South Bali Sculptures in Nusa Penida (Geria, 1997)

I Made Geria, working for the Archaeological Department Denpasar (BAD) writes an article on South Balinese sculpture in Nusa Penida, a Study on Statues from the Classic Period entitled 'Unsur Budaya Bali Selatan di Nusa Penida, Kajian Senia Arca Masa Klasik', published in BAD's magazine Forum Arkeologi, March 1997.

geria1997-unsur-coverIt is stated that the introduction of South Balinese sculptures took place somewhere in the tenth century AD as no scuptures from the eight century as yet have been found in Nusa Penida. The scuptures (statues) that were encountered are considered import from mainland South Bali, and share characteristisc with those known from Gianyar, Badung, and Klungkung. This assumption is supported by the fact that encountered status are made of 'batu padas', generally used in mainland Bali, whereas this material is not commonly found in Nusa Penida. Also, there does not seem to exist a locally known sculpture tradition, as is the case in North Bali. Above observations are qualified as preliminary, as the perception that Nusa Penida is indeed the area indicated as 'Gurun' as mentioned on the Blanjong Pillar, conquered in the tenth Century AD, is still uncertain.

The original Indonesian article follows below, an English translation is forthcoming.

Unsur Budaya Bali Selatan di Nusa Penida, Kajian Seni Arca Masa Klasik

Introduction: chapter I

(p.29) Memasuki kawasan Nusa Penida tidak lagi terkesan naif, karena menurut kenyataan kawasan ini sudah mulai berubah dengan sarana jalan yang bagus, semua desa mudah dijangkau, sehingga tidak terkesan lagi wilayah-wilayah desa yang terisolir. Panorama alam yang indah dengan pantai berpasir putih memberikan harapan para investor mulai menjamah Pulau Nusa ini. Pulau ini merupakan bagian dari Pulau Bali yang terletak di kawasan Samudra Indonesia, di lepas pantai selatan Pulau Bali, yang secara administratif termasuk
Kabupaten Klungkung.

Di samping panorama alam yang menyajikan keindahan terkesan juga wilayah ini menampakkan kesan spiritual yang kuat. Di wilayah ini terdapat kurang lebih 30 pura, jumlah yang cukup banyak jika dibandingkan dengan kecamatan lainnya di Kabupaten Klungkung. Sebagian besar dari pura-pura tersebut menyimpan sejumlah peninggalan arkeologi antara lain adalah sejumlah peninggalan masa klasik dan peninggalan megalitik. Kenyataan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi ilmuwan untuk mengkaji wilayah ini. Peneliti Claire Holt (1933: 129-138) pernah mengawali kunjungan ke wilayah ini di tahun tigapuluhan dan menulis laporan perjalanan dalam majalah Djawa yang diberi judul "Bandit Island, A Short Exploration Trip to Nusa Penida". Dalam laporan itu disinggung juga temuan sejumlah peninggalan arkeologi di sejumlah pura, antara lain di Pura Sahab, Pura Medahu dan pura (p.30) lainnya. Kendati di antara peninggalan seni arca yang disebutkan di Pura Batu Medahu, setelah disurvei tidak ditemukan lagi hanya tersisa fragmen kaki arca.

geria1997-unsurbudaya-pictures12Image 1: Arca Perwujudan Bhatara di Pura Saab, Desa Batu Madeg, Nusa Penida; Image 2: Arca Perwujudan Bhatara di Pura Mastulan, Desa Kutampi, Nusa Penida

Oleh karena banyaknya temuan arkeologi di wilayah ini, dan cepatnya perubahan akibat pengembangan pariwisata, maka dipandang perlu untuk mengadakan penelitian penjajagan di wilayah ini, yang dilaksanakan tim Balai Arkeologi Denpasar selama 9 hari sejak tanggal 23 Juni sampai dengan 1 Juli 1996. Selama penelitian di kawasan ini dapat diketahui sejumlah peninggalan arkeologi di beberapa pura dan di antaranya yang paling banyak ditemukan di Pura Sahab, desa Batu Madeg. Demikian juga di Pura Meranting yang berlokasi di desa Batu Kandik, ditemukan bangunan padmasana menyerupai bentuk bangunan candi di Jawa Timur, sedangkan di Pura Puncak Mundi, desa Kelumpu kiblat pemujaan mengarah ke Gunung Semeru.

