Interview Pos Bali (July 2014)

Journalist Agus Komang Widiantara came over to Ubud (FNPF office) for an interview for Pos Bali on the investigations on the history of Nusa Penida, July 2014. Below follows the result, on the front page of this local newspaper of 30 & 31 July 2014. An English translation is presented directly below (by Widiantara, translation into English by Olwin Aldila; source, see below).

godidijkman-interviewGODI DIJKMAN: A DEDICATED RESEARCHER FOR NUSA PENIDA

A bunch of Bali island literature is conceivably easy to find in bookstores or researches. What about Nusa Penida Island? The literature of this administrative region of Klungkung Regency is very infrequently found, although it has plenty features of mystical, beautiful nature; for instance, its art and culture, which give a living vibe for the locals.

A Dutch researcher, Godi Dijkman, has been concerning about the existence of Nusa Penida. An interesting fact: he is doing his research without getting paid for it.

Prior to these years of researching in Nusa Penida, Godi used to be just like any other tourists who love enjoying destinations in Bali Island. In 1999, he decided to live in Sanur, discovering more about the cultures and traditions of Bali which hypnotized him at the time and after. Bali was not his first fascination with Indonesia. In earlier time, Godi had traveled to a number of provinces in Indonesia. He lived for 2,5 years in Tanah Toraja, South Sulawesi, as an English teacher for a non-governmental organization based in England. Within the other 3 years, he volunteered for International Red Cross in Aceh. Jakarta was his next home for several years, where he had a job there. Godi returned to Bali in 2007. He became actively involved in Jalak Bali conservation project of Friends of the National Parks Foundation (FNPF), a wildlife conservation organization in Ubud, Gianyar. His interest in the endangered bird took him closer to Nusa Penida.

"Jalak Bali conservation started it all; it aroused my curiosity for Nusa Penida," he told us, when we interviewed him at FNPF Office, at Jln. Bisma no.3, Ubud, Gianyar. He began doing some search for the island, savoring books, magazines, and interviewing his friends. The uniqueness of Nusa Penida drove his heart to explore.

"Unlike those places in Bali Island, Nusa Penida has an original and natural quality. Nonetheless, it is quite difficult to obtain information about it. That is why I found it interesting to discover more," he said, stating his fascination with local culture of the island.

Conducting field research was not an easy process. He encountered numerous problems, some of which are collecting data and time management between his job and his research.

According to him, inscriptions are unusual discovery in Nusa Penida, unlike the ones in Bali Island (which generally record historical evidence of the island's kings). He said, "The original, primary source of the inscriptions is hard to find. All I discovered was reproduced stories told by local figures," His serious face said it all.

Godi gets assistance from 42 locals and expats with various backgrounds as his main informants in Nusa Penida. Their data are filtered, summarised, and processed. Communication devices, such as Facebook, help him a lot. They enable him to get in touch with other informants. Hard work always gives better results. Over his years of hard work, he collects his research and presents it on www.nusapenida.nl, a portal which everyone is welcome to access.

"I consider this is a unique project; I spent my own money to fund the research, I don't get paid for doing this. I hope this exploration of Nusa Penida can be extensively beneficial in the future," he said.

The fan of ledok (local porridge) uploads information regarding Nusa Penida onto the website, such as the history, culture, language, myths, and eco-tourism destinations.

Nevertheless, his research has not caught many readers yet. However, Godi believes that the research will be a potentially significant reference of Nua Penida (including the development of disciplinary knowledge.)

In that case, how is the response of the government related to his research? "I think they barely even know," he answered in Indonesian Dutch accent.

by Agus Widiantara; translated by Olwin Aldila

Source

posbali-interview-01posbali-interview-02

Images above: Pos Bali newspaper clippings (front pages), 30 & 31 July 2014

Godi Dijkman, Meneliti Nusa Penida Tanpa Bayaran (1) - Hasilnya Bisa Diakses di Website, Pemerintah Tak Tahu Menahu

posbali-cover00

Tak banyak peneliti asing meneliti Nusa Penida. Meskipun ada, itu pun hanya sebatas proyek akademis atau dibiayai oleh sebuah institusi dengan tujuan tertentu. Namun tidak bagi Godi Dijkman. Pria asal Belanda ini meneliti tanpa bayaran sepeser pun.

