Sejarah Bali I-I (Djelada, 1956)

This article is a rendering of ‘Sedjarah Bali’ written by Njoman Djelada, also known as G(h)ora Sirikan, in 1956.

It follows the contents of these three volumes as rewritten (copied) by Made Dangin in 27 February 1965, as no earlier versions to date have been found. To the best of my knowledge, Made Dangin’s version is the earliest full rewritten copy of these volumes. The old spelling has been adapted to modern Indonesian spelling (Ejaan Yang Disempurnakan); Ç = S, ç = s; square brackets are mine (GD).

I. Prasejarah - Prehistory

1. Pendahuluan (1-2)
2. Suku bangsa Bali Aga sebagai penduduk asli di Bali (3-4)
3. Putsusnya Bali dengan Jawa yang mula-mula menjadi satu daratan (5-6)
4. Pemberitaan seorang musafir bangsa Yunani (7-8)
5. Kebudajaaan Hindu memperlihatkan coraknya di Bali (9-10)
6. Gunung-gunung dan Danau menjadi tempat pemujaan Dewa-dewa (11-)
7. Gunung Agung dan Besakih (12-14)
8. Moyang suku bangsa yang disebut Bali Hindu (15-16)
9. Hubungan Bali dengan negeri Tongkok (17-)
10. Orang-orang Bali berkuasa di Jawa Timur (18-19)
11. Berita dari seorang musafir bangsa Tionghwa (20-)
12. Pengaruh kekuasaan Jawa Tengah di Bali (21-22)
13. Penyebaran Hinduisme meluas di Bali (23-24)

Alas kata: Awighnam astu!

Aum, semoga terluputlah hedaknya daripada kutuk dan nista oleh kelancanganku membentankan riwayat pada leluhur yang telah memperoleh ketenangan abadi di alam baka. Rasa cinta terhadap nusa dan bangsa, terutama memandang pemuda-pemuda yang belum mengenal sejarah tanah airnya, ialah mendorong hasratku semata-mata, untuk mencoba menyingkapkan selubung kegelapan yang masih menyelimuti rahasia pulau Bali di dalam masa-masa yang telah lampau. Semboyangku ialah: Menoleh ke belakang untuk merlangkah ke depan.

Di dalam buku ini tidak akan dibentangkan lagi tentang perkembangan zaman batu-batu atau perunggu-perunggu yang sudah sering ditulis oleh para sarjana ahli sejarah, tetapi bahan-bahan untuk mengubah buku ini adalah dipetik dari tulisan-tulisan peninggalan purbakala, baik yang tergores di atas batu-batu, maupun yang tergores di atas lempeng-lempeng tembaga. Di samping itu dipergunakan juga kitab-kitab kuna yang bernilai 'tradisionil' yang menceritakan peristiwa-peristiwa bersejarah. Serta untuk memperlengkapinya, maka dipergunakanlah kitab-kitab ilmu pengetahuan penerbitan dari penulis-penulis bangsa barat.

Buku ini diterbitkan dalam 3 jilid, mengenai perkembangan 'trikala' (tiga masa). Tiap-tiap jilid mengenal perkembangan tiap-tiap kala atau masa, dengan sebutan tiap-tiap 'kala' itu berturut-turut, ialah 'Purbakala', 'Madyakala', dan 'Sediakala'.

Tegur-sapa serta semua petunjuk ke arah perbaikan dan kesempurnaan memang selalu diharapkan dari segala pibak. Mudah-mudahan dengan penerbitan buku ini akan dapat menyingkapkan selubung kegelapan itu, sehingga memberi kepuasan bagi sidang pembaca sekalian.

Kepada kawan-kawan yang pernah menyumbangkan sesuatu sehingga buku ini dapat disusun dan diterbitkan, maka kesempatan ini kupergunakan untuk menyampaikan ucapan terima kasih. Terutama ucapan terima kasih itu kusampaikan kepada pegawai-pegawai yang bekerja pada Perpustakaan Gedung Kirtya di Singaraja, lebih-lebih kepada mereka yang atas kebaikan budinya telah meminjami beberapa buah kitab-kitab, guna melaksanakan usaha penerbitan buku ini. Dirgahayu panjang usia penulis doakan bagi segenap pembaca, moga-moga dapat menarik minat serta perhatiannya.

Wassalam: Gora Sirikan, Gianyar, 1956

1. Pendahuluan - Introduction

(p.1) Pulau Bali yang berluas ± 5561 km2, terletak di antara pulau Jawa dan pulau Lombok - karena keaslian kebudayaan dan peradabannya, dapat menarik perhatian dunia. Kunjungan orang-orang asing baik sebagai pelancong (turis), maupun sebagai ahli penyelidik di lapangan ilmu pengetahuan, bukan saja terjadi di dalam abad ke-XX ini, melainkan sejak permulaan abad dari tarikh Masehi sudah ada yang datang ke Bali, meskipun jumlah mereka itu dapatlah dipergunakan untuk bahan-bahan dalam usaha meyusun sejarah pulau Bali, yang terkenal sekarang dengan sebutan Pulau Dewata, yaitu di samping adanya kitab-kitab kuna yang harus diutamakan. Meskipun kitab-kitab itu kebanyakan memperlambangkan dongeng, takhyul dan mythe, namun di antaranya tiada kurang juga yang menceritakan peristiwa-peristiwa berjesarah, yang tiada patut diabaikan begitu saja.

Menurut keterangan seorang penulis bangsa Inggris bernama Crouwfurd, bahwa pulau Bali itu asal mulanya bernama Nusa Kambangan. NB. Baca kitab: ‘Schetschen van het eiland Bali karangan penulis bangsa Belanda bernama R. van Eck, yang menerangkan pendapat penulis tersebut. Keteranganya itu berdasarkan dari hasil penyelidikanya, bahwa sebuah kitab bernama Kidung Surapati yang pernah dibaca olehnya, katanya sampai 2 kali berturut-turut menerangkan, bahwa Nusa Kambangan itu ialah pulau Bali.

Keterangan penulis itu dibenarkan oleh pendapat seorang kawannya bernama Th. Pigeaud, yang turut pula menyatakan, bahwa pulau Bali itu asal mulanya memang bernama Nusa Kambangan. Pendapat Th. Pigeaud itu termuat di dalam kitab karangannya yang bernama: 'De Tantu Panggelaran' pada halamaa 265. NB. Kitab 'de Tanu-Panggelaran' itu ialah asal sebuah kitab perpustakaan kuna yang tersebut demikian. Kitab itu menceritakan asal mula terjadinya pulau Jawa, oleh Th. Pigeaud dibahas dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda.

Di dalam kitab karangannya itu, diterangkan olehnya dengan tegas, bahwa sebutan Nusa Kambangan yang termuat di dalam naskah (teks) asli dari kitab itu, ialah pulau Bali yang memang dimaksud, dan bukan pulau Nusa Kambangan yang terletak di sebelah selatan pulau Jawa. Keyakinanya itu berdasarkan pertimbangaanya, bahwa seorang pertapa bernama Mpu Mahapalyat yang tersebut di dalam kitab itu menerangkan dirinya berasai dari sebuah pulau yang berpenduduk orang-orang halus atau makluk-makluk ajaib. Pulau itu terletak di sebelah timur dari tempat pertapapaannya di Kalyasem, yaitu di daerah Jawa Timur. Dari keterangan pertapa itulah maka Th. Pigeaud lalu mengambil kesimpulan, bahwa Nusa Kambangan yang tersebut di dalam naskah kitab itu sampai tiga kali berturut-turut, niscaya pulau Bali yang memang menjadi tujuananya.

Keyakinan penulis itu mungkin alam pikirannya dapat dipengaruhi oleh bunyinya kitab-kitab perpustakaan di Bali yang pernah dibacanya, yaitu yang beranama 'Batur Kelawasan' dan beberapa buah kitab yang bercorak 'Itihasa Purana'. Kitab-kitab itu menceriterakan asal mula adanya pulau Bali, antara lain sebagai berikut:

"Nguni ring asitkala duk hyang takumalenyong bumi Bali lawan Selaparang luwir yong yan pakopama sadakala atep belas bumi Bali lawan Selaparung mangkana pidartanya nguni, dan sebagainya". Ternyata uraian kitab-kitab itu mempergunakan bahasa Jawa kuna, artinya kurang lebih sebagai berikut: "Dahulu kala tatkala pulau Bali dan pulau Selaparang (pulau Lombok) selagi terapung-apung bagaikan biduk mendekat dan menjauh yang satu dengan yang lain, demikianlah kaadaanya mula-mula dahulu, dan sebagainya".

Arti dari perkataan-perkataan itu apabila deiterjemahkan secara merdeka, kurang lebih demikian: ‘Semasa belum ada apa-apa, masih kosong sunyi senyap, tidak terdapat sesuatu’, dan sebagainya.

Demikianlah bunyinya kitab-kitab itu, menggambarkan keadaan pulau Bali dan pulau Lombok masih kosong pada permulaan zaman, diibaratkannya sebagai biduk tanpa kemudi tinggal terapung-apung di atas permukaan air laut. Kemungkinan dari uraian kitab-kitab itulah maka penulis itu lalu menyatakan pendapatya, bahwa pulau Bali itu mula-mula disebut Nusa Kambangan. Memang perkataan 'Nusa' itu dapat diartikan pulau, sedangkan perkataan 'Kambangan' itu berarti terapung-apung, atau dapat juga diibaratkan sebagai kiambang.

Di dalam kitab-kitab kuna lainyna yang juga mempergunakan bahasa Jawa (p.2) Kuna atau 'kawi' kebayakan menyebutkan nama pulau Bali itu dengan perkataan Bangsul atau wangsul. Baik Bangsul atau Wangsul artinya ialah kembali, maka asal dari perkataan kembali itulah lalu dipersiangkat menjadi Bali untuk menamai pulau itu. Bagaimana hal ihwalnya maka pulau itu disebut Bali, sebentar lagi akan dijelaskan pada pasal 2 di bawah ini.

Sudah menjadi kebiasaan dan kebanggaan para pujangga zaman dahulu, menyebutkan nama sesuatu dengan perkataan-perkataan samaran atau kiasan yang sukar dimengerti. Kesanggupan mereka mengubah nama-nama itu dengan bahasa kawi apalagi dengan Bahasa Sanskerta, dianggap menjadi ukuran bagi kitab-kitab karangan mereka memang bermutu tinggi. Oleh karena itulah maka sebutan Bali itu lalu diubah menjadi Bangsul atau Wangsul, ialah berpokok pada perasaan menghargai keindahan bahasa.

Dalam pada itu terdapat pula keterangan seorang penulis bernama H.B. Groeneveldt, bahwa orang-orang Jawa pada zaman dahulu biasa mengatakan pulau Bali dengan sebutan 'Brahmana'. Keterangannya itu tertulis di dalam sebuah kitab karangaanya bernama: 'Notes on the Malay Archipelago and Malacca'. Alasanya ialah karena di Bali banyak terdapat orang-orang Brahmana yang menjadi penduduknya. Mereka itulah yang dianggap menjadi pemuka atau pembimbing orang-orang Bali ke arah kemajuan, berpedomaan kepada adat-istiadat kuna.

Akan tetapi bagaimanakah pendapat orang-orang Bali sendiri, maka pulaunya itu disebut Bali? Mereka kebanyakan tiada dapat menerangkan dengan jelas, yaitu dengan alasan-alasan yang kiranya dapat diterima. Dongeng mereka beraneka ragam, akan tetapi di antara mereka yang dianggap sebagai ahli bahasa, menyatakan dengan tegas, bahwa perkataan Bali itu ialah berarti: teguh atau kuat, dan ada pula yang memberi arti: mulia atau utama. Pengertian mereka itu kiranya terpengaruh oleh rasa kebangsaannya, memandang kawan-kawan sesuku bangsanya tinggal teguh memegang adat-istiadat warisan nenek moyangnya, yang mereka muliakan.

2. Suku bangsa Bali Aga sebagai penduduk asli di Bali

(p.3) Di atas telah dibayangkan, bahwa pulau Bali pernah mengalami kekosonsan, yaitu sebelum ada penghuninya. Menurut bunyinya kitab 'Markandeya Purana' dan 'Agastyaparwa' bahwa pada suatu masa terdapat seorang yogi bernama Markandeya melakukan pertapaan di bukit Damalung yang terletak di Jawa Tengah. Bukit itu terdapat di lingkungan pegunungan Dihyang, yang sekarang disebut Dieng.

Oleh karena di situ Markandeya sering-sering diganggu oleh jin dan syaitan, maka ia lalu pindah dari situ ke lereng Gunung Raung yang terletak di Jawa Timur. Di situ ia melanjutkan pertapaannya, tekun beryoga dan bersemadi. Berkat keteguhan imannya, ia akhirnya memperoleh ilham di sana. Suara gaib menyuruh ia berbuat jasa terhadap manusia sesamanya, dengan jalan membuka hutan rimba raya yang terletak di sebelah timur dari tempatya bertapa.

Di kaki Gunung Raung itu terdapat beberapa buah desa, penduduknya ialah orang-orang Jawa yang sudah mengadakan percampuran darah dengan orang-orang Hindu dari India, mereka disebut Wong Aga. Mereka itulah digerakkan oleh Markandeya untuk melaksanakan suara gaib itu.

Keberangkatan Markandeya pertama kali menuju ke tempat yang ditunjuk oleh suara gaib itu, ialah dengan serombongan Wong Aga itu kira-kira sejumlah 8,000 orang. Setelah sampai di sana, di mana terdapat banyak sumber mata air, di situlah Markandeya mulai menyuruh orang-orang pengikutnya itu melakukan pekerjaan merabas hutan untuk dijadikan sawah dan ladang. Akan tetapi kegiatan mereka ternyata gagal, sebab orang-orang itu banyak yang ditimpa penyakit, di antaranya ada yang mati lantaran diterkam harimau dan dipagut ular besar-besar. Maklumlah di situ masih merupakan hutan lebat, tempat binatang-binatang buas bersarang.

