Sejarah Bali I-IV: Majapahit

This article is a rendering of 'Sedjarah Bali'; written by Njoman Djelada, also known as G(h)ora Sirikan, in 1956. It follows the contents of these three volumes as rewritten (copied) by Made Dangin in 27 February 1965, as no earlier versions to date have been found. To the best of my knowledge, Made Dangin’s version is the earliest full rewritten copy of these volumes. The old spelling has been adapted to modern Indonesian spelling (Ejaan Yang Disempurnakan); Ç = S, ç = s; square brackets are mine (GD).

IV. Jatuh di bawah Kekuasaan Majapahit

1. Pendahuluan

(p.83) Di dalam bab III telah diceriterakan berturut-turut adanya raja-raja di Bali yang bertakhta hingga permulaan abad ke-XIV. Sejarah raja-raja itu diku[mpulkan?] dari sumber keterangan prasasti-prasasti dan kitab-kitab perpustakaan, sehingga dapat disimpulkan perhitungan waktu tiap-tiap raja itu bertakhta sebagai berikut:

Sri Sakalendu Kirana Isana Gunadharma Laksmidhara Wijayotthunggadewi +/- 1078 - 1114;
Sri Suradhipa +/- 1115 - 1132;
Sri Jayasakti dan Sri Jayakusuma, masing-masing +/- 1133-1150 dan 1150-1176
Sri Jayapangus +/- 1177-1199;
Sri Ekajaya Lancana dan Sri Dhanadiraja, masing-masing +/- 1200-1203 dan +/- 1204-1230;
Sri Hyang ning Hyang Adidewa Lancana +/- 1230-1360;
Tidak ada raja +/- 1261-1323;
Sri Bhatara Mahaguru Dharmatunggu Warmadewa dan Sri Walajaya Krttaningrat, berdua +/- 1324-1323; dan
Sri Astasura Ratna Bumibanten +/- 1332-1342.

Di antara raja-raja tersebut di atas, ternyata Sri Jayakusuma yang tersebut pada angka 3 namanya tiada pernah tercantum di dalam prasasti-prasasti, baik pada batu-batu bertulis. Akan tetapi adanya baginda raja itu tidak dapat dia[?]nikan, sebab nama baginda itu terjalnya erat dengan riwayat hari-hari raya Galungan dan Kuningan, yang hingga sekarang masih dirayakan oleh umat Hindu-Bali. Mereka penuh percaya, bahwa hari-hari raya itu adalah diciptakan oleh baginda raja itu.

Begitu juga adanya beginda raja Sri Masula-Masuli dan Sri Gajah Wahana yang masing-masing tersebut pada pasal 8 dan 9 bab III. Meskipun nama dari kedua orang raja itu tiada pernah tercantum di dalam prasasti-prasasti itu, namun adanya baginda-baginda itu tiada patut diabaikan begitu saja. Adanya baginda (?)i Masula-Masuli itu tiada dapat dipisahkan dengan adanya hukum adat yang disebut “Manak-salah” itu, dan yang hingga sekarang masih berlaku pada beberapa desa di Bali, meskipun pemerintah sudah menyatakan dengan resmi, bahwa hukum adat itu tidak berlaku lagi. Mereka tetap berkenyakinan, bahwa meniadakan perayaan untuk membersihkan desanya manakala terjadi kelahiran kembar berbeda kelamin, kemungkinan akan mendatangkan malapetaka, oleh karena itu mereka masih juga berpegangan teguh pada kepercayaan warisan nenek moyangnya itu.

Tentang adanya baginda raja Sri Gajah Wahana itu, meskipun nama baginda tidak pernah juga tercantum di dalam prasasti-prasasti itu, namun pernyatakan membuktikan, bahwa baginda itu ialah raja di Bali yang penghabisan dan yang disebut juga Dalem Behadulu. Pembuktian itu akan dijelaskan nanti pada pasal 2 di bawah ini.

Selain dari pada prasasti-prasasti dan batu-batu tertulis yang sudah diutarakan berturut-turut pada bab II dan III itu, ternyata ada lagi beberapa buah prasasti lain terdapat di Bali, yang kini masih tersimpan di sana-sini pada beberapa desa. Sayang prasasti-prasasti itu tidak menyebutkan bilangan tahun dan nama-nama raja yang menerbitkannya, sehingga sukar untuk menentukan keselahannya[?]. Prasasti-prasasti itu tertulis di atas kepingan-kepingan tembaga menyatakan kekuasaannya, bahkan di antaranya ada yang dianggap lebih kuna diterbitkan dari pada prasasti-prasasti yang sudah pernah dibicarakan itu. Adanya prasasti-prasasti itu ba[?]juga diterangkan satu per satu untuk direnungkan bersama-sama, dan terdapatnya prasasti-prasasti itu ialah di desa:

