Stone tools (Patridina, 2013)

In 2013, Esa Putra Bayu Gusti Gineung Patridina wrote an S1 thesis entitled 'Alat batu dari Situs Gua Gede, Kajian Tipologi dan Fungsi', loosely translated as 'Stone tools from Gua Gede Cave, Nusa Penida - A Study on its Typology and Function'. The author wishes to prove the functionality of stone tools in accordance with the makers' abilities and needs, namely: different societies created different tools, and stone tools can be used as a clue to discover their cognitive maturity levels of any particular society.

Patrinida2013-coverThis article is under revision.

Abstract

(p.viii) People can easily find Stones everywhere, so the prehistoric human beings created tools of stone. They used a various stone tools to defend themselves out of danger or to fulfil their daily main needed. The stone tools maker created the tools in accordance with their ability and needs. That is why the shape and the improvement of the tools reflected the characters and culture of the users. There are at least two reasons to learn these tools, namely (a) different society created different tools, so the variations of the tools can be used to differentiate among cultural groups in particular time and space and (b) stone tools can be used as a clue to discover their cognitive maturity levels of a particular society. By considering to the importance of stone tools then the research under title 'The Stone Tools from Gede Cave, Sub-district of Nusa Penida, Regency of Klungkung, Bali (A Study of Typology and the Function)' is aimed to get data about the types and the functions of stone tools found in Gede Cave Site.

This research is a descriptive qualitative research and located in Balai Arkeologi Denpasar. The data collected are the size, the weight, the materials, sharpness point and the cortex. The primary data sources is the stone tools found in Gede Cave excavation in Box III, while the secondary data sources is the literature related to the research object. The instruments to collect the data are researcher himself observation sheets, camera, and interview guideline. The data collections technique include literature study, observation, documentation, and interview. Typological analysis is applied to determine the types of stone tools. Artefactual analysis is applied to determine the relationship between the types of stone tools and its function. Comparative analysis is applied to know the function of stone tools by comparing with others stone tools found in another site.

By analyzing the researcher comes to conclusion that based on the location and the sharpness angel, the stone tools from box III of Gede Cave site can be classified into five types, namely: (1) MLD the shape of this type is straight sharpness point, convex, concave, serrated, and taper; (2) MTJ the shape of this type is straight sharpness point, convex, concave, and taper; (3) MST the shape of this type is straight sharpness point and convex; (4) BLD the shape of this type is taper; and (5) BTJ this type has straight sharpness point and convex. The analysis result shows that MLD type with straight sharpness point, convex, concave, and taper was used to scrape wood and leather; concave sharpness to whittle bone; and serrated sharpness to saw, and taper to perforate the leather. MTJ type with straight sharpness point and convex was used to scrape wood and leather; convex sharpness also to plane wood; and taper sharpness to whittle bone. MST type with the straight sharpness point was used to scrape the wood and leather, while convex sharpness was used to scrape plants. BLD and BTJ types were used to chop wood. MLD.Cb medium size and BTJ.Lr small size cannot be predicted what its function because researcher lack of data to be analyzed. MLD.Lr and MTJ.Lr types large size was predicted to process wood materials, but the tools did not support the conclusion that the tools were used to scrape or whittle things. Keywords: stone tools, type, attribute, function.

dijkman-guagede01Image: Entrance of Gua Gede, Banjar Ambengan, Nusa Penida (G.Dijkman, August, 2015)

Abstrak

(p.vii) Batu merupakan bahan yang mudah didapat dari alam sekitar, sehingga masyarakat prasejarah menggunakan alat dari batu. Alat batu berperan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat prasejarah. Pembuatan alat batu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan pembuatnya, sehingga bentuk dan perkembangan alat batu memberi gambaran karakter serta perkembangan kebudayaan masyarakat pendukungnya. Setidaknya ada dua alasan mempelajari alat batu, yaitu (a) masyarakat berbeda akan membuat alat secara berbeda, sehingga variasi alat dapat digunakan untuk membedakan antara kelompok budaya dalam kurun waktu dan ruang tertentu serta (b) bentuk alat batu memberi petunjuk tentang tingkat kematangan kognitif suatu masyarakat. Dengan memperhatikan pentingnya alat batu, maka penelitian berjudul 'Alat Batu dari Situs Gua Gede, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali (Kajian Tipologi dan Fungsi)' bertujuan untuk memperoleh data tipe dan fungsi alat batu temuan dari Situs Gua Gede.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan berlokasi di Balai Arkeologi Denpasar. Data yang dikumpulkan berupa ukuran, berat, bahan baku, tajaman dan korteks. Data primer berupa alat batu dari situs Gua Gede hasil ekskavasi pada kotak III, sedangkan data sekunder berupa pustaka yang berkaitan dengan objek penelitian. Pengambilan data menggunakan teknik studi pustaka, observasi, dokumentasi dan wawancara. Analisis tipologi untuk menentukan tipe alat batu berdasarkan atribut bahan baku, ukuran, berat, tajaman dan korteks. Analisis artefaktual untuk menentukan hubungan antara tipe alat batu dan fungsinya. Analisis komparatif untuk mengetahui fungsi alat batu dengan cara membandingkan dengan alat batu yang ditemukan di tempat lain.

