Goa Gede (Hidayah, 2010)

In her article 'Gua Gede Nusa Penida dalam kerangka hunian prasejarah di Indonesia' (Prehistoric Human life in Goa Gede Cave in Nusa Penida, Indonesia), Ati Rati Hidayah (young archaeologist at Balai Arkeologi Denpasar) published her article in the department's own magazine 'Forum Arkeologi' in August 2010. A summarised English translation is forthcoming.

hidayah-guagede2010-01-cover

Abstract

Since the beginning of the Holocene era, cave settlement became more intensive and spread all over the Indonesian archipelago. One of these caves was Gua Gede in Nusa Penida. Gua Gede was a settlement cave where a wide variety of artefacts were found. Therefore, the cave can be considered representative for settlement in prehistoric times in the East Sunda area. This article discusses the vertical occupation chronology during its use as a settlement cave. The presence of humans living in Gua Gede has not yet been substantiated by the discovery of human bones. In this article, the probability of humans living in Gua Gede is discussed by comparing it with other cave sites (in the Eastern Sundas) during the same period. Also, past human migration patterns are discussed. This article offers knowledge on the role Gua Gede played in the prehistoric settlements in Indonesia. Key words: Settlement cave, periodisation and human past.

Abstrak

Sejak permulaan Masa Holocen, hunian gua menjadi lebih intensif di kepulauan Nusantara. Salah satunya adalah Gua Gede di Pulau Nusa Penida. Gua Gede merupakan salah satu gua hunian yang memiliki artefak yang sangat beragam, yang dapat merepresentasikan hunian gua pada masa prasejarah di ujung Paparan Sunda. Artikel ini akan membahas tentang kronologi hunian secara vertikal selama gua tersebut dihuni. Manusia pendukung Situs Gua Gede belum dapat diungkap secara jelas dengan adanya penemuan rangka manusia. Dalam tulisan ini akan diuraikan kemungkinan manusia penghuni Gua Gede dengan membandingkan dengan gua hunian lain yang memiliki masa yang sama. Selain itu akan di singgung mengenai migrasi manusia pada masa lalu. Artikel ini akan menambah pengetahuan kita tentang peran Gua Gede dalam kerangka hunian Gua pada masa praejarah di Indonesia. Kata Kunci: Gua Hunian, Periodisasi, Manusia Masa Lalu.

Pendahuluan: Latar Belakang

Gua Gede merupakan situs gua hunian yang belum mencuat ke permukaan karena merupakan temuan baru. Sejauh ini gua hunian yang sering dibahas, sebagai situs yang mengisi masa-masa pasca Pleistosen hingga Neolitik akhir, antara lain Song Keplek Gunung Sewu (Simanjuntak, 1996); Tuban, Bojonegoro dan Besuki (Soejono dkk, 1984); Sulawesi Selatan (Heekern, 1972); Flores (Verhoeven, 1953); Pegunungan Meratus (Widianto dkk, 1997).

Gua Gede yang terletak di ujung timur Paparan Sunda pada masa Kuarter (zaman es), merupakan situs yang menarik untuk dikaji sebagai bagian dari alur persebaran budaya Nusantara. Gua Gede merupakan salah satu kunci jembatan baik bagi persebaran migrasi kebudayaan, maupun manusia pendukungnya ke kawasan timur.

Penelitian di Gua Gede telah menghasilkan artefak yang sangat beragam. Penelitian dengan melakukan penggalian secara sistematis dilakukan sejak tahun 2001 oleh Balai Arkeologi Denpasar, yang dipimpin oleh Made Suastika. Kegiatan penelitian di atas berhasil menemukan benda budaya dari masa Paleolitik, Mesolitik dan Neolitik (Suastika, 2007). Masing-masing masa terwakili oleh temuan alat dari zamannya. Sampai saat ini Gua Gede menjadi situs gua hunian yang masih menyimpan misteri. Salah satunya ialah karena belum ditemukannya rangka manusia penghuni gua tersebut.

Situs hunian ini sangat menarik untuk diuraikan dalam pembahasan karena adanya analisis pertanggalan absolut temuan arkeologi di Gua Gede, yaitu pada satu lapisan budaya yang dicirikan dengan teknologi beliung persegi yang dinyatakan sezaman dengan masa Neolitik. Pertanggalan absolut di Gua Gede dapat dijadikan landasan awal untuk mempermudah menarik kesimpulan posisi Gua Gede dalam perkerangkaan prasejarah di Indonesia.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, penulis merumuskan masalah yang hendak dipecahkan dalam pembahasan kali ini, antara lain: 1. Bagaimana periodisasi hunian Gua Gede berdasarkan distribusi artefak baik secara vertikal maupun secara horizontal?; 2. Siapa penghuni dan pendukung budaya situs Gua Gede?; 3. Bagaimana peran Gua Gede dalam kerangka hunian prasejarah di Indonesia?

Tujuan dan Kegunaan

Adapun tujuan penelitian ini: 1. Untuk mengetahui gambaran tentang perkembangan budaya dalam konteks waktu, sejak pertama dihuni hingga ditinggalkan; 2. Untuk mengetahui siapa pendukung budaya yang berkembang di Situs Gua Gede; 3. Untuk mengetahui peranan Gua Gede dalam kerangka hunian gua prasejarah di Indonesia.
Manfaat penelitian ini diharapkan mampu mengangkat Gua Gede sebagai salah satu situs yang patut dijadikan referensi sebagai salah satu situs gua hunian untuk melengkapikehidupan prasejarah terutama tentang kehidupan di gua di Indonesia pada umumnya dan Bali pada khususnya.