1. Manik Liu. Bentuk huruf dan sifat prasasti itu hamir sejenis dengan prasasti yang terdapat di desa itu juga yang bertahun 1133, dan yang sudah pernah dibicarakan pada pasal 4 bab III. Akan tetapi gaya bahasanya adalah menyerupai prasasti Sawan/Blantih yang bertahun 1098 (baca pasal 2 bab III) atau prasasti Goblek bertahun 1115 (baca pasal 3 bab III). Tersebut di dalam prasasti itu antara lain, ialah: “sang senapati maniringin”, artinya ialah: hulubalang di Manjiringin, dan ‘tlas sinaksyaken”, artinya ialah: habis disaksikan, yang bermakna disahkan. Pada penutup prasasti itu tersebutlah kata-kata: “teher parimandalanira taninya cinacurdesa”. Artinya kira-kira ialah: tetap menjadi desa perdikan dari petani-petani keempat buah desa itu.

2. Sibang-kaja. Memperhatikan bentuk dan corak prasasti itu, kemungkinan diterbitkan semasa Sri Ugrasena bertakhta. Sejenis dengan prasasti Goblek yang tdak bertahun itu (baca pasal 3 bab II), sehingga penerbitannya juga di antara tahun 1048-1181.

3. Lukluk, Ubung dan Pamejutan. Keping-keping tembaga untuk prasasti itu terpisah-pisah (p.84) letaknya: sebagian terdapat di desa Lukluk, sebagian lagi terdapat de desa Ubung dan Pamejutan. Tersebut di dalam prasasti itu di antaranya, ialah ”karaman samuran”, artinya ialah: adat desa di Samuran (?). Tersebut pula: “Hyang Karampas”, yang menjadi tempat kediaman seorang pendita beragama Siwa. Di mana letak Hyang Karampas itu, sukar diketahui bekas-bekasnya sekarang. Memperhatikan bentuk huruf prasasti itu, agaknya sejenis dengan prasasti Sibang-kaja yang tersebut pada angka 2 di atas. Kemungkinan prasasti itu diterbitkan semasa Anak Wungsu atau Sri Jayapangus bertakhta.

4. Ngis. Tersebut di dalam prasasti itu antara lain: “thani baraha”, artinya ialah: orang-orang tani di Beraha. Di mana letak Baraha itu sukar ditentukan sekarang. Oleh karena prasasti itu ditulis 7 baris tiap-tiap muka, maka timbullah anggapan, bahwa prasasti itu sejenis dengan prasasti Mantring yang bertahun 1181, yang diterbitkan semasa Sri Jayapangus bertakhta (baca pasal 5 bab III).

5. Bebetin. Tersebut di dalam prasasti itu adanya: “paduka sri maharaja sri samajaya”, artinya ialah: Yang mulia baginda raja Sri Samajaya. Kemungkinan baginda itu adalah Sri Jayapangus yang disebut juga demikian, sebab nama-nama dari pegawai-pegawai negeri yang tersebut di dalam prasasti itu semuanya sama dengan yang tersebut di dalam prasasti-prasasti penerbitan baginda itu. Misalnya kepangkatan “samgat” tersebut antara lain di dalam prasasti itu yang menerima perintah baginda raja, sehingga dapat mempertebal keyakinan, bahwa prasasti itu diterbitkan pada masa dan oleh baginda raja itu.

6. Cempaga. Tersebut di dalam prasasti itu antara lain: “tokyen wara sanmata anugrahanira”, artinya kira-kira ialah: sebab itulah maka diperkenankan olehnya. Lagi pula tersebut: “karaman campaga”, artinya ialah: adat desa di desa Cempaga. Walaupun di dalam prasasti itu ada tersebut nama Sri Jayapangus, namun para ahli belum berani menyatakan, bahwa prasasti itu memang diterbitkan oleh baginda itu. Kekusutan bunyi prasasti itu, menyebabkan keragu-raguan itu.

7. Teba-kauh. Tersebut di dalam prasasti itu antara lain: “karaman Lubanan”, artnya ialah: adat desa di Lubunan. Kemungkinan Lubunan itu adalah Lumbanan yang dimaksudkan olehnya. Lumbanan itu ialah nama sebuah desa yang masih terdapat sekarang. Tersebut juga di dalam prasasti itu pelbagai upacara keagamaan yang harus diselenggarakan oleh orang-orang desa di situ. Memperhatikan sifatnya, agaknya prasasti itu sejenis dengan prasasti yang terdapat di desa itu juga, dan yang sudah dibicarakan pada pasal 5 bab III angka 15.

