Sejarah Bali I-IV: Majapahit

This article is a rendering of 'Sedjarah Bali'; written by Njoman Djelada, also known as G(h)ora Sirikan, in 1956. It follows the contents of these three volumes as rewritten (copied) by Made Dangin in 27 February 1965, as no earlier versions to date have been found. To the best of my knowledge, Made Dangin’s version is the earliest full rewritten copy of these volumes. The old spelling has been adapted to modern Indonesian spelling (Ejaan Yang Disempurnakan); Ç/ç = S/s; square brackets are mine (GD).

IV. Jatuh di bawah Kekuasaan Majapahit

1. Pendahuluan

(p.83) Di dalam bab III telah diceriterakan berturut-turut adanya raja-raja di Bali yang bertakhta hingga permulaan abad ke-XIV. Sejarah raja-raja itu diku[mpulkan?] dari sumber keterangan prasasti-prasasti dan kitab-kitab perpustakaan, sehingga dapat disimpulkan perhitungan waktu tiap-tiap raja itu bertakhta sebagai berikut:

Sri Sakalendu Kirana Isana Gunadharma Laksmidhara Wijayotthunggadewi +/- 1078 - 1114;
Sri Suradhipa +/- 1115 - 1132;
Sri Jayasakti dan Sri Jayakusuma, masing-masing +/- 1133-1150 dan 1150-1176
Sri Jayapangus +/- 1177-1199;
Sri Ekajaya Lancana dan Sri Dhanadiraja, masing-masing +/- 1200-1203 dan +/- 1204-1230;
Sri Hyang ning Hyang Adidewa Lancana +/- 1230-1360;
Tidak ada raja +/- 1261-1323;
Sri Bhatara Mahaguru Dharmatunggu Warmadewa dan Sri Walajaya Krttaningrat, berdua +/- 1324-1323; dan
Sri Astasura Ratna Bumibanten +/- 1332-1342.

Di antara raja-raja tersebut di atas, ternyata Sri Jayakusuma yang tersebut pada angka 3 namanya tiada pernah tercantum di dalam prasasti-prasasti, baik pada batu-batu bertulis. Akan tetapi adanya baginda raja itu tidak dapat dia[?]nikan, sebab nama baginda itu terjalnya erat dengan riwayat hari-hari raya Galungan dan Kuningan, yang hingga sekarang masih dirayakan oleh umat Hindu-Bali. Mereka penuh percaya, bahwa hari-hari raya itu adalah diciptakan oleh baginda raja itu.

Begitu juga adanya beginda raja Sri Masula-Masuli dan Sri Gajah Wahana yang masing-masing tersebut pada pasal 8 dan 9 bab III. Meskipun nama dari kedua orang raja itu tiada pernah tercantum di dalam prasasti-prasasti itu, namun adanya baginda-baginda itu tiada patut diabaikan begitu saja. Adanya baginda (?)i Masula-Masuli itu tiada dapat dipisahkan dengan adanya hukum adat yang disebut “Manak-salah” itu, dan yang hingga sekarang masih berlaku pada beberapa desa di Bali, meskipun pemerintah sudah menyatakan dengan resmi, bahwa hukum adat itu tidak berlaku lagi. Mereka tetap berkenyakinan, bahwa meniadakan perayaan untuk membersihkan desanya manakala terjadi kelahiran kembar berbeda kelamin, kemungkinan akan mendatangkan malapetaka, oleh karena itu mereka masih juga berpegangan teguh pada kepercayaan warisan nenek moyangnya itu.

Tentang adanya baginda raja Sri Gajah Wahana itu, meskipun nama baginda tidak pernah juga tercantum di dalam prasasti-prasasti itu, namun pernyatakan membuktikan, bahwa baginda itu ialah raja di Bali yang penghabisan dan yang disebut juga Dalem Behadulu. Pembuktian itu akan dijelaskan nanti pada pasal 2 di bawah ini.

Selain dari pada prasasti-prasasti dan batu-batu tertulis yang sudah diutarakan berturut-turut pada bab II dan III itu, ternyata ada lagi beberapa buah prasasti lain terdapat di Bali, yang kini masih tersimpan di sana-sini pada beberapa desa. Sayang prasasti-prasasti itu tidak menyebutkan bilangan tahun dan nama-nama raja yang menerbitkannya, sehingga sukar untuk menentukan keselahannya[?]. Prasasti-prasasti itu tertulis di atas kepingan-kepingan tembaga menyatakan kekuasaannya, bahkan di antaranya ada yang dianggap lebih kuna diterbitkan dari pada prasasti-prasasti yang sudah pernah dibicarakan itu. Adanya prasasti-prasasti itu ba[?]juga diterangkan satu per satu untuk direnungkan bersama-sama, dan terdapatnya prasasti-prasasti itu ialah di desa:

1. Manik Liu. Bentuk huruf dan sifat prasasti itu hamir sejenis dengan prasasti yang terdapat di desa itu juga yang bertahun 1133, dan yang sudah pernah dibicarakan pada pasal 4 bab III. Akan tetapi gaya bahasanya adalah menyerupai prasasti Sawan/Blantih yang bertahun 1098 (baca pasal 2 bab III) atau prasasti Goblek bertahun 1115 (baca pasal 3 bab III). Tersebut di dalam prasasti itu antara lain, ialah: “sang senapati maniringin”, artinya ialah: hulubalang di Manjiringin, dan ‘tlas sinaksyaken”, artinya ialah: habis disaksikan, yang bermakna disahkan. Pada penutup prasasti itu tersebutlah kata-kata: “teher parimandalanira taninya cinacurdesa”. Artinya kira-kira ialah: tetap menjadi desa perdikan dari petani-petani keempat buah desa itu.

2. Sibang-kaja. Memperhatikan bentuk dan corak prasasti itu, kemungkinan diterbitkan semasa Sri Ugrasena bertakhta. Sejenis dengan prasasti Goblek yang tdak bertahun itu (baca pasal 3 bab II), sehingga penerbitannya juga di antara tahun 1048-1181.

3. Lukluk, Ubung dan Pamejutan. Keping-keping tembaga untuk prasasti itu terpisah-pisah (p.84) letaknya: sebagian terdapat di desa Lukluk, sebagian lagi terdapat de desa Ubung dan Pamejutan. Tersebut di dalam prasasti itu di antaranya, ialah ”karaman samuran”, artinya ialah: adat desa di Samuran (?). Tersebut pula: “Hyang Karampas”, yang menjadi tempat kediaman seorang pendita beragama Siwa. Di mana letak Hyang Karampas itu, sukar diketahui bekas-bekasnya sekarang. Memperhatikan bentuk huruf prasasti itu, agaknya sejenis dengan prasasti Sibang-kaja yang tersebut pada angka 2 di atas. Kemungkinan prasasti itu diterbitkan semasa Anak Wungsu atau Sri Jayapangus bertakhta.

4. Ngis. Tersebut di dalam prasasti itu antara lain: “thani baraha”, artinya ialah: orang-orang tani di Beraha. Di mana letak Baraha itu sukar ditentukan sekarang. Oleh karena prasasti itu ditulis 7 baris tiap-tiap muka, maka timbullah anggapan, bahwa prasasti itu sejenis dengan prasasti Mantring yang bertahun 1181, yang diterbitkan semasa Sri Jayapangus bertakhta (baca pasal 5 bab III).

5. Bebetin. Tersebut di dalam prasasti itu adanya: “paduka sri maharaja sri samajaya”, artinya ialah: Yang mulia baginda raja Sri Samajaya. Kemungkinan baginda itu adalah Sri Jayapangus yang disebut juga demikian, sebab nama-nama dari pegawai-pegawai negeri yang tersebut di dalam prasasti itu semuanya sama dengan yang tersebut di dalam prasasti-prasasti penerbitan baginda itu. Misalnya kepangkatan “samgat” tersebut antara lain di dalam prasasti itu yang menerima perintah baginda raja, sehingga dapat mempertebal keyakinan, bahwa prasasti itu diterbitkan pada masa dan oleh baginda raja itu.

6. Cempaga. Tersebut di dalam prasasti itu antara lain: “tokyen wara sanmata anugrahanira”, artinya kira-kira ialah: sebab itulah maka diperkenankan olehnya. Lagi pula tersebut: “karaman campaga”, artinya ialah: adat desa di desa Cempaga. Walaupun di dalam prasasti itu ada tersebut nama Sri Jayapangus, namun para ahli belum berani menyatakan, bahwa prasasti itu memang diterbitkan oleh baginda itu. Kekusutan bunyi prasasti itu, menyebabkan keragu-raguan itu.

7. Teba-kauh. Tersebut di dalam prasasti itu antara lain: “karaman Lubanan”, artnya ialah: adat desa di Lubunan. Kemungkinan Lubunan itu adalah Lumbanan yang dimaksudkan olehnya. Lumbanan itu ialah nama sebuah desa yang masih terdapat sekarang. Tersebut juga di dalam prasasti itu pelbagai upacara keagamaan yang harus diselenggarakan oleh orang-orang desa di situ. Memperhatikan sifatnya, agaknya prasasti itu sejenis dengan prasasti yang terdapat di desa itu juga, dan yang sudah dibicarakan pada pasal 5 bab III angka 15.

8. Klungkung. Tulisan prasasti itu tidak terang, hanya 2 patah kata saja yang masih dapat dibaca, yang menyebutkan: “Dharma Er-ara”. Maksudnya kira-kira ialah: tanah perdikan di Er-ara. Tetapi di mana letak Er-ara itu, tidak terdapat bekas-bekasnya sekarang. Sifat prasasti itu agaknya sejenis dengan prasasti-prasasti yang diterbitkan semasa Sri Jayapangus bertakhta (baca pasal 5 bab III).

9. Angsari. Prasasti itu tertulis 13 baris tiap-tiap muka, adalah menyatakan akan kekunaannya. Kemungkinan prasasti itu diterbitkan antara tahun 914-915, menilik coraknya adalah serupa dengan prasasti Gobleg yang bertahun 914 (baca pasal 2 bab II), atau dengan prasasti Srokadan yang betahun 915 (baca pasal 3 bab II). Tetapi jikalau ditilik dari keadaan prasasti itu ditulis 13 baris tiap-tiap muka, kemungkinan prasasti itu diterbitkan lebih dahulu dari pada prasasti-prasasti yang dipakai perbandingan itu. Bahkan lebih lama pula dari pada semua prasasti-prasasti yang sudah dibicarakan itu. Tersebut di dalam prasasti itu antara lain nama seorang penjabat: “Gamarohana”, yang dapat dibandingkan dengan sebutan kepangkatan di dalam prasasti Gobleg yang bertahun 1115 (baca pasal 3 bab III), di mana tersebut “Gajarohana” yang berpangkat “juru wadwa”, artinya petugas yang mengatur pasukan.

10. Mantring. Tersebut antara lain di dalam prasasti itu, ialah: “karaman pagar balatungan”, artinya ialah: adat desa di Pagar Balatungan. Akan tetapi desa mana yang dimaksudkannya itu, sukar ditentukan sekarang. Menilik dari sifat dan betuk prasasti itu, kemungkinan diterbitkan semasa Sri Jayapangus bertakhta (baca pasal 5 bab III).

11. Gobleg. Gaya prasasti itu menunjukkan sifatnya sejenis dengan prasasti Trunyan yang bertahun 1049, atau dengan prasasti Sukawana yang bertahun 1054 (baca pasal 9 bab II yang tersebut pada angka 1 dan 4). Akan tetapi jikalau diperhatikan bentuk huruf-hurufnya, sama sekali tidak menunjukkan persamaan dengan prasasti-prasasti yang dipakai perbandingan itu. Tersebut di dalam prasasti itu antara lain: “karaman tamblingan”, artinya ialah adat-istiadat di Tamblingan. Sedangkan Tamblingan itu, ialah nama sebuah danau yang terletak di sebelah barat danau Beratan. Prasasti itu mempergunakan bahasa Jawa-Kuna, sekarang tersimpan di Pura Batur yang terletak di desa itu.

12. Manik-Liu. Terdapat lagi sebuah prasasti di desa itu, tetapi hanya (p.85) selembar saja, yaitu lembaran penghabisan dari prasasti lain yang kebetulan terdapat di sana. Ucapan “sapatha” yang berarti sumpah tersebut di dalam [?]mbaran itu menyatakan, bahwa kepingan tembaga itu selaku penutup dari prasasti lain yang bersangkutan.

Tersebut juga di dalam prasasti itu antara lain, ialah pelbagai ketentuan upacara-upacara keagamaan yang harus diselenggaralan oleh penduduk desa Buyan dan Tarunyan, yaitu tiap-tiap tahun sekali jatuh pada bulan “Magha” (Januari/Februari), bertepatan dengan hari-hari pemungutan sejak yang dilakukan oleh Pemerintah. Memperhatikan sifat prasasti itu, dikirarakan penerbitannya semasa baginda Anak Wungsu bertakhta (baca pasal 9 bab II).

Sekian banyak prasasti-prasasti yang masih menjadi buah pertimbangan para ahli, dan yang belum dapat ditentukan keadaannya. Lain dari pada prasasti-prasasti tersebut di atas, terdapat juga sebuah prasasti di mesium Frankfurt am Main, negeri Jerman yang serupa keadaannya. Prasasti itu kira-kira diterbitkan semasa Anak Wungsu atau Sri Jayapangus bertakhta, menilik dari bentuk dan coraknya. Sebagai telah dimaklumi, bahwa di situ ada terdapat sebuah prasasti [in?] yang bertahun 859, dan yang sudah pernah dibicarakan pada pasal 6 bab [?].

Pada sebuah pura bernama Pura Batur yang terletak di desa Penebel (Su-antaya?) terdapat sebuah batu bertulis. Tulisan-tulisan yang tergores di situ berbunyi: “bhatara sang i dalem”. Arti dari perkataan-perkataan itu ialah: Dewa yang berkhayangan di Dalem, atau raja yang telah mangkat dijenazahkan di sana. Jikalau perkataan-perkataan itu dimaksudkan untuk menerangkan adanya penjenazahan seorang raja, sudah tentu salah seorang raja yang tersebut pada bab II dan III dijenazahkan di sana. Akan tetapi jikalau perkataan-perkataan itu mengandung arti pemujaan untuk Dewa-dewa, maka dapatlah ditentukan, bahwa pura [d?] ialah pemujaan untuk Durga, ataukah pemujaan untuk Dewi Danau, mengingat adanya pura itu bernama Pura Batur. Keterangan lebih jauh sukar diberikan.

