Fauna Remains Gua Gede Cave (Hidayah, 2011)

Ati Rati Hidayah, young and promising archaeologist at Balai Arkeologi Denpasar (Archaeological Department, Denpasar - Bali) in 2011 wrote a preliminary study called "Sisa Fauna Situs Gua Gede Nusa Penida Bali" (Fauna remains at Gua Gede Cave Site, Nusa Penida). Below follows the article preceded by an English abstract, a summarised English translation is forthcoming.

ati-rati-hidayahImage left: Ati Rati Hidayah at Balai Arkeologi Denpasar, August 2014

Animal remains are important data to corroborate past (prehistoric) life. Animal remains can be exploited as data to verify strategic subsistence (?) and to describe environmental conditions in relation to the fauna habitat. Animal remains constitute the most frequent and interesting findings at Gua Gede Cave Site to be studied more thoroughly in an effort to substantiate circumstantial sigs of human dwelling.

The applied research method is classification, determination and analysis of fauna remains and additional fauna remains in the form of ecofacts, analysing the way they were used. Data processing resulted in the following fauna types found in Gua Gede Cave Site, Nusa Penida. Vertebrate fauna consist of four classes: pisces, aves, reptiles and mammals; invertebrate fauna were found in the form of mollusks. Fauna (remains) in Gua Gede Cave Site were used to satisfy the need for proteins, but also to fabricate tools such as spatula, pointed (animal bone) tools, often used to produce scrapers. Keywords: Fauna type, exploiting animal remains, Gua Gede Cave Site, Nusa Penida.

Abstrak

Sisa fauna merupakan data penting untuk mengungkap kehidupan masa lampau. Sisa fauna dapat dimanfaatkan sebagai data untuk mengungkap strategi subsistensi dan mendeskripsikan keadaan lingkungan pada masa lampu berkaitan dengan habitat fauna tersebut. Sisa fauna sebagai salah satu temuan yang paling banyak di Situs Gua Gede sangat menarik untuk dikaji lebih jauh dengan tujuan mengidentifikasi sisa fauna yang ditemukan di Situs Gua Gede Nusa Penida dan sebagai upaya untuk mengungkap kehidupan manusia penghuni situs ini lebih mendalam, terutama dalam hal pemanfaatan fauna. Metode yang digunakan dalam pembahasan kali ini yaitu dengan mengklasifikasi dan mendeterminasi sisa fauna serta menganalisis sisa fauna berupa ekofak dengan analisis jejak pakai. Setelah proses pengolahan data diatas, dapat diperoleh hasil jenis fauna yang ditemukan di Situs Gua Gede. Jenis tersebut antara lain fauna vertebrata yang terdiri dari 4 kelas, yaitu pisces, aves, reptile dan mammalia. Ditemukan pula fauna invertebrate, yaitu moluska. Pemanfaatan fauna di Situs Gua Gede selain sebagai sumber kebutuhan akan protein juga dijadikan sebagai bahan baku pembuatan alat, yang sering disebut sebagai alat tulang. Diantaranya sudip (spatula) dan lancipan (point) Selain alat tulang, sisa moluska juga dijadikan sebagai alat berupa serut (scraper). Kata Kunci: Jenis Fauna, Pemanfaatan Sisa Fauna, Situs Gua Gede.

Pendahuluan: Latar Belakang

Masa berburu dan mengumpulkan makanan sebagai salah satu periode prasejarah merupakan masa terpanjang dalam sejarah kehidupan manusia. Sebelum mengenal adanya domestikasi, manusia hanya memanfaatkan segala sesuatu yang tersedia di alam. Manusia pada masa lampau memanfaatkan sumberdaya alam di sekitarnya untuk dikonsumsi, seperti yang berasal dari tanaman yang biasanya diperoleh dari jenis kacang-kacangan, biji-bijian, umbi-umbian maupun buah-buahan (Heekern, 1972: 80). Sumber bahan makanan yang berasal dari binatang, biasanya diperoleh dengan cara perburuan binatang mamalia besar, menangkap ikan, mencari kerang, siput serta hewan air lainnya yang bisa dikonsumsi (Noegroho, 1988: 8).

Pada masa mesolitik, ketika manusia mulai memanfaatkan gua-gua alam sebagai tempat tinggal, manusia melakukan strategi subsistensi, salah satunya dengan melakukan perburuan binatang. Oleh karena itu hingga saat ini kita dapat menemukan sisa fauna yang melimpah di situs gua hunian. Alam menyediakan segala kebutuhan manusia untuk hidup. Dalam upayanya untuk memperoleh makanan, manusia tidak hanya menggunakan indra dan fisiknya, tapi lebih dari itu manusia menggunakan akalnya. Dengan kelebihan yang dimiliki, maka manusia membuat alat untuk mempermudah mencari makanan, dengan berbahan baku seperti batu, kayu, tulang dan kerang. (Soejono, dkk., 1984: 2).