8. Klungkung. Tulisan prasasti itu tidak terang, hanya 2 patah kata saja yang masih dapat dibaca, yang menyebutkan: “Dharma Er-ara”. Maksudnya kira-kira ialah: tanah perdikan di Er-ara. Tetapi di mana letak Er-ara itu, tidak terdapat bekas-bekasnya sekarang. Sifat prasasti itu agaknya sejenis dengan prasasti-prasasti yang diterbitkan semasa Sri Jayapangus bertakhta (baca pasal 5 bab III).

9. Angsari. Prasasti itu tertulis 13 baris tiap-tiap muka, adalah menyatakan akan kekunaannya. Kemungkinan prasasti itu diterbitkan antara tahun 914-915, menilik coraknya adalah serupa dengan prasasti Gobleg yang bertahun 914 (baca pasal 2 bab II), atau dengan prasasti Srokadan yang betahun 915 (baca pasal 3 bab II). Tetapi jikalau ditilik dari keadaan prasasti itu ditulis 13 baris tiap-tiap muka, kemungkinan prasasti itu diterbitkan lebih dahulu dari pada prasasti-prasasti yang dipakai perbandingan itu. Bahkan lebih lama pula dari pada semua prasasti-prasasti yang sudah dibicarakan itu. Tersebut di dalam prasasti itu antara lain nama seorang penjabat: “Gamarohana”, yang dapat dibandingkan dengan sebutan kepangkatan di dalam prasasti Gobleg yang bertahun 1115 (baca pasal 3 bab III), di mana tersebut “Gajarohana” yang berpangkat “juru wadwa”, artinya petugas yang mengatur pasukan.

10. Mantring. Tersebut antara lain di dalam prasasti itu, ialah: “karaman pagar balatungan”, artinya ialah: adat desa di Pagar Balatungan. Akan tetapi desa mana yang dimaksudkannya itu, sukar ditentukan sekarang. Menilik dari sifat dan betuk prasasti itu, kemungkinan diterbitkan semasa Sri Jayapangus bertakhta (baca pasal 5 bab III).

11. Gobleg. Gaya prasasti itu menunjukkan sifatnya sejenis dengan prasasti Trunyan yang bertahun 1049, atau dengan prasasti Sukawana yang bertahun 1054 (baca pasal 9 bab II yang tersebut pada angka 1 dan 4). Akan tetapi jikalau diperhatikan bentuk huruf-hurufnya, sama sekali tidak menunjukkan persamaan dengan prasasti-prasasti yang dipakai perbandingan itu. Tersebut di dalam prasasti itu antara lain: “karaman tamblingan”, artinya ialah adat-istiadat di Tamblingan. Sedangkan Tamblingan itu, ialah nama sebuah danau yang terletak di sebelah barat danau Beratan. Prasasti itu mempergunakan bahasa Jawa-Kuna, sekarang tersimpan di Pura Batur yang terletak di desa itu.

12. Manik-Liu. Terdapat lagi sebuah prasasti di desa itu, tetapi hanya (p.85) selembar saja, yaitu lembaran penghabisan dari prasasti lain yang kebetulan terdapat di sana. Ucapan “sapatha” yang berarti sumpah tersebut di dalam [?]mbaran itu menyatakan, bahwa kepingan tembaga itu selaku penutup dari prasasti lain yang bersangkutan.

Tersebut juga di dalam prasasti itu antara lain, ialah pelbagai ketentuan upacara-upacara keagamaan yang harus diselenggaralan oleh penduduk desa Buyan dan Tarunyan, yaitu tiap-tiap tahun sekali jatuh pada bulan “Magha” (Januari/Februari), bertepatan dengan hari-hari pemungutan sejak yang dilakukan oleh Pemerintah. Memperhatikan sifat prasasti itu, dikirarakan penerbitannya semasa baginda Anak Wungsu bertakhta (baca pasal 9 bab II).

Sekian banyak prasasti-prasasti yang masih menjadi buah pertimbangan para ahli, dan yang belum dapat ditentukan keadaannya. Lain dari pada prasasti-prasasti tersebut di atas, terdapat juga sebuah prasasti di mesium Frankfurt am Main, negeri Jerman yang serupa keadaannya. Prasasti itu kira-kira diterbitkan semasa Anak Wungsu atau Sri Jayapangus bertakhta, menilik dari bentuk dan coraknya. Sebagai telah dimaklumi, bahwa di situ ada terdapat sebuah prasasti [in?] yang bertahun 859, dan yang sudah pernah dibicarakan pada pasal 6 bab [?].

