Pura Batu Medau (Winarsa, 1978)

Pura Batumedau in Nusa Penida

In June 1978, I Dewa Made Winarsa, Institut Hindu Dharma Denpasar, wrote a dissertation for the Committee 'Ujian Sarjana Muda Lengkap Negara' Denpasar in order to fulfil the requirements for 'Sarjana Muda' (Bachelor degree) in Cultural and Religious Affairs of the Institut Hindu Dharma in Denpasar. The examination committee 'Sarjana Muda Lengkap Negara, Institut Hindu Dharma Denpasar' consisted of chairman Drs. I Gusti Ngurah Rai Wiraha & secretary Drs. I Gusti Gede Ardana. 

winarsa cover purabatumedau 1978Presented below in English are the main conclusions (summary), a list of informants, temple map and location sketch. The original Indonesian text follows below.

Summary / Conclusion

Pura Batumedahu is one of the largest temples in Nusa Penida located east of Suana, a temple where everyone of the Hindu faith in Nusa Penida can pray. The name of this temple is relatively new: it consists of the words 'mada' and 'hulu', a large holy shrine for the Hindu community in Nusa Penida. According to palm leaf inscriptions Babad Renggan in Usana Nusa Penida, this place was referred to as 'medahu', possibly finding its roots in the word 'pedahu' meaning 'perahu' (proa). As I Renggan sailed from Mount Kila (gunung kila) in the direction of Bali in a large proa, the proa brushed against Mount Nusa (gunung Nusa). Its remains united with Mount Sasak (gunung sasak) and it broke. As a result, the tip of the land that was brushed against was called Medahu until now. The objective of erecting Pura Batumedahu in Nusa Penida by the king of Bali Dalem Waturenggong, whose centre of government was located in Gelgel (Klungkung), was to create a temple where the kings (dalem raja-raja), ksatria and brahmana on their way to Nusa Penida could pray. The temple festival (hari piodalan, or petirtan) falls on each Buda kliwon Paang, i.e. once every six months (210 days). The function of Pura Batumedahu is to serve as a holy place or a place to pray built on the basis of pre-established rules, as a place to become close to Hyang Widhi with the aim of gaining his blessing (warenugraha), and also a place for general prayers for the Hindu community to Hyang Widhi especially in Nusa Penida. The status of Pura Batumedahu is a Puseh Bale Agung (Kahyangan tiga).

Informants

  • 1. Anom, I Dewa Gede, 40 yoa, Civil Servant Information Services, District Nusa Penida, Banjar Geria Tengah Nusa Penida
  • 2. Dur, I Made, 37 yoa, Chairman of the Pura Batumedahu Committee, Banjar Semaya Nusa Penida
  • 3. Gedah, I Wayan, 60 yoa, Lay Priest at Pura Bayumedahu, Banjar Semaya Nusa Penida
  • 4. Kuat, I Dewa Ketut, 50 yoa, offerings specialst (tukang banten), Banjar Batununggul, Nusa Penida
  • 5. Sudana, I Made, 40 yoa, Village Elder (Perbekel) Suana, Banjar Suana Nusa Penida
  • 6. Sumantra, I Dewa Ketut, 55 yoa, retired Civl Servant Agriculture Nusa Penida, Banjar Geriah Tengah, Nusa Penida

wiinarsa map purabatumedau 1978 smallwiinarsa sketsa purabatumedau 1978 small

Image above left: Pura Batumedahu Map

Legend: A. 1. Pesanggaran yang menghadap keselatan; 2. Meru memakai tumpang sebelas; 3. Meru memakai tumpang sembilan; 4. Gedong sari; 5. Manjangan seluang; 6. Sapta rsi; 7. Sapta petala; 8. Ngerurah ; 9. Gedong kunci; 10. Suma daksina; 11. Pengaruman; 12. Bale pawedan; 13. Kuri agung untuk masuk kejeroan; 14. Bebataran. B. 15. Api Lawang; 16. Bale peremuan; 17. Bale Agung; 18. Bale Pewaregan; 19. Bale Seke nem; 20. Pintu masuk ke jeroan tengah; 21. Limasari; 22. Mas Sari. C. 23. Bale Pengebatan; 24. Bale; Penyamblihan; 25. Pintu masuk ke taman; 26. Pintu masuk ke Jaba luar; 27. Bale wantilan; 28. Taman; 29. Sebuah pelinggih; 30. Ngerurah; 31. Pintu keluar masuk pura; 32. Jalan menuju pura

Image above right: Temple location sketch

Legend: 1. Samplan; 2. Batununggul; 3. Kutapang; 4. Batumulapan; 5. Pamegalan; 6. Karangsari; 7. Celagilandan; 8. Suana; 9. Pura Batumedahu; 10. Semaya.

References (Winarsa)

  • Ardana, Drs. I Gusti Gede - Pengertian Pura, Proyek Pemeliharan dan Pengembangan Kebudayaan Bali, Pemerintah Daerah Tingkat I Bali, Denpasar, 1971
  • Ardana, Drs. I Gusti Gede - Unsur-Unsur Kepercayaan Megalithic dalam Kebudayaan Bali, Lembaga Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar, 1974
  • Mantra, Prof.Dr. Ida Bagus - Pura sebagai Tempat Persembahyangan, Prasarana dalam Dharma Asrama para pendeta/walaka di Campuan, Ubud, Gianyar, 20 Nopember 1961, berupa stensilan
  • Punyatmaja, Drs. Ida Bagus Oka - Hindu Dharma, Yayasan Pembangunan Pura pita maha Jakarta
  • Purwita, Ida Bagus Putu BA. - Pola Arsitektur Bali, Warta Hindu Dharma, No. 122 dan 126, 1977
  • Putra, Drs. I Gusti Agung Gede - Laporan Penelitian Sejarha Pura, Pelaksana Proyek, Institut Hindu Dharma, Denpasar, 1975
  • Putra, Drs. I Gusti Agung Gede - Hari Raya Nyepi, Cudamani, Berupa stansilan, Institut Hindu Dharma, Denpasar, 1974
  • Putra, Nyonya I Gusti Agung, Ms - Upakara Yadnya, Institut Hindu Dharma, Denpasar, 1974
  • Shastri, N.D. Pendit - Sejarah Bali Dwipa, Bhuvana Saraswati Denpasar Bali

Source

  • Winarsa, I Dewa Made – Pura Batumedahu di Nusa Penida, Institut Hindu Dharma, Denpasar, June 1978 [BA Thesis, Sarjana Muda]

* Original Indonesian text *

Pura Batumadahu di Nusa Penida

I Dewa Made Winarsa, Nomor induk; 682/AK/IHD, Institut Hindu Dharma Denpasar, Juni, 1978. Skripsi ini diajukan kepada Panitia Ujian Sarjana Muda Lengkap Negara di Denpasar guna memenuhi salah satu syarat untuk Ujian Sarjana Muda Lengkap Negara dalam Ilmu Agama dan Kebudayaan Institut Hindu Dharma di denpasar. Panitia Ujian Sarjana Muda Lengkap Negara, Institut Hindu Dhrama di Denpasar; Ketua: Drs. I Gusti Ngurah Rai Wiraha; Sekretaris: Drs. I Gusti Gede Ardana.

Kata pengantar / Foreword

Terlebih dahulu kami mengucapkan "Om Name Siwaya dan pangayu bagya kehadapan Ida Sanghyang Widhi atau Tuhan Masa Esa, di mana atas warenugrahaNya dapatlah kami susun skripsi ini dengan judul Pura Batumedahu di Nusa Penida, adalah untuk menemui salah satu tugas didalam menempuh ujian Sarjana Muda Negara pada Fakultas Agama dan Kebudayaan, Institut Hindu Dharma di Denpasar. Dalam penyusunan skripsi ini banyak kesulitan yang kami jumpai yang sekaligus merupakan tugas yang amat berat bagi kami, karena tidak adanya sumber-sumber berupa prasasti ataupun lontar-lontar yang lengkap mengenai Pura Batumedahu. Dan juga hal ini disebabkan karena kemampuan kami, waktu, fasilitas dan bahan-bahan sangat kurang adanya sehingga hasilnya jauh dari apa yang kita harapkan. Harapan kami semoga skripsi ini dapat dijadikan salah satu bahan di dalam pengembangan dan pembinaan Pura Batumedahu, serta dalam pengembangan dan pembinaan kehidupan Agama yaitu Agama Hindu pada masa-masa mendatang.

batumedau01

Image left: Pura Batu Medau, November 2009 (G.Dijkman)

Sudah sepatutnya melalui kata pengantar ini kami sampaikan ucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak I Gusti Ngurah Rai Wiraha, Ketua Panitia Ujian Sarjana Muda Negara, Institut Hindu Dharma, yang juga sebagai Dosen dan Dosen Pembinbing dalam penyusunan skripsi ini; 2. Bapak Drs. I Gusti Gede Ardana, Sekretaris Panitia Ujian Sarjana Muda Negara, Institut Hindu Dharma; 3. Bapak Drs. I Ketut Linus, Anggota Panitia Ujian Sarjana Muda Negara, yang juga sebagai Dosen dan Dosen Pembinbing dalam penyusunan skripsi ini; 4. Bapak dan Ibu para Dosen dan Assisten beserta segenap civitas Academica Institut Hindu Dharma. Ucapan terima kasih kami haturkan pula kepada: 1. Bapak I Gede Anom, Jupen Kecamatan Nusa Penida; 2. Bapak I Made Sulana, Perbekel Desa Suana; 3. Bapak I Dewa Ketut Kuat, Tukang banten di Nusa Penida; 4. Bapak I Made Dur, Ketua Panitia Pura Batumedahu. Tanpa bantuan bapak-bapak dan ibu sebagai tersebut di atas niscaya skripsi ini tidak akan terselesaikan. Terakhir, semoga skripsi ini ada artinya dalam menambah kasanah Ilmu pengetahuan, bermanfaat bagi umat Hindu, Nusa dan Bangsa. Om, Santi, Santi, Santi. Penyusun.

