Natural resources (Astiti/Dariusman 2005)

The article below by Ni Ayu Astiti & Dariusman Abdillah, Assistents to National Archaeology Department of Historical Archeology & Archaeometry, 'Subbib.' Artefact & Ecofact Laboratory (2005), in English is translated as 'The use of natural resources to support religious activities from prehistory to modern age in Nusa Penida' is placed in current 'rung' perhaps arbitrarily, as it discusses issues related to archaeology, geology, natural resources & biology in Nusa Penida.

astit i00 cover

To enhance readability and prioritise topics discussed below to mentioned academic fields, the article in the English translation is not presented integrally here. Instead, author Godi Dijkman has chosen to split up current article and appopriate the various sub-topics under their relevant 'rungs' elesewhere.

Pemanfaat sumber daya alam untuk mendukung kegiatan religi dari masa prasejarah di Pulau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali

Laporan Penelitian Subbid. Artefak dan Ekofak Bidang Arkeologi Sejarah dan Arkeometri oleh Ni Ayu Astiti & Dariusman Abdillah, Asisten Arkeologi Nasional bidang Arkeologi Sejarah dan Arkeometri, Subbib. Laboratorium Artefak dan Ekofak (2005).

Kata Pengantar

Penelitian Bidang Arkeologi Sejarah dan Arkeometri, Subbid. Laboratorium Ekofak dan Artefak tentang Pemanfaatan Daya Alam untuk mendukung Kegiatan Religi dari Masa Prasejarah di Pulau Nusa Penida, Kabupaten klungkung, Provinsi Bali, dilaksanakan sejak tanggal 7-20 Seftember 2005. Penenelitian ini dibiayai oleh Dana Kegiatan Rutin ASDEP Urusan Arkeologi Nasional Deputi Bidang Sejarah dan Purbakala tahun 2005.

Penelitian ini dipimpin oleh Ni Komang Ayu Astiti, S.Si dengan anggota Dariusman Abdillah, ST., Budi Prayitno, Setiawan dan sdr. Sutrisno, serta dibantu oleh Drs.G Dewa Kompiang Gede peneliti dari Balai Arkeologi Denpasar. Penelitian yang bersifat survei ini telah berhasil mengungkap beberapa hal tentang potensi sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan religi dari masa prasejarah (sederhana, batu tegak dan batu datar) serta pemilihan lokasi penempatan bangunan-bangunan ini. Di samping survei di tempat-tempat ditemukannya arca-arca dan bangunan megalitik lainnya, penelitian ini juga malakukan survei pendahuluan di beberapa gua yang ditemukan di Nusa Penida yaitu di Gua Gede, Gua Giri Putri dan Gua Song Petting.

antidesma-bunius-02antidesma-bunius-05

antidesma-bunius-04

Images above: Antidesma bunius (Nusa Penida/Balinese: Buni; Indonesian: Hooni, Wooni; English: Currant tree, Bignay), photographs by Godi Dijkman, Ring Sameton Inn, Nusa Penida, July 2014

Penelitian ini dapat terlaksanakan dengan baik berkat adanya bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini kami menyampaikan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada: 1. Bapak Bupati Klungkung; 2. Bapak Kepala Balai Arkeologi Denpasar beserta staf; 3. Bapak Camat Nusa Penida; 4. Bapak Kapolsek, Kec. Nusa Penida; 5. Bapak Kepala Dinas Pendidikan Cabang Kec. Nusa Penida; 6. Bapak Kepala Desa dan Pemangku di Pura-pura tempat Penelitian; 7. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu dan telah berpartisifasi untuk membantu penelitian ini sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan baik.

Akhir kata kami berharap laporan penelitian ini dapat menambah informasi tentang potensi sumber daya alam pendukung kegiatan religi di daerah Nusa Penida.

Jakarta, 25 September 2005; Tim Peneliti.

Bab I: Pendahuluan - 1. Lokasi Penelitan

astiti 43 map lokasisitusLampiran 3. Peta Lokasi Situs

Situs Nusa Penida terletak di sebelah selatan Pulau Bali yang merupakan pulau yaitu pulau kecil yaitu Nusa Penida. Secara administrasi situs ini termasuk dalam kecamatan Nusa Penida, kabupaten Klungkung, provinsi Bali. Jika dilihat secara astronomis keletakannya diantara 08° 40' Lintang Selatan sampai 08° 50' Lintang Selatan dan 115° 29' Bujur sampai 115° 38' Bujur Timur. Ibukota kecamatan Nusa Penida terletak di pulau Nusa Penida ini di sisi selatan tepatnya di Sampalan. Untuk pencapaian lokasi penelitian dari Ibukota provinsi (Denpasar) dapat dilakukan dengan cara melakukan perjalanan darat ke pelabuhan penyeberangan yang berada di Kabupaten Klungkung. Selanjutnya untuk perjalanan dapat dilakukan dari beberapa pelabuhan yang ada, baik itu pelabuhan tradisional maupun permanen. Salah satu di antaranya adalah melalui pelabuhan tradisional Tribuana di Kusamba dengan menggunakan perahu motor dan selanjutnya berlabuh di pelabuhan Mentigi di Sampalan, Nusa Penida. Perjalanan laut ini membutuhkan waktu kira-kira 1,5 jam. Dikarenakan kondisi dari daerah penelitian merupakan perbukitan, maka untuk pencapaian lokasi penelitian sebaiknya menggunakan kendaran bermotor (roda dua atau roda empat).

2. Latar belakang dan permasalahan - 2.1. Latar belakang

(p.2) Penelitian di situs-situs Nusa Penida oleh kunjungan Claire Holt ke daerah ini pada tahun kunjungannya diterbitkan dalam majalah Jawa tahun 1930-an dengan judul 'The Bandit Island. A Short Exploration Trip to Nusa Penida. Dalam laporan tersebut telah disinggung temuan arkeologi di beberapa pura (Holt,1933:130) . Pada tahun 1998 Tim Balai Arkeologi Denpasar yang dipimpin oleh I Made Suastika telah meneliti arca-arca tradisi megalitik di daerah ini, daerah Lembongan dan Ceningan dan telah ditemukan arca-arca tradisi megalitik dari bentuk yang sederhana sampai bentuk yang dinamis.

Pada tahun 2001 Tim Balai Arkeologi Denpasar yang dipimpin oleh I Made Suastika kembali melakukan penelitian di daerah Nusa Penida, tim ini melakukan ekskavasi pada situs Gua Gede. Pada penelitian ini banyak sekali ditemukan temuan arkeologi baik berupa artefak maupun non artefak. Temuan artefak ini terdiri dari alat batu berupa kapak penetak, serpih, tatal, dan alat pukul; alat dari tulang dan berupa sudip; fragmen tembikar (polos) serta dari alat-alat dari kulit kerang yaitu berupa serut. Sedangkan untuk temuan non artefak berupa tulang binatang, gigi geraham, tengkorak, kerang laut maupun kerang darat. Sejumlah kerang terpotong pada bagian tertentu yangbahwa kerang-kerang tersebut adalah bekas dicari isinya untuk dimakan.

Dari temuan hasil penelitian di situs Gua Gede ini maka sangat besar sekali kemungkinannya gua ini merupakan tempat hunian manusia pada masa prasejarah (masa bercocok tanam dan mengumpulkan makanan). Manusia dapat hidup bertahan lama pada suatu tempat harus didukung oleh beberapa faktor lingkungan. Lingkungan merupakan faktor penting bagi terciptanya suatu proses hubungan antara manusia dengan budayanya tidak saja dalam pemilihan tempat tinggal (pemukiman) tetapi juga sangat diperlukan dalam penempatan bangunan religi. Dengan ditemukannya arca-arca megalitik di daerah ini serta banyaknya temuan-temuan fragmen tembikar maka manusia pada masa prasejarah (masa bercocok tanam dan mengumpulkan makanan) di pulau Nusa Penida ini sudah mengenal kegiatan religi (pemujaan) terhadap roh nenek moyang).

(p.3) Dalam penempatan bangunan religi, selain faktor lingkungan, untuk menunjang kegiatan religi di daerah ini masyarakat juga memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di sekitarnya seperti pemilihan batu-batu alam sebagai bahan dasar bangunan serta pemanfaatan tanah liat sebagai wadah dalam sarana pemujaan. Bertolak dari asumsi ini maka penelitian bersifat arkeometris di daerah ini perlu dilakukan, khususnya yang menyangkut lingkungan penempatan arca-arca megalit, sumber bahan arca-arca megalit ini serta pemanfaatan sumberdaya alam lainnya dalam mendukung kegiatan religi.