Sementara itu terdapat 3 buah candi dan sebuah prasada yang masih menjadi buah pertimbangan. Seperti diketahui menurut kebiasaan, bahwa candi-candi [?] prasada itu ialah untuk penjenazahan raja-raja atau orang-orang terkemuka yang dipangang sudah berbuat jasa semasa hidupnya. Candi-candi dan prasada yang dimaksudkan itu, ialah:

Candi Bakungan yang terletak pada suatu tempat bernama Cekik di daerah Bali Utara, tiada jauh dari Gilimanuk; Sebuah candi terletak pada sebuah pura bernama Susuhunan Wadon, yang terdapat di Pulau Serangan (Bali-Selatan); Sebuah candi terletak pada pertemuan aliran sungai Kerobokan dan sungai Pakersan, yang terdapat di sebelah utara desa Tampaksiring di Bali-Tengah; Sebuah prasada yang terletak di desa Kapal.

Sekian jumlah candi-candi dan prasada yang masih gelap keadaannya, sedang menurut keterangan prasasti-prasasti itu, masih ada lagi tempat-tempat penjenazahan raja-raja selain dari pada yang sudah dibicarakan pada bab I dan III, yang hingga sekarang belum diketahui di mana letaknya. Tempat-tempat penjenazahan itu dikatannya bernama: Dewasthana, Air Talaga dan Senamukha. Kemungkinan candi-candi itulah yang dahulu disebut demikian, akan tetapi dugaan itu tiada dapat dipertangung jawabkan. Ketiadaan bahan-bahan yang diperoleh untuk membuktikan kebenaran hal itu, maka persangkaan itu tiada dapat diletakkan alas dasar yang kuat.

Perlu kiranya diterangkan, bahwa kitab-kitab perpustakaan yang menceriterakan peristiwa-peristiwa bersejarah, kabanyakan kurang objektif caranya menggambarkan kejadian-kejadian itu. Umpamannya kitab “Usana-Jawa” yang tersebut pada pasal 9 bab III, ternyata penulisannya kurang jujur dan memihak sebelah. Baginda raja di Bali yang penghabisan itu dikatakannya bernama Sri Gajah [Wah?]ana menyatakan, bahwa penulis dari kitab itu tiada sanggup berdiri tegak. Seperti dimaklumi, bahwa sebutan “Gajah” yang dipergunakan oleh penulis [itu?] untuk baginda, ternyata tiada pada tempatnya, mengingat kekuasaan baginda raja itu makin besar pada masa itu, bahkan seimbang dengan kekuasaan raja-raja[?] di kerajaan Majapahit.

Hal itu membuktikan, bahwa menulis dari kitab-kitab itu memang sengaja hendak merendahkan derajat baginda itu, karena dipandang olehnya selaku musuh. Memang dapat dimaklumi pendirian penulis-penulis jaman dahulu, baik jaman sekarang, sengaja menjunjung tinggi kebesaran [di?] mana mereka berpijak, sebaliknya merendahkan dan menghinakan kekuasaan-kekuasaan yang menjadi lawannya itu.

[?]Yang menjadi kesukaran lagi mempelajari kitab-kitab serupa itu, bukan saja terletak pada kesulitan memahami tentang maksudnya [ig?] masih samar-samar dan harus dikupas lagi, melainkan perhitungan waktu [dan?] kapan peristiwa itu terjadi jarang disebut oleh penulis-penulisnya.

2. Majapahit bergerak menggempur Bali

(p.86) Kitab “Usasa-Jawa” melanjutkan lagi ceriteranya, untuk meyambung apa yang sudah diterangkan olehnya pada pasal 9 bab III. Gajah Mada yang berpangkat patih-mangkubumi di kerajaan Majapahit, sesudah ia dapat mengadakan peninjauan ke Bali, siap sekarang hendak melaksanakan cita-citanya semula, ialah untuk mempersatukan seluruh Nusantara di bawah payung kebesaran Majapahit. Bali yang menjadi tetangga terdekat, hendak dijadikannya lapangan percobaan untuk melaksanakan cita-cita itu.

Menurut keterangan kitab-kitab sejarah Indonesia yang sudah banyak ditulis oleh para ahli, bahwa Gajah Mada pernah mengucapkan “sumpa-palapa” ketika ia baru menerima angkatannya menjadi patih-mangkubumi di kerajaan Majapahit sejak tahun 1331. Makna dari “sumpa-palapa” itu ialah suatu pernyataan di muka sidang perwakilan rakyat yang diadakan di paseban Majapahit pada waktu itu, bahwa Gajah Mada bersumpah tiada akan makan “pelapa”, selama seluruh Nusantara belum dapat dipersatukan olehnya. “Palapa” artinya kebahagiaan maka selama itu ia pantang bersenang-senang untuk dirinya sendiri, melainkan segenap jiwanya akan diabjikannya untuk kepentingan negara. Selama cita-cita negara belum tercapai, ia akan terus bergerak untuk menbentuk negara kesatuan, demikianlah haluan pelitik Gajah Mada yang diumumkan olehnya selaku sumpah-setia.

Sebelum ia mengadakan peninjahan itu, sebenarnya sudah pernah dikirim olehnya orang pemimpin-pemimpin agama Buddha ke Bali pada tahun 1338. Pengiriman pemimpin-pemimpin agama itu dimaksudkan olehnya, ialah untuk memikat hati orang-orang Bali supaya suka tunduk di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit dengan politik keagamaan. Akan tetapi tindakan itu ternyata gagal, kedatangan pemimpin-pemimpin agama itu diterima oleh orang-orang Bali dengan hati dingin. Anjuran mereka supaya di Bali didirikan sebuah pura besar untuk pemujaan umum yang disebut: “Tathaganapura Gerhastadara”, ternyata diabaikan oleh masyarakat di sana. Sebab itulah maka Gajah Mada sendiri pergi ke Bali untuk menyatakan perkembangan keadaan di situ, berkesudahan apa yang sudah diterangkan pada pasal 9 bab III.

Kabar yang didengar olehnya tentang kemangkatan baginda raja Sri Gajah Wahana pada tahun 1342, amat mengembirakan hatinya. Hal itu mendorong hasratnya hendak menundukkan kekuasaan di Bali dengan kekuatan senjata, sebab tidak ada kemungkinan lagi perdamaian akan dapat diciptakan dengan jalan berunding. Dituduhnya yang berkuasa di Bali tiada mempunyai keinsyafan bernegara, tidak suka memahami haluan politiknya. Sikap pemerintah di Bali dianggapnya sebagai pelanggaran terhadap kekuasaan di Majapahit yang harus dihormatinya, kekukuhan pendirinya itu dipandang sama dengan berbuat maksiat. Oleh karena itu bulat pendapat Gajah Mada hendak memaksakan politiknya, demi kebesaran kerajaan Majapahit. Sementara itu terlintas di dalam pikirannya kesukaran yang akan dihadapinya, selagi Kebo Iwa yang amat diseganinya masih hidup di Bali. Kekuatan orang itu harus diperhitungkannya terlebih dahulu sebelum bertindak.

Gajah Mada lalu mengundang Kebo Iwa agar suka pergi ke Jawa pesiar, guna menikmati pemandangan yang indah-indah. Dikatakan olehnya, bahwa ke kerajaan Majapahit terdapat seorang putri yang amat cantik parasnya, selaras menjadi kawan hidup Kedo Iwa yang tinggal membujang itu. Gajah Mada menyatakan kesedihan hatinya melihat kawannya itu tinggal membujang selama-lamanya, lantaran tiada memperoleh pasangan yang setimpal baginya. Demikian pesan Gajah Mada kepada utusan yang kemudian dikirimnya ke Bali, sehingga Kebo Iwa tertarik hatinya memenuhi undangan kawan sejawatnya itu. Dengan tidak sakwasangka lagi Kebo Iwa lalu berangkat ke Jawa, karena didorong oleh nafsunya hendak kawin lekas-lekas. Akan tetapi setelah tiba di kerajaan Majapahit, ia lalu diperdayakan oleh Gajah Mada, sehingga menemui ajalnya di sana.

Note: Patung orang kuat itu sekarang terdapat pada sebuah pura bernama Pura Gaduh, yang terletak di desa Blahbatu. Patung itu hanya berujud kepala saja, dipuja-puja oleh keturunan keluarganya yang disebut “Karang-Buncing”, yang merupakan segolongan suku warga di Bali. Oleh karena di muka pintu gerbang pura itu terdapat 2 buah patung merupakan gajah sebelah-menyebelahnya, maka timbullah dugaan, bahwa patung-patung dan pintu gerbang itu ialah Candrasangkala yang mempunyai bilangan tahun Saka 929 (=1007 Masehi) dengan pengertian: “asta ngapit lawang”.

Sesudah Kebo Iwa meninggal dunia, belum juga ada tanda-tanda, bahwa kekuasaan di Bali akan suka menyerah. Bahkan sebaliknya kebencian orang-orang Bali terhadap kerajaan Majapahit itu semakin memuncak, setelah tersiar kabar, bahwa kematian Kebo Iwa itu karena ditipu-dayakan oleh pembesar-pembesar di (p.97) sana. Semejak itu Pasung Gerigis yang menjadi raja-patih di Bali mulai bersiap-siap oleh keyakinannya, bahwa pemerintah di kerajaan Majapahit sudah berbuat curang.

Ketka diadakan sidang perwakilan rakyat di Bedahulu di bawa pimpinan raja-patih Pasung Gerigis, terdapatlah kata sepakat berjuang bersama-sama mempertahankan kemerdekaan tanah air. Kebulatan tekad itu didukung oleh segenap pemimpin-pemimpin rakyat, yang namanya dan tempat tinggalnya tersebut di bawah ini:

- Giri Kmana berkedudukan di Denbukit (Bali-Utara),
- Tunjung Tutur berkedukuan di Cianyar (Bali-Timur),
- Tunjung Biru berkedudukan di desa Cianyar (Bali-Timur),
- Ki Buwahan berdudukan di desa Batur (di pedalaman),
- Ken Tambyak berdudukan di desa Jimbaran (Bali-Selatan),
- Ki Kopang berdudukan di desa Sraya (Bali-Timur), dan
- Ki Walungsingkal berdudukan di desa Taro (di pedalaman).

Selain dari pada pemimpin-pemimpin rakyat tersebut, terdapat lagi 2 orang pembesar terkemuka yang siap sedia menyerahkan jiwa raganya demi kehormatan tanah airnya: ialah Gudug Basur yang berpangkat demung, dan Si Kala Gemet yang berpangkat tumenggung.

Sementara itu Gajah Mada mendengar kabar, bahwa kekuasaan di Bali sudah siap sedia kala akan mengadakan perlawanan, segera menyusun kekuatannya. Kesatuan-satuan tentara yang besar jumlahnya mulai bergerak dari Majapahit arah ke timur di bawah pimpinan Gajah Mada sendiri, dengan dibantu oleh seorang panglima perang bernama Arya Damar. Tiba di pantai Banyuwangi mereka berhenti sebentar mengadakan permusyawaratan, bagaimana caranya melakukan peng[?] pertempuran itu.

Diambil keputusan, bahwa pendaratan harus dilakukan serentak dari 4 jurusan. Ditentukan selanjutnya, bahwa Gajah Mada sendiri harus memimpin pendaratan yang akan dilakukan di pantai timur Gunung Agung, Arya Damar memimpin pendaratan yang akan dilakukan di pantai Bali-Utara, yang terdiri dari kesatuan-kesatuan tentara dari Palembang, sedang pendaratan di pantai Bali-Selatan diserahkan pimpinannya kepada 6 orang perwira masing-masing bernama: Arya [K?]enceng, Arya Sentong, Arya Bleteng, Arya Belog, Arya Panagalasan dan Arya [P?]anuruhan. Mereka masing-masing mengepalai kesatuan-kesatuan tentara sebanyak +/- 15.000 orang, sedang pendaratan di pantai Bali-barat harus dilakukan oleh kesatuan-kesatuan tentara dari Sunda yang berjumlah +/- 2000 orang, di bawah pimpinan penglima-raja[?] yang bernama Adipati Takung yang disebut juga Orang-Agung atau Urang-Jaya[?] dengan bibantu oleh seorang perwira bawahannya bernama Lagut. Jumlah tentara di bahwa pimpinan Gajah Mada tiada terhitung banyaknya, akan tetapi persatuan-persatuan tentara dari Palembang di bawah Arya Damar itu ada sebanyak +/- 20.000 orang.

Ditentukan pula, bahwa apabila nanti kelihatan di sebelah timur pulau Bali api menyala atau asap mengepul, adanya suatu tanda, bahwa serangan umum harus dimulai, masing-masing harus menggerakkan tentaranya serempak untuk mengepung Bedahulu.

Demikianlah kesimpulan dari keputusan itu, mereka lalu menyeberangkan tentaranya masing-masing ke pulau Bali, segera melakukan pendaratan pada tempat-tempat yang telah ditentukan itu.

Kesatuan-kesatuan tentara Majapahit di bawah pimpinan Gajah Mada yang melakukan pendaratan di pantai sebelah timur Gunung Agung, ternyata mendapat sambutan hangat di sana. Pendaratan itu ditangkis kesatuan-kesatuan tentara Bali yang besar jumlahnya, di bawah pimpinan panglima yang bernama Tunjung [a?]ntur dan Ki Kopang. Maka terjadilah pertempuran sengit di sepanjang pantai itu, kedua belah pihak sama-sama tangguh mengadu kekuatan. Tidak terhitung banyaknya kurban kedua belah pihak, darah mengalir sepanjang pantai itu. Beberapa hari lamanya terjadi pertarungan hebat dan dasyat di situ, akhirnya pihak Bali menderita kekalahan. Tanjung Tutur dan Ki Kopang gugur dalam pertempuran itu, sehingga daerah Bali-timur dapat diduduki oleh pihak peny[?]ang.

Sesudah daerah itu dapat diduduki, Gajah Mada lalu menyuruh tentaranya membakar hutan-hutan belukar yang terletak di lereng Gunung Agung, guna memberi tanda kepada kawan-kawannya yang melakukan pendaratan di tempat-tempat lain, bahwa serangan umum sudah dapat dilakukan serampak.

