Nusa Penida Survey (Geria, 1997)

In 1996, I Made Geria from the Archaeological Department in Denpasar (BAD) conducted field studies to a number of temples in Nusa Penida. The team found more than 35 statues and architecturally interesting structures, amongst which the 'padma' at Pura Puncak Mundhi, the temple at the highest elevation in Nusa Penida (535m), facing Mount Semeru in East Java. 'Padma' in Balinese means lotus, and 'padmasana' is defined as the throne of a god in the inmost court of a temple. After extensive research, BAD concluded that the statues found in temples around Nusa Penida had been brought in from mainland Bali, and that architectural structures such as the 'padma' at Mundhi, but also the 'Manusia Kangkang' shrine at Pura Meranting (Batukandik) were influenced by Hindu religion from outside Bali.

geria-1996-coverThe conclusions were published in 1997, in a report called "Berita Penerbitan Arkeologi Klasik No. 2" (along with a report on excavations at Srokadan, mainland Bali) and seems to be the earliest publications of archaeological interest in Nusa Penida. These investigations were soon to be followed by a description on the architectural structure of padmasana 'Manusia Kangkang' at Batukandik temple by A.A. Gde Bagus in 1997, and an article on the same temple by the late I Made Suastika. Suastika continued to work and write on Nusa Penida for BAD until he died in 2011. Today, the young and talented Javanese Ati Rati Hidayah is responsible for archaeology in Nusa Penida. Under the guidance of Dewa Kompiang, BAD concluded its latest official archaeological visit to Gua Gede cave at Ambengan, beginning of August 2015.

Below is the original text of the 1997 article, an English translation is forthcoming; this article is still under revision.

Berita Penerbitan Arkeologi Klasik No. 2 - Laporan Survei (Situs) Nusa Penida

Kata Pengantar

Sehubungan dengan Penerbitan Berita Penelitian Arkeologi (BPA) ini, maka perlu dikemukakan, bahwa BPA ini adalah penerbitan yang pertama dilaksanakan di Bali sebagai salah satu kegiatan Bagian Proyek Penelitian Purbakala Bali tahun anggaran 1996/1997. Dalam BPA ini, disajikan dua buah laporan yaitu hasil survei Arkeologi Klasik di situs Nusa Penida, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung dilakukan oleh Balai Arkeologi Denpasar. Penelitian di situs Nusa Penida ini merupakan penelitian yang kedua kalinya. Penelitian pertama adalah penelitian arsitektur tradisional Bali di Kabupaten Klungkung, dan penelitian tahun ini adalah merupakan tindak lanjut kunjungan sehari bersama Bidang PSK Kanwil Depdikbud Prop. Bali, Museum Bali, dan Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Bali, NTB, NTT dan TIMTIM dalam rangka memasyarakatkan Undang-undang No. 5/1992 tentang cagar budaya.

Penelitian kali ini telah memberikan petunjuk, bahwa arca-arca klasik di Nusa Penida didatangkan dari Bali mengingat bentuk dan materi yang dipergunakan adalah sama, yang tidak ditemukan di Nusa Penida. Dari segi arsitektur menunjukkan bahwa kawasan Nusa Penida pernah mendapat pengaruh unsur tradisi Hindu dari luar Bali. Penelitian tahun ini dilaksanakan selama sembilan hari mulai tanggal 3 sampai dengan 11 Juli 1996, tim terdiri dari: 1. Drs. I Made Geria (Ketua Tim); 2. Drs. I Wayan Suantika (Anggota); 3. Drs. A.A. Gede Bagus (Anggota); 4. Drs. I Made Jaya (Anggota); 5. Drs. I Nyoman Sunarya (Anggota); 6. Drs. I Wayan Badra (Anggota); 7. Drs. I Gusti Made Suarbhawa (Anggota); 8. I Nyoman Wirda (Anggota).

Laporan yang kedua ialah hasil penggalian dan survei dari situs Srokadan Desa Abuan. Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli. Penggalian di situs ini merupakan tindak lanjut dari survei yang dilakukan tahun 1995 di Kecamatan Susut dan Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli. Hasil ekskavasi maupun survei menunjukkan adanya bangunan yang diduga merupakan bangunan candi yang cukup besar, namun data yang diperoleh baru sedikit, sehingga penelitian di situs Srokadan ini perlu dilanjutkan pada masa yang akan datang. Penelitian dilaksanakan selama 14 hari mulai tanggal 27 Oktober sampai dengan 9 Nopember 1996. oleh tim yang terdidi dari: 1. Drs. I Gusti Made Suarbhawa (Ketua tim); 2. Drs. A.A. Oka Astawa. M. Hum. (Anggota); 3. Drs. I wayan Suantika (Anggota); 4. Drs. I Nyoman Sunarya (Anggota); 5. Drs. A.A. Gede Bagus (Anggota); 6. Drs. I Wayan Badra (Anggota); 7. Drs. I Made Geria (Anggota); 8. Drs. I Made Jaya (Anggota); 9. I Nyoman Puja SST (Anggota).

Penelitian tersebut di atas telah berjalan dengan baik atas perhatian dan bantuan yang diberikan Bapak Gubernur kepala Daertah Tingkat I Bali, Kepala Kantor Wilayah Depdikbud Prop. Bali. Bupaii Kepala daerah Tingkat II Klungkung, Kepala kantor Depdikbud Kabupaten Klungkung. Camat Nusa Penida, Kepala kantor Depdikbud Kecamatan Nusa Penida. Kepala Desa dan masyarakat di sekitar lokasi penelitian: Bapak Bupati Kepala Daerah Tingkat II Bangli, Kepala Kantor Depdikbud Kabupaten Bangli, Camat Susut. Kepala Kantor Depdikbud Kecamatan Susut, Kepala Desa Abuan, dan memuka adat serta masyarakat Abuan. Atas segala bantuannya, dengan ini kami sampaikan terima kasih dan semoga kerja sama ini dapat dilanjutkan pada masa yang akan datang.

Disadari sepenuhnya, bahwa BPA ini mempunyai kekurangan, karena bergai hal. Walaupun demikian diharapkan, mudah-mudahan penerbitan ini bermanfaat tidak hanya bagi pengembangan dan peningkatan studi arkeologi di tanah air, tetapi juga bagi pemerintah khususnya bagi Pemerintah Daerah dalam pelestarian dan pemanfaatan sumber daya arkeologi. Di samping itu diharapkan pula, agar penerbitan ini bermanfaat bagi masyarakat sebagai informasi mengenai warisan budaya yang patut dijadikan bekal dalam menghadapi kehidupan yang semakin kompleks.