Penelitian ini juga diharapkan mampu memberikan kontribusi pada pihak yang terkait sebagai salah satu bagian dari objek daerah tempat wisata di Nusa Penida pada khususnya dan Bali pada umumnya.

hidayah-guagede2010-05-flintbladeshidayah-guagede2010-06-square-pickaxe

Images above (left) Alat batu serpih bilah/Flintblade tools; (right) Beliung persegi/Square pickaxe

Kerangka Teori: Teori Kronologi

Terkait dengan permasalahan pertama, untuk menentukan periodisasi suatu artefak terlebih dahulu akan diuraikan beberapa konsepsi kronologis. Pada awalnya munculnya konsepsi didasarkan atas teknologi, yaitu Paleolitik, Mesolitik, Neolitik dan zaman logam (Heekern, 1972). Muncul konsepsi untuk menggantikannya karena konsep ini dianggap tidak dapat mewakili keunikan budaya di Asia Tenggara pada masa berikutnya. W.G. Solheim (1979) menyusun suatu kerangka baru prasejarah Asia Tenggara atas lithic, lignic, crystallistic, extensionistic, conhicting dan empires, meskipun konsepsi awal tetap digunakan.

P. Bellwood (2000), membuat pembabakan yang lebih terbatas, yaitu preceramic (8000-3000 BC), neolitithic (3000-500 BC), early metal (500 BC-1000 AD) dan late neolithic (1000 AD / Ethnographic present) (Bellwood, 2000). Khusus untuk masa akhir prasejarah, Solheim (1979) mengajukan periodisasi, yaitu proto nusantao (8000-5000 BC), early nusantao (5000-2000 BC), middle nusantao (2000 BC-500 AD) dan late nusantao (500-1200 AD).

R.P. Soejono (1984), membagi kerangka periodisasi berdasarkan atas konsepsi sosial ekonomi, antara lain: 1) Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana (semasa dengan Paleolitik); 2) Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut (semasa dengan Mesolitik); 3) Masa bercocok tanam (semasa dengan Neolitik); 4) Masa perundagian atau dikenal dengan zaman logam (semasa dengan paleometalik).

Kerangka periodisasi di atas tidaklah menjadi batas mutlak antara suatu masa dengan masa yang lain karena terdapat kesinambungan budaya yang melampaui batas tertentu. Dalam pembahasan periodisasi di Gua Gede akan digunakan istilah pre-Neolitik yang saat ini lebih banyak digunakan sebagai istilah masa sebelum Neolitik dan sesudah Paleolitik. Masa ini lebih ditekankan dengan ciri teknologi serpih dan bilah (Bellwood, 2000).

Kerangka Teori: Teori Migrasi

Membahas proses migrasi manusia dan persebaran kebudayaan di wilayah Asia Tenggara, tidak akan terlepas dari pembahasan mengenai sejarah geologi wilayah ini. Di Asia Tenggara terdapat dua wilayah utama yaitu Paparan Sunda (Sundaland) dan paparan Sahul (Sahuland). Diantara wilayah tersebut, terdapat wilayah Wallacea yang meliputi kepulauan Sunda Kecil, Sulawesi dan Kepulauan Maluku. Dalam hal ini Pulau Bali merupakan pulau batas paling timur dari paparan Sunda. Selat yang membatasi Bali dengan pulau Lombok, merupakan Garis Wallacea yang memiliki laut (palung) yang dalam sehingga sulit untuk diseberangi oleh fauna (Forestier, 2007).

Pembagian wilayah tersebut lebih berdasarkan pada jenis flora dan fauna yang hidup pada masing-masing wilayah. Flora / fauna dari daratan Sunda berasal dari Asia yang sangat kaya spesies, sedangkan Wallacea memiliki lebih sedikit spesies dengan proporsi spesies endemis yang lebih besar. Lain halnya dengan dataran Sahul yang lebih memiliki banyak unsur Australia. Wilayah Wallacea dianggap sebagai zona peralihan antara dua wilayah kontinental kuno, dengan flora / fauna yang sangat berbeda (Forestier, 2007).

hidayah-guagede2010-10-bone-pointshidayah-guagede2010-11-mollusk-tools

Images above (left): Alat tulang Muduk point/Bone point tools; (right) Alat kerang/Mollusk tools

Pada masa Plestosen tidak terdapat jembatan darat dari Daratan Sunda ke bagian timur Indonesia. Di seberang Garis Wallacea penurunan muka laut masa glasial tidak cukup untuk menimbulkan daratan yang menjembatani. Daratan stabil dengan bentuk seperti saat ini ± 18.000 BP-8.000 BP (Bellwood, 2000). Namun jenis fauna Asia berumur Plestosen yang ditemukan di Timor dan Flores, menjawab kemungkinan terjadinya migrasi fauna Daratan Sunda ke Daratan Sahul atau juga sebaliknya.

Terdapat dua teori mengenai asal mula manusia hingga menjadi manusia modern, yaitu teori Out of Africa dan teori Multiregional. Alan Yhonne dan Milford Wolpoff mengemukakan, bahwa manusia yang secara anatomis modern diseluruh dunia lama berevolusi dari para pendahulunya yaitu erectus setempat. Sedangkan teori Out of Africa menganggap bahwa manusia yang secara anatomis modern menyebar antara 200.000-100.000 tahun yang lalu dari tempat asalnya, yaitu Afrika. Dalam proses penyebarannya, populasi modern ini menggantikan Homo erectus yang ada. Menurut Bellwood, tidak sepenuhnya langsung murni 100 % hilang, namun terjadi percampuran dengan populasi-populasi pendatang baru seiring waktu ke waktu (Bellwood, 2000).