Ekofak berupa sisa fauna merupakan data yang sangat penting untuk dikaji sebagai salah satu upaya untuk mengungkap strategi subsistensi manusia pada masa lampau dan juga untuk mengungkap keadaan lingkungan atau ekologi pada masa lalu berkaitan dengan habitat fauna tersebut. Berkaitan dengan bentuk data arkeologi secara umum yang dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu artefak, ekofak dan fitur. Data ekofak merupakan data yang penting untuk diteliti, karena dapat memberikan keterangan mengenai perilaku manusia masa lalu, khususnya mengenai eksploitasi yang dilakukan manusia terhadap lingkungannya untuk bertahan hidup (Binford,1972: 93).

Salah satu situs gua hunian yang memiliki temuan sisa fauna yang berlimpah adalah Situs Gua Gede Nusa Penida. Sisa fauna yang ditemukan dalam penelitian arkeologi di situs gua ini merupakan data terbanyak yang diperoleh, sehingga sangat menarik untuk dikaji lebih jauh. Karena data sisa fauna yang diperoleh sangat banyak, maka pembahasan kali ini hanya terbatas pada hasil dari ekskavasi Kotak GGD I, Kotak GGD II dan Kotak GGD III, Perlu diketahui bahwa penelitian di Situs Gua Gede dilaksanakan sejak tahun 2000 hingga 2011, dan berhasil membuka 5 kotak.

Table 1a (below): Fauna remains Gua Gede box I

Fauna species Spit                  
  1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Arcidae - - 1 - 1 - - 3 - -
Aves - - - 1 1 1 - - - -
Bovidae - - - - - - - - - 2
Cassidae - - - - 7 - - - - 1
Cyclophoridae - 3 - - - - - - - -
Cypraeidae - - 3 - 4 - - 6 3 2
Heliocarionidae - - - 4 6 - - 2 - 3
Hominidae - - - - - - - - 2
Macaca - 7 28 20 79 94 73 84 73 55
Megachiropthera - 1 - - - 2 1 3 - -
Microchiroptera - - - - - 2 - - - -
Muricidae - - - - - - - - - 10
Muridae - - - - - - - - - 4
Neritidae - 1 - 1 9 2 - 1 12 19
Patellidae - - - - 2 - 1 - 1 3
Pisces - - 1 - 1 - - 1 1 -
Strombidae - 2 - - 5 1 - - - 5
Subulinidae - 2 - 2 6 - - - - 2
Suidae 1 - - 4 5 3 5 8 10 27
Tridacnidae - - - 7 - - - 3 - 12
Trochidae - - 1 - 6 - - 4 - 5
Turbinidae - - 2 - - - - - - 4
Varanidae - - 1 - 1 - - 2 1 4
Veneridae - 1 1 5 - - 3 - - 7
Viveridae - 1 - - 2 1 - - - -
Zonitidae - 2 - 1 - 1 - - - -
Unidentified - 2 15 10  20 20 14 20 20 50
Total 1 22 53 53 155 127 97 137 129 217

Table 1b (below): Fauna remains Gua Gede box I

Fauna species Spit                 Total
  11 12 13 14 15 16 17 18 19  
Arcidae - - 3 - - - 3 - - 11
Aves - - - - - - - - - 3
Bovidae - 1 - - - - - - - 3
Cassidae - - - - 1 1 - - - 10
Cyclophoridae - - - - - - - - - 3
Cypraeidae 9 - 9 3 6 - 1 - - 46
Heliocarionidae - - 2 3 2 - 2 - - 24
Macaca 118 158 124 121 160 95 - 35 16 1340
Megachiropthera - - - - - - - 4 5 24
Microchiroptera - - - - - - - - - 2
Muricidae - 6 32 17 15 - 5 - - 85
Muridae - - - - - - 1 - 1 6
Neritidae 36 - 43 31 2 - 2 - - 159
Patellidae - 15 6 5 - - - - - 33
Pisces - - - - - - - - - 4
Strombidae 3 - 2 2 - - - - - 20
Subulinidae 7 - 5 5 - 3 - - - 32
Suidae 43 48 73 33 69 81 3 28 27 468
Tridacnidae 10 - 7 2 15 - 5 - - 61
Trochidae 4 - 14 7 1 - 3 - - 45
Turbinidae 4 1 15 18 4 - - - - 48
Varanidae 3 10 - 5 6 1 - 1 1 36
Veneridae 9 2 14 15 - - 7 - - 64
Viveridae - 3 1 1 - - - - - 9
Zonitidae - - - - - - - - - 4
Unidentified 100 200 25 311 40 121 86 70 48 1172
Total 346 445 376 579 321 303 118 138 98 3715