Denpasar, 24 Januari 1997, Dewan Redaksi

Penelitian Situs Nusa Penida - Oleh: I Made Geria

Bagian Proyek Penelitian Purbakala Bali, 1996/1997

Ringkasan

Nusa Penida merupakan pulau terlepas dari daratan Pulau Bali, tetapi secara administratif termasuk Kabupaten Klungkung, Propinsi Daerah Tingkat I Bali. Letak geografis 8° 41' 53" Bujur Timur dan 8° 43' 46" Lintang Selatan, pada lokasi ibu kota kecamatan yaitu Sampalan.

Penelitian di Nusa Penida kali ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan bersama di Lingkungan Kanwil Depdikbud Propinsi Bali dalam rangka memasyarakatkan Undang Undang No. 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Pada saat kunjungan tersebut ditinjau beberapa pura yang memiliki benda-benda kuna. Dalam penelitian ini telah diidentifikasi lebih dari 35 buah arca dan arsitektur terutama bangunan padma di pura Pucak Mundi yang berkiblat ke gunung Semeru. Dari hasil analisis yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa seni arca masa klasik di pulau Nusa Penida didatangkan dari Bali, sedangkan data arsitektur menunjukkan bahwa kawasan Nusa Penida pernah mendapat pengaruh unsur Hindu dari luar Bali.

Daftar gambar

1. Pelinggih Padmasana di Pura Meranting Batu Kandik
2. Arca Pendeta dan Arca Perwujudan di Pura Saab
3. Arca Perwujudan di Pura Mastulan
4. Arca sederhana di Pura Puseh Suana
5. Denah Pura Griya, Dusun Bayuh

Daftar foto

1. Arca Perwujudan Bhatara di Pura Saab
2. Arca Perwujudan Bhatari di Pura Saab
3. Arca Ganesa di Pura Saab
4. Arca Perwujudan Pendeta di Pura Saab
5. Bangunan Padma dengan Hiasan Manusia Kangkang di Pura Meranting

Pendahuluan - Lokasi

(p.1) Nusa Penida adalah pulau kecil yang terletak di sebelah tenggara Pulau Bali dan dipisahkan oleh selat yang disebut Selat Nusa, dan termasuk wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Klungkung. Kecamatan Nusa Penida dengan ibukota Sampalan. Secara geografis Nusa Penida terletak pada 8° 40 '54 " lintang selatan dengan ketinggian 3 m. di atas permukaan laut.

Untuk mencapai Nusa Penida dapat ditempuh dari Denpasar menuju Klungkung, Kusamba. Dari pantai Kusamba dengan mempergunakan perahu bermotor menyeberangi Selat Nusa kurang lebih satu jam sampai di Toya Pakeh. Atau dari pantai Sanur dengan mempergunakan perahu bermotor kira-kira dua jam sampai di tempat yang sama. Dari Toya Pakeh sampai di Sampalan ditempuh dengan angkutan umum.

Latar Belakang Penelitian

Penelitian di Nusa Penida telah dirintis oleh Claire Holt yang mulai mengawali kunjungannya ke wilayah ini tahun tigapuluhan. Hasil kunjungannya diterbitkan dalam majalah Djawa tahun 1933, dengan judul The Bandit Island, A Short Exploration Trip to Nusa Penida. Dalam laporan itu disinggung adanya temuan arkeologi di beberapa pura di wilayah, antara lain di Pura Saab, Pura Medahu, dan Pura Meranting.

Kemudian pada tahun 1981 sebuah tim peneliti dari Balai Arkeologi Denpasar telah pula mengadakan penelitian dalam bidang arsitektur, khususnya arsitektur tradisional masyarakat di Nusa Penida. Dalam penelitian ini belum disinggung tentang adanya arsitektur bangunan-bangunan suci yang ada di wilayah tersebut.

Selanjutnya dalam rangka pemasyarakatan Undang-Undang Cagar Budaya di wilayah Nusa penida, penulis berkesempatan hadir dalam kegiatan tersebut. Di dalam wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat dapat diperoleh informasi, bahwa Kecamatan Nusa Penida banyak memiliki bangunan suci (pura). Dijelaskan, bahwa di antara pura-pura tersebut ada yang memiliki arca-arca kuna, dan beberapa bangunan yang wujud arsitekturnya memiliki keunikan tersendiri. Dengan mengacu kepada latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan, bahwa penelitian arkeologi perlu segera dilaksanakan.

Masalah

Berita temuan arkeologi dari Claire Holt dan informasi yang diberikan oleh masyarakat telah menimbulkan berbagai masalah yang berkaitan dengan keberadaan benda-benda arkeologi di Nusa Penida. Masalah yang patut dikemukakan antara lain: a. Sampai dengan saat ini Balai arkeologi Denpasar sehagai Instansi yang berkompeten dalam bidang penelitian arkeologi belum pernah mengadakan penelitian secara menyeluruh terhadap wilayah Nusa Penida, khususnya berkaitan dengan adanya arca-arca yang tersimpan di dalam pura-pura.; b. Karena Nusa Penida merupakan sebuah pulau yang terpisah dengan Pulau Bali, maka perlu diadakan penelitian arkeologi untuk dapat mengetahui adanya persamaan dan perbedaan budaya yang pernah berlangsung dan mencoba untuk mengetahui hubungan yang mungkin pernah terjadi di masa lampau.; c. Mencoba meneliti ulang dan merinci kembali arca-arca yang pernah dilihat dan dicatat oleh Claire Holt yang disebutkan dalam "The Bandit Island A Short Exploration Trip to Nusa Penida".

Tujuan dan manfaat penelitian

Dengan latar belakang dan masalah penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian arkeologi di Nusa penida memiliki tujuan sebagai berikut: a. Mengadakan pendataan dan pendokumentasian benda-benda arkeologi yang tersimpan di pura-pura yang tersebar di seluruh wilayah Nusa Penida, sehingga dapat diketahui bentuk dan jenisnya, masa budayanya, dan fungsinya di masa lampau dan masa kini; b. Dengan penelitian ini diharapkan akan dapat diketahui berbagai aspek budaya, proses budaya yang pernah terjadi di wilayah tersebut; c. Diharapkan pula dengan mengetahui berbagai aspek peninggalan budaya tersebut, akan dapat diketahui kualitas dan kuantitasnya dan dapat diperbandingkan dengan aspek-aspek budaya yang pernah berkembang di Pulau Bali dan pulau lainnya di Nusantara.