Di kepulauan Indo-malaysia terdapat dua ras utama, yaitu Australo-Melanesoid (Austroloid) dan Mongoloid (Bellwood, 2000). Menurut J.P. Coen (1966), Australo-Melanesoid ada sejak ± 50.000 tahun yang lalu. Hal ini didukung oleh Brace (1984), yang beranggapan ekspansi Mongoloid selatan yang menuturkan Bahasa Austronesia dan membawa budaya bercorak Taiwan menyebar ke Indonesia melewati Filipina dan menggantikan populasi Australoid dan Melanesoid atau biasa dikenal dengan Out of Taiwan pada masa kemudian (± 3000 BC). Weidenrich berpendapat tentang evolusi populasi lokal yang menyatakan, bahwa Mongoloid selatan adalah asli dari Asia Tenggara dan memiliki leluhur populasi dari kala Plestosen akhir, yang juga leluhur dari orang Melanesia.

Populasi ras Australo-Melanesoid diduga menempati daratan Asia Daratan dan Asia Tenggara sejak 50.000 tahun yang lalu (Howell, 1973). Hal ini didasarkan pada temuan rangka manusia dan bukti-bukti tinggalan budaya di Vietnam, Thailand dan Indonesia bagian barat. Sebaran ini berlanjut ke wilayah lebih timur di Nusa Tenggara, yang menurunkan Ras Australoid (Negrito) saat ini. Selain itu terdapat pandangan mengenai migrasi yaitu pada masa berikutnya ± 3000 BP, terjadi gelombang migrasi Ras Mongoloid dari utara (Cina bagian selatan), menuju Sulawesi melalui Filipina menggantikan ras Australo-Melanesoid.

Sisa rangka manusia dari Leang Cadang Sulawesi, dianggap termasuk dalam jalur migrasi ini, yang kemudian menuju ke timur melalui pulau-pulau di utara Indonesia Timur menuju ke Mikronesia (Simanjuntak, 1996). Pemisahan sebaran kedua jenis ras ini cukup terlihat, yaitu ras Australo-Melanesoid mengokupasi bagian utara dan barat, sementara Ras Mongoloid menyebar di Indonesia bagian timur dan bagian utaranya.

Pada masa sekarang, Mongoloid (Mongoloid selatan) mengokupasi Melayu, Jawa, Bali dan Filipina. Populasi Australo-Melanesia menyebar di kawasan Nugini dan pulau-pulau bagian timur Indonesia. Populasi Ras Australoid digantikan oleh leluhur Mongoloid di kawasan Indo Malaysia (Bellwood,2000). Hal ini menghadirkan 2 pandangan.

Pertama, kesinambungan regional yang telah disinggung di atas dengan hipotesis dari “Weidenrich”, tentang evolusi lokal populasi Australo-Melanesoid. Pandangan ini didukung oleh Hoiijer yang mengemukakan bahwa Mongoloid Selatan adalah asli dari Asia Tenggara dan memiliki leluhur dari populasi kala Plestosen akhir yang juga leluhur orang Melanesia (Bellwood, 2000). Kedua, pandangan tentang migrasi populasi Mongoloid dari utara yang telah diuraikan lebih banyak di atas.

Pandangan mengenai teori penggantian ini didasarkan pada bukti-bukti linguistik yaitu penyebaran penutur Austronesia. Indonesia dan wilayah Asia Tenggara daratan (Malaysia, Thailand, Laos, Kamboja, Myanmar dan Vietnam) yang merupakan tanah air dari ras Australoid, dilanda ekspansi Mongoloid selatan yang dimulai sekurang-kurangnya zaman Neolitik dan memuncak pada 2.000 BP.

Lokasi

Situs Gua Gede terletak di Dusun Ambengan, Desa Pejukutan, Kec. Nusa Penida, Kab. Klungkung. Letak astronomis berada pada titik koordinat 8⁰ 57’ 25” BT dan 8⁰ 45’ 21” LS. Gua Gede berada di ketinggian 220 meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan rata-rata 251 mm pertahun.

Untuk mencapai situs ini, dari Pulau Bali harus menyeberangi laut (Selat Badung) terlebih dahulu. Bisa diakses melalui beberapa penyeberangan, antara lain Pelabuhan Kusamba (Klungkung), Pelabuhan Padang Bai (Karangasem), Pantai Sanur dan Pelabuhan Benoa (Denpasar) menuju Pelabuhan Mentigi dan atau Pelabuhan Toya Pakeh (Nusa Penida), baik dari Pelabuhan Mentigi maupun Toya Pakeh untuk ke lokasi situs dapat menggunakan kendaraan bermotor, dengan jarak tempuh ± 15 km melalui jalan desa (peta 1)

hidayah-guagede2010-02-maphidayah-guagede2010-03-cave

Images above: Map of Kabupaten Klungkung (not to scale), source: Klungkung Tourism Department; Goa Gede's entrance viewed from the southeast

Secara morfologi, Gua Gede menghadap ke arah tenggara (foto no. 1). Panjang gua 53 m; lebar gua 22 m; sedangkan lebar mulut gua 16 m dan tinggi mulut gua 5 m. Kondisi gua yang cukup luas dan orientasi arah hadapnya, sangat memungkinkan guna pendukung sirkulasi udara dan penyinaran yang cukup, sehingga kondisi gua tidak terlalu lembab. Pada jarak 200 m, arah depan Gua Gede terdapat Sungai Celagi, yang merupakan sungai tadah hujan.

Image 1: Entrance to Goa Gede seen from the southeast.