Demikianlah Arya Damar yang memimpin pendaratan di pantai Bali-Utara setelah melihat tanda-tanda itu, segera menggerakkan tentaranya menyerang musuh.

Gerakan tentara Palembang itu ternyata mendapat sambutan hebat dari lawannya, kesatuan-kesatuan tentara Bali di Denbukit serentak maju menghadapinya, di bawah pimpinan panglimanya yang bernama Giri Kmana. Maka terjadilah pertumpahan darah di sana sehebat-hebatnya, kedua belah pihak pantang mundur. Mereka menyabung nyawa dengan gagah beraninya, sama-sama tiada pemperdulikan pengurbanan.

Sesuah 2 hari lamanya bertempur mati-matian, akhirnya pihak Arya Damar menderita kekalahan hebat, terdesak mundur sampai ke desa Ularan. Tidak kurang dari 17.000 orang tentaranya yang tewas ketika itu, sisanya yang masih hidup sebanyak [?]3.000 orang, tinggal bertahan di desa itu. Benteng alam yang terdapat di situ, memperlindungi nasib mereka.

Arya Damar yakin akan kekalahannya apabila serangan itu diklanjutkan, (p.88) segera berangkat ke Jawa mencahari bantuan. Empat belas hari di dalam perjalanan, barulah ia tiba di ibukota Majapahit. Bukan buatan kekecewaan hati pemerintannya, ketika ia melapurkan tentang kekalahannya dengan pengurbanan yang tiada sedikit jumlahnya itu. Dituduhnya ia pengecut tiada berani meneteskan darah, serta kurang capak mempimpin tentara. Pemerintahnya bersedia akam memberikan bantuan kepadanya sebanyak diperlukan untuk menyelamatkan sisa-sisa pasukan yang masih bertahan di des Ularan, akan tetapi ia sendiri harus berangkat lagi ke Bali dengan kesediaan harus mati bertempur, atau tinggal hidup dengan luka-luka menyatakan kejantahannya.

Arya Damar berangkat lagi ke Bali beserta dengan seorang perwira bernama Arya Kutawaringin yang ditugaskan oleh pemeritahannya membantu gerakkan itu. Jumlah balabantuan yang diseberangkan ke Bali cukup banyak, mereka terdir dari perajurit-perajurit pilihan lengkap dengan persenjataannya.

Sementara itu api peperangan di Bali-Selatan sudah berkobar dengan hebatnya. Arya Kenceng, Arya Sentong, Arya Bleteng, Arya Belog, Arya Panga[p?]lasan dan Arya Manuruhan yang menjadi pemimpin kesatuan-kesatuan tentara Majapahit di sana, segera mengajukan pasukannya masing-masing, setelah mereka melihat kepulan asap di sebelah timur. Gerakan itu disambut oleh laskar Bali dengan kebalatan tekad, di bawah pimpinan pahlawannya yang bernama Ken Tam[?]abyak dan Gudug Basur. Maka terjadilah pertempuran sengit di sana sehebat-hebatnya, kedua belah pihak tiada memperdulilan pengurbanan. Sesudah 7 hari lamanya menyabung nyawa siang dan malam, akhirnya pihak Bali menderita kekalahan, setelah kedua orang pahlawannya yang gagah berani itu gugur.

Kekalahan itu mengakibatkan daerah yang luas sepanjang pantai Bali-Selatan dapat diduduki oleh pihak penyerang. Akan tetapi laskar Majapahit yang memperoleh kemenangan tahadi tiada berani lagi melanjutkan serangannya terus ke pedalaman, mereka tinggal bertahan di sana menunggu perintah penglima besar Gajah Mada yang berada di Bali-Timur.

Dalam pada itu Arya Damar dengan dibantu oleh Arya Kutawaringin sudah mendaratkan balabantuannya di pantai desa Ularan. Sesudah selesai mengatur persiapan, mereka lalu menggerakkan lagi tentaranya melakukan serangan balasan. Penyerangan yang bagaikan gelombang menebah pantai, menyebabkan pihak lawannya terdesak mundur. Giri Kmana yang memimpin laskar Bali itu ternyata tewas dalam pertempuran itu, setelah beberapa hari lamanya mengadakan perlawanan. Akan tetapi daerah Denbukit itu hanya bagian sebelah barat saja yang dapat diduduki oleh pihak penyerang, sedang bagian sebelah timur masih tangguh mengadakan perlawanan.

Ki Buwahan pahlawan dari desa Batur datang membantu kawan-kawannya di Denbukit yang sedang mundur ke sebelah timur, sehingga api peperangan yang sudah redup itu dapat berkobar lagi. Ketangkasan Ki Buwahan memimpin pasukannya, menyebabkan pihak lawannya sering kucar-kacir menghadapinya.

Sesudah 7 bulan lamanya mengadakan pertempuran di situ, barulah Arya Damar dan Arya Kutawaringin berhasil menundukkan seluruh daerah Denbukti itu, setelah pahlawan Buwahan yang gagah perkasa itu tewas.

Sesudah sekalian penduduk di daerah Denbukit menyatakan takluk, maka Arya Damar dan Arya Kutawaringin lalu menggerakkan lagi tentaranya menuju ke Bali-Selatan. Lima hari lamanya di dalam perjalanan, barulah mereka dapat menggabungkan diri dengan pasukan-pasukan Gajah Mada yang masih bertahan di desa Tawing. Bukan buatan kecewa hati Arya Damar melihat Gajah Mada tinggal berlengah-lengah di desa itu, serasa tiada sanggup lagi menggerakkan tentaranya menyerang Bedahulu.

Atas pertanyaan Arya Damar apa sebabnya Gajah Mada tinggal diam di situ, maka Gajah Mada lalu memberikan penjelasan kepada kawannya itu, bahwa penyerangan yang didasarkan atas keberanian saja, niscaya akan buruk akibatnya. Kekuatan musuh harus diperhitungkan lebih dahulu sebelum bertindak, untuk mencegah kahancuran, demikian ujarnya.

Gajah Mada bersedia akan menghadapi musuh yang tidada suka menyerah itu dengan tipu muslihat yang lebih menguntungkan, agar jumlah kerugian dapat diperkecil. Ibarat mencahari ikan di dalam telaga, sedapat mungkin jangan sampai air telaga itu menjadi keruh, begitu juga bunga teratai yang terdapat di situ jangan laju karenanya, sedang ikan yang hendak dicahari itu akhirnya dengan mudah dapat ditangkap semuanya.

Ucapan Gajah Mada yang membayangkan kesanggupannya bertindak menghadapi musuh yang berbahaya itu, dapat meredahkan kemarahan Arya Damar beserta dengan kawan-kawannya. Mereka yakin akan kecakapan Gajah Mada bersiasat, seraya mempersilahkan Gajah Mada bertindak memurut rencananya yang akan menguntungkan itu.

Sesudah Gajah Mada membisikan kepada kawan-kawannya apa yang mereka harus perbuat kemudian, Gajah Mada lalu meninggalkan markas beserta dengan beberapa orang pengikutnya tanpa bersenjata. Sambil mengibarkan bendera putih tanda menyerah, rombongan Gajah Mada itu lalu berangkat menuju ke kota Bedahulu. Kedatangan rombongan itu mula-mula ditolak oleh pasukan-pasukan pengawal di situ, akan tetapi berkat kebijaksanaan Gajah Mada berbuat seakan-akan memang benar hendak menyerah, akhirnya mereka dibolehkan masuk ke ibukota hendak bertemu dengan raja-patih Pasung Gerigis.

(p.89) Kedatangan Gajah Mada beserta dengan pengikutnya yang sedikit jumlahnya itu tanpa bersenjata, diterima oleh Pasung Gerigis dengan tiada menaruh keragu-raguan lagi. Atas pertanyaan Pasung Gerigis, Gajah Mada lalu menerangkan maksud kedatangannya ialah semata-mata untuk menyerah mengharapkan perlindungan. Gajah Mada menyatakan kekagumanannya menghadapi keperwiraan pahlawan-pahlawan Bali yang tiada tolok bandingannya, sehingga ia terpaka harus mengakui kekalahannya. Nasib segenap pasukannya dari Jawa bersedia ia menyerahkan di bawah perlindungan pemerintah di Bali, serta bersedia pula menkhianati pemerintahanya di Majapahit bila dikehendaki oleh Pasung Gerigis.

Keahlian Gajah Mada bercakap-cakap dengan gayanya yang lemah lunglai menyatakan kejujuran hatinya, sungguh dapat menarik perhatian Pasung Gerigis. Penyerahan nasib itu dapat diterima oleh Pasung Gerigis, asal Gajah Mada suka bertanggung jawab atas segala kejadian yang mungkin ditimbulkan oleh angkatan perangnya itu. Gajah Mada segera memberikan pertanggungan jawab itu, seraya menyatakan keikhlasannya biar jiwanya menjadi taruhan.

Pernyataan Gajah Mada itu dapat menggerakkan hati Pasung Gerigis, sehingga perletakkan senjata lalu diumumkan. Oleh Pasung Gerigis lalu Gajah Mada diajak pergi ke desa Tengkulak di tempat kediamannya, ia terima di sana bukan lagi sebagai lawan, malainkan sebagai kawan yang sudah menyatakan kekaribannya.

Pada suatu hari ketika kedua orang pembesar itu mengadakan percakapan di sana berkenaan dengan nasib tentara Majapahit yang sudah berada di Bali, Gajah Mada dapat mengalihkan percakapan itu sebentar ke arah perkhabaran yang pernah didengar olehnya.

Menurut pendengarannya, demikian Gajah Mada menyela percakapan itu, bahwa Pasung Gerigis ada mempunyai seekor anjing hitam yang pandai menggonggong batok kelapa, apabila dipanggil makan. Penjenggarahan Gajah Mada itu dibernarkan oleh Pasung Gerigis, ia lalu memanggil anjingnya itu untuk diperlihatkan akan kecakapannya. Sesudah anjing itu datang sambil menggongong batok kelapa, Pasung Gerigis ternyata tiada memberikan makan anjing itu, sebab maksudnya hanya menunjukkan kecakapannya saja. Hal itu lalu dipakai alasan oleh Gajah Mada untuk menuduh Pasung Gerigis sudah berbuat curang terhadap makhluk yang lebih rendah derajatnya, menyatakan Pasung Gerigis tiada sanggup meneguhkan perjanjian yang pernah dibuatnya. Tuduhan itu tiada sapat dibantah oleh Pasung Gerigis, ia tinggal diam memikirkan apa maksud kawannya itu.

Sementara itu pahlawan-pahlawan Majapahit sudah banyak masuk ke ibukota dengan jalan menyamar, semenjak perletakkan senjata diumumkan. Tiba-tiba desa Tengkulak itu lalu dikepung rapat oleh kesatuan-kesatuan tentara dari Sunda, sehingga Pasung Gerigis tiada sanggup lagi bergerak, terpaksa mengakui kekalahannya. Maka semenjak itulah seluruh pulau Bali menyatakan takluk di bawah kekuasaan Majapahit, peristiwa itu terjadi pada tahun 1343.

Demikianlah caranya Gajah Mada menaklukkan musuhnya yang kuat itu oleh kecerdikan akalnya. Pasung Gerigis terus dipenjarakan di rumahnya di desa Tengkulak dengan dikawal oleh pasukan bersenjata yang kuat, dengan ancaman akan dibubunh apabila berani bergerak.

Tiada antara lama kemudian sesudah itu, datanglah seorang utusan dari Majapahit bernama Kuda Pengasih ke Bali, guna meninjau jalannya pertempuran di sana, sambil menjemput Gajah Mada dan Arya Damar agar lekas pulang kembali ke Majapahit, guna memberikan pertanggungan-jawab kepada pemerintahnya atas pertempuran yang sudah sekian lama berlangsung itu.

Gajah Mada beserta Arya Damar lalu berangkat ke Jawa, dengan meninggalkan sejumlah tenteranya di Bali. Bukan buatan girang hati pemerintahnya, setelah mereka memaklumkan hasil kemenangannya itu. Kecapakan Gajah Mada menaklukkan kekuasaan di Bali dengan tipu muslihatnya yang licin itu, dapat penghargaan setinggi-tingginya dari pemerintahannya. Kesanggupannya menjalankan politik halus sehingga musuhnya menyerah tanpa syarat, maka ia mendapat pujian sebesar-besarnya, serta dipandang sebagai penjelmaan Bhatara Wisnu.

Note: Kitab “Usana-Jawa” itu menerangkan, bahwa Gajah Mada dilahirkan di Bale Agung. Akan tetapi Mr. Muhamad Yamin menyangsikang keterangan kitab itu, ia berkeyakinan, bahwa orang besar itu asal pemuda desa yang dilahirkan pada lembah aliran sungai Berantas (baca kitab karangan sarjana itu yang bertitel Gajah Mada halaman 5-6).

Kembali diceriterkan tentang nasib Pasung Gerigis di Bali. Sesudah ia menyatakan ketulusan hatinya menjunjung tinggi kebesaran kerajaan Majapahit itu, ia lalu dikirim oleh pemerintah di Majaphait pergi ke pulau Sumbawa untuk menyatakan kesetiaannya. Keberangkatannya itu bersama-sama (p.90) dengan angakatan laut ke rajaan Majapahit yang bertugas menggempur kekukuhan di situ, di bawah pimpinan laksaman Nala.

Di situ dia berhadap-hadapan dengan raja Dedela Natha yang disebut juga Werdu-Murthi, yang tiada suka tunduk di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit. Dalam perang tanding berhadap-hapdapan baginda raja itu, ternyata Pasung Gerigis gugur bersama-sama dengan lawannya itu. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1357. Maka semenjak itulah Sumbawa dan Dompu senasib dengan Bali, sama-sama tunduk di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit. Setelah itu armada Majapahit itu melanjutkan lagi penggumpurannya terhadap kerajaan Bone di Sulawesi.

Note: Kitab-kitab perpustakaan yang sejenis sifatnya dengan kitab “Usana-Jawa” itu, terdapat di antaranya berbeda-beda caranya menyebutkan nama Pasung Gerigis itu. Ada yang mengatakan bahwa raja-patih itu bernama Pasung Giri, Pasung Rigih, Pasung Rigis dan segabainya. Akan tetapi ucapan “Pasung” itu adalah menyatakan persmaannya.