Bab I. Pendahuluan: Alasan pemilihan judul

Adalah suatu kewajiban yang harus kami lakukan dalam menyongsong dan menyambut tugas yang diberikan kepada kami, guna melengkapi salah satu syarat menempuh ujian sarjana muda pada Institut Hindu Dharma Jurusan Agama dan kebudayaan, sehingga kami diwajibkan membuat suatu karangan kecil yang berjudul "PURA BATUMEDAHU DI NUSA PENIDA". Pengungkapan sejarah dari suatu pura, bagi kami adalah merupakan suatu tugas dan pekerjaan yang amat berat, karena sangat kurangnya pengetahuan dan pengalaman kami bidang ini, dan juga sangat kurangnya data-data yang kami dapat pertanggung jawabkan serta ilmiah baik dari informant maupun data-data yang kami peroleh dari tulisan-tulisan. Namun demikian demi rasa bakti kami kepada kebesaran Sanghyang Widhi, serta kecintaan kami kepada umat dan tanggung jawab kepada agama, maka kami memberanikan diri untuk menyusun tulisan ini dengan harapan untuk dapat dipergunakan umat Hindu sebagai suatu bahan pengetahuan dan meningkatkan semangat beragama, bagi nusa dan bangsa. Maka dengan adanya tugas, yaitu membuat sebuah karangan kecil, adalah merupakan suatu kesempatan untuk melakukan penelitian terhadap sesuatu masalah yang mana sebenarnya pada diri kami tak terbayang dan belum terjangkau tentang usaha serta dasar-dasar apa yang mesti dipergunakan untuk mengungkap hasil kebudayaan Bali yang memiliki nilai seni yang sangat tinggi. Sehingga dalam hal ini kami berusaha untuk mengembangkan dan membina serta menjelaskan khasanah kebudayaan nenek moyang, diantaranya peninggalan yang merupakan topik pokok dalam karangan kecil yaitu pura.

Adapun beberapa alasan yang dapat kami ajukan dalam judul tersebut antara lain: 1. Untuk mewujudkan rasa sujud bakti kami kehadapan Hyang Widhi Wasa yang telah melimpahkan warenugraha kepada hidup dan kehidupan kita; 2. Rasa sujud dan kecintaan kepada leluhur yang memberikan tuntutan beserta peninggalan berupa bangunan suci yang mengandung nilai relegi dan budaya yang sangat tinggi; 3. Judul ini sangat menarik perhatian kami yaitu sesuai dengan jurusan kami pada Fakultas Agama dan Kebudayaan, Institut Hindu Dharma. Yang semata-mata untuk memperluas dan memperjelas ilmu pengetahuan di bidang ini; 4. Sepanjang pengetahuan kami bahwa belum pernah kami jumpai ungkapan-ungkapan tentang penguraian Pura Batumedahu di Nusa Penida baik paper maupun berupa skripsi. Oleh karena hal berbagai hal tersebut diatas, kami sangat tertarik untuk memilih judul ini, untuk dapat kami ungkapan secara luas dan gamblang sesuai dengan fungsi bangunan tersebut dan harapan kami semoga tulisan kami berguna bagi nusa dan bangsa.

Ruang lingkup permasalahannya

batumedau02Image right: Pura Batu Medau, November 2009 (G.Dijkman)

Di dalam menulis sesuatu pura, telah dikatakan oleh umum lebih-lebih para sarjana bahwa menulis suatu karangan ilmilah pada umumnya harus memenuhi persyaratan tertentu dan menganut sutau methode penulisan yang dianggap penting. Bila menulis liku-liku pura ini harus berpegang teguh pada sumber-sumber baik secara tertulis maupun informasi, sedangkan sumber-sumber secara tertulis seperti halnya lontar-lontar prasasti maupun purana-purana yang khusus menguraikan tentang pura terutama Pura Batumedahu secara lengkap boleh dikatakan tidak ada. Walaupun demikian kami akan berusaha menulis pura, terutama Pura Batumedahu dengan berdasarkan informasi tradisi dan situasi setempat. Didalam ruang lingkup permasalahannya, akan kami uraikan terlebih dahulu pengertian pura secara umum.

Pura adalah berasal dari urat kata "pur" yang berarti kota atau benteng atau juga kota yang terbentang. Ini berarti suatu tempat yang khusus dipakai untuk dunia kesucian dengan dikelilingi oleh tembok. Tempat yang khusus ini di Bali disebut Pura sama juga hal ini misalnya di Roma dan Yunani Kuno dinamai tempelum berarti daerah yang diasingkan dimana diadakan hubungan langsung dengan para dewa. Dan daerah yang diasingkan dipagari dengan tembok adalah suci. Pura adalah tempat persembahyangan untuk memuja Sang Hyang Widhi dengan manifestasinya. Dan sebagai tempat suci yang sama halnya dengan pengertian pura ada Jawa pada jaman Hindu, di India dan juga di Mesir. Hanya terdapat sedikit perbedaaan dalam agama Hindu di Bali, adalah bahwa pura itu bukan tempat yang terus menerus ditempati oleh Sanghyang Widhi, melainkkan hanya sebagai persimpangan dalam arti Tuhan tidak menetap dan hanya turun dan dilinggihkan (didudukkan) pada waktu-waktu hari keagamaan (piodalan) atau juga pada waktu-waktu tertentu, apabila diperlukan dan sudah pasti harus diikuti dengan upacara. Sesuai dengan konsepsi ini, istilah yang dipakai untuk bangunan suci tersebut, adalah pesimpangan pelinggih (tempat duduk) artinya pikiran dipusatkan dan menuhur (memohon) datang untuk melinggih (duduk) dipelinggihannya (tempat duduk). Jadi pengertian pura dalam hak ini adalah sesuai dengan pandangan masyarakat Hindu, terutama yang ada di Bali yakni tempat persembahyangan untuk memuja dan memohon waranugraha kepada Sanghyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya dan para leluhur yang telah suci atau yang telah dianggap bersatu dengan Sanghyang Widhi.

Kita ketahui bahwa terdapatnya pura-pura yang besar berfungsi sebagai pura umum di Bali, adalah karena datangnya seorang tokoh keagamaan, dimana ketika di Bali ditaklukkan oleh maha Patih Gajah Mada pada tahun 1343, maka mulailah pada tahun 1360 diangkat seorang Raja di Bali bernama Sri Kresna Kepakisan yang berkeraton mula-mula di Samprangan (sebelah timur kota Gianyar). Di mana akhirnya pada tahun 1400 pusat kekuasaan dipindahkan ke Gelgel dan terakhir di Klungkung. Pada waktu ini mulailah arus perngaruh yang besar-besaran dari Jawa Timur, dengan daerahnya beberapa orang-orang Arya sebagai panglima-panglima perang Gajah Mada. Disamping itu juga datang tokoh agama seperti Danghyang Nirartha pada waktu pemerintahan Dalem Waturenggong yang selanjutnya menjadi Bhagawanta (Pendeta Kerajaan) Kerjaaan Gelgel.

Sebelum ini telah datang ke Bali Empu Kuturan yang menjadi Bhagawanta dari Raja Anak Wungsu dan berasrama di Silayukti di Padang Bai Amlapura. Kedatangan tokoh ini mendatangkan banyak pembaharuan baik dalam tatacara pemerintahan maupun di dalam keagamaan. Sebagai contoh kami kemukakan bahwa tokoh Empu Kuturan adalah berjasa di dalam menciptakan pembaharuan-pembaharuan misalnya seperti disebutkan didalam lontar Raja Purana sebagai berikut:

"Ngaran Dewa Ring Kahyangan Pawangunan Empu Kuturan Kepastika Saking Pura Sila Yukti, muang ngewangun seraya karya, ngadegang Raja Purana, mwang nangun karya ngenteg linggih Bhatara Ring Bali, Keprateka antuk sira Empu Kuturan ngeraris mangun catur Agama, Catur Logika Basa, Catur Sila, makadi ngawangun sanggah Kamulan, ngewangun Kahyangan Tiga, Pura Puseh, Dalem muang Balai Agung".

batumedau03Image left: Pura Batu Medau, November 2009 (G.Dijkman)

Adapun Dewa (Tuhan) didalam Kahyangan diciptakan atau dibangun oleh Empu Kuturan direncanakan dari Pura Sila Yukti dan membangun segala pekerjaan membangun Raja Purana (maksudnya pura-pura yang besar di Bali). Demikian pula mengadakan pemelaspasan dan mengisi pedagingan linggih Bhatara-Bhatari di Bali diatur oleh Empu Kuturan, selanjutnya empat bahasa, empat ajaran-ajaran pokok dalam kesusilaan dan lima tattwa-tattwa atau Filsafatnya Agama, langsung mengajar membuat sanggah Kamulan dan Kahyangan Tiga, Pura Dalem, Puseh dan Balai Agung atau pura Desa.

