Raffles Bulletin of Zoology. 51(1):159-163.

Lampiran 1: Suhu harian Pulau Nusa Penida

Source

Sudaryanto (2016) - Konservasi Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Streseman, 1912) di Kepulauan Nusa Penida; University Thesis presented at Gajah Mada University, 1 December 2016, 169pp.

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24