Kematian Pasung Gerigis itu belum lagi dapat menghilangkan kekhwatiran pemerintah di Majapahit dalam halnnya menghadapi keadaan di Bali. Sebagian besar kesatuan-kesatuan tentara Majapahit itu belum lagi ditarik kembali dari Bali, mereka terus ditugaskan menjara keamanan dan ketentraman di situ. Kekhawatiran pemerintah itu memang beralasan, ternyata dari keterangan kitab “Usana-Jawa” itu, yang melanjutkan lagi ceriterannya.

Tidak antara lama sesudah Pasung Gerigis tewas di Sumbawa, lalu timbul pemberontakan besar di Bali. Api pemberontakan itu dikobarkan oleh seorang pemimpin suku Bali-Aga yang dikatakannya bernama Mraja Dhanawa oleh kitab itu. Pernyataan kitab itu mengenai nama pemimpin kaum pemberontak itu sukar dapat diterima, sebab Mraja Dhanawa yang dimaksudkannya Sri Mayadhanawa yang tersebut pada pasal 5 bab II, lebih dari 31/2 abad lamanya sudah tidak ada lagi. Tetapi besar kemungkinan, bahwa pemimpin dari kaum pemberontak itu ialah keturunan dari baginda raja itu, yang bersedia mununtut balas atas kematian Pasung Gerigis yang ditinjau oleh orang-orang Bali-Aga itu.

Bangkitnya pemberontakan itu dengan tiba-tiba serta menghebat, menyebabkan kedudukan angkatan bersenjata yang bertugas menjaga keamanan di Bali terancam bahaya. Oleh karena itu seorang pemimpin dari pasukan Majapahit yang tinggal di Bali bernama Arya Sentong, segera bertolak ke Jawa guna minta bantuan kepada pemerintahnya. Lapuran Arya Sentong itu menterkejutkan pemerintah pusat di Majapahit, segera dikerahkan balabantuan yang besar jumlahnya untuk menghadapi pemberontakan itu. Konon katanya baginda raja Majapahit sendiri pergi ke Bali mempimpin gerakan untuk memadamkan api pemberontakan itu, mereka malakukan pendaratan di pantai Bali-Selatan.

Maka terjadilah pertempuran sengit di sana, yaitu pada suatu tempat bernama Yeh Selukat. Sesudah pihak menyerang menguburkan tentaranya sebanyak +/- 20.000 orang tewas dan luka-luka, barulah pemberontakan itu dapat ditindas. Sekalian pemimpinnya habis dibunuh.

Keamanan dan ketentraman segera pulih kembali, maka baginda raja Majapahit lalu mengadakan pembagian kekuasaan. Arya Damar diberi kekuasaan memerintah orang-orang Bali yang sudah menyatakan takluk itu sebanyak +/- 10.000 jiwa, Arya Sentong sebanyak +/- 7.000 jiwa, sedang Arya Bleteng, Arya Kutawaringin, Arya Belog dan Arya Kepakisan masing-masing sebanyak +/- 5.000 jiwa.

Arya Binculuk dan Kuda Pengasih masing-masing memperoleh pembagian sebanyak +/- 3.000 jiwa, begitu juga “panakawan” (hamba sahaja) dan “pakatik” (tukang kuda), masing-masing memperoleh pembagian sebanyak +/- 2.000 jiwa. Sesudah pembagian kekuasaan itu selesai dilakukan, bagnda raja lalu berangkat ke desa Tusan, akhirnya mendirikan sebuah keraton di Gelgel, dan sampai di situ kitab “Usana-Jawa” itu menyudahi ceriteranya.

Keterangan kitab itu amat berlebih-lebihan, bilangan angka yang diberikan olehnya itu agaknya dibesar-besarkan. Terutama tentang keberangkatan baginda raja Majapahit ke Bali guna menindas pemberontakan itu, tidak dapat dipercaya kebenarannya. Baik kitab “Pararaton”, maupun kitab “Negarakertagama” yang lebih dapat dipercaya keterangannya, sama sekali tidak pernah menceriterakan kejadian itu. Keterangan kitab-kitab itu diperkuat oleh pernyataan kitab-kitab “Babad-Dalem” dan “Kidung Pamancangah”, yang dapat dipakai pokok pelajaran untuk mengetahui sejarah perkembangan kekuasaan Majapahit kemudian di Bali. Pernyataan kitab-kitab itu nanti akan diutarakan pada pasal 3 di bawah ini.

Dari sumber lain terdapat keterangan, bahawa sesudah Bali jatuh di bawah kekuasaan Majapahit, Arya Damar segera menerima angkatannya menjadi Adipati di Palembang (Sumatra). Adanya Arya Binculuk dan Kuda Pengasih turut memegang kekuasaan kemudian di Bali, sama sekali tidak dibenarkan oleh kenyataan.

Memang sekarang terdapat sebuah desa di bali bernama Binculuk, akan tetapi hal itu tiada dapat dipakai pegangan yang kuat untuk menyatakan bahwa Arya Binculuk itu terus tinggal di Bali. Kemingkinan juga, bahwa (p.91) pemberian nama dari desa itu mengingat bekasnya asal ditempati oleh tetara pendudukan dari Jawa, demikian juga halnya dengan desa-desa lain, di antaranya ialah: Kediri, Lumajang, Koripan, Penarukan, Tuban, Wanagiri dan Pasuruhan. Kesimpulan dari keterangan kitab “Usana-Jawa” itu tidak dapat diterima seluruhnya.

3. Mahajapahit memusatkan kekuasannya di Samprangan

(p.92) Sesudah Bali takluk di bawah kekuasaan Majapahit, ternyata pemerintah di Majapahit lama belum lagi mangadakan perwakilan di sana. Kesibukan yang dihadapinya oleh pemerintah kerajaan itu, menyebabkan masalah perwakilan itu tinggal terbengkalai, belum sempat dipikirkan olehnya. Terutama pergantian mahkota di kerajaan itu, menyebabkan langkah-langkah ke arah itu belum lagi memberikan kesempatan. Tentara pendudukan yang ditempatkan di Bali cukup kuat menjamin keamanan dan ketertiban di situ. Pada masa itu sudah bertahta di kerajaan Majapahit baginda Sri Hayam Wuruk, dengan gelar “abhiseka: Bhatara Prabu Sri Rajasanagara” (1350-1389).

Menurut keterangan kitab: “Negarakertagama”, bahwa ketika baginda Sri Hayam Wuruk mengadakan perjalanan keliling di daerah Jawa-Timur di dalam bulan Agustus/September tahun 1359, baginda berkenaan menerima kedatangan para menteri terkemuka dari Bali pada sebuah desa bernama Patukangan. Sayang tidak dijelaskan oleh kitab itu, siapa nama para Menteri dari Bali yang datang ke situ, hanya diterangkan olehnya, bahwa mereka mula-mula berkumpul di Blambangan, kemudian bersama-sama berangkat ke desa Patukangan menghadap rajanya. Mereka membawa pelbagai persembahan, menyatakan setia-baktinya terhadap junjungannya itu.

Oleh karena pada masa itu belum terdengar adanya perwakilan yang sah ditempatkan oleh pemerintah Majapahit di Bali, kemungkinan mereka itu ialah para pahlawan pemimpin dari tiap-tiap pasukan yang bertugas di sana. Mereka dipanggil oleh baginda Sri Hayam Wuruk ke sana, ialah untuk memberikan pertanggungan jawab tentang keadaan di Bali. Akan tetapi ada kemungkingan juga, bahwa pada waktu itu sudah ditempatkan perwakilan yang sah di Bali, hanya tiada diterangkan siapa namanya, sehingga kebenarannya tiada dapat dipertanggung jawabkan.

Sementara itu kitab: “Pamancangah Pasek” menerangkan, bahwa pada masa itu terdapat di Bali seorang tokoh terkemuka, yang dikatakannya bernama Patih Ulung. Orang itu masih besar pengaruhnya di kalangan orang-orang Bali-Aga, dia dipandang sebagai pemimpinnya yang tinggal hidup, sesudah keraton Bedahulu menghadapi keruntuhannya (1343).

Patih-Ulung selalu cemas mengenangkan nasibnya kelak, oleh kecintaan orang-orang Bali-Aga terhadap dirinya. Terpikir olehnya, bahwa hal itu akan dapat mencelakakan dirinya, disebabkan oleh asung fitnah dan salah terima. Dia memandang sikap tentara pendudukan itu sudah melampaui batas, karena dimabuk oleh kemenangnya itu. Mereka membanggakan ketinggian derajatnya selaku “wong Majapahit”, serta menghinakan orang-orang Bali-Aga dengan kata-kata “tos Bali-Mula”, yang belum mempunyai peradaban. Karena perasaan mereka tersinggung, maka orang-orang Bali-Aga itu selalu mengungsi ke pegunungan mengasingkan diri. Hal itulah menyebabkan Patih Ulung semakin hawatir, mungkin dirinya akan dituduh oleh pemerintah di Majapahit mengasut orang-orang Bali-Aga itu supaya menyingkir menjauhkan diri.

Karena didorong oleh rasa takut dan khawatir, Patih Ulung lalu bertolak ke Majapahit bersama-sama dengan 2 orang keluarganya masing-masing bernama Arya Pamacekan dan Arya Kapasekan. Kedatangan mereka di ibu-kota Majapahit diterima oleh patih-mangkubumi Gajah Mada, dan atas pertanyaan pembesar itu, mereka menerangkan maksudnya mohon perlindungan. Kekhawatiran mereka tinggal di Bali, ialah disebabkan oleh pemerintah belum juga menempatkan seorang wakilnya di sana, yang bertugas menjaga keagamaan dan ketertiban, serta menegakkan keadilan. Mereka mendesak Gajah Mada, supaya lekas mengadakan badan perwakilan di Bali yang bertanggung jawab, guna menghindari purba-sangka dan salah terima. Selama belum ada badan perwakilan di Bali, mereka berkeyakinan, bahwa kesentausaan kekuasaan pemerintah Majah-Pahit di situ akan mengalami kesukaran.

Saran dan usul mereka itu mendapat perhatian penuh dari pembesar yang berkuasa itu. Gajah Mada menyanggupkan kepada mereka itu akan memenuhi saran dan usul mereka itu selekas-lekasnya, dengan pengharapan agar supaya mereka itu suka menyumbangkan segenap tenaganya, guna membantu anggauta-anggauta perwakilan yang akan dikirim itu, setelah mereka tiba di Bali. Anjuran Gajah Mada itu disambut oleh mereka dengan pernyataan suka bekerja-sama, demi kebesaran dan kejayaan kerajaan Majapahit. Setelah kesediaan mereka itu diikat dengan perjanjian, Gajah Mada memperkenankan mereka mohon diri, pulang kembali ke Bali.

Menurut keterangan kitab-kitab: “Babad Dalem” dan “Kidung Pamancangah”, bahwa Gajah Mada dalam usahanya hendak menempatkan seorang wakil di Bali dan di tempat-tempat lain, minta nasehat terlebih dahulu kepada seorang pendita bernama Mpu Kapakisan. Pendita itu ialah “Purohita” (pendita peribadi) dari Gajah Mada, terkenal akan kebijaksanaannya, serta keluruhan budinya. Mpu Kapakisan menyarankan kepada Gajah Mada, baiklah anak-anaknya diangkat selaku “cakradala” memegang pimpinan di Bali, maupun di tempat-tempat lain. Saran Mpu Kapakisan itu dapat ditermia oleh Gajah Mada, demi (p.93) memperkuat kedudukannya selaku patih-mangkubumi di Majapahit.

Pendita yang cerdik itu mempunyai tiga orang anak laki-laki dan seorang perempuan. Mereka itulah lalu diangkat oleh Gajah Mada menjadi adipati atau “cakradala”, masing-masing ditempatkan di Blambangan, Pasuruhan dan Bali. Sedang yang perempuan ditempatkan di pulau Sumbawa selaku “prabhu su[k?]anya, artinya raja perempuan.

Adipati yang akan ditempatkan di Bali itu, ternyata paling muda umurnya di antara saudara-saudaranya, sebab itu ia dipanggil Ida Ketut. Sesudah pemangkatannya menjadi adipati diumumkan, ia lalu mempergunakan nama kedewasaannya, ialah: “Sri Kresna Kapakisan”. Perkataan “Sri” itu menyatakan, bahwa ia tiada lagi tergolong ke dalam kekeluargaan Brahmana menurut systim “Caturwangsa”, melainkan menjadi Ksatrya karena jabatannya. Hal itu dapat dimengerti, bahwa systim “Caturwangsa” itu masih diletakkan atas dasar-dasar kepangakatan atau kewajiban pada masa itu, untuk mengetahui jenis coraknya. Perkataan “Kresna” itu ialah namanya sejati, sedang perkataan “Kapakisan” itu ialah gelar dari keturunannya.

Keberangkatan adipati itu ke Bali, disertai oleh banyak pengikutnya, terutama para “menak” (bangsawan) berasal dari Daha, yang setingkat derajatnya dengan para Ksatrya di Majapahit. Oleh kerena para “menak” itu menjadi pengikut dari adipati itu, maka semenjak itu mereka disebut para “arya”, lebih rendah derajatnya jika dibandingkan dengan adipati Yang Dipertuan.

Para “menak” yang sekarang disebut para “arya” itu, ternyata asal keturunan dari baginda raja Airlanggha yang mula-mula menciptakan kerajaan di Jawa-Timur (baca pasal 7 bab II). Maksud Gajah Mada mengirimkan mereka ke Bali, ialah untuk menyembuhkan luka-luka yang masih dirasakan oleh orang-orang Bali Aga, akibat keganasan peperangan di Bali beberapa tahun yang lampau. Sebagai dimaklumi, bahwa baginda raja Airlanggha itu memang berasal dari Bali, sehingga kedatangan para arya itu nanti di sana, dapat diterima oleh orang-orang Bali Aga dengan perasaan puas.

Ketika Sri Kresna Kapakisan bersiap hendak berangkat ke Bali, Gajah Mada memberi perlengkapan kepadanya pakaian kebesaran dan tanda-tanda menjadi Adipati, serta sebilah keris pusaka yang amat bertuah bernama Ganja Dungkul. Setelah sesuatu sudah selesai diatur, maka adipati lalu meninggalkan Majapahit, menyeberang ke Bali menunaikan tugasnya. Dengan mempergunakan beberapa perahu, rombongan adipati itu tiba di Bali, mula-mula berlabuh di pantai desa Lebih (Bali Selatan). Dari sana berjalan kaki melanjutkan tujuannya ke desa Samprangan, di situlah mereka terus bertempat tinggal, seraya membina pusat pemerintahan.