Pada kesempatan ini pembicaraan difokuskan mengenai seni arca klasik yang ditemukan di sejumlah pura di Nusa Penida hal ini terkait dengan aspek pemujaan yang masih eksis sampai sekarang, unsur-unsur religi/kepercayaan biasanya masih tersisa dan terwariskan bahkan terkadang sulit diganti walaupun ada pengaruh unsur-unsur baru sesuai Theory Principle of Early Learning. Unsur kebudayaan yang dipelajari paling dahulu pada waktu pertumbuhan manusia akan sulit diganti dengan unsur-unsur asing (Koentjaraningrat, 1964:96). Kenyataan ini terbukti di daerah Nusa Penida dengan ditemukannya arca-arca sederhana dari masa megalitik sampai masa klasik yang berarti, bahwa tradisi pemujaan leluhur masih berkelanjutan.

Setelah mengamati sejumlah arca timbul keinginan untuk mengetahui lebih lanjut keberadaan peninggalan tersebut. Seperti arca bercirikan megalitik yang ditemukan di Pura Griya desa Maos, sebagian besar material (bahan) dari batu karang yang umumnya mudah didapat di wilayah ini bahkan dalam perkembangannya sekarang bangunan pura-pura di daerah ini sebagian besar memanfaatkan batu karang untuk material bangunan dan unuk pembuatan arca. Namun jika kita perhatikan arca-arca pada masa klasik ternyata materialnya tidak menggunakan batu karang, umumnya bentuk dan bahan arca-arca tersebut sama dengan yang ditemukan di Bali, yaitu batu padas. Hal ini menimbulkan kecurigaan apakah tidak mungkin arca-arca pada masa klasik sengaja didatangkan dari Bali, karena bentuk dan garapan hiasan motif-motif, sama dengan arca-arca yang ditemukan di Bali.

Chapter II

Memperhatikan data arkeologi berupa arca yang ditemukan di beberapa pura di Nusa Penida (lih. tabel 1) perlu disiasati dengan cermat, karena dari pengamatan sementara tampaknya bentuk dan tipologi arca-arca tersebut menyerupai arca-arca dari masa klasik yang ditemukan di Bali dataran: Gianyar, Badung, dan Klungkung. Persamaan ini terbukti dari unsur-unsur badaniah yang (p.31) menyangkut proporsi arca, dan unsur non badaniah menyangkut perhiasan arca (lih. label 2 dan 3).

Tabel 1. Temuan Arca Klasik di Nusa Penida

No. Jenis Temuan, Nama Tokoh, Arca Tempat Penemuan Jumlah Ukuran (Cm.)       Keterangan
        TA LA TBA TS  
1. Perwujudan Bhatara/Bhatari              
  K1 Pura Saab, Desa Batu Madeg 4 buah 46 16 14 2 Utuh
  K2 Pura Saab, Desa Batu Madeg 3 buah 37 8 6 2 Utuh
  Bhatari K3 Pura Saab, Desa Batu Madeg 6 buah 56 19 17 3 Utuh
  Frag, arca perwujudan Pura Saab, Desa Batu Madeg 18 buah - - - - Fragmentaris
2. Arca Ganesa Pura Saab, Desa Batu Madeg 1 buah 43 33 28 3 Utuh
3. Arca Pendeta Pura Saab, Desa Batu Madeg - 47 8 9 2,5 Utuh
4. Arca Nandi Pura Saab, Desa Batu Madeg - 32 13 - - Utuh
5. Arca Naga Pura Saab, Desa Batu Madeg 2 buah 39 13 16 6 Utuh 1 buah
6. Arca Perwujudan Bhatara Pura Mastulan, Desa Kutampi 2 buah 39 13 12 5 Utuh
7. Arca perwujudan Bhatara Pura Medahu, Desa Suana 1 buah - - - - Fragmentaris
8. Arca perwujudan Bhatara Pura Segara Desa Sakti 4 buah - - - - Fragmen