Dengan bedasarkan seperti tersebut diatas dapat dikatakan bahwa sempurnanya pura-pura di Bali baik tata cara Agama, berbahasa maupun kesusilaan, adalah berkat datangnya seorang tokoh keagamaan yaitu Empu Kuturan. Sehingga kita sebagai Umat Hindu khususnya Hindu di Bali hendaknya janganlah melupakan atas jasa-jasa beliau dan kita harus berusaha untuk menghayatinya atas jasa beliau yang besar, yang mana sampai sekarang dapat kita lihat. Pada hakekatnya pura itu adalah suatu tempat suci dan tempat untuk menyucikan diri yang dikeramatkan oleh umat Hindu di Bali di mana pada waktu permulaan pendiriannya diperlukan mengikuti proses sebagai berikut: Masyarakat setempat setelah mengadakan permufakatan untuk mendirikan sebuah pura, maka maksud ini kemudian disampaikan sepada Ida Pedanda (Pendeta) agar beliau memilihkan tanah (tempat) yang baik untuk tujuan tersebut. Mengenai pemilihan tepat yang cocok untuk dibangun pura, oleh pendeta pertama-tama didasarkan atas yoga dan yoga berarti perhubungan atau jalan untuk menghubungkan manusia dengan yang ada sehingga membawa manusia ke arah moksah. Setelah melalui yoga (perhubungan) didapat inspirasi apakah tempat dimaksud cocok atau tidak. Disamping itu juga diperhatikan bau dari tanah itu apakah harum atau busuk yang harum adalah menjadi pilihan. Juga tidak ketinggalan diperhatikan posisi letak tanahnya dan pada umumnya dicari tanah yang agak meninggi dari situasi lingkungannya, sehingga faktor keagungan dan kesucian bisa tetap dipertahankan. Setelah tempat diketemukan maka mulailah pekerjaan mengukur tanah dengan mempergunakan pedoman lontar-lontar seperti asta kosala dan asta kosali yaitu lontar yang memuat perihal seni bangunan asli Bali. Setelah tanah didapatkan dan diukur, selanjutnya diadakan upacara penyucian terhadap tanah tersebut yang disebut upacara pamari sudha tanah (pembersihan tanah).Setelah upacara Pemari Sudha tanah selanjutnya tibalah pada upacara nasarin (peletakan batu pertama) untuk pondasi sesuatu bangunan. Di tengah tengah denah fondasi bangunan dibuatkan lubang persegi ukuran sahasta mustika (±60 cm) didalam lubang ini diisi dasar bangunan barupa sebilah bata yang berisi lukisan magis Bhadawang Nala serta huruf magis lainnya lagi. Secara filosofis sesuatu bangunan adalah simbolis dari pada macrocosmos, dan Bhadawang Nala adalah simbolis dari pada dasar bumi.

Selanjutnya apabila bangunan-bangunan seluruhnya sudah selesai dibangun, maka menyusullah pase penyucian yang disebut dengan pemelaspas yang maksudnya penyucian bangunan-bangunan itu dari bekas-bekas keletehan (kekotoran) yang mungkin dibawa atau disebabkan oleh para pekerja pada waktu membuat bangunan itu. Kemudian fase selanjutnya dilakukan penyucian seluruh komplek tempat persembahyangan itu. Penyucian seluruh komplek itu disebut pemelaspas agung waktunya untuk melakukan upacara tersebut ditetapkan pada hari yang baik yang selanjutnya akan dipakai hari perayaan setiap enam bulan (dua ratus sepuluh hari) atau setahun sekali. Setelah kami bentangkan secara panjang lebar mengenai pengertian pura secara umum yang kami mulai dari kata pura sampai dengan pemelaspas agung, maka Pura Batumedahu yang berfungsi sebagai Puseh Balai Agung tidak ada perbedaannya dengan pura-pura yang berfungsi umum di Bali. Pada umumnya denah pura di Bali dibagi atas tiga bagian akan tetapi di pura Batunedapun juga dibagi atas tiga halaman yaitu : Jaba Pura (halaman luar), Jaba Tengah (halam tengah), Jaba Jeroan (halaman dalam). Rupa-rupanya pembagian halaman pura ini, didasarkan atas konsepsi marcocosmos (Bhuana Agung) yakni: Pembagian pura atas tiga bagian itu adalah lambang dari pada Triloka yaitu: Bhur Loka, Bhwah Loka, Swah Loka.

Pintu masuk yang pertama dari halaman luar ke halaman tengah tidak berbentuk candi, melainkan berbentuk pintu gerbang terbuka biasa. Sedangkan pintu masuk yang kedua berupa candi kurung (kuri Agung) adalah untuk memasuki halaman dalam (jeroan) dari halaman tengah. Pada umumnya kuri Agung di Bali berisi daun pintu sehingga bisa dibuka dan ditutup. Kalau kuri Agung di Pura Batumedahu juga memakai daun pintu sehingga para penyungsung di dalam melakukan persembahyangan bisa dengan bebas keluar masuk melalui kuri Agung itu. Disamping kuri Agung, juga terdapat kuri kecil (babatelan) disebelah kiri dari kuri Agung itu. Pada kuri Agung terdapat hiasan kala diatas pintunya sebagai simbolis dari pada penjaga stana Sanghyang Widhi di halaman dalam. Karena kala adalah power daripada Sanghyang Widhi. Di dalam lontar kala tatwa disebutkan bahwa kala itu adalah putra dari Siwa. Secara filosofis Kala sama dengan Dewa. Dan ini ada di dalam Maero dan Microcosmos. Menurut tutur suksama di Bali, Kala, Buta dan Dewa itu samuanya berada di dalam tubuh manusia juga. Oleh karena pura itu simbolis dari Macrocosmos yang secara pilosofis sama dengan microcosmos, maka candi kurung itu adalah simbolis dari pada klep (cantik kakolong yang disebut dengan istilah rahasia muka) yang ada didalam mulut sebelum masuk kedalam untuk mendapatkan rahasia kesucian yang ada didalamnya.

Didirikannya Pura Batumedahu di Desa Suana adalah semata-mata untuk dipergunakan sebagai tempat suci didalam melakukan pendekatan-pendekatan terhadap Ida Sanghyang Widhi bersama dengan segala manifestasinya. Pura Batumedahu di Nusa Penida yang berada di Desa Suana adalah didirikan sejak jaman duhulu oleh raja Bali yang bertahta di Gelgel (Klungkung). Sedangkan pendirian Pura Batumedahu yang berfungsi sebagai Puseh Balai Agung adalah agar supaya para Dalem, Raja, Para Kesatria dan brahmana-brahmana bila datang ke Nusa Penida agar bisa melakukan persembahyangan di Pura tersebut. Sedangkan hari piodalannya adalah jatuh tiap-tiap hari Buda Kliwon Paang atau tiap-tiap dua ratus sepuluh hari. Dan selama tiga hari Ida Bhatara Ngadag di Pengaruman dan pada hari yang ke empat atau hari yang terakhir dilakukan pesineban (disimpan) kembali di Gedong. Pendirian Pura Batumedahu mempunyai fungsi antara lain sebagai tempat suci atau tempat persembahyangan untuk menghubungkan atau mendekatkan diri terhadap Ida Sanghyang Widhi beserta dengan segala manifestasinya untuk memperoleh warenugrahanya. Sedangkan dalam bidang kerohanian yang sebagai tempat persembahyangan umum untuk menunjukkan rasa bakti umat Hindu kepada Sanghyang Widhi terutama di Nusa Penida. Sedangkan penyungsung Pura Batumedahu adalah masyarakat yang berada di wilayah bagian Timur dari Nusa Penida yang terdiri dari lima perbekelan antara lain Perebekelan Mutampi, Batununggul, Suana dan Sekartaji. Dan mengenai persembahyangan dalam berlangsungnya upacara piodalan, langsung dipungut dari rakyat lewat perbekel. Jadi pembiayaan dalam upacara-upacara piodalan di Pura Batumedahu terletak pada masyarakat pengempon atau penyungsungnya.

Metode penyelidikan

Di dalam menyusun skripsi ini, kami mempergunakan beberapa metode yang lazim dipergunakan dari kalangan peneliti, dalam usaha untuk memecahkan masalah pokok, mengenai Pura Batumedahu di Nusa Penida. Adapun methode atau cara-cara penyelidikan tersebut antara lain: Pertama kami mengadakan penelitian terhadap sumber tertulis dengan cara mengumpulkan bahan-bahan kepustakaan, yang menguraikan tentang sejarah dari cara tersebut disamping itu juga kami mengadakan penyelidikan terhadap buku-buku atau majalah dan tulisan-tulisan yang ada hubungannya dengan pura tersebut. Selanjutnya setelah kami mendapatkan data-data berdasarkan sumber-sumber kepustakaan, kami juga melakukan penyelidikan dengan mengadakan pengamatan langsung (observasi) terhadap pura tersebut, kegiatan upacara serta upakara yang diperlukan selama berlangsungnya upacara di pura tersebut. Dan sangat penting pula artinya dalam pengumpulan data adalah dari methode wawacara kami lakukan terhadap pemuka-pemuka pura, yang kami anggap tahu tentang hal ihwal pura tersebut. Setelah data-data dapat kami kumpulkan, usaha selanjutnya lalu dilakukan pengolahan data dengan analisa-analisa, yang merupakan landasan untuk menarik suatu kesimpulan, sebagaimana lazimnya dilakukan untuk menyusun suatu pendapat dari kalangan perguruan tinggi. Harapan kami semoga tulisan kami dapat merintis dalam penyelidikan yang lebih luas dan mendalam terhadap penyelidikan lainnya, yang erat hubungannya dengan agama dan kebudayaan sesuai dengan obyek dan methode penyelidikan yang kami pergunakan.

Sumber yang dipergunakan

Di dalam menyusun skripsi, maka kami tidak terlepas dari berbagai sumber yang harus kami pergunakan. Karena sumber adalah merupakan dasar pokok bagi para ilmiawan dalam menyusun dari sesuatu sejarah. Begitu pula didalam kami membuat atau menyususn skripsi dengan judul Pura Batumedahu di Nusa Penida, kami tidak luput dari berbagai sumber. Adapun sumber-sumber yang kami pergunakan antara lain: 1. Sumber tertuli; 2. Sumber tak tertulis. Sumber tertulis: a. Lontar-lontar; b. Buku atau majalah. Buku atau Majalah: 1. Pengertian pura-pura di Bali; 2. Cudamani; 3. Hindu Dharma; 4. Pura tempat persembahyangan; 5. Warta Hindu Dharma; 6. Laporan penelitian sejarah pura; 7. Upacara Yadnya; 8. Sejarah Bali Dwipa; 9. Dan lain sebagainya. Sumber tak tertulis: Dengan berdasarkan informasi-informasi antara lain: 1. Dari pemangku pura; 2. Dari penghulu pura; 3. Dari pimpinan pimpinan masyarakat; 4. Dari pemuka-pemuka Desa; 5. Dan dari beberapa tukang banten.