Dijelaskan selanjutnya oleh kitab-kitab itu, bahwa pengikut adipati yang mengepalai para arya itu, ialah Pangeran Nyuh Aya. Sedang para arya itu dikatakannya masing-masing bernama: Kanuruhan, Dalancang, Wangbang, Kenceng, Panga[l?]asan, Belog (=Tan Wikan), Manguri dan Kutawaringin. Sesudah berada di Bali, adipati berkenan mengangkat seorang arya berasal dari Bali bernama ju[.]a Wangbang, yaitu asal keturunan dari senapati Pinatih, yang tercantum namanya di dalam prasasti Batur yang bertahun 1011 (baca pasal 7 bab II).

Adanya kekuasaan Majapahit yang sudah berkedudukan di Samprangan itu, ternyata tiada suka dihormati oleh orang-orang Bali Aga. Mereka berani menentang kekuasaan itu, tiada suka datang ke Samprangan menyatakan setianya. Hal itu menyebabkan adipati gelisah beserta dengan sekalian pengikutnya. Mereka khawatir kedudukannya di Samprangan terancam bahaya, mungkin sewaktu-waktu akan timbul pemperontakan. Oleh karena itu adipati segera mengirim beberapa orang utusannya pergi ke Majapahit, guna melaporkan ketegangan yang terjadi di Bali, seraya minta bantuan pemerintah pusat untuk mengatasi kesulitan itu.

Gajah Mada menerima laporan itu, segera mengirimkan sejumlah balabantuan ke Bali, di bawah pimpinan Arya Gajah Para, serta 3 orang Wesya bersaudara, masing-masing bernama: Tan Kober, Tan Kawur dan Tan Mundur. Arya Gajah Para mendaratkan pasukannya di pantai Tianyar (Bali Timur), sedang ketiga orang Wesya itu bersama-sama mendaratkan pasukannya masing-masing di pantai Barat pulau Bali. Mereka serentak malakukan gerak cepat bersama-sama, menuju ke desa-desa tempat kedudukan orang-orang Bali Aga yang disangka hendak membangkitkan pemperontakan itu.

Gerakan menjepit itu menyebabkan orang-orang Bali Aga itu sukar bergerak, akhirnya tanpa menumpahkan darah mereka menya[?]akan penaklukannya. Nama-nama dari desa-desa itu kediaman orang-orang Bali Aga yang menyatakan suka menyerah itu, ialah: Batur, Campaga, Songan, Kedisan, Abang, [?]nggan, Munti, Bonyoh, Tarobayan, Serai, Sukawana, Panarajon, Cintamani, [?]ludu, Manikliu, Patani, Culik, Tista, Marga-Tiga, Muntig, Got, Basang-[?]las, Lokasana, Juntal, Garinten, Nasi-Kuning, Puhan, Ulakan, Simbanten, [?]sti, Batu-Wayang, Kedampal, Paselatan, Bantas, Tulamben, Carutcut, Datah [B?]atu-Dawa, dan Kuta-Dalem.

Sekian banyaknya desa-desa yang berpenduduk orang Bali Aga yang sedia[n?]ya hendak membangkitkan pemberontakan, akan tetapi berkat ketangkasan (p.94) para pahlawan dari Majapahit itu mengambil tindakan, terpaksa mereka membatalkan nyata itu. Mereka bersumpah setia terhadap pemerintah baru yang berdudukan di Samprangan, sehingga adipati memperoleh kesempatan menyusun pemerintahannya.

Pangeran Nyuh Aya diangkat menjadi Perdana-mentri atau Patih Agung, Arya Wangbang diangkat menjadi demung, dan Arya Kutawaringin diangkat menjadi tumenggung. Para Arya dan para Wesya yang lain-lainnya semua diangkat menjadi mentri, pangkat mereka itu dapat disamakan dengan jabatan punggawa zaman sekarang.

Entah beberapa tahun lamanya kemudian, timbul lagi kekacauan di Bali. Sikap orang-orang Bali Aga itu seakan-akan api di dalam sekam. Kemungkinan mereka bergerak lagi, sewaktu-waktu kesempatan memberikan. Hal itu membingungkan pemerintah di Samprangan, nyaris adipati meletakkan jabatannya. Keputu[a]saan mendorong ia mengirimkan utusan ke Majapahit, guna memaklumi gentingnya keadaan di Bali kepada pemerintah pusat.

Gajah Mada terkejut menerima lapuran itu, seraya katanya: “duh tan pasunga ngong cili angombali, ah pira rakwa saktining satru, apan alah dening ngong uni, kimuta mangke kapan ya sumasaa lan gebel ingsun puniki, yan mangkana dede ngong Wisnumurthi”.

Maksudnya aialah: “tiada kuperkenankan adipati pulang kembali, tidak seberapa kiranya kekuatan musuh, apalagi dulu sudah pernah bertekuk lutut, hendaklah dihadapi dengan kebijaksanaan, bila tidak berhasil, bukanlah aku penjelmaan Wisnu”.

Ucapan Gajah Mada itu adalah[?] membayangkan akan kesanggupannya menghadapi kaum pemberotak itu dengan tipu muslihat yang amat licin. Sesudah berkata demikian ia lalu berbisik kepada utusan itu, bagaimana caranya adipati harus bertindak, sehingga kekuatan musuh itu dapat dipatahkan sama sekali. Sesudah itu Gajah Mada lalu menerimakan sebilah keris kepada utusan itu untuk adipati, ialah untuk menenteremkan hatinya dalam menghadapi keadaan yang berbahaya itu. Keris itu amat bertuah, laksana “Pancajaya”, yaitu senjata mahasakti dari Wisnu, yang disegani oleh musuh. Lain dari pada itu diterimakan juga pakaian kebesaran selengkapnya, yang dapat membangkitkan keberanian adipati dalam usahanya menindas pemberontakan itu.

Utusan itu bertolak lagi ke Bali membawa segala pemberian dari Gajah Mada untuk adipati. Mereka berlayar mempergunakan sebuah perahu, meninggalkan pelabuhan Canggu, menyusur pantai arah ke timur. Nama tempat-tempat yang dilaluinya, ialah: Telagorung, Pajarakan, menyeberang Selat Bali menuju ke Gili Manuk, melalui Kapur Ancak (sekarang Perancak), Jembrana, Uman, Bangkah, muara sungai Gangga, Tuban, Kelahan, Kadonganan, Kuta-Mimba (sekarang Intaran), akhirnya tiba di pantai desa Lebih. Dari sana berjalan kaki melanjutkan perjalananya ke kota Samprangan.

Kedatangan utusan itu disambut oleh adipati dengan perasaan terharu serta gembira, setelah nasehat dan petunjuk-petunjuk dari Gajah Mada itu disampaikan kepadanya. Pemberian Gajah Mada merupakan sebilah keris dan pakaian kebesaran itu diterima olehnya dengan penuh khidmat, disertai dengan keyakinannya, bahwa musuhnya akan tunduk apabila melihat keagungan perbawanya itu.

Pada suatu hari ketika beberapa orang pemimpin dari orang-orang Bali Aga itu datang menghadap ke Samprangan, sengaja adipati mepertontonkan tentang keampuhan keris pemberian dari Gajah Mada itu. Keris itu dihunus dari sarungnya, seketika tampak Durga berlutut menyeringai memperlihatkan kehebatan rupanya, sehingga pemimpin-pemimpin dari kaum pemberontak itu kagum dan gentar menatapnya. Mereka tunduk sambil menyatakan ketulusan hatinya mengabdi di bawah kekuasaan adipati, bersedia menurut perintah, demi kesentausaan sesuku bangsanya. Maka semenjak itulah keris itu lalu diberi nama “Durga Dingkul”, berkat perbawanya sehingga musuh bertekuk lutut. “Durga” = raksasa pembina, atau Bhatari yang berkahyangan di Pura Dalem, sedang “Dingkul” artinya bertekuk lutut.

Perlu kiranya diterangkan, bahwa keris itu mula-mula bernama Ki Lobar, selagi dimiliki, oleh Gajah Mada. Riwayat keris itu maka bernama Ki Lobar, adalah demikian:

Pada suatu hari ketika Gajah Mada sedang berburu di hutan rimbaraya, tiba-tiba meloncat seekor harimau di hadapinya siap hendak menerkam dirinya. Gugup menghadap[?]i bahaya maut itu, dia dapat mengeluarkan 2 buah perkataan: “ih lobar”. Seketika keris itu keluar dari sarungnya, seraya menikam harimau itu sehingga tewas. Maka semenjak itulah keris itu diberi nama Ki Lobar, berkat keampuhannya yang sudah terbukti.

Note: Riwayat keris itu bukan saja tersebut di dalam kitab: “Kidung Pamancanga” dan “Babad Dalem”, melainkan tersebut juga di dalam kitab syair: “Kidung Sumanasantaka”.

(p.95) Kesanggupan adipati menenteramkan keadaan di Bali selanjutnya, bukanlah terletak pada keampuhan keris itu saja, melainkan kerena kebijaksanaannya mengikuti garis-garis petunjuk politik Gajah Mada yang telah bersemi di hatinya. Ketulusan hatinya bersembahyang di Pura Besakih bersama-sama dengan orang-orang Bali Aga itu, adalah sebab yang terutama dapat melemahkan tekad bekas musuhnya. Seperti dimaklumi, bahwa Pura Besakih itu mula-mula diciptakan oleh raja asli di Bali yang bergelar Sri Kesari Warmadewa dengan sekalian keturunannya, tetap dipuja-puja oleh orang-orang Bali Aga itu, maka kesediaan adipati bersembahyang di situ adalah menyatakan, bahwa adipati rela menjunjung tinggi bersama-sama dengan orang-orang Bali Aga itu akan kemuliaan roh leluhur bekas rajanya. Tindakannya itu dapat diterima baik oleh orang-orang Bali Aga itu, yang pantang disinggung kehormatannya. Kesanggupan adipati menyesuaikan diri ke arah itu, menyebebkan ia terus mendapat penghormatan selayaknya dari orang-orang Bali Aga itu, mereka lantas mengakui kekuasaan adipati itu selanjutnya, dalam arti kata sedalam-dalamnya. Maka semenjak itulah adpipati Sri Kresna Kapakisan memperoleh sebutan: “Dalem Samprangan”, artinya susuhunan di Samprangan, menyatakan, bahwa orang-orang Bali Aga itu sudah tunduk dan setia kepadanya.

Tindakan adipati yang dapat dipandang bijaksana lagi, ialah kesediaannya mengajak sekalian keturunan dan keluarga Patih Ulung itu bekerja-sama baik di lapangan politik, maupun di lapangan kerohanian. Mereka diberi kedudukan yang memuaskan hatinya, serta beberapa bidang tanah masing-masing untuk menjamin kehidupannya. Oleh karena itu mereka bersedia dipindahkan oleh adipati keluar kota, yaitu ke desa-desa sekalipun letaknya terpencil, dengan kesanggupan menciptakan perdamaian. Mereka itu ialah: Kyai Agung Pasek Gelgel, Kyai Pasek Padang Subadra, Pangeran Tohjiwa, Kyai Pasek Prateka, Kyai Pasek Panataran, Kyai Pasek Kubayan, Kyai Pasek Kubakal, Kyai Pasek Kadangkan, dan Kyai Angukuhin. Perpindahan mereka ke desa-desa itu diterimna baik oleh orang-orang Bali Aga, sebab mereka itu memang asal pemimpinnya sejati dari purbakala.

Kesanggupan mereka itu menciptakan perdamaian memang benar terbukti. Berkat kecerdasan mereka berpikir dalam usahanya persatuan, maka orang-orang Bali Hindu dengan orang-orang yang dulu mengatakan dirinya ‘wong Majapahit”, lalu suka mengadakan peleburan kedua belah pihak. Mereka mulai bersatu padu mengadakan pergaulan serapat-rapatnya, sehingga batas-batas kebangsaan yang pernah menceraikan kedua golongan itu tidak tampak lagi ketajamannya.

Demi kesesahteraan negara mereka suka mengadakan peleburan itu, dengan kesadaran dan keinsyafan masing-masing, memang berasal dari satu keturunan. Perkawinan yang terjadi berulang-ulang antara kedua belah pihak, adalah menjadi dasar kekuatan dari ikatan itu. Oleh karena jumlah orang-orang Bali Hindu jauh lebih banyak, maka “wong Majapahit” itu akhirnya lenyap ditelan oleh masyarakat sesuku-bangsanya itu. Semenjak itu tiada nyaring lagi terdengar adanya ‘wong Majapahit” itu, hanya tinggal orang-orang Bali Hindu melanjutkan perkembangan sejarahnya di Bali. Akan tetapi bekas adanya “wong Majapahit” itu tidak dapat diabaikan, ternyata keturunan mereka sekarang mempergunakan patung kepala menjangan yang ditelakkan pada sebuah banguan di halaman “sanggah” tempat mereka memuja arwah leluhur. Bangunan-bangunan itu disebut: “manjangan saluwang”, ialah sebagai bukti, bahwa mereka berasal dari Majapahit.

Dalam pada itu masyarakat orang-orang Bali Aga itu berlaian sifatnya. Mereka tiada suka mengadakan peleburan dengan orang-orang Bali Hindu itu, entah memang orang-orang Bali Hindu itu menolak kesediaan mereka menggabungkan diri. Sebab masyarakat orang-orang Bali Aga itu masih memperlihatkan coraknya yang asli sampai sekarang di Bali, mereka tinggal memiliki perabadan nenek moyangnya itu. Sekalipun demikian mereka pernah merasakan dirinya terpencil, turut bersama-sama mendukung kekuasaan pemerintahannya di Samprangan. Sampai adipati itu meninggal dunia, ternyata keamanan dan ketentraman di Bali tinggal terjamin, berkat kesanggupannya menyesuaikan diri.

4. Agra Samprangan dan Sri Smara Kapakisan

(p.96) Sri Krasna Kapakisan yang tersebut pada pasal 3 di atas, sukar ditentukan waktunya dan lamanya menjadi adipati di Samprangan. Kitab-kitab “Kidung Pamancangah” dan “Babad Dalem” yang dipergunakan untuk bahan-bahan pelajaran mengetahui kekuasaan Majapahit pertama di Bali hingga selanjutnya, sama sekali tidak menyebutkan bilangan tahun, kapan adipati itu mulai datang di Bali dan lamanya menganku jabatan itu sehingga meninggal dunia.