Keterangan: TK = Tinggi kesuluruhan; TA = Tinggi arca; LA = Lebar arca; TBA =Tebal Arca; TS = Tinggi Stela; K1 = kelompok 1; K2 = kolompok 2; K3 - kelompok 3

Dalam pengamatan terhadap seni arca ini dipergunakan analisis klasifikasi (analytical classification) dalam penentuan tipe-tipe arca tersebut berdasarkan ukuran, ciri-ciri unsur badaniah menyangkut proporsi, pahatan, gerak garis dan ciri-ciri non badanniah menyangkut hiasan arca (lih. tabel 1, 2, dan 3). Penentuan tipe dalam seni arca tidak terlepas dari unsur-unsur yang melatarbelakangi antara lain ialah mode berkembangnya seni pada suatu wilayah tidak bisa dipungkiri disesuaikan dengan perkembangan mode pada jamannya yang oleh cara pembuatan (teknologi mode), menunjukkan gaya yang berkembang pada jamannya (stylistic mode) dan cara-cara penggunaan atau pemanfaatannya (mode of use) (Sedyawati, 1994:16-18). Demikian juga unsur subyektifitas, karena setiap seniman dalam menciptakan karyanya pasti dipengaruhi oleh unsur subyektivitas yang juga dipengaruhi oleh lingkungan budayanya. Unsur alamiah, merupakan unsur alam yang sudah pasti mempengaruhi garapan seniman seperti bahan baku yang dimanfaatkan sudah jelas berbeda penggarapannya, bahan yang keras daripada yang lunak demikian juga pewarnaan alam yang diakibatkan unsur-unsur kimiawi. Dari teori analisis klasifikasi dicoba mengamati temuan arca di Nusa Penida, di antaranya yang diamati arca perwujudan bhatara-bhatari yang ditemukan di Pura Sahab, desa Batu Madeg, pura Meranting dan pura Mastulan. Bentuk dan ukuran arca-arca ini hampir sama dengan seni arca yang berkembang pada masa Bali Madya di Bali sekitar abad ke-13/14. Persamaan itu terlihat pada unsur badaniah antara lain penggarapan arca dan unsur-unsur non badaniah menyangkut ragam hias (lihat tabel 2 dan 3), seperti: arca memakai mahkota padma (lotus - crown), arca memakai perhiasan, kain bersusun-susun, di belakang telinga melebar ke belakang terdapat rambut ikal terurai yang kadang-kadang dipadu dengan hiasan sulur. Cara pembuatannyapun menampakkan pahatan-pahatan terkesan sederhana, pembentukan wujud arca seolah-olah kaku, kurang anatomis terkait juga dengan mode of use, penggunaan arca yang difungsikan sebagai pemujaan leluhur yang oleh Stutterheim disebutkan arca pemakaman. Menurut Endang Sri Hardiati Soekatno (1993:195) lebih cendrung menyebut arca leluhur karena fungsinya lebih cendrung kepada penghormatan atau pemujaan kepada nenek moyang atau leluhur.

Arca Ganesa yang ditemukan di Pura Sahab mempunyai bentuk dan langgam yang sama dengan arca-arca Ganesa yang ditemukan di Bali, seperti pengerjaan yang kasar, proporsi arca yang tidak anatomis, hiasan sederhana diperkirakan berasal dari masa Bali Madya abad ke-14/15 M., sejaman dengan arca Ganesa di pura Bedugul Kana, arca Ganesa di Pura Penataran Sasih, di Pura Penataran Agung Kabeta dan lainnya. Adanya persamaan ini sudah jelas karena persebaran unsur-unsur budaya dari suatu wilayah yang mempengaruhi wilayah ini. Menurut F. Ratzel persamaan unsur budaya ini (p.35) merupakan indikasi adanya hubungan di masa lampau (Koentjaraningrat 1964-22).