Bab II. Lokasi dan sejarah pura: Lokasi Pura Batumedahu

Pura Batumedahu adalah sebuah pura yang berada di pulau Nusa Penida. Adapun nama Nusa Penida pada waktu pemerintahannya Kesari Warmadewa (835 saka) adalah Gurun hal ini dapat kita ketahui ketika Kesari Warmadewa mengalahkan musuh di Gurun yang menurut buku pamancangah Jawa, Gurun itu diganti dengan Nusa Penida dengan berdasarkan keterangan tersebut diatas, maka Nusa Penida pada waktu dikalahkan oleh Kesari Warmadewa masih bernama Gurun. Pulau Nusa Penida ini letaknya disebelah dari kakinya Pulau Bali yang tersejati oleh selat Badung sedangkan di bagian Barat dari pulau Nusa Penida terdapat dua gugusan pulau kecil-kecil yaitu masing-masing bernama Pulau Lembongan dan Pulau Ceningan. Kita ketahui bahwa Nusa Penida ini terdiri dari dua belas Perbekelan dan satu Kapung Islam di Toyepakeh Kecamatan Nusa Penida, hal ini sekaligus menjadi wilayah kekuasaan Daerah tingkat II Klungkung.

Pada waktu Nusa Penida diperintah oleh Dalem Wukut, keadaannya berdiri sendiri artinya bukan berada di bawah kekuasaan Raja Gelgel dimana pada waktu itu diperintah oleh seorang raja bernama Dalem Waturenggong. Namun setelah Dalem Wukut kalah atas pertempuran yang dilakukan dengan Jelantik Bogol. Yaitu pepatih Dalem Waturenggong maka kekuasaan diambil alih oleh Raja atau Dalem Waturenggong maka kekuasaan diambil alih oleh Raja atau Dalem Waturenggong di Gelgel sehingga sampai sekarang Nusa Penida diwilayahi oleh Daerah Klungkung. Untuk jelasnya kami akan kutip sedikit tentang pengambilan kekuasaan oleh Dalem Waturenggong kepada Dalem Wukut. Diceritakanlah keadaan di Bali pada Jaman Pemerintah Dalem Waturenggong di mana Jawa Timur (Pesuruan), Lombok, Sumbawa dan sebagainya sudah dapat dikuasai oleh Dalem Waturenggong sedangkan di Nusa Penida tampuk pimpinan kerajan masih tetap dipegang oleh Dalem Wukut. Dalam kekuasaannya Dalem Wukut sebagai Raja di Nusa Penida bertindak sewenang-wenang anyapa kandi aku lebih-lebih tindakan yang bersifat inmorial seperti darati krama (ngerabi ning wong arabi), maka perbuatannya itu tidak dapat diterima oleh kebanyakan masyarakat Nusa Penida pada waktu jamannya Dalem Wukut itu. Sehingga para pemuka-pemuka desa mengadakan mufakat untuk menghadapi mengadu semua tindakannya Dalem Wukut ini kepada Raja (Dalem Waturenggong) yang beristana di Gelgel (Klungkung).

Setelah diterima pengaduan Pemuka Desa sebagai wakil rakyat Nusa Penida, maka oleh Dalem diutuslah I Gusti Ngurah Paminggir menyerang Nusa tetapi oleh karena orangnya yang kasar tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu sudah menyerang, demikian pula membakar rumah-rumah penduduk maka Dalem Wukut sangat marah hinga dipanggilah para Bala Samar untuk menghadapinya sehingga Ngurah Paminggir dengan laskarnya semua gugur. Mendengar Ngurah Paminggir gugur, maka Dalem Waturenggong memanggil para patih dan punggawa beliau untuk menentukan siapa yang akan diutus untuk memerangi Nusa. Akhirnya persidangan menunjuk I Gusti Jelantik Bogol Putra dari I Gusti Jelantik yang gugur dalam perang Pasuruan. Tetapi I Gusti Jelantik Bogol tidak ada di Gelgel, beliau mengasingkan diri di Buleleng dan kemudian beliau dipanggil untuk menghadap Dalem untuk diberi tugas menyerang Nusa. Gusti Jelantik Bogol diberikan senjata yang bernama Ganja Malela, oleh Dalem dan dilarang membawa senjata bekas warisan ayahnya Gusti Jelantik (Gusti Made Tengah) yang gugur di Pasuruhan, karena bekas kekalahan.

Kedatangan I Gusti Jelantik Bogol di Nusa Penida disambut dengan baik oleh Dalem Wukut, karena lain halnya dengan Kerian Peminggir yang pernah terdahuluan menyerang Nusa. Dimana I Gusti Jelantik Bogol dengan sopan menghadap Dalem Wukut dan menyatakan dirinya sebagai utusan Dalem Waturenggong untuk meminta Pulau Nusa. Tetapi sebagai seorang kesatria, Dalem Dukut bersedia menyerahkan itu setelah bertanding kesaktian. Setelah dijamu Gusti Jelantik Bogol dengan baik, maka dimulailah peperangan (duel) dimana dalam duel yang berlangsung lama ini akhirnya keris Gaja Melela anugrah Dalem patah waktu itu ada keinginan Jelantik Bogol untuk bertempur tanpa senjata dan gugur di medan perang sebagai mana ayahnya waktu menyerang Pasuruhan. Melihat keadaan yang gawat itu, maka Gusti Ayu Kaler cepat-cepat menyerahkan keris yang belum jadi (bakalan keris) yang bernama Pencok Sahang. Setelah melihat senjata itu maka Dalem Dukut menghentikan sejenak pertempuran. Dalem Dukut telah menyadari bahwa keris bakalan yang bernama Pencok Sahang itu adalah taring Naga Basuki, oleh karena itu beliau menyadari bahwa sudah masanya beliau akan kembali ke Sunia Loka, dan memberi pesan kepada Gusti Jelantik Bogol sebagai berikut. Kepada Gusti Jelantik dipesankan bahwa segala harta kekayaan Dalem Dukut serta rakyat dan rakyat samarnya yang dipimpin oleh Ratu Gede Nusa diserahkan kepada Dalem Waturenggong. Setelah berpesan demikian maka dimulailah peperangan itu dan gugurlah Dalem Dukut oleh senjata Gusti Jelantik yang bernama I Pencok Sahang. Demikianlah jalan ceritanya Dalem Wukut dalam penyerahan kekuasaan kepada Dalem Waturenggong di Gelgel.

Kini kembali kepada lokasi Pura Batumedan yaitu dimana pura tersebut letaknya di pinggir pantai, disebelah Timur Desa Suana Perbekelan Suana, di sebelah Timur Desa Suana Perbekelan Suana, di sebelah Barat dari Desa Semaya. Terletak di suatu areal seluas 50 x 50 m yaitu dikelilingi oleh pohon kelapa dan pada halaman luas dasar pura tersebut, terdapat pohon-pohon yang rindang sedangkan disebelah Timur dari Pura tersebut kita lihat laut yang luas dengan airnya membiru dan apabila kita lemparkan pandangan jauh ke Timur, akan kita lihat gugusan pulau Lombok yang membentang dari Utara ke Selatan.

Pura Batumendahu didirikan menghadap ke Selatan sebagaimana umumnya pura-pura di Bali. Di samping menghadap ke Selatan, pada umumnya pura-pura di Bali juga menghadap ke Barat. Adapun kedua arah ini yakni berhulu di Timur dan di Utara adalah merupakan dua arah yang suci menurut keyakinan Agama Hindu. Disamping pura-pura umumnya berhulu di Timur dan Utara, juga berhulu di gunung terutama di Bali oleh karena menurut pandangan agama Hindu di Bali bahwa di gununglah tempat atau utama roh suci leluhur di mana kalau di Bali dalam hal ini iyalah Gunung Agung. Oleh karena sebab itu maka Pura Batumedahu di Nusa Penida menghadap ke Selatan, mungkin mengambil hulu atau berhulu di Gunung Agung.

Sejarah berdirinya Pura Batumedahu

Untuk menyusun atau menguraikan liku-liku sejarah mengenai Pura Batumedahu, di mana hal ini kamu raskan agak sulit. Salah satunya faktor penyebabnya adalah karena tidak adanya sumber yang pasti baik yang berupa prasasti atau purana maupun yang berupa benda-benda peninggalan-peninggalan yang khusus mengenai Pura Batumedahu, sebagai dasar kami untuk menyusun serta menguraikan masalah sejarah berdirinya Pura Batumedahu. Meskipun demikian kami akan berusaha untuk mencari keterangan-keterangan dari para pemangku dan dari pemuka-pemuka masyarakat yang benar-benar dapat dipercaya serta dipertanggung jawabkan kebenarannya. Dalam uraian ini akan kami kemukakan terlebih dahulu etimologi dari pada Batumedahu. Jika ditinjau dari etimologi, maka Pura Batumedahu berasal dari kata : Ratu, Mada dan Hulu. Batu adalah letak pura ini seolah-olah dibendung atau dikelilingi oleh batu yang benar-benar hingga dengan demikian ombak laut yang gulung gemulung silih berganti menyerang batas daripada pura tersebut tidak bisa merongrongnya karena pura ini ada di pinggir pantai. Mada adalah besar sedangkan hulu adalah kepala atau merupakan tempat penyiwian atau penyungsungan kepada ida Sanghyang Widhi. Jadi batu, mada dan hulu adalah tempat peribadatan yang besar bagi umat Hindu di Nusa Penida. Menurut lontar Babad Renggan dalam Usana Nusa Penida, maka tempat itu disebut Medahu. Mungkin nama itu berasal dari kata pedahu yang artinya perahu karena I Rengganpada waktu berlayar dari Gunung Kila akan menuju pulau bali mempergunakan perahu yang besar. Untuk jelasnya maka kami akan uraikan cerita perjalanannya I Renggan dari Gunung Kila akan menuju Pulau Bali, sampai adanya kata Batumedahu.