2.2. Permasalahan

astiti 42 map bahanarftefakLampiran 2 (kanan): Peta Lokasi Sumber Bahan Artefak di Nusa Penida

Di daerah Nusa Penida ini banyak ditemukan arca-arca-tradisi megalitik yang terbuat dari batu-batu alam, serta fragmen-fragmen tembikar di sekitar bangunan. Dengan melihat beragamnya temuan arkeologi ini maka timbul permasalahan umum yaitu bagaimana pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di sekitar situs untuk mendukung kegiatan religi di situs ini mengingat daerahnya sangat gersang (tidak subur) dan bagaimana kelanjutan tradisi ini pada masyarakat sekarang? Untuk menjawab permasalahan ini perlu dilakukan penelitian dengan permasalahan khusus, yaitu: 1. Bagaimana pemilihan lingkungan dan penempatan arca-arca megalitik di daerah ini (adanya sumber air, kesuburan tanah, bentang lahan, kemiringan dll.)?; 2. Sumberdaya alam apa saja dari sekitar situs yang dapat mendukung kegiatan religi pada masa prasejarah di situs ini?; 3. Bagaimana kualitas bahan bangunan megalitik yang ditemukan di sekitarn situs?; 4. Bagaimana kelanjutan tradisi megalitik ini pada masyarakat sekarang yang berada di sekitar situs?

3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada latar belakang dan permasalahan yang ada maka tujuan penelitian adalah: 1. Mengetahui faktor-faktor lingkungan dalam penempatan bangunan megalitik di daerah Nusa Penida; 2. (p.4) Mengetahui sumberdaya alam yang dapat mendukung kegiatan religi pada masa prasejarah di daerah ini; 3. Mengetahui kwalitas bahan baku bangunan megalitik yang dipergunakan dalam kegiatan religi di daerah penelitian; 4. Mengetahui kelanjutan tradisi prasejarah ini pada masyarakat sekarang yang berada di sekitar situs.

4. Kerangka pikir & metode penelitian

Pada awalnya manusia mempertahankan hidupnya secara berpindah-pindah dan dengan segala kelebihan akal pikiran maka sampailah pada suatu periode yang disebut jaman megalitik, atau dikenal dimana manusia mulai hidup menetap dengan segala aktifitasnya. Kebudayaan megalitik ini berkembang luas hampir mencakup seluruh nusantara dengan berbagai corak ragam peninggalan, khususnya di daerah Bali sampai tradisi ini masih mewarnai kehidupan masyarakatnya (Mahaviranata,1990).

Angih-tree-building-material-01-copyAngih-tree-building-material-05-copyAngih-tree-building-material-12-copy

Images above: Azadirachta indica (Neem tree; Nusa Penida: Angih; Indonesian: Intaran; Balinese: Mimba, photographs; Godi Dijkman, Nusa Penida, July 2014)

Berbagai sumberdaya alam baik yang menyangkut jenis hewan, tumbuh-tumbuhan, sumber air, lingkungan geologi, geomorfologi dan sebagainya kiranya telah dimanfaatkan untuk mendukung kelangsungan hidup masyarakat prasejarah dan teknologi sebagai kebudayaan inti telah digunakan. Tekanan dan perubahan lingkungan yang mempengaruhi corak budaya setempat, diantisipasi dengan mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat agar manusia dapat bertahan dan melangsungkan kehidupan. Teknologi manusia pada tingkat permulaan (masa prasejarah) mengutamakan segi praktis sesuai dengan tujuan dan penggunaannya saja, makin lama makin meningkat ke arah bentuk perkakas keperluan hidup (Soejono, 2000).

Sisa-sisa kebudayaan megalitik dijumpai dalam bentuk monumen atau ritus-ritus yang pada hakekatnya berpangkal pada suatu konsepsi kepercayaan pemujaan roh nenek moyang yang pada umumnya bertempat tinggal di puncak-puncak gunung (Soejono, 1975). Untuk mencapai tujuan penelitian ini digunakan beberapa metode, yaitu: 1. Melakukan survei lingkungan yang meliputi bentang lahan, ketinggian tempat, kesuburan tanah, kedekatan dengan sumber air, dan geomorfologi daerah temuan banguan megalitik; 2. (p.5) Mengidentifikasi jenis bahan baku bangunan megalitik dan mencari kemungkinan lokasi pengambilan bahan baku; 3. Melakukan analisis laboratorium yang meliputi analisis tanah; dan analisis batuan; 4. Melakukan wawancara terhadap penduduk di sekitar situs bagaimana kelanjutan dari tradisi megalitik pada masyarakat sekarang.

Bab II: Hasil survei - 1. Temuan Arkeologi: a. Pura Mastulan

astiti 06 foto2Foto 2 (kiri). Tangga Masuk Ke Pura Mastulan denganornamen berupa Naga yang terletak di kanan kiri tangga serta beberapa arca (bangunan baru)

(p.6) Nama Mastulan diambil dari sejarah patung yang ada di pura ini, dimana menurut cerita pemangku pura Mastulan patung ini dahulunya terbuat dari emas murni, tetapi karena ada salah satu masyarakat ingin memilikinya dengan cara mencuri maka patung ini berubah menjadi batu sedangkan orang yang mencoba mencurinya jatuh dan langsung meninggal. Mastulan berasal dari bahasa Bali yang artinya Emas Asli. Pura ini terletak lebih di pinggir jalan utama dusun Jurang Pahit, Desa Kutampi pada ketinggian lebih kurang 270m dpal, dan secara astronomis terletak pada titik 8° 12' 07" LS dan 115° 33' 17" BT.

Di dalam Pura Mastulan ini ditemukan dua buah arca yang di sebutkan sebagai perwujudan Bhatara-Bhatari yang terbuat dari batu padas/Tufa pasiran. Untuk menjaga keamanan dan pelestarian arca-arca tersebut, maka masyarakat setempat membuat tempat penyimpanan khusus yang diberi nama pelinggih gedong penyimpanan. Disamping dua buah arca juga ditemukan dua buah umpak batu. Umpak batu ini sekarang dimanfaatkan sebagai umpak bangunan tiang enam (saka enam). Bangunan ini difungsikan sebagai tempat sesajen pokok saat ada upacara. Pada batu umpak ini tampak ada hiasan yang telah disetilir dengan daun-daunan dan kembang padma 7-8.

Foto 3 (bawah kiri). Pintu Gerbang Dalam Pura Mastulan; Foto 4. Aktifitas ritual berupa upacara yang dilakukan oleh anggota tim peneliti yang dipimpin oleh Pemangku Pura Mastulan sebelum melaksanakan penelitian; Foto 5. Arca Perwujudan Bhatara-Bhatari yang tersimpan dalam tempat penyimpanan khusus (Pelinggih Gedong Penyimpanan) Di Ada di Pura Mastulan, Jurangpahit; Foto 6 (bawah kanan). Salah Satu umpak batu yang dimanfaatkan sebagai bagian dari umpak bangunan tiang Enam, yang ditemukan bersamaan dengan arca perwujudan Bhatara-Bhatari

astiti 06 foto3astiti 06 foto4astiti 07 foto5astiti 07 foto6

b. Pura Merajan/Sanggah

Pura ini terletak di dusun Bayuh, Banjar Maos, Desa Kutampi, dan secara astronomis terletak pada titik 8° 42' 50" LS dan 115° 33' 05" BT, pada ketinggian lebih kurang 280 m dpal. Di Pura Merajan ini ditemukan tipe lembar prasasti tembaga yang sekarang disimpan di dalam gedong penyimpanan milik Nyoman Jaya. Prasasti ini dimiliki dán disungsung oleh pengemong gria yang berisi pengeling-ngeling (pemberitahuan) tentang bukti pura Maos/Merajan, serta batas-batas wilayah. Prasasti (p.8) ini berasal dari tahun 1815 Saka [1893 AD], namun dengan ditemukan tulisan Dewa Nagari pada salah satu prasasti tersebut ada suatu indikasi bahwa prasasti tersebut merupakan salinan dari prasasti tembaga yang ditulis dengan huruf Dewa Nagari. Kemudian salinan tersebut diberikan kepada masyarakat karena diperlukan oleh Cokorda I Dewa Agung Puri Kaleran, Klungkung.

astiti 08 foto8astiti 09 foto9

Foto 8 (atas kiri). Batu Tegak (menhir) yang berada di dalam Pura Merajan, Dusun Banjar Maos, Desa Kutampi; Foto 7. Pura Merajan di Desa Bayuh, Banjar Maos, Desa Kutampi

Dari tiga lembar prasasti tembaga wasa (tembaga yang tipis) itu dua diantaranya ditulis pada kedua sisinya, sedangkan lempengan ketiga hanya ditulis pada satu sisi, dan pada bagian akhir disambung dengan tulisan Dewa Nagari. Pada saat survey ini dilaksanakan prasasti-prasati ini disimpan di dalam rumah pengemong pura untuk menjaga keamanannya. Selain tiga buah prasasti di pura ini juga terdapat satu buah batu tegak (menhir) yang terbuat dari batu gamping terumbu. Batu tegak ini berada tepat di bawah pohon besar yang mempunyai umur ratusan tahun. Sekarang di tempat ini sering dilakukan tempat pemujaan terutama yang berhubungan dengan kesuburan (memohon hujan di saat musim kemarau panjang terjadi) dengan mempergunakan sarana sesajen.