Jikalau ditinjau dari waktu semula menerima angakatannya itu selagi patih-mangkubumi Gajah Mada masih hidup, dapatlah dikira-kirakan, bahwa kedatangan di Bali ialah sebelum tahun 1346, dan meninggal dunia sesudah Sri Hayam Wuruk bertahta di kerajaan Majapahit (1350-1389).

Di sebelah timur Pura Panataran Agung di Besakih terdapat sekarang sebuah “meru” atapnya bertingkat sembilan, ialah untuk memuja arwah mendiang Sri Kresna Kapakisan yang pernah menjadi adipati di Bali berkedudukan di Samprangan. Madiang meninggalkan 4 orang anak laki-laki, yang diwajibkan oleh pemerintah di Majapahit salah seorang di antaranya memangku jabatan itu. Nama-nama dari anak-anaknya itu berturut-turut, ialah: Agra Samprangan, Dewa Tarukan, Dewa Ktut dan Dewa Tegalbesung. Tiga orang tersebut pertama beribukan putri bangsawan, sedang Dewa Tegalbesung itu beribukan seorang wanita dari kalangan rendah.

Oleh karena itu Agra Samprangan di antara saudara-suadara itu kelahirannya paling tua, maka menurut adat-istidat di kalangan orang-orang bangsawan, dialah yang disahkan menjadi adipati di Samprangan menggantikan kedudukan ayahnya.

Agra Samprangan sesudah memangku jabatan itu, ternyata sikapnya amat lembek; serba lambat bertidak menjalankan tugasnya. Kegemarannya bersolek serta kesibukannya melayani para istrinya yang cantik-cantik itu, menyebabkan ia tiada memperoleh kesempatan memperhatikan kepentingan rakyatnya. Apabila hendak bersolek, maka diletakkanlah sebuah pasu berisi air di halaman, yang dipergunakan olehnya selaku cermin. Sambil memandang bayangan mukanya di dalam air itu, ia mulai mengenakan pakaiannya hingga berjam-jam lamanya.

Oleh karena itu maka para mentri yang menunggu di luar kesal menantikannya, sehingga tiada jarang  terjadi rapat besar yang hendak dilangsungkan terpaksa ditunda, lantaran adipati Agra Samprangan selesai berhias. Sebab itulah maka ia mendapat julukan dari rakyatnya Dalem Ile, karena langkahnya serba lambat. “Ile” = lambat atau pemalas.

Sikap Agra Samprangan yang disebut juga Dalem Ilé, akhirnya menimbulkan kekecewaan para mentri itu. Mereka memandang adipati itu kurang cakap memegang pimpinan, dikhawatirkan olehnya karena kemalasannnya itu akan berbahaya kelak. Persoalan negeri yang penting-penting tinggal terbelengkalai, karena adipati tiada sempat membicarakannya. Oleh karena itu terjadilah permufakatan bersama di kalangan para menteri itu, hendak mengabaikan pimpinan Agra Samprangan.

Sementara itu terjadilah peristiwa yang menyedihkan pada suatu ketika di Samprangan. Dewa Tarukan yang sering mabuk karena gemar minum tuak, menyebabkan terjadinya peristiwa itu, demikian keterangan sebuah kitab yang bernama “Babad Pulasari”.

Dewa Tarukan mempunyai seorang anak angkat bernama Kuda Panandangkangkajar, konon katanya berasal dari kerajaan Blambangan (Jawa Timur). Anak angkatnya itu amat dicintainya, lantaran pandai mengambil hati. Pemuda itu tiada pernah melalaikan kewajibannya, menyediakan Dewa tarukan tiap-tiap hari minuman keras, serta makan-makanan yang lezat-lezat. Oleh karena itu Dewa Tarukan cinta benar kepadanya, segala kehendaknya dipenuhi.

Kuda Panandangkajar jatuh cinta kepada salah serorang putri dari adipati Agra Samprangan yang bernama Dewa Ayu Muter. Keinginannya hendak kawin dengan putri itu pernah dibicarakannya dengan Dewa Tarukan, ternyata ayah angkatnya itu tiada menaruh keberatan. Malah didorongkan olehnya, sabaiknya perkawinan itu dilangsungkan dengan jalan melarikan putri itu, sebab dengan jalan meminang lebih dulu, tak mungkin baginya. Oleh karena itu Kuda Panandangkajar lalu melarikan putri itu, akan tetapi malang nasibnya, ia beserta dengan kakasihnya itu tiba-tiba mati tertikam oleh keris pusaka bakal mertuanya itu. Keris itu bernama “Tanda Langlang” amat bertuah, dapat membunuh orang yang berani berbuat dosa terhadap adipati.

Kematian pemuda dan pemudi yang sedang berkasih-kasihan itu, mendorong Dewa Tarukan harus meninggalkan kota Samprangan selekas-lekasnya. Dia khawatir menghadapi pembalasan dendam dari saudaranya itu, oleh kesadarannya perbuat salah. Oleh karena itu ia lalu melarikan diri ke pegunungan, seraya manyamar menjadi petani yang melarat, agar supaya orang-orang yang melakukan pengejaran sukar mencahari tempat persembunyiannya. Memang sesudah Dewa Tarukan meninggal rumahnya, Agra Samprangan segera mengerahkan sepusakan tentara untuk mengejarnya, dengan tugas membunuh adiknya yang mendurhaka itu. Akan tetapi perjalanan pasukan bersenjata itu ternyata sia-sia, Dewa (p.97) Tarukan yang malang itu disembunyikan oleh sekalian kepala-kepala desa yang didatanginya. Mereka terharu melihat bangsawan yang sedang dirundung malang itu dikejar-kejar oleh pasukan bersenjata itu, serta kesediaannya menjatuhkan derajat kebangsawannya demi keselamatan jiwanya, menyebabkan mereka tergerak hatinya untuk memberikan perlindungan. Sesudah bertahun-tahun lamanya Dewa Tarukan dikejar-kejar tidak juga dijumpai oleh pasukan bersenjata itu, maka pengejaran itu lalu dihentikan.

Dalam pada itu Dewa Tarukan selama bersembunyi, sudah 5 kali melakukan perkawinan dengan anak-anak gadis dari kepala-kepala desa itu yang masih cinta dan setia kepadanya. Dari perkawinannya yang berlulang-ulang itu, dia sudah mempunyai orang anak laki-laki, yang kemudian menjadi bakal golongan kewargaan yang disebut: Pulesari, Sekar, Belayu, Balangan, Bebandem dan Kedampal.

Dewa Tarukan sesudah berumur lanjut, akhirnya menamatkan riwayat hidupnya yang malang itu pada sebuah desa bernama Pulesari. Pembakaran mayatnya diselenggarakan oleh kepala-kepala desa di situ pada suatu tempat bernama Cungkub Tampuagan. Sebelum pembakaran mayat itu dilangsungkan, ternyata orang “pinandita” (guru-guru agama) memercikan “tirtha-pengentas” (air suci) untuk memberishkan jasanya itu, sebagai syrarat memungkinkan rohnya nanti berpindah tempat ke alam baka. Ketiga orang pinandita itu ialah: Dukuh B/Dunga, Dukuh Pantungan dan Dukuh Jatituhuh. Mereka itu dipandang selaku Brah [m]ana, karena kewajiban dan kesanggupannya menciptakan air suci itu untuk kepetingan masyarakat dalam ceranya penduduk di Bali melakukan ibadat di lapangan kerohanian. Peristiwa itu terjadi pada tahun Saka 1336 (=1416 Masehi).

Sebagai bukti bahwa peristiwa itu memang benar terjadi, ialah sebuah pura yang sekarang terdapat di situ bernama Dalem Tampuagan. Pura itu menjadi pemujaan bagi golongan kewargaan tersebut di atas, ialah untuk memuja kemuliaan arwah Dewa Tarukan yang diakui olehnya selaku leluhurnya. Pemujuaan itu tetap dilakukan oleh mereka sampai sekarang.

Lanjut diterangkan oleh kitab itu, bahwa ketika upacara pembakaran mayat Dewa Tarukan itu dilangsungkan, terjadilah hal-hal yang amat ajaib. Sumbangan rakyat yang berlimpah-limpah sehingga tiada habis dipergunakan untuk kepentingan upacara perayaan itu, lalu sisanya dibuang ke suangai karena sudah basi. Nasi-nasi yang dibuang di situ merupakan bubur mengalir, maka semenjak itulah katanya sungai itu diberi nama “Yeh Bubuh”. “Yeh” = air, dan “Bubuh” = bubur. Begitu juga halnya sebuah sungai yang terdapat di sebelah timur “Yeh Bubuh” itu kemudian disebut: “Yeh Jinah”, sebab di situlah katanya orang-orang dahulu membuang wang yang sudah rudak, tidak dapat dipergunakan lagi untuk alat pembayaran. “Jinah“ = wang.

Demikianlah caranya kitab itu menggambarkan kejadian itu, akan tetapi apa memang benar demikian halnya, entahlah.

Sementara itu Agra Samprangan yang itada berhasil mengangkap adiknya yang telah melarikan diri itu, akhirnya salah terima dengan rakyatnya. Terhadap para mentri itupun tiada kurang sebal hatinya, diduga mereka tiada suka membantunya. Oleh karena itu adipati selalu menolak kedatangan para mentri itu hendak berunding.

Adapun para mentri itu yang sudah dari lama menbenci sikap adipati, lalu mangambil keputusan yang terakhir. Kyai Kubon Tubuh yang berpangkat tumenggung, ditugaskan oleh kawan-kawan melaksanakan keputusan itu. Kyai Kubon Tubuh itu ialah anak dari Arya Kutawaringin, menggantikan kedudukan ayahnya, setelah ayahnya meninggal.

Tumenggung itu segera berangkat mencahari Dewa Ktut, yang sudah dari lama meninggalkan kota Samprangan. Dewa Ktut mengembara masuk desa, keluar desa, didorong oleh kegemarannya berjudi dan menyabung ayam. Sebab itu ia disebut juga Dewa Ktut Ngulesir, karena sering kalah berjudi.

Kyai Kubon Tubuh berhasil menjumpai Dewa Ktut di desa Pandak, sesudah melakukan perjalanan berkeliling beberapa hari lamanya. Di situ Dewa Ktut asyik berjudi, dilayani oleh orang-orang desa, serta diberi pinjaman apabila ia kehabisan wang. Dewa Ktut agak terperanjat melihat kedatangan temenggung itu, seraya menanyakan apa maksudnya datang mendapatkan dirinya. Kyai Kubon Tubuh segera menerangkan maksud kedatangannya, ialah untuk menjemput Dewa Ktut agar pulang kembali ke Samprangan, karena tenaganya diperlukan oleh segenap rakyat. Diterangkan juga olehnya, bahwa menurut keputusan yang telah diambil oleh kawan-kawannya, hendaknya Dewa Ktut bersedia menjadi adipati menggantikan kedudukan saudaranya yang mengalpakan kewajibannya itu.

Mula-mula Dewa Ktut menolak anjuran itu, takut dituduh oleh saudaranya merebut kekuasaan. Akan tetapi setelah Kyai Kubon Tubuh memberi keinsyafan, bahwa penolakan itu berarti kehilangan kekuasaan serta perbawa bagi sekalian keluarganya, barulah ia suka menerima anjuran itu. Dengan persasaan terharu ia lalu meninggalkan desa itu, sambil mengucapkan kata-kata merupakan janji kepada orang-orang desa yang memberikan kepuasan hatinya itu demikian:

(p.98) “bilih sadhya ambhukit dalem ing sarajya sira andadekna kang wong Pangdak makadesi awangsa sanghyang, phalanipun subhkati”. Maknanya ialah: “Apabila aku berbahagia kelak memegang kekuasaan, aku bersedia mengangkat sekalian orang-orang desa Pandak ke tingkatan warga Sanghyang, berkat cintamu terhapdap diriku”.

Perjalanan Dewa Ktut dari desa Pandak tidaklah menuju ke Samprangan, melainkan ke desa Gelgel yang terletak jauh di sebelah timur dari ibu-kota. Di situlah Dewa Ktut mulai bersusaha menyusun pemerintahan, dibantu oleh Kyai Kubon Tubuh yang amat setia kepadanya. Tidak antara lama kemudian desa Gelgel itu menjadi ramai, oleh perpindahan para mentri dan pegawai-pegawai negeri dari Samprangan ke sana. Sebaliknya ibu-kota Samprangan menjadi sunyi senyap, setelah ditinggalkan oleh sebagian besar penghuninya.

Agra Samprangan membiarkan perpindahan orang-orangnya itu, sebab dia sendiri tidak menginginkan lagi kedudukan yang mulia itu. Dia lebih senang berasing-asing, dibandingkan menjadi adipati mem[u]singkan kepala. Keikhlasannya menyerahkan kekuasaannya itu kepada adiknya, manyebabkan tidak timbulnya persengketaan yang mengakibatkan pertumpuhan darah.

Desa Gelgel sudah menjadi ibu-kota pusat pemerintahan, tampak kian hari bersemarak. Apalagi sesudah Dewa Ktut mendirikan sebuah keraton yang indah bentuknya, tampak kebesaran Gelgel semakin memuncak. Keraton itu diberi nama “Swecalinggarsapura”, diambil dari alas nama desa itu. “Sweca” artinya karunia, “linggarsa” artnya sukacita, dan “pura” artinya istana. Sedangkan perkataan “Gelgel” itu ialah bahasa Bali-kuna, yang berarti senang atau gembira.