Cara Pengumpulan Data: Ekskavasi

Penelitian di Situs Gua Gede dilakukan dengan menggunakan metode ekskavasi yang bertujuan untuk memperoleh data arkeologi, baik secara kualitatif maupun kuantitatif dari Situs Gua Gede. Data hasil ekskavasi diperoleh dari ekskavasi yang dilaksanakan selama 8 tahap. Ekskavasi pertama dilaksanakan sejak tahun 2001 dan ekskavasi terakhir dilaksanakan tahun 2008. Dalam hal ini penulis mengikuti ekskavasi selama du tahap, yaitu tahap empat dan lima.

hidayah-guagede2010-04-location

Image left: Denah Gua Gede tampak atas/Map of Gua Gede viewed from above.

Studi Pustaka

Pengumpulan data selain dari hasil ekskavasi juga dilakukan dengan studi kepustakaan. Studi kepustakaan dilakukan, khususnya terkait dengan penelitian terdahulu. Data kepustakaan yang terkait dengan penelitian ini mampu melengkapi data primer yang telah ada.

Analisis Data

Analisis Kualitatif dilakukan dengan cara menganalisis data yang ditemukan di lapangan, terutama temuan dari hasil penggalian. Analisis kuantitatif merupakan analisis data berupa angka-angka atau data yang dapat diukur secara langsung. Analisis komparatif dilakukan dengan melihat persamaan gua hunian yang memiliki karakteristik temuan yang memiliki kesamaan dengan Situs Gua Gede. Khususnya untuk mengetahui perbandingan umur hunian gua. Analisis kontekstual dilakukan dengan mencari hubungan antar deata seperti artefak yang berupa alat dalam stratigrafi yang sama maupun stratigrafi yang berbeda.

Hasil

Penelitian Situs Gua Gede dimulai pada tahun 2001 dan terakhir dilakukan pada tahun 2008. Pada kurun waktu tersebut telah dilakukan ekskavasi dan telah dibuka sebanyak 4 (empat) kotak, yaitu kotak GGD I, GGD II, GGD III, GGD IV. Hasil ekskavasi tersebut mengindikasikan proses pemanfaatan gua yang lebih intensif.

Temuan di kotak I atau GGD I (Lih. Grafik no. 1), antara lain alat batu serpih bilah (foto no.2) , alat tulang, alat kerang, tulang sisa fauna, moluska dan kereweng. Jumlah temuan tulang sisa fauna, mendominasi temuan yaitu 65% dari total temuan. Di kotak GGD I ini, belum ditemukan alat batu masif, perhiasan, baik dari kerang maupun tulang.

Temuan di kotak II atau GGD II (Lih. Grafik no. II), masih sama dengan temuan di kotak GGD I, namun terdapat temun lain berupa beliung persegi di spit 6 (foto no.3)

hidayah-guagede2010-07-graphichidayah-guagede2010-08-graphic

Images above: Graphic Temuan Umum Kotak GGD I; Graphic Temuan Umum Kotak GGD II

Arang yang ditemukan di lapisan tanah yang berkonteks dengan beliung inilah yang diuji pertanggalannya, melalui metode C-14.

Penggalian di kotak III atau GGD III, memiliki tahap yang paling lama, yaitu 5 (lima) tahap. Tahap pertama spit 1-10; kedua spit 11-13; ketiga spit 14-18; keempat spit 19-24 dan tahap akhir (kelima) spit 25-32. Hal di atas dikarenakan kotak yang dibuka berukuran 4 X 4 m, menghasilkan temuan yang cukup banyak (Lih. Grafik III), maka dibuka per-quadran.Kotak GGD III menghasilkan banyak temuan juga. Temuan di kotak ini didominasi oleh sisa tulang fauna, alat tulang dan alat serpih. Alat tulang merupakan artefak yang paling banyak ditemukan, yaitu sebanyak 917 buah, yang terdiri dari lancipan, spatula (sudip) dan muduk point (lancipan ganda) (Foto no. 4). Alat serpih sebanyak 720 buah yang terdiri dari serpih dan bilah serta beberapa mata panah. Alat kerang (Foto no. 5) sebanyak 404 buah yang terdiri dari sudip, serut dan alat berupa sendok. Alat batu masif (Foto no. 6) sebanyak 40 buah yang terdiri atas kapak perimbas, proto kapak genggam, kapak penetak dan serut tinggi (Suastika, 2008). Spit yang memiliki temuan terpadat yaitu antara spit 15-19. Temuan alat tulang dan serpih terbanyak pada spit 16 yang memiliki konteks dengan sisa perapian, sisa fauna berupa tulang binatang dan moluska. Pada spit akhir kegiatan penggalian ini, kuantitas temuan semakin berkurang namun alat batu masif masih terus ditemukan hingga spit 32.

Pada kotak GGD IV (Lih. Grsfik IV) atau kotak yang terletak paling depan di ruangan gua, di antara ketiga kotak yang lain, didominasi oleh temuan kereweng. Temuan kereweng paling banyak berada di spit 4-9, berupa bagian tepian, leher dan badan. Terdapat 4 buah kereweng yang memiliki pola hias teknik gores (Foto no. 7). Selain itu ditemukan juga batu gandik dan batu pipisan (lesung batu) pada spit 15 dalam kondisi yang telah terbelah 2 (dua). Sedangkan temuan lain, seperti alat batu, alat tulang dan alat kerang sangatlah minim. Kotak GGD IV merupakan tempat pembuangan dari sisa-sisa makanan serta alat-alat untuk meramu makanan (Yuliati, 2009). Hal ini diperkuat oleh banyaknya temuan berupa sisa fauna berupa gigi (rahang) binatang mamalia besar, yang sebelumnya sangat jarang ditemukan pada kotak yang lain.

hidayah-guagede2010-09-graphichidayah-guagede2010-14-graphic

Images above: (left) Graphic Temuan Umum Kotak GGD III; Graphic Temuan Umum Kotak GGD IV

Jenis binatang yang dikonsumsi di Gua Gede antara lain: ikan (pisces), unggas (aves) biawak (varanidae) sejenis musang (veviridae) kelelawar (ordo chiropteria), fauna pengerat (ordo rodentia), monyet (macaca sp) kepiting dan babi (suidae). Sisa moluska terdiri atas kelas gastropoda, pelecypoda dan cephalopoda. Moluska yang ditemukan berasal dari habitat laut dan darat.