c. Pura Puncak Mundi

(p.9) Pura ini terletak di dusun Rata desa Klumpu dan secara asrronomis terletak pada titik 8° 43' 55" LS dan 115° 31' 26" BT pada ketinggian lebih kurang 535m dpal, dan pura ini menempati lokasi tertinggi di pulau Nusa Penida. Pura ini termasuk pura Sad Khayangan (semua lapisan masyarakat bisa sembahyang di sini).

astiti 09 foto9astiti 09 foto10

Di pura ini terdapat suatu banguan kuno berupa Padmasana dengan bentuk unik yaitu mempunyai pelipid dan empat buah tiang yang sangat berbeda dengan bangunan padmasana umumnya pada masyarakat sekarang. Di pura Puncak Mundi ini juga ditemukan dua buah arca tetapi pada saat suvei kedua arca ini disimpan di dalam gedong pejenengan, karena untuk membukanya memerlukan upacara khusus dan memakan waktu dan biaya yang besar maka tim peneliti tidak dapat melihatnya.

Foto 9 (kiri/atas). Pura Puncak Mundi (Pura Sad Khayangan) di Dusun Rate, Desa Klumpu, merupakan pura yang terletak di puncak bukit tertinggi di pulau Nusa Penida (535m dpal); Foto 10. Suatu banguan kuno berupa padmasana dengan bentuk unik yang terdapat di bagian dalam sisi sebelah kiri dari Pura Puncak Mundi dan Merupakan bangunan pertama dari bangunan-bangunan yang ada di Pura Puncak Mundi

d. Pura Meranting

astiti 10 foto11astiti 11 foto12

Foto 11 (kiri). Pintu Gerbang dalam Pura Meranting di Dusun Batukandik, Desa Batukandik; Foto 12 (atas kanan). Bangunan Sanggah Tawang (Padmasana) yang terdapat di dalam Pura Meranting

(p.10) Terletak di dusun Batukandik. Desa Batukandik dan secara astronomis terletak pada titik 8°25" LS dan 115° 32' 57" BT pada ketinggian 340m dpal. Di tempat ini terdapat bangunan Sanggah Tawang (Padmasana) bangunan ini sangat unik yaitu terdapat padma yang berhiaskan pelipid (Pepalihan). Motif pada padma dibentuk semacam relif arca sederhana dengan payudara yang jelas, kedua tangan menyangga stanapadma dengan posisi kaki kangkang (manusia kangkang) dengan sikap kaki mengangkang, dua tangan menyanggah stanapadma pada lengan kanan dan kiri masing-masing terdapat seekor ayam.

Pada bagian belakang kepala arca manusia kangkang terdapat fragmen arca yang sedang malhirkan dan sebelah kiri terdapat arca berbentuk wanita yang sedang menyusui anaknya. Pada sisi timur (kiri) terdapat arca sederhana dalam posisi jongkok kedua tangan diarahkan ke depan dada seperti memusti. Ciri-ciri arca mulut lebar hidung biasa mata bulat besar telinga lebar dengan lubang telinga besar rambut seolah-olah disanggul, pada sisi kanan belakang terdapat keris, bagian bawah arca terdapat tapakdara dengan dikelilingi hiasan pelipit. Bagian sisi kanan (barat) juga terdapat arca sederhana dengan posisi jongkok tangan diarahkan memegang perut, ciri-ciri arca mulut lebar hidung besar mata bulat besar bagian kepala seperti pakai ikat kepala. Bagian sisi kiri belakang terdapat keris. Bagian belakang padmasana terdapat kepala kura-kura dan bagian atas kura-kura terdapat pahatan burung garuda.

astiti 11 foto13astiti 11 foto14astiti 12 foto15astiti 12 foto16Foto 13 (kiri). Arca manusia yang terdapat di sisi sebelah kanan Sanggah Tawang (Padmasana) di Pura Batukandik; Foto 14. Arca manusia memakai keris di belakang yang terdapat di sisi sebelah kiri Sanggah Tawang (Padmasana) di Pura Meranting, Batukandik; Foto 15 (kiri). Batu Tegak (menhir) yang terdapat di halaman tengah pura (Jabo Tengah) dan fungsikan sebagai pusat upacara pecaraan (Upacara Buta Kala); Foto 16 (atas kanan). Batu datar yang difungsikan sebagai tempat pemotongan hewan untuk upacara pura

Pada bagian halaman tengah pura (Jabo Tengah) terdapat batu tegak (menhir) yang difungsikan sebagai pusat upacara pecaruan (upacara buta kala untuk menetralisir roh-roh halus). Kurang lebih 10 meter ke arah selatan terdapat batu datar dengan ukuran panjang 60 cm tinggi 50 cm, batu ini sampai saat ini masih difungsikan untuk pemotongan hewan babi jika ada upacara pemujaan yang berkaitan dengan pertanian (supaya biji yang ditanam berhasil dengan baik). Pada sebelah barat dari batu datar kurang lebih 8 meter terdapat batu tegak dengan ukuran tinggi 1.5 meter lebar 40 cm tebal 15 cm.

e. Pura Dalem

Pura ini terletak di dusun Kandik, Desa Batukandi yaitu di bagian selatan pura Meranting yang dibatasi dengan tembok keliling. Di pura ini terdapat dua buah tiang batu tegak (menhir) yang masih disakralkan oleh penduduk sebagai media pemujaan.

f. Pura Paibon Ibu

(p.13) Pura ini terletak di dusun Batukandik, desa Batukandik, lebih kurang 500 meter di sebelah selatan Pura Meranting. Pura ini merupakan milik dan keluar Madewace Krisnata dengan penyungsung pura kurang lebih 60 KK. Di dalam pura ini terdapat dua buah padmasana, 1 buah disebut Padmacapah dan yang lainnya disebut padmasana yang bentuknya hampir sama tetapi dia lebih tinggi dari Padmacapah memiliki hiasan pelipit hampir mirip dengan padmasana di pura Meranting (tetapi tidak mempunyai hiasan manusia kangkang dan arca-arca lainnya). Padmasana bentuk sederhana ini disebut dengan Padmacapah. Bangunan ini tergolong miniatur karena ukurannya kecil.

astiti 13 foto17astiti 13 foto18

Foto 17 (atas kiri). Padmasana miniatur yang disebut Padmacapah yang terletak di sisi sebelah kiri pura; Foto 18 (atas kanan). Padmasana miniatur yang disebut Padmacapa yang terletak di sisi sebelah kiri pura

 

 

 

 

g. Pura Puser Saab

Pura ini termasuk pura Sad Kayangan, terletak di dusun Dahan, desa Batu Madeg, dan secara astronomis terletak pada titik 8° 44' 53" LS dan 115° 31' 24" BT pada ketinggian 305m dpal. Di pura ini ditemukan paling banyak kekunaan jika dibandingkan dengan pura lainnya. Arca-arca yang ditemukan di sini antara lain (p.14) adalah arca perwujudan Bhatara/Bhatari sebanyak 13 buah yang utuh dan 18 buah fragmen. Beberapa fragmen arca terdiri atas bagian badan, bagian kepala dan perhiasan yang sudah aus, sehingga sulit untuk diidentifikasi.

astiti 14 foto19astiti 14 foto20astiti 14 foto21

Foto 19 (atas kiri). Pintu gerbang dalam Pura Puser Saab, di dusun Dahan, desa Batumadeg; Foto 20 (atas tengah). Padmasana yang terletak di bagian dalam sebelah kiri Pura Puser Saab; Foto 21 (atas kanan). Arca-arca kuno berupa arca Ganesya dan arca-arca lainnya yang terletak di Pura Puser Saab.

h. Pura Batu Medahu

Pura ini terletak di pinggir pantai pada ketinggian 5 meter dpai di dusun Suana, desa Suana, kecamatan Nusa Penida, dan secara astronomis terletak pada titik (p.15) 8° 43' 49" LS dan 115° 36' 12" BT. Pura ini merupakan pura Sad Kayangan. Pada saat pelaksanaan survei sedang, pada pura ini sedang dilakukan pemugaran besar-besaran, sehingga 2 buah arca dikeluarkan dari tempat penyimpanan. Arca ini berbentuk arca perwujudan dengan sikap kaki bersila, tangan kiri diarahkan ke bagian lutut, tangan kanan diarahkan ke bagian paha. Ciri-ciri bagian kepala: seperti diikat dengan ikat kepala, mulut lebar, tertawa, gigi tampak dengan memiliki taring, mata bulat melotot, hidung haus, telinga lebar. Kedua arca ini sikapnya hampir sama, tetapi arca yang satu hilang bagian kepalanya.