Markandeya yakin, bahwa usahanya pasti akan gagal, maka ia lalu menyuruh orang-orangnya itu berhenti bekerja dahulu. Ia segera berangkat kembali ke lereng Gunung Raung, yaitu ke tempat pertapaannya semula. Di situ ia beryoga lagi, mohon kemurahan dan petunjuk Dewata mulia, bagaimana caranya melanjutkan pekerjaan itu, sehingga berhasil dengan selamat. Setelah mendapat ilham lagi, maka ia bertolak lagi ke tempat itu bersama-sama rombonganya sebanyak ± 4,000 orang. Tiba di situ ia lalu menanam logam-logam terdiri dari 5 jenis yang disebut 'pancadatu', yang dianggap olehnya mempunyai kekuatan gaib untuk monolak bahaya. Penanam 'pancadatu' itu terdjadi pada suatu tempat di kaki Gunung Agung, yang dipandang olehyna sebagai tempat suci dan angker. Sesudah selesai memendam 'pancadatu' itu dengan mengucapkan mantra-mantra untuk memberi jiwa, barulah Markandeya menyuruh lagi orang-orangnya itu untuk melanjutkan pekerjaan merabas hutan itu.

Pembukaan hutan untuk kedua kalinya itu, ternyata kemudian berhasil dengan selamat. Oleh karena tanah-tanah yang telah dibuka itu sudah cukup luasnya untuk dijadikan sawah dan ladang begitu juga untuk pekarangan tempat tinggal, maka itu lalu menghentikan kegiatan mereka itu. Pembahagian tanah-tanah itu mulai dilaksanakan, masing-masing ditentukan mendapat bagian seluas tanah cukup untuk bercocok tanam dan tempat perumahan.

Tempat di mana mula-mula melakukan pembagian itu, sekarang sudah menjadi sebuah desa dengan diberi nama Puakan. Nama desa itu adalah menjadi peringatan, bahwa di situ bekasnya terjadi pembagian tanah. Puakan artinya pembagian.

Lanjut diceritakan oleh kitab-kitab itu, bahwa tempat di mana Markandeya bekas beryoga, sekarang sudah juga menjadi sebuah desa, dengan diberi Payogan. Nama itu mengingatkan, bahwa di situlah Markandeya dahulu beryoga.

Tidak jauh dari desa Payogan itu, terdapat sekarang sebuah pura bernama Pecampuhan. Di situlah katanya Markandeya dahulu membulatkan ciptanya, sehingga usahanya itu lekas berhasil. Kebetulan letak pura itu pada pertemuan 2 batang sungai Wos di sebelah barat desa Ubud, maka selayaknyalah pura itu disebut demikian. Pecampuhan artinda pertemuan atau perpaduan. Pura itu biasa juga disebut Gunung Lebah, mungkin karena letaknya di tempat yang rendah. Lebah = rendah.

Konon katanya di tempat Markandeya memendam logam-logam yang disebut 'pancadatu' itu, lantaran tempat itu dianggap suci atau kudus, maka kemudian disebut Basuki atau Wasuki. Tetapi sekarang disebut Besakih, setelah menjadi sebuah desa. Tentang pemberian nama itu, nanti akan diceriterakan lebih lanjut pada pasal 7.

Markandeya, setelah selesai melakukan pembagian tanah-tanah itu, lalu melakukan pertapaan lagi pada suatu tempat yang mula-mula diberinya nama Sarwadha. Di situ sekarang terdapat sebuah pura besar untuk memuja Dewa-dewa, sedang tempat pertapaanya itu sudah menjadi sebuah desa bernama Taro. Nama desa itu diambil dari kias nama tempat pertapaan itu, yaitu Sarw(a)dha, yang terdiri dari 2 patah perkataan: 'sarwa' dan 'ada', artinya serba ada. Taro asal katanya 'taru' berarti kayu, kemudian dari perkataan kayu itu (p.4) dikiaskan menjadi kayun, yang berarti keinginan. Jadi perkataan 'Sarwadha' itulah mula-mula diartikan sehingga mendapat sebutan 'Taro' dalam bangsa Bali Kuna untuk menamai desa itu, dengan pengertian, bahwa di situ tercapai segala keinginan, lantaran serba ada.

Dari sana Markandeya memindahkan tempat pertapaannya lagi arah ke barat. Di situ dibuatnya sebuah mandala, serta didirikannya sebuah pura untuk memuja Dewa-dewa. Pura itu diberi nama Murwa, yang berarti permulaan. Pura Murwa itu letaknya sekarang di desa Payangan, sedang nama desa itu asal mulanya ialah Pahyangan, artinya tempat memuja para Hyang, yang artinya sama dengan Dewa-dewa. Selingkungan tempat itu umum menyebut sekarang Payangan desa.

Keturunan orang-orang yang melakukan perpindahan itulah sekarang disebut 'Wong Bali Aga' atau 'Wong Bali Mula', sebab nenek moyang mereka itu dianggap sebagai penduduk asli, yang mula-mula membuka hutan di situ sehingga menjadi sebuah negeri. Lambat laun mereka berkembang biak, di sana-sini membuat lagi perkampungan dan mendirikan beberapa buah desa, kenyataan sekarang mereka itu menjadi penduduk dari desa-desa yang namanya tersebut di bawah ini:

Kerobokan, Sembiran, Cempaga, Sidhatapa, Padawa, Gobleg, Bratan, Tigawasa, Bakung, Sangsit, Tenganan, Timbran, Kutapang, Sental Kawan, Lembongan, Batur, Bantang, Dausa, Catur, Kintamani, Kedisan, Sukawana, Lampu Kembangsari, Kutadalem, Bayung, Abang, Satra, Trunyan, Kayubidhi, Kayang, Pangootan, Cekang, Abianbase, Sambaan, Camengawon, Pangalu, Pasokan, Let, Tebwana, Marga, Angkah, Gadungan, Blahkiuh dan Pelaga.

Desa-desa tersebut kebanyakan terletak di pegunungan, sehingga menyimbulkan pengertian, bahwa perkataan 'Aga' itu sebenarnya berarti gunung. Sedangkan perkataan 'Mula' itu nyata sudah berarti permulaan atau asal.

Mengingat bahwa Markandeya dapat pulang kembali ke Jawa ketika usahanya pertama kali membuka hutan itu hampir gagal, oleh karena itulah katanya maka tempat-tempat itu kemudian diberi nama Bali, seperti telah dibayankan pada pasal 1 di atas.

Jadi pemberian nama itu ialah mengingat kisah perjalanan Ma(r)kandeya itu, yang mula-mula berhasil menciptakan masyarakat di Bali.

3. Putusnya Bali dengan Jawa yang mula-mula menjadi satu daratan

(p.5) Kebanyakan orang-orang menduga, bahwa pulau Bali dengan pulau Jawa asal mulanya menjadi satu daratan. Akan tetapi kapan putusnya kedua pulau itu, sehingga sekarang terdapat Selat Bali, para ahli tiada dapat menentukanya.

Kisah perjalanan rombongan Markandeya ketika melakukan perpindahan dari Jawa ke Bali, sama sekali tiada meyebutkan tentang perjalanan mereka itu mempergunakan alat-alat pengangkutan di laut untuk menyeberang. Hal itu mempertebal kepercayaan orang-orang, bahwa kedua pulau itu bekas menjadi satu daratan, sehingga memungkinkan orang-orang Bali Aga itu berjalan kaki menuju ke tempat tanah-tanah yang dibukanya itu.

Menurut uraian sebuah kitab bernama 'Usana Bali', bahwa putusnya pulau Jawa dengan pulau Bali, adalah disebabkan oleh kesaktian seorang pendita bernama Mpu Sidhimantra. Pendita itu bertempat tinggal di Jawa Timur, bersahabat karib dengan seekor ular besar yang disebut 'Naga Basukih'. Naga itu berliang di desa Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung, merupakan sebuah goa besar yang dianggap suci. Karena persahabatan itu Mpu Sidhimantra tiap-tiap bulan purnama raya, selalu datang ke Besakih mendapatkan Naga Basukih dengan membawa madu, susu dan mentega untuk sahabatnya itu.

Mpu Sidhimantra mempunyai seorang anak laki-laki bernama Ida Manik Angkeran. Anaknya itu gemar berjudi, tiada menghiraukan nasehat ayahnya. Oleh karena dalam perjudian itu sering kalah, sehingga menimbulkan ingatannya yang jahat.

Pada suatu ketika menjelang bulan purnama raya, Mpu Sidhimantra kebetulan sakit, tiada sanggup mendapatkan sahabatnya pergi ke Bali. Kesempatan itu lalu diperpunakan oleh Ida Manik Angkeran untuk memuaskan nafsunya mencari modal untuk dipakai berjudi. Sebuah 'bajra' kepunyaan ayahnya lalu diambilnya dengan jam-jam, tanpa ijin orang tuanya ia lalu pergi ke Bali mendapatkan Naga Basukih sahabat ayahnya itu. Sampai di sana ia lalu duduk bersila sambil membunyikan 'bajra' yang dibawanya itu, sehingga Naga Basukih keluar dari liangnya. Atas pertanyaan ular besar itu, Ida Manik Angkeran lalu menerangkan, bahwa ayahnya masih sakit, oleh karena itu ia menjadi wakilnya membawa pasuguh berupa madu, susu dau mentega, yang biasa dihidangkan oleh ayahnya tiap-tiap bulan.

Pemberian Ida Manik Angkeran itu diterima oleh Naga Basukih dengan senang hati, kemudian ditanyakan kepadanya, apa yang dikehendakinya untuk bekalnya pulang kembali ke Jawa. Ida Manik Angkeran menjawab, bahwa ia tiada minta apa-apa, seraya dipersilahkannya Naga Basukih supaya masuk ke goanya, sebelum ia mohon diri.

Naga Basukih lalu masuk ke goanya, sedang ekornya yang begitu panjang sebagian masih berada di luar. Ida Manik Angkeran kagum melihat sebuah batu permata besar yang melekat pada ujung ekor Naga Basukih itu, sehingga menimbulkan hasratnya hendak mengambil batu permata yang tiada ternilai harganya itu. Terpikir olehnya, bahwa batu permata itu cukup nanti dipakainya modal berjudi semur hidup. Sejenak berpikir demikian, ekor Naga Basukih itu lalu dipenggalnya, batu permata itu lalu dibawanya lari. Akan tetapi baru ia sampai di hutan 'Cemara Geseng', tiba-tiba ia mati hangus terbakar, karena bekas jejak kakinya dapat dijilat oleh Naga Basukih yang sedang marah itu.

Sekarang tersebutlah Mpu Sidhimantra, cemas mengenangkan nasib anaknya sudah lama tiada pulang-pulang, sedang 'bajra' pusakanya terdapat sudah hilang. Ia lalu pergi mendapatkan sahabatnya itu, seraya menanyakan keadaan anaknya yang sudah lama tiada pernah pulang. Naga Basukih lalu menerangkan kepada sahabatnya itu, bahwa Ida Manik Angkeran sudah mati, lantaran keberaniannya memenggal ekornya yang berisi satu permata.

Mpu Sidhimantra menyesali perbuatan anaknya itu, seraya bermohon kepada sahabatnya itu supaya dosa anaknya itu suka diampipuninya. Ia berjanji kepada sahabatnya itu, apabila anakada itu dapat dihidupkan kembali, biarlah Ida Manik Angkeran selama hidupnya tinggal di Bali untuk menjadi abdi pura Besakih sebagai 'pemangku' (penyelenggara upacara di pura). Permintaan Mpu Sidhimantra diluluskan, maka Ida Manik Angkeran lalu hidup kembali berkat kesaktian Naga Basukih itu. Maka semenjak itulah Ida Manik Angkeran disuruh oleh ayahnya supaya bertempat tinggal di Bali, tiada dibolehkan lagi pulang kembali ke Jawa.

Mpu Sidhimantra pulang kembali ke Jawa, setelah anaknya hidup lagi sebagai sediakala. Maka untuk mencegah kemungkinan anaknya itu akan menyusul perjalanannya, lalu digoreskannyalah tongkatnya, sehingga daratan pulau Bali dengan pulau Jawa menjadi putus karenanya. Demikianlah ceritanya, asal mula adanya Selat Bali yang disebut 'Segara Rupek'.

Cerita kitab itu merupakan dongeng dan takhyul, tetapi kenyataanya sukar dibantah. Keturunan Ida Manik Angkeran itu disebut 'Ngurah Sidemen', (p.6) ternyata sampai sekarang berkewajiban menjadi 'pemangku' di pura Besakih.

Penulis bangsa Eropa bernama Raffles, Hageman dan R. van Eck sama-sama membenarkan, bahwa Bali dan Jawa bekasnya menjadi satu daratan. Oleh bencana alam yang disebabkan meletusnya sebuah gunung berapi, maka terjadilah lindu besar, sehingga daratan kedua pulau itu menjadi putus. Mereka menerangkan, bahwa peristiwa itu terjadi di dalam abad ke-XIII (Raffles menerangkan, bahwa putusnya pulau Bali dengan pulau Jawa terjadi di dalam tahua 1204; Hageman menerangkan terjadi di dalam tahun 1293, sedang R. van Eck menerangkan terjadi di dalam tahun 1298. Keterangan mereka itu menurut perhitungan tahun Masehi). Akan tetapi sayang keterangan mereka kurang jelas, gunung mana dikirakan oleh mereka meletus itu.

Hasil peyelidikan menyatakan, bahwa sepanjang pantai Selat Bali itu, sekarang banyak terdapat mata air panas berbau belirang. Kemungkinan di sana dahulu terdapat sebuah gunung berapi yang sudah meletus. Di antara mata air panas itu sebuah disebut: Banyu Wedang, artinya air panas.

Sementara itu terdapat sebuah kitab bernama 'Nagara Kertagama' karangan Prapanca, menerangkan, bahwa putusnya pulau Jawa deng pulau Madura terjadi di dalam tahun Saka 124. Bilangan tahun Saka itu memperguanakan perhitungan 'candra sangkala' yaitu dengan perkataan yang berbunyi: Samudra nanggung bhumi'. Keterangan kitab itu sesuai dengan pernyataan sebuah kitab bernama 'Wawatekan', yang menerangkan, bahwa 'Segara Rupek' itu, ialah 'Segarananggung bhumi'. Baik 'samudra' maupun 'segara', sama artinya dengan lautan atau selat. Kedua perkataan itu sama dengan angka 4 menurut perhitungan tahun Candra Sangkala, perkataan ‘nanggung’ sama dengan angka 2, sedang perkataan 'bhumi' sama dengan angka 4. Oleh karena caranya menghitung angka-angka itu harus berbalik, maka terjadilah bilangan tahun Saka 124, atau tahun Masehi 202.