Tersebutlah ada bernama I Dukuh Jumpungan yang berasal dari Gunung Kila. I Dukuh Jumpungan ini mempunyai seorang istri bernama Ni Puri. Dari perkawinannya ini lahirlah seorang Putra bernama I Mraja. I Mraja Putra dari I Dukuh Jumpungan dan Ni Puri kawin dengan Ni Lumanda, sehingga dari perkawinannya lahir seorang anak bernama I Undur. I Undur kawin dengan Ni Lumi mempunyai anak bernama I Renggan dan I Mecaling. I Renggan kawin dengan Ni Mrahim mempunyai anak tiga orang masing-masing bernama I Gutra dan I Pangeran Yeha adalah laki-laki sedangkan yang perempuan bernama Ni Tone. Ni Tone diambil oleh Dewa di Jungutbatu yang bernama Hyang Priyaka untuk dijadikan istrinya.

Diceritakan sekarang I Dukuh Jumpungan setelah terdampar dalam perjalanan di laut bersama dengan I Renggan, membuat lolohan (bahasa Bali) di Penida dan di Ceningan untuk menunggu sebelum pekerjaan selesai, maka I Renggan membuat rumah bernama di Bias Mentig. Setelah lama I Renggan tinggal di Bias Mentig hingga I Renggan melahirkan beberapa anak di tempat ini. I Renggan adalah salah seorang keturunan dari I Dukuh Jumpungan bersaudara dengan I Mecaling di mana kedua bersaudara ini mempunyai suatu kekuatan yang sama-sama kuatnya. Diceritakan I Gatra anak dari I Renggan pergi ke Bukit Byiahhe untuk minta wahyu pada Dwa-Dewa yang ada atau berstana di Bukit Byaha, dengan permintaan supaya daerah yang menjadi kekuasaannya yaitu di bagian timur Penida menjadi angker. Lagipula permintaannya yaitu setiap orang yang berkuasa di Nusa, maka I Mecaling berhak minta upeti (pajak) dan permohonannya itu dikabulkan oleh Bhatara di Bukit Byaha. Sedangkan I Pangeran Yeha saudara I Gatra datang ke bukit Bhyaha mohon wahyu pada Dewa-Dewa yang ada di Bukit Byaha dengan permintaan untuk menguasai pulau Nusa di Lembongan sampai ke Jungutbatu. Dewa di bukit Byaha laki dan perempuan mengabulkan permintaan I Pangeran Yeha. Adapun Bhatara Bukit Byaha yang laki bernama Ida Iwirang sedangkan yang perempuan bernama I Lulut.

Sekarang diceritakan Dukuh Jumpungan bersama dengan keluarganya semua. Di mana Dukuh Jumpungan bersama dengan I Renggan hendak mengadu kesaktian atau kekuatannya terhadap Bhatara di Bali yaitu di Toklangkir bernama Sang Hyang Maha Dewa. I Dukuh Jumpungan bersama I Renggan berkehendak membelah gunung Toklangkir itu supaya menjadi dua. Atas dasar inilah I Dukuh Jumpungan bersama I Renggan memiliki perahu besar yang amat sakti dan memiliki suatu kekuatan yang sangat luar biasa hebatnya yaitu setiap pulau yang dilalui oleh perahunya Dukuh Jumpungan bersama I Renggan maka pulau itu bisa hancur menjadi laut.

Sekarang Dukuh Jumpungan, I Renggan beserta keluarganya naik di atas perahu berangkat dari Gunung Kila menuju pulau Bali yaitu di Desa Padang. Dalam perjalanan untuk menuju pulau Bali, perahunya I Dukuh Jumpungan melalui sebelah Selatan pulau Nusa Penida menuju ke timur. Setelah sampai di Timur yaitu tepat di sebelah Selatan dari pulau Lombok, dimana dari sini perahunya I Dukuh Jumpungan berbelok menghadap ke Utara lalu diserempetnya Gunung Nusa disebelah Timur di ujung Utara maka hancurlah daerah itu menjadi laut sehingga daerah yang diserempet oleh bedahu atau perahunya I dukuh Jumpungan disebut dengan Batumedahu sampai sekarang. Dimana sebelumnya gunung nusa itu yang ada disebelah Timur, menjadi satu dengan gunung sasak yang bernama bukit Bangko-Bangko.

Setelah gunung Nusa dan gunung sasak yang bekasnya bersambung pecah menjadi dua akibat serempetan perahunya I Dukuh Jumpungan maka perahunya yang datangnya dari arah Selatan diombang-ambingkan oleh gelombang yang besar-besar. Karena serangan gelombang ini maka timbullah sakwasangka (bimbang) kalau bahasa Balinya adalah sehingga sampai sekarang gelombang itu disebut dengan Lancut Selang (lancut sama dengan gelombang). Hingga para nelayan kalau berada ditempat tersebut harus berhati-hati bilamana terdapat gelombang besar-besar yang oleh para nelayan biasa disebut Lancut Selang yang datangnya dari arah selatan, dan mereka harus menghadapinya dengan tenang serta memakai perhitungan-perhitungan yang tepat untuk melewatinya.

Setelah lama I Renggan dan I Dukuh Jumpungan memperbaiki perahunya yang rusak karena serangan gelombang yang besar yang biasa disebut Lancut Selang, lalu berjalanlah perahunya I dukuh Jumpungan menuju barat daya untuk mencapai desa Padang di tanah Ampo Tengah pulau Bali. Maka diserempetnya desa Padang di sebelah Selatan hingga menjadi lautan sampai sekarang. Diceritakan sekarang Betara Maha Dewa di Gunung Agung mengetahui beritanya I Dukuh Jumpungan hendak merusak tempat Kahyangannya Bhatara Maha Dewa, I Dukuh Jumpungan hingga bergeserlah perahu itu menuju barat daya sampai di pulau Nusa lalu ditambraknya pulau nusa itu dibagian baratnya tersangkut di laut, disana terlentang menghadap ke timur tidak bisa dipindah-pindahkan. Setelah lama mana perahu itu menjadi bukit yang diberi nama bukit Ceningan. Begitulah ceritanya yang mempunyai hubungan erat dengan kata Batumedahu. Pura Batumedahu tidak diketahui mulai kapan berdirinya karena tidak ada bukti-bukti tertulis atau peninggalan-peninggalan yang dapat dipakai pegangan seperti prasasti-prasasti ataupun purana-purana. Pura Batumedahu didirikan sejak dahulu, yang mana menurut keterangan orang-orang tua hingga diduga didirikan oleh Raja Bali yaitu Dalem Waturenggong (abad 15) yang bertahta di Gelgel (Klungkung) dan tidak ketinggalan pura-pura yang lainnya seperti penataran Peed. Kedua pura ini yaitu Batumedahu dan Penataran Peed berfungsi sebagai Puseh Bale Agung.

Pendirian Pura Batumedahu yang berfungsi sebagai Puseh Balai Agung oleh Raja Bali yang bertahta di Gelgel adalah agar supaya para Dalem, Raja-raja maupun para kesatria dan Brahmana bila datang ke Nusa Penida agar bisa melakukan persembahyangan di Pura tersebut. Hingga sampai sekarang apabila para kesatria maupun Brahmana-Brahmana dari Bali datang ke Nusa Penida, mereka pasti menyelipkan waktunya untuk bersembahyang di Pura Batumedahu. Dan seingat penulis bahwa Raja Klungkung yang terakhir dimana sebelum beliau wafat setiap upacara piodalan Pura Batumedahu yang jatuh tiap-tiap hari Buda Kliwon paang, maka beliau menyempatkan diri datang ke Nusa Penida untuk bersembahyang di Pura Batumedahu. Dan sampai sekarangpun dari putra-putri beliau tiap-tiap piodalan terutama Pura Penataran Peed yang jatuh pada hari Buda Wage Klawu dan Pura Batumedahu yang jatuh pada hari tersebut di atas, beliau menyempatkan diri untuk datang melakukan pemujaan.

Bab III. Denah dan susunan pelinggih: Denah dan susunan pelinggih

Sebagaimana umumnya pura-pura dibagi menjadi tiga bagian yaitu: Jeroan (halaman dalam); Jaba Tengah (Halaman tengah); Jabaan (halaman muka). Akan tetapi banyak pula yang halaman muka dan tengah digabung menjadi satu sehingga pura dibagi menjadi dua bagian yaitu jabaan dan jeroan. Mengenai arahnya adalah mengarah ke timur atau utara, masing-masing halaman tersebut mempunyai fungsi berbeda-beda sesuai dengan keperluan dalam upacara agama.

a. Pada halaman dalam. Di sini dapatkan bangunan-bangunan suci (Pelinggih) yang diperuntukan para dewa dengan segala menifestasinya. Bangunan-bangunan suci yang terdapat pada halaman ini bentuk dan letaknya disesuaikan dengan fungsinya masing-masing; b. Pada halaman tengah. Pada halaman ini didapatkan bangunan-bangunan seperti: 1. Balai Agung, umumnya tempat persidangan anggota pengemong pura; 2. Balai pegongan, yaitu tempat gambelan; c. Pada halaman muka. Disini biasanya terdapat bangunan-bangunan seperti: 1. Balai kulkul (tempat kentongan), ditempatkan disudut; 2. Balai wantilan, biasanya dibangun dihalaman muka; 3. Balai pewaregan (dapur) tempat untuk memasak persiapan sesajen; 4. Disebelahnya jaba luar terdapat sebuah tanam bersama dengan satu pelinggih. Pembagian pura atas tiga halaman dapat kita bandingkan dengan keadaan candi di Jawa Timur terutama candi penatara yang terkenal itu yang terbagi pula atas tiga halaman yang letaknya disejajarkan. Sedangkan di Jawa Tengah pembangian candi juga dibagi atas tiga bagian tetapi pembagian itu tidak disejejarkan melainkan ditingkatkan ketas, dan tingkat yang paling atas adalah yang paling suci.