astiti 15 foto2223

Foto 22 & 23. Dua buah arca yang terdapat di Pura Batu Medahu, salah satunya tanpa kepala dan yang satunya lagi dengan kepala tapi dapat dilepas / terpisah

2. Temuan Lain - a. Gua Giri Putri

Gua ini terletak di dusun Karangsari, desa Suana, pintu masuk gua ini sangat sempit dan jika kita ingin ke dalam gua harus dengan cara merayap, tetapi pada bagian dalam gua sangat luas. Gua ini diperkirakan merupakan tempat semedi karena di dalam gua banyak ditemukan tempat-tempat untuk upacara pemujaan dan persemedian. Di dalam gua sangat gelap, tetapi pada bagian ujung gua keadannya terbuka belum diketahui apakah dinding gua ini terbuka karena alam atau memang begitu adanya. Pada bagian ujung gua ini selain terdapat tempat pemujaan yang dilakukan (p.16) oleh umat Hindu ada juga tempat pemujaan masyarakat Khong Hu Chu yaitu dengan adanya patung Dewi Kwan Im.

astiti 16 foto25astiti 16 foto27

Foto 25. Anggota tim peneliti sedang melakukan ritual keagamaan (Hindu), yang terdapat di ruang bagian atas di bagian dalam Gua Putri sebelum melakukan penelitian; Foto 27. Batu dolmen yang terdapat di bagian dalam Gua Putri dekat dengan patung Dewi Kwan Im

b. Gua Meriam

astiti 17 foto28astiti 18 foto29

Foto 28 (atas kiri). Gua Meriam peninggalan Belanda di dusun Suana, desa Suana; Foto 29 (atas kanan). Tempat penampungan air peninggalan Belanda yang terletak di dusun Tulad, desa Batukandik

(p.17) Gua ini terletak di dusun Suana, desa Suana. Gua ini merupakan gua masa pemerintahan Belanda yang letaknya persis di depan pantai, masih terlihat adanya bekas-bekas atap-atap bangunan yaitu berupa beton yang terbuat dari besi, dan batu bata. Di mulut gua ini masih terdapat meriam jaman Belanda yang menghadap ke laut.

c. Penampungan air (peninggalan Belanda)

Penampungan air peninggalan Belanda ini terletak di dusun Tulad, desa Batu Kandik, Kecamatan Nusa Penida, di sebelah utara persimpangan jalan ke arah dusun Tulad dan dusun Salang. Penampungan air ini merupakan sisa bangunan Belanda dan berbentuk lingkaran dengan diameter kira-kira 25 meter dengan kedalaman kurang lebih 5 meter.

Pada sisi utaranya terdapat pintu air, yang dimanfaatkan sebagai irigasi atau pengurasan. Sekarang bangunan air ini difungsikan sebagai penampungan air untuk minum hewan ternak (sapi) dan meyiram tanaman palawija yang ada di lembah yang sama. Bangunan ini terletak di lembah bukit mas, pintu air mengarah ke lembah sehingga lahan di sekitar lembah / di depan pintu air masih kelihatan subur untuk pertanian karena humus hitamnya sangat tebal saat ini daerah ini masih dimanfaatkan untuk pertanian terutama berbagai tanaman palawija (jagung, kacang kedelai, kacang merah dll.)

(p.18) Selain dari itu tradisi pembuatan bak penampngan air hujan ini masih berlangsung sampai sekarang. Hal ini dapat terlihat dari banyak di temukannya bak-bak penampungan di wilayah kecamatan Nusa Penida ini.

3. Lingkungan Situs - a. Lingkungan Situs Pura Mastulan

Pura Mastulan terletak pada dataran yang lebih tinggi dan pemukiman di sekitarnya, di luar pagar keliling pura ini banyak terdapat pohon-pohon yang besar dan berdaun rindang. Ada 1 buah pohon yang sangat besar yang berumur ratusan tahun (seumur dengan arca) yaitu pohon Buu. Pohon ini dikeramatkan oleh masyarakat sekitar, bahkan pada hari tertentu di tempat ini juga dilakukan pemujaan. Selain itu pohon lainnya yang ada di luar pagar adalah pohon Majegau, pohon ini dimanfaatkan untuk keperluan upacara (batang harum dimanfaatkan sebagai tiang-tiang bangunan pura), untuk pererai (topeng), pohon akasia, randu dll. Selain itu juga (p.19) ditemukan semak belukar. Sedangkan di bagian dalam pura ditanam berbagai bunga untuk keperluan upacara. Selain bunga-bunga ini semua jenis tanaman yang ada di sekitar pura hanya diperbolehkan untuk keperluan pura. Morfologi daerah sekitar pura merupakan perbukitan, litologi utamanya adalah batu gamping. Bahan bangunan yang dipakai untuk membangun pura ini seluruhnya menggunakan batu gamping, kecuali dua buah arca Bhatara-Bhatari (terbuat dari tufa pasiran).

astiti 18 foto30astiti 19 foto31astiti 19 foto32

Foto 30 (atas kiri). Pohon Buu yang berumur ratusan tahun di Pura Mastulan, Jurangpahit, desa Kutampi; Foto 31 (atas tengah): Morfologi di lingkungan sekitar Pura Mastulan. Difoto dari tangga masuk pura ke arah barat; Foto 32 (atas kanan). Kenampakan singkapan litologi Gamping difoto dari jalan dusun Jurangpahit ke arah barat

b. Lingkungan situs Pura Merajan

Di Pura Merajan juga ditemukan pohon Taos yang mempunyai umur ratusan tahun, mungkin seumur dengan arca karena tiga generasi masyarakat di atasnya sudah melihat pohon tersebut dalam keadaan besar. Batu tegak ditemukan persis di bawah pohon Taos ini. Ada sumber air yang tidak pernah habis dan dimanfaatkan untuk tirta (air suci) untuk keperluan upacara. Selain pohon Taos juga ada pohon besar lainnya yaitu pohon kapuk, pohon kuang, akasia, pohon Buu dan juga semak belukar. Pohon yang ada di lingkungan pura ini hanya boleh dipergunakan untuk keperluan upacara di pura (sebagai bahan bangunan, buat topeng / perarai). Pohon Taos ini pernah mau ditebang tetapi ternyata mendapat halangan sehingga dibiarkan tumbuh (p.20) sampai sekarang, dan pada saat ada upacara di pura Merajan ini di pohon ini juga dilakukan pemujaan.

astiti 20 foto33Foto 33. Pohon Taos yang berumur ratusan tahun yang berada di bagian dalam Pura Merajan yang bagian bawahnya terdapat batu tegak

Lahan-lahan di luar situs selain dipergunakan sebagai pemukiman juga dipergunakan sebagai lahan pertanian. Jenis-jenis tanaman yang ditanam saat ini umumnya adalah singkong dikarenakan lahan yang ada di wilayah sekitar situs merupakan daerah perbukitan maka dalam penataan lahan-lahan ini masyarakat setempat membuat teras-teras dengan menggunakan pecahan-pecahan batu gamping yang didapat saat mereka menggarap lahan. Kegiatan pembuatan lahan ini telah dilakukan oleh masyarakat petani yang ada di Nusa Penida ini bertahun-tahun sehingga memperlihatkan bentuk lahan yang berteras-teras hampir di seluruh pulau Nusa Penida ini. Untuk memenuhi kebutuhan air untuk kebutuhan sehari hari, masyarakat di Pulau Nusa Penida ini membuat bangunan penampungan air.