Di samping memiliki tujuan seperti tersebut di atas, penelitian ini diharapkan pula memiliki manfaat sebagai berikut: a. Agar masyarakat lebih mengenal makna dan fungsi peninggalan tersebut, sehingga akan muncul rasa memiliki dan rasa cinta terhadap budaya sendiri; b. Dengan adanya pengertian yang mendalam, diharapkan agar benda-benda tersebut akan aman dan terlindungi, sehingga dapat dijadikan media pemujaan sepanjang masa.

Metode penelitian

Dalam melaksanaan penelitian peninggalan arkeologi di Nusa Penida dilakukan secara bertahap dengan metode: a. Tahap pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan untuk mendapatkan data tambahan yang berkaitan dengan situs yang diteliti, yang dilanjutkan dengan observasi (pengamatan) secara langsung terhadap benda-benda itu beserta dengan lingkungannya, sehingga diperoleh data yang lebih akurat dan meyakinkan; b. Tahap analisa yaitu dilakukan dengan mengadakan analisa kualitatif dan kuantitatif, dengan harapan akan dapat diketahui mutu benda yang dan jumlah benda dikaitkan dengan analisis teknologi. fungsi dan bentuk benda. Kemudian dilanjutkan dengan studi komparatif yaitu mencoba memperbandingkan dengan benda-benda di daerah lain yang memiliki persamaan, sehingga akan dapat disimpulkan berbagai aspek budayanya.

Hasil survei

(p.3) Dari sembilan pura yang telah disebutkan di atas, di antaranya terdapat empat buah pura yang memiliki peninggalan arkeologi yang lebih menonjol dibandingkan dengan pura lainnya. Adapun kekunaan yang ditemukan di dalam empat pura itu adalah arca, sisa bangunan (arsitektur), dan pura tempat penyimpanan benda-benda itu adalah sebagai berikut.

Pura Saab

Di Pura Saab, Desa Batu Madeg, ditemukan paling banyak kekunaan jika dibandingkan dengan pura lainnya. Arca-arca yang ditemukan di sini, antara lain adalah arca perwujudan Bhatara/Bhatari sebanyak 13 buah yang utuh dan 18 buah fragmen. Beberapa fragmen arca terdiri atas bagian badan, bagian kepala dan perhiasan yang sudah aus, sehingga sulit untuk diidentifikasi. Ditemukan sebuah arca Ganesa dalam keadaan utuh (lih. tabel 1), Arca Pendeta (lih. tabel 1), arca Naga (lih. tabel 1) dan ragam hias (lih. tebal 3), hiasan (lih. tabel 3), dan perhiasan (lih. tabel 3).

Pura Mastulan

Di Pura Mastulan, Desa Kutampi ditemukan dua buah arca perwujudan Bhatara/Bhatari yang terbuat dari batu padas, (lih. tabel 1) dan hiasan (lih. tabel 3). Arca ini terbuat dari batu padas. Sikap tangan, kedua tangan seolah-olah menutupi dada.

Pura Batu Medahu

Di Pura Batu Medahu, Desa Suana, yang disebutkan dalam "Bandit Island" oleh Claire Holt, ditemukan sejumlah arca yang diidentifikasikan mirip dengan arca di Pura Penulisan Kintamani (Holt, 1933 : 133). Ternyata pada penelitian kali ini arca-arca tersebut tidak ditemukan lagi, hanya ditemukan dua buah fragmen yang diduga bagian kaki arca.

Pura Segara

Di Pura Segara, Desa Sakti ditemukan empat buah fragmen arca yang bentuk dan motif-motof hiasannya dapat dikenali, yaitu mahkota berbentuk kirita makuta berhiasan kelopak bunga padma, kankana berbentuk tali polos susun tiga, gelang lengan berbentuk segitiga, udara banda pita lebar polos, kundala berbentuk ratna, sampur berhias garis, terdapat hiasan antarya polos panjang sampai pergelangan kaki dan pada upada berbentuk tali bersusun tiga.

Pura Meranting

Di Pura ini terdapat padma yang berhiaskan pelipit (pepalihan). Motif badan padma dibentuk semacam relief arca sederhana dengan payudara yang jelas, kedua tangan menyangga stana padma dengan posisi kaki kangkang (manusia kangkang). (p.4) Temuan pendukung lainnya berupa sejumlah arca yang ditempatkan pada bangunan ini, yang berukuran kecil dan digambarkan dengan wujud orang menyusui dan posisi orang melahirkan.

Pura Dalem

Di Pura Dalem, Desa Batu Kandik, terdapat padma yang bentuknya sederhana. Bentuk yang demikian disebut padma capah. Bangunan padma ini tergolong miniatur, karena ukurannya kecil. Di bagian depan terdapat hiasan payudara berbentuk segitiga. Miniatur padma ini ditemukan sebanyak tiga buah (lih. tabel 4).

Merajan/Sanggah

Temuan lainnya berupa tiga lembar prasasti tembaga yang ditemukan di Merajan/Sanggah di rumah Nyoman Jaya Banjar Maos desa Buyuh yang disimpan dalam gedong yang tinggi. Wilayah ini termasuk Banjar Maos Desa Buyuh, Nusa Penida. Prasasti ini dimiliki dan disungsung oleh pengemong Pura Griya, dan prasasti ini berisi pengeling-ngeling (pemberitahuan) tentang bukti Pura Maos, serta batas-batas wilayah. Prasasti ini berasal dari tahun 1815 Saka [AD 1893]. Namun, dengan ditemukan tulisan Dewa Negari pada salah satu prasasti tersebut, ada suatu indikasi, bahwa prasasti tersebut merupakan salinan dari prasasti tembaga yang ditulis dengan huruf Dewa Negari. Kemudian salinan itu diberikan kepada masyarakat karena diperlukan oleh Cekorde I Dewa Agung Puri Kaleran , Klungkung. Dari tiga lembar prasasti tembaga wasa (tembaga yang tipis) itu, dua di antaranya ditulis pada kedua sisinya, sedangkan lempengan ketiga hanya ditulis pada satu sisi, dan pada bagian akhir disambung dengan tulisan Dewa Negari.