Di samping itu pura menurut karakternya dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu: a. Pura yang berdasarkan geneologis ialah pura yang disungsung oleh orang-orang yang masih ada dalam ikatan darah atau keturunan misalnya : sanggah, pemrajan, kawitan, paibon, dadia dan pedarman; b. Pura yang berdasarkan fungsionil dan teritorial, ialah pura-pura yang disungsung karena mempunyai fungsi tertentu atau mempunyai letak yang penting misalnya: Pura pengulun sawah, pura pengulun tegal dan sebagainya; c. Pura setengah umum yang masih mempunyai ikatan geniologis dan teritorial misalnya pura-pura kahyangan tiga ialah: Pura Puseh, Pura Balai Agung, dan pura dalem; d. Pura umum ialah pura yang disungsung oleh semua orang misalnya Pura-Pura Sad Kahyangan dan pura-pura lainnya. Pembagian denah dan susunan pelinggih Pura Batumedahu sesungguhnya tidak ada beda dengan pura-pura pada umumnya di Bali. Adapun pembagian denah Pura Batumedahu antara lain: a. Jeroan (halaman dalam); b. Jeba tengah (halaman tengah); c. Jabaan pura (halaman luar).

Di antara masing-masing denah tersbut terdapat bangunan-bangunan suci atau pelinggih-pelinggih antara lain: a. Jeroan, untuk mencapai halmana ini kita akan melewati dua halaman yang berada disebelah jaba tengah pura, kemudian ke jaba tangah (halaman tengah) dan terakhir sampailah kita dijeroan (halaman dalam). Adapun bangunan-bangunansuci atau pelinggih yang terdapat pada halaman jeroan ini antara lain: 1. Jeroan memakai tumpang sebelas; 2. Meru memakai tumpang sembilan; 3. Pesanggaran yang menghadap keselatan; 4. Gedong sari; 5. Manjangan seluang; 6. Sapta rsi; 7. Sapta petala; 8. Ngerurah; 9. Gedong kunci; 10. Suma daksina; 11. Pengaruman; 12. Bale pawedan. b. Jaba Tengah. Disini didapatkan bangunan-bangunan suci atau pelinggih-pelinggih antara lain: 1. Balai pertemuan yaitu tempat pertemuan bagi anggota pengemong pura; 2. Balai Agung; 3. Limasari pelinggih; 4. Pelinggih mas Catu; 5. Balai saka nem; 6. Bapai pewaregan (dapur); 7. Apit lawang. c. Pura Jaba (halaman luar). Pada halaman ini didapatkan bangunan-bangunan antara lain Bale Wantilan

Fungsi Pura Batumedahu

Pura Batumedahu adalah satu-satunya pura yang terbesar di Nusa Penida, yang berada didesa Suana mempunyai fungsi antara lain: a. Berfungsi sebagai tempat suci atau tempat persembahyangan, yang dibangun dengan berdasarkan peraturan-peraturan yang telah ditentukan, untuk menghubungkan atau mendekatkan diri terhadap Ida Sanghyang Widhi beserta dengan segala menifestasinya, senantiasa untuk memperoleh waranugrahanya. Usaha-usaha untuk melakukan pendekatan atau menghubungkan diri terhadap Ida Sanghyang Widhi, maka dalam ajaran agama Hindu terhadap tiga jalan yang disebut dengan Tri Marga, yaitu: 1. Jenyana marga; 2. Bhakti marga; 3. Karma marga. Yang dimaksud dengan henyana marga ialah suatu usaha untuk mencapai kesempurnaan (Dharma dan moksah) dengan mempergunakan kebijakan filsafat (jenyana) didalam usaha untuk mencapai kesempurnaan denhan kebijakan (jenyana) yang berusaha mencapai dengan keinsyapan, bahwa manusia adalah bangian dari alam semesta yang bersumber pada suatu sumber yang didalam kitab suci saiwa paksa disebutkan: Sarwah Idam Khalu Brahma. Artinya: Segala yang ada tidak lain dari pada Brahma. Yang dimaksud dengan Bhakti marga ialah: Usaha untuk mencapai kesempurnaan (Dharma dan Moksah) dengan jalan sujud bhakti kepada Tuhan pelindung dan pemelihara semua mahluk, maka Tuhan akan menuntun seorang Bhakta yakni sujud dan cinta Bhakti padaNya dengan menyembah dan berdoa maka perlindungan dan ampun atas dosa-dosanya yang pernah akan dilaksanakan serta mengucapkan syukur atas perlindunganNYa. Yakni yang utama untuk menempuh perasaan Bhakti ialah rajin menyembah Tuhan dengan hati yang tulus ikhlas. Karma Marga berarti jalan atau usaha untuk mencapai kesempurnaan (Dharma dan moksah) dengan melakukan kebajikan namun tidak terikat oleh nafsu hendak mendapatkan hasilnya berupa kemasyuran, kewibawaan, keuntungan dan sebagainya melainkan melakukan kewajiban demi untuk mengabdi berbuat amal dan kebajikan yaitu menyerahkan segala usaha ditangan Tuhan. Berdasarkan ketiga jalan yang tersbeut diatas untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, umumnya umat Hindu di Bali melakukan jalan Bhakti Marga. Karena Bhakti Marga adalah jalan yang termudah untuk mencapai kesempurnaan, keinsyafan (jenyana) sungguh berat bagi kebanyakkan orang. Oleh karena itu Bhakti Marga merupakan jalan yang paling biasa ditempuh oleh umat untuk mencapai kesempurnaan itu; b. Dalam bidang kerohanian atau keagamaan yakni sebagai tempat persembahyangan umum, untuk mewujudkan rasa bakti umat Hindu kepada Sanghyang Widhi, terutama di Nusa Penida, hal ini didorong pula oleh karakter pura-pura di Bali yakni selain berfungsi sebagai puseh balai agung pada umumnya pura-pura di Bali mempunyai karakter tertentu misalnya fungsi geniologis seperti : pura pemrajan, pura kawitan, pura paibon dan sebagainya.Fungsi yang lain adalah fungsi beritorial seperti pura kahyangan tiga (pura puseh, pura desa dan pura dalem).

Bab IV. Upacara dan upakara: Jalanya upacara piodalan Pura Batumedahu

Kita ketahui bahwa segala sesuatu yang diciptakan, dibangun begitu pula manusia dilahirkan akan kita temui hari peringatan kelahirannya oleh karena hari lahirnya sesuatu merupakan suatu peristiwa atau kejadian penting yang perlu diperingati dan dirayakan. Demikian juga terhadap pura yang dibangun, kita akan temui peringatan hari jadinya yang sering disebut dengan piodalan, patirtan atau patoyan. Adapun karya atau piodalan jatuhnya diperhitungkan berdasarkan pertemuan panca wara, sapta wara dan uku atau juga berdasarkan pertemuan sasih purnama tilem. Apabila peringatan itu berdasarkan pertemua panca wara, sapta wara dan uku, kita akan jumpai perayaan itu jatuh pada tiap-tiap dua ratus sepuluh (210) hari, sekali atau enam bulan sekali dalam perhitungan bulan Bali. Adapun hari piodalan Pura Batumedahu adalah jatuh pada tiap-tiap hari Buda Kliwon wuku paang yang dilakukan enam bulan sekali (210) hari. Kata piodalan berasal dari kata wedal yang artinya keluar, turun atau yang dilinggakan dalam hal ini Sanghyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya melalui sarana pemrajan, Pura, kahyangan dengan ngeliggayang, ngerekayang atau ngadegang pada hari-hari tertentu. Didalam pujastuti tersebut pula demikian: "Om Dewwa Dewi Maha Pujanam, Siwo lingga namestute, Rudra nugrahi karanem, Semadi yoga mahotamen, Karena yadnya maha pujem, Wisnu tatuwe maha sidi, Wahyu kayogya nugram, Sideng yogi siwe nugrem. Arti bebasnya: "Menyembah Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya dewa dan dewi. Beliau diragakan atas nama siwa sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Dari beliaulah (Rudra) akan memberikan sesuatunya. Dengan melaksanakan yoga semadi yang utama, Maka itu kita harus menyembah beliau,Beliau juga disebut Wisnu yang maha wisesa,Beliaulah yang berwenang untuk memberikan wahyu. Segala sesuatunya adalah anugrah dari beliau.

Latar belakang yang mendorong diselenggarakannya piodalan ini bersumber kepada ajaran: Bhakti Marga, Jenyana Marga dan Karma Marga. Adapun pola pelaksanaan upakara atau upacaranya adalah: 1. Upakara atau upacara piodalan berwujud upakara atau upacara utnuk negrakayang Sanghyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya, dengan itu umat mewujudkan rasa baktinya; 2. Kerangka upakara atau upacara piodalan melambangkan: a. Utama angga (hulu); b. Madyama angga (angga sarira); c. Nista angga (suku/delamakan). Dalam pelaksanaan jalannya upacara, akan kami uraikan sesuai dengan tradisi yang berlaku di Pura Batumedahu.