Morfologi lingkungan sekitar pura ini berupa perbukitan dengan litologi berupa batu gamping, dan letak pura ini lebih tinggi dari pemukiman yang ada di sekelilingnya. Bangunan pura Merajan ini berbahan dasar batu gamping baik itu pondasi, tembok pagar, maupun bangunan suci lainnya. Selain itu menhir yang terdapat di pura ini juga berbahan dasar Batu gamping terumbu. (p.22) Untuk bangunan pemukiman maupun bangunan pendukung lainnya seperti bangunan untuk menampung air hujan berbahan dasar batu gamping juga yang diambil dari lingkungan sekitarnya yang berbentuk bongkah-bongkah batuan.

astiti 21 foto34astiti 21 foto35astiti 21 foto36astiti 21 foto37

Foto 34 (atas kiri). Salah satu jenis tanaman pertanian berupa tanaman singkong yang ditanam di daerah sekitar Pura Merajan desa Kutampi dengan kondisi lahan berupa perbukitan; Foto 35. Sistem pertanian berupa pembuatan teras-teras yang dibuat hampir di seluruh wilayah Kecamatan Nusa Penida. Materialnya diambil dari pecahan batu-batu yang berserakan di lahan tersebut; Foto 36. Salah satu penampungan air yang dibuat penduduk yang ada di desa Kutampi; Foto 37 (atas kanan). Bak tempat penyimpanan air hujan yang tlah ditampung

c. Lingkungan situs Pura Puncak Mundi

Pura ini terletak di daerah yang paling tinggi di daerah Nusa Penida. Di dalam lingkungan pura tidak ada ditanami tanaman, tetapi di luar pagar pura merupakan daerah dengan vegetasi yang sangat lebat. Pada bagian barat di luar bangunan pura terdapat pohon Getih yang mempunyai umur ratusan tahun. Pada bagian bawah pohon ini ada lubang yang selalu mengandung air, pohon ini masih dikeramatkan sampai sekarang, karena di dalam pohon ini dianggap ada Roh Mahapatih dari Tuhan yang ada (disembah) di Pura Puncak Mundi, sehingga setiap ada upacara di puncak ini, pohon tersebut juga ikut diupacarakan serta di tempat ini dilakukan pemujaan yang sama. Di luar lingkungan pura pohon sangat lebat, seperti pohon kapuk, pohon Angih (Azadirachta indica; Neem tree; Indonesian: Intaran; Balinese: Mimba), Getih, Buu, dll. Daun dan pohon ini hanya bolah dimanfaatkan untuk keperluan pura (sesajen dan bangunan). Kondisi tanah disekitar pura sangat subur, humusnya tebal. Pura ini dikelilingi oleh lembah dengan vegetasi yang cukup tebal sehingga tumbuh-tumbuhan dapat hidup dengan subur. Di luar lingkungan pura kondisi pura alam tetap tandus seperti kondisi di daerah Nusa Penida lainnya.

astiti 22 foto38astiti 23 foto39

Foto 38 (kiri). Salah satu jenis pohon-pohon besar yang ada di sekitar Pura Pucak Mundi berupa pohon Getih yang telah berumur ratusan tahun yang bagian bawahnya terdapat lubang yang selalu mengandung air; Foto 39. Jenis populasi monyet yang ada di lingkungan Pura Puncak Mundi yang diperkirakan berjumlah ratusan ekor

(p.23) Di sekitar sini banyak terdapat populasi monyet kurang lebih ada 250 ekor. Monyet-monyet ini tetap dijaga kelestariannya dan tidak boleh ada penangkapan. Morfologi dari sekitar situs ini adalah perbukitan (bukit tertinggi di Nusa Penida) dengan litologinya berupa batu gamping. Bahan dasar dari banguan Pura Puncak Mundi adalah batu gamping. Untuk pundasi bangunan diambil dari batuan sekitarnya sedangkan untuk tembok dan bangunan suci yang ada di dalamnya menggunakan batu gamping kelas satu yang umumnya berasal dari dusun Tinggian, desa Kutampi.

d. Lingkungan situs Pura Meranting

Pura ini terletak di daerah yang paling datar di daerah sekitar daerah ini, di sekitar pura ini, di sekitar pura ini ada berbagai tumbuhan, tetapi tidak subur seperti halnya pura lainnya pohon yang tumbuh di sekitari ini adalah pohon Angih (Azadirachta indica; Neem tree; Indonesian: Intaran; Balinese: Mimba), kelampok dll. Pohon-pohon di sekitar pura ini adalah milik penduduk sehingga bisa dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat sekitar. Pada halaman luar pura sengaja ditanami berbagai macam bunga-bunga untuk keperluan upacara. Morfologinya berupa perbukitan dan keletakan pura ini lebih tinggi dari pemukiman yang ada di sekitarnya. Bahan banguan pura ini adalah batu gamping, demikian juga dengan bangunan suci yang ada di dalamnya. Untuk menhir dan batu datar berbahan dasar batu gamping terumbu.

e. Lingkungan Situs Pura Dalem

(p.24) Lingkungan vegetasi pura dalem sama dengan pura Meranting yaitu berada pada daerah yang paling datar. Dan di sekitar pura hanya terdapat tanaman pekarangan yang dibudidayakan seperti pohon pisang pisang, mangga, bunut, dll. Morfologi sekitarnya dan bahan bangunannya sama dengan pura Meranting, demikian juga dengan Pura Paibon Ibu.

f. Lingkungan situs Pura Paibon Ibu

Pura ini terletak di dekat pemukiman penduduk (di pekarangan penduduk). Di sekitar pura kondisinya sangat gersang, hanya ada beberapa pohon tanaman pekarangan. Di dalam pura ditanami rerumputan. Kondisi pura ini kurang terawat, karena binatang peliharaan bisa bebas keluar masuk pagar. Di tempat ini tidak ada vegetasi yang dilindungi (disakralkan).

g. Lingkungan situs Pura Puser Saab

Lingkungan vegetasi Pura Puser Saab ini sangat bervariasi, tanah di sekitar pura sangat subur, humusnya hitam dan sangat tebal, pada bagian depan pura ditanami pohon pisang, kelapa, berbagai jenis kembang untuk keperluan upacara. Di bagian kanan-kiri dan bagian timur pura merupakan hutan yang sangat lebat dengan berbagai tanaman kayu yang cukup besar serta semak belukar. Semua jenis tanaman yang ada di sekitar pura ini seperti bambu dengan berbagai spesies, pohon rotan, paku-pakuan, pohon Genitri, pohon Majegau (idil?), pohon bunda, pohon bayur, tajimas, singapura (seri), kemiri dan Iain-lain. Di sekitar pura ini dijadikan kawasan hutan lindung, selain tanaman yang dilindungi semua jenis hewan yang hidup di daerah ini juga dilindungi terutama pelestarian berbagai jenis burung. Masyarakat di sekitar pura ini tidak ada yang berani dan diperbolehkan menangkap binatang serta mengambil bagian pohon yang tumbuh di sekitar pura untuk keperluan pribadi. Semua budidaya tanaman dan binatang yang ada ini hanya boleh dimanfaatkan untuk keperluan pura dan upacara sesajen. Tanah tempat tumbuhnya dan berkembangbiaknya tumbuhan dan tanaman sekarang dijadikan tanah milik pura. Pohon- pohon yang umum digunakan untuk keperluan upacara antara lain pohon Majegau: batangya berbau harumi dan difungsikan sebagai dupa atau pewangi air suci (tirta), untuk bangunan pelinggih, topeng (pererai), dll.

astiti 25 foto40Foto 40 (kanan). Lingkungan vegetasi di sekitar Pura Puser Saab yang terdiri dari berbagai jenis pohon yang tumbuh subur

(p.25) Pohon Genitri, buahnya bisa dimanfaatkan untuk membuat tasbih yang biasa dipakai oleh pendeta baik di India maupun di Indonesia karena mempunyai bentuk bulat dan beraturan, mudah dilubangi dan mempunyai kekerasan yang tinggi. Perkembangbiakan semua jenis tanaman ini tidak disengaja oleh masyarakat melainkan dikembangbiakkan oleh berbagia jenis varitas burung dengan cara penyebaran melalui biji tanaman yang dimakannya. Selain tanaman yang hidup menyebar di hutan lindung ini ada juga satu buah pohon yang sangat dikeramatkan selain mempunyai umur mencapai ratusan tahun, pada bagia bawah pohon ini terdapat satu buah lubang yang banyak mengandung air. Pohon induk yang dikeramatkan ini diberi nama Kara Taranajaya. Pohon ini terletak kurang lebih 100 meter ke arah timur Pura Puser Saab. Di pohon ini biasanya dilakukan pemujaan terutama yang berhubungan dengan keselamatan (obat-obatan), karena pohon ini dikeramatkan dan sebagian besar pohon yang menempel di pohon induk dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat maka di bawah pohon ini dibangun pelinggih yang disebut Pura Gede Dalem Serimpit.

suren-nusapenida-01suren-nusapenida-04suren-nusapenida-03

Images above: Suren tree (Tooni sureni Blume, alt. Swietenia sureni; Eng. Suren toon, Surian, Iron redwood, Indonesian mahogany; Indonesian: Suren), photographs taken at Ring Sameton Inn Hotel, Ped, nusa Penida; Godi Dijkman, July 2014)