dijkman-guagede02Image: Gua Gede, Banjar Ambengan, Nusa Penida (G.Dijkman, August, 2015)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan letak dan sudut tajaman, alat batu dari kotak III Situs Gua Gede diklasifikasikan menjadi lima tipe, yaitu: (1) MLD dengan tajaman lurus, cembung, cekung, bergerigi dan meruncing; (2) MTJ dengan tajaman lurus, cembung, cekung dan meruncing; (3) MST dengan tajaman lurus dan cembung; (4) BLD dengan tajaman meruncing, dan (5) BTJ dengan tajaman lurus dan cembung. Analisis jejak pakai menunjukkan bahwa tipe MLD dengan tajaman lurus, cembung, cekung dan meruncing cenderung untuk menyerut kayu dan kulit; tajaman cekung untuk meraut tulang; tajaman bergerigi untuk menggergaji; dan tajaman meruncing untuk melubangi kulit. Tipe MTJ dengan tajaman lurus dan cembung untuk menyerut kayu dan kulit; tajaman cembung juga untuk mengetam kayu; dan tajaman meruncing untuk meraut tulang. Tipe MST dengan tajaman lurus untuk menyerut kayu dan kulit, sedangkan tajaman cembung untuk menyerut tumbuhan. Tipe BLD dan BTJ dengan berbagai bentuk tajaman untuk membelah kayu. Tipe MLD.Cb berukuran sedang dan BTJ.Lr berukuran kecil tidak diketahui fungsinya karena kurangnya data jejak pakai yang dapat diamati. Tipe MLD.Lr dan MTJ.Lr berukuran besar diperkirakan untuk mengerjakan kayu, tetapi bentuk alat batu tidak mendukung simpulan untuk menyerut atau meraut seperti yang tampak pada jejak pakainya. Kata kunci: alat batu, tipe, atribut, fungsi.

Lampiran 6: Foto Alat Batu dari Situs Gua Gede: Gambar Alat Batu (a) tipe MLD.Lr dan (b) tipe MLD.Cb; Koleksi Balai Arkeologi Denpasar (Sumber: Patridina, 2013)

patridina2013-gambar-alatbatu-01

Lampiran 9: Mikroskop untuk Pengamatan Jejak Pakai: Gambar (a) stereomikroskop Wild M400 dan (b) mikroskop optik Olympus BHM (Foto: Patridina, 2013)

patridina2013-stereomikroskop

4.1.2 Riwayat Penelitian di Situs Gua Gede / Gua Gede Cave research history

(p.46) Penelitian di situs-situs Nusa Penida diawali oleh kunjungan Claire Holt pada tahun 1930. Pada laporan kunjungan tersebut disinggung adanya temuan arkeologi di beberapa pura. Adanya temuan arkeologi tersebut mendorong para peneliti lain untuk mengadakan penelitian di Situs Nusa Penida.

Penelitian di Situs Gua Gede diawali oleh penelitian tim arkeometri yang dipimpin Dr. Haris Sukendar pada tahun 2000. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pendataan terhadap lingkungan terkait dengan data arkeologi sebagai (p.47) aspek kehidupan manusia pada masa lampau (Suastika, 2002:1-2). Pada saat itu juga dilakukan peninjauan terhadap Gua Giri Putri dan Gua Gede. Tetapi pada saat itu tidak berhasil mendapatkan temuan permulaan.

Pada tahun 2001 I Made Suastika melakukan pendataan terhadap gua-gua. Pada tahap awal dilakukan survei di Gua Giri Putri, Gua Gede, Gua Celeng, dan Gua Song. Berdasarkan hasil survei, bentuk dan situasi lingkungan Gua Gede, diyakini pernah dihuni oleh manusia pasca plestosen, sehingga penelitian dilanjutkan dengan melakukan ekskavasi di Gua Gede. Pada saat itu I Made Suastika membuka kotak I yang berukuran 2 x 2 meter pada spit 1-9 dengan kedalaman 95 cm. Temuan yang diperoleh pada ekskavasi tersebut meliputi: (a) sejumlah alat batu (kapak penetak, serpih, bilah, alat pukul), (b) alat tulang berupa sudip termasuk muduk point, (c) pecahan gerabah (kereweng polos), (d) beberapa jenis tulang binatang berupa sisa makanan, (e) cangkang kerang laut dan darat, (f) tengkorak kera, (g) gigi binatang, dan (h) tanduk. Berdasarkan temuan tersebut diperoleh informasi bahwa pada lapisan 1-5 terlihat adanya gejala bercocok tanam yang didukung oleh adanya temuan pecahan gerabah (kereweng polos) dan pada spit 6-9 terlihat indikasi adanya kehidupan masa berburu tingkat lanjut (Suastika, 2001:10-13).