Sebelum menginjakkan kaki di Pulau Tandus tersebut, Godi seperti pada umumnya wisatawan asing lainnya menikmati tempat wisata di Bali daratan. Sanur merupakan pilihan Godi di tahun 1999 untuk mengenal lebih dekat degup adat dan budaya Bali yang kala ini mulai menghiptonis dirinya. Di Indonesia, Godi tak hanya akrab dengan Pulau Dewata. Beberapa provinsi pun sempat menjadi "petualangan" pria kelahiran 9 Januari 1965 tersebut.

posbali-aguskomangposbali-godi-01Images right: (left) Godi Dijkman during interview; (right) journalist Agus Komang Widiantara (Pos Bali)

Misalnya saja Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. Di sana ia sempat tinggal 2,5 tahun menjadi tenaga pengajar Bahasa Inggris di bawah naungan organisasi non frofit yang berbasis di Negara Inggris. Setelah itu, Ia sempat menjadi relawan Palang Merah Internasional selama 3 tahun yang ditugaskan di Provinsi Aceh. Ibu Kota Jakarta pun pernah ia tinggali beberapa tahun, untuk menjalani sebuah pekerjaan.

Ketika kembali ke Bali di tahun 2007, Godi pun aktif dalam pelestarian Burung Jalak Bali bersama organisasi Friends of the National Parks Foundation (FNPF, www.fnpf.org) yang berada di Ubud, Gianyar. Kala itu, ketertarikannya dengan burung yang kini dilindungi oleh pemerintah tersebut mengantarkannya mengenal lebih dekat dengan Nusa Penida.

"Dari pelestarian Burung Jalak Bali semuanya bermula," katanya saat ditemui di Sekretariat FNPF di Jl. Bisma no 3, Ubud, Gianyar beberapa waktu lalu. Dari sana ia pun mulai penasaran. Berbagai sumber tentang pulau itu dicari olehnya. Baik dari buku, majalah hingga rekan-rekannya. Keunikan yang dimiliki oleh kawasanyang berada di Kabupaten Klungkung tersebut kian mendorong nuraninya untuk meneliti.

"Pulau ini sangat original dan natural. Beda dengan tempat-tempatseperti di Bali daratan. Saya tertarik untuk menelitinya karena keunikannya. Di samping itu untuk memperolehinformasinya sangat susah mengenai keberadaan Nusa Penida,"tuturnya mengakui tertarik dengan budaya khas setempat.

Dalam mengumpulkan bahan tulisan untuk hasil penelitian langkah Godi memang tak berjalan mulus. Banyak kendala di lapangan yang ditemukan olehnya. Apalagi perkerjaan yang dilakukannya berbenturan dengan waktu untuk meneliti. Jadi bisa dibilang, mencuri waktu disela sengang di antara kesibukan. Kepada Pos Bali ia menceritakan bahwa situs-situs seperti prasasti amat sulit bahkan tidak pernah ia temukan di sana. Seperti pada umumnya prasasti yang ada di Bali daratan sebagai jejak sejarah para raja-raja yang berjaya pada masanya. "Yang saya temukan hanyalah cerita–cerita yang sudah di copy oleh para tokoh adat sebelumnya, jadi sulit sekali menemukan sumber sejarah aslinya," kata dia dengan muka serius.

Dalam merampungkan berbagai bahan penelitian, Godi memang tak sendirian. Ia dibantu oleh 42 orangbaik lokal maupun asing yang berasal dari beragam latar belakang. Dari sana, ia menyaring, mensarikan dan mengolah informasi seputar Nusa Penida dengan lengkap. Dalam proses penelitian, untung saja perangkat komunikasi membantunya sekaligus kenal beberapa narasumbernya dari media sosial seperti facebook dan lain-lain. Kesungguhannya pun akhirnya berbuah manis. Hasil penelitiannya pun kini bisa diakses bebas oleh siapapun melalui laman website www.nusapenida.nl.

"Menurut saya ini adalah proyek unik. Saya tidak dibayar sepeserpun untuk ini. Itu semua saya bayari sendiri karena hobi. Semoga dikemudian hari bisa bermanfaat," papar pria yang mengakui menyukai Ledok, makanan khas berupa bubur pulau setempat. Dalam website tersebut, beberapa informasi seputar Nusa Penida terdokumenasi dengan apik. Mulai dari sejarah, budaya, bahasa, mitologi hingga tempat yang menjadi destinasi ekopariwisata.