Analisis - Seni arca

(p.5) Pengamatan terhadap sejumlah arca yang ditemukan di beberapa Pura di Nusa Penida khususnya arca-arca masa klasik menunjukkan langgam yang sama dengan arca-arca yang ditemukan di wilayah Bali Selatan pada masa Bali Madya (abad 13-14). Jika mengacu kepada teori Rouse mengenai teknologi mode, maka pengamatan perlu ditekankan kepada cara pengerjaan artefak tersebut. Setelah diamati ternyata tidak terlihat adanya perbedaan penggarapan. Penyelesaian akhir (finishing touch) yang dikerjakan secara sederhana tidak terlihat ada kesan unsur pembeda. Sangat berbeda dengan yang ditemukan di Bali Utara yang memiliki dimensi penggarapan dengan ciri-ciri yang berbeda (Geria, 1996: 13). Tipe arca-arca yang ditemukan di Nusa Penida lazim ditemukan di daerah Gianyar, Badung dan Klungkung (Bali Selatan). Di daerah ini lebih dominan berkembang tipe-tipe arca karya Mpu Bga yang ditemukan di sejumlah Pura di Bali, seperti di Pura Sibi Agung, Gianyar. Ciri-ciri yang spesifik pada periode ini tampak dari penggarapan yang terkesan agak kasar (kaku) dan anatomis kurang sempurna. Tidak dipungkiri, bahwa penggarapan unsur seni terkait pula pengaruh subyektif seniman masing-masing dan pengaruh akibat dari hal-hal yang telah disediakan oleh lingkungan (Kluckhohn, 1944: 1-9). Unsur-unsur lokal hasil kreativitas seniman dan pengaruh faktor alam lingkungan tidak tercermin pada seni arca di Nusa Penida pada masa klasik, padahal sebagian besar kawasan ini mempunyai kandungan alam berupa batu kapur. Pembuatan arca-arca masa klasik, sama sekali tidak memanfaatkan batu kapur seperti arca-arca yang bercirikan megalitik yang ditemukan di wilayah ini yang sebagian besar bahannya dari batu kapur. Kebanyakan bahan yang dipergunakan untuk membuat arca-arca masa klasik berasal dari batu padas yang seperti pada umumnya ditemukan di Bali.

Dari kenyataan ini tidaklah mustahil dugaan, bahwa arca-arca yang ditemukan di wilayah Nusa Penida ini sengaja didatangkan atau dibawa dari Bali Selatan. Hal ini sesuai dengan kepercayaan masyarakat Bali yang masih berlaku sampai sekarang apabila keluarga keluar wilayah bermukim ke wilayah lain, unsur-unsur yang terkait dengan pemujaan leluhur masih tetap terbawa. Misalnya membuat bangunan pemujaan untuk leluhur yang di Bali dikenal dengan sebutan Sanggah Kemulan. Budaya yang demikian ini berlaku sejak dulu, bahkan desa-desa kuna di Bali seperti di sejumlah desa di Tamblingan tradisi memendak laulan sampai sekarang masih berlangsung. Tradisi ini dikenal sebagai memendak taulan, artinya memendak leluhur untuk distanakan di tempat pemujaan di wilayah pemukiman desa-desa yang baru (Geria, 1993: 45). Tidak mustahil juga munculnya simbul-simbul pemujaan ini tidak semata-mata bertujuan untuk kepentingan relights, tetapi juga terkandung muatan politis dari penguasa pada masa itu, dalam arti simbul-simbul penghormatan terhadap raja dan tokoh-tokoh kerajaan ataupun keluarga raja dalam bentuk arca-arca untuk menanamkan kekuatan-kekuatan di wilayah tersebut. Sebagaimana disebutkan oleh Malinowski pemujaan ini merupakan suatu ungkapan perasaan, sikap dan (p.6) hubungan skunder antara anggota dengan para pemimpin (O'dea. 1985: 75). Di sini tercermin tindakan penghormatan terhadap leluhur dan terhadap raja-raja yang berkuasa dengan ritus-ritus pemujaan menandakan kebersamaan sikap, memperkuat solidaritas dan mengukuhkan hubungan dengan pemimpinnya (Parsons. 1949: 435). Muatan politis yang tercermin pada pengkultusan raja-raja di Jawa yang dibuatkan pemujaan disesuaikan dengan arca-arca Dewa (bercirikan salah satu atribut Dewa) tiada lain tujuannya ialah untuk mengukuhkan kekuasaan sebagai simbul kehormatan, karena jasa-jasanya semasa memerintah. Sebagai contoh arca perwujudan Airlangga sebagai pemuja Wisnu duduk di atas garuda (Sumadio, 1977 : 100).

Hal ini tampaknya juga menjadi latar belakang mengapa arca-arca yang ditemukan di Nusa Penida sama dengan di Bali, karena ada kemungkinan sengaja dibawa dari Bali untuk menguatkan hubungan tersebut dan sebagai bukti pengaruh Hindu Bali di wilayah tersebut. Jenis temuan arcanyapun ditemukan lengkap sebagaimana kita lihat dalam beberapa pura di Bali di antaranya arca Ganesa, Siwa Maha Guru sebagai simbul pemujaan Siwa, arca-arca perwujudan bhatara-bhatari, dan arca perwujudan pendeta sebagai pengkultusan pemujaan leluhur para raja dan tokoh-tokoh kerajaan. Apa tidak mungkin pula dengan temuan sejumlah arca klasik masa Hindu di Nusa Penida adalah suatu bukti yang dapat memperkuat data dari persepsi sebelumnya, bahwa daerah Gurun yang dimaksud dalam prasasti Blanjong adalah Nusa Penida. Disebutkan dalam prasasti itu tentang musuh-musuh raja yang berhasil dikalahkan yaitu di Gurun dan Suwal. Penanggalan prasasti ini yakni 913 M., merupakan suatu indikasi, bahwa daerah ini merupakan bagian dari kerajaan Bali abad X, dan diperkirakan sekitar abad X inilah awal masuknya unsur budaya Hindu Bali di Nusa Penida. Kenyataan di wilayah Nusa Penida sampai sekarang belum ditemukan bukti-bukti peninggalan masa klasik (Hindu) yang periodisasinya sebelum abad X.

Terkait dengan fungsi benda tersebut sebagaimana ditekankan oleh Rouse dalam mengamati artefak melalui Mode of Use (cara penggunaan) menjadi bahan pertimbangan. Seperti diketahui setiap karya seni manusia yang dibuat dari benda alam di sekitarnya dalam dirinya mengandung nilai. Nilai yang diperoleh manusia dapat bermacam-macam misalnya nilai sosial ekonomi, keindahan dan religi. Dengan demikian berkarya berarti menciptakan nilai, atau dalam setiap hasil karya terwujudlah suatu ide manusia. Oleh karena itu setiap benda budaya menandakan nilai tertentu, menunjukkan maksud dan gagasan penciptanya (Poespawardoyo, 1978: 11).