Pohon-pohon yang menempel di Kayu Terunajaya ini hampir seluruhnya bisa dimanfaatkan untuk obat-obatan (rematik, sakit mata, penolak bala dll.) dan untuk keperluan upacara di pura. Pohon-pohon yang menempel di pohon ini adalah: (p.26) 1. Pohon Induk adalah Kayu Kacu atau Taru Kacu yang berfungsi sebagai peneduh; 2.Taru Bunut Kau, berbeda dengan tanaman bunut yang ditanam masyarakat untuk makanan ternak, daunnya berbulu dan berduri; 3. Kayu Bun, berbagai jenis kayu bun melilit tanaman kayu yang satu dan lainnya; 4. Tara Talok, batangnya dimanfaatkan untuk bangunan pura; 5. Tara Majegau, untuk pelinggih atau pererai; 6. Tara Bayur, untuk keperluan upacara; 7. Daun Tolak-tolak, selain berfungsi untuk penolak daunnya bisa dimanfaakan untuk sesajen; 8. Daun Tebil-tebil, bungkak-bungkak, daunnya dimanfaatkan untuk sesajen dan obat-obatan; 9. Kayu Taje, Buni (Antidesma bunius), Bengkel, Tapis-tapis, kayu Suren (Toona sureni, Blume), Kayu Angih (Azadirachta indica) dan berbagai tanaman lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu dan semuanya bisa dimanfaatkan untuk keperluan upacara dan obat-obatan.

astiti 26 foto4142Foto 41 & 42 (kiri). Vegetasi yang berada di lingkungan sebelah timur Pura Puser Saab yang masih masuk dalam lingkungan pura. Berupa pohon besar dan diberi nama Kara Tarunajaya dan berumur ratusan tahun. Pada pohon ini banyak menempel berbagai jenis tanaman obat-obatan

Morfologi lingkungan sekitar pura Puser Saab ini umunya adalah perbukitan. Tetapi lahan yang merupakan tempat pura ini berada dan kawasan hutan lindungnya. Morfologinya berupa pedataran di lingkup perbukitan. Litologi dari kawasan situs ini adalah batu gamping dan bahan dasar dari bangunan ini adalah batu gamping demikian pula dengan arca-arca yang ada di pura ini sebagian berbahan dari batu gamping sebagian lagi berbahan dasar Tufa pasiran (contohnya arca kuno Ganesya).

h. Lingkungan situs Pura Batu Medahu

Pura ini terletak di pinggir pantai dan pada bagian timur pura tepatya di pojok timur pura terdapat pohon Asem Jawa yang sangat besar dan menurut keterangan pemuka adat di sana, pohon ini seumuran dengan arca-arca yang ditemukan di pura ini. Pohon ini pernah dicoba untuk ditebang oleh masyarakat tetapi mendapat halangan sehingga pohon ini masih dikeramatkan sampai sekarang. Selain tanaman Asam Jawa di kanan-kiri tidak ada lagi tanaman kayu lainnya kecuali berbagai tanaman tanaman bunga untuk keperluan sesajen, sedangkan di seberang jalan di depan pura terdapat tanaman kelapa dan rerumputan.

astiti 27 foto43Foto 43. Pohon Asem yang diperkirakan berumur sama dengan arca yang terdapat di Pura Batu Medahu, dusun Suana, desa Suana

4. Lingkungan Geologi

Pulau Nusa Penida sebagai salah satu pulau yang berada di wilayah Provinsi Bali merupakan daerah perbukitan kars. Satuan morfologinya merupakan satuan morfologi perbukitan kars menggelombang dengan puncak tertinggi mencapai 528 meter (bukit Mundi). Berdasar pada hubungan antara sungai induk dengan anak-anak sungainya maka pola aliran sungai yang berkembang di daerah ini adalah pola aliran (p.28) paralel yaitu pola aliran yang arah aliran anak sungai dan induknya hampir sejajar. Jika dilihat berdasarkan kuantitas airnya maka sungai-sungai yang ada di wilayah ini dapat dikategorikan sebagai sungai Episodis (Ephemeral) yaitu sungai yang mengalir pada musim penghujan saja, sedangkan pada musim kemarau kering airnya. Pulau ini merupakan Pulau Kars yang litologi utamanya merupakan batu gamping terumbu. Satuan batuan ini dapat dimasukkan ke dalam Formasi Selatan yang berumur Miosen Akhir dan dapat dikorelasikan dengan formasi Blambangan di Jawa Timur bagian selatan. Litologi berupa aluvium hanya terdapat di bagian pantai Utara di wilayah sekitar desa Kutampi, dan desa Watununggal yang merupakan pusat pemerintahan kecamatan Nusa Penida.

Tanah yang ada di Nusa Penida ini secara umum merupakan tanah hasil dari pelapukan batuan gamping. Proses pelapukan dari batuan tersebut adalah pelapukan kimiawi (chemical weathering) dengan weathering agent-nya berupa air hujan. Sesumber yang ada di wilayah ini adalah batu gamping. Untuk jenis batu gamping terumbu yang berbentuk bongkah-bongkah kecil dimanfaatkan sebagai bahan baku pondasi teras-teras lahan pertanian dan juga ada yang dimanfaatkan sebagai dinding dari bangunan rumah dan juga pondasi ramah atau bangunan lainnya. Sedangkan batu gamping yang tersingkap di tebing-tebing lembah bukit dimanfaatkan sebagai bahan baku bangunan (umumnya dibentuk seperti ukuran batako), arca dan juga bahan baku pembuat batako (gamping yang lebih lunak)

Bab III: Hasil analisis dan pembahasan - 1. Hasil analisis bahan batuan dan tanah

(p.29) Kegiatan analisis dilakukan terhadap contoh setangan dari sampel-sampel batuan yang kami anggap dapat mewakili bahan-bahan artefak batu yang digunakan untuk aktifitas religi di kecamatan Nusa Penida. Analisis dilakukan secara makro atau kasat mata dan analisis fisik. Untuk bahan-bahan pembuat artefak dilakukan Iangsung di lokasi penelitian atau dimana artefak itu berada, hal ini dikarenakan artefak-artefak batu tersebut tidak dapat dibawa bahkan ada yang tidak dapat/tidak boleh dipindah-pindahkan oleh penduduk atau pemangku pura setempat. Sedangkan untuk sampel batuan yang dapat dibawa berupa contoh setangan, kegiatan analisis dilakukan di laboratorium artefak dan ekofak Asdep Urusan Arkeologi Nasional Jakarta.

Tabel 1. Hasil Analsis terhadap sampel batuan dan tanah dari Nusa Penida, Kab. Klungkung, Prov. Bali

No. Sampel Lokasi asal Hasil analisis Keterangan
1 Batuan sisa pembuatan arca dan batu berhiasan Dusun Jurangpahit, desa Kutampi Berwarna putih, kabonatan, kompak tapi masih dapat dipahat. Nama batuan gamping Batuan ini dimasukkan dalam katagori bahan kelas satu yang berasal dari dusun Tinggian, desa Batununggal
2 Batuan dari dinding tebing tempat penambangan Pinggir jalan ke arah Dusun Tulad, desa Batukandik Berwama putih kekunungan, kabonatan, agak rapuh. Nama batuan gamping Batuan ini dimasukkan dalam kategori bahan kelas rendah dan hanya digunakan sebagai bahan baku batako
3 Batuan bahan baku umpak dan arca dari pura Mastulan Pura Mastulan dusun Jurangpahit, desa Kutampi Warna sampel/batuan keabu-abuan, pasiran dengan beberapa fragmen berukuran mencapai 1 cm. Nama batuan tufa pasiran (nama lokal batu padas) Sumber bahan batuan ini tidak terdapat di Nusa Penida, tapi tersebar luas di Pulau Bali
4 Bahan dasar menhir, di Pura Merajan Pura Merajan, dusun Bayuh, banjar Maos, desa Kutampi Wama Putih kekuningan kotor, berlubang-lubang, massive, nama Batuan Batu gamping terumbu Analisis dilakukan di tempat atau di lokasi pura, bahan sejenis tersebar luas di permukaan terutama pada daerah tebing-tebing curam pinggir pantai. Tidak mudah untuk ditatah/pahat
5 Batuan pada tebing dinding luar Gua Putri Bukit Gua Putri, dusun Karangsari, desa Suana Wama segar putih kekuningan, wama kotor 'Avama' lapuk coklat kekuningan. Kompak. Nama batuan gamping terumbu Pengamatan dilakukan langsung di lokasi, jenis tanah sama dengan bahan dasar pada sekitar Pura Puncak Mundi
6 Tanah Lahan pertanian di sekitar pura Puser Saab, dusun Dahan, desa Batumadeg Wama tanah coklat kehitaman, kelembaban 40%, pH 6 (normal). Kondisi tanah subur/baik untuk pertanian
7 Tanah Lahan di sekitar Gua Putri, dusun Karangsari, desa Suana Wama coklat kehitaman, kelembaban 40%. pH 7 (normal) Merupakan tanah hasil dari pelapukan batuan yang ada (Chemical Weathering)