Namun untuk itu kiranya perlu dipahami apa yang dimaksud dengan upacara itu. Upacara adalah berasal dari kata "upa" dan "cara". Upa artinya berhubungan dengan, sedangkan cara berasal dari kata car yang berarti gerak. Kemudian mendapat akhiran "a" menjadi benda yang berarti gerakan. Jadi upacara adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan gerakan, atau dengan kata lain upacara adalah gerakan atau pelaksanaan dari pada upakara-upakara didalam salah satu yadnya. Maka untuk itu dengan adanya upacara piodalan Pura Batumedahu, ini berarti suatu kesempatan baik. Terutama bagi penyungsung pura, untuk melakukan hubungan kepada Hyang Widhi, yang sama jalan upacaranya dapat kami katakan sebagai berikut: Sehari sebelum puncak piodalan. Dilakukan pembersihan terhadap semua alat-alat perlengkapan upacara, beserta pembersihan alat-alat perlengkapan upacara dan menghias semua pelinggih selesai, maka siang harinya diadakan pemendak terhadap ida Bhatara yaitu ngamedalang dari gedong penyimpanan dan diusung lalu didudukkan pada balai pengaruman.

Sebelum Ida Bhatara didudukkan di Pengaruman, maka terlebih dahulu dilakukan upacara yaitu upacara melasti atau mekiyis yang tujuannya tiada lain untuk menyucikan pratima dan pralingga serta alat-alat upacara lainnya dan ngiring Ida Bhatara yang beristana di pura-pura untuk mencari sumber kekuatan hidup (amesta) dan sumber kemakmuran menuju pantai laut. Begitu pula Pura Batumedahu pada waktu melis atau mekiyis dimana pratima dan pralingga serta ngiring Ida Bhatara yang beristana di Pura Batumedahu, datang menuju pantai laut untuk disucikan dan mencari sumber kehidupan (amesta) dan sumber kemakmuran. Karena sebagai mana kita ketahui sumber air yang terbesar adalah laut, dimana seluruh sungai-sungai bermuara dan dari sini pulalah timbulnya peredaran yang ciklus dari air yang memberikan hidup air laut menguap menjadi embun naik kelapisan atmosfer yang tinggi dan akhirnya mendingin jadi hujan jatuh ke bumi diserap oleh bumi masuk kedalam tanah kemudian muncul lagi ke muka bumi menjadi mata air yang kemudian terjadilah sungai. Sungai akhirnya kembalilah ke laut. Setelah upacara melis, sementara dilakukan penghiasan terhadap semua pratima atau perwujudan Ida Bhatara yang dilakukan oleh pemangku pura. Hingga tepat pad ahari piodalannya yang jatuh tiap-tiap Buda Kliwon paang mulai pada harinya para pengempon pura yang mempunyai giliran menghaturkan aturan-aturan piodalan, langsung ditaruh pada masing-masing pelinggih.

Dalam pelaksanaan aturan piodalan, dibawah pimpinan Mangku pura, pertama diadakan upacara penyapsap atau pembersihan terhadap semua pelinggih. Kemudian upacara dilanjutkan berupa pemendak Ida Bhatara dengan puja astawa oleh pemangku yang diistanakan atau diujudkan Ida Bhatara pada pralingga tadi. Dengan beristananya, dihaturkan upakara-upakara kemudian dilankutkan dengan menghaturkan upacara maka diadakan sembahyang yang diakhiri dengan metirta. Ida Bhatara ngadeg empat hari penuh dimana pada hari yang keempat atau hari yang terakhir kira-kira pukul sembilan pagi kembali pesineban yaitu penyimpanan kembali di gedong penyimpanan.

Selain upacara piodalan, juga di Pura Batumedahu, dilakukan upacara yaitu upacara pengusabaan. Upacara pengusabaan dilakukan di Pura Batumedahu, oleh karena di Nusa Penida sejak dahulu sehingga merupakan tradisi dimana setiap lima tahun sekali harus melakukan upacara yaitu upacara pengusabaan besar dengan tingkatan utama. Untuk menunggu pengusabaan besar yang jatuhnya setiap lima tahun sekali, maka diadakanlah upacara pengusabaan yaitu pengusabaan kecil dengan tindakan madia yang dilakukan setahun sekali.

Adapun pura yang dipergunakan sebagai tempat jalannya upacara pengusabaan kecil yang dilakukan setiap satahun sekali adalah Pura Batumedahu dan Pura Penataran Peed. Sementara menunggu saatnya pengusabaan besar yang jatuhnya lima tahun sekali, maka masing-masing pura yaitu Pura Batumedahu dan penataraan peed dilakukan dua kali upacara pengusabaan kecil, yaitu pada Pura Batumedahu dua kali begitu pula pura penataran peed juga dua kali upacara pengusabaan kecil. Sebagai pemeluk agama Hindu terutama di Bali, mesti memaklumi dan menyadarinya bahwa melakukan upacara yang besar lebih-lebih dalam tingkatan utama, sudah tentu memerlukan materi yang banyak, dan tenaga yang besar. Sehubungan dengan upacara pengusabaan di Nusa Penida baik upcara pengusabaan besar maupun upacara pengusabaan kecil yang dilakukan di Pura Batumedahu dan di pura penataran peed, dimana pembiayaannya ditanggung oleh masyarakat menurut kepala keluarga. Di samping itu bagi para nelayan yang memiliki jukung pelasan dan jukung muatan dengan kesadarannya menyumbang berupa uang menurut ketentuan yang ditentukan oleh panitia. Dengan urunan dan sumbangan ini masyarakat tidak merasa keberatan karena mereka yakin dan percaya bahwa sumber kemakmuran berpusat dilaut. Karena air laut yang merupakan timbunan dari sampah-sampah dunia yang dialirkan oleh sungai-sungai mengandung berjenis-jenis mineral dan melebur segala kekotoran itu dilebur di laut, sebab itulah air laut sebagai peleburan sarwa mala, air laut penuh dengan keajaiban, dengan air ini pulalah bumi bisa dipelihara sehingga kita bisa hidup makmur dan bahagia.

Upakara

Setiap peringatan tidak akan terlepas dari sarana atau alat perlengkapan yang diperlukan dengan perayaan. Alat perlengkapan tergantunag dari sifat perayaan itu dan dalam merayakan suatu hari raya, dalam mempersiapkan alat upakara atau bebanten, akan tergantung pada dasar-dasar yang telah ditentukan oleh para tukang banten atau penghulu agama lainnya yang termuat dalam lontar-lontar atau pustaka seperti: Lontar Dewa Tattwa, lontar peleluntuk, bebanten, lontar sundari gama dan lainnya yang memuat tentang bebanten. Adapun upakara-upakara yang dipergunakan di Pura Batumedahu antara lain upakara yang dipergunakan pada waktu mendak Ida Bhatara adalah: Suci asoroh; Dandanan; Ajengan; Segehan. Upakara pada waktu melis atau mekiyis antara lain: Ajengan putih kuning; Canang tabungan lenga wangi burat wangi; Ketipat kelan; Segehan. Pada waktu piodalan upakara-upakara yang dipergunakan: Pemereman dan sor Tebasan; Pajengan; Guru pengapit; Pengiring pengapit; Sangga langit; Telaga pancoran. Sedangkan upakara-upakara yang dipergunakan dipelinggih-pelinggih: Pesanggaran (padmasana): Suci; Dandanan; Rayunan apajeg; Meru tumpang sebelas: Sor abatekan; Gedong sari: Pesadu; Manjangan seluang: Pesadu; Dandanan. Sapte rsi: Pesadu; Dandanan. Sapta petala: Suci; Dandanan; Raunan asibak; Ngerurah: Pesadu; Dandanan. Gedong Kunci: Pesadu; Dandanan; Tumpukan. Pengaruman: Suci; Dandanan; Banyin asibak. Suma daksina: Pesadu, Dandanan. Balai pewedaan: Pamereman. Apit lawang: Pesadu; Tumpukan. Balai agung: Sor. Limasari: Tumpukan. Sadu. Mas catu: Tumpukan Sadu; Balai saka nem: Soroan; Pesadu; Balai pewaregan. Sorohan; Balai pengebatan: Peras penyenang; Tulung pisang; Pejati; Pisang kembung. Balai penyamblihan: Peras penyenang; Pejati. Balai wantilan: Pesadu; Taman: Suci; Dandanan asoroh. Ngerurah: Dandanan, Pesadu

Penyungsung pura

Pura Batumedahu seperti yang tersebut di atas, adalah pura yang berfungsi sebagai Puseh Bale Agung. Pendirian pura yang besar tentu memerlukan waktu yang sangat lama, materi yang banyak dan tenaga yang besar sehingga pembuatan pura yang besar seperti Pura Batumedahu tentu tidak sedikit penyungsungnya. Adapun penyungsun Pura Batumedahu adalah berasal dari lima perbekelan antara lain perbekelan kutampi, perbekelan batununggal, perbekelan suana, perbekelan tangglad dan perbekelan sekartaji. Kelima perbekelan inilah yang mempunyai kekuasaan penuh untuk nyungsung pura di Batumedahu. Sedangkan perbekelan lainnya yaitu lainnya yaitu selain yang tersebut diatas mempunyai hak untuk menyungsung pura di Penataran Peed.

Dana dan pembiayaan

Upacara pada sesuatu pura yang besar, terutama pada pura yang bersifat umum sudah tentu memerlukan dana atau pembiayaan yang banyak, begitu pula Pura Batumedahu dimana setiap upacara piodalan harus memerlukan dana dan pembiayaan dalam kelangsungan upacaranya. Adapun dana atau pembiayaan yang diperlukan untuk kelansungan jalannya upacara piodalan di Batumedahu, maka para penyungsung Pura Batumedahu yang terdiri dari lima perbekelan, membentuk suatu panitia yaitu panitia upacara piodalan Pura Batumedahu. Setelah panitia terbentuk, maka panitia mengadakan kalkulasi terhadap pembiayaan yang akan dipergunakan pada upacara piodalan tersebut. Setelah kalkulasi anggaran upacara piodalan terwujud, lalu panitia diberitahukan kepada perbekel supaya rakyat atau masyarakat dipunguti uang sesuai dengan anggaran yang telah ditentukan, mengenai banyak uang yang dipungut oleh perbekel kepada masyarakatnya tergantung pada anggaran upacara piodalan yang telah ditentukan oleh panitia, setelah dibagi-bagi dari jumlah penduduk masing-masing perbekelan yang nyungsung pura di Batumedahu. Jadi dana atau pembiayaan dalam upacara piodalan di Pura Batumedahu terletak pada masyarakat pengempon atau penyungsungnya.