Banyaknya temuan hasil ekskavasi pada tahun 2001 membuat Tim Peneliti dari Balai Arkeologi Denpasar melakukan penelitian secara intensif pada Situs Gua Gede. Penelitian selanjutnya dilaksanakan pada 2002 sampai 2008 dipimpin oleh I Made Suastika. Pada tahun 2002 dilakukan ekskavasi lanjutan pada kotak I dengan membuka spit 10-16 dan membuka kotak II pada spit 1-11. Kotak II (p.48) berjarak 2 meter di sebelah timur kotak I dengan mengambil garis lurus di dinding selatan. Kotak II berukuran 2 x 2 meter mendekati mulut gua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua lapisan budaya yaitu bercocok tanam tingkat awal pada lapisan budaya paling atas dan berburu tingkat lanjut pada lapisan budaya di bawahnya. Pada masa berburu tingkat lanjut, corak kehidupan masih dipengaruhi oleh masa sebelumnya yaitu hidup berburu dan mengumpulkan bahan-bahan makanan yang terdapat di alam sekitarnya. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya alat-alat dari batu, dari tulang, dan dari kerang. Alat batu yang ditemukan berupa alat serpih bilah, kapak perimbas, pahat genggam, proto kapak genggam, dan jenis-jenis serut. Alat tulang yang ditemukan berupa sudip dan mata panah, sedangkan alat dari kerang berupa serut dan mata panah (Suastika, 2002:12-17).

dijkman-guagede03Image: Gua Gede, Banjar Ambengan, Nusa Penida (G.Dijkman, August, 2015)

Penelitian tahun 2003 lebih memusatkan perhatian pada proses perubahan budaya untuk mendapatkan penjelasan tentang cara dan alasan kebudayaan masa lalu mengalami perubahan. Penelitian dilakukan dengan melanjutkan ekskavasi pada kotak I spit 17-19 dan kotak II spit spit 12-16. Kesimpulan dan temuan- temuan yang diperoleh pada penelitian tersebut sama dengan penelitian tahun 2002. Temuan hasil ekskavasi tahun 2001-2003 ditindaklanjuti I Made Suastika dengan mengadakan analisis lanjutan. Melalui analisis terhadap alat batu serta keterkaitannya dengan konteks, sebaran, dan asosiasi, disimpulkan bahwa Situs Gua Gede pernah dihuni oleh masyarakat bercocok tanam awal yang merupakan penghunian terakhir di Gua Gede. Secara horisontal kehidupan di Gua Gede menunjukkan lapisan budaya neolitik, yaitu lapisan budaya bercocok tanam pada (p.49) ketebalan 70 cm. Lapisan kedua adalah lapisan epipaleolitik, yaitu budaya masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut dengan ketebalan 105 cm. (Suatika, 2003a:12-13).

Penelitian tahun 2004-2008 difokuskan pada pembukaan kotak III yang berukuran 4 x 4 meter. Kotak III berada 1 meter sebelah barat kotak I dan 48 cm di bawah datum point sementara dengan arah 283o kompas. Penggalian spit 1-10 dilakukan pada tahun 2004. Penggalian pada spit 11-13 dilakukan pada tahun 2005, spit 14-18 pada tahun 2006, spit 19-24 pada tahun 2007, dan spit 25-32 pada tahun 2008. Temuan pada kotak III didominasi oleh sisa tulang fauna, alat tulang, dan alat serpih. Alat tulang merupakan artefak yang terbanyak, yaitu sebanyak 917 buah. Alat tulang terdiri atas lancipan, spatula (sudip), dan muduk point (lancipan ganda). Alat serpih sebanyak 720 buah terdiri atas serpih dan bilah serta beberapa mata panah. Alat batu masif sebanyak 40 buah yang terdiri atas kapak perimbas, proto kapak genggam, kapak penetak, dan serut tinggi. Alat kerang sebanyak 404 buah terdiri atas sudip, serut, dan alat berupa sendok. (Hidayah, 2010:343).

Penelitian dengan metode ekskavasi dilanjutkan pada tahun 2009 dengan membuka kotak IV yang terletak di mulut gua. Penelitian yang diketuai Luh Kade Citha Yuliati ini membuka kotak yang berukuran 2 x 2 meter pada spit 1-17. Pada kotak IV ditemukan gerabah (kereweng), alat batu pipisan, cangkang kerang darat dan laut, tulang binatang, gigi binatang, dan lesung batu yang telah terbelah dua. Kotak ini diduga merupakan situs buangan dari sisa-sisa makanan dan alat-alat untuk meramu makanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gua Gede (p.50) memiliki dua lapisan budaya yaitu budaya bercocok tanam pada lapisan atas dan budaya berburu tingkat lanjut pada lapisan di bawahnya. (Yuliati dan Astawa, 2009:9-11).

Penelitian tahun 2010 dilakukan oleh Ati Rati Hidayah. Penelitian ini tidak menggunakan metode ekskavasi tetapi melakukan analisis lanjutan terhadap temuan hasil ekskavasi pada kotak I-IV. Berdasarkan hasil temuan pada keempat kotak tersebut diperoleh informasi bahwa pemakaian gua secara intensif berada di bagian tengah gua, yaitu pada kotak III, sedangkan kotak IV di ruang bagian depan memiliki lapisan budaya yang tipis dan didominasi temuan bercorak neolitik. Hasil analisis keseluruhan menunjukkan bahwa (a) periodisasi hunian Gua Gede secara vertikal telah berlangsung pada masa sebelum 3.80525BP, (b) pendukung Situs Gua Gede dimungkinkan berasal dari Ras Australo-Melanesoid, dan (c) Gua Gede merupakan hunian yang berperan penting pada masa Pasca Plestosen hingga Holosen karena letak Gua Gede yang berada di ujung okupasi populasi Australo-Melanesoid yang ada sejak 50.000BP (Hidayah,2010:354).