Jadi fungsi artefak tersebut berdasarkan gagasan penciptanya sebagai penghormatan kepada leluhur yang diabadikan atau digambarkan dalam bentuk-bentuk arca. Di India pembuatan arca tidak terbatas pada penggambaran dewa, melainkan juga menggambarkan manusia (Soekatno, 1993: 88). Penghormatan leluhur melalui media arca ini tidak saja berlaku di Bali, tetapi berkembang juga di Jawa seperti telah disebutkan dengan beberapa contoh di atas. Perbedaannya ialah kalau di Jawa ada kebiasaan mematungkan seorang raja yang meninggal dalam wujud dewa yang dipuja semasa hidupnya, tetapi di Bali umumnya tokoh-tokoh kerajaan dan raja-raja diwujudkan dalam bentuk arca yang tidak beratribut dewa. Perbedaan ini tidak saja dalam bentuk, tetapi juga terletak pada tujuan pelaksanaan. Di India lebih cendrung pengarcaan ini terkait dengan peringatan sebagai monumen atas jasanya, sedangkan bagi masyarakat Jawa Kuna dan Bali Kuna, pengarcaan seseorang tujuannya cendrung (p.7) sebagai sarana dalam mencapai pelepasan jiwa. Upacara pelepasan ini yang sampai sekarang mentradisi di Bali termasuk upacara pitra yadnya. Melaksanakan upacara ini merupakan kewajiban dari para penganut Hindu terhadap orangtua dan leluhurnya, bahkan tradisi ini masih berlanjut dalam aspek pemujaan kaitannya dengan upacara keagamaan kekinian di Bali. Di antaranya keterkaitan dengan ajaran Tri Rna, hutang yang dimiliki terhadap leluhurnya yakni berupa upacara ritual terhadap leluhurnya yang telah meninggal dan kemudian dihormati, distanakan dalam bangunan pemujaan keluarga. Seperti umum diketahui di Bali sekarang tempat pemujaan keluarga (merajan/sanggah ) ada pelinggih rong telu (bangunan pemujaan dengan tiga bilik) sebagai tempat pemujaan leluhur yang telah disucikan, masih eksis dalam kehidupan sekarang bagi umat Hindu yang pelaksanaannya dipadukan dengan kegiatan upacara keagamaan di Bali. Apa yang dilaksanakan di Bali dalam kaitannya dengan pemujaan leluhur, demikian juga di Nusa Penida hanya saja penekannya sekarang tidak dalam wujud benda pemujaan, tetapi dalam konsep-konsep dan sarana upakara masih eksis dan mempunyai maksud dan tujuan yang sama.

Arsitektur

Peninggalan arsitektur yang menarik ditemukan di wilayah Nusa Penida berupa bangunan suci yang disebut dengan padma. Bangunan semacam ini di Bali dikenal dengan berbagai jenis di antaranya ada yang disebut Padmasana merupakan bangunan suci yang umumnya ada di Pura Kahyangan Tiga, Kahyangan Jagat dan Sad Kahyangan. Padmasana sebagai tempat pemujaan manifestasi Tuhan Yang Maha Esa. Padmasana berarti tempat duduk dari teratai, sebagai lambang stana Tuhan. Awal keberadaan Padmasana di Bali mulai dirintis oleh Empu Danghyang Nirartha, sedangkan bangunan sejenis yang lebih sederhana disebut dengan Padmasari dan padma capah. Bangunan Padmasari umumnya terdapat di Pemeraian atau pura pemujaan keluarga yang fungsinya di samping sebagai pemujaan Tuhan Yang Maha Esa juga tempat pemujaan leluhur yang telah disucikan.

Bangunan suci padma di Pura Meranting Desa Batu Kandik bentuknya sangat sederhana, model dan bentuknya menyerupai bangunan suci padmasari yang lazim dikenal di Bali. Padma di Pura Meranting oleh penyungsungnya disebut dengan "Sanggar Agung" pemujaan untuk dewa Surya. Uniknya bangunan ini ialah pada bagian stananya atau bagian sari (kepala) sangat sederhana, mirip semacam tahta batu. Pada bagian badan terdapat manusia kangkang yang terbuat dari susunan batu, menyatu dengan dinding bangunan padma. Kaki manusia kangkang dibuat semacam piramida dari susunan batu sampai sebatas pinggang. Sikap tangan sejajar bahu melengkung ke atas menjinjing stana. Payudara dibuat menonjol. Pada bagian kaki padma dibuat sederhana tanpa hiasan pelipit, dilengkapi dengan sembilan undak pada bagian depan bangunan. Bagian tepas bawah kaki padma hanya terdiri dari dua susun batu (bebaturan). Pelengkap lainnya berupa tiga buah arca berukuran kecil kurang lebih 20 cm. dengan sikap seperti orang melahirkan. Berdekatan dengan situs ini, yakni di Pura Dalem Batu Kandik, ditemukan miniatur padma sebanyak tiga buah dengan berelief mononjolkan genitalia, payudara dan alat kelamin wanita, sedangkan padma yang ditemukan di Pura Puncak Mundi bentuk dan strukturnya hampir sama, hanya saja tidak menonjolkan relief genitalia

(p.8) Unsur-unsur genitalia ini mengingatkan kita pada peninggalan masa megalitik yang mempunyai makna simbolis, seperti penggambaran motif manusia sering digambarkan anthropomorfis dengan gaya kangkang atau motif manusia dengan kepala besar atau bagian genitalia yang menonjol. Sering pula motif manusia digambarkan hanya diwakili oleh bagian-bagian tertentu dari tubuh manusia (Atmosidiro, 1984: 1) seperti yang ditemukan di Pura Dalem Bantu Kandik padmanya dihiasi hanya dengan payudara dan alat kelamin. Dengan demikian motif manusia sebagai hasil seni merupakan salah satu simbul yang diperlukan manusia untuk media komunikasi dengan kekuatan di luar dirinya. Simbul dapat pula dianggap sebagai pengikat solidaritas (Peursen, 1967: 143-147).