Meskipun kitab-itab itu sudah menerangkan demikian, namun peranyataan itu tiada dapat dipakai pegangan yang kuat, untuk menentukan putusnya pulau Bali dengan Pulau Jawa memang terjadi semasa itu. Mustahil Prapanca tiada meyebutkan dalam kitab karanganya itu, bahwa putusnya pulau Bali dengan pulau Jawa bersamaan waktunya, apabila memang benar demikian halnya.

Dalam pada itu seorang penulis bernama C.W. Laedbeater menerangkan di dalam sebuah kitab karangannya bernama: 'The Occult History of Java', bahwa putusnya pulau Jawa dengan pulau Sumatra terjadi di dalam tahun Masehi 915. Meletusnya gunung Karakatau, ialah menyebabkan putusnya kedua pulau itu, demikian katanya.

Dapatlah keterangan penulis itu dipakai sandaran untuk menyatakan, bahwa putusnya pulau Bali dengan pulau Jawa terjadi pada waktu itu? Memang jikalau ditilik dari letak ketiga pulau itu (Sumatra, Jawa dan Bali) seakan-akan berangkai hanya dipisahkan oleh selat-selat yang sempit, tidaklah mustahil kejadian di Selat Sunda itu dapat mempengaruhi keadaan di Selat Bali.

Sementara kitab-kitab itu tiada memberi ketegasan waktu mana kiranya putusnya pulau Jawa dengan pulau Bali terjadi, maka pendapat umum lebih condong mempercayai teori ilmu bumi. Pada zaman dahulu sebagian besar kepulauan Indonesia belum ada, masih bersatu dengan benoa Asia, maka pada suatu ketika yaitu pada akhir zaman es, konon katanya gunung-gunung es yang terdapat di kutub Utara dan di kutub Selatan menjadi cair, sehingga permukaan laut naik dan merendam daerah-daerah yang rendah. Oleh karena itu terjadilah lautan Tiongkok Selatan, lautan Jawa dan Selat Malaka. Kemungkinan ketika itulah terjadinya Selat BaIi itu, lantaran dataran di sana rendah, turut terendam air laut yang sedang pasang itu. Jika memang demikian halnya, sudah tentu putusnya pulau Bali dengan pulau Jawa itu terjadi beberapa ratus abad sebelum tarikh Masehi.

Demikianlah keterangan-keterangan yang terdapat mengenai hal ihwal putusnya pulau Bali dengan pulau Jawa Itu, namun para ahli belum ada yang berani menerangkan, kapan sebenarnya peristiwa itu terjadi. Baiklah hal itu dipakai sebagai gambaran saja, untuk meraba-raba, bahwa kedua pulau itu pada suatu masa kiranya memang benar mula-mula menjadi satu daratan ('Segara Rupek' atau Selat Bali itu jaraknya yang paling sempit adalah ±2 kilometer).

4. Pemberitaan seorang musafir bangsa Yunani

(p.7) Seorang musafir bangsa Yunani (Griek) bernama Yambulos menulis dalam buku catatananya, bahwa ia pernah datang berkunjung ke Bali kira-kira di dalam tahun 50 sesudah Masehi. Ia mengisahkan tentang perjalanannya itu sebagai berikut.

Mula-mula ia beserta dengan beberapa orang kawan-kawannya meninggalkan negerinya belajar, ingin mengetahui keadaan negeri asing. Akan tetapi malang baginya, di tengah-tengah perjalanan perahunya tiba-tiba dilanggar oleh angin taufan. Beberapa hari lamanya tinggal terumbang-ambing kehilangan pedoman di tengah lautan, akhirnya perahunya itu terdampar di pantai benoa Afrika. Mereka dapat ditawan oleh perampok-perampok bangsa Etopia, sesudah semua perbekalannya habis dirampas, barulah mereka dimerdekakan pulang kembali ke tanah airnya.

Kecelakaan yang dialami oleh mereka itu, ternyata tiada dapat mematahkan semangatnya, didorong oleh hasratnya yang keras hendak mengetahui keadaan dunia luar. Oleh karena itu mereka bersiap-siap lagi hendak melanjutkan pengembaraanya itu. Sesudah selesai mengatur segala persiapan yang diperlukan, maka mereka bertolak lagi meninggalkan negerinya. Perjalanannya itu menuju arah ke timur, akhiranya mereka tiba di kepulauan Indonesia. Oleh angin kencang yang datang dengan tiba-tiba melanggar perahunya itu, maka mereka terdampar lagi di pantai pulau Bali.

Yambulos mengatakan, bahwa setelah tiba di Bali, ia dengan kawan-kawannya itu disambut oleh penduduk di sana secara ramah-tamah. Mereka lebih dahulu diantar ke istana, guna menghadap seorang raja yang berkuasa di Bali. Sayang mereka tiada menerangkan siapa namanya raja itu, dan di mana letaknya istana yang dikunjunginya. Oleh keindahan alam pulau itu, Yambulos beserta dengan kawan-kawanya itu sampai 7 tahun lamanya tinggal merantau di pulau Bali.

Pengalamannya selama itu di Bali, Yambulos menceritakan keadaan di situ demikian:

Raja yang berkenan menerima kedatangannya itu, ternyata amat baik budinya, keramah-tamahnya menerima tamu orang asing, menunjukkan, bahwa raja itu sudah mempunyai pengetahuan tinggi. Peradaban dan susunan masyarakat di Bali, ia menerangkan sudah teratur baik. Rakyat amat cinta dan setia kepada rajajnya, hukum adat menjadi pegangan penduduk di dalam pergaulan. Mereka kebanyakan sudah mendapat didikan ilmu pengetahuan, kepandaian membaca dan menulis sudah dimiliki oleh mereka itu.

Sumber mata air yang terdapat di sana-sini, menyebabkan pulau Bali subur dan makmur. Pohon-pohonan di situ berbuah lebat sepanjang masa, penduduk tiada pernah menderita lantaran kekurangan makanan. Yang menjadi pokok penghidupan mereka untuk makannya tiap-tiap hari, ialah biji tumbuh-tumbuhan yang batangnya menyerupai pohon tebu atau jagung katanya. Biji tumbuh-tumbuhan itulah yang biasa direbus oleh mereka dengan air panas, kemudian sesudah mekar sebesar telur burung dara, lalu dimakan berkepal-kepal agaknya selaku jajan. Mereka memakan juga sayur-sayuran, daging ular besar-besar dan daging binatang kecil-kecil sebangsa jangkrik dan belalang, adalah menjadi kegemaran mereka untuk makanannya tiap-tiap hari.

Sejenis tumbuh-tumbuhan juga yang biji buahnya menghasilkan benang, ditanam mereka pada tiap-tiap rumah tangga. Benang itu lalu ditenun oleh kaum wanitanya sehingga menjadi kain untuk pakaian mereka. Warna yang digemari oleh mereka itu, ialah ungu atau merah tua. Sebangsa daun-daunan dapat dipergunakan untuk membuat warna-warna itu, kain-kain yang sudah selesai ditenun lalu dicelup dengan bahan-bahan itu, sehingga mereka memperoleh warna yang dikehendakinya.

Sejenis pohon-pohonan terdapat juga di Bali, yang buahnya dapat dipergunakan minyak, sesudah diparut dan diperas. Kecuali dipakai minyak, buah pohon-pohonan itu dapat juga dipergunakan untuk minuman keras, yang dapat disamakan dengan anggur. Minuman itu amat digemari oleh penduduk laki-laki.

Keadaan penduduk Yambulos mengatakan kebanyakan tinggi besar tubuhnya, rata-rata lebih dari 4 el panjangnya. Tampakanya mereka agak bungkuk, tetapi nyatanya yang besar-besar membelit lengannya, menyatakan akan kekuatan tenaganya. Jikalau mereka membulatkan kepalanya, serasa tak ada orang yang sanggup membuka tinjunya itu. Kulit mereka kelihatan bersih-bersih, lantaran jarang ditumbuhi oleh bulu-bulu. Mereka jarang ditimpa penyakit, oleh karena itu umur mereka rata-rata lebih dari seratus tahun.

Tentang kepercayaan penduduk Yambulos mengatakan, bahwa mereka selalu menyembah Dewa-dewa yang disangkanya berkahyangan di atas Surga. Di antara Dewa-dewa itu, ialah Dewa Matahari yang paling dimuliakan, dipuja-puja oleh mereka tiap-tiap hari. Sambil membakar menyan dan bau-bauan yang harum mereka mengucapkan mantra-mantra untuk memuja Dewa Matahari itu. Akan tetapi di antaranya (p.8) terdapat juga penduduk yang memuliakan Dewa Brahma dan Wisnu, sehingga Yambulos memperoleh keyakinan, bahwa kepercayaan mereka sudah dipengaruhi oleh perkembangan Hinduisme.

Berkenaan dengan susunan masyarakat yang dikatakannya sudah teratur itu, Yambulos melanjutkan keterangaanya, bahwa di Bali pada waktu itu sudah terdapat ahli pertukangan dan kesenian, begitu juga orang-orang berdagang di dalam pasar. Akan tetapi perdagangan itu mereka lakukan secara tukar-menukar barang-barang, mereka belum mengenal alat-alat pembayaran untuk melancarkan perdagangannya itu. Golongan pahlawan-pahlawan perang dipandang paling tinggi derajantya, sedang golongan nelayan dan pemburu mereka pandang lebih rendah tingkatannya. Rakyat jelata kebanyakan bertani mengusahakan sawah ladang untuk bercocok tanam. Mereka tinggal berkampung-kampung di bawah pimpinan seorang kepalanya yang mengenal adat-istiadat, persatuan kampung-kampung itu merupakan sebuah desa yang diperintah oleh seorang kepala desa yang berkewajiban menjalankan hukum adat itu. Sabda raja dipandang sebagai Undang-undang, yang harus ditaati oleh sekalian penduduk.

Sekianlah keterangan Yambulos yang terdapat di dalam buku catatatanya, menggambarkan keadaan di Bali selama kunjungannya itu. Dari keterangan-keterangannya itu dapatlah diambil kesimpulan, bahwa di Bali pada waktu itu sudah terdapat sebuah kerajaan dengan pemerintahanya teratur baik. Sedang jenis tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan yang diterangkan olehnya itu, dapatlah dikira-kirakan demikian.

Biji tumbuh-tumbuhan sebangsa tebu atau jagung yang dikatakanya itu, mungkin padi yang dimaksudkan olehnya. Pohon-pohonan yang buahnya dapat dibuat minyak dan minuman keras, tentu pohon kelapa atau pohon enau yang pernah dilihatnya. Biji tumbuh-tumbuhan yang dapat dipergunakan benang itu, mungkin pohon kapas yang dimaksudkannya, sedang daun-daunan yang dapat dipergunakan warna untuk mencelup kain, niscaya tarum atau 'taum' yang menjadi tujuannya. Tentang kepercayaan penduduk, yang diduga olehnya sudah dipengaruhi oIeh perkembangan Hinduisme, kiranya tiada patut disangkal kebenaraya. Hal itu akan dapat dibuktikan nanti pada sumber-sumber keterangan di bagian lain.

Note: Pemberitaan Yambulos itu, sudah pernah dimuat pada halaman surat kabar harian 'Surabajach-Handelsblad' yang terbit di kota Surabaya pada tanggal 10 Oktober 1921.

5. Kebudayaan Hindu memperlihatkan coraknya di Bali

(p.9) Yambulos telah menduga, bahwa semasa kunjungangnya ke Bali kepercayaan penduduk asli di situ sudah dipengaruhi oleh ajaran atau aliran Hinduisme. Dugaanya itu kiranya dapat dibenarkan, meningat adanya perhitungan tahun Saka, yang sampai sekarang masih dipergunakan oleh sekalian penduduk di Bali.

Di lndia perhitungan tahun Saka itu mulai diresmikan oleh seorang raja beraama Kaniskha sejak tahuan 78 sesudah Masehi, yaitu sesudah baginda raja itu berhasil mendirikan kerajaaanya berama Kushana, dengan ibukotanya di Purushapura (Peshawar). Baginda raja itu terkenal penganut agama Buddha.

Menurut dongeng orang-orang Jawa, bahwa dahulukala di tanah Jawa kono katanya terdapat sebuah kerajaan yang didirikan oleh seorang Hindu bernama Aji Çaka (=Saka). Adi berarti raja, sedang Saka itu ialah nama segolongan suku bangsa yang pernah berkuasa di India pada daerah-dearah bagian sebelah utara. Jadi Adi Saka itu dinyatakan olehanya memang orang Hindu, yang berhasil kemudian mendirikan sebuah kerajaan di Jawa sejak tahun 78 sesudah Masehi.

Aji Saka itu katanya sebelum mendirikan kerajaanya itu, lebih dahalu dapat membunuh seorang raja di tanah Jawa bernama Dewatacengkar, yang suka makan anak-anak. Cerita yang ajaib itu dapatlah dianggap sebagai perlambang belaka, untuk menggambarkan, bahwa orang-orang Hindu yang datang ke pulau Jawa pada masa itu sudah tinggi kebudayaanya, sedang orang-orang Jawa masih rendah peradabannya.

Baik orang-orang Jawa maupun orang-orang Bali menganggap, bahwa Adi Saka itulah yang mula-mula menciptakan adanya abjab Jawa dan Bali (ha, na, ca, ra, ka, dsb.) yang berasal dari huruf Hindu: "Devanagari". Anggapan itu ternyata mengandung kebenaran, setelah dilakukan penyelidikan secara historis, memang bentuk huruf-huruf itu banyak memperlihatkan persamaan.