dijkman-guagede04Image: Gua Gede, Banjar Ambengan, Nusa Penida (G.Dijkman, August, 2015)

Penelitian berikutnya dilakukan pada tahun 2011 dan diketuai oleh I Dewa Kompiang Gede. Pada penelitian tersebut dilakukan pembukaan kotak V yang berada di sebelah barat kotak III berjarak 2 meter. Kotak V dibuka dengan ukuran 2 x 2 meter pada spit 1-27. Keadaan permukaan tanah miring dari timur laut ke arah barat daya dengan perbedaan ketinggian 11 cm. Kegiatan ekskavasi menghasilkan temuan gerabah yang fragmentaris, alat batu masif dan alat batu serpih, alat tulang yang berupa lancipan ganda, moluska yang berasal dari habitat laut, dan tulang binatang vertebrata yang sangat fragmentaris serta gigi binatang.

(p.51) Berdasarkan hasil penelitian diperoleh informasi bahwa spit 2-5 merupakan lapisan neolitik atau masa bercocok tanam. Selain itu, ditemukan juga alat batu masif yang bahan bakunya berasal dari lingkungan luar Gua Gede. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia pendukung Situs Gua Gede telah memanfaatkan sumber daya alam yang tidak hanya berasal dari sekitar lingkungan Gua Gede (Hidayah dan Gede, 2011:10-14).

4.3.3 Fungsi Alat Batu

(p.70) Fungsi alat batu dapat diinterpretasikan berdasarkan jejak akibat pemakaian alat dan jejak materi yang dikerjakan. Berikut indikator fungsi alat batu berdasarkan bentuk serta jejak pakai alat batu.

a. Menyerut (scraping)

Alat batu dapat digunakan untuk menyerut materi yang berupa kayu, kulit, dan tumbuhan. Aktivitas menyerut dilakukan dengan alat yang memiliki sudut tajaman landai, terjal, atau sangat terjal. Menyerut kayu biasanya menggunakan (p.71) alat yang memiliki tajaman monofasial dengan sudut pengerjaan terjal (Keeley, 1980:18-19). Menyerut kayu keras dengan sudut tajaman landai dapat menghasilkan feather, hinge, dan step fracture, sedangkan menyerut dengan sudut terjal atau sangat terjal dapat menghasilkan hinge dan step fracture. Menyerut kayu lunak dengan sudut tajaman landai dapat menghasilkan feather fracture, sedangkan menyerut dengan sudut tajaman terjal atau sangat terjal tidak menyebabkan pecahan tajaman.

Keeley (1980:38) menambahkan bahwa aktivitas menyerut kayu biasanya menimbulkan kilap pada kedua sisi tajaman dengan striasi melintang. Kamminga, 1982:69) mengatakan bahwa terjadinya penumpulan disebabkan oleh adanya partikel debu atau pasir yang ada pada kayu atau pada alat itu sendiri. Hasil analisis Irdiansyah (2008:118) pada alat batu dari Situs Gua Pandan menunjukkan bahwa aktivitas menyerut kayu dilakukan dengan alat batu yang memiliki tajaman monofasial dengan sudut tajaman terjal atau sangat terjal. Aktivitas menyerut kayu dapat menimbulkan jejak kilap (mungkin additive), jejak pelicinan, penumpulan tebal, dan sleek striation yang melintang.

Aktivitas menyerut kulit biasanya menimbulkan kilap yang lebih menonjol pada salah satu sisi tajaman dengan striasi melintang (Keeley, 1980:51). Pengerjaan kulit kering sering meninggalkan jejak pakai berupa penumpulan. Pengerjaan kulit segar juga meninggalkan jejak penumpulan jika pada saat pengerjaan terdapat partikel abrasive pada tajamannya. partikel (Kamingga, 1982:41-42). Irdiansyah (2008:119) mengatakan bahwa aktivitas menyerut kulit (p.72) kering dilakukan dengan alat dengan tajaman monofasial dengan sudut tajaman sangat terjal dan meninggalkan jejak kulit kering serta striasi melintang.

Menyerut tumbuhan meninggalkan kilap phytolith dengan tampilan yang sulit dibedakan dengan kilap kayu (Kamminga, 1982:54). Tetapi lapisan kilap hasil pengerjaan tumbuhan biasanya lebih halus dan padat bila dibandingkan dengan kilap kayu (Keeley,1980:61). Pada permukaan kilap kadang-kadang terdapat lubang-lubang kecil berekor seperti bentuk komet (comet-shape pits). Irdiansyah (2008:120) mengatakan bahwa pengerjaan tumbuhan dilakukan dengan alat batu yang memiliki tajaman monofasial bersudut terjal dengan jejak kilap yang sangat halus dan padat menutupi permukaan, tetapi memungkinkan pula alat dengan tersebut digunakan untuk memotong.

b. Mengetam (planing)

Mengetam dapat dilakukan dengan alat yang mempunyai sudut tajaman terjal sampai sangat terjal. Mengetam kayu dimaksudkan untuk menghasilkan bidang datar. Aktivitas ini dilakukan dengan alat yang memiliki tajaman monofasial dengan sudut tajaman sangat terjal dan sudut pengerjaan landai. Hal ini diketahui dengan adanya jejak kilap dan striasi melintang pada permukaan batu yang berkontak langsung dengan kayu. Aktivitas mengetam kayu lunak tidak menyebabkan pecahan pada tajaman. Tetapi mengetam kayu keras mungkin menghasilkan hinge dan step fracture (Keeley, 1980:1-36).