Adanya unsur-unsur megalitik ini merupakan suatu bukti, bahwa masuknya unsur-unsur Hindu Masa Klasik ke wilayah ini tanpa menghilangkan unsur-unsur yang ada sebelumnya. Keberadaannya menjadikan perpaduan harmonis antara budaya klasik yang diperlihatkan dari struktur bangunan tampak dari penterapan konsep triangga, bagian kepala, badan dan kaki bangunan. Trimandala, pembagian zona utama mandala, madya mandala dan nista mandala. Unsur megalitk tercermin pada pemujaan leluhur yang diperlihatkan oleh bentuk-bentuk tahta batu, dan unsur-unsur kekuatan magis tercermin dari adanya simbul-simbul genitalia.

Berakulturasi dua unsur kebudayaan ini bukanlah hal yang baru, bahkan sudah membudaya di Indonesia jauh sebelumnya. Masuknya budaya Hindu ke Indonesia tidak hanya diterima namun diseleksi dan dipadukan dengan unsur-unsur budaya yang diwarisi sebelumnya. Dengan perpaduan ini maka timbul unsur-unsur budaya baru. Sebagai bukti masyarakatnya sudah berkembang karena melahirkan unsur-unsur budaya baru yang terjadi karena percampuran kebudayaan (acculturation) (Syafei, 1986: 97). Sebagai contoh adalah bangunan candi Borobudur dengan punden berundaknya merupakan unsur asli Indonesia (Soediman, 1986: 71). Pada mulanya sebagai medium penghormatan yang menjadi tahta kedatangan roh dibuatkan menhir yang biasa ditempatkan pada bangunan berundak tersusun kian ke atas bentuknya kian mengecil. Bangunan tersebut pada hakekatnya sebagai replika dari bentuk Gunung, yang dianggap sebagai alam arwah yang abadi sehingga dipandang sebagai tempat suci (Soejono. 1977: 287). Setelah pengaruh Hindu masuk ke Indonesia anggapan tentang gunung sebagai tempat tinggal roh nenek moyang masih tetap dilanjutkan, di samping gunung dianggap sebagai sthana para Dewa. Untuk kepentingan pemujaan untuk Dewa-dewa itu dibuatkan arca-arca yang ditempatkan dalam suatu bangunan yang didirikan dengan bentuk tiruan dari tempat dewa-dewa yang sebenarnya yaitu Gunung Mahameru (Romondt. 1951: 5).

Menguatnya unsur-unsur asli terlihat pada bangunan Candi masa Jawa timur bahkan semakin kuat unsur-unsur asli itu muncul pada masyarakat masa Majapahit. Memang harus diakui bahwa gugusan candi Loro Jongrang amat megah yang menampakkan unsur dominan pengaruh India. Namun Krom dan Stutterheim meyakinkan bahwa perubahan corak dan gaya seni dari Jawa Tengah ke Jawa Timur bukan disebabkan oleh lunturnya mutu yang bertalian dengan surutnya pengaruh India melainkan oleh timbulnya kembali unsur-unsur asli Indonesia. Menurut Claire Holt, proses yang berlangsung tidaklah lain daripada suatu emergence of new trends in the art styles of Java (Soekmono, 1986 : 237). Dalam perkembangannya di Bali unsur-unsur (p.9) asli yang pernah membudaya di daerah ini masih tercermin dalam perkembangannya kemudian setelah mendapat pengaruh Hindu. Suatu contoh penataan Zone tata ruangan bangunan kiblat kaja-kelod, luan-teben merupakan konsep yang sudah dikenal sebelum masuknya pengaruh Hindu, Kaja yang mengarah ke Gunung sebagai tempat berstananya para leluhur yang telah disucikan. Dalam bentuk arsitektur unsur-unsur teras berundak selalu terpadu harmonis dengan bangunan-bangunan suci Hindu seperti bangunan prasada, seperti di Jawa unsur perpaduan ini terlihat pada bangunan candi dan di Bali perpaduan antara kedua unsur terkadang tidak jelas tercermin dalam wujud bangunan, kendati secara konsepsional sudah jelas dianut sesuai dengan fungsi pura baik sebagai tempat pemujaan Ida Sanghyang Widhi maupun pemujaan para leluhur yang disucikan.

Akan tetapi bila memperhatikan sejumlah bangunan padma yang ada di sejumlah pura di Nusa Penida jelas sekali terlihat unsur-unsur megalitik pada bangunan tersebut seperti simbul genitalia, relief manusia kangkang, yang demikian belum ditemukan di Bali. Adanya perpaduan unsur pada bangunan ini tidak lain juga sebagai akibat dari kemampuan si seniman di wilayah ini menciptakan karya seni yang mandiri. Hal yang begini tidak dapat dikaitkan begitu saja dengan adanya pengaruh unsur-unsur Hindu dari Bali di wilayah ini. Kemampuan itu dapat berkembang bebas, sesuai dan seirama dengan kebutuhan hidup masyarakatnya. Perlu juga ditekankan bahwa penampilan bangunan Padma yang berbeda di kedua wilayah berkaitan erat dengan alam pikiran yang melatarbelakangi. Sebagai seni yang diabadikan kepada agama, maka tolok ukur yang berlaku bukanlah kemegahan atau keindahan yang umumnya menjadi penilaian, akan tetapi fungsinya, dapat atau tidaknya hasil karya itu memenuhi fungsinya sebagai obyek keagamaan menurut pandangan masyarakatnya. Bangunan padma di Nusa penida yang diciptakan secara vertikal dibuat tinggi sebagai sthana Tuhan Yang Maha Esa. Kiblat pemujaan ke arah Gunung merupakan proyeksi perhatian ke arah lokasi roh nenek moyang yang telah disucikan disthanakan di Gunung (Soejono, 1977: 287). Gunung yang disimbulkan pada bangunan ini berupa susunan pelipit berundak pada bagian depan bangunan padma dibuat semacam piramidal bentuknya seperti piramid pada bangunan Candi Sukuh. Adanya unsur manusia kangkang pada bangunan ini selain berfungsi seni, mungkin pula mengandung getaran jiwa yang meyakini adanya kekuatan magis yang berada di luar dirinya, sedangkan unsur penggambaran secara natural patung-patung manusia wanita dengan gaya posisi melahirkan tidak semata-mata mempunyai maksud yang porno melainkan tersembunyi arti yang berhubungan dengan mistik, adalah merupakan lambing kesuburan dan kemakmuran.

Terkait dengan penggunaan bahan bangunan berupa batu karang hal ini tidak terlepas dari keberadaan situs tersebut, yaitu tempat bangunan candi itu didirikan hal ini, tentu terkait dengan sumberdaya lingkungan alam. Wilayah Nusa Penida dengan alamnya merupakan bentangan batu karang, sehingga tidaklah mustahil bila material bangunannya umumnya menggunakan batu karang.