Oleh karena itu tidaklah mustahil, bahwa kebudayaan Hindu sudah menjalar ke Bali semenjak itu, terutama di lapangan kesusastraan. Kemungkinan pun ada, bahwa kekuasaan Aji Saka itu sudah demikian besar pengaruhnya di Bali, sehingga penduduk di Bali mengarahkan pandangannya ke Jawa di dalam segala hal.

Dalam pada itu terdapat pula kererangan-keterangan di dalam kitab-kitab perpustakaan yang disebuat 'Purana', bahwa ketika pulau Bali mengalami kegoncangan, artinya di dalam keaadaan belum tetap (baca pasal 1 di atas), konon katanya Hyang Pasupati sesera menyuruh Dewa-dewa, supaya memindahkan sebagian Gunung Mahameru dari Yambudwipa ke Bali, guna menyelamatkan pulau Bali dari pada kehancurannya. Maka semenjak itulah katanya mulai terdapat empat buah gunung di Bali yang terletak di sekitar Gunung Agung. Keempat gunung itu disebut: 'Caturlokapala', artinya empat buah gunung selaku penjaga mata angin.

Nama dari keempat buah gunung tersebut ialah: 1. Gunung Lempuyang yang terlatak di sebelah Timur; 2. Gunung Andakasa yang terletak di sebelah selatan; 3. Gunung Watukaru yang terletak di sebelah barat, dan 4. Gunung Bratan yang terletak di sebelah utara. Di atas gunung-gunung itu dianggap Dewa-dewa berkahyangan, ialah di Gunung Lempuyang menjadi kahyangan Bhatara Hyang Gni Jaya, di Gunung Andaksa menjadi kahyangan Bhatara Hyang Tugu, di Gunung Watukaru menjadi kahyangan Bhatara Hyang Tumuwuh, dan di Gunung Bratan menjadi kahyangan Bhatara Dhanawa yang disebut juga Bhatara Manik Kumayang.

Memperhatikan nama Dewa-dewa itu, ternyata masyarakat di Bali masih berpegang teguh pada keasliannya, sebab menurut 'Caturlokapala' yang terdapat di India, bahwa Dewa-dewa yang dianggap menjadi penjaga mata angin di situ ialah: Indra, Yama, Waruna dan Kwena. Kwajiban Dewa-dewa itu ialah menolak datangnya bencana dan anazir-anazir jahat dari keempat penjuru alam, yang mengakibatkan terganggunya kesentosaan Gunung Agung dari perlindungan Dewa-dewa yang berkahyangan pada keempat buah gunung-gunung itu yang terletak di sekitarnya.

Ajaran 'Caturlokapala' yang memberi pengertian, bahwa pada gunung-gunung itu terdapat Dewa-dewa berkahyangan, ternyata dikenal juga di kalangan Theosofie. Kalangan itu menaruh kepercayaan, bahwa pada tiap-tiap gunung memang ditempati oleh seorang Dewa yang memegang pimpinan di situ. Kekuasaannya terbatas dilindungninya masing-masing, di bawah lindungan Mahadewa (spiritual King). Mahadewa itu disebut juga Lord of the World, artinya raja dunia yang menguasi semesta alam. Dewa-dewa yang terdapat di bawah Mahadewa itu, bukan saja berkewajiban menjaga keselamatan dunia, melainkan bertugas juga membimbing sekalian makhluk, benda-benda dan tumbuh-tumbuhan ke arah kesempurnaan (p.10) hidup di dunia. Di bawah Dewa itu terdapat lagi Dewa-dewa yang derajatnya dianggap lebih rendah, kekuasaannya tinggal terbatas. Dewa-dewa serupa itu hanya berkuasa misalnya pada sebuah daerah sempit yang tiada didiami oleh manusia, atau pada pohon-pohon kayu yang besar-besar, begitu juga pada telaga-telaga, danau-danau, sungai-sungai dan sebagainya. Sebab itulah katanya maka tempat-tempat itu lalu dipandang suci dan angker. Mereka menyangka, bahwa tempat-tempat Itu sudah didiami oleh orang-orang halus (nature spirits), sehingga mereka lalu melakukan pemujaan sewaktu-waktu di tempat-tempat itu. Maksudnya ialah supaya memperoleh berkah dan kesaktian, di samping kekhawatirannya akan mendapat gangguan dari orang-orang halus itu.

Menurut ilmu bangsa-bangsa (Ethnologie), bahwa kepercayaan adanya kekuatan gaib pada benda-benda, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya itu, adalah termasuk golongan 'animisme' atau 'dynamisme'. Bangsa-bangsa yang mempunyai kepercayaan serupa itu, lalu dianggap masih 'primitief'. Akan tetapi dalam hal ini bagi penduduk di Bali tiada layak disebut demikian, sebab mereka pada masa itu lebih tepat kiranya apabila diartikan asli, lataran kebudayaan mereka itu belum terpengaruh oleh kebudayaan asing.

Memang pelajaran 'Caturlokapala' tersebut di atas dapat dianggap selaku perlambang, bahwa kebudayaan Hindu mulai meletakan dasar-dasarnya di Bali, yaitu bukan gunung-gunung dipindahkan dalam pengertian yang sempit; akan tetapi adanya Gunung Agung di Bali, ternyata menimbulkan juga pengertian, bahwa masyarakat di Bali berpegangan teguh pada adat-istiadat asli warisan nenek-moyangnya. Buktinya Gunung Agung Itulah menjadi pusat kepercayaan sekalian penduduk di Bali hingga sekarang, mereka menganggap, bahwa Mahadewa tersebut di atas, adalah berkahyangan di gunung itu. Hal ihwal dan sebab-sebabnya mereka memuja kebesaran Gunung Agung itu, nanti akan diterangkan pada pasal 6 di bawah ini.

Jikalau ditilik dari letak pulau Bali berdampingan dengan pulau Jawa hanya dipisahkan oleh selat yang sempit, yang disebut Selat Bali atau 'Segara Rupek', kemungkinan pengaruh kebudayaan Hindu yang terdapat di Jawa, dengan mudah dapat menjalar ke Bali. Akan tetapi menurut penyelidikan para ahli, bahwa Hinduisme yang terdapat di Bali, kebanyakan mengatakan mendapat pengaruh langsung dari India.

Kesimpulannya dapatlah dinyatakan, bahwa soal keagamaan di Bali mulai dipengaruhi oleh faham Hinduisme kira-kira sejak permulaan abad tarikh Masehi, akan tetapi mengenai adat-istiadat dan perabadannya, orang-orang Bali masih berpegangan teguh pada keasilannya semula.

6. Gunung-gunung dan danau menjadi tempat pemujaan Dewa-dewa

(p.11) Sebagai lanjutan dari keterangan kitab-kitab 'Purana' yang tersebut pada pasal 5 di atas, maka tersebut pula antara lain, bahwa sebagian Gunung Mahameru yang diangkut oleh Dewa-dewa itu dari Yambudwipa ke Bali, konon katanya terjadi pada tahun Saka 11 (89 Masehi). Perhituangan tahun Saka itu dinyatakan dengan istilah 'Candrasangkala' yang bunyinya: 'Rudira Bhumi'. Baik perkataan 'Rudira' maupun 'Bhumi', masing-masing mempunyai nilai angka 1, sehingga kedua patah perkataan itu menunjukkan bilangan angka tahun Saka 11.

Semenjak itulah katanya keadaan pulau Bali itu mulai sentosa tiada bergoyang lagi, semata-mata karena tekanan gunung-gunung itu. Keterangan kitab-kitab itu dapatlah diartikan, bahwa semenjak itu kemasyarakatan di Bali mulai mengalami perubaban, lantaran desakan faham baru yang datang dari India.

Diterangkan oleh kitab-kitab itu pula, bahwa Gunung Agung di Bali pernah lagi meletus pada tahun Saka 13 (91 Masehi). Perhitungan tahun Saka itupun dinyatakan dengan istilah 'Candrasangkala' yang bunyinya: 'Gni Bhudara'. 'Gni' mempunyai nilai angka 3, sedang 'Bhudarsa' bernilai angka 1. Cara menghitungnya harus dibalik, sehingga menjadi bilangan tahun Saka 13.

Akibat meletusnya Gunung Agung itu, maka terjadilah lindu besar, disertai hujan lebat siang dan malam tiada berhenti-hentinya selama 2 bulan katanya. Kilat dan petir bersabung di udara, setelah itu turunlah Dewa dan Dewi dari kahyangan sebanyak 3 orang. Dua orang Dewa itu masing-masing disebut: Putra Jaya dan Gni Jaya, sedang seorang Dewi yang menyertainya disebut: Dewi Danuh.

Putra Jaya dianggap paling tinggi jerajatnya, sebab itulah disebut juga Mahadewa, berkahyangan terus di pucak Gunung Agung. Gni Jaya kemudian berkahyangan di Gunung Lempuyang, sedang Dewi Danuh itu dinyatakan berkahyangan di Danau Batur.

Masyarakat di Bali beranggapan, bahwa Putra Jaya yang disebut Mahadewa itu ialah Siwa, Gni Jaya ialah Brahma, dan Dewi Danuh itu ialah Wisnu. Oleh karena itu dapatlah dikira-kirakan, bahwa 'Trimurti' mulai berpengaruh semenjak itu di Bali. Brahma, Siwa dan Wisnu diletakkan mula-mula sejajar, kemudian Siwa dipandang paling tinggi kedudukannya dan dianggap Mahadewa.

Pemujaan untuk Siwa itu sekarang terdapatlah di Besakih di lereng Gunung Agung, untuk Brahma di lereng Gunung Lempuyang yang disebut juga Bukit Gamongan, dan untuk Dewi Danuh sebagai Wisnu di tepi Danau Batur. Pemujaan untuk Wisnu yang terletak di tepi Danau Batur itu sekarang merupakan sebuah pura, dan disebut pura Ulun Danu. Dekat di situ terdapat sumber mata air panas yang disebut 'Tirtha Bungkah', oleh orang-orang Bali dipandang suci, sehingga menimbulkan anggapan, bahwa mata air itulah sebagai sumber kemakmuran di Bali. Oleh karena Dewa Danuh itu bersifat kewanitaan, maka ia lalu dianggap sebagai awatara dari Dewi Uma atau Dewi Parwati, yang disebut juga Giri Putri. Dewi Uma atau Dewi Parwati itu ialah sakti dari Siwa.

Mula-mula anggapan umum di Bali, bahwa Siwa itu ialah Dewa Pembinasa, Wisnu ialah Dewa Pelindung, dan Brahma ialah Dewa Pencipta. Sebab itulah maka Brahma mula-mula mendapat penghargaan dan paling dimuliakan di Bali. Akan tetapi anggapan itu lambat-laun mengalami perubaban terhadap Siwa, bahwa Dewa itu bukan saja dianggap pembinasa, melainkan dianggap juga sebagai Dewa Pembangun dan Pencipta (Schepper). Hal itu adalah disebabkan oleh jasanya dapat menyelamatkan pulau Bali dari bahaya kesukaran, seperti telah diceritakan pada pasal 5 di atas. Ketika itu Siwa disebut Hyang Pasupati atau Giri Jagatnatha.

Memang sabagai Kala yang bersifat bengis hendak merusak dunia Siwa amat ditakuti (?), akan tetapi sebagai Bhatara Guru, yaitu selaku guru besar di dunia (De wereldleraar) dengan budi bahasanya yang lemah lembut, maka ia lalu mendapat penghargaan sebagai Dewa yang paling terkemuka. Kedudukan Brahma mulai digeser karenanya, maka semenjak itu Siwa mulai mendapat kedudukan tertinggi di Bali, sedang di sampingnya barulah dipuja Wisnu dan Brahma. Ketiga Dewa-dewa itu lalu merupakan 'Trimurti', dipuja-puja oleh segenap penduduk di Bali. Siwa dianggap Mahadewa, maka Putra Jaya yang berkahyangan di Gunung Agung dipandang sebagai wakilnya.

Untuk memuja-memuja Dewa-dewa itu, penduduk di Bali tiap-tiap tahun sekali mengadakan perayaan besar di Besakih yang disebut 'Panca Balikrama'. Tiap-tiap seratus tahun sekali diadakan lagi perayanan yang lebih besar sifatnya, dan disebut: Ekadasa Rudra. Perkataan 'Rudra' yang dipergunakan untuk menyebut perayanan itu, menentukan, bahwa Siwa-lah yang memang dipuja-puja. Siwa dapat disamakan dengan Rudra, manakala berganti sifat sebagai Mahakala. Oleh karena itu maka sebelum perayaan 'Ekadasa Rudra' itu dilangsungkan, terlebih dahulu diadakan perayaan kurban yang disebut 'Pecaruan Agung'. Maksudnya ialah agar supaya Siwa membatalkan keheadakanya membinasakan dunia.

7. Gunung Agung dan Besakih

(p.12) Putra Jaya sebagai Mahadewa berkahyangan di Gunung Agung, dan Gni Jaya sebagai Brahma berkahyangan di Gunung Lempuyang, ternyata sama-sama mempergunakan istilah 'Jaya' untuk gelarnya masing-masing. Hal itu menimbulkan kesan, bahwa gelar itu mungkin sebagai lambang belaka. 'Jaya' artinya unggul atau kemenangan, sehingga dapat membangkitkan dugaan, bahwa kedua Dewa itu nanti berkesanggupan membawa berkah kejayaan dan kebahagian bagi masyarakat di Bali. Begitu juga halnya dengan perkataan 'Gni' = Agni, yang dipergunakan sebagai sebutan bagi Dewa yang berkahyangan di Gunung Lempuyang itu, adalah sebagai kata kiasan untuk menyatakan, bahwa Dewa itu yang mula-mula membawa obor penerangan bagi masyarakat di Bali yang masih di dalam kegelapan. 'Gni' atau 'Agni' itu artinya api, atau cahaya terang, yang bermakna selaku suluh kesempurnaan.