Kamminga (1982:72) mengatakan bahwa mengetam dapat menyebabkan penumpulan pada tepi tajaman, jika terdapat penyebab keausan. Irdiansyah, (2008:118) menyatakan bahwa alat batu dengan tajaman monofasial bersudut (p.73) sangat terjal, dengan jejak penumpulan, kilap redup, dan sleek striation melintang pada permukaan yang berkontak dengan materi diperkirakan dekat dengan aktivitas mengetam kayu.

c. Meraut (whittling)

Aktivitas meraut dilakukan dengan alat yang mempunyai sudut tajaman landai hingga sangat terjal. Meraut digunakan untuk mengerjakan materi dari kayu dan tulang. Meraut kayu dimaksudkan untuk membentuk dan menghaluskan kayu. Aktivitas ini biasa dilakukan dengan alat yang memiliki tajaman monofasial dengan sudut tajaman landai dan sudut pengerjaan landai. Aktivitas meraut kayu meninggalkan kilap dan striasi melintang yang tampak lebih menonjol pada salah satu permukaan batu. Meraut kayu lunak menghasilkan feather fracture, bahkan hampir tidak menyebabkan pecahan tajaman, sedangkan meraut kayu keras dapat membentuk hinge, step, dan bending fracture (Keeley, 1980:17-36). Penelitian Irdiansyah (2008:119) menghasilkan simpulan bahwa alat batu dengan tajaman monofasial bersudut landai, dengan jejak kilap kayu dan sleek striation melintang merupakan petunjuk bahwa alat batu tersebut dekat dengan aktivitas meraut kayu.

Aktivitas meraut tulang bertujuan untuk membentuk tajaman atau menghaluskan permukaan. Aktivitas ini biasanya menghasilkan striasi atau orientasi kilap melintang dan beberapa step fracture pada salah satu sisi tajaman (Keeley, 1980:44). Irdiansyah (2008:119) mengatakan bahwa aktivitas meraut tulang dilakukan dengan alat yang mempunyai tajaman monofasial dengan sudut landai dan meninggalkan jejak tulang.

d. Menggergaji (sawing)

(p.74) Menggergaji dapat dilakukan dengan alat yang mempunyai sudut tajaman landai hingga sangat terjal. Menggergaji tulang biasanya dilakukan dengan alat yang tajamannya berbentuk bergerigi dan menghasilkan kilap pada kedua sisi tajaman dengan striasi yang membujur (Keeley, 1980:18,44). Eksperimen Kamingga (1982:48) menunjukkan bahwa alat batu dengan sudut tajaman landai menghasilkan bending fracture yang umumnya melebar dan dangkal serta di dalamnya terdapat pecahan mikro dengan bentuk feather, hinge, atau step fracture. Pada alat dengan sudut tajaman terjal, kehadiran bending fracture semakin berkurang. Irdiansyah (2008:120) mengatakan bahwa alat yang mempunyai tajaman monofasial bersudut terjal bergerigi, dengan jejak kilap tulang, dan striasi membujur diperkirakan dekat dengan aktivitas menggergaji tulang.

e. Memotong/mengiris (cutting/slicing)

Aktivitas memotong dapat dilakukan dengan alat yang mempunyai sudut tajaman landai hingga sangat terjal. Memotong biasa menggunakan alat yang memiliki tajaman bifasial, sedangkan mengiris menggunakan alat yang memiliki tajaman monofasial. Aktivitas memotong atau mengiris meninggalkan jejak kilap yang berorientasi membujur (Keeley, 1980:19-55). Irdiansyah (2008:120) mengatakan bahwa alat batu dengan tajaman monofasial dengan jejak kilap daging dengan sudut landai dan sudut sangat terjal diperkirakan dekat dengan aktivitas memotong atau mengiris daging.

f. Membelah (chopping)

(p.75) Kayu juga dikerjakan melalui aktivitas membelah. Membelah dapat dilakukan dengan alat yang mempunyai sudut tajaman terjal sampai sangat terjal. Keeley (1980:19-38) mengatakan bahwa aktivitas membelah dilakukan dengan alat yang memiliki tajaman bifasial dengan sudut tajaman sangat terjal dan menimbulkan kilap yang tidak terlalu mencolok yang disebabkan gesekan yang tidak terlalu intensif. Eksperimen Kamminga (1982:63), yaitu membelah kayu ringan atau lunak (light/soft wood) tidak menyebabkan pecahan tajaman, tetapi pada kayu padat/keras (dense/hard wood) menghasilkan feather, hinge, dan step fracture

Pembelahan pada permukaan kayu yang mengandung butiran pasir sangat cepat menghasilkan pelicinan dan penumpulan. Banyaknya pecahan yang dihasilkan selama proses perkusi pada kegiatan membelah dapat menghasilkan tampilan hancur (crush) pada tepian tajaman alat batu (Lawrence, 1979:117). Penelitian Irdiansyah (2008:118) menghasilkan simpulan bahwa alat batu yang memiliki tajaman bifasial dengan sudut sangat terjal, dengan sedikit penumpulan, pelicinan, dan beberapa pecahan hancur pada tepian tajaman dekat dengan aktivitas membelah (mungkin kayu).