Rumusan Masalah

Penelitian tentang lingkungan masa lalu berdasarkan sisa fauna telah banyak dilakukan di Indonesia, seperti pada umumnya penelitian tersebut terbatas pada penelitian terhadap identifikasi species, jenis-jenis binatang yang dijadikan sebagai sumber makanan, serta analisis temuan berupa alat (Heekern, 1972: 86).

Sisa fauna yang diperoleh selama proses ekskavasi di Gua Gede Nusa Penida sangat menarik untuk dikaji, selain karena jumlahnya yang berlimpah, juga informasi yang diperoleh dari sisa fauna tersebut sangat diperlukan untuk mengetahui strategi subsistensi dan keadaan lingkungannya pada masa lampau di Situs Gua Gede Nusa Penida. Namun sesuai dengan judul pada pembahasan kali ini, tulisan ini masih merupakan studi pendahuluan untuk kearah sana. Penulis mencoba merumuskan permasalahan yang ingin dijawab pada pembahasan kali ini yaitu, Apa saja jenis fauna yang teridentifikasi di Situs Gua Gede dan dimanfaatkan sebagai apa saja sisa fauna tersebut?

Tujuan dan kegunaan

Pada dasarnya setiap penelitian memiliki tujuan yang terarah. Dalam ilmu arkeologi terdapat tiga tujuan penelitian, yaitu merekonstruksi sejarah kebudayaan; merekonstruksi cara-cara hidup; serta penggambaran proses sejarah kebudayaan (Binford, 1972: 80). Tujuan pembahasan kali ini berkaitan dengan temuan sisa fauna di Situs Gua Gede adalah untuk mengetahui dan memahami macam jenis sisa fauna yang terdapat di Situs Gua Gede, khususnya dari hasil ekskavasi Kotak GGD I, Kotak GGD II dan Kotak GGD III. Selain itu untuk mengetahui pemanfaatan sisa fauna di Situs Gua Gede oleh manusia penghuni situs ini. Selain bertujuan untuk menjawab permasalahan diatas, diharapkan pembahasan ini dapat dijadikan sebagai salah satu sudut pandang untuk mengungkap kehidupan manusia pendukung Situs Gua Gede secara menyeluruh pada masa lalu.

Adapun kegunaan pembahasan kali ini adalah untuk menambah pengetahuan kita mengenai data ekofak di Situs Gua Gede agar kita semakin memahami kehidupan masa lalu dari nenek moyang kita dan untuk memperdalam wawasan kita mengenai warisan budaya leluhur yang sangat bermanfaat bagi generasi saat ini sebagai bagian dari peranan data arkeologi untuk memperkuat jati diri bangsa.

Kerangka teori

Pemanfaatan tulang sebagai peralatan sudah dimulai sejak masa plestosen, selain menggunakan bahan batuan, kayu dan tanduk, alat tulang juga digunakan bersamaan dengan adanya kegiatan perburuan hewan. Awalnya pemanfaatan tulang digunakan dari ketidaksengajaan ketika mengkonsumsi tulang dan mendapatkan pecahan tulang yang tajam, sehingga bisa digunakan sebagai alat. berdasarkan pengalaman tersebut, tulang mulai digunakan dan dikerjakan sebagai alat (Bagyo Prasetyo, 2002: 178).

Binatang merupakan sumber bahan makanan utama disamping tumbuh- tumbuhan, oleh karena itu temuan tulang-tulang binatang dianggap merupakan jenis temuan penting yang dapat dipakai untuk merekonstruksi aktivitas manusia masa lalu, terutama yang berhubungan dengan subsistensi (Subroto, 1986 dalam Jatmiko, 2002: 120).

Sisa fauna merupakan salah satu data yang penting yang diperoleh ketika melakukan ekskavasi. Pada umumnya, sisa fauna diperoleh dari situs hunian pada masa prasejarah. Data ini penting untuk mengungkap pola perburuan, maupun pemeliharaan hewan atau domestikasi binatang yang dipraktekkan oleh manusia pendukung situs tersebut. Selain itu juga untuk melihat kondisi ekologi di lingkungan situs pada masa lalu (Clason, A.T, 1975: 1).