Pada pasal 5 dan 6 di atas sudah diterangkan, bahwa atas titah Hyang Pasupati maka Dewa itu meletakkan 4 buah gunung di Bali yang disebut 'Catur lokapala', yaitu di sekeliling Gunung Agung. Hal itupun dapat dianggap sebagai lambang belaka, bahwa kebudayaan Hindu mulai meletakkan dasar-dasarnya di Bali, di samping Gunung Agung sebagai lambang kekuatan masyarakat di Bali memegang teguh kepercayaan nenek moyangnya. Sebagai bukti, bahwa penduduk di Bali hingga sekarang masih memuja Dewa Matahari, dengan caranya yang disebut: 'Suryasewana'. Hal itu sudah pernah disaksikan oleh Yambulos, yaitu seorang pelancong atau musafir dari Yunani, seperti tersebut pada pasal 4 di atas.

Di antara gunung-gunung yang sekarang terdapat di Bali, bahwa Gunung Agung itulah yang paling besar dan paling tinggi puncaknya (Gunung Agung itu tingginya 3142 meter dari permukaan air laut). Di dalam kitab-kitab kuna biasa gunung itu disebut 'Giri To langkir' untuk menyatakan keagungannya. 'Giri' artinya gunung, 'To' artinya orang, sedang 'langkir' artinya menjulang tinggi.

Dr. R. Goris seorang ahli bahasa membandingkan perkataan 'To' yang berarti orang itu dengan kekeluargaan bahasa yang terdapat di tempat-tempat lain yang hampir sama ejaannya, menunjukkan persatuan asal. Misalnya orang-orang Bugis, Makassar dan Toraja, mereka menyebutkan orang itu dengan perkataan 'tau' atau 'tow'; orang-orang Sasak di pulau Lombok mengatakan 'tau', orang-orang Bima di pulau Sumbawa mengatakan 'dou', sedang orang-orang Filipina mengatakan 'tawu' (Orang-orang Sasak menyebutkan orang dalam bahasanya sehari-hari, ialah dengan perkataan dengan sebenarnya. Orang yang ternama melakukan penyelidikan tentang rumpun bahasa untuk menentukan suku-suku bangsa yang asalnya sama, ialah seorang sarjana bangsa Belanda bernama J.H. Kern).

Dalam pada itu perkataan 'langkir' tersebut di atas dalam bahasa Sanskerta dapat juga diartikan Mahadewa, sedang Mahadewa itu menurut faham dalam ajaran agama Buddha-Mayahana, ialah Lokanatha atau Lokeswara, lebih populer lagi dengan sebutan Awalokiteswara.

Kesimpulannya maka Gunung Agung itu disebut 'Giri Tolangkir', ialah karena besar dan tingginya, yaitu kata lain untuk menerangkan ucapan Maha Agung. Dapatlah dibandingkan dengan perkataan orang kaya di dalam bahasa Melayu Kuna, bukanlah berarti hartawan, melainkan orang besar yang dimaksud.

Baik pengengut agama Siwa, maupun penganut agama Buddha, sama-sama memuliakan kebesaran Gunung Agung itu. Buktinya tiap-tiap diadakan perayaan besar untuk memuja Mahadewa yang berkahyangan di gunung itu, maka pemimpin dari kedua golongan penganut agama itu bersama-sama memimpin upacara yang diselenggarakan untuk pemujaan itu. Mereka disebut 'padanda' (pendita) Siwa dan Buddha, dan perpaduan itu biasa disebut dengan istilah 'Siwa Sogata'.

Menurut bitab kuna yang disebut 'Babad Gunung Agung', bahwa Gunung Agung itu pernah meletus lagi pada tahun Saka 70 (148 M.), yaitu pada hari Jumat Kliwon wuku Tolu, bulan kelima. Semenjak itulah katanya di kawah Gunung Agung itu terdapat sejenis benda yang yang disebut 'Salodaka', yang dianggap mengandung makna, artinya kekuatan gaib.

Sesudah itu terjadilah lagi peletusan gunung itu pada tahun 111 (189 Masehi), demikian tersebut di dalam kitab itu, dengan perkataan itu mempunyai harga bilangan angka 1, sehingga keseluruhannya menjadi bilangan angka 111.

Pada waktu itulah katanya perayaan 'Ekadasa Rudra' yang tersebut pada pasal 6 di atas, pertama kali dilangsungkan. Perayaan itu diselenggarakan (p.13) pada suatu tempat bernama Besakih, yang terletak di lereng Gunung Agung. Di situ sekarang terdapat sebuab pura (kuil) besar untuk memuja Mahadewa, konon katanya pura itu didirikan ialah di atas tempat di mana Markandeya dahulu menanam benda-benda yang disebut 'pancadatu' seperti telah diterangkan pada pasal 2 di atas.

Para ahli berpendapat, bahwa pemujaan gunung (bergheiligdom) yang terdapat di Besakih itu, dikirakan berasal dari nama Naga Basukih, yang dipakai sebutan untuk tempat itu. Seperti telah diceritakan pada pasal 3 di atas, bahwa Naga Basukih yang merupakan ular besar itu, oleh masyarakat di Bali dianggap sebagai tali pengikat untuk meuyentosakan keadaan pulau Bali itu ialah seekor kurma raksasa (orang-orang Bali biasaya menyebut 'Empas'), sehingga pulau itu dapat berdiri tegak. Mahluk ajaib itulah yang dibelit sekuat-kuatnya oleh ular besar itu, sehingga ia tiada sanggup bergerak. Apabila sampai dapat bergerak, maka terjadilah getaran bumi atau tanah goyang. Oleh karena itu orang-orang Bali lalu membunyikan kentongan serentak guna memperingatkan kepada ular besar itu supaya jangan lalai dengan kewajibannya.

Kurma raksasa yang merupakaan seekor penyu besar, dan yang dianggap menjadi dasar bumi itu disebut juga 'Bhadawangngala', berkediaman di 'patala' (underworld) bersama-sama dengan Naga Basukih itu. Karena jasa dan kewajiban Naga Basukih itu begitu berat demi kesentosaan pulau Bali, maka orang-orang Bali lalu membuatkan pemujaan baginya. Pemujaannya itu merupakan sebuah pura dan disebut Pura Basukihan, terletak di bawah Pura Penataran Agung yang sekarang terdapat di Besakih.

Besakih sekarang sudah merupakan sebuah desa, di sekitar desa itu dianggap suci oleh sekalian penduduk di Bali. Dua buah prasasti yang terdapat di Pura Penataran Agung, menyatakan tentang kesucian desa Besakih itu. Prasasti-prasasti itu tertulis di atas papan, masing-masing menyebutkan, bahwa desa Besakih itu ialah 'desa hulundang ring basuki, desa hila-hila ring basuki'. Arti dari perkataan-perkataan itu ialah: 'hila'-hila' = suci atau kudus; 'hulundang' = abdi Tuhan, yaitu terdiri dari 2 patah perkataan 'hulu' dan 'ndang'. Sedang 'ring basuki' artinya di Besakih. (Prasasti-prasasati itu yang sebuah bertahun Saka 1366 (1444 M.), dan sebuah lagi bertahun Saka 1380 (1450 M.)

Keterangan prasasti-prasasti itu diperkuat oleh 2 buah prasasti lagi yang terdapat di Pura Kehen (Bangli). Kedua prasasti itu sama-sama menerangkan, bahwa tempat suci itu ialah 'hulundang' atau 'kalulandang'. (Prasast-prasasti itu sebuah bertahun Saka 833 (911 M.), dan sebuah lagi bertahun Saka 836 (914 M.). Dalam hal ini bacalah karangan Dr. R. Goris yang termuat di dalam majalah 'Bhakti' berturut-turut pada tanggal 10 dan 20 Juni 1953).

Dari keterangan-keterangan prasasti tersebut di atas dapatlah sekarang dinyatakan, bahwa desa Besakih itu memang tempat suci bagi masyarakat di Bali. Di situlah tempatnya pemusatan keagamaan di Bali, yaitu tempat sekalian penduduk beribadat memuliakan kebesaran Gunung Agung itu. Pura Panataran Agung itu sudah terang untuk memuja kebesaran Mahadewa, yang oleh penganut agama Siwa dianggap pura itu untuk memuja Bhatara Siwa, dan oleh penganut agama Buddha dianggap menjadi pemujaan untuk Bhatara Buddha.

Perpaduan dari kedua aliran itu tidaklah mengherankan, apabila tinjauan diarahkan sejenak ke India, yaitu tempat kelahiran kedua aliran itu semula. Di India terdapat sebuah pura bernama Buddhagaya terletak di propinsi Bihar, dan sebuah pura lagi bernama Laksminarayan terletak di New Delhi. Kedua pura itu sebenarnya untuk memuja kemuliaan Bhatara Buddha, akan tetapi penganut agama Siwa turut juga melakukan persembahyangan di situ. Menurut kepercayaan orang-orang Hindu, bahwa Bhatara Buddha itu ialah titisan (awatara) Bhatara Wisnu yang kesembilan, oleh karena itu maka orang-orang Hindu baik yang memeluk agama Buddha maupun yang memeluk agama Siwa, apalagi yang memeluk agama Wisnu yang disebut Waisnawa, patuh menyembah patung Buddha yang terdapat di situ. Kemungkinan besar faham orang-orang Hindu itu berpengaruh sampai ke Bali, sehingga Pura Penataran Agung itu menjadi dasar bersatuan keagamaan di Bali.

Mengingat bahwa perayaan besar yang dilangsungkan tiap-tiap tahun sekali di Pura Panataran Agung di Besakih yang disebut 'Bhatara Turun Kabeh', yaitu tepat pada bulan Waisakha (Bali: Sasih Kedasa) di kala Purnama raya, maka hal itu dapatlah memperkuat kenyakinan, bahwa perayaan itu ditujukan untuk memuja kemuliaan Buddha. Pada waktu itulah penganut agama Buddha (p.14) di seluruh dunia merayakan Buddha Gautama yang disebut juga Sakya Muni, sebab menurut kepercayaan mereka, bahwa Gautama yang mula-mula menyebarkan agama Buddha itu, lahir, wafat dan mendapat penerangan Tathagata, tepat pada saat itu.

8. Mejang suku bangsa yang disebut Bali Hindu

(p.15) Sebuah prasasti yang tertulis di atas kepingan tembaga, dan yang kini masih tersimpan pada sebuah pura di desa Sading (Badung) menerangkan, bahwa pada suatu ketika di dalam tahun 250 sesudah Masehi, terjadilah perpindahan penduduk secara besar-besaran dari Jawa ke Bali. Antara lain tersebut didalam prasasti itu demikian:

"Isaka 172 cetramasa tithi dwadasa suklapaksa ping 12 waraning julung pujut, irika dewasanira paduka Sri Maharaja Jaya Sakti umahemana para senapati makadi rakryanapatih uming soring tanda rakryan ri pakiran ira mahyuna lungha maring bhuwana ing Bangsul", dan sebagainya.

Arti dari perkataan-perkataan itu apabila diterjemahkan secara merdeka, kurang lebih adalah demikian: "Tahun Saka 172 dalam bulan Maret/April pada waktu bulan hidup tanggal 12 waktu Julungwangi, maka ketika itulah saatnya Sri Maharaja Jaya Sakti bermusyawarat dengan para Senapati dan Mahapatih yang memegang pimpinan para mentri, berkenaan dengan rencana baginda hendak pergi ke Bali", dan sebagainya.

Lanjut diterangkan oleh itu, bahwa keberangkatan Maharaja itu kemudian dilangsungkan, yaitu tiada antara lama sesudah terdapat kata sepakat. Perjalanan Maharaja itu diseritai oleh pemuka-pemuka rakyat sebanyak ±400 orang, sedang pengikut baginda yang terdiri dari orang-orang kebanyakan, gelengan prajurit, ahli-ahli pertukangan dan kesenian tiada terhitung jumlahnya. Di antara mereka itu terdapat orang-orang bangsawan selaku pemimpin agama, masing-masing disebut Prabhu Maharaja Bima yang bergelar Sri Bayu, Sri Jaya yang disebut juga Sri Gni Jaya Sakti, dan 4 orang pemimpin agama yang masing-masing disebut: Syambhu, Brahma, Idra dan Wisnu. Lain daripada itu terdapat juga di dalam rombongan itu para pendeta jang disebut 'Siwa-Segata', artinya pemimpin agama Siwa dan Buddha.

Kedatangan mereka ke Bali mula-mula menuju ke sebuah gunung yang dikatakannya bernama Adri Karang. Di situlah mereka mulai mengatur persiapan, guna melaksanakan cita-citanya semula datang ke Bali. Sri Gni Jaya Sakti dikatakan oleh prasasti itu pulang kembali lagi ke Jawa, sesudah sekalian pengiringnya itu mendapat sambutan baik dari orang-orang Bali Aga di Bali. Oleh karena itu pimpinan umum atas rombongan itu diserahkan oleh Maharaja Jaya Sakti kepada Sri Bayu, sebab Sri Gni Jaya Sakti tekun beryoga di Adri Karang. Tempat di mana Sri Gni Jaya Sakti bertapa dan membuat sebuah asrama mula-mula disebut 'ring Karang asma', artinya di gunung Karang berumah, lambat-laun disebut Karangasem, dengan pengertian yang keliru. Perkataan 'asma' yang berarti rumah itu oleh penduduk dikirakan menyalin perkataan Karangasem itu guna memperhalus bahasa, ialah dengan perkataan: Karang Amle. 'Amle' berarti asam, bukan rumah, sebab itulah salinan para pujangga itu dapat diketakutan keliru, menyimpang dari maknya semula.

Sri Bayu kemudian mendirikan sebuah 'satra' (pasanggrahan) di desa Bantiran, yang terletak di Bali bagian sebelah barat. Maksudnya mendirikan sebuah 'satra' di situ, ialah untuk memudahkan perjalanannya sewaktu-waktu pergi ke Jawa. Di desa itulah Sri Bayu mulai meyebarkan ajarananya, terutama tentang 'Sila krama'. Ajaran 'Sila Krama' itu ialah melarang masyarakat melakukan perkawinan dengan saudara sepupu apalagi dengan ibu dan bapa. Kemungkinan orang-orang Bali Aga belum mengenal adat kesusilaan pada masa itu, sehingga Sri Bayu mengumumkan peraturan itu untuk menjadi pegangan penduduk di dalam pergaulan hidup. Lain daripada itu Sri Bayu memberi pelajaran juga kepada penduduk di sana tentang ilmu perbincangan yang berguna untuk menentukan kapan sebaiknya orang-orang turun bekerja ke sawah dan ke lading.