3.1 Sumber Bahan

(p.30) Dari hasil analisis yang dilakukan terhadap beberapa sampel batuan yang kemudian dikorelasikan dengan informasi yang didapat dari pengrajin batu yang ada di Nusa Penida, maka diketahui bahwa jenis batuan yang digunakan atau dimanfaatkan oleh penduduk untuk pembuatan arca dan bahan bangunan pembuat pura atau sebagai bahan dasar pembuatan batako dibagi dalam beberapa jenis. Untuk bahan pembuat arca atau bangunan suci seperti gapura atau Padmasana digunakan batu gamping yang berkualitas terbaik yang ada di Nusa Penida, sedangkan batu gamping yang kurang baik dan umumnya berwarna kekuningan digunakan sebagai bahan dasar pembuatan batako. Untuk bahan dasar kelas satu atau sebagai bahan (p.31) dasar pembuatan arca dan bangunan suci umumnya diambil dari dusun Tinggian desa Batununggal. Sedangkan untuk bahan pembuatan batako salah satunya diambil dari dusun Tulad, desa Batukandik. Kegiatan penambangan atau eksploitasi batu gamping ini masih berlangsung hingga sekarang.

astiti 30 foto44astiti 30 foto45Foto 44 (kiri). Lokasi penambangan gamping kelas satu di dusun Tinggian, desa Batununggal, sebagai satu dari lokasi sumber bahan pembuatan dan bangunan; Foto 45. Salah satu lokasi pengrajin dan pembuatan bata cetakan dari bahan kelas satu di dusun Jurangpahit, desa Kutampi

Untuk sumber bahan artefak menhir di Pura Merajan, menhir dan batu datar di Pura Meranting, yang kesemuanya berbahan dasar batu gamping terumbu, sumber bahan tersebar di wilayah sekitar pura masing-masing, hanya dipilih bentuk yang sesuai dengan kepentingaannya. Untuk menunjang kegiatan religi di daerah Nusa Penida ini dari masa lalu telah memanfaatkan tanah liat sebagai wadah-wadah terutama sebagai tempat air suci dan beberapa perlengkapan sesajen lainnya seperti biji-bijian dan pedupaan, tetapi pada saat survei ini dilakukan fragmen-fragmen tembikar ini sudah tidak ada lagi. Menurut keterangan penduduk dahulu di daerah Klumpu merupakan pusat pembuatan wadah-wadah dari tanah liat ini dan kemudian berubah menjadi pengerajin pembuatan genteng (atap rumah). Karena tanahnya dieksploitasi terus menerus maka saat ini sumber bahan untuk pembuatan tembikar ini sudah habis. Wadah dari tanah liat (kendi) ternyata sampai saat ini masih dimanfaatkan oleh masyarakat di daerah Nusa Penida sebagai pelengkap dalam upacara religi (tempat air suci dan biji-bijian). Saat ini tembikar-tembikar ini didatangkan dari luar Nusa Penida seperti dari Denpasar atau Klungkung.

astiti 31 foto4647

Foto 46 & 47 (atas). Lokasi penambangan gamping kelas rendah yang digunakan sebagau bahan baku pembuatan batako di dusun Tulad, desa Batukandik

3. Pembahasan

(p.32) Secara umum daerah Nusa Penida merupakan daerah yang berbukit-bukit dan sangat tandus. Bukit-bukit ini ada yang dimanfaatkan untuk pertanian dengan cara membuat teras-teras dari batu karang yang ada di daerah ini. Batu-batu ini ada yang diambil dengan sengaja di tempat lain dan ada juga yang diambil pada saat pengolahan tanah, setiap ada batu karang dikumpulkan, kemudian disusun menyerupai pondasi rumah melinkari bukit dengan ketinggian ada yang mencapai 1 meter. Teras-teras ini sengaja dibuat agar tanah/humus yang ada pada bukit ini, pada saat musim hujan tidak terbawa air (erosi) serta penyerapan air pada musim hujan lebih banyak. Terbentuknya teras-teras ini juga mempermudah dalam pengolahan tanah pada saat menjelang musim tanam.

Selain membuat teras-teras batu gamping untuk pertanian, masyarakat juga memanfaatkan lembah-lembah untuk sarana pertanian (palawija). Sistem pertanian di daerah ini tidak menerapkan sistem intensifikasi pertanian melainkan hanya mengandalkan kekuatan alam, baik air (mengandalkan air hujan) dan unsur hara (?) yang ada (tanpa pemupukan dan obat-obatan lainnya). Sulitnya sumber air (mata air) di daerah ini, maka masyarakat sebagian besar memanfaatkan air hujan untuk keperluan sehari-hari dengan cara membuat bak-bak penampungan dan penyimpanan air. Hampir setiap keluarga mempunyai bak penampungan dan penyimpanan air. Air hasil tampungan ini disimpan berbulanbulan untuk keperluan sehari-hari terutama untuk memasak dan air minum. Kondisi seperti ini sepertinya sudah ada sejak jaman Belanda terbukti dengan temuan penampungan dan penyimpan air di dusun Tulad, desa Batu Kandik.

Pada saat penelitian dilaksanakan pohon-pohon kayu sebagian besar pohon Bunut, Kapuk, dan Tanaman Kayu lainnya berbentuk bonsai, karena daunnya banyak yang dimanfaatkan sebagai makanan ternak. Pohon-pohon yang berbentuk bonsai ini pada musim hujan akan kembali bersemi. Selain pohon berbentuk bonsai, batang pohon yang ada di bukit-bukit ini, juga berwarna putih, lain dengan batang pohon yang ada di daerah dataran rendah atau daerah yang lebih subur.

Dari hasil survei di beberapa pura tempat ditemukannya arca-arca dan bangunan megalitik lainnya menunjukan bahwa daerah ini merupakan daerah yang terpilih mengikuti aturan-aturan yang berlaku. Pura Puncak Mundi misalnya merupakan daerah yang paling tinggi (puncak) dari daerah di Nusa Penida, sedangkan (p.33) pura-pura yang lain selain merupakan daerah yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya juga merupakan daerah yang paling datar. Pura Puncak Mundi selain merupakan daerah yang paling tinggi juga merupakan daerah yang paling subur jika dibandingkan daerah lain yang ada di sekitarnya. Dengan ditemukannya pohon-pohon besar yang berumur ratusan tahun (bahkan menurut cerita masyarakat hampir seumuran dengan arca-arca yang ada di dalam pura) menunjukkan bahwa daerah ini memang tempat yang subur dari masa itu.

Penempatan bangunan untuk kegiatan religi di daerah Nusa Penida selain memilih tempat yang subur, lokasinya lebih tinggi dan datar juga tidak jauh dari sumber air. Air ternyata memegang peranan penting setiap ada kegiatan religi di daerah ini dari masa itu, terbukti tidak jauh dari tempat-tempat pemujaan ini ditemukan sumber air walaupun saat survei dilakukan tidak semuanya terdapat air tetapi ada sebagian tempat yang tidak kering seperti sumber air di Pura Puser Saab masih bisa dimanfaatkan untuk keperluan upacara sampai saat ini.

Untuk menunjang kegiatan religi di daerah Nusa Penida ini selain diperlukan dukungan dari sumber daya alam abiotik juga diperlukan sumber daya alam dalam bentuk hayati (biotik) seperti berbagai macam tumbuh-tumbuhan ini ada yang baru dengan sengaja ditanam di sekitar pura tetapi sebagian besar tumbuh sendiri dan sudah ada sejak dahulu. Bagian tumbuhan yang diperlukan untuk keperluan upacara sebagian besar dalam bentuk bunga-bunga, pohon kayu dan berbagai daun-daunan.

astiti 33 foto48Foto 48. Sumber air (sumur kuno) yang terdapat di dalam Pura Puser Saab. Sumber air ini tidak pernah kering walau pada musim kemarau panjang

  • (p.34) Arca-arca yang ditemukan di daerah Nusa Penida sebagian besar merupakan arca perwujudan betara/betari di samping arca ganeca dll. dengan bentuk dan pahatan yang sederhana. Dilihat dari tinggalan bangunan di daerah Nusa Penida ini maka selain peninggalan masa prasejarah (arca dengan pahatan yang paling sederhana di Pura Puser Saab, batu tegak di beberapa pura serta adanya batu datar di Pura Meranting) maka bangunan masa klasik masih menampakkan ciri-ciri tinggalan masa prasejarah ini. Salah satu bangunan masa klasik yang masih mencirikan bangunan masa prasejarah adalah bangunan padma yang ditemukan di Pura Meranting dimana pada bagian badanya merupakan manusia kangkang (motif ini banyak ditemukan pada bangunan waruga di daerah Sulawesi Utara) sedangkan bagian stananya mirip dengan tahta batu.