Dalam menganalisis sisa fauna diperlukan proses identifikasi, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Sisa fauna diidentifikasi paling tidak berdasarkan familinya. Informasi yang dilaporkan antara lain total jumlah fauna yang diidentifikasi, jumlah tiap bagian dari spesies yang dikenali, berat tiap-tiap sisa fauna dan jumlah total sisa fauna yang tidak dapat diidentifikasi (Clutton, J. Brock, 1975: 21).

Analisis mengenai sisa fauna sangat diperlukan guna mengetahui tentang hubungan antara manusia dengan fauna yang hidup disekitarnya, dan sejauh mana pemanfaatan oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, serta beragam gambaran lingkungan secara utuh dimasa itu. Temuan sisa fauna dalam suatu ekskavasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu vertebrata dan invertebrata. Melihat banyaknya manfaat dari data arkeologi berupa sisa fauna, sangat menarik untuk dikaji dari hasil ekskavasi yang dilakukan di situs gua hunian yaitu Gua Gede Nusa Penida.

Metode

Dalam penulisan karya ilmiah, memuat beberapa permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya. Untuk mencari jawaban dari masalah tersebut, perlu dicari melalui sebuah penelitian. Pada hakekatnya, dalam sebuah penulisan karya ilmiah harus ditunjang oleh suatu metode, atau cara-cara yang digunakan untuk memahami objek yang menjadi sasaran penelitian (Koentjaraningrat, 1983: 6).

hidayah-2011-picture-01

Map 1 (above): Gua Gede Cave Site, boxes at Gua Gede I, II and III

Lokasi

Situs Gua Gede terletak di Pulau Nusa Penida, yaitu disebelah Tenggara Pulau Bali yang dipisahkan oleh Selat Nusa. Secara administratif situs ini terletak di Dusun Pendem, Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida, dan merupakan bagian wilayah dari Kabupaten Daerah Tingkat II Klungkung. Secara geografis Nusa Penida terdiri dari daerah perbukitan dengan ketinggian antara 200 s/d 500 meter diatas permukaan laut. Situs Gua Gede sendiri berada di ketinggian 200 m diatas permukaan laut. Letak koordinat situs ini, yaitu 8° 57' 25'' Bujur Timur dan 8° 45' 21'' Lintang Selatan.

Cara mengumpulkan data

a. Pengumpulan data dilakukan dengan cara ekskavasi, sebagai data primer dalam penelitian ini. Hasil Ekskavasi yang digunakan dalam pembahasan kali ini adalah dari Kotak I, Kotak II dan Kotak III; b. Pengumpulan data kepustakaan dengan cara mengumpulkan buku-buku panduan identifikasi sisa fauna di situs Arkeologi; c. Wawancara dengan Bapak Rokus Due Awe, peneliti arkeologi di Puslitbang Arkenas yang banyak mendalami mengenai sisa fauna.

Analisis Data

Metode yang digunakan dalam analisis data antara lain: 1. Metode analisis kualitatif dengan metode determinasi yang berguna untuk mengetahui jenis-jenis fauna vertebrata yang diperoleh dalam ekskavasi di Situs Gua Gede, Nusa penida; 2. Metode analisis kuantitatif, yaitu untuk mengetahui jumlah jenis fauna yang diperoleh dalam ekskavasi di Situs Gua Gede Nusa Penida; 3. Metode analisis jejak pakai. Metode ini untuk mengetahui sisa fauna yang dimanfaatkan sebagai alat.

Hasil dan pembahasan: hasil ekskavasi

Sisa fauna yang akan dibahas adalah hasil dari ekskavasi pada tahun 2001 sampai dengan 2004, yaitu Kotak GGD I diperoleh dari hasil pendalaman spit 1 s/d 19; Kotak GGD II diperoleh dari pendalaman spit 1 s/d 17; dan Kotak GGD III dari spit 1 s/d 12. Adapun tabulasi sisa fauna hasil ekskavasi Kotak GGD I, II dan III antara lain sebagai berikut:

Table 2 (below): Fauna remains Gua Gede box II

Fauna species Spit                                 Total
  1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17  
Suidae - - - - - 12 - 2 - - - 5 22 28 28 70 95 262
Cyclophoridae 8 25 - 53 29 - 28 7 4 2 - 1 - - 1 - - 157
Zonitidae - 2 - 2 14 1 27 25 - 15 5 2 4 - 1 - - 98
Neritidae - - - -  6 - 1 5 - - - - 25 6 7 - 50
Subulinidae - - - - - - 50 42 170 - 68 - - - - - - 330
Veneridae - - - - 7 - 3 7 4 - 3- - - 24 10 2 8 68
Viveridae - - - - - - - - - - - 1 4 5 - 2 2 14
Megachiropthera - - - - - - 10 - - 7 10 - 4 3 1 - 23 58
Macaca - - - - - 128 50 - - 94 147 146 200 163 161 66 116 1271
Varanidae - - - - - 12 2 - - 5 4 9 - 12 5 - 3 52
Heliocarionidae 5 5 - 8 15 - - - 5 - - 6 5 1 2 - - 52
Cypraeidae - - - - - 3 2 - 10 - 7 7 11 - 7 - - 49
Turbinidae - - - - 4 - - - 3 - 5 - - - - - - 12
Trochidae - - - - 9 - - - - 1 - 5 - - - - 1 16
Arcidae - - - - - - 1   4 1 4 3 - - 15 - - 28
Pisces - - - - - 4 - - - - 1 - - 5 1 - 2 13
Aves - - - - - 6 1 - - - - 3 - - 1 - 1 12
Patellidae - - - - - 3 - - 5 - - - - - 1   - 28
Tridacnidae - - - - 2 2 - - 5 - - - - 1 19 - - 9
Muridae - - - - - - 3 - - 3 1 1 1 - 1 - 1 11
Hominidae - - - - - - - - - - - - - - 2 - - 2
Arcidae - - - - - - 1 - 4 4 3 - - 15 - - 28
Pleurodontidae 4 1 - 1 5 - 1 5 - 2 - 1 - - - - - 20
Unidentified - - - - 5 50 50 19 30 70 85 87 90 80 121 173 271 1131
Total 17 33 0 64 90 215 229 108 244 206 344 280 341 347 396 322 523 3759

Pembahasan: jenis sisa fauna di situs Gua Gede, Nusa Penida

Secara keseluruhan, sisa fauna hasil ekskavasi dari Situs Gua Gede Nusa Penida terdiri atas dua kelompok besar, yaitu invertebrata dan vertebrata. Hasil pengamatan secara makrokospis menunjukkan bahwa sisa fauna dari kelompok invertebrata terdiri atas Filum moluska dan Filum arthropoda. Sisa moluska berasal dari Kelas gastropoda (siput), pelecypoda (kerang) dan cephalopoda (siput darat) (lihat Foto.1).

Sisa fauna yang termasuk dalam Filum vertebrata yang ditemukan hanya terdiri dari 4 Kelas, yaitu Pisces, Reptilia, Aves dan Mammalia. Sedangkan Kelas Amphibia belum ditemukan.

Sisa fauna dari Kelas pisces terdiri atas rahang atas (maxilla), rahang bawah (mandibula), ruas tulang belakang (vertebrae) dan tajuk duri (prosessus vertebrae), serta gigi lepas. Sisa fauna dari Kelas reptilia terdiri atas ruas tulang belakang yang berasal dari Ordo ophidian (ular) dan dari Famili varanidae (biawak). Sisa fauna dari Kelas aves terdiri atas fragmen tulang paha (femur), dan fragmen-fragmen tulang dada (coracoid) dan tulang belikat (scapula).

Sisa fauna dari Kelas mamalia terdiri atas sisa fauna dari Ordo carnivora (pemakan daging) Famili viveridae (musang-musangan). Bagian dari viveridae yang bisa diidentifikasi terdiri atas fragmen rahang bawah, fragmen tulang lengan (humerus), taring (canine) dan geraham (molar). Terdapat satu gigi taring yang dilubangi akar taringnya yang digunakan sebagai bandul kalung (liontin) (Lihat Foto.2).

hidayah-2011-picture-05hidayah-2011-picture-06

Image above (left): Fauna shell remains: Neritidae, Tridacnidae and Cypraeidae; Image above (right): Bandul Kalung Dari Gigi Taring

Sisa fauna dari Kelas mammalia yang lain adalah sisa fauna dari Ordo chiropteridae jenis chiroptera. Dalam buku Text Book of Palaeontology, Vol. III. Mamalia (Zittel, van; 1925) disebutkan bahwa Jenis chiroptera ada dua, yaitu megachiroptera (kalong) dan microchiroptera (kelelawar). Bagian-bagian tulang dari kedua jenis tersebut yang tersisa hanya rahang bawah dan fragmen tulang panjang (longbone).

Sisa fauna dari kelas mamalia lain berasal dari Ordo rodentia (fauna pengerat), Famili muridae (tikus-tikusan). Bagian tulang dari Famili muridae yang bisa diidentifikasi terdiri atas fragmen rahang bawah, fragmen tulang lengan (kaki belakang bagian bawah). Sisa fauna dari Kelas mamalia yang lainnya berasal dari Ordo primate (manusia, kera dan monyet), Famili hominidae (manusia) dan Famili cercoppithecidae terdapat Spesies maccaca.