g. Melubangi/mengebor (piercing/awlings/boring)

Melubangi kulit menggunakan alat yang tajamannya berbentuk meruncing dan dilakukan dengan cara menusuk atau melakukan gerakan memutar seperti mengebor (Keeley, 1980:52). Aktivitas melubangi tidak menghasilkan pecahan tajaman ataupun striasi, tetapi kilap lemak pada tajaman menunjukkan orientasi (p.76) melintang. Jejak penumpulan dapat muncul, khususnya jika terdapat partikel abrasive pada tajaman (Kamminga, 1982:42). Irdiansyah (2008:119) mengatakan bahwa melubangi kulit segar dilakukan dengan alat yang tajamannya berbentuk meruncing dengan jejak kulit segar berorientasi melintang.

Bab VI Penutup: 5.4 Simpulan

(p.111) Berdasarkan paparan dan analisis data serta temuan penelitian dapat disimpulkan bahwa alat batu dari kotak III Situs Gua Gede mayoritas berukuran kecil (80,1%) dan ringan (88,7%), serta mengalami pemangkasan sangat intensif (76,9%). Bahan baku pembuatan alat mayoritas berupa limestone (89,2%), yaitu pembentuk Pulau Nusa Penida.

Berdasarkan letak dan sudut tajamannya, alat batu dari kotak III Situs Gua Gede dapat diklasifikasikan menjadi lima tipe, yaitu: MLD, MTJ, MST, BLD, dan BTJ. Tipe MLD merupakan alat batu yang mempunyai tajaman monofasial dengan sudut tajaman landai. Alat batu tipe ini mempunyai 5 variasi bentuk tajaman, yaitu: lurus (Lr), cembung (Cb), cekung (Ck), bergerigi (Bg), dan meruncing (Mr). Tipe MTJ mempunyai tajaman monofasial dengan sudut tajaman terjal dan mempunyai 4 variasi bentuk tajaman, yaitu: lurus (Lr), cembung (Cb), cekung (Ck), dan meruncing (Mr). Tipe MST mempunyai tajaman monofasial dengan sudut sangat terjal dan mempunyai dua variasi bentuk tajaman, yaitu: lurus (Lr) dan cembung (Cb). Tipe BLD merupakan alat batu dengan tajaman bifasial dan hanya mempunyai satu bentuk tajaman yaitu meruncing (Mr). Tipe BTJ mempunyai tajaman bifasial dengan sudut terjal. Tipe BTJ mempunyai dua variasi bentuk tajaman, yaitu: lurus (Lr) dan cembung (Cb).

(p.112) Penentuan fungsi alat batu didasarkan pada pengamatan terhadap jejak pakai alat pada setiap tipe dan subtipe dengan berbagai variasi ukuran. Hasil analisis jejak pakai memberikan informasi bahwa alat dengan tipe MLD cenderung digunakan untuk menyerut kayu dan kulit. Menyerut dilakukan dengan alat yang bentuk tajamannya lurus, cembung, cekung, dan meruncing. Meraut tulang menggunakan alat dengan bentuk tajaman cekung. Menggergaji dilakukan dengan alat yang mempunyai tajaman bergerigi, sedangkan untuk melubangi kulit menggunakan alat dengan tajaman meruncing. Tipe MTJ dengan tajaman lurus dan cembung digunakan untuk menyerut kayu dan kulit. Alat dengan tajaman cembung digunakan untuk mengetam kayu, sedangkan tajaman meruncing untuk meraut tulang. Tipe MST dengan tajaman lurus digunakan untuk menyerut kayu dan kulit, sedangkan tajaman cembung untuk menyerut tumbuhan. Tipe BLD dan BTJ dengan berbagai bentuk tajaman digunakan untuk membelah kayu.

Jejak pakai pada tipe MLD.Cb berukuran sedang dan BTJ.Lr berukuran kecil tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan fungsi alat tersebut. Pada tipe MLD.Cb terdapat feather dan bending feather secara bersamaan dan tanpa didukung petunjuk lain, sedangkan pada BTJ.Lr tidak terdapat jejak pakai yang dapat diamati. Alat tipe MLD.Lr berukuran besar dan MTJ.Lr berukuran besar diperkirakan digunakan untuk mengerjakan materi dari kayu. Tetapi bentuk alat batu yang membulat tidak memungkinkan alat tersebut digunakan untuk menyerut atau meraut seperti yang tampak pada jejak pakainya. Apabila alat ini diperkirakan untuk membelah kayu, maka seharusnya alat ini mempunyai tajaman bifasial.