Tabel 2. Persamaan Ciri-ciri Unsur Badaniah arca di Nusa Penida dengan Arca di Bali Selatan

No. Nama Tokoh Arca Tempat Penemuan Gerak Garis Ekspresi Sikap Posisi Bahan Wilayah
1. Arca Perwujudan Bhatara (K1) Pura Saab, desa Batu Madeg kaku Tenang berdiri tegak kedua tangan dilipat ke depan samping badan masing-masing tangan memegang bulatan batu padas Nusa Penida
1. Arca Perwujudan Bhatari Pura Sibi Agung, Kesian kaku Tenang berdiri tegak kedua tangan dilipat ke depan di samping badan masing-masing tangan memegang bulatan batu padas Gianyar
2. Arca Perwujudan Bhatara (K2) Pura Saab dan Batu Madeg kaku tenang berdiri tegak kedua tangan dilipat ke depan di samping badan masing-masing tangan memgang bulatan Batu padas Nusa Penida
2. Arca Perwujudan Bhatara Pura Pucak Sari, desa Nyalian kaku tenang berdiri tegak kedua tangan dilipat ke depan di samping badan masing-masing

tangan memegang bulatan

Batu padas Klungkung
3. Arca Perwujudan Bhatara Pura MastuIan desa Kutampi kaku tenang berdiri tegak, kedua tangan dalam sikap menutup dada Batu padas Nusa Penida
3. Arca Perwujudan Bhatara Pura Rambut Siwi Petang Badung Terkesan kaku tenang berdiri tegak kedua tangan dilipat ke depan di samping badan masing-masing tangan memegang bulatan Batu padas Badung

Tabel 3: Persamaan Unsur Non Badaniah Arca-arca di Nusa Penida dengan Arca-arca di Bali Selatan (not shown here)

Pengaruh persebaran dalam kaitannya dengan seni arca secara umum dapat dipaparkan, bahwa perkembangan seni arca pada masa Hindu di Jawa tampak jelas dipengaruhi unsur-unsur asing khususnya pengaruh seni Gupta (India). Pengaruh seni mencapai kejayaannya pada arca-arca gaya prominen yang muncul pada jaman dinasti Sanjaya dan Sailendra. Di Bali arca-arca tipe ini ditemukan di Goa Gajah yakni arca Budha yang digolongkan dalam seni arca zaman Hindu Bali abad ke 8-10 (Stutterheim, 1929: 5). Ciri-ciri yang dapat diketahui dari tipe arca ini adalah arca yang dibuat feminim, lemah lembut, ragam hias ramai. Dalam perkembangannya kemudian pada masa Majapahit seni arca mulai menampakkan unsur-unsur lokal, hal ini dapat terlihat pada perkembangan seni arca di Bali. Contohnya dapat kita lihat di Pura Penulisan (Bangli) bertarikh 1077 M., 1074 M., 1011, di Pura Sibi Agung Gianyar bertahun 1026 M. (Widia, 1977: 3), sedangkan yang digolongkan dalam periode Bali Madya, salah satu di antaranya ialah arca perwujudan di Pura Subak Taulan berangka tahun 1343 M. (Widia, 1978).