Di sekeliling keraton itu tampak kesibukan para mentri mendirikan rumah-rumah untuk tempat tinggal masing-masing. Para mentri itu ialah anak-anak dari para “menak” yang mula-mula datang ke Bali dari Jawa, mereka menggantikan kedudukan ayah-ayahnya, setelah ayah-ayahnya meninggal dunia di Samprangan, lantaran sudah tua berumur lanjut. Mereka itu ialah:

1. Pangeran Nyuh Aya beranak: Pangeran Patandakan, Cacaran, Satra, Pelangan, Akah, Kaloping dan Anggan;
2. Arya Kanuruhan beranak: Kyai Brangsingha, Kyai Tangkas dan Kyai Pagatepan;
3. Arya Wangbang (Bali) beranak: Kyai Pinatih, Kyai Panataran dan Kyai Tohjiwa;
4. Arya Wangbang (Jawa) beranak: Kyai Su[d]ahet, Kyai Pering dan Kyai Cagahan;
5. Arya Kenceng beranak: Kyai Tabanan dan Kyai Tegehkori;
6. Arya Belog (=Tan Wikan) beranak: Kyai [K]aba-[K]aba dan Kyai Buringkit;
7. Arya Pangalasan beranak: Kyai Jilantik dan Kyai Camenggahon;
8. Arya Dalancang beranak: Kyai Kapal;
9. Arya Kutawaringin beranak: Kyai Kubon Tubuh;
10. Arya Manguri beranak: Kyai Dauh;
11. Arya Gajah Para beranak: Kyai Tianyar;
12. Tan Kawur beranak: Kyai Pacung;
13. Tan Mundur beranak: Kyai Abiansemal; dan
14. Tan Kober beranak: Kyai Cacaha.

Sekian banyaknya para mentri yang mendukung pemerintahan baru yang beribu-kota di Gelgel, di bawah pimpinan Dewa Ktut selaku adipati. Di antara mereka itu ternyata Pangeran Patandakan diangkat menjadi perdana-mentri atau patih-agung menggantikan kedudukan ayahnya, Kyai Pinatih menjadi demung, dan Kyai Kubon Tubuh menjadi tumenggung sebagai diterangkan di atas.

Kecakapan dan kecerdasan Dewa Ktut menjadi adipati segera diakui oleh segenap rakyatnya, berkat kesanggupannya mengikuti politik ayahnya. Bersamaan dengan berdirinya keraton Swecalinggarcapura itu, ia mendirikan juga sebuah pura besar yang diberinya nama Pura Dasar. Dari nama pura itu sudah dapat dinyatakan, bahwa Dewa Ktut mulai meletakkan dasar-dasar kekuasaannya semenjak itu. Pada halaman puran itu terdapat sebuah “meru” untuk pemujaan bagi segolongan suku-warga asal keturunan mandiang Patih Ulung, yang terletak di samping “meru” pemujaan Dewa Ktut beserta dengan sekalian keluarganya. Letak “meru” itu berdampingan menjadi satu halaman, adalah membuktikan, bahwa Dewa Ktut menghargai kedudukan mereka itu, demi kesentausaan kekuasaannya. Memang setelah pura itu didirikan, ternyata golongan kekeluargaan itu lebih giat bekerja membantu Dewa Ktut dalam usahanya mengamankan seluruh BaLI.

Pada suatu ketika adipati Dewa Ktut mendapat panggilan dari baginda raja Sri Hayam Wuruk, guna menhad[l]iri rapat besar yang dilangsungkan di ibu-kota kerajaan Majapahit. Dengan disertai banyak pengikutnya di bawah pimpinan Pangeran Patandakan, Kyai Pinatih dan Kyai Kubon Tubuh, bertolaklah Dewa Ktut dari Bali memenuhi panggilan itu. Dengan mempergunakan 2 buah perahu besar menyeberangi Selat-Bali, tibalah rombongan adipati di (p.99) ibu-kota Majapahit, selama 7 hari berlayar.

Kesibukan tampak di ibu-kota setelah para adipati dari Bali, Palembang, Madura, Pasuruhan dan Blambangan semuanya datang memenuhi panggilan itu. Mereka disediakan tempat penginapan masing-masing, sebelum rapat besar itu dilangsungkan. Makanan dan minuman berlimpah-limpah disuguhkan untuk para adipati itu, beserta dengan sekalian pengiringnya yang tiada sedikit jumlahnya.

Rapat besar itu kemudian dilangsungkan/dibuka, di bawah pimpinan baginda Sri Hayam Wuruk. Pokok pembicaraan berkisar berhubung dengan kematian patih-mangkubumi Gajah Mada pada tahun 1364; sedang pemerintah belum bersedia mencalonkan seseorang yang kiranya berkesanggupan akan memangku jabatan yang penuh dengan tanggung jawab itu. Sesudah diadakan pertukaran pikiran, maka diambillah keputusan, bahwa jabatan yang penting itu hanya dibagi 4 kementrian, masing-masing di bawah pengawasan seorang mentri.

Keputusan itu mendapat persetujuan suara bulat, setelah itu dilanjutkan pembicaraan mengenai ketatanegaraan, yang akan dipakai pedoman oleh para adipati itu dalam melakukan kewajibannya. Sri Hayam Wuruk menasehatkan kepada para adipati itu supaya bertindak tegas, di samping keharusannya menciptakan keamanan dan kemakmuran untuk mengikat kecintaan rakyat. Berbagai-bagai hal lagi dibicarakan yang memungkinkan kepuasaan hati rakyat, sehingga mereka dengan keinsyafan menjunjung tinggi kebesaran kerajaan Majapahit. Rapat besar itu kemudian ditutup, setelah dibagi-bagikan pelbagai hadiah untuk para adipati itu masing-masing.

Kira-kira sebulan lamanya adipati Dewa Ktut tinggal di ibu-kota Majapahit, kemudian mohon diri pulang kembali ke Bali. Bukan buatan sukacitanya memperoleh hadiah dari baginda Sri Hayam Wuruk sebilah keris, yang dianggapnya selaku pengakuan pemerintah di kerajaan Majapahit berhubung dengan keangkatannya menjadi adipati di Bali. Karena kegembiraan hatinya itu, maka keris hadah itu terlepas dari sarungnya, ketika ia naik ke atas perahunya di pelabuhan Canggu. Keris itu jatuh tenggelam di perairan pelabuhan itu, tetapi setelah sarungnya diperlihatkan, tiba-tiba keris itu muncul lagi, segera masuk ke sarungnya kembali. Hal itu menambah kegembiraan adipati karena yakin akan tuahnya, maka semenjak itulah keris itu diberi nama Bangawan Canggu.

Pelajaran adipati beserta dengan rombongan pulang kembali ke Bali, menempuh jalan yang sama. Kedatangannya di kota Gelgel disambut oleh rakyatnya dengan hati gembira. Tidak antara lama sesudah itu, adipati mendapat undungan dari Kuda Panolih yang menjadi adipati di Madura. Kedatangan adipati di Madura sangat diharapkan oleh kawan sejawatnya itu, ialah untuk menyaksikan perayaan besar yang akan dilangsungkan olehnya. Perayaan itu ialah untuk memuja roh leluhur.

Adipati beserta dengan beberapa orang pengiringnya lalu bertolak dari Bali ke Madura memenuhi undangan kawan sejawatnya itu. Tiba di sana disambut oleh Kuda Panolih secara besar-besaran, menyatakan sukacitanya menerima kedatangan tamunya dari Bali. Pesuguh disajikan berlimpah-limpah, sehingga tamunya itu kagum menyaksikan upacara perayaan besar itu. Sesudah perayaan itu selesai dilangsungkan, adipati lalu minta diri pulang ke Bali, dengan membawa pelbagai hadiah yang disebut “punya” tak ternilai harganya.

Pandangan rakyat di Bali terhadap diri Dewa Ktut bukan lagi sebagai adipati, melainkan sebagai susuhunan atau dalem, semenjak ia memperlihatkan kewenangannya. Janji yang pernah diucapkan di desa Pandak dahulu segera ditepatinya, sesudah ia memperoleh kekuasaan sebesar itu. Semenjak itulah orang-orang desa Pandak itu diumumkan menjadi “sanghyang”, setingkat derajatnya dengan para Ksatrya.

Sebaliknnya seorang kepala desa di desa Klungkung yang pernah menghina dirinya segera diturunkan derajatnya, sehingga keturunannya. Derajat mereka itu disamakan dengan “juru kuwuk pabacin”, artinya tukang kuras kakus, dipandang hina sehina-hinangya.

Sesudah berusia lanjut Dewa Ktut mengadakan perayaan besar yang disebut “abhiseka”, dipimpin oleh seorang pendita terkemuka, yang sengaja datang diundang dari kerajaan Kaling. Sesudah perayaan itu selesai dilangsungkan, maka Dewa Ktut lalu mempergunakan gelar “abhiseka”-nya: Sri Semara Kapakisan. Hal itu menyatakan, bahwa sudah mengangkat diri menjadi susuhunan di Bali. Pengangkatan diri itu mungkin terjadi sesudah baginda raja Sri Hayam Wuruk [di]angkat di Majapahit. Kemenangkatan Sri Hayam Wuruk itu terjadi pada tahun 1389.

Akan tetapi sayang berselang 42 hari dari perayaan “abhiseka” itu, Sri Smara Kapakisan lalu mangkat pula di Gelgel.

V. Gelgel merdeka dan bedaulat

(p.100) Sesudah pemerintahan di kerajaan Majapahit menempatkan perwakilannya di Bali, mula-mula di Samprangan kemudian dipindah ke Gelgel masih terdapat lagi beberapa buah prasasti dan batu-batu bertulis pada beberapa tempat. Peninggalan-peninggalan itu merupakan benda-benda kuna, terdapat sekarang:

1. di desa Batur (Pura Abang) ialah sebuah prasasti bertahun Saka 1306 (=1384 Masehi). Tersebut di dalam prasasti itu antara lain, ialah tentang persoalan orang-orang desa “Hor Abang” antara orang-orang desa Pemuteran. Lain dari pada itu tercantum juga di dalam prasasti itu pernyataan seorang raja yang menerbitkan, ialah: “sira nagara Wengker” artinya Yang Dipertuan di Wengker. Niscaya yang dimaksudkan itu ialah Wijayarajasa, yang tersebut juga raja Wengker. Wijayarajasa itu ialah paman dari baginda raja Sri Hayam Wuruk yang bertahta ketika itu di kerajaan Majapahit. Penjelasannya lebih lanjut akan diterangkan lagi di bawah ini.

Note: Persoalan orang-orang desa itu sudah pernah dibicarakan pada pasal 2 bab III, yaitu berkenaan dengan prasasti Pengotan yang bertahun Saka 1010.

2. di desa Gobleg (Pura Batur)juga merupakan sebuah prasasti bertahun Saka 1320 (=1398 Masehi). Tersebut di dalam prasasti itu antara lain, ialah: “pande wsi tambelingan”, artinya: tukang besi di Tamblingan. Lain dari pada itu tersebut juga di dalam prasasti itu: “sang mukta ring wisnubhawana”. Artinya ialah: almarhum di alam Wisnu. Almarhum itu aialah baginda raja Wengker itu juga, sebagai tersebut di atas. Nama-nama dari pegawai-pegawai negeri yang tersebut di dalam prasasti itu semuanya mempergunakan istilah “arya”, adalah menyatakan keaslian perabadan Majapahit, berpengaruh di Bali.

3. di desa Péréan berbentuk batu bersurat [panila?] sebuah pura yang terletak di desa itu. Tulisan itu hanya menyebutkan bilangan tahun Sakan 1351 (=1429 Masehi), sebab itu tiada dapat dinyatakan siapa maksud penyataan tadi.

4. di desa Sembung Sobangan, ialah tulisan-tulisan yang tergores pada gedung pemujaan yang terletak di pura Dalem Sakenan. Tulisan-tulisan itu sudah rusak, hanya angkanya saja masih terang kelihatan, ialah bilangan tahun Saka 1355 (=1433 Masehi). Menurut keterangan orang-orang desa di situ, bahwa gedung itu ialah untuk memuja Pandawa Wawu Rawu katanya. Keterangan mereka itu sukar dapat diterima, apabila Pandawa Wawu Rawu itu Mpu Nirartha dimaksudkan olehnya. Mpu Nirartha itu sekalian Brahmana yang sekarang terdapat di Bali, sedang kedatangan pendita itu dari Jawa ke Bali ialah pada pertengahan abad ke-XV (baca pasal 2 di bawah ini).

5. di Besakih, ialah tulisan-tulisan yang tertera di atas 2 buah papan, masing-masing bertahun Saka 1366 (=1444 Masehi) dan 1380 (=1458 Masehi). Tulisan-tulisan itu ternyata mengutarakan tentang sejarah Pura Besakih itu, yang sudah dikupas oleh Dr.R.Goris dalam kitab karangannya bernama “De Pura Besakih” pada halaman 261-280 (lihatlah pasal 7 bab I).

6. di Besakih, ialah piagam yang tersimpan pada pura batu Madeg, piagam mana menyebutkan bilangan tahun Saka 1393 (=1471 Masehi). Piagam itu lazim disebut: Piagam Bradah” (= Mpu Bharada); maksud piagam itu sudah pernah dibicarakan pada pasal 8 bab II, yaitu berkenaan dengan pernyataan piagam itu di antaranya ada juga menyebutkan bilangan tahun Saka 929 (= 1007 Masehi), dan:

7. di desa Selat, ialah sebuah piagam atau prasasti bertahun Saka 1393 (=1471 Masehi). Piagam itu lazim disebut “Bhatara Ratu Putra”, sifat dan maksudnya adalah sama dengan piagam yang tersebut pada angka 6 di atas.

Sekian banyaknya prasasti-prasasti atau piagam-piagam dan batu-batu bertulis yang masih terdapat sekarang, yaitu sesudah Majapahit berkuasa di Bali. Adanya prasasti-prasasti tadi, dijelaskan oleh kitab “Negarakertagama” yang sudah sering disebut-sebut sebagai berikut:

Pada bait ke-79 dari kitab itu diterangkan antara lain, bahwa sesudah seluruh Nusantara bersatu serta takluk di bawah kekuasaan Majapahit, lalu pemerintah dari kerajaan besar itu mengadakan pembagian tugas di kalangan pegawai-pegawai tinggi di situ. Kepada raja Wengker yang bernama Wijayarajasa lalu diserahkan pekerjaan untuk mendaftarkan jumlah cacah jiwa di seluruh Nusantara, dan di samping itu diwajibkan juga mencatat adanya tempat-tempat suci, tanah-tanah desa perdikan yang mendapat kebebasan dari pembayaran pajak, tanah-tanah kuburan, bihara-bihara dan perumahan para pendita yang bersifat sementara. Kewajiban itu dilaksanakan oleh raja Wengker dengan saksama, dengan mengirimkan pegawai-pegawainya ke segenap (p.101) pelosok untuk kepentingan pendaftaran itu. Perintah raja Wengker kepada pegawai-pegawainya itu, ilalah orang-orang yang sudah memgang surat keterangan yang sah baik merupakan prasasti, supaya surat keterangan itu disahkan kembali, dan bagi orang-orang yang belum mempunyai surat keterangan serupa itu harus dibuatkan surat keterangan baru.