Pembahasan: Periodisasi hunian Gua Gede

Adapun stratigrafi di Situs Gua Gede secara umum diambil dari kotak III. Kotak III dijadikan sebagai sampel dari ke empat kotak yang telah dibuka karena dapat mewakili stratigrafi hingga lapisan yang paling dalam jika dibandingkan dengan kotak yang lain. Adapun stratigrafi atas kotak III terdiri atas 6 lapisan tanah yaitu:

1. Lapisan a memiliki ketebalan ± 10 cm, merupakan tanah coklat kekuningan yang belum terdapat banyak artefak Pada lapisan ini ditemukan tulang dan cangkang kerang.

2. Lapisan b, memiliki ketebalan ± 40cm yang berawal dari spit kedua hingga 13. Perbedaan ukuran kedalaman dari layer tanah dan spit diakibatkan oleh kemiringan lapisan tanah. Lapisan ini bercirikan tanah lempung bercampur kerikil, mengandung beberapa artefak litik berupa alat serpih, dan kereweng yang cukup banyak.

3. Lapisan c memiliki ciri tanah lempung bercampur pasir kasar, warnanya abu-abu kehitaman, dengan ketebalan ± 70 cm, yaitu dari spit 13 s/d spit 19. Pada lapisan ini merupakan lapisan terpadat, mengandung artefak berupa alat batu, alat tulang dan alat kerang.

4. Lapisan d, dengan ketebalan 50 cm, dengan ciri adalah lapisan tanah lempung pasir kasar berwarna abu-abu cerah. Batu yang diperkirakan sebagai runtuhan atap gua menutupi sebagian besar lapisan ini hingga lapisan berikutnya. Pada lapisan ini artefak yang ditemukan adalah alat tulang, alat serpih dan alat kerang. Selain itu juga terdapat temuan berupa tulang sisa fauna dan cangkang kerang.

5. Lapisan e memiliki ketebalan ± 40 cm, berawal dari spit 25 hingga 29. ciri lapisan ini adalah tanah lempung pasir kasar berwarna coklat kemerahan. Pada lapisan ini ditemukan artefak berupa alat tulang, alat serpih dan alat masif.

6. Lapisan f memiliki ketebalan ± 30 cm, dari spit 29 hingga 32. Lapisan ini didominasi oleh batu berukuran besar yang diperkirakan runtuhan gua. Tanah pada lapisan ini memiliki ciri tanah lempung berpasir halus berwarna coklat keabu-abuan. Meskipun terdapat batu besar namun masih ditemukan alat masif, serpih dan alat tulang serta kerang.

Karakter budaya Situs Gua Gede dicirikan oleh suatu proses hunian manusia pada teknologi pre-Neolitik dan Neolitik. Pandangan ini mengacu pada data artefaktual dengan ditemukannya alat-alat batu non-masif (alat serpih, bilah, serut dan lancipan), yang bercampur dengan sisa-sisa model subsistensi penghuni, berupa kerang dan tulang yang sangat padat (suatu model kehidupan prasejarah yang umum ditemukan pada komunitas hunian gua) misalnya Song Keplek dan Gua Braholo di Jawa Timur (Simanjuntak, 1996). Karakter budaya ini, ditunjang oleh pertanggalan absolut lapisan budaya kedua, pada kedalaman 65 cm (kotak GGD II) yang telah di uji dengan carbon dating dan menghasilkan umur lapisan 3.805±25 BP. Hal ini berarti kronologi budaya sebenarnya, lebih tua dari angka tahun tersebut karena letak layer belum steril hingga kedalaman 325 cm.

Alat-alat batu non-masif dan alat-alat tulang merupakan salah satu ciri dari situs pre-Neolitik. Termasuk alat serpih, bilah, serut dan lancipan, yang merupakan perkembangan lanjut dari himpunan alat Paleolitik sebagai suatu tradisi yang berkembang pesat pada pasca Plestosen. Sedangkan alat-alat tulang dikembangkan pada masa pre-Neolitik, dalam hal ini, artefak batu non-masif dan alat tulang serta alat kerang, merupakan artefak yang berkembang secara bersamaan di Gua Gede. Sehingga budaya situs ini hampir serupa dengan situs-situs pre-Neolitik di Jawa dan Kalimantan yang menghasilkan temuan berupa alat batu non-masif, alat tulang dan alat kerang secara bersamaan (Handini, Widianto, 2003).

Klasifikasi budaya Gua Gede sebagai budaya dari periode pre-Neolitik, tidak hanya dicirikan oleh data artefaktual saja, namun juga oleh padatnya temuan cangkang kerang dan tulang fauna sisa sampah dapur. Pola subsistensi dengan pengumpulan moluska (kerang), juga merupakan salah satu ciri pengumpulan makanan pada periode Neolitik seperti di daerah Sumatra dengan adanya bukit kerang atau “kjökkenmoddinger” (Soejono, 1984).

Tinggalan di Gua Gede tidak hanya terbatas pada artefak budaya pre-Neolitik, namun terdapat temuan lain yang merupakan ciri budaya yang lebih lanjut (muda). Temuan tersebut antara lain yaitu, fragmen gerabah, batu pipisan dan gandik. Adanya temuan batu pipisan mengindikasikan pemakaian sebagai alat penggiling hematit yang mungkin dipakai untuk pewarna atau dipakai sebagai penggiling makanan.