Berdasarkan temuan arca klasik di beberapa pura di Nusa Penida diyakini bahwa perkembangan pengaruh Hindu sudah muncul di Nusa Penida sejak Bali Madya, dibuktikan sejumlah temuan yang ada ditemukan jenisnya beragam seperti di Pura Sahab, temuannya tidak saja arca perwujudan bhatara/bhatari, juga arca pendeta, arca nandi dan arca naga, seperti umumnya arca-arca yang demikian ditemukan di sejumlah pura di Bali (lihat tabel 1). Kebersamaan ini erat kaitannya dengan hubungan dengan wilayah-wilayah ini pada masa lalu karena periode belakangan masa pemerintahan Dalem Watu Renggong wilayah ini merupakan bagian dari kerajaan Bali. Hal ini berakibat adanya transformasi budaya Bali di daerah ini (sejarah Daerah Bali, 1978: 60). Hanya saja kejelasan ini belum terbukti dari temuan prasasti Bali Kuno, kecuali belakangan pada masa kerajaan Klungkung seperti dibuktikan temuan prasasti yang disimpan di rumahnya Nyoman Jaya dari Banjar Maos desa Buyuh. Prasasti yang tergolong baru ini terbit pada masa kerajaan Klungkung dari periode yang lebih muda 1815 C, yang berisi pengeling-ngeling bukti pura Mawos sertabatas-batas wilayah. Kendati tergolong baru, itu merupakan bukti hubungan Bali dan Nusa Penida sudah terjalin yang kemungkinan sudah diawali pada masa-masa sebelumnya. Jika mengacu dari sumber prasasti masa Bali Kuno antara lain seperti prasasti Blanjong berangka tahun 835 Ç., ada menyebutkan wilayah Gurun dan Suwal. Apakah tidak mungkin yang dimaksud dengan Gurun ialah Nusa Penida. Hal ini perlu dikaji lebih lanjut.

Chapter III

Pengamatan terhadap sejumlah arca yang ditemukan di beberapa Pura di Nusa Penida khususnya arca-arca masa klasik, Langgamnya sama dengan arca-arca yang ditemukan di wilayah Bali selatan pada masa Bali Madya (abad 13-114).

Image 3: Arca Perwujudan Bhatara di Pura Pucak Sari, Desa Nyalian Klungkung; Image 4: Arca penwujudan Bhatara di Pura Rambut Siwi, Petang, Badung; Image 5: Arca Perwujudan Bhatari di Pura Sibi Agung, Kesian, Gianyar (not shown here)

(p.36) Jika mengacu kepada teori Rouse mengenai teknologi mode yang menekankan pengamatan perlu didasari cara pengerjaan artefak tersebut. Setelah diamati tidak terlihat adanya perbedaan penggarapan. Penyelesaian akhir (finishing touch) yang dikerjakan secara sederhana tidak terlihat ada kesan unsur pembeda. Sangat berbeda dengan yang ditemukan di Bali utara yang memiliki dimensi penggarapan dengan ciri-ciri yang berbeda (Geria, 1996:13). Tipe arca-arca yang ditemukan di Nusa Penida di Badung dan Klungkung. Di Daerah Bali Selatan lebih dominan berkembang tipe-tipe arca karya Mpu Bga yang ditemukan di sejumlah Pura Sibi Agung, Gianyar. Ciri-ciri yang spesifik pada periode ini tampak dari penggarapan yang terkesan agak kasar (kaku), anatomis kurang sempurna. Tidak dipungkiri bahwa penggarapan unsur seni terkait pula pengaruh subyektiv seniman masing-masing pengaruh akibat dari hal-hal yang telah disediakan oleh lingkungan (Kluckhohn, 1944; 1-9).

Unsur-unsur lokal hasil kreativitas (p.37) aktivitas seniman dan pengaruh faktor alam lingkungan tidak tercermin pada seni arca di Nusa Penida pada masa klasik, padahal sebagian besar kawasan ini mempunyai kandungan alam berupa batu kapur. Pembuatan arca-arca masa klasik, sama sekali tidak memanfaatkan batu kapur seperti arca-arca bercirikan megalitik yang ditemukan di wilayah ini yang sebagian besar bahannya dari batu kapur. Kebanyakan bahan yang dipergunakan untuk membuat arca-arca masa klasik berasal dari batu padas seperti pada umumnya yang ditemukan di Bali.