Meskipun demikian, menurutnya memang tak banyak orang mengetahui hasil penelitiannya. Tapi setidaknya, menurut Godi suatu saat akan menjadi salah satu sumber refrensi dunia mengenal Nusa Penida. Termasuk sebagai rujukan bagi perkembangan disiplin keilmuan. Lantas, bagaimana respon pemerintah setempat atas penelitian tersebut? "Kalau itu kayaknya pemerintah tidak tahu," tambah dia yang cukup fasih berbahasa Indonesia namun didominasi dengan aksen Belanda. kaw

posbali-cover01

Godi Dijkman, Meneliti Nusa Penida Tanpa Bayaran (2) - Kini Sibuk Mencari Penterjemah Babad untuk Lengkapi Penelitian

Pengunjung kini bisa menikmati hasil penelitian Godi Jikman dalam website www.nusapenida.nl. Selain menggunakan bahasa Inggris, beberapa penjelasan terkait sejarah, mitologi dan budaya juga menggunakan Bahasa Indonesia. Meskipun demikian, Godi mengaku belum puas.

Nampaknya, pria berdarah Belanda ini tak mau menggarap penelitiannya asal-asalan. Meskipun tidak dibiayai oleh instansi manapun, ia mengakui ingin total berkarya. Menurutnya, banyak hal yang bisa dipelajari dari Nusa Penida. Namun, minimnya informasi mengenai literatur pulau tersebut membuat Godi amat kelabakan.

Saat pulangan ke negara asalnya tahun 2009. Ia tak bisa berdiam diri. Dorongan untuk mencari beragam refrensi terkait Nusa Penida, gencar dilakukannya. Ia pun mendatangi perpusatakan hingga institusi pendidikan. Meskipun tertatih-tatih, Godi mengakui akhirnya bisa mengumpulkan beberapa sumber tentang Nusa Penida yang sempat diteliti sebelumnya.

"Di berbagai perpusatakaan di Belanda, untungnya saya bisa memperoleh hasil penelitian dari seorang peneliti dari Universitas Amerika terkait Nusa Penida," jelasnya. Dari beberapa sumber yang diperoleh, memang tidak ada hasil yang menggembirakan. Hasil penelitian yang dilakukan para peneliti dari belahan dunia, dinilai juga banyak intepretasi atas sejarah Nusa Penida. " Itu pun juga belum maksimal," katanya.

Sejauh ini, jejak sejarah yang bisa dibaca tak lain bersumber dari babad-babad yang menulis kesejarahan Klungkung yang menyangkut keberadaan Nusa Penida. Dari babad, tercermin bahwa pada masa kerajan Klungkung terjadi sebuah pemberontakan besar oleh beberapa pihak orang yang tak sepaham. Atas hal itu, beberapa orang yang membangkang pun diasingkan di sebuah pulau, yang tak lain adalah Nusa Penida itu sendiri. 

posbali-godi-02

Image above: Godi Dijkman sedang serius berdiskusi dengan tokoh dari Lembongan I Nyoman Usana tentang gaguritan, untuk melengkapi hasil penelitian tentang Nusa Penida.

"Dari babad, juga dikisahkan keberadaan orang Bali Aga di Nusa Penida. Namun, mereka enggan untuk mengungkap identitas sampai saat ini, mereka tersebar di Desa Ped,"tutur Godi yang akan berada di Bali hingga 4 Agustus mendatang. Untuk merampungkan hasil penelitiannya, terjemahan babad menjadi kuncinya. Ia mengkaui saat ini sedang mencari seseorang yang paham mengenai terjemahan babad, selelah itu akan diposting dalam website penelitiannya. "Mungkin nanti saya butuh tenaganya untuk mencari beberapa terjemahan babad, saya pantau dari Belanda saja. Yang jelas saya bayar, meskipun proyek ini tidak didukung oleh siapapun."

Website diretas

Ada pengalaman pahit yang sempat menimpa website Nusa Penida yang didirikan sejak 2007 silam tersebut. Entah karena alasan apa, para hacker nakal sempat mempretelinya. Ia mengakui, saat ini lebih was-was dan sudah diproteksi. "Sudah dua kali dihack. Orangnya dari Bangladesh," ujarnya sembari menunjukkan situsnya kepada Pos Bali. Tak sampai di sana saja, beberapa peneliti luar seperti Australia diakuinya sempat memplagiat data yang ia unduhnya. Tanpa konfirmasi dan pemberitahuan apapun, tiba-tiba saja hasil penelitiannya bertahun-tahun sudah dibuatkan jurnal pada sebuah situs lain.

Meskipun demikian ke depan, hasil penelitiannya tersebut tak akan diperjualbelikan kepada siapapun. Ia sudah komit, bahwa dedikasinya tak lain untuk mengenalkan Nusa Penida di mata dunia. "Sampai saat ini belum ada yang menawari, kalau ada juga (beli, red) juga tidak saya jual," tegasnya. kaw

Source

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24