Di samping pelajaran keilmuan itu, Sri Bayu memberi didikan juga tentang cara-cara keagamaan, yang kiranya sesuai densan kepercayaan penduduk yang masih asli itu. Karena desakan Sri Bayu dan kawan-kawannya itu, maka orang-orang Bali Aga lalu memeluk pelbagai mazhab Hinduisme, di samping kepercayaan nenek-moyangya.

Misalnya orang-orang Bali Aga yang bertempat tinggal di desa Tenganan lalu memeluk agama Indra, yang bertempat tinggal di desa Tenganan lalu memeluk agama Indra, yang beretempat tinggal di desa Trunyan memeluk agama Bayu, begitu juga di desa-desa lain ada yang memeluk agama Brahma Wisnu, Syambu dan sebagainya. Hal itu menyatakan, bahwa rombongan orang-orang yang datang dari Jawa itu lebih tinggi peradabannya, dibandingkan dengan orang-orang Bali Aga yang lebih dulu berada di Bali.

Keterangan prasasti itu diperkuat oleh keterangan sebuah kitab kuna yang bernama 'Pustaka Raja'. Tersebut di dalam kitab itu antara lain, bahwa pada suatu ketika di dalam tahun Saka 175 (253 M.) Sanghyang Bayu yang bergelar Sri Maharaja Bhima, pernah mengadakan perpindahan penduduk secara besar-besaran dari Jawa ke Bali. Kedatangan rombongan itu dikatakan oleh kitab itu ialah menuju ke Gunung Karang, yang sama artinya dengan Adri Karang. Gunung = Adri. Gunung atau Adri Karang itu ialah Gunung Lempuyang (p.16) yang dimaksudkan olehanya. Di situ sekarang terdapat sebuah pura untuk memuja Sri Gni Jaya Sakti Itu. Gunung itu terletak di daerah Bali Timur yang sekarang disebut Karangasem, tanahnya sebagian besar terdiri dari batu karang.

Nama dari pemimpin rombongan itu baik yang tersebut di dalam prasasti maupun yang tersebut di dalam kitab 'Pustaka Raja' itu ternyata memperlihatkan persamaan, yaitu sama-sama mengatakan 'Bayu'. Hal itu dapat memperkuat keyakinan, bahwa peristiwa itu memang benar terjadi. Bilangan tahun yang tersebut di dalam prasasti dengan yang tersebut di dalam kitab itu menunjukkan perbedaan tiga tahun, sama sekali tiada dapat melemahkan keyakinan itu. Dapat kiranya dimaklumi, bahwa perpindahan penduduk secara besar-besaran itu, kemungkinan mempergunakan waktu sekian lamanya, sehingga selesai mengatur persiapan dan perlengkapan. (Prasasti itu disebut juga: 'Prasasti Catur Jadma'. Dr. R. Goris menyangsikan kebenaran bilangan tahun Saka yang tertulis di dalam prasasti; itu; baca halaman 27 dari kitab: 'Pracasti Bali' yang diterbitkan olehnya).

Memperihatikan nama-nama dari pemimpin-pemimpin rombongan itu lalu menimbulkan kesan, bahwa mereka itu ialah orang-orang Hindu yang mula-mula datang dari India ke Bali. Oleh karena itu kebanyakan para ahli berpendapat, bahwa masyarakat di Bali mendapat pengaruh langsung dari India. Mereka itulah lalu dianggap sebagai nenek-moyang dari orang-orang Bali-Hindu yang sekarang terdapat di Bali.

Pergantian tahun Saka di Bali yang dilangsungkan tiap-tiap bulan kesembilan yang disebut 'Caitra' (Maret/April), kemungkinan untuk memperingati kedatangan nenek-moyang orang-orang Bali Hindu pertama kali di Bali di dalam bulan itu. Dalam hal itu ada juga di antara para ahli berpendapat, bahwa pergantian musim di India katanya. Pendapatnya itu kiranya dapat diterima, mengingat orang-orang Barat terutama kerajaan Rumawi jaman dahulu melangsungkan pergantian tahunnya tiap-tiap 1 Maret.

Kebesaran kerajaan itu, berkesan sampai ke Bali, buktinya halaman istana raja-raja di Bali sampai sekarang ada yang bernama 'Room", yang berarti Roma. Begitu juga kebesaran kerajaan Mesir di masa yang lampau dapat juga mempengaruhi keadaan di Bali di lapangang seni lukis. Buktinya sampai sekarang terdapat di Bali lukisan-lukisan yang berupa kotak-kotak berangkai yang disebut 'Kuta Mesir'.

9. Hubungan Bali dengan negeri Congkok

(p.17) Sesudah lebih dari dua setengah abad lamanya orang-orang Bali Hindu tinggal menetap di Bali, perkembangan masyarakat di situ tinggal gelap, tidak terdapat berita-berita lagi untuk mengisi lowongan waktu (periode) selama itu. Hal itu mengesankan, bahwa orang-orang Bali Hindu dapat bergaul rukun dan damai dengan orang-orang Bali Aga, sehingga tiada pernah terjadi hal-hal yang penting atas pergaulan kedua suku bangsa itu yang perlu kiranya dicatat. Akan tetapi ada juga kemungkinan, bahwa catatan-catatan untuk peristiwa selama itu orang pergunakan bahan-bahan yang mudah rusak, sehingga sukar terdapat bekas-bekasnya sekarang. Menjelang abad ke-VI tarikh Masehi barulah terdapat berita-berita yang bersejarah mengenai pulau Bali di negeri Tiongkok.

Menurut catatan-cacatan resmi yang terdapat di negeri itu, yaitu semasa dinasti Han dan Tang menjadi Kaisar di Tiongkok, konon katanya serombongan utusan dari Bali pernah datang ke situ pertama kali pada tahun 518. Utusan itu membawa surat untuk Kaisar Tiongkok, dan dikatakannya raja dari Bali yang mengirimkan utusan itu ialah asal keturuan dari keluarga Kunja, permaisurinya bernama Suddhodana. Diterangkan pula oleh catatan-catatan itu, bahwa raja itu bertakhta di Bali hingga tahun 520.

Pemberitaan itu sungguh menimbulkan percayaan besar di Bali, sebab di Bali tiada terbetik beritanya, bahwa keluarga itu pernah memegang kekuasaan. Nama dari permaisuri raja itu ialah Suddhodana, mengingatkan orang kepada seorang raja di Kapilawastu (India Utara) pada abad ke-VII sebelum tarikh Masehi yang bernama demikian. Raja Suddhodana yang bertakhta di Kapilawastu itu, ialah ayah dari Buddha Gautama yang disebut juga Sakya Muni, sehingga menimbulkan kesan, bahwa permaisuri dari raja itu, ialah penganut dari agama Buddha.

Kesimpulan dari pemberitaan itu, ialah pada masa itu di Bali sudah terdapat sebuah kerajaan yang merdeka dan berdaulat, sehingga berkuasa mengadakan hubungan langsung dengan kerajaan besar di negeri Tiongkok. Akan tetapi siapa sebenarnya nama raja itu, dan di mana letak istananya, tiada terdapat keterangannya yang pasti, lantaran ketiadaan bahan-bahan yang terdapat di Bali untuk menyatukan atau membandingkannya. Sekalipun demikian namun pemberitaan itu dapat memperkuat keyakinan, bahwa agama Buddha sudah besar pengaruhnya di Bali pada masa itu, terutama di kalangan keluarga raja dan orang-orang bangsawan.

Kemudian terdapat lagi pemberitaan serupa itu di negeri Tiongkok, bahwa kedatangan utusan dari Bali ke sana terjadi pula pada tahun 523. Pemberitaan itu tiada menyebutkan siapa nama raja di Bali yang mengirimkan utusan itu, akan tetapi dapatlah dikira-kirakan, bahwa raja itu ialah pengganti raja yang telah mangkat pada tahun 520 tersebut di atas.

Kedatangan utusan dari Bali ke negeri Tiongkok untuk kedua kalinya itu, dapat juga dikira-kirakan, ialah maksudnya hendak memperkuat ikatan persahabatannya dengan kerajaan besar itu, serta memperoleh pengakuan dari Kaisar Tiongkok untuk baginda raja di Bali yang baru naik tahta itu.

Kecuali membawa surat, utusan itu katanya mempersembahkan bingkisan kepada Kaisar Tiongkok yang amat berharga. Bingkisan itu berupa seekor burung kakatua berbulu putih, seperangkat benda yang diperbuat daripada gelas, kapas, boker, kerang, minyak-minyak uangi dan pelbagai bahan untuk obat-obatan.

Diterangkan pula oleh catatan-catatan itu, bahwa sesudah tahun 630 utusan-utusan dari Bali tiada pernah lagi datang ke negeri Tiongkok. Hal itu dapatlah dikira-kirakan sebab-sebabnya, bahwa terjadinya keributan di negeri Tiongkok pada masa itu yang diakibatkan oleh perebutan kekuasaan, tiada memungkinkan baginda raja di Bali mengirimkan lagi utusannya ke sana.

Demikianlah pemberitaan-pemberitaan yang terdapat di negeri Tiongkok yang  besar gunanya untuk pengisi kesongsongan (?) waktu, selam itu di Bali, yang sama sekali tiada memberikan gambaran corak perkembangan sejarahnya.

Hubungan Bali dengan negeri Tjongkok yang lebih dari seabad lamanya itu, dapatlah dibuktikan oleh adanya mata uang 'kepeng bolong' yang hingga sekarang masih beredar di Bali. Mata uang itu ternyata buatan negeri Tiongkok, memperlihatkan abjad yang tergores pada kedua belah mata uang itu, ialah huruf Tionghwa. Kemungkinan pada waktu itulah uang 'kepeng bolong' itu mulai mengalir dari Tiongkok ke Bali untuk dipergunakan alat pembayaran yang sah, yaitu sesudah diadakan perjanjian mengenai perdagangan antara kedua kerajaan itu. Pun kemungkinan juga sementara itu orang-orang Tionghwa sudah banyak yang ke Bali guna berniaga.

10. Orang-orang Bali berkuasa di Jawa Timur

(p.18) Penulis R. van Eck yang namanya sudah termuat pada pasal 1 dan 3 di atas menerangkan, bahwa orang-orang Bali pernah mengadakan pertempuran di Jawa Timur terhadap kerajaan Siagasari di antara tahun 650-660 sesudah Masehi. Kekalahan Singasari di lembah Bedali dekat Malang, mengakibatkan seluruh Jawa Timur takluk di bawah kekuasaan orang-orang Bali itu. Diterangkan pula olehnya, bahwa yang menjadi raja di kerajaan Singasari pada waktu itu ialah Lembu Amijaya, dan yang menyebabkan terjadinya pertempuran itu, ialah dari kemarahan Lembu Amijaya itu, lantaran seorang putrinya yang dipingit di dalam keraton dapat dilarikan oleh seorang raja dari Bali. Akan tetapi tiada diterangkan olehnya, siapa nama raja dari Bali itu, begitu juga nama putri yang dilarikan itu.

Keterangan penulis R. van Eck yang sesingkat itu, dapatlah dijelaskan oleh adanya dongeng yang tersiar di kalangan penduduk di sekitar tempat itu, berkenaan dengan adanya sebuah goa yang terdapat di desa Polaman dekat Lawang. Dongeng itu menceritakan terjadinya peristiwa itu, demikian: Seorang raja di Bali bernama Rangga Puspati, katanya amat sakti, acap berkelana di Jawa Timur. Baginda itu mempunyai seekor kuda bernama Kyai Semberani. Kuda itu mempunyai kekuatan gaib, dapat terbang di angkasa.

Pada suatu ketika baginda Rangga Puspati sedang melakukan penerbangan dengan kudanya itu di atas keraton Singasari, baginda terpesona melihat keelokan paras Dewi Munti yang bercengkrama di Taman Sari yang terletak di lingkungan keraton itu. Dewi Munti itu ialah salah seorang putri dari baginda Lembu Amijaya, yang dapat memikat hati Rangga Puspati oleh kecantikanya itu.

Rangga Puspati segera turun ke tanah, seraya datang menghadap baginda Lembu Amijaya. Putri itu lalu dipinangnya, akan tetapi pinangnya itu ditolak oleh Lembu Amijaya, dengan alasan bahwa putrinya itu sudah lama bertunangan dengan seorang raja di kerajaan Blambangan (Jawa Timur). Oleh karena itu Rangga Puspati lalu pulang ke Bali dengan perasaan amat kecewa, kasih cinta dengan putri itu selalu membakar perbendaharaan kalbunya. Sampai di Bali baginda lalu melakukan pertapaan di tempat pemujaanya, mengharapkan karunia Bhatara Guru, agar supaya hasratnya memiliki putri itu tercapai.

Berkat keteguhan imamnya bertapa di situ, akhirnya permohonan Rangga Puspati itu dikabulkan oleh Bhatara Guru. Rangga Puspati diberi petunjuk oleh Bhatara Guru supaya berangkat menuju ke desa Polaman, di sana terdapat sebuah batu karang yang sudah diberi berlobang. Dari goa itu Rangga Puspati nanti dapat tembus ke keraton Singasari, demikian sabda Bhatara Guru itu.

Petunjuk Bhatara Guru itu membesarkan hati Rangga Puspati yang sedang dilamun oleh asmara, segera mempersiapkan keberangkatannya. Tiba di desa Polaman baginda lalu masuk ke dalam goa itu, sambil mengheningkan cipta baginda akhirnya sampai ke Taman Sari di tempat Dewi Munti biasa bermain-main. Di situ baginda bertemu dengan kekasihnya itu, yang segera menyatakan kecintaannya pula. Sesudah berteguh-teguhan janji sehidup semati, maka Dewi Munti lalu dilarikan oleh Rangga Puspati dengan kekuatan gaib.