Secara geografi kedua wilayah ini sangat berbeda, yang sangat berpengaruh terhadap kreativitas manusia dalam berkarya dan sejarah khas yang dialami oleh tiap-tiap wilayah berbeda. Seperti contoh perbedaan itu jelas sekali tampak antara Bali utara dan selatan, tetapi di wilayah Nusa Penida ini justru muncul karya-karya yang sama dengan di Bali Selatan. Dari kenyataan ini tidaklah mustahil dugaan bahwa arca-arca yang ditemukan di wilayah Nusa Penida ini sengaja didatangkan atau dibawa dari Bali Selatan. Karena sesuai dengan kepercayaan masyarakat Bali yang masih berlaku sampai sekarang apabila keluarga keluar wilayah bermukim ke wilayah lain, unsur-unsur yang terkait dengan pemujaan leluhur masih tetap terbawa. Misalnya membuat bangunan pemujaan untuk leluhur yang di Bali dikenal dengan sebutan Sanggah Kemulan. Budaya yang demikian ini berlaku sejak dulu, bahkan desa-desa kuna di Bali seperti di sejumlah desa di Tamblingan tradisi memendak taulan sampai sekarang masih berlangsung. Jika warga di suatu wilayah di desa ini membangun bangunan pemujaan untuk leluhur sebelumnya mengadakan upacara pengambilan batu ataupun kayu di tirta Mengening yang diyakini dulunya sebagai pusat wilayah desa-desa tersebut. Tradisi ini dikenal sebagai memendak taulan diartikan memendak leluhur untuk distanakan di tempat pemujaan di wilayah pemukiman desa-desa yang baru (Geria, 1993:45). Tidak mustahil juga munculnya simbul-simbul pemujaan ini tidak semata-mata bertujuan untuk kepentingan religius tetapi juga terkandung muatan politis bagi penguasa pada masa itu, dalam arti simbul-simbul penghormatan terhadap raja dan tokoh-tokoh kerajaan ataupun keluarga raja dalam bentuk arca-arca untuk menanamkan kekuatan-kekuatan di wilayah tersebut. Sebagaimana disebutkan oleh Malinowski pemujaan ini merupakan suatu ungkapan perasaan, sikap dan hubungan sekunder antara anggota dengan para pemimpin (O'dea, 1985:75). Di sini tercermin tindakan penghormatan terhadap leluhur dan terhadap raja-raja yang berkuasa dengan ritus-ritus pemujaan menandakan kebersamaan sikap, memperkuat solidaritas dan mengukuhkan hubungan dengan pemimpinnya (Parsons, 1949: 435). Muatan politis yang tercermin pada pengkultusan raja-raja di Jawa yang dibuatkan pemujaan disesuaikan dengan arca-arca Dewa (bercirikan salah satu atribut Dewa) tiada lain tujuannya untuk mengukuhkan kekuasaan sebagai simbul kehormatan karena jasa-jasa semasa pemerintahan. Sebagai contoh arca perwujudan Airlangga sebagai pemuja (p.38) wisnu duduk di atas garuda (Sumadio, 1977:100).

Hal ini tampaknya juga menjadi latar belakang kenapa arca-arca yang ditemukan di Nusa Penida sama dengan di Bali, karena ada kemungkinan sengaja dibawa dari Bali untuk menguatkan hubungan tersebut dan sebagai bukti pengaruh Hindu Bali di wilayah tersebut. Jenis temuan arcanyapun ditemukan lengkap sebagaimana kita lihat dalam beberapa pura di Bali di antaranya arca Ganesa, Siwa Maha Guru sebagai simbul pemujaan Siwa, arca-arca perwujudan bhatara-bhatari, dan arca perwujudan pendeta sebagai pengkultusan pemujaan leluhur para raja dan tokoh-tokoh kerajaan. Apa tidak mungkin pula dengan temuan sejumlah arca klasik masa Hindu di Nusa Penida suatu bukti yang dapat memperkuat data dari persepsi sebelumnya bahwa daerah Gurun yang dimaksud dalam prasasti Blanjong adalah Nusa Penida. Disebutkan dalam prasasti itu tentang musuh-musuh raja yang berhasil dikalahkan yaitu di Gurun dan Suwal. Penanggalan prasasti ini yakni 913 M., merupakan suatu indikasi bahwa daerah ini merupakan bagian dari kerajaan Bali abad X, diperkirakan sekitar abad X inilah awal masuknya unsur budaya Hindu Bali di Nusa Penida. Kenyataan di wilayah Nusa Penida sampai sekarang belum ditemukan bukti-bukti peninggalan masa klasik (Hindu) yang periodisasinya sebelum abad X.