Pada sebuah pura bernama Pura Batur yang terletak di desa Penebel (Su-antaya?) terdapat sebuah batu bertulis. Tulisan-tulkisan yang tergores di situ berbunyi: “bhatara sang i dalem”. Arti dari perkataan-perkataan itu ialah: Dewa yang berkhayangan di Dalem, atau raja yang telah mangkat dijenazahkan di sana. Jikalau perkataan-perkataan itu dimaksudkan untuk menerangkan adanya penjenazahan seorang raja, sudah tentu salah seorang raja yang tersebut pada bab II dan III dijenazahkan di sana. Akan tetapi jikalau perkataan-perkataan itu mengandung arti pemujaan untuk Dewa-dewa, maka dapatlah ditentukan, bahwa pura [d?] ialah pemujaan untuk Durga, ataukah pemujaan untuk Dewi Danau, mengingat adanya pura itu bernama Pura Batur. Keterangan lebih jauh sukar diberikan.

Sementara itu terdapat 3 buah candi dan sebuah prasada yang masih menjadi buah pertimbangan. Seperti diketahui menurut kebiasaan, bahwa candi-candi [?] prasada itu ialah untuk penjenazahan raja-raja atau orang-orang terkemuka yang dipangang sudah berbuat jasa semasa hidupnya. Candi-candi dan prasada yang dimaksudkan itu, ialah:

Candi Bakungan yang terletak pada suatu tempat bernama Cekik di daerah Bali Utara, tiada jauh dari Gilimanuk; Sebuah candi terletak pada sebuah pura bernama Susuhunan Wadon, yang terdapat di Pulau Serangan (Bali-Selatan); Sebuah candi terletak pada pertemuan aliran sungai Kerobokan dan sungai Pakersan, yang terdapat di sebelah utara desa Tampaksiring di Bali-Tengah; Sebuah prasada yang terletak di desa Kapal.

Sekian jumlah candi-candi dan prasada yang masih gelap keadaannya, sedang menurut keterangan prasasti-prasasti itu, masih ada lagi tempat-tempat penjenazahan raja-raja selain dari pada yang sudah dibicarakan pada bab I dan III, yang hingga sekarang belum diketahui di mana letaknya. Tempat-tempat penjenazahan itu dikatannya bernama: Dewasthana, Air Talaga dan Senamukha. Kemungkinan candi-candi itulah yang dahulu disebut demikian, akan tetapi dugaan itu tiada dapat dipertangung jawabkan. Ketiadaan bahan-bahan yang diperoleh untuk membuktikan kebenaran hal itu, maka persangkaan itu tiada dapat diletakkan alas dasar yang kuat.

Perlu kiranya diterangkan, bahwa kitab-kitab perpustakaan yang menceriterakan peristiwa-peristiwa bersejarah, kabanyakan kurang objektif caranya menggambarkan kejadian-kejadian itu. Umpamannya kitab “Usana-Jawa” yang tersebut pada pasal 9 bab III, ternyata penulisannya kurang jujur dan memihak sebelah. Baginda raja di Bali yang penghabisan itu dikatakannya bernama Sri Gajah [Wah?]ana menyatakan, bahwa penulis dari kitab itu tiada sanggup berdiri tegak. Seperti dimaklumi, bahwa sebutan “Gajah” yang dipergunakan oleh penulis [itu?] untuk baginda, ternyata tiada pada tempatnya, mengingat kekuasaan baginda raja itu makin besar pada masa itu, bahkan seimbang dengan kekuasaan raja-raja[?] di kerajaan Majapahit.

Hal itu membuktikan, bahwa menulis dari kitab-kitab itu memang sengaja hendak merendahkan derajat baginda itu, karena dipandang olehnya selaku musuh. Memang dapat dimaklumi pendirian penulis-penulis jaman dahulu, baik jaman sekarang, sengaja menjunjung tinggi kebesaran [di?] mana mereka berpijak, sebaliknya merendahkan dan menghinakan kekuasaan-kekuasaan yang menjadi lawannya itu.

[?]Yang menjadi kesukaran lagi mempelajari kitab-kitab serupa itu, bukan saja terletak pada kesulitan memahami tentang maksudnya [ig?] masih samar-samar dan harus dikupas lagi, melainkan perhitungan waktu [dan?] kapan peristiwa itu terjadi jarang disebut oleh penulis-penulisnya.

2. Majapahit bergerak menggempur Bali

(p.86) Kitab “Usasa-Jawa” melanjutkan lagi ceriteranya, untuk meyambung

SO FAR

Source

  • Djelada, Njoman - Gora Sirikan (1956) - Sejarah Bali, Part One (version: I Made Dangin: 27 February 1965)

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24