Dari hasil temuan arkeologi di daerah Nusa Penidayang berkaitan dengan unsur religi (pemujaan terhadap roh nenek moyang) terdapat tingkatan-tingkatan yaitu dari masa prasejarah yang paling sederhana berupa batu tegak (ditemukan di Pura Meranting, Pura Merajan) dengan fungsi sebagai sarana pemujaan terhadap roh nenek moyang.Tidak jauh dari Pura Meranting yaitu di Pura Batu Kandik ditemukan bangunan padma yang sangat sederhana (padmacapah), sebanyak tiga buah dengan relief menonjolkan genitalia, payudara dan alat kelamin. Padma atau sekarang lebih umum disebut padmasana merupakan bangunan suci yang umumnya berada di pura sebagai tempat pemujaan manifestasi Tuhan Yang Maha Esa. Pembangunan Padmasana yang masih asli (belum mengalami pemugaran) kemudian mengalami perkembangan (masih meninggalkan relief megalitik) yaitu padma yang ditemukan di Pura Meranting dan Pura Puncak Mundi sampai akhirnya terdapat padmasana dengan relief bangunan seperti kebanyakan ditemukan pada pura-pura umumnya baik di pulau Bali maupun di luar Bali. Adanya unsur-unsur megalitik pada bangunan padma di daerah Nusa Penida ini merupakan suatu bukti bahwa masuknya unsur-unsur Hindu masa klasik di wilayah ini tidak menghilangkan unsur-unsur yang ada sebelumnya.

Dari hasil pengamatan dan perkembangan bangunan sebagai sarana pemujaan terhadap Tuhan yang Maha Esa serta pemujaan terhadap roh leluhur nenek moyang maka di daerah Nusa Penida hal ini terus berlanjut sampai saat ini. Hal ini terbukti adanya pelestarian artefak-artefak (arca-arca) dengan cara menyimpan di tempat penyimpanan khusus (gedong penyimpanan) dan bangunan-bangunan dari masa megalitik (batu tegak dan batu datar) serta masih tetap disakralkan hingga saat ini. (p.35) Kuatnya nilai religi terhadap peninggalan dari masa prasejarah terbukti dengan pelaksanaan upacara ritual yang dipimpin oleh pemangku pura di masing-masing tempat setiap dilakukan pengamatan terhadap tinggalan arkeologi ini.

Dari hasil analisis yang dilakukan terhadap batuan yang ada di Nusa Penida, baik itu analisis lapangan (terhadap artefak batu/arca, bangunan suci), ataupun analisis laboratorium terhadap sampel-sampel setangan, maka diketahui bahwa bahan bangunan suci/pura dan arca yang ada di Nusa Penida ini adalah batu gamping dan batu gamping terumbu serta tufa pasiran. Untuk batu gamping dan batu gamping terumbu sumber bahannya terdapat di Pulau Nusa Penida, sedangkan untuk tufa pasiran sumber bahanya tidak terdapat di Nusa Penida.

Bab IV: Penutup - 1. Kesimpulan

(p.36) Dari hasil survei terhadap temuan arkeologi di wilayah Nusa Penida maka dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu:

1) Penempatan bangunan megalitik (batu tegak, batu datar), bangunan padma yang mempunyai relief masa prasejarah dan tempat ditemukannya acra-arca dari yang paling sederhana sampai yang paling dinamis ternyata dilakukan pemilihan lokasi tempat yang paling tinggi dari daerah sekitar paling datar dan mempunyai tanah yang paling subur serta tersedianya sumber air.

2) Bangunan untuk keperluan pemujaan (religi) di dareah Nusa Penida terus mengalami perkembangan dari masa prasejarah (batu tegak, batu datar), arca-arca yang sederhana (ciri: muka bulat, mata melotot, mulut besar dan pengerjaannya sangat kasar) kemudian beralih ke masa klasik (arca-arca perwujudan yang bentuknya lebih dinamis), bangunan padma (dari yang paling sederhana / padma capah, sampai menggunakan berbagai relief / manusia kangkang) sampai pada akhirnya bangunan-bangunan padmasana ke bentuk sekarang yang umum ditemukan di dareah-daerah lainnya. Perkembangan bangunan ini tetap memperhatikan atau tidak menghilangkan unsur-unsur yang ada sebelumnya.

3) Bahan bangunan untuk kegiatan religi di daerah Nusa Penida ini bervariasi yaitu dari pemanfaatan batu karang (batu tegak hampir semuanya terbuat dari batu karang serta beberapa buah arca), batu padas (arca-arca) sedangkan bangunan padma merupakan perpaduan dari batu padas dan batu karang.

4) Batu karang / batu gamping terumbu untuk bahan bangunan (megalitik) banyak ditemukan di tebing-tebing perbukitan seperti di daerah Jurangpahit, tetapi batu tufa pasiran seperti bahan dari arca yang ditemukan di Pura Mastulan sumber bahannya tidak ditemukan di wilayah Nusa Penida.

5) Kegiatan religi (dari tradisi megalitik) teras berlanjut pada masyarakat sekarang di wilayah ini dan terus mengalami perkembangan tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya sebelumnya.

6) Untuk menunjang kegiatan religi di dareah Nusa Penida selain memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar situs juga mendatangkan sumber daya alam (p.37) yang berasal dari daerah lainnya seperti dari Klungkung, Gianyar dan Badung.

7) Morfologi dari pulau Nusa Penida adalah perbukitan kars, dengan litologi utamanya berupa batu gamping terumbu yang berumur Miosen Akhir yang dapat dikorelasikan dengan Formasi Blambangan di Jawa Timur bagian selatan. Litologi berupa aluvium hanya terdapat di bagian pantai Utara di wilayah sekitar desa Kutampi, dan desa Watununggal yang merupakan pusat pemerintahan kecamatan Nusa Penida.

2. Saran

Untuk pelestarian nilai-nilai budaya masyarakat masa lalu (dari masa megalitik), maka pemerintah setempat diharapkan tetap menjaga kelestarian tinggalan-tinggalan budaya ini karena mempunyai nilai budaya yang sangat tinggi dan sangat jarang ditemukan di daerah Bali lainnya. Pembangunan pura secara besar-besaran diharapkan tidak menghilangkan bangunan-bangunan lama yang telah ada sebelumnya. Pelestariaan tinggalan-tinggalan budaya ini selain meningkatkan nilai spritual bagi masyarakat di sekitarnya serta warisan untuk generasi berikutnya juga sangat bermanfaat untuk peningkatan objek pariwisata daerah Nusa Penida khususnya dan Pulau Dewata / Bali pada umumnya.

Daftar Pustaka (Astiti & Dariusman)

  • Bemmelen, R.W. van - The Geology of Indonesia. Vol.l A. The Hague, Martinus Nijhoff, Netherland, 1670
  • Geria, Made - Survei Ikonografi Nusa Penida, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, LP A Balai Arkeologi Denpasar (tidak terbit), 1996
  • Holt, Claire - Bandit Island, A short Expiation Trip to Nusa Penida. Djava Tijdskrit van Het Djava Institut, Jogjakarta (Djava), 1933
  • Made, Suastika - Penelitiandi Pulau Nusa Penida. Kecamatan Nusa Penida, KabupatenLaporanArkeologiBalai Arkeologi Denpasar, 2001
  • Mahaviranata, Purusa - Upacara Ritual Pada Bangunan Megalitik AHPA III, Bali 7 - 1 3 Oktober 1989, 1990
  • Purbo-Hadjiwidjojo, M.M., dkk. - Peta Geologi Lembar Bali. Nusatenggara, Lembar Bali 1707 & 1807; skala 1:250.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung, Indonesia, 1998
  • Soejono, R.P. - Sejarah Nasional I, Balai Pustaka Jakarta, 1975
  • Soejono, R.P. - Teknologi. Kajian Temuan Satu Abad (1900-1999), Museum Nasional, 2000
  • Sumadio, Bambang - Jaman Kuno, Sejarah Nasional Indonesia II, Editor Sartono Kartodirdjo; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1976
  • Thornbury, W.D. - Principle of Geomorphology, John Wiley and Sons Inc., New York, 1969
  • Thornbury, W.D. - Peta Rupabumi Digital Indonesia Lembar Sampalan, Lembar 1807-131; skala 1:25.000; Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional, Indonesia, 2001
  • Thornbury, W.D. - Peta Rupabumi Digital Indonesia Lembar Sebuluh Kangin, Lembar 1707- 324, skala 1:25.000, Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional, Indonesia, 2001
  • Thornbury, W.D. - Peta Rupabumi Digital Indonesia Lembar Tanglad, Lembar 1807-113; skala 1:25.000, Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional, Indonesia, 2001
  • Thornbury, W.D. - Peta Rupabumi Digital Indonesia Lembar Toyopakeh, Lembar 1707-342; skala 1:25.000, Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional, Indonesia, 2001

Refrences

Source

  • Astiti, Ni Komang Ayu - & Abdillah, Dariusman - Pemanfaatan Sumber Daya Alam untuk Mendukung Kegiatan Religi dari Manusia Prasejarah di Pulau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali, Laporan Penelitian Subbid. Laboratorium Artefak dan Ekofak, Bidang Arkeologi Sejarah dan Arkeometri; Jakarta 2005, 43pp.

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24