5.5 Saran-Saran (p.113-114)

Berdasarkan simpulan serta pengalaman selama melakukan penelitian, maka disarankan beberapa hal-hal berikut ini.

a. Beberapa penelitian dalam bidang arkeologi memerlukan peralatan berupa mikroskop yang memadai, tetapi fasilitas ini kurang dipenuhi oleh lembaga arkeologi. Hal ini dapat menjadi penyebab terjadinya data yang bias karena peneliti kurang mempunyai keleluasaan dalam pengumpulan data. Selain itu, kurangnya peralatan mikroskop berdampak pada kurangnya penelitian dengan pendekatan mikroskopis di Indonesia, terutama tentang fungsi alat batu. Oleh karena itu, peralatan mikroskop harus disediakan sesuai dengan kebutuhan penelitian arkeologi.

b. Penggunaan mikroskop dalam penelitian dengan pendekatan mikroskopis harus dilakukan oleh tenaga yang terampil dalam mengoperasikan mikroskop sekaligus memahami jejak pakai pada alat batu. Tenaga yang terampil mengoperasikan mikroskop saja belum tentu dapat mengetahui jejak pakai pada alat. Demikian pula sebaliknya, peneliti yang memahami jejak pakai saja tidak mempunyai keleluasaan dalam mendapatkan data karena keterbatasan dalam mengoperasikan mikroskop. Calon peneliti bidang arkeologi perlu mendapat pembekalan secara lebih mendalam terkait dengan cara pengoperasian mikroskop serta pengenalan terhadap jejak pakai, sehingga memperoleh data yang benar-benar valid. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan atau memasukkan dalam kurikulum akademik.

c. Perlu penelitian lanjutan tentang fungsi alat batu yang digunakan masyarakat prasejarah yang menghuni situs-situs di Indonesia, sehingga perbandingan fungsi alat dilakukan terhadap alat lain yang masih berada di wilayah Indonesia. Dengan demikian, diharapkan dapat memberikan gambaran fungsi alat batu secara lebih tepat karena fungsi berkaitan dengan aktivitas dan aktivitas berkaitan dengan kebudayaan masyarakat.

d. Prosedur pembersihan artefak setelah ekskavasi harus disesuaikan dengan berbagai kepentingan penelitian fungsi alat batu melalui pengamatan terhadap residu. Hal ini disebabkan residu pada alat batu berkaitan dengan jejak residu dan jejak pemakaian tangkai. Jejak residu dapat berupa serat tumbuhan atau protein darah, sedangkan jejak pemakaian tangkai berupa getah atau serat pengikat.

Daftar pustaka / Bibliography (p.115-117)