Dayang-dayang biti perwara yang menyertai putri itu di Taman Sari semua menangis tersedu-tersedu, setelah diketahui olehnya, bahwa junjungangnya itu lenyap dari pemandangannya. Mereka segera menghadap baginda Lembu Amijaya, memaklumkan terjadinya peristiwa yang ajaib itu. Baginda Lembu Amijaya terperanjat mendengarkan laporan mereka itu, segera lalu pergi ke candi Siwa, guna menanyakan, siapa gerangan yang melarikan putrinya itu. Di situ baginda tiada mendapat keterangan, lalu pergi lagi ke Wendit dekat Malang, di mana terdapat juga sebuah goa yang dianggap suci dan angker. Berkat ketekunan baginda bertapa di situ, akhirnya baginda mendapat keterangan dari orang-orang halus yang menjadi penghuni goa itu, bahwa Dewi Munti sudah tiba di Bali dengan selamat, serta sudah menjadi permaisuri seorang raja di sana.

Keterangan orang-orang halus itu membangkitkan kemarahan Lembu Amijaya tiada terkatakan. Di celanya perbuatan Rangga Puspati itu habis-habisan, dikatakanya pegecut, seorang raja tiada tahu adat kesopanan. Baginda lalu mengambil keputusan, bersedia akan menolak permintaan maaf Rangga Puspati, demi kehormatan kedudukan baginda. Baginda tiada sudi bermenantukan seorang raja yang tiada mempunyai malu melakulan perbuatan yang terkutuk itu. Namun baginda berkeyakinan, bahwa penolakan itu mungkin mendatangkan bahaya kelak. Oleh karena itu baginda lalu mohon bantuan Bhatara Guru, akan tetapi Bhatara Guru menyatakan ketidaksanggupannya membela tindakan kekerasan yang hendak diambil oleh baginda Lembu Amijaya itu. Bhatara Guru menasehatkan, supaya baginda tetap sabar menghadapi persoalan itu. Perjodohan putri baginda dengan Rangga Puspati dikatakan oleh Bhatara Guru sudah seyogiaanya, tidak usah disesalkan lagi. Nasehat Bhatara Guru itu tidak dapat diterima oleh Lembu Amijaya.

(p.19) Baginda pergi lagi ke Goa Wendit, mengharapkan bantuan dari orang-orang halus yang terdapat di sana. Barisan jin dan syaitan di situ lalu memberikan kesanggupan, turut berjuang bersama-sama membantu baginda hendak merebut kembali putrianya yang menjadi taruhan itu.

Sementara itu utusan dari Bali sudah datang berulang-ulang ke Singasari, guna menyampaikan permintaan maaf dari Rangga Puspati atas ketelanjuran perbuatannya itu. Akan tetapi, kedatangan utusan itu selalu ditolak oleh Lembu Amijaya, dengan pernyataan bahwa laskar Singasari sudah disiapkan untuk menyambut kedatangan orang-orang Bali yang masih biadab itu.

Pernyataan Lembu Amijaya itu menusuk perasaan Rangga Puspati dan rakyatnya. Oleh karena itu laskar Bali yang besar jumlahnya lalu menyeberang dan menyerbu ke Jawa Timur.

Pertumpuhan darah tiada dapat dihindarkan lagi, Lembu Amijaya tetap menolak mengakui Rangga Puspati sebagai menantu. Maka terjadilah pertempuhan hebat antara kedua belah pibak, konon katanya sungai kecil yang terdapat di situ, dan yang menjadi garis pertempuran itu, akhirnya menjadi merah oleh darah para perwira yang tumpah di sana. Kemudian pihak Singasari menderita kekalahan di lembah Bedali, memaksa Lembu Amijaya tergesa-gesa melarikan diri, bersembunyi di Goa Polaman beserta dengan sekalian keluarganyanya. Di situ akhirnya baginda menamatkan riwayat hidupanya, dengan jalan bersemadi dan beryoga. Tempat duduk baginda pada waktu menghembuskan nafasnya yang penghabisan masih berbekas di sana, demikian keterangan penduduk desa-desa di sekitar goa itu, maka sekarang tempat itu dianggap suci dan keramat, mereka melakukan pemujaan di situ tiap-tiap hari Jumat.

Demikianlah dongeng Goa Polaman itu yang dipakai dasar oleh penulis R. van Eck dalam keterangannya tersebut di atas. Akan tetapi sebanyak perpustakaan di Bali, baik yang bernilai ‘historistis’, maupun yang bercorak ‘legendaris’, sama sekali tidak ada yang menyebutkan terjadinya peristiwa itu. Andai kata memang benar terjadi demikian, apa dapatkah dianggap, bahwa raja dari Bali yang memutuskan hubungannya dengan negeri Tiongkok sesudah tahun 630 Masehi yang tersebut pada pasal 9 di atas, ialah Rangga Pasupati itukah? Pertanyaan itu sukar dijawab, akan tetapi suku bangsa yang disebut ‘Wong Using’, yang banyak jumlahnya sekarang terdapat di Jawa Timur, kemungkinan mereka asal keturunan dari orang-orang Bali yang dahulu pernah menyerbu ke sana. Adata-istiadat mereka ternyata berlainan dengan adat-istiadat orang-orang Jawa.

11. Berita dari seorang musafir bangsa Tionghwa

(p.20) Seorang musafir bangsa Tionghwa bernama Huen F sang pernah berkunjung ke Indonesia pada tahun 671. la menulis dalam buku catatannya, bahwa pada waktu itu terdapat di Indonesia dua buah kerajaan Buddha, yang dikatakannya bernama Ka-te-li dan Po-li. Para ahli sejarah berpendapat, bahwa kerajaan Kan-te-li yang dikatakan olehnya itu mungkin terletak di pulau Sumatra, sedang kerajaan Po-li itu lama menjadi perbincangan. Di antaranya ada yang menduga, bahwa kerajaan itu terletak di Kalimantan, dan sebagian mengirakan terletak di Andalas. Akan tetapi setelah terdapat keterangan lagi, bahwa Po-li itu terletak di sebelah timur Holing, barulah terdapat kebulatan pendapat, bahwa Po-li itu ialah Bali yang dimaksudkan oleh orang Tionghwa itu. Diterangkan pula oleh orang Tionghwa itu, bahwa kerajaan Holing itu berulang-ulang mengirimkan utusan ke Tiongkok, sedang Dwa-patan yang terletak di sebelah barat Holing itu hanya sekali saja mengirimkan utusan ke sana.

Keterangan orang Tionghwa itu diperkuat oleh pemberitaan dari sejarah Kaisar Tang di negeri Tiongkok, bahwa pada pertengahan abad ketuju di Jawa Tengah terdapat sebuah kerajaan bernama Kaling. Kerajaan itulah diduga oleh para ahli itu yang dikatakan oleha musafir bangsa Tionghwa itu bernama Holing, maklumlah orang-orang Tionghwa kebanyakan memang sukar caranya mengeja perkataan-perkataan orang lain, apalagi akan menuliskannya menurut abjab mereka.

Kerajaan Kaling (Bali: Keling) itu menurut pendapat para ahli, mungkin didirikan oleh orang-orang Kalingga dari India Selatan yang mengungsi ke pulau Jawa pada masa itu. Sejarah India menerangkan, bahwa kerajaan Kalingga yang terletak di India Selatan itu telah dihancurkan oleh Harsya, yaitu seorang raja di India yang sedang memuncak kebesarannya pada permulaan abad ketujuh NB. Baginda raja Harsya tersebut di atas bertakhta di India di dalam tahun 606-647 sesudah Masehi. Sebab itulah orang-orang Kalingga itu banyak yang meninggalkan negerinya menyeberang ke pulau Jawa, kemudian mereka mendirikan kerajaan Kaling tersebut di atas. Dwa-patan yang dikatakan di atas oleh orang Tionghwa itu, mungkin kerajaan Tarunanegara yang terletak di Jawa Barat dimaksudkan olehnya.

Huen F sang menceritakan kerajaan Po-li yang dapat dikunjunginya itu, bahwa tanahnya amat subur, sehingga orang-orang tani di situ menanam padi dua kali tiap-tiap tahun. Penduduknya tidak begitu banyak, jumlah desa-desa yang terdapat di sana ada 136 buah. Penduduk desa-desa itu kebanyakan berpakaian daripada kain kapas, sedang rajanya berpakaian daripada kain sutra halus. Raja itu bermahkota keemasan, bertaburkan batu-batu permata beraneka warna. Sebilah pedang yang menjadi lambang kebesaran raja itu seluruhnya bersalut mas, singasana (‘patrarana’) baginda tampak gemerlapan dari jauh. Beberapa dayang-dayang biti perwara duduk bersimpah di samping baginda, mereka berpakaian serba indah, sekumtum bunga yang dipersuntingkannya menambah keelokan parasnya. Mereka mengisapi baginda dengan bulu-bulu burung merak, di antaranya ada juga yang membawa kipas daripada bulu-bulu burung berwarna putih.

Sewaktu-waktu baginda raja berpergian, maka yang menjadi kendaraan beginda itu ialah sebuah kereta dengan dihela oleh seekor gajah. Langit-langit kereta itu dihias dengan bulu-bulu yang warnanya serba putih, sedang nian dipandang mata. Di kanan-kiri kereta itu berbarislah budak-budak hamba sahaja, mereka memuput seruling daripada kulit keong, sambil memukul genderang meramaikan perjalanan rajanya itu. Sepanjang jalan yang ditempuh oleh rombongan itu, orang-orang segera bersimpuh atau berjongkok di pinggir-pinggir jalan, sambil menyembah menyatakan hormatnya kepada rajanya itu.

Lebih jauh diceritakan oleh orang Tionghwa itu bahwa penduduk dari kerajaan itu mempunyai keahlian mempergunakan senjata cakram, apabila berhadapan dengan musuh. Pembunuh dan pencuri dijatuhi hukuman berat, ada kalanya tangan mereka terus dipotong karena dosanya itu.

Penduduk taat beribadat memuja Dewa-dewa, mereka lalukan tiap-tiap bulan mati. Manakala pemujaan itu dilangsungkan, mereka biasanya menghanyutkan ke air sebuah beker berisi minuman arak dan pelbagai makan-makanan berupa sesaji, katanya untuk korban.

Demikianlah keterangan orang Tionghwa itu, mengesankan, bahwa di Bali pada waktu itu sudah terdapat sebuah kerajaan dengan penduduknya kebanyakan beragama Buddha. Akan tetapi siapa raja itu, dan di mana letak istananya, sukar terdapat keterangannya di Bali, karena ketiadaan bahan-bahan untuk membuktikannya.

12. Pengaruh kekuasaan Jawa Tengah di Bali

(p.21) Sejarah Sunda yang disebut ‘Hikayat Parahyangan’ menceritakan, bahwa karajaan Kaling yang terletak di Jawa Tengah kemudian menjelma menjadi kerajaan besar bernama Mataram dengan ibu kotanya di Medang. Pembina dari kerajaan itu mula-mula, ialah seorang raja bernama Sanjaya, ayahnya bernama Sanaha. Daerah kekuasaan kerajaan itu kian hari bertambah luas, bukan saja meliputi daerah-daerah sebagian besar di pulau Jawa, melainkan terus menjalar arah ke timur sampai ke Bali. Riwayat kebesaran kerajaan itu tertulis di atas sebuah batu piagam yang bertahun Saka 654 (732 Masehi). Piagam itu sekarang masih terdapat di desa Canggal, di keresidemen Kedu (Jawa Tengah).

Sanjaya terkenal seorang raja yang memeluk agama Siwa. Kemungkinan pada waktu itulah agama Siwa mulai hidup subur, karena pengaruh kekuasaan raja itu. Akan tetapi setelah baginda itu mangkat, dan digantikan oleh seorang putranya bernama Pancapana dengan gelarnya Rake Panangkaran (a), maka agama Buddha di Bali memperoleh kemajuan, sebab baginda yang baru naik tahta itu ternyata memeluk agama Buddha-Mahayama. Sekalipun demikian namun agama Siwa di Bali yang lebih dahulu sudah berkembang itu tiada mengalami kemunduran karena desakan agama Buddha itu. Kedua aliran keagamaan itu ternyata dapat hidup berdampingan merupakan syncretisme, buktinya bekas wihara-wihara (bihara) yang sekarang banyak terdapat pada beberapa tempat di Bali, sebagian asal didirikan oleh muni-muni Buddha, dan sebagian lagi asal didirikan oleh rahib-rahib Siwa. Hal ini tidaklah mengherankan, sebab kedua aliran itu dasar dan tujuannya memang sama, ialah sama-sama menuju ke arah cita-cita mencapai: ‘Moksa, Mukti atau Nirwana’.  Mereka berkeyakinan, bahwa untuk mancapai cita-cita itu ialah dengan jalan usaha membebaskan jiwa dari belenggu ikatan-ikatan karma, yang ber(w)ujud kelahiran, kematian dan penderitaan duniawi. Sedang ikatan-ikatan itu dapat dilepaskan oleh kekuatan batin menemuh empat jenis syarat selaku jalan yang masing-masing disebut ‘Marga’, ialah: Karma Marga, Jnana Marga, Bakti Marga dan Yega Marga.

Wihara-wihara itu letaknya kebanyakan pada tebing-tebing di pinggir sungai, yang terbanyak ialah sepanjang sungai Pakerisan, Wos dan Kungkang. Nama dari wihara-wihara yang terdapat di situ, ialah di sungai: Pakerisan: 1) Gunung Kawi terletak di sebelah timur desa Tampaksiring; 2) Krobokan terletak pada pertemuan batang air sungai Kerobokan; 3) Goa Gharba terletak di sebelah timur desa Patemen, dekat sebuah pura bernama Pangukur-ukuran; Wos: 1) Goa Raksasa, terletak dekat sebuah pura bernama Gunung Lebah yang disebut juga Pura Pacampuhan (lihat pasal 2 di atas); 2) Jukut-Paku, terletak di antara desa Nagari dan Singakerta; 3) Nagari, terletak di desa Nagari; Kungkang: 1) Telaga Wajah, terletak dekat desa Sapat.

Kecuali wihara-wihara tersebut di atas, terdapat lagi tempat pertapaan, yakni: 1) Goa Gajah, terletak di sebelah barat desa Bedahulu; 2) Yeh Pulu, terletak di sebelah timur desa Bedahulu; 3) Gunung Kawi, terletak di sebelah timur desa Babitra.