Melihat adanya unsur-unsur persamaan dengan candi Sukuh, walaupun tidak persis sama di antaranya pada bagian depannya berhiaskan susunan batu piramidal, adanya unsur-unsur pemujaan kesuburan pada kedua situs. Di samping itu di antara bangunan pemujaan yang ditemukan di Nusa Penida kiblat pemujaannya ada yang (p.10) mengarah ke Gunung Semeru, yang merupakan suatu bukti tentang kemungkinan Nusa Penida pernah dipengaruhi unsur-unsur Hindu dari luar Bali.

Kesimpulan

(p.11) Berdasarkan pengamatan di atas dapat disimpulkan, bahwa masuknya unsur budaya Bali Selatan khususnya seni arca Hindu diperkirakan berlangsung setelah abad X, karena pengamatan di lapangan membuktikan, bahwa di wilayah ini belum diketemukan peninggalan seni arca masa Hindu Bali abad VIII. Peninggalan seni arca yang ditemukan di sini kemungkinan didatangkan dari Bali Selatan mengingat tipe-tipe arcanya sama dengan yang ditemukan di wilayah Bali Selatan, antara lain di Gianyar, Badung, dan Klungkung. Demikian juga material unkik pembuatan arca ini berupa batu padas, yang umumnya dipakai di Bali, sedangkan di wilayah ini material yang demikian jarang ditemukan. Indikasi lainnya tidak tampak adanya kekhasan penggarapan seniman lokal, seperti yang diketahui di daerah Bali utara menampakkan ciri-ciri muatan lokal. Hasil pengamatan ini merupakan pengkajian awal, tentunya diharapkan diteliti kembali untuk mendapatkan data yang lebih lengkap dan akurat untuk menguatkan persepsi bahwa kemungkinan daerah Gurun yang dimaksud dalam prasasti Blanjong adalah Nusa Penida, yang dapat ditaklukkan sesuai dengan penanggalan prasasti abad X. Kenyataan dari hasil survei di lapangan membuktikan, bahwa keberadaan peninggalan masa klasik di wilayah ini berlangsung setelah abad X Masehi. Data arsitektur membuktikan bahwa kawasan Nusa Penida pernah dipengaruhi unsur Hindu dari luar Bali, seperti dibuktikan dari bangunan Padma di Pura Meranting. Desa Batu Kandik dengan hiasan pelipit depan bangunan menggunakan hiasan piramidal dan pemujaan aspek kesuburan seperti pada bangunan candi Sukuh. Kiblat pemujaan mengarah ke Gunung Semeru seperti pada bangunan Padma di Pura Puncak Mundi. Gaya bangunan merupakan perpaduan unsur megalitik dan masa Klasik yang diramu sesuai dengan kemampuan seniman lokal dengan menggunakan sumber daya alam setempat.

Hubungan Nusa Penida dan Bali berkesinambungan pada masa belakangan yakni kerajaan Klungkung seperti dibuktikan dari data prasasti yang ditemukan di Banjar Maos, Desa Bayuh, Nusa Penida.

Daftar pustaka

  • Atmosudiro, Sumiati (1984) - "Lukisan Manusia di Pulau Lomblen (Tambahan Dasa Hasil Seni Bercorak Prasejarah), Berkala Arkeologi. Th. V No. 1, Balai Arkeologi Yogyakarta, Hal. 1-7
  • Geria, I Made (1993) - "Ritus Memendak Taulan. Salah Satu Aspek Budaya Kesatuan Wilayah Tamblingan Kuno", Forum Arkeologi, Balai Arkeologi Denpasar. I/1993:25-51
  • Geria, I Made (1996) – "Seni Arca Masa Klasik di Bali Utara Cermin Dinamika Seniman Bali (Kajian Pendahuluan)", Pertemuan llmiah Arkeologi, Cipanas
  • Holt, Claire (1933) - "Bandit Island A Short Exploration Trip to Noesa Penida", Djawa, Tijdshrift Van Het Java - Instituut. Java- Instituut, Jogjakarta, (Java), No. 1: 129-138
  • Kluckhohn, C.O.H. Mowrer (1944) - "Culture and Personality, A Conceptual Scheme", American Anthropologist XLVI : 1-29.
  • O'Dea, Thomas F. (1985) - Sosiologi Agama Suatu Pengenalan Awal, Yayasan Solidaritas Gajahmada. CV. Rajawali, Jakarta
  • Parsons, Talcot (1949) - The Structure of Social, Essays in Sociological Theory. Glencoe, Ill, The Pree Press
  • Peursen, C.A.Van (1967) - Strategi Kebudayaan, Yogyakarta, Kanisius
  • Poespowardoyo, Soerjanto (1978) - "Menuju Kepada Manusia Seutuhnya", Bunga Rampai tentang Filsafat Manusia, P.T. Gramedia, Jakarta, hal. 11
  • Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah (1978) - Sejarah Daerah Bali, Departemen Pendididkan dan Kebudayaan Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah, Jakarta
  • Romondt, V.R. van (1951) - Peninggalan Purbalaka di Gunung Penanggungan, Dinas Purbakala Republik Indonesia, Jakarta
  • Soekatno, Endang Sri Hardiati (1993) - Arca tidak beratribut Dewa di Bali, Sebuah Kajian Ikonografis dan Fungsional, Disertasi Universitas Indonesia, Jakarta
  • Sumadio, Bambang (1977) - "Jaman Kuno", Sejarah Nasional Indonesia II, Editor Sartono Kartodirdjo Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  • Soediman (1986) - Local Genius Dalam Kehidupan Beragama, Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Pustaka Jay a, hal. 71
  • Soejono, R.P. (1977) - Sistim-sistim Penguburan Pada Akhir Masa Prasejarah di Bali, Disertasi UI, Jakarta
  • Soekmono, R. (1986) - Local Genius dan Perkembangan Sakral di Indonesia, Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius), Pustaka Jaya, hal. 228-244
  • Syafei, Soewadji (1986) - Peranan Local Genius, dalam Kebudayaan (Ihtisar tanggapan), Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius), Pustaka Jaya, hall. 96-97