  • Andrefsky, Jr. William, 1998. Lithic: macroscopic Approaches to Analysis. New York: Cambridge University Press
  • Azwar, Saifuddin. 2010. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Cotterell, Brian dan Johan Kamingga. 1979. "The Mechanic of Flaking" dalam Licthic Use-Wear. Haiden (ed). 1979:97-112. New York: Academic Press
  • Bene, Tery A. Del. 1979. "Once Upon a Striation Current Model and Striation and Polish Formation" dalam Licthic Use-Wear. Haiden (ed). 1979:167-177. New York: Academic Press.
  • Darwis, Muhammad. 2011. Teori Fungsional dan Struktural: http://www.psb-psma.org/content/blog/3668-teori-fungsional-dan-struktural, diakses 2 Januari 2013
  • Diwyaspathya, Fanny Indra. 2011. "Compang di Ruteng Pu'u Desa Golo Dukal Kecamatan Langke Rembong Kabupaten Manggarai NTT (Tinjauan Bentuk, Fungsi, dan Makna". Skripsi. Denpasar: FS-Universitas Udayana
  • Estevez, J.J. Ibanez dan J.E. Gonzales, Urquijo. 1996. From tool Use to Site Function: Use Wear Analysis in Some Final Upper Palaeolithic Sites in the Basque Country. Archaeological Report International 658. Oxford: Basingtoke Press
  • Forestier, Hubert. 2007. Ribuan Gunung, Ribuan Alat Batu: Prasejarah Song Keplek, Jawa Timur. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia
  • Hartini, Dwi. 2011. Kebudayaan Masyarakat Prasejarah Indonesia: http://www.scribd.com/doc/63376165/Kebudayaan-Masyarakat-Prasejarah-Indonesia, diakses 19 Maret 2011
  • Hayden, Brian. 1979. "Snap, Shater, and Superfracture: Use-Wear of Stone Skin Scrapers" dalam Licthic Use-Wear. Haiden (ed). 1979:207-229. New York: Academic Press
  • Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya: www.hukumonline.com, diakses 12 Februari 2013
  • Hidayah, Ati Rati. 2010. "Gua Gede Nusa Penida dalam Kerangka Hunian Prasejarah di Indonesia". Forum Arkeologi, XXIII (2):332-354. Denpasar: Balai Arkeologi Denpasar
  • Hidayah, Ati Rati dan I Dewa Kompiang Gede. 2011. "Situs Gua Gede, Dusun Pendem, Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung". Laporan Penelitian. Denpasar: Balai Arkeologi Denpasar
  • Hornby, AS. 1987. Oxford Advanced Learner's Dictionary of Current English. Oxford: Oxford University Press
  • Irdiansyah. 2008. "Fungsi Alat Batu dari Situs Gua Pandan, Padangbindu, Sumatera Selatan". Skripsi. Jakarta: FIB-Universitas Indonesia
  • Kamminga, Johan. 1979. "The Nature of Use-Polish and Abrasive Smoothing on Stone Tools" dalam Licthic Use-Wear. Hayden (ed) 1979: 143-157. New York: Academic Press
  • Kamingga, Johan. 1982. Over the Edges: Functional Analysis of Australian Stone Tool. Occasional Papers in Anthropology 12. Brisbane: Anthropology Museum, Queensland University
  • Keeley, Lawrence H. 1980. Experimental Determination of Stone Tools User: A Microwear Analysis: https://books.google.nl/books/about/%20Experimental_Determination_of_Stone_Tool.html?id=paDTQZykDlwC&redir_esc=y; diakses 12 Desember 2012
  • Lawrence, Robert A. 1979. "Experimental Evidence for the Significance of Attributes Used in Edge-Damage Analysis" dalam Licthic Use-Wear. Haiden (ed). 1979: 113-121. New York: Academic Press
  • Lemorini, Christina. Mari C.Stiner. Avi Gopher, Ron Shimelmitz, dan Ran Bakai. 2005. Use-wear analysis of an Amudian laminar assemblage from the Acheuleo-Yabrudian of Qesem Cave, Israel. Journal of Archaeological Science xx (2005):1-14: http://www.journals.elsevier.com/journal-of-archaeological-science, diakses 12 Juni 2012
  • Moleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
  • Mundardjito. 2002. Pertimbangan Ekologis Penempatan Situs Masa Hindu Buda di Daerah Yogyakarta. Jakarta: Wedatama Widya Sastra
  • Odell, George H. 2004. Lithic Analysis. United State of America: Springer Science + Bussiness Media
  • Ramli, M. Farhan.2009. Perspektif Teori Struktural Fungsional: http://webcache.googleusercontent.com/search?q==cache:yDDiE1ufqAJ: sharingtheory.blogspot.com/2009/04/perspektif-teori-struktural- fungsional, diakses 2 Januari 2013
  • Sharer, R.J. dan Wendy Ashmore. 1979. Fundamental of Archeology. London: The Benjamin Cumming Publiser Company
  • Sharer, R.J. dan Wendy Ashmore. 1993. Archaeology:Discovering Our Past. California: Mayfield Publihing Company
  • Simanjuntak, T., R. Handini, dan B. Prasetyo. 2004. Prasejarah Gunung Sewu, Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia
  • Siregar, Leonard. 2002. "Antropologi dan Konsep Budaya", Jurnal Antropologi Papua. 1 (1): 1-12. Papua: Laboratorium Antropologi Jurusan Antropologi Unisversitas Cendrawawih: http://www.papuaweb.org/uncen/ dlib/jr/antropologi/01-01/jurnal.pdf; diakses 20 Mei 2012
  • Suastika, I Made. 2001. "Penelitian Gua-Gua di Pulau Nusa Penida, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung". Laporan Penelitian. Denpasar: Balai Arkeologi Denpasar
  • Suastika, I Made. 2002. "Ekskavasi Arkeologi Gua Gede di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung". Berita Penelitian Arkeologi. Denpasar: Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata-Pusat Penelitian Arkeologi
  • Suastika, I Made. 2003a. "Penelitian Gua Gede Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali". Laporan Penelitian. Denpasar: Balai Arkeologi Denpasar
  • Suastika, I Made. 2003b. "Perkakas Batu dalam Hunian Gua Gede, Nusa Penida". Forum Arkeologi No. 11:1-13. Denpasar: Balai Arkeologi Denpasar
  • Suastika, I Made. 2005. "Ekskavasi Situs Gua Gede Nusa Penida". Laporan Penelitian. Denpasar: Balai Arkeologi Denpasar
  • Suastika, I Made. 2007. "Ekskavasi Situs Gua Gede Nusa Penida". Laporan Penelitian. Denpasar: Balai Arkeologi Denpasar.
  • Suastika, I Made. 2008. "Penelitian Pola Hunian Gua di Nusa Penida". Berita Penelitian Arkeologi. Denpasar: Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata- Pusat Penelitian Arkeologi
  • Sulistyanto, Bambang, dkk. 2010. Ringkasan Eksklusif (Summary Report) Penelitian Strategi Pengembangan Informasi Potensi Sumberdaya Budaya di Pulau Nusa Penida Provinsi Bali. Jakarta: Puslitbang Arkenas dan Kemenristek
  • Yuliati, Luh Kade Citha dan A.A. Gede Oka Astawa. 2009. "Penelitian Situs Gua Gede, Dusun Pendem, Desa Penjukutan, Kecamatan Nusa Penida". Laporan Penelitian. Denpasar: Balai Arkeologi Denpasar

Lampiran 3: Daftar Narasumber / List of informants (p.121-122)

1. Drs. I Dewa Kompiang Gede; born Badung, 31 Desember 1954; Work: Peneliti Madya Balai Arkeologi Denpasar : S-1 Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas Udayana; 2. Ati Rati Hidayah, S.S.; born Cilacap, 2 Mei 1993; work: Staf Balai Arkeologi Denpasar : S-1 Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas Udayana; 3. Luh Suwita Utami, S.S.; born: Gianyar, 15 Juli 1980; work: Peneliti Pertama, Pembantu Pimpinan Golongan III A : S-1 Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas Udayana; 4. I Putu Yuda Haribuana, S.T.; born: Poh Santen, 2 Oktober 1978; work: Peneliti Pertama: S-1 Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, UPN Veteran Yogyakarta.

Source

  • Esa Putra Bayu Gusti Gineung Patridina (2013) - Alat batu dari Situs Gua Gede, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali (Kajian Tipologi dan Fungsi); Progtram Studi Arkeologi Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Denpasar

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24