Bagian bagian badan Maccaca sp. yang berhasil diidentifikasi terdiri atas fragmen tulang tengkorak, fragmen rahang atas, fragmen rahang bawah, fragmen tulang hasta (kaki depan), fragmen tulang paha, fragmen tulang kering, fragmen tulang betis, fragmen tulang kaki belakang (astrogelus kalkaneus), fragmen telapak kaki depan (metacarpal) fragmen telapak kaki belakang (metatarsal).

Sisa fauna Kelas mamalia yang lain yang berhasil diidentifikasi diketahui berasal dari sisa fauna Ordo ortiodactyla (fauna berkuku genap), Famili suidae (babi). Bagian – bagian dari badan babi yang bisa diidentifikasi terdiri atas tulang tengkorak, fragmen rahang atas, fragmen tulang lengan kaki depan, fragmen tulang punggung, fragmen tulang hasta (kaki depan bagian bawah), fragmen tulang belika, fragmen ruas tulang belakang, fragmen tulang pinggul, fragmen tulang paha (femur), fragmen tulang kering, fragmen tulang telapak kaki depan, tulang telapak kaki belakang serta tulang jari (phalanges).

Sisa fauna Macaca sp dan Suidae merupakan sisa fauna yang paling banyak ditemukan. Hal ini dimungkinkan karena ukuran binatang ini lebih besar dibandingkan fauan lain yang dikonsumsi, sehingga menghasilkan sisa tulang yang banyak atau Macaca dan Suidae merupakan hewan buruan yang paling banyak dikonsumsi. karena jumlahnya yang masih melimpah pada masa itu.

Sisa-sisa fauna dari Filum arthropoda yang diidentifikasi berasal dari Famili balanidae (teritip) dan Famili natinidae (udang-udangan). Selain sisa fauna yang dapat di identifikasi, terdapat sisa fauna yang tidak dapat di identifikasi lagi dengan jumlah yang sanagt banyak. Hal ini dikarenakan sisa fauna tersebut pecahannya sangat kecil (Lihat Foto.3)

hidayah-2011-picture-07

Image above: Non-identified fauna remains

Pemanfaatan sisa fauna di situs Gua Gede, Nusa Penida

Fauna merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya akan protein, selain yang berasal dari tumbuhan. Sisa fauna yang tidak ikut dikonsumsi dimanfaatkan oleh manusia, dijadikan sebagai alat untuk mempermudah melakukan pekerjaan. Berawal dari ketidaksengajaan mendapatkan tulang setelah dikonsumsi dagingnya yang bentuknya cocok sebagai suatu alat, manusia mulai mengerjakan tulang tersebut untuk digunakan sebagai alat yang lebih spesifik.

Di Indonesia terdapat situs-situs yang mengandung tradisi alat tulang dan tanduk seperti di Situs Gua Braholo (DIY), Situs Ngandong (Jateng), Situs Gua Lawa, Situs Song Keplek, Situs Gua Lawang (Jatim), Situs Leang Cadung (Sulsel), Situs Gua Babi (Kalsel) (Prasetyo, 2002: 178-180). Di Bali ditemukan di Situs Gua Selonding oleh R.P. Soejono pada tahun 1961 yaitu alat tulang berupa lancipan yang serupa dengan lancipan ganda (munduk point) dari Sulsel (Soejono, R.P, 1984: 151).

Sisa fauna yang ditemukan di Situs Gua Gede yang teridentifikasi sebagai alat tulang sebanyak 8 buah, yang terdiri atas lancipan (point) dan sudip, Hal ini dikarenakan klasifikasi awal hanya melihat tulang tersebut dari bentuknya yang tajam atau runcing tanpa mempertimbangkan analisis lebih jauh yaitu analisis jejak pakai dan teknik pengerjaan. Sehingga banyak tulang yang berbentuk runcing dikategorikan sebagai alat tulang. Pada umumnya sisa-sisa tulang yang dijadikan alat tersebut berasal dari bagian tulang panjang atau tulang betis yang dijadikan sebagai alat dengan bentuk sudip (spatula) dan lancipan (point) (Lihat Foto.4).