Selain itu, ditemukan dua fragmen keramik, yang mungkin terdeposit lebih kemudian oleh manusia modern,karena ditemukan di lapisan atas, fragmen gerabah, batu pipisan dan batu gandik merupakan ciri budaya Neolitik. Temuan artefak yang beragam dari lpisan atas hingga lapisan terbawah,mungkin mengindikasikan pemanfaatan Gua Gede berlanjut.

hidayah-guagede2010-12-stone-toolshidayah-guagede2010-13-earthenware-sherd

Images above (left): Alat masif/Stone tools; (right) Kereweng hiasan teknik gores/Potsherd with etched lines

Budaya Neolitik yang ditunjukkan oleh Situs Gua Gede, selain dicirikan dengan temuan fragmen gerabah juga diperkuat dengan adanya temuan beliung persegi. Beliung persegi merupakan alat yang secara teknologi pengerjaannya lebih maju bila dibandingkan dengan teknologi pembuatan alat batu sebelumnya. Beliung ini ditemukan di kotak GGD II pada spit ke- 6. Bila di bandingkan dengan lapisan pada kotak III, lapisan pada spit 6 serupa dengan ciri pada lapisan ke 2 situs Gua Gede. Beliung ini terbuat dari “limestone” dengan pengerjaan yang masih sederhana. Sampel charcoal yang diambil dari spit 6 ini kemudian dianalisa penanggalannya dengan C-14. Metode tersebut menghasilkan umur absolut 3.805 ± 25 BP (Suastika, 2008).

Alat masif yang juga ditemukan di Gua Gede, seperti kapak perimbas, kapak penetak dan kapak genggam yang sejauh ini dicirikan sebagai artefak tinggalan budaya Paleolitik kala Plestosen. Intepretasi yang dapat ditarik dari temuan himpunan artefak dengan teknologi Paleolitik ini, kemungkinan merupakan alat pendukung kegiatan sehari-hari yang dibuat secara sederhana pada masa pre-Neolitik, ketika teknologi telah dikuasai secara baik. Namun untuk menyebutkan alat ini dari budaya Paleolitik harus dibuktikan dengan pertanggalan lapisan budaya paling dalam, karena kuantitas alat sejenis yang sedikit dan didominasi budaya pre-Neolitik yang masih terlihat hingga lapisan terdalam yang dapat digali.

Untuk memberikan gambaran distribusi horzontal dari keempat kotak yang diekskavasi menunjukkan pemakaian gua secara intensif berada di bagian tengah gua, yaitu pada kotak GGD III. Sedangkan kotak GGD IV ynag dibuka di ruang gua bagian depan memiliki lapisan budaya yang tipis dan didominasi oleh temuan bercorak Neolitik.

Identifikasi pembagian ruang skala mikro di Gua Gede kurang baik karena pola sistem pembukaan kotak ekskavasi tanpa menggunakan sistem grid. Ekskavasi kotak I, II dan III dipusatkan di bagian tengah gua. Oleh karena itu, untuk penelitian di masa akan datang disarankan pembukaan kotak dilakukan dengan sistem gris, sehingga masing-masing bagian ruangan dapat terwakili. Hal tersebut guna memudahkan untuk mengidentifikasi pola pembagian ruang skala mikro di gua tersebut.

Manusia Pendukung Situs Gua Gede

Komunitas pendukung budaya situs Gua Gede akan terungkap apabila telah ditemukan rangka manusia. Tidak atau belum ditemukannya rangka manusia dalam ekskavasi yang dilakukan pertama kali tahun 2001 dan terakhir pada tahun 2008, menjadikan persoalan ini dicoba bahas melalui perbandingan dengan situs-situs yang memiliki temuan sejenis serta melalui teori-teori mengenai jalur migrasi dan model kesinambungannya, pada masa Gua Gede dihuni sampai ditinggalkan.

Komunitas pendukung Situs Gua Gede akan berakhir pada jenis ras yang pernah mendiami Gua Gede pada masa ± 10.000-3.800 tahun yang lalu. Sebelum kedatangan komunitas Mongoloid selatan (Austronesia) kawasan melanesia lama yang meliputi Paparan Sunda, Paparan Sahul dan Wallacea dihuni oleh populasi manusia yang dianggap sebagai nenek moyang Australo-Melanesoid. Model jalur migrasi dari Paparan Sunda ke Paparan Sahul terdapat dua jalur, yaitu jalur utara dan jalur selatan. Jalur utara dari Paparan Sunda ke Paparan Sahul dan ke Sulawesi, Kepulauan Maluku dan ke Nugini. Jalur selatan ditempuh dari ujung timur Paparan Sunda di Bali menuju Lombok kemudian ke Australia. Jalur selatan lebih memungkinkan dilewati dengan mudah dibandingkan jalur utara. Hal ini karena jarak jalur yang lebih pendek, fluktuasi permukaan air laut yang mengubah garis pantai dan banyak muncul pulau kecil pada masa muka air laut turun bahkan Kepulauan Sunda Kecil disatukan oleh daratan (Noerwidi, Sofwan, 2008).

Secara geografis posisi Gua Gede berada di jalur selatan persebaran ras tersebut. Manusia modern berciri ras Australo-Melanesoid bermigrasi dari Paparan Sunda menuju Kawasan Wallacea dan Paparan Sahul disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak stabil pada kala plesitosen (Noerwidi, Sofwan, 2008).

Sebagai perbandingan, di Gua Braholo (Gunung Sewu) dimanfaatkan sebagai gua hunian oleh ras Australo-Melanesoid tahun 5900 ± 180 BP; di Gua Lawa (Sampung), Gua Sodong, Gua Gentong Tulungagung dihuni oleh ras Australomelanesoid. Secara umum di pulau Jawa pada kurun waktu 10.000 BP-4000 BP, dihuni oleh ras Australo-Melanesoid, selain itu juga temuan rangka di Gua Babi, Kalimantan Selatan yang juga memiliki ciri Australo-Melanesoid (Simanjuntak, 1996).