Terkait dengan fungsi benda tersebut sebagaimana ditekankan oleh Rouse dalam mengamati artefak melalui Mode of Use (cara penggunaan) menjadi bahan pertimbangan. Seperti diketahui setiap karya seni manusia yang dibuat dari benda alam di sekitarnya mengandung dalam dirinya nilai. Nilai yang diperoleh manusia dapat bermacam-macam misalnya nilai social ekonomi, keindahan dan religi). Dengan demikian berkarya berarti menciptakan nilai, atau dalam setiap hasil karya terwujudlah suatu ide manusia. Oleh karena itu setiap benda budaya menandakan nilai tertentu, menunjukkan maksud dan gagasan penciptanya (Poespawardoyo, 1978:11).

Jadi fungsi artefak tersebut berdasarkan gagasan penciptanya untuk penghormatan kepada leluhur yang diabadikan atau digambarkan dalam bentuk-bentuk arca. Di India pembuatan arca tidak terbatas pada penggambaran dewa, melainkan juga menggambarkan manusia (Soekatno, 1993:88). Penghormatan leluhur melalui media arca ini tidak saja berlaku di Bali, tetapi berkembang juga di Jawa seperti telah disebutkan dengan beberapa contoh di atas. Perbedaannya ialah kalau di Jawa ada kebiasaan mematungkan seorang raja yang meninggal dalam wujud dewa yang dipuja semasa hidupnya, tetapi di Bali umumnya tokoh-tokoh kerajaan dan raja-raja diwujudkan dalam bentuk arca yang tidak beratribut dewa. Perbedaan ini tidak saja dalam bentuk, tetapi juga terletak pada tujuan pelaksanaan. Di India lebih cendrung pengarcaan ini terkait dengan peringatan sebagai monumen atas jasanya sedangkan bagi masyarakakat Jawa Kuna dan Bali Kuna, pengarcaan seseorang cendrungtujuannya sebagai sarana dalam mencapai pelepasan jiwa. Upacara (p.39) pelepasan ini yang sampai sekarang mentradisi di Bali termasuk upacara pitra yadnya. Melaksanakan upacara ini merupakan kewajiban dari para penganut Hindu terhadap orangtua dan leluhurnya. Bahkan tradisi ini masih berlanjut dalam aspek pemujaan kaitannya dengan upacara keagamaan kekinian di Bali. Di antaranya keterkaitan dengan ajaran Tri Rna, hutang yang dimiliki terhadap leluhurnya yakni berupa upacara ritual terhadap leluhurnya yang telah meninggal dan kemudian dihormati, distanakan dalam bangunan pemujaan keluarga. Seperti umum diketahui di Bali sekarang tempat pemujaan keluarga (merajan / sanggah) ada pelinggih rong tela (bangunan pemujaan dengan tiga bilik) sebagai tempat pemujaan leluhur yang telah disucikan, ini masih eksis dalam kehidupan sekarang bagi umat Hindu yang pelaksanaannya dipadukan dengan kegiatan upacara keagamaan di Bali. Apa yang dilaksanakan di Bali dalam kaitannya dengan pemujaan leluhur, demikian juga di Nusa Penida hanya saja penekannya sekarang tidak dalam wujud benda pemujaan, tetapi dalam konsep-konsep dan sarana upakara masih eksis dan mempunyai maksud dan tujuan yang sama.