Pemanfaatan sumber daya fauna di Situs Gua Gede tidak hanya terbatas pada vertebrata, namun juga invertebrata. Hal ini terlihat dari temuan cangkang kerang dan sebagian dimanfaatkan sebagai alat. Pada umumnya jenis cangkang yang ditemukan sebagai alat dari famili veneridae dan dimanfaatkan sebagai alat dengan bentuk serut (scrapper).. Selain itu juga ditemukan perhiasan berupa bandul kalung yang berasal dari moluska jenis Gastropoda (lihat foto. 5).

hidayah-2011-picture-08hidayah-2011-picture-09

Images above (left): Bone tools; Image above (right): Bandul Kalung dari Gastropoda

Berdasarkan pengamatan stratigrafis, mayoritas temuan sisa fauna di Gua Gede berasal dari lapisan antara 1 - 2 meter. Diperkirakan sisa fauna tersebut berasal dari periode mesolitik dan neolitik hal ini diperkuat dengan konteks temuan berupa alat batu serpih bilah dan beliung sederhana, sesuai dengan penanggalan yang diperoleh melalui metode C-14 pada spit ke- 16 Kotak GGD II, dengan umur 3800 ± 25 tahun.

Melihat uraian diatas sesuai dengan pendapat A.T. Clason (1975:1) diatas bahwa fauna merupakan salah satu data penting untuk melihat pola perburuan sampai dengan adanya domestikasi karena kebutuhan yang semakin meningkat. Meskipun belum terlihat pola domestikasi di Situs Gua Gede Nusa Penida. Yang lebih menonjol adalah perburuan mamalia sedang dan perburuan fauna kecil yang lebih dikenal dengan collecting. Subroto (1986), yang menyatakan fauna merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia akan makanan pada masa lalu, memperkuat dugaan pemanfaatan fauna yang intensif di Gua Gede Nusa Pneida, selain pemanfaatan dari tumbuhan maupun buah-buahan. Sampai dengan saat ini, fauna menjadi makanan pokok pendamping karbohidrat.

Maka dapat dipastikan bahwa penghuni Gua Gede pada masa itu memanfaatkan sumber daya fauna baik vertebrata maupun invertebrata untuk memenuhi kebutuhan hidup sebagai sumber makanan dan sebagai bahan baku pembuat alat. Hingga saat ini pemanfaatan sisa fauna masih digunakan namun lebih cenderung untuk kebutuhan akan seni, karena kebutuhan akan alat telah tergantikan dengan adanya temuan logam yang jauh lebih kuat dan tahan lama.

Table 3 (below): Fauna remains Gua Gede box III 

Fauna species Spit                       Total
  1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12  
Suidae 1 - - - - 1 - - - 4 - - 6
Zonitidae - 1 5 13 - 5 1 2 - 2 - - 29
Neritidae - 5 3 5 - 34 34 37 32 48 - 4 202
Subulinidae - 1 3 1 - 1 2 3 2 1 - - 14
Veneridae - - - - 2 19 26 4 5 11 - - 70
Viveridae - - - - - 1 - - - - - - 1
Megachiropthera - - - - - - - - - - - - 0
Macaca - - - - - 2 - - 22 28 - - 52
Varanidae - - - - - - - - - - - - 30?
Heliocarionidae - - 3 4 - 12 3 4 2 2 - - 30
Cypraeidae 5 - 23 13 - 49 24 32 42 42 - - 230
Turbinidae 10 3 6 16 - 18 18 20 12 27 - - 130
Trochidae - 3 5 1 - 16 6 13 10 19 - - 73
Arcidae - 4 10 - - 12 12 8 8 11 - 2 67
Pisces - - - - - 5 - - 2 - - - 7
Aves - - - - - - - - - - - - 0
Patellidae - - - - 1 - 1 3 1 1 - - 7
Tridacnidae - - - 2 3 1 8 9 10 12 - - 45
Muridae - - - - 1 - 1 1 1 - - - 4
Conidae 3 3 - 3 - 5 - 8 1 3 - - 26
Donacidae - - 4 - - 15 1 4 - 2 - 1 27
Cardidae - - 3 - - 2 1 3 - 2 - - 11
Balanidae - - 4 3 2 8 2 5 - 3 - - 27
Pleurodontidae - - 1 4 3 15 - 3 1 2 - - 29
Unidentified  8 8 11 44 20 53 32 27 14 25 20 5 267
Total 28 29 83 109 32 274 172 186 165 245 20 12 1355

Penutup: kesimpulan

Jenis sisa fauna yang paling banyak ditemukan di Situs Gua Gede pada Kotak GGD I, Kotak GGD II dan Kotak GGD III, antara lain Maccca sp. (kera) dan Suidae (babi). Selain sisa fauna vertebrata juga ditemukan invertebrata berupa moluska yang juga berjumlah sangat banyak, terutama dari jenis Neritidae. Dilihat dari banyaknya temuan sisa fauna dapat dipastikan bahwa Gua Gede dihuni secara intensif oleh manusia pendukungnya dengan perburuan fauna-fauna kecil atau collecting dan perburuan mamalia berukuran sedang, seperti babi dan monyet.