Melihat jalur migrasi ras ini, dari daratan Asia Tenggara ke selatan dan bagian barat lalu berlanjut ke wilayah timur, yang menurunkan Ras Australoid (Negrito) saat ini. Posisi Gua Gede berada di jalur tersebut. Sedangkan jalur gelombang migrasi Ras Mongoloid, yaitu dari utara ke selatan melalui Filipina, kemudian ke Sulawesi sampai dengan Mikronesia. Penghuni Gua Gede akan terjawab lebih pasti jika ekskavasi Gua Gede dilanjutkan untuk memperoleh data primer berupa rangka manusia.

Gua Gede dalam kerangka prasejarah di Indonesia

Seperti yang telah diuraikan di atas mengenai periodisasi huni- an di Gua Gede dan kemungkinan manusia pendukungnya, maka sudah selayaknya Gua Gede menjadi salah satu bagian sejarah penghunian gua pada masa prasejarah di Indonesia. Gua Gede berada pada tingkatan ciri teknologi masa pre-Neolitik dan Neolitik. Diperkuat dengan pertanggalan absolut yang ada, maka Gua Gede memiliki kisaran antara 5000-2000 BP. Tafsiran umur tertua 5000 BP berdasarkan pada unsur-unsur alat serpih dan alat masif yang dikaitkan dengan masa pre-Neolitik. Namun kemungkinan angka tahun yang lebih tua sangat terbuka, mengingat masa pre-Neolitik diawali sejak permulaan Holosen atau 10.000-8000 BP. Tafsiran 5000 BP juga berdasarkan tafsiran berkembangnya budaya Neolitik di Indonesia (Simanjuntak, 1992).

Dalam sejarah hunian gua di Indonesia, Gua Gede memiliki tinggalan teknologi yang bercirikan sama dengan gua-gua yang ada di Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, seperti kapak perimbas dengan teknik pemangkasan bifasial, alat serpih, alat bilah, alat tulang, alat kerang dan beliung. Sebagai bahan perbandingan pertanggalan yang telah dilakukan di beberapa gua di Jawa dan Sulawesi serta Sumatera adalah sebagai berikut:

Gua dan Ceruk Hunian di Nusantara pada Kala Holosen

No Ceruk/Gua Pertanggalan Jenis artefak/Masa hunian
1. Leang Burung 2 (Sulawesi) 31.260 ± 2600 BP Alat serpih dan bilah, mikrolit, alat tulang, moluska (Paleolitik - Paleometalik)
2. Gua Bobo 2 (Timor-Timur) 13.400 ± 400 BP, 3.230 ± 180 BP Sisa perapian (Paleolitik) dan gerabah hias (Neolitik).
3. Gua Golo, Gebe (Maluku) 31.030 ± 400 BP, 3.230 ± 180 BP Alat serpih, batu inti, alat tulang, oker, beliung dari cangkang (Paleolitik s/d Neolitik)
4. Ceruk tanjung pinang, Morotai 13.930 ± 140 BP Peble, alat serpih, lancipan tulang, oker, kubur sekunder, perhiasan kerang, alat besi (Paleolitik s/d Neolitik)
5. Gua Tianko Panjang, Jambi 10.250 ± 140 BP Serpih, obsidian, gigi manusia dan sisa fauna (pre-Neolitik)
6. Song keplek (Jawa Timur)  15.880 ± 540 BP, 4.510 ± 90 BP  Serpih bilah, alat tulang, perhiasan dan sisa fauna (Paleolitik dan pre-Neolitik), Penghuni ras australomelanesoid 
7. Song terus (Jawa Timur) 8.340 ± 340 BP Serpih bilah, alat tulang, sisa fauna (pre-Neolitik)
8.  Song Perahu (Jawa Timur) 6.971 BP  Serpih dan alat tulang (pre-Neolitik) 
9. Gua Peturon (Tuban) 7.670 ± 120 BP Serpih bilah, sisa fauna, alat tulang (masa pre-Neolitik)
10. Song Gentong, Tulungagung 8.760 ±190 BP, 7.690 ± 70 BP Serpih bilah, sisa fauna, kubur, alat tulang, perhiasan cangkang kerang (pre-Neolitik) 

11.

Gua Braholo, Wonosari 6.620 ± 110 BP Serpih bilah, sisa fauna, alat tulang (pre-Neolitik), penghuni Ras Australo-Melanesoid

12.

Gua Babi, Tabalong, Kalimantan Selatan 6.620 ± 110 BP Serpih bilah, sisa fauna, alat tulang (pre-Neolitik)

13.

Liang kawung, Kalimantan Barat 3.030 ± 180 BP Lukisan, serpih, gerabah (pre-Neoltik?, Neolitik)

14.

Liang Mangkaliat, Kalimantan Timur 5.240 ± 270 BP Lukisan, serpih, gerabah (pre-Neolitik?, Neolitik)

15.

Gua Ulu Leang 1, Sulawesi Selatan 10.740 ± 50 BP, 7.170 ± 650 BP Serpih bilah, mikrolith, gerabah (pre-Neolitik, Neolitik)

16.

Leang Toge (NTT) 3.550 ± 125 BP Serpih, kubur (Neolitik)

17.