Bab V. Kesimpulan dan saran: Pendahuluan

Dalam suatu pembahasan apapun bentuknya yang dilakukan oleh setiap orang, maka sebagai titik akhirnya diperlukanlah suatu kesimpulan (konklusi) yang menunjukkan isi ringkas dari uraian pokok ringkasannya.

Setelah diikuti pembicaraan pada bab-bab dimuka, maka berdasarkan uraian-uraian itu, pada bagian ini diusahakan untuk memberikan beberapa kesimpulan-kesimpulan ini sama sekali bukanlah merupakan hal-hal yang sudah pasti atau telah mutlak. Segalanya akan dapat berubah akibat adanya teman-teman maupun pemikiran-pemikiran baru pada masa-masa mendatang. Lagi pula mengingat kemampuan dalam menguraikan sesuatu masalah, sudah tentulah kesimpulan-kesimpulan yang dikemukakan pada kesempatan ini tidaklah representatif pula sifatnya. Demikian pula pada akhir dari uraian tulisan ini kami mencoba mengemukakan kesimpulan-kesimpulan sesuai dengan kesimpulan kami yaitu sebagai berikut: a. Pura Batumedahu adalah satu-satunya pura yang terbesar di Nusa Penida yang terletak disebelah timur dari Desa Suana yaitu merupakan tempat persebahyangan bagi umat Hindu di Nusa Penida; b. Nama Pura Batumedahu diduga berasal dari kata batu, mada dan hulu yaitu artinya tempat peribadatan yang besar bagi umat Hindu di Nusa Penida. Sedangkan menurut lontar Babad Renggan dalam Usana Nusa Penida, tempat itu disebut dengan medahu yang mungkin berasal dari kata pedahu yang artinya perahu. Karena I Renggan pada waktu berlayar dari gunung kila menuju pulau Bali dengan perahu yang besar, dimana perahunya dapat menyerempat gunung Nusa yang bekasnya bersambung dengan gunung sasak hingga putus. Maka ujung daerah yang diseperempatnya disebut medahu sampai sekarang; c. Pendirian Pura Batumedahu di Nusa Penida oleh raja Bali yaitu Dalem Waturenggong yang pusat kerajaannya di Gelgel (klungkung) tujuannya adalah agar dalem raja-raja para ksatria maupun brahmana-brahmana bila datang ke Nusa Penida agar bisa melakukan persembahyangan di pura tersebut. Dan hari piodalannya atau petirtannya jatuh tiap-tiap buda kliwon Paang yaitu enam bulan sekali (dua ratus sepuluh hari); d. Fungsi Pura Batumedahu ini adalah sebagai tempat suci atau tempat persembahyangan yang dibangun dengan berdasarkan peraturan-peratuaran yang telah ditentukan, sebagai tempat mendekatkan diri kepada Hyang Widhi dengan tujuan untuk memperoleh warenugrahanya. Dan juga sebagai tempat persebahyangan umum dalam mewujudkan rasa bakti umat Hindu kepada Hyang Widhi terutama di Nusa Penida; e. Pura Batumedahu berdasarkan karakternya, adalah berstatus sebagai puseh Bale Agung (Kahyangan tiga).

Saran–saran

Dalam kesempatan ini kami hanya dapat mengungkapkan Pura Batumedahu secara sederhana dan garis besarnya saja, karena pengetahuan kami sangat terbatas oleh karena itu dengan kerendahan hati kami mengungcapkan: a. Apabila kita akan mendirikan pura sebelum dan sesudahnya bangunan itu didirikan, tentu dimanfaatkan menjadi tempat suci dan harus diadakan upacara-upacara untuk memohon keselamatan sebagai bertanda bahwa bangunan tersebut sebagai bangunan suci; b. Kepada para cendikiawan terutama penggemar tentang kepurbakalaan dan keagamaan, untuk mengadakan penelitian yang lebih mendalam sehingga terungkaplah segala rahasia yang belum dapat kami ungkapkan dalam tulisan kami ini; c. Didalam perbaikan dan penyungsung dan para pengemong pura hendaknya dikerjakan sesuai dengan bentuk yang semula dan hendaknya jangan mempergunakan bahan dari semen atau pelesteran hal ini menyebabkan bangunan itu kelihatannya kaku dan juga dapat mengurangi keagungan pura dan penyebarannya terutama nilai sejarah dan nilai seninya akan menjadi lenyap; d. Hendaknya pura dijaga kebersihannya dan disetiap pura harus ada menjaganya terutama mereka yang telah mengetahui tentang celuk beluk Pura Batumedahu itu. Dan juga apabila masuk ke pura tanpa memakai selempot teurtama yang beragama Hindu di Nusa Penida, dimana hal ini dapat mengurangi ciri khas orang Bali atau boleh dikatakan kebdayaan Bali akan bisa musnah; e. Kami harpakan kepada masyarakat penyungsung pura agar memperhatikan keadaan fisik dari pada pura ini. Seperti umpamanya tombok pelinggih pura atau penyengker pura berantakan. Dimana ini hendaknya harus diperbaiki agar kelihatannya tidak semrawut atau seperti tidak terurus.

Lampiran 1: Denah Pura

Keterangan Gambar:

A. 1. Pesanggaran yang menghadap keselatan; 2. Meru memakai tumpang sebelas; 3. Meru memakai tumpang sembilan; 4. Gedong sari; 5. Manjangan seluang; 6. Sapta rsi; 7. Sapta petala; 8. Ngerurah ; 9. Gedong kunci; 10. Suma daksina; 11. Pengaruman; 12. Bale pawedan; 13. Kuri agung untuk masuk kejeroan; 14. Bebataran. B. 15. Api Lawang; 16. Bale peremuan; 17. Bale Agung; 18. Bale Pewaregan; 19. Bale Seke nem; 20. Pintu masuk ke jeroan tengah; 21. Limasari; 22. Mas Sari. C. 23. Bale Pengebatan; 24. Bale; Penyamblihan; 25. Pintu masuk ke taman; 26. Pintu masuk ke Jaba luar; 27. Bale wantilan; 28. Taman; 29. Sebuah pelinggih; 30. Ngerurah; 31. Pintu keluar masuk pura; 32. Jalan menuju pura

Lampiran 2: Peta Sketsa Keletakan

1. Samplan; 2. Batununggul; 3. Kutapang; 4. Batumulapan; 5. Pamegalan; 6. Karangsari; 7. Celagilandan; 8. Suana; 9. Pura Batumedahu; 10. Semaya. Foto 1: Pelinggih Meru memakai tumpang sembilan; Foto 2: Sepasang rambut sedana ditempatkan di pengaruman pada saat upacara piodalan; Foto 3:Para penyungsung pura melakukan sembahyang bersamam menghadap ke pengaruman yaitu tempat berstananya Rambut Sedana; Foto 4: Sebuah taman dengan pelinggihnya terletak di pinggir pantai.

Kepustakaan

  • Ardana, Drs. I Gusti Gede
  • Pengertian Pura, Proyek Pemeliharan dan Pengembangan Kebudayaan Bali,
  • Pemerintah Daerah Tingkat I Bali, Denpasar, 1971
  • Unsur-Unsur Kepercayaan Megalithic dalam Kebudayaan Bali, Lembaga Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar, 1974
  • Mantra, Prof.Dr. Ida Bagus – Pura sebagai Tempat Persembahyangan, Prasarana dalam Dharma Asrama para pendeta/walaka di Campuan, Ubud, Gianyar, 20 Nopember 1961, berupa stensilan
  • Punyatmaja, Drs. Ida Bagus Oka – Hindu Dharma, Yayasan Pembangunan Pura pita maha Jakarta
  • Purwita, Ida Bagus Putu BA. – Pola Arsitektur Bali, Warta Hindu Dharma, No. 122 dan 126, 1977
  • Putra, Drs. I Gusti Agung Gede
  • Laporan Penelitian Sejarha Pura, Pelaksana Proyek, Institut Hindu Dharma, Denpasar, 1975
  • Hari Raya Nyepi, Cudamani, Berupa stansilan, Institut Hindu Dharma, Denpasar, 1974
  • Putra, Nyonya I Gusti Agung, Ms – Upakara Yadnya, Institut Hindu Dharma, Denpasar, 1974
  • Shastri, N.D. Pendit – Sejarah Bali Dwipa, Bhuvana Saraswati Denpasar Bali

Daftar Informant

Anom, I Dewa Gede, laki, 40 tahun, Pegawai Penerangan Kecamatan Nusa Penida, Banjar Geria Tengah Nusa Penida
Dur, I Made, laki, 37 tahun, Ketua Panitia Pura Batumedahu, Banjar Semaya Nusa Penida
Gedah, I Wayan, laki, 60 tahun, Pemangku Pura Bayumedahu, Banjar Semaya Nusa Penida
Kuat, I Dewa Ketut, laki, 50 tahun, tukang banten, Banjar Batununggul, Nusa Penida
Sudana, I Made, laki, 40 tahun, Perbekel Desa Suana Nusa Penida, Banjar Suana Nusa Penida
Sumantra, I Dewa Ketut, laki, 55 tahun, pensiunan Pegawai Pertanian Kecamatan Nusa Penida, Banjar Geriah Tengah Nusa Penida

Sumber

  • Winarsa, I Dewa Made – Pura Batumedahu di Nusa Penida, Institut Hindu Dharma, Denpasar, June 1978 [BA Thesis, Sarjana Muda]

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24