Tabel 1: Temuan Arca Klasik di Nusa Penida

No. Jenis Temuan, Nama Tokoh, Arca Tempat Penemuan Jumlah Ukuran (cm.)       Keterangan
        A AL TBA TS  
1. Perwujudan Bhatara/Bhatari              
  K1 Pura Saab, Desa Batu Madeg, Nusa Penida 4 buah 46 16 14 2 Utuh
  K2 Pura Saab, Desa Batu Madeg, Nusa Penida 3 buah 37 8 6 2 Utuh
  Bhatari K 3 Pura Saab, Desa Batu Madeg, Nusa Penida 6 buah 56 19 17 3 Utuh
  Frag, arca perwujudan Pura Saab, Desa Batu Madeg, Nusa Penida 18 buah - - - - Fragmentaris
2. Arca Ganesa Pura Saab, Desa Batu Madeg, Nusa Penida 1 buah 43 33 28 3 Utuh
3. Arca Pendeta Pura Saab, Desa Batu Madeg, Nusa Penida - 47 8 9 2,5 Utuh
4. Arca Nandi Pura Saab Desa Batu Madeg, Nusa Penida - 32 13 - - Utuh
5. Arca Naga Pura Saab, Desa Batu Madeg, Nusa Penida 2 buah 39 13 16 6 Utuh
6. Arca Perwujudan Bhatara Pura Mastulan, Desa Kutampi, Nusa Penida 2 buah 39 13 12 5 Utuh
7. Arca Perwujudan Bhatara Pura Medahu, Desa Suana, Nusa Penida 1 buah - - - - Fragmentaris
8. Arca Perwujudan Bhatara Pura Segara, Desa Sakti, Nusa Penida 4 buah - - - - Fragmentaris

Keterangan: TA = tinggi arca; LA = lebar arca; TBA = tebal arca; TS = tinggi stela; K1 = kelompok 1; K2 = kelompok 2; K3 = kelompok 3

Tabel 2: Ciri-ciri unsur badaniah arca di Nusa Penida

No. Nama Tokoh Arca Tempat penemuan Gerak garis Ekspresi Sikap posisi Bahan Wilayah
1. Arca Perwujudan Bhatara (Kl) Pura Saab, Desa Batu Madeg Kaku tenang berdiri tegak kedua tangan dilipat ke depan di samping badan masing-masing tangan memegang bulatan batu padas Nusa Penida
2. Arca Perwujudan Bhatara (K2) Pura Saab, Desa Batu Madeg kaku Tenang berdiri tegak kedua tangan dilipat ke depan di samping badan masing-masing tangan memegang bulatan Batu padas Nusa Penida
3. Arca Perwujudan Bhatara Pura Mastulan, Desa Kutampi kaku tenang berdiri tegak, kedua tangan dalam sikap menutup dada Batu padas Nusa Penida
4. Arca Ganesa Pura Saab, Desa Batu Madeg Kaku tenang bersila dengan sikap virasana (kedua telapak kaki bertemu) Batu padas Nusa Penida
5. Arca Pendeta Pura Saab, Desa Batu Madeg Kaku Tenang berdiri tegak kedua tangan dilipat ke depan di samping badan, masing-masing memegang bulatan Batu padas Nusa Penida
6. Arca Nandi Pura Saab, Desa Batu Madeg Kaku Tenang posisi rebah, keempat kaki dilipat ke belakang Batu padas Nusa Penida
7. Arca Naga Pura Saab, Desa Batu Madeg Kaku mata melotot, mulut terbuka lebar gigi kelihatan Kepala tegak di atas lipatan badan Batu padas Nusa Penida

Tabel 4. Deskripsi bangunan padma

No. Jenis temuan Temuan   Ukuran     Lokasi Keterangan
    Ekskavasi Permukaan P m. L m. T m.      
  Bangunan Padma - Permukaan 2,5 2 3 Pura Puncak Mundi, Desa Kutampi (Dang Kahyangan) bentuk sederhana; kiblat pemujaan ke Gunung Semeru ke arah barat daya; bahan batu karang
2. Bangunan - Permukaan 2,5 2 3 Pura Mera ting, Desa Batu Kandik (Pura Dadya) model pelipit (pepalihan) Candi Sukuh; motif badan candi dibentuk semacam relief patung sederhana (manusia kankang) dengan penonjolan payudara; bahan batu karang
3. 3 Buah Miniatur Padma - permukaan 0,3 0,3 1 Pura Dalem, Desa Batu Kandik (Pura Kahyangan Tiga) arsitektur mengambil bentuk sesuai dengan arsitektur Padma yang ada di wilayah Nusa Penida; di bagian depan di Iengkapi dengan tonjolan payudara dan relief segitiga di bagian bawah; bahan batu karang

Pelinggih Padmasana di Pura Meranting, Batukandik – Nusa Penida (p.20)

Survai Ikonografi di Pura Saab, Nusa Penida 1996: Arca sederhana, Arca Perwujudan (p.21)

Survai Ikonografi di Pura Mastulan, Nusa Penida, Arca Perwujudan (p.22)

Survai Ikonografi Nusa Penida 1996, Arca Sederhana di Pura Puseh Suana (p.23)

Denah Pura Geria , Dusun Bayuh Banjar Bias, Nusa Penida (p.24)
Keterangan: 1. Pelinggih mos sari; 2. Pelinggih mos cetu; 3. PeIinggih gedong arca; 4. Pesanggrahan/Padma; 5. Pengerurah; 6. Piasan; Pohon

Foto 1: Arca perwujudan Bhatara (kelompok I) di Pura Saab, Desa Batu Madeg, Nusa Penida (p.25)

Foto 2: Arca Perwujudan Bhatari (kelompok II) di Pura Saab. Desa Batu Madeg, Nusa Penida (p.26)

Foto 3: Arca Ganeca di Pura Desa Batu Madeg, Nusa Penida (p.27)

Foto 4: Arca Perwujudan Pendeta di Pura Saab, Desa Batu Madeg, Nusa Penida (p.28)

Foto 5: Bangunan Padma dengan motif hiasan manusia kangkang di Pura Meranting, Desa Batu Kandik, Nusa Penida

Foto 6: Pembacaan Prasasti tembaga wasa di rumah I Nyoman Jaya di Br. Maos. Desa Buyuh, Nusa Penida (p.29)

Source

  • Geria, I Made (1997) - Berita Penerbitan Arkeologi Klasik No. 2; Laporan Survei (Situs) Nusa Penida, Klungkung dan Eskavasi Srokadan, Abuan, Bangli, Bali; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Penelitian Purbakala Bali

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman www.godidijkman.nl social facebook box white 24