Mengenai keadaan di Bali dikatakan oleh kitab itu, bahwa petugas-petugas yang melakukan pendaftaran itu mendapat bantuan dari guru-guru agama Buddha yang terdapat di desa Bedulu dan Goa Gajah. Bersama-sama dengan mereka itulah petugas-petugas tadi lalu melakukan pendaftaran dari adanya pemutusan-pemutusan agama Buddha di Bali yang dikatakannya terletak di: Kadhikaranan, Kutihanar, Purwanagara, Wihara-Bahu, Adiraja dan Kuturan. Keenam tempat-tempat tersebut tergolong “kehajradharan”, dan di antaranya hanyalah Wihara-Bahu itu saja yang dianggap sebagai biara untuk melatih kerohanian (baca bait ke-80 dari kitab itu).

Demikianlah keterangan kitab itu, sehingga tiada menimbulkan kesangsian lagi, bahwa prasasti-prasasti yang di desa Batur dan di desa Gobleg tadi, memang diterbitkan atas perintah baginda raja Wengker itu. Hal itu mengesangkan, bahwa para adipati yang sudah berkedudukan di Samprangan dan Gelgel tiada berhak membuat surat keterangan yang merupakan prasasti itu.

Kadhikaranan, Purwanagara dan Adiraja itu tidak terdapat bekas-bekasnya sekarang, akan tetapi Kutihanar itu dapatlah disamakan dengan Batanar yang tersebut pada pasal 5 bab II, atau Dharma Hanar yang tersebut pada pasal 5 baba III. Sedangkan Wihara-Bahu itu dapat juga disamakan dengan Wihara-Bahung yang tersebut pada pasal 12 bab I, atau Wiraha-Bahung yang tersebut di dalam prasasti Bebandem, dan yang sudah dibicarakan pada pasal 4 bab II.

Tentang Kuturan itu niscaya “Silayukti” yang dimaksudkannya, yang riwayatnya sudah juga diterangkan berturut-turut pada pasal 7 dan 9 bab II.

Kesimpulannya dapatlah dinyatakan, bahwa meskipun pemerintah di kerajaan Majapahit sudah menempatkan perwakilannya pada masa itu mula-mula di Samprangan kemudian berpindah tempat ke Gelgel, namun urusan keagamaan masih dipegang langsung olehnya. Hal itu menyatakan, bahwa pejabat tinggi yang berpangkat adipati tiu, tidak mempunyai kekuasaan penuh ketika itu di Bali.

2. Gelgel merdeka di bawah Sri Batur-Enggong

(p.102) Kitab-kitab “Babad-Dalem dan Kidung-Pamancangah” yang menceriterakan tentang kebangkitan Samprangan dan kebesaran Gelgel itu, agaknya kurang sempurna susunanya. Kitab-kitab tadi menerangkan, bahwa Sri Smara Kapakisan yang tersebut pada pasal 4 bab IV, sesudah wafat hanya meninggalkan seorang putra yang menggantikan kedudukannya di keraton Gelgel. Raja-putra itu bernama Sri Batur-Enggon, berkat ketangkasan dan kecakapannya, sanggup mengangkat derajat keraton Gelgel itu ke atas puncak kebesarannya.

Ketidak sempurnaan susunan kitab-kitab tadi dapatlah dinyatakan, bahwa Sri Batur-Enggon tak mungkin putra dari Sri Smara Kapakisan. Alasannya ialah Sri Smara Kakapisan wafat kira-kira pada penghabisan abad ke-XIV, padahal Sri Batur-Enggon bertahta di keraton Gelgel baru pada pertengahan abad ke-XVI. Bertatahtanya Sri Batur-Enggon di dalam pertengahan abad itu, terdapat keterangan-keterangannya dari sumber-sumber lain yang lebih dapat dipercaya kebenarannya. Hal itu akan dapat dinyatakan sebentar lagi.

Jarak waktu antara kemangkatan Sri Smara Kapakisan dengan adanya Sri Batur-Enggong bertahta, ternyata tiada kurang dari 150 tahun lamanya. Hal itu menmbulkan kesangsian, apabila Sri Batur-Enggong ialah putra dari Sri Smara Kapakisan yang terus menggantikan kedudukan ayahnya itu. Jarak waktu selama itu sama sekali tiada memberi kemungkinan kejadian itu, bahkan terdapat kecenderungan kemungkinan sekurang-kurangnya 2 atau 3 orang raja seharusnya bertahta sebelum Sri Batur-Enggong. Akan tetapi bagaimana juga pun, usaha mengadakan penyelidikan untuk menyempurnakan kekusutan itu, namun kesudahannya sia-sia belaka. Oleh karena itu ahli lalu mengambil kesimpulan, bahwa adanya Sri Batur-Enggong itu lebih layak apabila dikatakan sebagai keturunan saja dari Sri Smara Kapakisan, dan bukan sebagai putranya.

Sarjana C.C.Berg dan Dr. R.Goris pernah mencoba mencahari keterangan dalam hal itu, tetapi hasilnya ternyata tiada memuaskan juga. Mereka melakukan penyelidikan di sekitar Pura Besakih, di mana terdapat beberapa buah “meru” untuk memuja roh-roh leluhur raja-raja di Bali. Mereka memperoleh keterangan dari orang-orang desa di situ, bahwa sebuah “meru” yang beratapkan sebelas tingkat, adalah untuk memuja arwah Ratu Tegalbesung katanya.

Oleh karena itu mereka lalu beranggapan, bahwa Ratu Tegalbesung itu dapat disamakan dengan Sri Smara Kapakisan yang selayaknya memperoleh penghormatan setinggi itu. Jasanya mendirikan keraton Gelgel pertama kali, sehingga bersemarak kemudian, patutlah sudah arwah orang besar itu dibuatkan “meru” beratap sebelas tingkat.

Akan tetapi jikalau ditinjau kembali dengan mengadakan penyelidikan yang lebih seksama ternyata, bahwa Ratu Tegalbesung itu bukan lain daripada Dewa Tegalbesung sebenarnya, maka anggapan sarjana-sarjana itu sukar dapat diterima. Sebagai dimaklumi, bahwa Dewa Tegalbesung itu ialah salah seorang suadara dari Sri Smara Kapakisan yang beribukan seorang wanita dari kalangan rendah (baca pasal 4 bab IV).

Karena kelahirannya itu, tidak mungkinlah Dewa Tegalbesung itu sesudah meninggal dunia mendapat penghormatan setinggi itu; orang-orang lebih percaya, bahwa “meru” yang beratap sebelas tingkat itu, ialah untuk memuja arwah Sri Smara Kapakisan sebenarnya. Kemungkinan Dewa Tegalbesung itu dapat mengendalikan pemerintahan selagi kemanakannya Sri Batur-Enggong masih muda, akan tetapi jarak waktu yang sekian lamanya itu, tak mungkin dia sendiri yang menjadi wali memegang kekuasaan.

Kekusutan dalam hal itu baiklah dilampaui saja, kejadian keraton Gelgel selama Sri Batur-Enggong bertahta tidak dapat diabaikan. Pada masa itulah penduduk di Bali mengalami zaman keemasan, kemakmuran menjamin kebahagiaan rakyat.

Baginda Sri Batur-Enggon terkenal sebagai susuhunan atau “dalem” di Bali yang paling besar kekuasannya, sehingga terdapat kata-kata bersemboyan: “aengan teken Dewa-Enggong”. Maksudnya ialah: lebih hebat dari Sri Batur-Enggong. Ucapan itu mengesankan kekaguman orang-orang Bali, apabila mereka memandang sesuatu yang tidada ada taranya.

Baginda Sri Batur-Enggong berpendirian kuat, titahnya yang merupakan undang-undang pantang dibantah. Keamanan dan ketertiban tinggal terjamin, berkat kesanggupan baginda menegakkan keadilan. Tidak pernah terjadi kejahatan atau pelanggaran, sebab pencuri dan orang-orang jahat itu sudah dijamin kehidupannya, sehingga mereka menghentikan perbuatannya yang melanggar hukum. Apabila terdapat pengemis atau pengangguran akibat kemiskinan kekurangan makan, maka pegawai-pegawai negerilah yang dipersilahkan, karena dianggap tiada mempunyai kemampuan menciptakan kemakmuran.

Untuk menjamin tindakan pemerintah yang tegas itu, baginda membentuk barisan penggempur, dengan diberinya nama “Dulang-Mangap”. Barisan itu beranggautakan prajurit-prajurit pilihan sejumlah 1600 orang, di bawah pimpinan seorang panglimanya bernama Ki Ularan. Mererka diasramakan di dalam kota, siap sedia bergerak sewaktu-waktu mendapat perintah dari yang berwajib atasannya.

(p.103) Yang menjadi patih-agung ketika itu ialah Kyai Batan Jeruk, yaitu salah seorang anak dari Pangeran Patandakan, yang sudah meninggal dunia semasa Sri Smara Kapakisan menjadi adipati. Sedangkan para mentri lainnya, tersebut namanya masing-masing sama dengan yang termuat pada pasal 4 bab IV, menyatakan, bahwa mereka itu adalah keturunan atau anak cucu dari pada Kyai tersebut.

Kemerdekaan baginda Sri Batur-Enggong bergerak menentukan nasib pulau Bali, ternyata sesudah kerajaan Majapahit runtuh dari puncak kebesarannya. Menurut kitab “pararaton”, bahwa keruntuhan kerajaan besar itu terjadi pada tahun Saka 1400 (= 1478 Masehi). Pernyataan itu dengan sebutan Cadrasangkala: “sirna hilang krtaning bhumi”. “Sirna” = 0, ‘hilang” = 0, “krtaning” = 4, dan “bhumi” = 1.

Semenjak itulah dapat sudah dianggap, bahwa kekuasaan di Gelgel itu mulai terlepas dari ikatan kerajaan Majapahit. Jikalau ditilik dari perhitungan waktu, kemungkinan kekuasaan di Bali itu sudah lama melepaskan diri dari belenggu kekuasaan Majapahit, yaitu lama sebelum Sri Batur-Enggong bertahta di keraton Gelgel. Kekacauan yang terjadi di kerajaan besar itu, memberi kesempatan kepada baginda susuhannya Sri Batur-Enggong menyatakan kemerdekaannya.

Semasa baginda itu bertahta, ternyata pulau Lombok dan pulau Sumbawa sudah bernaung di bawah payung kebesaran kerajaan Gelgel. Begitu juga sebagian daerah dari Jawa-Timur dapat dikuasai oleh pemerintah di Gelgel, hal ihwalnya akan diceriterakan sebentar lagi.

Ketika baginda masih muda, pernah datang ke Gelgel utusan dari Mekka katanya, guna mendesak baginda supaya memeluk agama Islam. Desakan itu ditolak oleh baginda, dengan pernyataan, bahwa baginda sama-sekali tiada mempunyai ingatan akan mengabaikan kepercayaan yang dimilikinya semula.

Menurut pendapat padar ahli, kemungkinan utusan yang dikatakan oleh kitab-kitab itu dari Mekka, ialah Falatehan atau Fatahillah, yang kemudian bergelar Sunan Gunung Jati. Mereka hubungan pendapatnya itu dengan tindakan penyebar agama itu di Pasuruhan (Jawa-Timur) dalam tahun 1546. Sebagai dimaklumi, bahwa penyebar agama itu mulai bertindak di situ di dalam tahun itu, atas titah sultan Trenggana yang bertahta di kerajaan Demak. Ketika itulah terjadi pengungsian orang-orang Jawa-Hindu ke Bali secara besar-besaran oleh desakan agama Islam itu.

Di antara mereka itu terdapat seorang pendita bernama Mpu Nirartha, yang akan masyur namanya di Bali. Kisah perjalanan pendita itu dari Jawa ke Bali, diterangkan oleh kitab-kitab: “Babad Brahmana Kamenuh” dan “Brahmana-Purana” sebagai berikut:

Note: Pengungsian orang-orang Jawa-Hindu dari Ibu-kota kerajaan Majapaht karena desakan agama Islam itu, terjadi pula pada tahun 1526. Mereka kebanyakan mengungsi ke pegunungan Tengger, di situlah mereka terus menetap samapai sekarang.

Mpu Nirartha selagi masih muda memeluk agama Buddha. Karena jatuh cinta dengan seorang gadis Brahmana bernama Diah Komala yang memeluk agama Siwa, maka ia lalu memeluk agama Siwa juga, untuk memungkinkan perkawinannya dengan gadis yang dicintainya itu. Perkawinan itu dilangsungkan di Daha, sehingga mereka kemudian memperoleh 2 orang anak, yaitu seorang perempuan dan seorang laki-laki.

Note: Anak laki-laki dari Mpu Nirartha itlah kemudian menurunkan golongan suku Brahmana di Bali yang disebut: “Watek Kamenuh”.

Desakan agama Islam itu memaksa Mpu Nirartha dengan sekalian keluarganya meninggalkan rumahnya di Daha. Mereka pergi ke Pasuruhan, mendapatkan kaum keluarga di sana. Di Pasuruhan Mpu Nirartha kawin lagi dengan salah seorang anak perempuan dari Mpu Manawasikan, sehingga kemudian mereka memperoleh 2 orang anak laki-laki dari perkawinan itu.

Note: Anak-anak dari Mpu Nirartha itulah kemudian menurunkan golongan suku Brahmana di Bali yang disebut: “Watek Manuaba”.

Karena desakan agama Islam itu juga, maka pendita itu meninggalkan lagi Pasuruhan dengan sekalian keluarganya, mereka pergi ke kerajaan Blangbangan, di situ mereka mendapat perlindungan beginda raja yang dikatakannya bergelar Sri Juru. Baginda itu ialah cucu dari adipati Blangbangan yang mula-mula ditempatkan oleh almarhum patih-mangkubumi Gajah Mada, seperti diterangkan pada pasal 3 bab IV.

Di kerajaan Blangbangan Mpu Nirartha kawin lagi dengan adik perempuan dari Sri Juru. Dari perkawinan itu ia kemudian memperoleh 3 orang anak,

(p.104) yaitu seorang perempuan dan 2 orang laki-laki.

Source

  • Djelada, Njoman - Gora Sirikan (1956) - Sejarah Bali, Part One (version: I Made Dangin: 27 February 19

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24