Dekat desa Riang Gde terdapat sebuah patilasan merupakan candi, bukan tempat untuk bertapa. Candi itu disebut Goa Patinggi, terletak pada suatu tebing, dan tingginya lebih dari 10 meter. Candi itu sama bentuknya dengan Candi Kalebutan, yang terletak di sebelah barat desa Pejeng.

Menurut bunyinya prasasti-prasasti yang terdapat dan masih tersimpan baik pada beberapa buah desa, seharusnya di Bali masih ada lagi tempat-tempat pertapaan serupa itu, ialah: 1) Wihara Bahung, terletak di lereng Gunung Agung; 2) Wihara Bakhul, terletak di Bukit Petung; 3) Thanim Baru, terletak di sekitar desa Kintamani; 4) Dharmakuta, terletak di sekitar desa Julah, dan 5) Hyang Karimana, terletak di sekitar desa Bangli.

Prasasti-prasasti itu menyebutkan pula, bahwa lain daripada tempat-tempat pertapaan tersebut di atas, seharusnya terdapat lagi bangun-bangunan serupa itu yang tiada diterangkan namanya masing-masing, ialah di sekitar danau Tamblingan dan Batur, begitu juga di desa Songan dan Batuan. Akan tetapi tempat-tempat pertapaan itu sampai sekarang jawatan purbakala belum berhasil mencari bekas-bekasnya, mungkin masih terpendam di bawah tanah, akibat terjadinya bencana alam di masa lampau.

Menurut penyelidikan di kalangan arkeologi, kemungkinan wihara-wihara itu didirikan di dalam abad kedelapan dari tarikh Masehi. Pendapat itu dikuatkan oleh penemuan benda-bedna daripada tanah liat di sebelah selatan desa Pejeng. Benda-benda itu beratus-ratus jumlahnya, merupakan meterai kecil-kecil (p.22) berbentuk bundar, garis menengahnya rata-rata 21,2 cm. Tiap dua buah dari meterai itu dibungkus oleh tanah liat juga yang berbentuk stupa kecil-kecil, dan pada kedua belah muka dari meterai-metrai itu terdapat tulisan-tulisan dalam bahasa Sansekerta yang bunyinya sebagai berikut: ‘Ye dharma hetu prabhawa, Hetun tesan tathagate hywadat, Tesanca ye niredha, Ewam wadi mahasramanah’.

Menurut keterangan Dr. R.Goris dalam kitab karangannya yang bernama ‘Sedjarah Bali Kuna’, bahwa arti dari perkataan-perkataan itu ialah demikian: ‘Keadaan tentang sebab-sebab kejadinya itu, sudah diterangkan oleh Tathagata (Buddha); Tuan Mahatapa itu telah menerangkan juga apa yang harus diperbuat orang supaya dapat menghilangkan sebab-sebab itu’.

Memperhatikan bunyi tulisan-tulisan itu, ternyata di sana dahulu bekas pemusatan agam Buddha. Ucapan-ucapan itu ialah mentra-mentra dari agama Buddha, yang dipakai sebagai jimat (’amulet’) untuk menolak marabahaya.

Note: Benda-benda itu disimpan di Musium di kota Denpasar, dan sebagian lagi disimpan di desa Pejeng pada sebuah pura bernama Panataran Sasih. Terdapat pada tahun 1925, ketika tebing sawah yang terletak di sebelah selatan desa Pejeng tiba-tiba gugur. Dr. W.F. Stutterheim ketika berkunjung ke Bali pada tahun 1931 guna memeriksa benda-benda itu, ia menemukan lagi benda-benda serupa itu puluhan jumlahnya pada perempatan jalan raya di desa Blahbatu. Oleh karena benda-benda itu terdapat di sana, yaitu tiada jauh letaknya dengan sungai Petanu yang airnya dianggap cemar oleh masyarakat di Bali lantaran dikutuk oleh Dewa Indra, maka ia lalu berpendapat, bahwa benda-benda itu mempunyai kekuatan gaib (magische kracht). Keterangannya itu terdapat di dalam kitab ‘Mededeelingen van de Kirtya Liefrinck Van der Tuuk afdeeling III - 1931’.

Tulisan-tulisan yang sama bunyinya dengan tulisan-tulisan pada benda-benda itu, terdapat di atas pintu Candi Kalasan yang terletak di Jawa Tengah. Tulisan-tulisan yang terdapat di situ bertahun Saka 700 (778 Masehi), oleh karena itu kebanyakan para ahli berkenyakinan, bahwa wihara-wihara yang terdapat di Bali itu didirikan sejaman. Pun Candi Borobudur yang terdapat di Jawa Tengah, dan oleh para ahli penyelidik peninggalan benda-benda kuna dikirakan waktu mendirikannya di sekitar tahun 775 sesudah Masehi, maka dugaan bahwa wihara-wihara di Bali didirikan semasa atau sejaman, lebih-lebih mendapat sandaran yang kuat.

13. Penyebaran Hinduisme meluas di Bali

(p.23) Menurut bunyinya sebuah kitab kuna yang bernama ‘Purana Tattwa’, bahwa di dalam abad kedelapan dari tarikh Masehi, terdapat dua orang guru agama dari Jawa ke Bali. Mereka itu bersaudara kandung, masing-masing bernama Mpu Gni Jaya dan Mpu Wittadharma, tiba di Bali pada tahun Saka 720 (789 Masehi). Perjalanan mereka itu katanya melalui sebuah desa di Bali bernama Kuntul Gading, akan tetapi di mana letak desa itu sekarang sukar diketahui. Dari sana mereka meneruskan perjalananannya menuju arah ke timur mendaki sebuah bukit bernama Tulukbyu, akhirnya tiba di Besakih di lereng Gunung Agung, yaitu di tempat suci yang tersebut pada pasal 7 di atas.

Kedatangan guru-guru agama itu di Bali, ialah guna memperdalam ajaran ‘Caturlokapala’ yang tersebut pada pasal 5 di atas, bagaimana caranya masyarakat di Bali harus menyelenggarakan upacara-upacara pemujaan bagi Dewa-dewa yang berkahyangan di atas gunung-gunung itu.

Mpu Gni Jaya kemudian melakukan pertapaan di lereng Gunung Lempuyang, sedang Mpu Wittadharma mendirikan asrama pada sebuah desa bernama Gelgel, yang letaknya di tengah-tengah masyarakat ramai.

Memperhatikan nama Mpu Gni Jaya itu hampir sama dengan gelar Dewa yang berkahyangan di Gunung Lempuyan seperti diterangkan pada pasal 5 dan 6 di atas, dan setelah tiba di Bali ia melakukan pertapaan di lereng gunung itu, dapatlah dinyatakan, bahwa ia itu seorang Brahmana penganut agama Brahmana. Ditilik dari sudut perjalanannya, kemungkinan ia sedang menunaikan kewabijannya selaku ‘Vanaprastha’, yang sudah mencapai tingkatan ‘Parivrajaka’, artinya orang yang mengasingkan diri dari dunia ramai, pergi ke hutan-hutan untuk mengasah budi menurut syarat-syarat keagamaan yang tersebut di dalam kitab-kitab Veda. Sedang ‘Parivrajaka’ artinya ialah tingkat terakhir dari kehidupan kaum Brahmana, berkewajiban mengembara melakukan pertapaan guna mencapai moksha.

Tiada antara lama sesudah guru-guru itu tiba di Bali, banyak lagi para ulama yang disebut rsi, muni, bikshu dan sebagainya, menyusul kemudian. Mereka itulah yang mendirikan wihara-wihara yang tersebut pada pasal 12 di atas.

Di antara para ulama itu, terdapat seorang bernama Sang Kulputih, yang paling terkenal namanya sampai sekarang di Bali. Ia tiba di Bali beserta istrinya dan seorang anaknya bernama Dukuh Sogra.

Sang Kulputih mula-mula mendarat di pantai desa Padang yang terletak di daerah Bali Timur, kemudian dari sana menuruskan perjalanannya ke desa Gelgel, mendapatakan Mpu Wittadharma yang bertempat tinggal di sana. Beberapa hari lamanya tinggal menumpang di situ, ia lalu pergi bertapa di lereng Gunung Andakasa. Karena ketekunannya bertapa di situ, ia lalu digelari oleh masyarakat di Bali: ‘Sang Atapa Hyang’. Artinya seorang pertapa yang mengabdikan seluruh hidupnya kepada Dewa-dewa.

Sang Kulputih berhasil mengarang sebuah kitab suci bernama ‘Kusuma Dewa’, maka kitab itulah yang memasyurkan pamannya sekarang di Bali. Kitab itu memuat syarat-syarat upacara dan doa-doa bagi kepentingan memuja Dewa-dewa yang dipakai pedoman oleh sekalian ‘pemangku’ sekarang di Bali, dalam halnya mengadakan perayaan pada tiap-tiap pura.

Note: Seperti telah diterangkan pada pasal 3 di atas, bahwa ‘pemangku’ itu ialah abdi pura. Untuk dipakai perbandingan, kiranya ‘pemangku’ itu dapat disamakan dengan jabatan Bilal atau Modin di Jawa, yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut Lebai. Untuk memperjelas lagi, bahwa perkataan ‘pura’ yang sering disebut-sebut itu, ialah ‘kuil’ yang banyak terdapat di Bali.

Memperhatikan uraian kitab itu, ternyata memperlihatkan kecendrungan ke arah percampuran Hinduisme dengan kebudayaan Polinesia. Kemungkinan pada masa itu mulai berkembang di Jawa perpaduan antara kedua faham itu, mendorong Sang Kulputih pergi ke Bali, guna menyebarkan faham itu.

Menurut kepercayaaan penduduk di Bali, bahwa Gunung Andakasa itu ialah pemujaan bagi para dukun ‘Ketaksen’. Perkataan ‘Ketaksen’ itu asal katanya ‘taksu’, artinya roh atau nyawa (ziel dan geest). Jadi dukun ‘Ketaksen’ itu, ialah orang yang tiada sadar akan dirinya, lantaran kemasukan roh lain yang sengaja diundang. Dukun ‘Ketaksen’ itu dapat menerangkan kepada orang yang datang bertanya misalnya tentang keadaan salah seorang anggota keluarganya yang sedang sakit, atau pelbagai kesukaran yang menimpa rumah sangga orang yang datang bertanya itu. Menurut ilmu pengetahuan (archaeologie), bahwa kepercayaan serupa itu terdapat di mana-mana, bahkan di seluruh dunia. Pangkal kepercayaan itu katanya di Siberia (Rusia) dan disebut ‘Syamanisme’. Pada beberapa tempat di Indonesia terdapat juga kepercayaan serupa itu kecuali di Bali. Kepercayaan itu dianggap asli, (p.24) yaitu bukan karena pengaruh Hinduisme.

Note: Di Jawa orang yang kemasukan roh lain itu disebut Dukun Prewangan; di Madura: Dukun Kajiman; di Batak: Si Baso; di Sumatra Timur: Jungjang raja, dan di Minangkabau: Kapiturunan.

Sang Kulputih tiada terus bertapa di Gunung Andakasa, melainkan pindah lagi ke Besakih di lereng Gunung Agung. Di situlah ia kemudian menamatkan riwayat hidupnya, setelah bertahun-tahun lamanya beryoga dan bersemadhi di sana, memuja kemuliaan Mahadewa. Meskipun ia sudah tidak ada lagi di dunia, namun namanya masih harum sampai sekarang, terutama di kalangan para pemangku itu. Kitab suci ciptaannya yang bernama ‘Kusuma Dewa’ itu tetap menjadi pelajaran bagi para pemangku di Bali, dalam halnya memuja Dewa-dewa.

Sesudah Sang Kulputih meninggal dunia, kewajiban menjadi pemangku di Besakih, terus dipangku oleh anaknya yang bernama Dukuh Sogra itu. Akan tetapi setelah Dukuh Sogra kemudian meninggal dunia juga, dengan tidak meninggalkan anak yang berkesanggupan memangku kewajiban itu, barulah kewajiban terlebih dipangku oleh Ida Manik Angkeran, seperti telah diceritakan terlebih dahulu pada pasal 5 di atas.

Kiranya perlu diterangkan juga, bahwa guru-guru agama tersebut di atas, ialah leluhur dari tujuh golongan kewargaan yang sekarang terdapat di Bali, masing-masing disebut: Pasek, Bandesa, Kebayan, Ngakuhin, Dangka, Salahin dan Gaduh. Mereka itulah yang memuja kemuliaan arwah para leluhurnya itu setelah meninggal dunia, Mpu Gni Jaya dibuatkan olehnya pemujaan merupakan sebuah pura terletak di lereng Gunung Lempuyang, dan pemujaan untuk Mpu Wittadharma terdapat sekarang di desa Gelgel bernama Pura Dasar.

Menurut anggapan umum di Bali, bahwa golongan kewargaan tersebut di atas, ialah yang berkewajiban menyelenggarankan upacara-upacara perayaan pada tiap-tiap pura yang bersifat umum di Bali dari zaman purbakala. Kecuali itu mereka dianggap juga sebagai kepala adat pada tiap-tiap desa, berkewajiban memimpin upacara-upacara bilamana orang-orang desa memuja Dewa-dewa. Bahkan pada waktu di Besakih diadakan perayaan besar tiap-tiap tahun yang disebut ‘Bhatara Turun Kabeh’ (baca pasal 7 di atas), ternyata pujaan mereka yang disebut ‘Ratu Pasek’ turut serta mengambil bagian. Begitu juga halnya apabila orang-orang Bali hendak membayar kaul bagi anggota keluarganya yang telah meninggal dunia, maka salah seorang dari kewargaan mereka itu perlu diundang, guna menyaksikan dan mengesahkan upacara pembayaran kaul itu. Kesimpulan ialah, bahwa mereka itu dianggap sebagai penghubung antara Dewa dan manusia, yaitu sejiwa dengan adat-istiadat ke masyarakat di Bali.

Source

  • Djelada, Njoman - Gora Sirikan (1956) - Sejarah Bali, Part One (version: I Made Dangin: 27 February 1965)

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24