Namun belum ada indikasi bahwa telah dilakukan domestikasi fauna, hal ini terlihat dari tidak adanya sisa fauan yang menonjol di Situs Gua Gede. Namun perlu ditegaskan bahwa dugaan ini bersifat sementara sehingga memerlukan analisis lebih jauh mengenai domestikasi binatang di Situs Gua Gede. Meskipun terdapat sisa fauna lebih banyak pada jenis Macaca dan Suidae, namun hal ini di duga lebih dikarenakan perburuan binatang ini lebih sering karena jumlahnya yang banyak dan sisa tulang yang lebih banyak karena ukuran binatang ini lebih besar dibandingkan yang lain.

Pemanfaatan fauna selain sebagai kebutuhan pokok akan makanan juga digunakan sebagai alat untuk memper mudah pekerjaannya. Hal ini terlihat dari pemanfaatan sisa fauna di Gua Gede berupa tulang panjang fauna tertentu, seperti Macaca, yang dijadikan sebagai alat seperti sudip (spatula) dan lancipan (point). Selain itu sisa fauna berupa taring binatang Suidae (Babi) dan moluska jenis gastropoda juga dimanfaatkan sebagai perhiasan seperti bandul kalung (liontin).

Saran

Sisa fauna merupakan data yang penting untuk merekonstruksi kehidupan masa lampau sehingga harus mendapat perhatian lebih dalam penanganannya. Sisa fauna hasil ekskavasi di Situs Gua Gede merupakan data terbanyak yang ditemukan sehingga analisa lebih lanjut sangat diperlukan. Diharapkan pada masa yang akan datang semakin banyak arkeolog maupun mahasiswa arkeologi yang tertarik untuk mengkajinya.

Daftar pustaka

  • Anonim, 2005., "Kecamatan Nusa Penida Dalam Angka 2005", Badan Pusat Statistik Kabupaten Klungkung. Denpasar: Aristya Jaya.
  • Brock, J. C., 1975., "A System For Retrieval Of Data Relating To Animal Remains From Archaeological Site", Archaeozoological Studies., ed. Calson, A.T. North Holland Amsterdam-Oxford-American Elsevier New York.
  • Binford, Lewis R., 1972., Archaeological Perspective. New York: Seminar Press.
  • Cornwall, I.W., 1960. "Bones For The Archaeologist", Phoenix House ltd. London.
  • Heekeren, H.R.Van, 1972., Stone Age of Indonesia. Tha Hague Martinus Nijhoff.
  • Jatmiko, 2002., "Sisa Fauna (Macaca sp.) dan Situs Song Terus",Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA), Yogyakarta 1999.
  • Koentjaraningrat, 1983., Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  • Mc Carthy, F.D., 1976., "Australian Aboriginal Stone Implements, Including Bone, Shell and Tooth Implements", Australian Museum Trust, Sydney.
  • Noegroho, Anggit, 1988., "Sumber Daya Fauna, Aktivitas Perburuan dan Pemanfaatan Binatang pada Kala Pasca Pleistosen di Jawa Timur", dalam Majalah Berkala Arkeologi. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta
  • Nurani, Indah Asikin, 2001, "Pola-Pola Komunitas Situs Gua Kawasan Timur Jawa". Majalah Berkala Arkeologi. Tahun XXI, No: 1/ Mei 2001. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta
  • Prasetyo, Bagyo, 2002. "Persebaran Alat Tulang di Asia Tenggara Daratan maupun Kepulauan"(hal. 178 s/d 183). Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA), Yogyakarta 1999.
  • Simanjuntak, Truman., 2008. "Metode Penelitian Arkeologi", Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Badan Pemberdayaan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
  • Soejono, et al.,1984. "Jaman Prasejarah di Indonesia", Sejarah Nasional Indonesia I, Ed. Ke 4 (Eds. Marwati Djoenoed Pusponegoro, Nugroho Notosusanto), Dep. P dan K., Balai Pustaka.
  • Trigger. G. Bruce., 1968. "The Determinations of Settlement Patterns", Settlement Archaeology, Chang.K.C. National Press Book. California.
  • Zittel, 1925., "Text Book of Palaeontology". Vol. III Mammalia

Source

  • Hidayah, Ati Rati - Sisa Fauna Situs Gua Gede Nusa Penida Bali (Balai Arkeologi, Denpasar 2011)

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24