Leang Bua (NTT) 9.830 ± 490 BP, 3.820 ± 120 BP, 450 ± 25 BP Serpih bilah, kubur, beliung dan benda logam (pre-Neolitik, Paleometalik)

Table above (Source: Simantunjak, 1996)

Uji Carbon 14 (C-14) di Gua Gede dilakukan pada spit ke- 6 dengan kedalaman 65 cm, di Kotak GGD II, menghasilkan pertanggalan absolut 3.805 ± 25 BP, kemungkinan merupakan permulaan budaya Neolitik di Gua Gede, yang memiliki konteks dengan temuan beliung persegi. Awal penghunian Gua Gede terjadi sebelum masa tersebut dikarenakan ekskavasi di kotak Gua Gede mencapai spit 32, dengan kedalaman 325 cm.

Dari uraian di atas, Gua Gede menempati posisi yang cukup strategis sebagai ujunsg dari proses migrasi pada masa Pasca Plestosen sampai dengan Holosen oleh Ras Australo-Melanesoid. Hal ini perlu diteliti lebih lanjut dengan ekskavasi hingga memperoleh data yang lebih pasti berupa rangka manusia.

Penutup: Kesimpulan

1. Periodisasi hunian Gua Gede berdasarkan analisis temuan artefak secara vertical telah berlangsung pada masa sebelum 3.805±25 BP, berdasarkan uji C-14 pada kotak II, di kedalaman 65 cm, hingga masa sesudahnya.

2. Pendukung Situs Gua Gede dimungkinkan berasal dari Ras Australo-Melanesoid berdasarkan perbandingan dari temuan rangka yang berada di Jawa, Sumatra dan Kalimantan pada masa yang sama yaitu pre-Neolitik sampai Neolitik. Hal ini membutuhkan pembuktian lebih akurat dengan penelitian lebih lanjut untuk menemukan rangka manusia.

3. Gua Gede merupakan gua hunian yang berperan penting pada masa Pasca Plestosen hingga Holosen dalam sejarah hunian gua di Indonesia. Hal tersebut karena letak Gua Gede yang berada di ujung okupasi populasi Australo-Melanesoid yang ada sejak 50.000 BP.

Saran

Situs Gua Gede diharapkan diteliti lagi pada tahun-tahun yang akan datang, agar bisa mengungkap lebih banyak sejarah hunian di gua ini. Pembukaan kotak pada penelitian berikutnya, hendak-nya dipertimbangkan penggunaan sistem grid untuk dapat mengetahui pembagian ruang skala mikro di gua tersebut. Selain itu untuk memperbesar kemungkinan penemuan rangka manusia.

Daftar Pustaka

  • Bellwood, Peter, 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaya. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  • Forestier, Hubert, 2007. Ribuan Gunung, Ribuan Alat Batu, Prasejarah Song Keplek Gunung Sewu, Jawa Timur. KPG (Kepustakaan Populer Garmedia). Ecole Francaise- Orient Institut de Recherce pour le Development. Pusat Pnelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.
  • Handini, Retno dan Harry Widianto, 2003. Karakter Budaya Prasejarah di Kawasan Gunung Batubuli, Kalsel: Mekanisme Hunian Gua Pasca Pleistosen. Berita Penelitian Arkeologi, Balai Arkeologi Banjarmasin.
  • Heekern, H.R.Van, 1972. The Stone Age of Indonesia. The Hague- Martinus Nijhoff.
  • Hidayah, Ati Rati, 2006. Moluska dalam Kehidupan Manusia Pendukung Situs Gua Gede Nusa Penida, Bali. Skripsi Fakultas Sastra Jurusan Arekologi, Universitas Udayana.
  • Indriastuti, Kristina dan Harry Widianto, 2007. Pola Pemukiman Situs Gua Putri Sektor Lumbung Padi Desa Padang Bindu, Kecamatan Semidang Aji Kabupaten O.K.U. Berita Penelitian Arkeologi, Balai Arkeologi Palembang.
  • Nurani, Indah Asikin, 1997. Bentuk Pamanfaatan Lahan Gua Macan, Suatu Kajian Pemukiman Skala Mikro. Berkala Arkeologi, Balai Arkeologi Yogyakarta.
  • Renfrew, Colin and Paul Bahn, 1990. Archaeology, Theory, Methods and Practice. USA: Thames and Hudson ltd.
  • Simanjuntak, Truman, 1992. Neolitik di Indonesia: Neraca dan perspektif Penelitian. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.
  • Simanjuntak, Truman, et, al., 1996. Prasejarah Gunung Sewu. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.
  • Soejono, R.P., ed, 1984. Jaman Prasejarah di Indonesia, Sejarah Nasional Indonesia Jilid I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta : Balai Pustaka.
  • Soejono, R. P, 1981, “Tinjauan tentang Pengkerangkaan Prasejarah di Indonesia”, Aspek-Aspek Arkeologi Indonesia, cetakan kedua. Jakarta: Puslitarkenas.
  • Suastika, I Made , 2008. Penelitian Pola Hunian gua di Nusa Penida. Berita Penelitian Arkeologi. Balai Arkeologi Denpasar.
  • Suastika, I Made, 2007. Hasil Penelitian Situs Gua Gede dan Gua Medayung, Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali. Berita Penelitian Arkeologi. Balai Arkeologi Denpasar.
  • Suastika, I Made, 2005. Penelitian Situs Gua Gede Menapak Kehidupan Gua di Nusa Penida, Bali. Berita Penelitian Arkeologi. Balai Arkeologi Denpasar
  • Yuliati, Luh Kade Citha & Oka Astawa, A.A. Gede, 2009. Penelitian Situs Gua Gede, Dusun Pendem, Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Laporan Penelitian Arkeologi, Balai Arkeologi Denpasar

Sumber

  • Hidayah, Ati Rati - Gua gede nusa penida dalam kerangka hunian prasejarah di indonesia, in: Forum Arkeologi TH.XXIII No.2 August 2010, p.332-354

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24