IV. Kesimpulan

Berdasarkan pengamatan di atas dapat disimpulkan bahwa masuknya unsur budaya Bali Selatan khususnya seni arca Hindu diperkirakan berlangsung setelah abad X, karena pengamatan di lapangan membuktikan, bahwa di wilayah ini belum diketemukan peninggalan seni arca masa Hindu Bali abad VIII. Peninggalan seni arca yang ditemukan di sini kemungkinan didatangkan dari Bali Selatan mengingat tipe-tipe arcanya sama dengan yang ditemukan di wilayah Bali Selatan, antara lain di Gianyar, Badung, dan Klungkung. Demikian juga material untuk pembuatan arca ini berupa batu padas, yang umumnya dipakai di Bali, sedangkan di wilayah ini material yang demikian jarang ditemukan. Indikasi lainnya tidak tampak adanya kekhasan penggarapan seniman lokal, seperti yang diketahui di daerah Bali utara menampakkan ciri-ciri muatan lokal. Hasil pengamatan ini merupakan pengkajian awal, tentunya diharapkan diteliti kembali untuk mendapatkan data yang lebih lengkap dan akurat untuk menguatkan persepsi bahwa kemungkinan daerah Gurun yang dimaksud dalam prasasti Blanjong adalah wilayah Nusa Penida, yang dapat ditaklukkan sesuai dengan penanggalan prasasti abad X. Kenyataan dari hasil survei di lapangan membuktikan bahwa keberadaan peninggalan masa klasik di wilayah ini berlangsung setelah abad X Masehi.

Daftar pustaka

  • Geria, I Made (1993) - "Ritus Memendak Taulan, Salah Satu Aspek Budaya Kesatuan Wilayah Tamblingan Kuno", Forum Arkeologi, Balai Arkeologi Denpasar, 1/1993: 25 - 51)
  • Geria, I Made (1996) - "Seni Arca Masa di Bali Utara Cermin Dinamika Seniman Bali (Kajian Pendahuluan)", Pertemuan llmiah Arkeologi, Cipanas
  • Holt, Claire (1933) - "Bandit Island, A Short Exploration Trip to Noesa Penida", in Tijdschrift van Het Java-Instituut, Jogjakarta (Java), No. 1:129-138
  • Kluckhohn, C.O.H. Mowrer (1944) - "Culture and Personality, A Conceptual Scheme", American Anthropologist XLVI: 1-29
  • Koentjaraningrat (1987) - Sejarah Teori Antropologi, Universitas Indonesia (UI - Press)
  • O'Dea, Thomas F. (1985) - Sosiologi Agama Suatu Pengenalan Awal, Yayasan Solidaritas Gajahmada, CV. Rajawali, Jakarta
  • Parsons, Talcot (1949) - "The Structure of Social", Essays in Sociological Theory, Glencoe, III, The Pree Press
  • Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah (1978) – Sejarah Daerah Bali, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah, Jakarta
  • Poespowardoyo, Soerjanto (1978) - "Menuju Kepada Manusia Seutuhnya", Bunga Rampai tentang Filsafat Manusia, P.T. Gramedia, Jakarta, hal. 11
  • Sedyawati, Edi (1994) - Pengarcaan Ganesa Kadiridan Sinhasari, Sebuah Tinjauan Sejarah Seniman, LIPI - RUL, Jakarta
  • Soekatno, Endang Sri Hardiati (1993) – Arca tidak beratribut Dewa di Bali, Sebuah Kajian Ikonografis dan Fungsional, Disertasi Universitas Indonesia, Jakarta
  • Stutterheim, W.F. (1929) - Oudheden van Bali (tekst), Het Oude Rijk van Pedjeng, De Kirtya Liefrinck van der Tuuk, Singaraja
  • Sumadio, Bambang (1977) - "Jaman Kuno", Sejarah Nasional Indonesia II, Editor
  • Sartono Kartodirdjo Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  • Widia, I Wayan (1977) -Tinjauan Seni Arca Pura Sibi Agung dan Sekitarnya", Saraswati, Majalah tidak berkala Museum Bali, Denpasar, No. 11: 3-7

Source

  • Geria, I Made (1997) - Unsur Budaya Bali Selatan di Nusa Penida, Kajian Seni Arca Masa Klasik, in: Seri Penerbitan Forum Arkeologi, STT. No. 1416/SK/Ditjen PFG/STT/1989; ISSN 08 54-3232; No. 2/1996 – 1997, Maret 1997, Balai Arkeologi Denpasar

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman www.godidijkman.nl social facebook box white 24